PENDIDIKAN KARAKTER DAN HABITUS MORAL DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN BANGSA
Oleh
Sarmauli, M.Th
BAB I PENDAHULUAN
Piramida Mesir dengan luas 146 M2, dibangun bermula dari 1 buah batu berukuran sedang atau bahkan kecil. Tanpa suatu maksud dan tujuan tertentu, identitasnya terbatas sebagai batu biasa. Ketika diarahkan dan diletakkan dengan tujuan tertentu, maka nilai batu tersebut berubah, dan membentuk makna yang besar untuk dipahami orang lain, bahkan memiliki tujuan di dalam dirinya sendiri. Demikianlah pembangunan bangsa ditentukan pula dari pembangunan individu-individu di dalamnya. Pada dasarnya, individu-individu tersebut terlihat kecil atau mungkin sederhana, namun ketika diberi arahan dan ruang untuk berkembang sesuai konteks diri dan lingkungannya, maka nilai dirinya berubah, makna yang dihadirkan pun menjadi semakin berpengaruh, bahkan ia memiliki tujuan di dalam dirinya sendiri. Pembangunan individu, secara khusus dalam hal pendidikan karakter dan habitus moral sebagai dasar pembangunan bangsa, dapat diamati dalam penggambaran tersebut.
oleh sejumlah pihak untuk dikaji kembali. Deskripsi situasi aktual Indonesia yang demikian, tentu memengaruhi pembangunan bangsa.
Dalam situasi serupa, piramida Mesir yang menjulang tinggi, terlihat tua dari segi usia bangunan, dan dikhawatirkan eksistensinya menghadapi berbagai tantangan cuaca, perlu diperhatikan dan dirawat kembali eksistensinya, dari satu batu ke batu lainnya. Demikianlah pembangunan bangsa yang besar seperti Indonesia. Ukuran bangsa yang besar (dari segi kuantitas jumlah penduduk dan cenderung heterogen pada berbagai aspek hidup), tua dari segi usia, dan dikhawatirkan eksistensinya menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, maka pembangunan di dalamnya perlu dilakukan dari tiap individu yang ada. Pada titik inilah, pembangunan individu, secara khusus pendidikan karakter dan habitus moral harus mendapat perhatian besar oleh pemerintah, bahkan seluruh elemen bangsa Indonesia. Keduanya menjadi fokus utama karena merupakan penentu nilai diri, standar atau acuan hidup, bahkan memengaruhi sasaran individu bersangkutan, sekaligus memengaruhi sasaran pembangunan bangsa tersebut.
BAB II
PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER KEBAJIKAN A. PENGERTIAN KARAKTER
Bagi Aristoteles, karakter berhubungan dengan kualitas diri seseorang. Kualitas diri ini mencakup kecerdasan, imajinasi moral, dan kepekaan yang berhubungan dengan karakter. Semua ini tidak terbentuk dengan baik sejak lahir, namun perlu dilatih dan dikembangkan (Aristoteles dalam
Joel Kupperman mengangkat sepenggal syair dari John Keats yang menulis surat demikian, “dunia ini adalah vale of soulmaking (lembah pembentuk jiwa)”. Kupperman menyimpulkan bahwa pendidikan karakter sama dengan pembuatan atau pembentukan jiwa. Ia menggarisbawahi bahwa karakter tidak dapat dianggap langsung sebatas sebuah konsep etis. Karakter juga tidak berhubungan dengan selera makan dan pakaian, tetapi dengan kejujuran, kasih sayang, dan sebagainya. Baginya, karakter adalah pola pikir dan tindakan normal seseorang, terutama dengan menghormati dan memperhatikan komitmen pada hal-hal yang memengaruhi kebahagiaan orang lain, maupun orang iu sendiri, terutama dalam hhal pilihan moral. (Kupperman dalam David carr dan Jan Steutel, 1999, 208).
kadang lahir dari keputusan pribadi dan rasional yang dibuat oleh pribadi bersangkutan.
Dari sejumlah pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa karakter berkaitan dengan suatu pola yang menetap dalam diri seseorang (bukan soal baik buruknya, etis atau tidak etisnya), namun tetap terbuka bagi setiap perubahan, dan menjadi ciri khas pribadinya, serta memengaruhi kebahagiaan dirinya maupun orang lain.
B. PENGERTIAN KARAKTER KEBAJIKAN
Pembicaraan mengenai karakter kebajikan, tidak terlepas dari 3 filsuf mula-mula, Socrates, Plato dan Aristoteles yang menggambarkan mengenai Eudaimonia (kebahagiaan sejati). Karakter yang baik harus dihubungkan dengan usaha untuk sampai pada level kebahagiaan sejati, yang saat itu banyak berhubungan dengan persoalan rasioalisasi dan nalar (Garvey, 2010, 24; Wibowo, 2010 : 90). Kendati demikian, pengembangan karakter kebajikan ini dipandang dalam aras tindakan yang membawa kebahagiaan sejati bagi dirinya dan bagi orang di sekitarnya, baik dalam hal intelektual, maupun tindakan moral.
Michael Novak menyebutkan bahwa karakter yang baik merupakan campuran dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana dan kumpulan orang berakal sehat dalam sejarah (Novak dalam tulisan Lickona, 2013:81). Dalam arti, sangat sulit untuk menemukan karakter kebajikan yang tertanam secara penuh dan sempurna dalam diri seseorang, karena karakter kebajikan merupakan suatu proses yang berusaha dibentuk sepanjang hidup pribadi bersangkutan, bahkan dapat dianggap berbeda sesuai konteks masing-masing (kebajikan di suatu daerah belum tentu kebajikan di daerah lainnya). Dengan demikian, karakter kebajikan dapat dianggap sebagai pola tindakan yang dianggap baik dan memberi manfaat bagi diri pribadi bersangkutan, maupun bagi orang lainnya, sesuai dengan konteks pribadi dan lingkungannya.
mengusung unsur kemanusiaan, termasuk nilai kemanusiaan dari kelompok yang minoritas sekalipun. Kant mengajak orang untuk menempatkan diri pada posisi orang yang dirugikan sebelum mengambil keputusan. Ia sependapat dengan pola pikir alkitabiah, yang juga terdapat dalam pendapat Confusius, yakni apa yang kita ingin orang lain lakukan bagi kita, itulah yang harus kita lakukan bagi orang lain.
Naim (2012 : 123-212) memberi contoh karakter yang perlu dibangun, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, pantang menyerah, peduli lingkungan, peduli sesama, dan sebagainya.
Pada titik ini, karakter kebajikan dapat dikatakan berkaitan dengan pola kepribadian seseorang yang berasal dari pilihan pribadi dan keputusannya, sekaligus membawa dampak tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain.
C. POLA PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT
Seorang penulis Muslim menyatakan bahwa pendidikan memiliki 2 makna. Pertama, pendidikan adalah proses yang terjadi secara tidak sengaja dan alamiah. Kedua, pendidikan adalah proses yang terjadi secara disengaja, direncanakan, didesain dan diorganisasi berdasarkan aturan yang berlaku, terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar masyarakat. (Mu’in, 2011:287-288)
Ada pula yang menyebut pendidikan sebagai life long education (pendidikan seumur hidup). Yeaxlee, A. B (Inggris,1929) secara tersurat menggunakan istilah pendidikan seumur hidup. Konsep ini ditegaskan oleh Bachhelard (Perancis, 1930). Kelompok Muslim biasa menggunakan pernyataan “uthlubullielma minal mahdi ilallahdi” (carilah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat), (Komar, 2006:259).
pendidikan direduksi (dipersempit) derajatnya menjadi sekolah (Mu’in, 2011:288). Di sinilah dapat disimpulkan bahwa pendidikan dapat berlangsung secara alami, namun tak jarang berlangsung dalam lingkup sekolah, yang oleh Plato tentu mengalami reduksi pada berbagai aspek.
D. PERDEBATAN MENGENAI PENDIDIKAN KARAKTER (KEBAJIKAN)
Pertanyaan yang pasti muncul, yakni apakah karakter kebajikan dapat diajarkan. Kupperman menggunakan pikiran Plato untuk menjelaskan hal ini. Jika kebajikan diajarkan, maka bagi Plato, ia akan lebih rendah nilainya dari apa yang sebenarnya karena kebajikan bukanlah matematika atau geografi. Dalam arti, karakter kebajikan tersebut akan mengalami distorsi dalam pemaknaannya.
Kupperman juga mengangkat tulisan Aristoteles yang tidak hanya melihat aspek umum (objektif) saja tetapi juga aspek khusus (subjektifitas pribadi). Menurut Aristoteles, seorang pemberani tidak hanya mengikuti peraturan umum atau mematuhi algoritma (urutan logis pngambilan keputusan), namun harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Aristoteles tidak menekankan keputusan prosedural, tetapi melatih dan mendorong orang untuk menuju pada mode atau keputusan pribadi. Pendapat Aristoteles, nampaknya tidak jauh dari pikiran Kantianisme untuk mengangkat aspek otonom (mandiri dari si pengambil keputusan).
Dengan demikian, tidak dinyatakan bahwa karakter kebajikan tidak bisa diajarkan atau dididik, namun individu dapat diarahkan untuk menemukan dan menumbuhkan karakter kebajikan tersebut.
E. PROSES PENDIDIKKAN KARAKTER KEBAJIKAN
Dua filsuf besar yang juga banyak berbicara tentang ajaran kebajikan adalah Aristoteles dan Confusius. Berikut akan digambarkan proses pendidikan karakter kebajikan menurut Aristoteles dan Confusius.
Aristoteles sependapat dengan Plato bahwa kebajikan sejati (dengan standar tinggi) membutuhkan filsafat dan kebiasaan (filosofi dan tindak pembiasaan). Aristoteles menekankan pada dua hal penting, yaitu adalah kesenangan dan rasa sakit. Bagi Aristoteles, kita harus dibesarkan dengan cara tertentu dari masa muda kita (seperti kata Plato), agar dapat menikmati sebuah kesenangan atau kesedihan untuk hal yang seharusnya. Kegembiraan dan rasa sakit dapat mewakili beberapa derajat respon yang dikondisikan. Pola kesenangan dan rasa sakityang dialami masa kecil, sangat penting dalam pembentukan kebiasaan (Kupperman, 1999, 211).
Pendapat Aristoteles lainnya berkaitan dengan kebajikan karakter (Kupperman, 1999, 211), yaitu:
a. Aturan moral
Aristoteles menegaskan bahwa ‘aturan moral’ tidak cukup untuk menanamkan kebajikan, tetapi hanya mendekati kebutuhan untuk mengkondisikan sesuatu. Keakraban dengan aturan moral memberikan panduan cepat tetapi tidak memberikan ruang bagi keputusan moral. Hal ini bahkan menghambat rasionalisasi terhadap hal tersebut.
b. Pengaruh Orang tua dan masyarakat, termasuk pemimpin
Bagi Aristoteles, pihak-pihak ini menyediakan model kehidupan yang baik dalam proses pembelajaran, namun itu tidak lengkap bila sebatas pendidikan moral awal.
Plato dan Aristoteles melihat bahwa filosofi sangat penting dalam pendidikan moral lanjutan. Plato menegaskan bahwa kesadaran akan nilai yang baik sangat diperlukan. Aristoteles jelas melihat bahwa dalam hal pendidikan lanjutan dibutuhkan pengalaman dan penilaian sadar (pemahaman filosofis). Dalam hal ini, Aristoteles menolak kepatuhan pada standar umum atau ritual semata, tanpa didasari pemahaman mendalam terhadap apa yang dipatuhi. Model ini hanya berlaku pada masa anak-anak, dan harus berubah pada lanjutan pendidikan moral.
2. Kebajikan V ersi Confusius
Berbicara tentang pendidikan lanjutan, maka tokoh yang banyak membicarakan hal ini adalah Confusius. Salah satu murid Confusius yang melanjutkan pikiran-pikirannya adalah Mencius. Beberapa pola pikir Mencius yang didapat dari gurunya Confusius (Kupperman, 1999, 214), yaitu:
a. Kebaikan sejati adalah menyadari kebajikan itu dan berusaha menyalurkannya.
b. Manusia perlu mengembangkan imajinasi moral Confusius beranggapan bahwa kerusakan di dunia ini dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki perasaan. Ia berpendapat bahwa orang harus belajar menempatkan diri dan perasaannya pada diri orang lain atau korban yang berdampak dari keputusannya (rasa simpati-empati dikembangkan). Pada sisi ini pula nilai-nilai kemanusiaan dikembangkan.
Elemen lain yang ada dalam pendidikan lanjutan karakter (Kupperman, 1999, 214), yaitu rasa percaya diri dan pengembangan peran pribadi, karena kadang kondisi hidup tidaklah selalu stabil.
BAB III
HABITUASI MORAL SEJAK KECIL A. HABITUASI MORAL SEJAK KECIL
Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas berkaitan dengan baik-buruknya perbuatan manusia. (Poespoprojo, 1998 : 118). Dalam makna yang demikian, moralitas memiliki dasar pemahaman yang sama dengan kebajikan, sebagaimana yang disebutkan para filsuf mengenai keutamaan (Weij, 1988:39).
Sorbaji (1980) dalam tulisan Ben Spiecker menyatakan, “habituasi menekankan pelibatan penilaian situasi untuk melihat, menentukan dan melakukan apa yang ditentukan atau diputuskan. Hal ini didasarkan pada semacam persepsi intuitif”. Sorbaji bahkan mengatakan bahwa kebiasaan yang didapat pada masa kanak-kanak bukanlah kebajikan yang lengkap, tetapi sebuah kebiasaan. Pada tahap tersebut, kebajikan belum diperkaya dengan kebijaksanaan praktis atau penalaran. Situasi ini dikarenakan kebajikan yang lengkap membutuhkan kebijaksanaan praktis.
B. TAHAP NON MORAL
Para filsuf dan peneliti pengembangan moral, bersepaham bahwa tahun-tahun awal hidup seorang anak belum memungkinkan bagi terjadinya penalaran moral. Masa ini disebut tahap non-moral. Pada tahap ini anak hanya bisa disosialisasikan, diindoktrinasi atau dilatih. Ketika anak sudah mampu memahami alasan moral dan keadilan moral, barulah pendidikan dengan pengetahuan moral rasional dimulai.
a. Single Track – Kebiasaan, menggambarkan suatu pola tindakan yang cenderung diikuti oleh banyak orang, bahkan cenderung seragam.
b. Multi Track – Kecerdasan, menggambarkan pola tindakan yang dapat diambil atas dasar inisiatif pribadi karena pemahaman rasional orang tersebut, dan cenderung beragam, tergantung pada kondisi atau situasi yang dihadapi. Contoh: kebiasaan memperhatikan penderitaan orang lain tidak akan menjadi sebuah kebajikan, tetapi bisa membantu anak-anak untuk tergerak oleh belas kasihan pada kesempatan-kesempatan tertentu.
Kebiasaan moral yang berimplikasi sosial inilah yang harus dihadirkan bagi anak-anak kita. Pembinaan moral dan pengembangan dimulai dari latihan kebiasaan moral, guna menghasilkan pola multi track, inilah tahap pertama yang penting dalam pembangunan moral.
Dengan latihan demikian, kebiasaan multi track anak secara bertahap dibawa menjadi lebih peka, rasional, dengan tingkat intelektual yang semakin tinggi dan pendalaman sisi afektif. Ide Spiecker ini ditentukan oleh proses pemeliharaan pengurus anak tersebut terhadap diri anak. suara yang disampaikannya dapat menyatakan kebutuhan, perasaan, emosi atau kepentingan yang diharapkan. Sejak awal, kapasitas dan kualitas pribadi diproyeksikan pada bayi yang baru lahir (tidak harus menunggu hingga anak dapat melakukan suatu kebiasaan moral tertentu seperti pendapat Aristoteles).
BAB IV
PENDIDIKAN KARAKTER DAN HABITUS MORAL DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN DI INDONESIA
Topik ini menjadi tepat untuk disampaikan kembali dalam konteks Indonesia saat ini. Pembangunan karakter dan pembangunan bangsa menjadi semboyan yang kuat pada zaman kepemimpinan Presiden Soekarno. Beliau sering menyerukan pentingnya pembangunan karakter bangsa yang dapat menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, terutama bebas dari penjajahan, yang kerap membawa perbudakan dan penjajahan (Mu’in, 2011:84). Dalam konteks demikianlah, persoalan bangsa dewasa ini dapat dipandang dari individu di dalamnya, yang sekaligus adalah aktor penggerak sistem dan roda pembangunan.
Pendidikan karakter—kinerja dan moral, memposisikan individu sebagai diri pribadi di satu pihak, dan sebagai komponen yang melekat dalam komunitas di pihak lain. Dalam konteks pendidikan karakter, dibutuhkan rekonsiliasi antara kedua kutub, dengan catatan bahwa menjadi tanggung jawab masyarakat untuk menanamkan nilai kepada segenap warganya.
Kita masih beruntung karena pendidikan keluarga, termasuk institusi agama masih peduli dengan pendidikan karakter dan habitus moral. Pendidikan karakter yang sesungguhnya sudah mulai sejak usia dini melalui pengasuhan. Dalam konteks agama Kristen, kita masih mengandalkan institusi keagamaan untuk memainkan perannya, guna menanamkan nilai guna membentuk karakter kinerja dan karakter moral.
menghargai nilai timbang rasa di sela upaya meraih manfaat sebanyak mungkin.
Dari contoh ini dapat dinyatakan bahwa karakter dapat dipengaruhi oleh situasi di sekeliling kita, tetapi juga dibentuk atas dasar putusan rasional pribadi. Berbagai aspek dapat memengaruhi pendidikan karakter dan habitus moral tersebut. Tentunya, pendidikan karakter kebajikan dan habitus moral yang membawa peningkatan hidup pribadi dan masyarakat Indonesialah yang diharapkan terbentuk dalam diri individu di tengah bangsa ini.
Pada kenyataannya, karakter kebajikan dan habitus moral tidak pernah terbentuk secara instan. Membangun karakter kebajikan dan habitus moral memerlukan waktu dan sikap dasar, yaitu kesediaan untuk belajar dan berubah. Pada dasarnya, karakter yang kokoh dibentuk di atas landasan pengalaman, disiplin diri, dan dedikasi. Karakter adalah sebuah kekuatan yang tidak kelihatan. Karakter yang baik menghasilkan buah-buah yang unggul dan berkualitas. Buah-buah dari karakter antara lain: Integritas menghasilkan kewibawaan, tanggung jawab menghasilkan kedewasaan, kejujuran menghasilkan kepercayaan, ketulusan menghasilkan persahabatan, iman menghasilkan kekuatan, ketekunan menghasilkan pengharapan, dan lain sebagainya. (Yakoep Ezra 2006, 13-14).
BAB V PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K., 1990. Filsafat Barat Abad XX. Jakarta : Gramedia.
Budiningsih, C. Asri., 2004. Pembelajaran moral : Berpijak pada karakter siswa dan Budayanya. Jakarta : Rineka Cipta.
Boa, Kenneth, Sid Buzzell & Bill Perkins, 2013. Handbook To Leadership. Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
Chamblin, J. Knox., 2006. Paul and The Self: Apostolic Teaching For Personal Wholeness. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Conner, Kevin J., 2004. A Practical Guide To Christian Belief. Terjemahan. Malang: Gandum Mas.
Dutt Suresh, 1997. Encyclopedia of Child Psychology and Development. New Delhi : J. L. Kumar fo Anmol Publication.
de Waal, Frans., 2011. Primat dan Filsuf : Menurut Asal Usul Kesadaran Moral, Yogyakarta : Kanisius.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Malang:Literatur SAAT.
Erikson,Erik H., 2010, Childhood and Society edisi ketiga, (1985), terjemahan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ezra, Yakoep., 2006. Succes Througgh Character. Yogyakarta : Andi .
Hadiwijono, Harun, 1980. Seri Sejarah Filsafat Barat I. Yogyakarta : Kanisius.
Hearth, W. Stanley, 1997. Psikologi Yang Sebenarnya. Yogyakarta : ANDI
Garvey, James, 2010. 20 karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta : Kanisius.
Komar, Oong., 2006. Filsafat Pendidikan Non Formal. Bandung : Pustaka Setia.
Lickona, Thomas, 2013. Educating For character : How Our School Can Teach Respect and Responsibility- The Journal of Moral Education, Jakarta : Bumi Aksara.
Mu’in, Fatchul, 2011. Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik dan Praktik, Urgensi Pendidikan Progresif dan Revitalisasi Peran Guru dan Orang Tua. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2011.
Sijabat, B.S., 2008. Membesarkan Anak Dengan Kreatif. Yogyakarta : ANDI
Naim, Ngainus., 2012. Character Building : Optimalisasi Peran Pendidikandalam Pengembangan Ilmu dan Pembentukan Karakter Bangsa, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Magnis Suseno, 2005. Franz, Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta : Kanisius.
Magnis Suseno, Franz., 1988. Kuasa dan Moral : cet kedua, Jakarta : Gramedia.
Poespoprodjo, W., 1998. Filsafat Moral : Kesusilaan Dalam teori dan Praktek. Bandung : Pustaka Grafika.
Santrock, John, 2007. Perkembangan Moral. Bandung : Erlangga.
Setyo Wibowo, 2010. A., Arete : Hidup Sukses Menurut Platon, Yogyakarta : Kanisius.
Tafsir, Ahmad, 2000. Filsafat Umum : Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya.
Tong, Stephen., 2010. Arsitek Jiwa II, Cetakan Ketujuh, Jakarta: Momentum.
Weber, Max, (Penerj : Noorkholish), 2009. Sosiologi – Cet Kedua, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.