BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akar tuba (Derris elliptica) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang digunakan untuk menangkap ikan. Beberapa jenis tumbuhan tuba (Derris elliptica) yang umumnya diambil bagian akarnya yang digunakan sebagai tuba, diantaranya adalah Derris elliptica. Tumbuhan tuba (Derris elliptica) memiliki kandungan retenone sebagai bahan aktif utama, sedangkan bahan aktif lainnya yang terdapat pada akar tuba (Derris elliptica) adalah deguelin, elliptone dan toxikarol. Menurut Sumarmin, (2016: 237) masyarakat sering menggunakan tumbuhan akar tuba (Derris elliptica) untuk keperluan yang berbeda-beda diantaranya sebagai pestisida dan pemingsan ikan di perairan tambak, kolam, dan bahkan sungai-sungai kecil. Namun tanaman ini tidak menyebabkan semua ikan mati dengan adanya penelitian yang memiliki hasil toksisitas yang berbeda (Irawan, 2014: 259). Menurut Abdullah, dkk., (2015: 2) kajian ilmiah mengenai toksisitasnya masih jarang ditemui, terutama toksisitas spesifiknya pada suatu jenis ikan, waktu depurasinya dialam dan tingkat efek subletalnya terhadap ikan yang terpapar air tuba.
fitoplankton dan zooplankton sebagai makanan alami ikan, tidak menimbulkan resisten bagi organisme tertentu, serta harganya murah dan mudah didapatkan. Namun, akar tuba juga memiliki beberapa kelemahan yaitu daya kerjanya relatif lebih lambat dibandingkan dengan bahan kimia, kurang praktis dalam pelaksanaannya, dan tidak tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama (Lukman, 2014: 23).
Ikan adalah salah satu sumber protein hewani yang potensial. Hal ini didukung oleh jumlahnya yang sangat melimpah serta kandungan asam amino esensial yang lengkap dan seimbang susunannya menyerupai susunan protein pada tubuh manusia. Omega-3 yang dipercaya mampu untuk meningkatkan fungsi otak serta mencegah gangguan jantung hanya ditemukan pada ikan contohnya ikan gabus (Channa striata).
untuk menentukan konsentrasi yang pas untuk memingsankan ikan gabus (Channa striata) atau mematikan ikan tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu diadakan penelitian tentang pengaruh ekstrak akar tuba (Deris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa striata), mengingat akar tuba mengandung senyawa rotenon. Oleh karena itu, penulis mencoba melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh akar tuba (Derris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa striata).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini yaitu " Bagaimana pengaruh ekstrak akar tuba (Derris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa
striata) ?"
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ekstrak akar tuba (Derris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa striata).
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini dapat memberikan informasi ilmiah dan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas tentang manfaat akar tuba (Derris elliptica) yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. b. Meningkatkan pemanfaatan akar tuba sebagai bahan alami untuk
menangkap berbagai ikan seperti ikan gabus (Channa striata). c. Menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam penelitian
khususnya dalam membuat ekstrak akar tuba (Derris elliptica) yang berpengaruh terhadap lama waktu kematian ikan gabus. d. Memberikan sumbangan pemikiran bagi peneliti selanjutnya dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Klasifikasi Akar Tuba (Derris elliptica)
Regnum : Spermatophyta Phylum : Angiospermae Classis : Dicotyledonae Ordo :Rosales Familia : Papilionaceae Genus : Derris
Spesies : Derris elliptica
(Lukman,dkk. 2014: 25) 2. Morfologi Akar Tuba (Derris elliptica)
(Derris elliptica) majemuk, berambut, bentuk tandan, panjangnya 12 sampai 25 cm, tangkainya ungu, mahkota berbentuk kupu-kupu, diameternya kurang lebih 2 cm dan berwarna merah muda. Buah akar tuba (Derris elliptica) berbentuk bulat telur, polong, bersayap, panjangnya kurang lebih 3,5 sampai 7 cm, diameter kurang lebih 2 cm, berwarna cokelat muda. Bijinya bulat, diameter kurang lebih 1 cm, jumlahnya 1 sampai 2, berwarna cokelat. Akarnya merupakan akar tunggang berwarna kuning kecokelatan (Lukman,dkk. 2014: 25-26).
3. Kandungan Akar Tuba (Derris elliptica)
Rotenon mengganggu sistem pernafasan dan sangat beracun pada suhu tinggi dibandingkan pada suhu rendah dan sangat baik bekerja di atas suhu 150C. Di samping itu, rotenon juga sangat beracun pada perairan asam sampai netral dibandingkan pada perairan dengan kondisi yang basa. Rotenon pada konsentrasi 0,05 ppm – 2 ppm akan membasmi populasi ikan. Konsentrasi rotenon yang dibutuhkan pada perairan asam berkisar antara 0,25 ppm – 0,50 ppm sementara pada perairan basa berkisar antara 1 ppm – 2 ppm. Konsentrasi rotenon untuk membasmi ikan pada tambak udang adalah 1,5 ppm. Pengaplikasian akar tuba dalam kondisi segar lebih efektif daripada menggunakan akar yang kering. Hal ini disebabkan kandungan rotenonnya lebih tinggi. Rotenon sangat mudah terdegradasi secara alami dengan sangat cepat. Rotenon sangat cepat kehilangan daya racunnya pada suhu dan intensitas cahaya yang tinggi. Di samping itu, meningkatnya alkalinitas juga mempercepat terjadinya degradasi. Pada musim semi dan musim panas rotenon hilang daya racunnya selama 1 sampai 2 minggu dan butuh waktu lebih lama pada musim hujan, rotenon dapat terurai dalam jangka waktu yang lama sampai 5 bulan yang dipengaruhi oleh cahaya, suhu, kekeruhan, dan kedalaman. Rotenon terurai dalam dua bentuk sederhana yaitu karbondioksida dan air (Lukman, 2014: 25).
Rotenon juga cepat didegradasi oleh tanah dan air. Oleh karena itu, toksisitas, rotenon akan hilang setelah 2-3 hari setelah terkena cahaya matahari dan udara, sehingga baik untuk lingkungan dan aman untuk pertanian dan penggunaan lainnya (Hien, 2003: 83).
4. Proses Kerja Rotenon
Zat rotenoid aktif menghambat enzim pernafasan yaitu enzim glutamat oksidase. Enzim ini berfungsi dalam katabolisme asam amino maupun biosintesisnya. Rotenon merupakan inhibitor metabolisme respirasi yang bersifat sangat spesifik yaitu menyerang proses transport elektron antara NADH (nikotin amide dinucleotide tereduksi) atau DPNH (difosforidin nukleotid tereduksi) dan sitokrom b sehingga transmisi impuls saraf terhenti. Rotenon masuk ke darah melalui jaringan insang dan merusak jaringan tersebut (Lukman, 2014:26).
5. Klasifikasi Ikan Gabus (Channa striata)
Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Classis : Pisces Ordo : Labyrinthici Familia : Channidae Genus : Channa
Spesies : Channa striata
6. Morfologi Ikan Gabus (Channa striata)
Tubuh ikan gabus (Channa striata) umumnya berwarna coklat sampai hitam pada bagian atas dan coklat muda sampai keputih-putihan pada bagian perut. Kepala agak pipih, bentuknya seperti ular dengan sisik-sisik besar di atas kepala, oleh sebab itu dijuluki sebagai “snake head”. Sisi atas tubuh ikan gabus dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh berwarna putih mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret tebal dan agak kabur, warna tersebut seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut ikan gabus besar, dengan gigi-gigi yang tajam. Sirip punggung memanjang dengan sirip ekor membulat di bagian ujungnya. (Listyanto, 2009: 19).
Gambar 2.1 Channa Striata (Muthmainnah, 2013: 184) 7. Sistem Pencernaan
dan otot memanjang. Tunika serosa terdiri dari lapisan tipis jaringan ikat yang dilapisi oleh epitel pipih selapis (mesotelium) dengan pembuluh darah dan jaringan lemak. Tunika mukosa esofagus ikan gabus membentuk lipatan memanjang seperti vili terdiri dari lamina epitelia, lamina propria, dan lamina muskularis mukosa. Lamina epitelia tersusun atas epitel pipih berlapis dan banyak terdapat sel mukosit. Pada mukosa esofagus tidak terdapat kelenjar esofagial seperti pada ikan kakap putih (Lates calcarifer). Esofagus memiliki lipatan mukosa memanjang yang berperan dalam meningkatkan diameter esofagus secara tiba-tiba dan memudahkan pergerakan makanan berukuran besar tertelan menuju lambung. jumlah sel mukosit sangat dominan, hal ini menandakan bahwa esofagus menghasilkan. mukus yang banyak untuk pelumasan makanan saat menelan, sehingga menghindari kerusakan gesekan mekanik pada epitel esofagus. Esofagus tersusun atas epitel pipih berlapis dan banyak sel-sel mukosit, tunika muskularis tersusun atas otot lurik. Lambung tersusun atas epitel silindris selapis, terdapat kelenjar lambung pada lamina propria, tunika muskularis terdiri dari otot lurik dan polos. Usus tersusun atas epitel silindris selapis dengan mikrovili dan sel goblet, tidak ditemukannya kelenjar Brunner maupun Liberkhun (Nafis, 2017: 197-201).
8. Habitat
memilih tempat yang gelap, berlumpur, berarus tenang, ataupun wilayah bebatuan untuk bersembunyi. Selain itu, spesies ini juga ditemui di danau serta saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. ikan gabus (Channa striata) sangat toleran terhadap kondisi tanpa air untuk selang waktu tertentu. Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu jenis ikan endemik rawa (Astria., dkk, 2013: 67).
Ikan gabus termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai penyebaran yang luas, dan secara alami dapat hidup di danau, sungai, rawa air tawar, dan sawah. Benih ikan gabus (Channa striata) banyak ditemukan di daerah perairan yang banyak rerumputan atau tanaman air dan belukar yang terendam air (Listyanto, 2009: 20). Selain perairan tawar, ikan gabus juga dapat ditemukan di perairan dataran rendah dan dataran tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ikan gabus memiliki toleransi terhadap lingkungan, bahkan dalam kondisi yang sangat ekstrim (rawa-rawa kering), ikan ini dapat bertahan hidup dengan cara mengubur diri dalam lumpur (Nafis, 2017: 166-167).
9. Kebiasaan Hidup
kondisi lembab saja. Dengan daya tahan yang tinggi serta kemampuan beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan (Ndobel, 2013:166).
10. Makanan
Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan karnivora, pada masa larva ikan tersebut memakan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton sesuai ukuran mulut, sedangkan mangsa Channa striata juvenil dan dewasa antara lain serangga (terutama pada fase larva) termasuk jentik nyamuk, telur dan larva biota akuatik, avertebrata akuatik termasuk krustasea dan moluska, vertebrata bersifat akuatik atau yang hidup disekitar perairan umum termasuk ikan dan katak. Mulai dari ukuran larva hingga juvenil, salah satu mangsa ikan gabus (Channa striata) adalah jentik nyamuk, sehingga dianggap sebagai salah satu
hewan yang dapat membantu dalam pengendalian kelimpahan nyamuk (Ndobel, 2013:166).
B. Kajian Empirik
Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:
(Derris elliptica) segar pada konsentrasi 2 ppm merupakan konsentrasi yang telah cukup efektif untuk membunuh ikan nila.
2. Sofiyana, dkk., (2014:14) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemberian ekstrak akar tuba (Derris elliptica) pada nilai LC50-96 jam ekstrak akar tuba terhadap benih ikan patin adalah 1,6 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak akar tuba (Derris elliptica) termasuk insektisida alami yang mempunyai daya racun kuat bagi ikan.
C. Kerangka Konseptual
Dewasa ini pencarian metode-metode dalam menangkap ikan dengan racun alami yaitu dengan menggunakan akar tuba (Derris elliptica) sebagai bahannya. Akar tuba (Derris elliptica) merupakan pilihan yang tepat karena jenis pestisida ini tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia maupun ternak. Salah satu, tumbuhan yang berpotensi digunakan sebagai penangkap ikan ini adalah tanaman tuba (Derris elliptica) dengan memanfaatkan akarnya. Ekstrak akar tuba (Derris elliptica) menghasilkan senyawa seperti saponin, flavonoid, polifenol dan alkaloid yang dapat membunuh ikan melalui 1 cara yaitu racun pernapasan, kemudian efek ekstrak akar tuba (Derris elliptica) tersebut membuat ikan gabus (Channa striata) mengalami kematian. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan skema kerangka konseptual sebagai berikut :
Alur kerangka konseptual pada berikut ini :
Keterangan :
Gambar 2.3. Alur Kerangka Konseptual
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Ada pengaruh konsentrasi akar tuba (Derris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa striata)”.
Berdasarkan hipotesis tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis statistiknya sebagai berikut:
H0 : µi = 0, (Tidak ada pengaruh tinggi konsentrasi ekstrak akar tuba (Derris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa striata)).
H1 : µi ≠ 0, (Ada pengaruh tinggi konsentrasi ekstrak akar tuba (Derris elliptica) terhadap lama waktu kematian ikan gabus (Channa striata)).
Efek Akar Tuba (Derris elliptica) Ikan gabus (Channa striata)
= Variabel yang Diteliti = Variabel yang Tidak Diteliti
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 taraf perlakuan masing-masing 3 kali ulangan sehingga total perlakuan sebanyak 15 satuan percobaan.
2. Rancangan Penelitian
Ulangan Perlakuan
X0 = Konsentrasi 0 ppm ekstrak akar tuba (Derris elliptica) X1 = Konsentrasi 0,5 ppm ekstrak akar tuba (Derris elliptica) X2 = Konsentrasi 1,8 ppm ekstrak akar tuba (Derris elliptica) X3 = Konsentrasi 4 ppm ekstrak akar tuba (Derris elliptica) X4 = Konsentrasi 10 ppm ekstrak akar tuba (Derris elliptica) Y1,2,3 = Ulangan
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Juni 2018, bertempat di Laboratorium Umum Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.
C. Variabel, Definisi Operasional, dan Indikator Penelitian 1. Variabel Penelitian
Variabel yang diamati di dalam penelitian ini adalah: a. Variabel bebas (X)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian ekstrak akar tuba (Derris elliptica).
b. Variabel terikat (Y)
tidak ada tanda-tanda kehidupan, misalnya tidak bergerak lagi walaupun dirangsang dengan gerakan air.
2. Definisi Operasional
Definisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Konsentrasi ekstrak tanaman tuba (Derris elliptica) adalah akar yang
diekstraksi dengan metode ekstrak sederhana dengan kelompok konsentrasi 0,5 ppm, 1,8 ppm, 4 ppm dan 10 ppm serta 0 ppm sebagai kontrol sebagaimana berdasarkan panduan Lukman (2014: 27) dalam penelitian efektivitas pemberian akar tuba (Derris elliptica).
b. Jumlah kematian ikan adalah banyaknya ikan gabus (Channa striata) dalam waktu 24 jam dimulai dari awal perlakuan yaitu
dengan waktu pengamatan sampai ikan mengalami kematian pada 50% (LC50) sampai 100% (LC100), setelah itu alat perhitung waktu (stopwatch) dihentikan.
c. Ikan gabus (Channa striata) adalah ikan yang berumur 5 hingga 8 bulan dengan ciri morfologi tubuh ikan gabus umumnya berwarna coklat sampai hitam pada bagian atas dan coklat muda sampai keputih-putihan pada bagian perut.
3. Indikator Penelitian
Indikator dalam penelitian ini adalah jumlah ikan gabus (Channa striata) yang mengalami kematian selama waktu kematian 24
naik kepermukaan dan pingsan didasar perairan maka ikan gabus (Channa striata) secara perlahan mengalami kematian walaupun
dirangsang dengan gerakan air.
D. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua ikan gabus (Channa striata) yang dikumpulkan sebanyak mungkin oleh peneliti dengan cara
menangkap ikan dengan jala di Kelurahan Unaasi, Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe.
2. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah ikan gabus (Channa striata) yang telah mencapai kriteria. Besar sampel sebanyak 10 ekor ikan gabus untuk masing-masing kelompok perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 150 ikan.
E. Instrumen Penelitian 1. Alat
Alat-alat yang digunakan di dalam penelitian ini tercantum pada Tabel 3.1 sebagai berikut :
Tabel 3.1. Alat dan Kegunaannya No
.
Nama Alat Kegunaan
1. Akuarium Wadah ikan gabus (Channa striata) 2. Alat
Penumbuk Menghaluskan akar tuba (Derris elliptica)
4. Gelas Ukur Mengukur ekstrak akar tuba (Derris elliptica) 5. Timbangan
Analitik
Menimbang ikan gabus (Channa striata) 6. Termometer Mengukur suhu
7. Toples Menyimpan akar tuba (Derris elliptica) 8. Penggaris Mengukur panjang ikan gabus
(Channa striata)
9. Pisau Memotong akar tuba (Derris elliptica) 10. PH Meter Mengukur keasaman atau basa
11. Stopwatch Mengukur lamanya waktu
2. Bahan
Bahan yang digunakan di dalam penelitian ini tercantum pada Tabel 3.3.
Tabel 3.2. Bahan dan Kegunaannya No
. Nama Bahan Kegunaan
1. Akar Tuba Sebagai ekstrak
2. Air Mengeluarkan suspensi
3. Ikan Gabus (Channa striata) Bahan penelitian F. Prosedur Pengumpulan Data
1. Preparasi Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah akar tuba (Derris elliptica) dan ikan gabus (Channa striata). Ikan gabus (Channa striata) diperoleh di Kelurahan Unaasi, Kecamatan Anggaberi,
a. Mensurvei lokasi kelurahan Unaasi, kabupaten konawe untuk menentukan lokasi pengambilan ikan gabus (Channa striata).
b. Mengambil ikan gabus (Channa striata) di Kelurahan Unaasi, Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe.
c. Membawa sampel yang telah diperoleh di Laboratorium Umum Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo dan di simpan di akuarium oleh peneliti.
d. Memberi makan ikan dengan makanan ikan berupa pakan dan menunggu hingga 24 jam.
e. Ikan yang telah disimpan selama 24 jam maka siap untuk diteliti atau diamati
2. Pembuatan Ekstrak
Pembuatan ekstrak akar tuba (Derris elliptica) dilaksanakan di Laboratorium Umum Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo. Dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Akar tuba (Derris elliptica) yang ada direndam selama 24 jam.
b. Menghaluskan akar tuba (Derris elliptica) dengan menggunakan alat penumbuk sampai lumat.
c. Kemudian akar tuba (Derris elliptica) yang telah halus dimasukan kedalam air sambil diremas sampai keluar cairan berwarna putih seperti susu.
d. Cairan akar tuba (Derris elliptica) disimpan di toples untuk digunakan. 3. Pengujian Pengaruh Ektrak Akar Tuba (Derris elliptica) Terhadap
Bahan yang sudah diekstrak di Laboratorium Umum Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, diberikan perlakuan terhadap ikan gabus (Channa striata) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Gelas ukur yang telah dimasukkan ekstrak dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu kontrol (X0) tanpa pemberian ekstrak, 0,5 ppm (X1), 1,8 ppm (X2), 4 ppm (X3) dan 10 ppm (X4).
b. Masing-masing akuarium yang sudah diisikan ikan gabus (Channa striata) diberi ekstrak akar tuba (Derris elliptica).
c. Jumlah ikan yang mati dihitung sejak diberikan perlakuan.
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Analisis Deskriptif dan Analisis Kuantitatif menggunakan Analisis of Variance (ANOVA) pada taraf 5%. Selain itu, data hasil penelitian