TEOLOGI LDII @AhmadMilki
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Allah SWT menganugrahkan kepada manusia akal yang menjadi pembeda antara manusia dengan binatang, dan buah dari akal itu adalah sebuah pemikiran. Tiap manusia mempunyai kemampuan akal yang berbeda sehingga menimbulkan pemikiran yang berbeda pula. Oleh karena itu perbedaan pemikiran merupakan sebuah hal yang lazim dan tak perlu di perdebatkan atau dipermasalahkan lagi, namun dalam praktek kenyataannya di indonesia perbedaan tersebut tidak dijadikan sebagai Rahmatan Lil ‘Alamiin, sehingga persatuan dan kesatuan antar umat islam menjadi terancam. Hal itu bukan semata-mata karena perbedaan furu’iyyah saja tapi karena kepentingan politik.
Bukan tak heran bila aliran-aliran keagamaan yang berkembang ini yang dianggap tak wajar menjadi objek kepentingan. Mereka yang dicap sesat, haram bahkan kafir merasa terdiskriminasi oleh kekuasaan struktural dan budaya. Dengan hal tersebut dapat menumbuhkan sikap yang sekterian. Merasa benar sendiri itulah yang menjadi sumber egoisme dan lahirnya pengklaiman terhadap kelompok tertentu.
Pada kesempatan kali ini kami mencoba memaparkan salah satu aliran atau kelompok keagamaan di indonesia yang bernama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), yang menurut isu-isu yang beredar menyatakan bahwa kelompok ini melakukan takfir (mengkafirkan) terhadap kelompok-kelompok diluar kelompok mereka. Hal ini menimbulkan keingintahuan tentang isu-isu yang beredar tersebut. Untuk lebih jelasnya terkait LDII akan diterangkan didalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana latar belakang timbulnya aliran LDII ini ?
Bagaimanakah bentuk-bentuk pemikiran aliran LDDI ini ?
Bagaimana perkembangan pemikiran LDII di Indonesia ?
C. TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui sejarah aliran LDII.
Untuk mengetahui perkembangan aliran tersebut di indonesia.
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam.
BAB II PEMBAHASAN
A.Latar Belakang Berdirinya LDII
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), adalah nama baru dari sebuah aliran keagamaan di Indonesia, yang secara historis mempuunyai hubungan dengan organisasi keagamaan yang sebelumnya yang bernama Darul Hadist/Islam Jama’ah yang telah dilarang oleh pemerintah Indonesia. Kehadiran LDII untuk membina anggota Darul Hadist/Islam jama’ah agar kembali pada jalur Islam arus pertama.1
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) didirikan di Surabaya pada tanggal, 3 Januari 1972, setelah mengalami perubahan nama dari Lembaga Karyawan Dakwah Islam Indonesia, yaitu Lemkari, namun dengan nama Organisasi Karatido Indonesia. langkah itu merupakan realisasi keputusan musyawarah besar IV Lekari di Jakarta 1990. Lemkari itu sendiri merupakan organisasi baru sebagai wadah kegiatan organisasi Islam Jamaah yang telah dibubarkan oleh oleh Kejaksaan Agung Pada 1971. Islam Jamaah itu sendiri merupaka nama baru setelah sebelumnya lebih dikenal dengan nama Darul Hadits, yang telah dibubarkan. Sementara itu mereka di Jawa Tengah telah pula mendirikan Yakari (Yayasan Karyawan Islam) pada 1972, untuk tujuan yang sama. Di kemudian hari organisasi ini bergabung dengan Golkar. Tidak bisa dipungkiri bahwa LDII pada hakikatnya tetap sama dengan ajaran Islam Jamaah, yang didirikan oleh Nurhasan Al-Ubaidah.2
Perubahan nama Lemkari menjadi LDII, tersebut atas usul Menteri Dalam Negeri agar tidak rancu dengan salah satu nama organisasi Karate yang bernama Lemkari (Lembaga Karate-Do Indonesia). Dengan demikian LDII secara resmi dan organisasi memiliki legalitas yang sah dan di akui/terdaftar di Departemen Dalam Negeri.
Menurut salah seorang pengurus LDII bahwa LDII bukanlah Darul Hadist, Islam Jamah, tetapi LDII bersama Golkar dengan sayap dakwahnya yaitu Majelis Dakwah Islam (MDI) dan Al-Hidayah membina mantan-mantan kelompok Islam Jamaah tersebut untuk
1Nurihson M Nuh. Aliran/faham keagamaan dan Sufisme Perkotaan, (Jakarta: PuslitbangKehidupan Keagamaan, 2009), hlm. 91.
kembali kepada Islam yang Benar. Oleh karena itu tiddak benar LDII dianggap merupakan jelmaan dari Darul Hadist atau Islam Jamaah yang telah dilarang tersebut.3
Pada usia 30 tahun, Nurhasan Al-Ubaedah mulai berada di Mekah, sampai 10 tahun lamanya. Dua perguruan yang ditinggali Nurhasan Al-Ubaedah selama belajar agama di Mekah adalah Rukbat Naqsyabaniiah (nama ini tidak ada hubungannya dengan tarekat naqsyabandiah) dan sebuah perguruan di Desa Syamiah. Madrasah yang bernama Darul Hadits adalah tempat di mana ia mendalami Al-Qur’an dan Hadits. Guru yang ia ikuti adalah Syekh Abu Samah dari Mesir, disamping itu juga berguru kepada Syekh Abu Umar Hamdan.
Madrasah Darul Hadits, tempat di mana Nurhasan Al-Ubaedah cukup lama belajar agama, nampaknya yang paling banyak mempengaruhi pikiran-pikirannya. Di pesantren tersebut konon mulai tertanam fanatisme yang mendalam terhadap ajaran-ajaran kebenaran sesuai dengan petunjuk qura’an dan Hadits Nabi SAW. hingga pada saatnya Nurhasan al-Ubaedah kembali ke tanah air, hanya ajaran dari kedua sumber itulah, hampir tidak ada yang lain lagi yang dijadikan pegangan dalam rangka mengamalkan agamanya dan menyebarluaskan pengetahuannya.4
Perbedaan dengan kelompok Islam lainnya terletak pada pemahaman terhadap beberapa nash al-qur’an dan hadits nabi SAW, terutama yang menyangkut soal kepemimpinana ummat (keamiran), bai’at dan arti Islam. Tumbuhnya perbedaan tersebut diawali oleh penilaian terhadap kondisi obyektif ummat, yanga sering diungkapkan Kyai Nurhasan Al-Ubaedah-selaku pendiri Islam Jama’ah kepada para kolega dan murid-muridnya. Menurutnya, umat Islam di Indonesia sudah lama terpecah-pecah menjadi sekian banyak golongan. Keadaan ini katanya tepat dengan diramalkan oleh Rasulullah SAW, bahwa ”pada suatu saat nanti ummatku akan terpecah-pecah menjadi 71 golongan. Dari sekian banyak golongan itu tidak ada yang selamat kecuali satu, yakni yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnahku”. Sepengetahuan Nurhasan tidak ada satu kelompok Islampun yang menunjukkan sebagai pengamal Qur’an dan Sunnah Nabi secara murni. Adapun kesalahan umat ia tunjukkan, antara lain: Pertama, terlalu berbelit-belitnya pendefinisian tentang Islam. kedua, kesalahan umat Islam adalah tidak bisa mencetak pemimpin yang layak dihormati dan dipercaya sebagai seorang amir.5
3 Nurihson M Nuh, Op.Cit, hlm. 10.
4Abdul Aziz dkk, Gerakan Islam Kontemporer di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989), Cet. I, hlm. 22-24
B. Sumber Hukum Ajaran LDII
Aliran islam LDII dalam melaksanakan Ubudiyahnya mereka mengambil dari:
1. Al-Qur’an Manqul, yaitu Al-Qur’an yang telah diartikan dan ditafsirkan serta di ta’wilkan oleh Imam sesuai kepentingannya, sebab imam mempunyai otoritas yang mutlak termasuk membuat ajaran yang wajib ditaati oleh semua pengikutnya.
2. Hadis Manqul, yaitu hadits-hadits yang telah ditafsirkan oleh imam sesuai kehendak dan kepentingannya.
3. Sabda Imam, yaitu titah-titah Imam, baik yang menyangkut masalah Ubudiyyah atau Muamalah, dimana larangan imam wajib ditinggalkan dan perintahnya wajib dilaksanakan. Bila perintah imam itu tidak dilaksanakan, maka pasti akan masuk neraka, sedang yang taat kepada imam dijamin masuk surga, sebab menurutnya imam mempunyai kapling surga.6
C. Organisasi Keagamaan
Di dalam lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), ada dua hal yang penting perlu diketahui, yaitu:
1. Dalam konteks organisasi, LDII menerapkan leadership (kepemimpinan) yang bertanggungjawabb dan amanah sebagai Ro’in. Nilai-nilaikepemimpinan ini tidak hanya dikembangkan dalam organisasi LDII, tapi mulai di praktekan dari mulai keluarga, pondok pesantren dan lebih luas lagi dalam kehidupan bertentangga dan berasyarakat.
2. Dalam konteks agama, LDII bertujuan untuk secara khusus membangun warganya dan umat Islam pada umumnyaagar menjadi hamba Allah yang tekun beribadah dan menjadi warga negara yang baik.
LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), merupakan organisasi kemasyarakatan yang resmi dan legal yang memiliki ketentuan UU no. 8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan, serta pelaksanaannya meliputi PP No 18 tahun 1986 dan peraturan menteri dalam negeri no 5 tahun 1986 dengan demikian LDII memiliki Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART)7
D. Teologi LDII
6 Khalimi, Ormas-Ormas Islam: Sejarah, Akar Teologi dan Politik (Jakata: Gaung Persada, 2010), h.249-250
Dalam memahami agama dia termasuk teguh pada pendirian dan tidak toleran terhadap mereka yang berbeda paham. Oleh karena itu kebanyakan doktrin teologis LDII dianggap sesat oleh mayoritas umat islam, berikut adalah faham-faham teologis LDII:
1. Ajaran Islam Jama’ah
Inti ajaran yang dikembangkan oleh LDII adalah kembali kepada Quran dan Hadis, yang selama ini banyak ditinggalkan oleh umat Islam. Di samping itu perbedaan di kalangan umat Islam terjadi karena tidak memiliki pemimpin pemersatu yang sangat ditaati oleh umat. Mereka beranggapan bahwa mempelajari ilmu-ilmu agama selain Quran dan Hadis,seperti fikih, tauhid, akhlak, dan sebagainya, percuma saja dan menyesatkan.
Dalam belajar hadis dilakukan dengan sistem Manqul, yaitu melalui sanad-sanad yang shahih, dan bukan kata-kata orang (qila wa qala). Dengan cara ini jamaah menjadi tahu persis apa yang dikehendaki Rasul, dan bukan sekedar dugaan-dugaan. Begitulah cara mereka mencapai kemurnian agama.
Untuk menjadi murid dari aliran ini tidak gampang, karena harus melalui seleksi ketat. Sementara itu tidak sembarang orang dapat dapat mengikuti pengajian mereka. Hanya dari mantan murid aliran itu sajalah kita bisa mengetahui ajaran mereka padahal kesetian murid terhadapa ajaran sangat tinggi, sehingga amat sulit bagi orang luar bisa mengetahui selengkapnya ajaran aliran tersebut.
2. Akidah
Beberapa petunjuk bisa sedikitmembuka ajaran mereka sebagai berikut. Ajaran mereka bersumber pada paham salafiyyah, karena terbukti tidak mau menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat (implisit). Mereka hanya mau memahami apa adanya, secara harfiah. Termasuk dalam menghadapi ayat-ayat tentang Allah dan perilaku-Nya, seperti wajah, tangan, duduk, marah, berkata, dan sebagainya. Tentunya dengan tambahan bilakaifa yang artinya tidak seperti apapun. Yang tidak meyakini seperti itu dianggap kafir oleh mereka. Ini termasuk ciri kaum fundamentalis Islam yang kaku, seperti kaum wahabi.
3. Ibadah
membaca basmallah secara sirr dalam membaca Al-Fatihah, (2) tidak membaca qunut dalam shalat, (3) Jumlah rakaan salat tarawih hanya delapan, (4) salat Id sebaiknya diselenggarakan dilapangan terbuka, dan (5) talqin hanya dilakukan bagi orang yang sedang menghadapi maut. Sementara itu terdapat perbedaan diantara mereka. Yaitu (1) azan Jum’at dilakukan dua kali, dan (2) Khutbah dilakukan hanya dalam bahasa Arab, karena dianggap sebagai pengganti dua rakaat yang tidak dilakukan dalam salat Jum’at. 4. Jamaah, Keamiran, dan Baiat
Menurut kelompok ini, umat Islam sekarang sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan, karena tidak ada pemimpin yang layak dihormati dan dipercaya sebagai amir. Dengan ketinggian ilmunya Amir mampu membimbing ke jalan Allah dalam menyatukan jama’ah. Dan jamaah adalah menjadi salah satu syarat saahnya keislaman seseorang. Mereka mengacu sikap itu pada Q.S 3:103, maupun hadis Nabi yang berbunyi, “Tetaplah olehmu berjamaah dan jangan bercerai berai” (H.R at-Tirmidzi). Hadits lainnya lagi adalah: “Tidak ada islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan keamiran, dan tidak ada keamiran kecuali dengan baiat dan tidak ada baiat kecuali dengan ketaatan” (H.R Ahmad ibn Hambal)
Untuk lebih meyakinakan kebenaran pandangan mereka tentang perlunya jamaah, amir maupun baiat, dengan ayat-ayat Quran maupun Hadis yang mereka anggap sesuai. Dan umat Islam di Indonesia wajib berbaiat dan taat kepada Nurhasan Al-Ubaidad, karena ia satu satunya amir di negeri ini.
Lebih dari itu mereka beranggapan bahwa orange yang tidak sepaham dengan mereka dihukum kafir atau syirik. Dan setiap orang kafir dan syirik adalah najis. Konseskuensinya mereka harus diusir dari kalangan jamaah, meskipun tadinya dalah anggota keluarga, seeperti anak, orangtua, istri maupun suami. Ajaran Islam Jamaah yang demikian itu merupajan hasil ijtihad Wali Fatah, tokoh aliran Jamaah Muslim. Paham agama seperti ini telah menimbulkan keresahan dalam masyarakat, karena telah memecah belah persatuan atau Ukhuwah Islamiyyah. Dalam perkembangannya sekarang, setelah dengan nama LDII, tema-tema ajaran tentang jamaah, Keamiran maupun baiattidak lagi di tonjolkan. Kita tidak tahu persis alas an perubahan tema pengajian tersebut.8
5. Takfir
Takfir adalah mengkafirkan orang yang tidak berbaiat kepada imam suatu kelompok. Ciri takfir ini seringkali terdapat dan menjadi ciri khas kelompok yang
menyimpang. Jadi secara psikologis, mereka ingin menanamkan rasa bangga dan eksklusifisme tertentu kepada anggotanya dengan memberi label muslim kepada kelompok mereka dan label non muslim kepada selain mereka (diluar kelompok).
Dan secara otomatis, setiap anggotanya tidak dibenarkan kawin dengan non anggota, karena menurut mereka, orang yang bukan anggota bukan muslim. Begitu pula dalam masalah sholat, kelompok mereka tidak akan mau jadi makmum di belakang orang yang bukan anggota kelompok mereka.
Bahkan ada juga yang sampai mencuci kursi tamunya lantaran punya tamu bukan anggota mereka. Tamu ini meski formalnya muslim, namun menurut pandangan mereka adalah kafir, sehingga tempat duduknya pun harus dicuci karena dianggap najis. Lebih kacau lagi, mereka yakin bahwa harta orang lain yang bukan anggota mereka boleh diambill karena milik orang kafir.
Padahal syari’at islam jelas-jelas melarang kita mudah mengkafirkan orang lain, kecuali memang secara tegas seorang menyatakan diri murtad. Atau melalui proses peradilan dengan memanggil orang yang bersangkutan dan telah diputuskan oleh mahkamah syar’iyyah bahwa seseorang memang nyata keluar dari islam.
Sedangkan orang yang lahir dari orang tua muslim, otomatis menjadi seorang muslim dan tidak perlu melakukan syahadat ulang di depan Amir, imam atau apapun istilahnya. Baca syahadat di depan tokoh tertentu lebih mirip dengan baptis gaya kristen ketimbang ajaran aqidah islam, jadi apapun nama organisasinya, bila punya faham takfir seperti ini, jelas telah menyimpang dari aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. dan para ulama pewarisnya.9
6. Infak Wajib
Umumnya kelompok sesat berujung kepada penglembungan uang atau mobilisasi dana. Namun karena dikemas dengan doktrin dan segala macam asesorisnya, maka dengan setia dan taat mereka mengeluarkan uang untuk sang pimpinan. Kalau perlu jadi sampai miskin sekalian. Tidak jarang tarif infaq wajib itu termasuk gila-gilaan. Ada yang menetapkan 20% dari penghasilan, 30%, 50% bahkan sampai 100%. Belum lagi zakat, kafarat, denda dan lainnya.
Walhasil, sangat boleh jadi sang pimpinan mendadak kaya raya dan hidup mewah. Sebaliknya, para anggota semakin kurus kering karena diperas dan dipaksa cari uang. Kalau kepepet, maka haramnya mencuri bisa berubah jadi halal. Begitu juga dengan merampok mencuri, korupsi, menipu, dan sejenisnya. Semuanya bisa jadi halal dengan
syarat tidak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, yang salah bukan tindakan pencuriannya, tapi kenapa sampai ketahuan.
Dalam banyak kasus, seringkali terbongkar bahwa kalangan jamaah yang sesat itu seringkali sudah tidak lagi perduli kepada halal atau haram, yang penting harus setor keatasan. Makin banyak menyetorkan dana, biasanya makin tinggi pangkat dan kedudukannya. Semua setoran yang sudah masuk tidak dibenarkan untuk diminta laporan pembukuaannya.
7. Taqiyah
Ciri yang tidak pernah luput dari kelompok sesat adalah taqiyah yaitu menyembunyikan doktrin sesatnya kepada siapapun kecuali kepada mereka yang sudah resmi dibaiat hingga pada level tertentu, sehingga setiap ada orang yang ingin melakukan konfirmasi ke pihak mereka atas berita kesesatan ajaran mereka, selalu akan dipungkiri dengan sekian banyak dalih. Biasanya, apa yang mereka pajang di etalase adalah hal-hal yang baik, bagus, normal dan biasa saja. Barulah setelah kita masuk dapurnya, kita baru bisa tahu seperti apa wujud asli kelompok itu.
Tapi biasanya, pihak pimpinan akan memblack-list mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah pengkhianat dan penyebar fitnah karena sakit hati dan seterusnya. Jadi keterangan dari orang yang sudah tobat itu terkadang tidak mempan, karena para anggota baru sudah diimunisasi atas info-info kesesatan kelompok mereka.10
Bentuk-Bentuk Pemikiran Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Pokok-pokok ajaran LDII yaitu :
1. Orang Islam di luar kelompok mereka adalah kafir dan najis, termasuk kedua orang tua sekalipun.
2 Kalau ada orang di luar kelompok mereka melakukan shalat di masjid mereka, maka bekas tempat shalatnya dicuci karena dianggap sudah terkena najis.
3. Wajib taat kepada amir atau imam. “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa keamiran, tidak ada keamiran tanpa ketaatan.”
4. Mati dalam keadaan belum bai’at kepada amir atau imam LDII maka akan mati jahiliyyah (mati kafir).
5. Al-Qur’an dan Hadits yang boleh diterima adalah yang manqul (yang keluar dari mulut imam atau amir mereka). Yang keluar/diucapkan oleh mulut-mulut yang bukan
imam/amir mereka maka haram untuk diikuti. “Barang siapa berkata mengenai kitab Allah dengan pendapatnya (tanpa ilmu), maka dia salah walau benar.”
6. Haram mengaji Al-Qur’an dan Hafizd kecuali kepada imam/amir mereka.
7. Dosa bisa ditebus kepada sang amir/imam, dan besarnya tebusan tergantung besar-kecilnya dosa yang diperbuat, sedangkan yang menentukannya adalah imam/amir.
8. Harus rajin membayar infaq, shadaqah dan zakat kepada amir/imam mereka, dan haram menegluarkannya kepada orang lain.
9. Harta benda di luar kelompok mereka diamggap halal untuk diambil atau dimiliki walaupun dengan cara bagaimanapun memperolehnya seperti mencuri, merampok, korupsi, menipu, dan lain-lain, asal tidak ketahuan/tertangkap. Dan kalau berhasil menipu orang Islam di luar golongan mereka, dianggap berpahala besar. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ...”(al-Baqarah:29).
10. Bila mencuri harta orang lain yang bukan golongan LDII lalu ketahuan, maka salahnya bukan mencurinya itu, tetapi kenapa mencuri kok ketahuan.
11. Harta, uang zakat, infaq, shadaqah yang sudah diberikan kepada amir/imam, haram ditanyakan kembali catatannya atau digunakan kemana uang zakar tersebut.
12. Haram membagikan daging qurban atau zakat fitrah kepada orang Islam di luar kelompok mereka.
13. Haram shalat di belakang imam yang bukan kelompok mereka, kalaupun terpaksa sekali, tidak usah berwudhu karena shalatnya harus diulang kembali.
14. Haram nikah dengan orang di luar kelompok.
15. Perempuan LDII kalau mau bertamu ke rumah orang yang bukan kelompok mereka, maka memilih waktu pada saat haid, karena badan dalam keadaan kotor sehingga ketika di rumah non LDII yang dianggap najis itu tidak perlu dicuci lagi.
16. Kalau ada orang di luar kelompok mereka yang bertamu di rumah mereka, maka bekas tempat duduknya dianggap kena najis.11
E. Bantahan Isu-Isu Negatif dari LDII
Di bawah ini kita akan membahas tanggapan LDII terhadap tuduhan-tuduhan pada dirinya yang dianggap sesat. bantahan-bantahan tersebut mereka lontarkan melalui situs resmi yang mereka buat. Bantahan tersebut antara lain:
Benarkah warga LDII bila berjabat tangan dengan orang lain kemudian tangannya
dicuci ?
Tidak benar. jika isu tersebut benar, alangkah sulitnya menjadi warga LDII karena harus mencuci tangan setiap habis berjabat tangan atau bersentuhan dengan orang yang bukan warga LDII. Kenyataannya banyak warga LDII yang merupakan kaum terpelajar dan para profesional yang setiap saat bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan, serta tetap mengikuti etiket dalam pergaulan.
Benarkah masjid LDII jika dimasuki orang lain, kemudian lantainnya dicuci ?
Tidak benar. Jika isu itu benar, logikanya adalah daripada harus membersihkan lantai setelah dimasuki seseorang yang bukan warga LDII, tentunya lebih baik LDII melarang siapa saja yang bukan warga LDII untuk masuk ke masjid LDII tersebut, sebab alangkah susahnya jika setiap dimasuki orang selain warga LDII kemudian harus mencuci lantai.
Kenyataannya tidak demikian. LDII tidak melarang siapa saja yang bukan warga LDII untuk masuk ke masjid LDII dan LDII tidak mencuci lantainya yang dimasuki bukan warga LDII.
Banyak sekali masjid LDII yang terletak dipinggir jalan besar bebas dimasuki oleh siapa saja, baik untuk sekedar solat maupun untuk mengikuti sholat Jum’at.
Benarkah warga LDII merasa benar sendiri ?
Tidak Benar. Warga LDII tidak merasa benar sendiri, karena kebenaran itu ada di tangan Allah. Siapapun yang didalamnya beribadahnya berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, walapun dari golongan manapun, tetap dijamin kebenarannya.
Benarkah LDII sebagai penerus ajaran Islam Jama’ah ?
Tidak benar. LDII adalah ormas islam yang besar dengan latar belakang warga yang sangat beragam, dalam bidang pendidikan, profesi, status sosial maupun aspirasi kelompok keagamaannya, termasuk mereka yang dulunya “dianggap” melaksanakan ajaran Islam Jama’ah.
adanya orang-orang yang dianggap mantan Islam Jama’ah inilah yang kemudian menimbulkan citra seolah-olah LDII ini sebagai penerus Islam Jama’ah.
Tidak benar. Karna siapapun tidak memiliki wewenang untuk menyatakan kekafiran seseorang, berdasarkan dalil: “barang siapa yang menganggap kafir saudaranya, maka kekafiran akan berbalik kepada dirinya, jika saudaranya ternyata tidak kafir”.
Benarkah bahwa warga LDII tidak mau sholat di masjid selain di masjid LDII ?
Tidak benar. Warga LDII selalu berusaha tertib dalam menetapi salat lima waktu, dalam rangka menetapi firman Allah: “Jagalah waktu-waktu solat dan salat yang tengah (Asar)”. Untuk menetapi kewajiban salat lima waktu tersebut, warga LDII dapat melaksanakan ibadah salat di masjid, di musholla, atau di tempat-tempat ibadah lainnya. Adapun jika di lokasi terdekat ada masjid LDII, tentunya wajar saja jika warga LDII tersebut lebih memilih pergi ke masjid LDII. Hal tersebut semata-mata disebabkan karena di masjid LDII tersebut dapat diperoleh informasi-informasi mengenai kegiatan organisasi, sekaligus Silaturrahim dan menambah ilmu.
Benarkah bahwa warga LDII tidak mau bermakmum kepada orang lain ?
Tidak benar. Penetapan imam salat mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. : “yang berhak mengimami kaum adalah yang paling mahir di dalam membaca Al-Qur’an, jika dalam hal ini sama semua maka yang paling dahulu hijrahnya, jika dalam hal ini sama semua, maka paling banyak mengetahui sunnahnya, jika dalam hal ini mereka sama semua maka yang paling tua usianya:. Contoh yang nyata adalah pada saat ibadah haji. Di mekkah warga LDII salat dibelakang Imam Masjidil Harom. Di madinah warga LDII salat di belakang Imam Masjid Nabawi. Begitu juga di masjid-masjid lainnya.
Bagaimana sikap LDII terhadap golongan Islam lain ?
Semua golongan Islam adalah bersaudara, sebagaimana sabda Rasulullah: “orang islam adalah saudaranya orang Islam”.
Sesama golongan islam tidak dibenarkan untuk saling merendahkan, sesuai firman Allah: “Dan janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, barangkali keadaan kaum yang direndahkan itu lebih baik dari kaum yang merendahkan”.
Apakah LDII menerima masukan dari fihak lain ?
LDII juga berkerjasama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta dalam rangka memberi pelatihan dakwah kepada para mubaligh-mubalighot LDII. LDII di daerah-daerah sering mengundang ulama-ulama di luar LDII untuk memberi ceramah agama. Bagi LDII, segala bentuk masukan adalah merupakan nasihat yang tidak ternilai harganya.
Mengapa warga LDII menghindari berjabat tangan ketika laki-laki dan perempuan yang
bukan mahromnya ?
Laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya tidak boleh bersalaman, berdasarkan sabda Rasulullah Saw.: “Niscaya jika kepala salah satu kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” dan hadits-hadits lain yang lebih Shohih.
Apakah yang dimaksud Manqul ?
Manqul berasal dari bahasa Arab naqola-yanqulu, yang artinya adalah pindah. Maka ilmu yang manqul adalah ilmu yang dipindahkan dari guru kepada muridnya.
Dalam pelajaran tafsir, tafsir Manquul berarti mentafsirkan sesuatu ayat Al-Qur’an yang lainnya, menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadis, atau mentafsirkan Al-Qur’an dengan Shohabat.
Dalam ilmu Hadits, Manquul berarti belajar hadis dari guru yang mempunyai isnad sampai kepada Nabi Muhammad Saw.12
F. Perkembangan Pemikiran Lembaga Dakwah Islam Indonesia 1. Paradigma Baru: Fakta dan Realitas LDII kota Surabaya
Pada poin pertama dalam pernyataan klarifikasi LDII hasil Rakernas bulan Maret 2007 lalu di Jakarta disebutkan bahwa LDII sebagai organisasi kemasyarakatan yang telah memiliki Paradigma baru sebagai hasil Musyawarah Nasional (MUNAS) VI LDII tahun 2005 dan menerapkannya dalam segenap aktivitas organisasi. Dari hasil penulusuran dilapangan bahwa substansi yang paling pokok disosialisasikan dari enam poin yang menyangkut hubungan warga LDII dengan warga muslim lainya adalah sebagai berikut:
a. Masalah Eksklusivisme
lain, baik dilingkungan masjid maupun dilingkungan masing-masing, diminta pula agar ikut aktif dalam kegiatan lingkungan, gotong royong, jika ada tetangga yang mengundang agar hadir, termasuk aktif membayar pajak, hal demikian dikatakan oleh beberpa pengurus Dewan Daerah Kota Surabaya bukan hanya dilakukan setelah adanya Rakernas LDII awal tahun 2007 tetapi memang sejak dulu.13
b. Menajiskan/Mengkafirkan Orang diluar LDII
Hal ini dikatakan tidak pernah terjadi karena dalam Agama Islam sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Hadist karena keduanya menjadi rujukan LDII. Di dalam ajaran Islam diyakini bahwa siapa saja yang mengkafirkann orang lain padahal orang itu tidak memnuhi kriteria kekafiran maka dia sendiri dicap sebagai kafir, karena Hadist Rasulullah SAW, yang mengatakan “siapa orang kelimah laailaaha illallaah Muhammad Rasulullah maka dia adalah seorang mukmin”, jika seandainya warga LDII menajiskan atau bahkan mengkafirkan orang lain selain warga LDII tentu tidak ada warga LDII yang mau makann atau berinteraksi dengan warga lainnya selain warga LDII.14
c. LDII sebagai penerus/kelanjutan dari gerakan Islam Jamah serta mengajarkan Islam Jamaahh yang telah dilarang oleh pemerintah
Dalam waktu tiga kali pertemuan denga unsur piimpinan Dewann Pimpinann Daerah LDII Kota Surabaya berkali-kali pula mereka/ Bapak Adi Santoso ketua, membantah bahwa LDII merupakan penerus Jamah Islamiyah/Darul Hadist, namun demikian beliau mengakui setelah Islam Jamaah di bubarkan pada tahun 1971, dan berdiri LEMKARI pada tahun 1972 muncul ada dua silang pendapat/kelompok. Kelompok pertama yang tetap mempertahankan kelanjutan dari Islam Jamaah, kelompok kedua yang melepaskan diri dari keterkaitan dengan Islam jamaah baik secara organisasi maupun dari segi ajaran.15
d. Sistem Keamiran
Menggunakan atau menganut sistem keamiran yang harus diikuti semua fatwanya. (Islam Jamaah termasuk sistem keamiran pen). Ini perlu dan ini maslah mendasar yang hars tetap ada walaupun sekedar ada sistem lama nah orang-orang seperti inilah yang menjadi binaan LDII.
e. Masjid LDII terbuka untuk umum
f. LDII mengajarkan kepada warganya untuk tidak/ menolak diimami oleh orang luar warga LDII.
13Nurihson M Nuh, Op.Cit., hlm. 53. 14 Ibid., hlm. 54.
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan makalah tersebut kami menyimpulkan bahwa LDII merupakan aliran atau kelompok islam di indonesia, pendirinya adalah Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir, pada awalya organisasi ini bernama Yayasan Lembaga Karyawan Islam (YAKARI) pada tahun 1972, lalu berganti nama menjadi Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI), lalu berubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) hingga sekarang.
Banyak sekali kontroversi terhadap aliran ini sebagaimana yang sudah dipaparkan didalam makalah dan bahkan banyak juga yang menyatakan bahwa aliran LDII ini sesat, hal ini disebabkan karna kesalah pahaman disertai dengan minimnya informasi masyarakat tentang LDII, masyarakat hanya mengetahui isu-isu terkait doktrin-doktrin LDII yang dianggap sesat, tanpa mencari tahu kebenarannya. Dan pada pihak LDII pun membantah isu-isu yang menyebar luas di masyarakat tersebut, salah satunya adalah melalui situs resmi yang mereka buat. Entah bantahan tersebut hanya untuk Taqiyah atau menyembunyikan doktrin kesesatannya atau memang LDII tidak sesat seperti isu-isu yang sudah menyebar di masyarakat saat ini.
Wallahu A’lam.
Khalimi, Ormas-Ormas Islam: Sejarah, Akar Teologi dan Politik (Jakata: Gaung Persada, 2010)
M Nuh, Nurihson, Aliran/faham keagamaan dan Sufisme Perkotaan, (Jakarta: PuslitbangKehidupan Keagamaan, 2009)
Su’ud, Abu, Islamologi: Sejarah, Ajaran, dan Peranannya Dalam Peradaban Umat Mausia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), Cet. I
Abdul Aziz dkk, Gerakan Islam Kontemporer di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989), Cet. I