TAUHID MENGARAHKAN SAINS DAN TEKNOLOGI
( Oleh : Ade Irma, Diana Saragih, Nurul Adinda )
ABSTRAK
Tauhid adalah konsep dalam aqidah islam yang menyatakan keesaan Allah. Dalam pengamalan nya tauhid dibagi menjadi 3 macam, yakni tauhid rububiyah, uluhiyah, dan
asma wasifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. Menurut kamus bahasa Indonesia, sains adalah ilmu pengetahuan yang sistematik yang boleh di uji atau di buktikan
kebenarannya. Sains adalah sebagai ilmu pengetahuan yang di dapatkan secara sistematik tentang struktur dan perilaku segala fenonema yang ada di alam beserta isi nya. Teknologi adalah merupakan aplikasi dari sains sebagai respon atas tuntutan manusia akan kehidupan
yang lebih baik dan pengetahuan teknik tentang ilmu-ilmu alam. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, manusia hanya lah subyek yang menemukan, mengolah, dan merumuskan sehingga lahir lah sebuah teori. Manusia bukan lah pencipta, atau pembuat
dari tidak ada menjadi ada. Sekecil dan sederhana apapun ilmu pengetahuan itu, sumbernya tetap dari Allah SWT. Karena itu manusia dilarang untuk menyombongkan diri, seakan-akan dialah yang menemukan ilmu pengetahuan itu tanpa adanya campur tangan
Allah. Jadi, kita sebagai hamba Allah dalam mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan tidak boleh terlepas dari sumber ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah yaitu Al-Qur'an, karena ilmu pengetahuan tidak terlepas dari batasan ketauhidan seseorang
A. PENDAHULUAN
Islam memiliki kepedulian dan perhatian penuh kepada umatnya agar terus berproses untuk menggali potensi-potensi alam dan lingkungan menjadi sentrum peradaban yang gemilang. Dalam konteks ini, tidak ada yang bertentangan antara sains dan Islam, dimana keduanya berjalan seimbang dan selaras untuk menciptakan khazanah keilmuan dan peradaban manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. justru Islam sangat mendukung umatnya untuk melakukan penelitian dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam, sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini merupakan anugerah bagi manusia sebagai khalifatullah di bumi untuk diolah dan di manfaatkan dengan sebaik baiknya.
akan ditempuh sehingga manusia memperoleh hasil yang benar. Al-Qur'an sebagai hudan memberi kecerahan pada akal manusia, kebenaran hasil riset dapat diukur dari kesesuaian rumus baku, dan antara akal dan naql. Al-Qur'an merupakan rumus baku, alam semesta dengan segala perubahannya sebagai persoalan yang layak dan perlu dijawab, maka Al-Qur'an sebagai kamus alam semesta.
Oleh karena itu dalam pengembangan ilmu iptek, nilai-nilai Islam tidak boleh di abaikan agar hasil yang di peroleh memberikan manfaat yang sesuai dengan fitrah hidup manusia, maka dari itu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, ilmu dan ketauhidan harus beriringan agar menghasilkan ilmu yang baik dan bermanfaat.
http;//www.google.co.id/amp/s/agamadaniptek.wordpress.com/2011/06/03/proses-penciptaan-alam-semesta/amp/
B. ISI DAN PEMBAHASAN
kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan harus memakai akal dan wahyu agar terperoleh hasil dari masalah tersebut. Di dalam ilmu kalam, kita akan menjumpai bahwa persoalan kekuasaan akal dan fungsi wahyu ini dihubungkan dengan dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua. Masalah pertama ialah soal mengetahui Tuhan dan masalah kedua soal baik dan jahat. Bagi kaum mu'tajillah segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dari kutipan-kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disamping menggunakan akal kita harus iringi dengan tauhid islam, karena penjelasan dari sebuah ilmu pengetahuan harus diawali dengan mengenal tuhan. Dari itu kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini yang berhubungan dengan iptek semuanya berasal dari ciptaan tuhan.
Di dalam buku yang berjudul tauhid dan sains tentang perspektif islam tentang agama dan sains yang ditulis oleh Dr. Osman Bakar bahwa, melalui sekularisme agama ditempatkan dalam ranah yang berbeda dengan sains. Dan bahwa dengan mengacu pada prinsip logika, apapun yang mengandung perbedaan mustahil bisa di rujukkan. Tentu saja, pandangan sekularistik itu bertentangan dengan sains dan perspektif islam, yang meyakini bahwa penciptaan alam bukanlah tanpa tujuan dan perencanaan organisasional. Itulah sebabnya sains dengan islam tidak dapat dipisahkan apalagi saling diperhadapkan dari agama karena keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu Allah Robbul 'Alamin.
Dengan kata lain, sains bisa berfungsi sebagai pintu gerbang untuk memahami agama, dan sebaliknya relung-relung sains hanya bisa didalami secara utuh dan bermartabat lewat pintu agama, dan bahwa optimalisasi keduanya kelak mengantarkan kepada peneguhan “tauhid”. Kendati demikian tidak dipungkiri bahwa diantara para sainstis modern telah ada yang berhasil meneguk kejernihan air persenyawaan sains dan spiritualitas (agama). Misalnya Fritjof Capra dan Garv Zukav melalui karya-karya prestisius mereka, berturut-turut : The Tao Of Physics dan The Dancing Wuli Masters. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 122
122. tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Dr. Osman Bakar, Tauhid dan Sains, (Pustaka Hidayah : November 2008)
484 Halaman
http://www.google.co.id/amp/s/zainabzilullah.wordpress.com/2013/01/23/r esensi-tauhid-dan-sains-edisi-lengkap/amp/
http://lynlindha.blogspot.co.id/2014/12/pandangan-dunia-tauhid-dan-perannya.html?m=1
Drs. Hadis Purba, MA, Dr. Salamuddin, MA, theologi islam-ilmu tauhid-perdana publishing
Peran tauhid atau Islam dalam perkembangan iptek pada dasar nya ada 2, yaitu :
1. Menjadikan aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan 2. Menjadikan syariat islam sebagai standar bagi pemanfaatan iptek
dalam kehidupan sehari-hari
Aqidah tauhid dalam prinsip sains
1. Tauhid sebagai prinsip sejarah 2. Metafisika
3. Psyco-sosial
4. Tauhid sebagai etika 5. Tauhid sebagai estetika
C. KESIMPULAN
Menurut analisa kami bahwa hubungan antara sains dan tauhid sangat erat, karena keduanya saling mengarahkan satu sama lain sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa sains adalah pintu gerbang mempelajari ilmu agama, dan sebaliknya relung-relung sains hanya bisa didalami secara utuh dan bermartabat lewat pintu agama, dan keduanya harus saling di optimalisasikan.
Dr. Osman Bakar, Tauhid dan Sains, (Pustaka Hidayah : November 2008) 484 Halaman
- Ade Irma Suryani Munthe, lahir di Sibito, 09 Juni 1998. Anak terakhir dari 4 bersaudara, mengikuti pendidikan dasar di SDN 117506 Sibito, lalu lanjut ke Pondok Pesantren At-Taufiqurrahman selama 3 tahun. Setelah itu lanjut ke SMAN 1 Aek Natas Bandar Durian, hingga saya sampai du Universitas ini yaitu UINSU MEDAN. Disini saya mengambil jurusan Ilmu Konputer. Saya masuk di Ilmu Komputer-1, dan motto hidup saya adalah Khairunnisa yanfa’unnas, sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Pendidikan SMP di SMPN 12 Meda, Pendidikakan SMA di SMAN 10 Medan, hingga melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, dan mempunyai motto hidup yaitu, Kejarlah cita-cita setinggi langit