PROPOSAL DISERTASI
PENGGUNAAN MODUL BAGI MENINGKATKAN
KEMANDIRIAN SANTRI DI PONDOK
PESANTREN MODEREN GONTOR
DARUL MA’RIFAT KEDIRI,
JAWA-TIMUR
Komisi Promotor :
PROF. DR. FIRMAN, M.Pd (Kons) PROF. DR. MUKHAIYAR. M.Pd. PROF. DR. MUDJIRAN, M.S. (Kons)
Oleh :
Reza Fahmi (NIM 20721)
PRPGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adpun cita-cita bangsa Indonesia adalah sangat mulia untuk menjadi negara besar, kuat, disegani dan dihormati keberadaannya di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia. Setelah 71 tahun Indonesia merdeka pencapaian cita-cita ini belum sepenuhnya dipenuhi, meskipun kita sadari telah terjadi kemajuan dan banyak capaian yang telah di raih di bidang politik, keamanan, ekonomi,dan kesejahteraan rakyat. Namun demikian kita harus tetap sadar dan lebih meningkatkan kemauan dan kemampuan kita karena ke depan masih banyak persoalan dan tantangan yang lebih kompleks yang harus diselesaikan.
Dengan demikian sikap optimisme dan upaya kuat seluruh anak bangsa dengan semangat nasionalisme dalam mewujudkan cita-cita harus tetap dilakukan secara sistematik, sistemik dan berkelanjutan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan yang besar Meningkatkan komitmen menjadikan pendidikan sebagai sarana utama untuk menuju terwujudnya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi di tengah-tengah masyarakat dunia melalui pendidikan.
diri dan karakter bangsa. Apapun persoalan bangsa yang dihadapi komitmen kita untuk melaksanakan pembangunan pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi dan berbagai peraturan perundangan-undangan yang berlaku tetap dipegang. Komitmen ini direalisasikan dalam berbagai kebijakan dan program yang diarahkan untuk mencapai tujuan meningkatnya kualitas sumber daya manusia demi tercapainya kemajuan bangsa dan negara di masa depan, sebagaimana yang kita cita-citakan bersama. Ini menjadi bagian penting yang menentukan perkembangan pendidikan di Indonesia.
Sungguhpun demikian pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. Disamping itu pendidikan adalah suatu hal yang benar-benar ditanamkan selain menempa fisik, mental dan moral bagi individu-individu, agar mereka menjadi manusia yang berbudaya sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT, sebagai mahluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifah-NYA di muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara .
Pondok Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Selain sebagai lembaga pendidikan juga berfungsi sebagai lembaga sosial, artinya keberadaan suatu pondok pesantren dengan lingkungan sekitarnya bersifat saling mempengaruhi. Oleh karena itu sistem pendidikan dalam pesantrenpun mengalami perkembangan sejalan dengan fase-fase perkembangan masyarakat sekitarnya. Namun demikian ada karakter pesantren yang tidak pernah berubah dari fase-fase perkembangannya tersebut yaitu watak kemandiriannya.
Watak kemandirian inilah yang menyebabkan dunia pesantren mampu mempertahankan eksistensinya di tengah transformasi sosial budaya yang sangat kompleks. Sebab dengan prinsip tersebut setiap pesantren bebas menentukan kebijaksanaan dalam upaya merealisasikan misi agama dan pendidikan yang diembannya sesuai dengan perkembangan masyarakat dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing pesantren. (Nurmawati, 1999: 4)
manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kebahagiaan lahir batin.
Dengan demikian, pesantren mempunyai tuntutan dan tanggungjawab yang sangat besar dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional (mencerdaskan kehidupan bangsa) tersebut, demi terwujudnya peserta didik yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual. Dalam hal ini disebut santri menjadi manusia yang mandiri dan mempunyai ekstra kecakapan, sehingga nantinya mereka mempunyai bekal dalam menghadapi beranekaragaman kehidupan dan tantangan zaman.
Sebagai salah satu lembaga pendidikan pondok pesantren mampu memberi pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan, baik jasmani, ruhani, maupun intelegensi, karena sumber nilai dan norma-norma agama merupakan kerangka acuan dan berfikir serta sikap ideal para santri. Sehingga pesantren sering disebut sebagai alat tranformasi kultural. Fungsi pokok pesantren adalah mencetak ulama yang intelek. Kegiatan pembelajaran yang terjadi di pesantren tidaklah sekedar pemindahan ilmu pengetahuan dan ketrampilan tertentu tetapi yang terpenting adalah penanaman dan pembentukan nilai-nilai tertentu kepada santri.
...Semua ini dapat muncul tak lepas dari peran serta para kiai atau ustadz, kakak kelas, yang selama dua puluh empat jam terus menerus senantiasa memberi bimbingan, pengarahan sehingga setiap gerak gerik mereka selalu terawasi dengan seksama. “Pesantren adalah sistem pendidikan yang melakukan kegiatan sepanjang hari. Santri tinggal di asrama dalam satu kawasan bersama guru, kiai, dan senior mereka. Oleh karena itu, hubungan yang terjalin antara santri-guru-kiai dalam proses pendidikan berjalan intensif, tidak sekedar hubungan formal ustadz-santri di dalam kelas. Dengan demikian kegiatan pendidikan berlangsung sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari. (Qomar, 2007 : 64)”.
Di antara cita-cita pendidikan pesantren adalah menghasilkan anak didik (santri) yang mandiri dan membina diri agar tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain (Rahim, 2001: 26). Sebagai salah satu lembaga pendidikan, Pondok Pesantren telah membuktikan bahwa dirinya telah berhasil mencetak santri-santri yang mandiri, minimal tidak selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain. Hal ini disebabkan selama di pesantren para santri tinggal jauh dari orang tua. Para santri dituntut untuk dapat menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Kemandirian dalam belajar maupun bekerja didasarkan pada disiplin terhadap diri sendiri, santri dituntut untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif.
Sungguhpun Pondok Pesantren telah membekalkan sikap kemandirian terhadap para santri / peserta didik, melalui berbagai kegiatan harian yang mewajibkan mereka melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sendiri. Misal; mencuci pakaian, memasak, merapihkan kamar, membersihkan lingkungan dan sebagainya. Namun peran Kiai dan Ustadz / guru masih lagi mendominasi keputusan yang kan diambil oleh para santri dalam menentukan prilaku apa yang akan mereka kerjakan.
Australia sebanyak 1 orang dan beberapa negara Timur Tengah (Arab Saudi dan Uni Emirat Arab) sebanyak 3 orang. Dengan hal yang sedemikian untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin sebagai konsulat (pemimpin atau ketua perwakilan di tingkat wilayah tertentu, misal; konsulat Sumatera Barat, konsulat Riau, konsulat DKI, konsulat Luar Negeri dan sebgainya) keputusan diambil oleh para Ustad / guru. Kemudian untuk kegiatan pengabdian (magang) yang akan dijalankan sebagai proses penempaan diri untuk mempersiapkan para santri untuk kembali ke masyarakat sebelum mereka memperoleh ijazah ke lulusan juga sangat ditentukan oleh para Kiai atau Ustadz yang membimbing mereka. Disamping itu pemilihan posisi atau jabatan tertentu yang akan diberikan kepada pelajar senior dalam membimbing adiknya (dalam proses pengkaderan), ketika mereka akan memasuki kelas 5 juga ditentukan oleh para Ustadz dan Kiai. Apakah mereka akan menjadi mudhabir / pembimbing di asrama, apa mereka akan ditempatkan membantu pada bagian penerimaan tamu, apa mereka akan ditempatkan membantu administrasi atau apa mereka akan ditempatkan untuk membantu unit usaha yang dikembangkan Pondok Moderen Darussalam Gontor (PMDG) 3, apa mereka ditempatkan pada bagian keamanan dan sebagainya juga sangat ditentukan oleh Kiai dan para Ustadz.
Penjelasan di atas memberikan gambaran pada kita bahwa Pondok Pesantren pada satu pihak membekalkan para santri sikap kemandirian, namun tidak sepenuhnya kemandirian tersebut diberikan untuk para santri. Dilain pihak peran Kiai dan Ustadz sangat menentukan bagi langkah-langkah yang akan ditempuh para santri dalam mengembangkan diri mereka masing-masing.
kemudian para santri bisa memberikan masukan ke arah mana mereka akan melangkah (memilih posisi atau kedudukan serta menentukan tempat pengabdian atau magang serta menentukan kelayakan diri mereka sebagai pimpinan konsulat).
Menurut Dharma (2008:3) modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitas. Dalam pandangan lain Mulyasa (2004:43) menyatakan modul adalah satu pembelajaran mengenai suatu satuan kompetensi tertentu yang disusun secara sistematis, oprasional dan terarah yang digunakan oleh para peserta didik serta pedoman penggunaannya oleh para guru.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Para santri belum memiliki kemandirian untuk menentukan posisi atau jabatan tertentu yang akan mereka emban dalam proses pengkaderan yang dilakukan pada saat mereka berada di kelas 5.
2. Para santri belum memiiki kemandirian untuk menentukan tempat pengabdian (magang) yang akan mereka lakukan sebagai tanggungjawabnya yang menjadi prasyarat untuk dapat memperoleh ijazah kelulusan dari PMDG Gontor 3.
4. Perlunya modul pembinaan karakter pada para Ustadz / guru agar mereka mengetahui bagaimana pembinaan karakter yang perlu mereka lakukan. Sehingga mellaui pembinaan tadi maka, para santri akan menyadari apakah mereka layak untuk menduduki jabatan tertentu, melakukan pengabdian atau magang di tempat tertentu. Kemudian para santri menyadari kelayakan dirinya untuk menjadi konsulat atau tidak.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas, dapat dirumuskan batasan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Modul pendidikan karakter yang menurut para ahli layak untuk dimanfaatkan oleh para Ustadz / guru.
2. Diskripsi tingkat keterpaian modul pendidikan karakter untuk peningkatan kemandirian para santri PMDG Gontor 3 Darul Ma’rifat.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada batasan masalah, maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :
1. Apakah modul pendidikan karakter yang dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian para santri layak menurut para ahli untuk dimanfaatkan oleh para Ustadz / guru di Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gonot 3?
E. Tujuan Pengembangan
Berdasar rumusan masalah yang telah ditetapkan tersebut maka tujuan dari pengembangan ini adalah:
1. Menghasilkan modul pendidikan karakter yang layak menurut para ahli untuk dimanfaatkan oleh para Ustadz / guru di Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gontor 3.
2. Mendeskripsikan tingkat keterpaian modul pendidikan karakter untuk peningkatan kemandirian para santri PMDG Gontor 3 Darul Ma’rifat.
F. Pentingnya Pengembangan
Rasional yang melandasi pengembangan modul pendidikan karakter bagi peningkatan kemandirian para santri di PMDG Gontor 3 Darul Ma’rifat sebagai berikut :
1. Belum ada modul yang membahas pendidikan parakter di Pondok Pesantren. 2. Kondisi yang terjadi saat ini masih ditemukannya sikap ketidak mandirian santri di
Pondok Pesantren.
G. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
1. Asumsi
a. Siswa memiliki kesempatan untuk melatih diri, belajar secara mandiri dan memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan diri sendiri dengan mengerjakan latihan yang ada di dalam modul.
b. Para Ustadz / guru dapat memanfaatkan modul karena mengurangi ketergantungan terhadap ketersediaan buku teks memperluas wawasan karena menggunakan berbagai referensi dan membangun komunikasi yang efektif antara para Ustadz dengan para santri karena pembelajaran tidak harus berjalan secara tatap muka. 2. Keterbatasan Pengembangan
Penelitian pengembangan yang dilakukan ini tidak bermaksud untuk menggenralisasi produk yang telah dihasilkan serta penyempurnaan dari segi bahasa dan segi perwajahan ( ukuran huruf, warna dan daya tarik) Hasil penelitian ini hanya sebatas pada uji validasi ahli dan uji kelompok kecil.
H. Definisi Istilah
Penelitian ini berjudul “Pengembangan Model Pendidikan Karakter Melalui Modul Bagi Peningkatan Kemandirian Santri di PMDG Gontor 3 Darul Ma’rifat Kediri, Jawa Timur”. Untuk tidak terjadi kesalah pahaman mengenai judul yang diajukan maka dikemukakan penjelasan sebagai berikut :
sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang relegius, nasionalis, produktif, dan kreatif.
2. Modul sebuah media yang disusun secara sistematis, yang membahas tentang pendidikan karakter bagi peningkatan kemandirian para santri. Modul ini dimanfaatkan oleh para Ustadz dalam memberikan pembinaan kepada para santri. 3. Kemandirian adalah suatu sifat yang memungkinkan seseorang bertindak bebas,
melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan serta memiliki keinginan untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain, sampai batas kemampuannya.
I. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan disertasi didasarkan pada Buku Panduan Penulisan Tesis dan Disertasi yang diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Negeri Padang Tahun 2011. Adapun sitematika penulisan modul memperhatikan masukan dari promotor, para ahli dan sumber lain yang relevan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Sejarah Pondok Pesantren di Tanah Air
Namun Zamachsjari Dhofier mendefinisikan pesantren berasal dari kata santri yang diawali dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti sebagai tempat tinggal para santri (Zamakhsari Dhofier. 1982). Sementara Manfred Ziemek, sebagaimana di kutip oleh Haidar Putra Daulay menguatkan dengan menyatakan secara etimologi pesantren adalah pesantrian yang berarti tempat santri (Haidar Putra Daulay, 2007). Sementara Menurut Mastuhu, sebagaimana di kutip oleh Fatah Syukur, mengatakan secara definitif pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam (tafaqquh fi al-din) dengan mementingkan moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari (Fatah Syukur, 2004).
keagamaan pra-Islam, yang disebut dengan mandala. Konon mandala ini telah ada sejak zaman sebelum majapahit dan berfungsi sebagai pusat pendidikan (semacam sekolah) dan keagamaan. Mandala dianggap oleh orang Hindu-Budha sebagai tempat suci karena disitu tinggal para pendeta atau pertapa yang memberikan kehidupan yang patut dicontoh masyarakat sekitar karena kesalehannya. Mandala juga disebut sebagai wanasrama yang dipimpin oleh siddapandita yang bergelar muniwara, munindra, muniswara, maharsi, mahaguru atau dewa guru (Ismawati, 2004).
Oleh karenanya, pesantren di Indonesia umumnya mengakar pada budaya setempat yang dari dulu hingga sekarang sangat mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara sosio demografi, masyarakat kita masih sangat menonjolkan perilaku ketokohan seseorang di dalam lingkungan pesantren (Tjahjo Kumolo, 2007). Diakui atau tidak, pesantren dengan berbagai bentuk dan variasi proses pembelajarannya, merupakan bagian dari peradaban bangsa yang telah melekat kuat dalam sejarah bangsa. Keunggulan pesantren terletak pada prinsip “memanusiakan manusia” dalam proses pembelajarannya (MH Said Abdullah, 2007).
dari belajar pada seorang kyai, ia di beri izin untuk atau ijazah oleh kyai untuk membuka dan mendirikan pesantren baru di daerah asalnya. Dengan begini, perkembangan pesantren semakin merata pada berbagai daerah, di tanah air terutama di perdesaan.
Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor. Selanjutnya Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo.
Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh-tokoh alumni pesantren dan tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang Pimpinan Pondok(Kyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH Imam Zarkasy)dan KH Syamsul Hadi Abdan,S.Ag. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri).
perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran. (3) Syanggit, di Mauritania, yang dihiasi kedermawanan dan keihlasan para pengasuhnya. (4) Santiniketan, di India, dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaiannya.
B. Visi, Misi, Tujuan Motto dan Strategi PMDG Gontor Darussalam
Visi Gontor adalah : Sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah talab al-’ilmi; dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum, dengan tetap berjiwa pesantren. Manakala misi yang dijalankan Gontor adalah sebagai berikut : (1) Membentuk generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah. (2) Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengeta-huan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek. Mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Untuk mewujudkan visi dan misi yang digariskan pendiri Gontor maka, dirumuskan bahwa tujuan pendirian Gontor adalah sebagai berikut : (1) Terwujudnya generasi yang unggul menuju terbentuknya khaira ummah. (2) Terbentuknya generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat. (3) Lahirnya ulama intelek yang memiliki keseimbangan dzikir dan pikir. (4) Terwujudnya warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
berbasis komunitas: segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami oleh para santri dan warga Pondok dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Program reguler untuk lulusan Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan masa belajar hingga enam tahun. Kelas I-III setingkat dengan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) jika mengacu pada kurikulum nasional dan kelas IV-VI setara dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (MA). Program intensif KMI untuk lulusan SMP/MTs yang ditempuh dalam 4 tahun. Bahasa Arab dan bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan, kecuali mata pelajaran tertentu yang harus disampaikan dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Arab dimaksudkan agar santri memiliki dasar kuat untuk belajar agama mengingat dasar-dasar hukum Islam ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Inggris merupakan alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan/umum.
Pengasuhan santri adalah bidang yang menangani kegiatan ekstrakurikuler dan kurikuler. Setiap siswa wajib untuk menjadi guru untuk kegiatan pengasuhan pada saat kelas V dan VI jika ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di ISID, mereka tidak akan dipungut biaya, tetapi wajib mengajar kelas I-VI di luar jam kuliah.mengajar kuliah dan membantu pondok itulah yang di lakukan sebagai bentuk pengabdian dan pengembangan diri.
pada kurikulum nasional dan kelas IV-VI setara dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (MA). Program intensif KMI untuk lulusan SMP/MTs yang ditempuh dalam 4 tahun. Bahasa Arab dan bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan, kecuali mata pelajaran tertentu yang harus disampaikan dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Arab dimaksudkan agar santri memiliki dasar kuat untuk belajar agama mengingat dasar-dasar hukum Islam ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Inggris merupakan alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan/umum. Pengasuhan santri adalah bidang yang menangani kegiatan ekstrakurikuler dan kurikuler. Setiap siswa wajib untuk menjadi guru untuk kegiatan pengasuhan pada saat kelas V dan VI jika ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di ISID, mereka tidak akan dipungut biaya, tetapi wajib mengajar kelas I-VI di luar jam kuliah.mengajar kuliah dan membantu pondok itulah yang di lakukan sebagai bentuk pengabdian dan pengembangan diri.
1. Tinjauan Tentang Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter saat ini sangat relevan diterapkan dalam lingkungan keluarga dan sekolah sebagai wadah yang berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak (Hasan dkk, 2010:3).
Selanjutnya Zubaedi (2011:11) berpendapat bahwa Character is the sum of all the qualities that make you who you are. It’s your values, your thoughts, your words, your
Pengembangan karakter dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai etika dasar (core ethical values) sebagai basis bagi karakter yang baik. Tujuannya adalah terbentuknya karakter yang baik. Indikator karakter yang baik terdiri dari pemahaman dan kepedulian pada nilai-nilai etika dasar, serta tindakan atas dasar inti nilai-nilai etika yang murni.
Dengan demikian pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang relegius, nasionalis, produktif, dan kreatif. Pendidikan karakter merupakan sebuah upaya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter kuat Pekerti luhur dan berwatak bangsa yaitu sesuai dengan falsafah Pancasila.
Menurut Gede Raka dkk. (2010:16) grand design yang dikembangkan secara psikologis dan sosial kultur pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dan konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Menurut Muhtadi Ali (2014:21) materi pendidikan karakter antara lain ; pengajaran tentang keadilan, amanah, pengampunan, antisipatif, arif, baik sangka, kebajikan, keberanian. Bijaksana, cekatan, cerdas, cerdik, cermat, pendaya guna, demokratis, dermawan, dinamis, disiplin, efisien, empan papan, empati, fair play, gigih, gotong royong, hemat, hormat, kehormatan, ikhlas, inisiatif, inovatif, kejujuran, pengendalian diri, rajin, ramah, sabar, santun, produktif, mandiri dan sebagainya.
Hasan (dalam Zubaedi, 2011:18). Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter. menjelaskan pendidikan karakter secara terperinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi kalbu atau nurani peserta didik yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab. Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa yang bermartabat. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter, nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasi dari empat sumber: (1) Agama, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama; (2) Pancasila, NKRI ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yaitu Pancasila; (3) Budaya, nilai budaya dijadikan dasar karena tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari nilai-nilai budaya; (4) Tujuan pendidikan nasional, berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Hasan dkk, 2010:8).
kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang turut berperan dalam menentukan keberhasilan sekolah.
Ramly dkk (2011) menjelaskan bahwa pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu: (a) Kegiatan Rutin, dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman; (b) Kegiatan spontan, dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana; (c) Keteladanan, Merupakan perilaku, sikap guru, tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain; (d) Pengkondisian, penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kebersihan badan dan pakaian, toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak di sekolah dan di dalam lembaga pendidikan.
2. Kurikulum yang diimplementasikan di pondok pesantren
adalah tidak sekedar bisa membaca dengan benar, tapi juga memahami, mengungkapkan, mengembangkan dan mengkontekstualisasikan kandungannya. Kalau pun toh ditemukan „kitab putih (non kitab kuning) pada pesantren salafi dalam kurikulumnya, itu pasti hanya‟ bagian yang sangat kecil, dan sifatnya tak wajib atau hanya sekedar pengayaan. Pesanten kitab kuning (salaf), adalah pesantren yang masih mewarisi genuine karakteristik khazanah Islam Indonesia. Pesantren jenis ini perlu dipertahankan dan dibina agar dapat menjaga karakteristik serta tradisi keilmuannya tidak luntur dan tetap berperan besar sebagai pialang budaya sekaligus subkultur dari masyarakat pesantren.
Model kedua, pesantren kolaboratif yang lazim disebut kholaf. Pengelolaan pembelajarannya merupakan perpaduan antara sekolah formal dengan kurikulum standar pemerintah (pendidikan formal) dan madrasah diniyah dengan standar kurikulum kitab kuning. Dalam pelaksanaan pembelajarannya, santri harus bersekolah dua kali dalam sehari, misalnya sekolah formal pada pagi hari dan madrasah diniyah pada malam hari dengan kurikulum kitab kuning. Inilah yang penulis masud dengan kolaborasi “kitab kuning” dengan “kitab putih”. Dengan demikian, output alumninya diharapkan menjadi sosok yang faqih fi ulumuddin, juga yang faqih fi mashalihil ummah (Ali Mas udi 2015).‟
proses integrasi pendidikan Islam dalam hal ini pendidikan pesantren ke dalam pendidikan nasional.
Kurikulum merupakan rangkaian kegiatan yang menampung kerangka, guna membantu para guru untuk melaksanakan segala kegitan pembelajaran Kegiatan ini memberikan peluang yang lebih besar kepada para santri sebagai wujud kepedulian pesantren. Di samping itu, kemampuan santri dalam menguasai materi kurikulum pesantren (madrasah diniyah) untuk diintegrasikan sebagai landasan kenaikan kelas pada pendidikan formal. Dari sini diharapkan kemampuan santri dalam menguasai ilmu agama (kepesantrenan) dan ilmu umum (pendidikan formal) dapat seirama.
Berdasarkan uraian tersebut, maka desain kurikulum pesantren yang digunakan untuk melayani santri secara garis besarnya dapat dikembangkan melalui; 1) melakukan kajian kebutuhan (need assessment) untuk memperoleh faktor-faktor penentu kurikulum serta latar belakangnya, 2) menentukan mata pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan kebutuhan dan lingkup urutannya, 3) merumuskan tujuan yang diharapkan, 4) menentukan standar hasil belajar yang diharapkan sehingga keluarannya dapat terukur, 5) menentukan kitab yang dijadikan pedoman materi ajar dan ditentukan sesuai urutan tingkat kelompoknya, 6) menentukan syarat yang harus dikuasai santri untuk mengikuti pelajaran pada tingkat kelompoknya, 7) menentukan trategi pembelajaran yang serasi serta menyediakan berbagai sumber dalam proses pembelajaran, 8) menentukan alat evaluasi penilaian hasil belajar dan 9) membuat rancangan rencana penilaian kurikulum secara keseluruhan dan stategi pengembangan berkelanjutan.
Islam. (2) Pendidikan Bahasa (Indonesia dan Inggris). (3) Ke-Indonesiaan. (4) Ilmu Umum dan (5) Karakter dan Kemandirian.
3. Model pendidikan karakter di pondok pesantren.
Pesantren sebagai salah satu sub sistem Pendidikan Nasional yang indigenous Indonesia, mempunyai keunggulan dan karakteristik khusus dalam mengaplikasikan pendidikan karakter bagi anak didiknya (santri). Hal itu karena : Adanya Jiwa dan Falsafah. Pesantren mempunyai jiwa dan falsafah yang ditanamkan kepada anak didiknya. Jiwa dan falsafah inilah yang akan menjamin kelangsungan sebuah lembaga pendidikan bahkan menjadi motor penggeraknya menuju kemajuan di masa depan.
Transformasi nilai-nilai pendidikan pesantren yang berlangsung sepanjang tahun, melalui berbagai sarana (lisan, tulisan perbuatan dan kenyataan), telah mampu memadukan seluruh komponen pesantren dalam satu barisan. Sehingga tidak terjadi tarik-menarik kepentingan dan orientasi antara satu pihak dengan lainnya. Semuanya melandasi gerak langkahnya dengan bahasa keikhlasan, kesederhanaan, kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan untuk menggapai ridha Allah. Semua mempunyai pengertian dan keterpanggilan akan tanggungjawab untuk merealisasikan visi dan misi pendidikan pesantrennya. Semua mempunyai keterikatan pada sistem hingga kultur yang sudah terbentuk di pesantren. Karena mereka semua mempunyai kesadaran, keterpanggilan dan loyalitas baik kepada nilai, sistem maupun pemimpin. Soliditas ini menumbuhkan kekuatan yang dahsyat dalam proses pendidikan karakter di pesantren. Sehingga terciptalah tri pusat pendidikan yang terpadu (Ali Mas’udi, 2015).
pendidikan pesantren hal ini sulit direalisasikan secara ideal dan optimal, alhamdulillah di pesantren, ketiga faktor pendidikan ini dapat dipadukan. Para santri hidup bersama dalam asrama yang padat kegiatan dan berdisiplin, dibawah bimbingan para guru dan pengasuh. Integralitas Tri Pusat Pendidikan membantu terwujudnya integralitas kurikulum antara intra, co dan ekstra kurikuler yang saling menguatkan. Juga mewujudkan Integralitas ilmu pengatahuan, antara ilmu agama dan pengetahuan umum yang tidak terdikotomikan, serta menciptakan integralitas antara ilmu dan amal dalam kehidupan. Pesantren menerapkan totalitas pendidikan dengan mengandalkan keteladanan, penciptaan lingkungan dan pembiasaan melalui berbagai tugas dan kegiatan. Sehingga seluruh apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dikerjakan oleh santri adalah pendidikan. Selain menjadikan keteladanan sebagai metode pendidikan utama, penciptaan miliu juga sangat penting. Lingkungan pendidikan itulah yang ikut mendidik.
Pengaturan kegiatan dalam pendidikan Pesantren ditangani oleh Organisasi Pelajar yang terbagi dalam banyak bagian, sepertti bagian Ketua, Sekretaris, Bendahara, Keamanan, Pengajaran, Penerangan, Koperasi Pelajar, Koperasi Dapur, Kantin Pelajar, Bersih Lingkunan, Pertamanan, Kesenian, Ketrampilan, Olahraga dan Penggerak Bahasa.
Kegiatan Kepramukaan juga ditangani oleh Koordinator Gerakan Pramuka dengan beberapa andalan; Ketua Koordinator Kepramukaan, Andalan koordinator urusan kesekretariatan, Andalan koordinator urusan keuangan, Andalan koordinator urusan latihan, Andalan koordinator urusan perpustakaan, Andalan koordinator urusan perlengkapan, Andalan koordinator urusan kedai pramuka dan pembina gugus depan.
kamar. Setiap club olah raga dan kesenian juga mempunyai struktur organisasi sendiri, sebagaimana konsulat (kelompok wilayah asal santri) juga dibentuk struktur keorganisasian. Seluruh kegiatan yang ditangani organisasi pelajar ini dikawal dan dibimbing oleh para senior mereka yang terdiri dari para guru staf pembantu pengasuhan santri, dengan dukungan guru-guru senior yang menjadi pembimbing masing-masing kegiatan. Secara langsung kegiatan pengasuhan santri ini diasuh oleh Bapak Pimpinan Pondok yang sekaligus sebagai Pengasuh Pondok.
Pengawalan secara rapat, berjenjang dan berlapis-lapis ini dilakukan oleh para santri senior dan guru, dengan menjalankan tugas pengawalan dan pembinaan, sebenarnya mereka juga sedang melalui sebuah proses pendidikan kepemimpinan, karena semua santri, terutama santri senior dan guru adalah kader yang sedang menempuh pendidikan. Pimpinan Pondok membina mereka melalui berbagai macam pendekatan program, pendekatan manusiawi (personal) dan pendekatan idealisme.
C. Kemandirian
akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Kemampuan untuk mandiri tidak terbentuk dengan sendirinya. Kemampuan ini diperoleh dengan kemauan, dan dorongan dari orang lain. Masrun dkk (2006) menyatakan bahwa kemandirian adalah suatu sifat yang memungkinkan seseorang bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri, mengejar prestasi, penuh keyakinan dan memiliki keinginan untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu mengatasi persoalan yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakan, mampu mempengaruhi lingkungan, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki, menghargai keadaan diri dan memperoleh kepuasan atas usaha sendiri.
Havighurst (dlm. Desmita, 2010) membedakan kemandirian dalam bentuk a. Kemandirian emosi, yaitu kemampuan mengontrol emosi sendiri dan tidak tergantung kebutuhan emosi pada orang lain. b. Kemandirian ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidaktergantungan kebutuhan ekonomi pada orang lain. c. Kemandirian intelektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi masalah berbagai masalah yang dihadap. Kemandirian sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung pada aksi orang lain.
Masrun dkk (2006) mengemukakan aspek-aspek kemandirian yaitu: a. Bebas. Aspek ini ditunjukkan dengan tindakan yang dilakukan atas kehendaknya sendiri, bukan karena individu lain dan tidak pula tergantung pada individu lain b. Progresif dan ulet. Aspek ini yang ditunjukkan dengan adanya usaha untuk mengejar prestasi, penuh ketekunan, perencanaan serta mewujudkan harapan-harapan. c. Inisiatif. Yang termaasuk dalam aspek ini adalah kemampuan untuk berfikir dan bertindak secara original dan penuh kreatif. d. Pengendalian dari dalam (Internal Locus of Control). Yang termasuk dalam aspek ini adalah adanya perasaan mampu untuk menghadapi masalah yang dihadapi, kemampuan mengendalikan tindakannya serta kemampuan mempengaruhi lingkungannya dan atau usahanya sendiri. e. Kemantapan diri (Self esteem, self confidence). Aspek ini mencakup rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Dengan demikian kemandirian adalah suatu sifat yang memungkinkan seseorang bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan serta memiliki keinginan untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain, sampai batas kemampuannya. Skala kemandirian yang disusun berdasarkan teori Masrun, dkk (2006) meliputi aspek-aspek : bebas, progresif dan ulet, inisiatif, pengendalian dari dalam, kemantapan diri.
D. Penelitian Relevan
tafaqquh fial-din, menerapkan metode-metode transformatif, dan pendidikan yang berbasis pada masyarakat (community based education). Demikian, format ini ditemukan pada pesantren yang menyeimbangkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum serta dilengkapi dengan berbagai pendidikan ketrampilan didalamnya. Format pesantren demikian yang menggunakan pendekatan integratif akan mampu memenuhi tuntutan dan permintaan masyarakat berkembang sekarang ini karena hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan dan keselarasan antara aspek dunia dan akhirat.
Penelitian di atas menggambarkan keberadaan pesantren di Kudus, Jawa Tengah dengan karakteristiknya sendiri yang menyerupai pesantren lain di tanah air. Di mana persamaan penelitian tersebut di atas dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah bahwa, di pesantren pendidikan berlangsung sepanjang waktu, transformatif. Sedangkan perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah fokus kajian bukan pada pendidikan karakter.
mampu mengatasi persoalan dan kendala keduniaan dalam berhubungan dengan sesama manusia. Dalam kaitan itu maka pendidikan agama di pesantren berpadu dengan pendidikan-pendidikan lainnya dalam rangka pembentukkan manusia yang sempurna.
Penelitian di atas memiliki persamaan dengan penelitian yang dijalankan oleh peneliti, di mana pesantren tidak saja membekalkan santri hanya Ilmu Agama semata, tetapi juga mengembangkan Ilmu Umum (Sains dan teknologi). Hanya saja yang membedakan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah proporsi muatan kurikulum pesantren di mana pada pesantren di Banyumas muatan materi Ilmu Agama sebanyak 60% berbanding dengan Ilmu Umum sebanyak 40%. Manakala di Pondok Moderen Darussalam Gontor muatan Ilmu Agama dan Ilmu Umum dalam kurikulum sebanding yakni 100%.
tersebut. Seperti, dalam bidang pertanian, perkebunan, ilmu kehutanan, perdagangan dan jasa. (3) r skor = 0.847. Kemudian r tabeel = 1,64 dan p= 0.000< 0.05. Ini berarti Ho telah ditolak dan H1 diterima.. Maka, hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kemahiran hidup dan aktualisasi diri. Kita juga mendapat informasi yang r skor = 0.763. Kemudian r tabel tabel = 1,64 dan p= 0.000< 0.05. Ini berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Maka, ini
bermakna bahwa ada korelasi antara kemampuan entrepeneurships dengan aktualisasi diri. Penelitian di atas menunjukkan bahwa PMDG telah memberdayakan diri (mandiri) untuk memajukan institusinya dengan berbagai usaha yang dijalankan. Hingga kini telah ada 31 unit usaha yang dikembangkan oleh PMDG untuk menunjang kemandiriannya. Misal : pabrik roti, usaha perkebunan, usaha pertanian, konveksi, pabrik es krim, telekomunikasi, usaha penerbitan dan lain-lain.
Penelitian diatas memiliki persamaan dengan kajian yang akan dijalankan oleh peneliti dalam aspek kemandirian. Di mana kemandirian menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses pendidikan yang dijalankan oleh Pondok Moderen Darussalam Gontor. Salah satu bukti empirisnya adalah pengembangan unit usaha yang dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan kegiatan pondok.
karakter yang baik. Pada hakekatnya, implementasi pendidikan karakter dapat diintegrasikan melalui mata pelajaran, pengembangan diri dan kultur sekolah. Dalam meningkatkan pendidikan karakter pada siswa melalui srategi yang berfokus pada pengembangan kultur sekolah. Kultur sekolah merupakan keyakinan, kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah. Kultur sekolah sendiri juga diimplementasikan melalui kegiatan rutin sekolah, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian pada kegiatan tersebut akan disisipkan nilai-nilai karakter. Menurut hasil penelitian bahwa implementasi pendidikan karakter sesuai dengan visi dan misi yang ada di sekolah, jadi nilai karakter yang ditanamkan di SMA Negeri 1 Gedangan yaitu nilai karakter jujur, religius, tanggungjawab dan disiplin. Serta dapat pula disimpulkan bahwa siswa memberi respon baik terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah atau kebiasaan-kebiasaan di lingkungan sekolah.
Penelitian diatas adalah relevan dengan penelitian yang dijalankan oleh peneliti, utamanya berkaitan dengan aspek yang diselidi yakni pendidikan karakter. Walau bagaimana pun perbedaan yang mendasar penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah setting lembaganya.Pada penelitian di atas dijalankan di Sekolah Menengah Atas, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti di PMDG atau pondok pesantren.
dan Cooperative Learning, dan integrated learning. Pengembangan kecerdasan di sekolah mengacu pada konsep multiple intelegences (kecerdasan majemuk), artinya selain kecerdasan akademik yang dikembangkan, pihak sekolah juga mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lainnya yang diyakini akan membantu siswa kelak dalam menjalani kehidupan, antara lain : Kecerdasan Verbal-Bahasa, Kecerdasan Kinestetik, Kecerdasan Gambar, Kecerdasan Musik, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Natural, Kecerdasan Logika-Matematika, dan Kecerdasan Spritual. Pengembangkan kemandirian melalui pendidikan karakter berbasis kecerdasan majemuk berdasarkan potensi utama dan actual yang dimiliki oleh siswa. Tiga kemandirian yang dikembangkan pada siswa di sekolah, yaitu kemandirian belajar, kemandirian hidup, dan kemandirian menentukan masa depan.
Penelitian yang dijalankan di atas adalah relevan dengan penelitian yang dijalankan oleh peneliti, mengingat topik yang dikaji tentang pendidikan karakter. Sungguhpun demikian yang membedakan penelitian terdahulu diatas dengan penelitian yang dijalankan oleh peneliti terletak pada objek kajian. Di mana objek kajian pada penelitian diatas adalah pelajar Sekolah Dasar. Manakala kajian yang dijalankan oleh peneliti adalah santri yang berpendidikan setara dengan pendidikan di sekolah menengah.
mengumpulkan tugas mandiri dengan menyalin pekerjaan teman, mahasiswa tidak mengerjakan tugasnya sendiri artinya tidak bertanggung jawab pada tugas yang dibebankannya. (2) Model Kerja praktik (simulasi) berkelompok dalam Perkuliahan Perpajakan Mampu Mendorong Sikap/Perilaku Tanggung Jawab Mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi FISE UNY. Berdasarkan angket tertutup yang diberikan diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki nilai kejujuran akademik dan non akademik yang bagus (rata-rata nilai 90) dan memiliki tanggung jawab akademik dan non akademik yang tinggi (nilai rata-rata 85).
Penelitian di atas sejalan dengan penelitian yang dilakukan peneliti yang memfokuskan pada aspek pendidikan karakter. Sungguhpun demikian yang membedakan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada setting
lembaga. Di mana pada penelitia di atas yang menjadi objek kajian adalah kelompok mahasiswa. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti lebih difokuskan pada kelompok peserta didik dengan peringkat pendidikan di Sekolah Menengah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Model Pengembangan
Dalam penelitian ini dikembangkan sebuah modul yang diharapkan dapat menjawab permasalahan dilapangan terkait dengan fenomena pendidikan karakter bagi peningkatan kemandirian para santri di Pondok Pesantren.
Berdasarkan karakteristik dari beberapa model yang ada, peneliti memilih model ADDIE (Analyzed, Design, Development, Implementation, Evaluation) sebagai acuan dalam penelitian ini, karena model ADDIE memakai dasar-dasar bersifat umum, sistematis dan bertahap sehingga setiap elemen memiliki keterkaitan satu dengan yang lain.
B. Prosedur Pengembangan
Secara garis besar prosedur pengembangan dalam penelitian ini disajikan dalam proses pengembangan ADDIE menurut Grafinger (dlm. Molenda, 2003:2) seperti pada Gambar 1. Diagram model ADDIE tersebut memperlihatkan proses pengembangan yang terus berlanjut antara satu tahapan dengan tahapan yang lain.
Analyzed
Design
Development
Implentation
C. Uji Coba Produk
Untuk mendapatkan sebuah produk yang layak dn dapat dipakai, perlu ada uji coba produk. Uji coba produk dalam penelitian pengembangan dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat efektifitas dan efesiensi produk serta daya tarik dari produk yang dihasilkan (PPS UNP, 2011: 34).
Dalam penelitian ini kegiatan pengembangan produk hanya sampai kepada tahap uji coba pada kelompok kecil yaitu untuk menghasilkan produk yang secara isi dinyatakan layak oleh para ahli dan secara prosedur memenuhi kriteria keterpaiakan oleh para Ustadz dalam melakukan pembinaan kepada para santri di PMDG Gontor 3 Darul Ma’rifat.
D. Subjek Uji Coba
Dalam menentukan subjek uji coba dilakukan beberapa langkah, antara lain sebagai berikut :
1. Tahap Validasi Produk
Validasi produk melibatkan subjek uji coba yang merupakan para ahli. Ahli yang melakukan validasi yaitu : (1) Prof. Dr. H. Firman, MS. (Kons). (2) Prof. Dr. H. Mukhaiyar, M.Pd. (3) Prof. Dr. H. Mudjiran, MS. (Kons). Ahli melakukan valid produk berkenaan dengan modul pendidikan karakter.
2. Tahap Uji Coba Produk
keterpakaian pada Ustadz di Pondok Pesantren Gontor 3 Darul Ma’rifat sebanyak 30 orang.
E. Jenis Data
1. Data Isi Modul
Peneliti menggunakan data isi modul dari ahli agar produk yang dikembangkan mampu dioprasionalkan dengan baik dan tepat sasaran oleh Ustadz atau guru sesuai dengan tujuan pengembangan produk dalam penelitian.
2. Data Keterpakaian Modul
Pengumpulan data keterpakaian modul dilakukan pada Ustadz / guru. Modul yang telah divalidasi oleh ahli, diuji coba pada guru. Kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan angket untuk menilai keterpakaian produk.
F. Instrumen Pengumpulan data
Instrumen pengumpulan data disesuaikan dengan karakteristik data yang akan dikumpulkan yaitu kuesioner atau angket yang dikembangkan sendiri oleh peneliti.
1. Kesioner atau angket
Menurut Yusuf (2013:199) kuesioner berasal dari bahasa latin questionaire yang berarti suatu rangkain pertanyaan yang berhubungan dengan objek tertentu, diberikan kepada sekelompok individu dengan maksud untuk memperoleh data”.
Focus Group Discussion (FGD) adalah proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok.
G. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deksriptif yakni dengan mendeskripsikan validitas dan keterpaiakan modul pendidikan karakter untuk meningkatkan kemandirian santri
Daftar Rujukan
Ali Mas’udi. 2015. Peran Pesantren dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Jurnal Paradigma. Vol.2 No. 1.
Abawhida, Ridwan. 2002. Kurikulum Pendidikan Pesantren dan Tantangan Global. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Abdullah, Said MH, 2002. Pesantren, Jati diri dan Pencerahan Masyarakat. Sumenep: Said Abdullah Institute Publishing.
Abdullah, Taufik. 1987. Islam dan Masyarakat. : Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Adil, 31 Januari 2002.
Ahmad Muthohar, AR. 2007, Ideologi Pendidikan Pesantren; Pesantren Di Tengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan, Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Ali Muhtadi. 2014. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Sekolah. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Ali, Fachry dan Bahtiar Effendy. 1986. Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Bandung: Mizan.
Arifin, H.M. 1987. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara.
Assegaf, Farha Abdul Kadir, Peran Perempuan Islam: Penelitian di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Sukoharjo, Jawa Tengah, (Tesis S-2 pada Program Studi Sosiologi Universitas Gajahmada Yogyakarta, 1995).
Awwas, Irfan S. 1982. Perjalanan Hukum di Indonesia, Yogyakarta: Ar-Risalah.
Azra, Azyumardi, 1992. The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle-eastern and Malay-Indonesian Ulama” in the Seventeenth and Eighteenth”, Ph.D dissertation, New York : Colombia University,
Bandung: Eresco. Hartono. 2006. Kepatuhan dan Kemandirian Santri (Sebuah Analisis Psikologis) Ibda. Vol. 4. No. 1. Jun 2006 50-66. Purwokerto: P3m Stain
Benda, Harry Jindrich. 1980. Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya.
Bidang Tarbiyah PP Persis1996. Pedoman Sistem Pendidikan Persatuan Islam. Bandung: PP Persatuan Islam.
Boland, Bernard Johan. 1982. The Struggle of Islam in Indonesia 1945-1947. Leiden: E.J. Brill.
Bruinessen, Martin van, 1995. Pesantren dan Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat Jakarta: Mizan.
Damanik, Ali Said, 2002. Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Year Gerakan Tarbiyah di Indonesia Jakarta: Teraju.
Davidoff. 2007. Psikologi Suatu Pengantar. Edisi kedua jilid II (terjemahan: Mari Juniati). Jakarta: Erlangga.
Dawam, Rahardjo. 1995. Dunia Pesantren Dalam Peta Pembaruan, dalam Pesantren dan Pembaruan. Jakarta: LP3ES.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Remaja Rosdakarya Gerungan, W, A. 2006. Psikologi Sosial.
Dhofier, Zamakhsari, 1995. Tradition & Change In Indonesian Islamic Education, Jakarta: MORA.
Dhofier, Zamakhsyari. 1984. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
Direktori Pondok Pesantren 2000. Proyek Peningkatan Pondok Pesantren, Direktorat Pembinaan Perguruan Agama Islam Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama.
Effendy, Bahtiar. 1994. Islam and the State: The Transformation of Islamic Political Ideas and Practices in Indonesia, Michigan: UMI Dissertation Services.
Encyclopaedia Britannica 2010. Deluxe Edition CD-ROM.
Ensiklopedi Islam di Indonesia, 1992/1993. Jakarta : Departemen Agama,
Fatah Syukur NC. 2004. Dinamika Madrasah Dalam Masyarakat Industri, Semarang : Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu KeIslaman dan Pesantren and Madrasah Development Centre. Cet. I., hlm. 26.
Federspiel, Howard M. 1970. Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia. New York: Cornell University.
Fuad Ihsan, 2008 Dasar- Dasar Kependidikan: Komponen MKDK, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. V, hlm. 1-2
Gamma: Indonesian Digital news, 03 Februari 2002
Geertz, Clifford, 1960. The Javanese Kijaji: the Changing Role of a Cultural Broker, CSSH, vol. 2, pp. 228-249.
Geertz, Clifford, 1960. The Religion of Java, New York: The Free Press.
Haidar Putra Daulay, 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Cet. II. hlm. 61.
Hamid, Abu. 1983. Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren Di Sulawesi Selatan”, dalam Taufik Abdullah (ed), Agama dan Perubahan Sosial, Jakarta: Rajawali Press, cet. I, h. 385-389
Hamid, Hamdani. 1993. Usaha Pembaharuan Pendidikan: Perubahan Kurikulum Pesantren Persatuan Islam. Bandung: CV. Dasita.
Hamzah, Abu Bakar, 1981. Al-Imam: Its Role in Malay Society 1906-1908, Kuala Lumpur: Pustaka Antara.
Hasan dkk, 2010. Hasan, Said, Hamid, dkk. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai- nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas.
Horikoshi, Hiroko, 1987. Kiyai dan Perubahan Sosial, Jakarta: P3M.
Hurgronje, C. Snouck, 1996. Seorang Rektor Universitas Mekah, dalam, Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, Jakarta: INIS, 1996)
Hurlock, E.B. 2008. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (terjemahan : Istiwidayati). Jakarta: Erlangga.
Ismail, SM, 2002. Pengembangan Pesantren Tradisional, Sebuah Hipotesis Mengantisipasi Perubahan Sosial. Pestaka Pelajar: Yogyakarta.
Ismawati, 2004. Melacak Cikal Bakal Pesantren Jawa”, dalam Anasom (ed), Merumuskan Kembali Interrelasi Islam-Jawa. Yogjakarta : Penerbit Gama Media dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang. hlm.95-96.
Isroah, Sukanti, Ani Widayati. 2012. tentang “Implementasi pendidikan karakter dalam perkuliahan perpajakan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi FISE Universitas Negeri Yogyakarta” Laporan Penelitian Implementasi Pendidikan Karakter dalam Perkuliahan Perpajakan Pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan akuntansi FISE : Universitas Negeri Yogyakarta.
J.A., Denny J.A., 1990. Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an Jakarta: CV Miswar.
Jawa Pos: Radar Yogya, (20 September 2002).
Joan V. Bondurant.1983. Conquest of Violence: The Gandhian Philosophy of Conflict Princeton: Princeton University Press.
John Paul Lederach 1997. Building Peace: Sustainable Reconciliation in Divided Societies Washington: US Institute of Peace.
Johns, A.H., , 1980. From Coastal Settlements to Sekolah Islam and City: Islamization in Sumatra, the Malay Penensula and Java”, dalam, Indonesia: The Making of A Culture, Canbera: Research School for Pacific Studies.
Kartodirdjo, Sartono, 1966. The Peasant Revolt of Banten in 1888: Its Conditions, Courses, and Sequel, The Hague: Martinus Nijhoff.
Kesuma, Dharma. dkk. 2011. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Rosda.
Laporan Akhir Akreditas KMI, PPIM UIN Jakarta, 2004.
Laporan Akhir Studi Pengembangan Sub-Sektor Pendidikan Madrasah 2003. pada Proyek Peningkatan Perguruan Agama Islam Tingkat Menengah ADB Loan 1519-INO, Jakarta: PT Amythas Experts and Associates.
Mas’ud, Abdurrahman. 2002. Sejarah dan Budaya Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Masrun, Martaniah, Martono, Hilman,F., Wulan,R., Bawani,N.A. 2006. Studi Mengenai Kemandirian pada Penduduk di Tiga Suku (Jawa, Batak, Bugis). Laporan Penelitian. Yogyakarta, Kantor Menteri Negara dan Lingkungan Hidup : Fakultas Psikologi UGM
Masyuri, Azis. Kontribusi Pesantren Terhadap Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia, Makalah Seminar Nasional “Implementasi Akhlak Qur’ani”. Panitia MAN-V, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Bandung, 23 April 2002.
Matheson, Virginia dan M.B. Hooker, 1986. “Jawi Literature in Patani: the Maintenance of an Islamic Tradition”. JMBRAS, vol. 16, I hal. 1-86.
Monks, F. J., Knoers, A. M. P. & Haditono, S. R. 2010. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagian. Yogyakarta: UGM Press.
Musthofa, Rahman, 2002. Menggugat Menejemen Pendidikan Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nagazumi, Akira, 1972. The dawn of Indonesian nationalism: The early years of Budi Utomo, 1908–1918, Tokyo: Institute for Developing Economies.
Nasution. 2007. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Noer, Deliar, 1980. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 Jakarta: LP3ES. Nurmawan. 1997. Quovadis Persatuan Islam?. Risalah. No. 5 Th. XXXV, Juli.
Nursalim, Muh, Faksi Abdullah Sungkar 2001. dalam Gerakan NII Era Orde Baru, (Thesis pada Program Magister Islamic Studies di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Othman, Mohammad R., 1994. The Middle Eastern Influence on the Development of
Reli-gious and Political Thought in Malay Society, 1880-1940”, (dissertasi Ph.D., Uni-versity of Edinburgh.
Pimpinan Pusat 1982. As’adiyah, Setengah Abad As’adiyah 1930-1980. Sengkang Kab. Wajo Sulawesi Selatan.
Pipit Uliana dan Nanik Setyowati 2013. Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur Sekolah Pada Siswa Kelas Xi Di Sma Negeri 1 Gedangan Sidoarjo. Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan No 1 Vol 1.
Qomar, M. 2006. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta : Erlangga.
Rahman, Ahmad, Guruta H. Muhammad As’ad Al-Buqisiy 1996. (Pelopor Pendidikan di Sulawesi Selatan), Seminar Hasil Penelitian Rutin (tidak diterbitkan), Badan Litbang Agama, Balai Penelitian Lektur Keagamaan Ujung Pandang.
Raymond Helmick and Rodney Peterson, 2001. Forgiveness and Reconciliation: Religion, Public Policy and Conflict Transformation Philadelphia: Templeton Foundation.
Reza Fahmi and Prima Aswirna. 2013 The Character Building In Islamic Boarding School And Peaceful Thinking Of Students At Darussalam Islamic Boarding School (Gontor) In Ponorogo, East Java. Proceeding at the International Symposium which held by Dept. of Religious Affairs : Bogor 2012.
Reza Fahmi. 2012. Empowering Madrasa Through Small and Medium Industry (Study at Darul Ma’rifat Modern Islamic Boarding School in East Java). Proceeding at International Symposium which held Jakarta: Religious Affairs Dept. Of Indonesia. Reza Fahmi. 2015. “Social Prejudice and Rebellian Behavior of Students at Gontor
Modern Islamic Boarding School in East Java. Journal of Migration Research and Development (IJMRD). www.ijrmd.info. (OJS).
Risalah. 1985. Pesantren Persis Pajagalan No. 1, Th. XXIII, Jumadits Tsaniyah 1405 H/Maret, h. 26-27.
Risalah. 1993. Menuju Pesantren Mumpuni No. 7/Nopember h. 14-15).
Ristiyanto, Sugeng, A Study on Management Perspective in Relation to the Existance of Islamic Institution: Pesantren Islam AI-Mukmin Ngruki Sukoharjo, (Thesis pada Program magister Islamic Studies di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2000) Ronald Alan Lukens-Bull, A Peaceful Jihad: Javanese Islamic Education and Religious
Identity Construction, PhDDissertation, Arizona State University, 1997. Rosidi, Ajip. M. Natsir 1990. Sebuah Biografi. Jakarta: Giri Mukti Pusaka. Sabili, No. 16 YEAR. IX 8 Februari 2002.
Sabili, No. 16 Year. IX 8 Februari 2002.
Safaria, T. 2007. Kemandirian Antara Remaja Yang Ibunya Bekerja Dengan Yang Tidak Bekerja Jurnal Psikologika 2007. Volume VII/halaman 57-74. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
Saidi, Ridwan. 1985. PERSIS yang Saya Alami Risalah, No. 5, Th. XXIII Dul Qo’dah 1405 H/VII.
Santosa, June Chandra, Modernization, Utopia and the Rise of Islamic Radicalism in Indonesia, (Dissertation in Boston University, 1996).
Santrock, J.W. 2008. Live Span Development, Perkembangan Masa Hidup. Edisi Kelima Jilid 2. (terjemahan Chusaeri dan Damanik) Jakarta : Erlangga
Setiawan, Aking. 1985. Mencari Rumusan Tujuan Pendidikan Pesantren Risalah, No.3, Th.XXIII Sya’ban-Ramadhan 1405 H/Mei.
Siraj, Said Agil. 2002. Visi Pesantren Masa Depan Dalam Menata Masyarakat Indonesia, Makalah Seminar Nasional “Implementasi Akhlak Qur’ani”, Panitia MAN-V, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, (Bandung, 23 April).
Slamet PH. 2002. Pendidikan Kecakapan Hidup; Konsep Dasar, dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 037, Jakarta: Balitbang Diknas, hlm. 545. Statistik Madrasah Indonesia 2002-2003, Depag.
Statistik Pondok Pesantren Indonesia 2002-2003, Depag
Steenbrink, Karel A., 1986. Pesantren, Madrasah dan Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES.
Steven J. and Howard E. 2002. Ledakan EQ. (terjemahan Trinanda Rainy Januarsari). Bandung : Kaifa
Suyoto. 1995.Pondok Pesantren Dalam Alam Pendidikan Nasional, Dalam Pesantren dan Pembaruan. Jakarta: LP3ES.
Turmudi, Endang 1995. The Charismatic Leadership of The Kyai in Contemporary East Java: Field Notes from Jombang, dalam Masyarakat Indonesia: Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, year XXII nomor 2, Jakarta: LIPI.
Undang-Undang SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 3
Wahid, Abdurrahman. 1995. Pesantren Sebagai Subkultural, dalam Pesantren dan Pembaruan. Jakarta: LP3ES.
Yasmadi, M.A., Modernisasi 2005. Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional), Jakarta: Quantum Teaching, hlm. 59
Yoyon Suryono dan Entoh Tohani. 2010. Evaluation Of Life Skills Education Based Nonformal Education For Proverty Reduction In Rural. Laporn Penelitian. tt. Yogyakarta : Universitas Negeri.
Yuniar, M., Zainal, A.,& Tri , P.A. 2005. Penyesuaian Diri Santri Putri Terhadap Kehidupan Pesantren: Studi Kualitatif pada Madrasah Takhasusiah Pondok Pesantren Modern Islam Assalam Surakarta. Jurnal Psikologi Undip. Vol. 2, No.1, Juni 2005, 10-17
Zamakhsari Dhofier. 1982. Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES., hlm. 18
Zarkasyi, Abdullah Syukri. Peran Agama dan Budaya Islam Dalam Mendorong Perubahan IPTEK (Sebuah Model dari Pondok Modern Darussalam Gontor), Makalah Seminar Nasional “Implementasi Akhlak Qur’ani”. Panitia MAN-V, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, (Bandung, 23 April 2002).
Zubaed. 2011. Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasi Dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.