• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KONSTRUKSI SARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KONSTRUKSI SARA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK KONSTRUKSI SARANA BUDIDAYA

Oleh :

Samidi B0A012001

Fandhy Okka P. B0A012002 Dina Septalia L. B0A012003 Soefiana Napitupulu B0A012004

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PROGRAM STUDI D-III PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN

(2)

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KONSTRUKSI SARANA BUDIDAYA

Oleh : Kelompok 1

Samidi B0A012001

Fandhy Okka P. B0A012002 Dina Septalia L. B0A012003 Soefiana Napitupulu B0A012004

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian akhir semester mata kuliah Teknik Konstruksi Sarana Budidaya Program Studi D-III Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan kelautan di Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Diterima dan disetujui Purwokerto, Juni 2013

Dosen Pengampu

(3)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kolam adalah merupakan suatu wadah yang sering kita lihat atau kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kolam adalah genagan air yg kondisinya dapat dikendalikan. Biasanya kolam terbuat dari tanah, tembok, atau beton. Kolam tanah umumnya memiliki pematang yang rapuh dan mudah dilubangi hama seperti, kepiting sehinggah mudah bocor. Kolam memiliki banyak manfaat bagi manusia, kolam memiliki bentuk yang berfariasi, ada yang berbentuk segi empat, berbentuk bujur, dan ada juga yang berbentuk bundar. Kolam pada umumnya memiliki fungsi sebagai tempat pembudidayaan.

Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah tertentu sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air lainnya. Berdasarkan pengertian teknis (Susanto, 1992), kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas dan sengaja dibuat manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya dan target produksinya. Kolam selain sebagai media hidup ikan juga harus dapat berfugsi sebagai sumber makanan alami bagi ikan, artinya kolam harus berpotensi untuk dapat menumbuhkan makanan alami.

Awalnya kegiatan budidaya ikan dilakukan secara sederhana dengan membangun kolam di belakang rumah untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Namun tingginya permintaan ikan air tawar memacu perkembangan teknik budidaya untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal. Saat ini kegiatan budidaya ikan di kolam merupakan salah satu usaha dan mata pencaharian yang menguntungkan masyarakat. Keberhasilan budidaya ikan di kolam sangat tergantung pada beberapa faktor, yaitu faktor teknis dan sosial-ekonomis di sekitar kolam. Faktor teknis antara lain topografi, jenis tanah, kuantitas dan kualitas air, serta faktor pengadaan benih dan pakan ikan; sedangkan faktor sosial ekonomi menyangkut masalah tenaga kerja dan kondisi masyarakat di sekitar bangunan kolam.

(4)

bagi manusia, tetapi kurangnya kesadaran dari masyarakat ataupun individu untuk menjaga agar keberadaan kolam tetap terjaga.maka dari itu bagaimana cara kita menjaga agar kolam itu tetap terjaga, tetap bersih, dan bagaimana cara kita untuk mengembangakan kolam untuk masa yang akan datang.

 Fungsi dan manfaat kolam diantaranya adalah sebagai berikut : Fungsi ekologis:

(a) Habitat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan air, (b) Sumber plasma nutfah

Manfaat ekonomis kolam:

(a) Menghasilkan berbagai sumber daya alam bernilai ekonomis, (b) Meningkatkan perekonomian masyarakat,

(c) sarana pariwisata / rekreasi.  Proses pembuatan kolam

Kolam merupakan lahan basah buatan yang dapat dikelola dan diatur langsung oleh manusia untuk kebutuhan budidaya ikan. Berdasarkan proses pembentukannya, kolam dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu kolam yang sengaja dibangun dan kolam yang tidak sengaja dibangun.

 Tipe-tipe kolam

Tipe Kolam berdasarkan sumber air: (a) kolam tadah hujan,

(b) kolam mata air,

(c) kolam berperairan setengah teknis, (d) kolam berperairan teknis.

Tipe kolam berdasarkan kegunaannya: (a) kolam pemeliharaan induk, (b) kolam pemijahan / perkawinan, (c) kolam penetaan telur,

(d) kolam pendederan, (e) kolam pembesaran,

(5)

(h) kolam penampungan hasil. Tipe kolam berdasarkan aliran air:

(a) kolam air tergenang (stagnant water ponds),

(b) kolam air air mengalir / kolam air deras (running water pond).

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum teknik konstruksi sarana budidaya ini adalah 1. Untuk mengetahui jenis wadah kolam.

2. Untuk mengetahui syarat wadah kolam yang baik untuk budidaya. 3. Mengetahui kondisi tanah yang baik membuat kolam.

(6)

II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum teknik konstruksi sarana budidaya adalah kayu, bambu, pipa, semen, waring, batu bata, plastik atau terpal, pipa, seng, asbes, paku, kawat, atap daun kelapa dan tali.

2.2 Cara Kerja

2.2.1 Cara Pembuatan Kolam Tanah

1. Tentukan rencana lokasi kolam

2. Tentukan rencana luas kolam, supaya kualitas air stabil dan pertumbuhan ikan optimal maka luas kolam minimal burukuran 2m x 3m, buatlah batas-batasnya.

3. Mulailah menggali sampai kedalaman 75 cm, tanah bagian atas yang subur disimpan dulu untuk dikembalikan lagi ke dalam kolam kalau kolam sudah jadi, tanah hasil galian selanjutnya ditimbun dan disusun di sepanjang batas kolam yang sudah dibuat sebelumnya, kalau ada sisa-sia kayu atau akar sebaiknya dibuang sehingga tanggul tidak mudah bocor . 4. Tanam pralon berbentuk L di salahsatu sudut tanggul untuk saluran

pembuangan, dan disudut yang lain sebagai saluran pemasukan.

5. Buatlah jaring seukuran kolam untuk mempermudah pemanenan ikan nantinya.

2.2.2 Cara Pembuatan Kolam Permanen

1. Tentukan rencana lokasi kolam.

2. Tentukan rencana luas kolam, supaya kualitas air stabil dan pertumbuhan ikan optimal maka luas kolam minimal burukuran 2m x 3m, buatlah batas-batasnya.

3. Mulailah membuat pondasi kolam dan kerangka besi untuk dinding kolam.

(7)

kolam dan pondasi, setelah itu lakukanlah pengecoran. Untuk dasar kolam biarkan berupa tanah.

5. Apabila ingin menghemat biaya, dinding kolam bisa juga menggunakan batu bata atau batako, akan tetapi dinding rawan retak.

6. Tanam pralon berbentuk L di salah satu sudut tanggul untuk saluran pembuangan, dan disudut yang lain sebagai saluran pemasukan.

7. Buatlah parit ditengah kolam yang menghubungkan antara saluran pemasukan dan pembuangan untuk mempermudah pemanenan nantinya.

2.2.3 Cara Pembuatan Kolam Terpal

1. Tentukan rencana lokasi kolam.

2. Tentukan rencana luas kolam, supaya kualitas air stabil dan pertumbuhan ikan optimal maka luas kolam minimal burukuran 2m x 3m dengan terpal 3m x 4m, lalu buatlah batas-batasnya.

3. Mulailah membuat tiang kolam dengan kayu, jarak antar tiang 1m. 4. Buatlah dinding kolam dengan papan dan dipaku ke tiang-tiang yang

sudah dipasang.

5. Ratakan dasar tanah sebelum terpal dimasukkan agar tidak ada benda-benda tajam yang dapat membuat terpal bocor. Masukkan terpal, ikat atau paku tepi-tepi atasnya ke tiang-tiang kolam, lipat ujung-ujungnya. 6. Siapkan selang air untuk pemasukan dan pengeluaran air.

7. Supaya suhu air tida terlalu panas pada siang hari, sebaiknya buatkanlah penutup dari paranet atau kalau mau lebih murah meriah yaitu dari daun kelapa.

(8)

Gambar 3.1.1 Kolam Tradisional

(9)

Gambar 3.1.3 Kolam Intensif

Gambar 3.1.4 Kolam

Pemijahan ikan Lele

IV. PEMBAHASAN

Konstruksi kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi yang tepat. Untuk membuat kolam maka tanah yang akan dijadikan kolam harus mampu menyimpan air atau kedap air sehingga kolam yang akan di buat tidak bocor.Bentuk kolam yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan ada beberapa macam antara lain adalah kolam berbentuk segi empat/empat persegipanjang, berbentuk bujur sangkar, berbentuk lingkaran atau berbentuk segitiga. Dari berbagai bentuk kolam ini yang harus diperhatikan adalah tentang persyaratan teknis konstruksi kolam. Persyaratan teknis konstruksi suatu kolam yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan sebaiknya mempunyai pematang kolam. Langkah-langkah pembuatan pematang sebagai berikut:

(10)

dibersihkan dari rumput, batuan dan segala macam kotoran organik maupun anorganik.

2. Pemasangan propil yaitu rangka bambu untuk mempermudah pembuatan bentuk pematang yang dikehendaki.

3. Tanah bagian atas setebal 15-20 cm yang biasanya merupakan lapisan humus digali dan dikumpulkan di suatu tempat. Ini dimaksudkan agar lapisan tanah yang subur dapat dipergunakan sebagai dasar kolam nantinya. Lagipula apabila tanah digali biasanya lapisan tanah yang subur ini justru akan menyebabkan kebocoran kolam apabila ikut tertimbun sebagai pernatang.

5. Supaya lebih memberikan jaminan kekuatan kolam, alangkah baiknya di tanah yang akan dijadikan pematang dibuat galian dengan kedalaman 50 cm dan lebar 50 cm sebagai poros atau sumbu pematang.

6. Kemudian ditimbun tanah baru dari hasil penggalian tanah yang akan dijadikan kolam.

A. Konstruksi kolam pembenihan ikan

Kolam pemeliharaan benih adalah kolam yang digunakan untuk memelihara benih ikan sampai ukuran siap jual (dapat berupa benih atau ukuran konsumsi). Kolam pemeliharaan biasanya dapat dibedakan menjadi kolam pendederan dan kolam pembesaran ikan. Pada kolam semi intensif atau tradisional sebaiknya tanah dasar kolam adalah tanah yang subur jika dipupuk dapat tumbuh pakan alami yang sangat dibutuhkan oleh benih ikan..

A. Konstruksi kolam

(11)

efektif, yaitu cukup dua orang untuk kolam dengan luas 800 m2. Konstruksi dasar kolam dilengkapi dengan bak yaitu disebut dengan istilah kobakan berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar 0,5 sampai 1,5% dari luas kolam, dan tingginya 50-70 cm. dibuat dekat outlet kolam, dengan fungsi utamanya adalah sebagai tempat berkumpulnya induk dan larva pada saat pemanenan. Saluran dasar kolam (kemalir) dibuat dari inlet hingga ke kobakan yang berfungsi untuk memudahkan induk dan larva dapat berkumpul dalam kobakan pada saat panen. B. Persiapan kolam

Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator atau kompetitor yang dapat mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun kualitas benih yang dihasilkan. C. Pemijahan

(12)

D. Pengelolaan pakan dan air

Dosis pemberian pakan adalah 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2-2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein ( 28-30%). Selama pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar 5 hari kedua. Debit air dalam 5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. Dengan demikian air yang mengalir ke kolam terlimpas ke luar kolam melalui saluran pengeluaran. Sedangkan untuk 5 hari kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke luar kolam. Hal ini untuk menghindari hanyutnya larva juga menghindari limpasnya pakan alami yang terdapat di kolam pemijahan, sebagai makanan awal bagi larva.

E. Panen larva

(13)

hari. Larva ukuran kecil ( 9,0 sampai 13 mm) dapat digunakan untuk tujuan jantanisasi menggunakan pakan berhormon. Sedangkan larva ukuran besar dapat langsung didederkan dalam wadah pendederan.

B. Konstruksi kolam pemeliharaan induk ikan

Kolam pemeliharaan induk berfungsi sebagai tempat penyimpanan induk ikan yang akan dikawinkan atau dipijahkan, dan tempat pemeliharaan induk ikan yang telah selesai dipijahkan. Kolam pemeliharaan induk biasanya ada dua buah, satu untuk induk jantan dan lainnya untuk induk betina. Sistem pemasukan air yang ideal adalah secara paralel. Jadi kolam induk jantan dan betina bisa mendapatkan air dari pintu air masing-masing. Jika terpaksa, sistem pemasukan airnya boleh seri. Namun, harus diingat, kolam induk betina harus berada di atas, supaya induk betina tidak terangsang oleh sperma jantan yang keluar secara tidak sengaja.

1. Persiapan wadah kolam induk ikan

(14)

Pengairan dimaksudkan untuk menjaga kondisi lingkungan bagi induk sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan yaitu perairan subur, cukup tersedia oksigen terlarut ( 5 ppm), CO2 (<10 ppm), NH3 ( <1 ppm). Untuk mendapatkan lingkungan pada kolam induk ikan yang demikian, maka air kolam harus terus menerus mengalir sehingga tidak ada lagi penimbunan kotoran air akibat dari sisa pakan atau sampah lainnya.

Jenis-jenis kolam yang dibutuhkan untuk membudidayakan ikan berdasarkan proses budidaya dan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi beberapa kolam antara lain adalah kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam pemeliharaan/ pembesaran, kolam pemberokan induk. Kolam pemijahan adalah kolam yang sengaja dibuat sebagai tempat perkawinan induk-induk ikan budidaya. Ukuran kolam pemijahan ikan bergantung kepada ukuran besar usaha, yaitu jumlah induk ikan yang akan dipijahkan dalam setiap kali pemijahan.Bentuk kolam pemijahan biasanya empat persegi panjang dan lebar kolam pemijahan misalnya untuk kolam pemijahan ikan mas sebaiknya tidak terlalu berbeda dengan panjang kakaban. Sebagai patokan untuk 1 kg induk ikan mas membutuhkan ukuran kolam pemijahan 3 x 10 m dengan kedalaman air 0,75 – 1,00 m. Kolam pemijahan sebaiknya dibuat dengan sistem pengairan yang baik yaitu mudah dikeringkan dan pada lokasi yang mempunyai air yang mengalir serta bersih. Selain itu kolam pemijahan harus tidak bocor dan bersih dari kotoran atau rumput rumput liar.

C. Sistem Pengairan pada kolam

(15)

D. Macam- macam kolam

Kolam Tanah umumnya dikelola secara tradisional. Luas lahan yang dibutuhkan sangat bergantung dari usaha yang akan dijalankan. Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah, yang perlu diperhatikan dari kolam tanah (tradisional) adalah :

Pematang: tidak bocor, cukup tinggi sehingga cukup aman saat datangnya musim hujan.

Kualitas air: Sumber air yang masuk ke kolam harus diperhatikan, dan tidak tercemar, supaya sesuai dengan kondisi yang dubutuhkan Lele untuk cepat besar.

Ketinggian air: idealnya dibutuhkan air untuk memenuhi badan kolam hingga ketinggian 30 - 75 cm ditambahkan bertahap sesuai dengan ukuran lele. Ketersediaan air memadai sepanjang tahun.

Struktur tanah tidak porous/tidak mudah longsor. Lokasi bukan daerah banjir.

Persiapan kolam tanah (tradisional)  Pengolahan Tanah Dasar

Pengolahan tanah dasar terdiri dari pencangkulan dan perataan. Setelah itu, dinding kolam diperkeras untuk mencegah kebocoran dan tanggul yang rusak diperbaiki.

 Pembuatan kamalir sebagai tempat berlindung ikan atau benih sekaligus mempermudah pemanenan.Penebaran Kapur Pertanian

 Pengapuran bertujuan untuk memberantas bibit hama, penyakit, serta memperbaiki kualitas dan menaikkan pH tanah. Dosis kapur ang diberikan sebanyak 20-200 gram/m2, tergantung pH awal tanah.

 Pemberian pupuk

(16)

TSP 10 gram/m2 dan ZA (NH4NO3) 15 gram/M2.

 Pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air yang diberi saringan untuk mencegah kaburnya ikan.

 Pengisian air

Pengisian air dilakukan dengan menutup pintu pengeluaran dan membuka pintu pernasukan sehingga air mengalir dan menggenangi kolam setinggi 50-75 cm

 Penumbuhan pakan alami

Dilakukan dengan cara membiarkan kolam yang telah tergenang air selama 7 hari untuk merangsang tumbuhnya pakan alami berupa plankton.

Kolam permanen, yaitu kolam yang keseluruhan bagian kolam terdiri dari lapisan batu bata dan semen / biasa disebut kolam tembok. Kontruksi kolam permanen harus kuat pada sambungan-sambungan pasangan batu bata / batu kali pada lantai dasar dan dinding kolam karena sebagai penahan air. Dasar kolam dan dinding kolam yang tidak kuat akan mudah retak dan pecah-pecah sehingga mempercepat peresapan air ke dalam tanah.

Hal yang perlu diperhatikan untuk pembuatan kolam semen :

 Konstruksi dasar kolam harus dibuat melandai ke titik pusat pintu keluar dengan kemiringan minimal 5°.

 Saluran pipa pembuangan/ pemasukan air dibuat dengan pipa PVC 3".  Pipa pengeluaran diusahakan agar dapat mengeluarkan lapisan dasar karena lapisan tersebut banyak mengadung bahan endapan lumpur dari sisa makanan dan kotoran ikan.

 Biaya yang diperlukan untuk pembuatan kolam semen cukup tinggi. Kolam Semen relatif aman dari berbagai hama dan resiko rusak / kebocoran. Selain itu dari segi estetika, kolam semen juga lebih rapi dan enak dipandang.

(17)

masih kecil.

Wadah budidaya ikan selanjutnya adalah bak atau tanki yang dapat digunakan untuk melakukan budidaya ikan. Berdasarkan proses budidaya ikan, jenis bak yang akan digunakan disesuaikan dengan skala produksi budidaya dan hampir sama dengan kolam dimana dapat dikelompokkan menjadi bak pemijahan, bak penetasan, bak pemeliharaan dan bak pemberokan. Bak yang digunakan untuk melakukan pemijahan ikan biasanya adalah bak yang terbuat dari beton.

Kolam dengan air tergenang biasanya dikelola dengan metode tradisional. Produktivitas kolam ini tergantung pada kesuburan, yang dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk organik dan anorganik. Pembangunan tambak tradisional sangat sederhana. Kedalaman rata-rata adalah 80 cm, memungkinkan sinar matahari untuk mencapai dasar tambak. Biasanya desain kolam persegi. Produksi tahunan rata-rata untuk polikultur sekitar 2,1 ton / ha. Kolam dengan sistem air mengalir diperkenalkan pada tahun 1974, dan masih berkembang luas di banyak daerah. Masalah utama adalah menemukan lokasi dengan baik pasokan air yang mengalir. kolam air Menjalankan terbuat dari beton dan sebagian besar segitiga dan persegi panjang, tetapi beberapa adalah lingkaran. Tingkat tebar biasanya 1 sampai 3 kg per meter kubik tambak. Hal ini membutuhkan volume tinggi pakan pelet. Secara umum rata-rata hasil panen pada akhir 3 bulan adalah 2 sampai 3 kali berat kaus kaki. Ada juga sistem air semi berjalan dalam hubungannya dengan sistem irigasi. Penggunaan ini baru berkembang. Salah satu masalah dari jenis sistem adalah efek pestisida diterapkan di wilayah irigasi, yang kemudian dapat menyebabkan kematian ikan. Dari beberapa jenis ikan budidaya air tawar, beberapa jenis ikan mas yang dominan, karena harga pasar yang tinggi mereka. spesies lainnya adalah Buntius, gourame raksasa, mencium-gurami, Nila dan Trichogaster.

(18)
(19)

V. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas dan sengaja dibuat manusia agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budidaya dan target produksinya.Biasanya kolam terbuat dari tanah, tembok, atau beton.

2. Konstruksi kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi yang tepat.

3. Jenis-jenis kolam yang akan digunakan sangat tergantung kepada sistem budidaya yang akan diterapkan. Ada tiga sistem budidaya ikan air yang biasa dilakukan yaitu :

 Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah..

 Semi intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian kolamnya(dinding pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar kolamnya terbuat dari tanah.

(20)

DAFTAR REFERENSI

Aditya. 2012. Kolam Pendederan Menggunakan Sistem 2 Monik.

http://http://adityaniad.blogspot.com/2012/09/kolam-pendederan-menggunakan-sistem-2_18.html. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013.

Almatsier, S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Percetakan PT. Gramedia PustakaUtama Jakarta.

Anonim. 2011. Kolam Tanah. http://http://www.dunialele.com/2011/09/kolam-tanah.html. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013.

Arie. 2008. Mengatur Pengairan Kolam.

http://http://solusiikanmas.blogspot.com/2008/03/mengatur-pengairan-sebuah-perkolaman.html. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013.

Djajadireja, S. S. Hatimah dan Z. Arifin. 1977.Buku pedoman pengenalan sumberdaya perikanan darat bagian I. Jakarta:Dtjen Perikanan.

Djuhanda, T. 1981. Dunia perikanan dan Kelautan. Bogor :ITB Press.

Effendie, M. I., 1995.Pembuatan kolam dan Tehniknya. Yayasan Dwi Sri, Bogor. 122 hal.

Evy,R., Endang mujiani dan K. Sujono.2001.Usaha Perikanan di Indonesia. Bogor:Mutiara Sumber Widya.

Gusrina. 2011. Budidaya Ikan Jilid 1. BSE: Jakarta.

Hardjamulia, A., 1978. Budidaya perikanan.Bogor. Departemen Pertanian. BPLPP. Sekolah usaha perikanan.

Khairuman, SP dan Khairul Amri, Spi, M.Si. 2008. Persiapan Kolam Tanah Tradisional. Agromedia Pustaka: Jakarta.

Lani Puspita et al (2005). Lahan Basah Buatan di Indonesia. Bogor: Wetlands International – Indonesia Programme

Macinthosh, D.J and Sampson, D.R.T, 1985. Tilapia Culture : Hatchery methods for Oreochromis mossambicus and O. niloticus. Institute of Aquaculture, University of Stirling. Scotland. 154 pp.

Pulungan. et al., 2006. Penuntun Praktikum Biologi Perikanan Fakultas Perikanan

dan Ilmu Kelautan.Pekan Baru :Unri Riau.

(21)

Wahyudi, M. Joko. 2012. Kolam Semen/Kolam Tembok. http://http://agribisnis-ria.blogspot.com/2012/09/kolam-semen-kolam-tembok.html. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013.

Yunias. 2011. Jenis-Jenis Kolam Ikan Menurut Fungsinya.

Gambar

Gambar 3.1.1 Kolam Tradisional

Referensi

Dokumen terkait