• Tidak ada hasil yang ditemukan

KASUS POLITIK ANAS BAGIAN I MEDIA DAN PE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KASUS POLITIK ANAS BAGIAN I MEDIA DAN PE"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KASUS POLITIK ANAS, BAGIAN I: MEDIA DAN PEMBOCORAN SPRINDIK

Pagi hari pada pukul 07.43 WIB, Sabtu, 9 Februari 2013, pasca Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono membacakan 8 poin penyelamatan partainya melalui siaran pers menjelang tengah malam, metrotvnews.com memberitakan tentang bocornya Surat Perintah Penyidikan (sprindik) Anas Urbaningrum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tajuk “Surat Perintah Penyidikan Untuk Anas, Bocor).

Pemberitaan metrotvnews.com itu pun lalu diikuti oleh media lainnya, bahkan dihari yang sama Koran Suara Pembaruan dengan gagah berani menjadikan pemberitaan itu sebagai

headline dengan judul “ANAS TERSANGKA”. Bagi saya yang pernah menjadi awak media, mendapatkan data sekelas itu tentu menjadi sebuah kebanggan untuk menuliskannya. Tapi sudah benarkah caranya?

Kasus pembocoran ini tak hanya menjadi pelajaran penting bagi KPK yang dapat

mencemarkan independensinya, tapi juga media yang memberitakannya. Kebocoran dokumen itu terjadi berkat kerjasama orang dalam di Lembaga Hukum KPK yang kala itu masih

bersumber sebagai anonim dengan wartawan/media.

Satu pertanyaan terpenting: bolehkah jurnalis berkomplot membocorkan dokumen hukum yang dalam hal ini KPK ke publik? Sebelum menjawab, marilah melihat secara lebih proporsional apa sebenarnya perbedaan tugas wartawan dari penegak hukum.

Jurnalisme pada dasarnya adalah serangkaian metode bagi jurnalis untuk menemukan suatu kebenaran. Metode jurnalistik berbeda dari metode hukum, yang dipakai oleh aparat hukum, termasuk KPK. Wartawan, misalnya, tak bisa memaksa narasumber bersaksi/mengaku; aparat hukum diperbolehkan interogasi (paksaan). Wartawan tak dibenarkan menyadap; tapi aparat hukum diperbolehkan menyadap, menggeledah. Jurnalis bisa memakai fakta hukum untuk melengkapi metode jurnalistiknya. Aparat tak bisa memakai fakta jurnalistik untuk hukum.

Digunakan secara terpisah, metode jurnalistik dan metode hukum bisa mengarah pada kebenaran yang sama. Tapi tak selalu. Ada banyak liputan media yang menunjukkan kebersalahan seseorang, tapi faktanya tak pernah yang bersangkutan diadili dan divonis bersalah. Lalu, bahkan sama dengan penegak hukum, media juga ikut-ikutan merasa tak bersalah.

Ide kerjasama aparat hukum dengan media dalam melawan kejahatan (korupsi) memang terdengar indah di telinga. Namun, ada jebakannya. Salah satu tugas jurnalistik justru mengawasi kekuasaan, termasuk kekuasaan hukum/peradilan: polisi, jaksa, hakim, bahkan KPK. Kolaborasi jurnalis dengan aparat hukum cenderung menghilangkan potensi checks and balances antara dua metode yang berbeda itu. Kombinasi kekuasaan jurnalistik dan

kekuasaan hukum justru bisa sangat merugikan bagi publik. Apalagi jika sama-sama perilaku korupnya.

(2)

Apakah KPK dan jurnalis yang meliput isu korupsi di KPK kebal terhadap kemungkinan berkomplot melakukan "abuse of power"? Kasus pembocoran dokumen KPK, dalam hal ini sprindik Anas Urbaningrum mengarah pada gejala yang sama. Dan itu mengkhawatirkan.

Situs Berita metrotvnews.com yang pertama kali memuat "dokumen sprindik" itu yg kemudian diikuti oleh beberapa media lain. Atas dasar itu, beberapa media membuat judul yg lebih berani. Ini satu problem tersendiri dalam jurnalistik. Apakah jurnalis telah memeriksa “kesahihan” dokumen itu sebelum memuatnya?

Dua komisaris KPK, Bambang Widjajanto & Adnan Pandu Praja, memastikan itu bukan dokumen sprindik. Tidak sah disebut sprindik. Dengan kata lain, banyak media telah memberitakan fakta yang keliru, lengkap dengan spekulasinya yang keliru.

Bahkan jika sahih, sprindik masuk kategori dokumen rahasia negara, yang tidak layak disebarluaskan sebelum diumumkan resmi. Sprindik berkaitan dengan rencana/strategi penegakan hukum yang jika dibocorkan membuat tersangka berpeluang kabur (salah satunya).

Dari sini, sebuah pertanyaan penting muncul: Apa motif jurnalis membocorkan dokumen yang terbukti tidak sahih itu? Benarkah motif jurnalis membocorkan itu demi kepentingan publik? Membantu KPK menegakkan hukum?

Secara jurnalistik, wartawan bisa mengambil risiko membocorkan rahasia dengan tujuan membongkar kejahatan lembaga bersangkutan. Tapi, apakah KPK masuk kategori itu? Adakah indikasi KPK bermain mata dengan Anas Urbaningrum untuk menghapus kasusnya?

Melihat timing-nya, yakni pada hari SBY mengambilalih kepemimpinan Demokrat, motif yg bisa dipahami cuma politik. Disadari atau tidak, media telah menyediakan diri dipakai sebagai alat politik dengan memanipulasi aspek hukum, mengangkangi KPK.

Lebih buruk. Berkomplot dengan pembocor dokumen, media ikut merusak citra independen KPK. Media telah memanfaatkan KPK untuk menyembunyikan kelemahan metodenya sendiri, ketidakmampuannya melakukan investigasi. Jurnalis yang benar-benar bermotif anti korupsi semestinya mendukung independensi KPK. Termasuk independen terhadap tekanan media sendiri.

Pemberitaan pembocoran sprindik disaat-saat manuver politik diinternal Partai Demokrat sedang mengencang, justru menguatkan ucapan mantan Presiden AS Franklin D. Roosevelt: “Dalam politik tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Jika itu terjadi, anda dpt bertaruh hal itu pasti direncanakan”.

(BERSAMBUNG KE BAGIAN II)

KASUS POLITIK ANAS, BAGIAN II: PARA PENGAMBIL KEUNTUNGAN DARI ANAS URBANINGRUM

Kesahihan atas tudingan kekuasaan media yang dimanfaatkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan kekuasaan pemerintahan juga politik dalam pembentukan dan

(3)

dalam kasus politik Anas Urbaningrum sangat banyak yang bisa mendompreng untuk mengambil keuntungan darinya.

Bagi media, keuntungannya terkait dengan oplah penjualan, rating penonton, rating pendengar dan jumlah pembaca yang berkolerasi kuat dengan perolehan iklan. Mungkin, hanya sedikit media yang mendapatkan keuntungan langsung yang dalam hal ini bersumber dari

pemberitaan-pemberitaan pesanan khusus untuk sengaja membunuh karir politik Anas Urbaningrum. Namun bagi jurnalis-jurnalis yang menjadi peliharaan, keuntungan itu bisa langsung dinikmati.

Saya ingat betul bagaimana riuh politik pasca Anas Urbaningrum terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat yang mengalahkan pesaing ketatnya Andi Mallarangeng yang didukung oleh kedigdayaan kerajaan Cikeas dan Marzuki Alie yang didukung jabatannya sebagai Ketua DPR-RI sekaligus Sekjen Partai Demokrat. Para “dukun-dukun politik” dalam hal ini pengamat politik dan pakar-pakar politik, sudah meramalkan bahwa Anas Urbaningrum adalah Calon Presiden RI 2014-2019 dari Partai Demokrat yang akan sangat sulit dibendung oleh capres-capres dari partai lainnya. Karir politiknya yang begitu cemerlang diusia muda, karakternya yang cerdas dan santun dalam berucap juga bertindak menjadi nilai plus bagi mereka. Lalu bagaimana dengan rival politiknya?

Tentu kehadiran Anas Urbaningrum sebagi Ketua Umum Demokrat yang sudah digadang-gadang para “dukun politik” sebagai capres paling potensial, membuat ketakutan tersendiri bagi rival-rival politiknya yang sudah menyusun rencana untuk mencapreskan diri. Tidak menutup kemungkinan, bahwa mereka ikut mengambil kesempatan juga dalam pembunuhan karir politik Anas Urbaningrum. Bagi yang memiliki media dan dapat menguasai media, mereka memanfaatkan betul media-medianya untuk membangun opini dan mengendalikan opini publik demi menghabisi karir politik Anas Urbaningrum.

Kita harus mengingat kembali bagaimana media begitu antusiasnya memberitakan tentang Anas Urbaningrum, tiap hari dan tiap waktu tanpa henti. Antusiasme media yang dimulai sejak M. Nazaruddin dari pelariannya menyerang Anas Urbaningrum pada 19 Juli 2011 hingga ditetapkan sebagai tersangka pada hari Jum’at, 22 Februari 2013 atau sekitar setahun lebih 7 bulan operasi opini penghancuran karir politik Anas Urbaningrum dikerjakan. Tak hanya sampai disitu, operasi itu pun berlanjut hingga Anas Urbaningrum ditahan oleh KPK pada hari Jum’at, 10 Januari 2014, yang kurang lebih setahun setelah Anas Urbaningrum berstatus tersangka. Bayangkan, berapa besar energi yang dikuras media untuk penghancuran karir politik Anas Urbaningrum yang begitu cemerlang yang telah dirintisnya sejak masih berstatus Mahasiswa.

Lalu bagaimana dengan KPK, apa keuntungan langsung yang didapatkan? Sebagai lembaga yang citranya pernah luluh lantak oleh kasus yang “ditimpakan” kepada mantan ketuanya Antasari Azhar, pimpinan-pimpinan KPK yang baru tentu punya Pekerjaan Rumah besar untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaganya. Atraksi-atraksi hukum yang tak biasanya pun harus “dihalalkan” oleh mereka, tak peduli itu benar atau melanggar, yang penting publik Indonesia penggemar tontonan sinetron dapat menikmatinya sambil bertepuk tangan.

(4)

yang mempunyai cita-cita bersama menegakkan independensi jurnalis dan memperjuangkan kesejahteraan jurnalis di medianya bekerja. Nyatanya, praktek memperdagangkan

independensi jurnalis tetap berlanjut hingga hari ini meski tidak secara keseluruhan.

Di KPK saja dikenal dua istilah, Wartawan Akuarium (wartawan yang bergerombol di dalam gedung KPK) dan wartawan Pot Bunga (wartawan yang bergerombol di teras lobi Gedung KPK) yang jumlahnya tak sebanyak kelompok Akuarium. Wartawan Akuarium inilah yang disebut-sebut sebagai wartawan peliharaan KPK yang dikoordinir oleh wartawan juga yang berkoordinasi langsung dengan pimpinan KPK yang mempeliharanya, salah satunya adalah wartawan yang berasal dari sebuah media cetak ternama dan terbesar di Indonesia. Maka tak heran bila ada kongkalikong antara orang dalam di KPK dengan awak media, misalnya saja dalam kasus pembocoran surat penyidikan Anas Urbaningrum yang telah terbuktikan.

Motif KPK dalam hal memanfaatkan media dalam beratraksi, sesungguhnya sangat gampang untuk dilacak sebagai kebiasaan KPK untuk meraih dukungan publik. Misalnya,

mentersangkakan seseorang di hari Jum’at, melakukan penahanan di hari Jum’at, hingga dimunculkan opini hari Jum’at adalah hari keramat di KPK. Sebagaimana diketahui, KPK selalu menyesuaikan diri dengan frekuensi opini publik agar langkahnya mendapatkan dukungan. Bila perlu, membangun opini sendiri melalui wartawan-wartawan binaannya. Tanpa dukungan publik, KPK tidak ada apa-apanya. Itulah rumus “keberhasilan” KPK.

Contoh-contohnya cukup banyak, dari yang sepele hingga serius. Operasi Tangkap Tangan KPK kerap dibumbui oleh drama lain untuk membangkitkan geram publik, meskipun kemudian tidak ada kaitan dengan substansi kasusnya, seperti dialami LHI dengan bumbu perempuan-perempuan muda di sekitar Fathonah. Apakah ada relevansinya perempuan-perempuan-perempuan-perempuan muda itu dalam kasus LHI? Ternyata tidak ada. Tetapi opini negatif telah terlanjur terbentuk sesuai keinginan KPK.

Drama yang lain adalah kebiasaan KPK menggiring terdakwa ke ruang tahanan yang hanya berjarak 50 meter di hadapan wartawan, padahal bisa saja dilewatkan melalui lift yang memiliki akses ke ruang tahanan. Ada missi untuk mempertontonkan “prestasi” agar publik terpancing fanatismenya terhadap KPK. Bila kemudian terjadi insiden fisik terhadap terdakwa yang sedang dipertontonkan, seperti pemukulan telur busuk di kepala Anas Urbaningrum dihari pertama penahanannya, itu bukan tanggung jawab KPK.

Untuk Anas Urbaningrum, bumbu yang paling tepat adalah politik, yakni keinginan menjadi presiden seperti yang tertuang dalam surat dakwaanya. Pilihan ini tentu sudah dipikirkan masak-masak oleh KPK. Kaitannya adalah dengan penyelenggaraan Pilpres 2014 yang sedang berlangsung bersamaan dengan sidang Anas. Dengan cara ini, KPK sedang

menghimpun animo publik untuk mendukungnya. Apakah ini relevan dengan substansi kasus Anas? Mari kita saksikan hingga akhir persidangan.

Lembaga hukum berjiwa progresif memang wajib berorientasi pada pemenuhan rasa keadilan publik. Tetapi jika ia turut serta mengkreasi dan membangun opini demi meraih dukungan, maka sesungguhnya ia mengabdi kepada kepentingannya sendiri.

(BERSAMBUNG KE BAGIAN III)

(5)

Kepentingan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggunakan media dalam membangun citranya, membuat penegakan hukum dilembaga itu sulit untuk tidak turut masuk kedalam pusaran politik dan kekuasaan. Tak jarang pula kepentingan KPK terhimpit oleh dua kepentingan, kepentingan media dan kepentingan politik juga kekuasaan.

Banyak orang yang percaya KPK adalah lembaga hukum yang independen, tapi tak sedikit pula yang meragukan keindependenan sumber daya manusia yang menggerakkan lembaga bentukan pemerintah yang berasal dari produk politik itu. Istilah lama lalu muncul kembali, “Yang namanya manusia, pasti tetap butuh uang, jabatan yang tinggi dan harta”. Kita harus berdo’a, istilah itu tidak tertanam di diri manusia-manusia yang menjadi penggerak lembaga anti rasuah itu.

Dalam hal penegakan hukum, KPK harus berhadapan dengan kepentingan dirinya, media dan pemiliknya, politik dan kekuasaan. Bukan mustahil terkadang kepentingan lembaga itu

terhimpit oleh opini publik yang dibangun melalui media oleh kekuatan politik dan bahkan terkadang oleh opini yang dibangunnya sendiri. Bukan mustahil pula bila lembaga itu tidak mendapatkan tekanan dari kepentingan kekuasaan yang menjadikan lembaga hukum KPK sebagai alat untuk membinasakan lawan-lawan politik sang penguasa republik.

Dalam kasus Anas Urbaningrum, KPK berada diposisi yang tentu sangat terjepit.

Disatu sisi, KPK memang sangat memimpikan sebuah citra layaknya “super hero” yang dengan gagah berani bisa menjebloskan seorang Ketua Umum dari partai yang sedang berkuasa.

Disisi lain, KPK mendapatkan tekanan dari publik untuk segera mentersangkakan Anas Urbaningrum. Tekanan publik ke KPK itu tentulah dari hasil karya media yang telah membangun opini dan menyetir opini, bahwa Anas Urbaningrum adalah KORUPTOR dari sejak Anas belum berstatus apa-apa bahkan belum berstatus saksi sekali pun.

Sayangnya, beberapa pimpinan KPK juga ikut terpancing pada upaya pembentukan opini tersebut. Satu diantaranya adalah Ketua KPK Abraham Samad yang mendadak rajin tampil memberikan siaran pers sambil menduga-duga keterkaitan dan keterlibatan Anas

Urbaningrum, begitu pun dengan Juru Bicara KPK Johan Budi. Pembentukan opini oleh KPK yang masih berdasarkan keyakinan telah dilakukan sejak Anas Urbaningrum masih sangat jauh dari berstatus tersangka.

Keyakinan tentu adalah sebuah asumsi, penegakan hukum tentu tidak boleh berdasarkan asumsi, apalagi mengumumkan yang masih berdasarkan asumsinya itu ke publik.

Karena tekanan-tekanan publik untuk mentersangkakan Anas Urbaningrum sudah semakin kuat, kebesaran KPK semakin terancam. KPK sedang mempertaruhkan kebesarannya yang telah diciptakan melalui atraksi-atraksi hukumnya yang kadang suka melompat-lompat ke luar dari jalur hukum.

Lalu bagaimana dengan Partai Demokrat?

(6)

Daftar Calon Sementara anggota legislatif sudah semakin dekat, ada kepentingan dari kedua kubu untuk mengatur siapa-siapa caleg yang akan mereka dudukkan. Bahasa kasarnya, inilah waktunya pengurus partai kebanjiran uang atau paling tidak bisa mendudukkan kerabat dan sanak familinya di nomor terbaik daftar caleg. Sementara, Anas yang masih memimpin dapat menjadi ganjalan bagi mereka.

Terdesaknya posisi KPK oleh keinginan publik agar KPK segera mentersangkakan Anas Urbaningrum, bisa jadi dianggap sebagai peluang besar bagi rival politik Anas di internal Partai Demokrat. Atraksi politik “busuk” pun mulai dioperasikan.

Dua puluh lima hari sebelum Anas Urbaningrum dijadikan tersangka oleh KPK, Ruhut Sitompul yang dikenal selalu memuji-muji dan menyebut-nyebut nama Susilo Bambang Yudhoyono dengan berani dan sangat yakin mengatakan Anas Urbaningrum akan menjadi tersangka.

“Sekarang polling kami sekitar 8 persen. Mungkin minggu ini atau depan (Anas) sudah jadi tersangka,” kata Ruhut, Senin, 28 Januari 2013.

Seminggu setelah Ruhut menyebutkan angka polling sekitar 8 persen, Minggu, 3 Februari 2013, SMRC pun merilis hasil surveinya yang angkanya sama persis dengan yang disebutkankan Ruhut Sitompul seminggu sebelumnya.

Beberapa jam setelah SMRC merilis hasil surveinya, Jero Wacik mengumpulkan awak media dikediaman pribadinya di sektor IX Bintaro. Dengan sigap, Jero Wacik telah berunding dengan kader-kader utama partai, meminta SBY untuk menyelamatkan partai. Bahkan Jero Wacik juga membeberkan bahwa dirinya sudah mendengar Anas akan jadi tersangka.

“Kami dengar sudah ada bukti, katanya akan jadi tersangka,” papar Jero kala itu.

Sehari kemudian, Senin, 4 Februari 2013 sore waktu setempat, dari Hotel Hilton Jeddah, Arab Saudi, SBY memberi keterangan pers yang juga menanggapi hasil survei SMRC tentang partainya. Disaat itu pula tekanan kepada KPK dilancarkan melalui perintah SBY sebagai seorang Presiden RI, kepada bawahannya pimpinan-pimpinan KPK untuk segera memperjelas status Anas Urbaningrum.

“Saya mohon kepada KPK untuk, ya, bisa segera konklusif dan tuntas. Jika salah, ya kita terima salah. Kalau tidak salah, kami juga ingin tahu kalau itu tidak terlibat,” titah SBY kepada KPK.

Kamis, 7 Februari 2014, usai rapat tertutup dengan SBY dan beberapa pertinggi partai lainnya di Cikeas, Syarief Hasan juga mengaku telah mendengar tentang status Anas Urbaningrum sebagai tersangka KPK.

(7)

Jumat, 8 Februari 2013, SBY mengumpulkan sejumlah anggota majelis tinggi di Cikeas untuk membahas langkah penyelamatan partai. Mereka yang hadir adalah Marzuki Alie, Jero Wacik, TB Silalahi, Anas Urbaningrum, Max Sopacua, Jhonny Alen, Edhie Baskoro Yudhoyono dan Toto Riyanto. Namun disela-sela pembahasan langkah-langkah penyelamatan partai, Abraham Samad dari gedung KPK memberi sinyal tentang sprindik Anas Urbaningrum, dikatakannya bahwa pimpinan KPK sudah sepakat soal status Anas. Menjelang tengah malam, melalui siaran pers, SBY mengumumkan penonaktifan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum dan sekaligus mengambil alih seluruh wewenangnya. Ini adalah langkah sadis SBY sebagai orang yang dijuluki bapak demokrasi, ketika menonaktifkan dan mengambil wewenang Anas

Urbaningrum ketika Anas belum berstatus hukum apa pun.

Pagi harinya, 9 Februari 2013, pasca Samad memberikan sinyal soal sprindik Anas

Urbaningrum dan pasca SBY mengambil alih wewenang Anas, media online metrotvnews.com

memberitakan soal kebocoran sprindik Anas yang lalu disusul oleh media-media lainnya. Bahkan di Koran Suara Pembaruan dengan gagah berani membuat headline dengan judul ANAS KORUPTOR tanpa memperdulikan azas praduga tak bersalah.

Kala itu media kembali memainkan perannya, sprindik Anas Urbaningrum yang belum ditandatangani pimpinan-pimpinan KPK dibocorkan ke publik. Publik heboh, timeline dan Wall

media sosial twitter dan facebook ramai dengan sorakan dan caci maki merayakan status Anas Urbaningrum sebagai tersangka dari draft sprindik yang bocor melalui pemberitaan media. Tekanan publik kepada KPK untuk segera mengumumkan status tersangka Anas Urbaningrum semakin kuat, aksi-aksi massa di gedung KPK pun telah dikerahkan.

Disini kredibilitas pimpinan-pimpinan KPK diuji, terungkap beberapa kejanggalan pada status Anas Urbaningrum yang akhirnya dipaksakan menjadi tersangka dua minggu kemudian, Jum’at, 22 Februari 2013.

(BERSAMBUNG KE BAGIAN IV)

KASUS POLITIK ANAS, BAGIAN IV: KPK TERDESAK KUASA, MEDIA DITUGASKAN

Manuver politik di internal Partai Demokrat yang semakin kencang menjelang penetapan Daftar Calon Sementara anggota legislatif dan titah yang disampaikan dari Jeddah oleh Baginda Penguasa Republik Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kepada KPK, mungkin membuat pimpinan KPK Abraham Samad semakin tertekan dan tersudut. Belum lagi tekanan yang semakin kencang datang dari publik yang meminta KPK segera mentersangkakan Anas Urbaningrum.

Entah kenapa, tiba-tiba draft surat perintah penyidikan (sprindik) Anas Urbaningrum bisa bocor ke media dan dipublikasian untuk dikonsumsi publik secara luas. Ada apa, siapa yang

bermain?

Belakangan terungkap pembocornya adalah Wiwin Suwandi sekretaris pribadi Ketua KPK Abraham Samad. Wiwin bekerja di KPK berdasarkan atas permintaan khusus Abraham Samad dan tinggal satu rumah dengan Abraham Samad. Seberani itukah Wiwin Suwandi?

(8)

tersebut. Anies Baswedan terpilih menjadi ketua, sedangkan yang lainnya adalah Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto sebagai perwakilan internal KPK. Kemudian, penasehat KPK, Abdullah Hehamahua. Lalu ada Tumpak Hatorangan Panggabean (mantan plt Pimpinan KPK) dan Abdul Mukti Fajar (mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi).

Apa yang mendasari sehingga sprindik Anas Urbaningrum harus dibocorkan? Benarkah tidak ada perbedaan pendapat diantara pimpinan-pimpinan KPK?

Yang pasti dari hasil penyelidikan Komite Etik, terungkap bahwa ada percakapan yang diakui Abraham Samad sebagai kalimatnya. Yaitu pembicaraan Wiwin via BBM dengan ke pengamat hukum, Irmanputra Sidin yang berhasil di cloning dari Blackberry milik Wiwin.

Dalam komunikasi antara Wiwin dan Irman, Jumat 8 Februari 2013 pukul 08.17 Wiwin

mengabarkan tentang status Anas Urbaningrum. Dalam pembicaraan itu, Wiwin mengutip kata-kata dalam pesan Blackberry Abraham Samad kepada Tri Suharman. "Jangan sebut namaku dulu. Soalnya saya yang ambil alih kasus ini supaya bisa jalan, saya pakai kekerasan sedikit, makanya saya tidak mau tambah runyam," ujar Tumpak menirukan isi pesan Abraham yang disalin Wiwin. "Kata-kata tersebut diakui oleh terperiksa I Abraham Samad sebagai kata-katanya sendiri," tegas Tumpak.

Dari kalimat Samad itu, terlihat jelas ada perselisihan diinternal KPK. Yang pasti, didalam draft sprindik yang bocor itu hanya ada 3 tanda tangan, yaitu tanda tangan Abraham Samad, Zulkarnaen dan Andan Pandu Praja. Tapi belakangan Adnan mencoret tanda tangannya setelah tahu bahwa ternyata belum ada gelar perkara antara penyidik dan pimpinan KPK. Kok bisa pimpinan KPK seperti Samad menandatangani sprindik sebelum ada gelar perkara?

Perlu diketahui, sebelum penetapan seseorang menjadi tersangka, sebelumnya harus terlebih dahulu ada proses gelar perkara antara penyidik dan pimpinan-pimpinan KPK. Setelah semuanya jelas dan cukup bukti, barulah draft sprindik tadi ditandatangani oleh seluruh pimpinan KPK untuk naik dari penyelidikan ke penyidikan dengan status sebagai tersangka.

Lalu apa arti kalimat Samad ini, “Soalnya saya yang ambil alih kasus ini supaya bisa jalan, saya pakai kekerasan sedikit, makanya saya tidak mau tambah runyam"? Ada kekuatan politik yang menekan Samad, atau Samad memang tertekan oleh desakan publik.

Sayangnya sifat ego Samad yang begitu mendominasi telah menghalangi penyelidikan komite etik, Samad tak mau menyerahkan Blackberry miliknya kepada Komite Etik guna dilakukan proses cloning agar dapat diketahui komunikasi lengkap antara Ketua KPK itu dengan Tri Suharman Meski demikian, kata Tumpak, Wiwin mengaku pernah berkomunikasi dengan wartawati bernama Dwi Anggia pada Jumat 8 Februari 2013 pukul 14.22.

"Iya, valid sekali, Daeng (Abraham, red) BBM aku tadi," ujar Tumpak kembali menirukan pesan singkat Wiwin ke Dwi Anggia.

Menurutnya, Dwi memang sering berkomunikasi dengan Samad dan Wiwin. Dalam komunikasi per telepon, Dwi Anggia memang menyebut Abraham dengan panggilan Daeng.

(9)

Anggota Komite Etik KPK, menuturkan, berdasarkan hasil investigasi, wiwin terbukti memotret sprindik Anas dengan menggunkan ponsel BlackBerry miliknya. Pada pukul 20.20 WIB, tanggal 7 Februari 2013, Sprindik tersebut ditandatangani oleh tiga pimpinan KPK.

Kemudian, pada pukul 20.27 WIB, Abraham Samad memerintahkan Wiwin untuk meng-copy konsep dokumen Sprindik yang belum diparaf oleh semua pimpinan KPK tersebut. Konsep surat tersebut belum diberi tanggal, dan dibubuhi cap atau setempel KPK. Lalu, pada pukul 21.29 WIB, hasil copy-an tersebut diserahkan kembali oleh Wiwin kepada Abraham Samad.

Tetapi, pada pukul 21.30 WIB, Wiwin kembali melakukan scan untuk meng-copy dokumen tersebut. Pukul 21.46 WIB, Wiwin menyimpan hasil scan Sprindik kedua tersebut dan disimpan di laci mejanya. Kemudian pukul 21.51 WIB, Wiwin meninggalkan Gedung KPK dan pulang kerumahnya.

Keesokan harinya, pada 8 Februari 2013, sekira pukul 21.46 WIB, Wiwin kembali mengambil dokumen yang telah dicetak pada malam sebelumnya yang disimpan di laci.

Selanjutnya, Wiwin yang tinggal serumah dengan Abraham Samad itu, berangkat menuju kawasan Setiabudi Building dan bertemu dengan dua orang wartawan bernama Tri Suharman dan Rudy Polycarpus.

Di tempat itu, Wiwin menunjukan dan menyerahkan satu lembar hasil scan cetak Sprindik yang di scan.

Hingga akhirnya, pada 9 Februari 2013, Sprindik atas nama Anas Urbaningrum beredar di media massa.

Wiwin diketahui memang mengenal dekat wartawan yang bernama Tri Suharman. Kedekatannya itu juga diketahui Abraham Samad. Abraham juga mengenal Tri Suharman, sebagai mantan wartawan yang sebelumnya bertugas di Makasar dan sekarang bertugas di KPK.

Meski sudah ditetapkan sebagai pelaku melanggar kode etik dengan kategori berat, Komite Etik tidak bisa memberikan sanksi kepada Wiwin, karena Komite Etik hanya memiliki kewenangan untuk memberi sangsi di level pimpinan KPK. Sangsi untuk Wiwin diserahkan kepada Majelis Dewan Pertimbangan Pegawai KPK. Wiwin akhirnya hanya diberi sanksi pemecatan, meski yang dilakukannya masuk kedalam kategori tindak pidana. Sedangkan Abraham Samad, hanya diberikan sanksi teguran tertulis saja oleh komite etik.

Perilaku pelanggaran pidana Wiwin itu ternyata tidak hanya terjadi pada Anas Urbaningrum saja, Wiwin juga beberapa kali kerap membocorkan rahasia. Seperti pada kasus Buol melibatkan mantan anggota Dewan Pembina Demokrat dan pengusaha Siti Hartati Murdaya yang kini telah divonis 2 tahun 8 bulan penjara. Dan kasus Korlantas yang menyeret mantan Kepala Korlantas Mabes Polri Irjen Pol Djoko Susilo sebagai tersangka, dan kasus impor daging menjerat anggota DPR dan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.

Begitulah cara KPK untuk memaksakan kehendaknya, ketika penyelidikan mentok dan sementara desakan semakin kuat, maka segala cara ditempuh baik itu cara halal atau pun tidak. Termasuk memanfaatkan wartawan-wartawan yang menjadi peliharaannya.

(10)

bukti itu, KPK baru melakukan penahanan kepada Anas Urbaningrum satu tahun kemudian. Sementara untuk menjawab desakan-desakan publik yang mendesak KPK untuk segera menahan Anas, Abraham Samad kerap kali harus berbohong. Dalam waktu dekat, lalu setelah lebaran dan lain-lain.

Referensi

Dokumen terkait

(6) Â Pada penelitian ini ingin dibandingkan efek hipoglikemik dari beberapa ekstrak biji petai cina yang diekstraksi dengan beberapa pelarut yang berbeda polaritasnya dengan

Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta kesempatan

yang cukup tinggi dengan perlakuan pemberian pakan tepung kedelai dikarenakan pakan tersebut mempunyai kandungan nutrisi yang mencukupi untuk menunjang proses

標題一覧 Fig.3・1Experimentjal Eqllipmc址 Fig.3.2 Spira.1。1d Nozzle Fig.3.3 AxiaI De拓rm;1tion of Azimnth;d velodty Dist・ribution Fig.3.4 AzimuthaI velocity

melaksanaan kegiatan, e%alusi kegiatan, dokumentasi ke iatan 4uang pertemuan Kantor "esa Simpang 4usa (>K PKM Simpang 4usa *"0K Non ?isik+. Mengisi da9tar usulan,

Melalui penulisan Laporan Akhir ini penulis ingin mengetahui harapan dan kepuasan pasien Rumah Sakit Umum dan Daerah Palembang Bari terhadap pelayanan kesehatannya

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepatuhan perpajakan antara responden yang sudah menikah dengan yang belum menikah.. Variabel independen

Antara strategi sokongan yang boleh diaplikasikan oleh guru untuk membantu MBK ketidakupayaan penglihatan sama ada dalam/luar bilik darjah atau secara kendiri adalah