• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Pendidikan Karakter Berbasi dan Pendidikan Karakter .pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi Pendidikan Karakter Berbasi dan Pendidikan Karakter .pdf"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENINGKATKAN MORAL SISWA DI SEKOLAH DASAR

Diajukan untuk Memenuhi Ulangan Tengah Semester Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia

Oleh:

Ferawati Tiyas Anggraeni (1815163158)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

(2)

Literature Review : Pendidikan Karakter dalam Meningkatkan Moral Siswa di Sekolah Dasar

Ferawati Tiyas Anggraeni

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Jakarta

Abstrak

Dewasa ini pendidikan di Indonesia mulai meningkat. Hal ini dikarenakan bahwa banyak pelajar yang mampu meraih prestasi di dalam maupun luar negeri. Prestasi-prestasi yang di raih pun tak hanya di bidang akademik, namun di bidang non akademik pula. Bahkan,salah satu pelajar Indonesia menjadi juara umum dalam Konferensi Internasional Ilmuwan Muda se – Dunia yang diikuti ratusan pelajar SMA dari 19 negara di Bali pada 12-17 April 2010. Namun, banyak pula pelajar yang bertolak belakang. Mereka terjerumus dalam gelap dan butanya pergaulan seks bebas. Sungguh sangat miris melihat keadaan ini.

Pemerintah pun sepertinya ikut turun tangan dengan memberikan pendidikan karakter. Pendidikan karakter tak hanya dalam pembelajaran tersirat tetapi juga di tetapkan dalam kompetensi inti. Kompetensi inti yang dimaksud adalah spiritual dan sikap. Dimana kedua kompetensi ini merupakan dua hal paling utama, disusul dengan nilai pengetahuan dan keterampilan. Oleh karena itu, diharapkan ini adalah langkah tepat untuk memperbaiki moral generasi penerus bangsa.

(3)

I. PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki hubungan erat dengan pengembangan kapasitas, karakter dan beradaban bangsa. Hal ini dapat kita lihat dari upaya yang telah direncanakan dengan baik dalam menciptakan lingkungan belajar dan proses pembelajaran. Dimana peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka untuk memperoleh nilai spiritual dan religi (keagamaan), mengembangkan kontrol diri, kepribadian , kecerdasan, moral, dan akhlak mulia serta keterampilan yang dibutuhkan seseorang untuk dirinya sendiri , masyarakat, bangsa, dan negara (Abdul Karim Zaidan, 2012). Hal ini sejalan dengan pasal 3 Undang-Undang tentang sistem pendidikan karakter dan peradaban bangsa untuk meningkatkan kapasitas intelektualnya dan ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik sehingga mampu menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan, yang berakhlak mulia, berpengetahuan, berkompeten, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan sangatlah penting mengembangkan kompetensi dan karakter siswa.

(4)

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi generasi penerus bangsa yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun, jika para siswa terus mengalami kemunduran moral maka fungsi serta tujuan pendidikan nasional belumlah terwujud. Oleh karena itu, pemerintah mulai menanamkan moral melalui pendidikan karakter mulai dari usia sedini mungkin. Pendidikan Karakter akan lebih ditekankan pada tingkat TK dan SD karena karakter merupakan pondasi pendidikan.

Pemerintah telah merumuskan misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan karakter merupakan misi utama dan pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025

(Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2007), yakni terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriot , berkembang dinamis , dan berorientasi ipteks (Kemko Kesejahteraaan Rakyat Republik Indonesia, 2010).

(5)

yang bermartabat (Deny Setiawan, 2013).

Gagasan Gerakan pembangunan karakter bangsa harus dilakukan serentak dari seluruh kompenen masyarakat mulain dari bawah hingga ke atas. Tak bisa hanya pada salah satu spectrum saja. Hal ini karenakan, dalam pembangunan karakter harus dilakukan bersama-sama hingga membentuk generasi baru yang memiliki moral yang baik. Merosotnya moral yang telah melanda bangsa ini, mensyaratkan untuk segera dilakukannya penanaman kembali nilai-nilai luhur budaya bangsa atau revitalisasi atau semacam invented tradition (Hobsbawm, 1983 : 1) melalui gerakan nasional yang melibatkan seluruh komponen sebagai konsensus yang lahir dari kesadaran.

II. MASALAH

1. Pengertian Pendidikan Karakter Menurut T. Ramli pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah untuk membentuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik (T. Ramli 2003).

Suyanto mengemukakan pendidikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. (suyanto 2009). Sedangkan menurut John W. Santrock Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain. (John W. Santrock). Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan tentang pembentukan moral dan kepribadian seseorang dengan tujuan supaya menjadi manusia yang baik dalam berbangsa dan bernegara.

(6)

berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik.

2. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

Lingkungan adalah faktor utama dalam pembentukan karakter anak. Lingkungan terbagi atas lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Faktor keluarga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Akan tetapi, kematangan emosi sosial ini selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah sejak usia dini sampai usia remaja. Bahkan menurut Daniel Goleman, banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anak, kematangan, emosi sosial anak dapat dikoreksi dengan memberikan latihan pendidikan karakter kepada anak-anak, terutama di sekolah pada usia dini. Sekolah adalah tempat yang strategis untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah.

Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkannya di sekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya. Indonesia belum mempunyai pendidikan karakter yang efektif untuk menjadikan bangsa Indonesia yang berkarakter.

Menurut Berman, iklim sekolah yang kondusif dan keterlibatan kepala sekolah dan para guru adalah faktor penentu dari ukuran keberhasilan interfensi pendidikan karakter di sekolah. Dukungan saran dan prasarana sekolah, hubungan antar murid, serta tingkat kesadaran kepala sekolah dan guru juga turut menyumbang bagi keberhasilan pendidikan karakter ini, disamping kemampuan diri sendiri (melalui motivasi, kreatifitas dan kepemimpinannya) yang mampu menyampaikan konsep karakter pada anak didiknya dengan baik.

(7)

seseorang. Seperti yang telah terkandung dalam kurikulum 2013 pada penilaian spiritual dan sikap. Dimana moral di nomor satukan disusul dengan pengetahuan serta keterampilan. Misalnya pada nilai spiritual seseorang harus memiliki budi pekerti, amanah, rajin beribadah, bekerja sama, serta berkata jujur.

Pendidikan karakter harus dilakukan sejak dini. Penanaman nilai moral sejak dini mampu melahirkan generasi muda yang cerdas dan memiliki moral yang baik. Penanaman moral merupakan proses jangka panjang dalam rangka membentuk karakter penerus bangsa. Pada usia anak-anak merupakan masa emas atau golden age, dimana pada saat itu anak mampu mengmbangkan potensinya dengan baik. Moral anak pada saat ini akan menentukan karakter bangsa di kemudian ini. Oleh karena itu pendidikan karakter sangatlah dibutuhkan agar menjadikan bangsa yang berkarakter.

3. Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan Pendidikan Karakter adalah

mengembangkan potensi

kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa;

2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius; 3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa; 4) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan 5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bersumber dari: 1) Agama, 2) Pancasila, 3) Budaya, dan 4) Tujuan Pendidikan Nasional (Pusat Kurikulum, 2010).

(8)

tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa; 4) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan 5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bersumber dari: 1) Agama, 2) Pancasila, 3) Budaya, dan 4) Tujuan Pendidikan Nasional (Pusat Kurikulum, 2010).

Teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan karakter bangsa sebagai berikut (Pusat Kurikulum, 2010). Sekolah bebas untuk memilih dan menerapkan nilai-nilai mana dulu yang hendak dibangun dalam diri siswa. Bahkan pemerintah mendorong munculnya keragaman untuk pelaksanaan pendidikan karakter (Fasli Jalal, 2010a). Di sekolah A dapat saja mendahulukan nilai-nilai religius, sekolah B memprioritaskan nilai-nilai kejujuran, ekolah C memprioritaskan nilai-nilai toleransi, sedangkan di sekolah D sudah melaksanakan

nilai-nilai religius, kejujuran, toleransi, dan kedisiplinan.

Namun, sebaiknya untuk menerapkan pendidikan karakter, seluruh warga sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya (Anita Lie, 2010). Bila nilai-nilai karakter yang sudah disepakati untuk

dikembangkan sudah

diimplementasikan maka selanjutnya ditambah dengan nilai-nilai karakter yang lain untuk diimplementasikan, demikian seterusnya, sampai pada suatu saat semua nilai-nilai karakter sudah diimplementasikan di sekolah dan di luar sekolah.

III. SOLUSI YANG TELAH DIUSULKAN

(9)

karakter didalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran Pendidikan Karakter di sekolah sejak usia dini ( TK dan SD) diharapkan mampu menjadi rencana jangka panjang demi karakter bangsa di kemudian hari.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan menerapkan prinsip pendidikan karakter. Character Education Quality Standards merekomendaikan sebelas prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut:

1. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.

2. Mengidentifikasikan karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku. 3. Mengguanakan pendekatan yang

tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter.

4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.

5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik.

6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua siswa, membangun karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses.

7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para siswa.

8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter yang setia kepada nilai dasar yang sama.

9. Adanya pembagian kepimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter.

10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.

11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan siswa

(10)

dalam segi ucapan, karakter, moral, hingga kepribadian guru. Dengan demikian, guru memiliki tanggung jawab dalam melahirkan generasi muda dengan moral, nilai, karakter serta kepribadian yang baik. Beberapa strategi untuk guru dalam pengembangan Pendidikan Karakter antara lain sebagai berikut :

1. Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran.

2. Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran.

3. Mengoptimalkan kegiatan pem- biasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia.

4. Penciptaan lingkungan sekolahuntuk tumbuh kembang karakter pada siswa.

5. Menjalin kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan karakter.

6. Menjadi figur teladan yang baik bagi siswa.

Beberapa strategi tersebut dapat dilakukan dalam pembelajaran di kelas. Diharapkan dengan penerapan yang baik, pengembangan pendidikan karakter di sekolah akan berhasil.

Terutama pada poin bahwa guru adalah figur teladan bagi siswa. Siswa selalu mengatakan bahwa guru adalah benar, sehingga siswa mengikuti apa yang ia lihat dari gurunya. Jangan sesekali memberikan contoh buruk, maka ia akan mencerminkan contoh buruk itu juga.

IV PEMBAHASAN

Dari pemaparan solusi-solusi yang telah di jelaskan diatas, dapat di golongkan menjadi dua yaitu, melalui siswa langung dan melalui pembelajaran guru. Dimana Pendidikan Karakter amatlah penting dalam pengembangan moral di sekolah dasar untuk mempersiapkan generasi muda yang bermoral di kemudian hari.

(11)

yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa

empati, dan kemampuan

berkomunikasi.

Maka dapat dikatakan, pendidikan karakter yang baik mampu memberikan pengaruh positif dalam kehidupan terutama dalam prestasi di sekolah. Dengan seiringnya waktu, dimana generasi muda memiliki moral yang baik dan prestasi yang baik akan melahirkan bangsa yang luar biasa di kemudian hari.

Dari beberapa masalah yang muncul, telah di berikan solusi. Diharapkan solusi tersebut mampu diterapkan dalam pembelajaran di sekolah terutama sekolah dasar. Karena pada usia sekolah dasar, otak mereka mampu merespon baik dan menyimpan lama. Dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah infestasi jangka panjang bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

V KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dari tahap I sampai tahap IV dapat disimpulkan bahwa :

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.

Terdapat berbagai solusi yang dapat diterapkan guru pada pembelajaran pendidikan karakter di sekolah. Solusi tersebut antara lain menerapkan 11 prinsip pendidikan karakter yang dimulai dari lingkungan rumah dan memberikan lingkup pembelajaran yang baik. Sehingga siswa mendapatkan kenyamanan belajar dan mampu menerima pembelajaran dengan baik.

(12)

dari yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Agus Wibowo. (2013). Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah: Konsep dan Praktik Implementasi. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

2. Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

3. Bohlin, E. Karen., Deborah Farmer, & Kevin Ryan, 2001. Building Character inSchool Resource Guide, San Fransisco, Jossey Bass.

4. Damond, W. (ed.). 2002. Bringing in A New Era in Character Education. New York:Hoover Institution Press. 5. Departemen Pendidikan Nasional.

2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

6. Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

7. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

8. Endah Sulistyowati. (2012). Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter.Bandung: Citra Aji Parama. 9. Goleman, D. 2001. Kecerdasan

Emosional (terjemahan Hermaya T). Jakarta: GramediaPustaka Utama 10. H.E. Mulyasa. (2013). Manajemen

Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

11. Jalal, Fasli. 2010. Kebijakan Nasional Pendidikan Karakter: Tiga Stream Pendekatan. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional. 12. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah

Dasar Edisi 8 Tahun ke 5 2010 Impelementasi Pendidikan Karakter

Pada Peserta Didik (Diakses pada 25 April 2018)

13. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun III, Nomor 1, Februari 2013 PERAN

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM

MENGEMBANGKAN KECERDASAN

MORAL (Diakses pada 25 April 2018)

14. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun III, Nomor 2, Juni 2013

MEMBANGUN KARAKTER

MELALUI PEMBELAJARAN SAINS (Diakses 25 April 2018)

(13)

Karakter Bangsa.Jakarta: Kemko Kesejahteraan Rakyat.

16. Lie, Anita. 2010a. Pendidikan Karakter Sulit Diterapkan. KOMPAS.com, 15 Januari 2010. Diunduh 25 April 2018.

17. Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: Indonesia Heritage Fondation

18. Nurul Zuriah. (2008). Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.

19. Rita Eka Izzaty, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNYPress.

20. Santrock, John W. (2007). Perkembangan Anak. (Alih bahasa: Mila Rachmawati & AnnaKusaranti). Jakarta: Erlangga.

21. Sjarkawi. (2006). Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara

22. Sri Judiani, Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum 23. Sri Narwanti. (2011). Pendidikan

Karakter: Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk Karakter dalam Mata Pelajaran.Yogyakarta:Familia.

24. Sudrajat, Ajat. 2011. “Mengapa Pendidikan Karakter”. Jurnal Pendidikan Karakter. Th I, No. 1 25. Sugihartono, dkk. (2012). Psikologi

Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press 26. Wulandari Endah Ayu. (2013).

Penanaman Nilai-Nilai Karakter di Sekolah Dasar Negeri 4 Wates. Jurnal PGSDS1( Vol. II No. 11 Tahun 2013). (Diakses 26 April 2018)

27. Widyastono, Herry. 2010. Bahan Pelatihan Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di Sekolah. Jakarta: Yayasan Pendidikan Masjid Panglima Besar Jenderal Sudirman. 28. Zainal Aqib. (2011). Pendidikan

Karakter: Membangun Perilaku

Positif Anak Bangsa. Bandung: Yrama Widya.

29. Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Dalam persiapan pelaksanaan pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Ma’arif kepala sekolah

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Mudir, Musyrif dan Muddabir Faktor pendukung keberhasilan Rusunawa Al-Manar Pertama adalah adat/ kebiasaan. Kegiatan

Kepala Sekolah Rekomendasi hasil tindak lanjut penelitian ini bagi kepala sekolah, kepala sekolah agar dapat konsisten mendampingi guru dalam menerapkan pendidikan karakter sehingga

Penelitian ini memiliki ujuan yakni guna mengulas bagaimana peran kepala sekolah dalam aspek pengimplementasian Pendidikan karakter di sekolah dengan metode penelitian

Cara yang dilakukan dalam pengadaan sarana dan prasarana sekolah menurut keterangan dari wakil kepala sekolah yang bertindak sebagai koordinator bidang sarana dan

Selain itu, komite sekolah senantiasa memberikan dukungan moril kepada kepala sekolah dan guru dengan memberikan usulan dan saran (dalam bentuk pemikiran) tentang

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah maupun Guru sebagaimana diungkapkan diatas, dapat disimpulkan bahwa kurangnya dukungan komite sekolah untuk pendidikan inklusif

Di sini peran implementor yang terdiri dari kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan menjadi kunci keberhasilan model pendidikan inklusi melalui proses pembelajaran baik di