• Tidak ada hasil yang ditemukan

Medical Technology and Public Health Journal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Medical Technology and Public Health Journal"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

1 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal)

Medical Technology

and Public Health Journal

KETERKAITAN ANTARA SANITASI PONDOK PESANTREN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT YANG DIALAMI SANTRI DI PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT Agus Aan Adriansyah

ANALISA KESADAHAN TOTAL DAN KADAR KLORIDA AIR DI KECAMATAN TANGGULANGIN SIDOARJO

Devyana Dyah Wulandari

PENGARUH KEBUTUHAN GIZI TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN IBU HAMIL DI DESA PETIS RT 02 RW 02 KECAMATAN DUDUK SAMPEYAN KABUPATEN GRESIK Eppy Setiyowati dan Desi Emilyati

PENGARUH KEMAMPUAN IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN DETEKSI DINI RISIKO PREEKLAMSIA TERHADAP PARITAS, PENGETAHUAN DAN KETERPAPARAN

INFORMASI

Rr. Galuh Ajeng Indu Dewi

PENGARUH UMUR KEHAMILAN USIA REMAJA, PENGETAHUAN IBU TENTANG ANEMIA, DAN STATUS GIZI TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI KECAMATAN SAWAHAN KOTA SURABAYA

Pratiwi Hariyani Putri

PENGARUH NORMAL FLORA Streptococcus sp. KARANG GIGI TERHADAP PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA 2016

Rahayu Anggraini, Umi Hanik, Gilang Nugraha, dan Dwi Lestari Pertiwi

DETEKSI DELESI GEN DAZ (Deleted in AZoospermia) PADA PRIA AZOOSPERMIA DENGAN METODE PCR (Polymerase Chain Reaction)

V.A. Ferandra dan Sukarjati

Email : [email protected] II http://journal.unusa.ac.id

(2)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 2

Daftar Isi

KETERKAITAN ANTARA SANITASI PONDOK PESANTREN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT YANG DIALAMI SANTRI DI PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT

Agus Aan Adriansyah ... (04)

ANALISA KESADAHAN TOTAL DAN KADAR KLORIDA AIR DI KECAMATAN TANGGULANGIN SIDOARJO

Devyana Dyah Wulandari ... (14)

PENGARUH KEBUTUHAN GIZI TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN IBU HAMIL DI DESA PETIS RT 02 RW 02 KECAMATAN DUDUK SAMPEYAN KABUPATEN GRESIK

Eppy Setiyowati dan Desi Emilyati ... (20)

PENGARUH KEMAMPUAN IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN DETEKSI DINI RISIKO PREEKLAMSIA TERHADAP PARITAS, PENGETAHUAN DAN

KETERPAPARAN INFORMASI

Rr. Galuh Ajeng Indu Dewi ... (27)

PENGARUH UMUR KEHAMILAN USIA REMAJA, PENGETAHUAN IBU TENTANG ANEMIA, DAN STATUS GIZI TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI KECAMATAN SAWAHAN KOTA SURABAYA

Pratiwi Hariyani Putri ... (35)

PENGARUH NORMAL FLORA Streptococcus sp. KARANG GIGI TERHADAP

PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA 2016

Rahayu Anggraini, Umi Hanik, Gilang Nugraha, dan Dwi Lestari Pertiwi ... (42)

DETEKSI DELESI GEN DAZ (Deleted in AZoospermia) PADA PRIA AZOOSPERMIA

DENGAN METODE PCR (Polymerase Chain Reaction)

V.A. Ferandra dan Sukarjati ... (52)

--- PEDOMAN PENULISAN JURNAL

ALUR PENERBITAN NASKAH

(3)

3 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal)

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia serta atas kehendak-Nya jurnal Fakultas

Kesehatan

“Medical Technology and Public Health Journal” telah

diselesaikan. Tidak lupa shalawat serta salam kita limpahkan kepada Nabi

Muhammad SAW.

Jurnal ini insya Allah diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun, semoga diberi

kelancaran dan sukses selalu untuk menuju jurnal yang Terakreditasi.

Aamiin.

Ttd

Dewan Redaksi

(4)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 4 KETERKAITAN ANTARA SANITASI PONDOK PESANTREN

DENGAN KEJADIAN PENYAKIT YANG DIALAMI SANTRI DI PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT

Agus Aan Adriansyah

Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Email: [email protected] or [email protected]

Abstract

Health requirements boarding school environment basically consists of a few things such as construction and general sanitary conditions, basic sanitation facilities, food management, and so on. With good environmental health, health risks and other risks will be avoided. Almost 80% of disease in the boarding school due to the health condition of the environment. Good conditions will also improve the aesthetics of the boarding school. This research was analitic study that held observationally with cross sectional design and used quantitative approach. Sample in this research was male religious pupil of Sunan Drajat Islamic Boarding School with MTS level of education. Sample numbers were 97 religious pupil that was collected from population with proportional random sampling. Variable test held using correlation analysis method. Correlation test results or the r value indicates the value of 0.792. Thus it can be interpreted that there is a strong relationship between sanitation and disease incidence in Pondok Pesantren Sunan Drajat. Therefore, it is necessary to increase the quality and quantity of islamic boarding school sanitation to increase the health of religious pupil. The method that can be done is by providing the islamic boarding school facilities or religious pupil room that appropriate with standard and the improvement of basic sanitation facilities of islamic boarding school such as the providing of bathroom/toilet.

Keywords: Sanitation of Islamic Boarding School, Environment, Disaster

Abstrak

(5)

5 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal)

meningkatkan derajat kesehatan santri. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan penyediaan sarana asrama atau kamar santri yang sesuai standar dan perbaikan sarana sanitasi dasar pondok pesantren seperti penyediaan kamar mandi/WC.

Kata Kunci: Sanitasi Pondok Pesantren, Lingkungan, Penyakit

PENDAHULUAN

Sanitasi lingkungan adalah status

kesehatan suatu lingkungan yang mencakup

perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air

bersih dan sebagainya1. Sedangkan jika

diterapkan dalam lingkup pondok pesantren,

maka sanitasi pondok pesantren adalah suatu

upaya pengendalian atau pengawasan terhadap

faktor-faktor yang dapat mengganggu

perkembangan fisik, kesehatan dan

kelangsungan hidup manusia yang ditimbulkan

oleh pondok pesantren sebagai tempat menimbah

ilmu agama bagi para santri.

Menurut teori H.L Blum2 derajat kesehatan

seseorang dipengaruhi oleh empat faktor yaitu

lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan

genetika. Faktor lingkungan mempunyai

pengaruh besar terhadap status kesehatan, baik

lingkungan fisik, biologis maupun sosial. Salah

satu faktor lingkungan fisik yang berpengaruh

terhadap status kesehatan seseorang adalah

perumahan.

Perumahan merupakan kelompok rumah

yang berfungsi sebagai lingkungan tempat

tinggal atau lingkungan hunian dan sarana

pembinaan keluarga yang dilengkapi sarana dan

prasarana lingkungan. Perumahan harus

menjamin kesehatan penghuninya dalam arti

luas. Oleh sebab itu, diperlukan syarat

perumahan yang sehat yaitu memenuhi

kebutuhan fisiologis, kebutuhan psikologis,

adanya perlindungan terhadap penularan

penyakit dan perlindungan atau pencegahan

terhadap bahaya kecelakaan dalam rumah3.

Persyaratan kesehatan lingkungan pondok

pesantren pada dasarnya terdapat 10 item yang

ideal. Dengan kondisi kesehatan lingkungan

yang baik, risiko kesehatan dan risiko lainnya

akan bisa dihindari. Hampir 80% penyakit yang

ada di pondok pesantren diakibatkan oleh kondisi

kesehatan lingkungan yang tidak baik. Kondisi

yang baik juga akan meningkatkan estetika

pondok pesantren tersebut4. Untuk memenuhi

persyaratan tersebut bagi pondok pesantren

memang tidaklah mudah. Bahkan pada item-item

tertentu sangat berat untuk mencapainya karena

terdapat banyak faktor yang mempengaruhi. Item

persyaratan kesehatan lingkungan pondok

pesantren tersebut meliputi konstruksi dan

kondisi sanitasi umum, fasilitas sanitasi dasar,

tempat pengelolaan makanan, tempat wudhu,

asrama/ruang tidur, ruang kelas, ruang

perpustakaan, ruang laboratorium, masjid dan

hygiene perorangan.

Aspek kesehatan pada pondok pesantren

meliputi terpenuhinya kebutuhan fisiologis dan

psikologis, mencegah penularan penyakit serta

(6)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 6 memperoleh keadaan pondok pesantren yang

sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi

perumahan seperti ventilasi, penerangan alami,

sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan

limbah atau kotoran manusia dan air bersih.

Permasalahan yang sering terjadi di

pondok pesantren adalah penyediaan air bersih,

pembuangan kotoran, pembuangan air limbah,

sampah dan kepadatan penghuni5. Lingkungan

merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya

terhadap derajat kesehatan masyarakat

khususnya di lingkungan pondok pesantren,

sehingga hal ini merupakan prioritas yang perlu

diperhatikan dan dibenahi. Beberapa penyakit

yang erat hubungannya dengan keadaan

lingkungan pondok pesantren antara lain:

penyakit kulit, diare, tifus, demam berdarah,

malaria, batuk pilek (ISPA), tuberculosa (TBC),

leptospirosis dan hepatitis4. Penyakit lain yang

sering terjadi di pondok pesantren adalah

gangguan penginderaan seperti keluhan pada

mata. Permasalahan ini jika tidak ditangani serius

dapat menurunkan derajat kesehatan.

Oleh karena itu, perlu diadakan penilaian

untuk menggambarkan sanitasi pondok

pesantren di Pondok Pesantren Sunan Drajat,

Banjaranyar, Paciran, Lamongan. Hal ini

dilakukan untuk mengetahui hubungan kondisi

sanitasi pondok pesantren terhadap timbulnya

berbagai penyakit pada santri. Diharapkan

nantinya dapat digunakan acuan dalam

memperbaiki dan menciptakan kondisi

lingkungan di pondok pesantren yang bersih dan

sehat sehingga tidak mempermudah timbulnya

penyakit.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian ini termasuk

observasional analitik dengan menggunakan

pendekatan cross sectional. Desain penelitian ini

mencoba menggali bagaimana dan mengapa

masalah itu terjadi dan kemudian melakukan

analisis antara fenomena6.

Populasi pada penelitian ini adalah santri

putra yang bermukim di asrama pondok

pesantren dan sedang menempuh pendidikan

tingkat MTs setara dengan SMP di Pondok

Pesantren Sunan Drajat, Banjaranyar, Paciran,

Lamongan, dengan jumlah santri sebanyak 247

orang santri. Besar sampel pada penelitian ini

adalah sebesar 97 orang santri. Cara pengambilan

sampel santri MTs pada penelitian ini adalah

dengan cara proportional random sampling yaitu

suatu teknik pengambilan sampel proporsi atau

sampel imbangan yang dilakukan untuk

memperoleh sampel yang representatif dari

setiap wilayah/unit/kelas7.

Pengumpulan data terbagi atas data primer

dan data skunder. Data primer diperoleh dengan

mendapatkan data/informasi langsung dari

responden yang menjadi sasaran penelitian

melalui wawancara kuesioner dan observasi

pengukuran. Data sekunder diperoleh melalui

telaah kepustakaan dan data yang diperoleh dari

pondok pesantren atau instansi lainnya sebagai

(7)

7 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) dikumpulkan selama penelitian dianalisis secara

statistik dengan uji korelasi dengan bantuan

program SPSS.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sanitasi Lingkungan Pondok Pesantren Hasil penilaian sanitasi lingkungan pondok

pesantren didasarkan atas beberapa indikator

seperti yang digambarkan berikut ini.

1. Kondisi Bangunan Asrama

Tabel 1. Kondisi Bangunan Asrama

No. Kondisi Jumlah Persentase

bahwa terdapat 2 asrama yang memiliki tingkat

kondsi bangunan asrama yang baik dan 4 asrama

memiliki kondisi bangunan asrama cukup baik.

Hasil penelitian ini sudah cukup sesuai

dengan arahan dari instansi terkait terkait dampat

dari kondisi bangunan yang tidak baik dapat

berdampak pada kesehatan. Hal ini disebabkan

karena hampir 80% penyakit yang ada di pondok

pesantren diakibatkan oleh kondisi kesehatan

lingkungan yang tidak baik. Kondisi yang baik

juga akan meningkatkan estetika pondok

pesantren tersebut4.

2. Penyediaan Air Bersih

Tabel 2. Tingkat Penyediaan Air Bersih

No. Penyediaan Air Bersih Asrama

penyediaan air bersih yang baik. Hal ini sejalan

dengan teori yang menyebutkan bahwa Kualitas

fisik air bersih yang dimanfaatkan oleh santri

harus memenuhi syarat fisik air yaitu jernih,

tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau8.

3. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Tabel 3. Kondisi SPAL

Berdasarkan Tabel 3. dapat dilihat bahwa

semua asrama memiliki tingkat kondisi saluran

pembuangan air limbah yang kurang baik.

Kondisi ini menandakan bahwa penerapan

anjuran bahwa sarana pengelolaan limbah

haruslah terdiri dari saluran-saluran air limbah

yang tertutup dan mengalir dengan lancar. Ada

peresapan yang tertutup atau disalurkan ke

saluran umum. Hasil buangan tidak mencemari

lingkungan sekitar belumlah terlaksana dengan

(8)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 8 4. Kondisi Kamar Mandi dan WC

Tabel 4. Kondisi Kamar Mandi dan WC

No. Kondisi Jumlah Persentase

asrama yang memiliki tingkat kondisi kamar

mandi dan WC yang kurang baik. Hasil

penelitian ini menandakan bahwa persyaratan

kesehatan lingkungan di pondok pesantren belum

dilaksanakan secara menyeluruh. Salah satu

persyaratan kesehatan lingkungan pondok

pesantren yang ideal adalah tersedianya fasilitas

sanitasi dasar yang baik. Diantaranya adalah

sarana pembuangan kotoran manusia

(WC/Jamban) dan kamar mandi4.

5. Pengelolaan Sampah

Tabel 5. Kondisi Pengelolaan Sampah

No. Pengelolaan

Berdasarkan Tabel 5. dapat dilihat bahwa

kondisi pengelolaan sampah dari semua asrama

masih kurang baik. Hasil penelitian ini

menandakan bahwa persyaratan kesehatan

lingkungan di pondok pesantren belum

dilaksanakan secara menyeluruh.

Tempat sampah harus kuat, tahan karat,

kedap air, mudah dibersihkan dan ada penutup.

Tempat sampah segera diokosongkan 1 x 24 jam

atau sudah terisi sekitar 2/3 bagian4.

6. Kamar Santri

Tabel 6. Kondisi Kamar Santri

No. Kondisi Kamar

bahwa mayoritas kondisi kamar santri dari semua

asrama termasuk dalam kategori cukup baik.

Hasil penelitian ini menandakan bahwa

persyaratan kesehatan lingkungan di pondok

pesantren terkait ruang/kamar santri telah

dilaksanakan meskipun belum secara

menyeluruh.

Salah satu persyaratan kesehatan

lingkungan pondok pesantren yang ideal adalah

tersedianya fasilitas sanitasi yang baik.

Diantaranya adalah sarana asrama atau kamar

tidur santri. Syarat-syarat yang harus dipenuhi

adalah lantai harus bersih, kedap air dan mudah

dibersihkan. Dinding berwarna terang, bersih,

tidak lembab dan mudah dibersihkan. Ruang

penerangan cukup, terdapat ventilasi, sirkulasi

udara lancar. Terdapat rak atau almari untuk

menyimpan buku, pakaian dan barang lain.

Peralatan tidur (bantal, sprei, tikar) tertata rapi

dan bersih. Penghuni kamar tidak padat ± 4 m2

(9)

9 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) 7. Kondisi Tempat Belajar

Tabel 7. Kondisi Tempat Belajar

No. Kondisi Tempat Belajar

bahwa sebagian besar kondisi ruangan tempat

belajar di tiap asrama termasuk dalam kategori

cukup baik. Hasil penelitian ini menandakan

bahwa persyaratan kesehatan lingkungan di

pondok pesantren terkait tempat belajar santri

telah dilaksanakan meskipun belum secara

menyeluruh.

Salah satu persyaratan kesehatan

lingkungan pondok pesantren yang ideal adalah

juga tersedianya fasilitas tempat belajar yang

baik dalam rangka mendukung peningkatan

prestasi belajar santri. Syarat-syarat yang harus

dipenuhi adalah ruang belajar yang cukup terang

dan nyaman, dapat untuk membaca buku pada

siang hari tanpa bantuan cahaya buatan (lampu)

dan pada malam hari pencahayaan dari lampu

cukup untuk menerangi ruangan belajar. Ruang

belajar juga harus bersih, ada ventilasi dan

sirkulasi udara lancar serta luasan ventilasi 20%

dari luasan lantai. Kemudian dinding dan lantai

bersih, tidak ada coretan4.

Secara keseluruhan penilaian dari item

sanitasi lingkungan di pondok pesantren dapat

disimpulkan bahwa sanitasi lingkungan Pondok

Pesantren Sunan Drajat, Banjaranyar, Paciran,

Lamongan termasuk dalam kategori cukup baik.

hal ini cukup sesuai dengan beberapa teori yang

menyatakan bahwa persyaratan umum dari

lingkungan pondok pesantren ada tiga hal pokok

yang perlu diperhatikan9, yaitu lingkungan dan

bangunan pondok pesantren selalu dalam

keadaan bersih dan tersedia sarana sanitasi yang

memadai. Lingkungan dan bangunan pondok

pesantren tidak memungkinkan sebagai tempat

bersarang dan berkembangbiaknya serangga,

tikus, kecoa dan lainnya. Bangunan pondok

pesantren harus kuat, terpelihara, mudah

dibersihkan dan dapat mencegah penularan

penyakit dan kecelakaan.

Kejadian Penyakit

Jenis penyakit yang sering dialami oleh

para santri di lingkungan Pondok Pesantren

Sunan Drajat dapat tergambarkan pada tabel

berikut ini.

Tabel 8. Jenis Penyakit yang Sering Dialami

(10)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 10 Berdasarkan Tabel 8. dapat dilihat bahwa

terdapat 94 kejadian penyakit yang terdata di

klinik Pondok Pesantren selama 3 bulan terakhir.

Dari data tersebut diketahui bahwa terdapat 14

jenis penyakit yang sering diderita. Penyakit

scabies memiliki frekuensi kejadian yang paling

tinggi yaitu 24 kali (25,5%). Semua jenis

penyakit yang sering timbul di pondok pesantren

tersebut rata-rata dikarenakan kondisi kebersihan

diri para santri yang kurang baik dan sanitsi

lingkungan yang kurang baik. Para santri kurang

begitu memperhatikan kesehatan dirinya,

sehingga perilaku mereka cenderung jauh dari

konsep PHBS.

Keadaan sakit membuat aktivitas yang

dilakukan menjadi lebih berat dan lelah. Asupan

makanan dan gizi tentunya harus terus diberikan

secara cukup. Dibutuhkan upaya pengobatan

agar keadaan yang tidak mengenakkan ini segera

berlalu. Oleh karena itu, upaya penanggulangan

harus dilakukan. Terkait upaya penanggulangan

yang dilakukan santri saat sakit adalah sebagian

besar santri melakukan pengobatan sebagai

upaya penanggulangan sakit. Sedangkan sisanya

kadang-kadang melakukan pengobatan.

Kemudian tempat dalam mendapatan obat

yang sering diakses santri adalah mayoritas

berkunjung ke klinik pondok pesantren, dan

sisanya beli di apotek atau di warung.

Istirahat yang cukup sangat perlu untuk

dilakukan,. Karena pada dasarnya, dalam

keadaan sakit tubuh dan badan kita otomatis

memerlukan istirahat setelah beraktivitas secara

terus menerus, serta tidak menjaga pola makan

yang sehat. Dianjurkan sedikit beraktivitas

selama sakit untuk membiasakan diri. Aktivitas

santri saat sakit pun bervariasi, tidak dapat

dipungkiri pula bahwa saat sakit masih ada santri

yang memaksakan diri untuk beraktivitas. Dari

hasil penelitian didapatkan informasi bahwa

banyak santri yang memilih untuk

tidur/beristirahat pada waktu sedang sakit.

Hampir sebagian besar santri sedikit beraktivitas

pada saat sedang sakit dan sisanya tetap

beraktivitas seperti biasa walaupun sedang sakit.

Secara keseluruhan, penilaian kejadian

penyakit beserta interaksinya kepada para santri

dapat disimpulkan termasuk dalam kategori

cukup baik. Hal ini dijelaskan dengan daya

respon maupun daya tanggap santri serta

aktivitas santri saat sedang mengalami sakit.

Pada umumnya para santri masih tetap

melakukan aktivitas seperti biasa walaupun

terkadang intensitasnya sedikit berkurang. Sama

halnya dengan kegiatan belajar, meskipun ada

yang merasa tidak terganggu, tidak sedikit para

santri yang merasa terganggu dengan sakit yang

diderita.

Keterkaitan Sanitasi Lingkungan Ponpes dengan Kejadian Penyakit

Berdasarkan hasil pengujian analisis antara

variabel sanitasi lingkungan dan kejadian

penyakit dengan menggunakan program SPSS,

didapat output correlations pada hasil uji

(11)

11 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) atau nilai r menunjukkan nilai 0,792. Angka

tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang

kuat karena terletak antara 0,750 – 0,999.

Dengan demikian dapat di interpretasikan bahwa

terdapat hubungan yang kuat antara sanitasi

lingkungan dan kejadian penyakit di Pondok

Pesantren Sunan Drajat.

Penyebab dan proses terjadinya suatu

penyakit berkembang dari rantai sebab akibat ke

suatu proses kejadian penyakit, yakni proses

interaksi antara manusia (pejamu) dengan

berbagai sifatnya (biologis, fisiologis,

psikologis, sosiologis dan antropologis) dengan

penyebab (agent) serta dengan lingkungan

(environment).

Gambar 1. Interaksi Host, Agent dan

Environment10

Dalam teori keseimbangan, interaksi antara

ketiga unsur tersebut harus dipertahankan

keseimbangannya. Apabila terjadi gangguan

keseimbangan antara ketiganya, akan

menyebabkan timbulnya penyakit tertentu10.

a. Unsur penyebab (Agent)

Pada umumnya, kejadian setiap penyakit

sangat dipengaruhi oleh berbagai unsur

yang berinteraksi dengan unsur penyebab

dan ikut dalam proses sebab akibat.

Terjadinya suatu penyakit dapat

disebabkan karena bakteri maupun virus

yang menyerang.

b. Unsur pejamu (Host)

Manusia sebagai makhluk biologis

memiliki sifat biologis, seperti: umur, jenis

kelamin, imunitas dan reaksi tubuh

terhadap berbagai unsur dari luar maupun

dari dalam tubuh sendiri. Semakin jelek

daya tahan tubuhnya, maka semakin

mudah untuk terserang penyakit.

Sedangkan manusia sebagai makhluk

sosial mempunyai berbagai sifat khusus

seperti: kelompok etnik termasuk adat,

kebiasaan, agama, kebiasaan hidup dan

kehidupan sehari-hari termasuk kebiasaan

hidup sehat. Kebiasaan yang buruk dan

tidak sehat dapat makin memudahkan

seseorang terserang suatu penyakit.

c. Unsur lingkungan (Environment)

Lingkungan memegang peranan yang

cukup penting dalam menentukan

terjadinya proses penyakit. Secara garis

besarnya, maka unsur lingkungan dapat di

bagi dalam tiga bagian utama, yakni:

lingkungan fisik, lingkungan biologis dan

lingkungan sosial. Semakin jelek dan tidak

sehat kondisi lingkungan, maka semakin

mudah timbulnya berbagai penyakit yang

(12)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 12 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan

dapat disimpulkan bahwa:

1. Penilaian sanitasi pondok pesantren yang

meliputi 6 asrama secara umum termasuk

dalam kategori cukup baik.

2. Terdapat 14 jenis penyakit yang sering

diderita santri. Diantaranya adalah tertinggi

penyakit scabies, penyakit ISPA dan

penyakit gastritis. Semua jenis penyakit

yang terjadi rata-rata karena kondisi

kebersihan diri santri dan sanitsi

lingkungan yang kurang baik. Kemudian

kejadian penyakit beserta interaksinya

termasuk dalam kategori cukup baik.

Saran

Dalam sanitasi pondok pesantren,

sebaiknya dilakukan renovasi atau perbaikan

terhadap beberapa asrama yang kurang

memenuhi persyaratan kesehatan agar tidak

dijadikan sebagai sarang penyakit, diantaranya:

a. Pengecatan dinding kamar santri yang

masih bewarna gelap menjadi terang

dengan memakai jenis warna cat yang

terang seperti warna putih.

b. Pembenahan dan perawatan kondisi kamar

mandi/WC yang kurang baik pada

beberapa asrama, termasuk dinding, lantai,

atap dan bak mandi.

c. Rekonstruksi bangunan SPAL yang lebih

baik. Pemberian saringan di saluran

pembuangan awal untuk menyaring

sampah. Memberikan penutup diatas

saluran limbah, dan selalu dibersihkan.

d. Mengembalikan fungsi sanitasi kamar

sebagai sarana penetralan kondisi kamar,

memberi cahaya matahari masuk dengan

leluasa tanpa ada pengahalang, diantaranya

mengusahakan agar tidak mengantungkan

pakaian didekat cendela. Tidak meletakkan

barang-barang maupun almari didekat

almari hingga menutupi sebagian jendela.

REFERENSI

1. Notoatmodjo, S. Kesehatan Masyarakat :

Ilmu dan Seni. Jakarta. Rineka Cipta. 2007.

2. Azwar, A.. Pengantar Ilmu Kesehatan

Lingkungan. Jakarta. PT. Mutiara Sumber

Widya. 1995.

3. Mukono, H.J.. Prinsip Dasar Kesehatan

Lingkungan. Surabaya. Airlangga

University Press. 2006.

4. Dinkes. Jatim. Materi Pelatihan Pos

Kesehatan Pesantren (POSKESTREN).

Surabaya. Dinas Kesehatan Jawa Timur.

2008.

5. Dinkes. Jatim.. Sanitasi Pondok Pesantren

di Jawa Timur. Surabaya. Dinas Kesehatan

Jawa Timur. 1997.

6. Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta. 2005.

7. Arikunto, S. Prosedur Penelitian : Suatu

Pendekatan Praktik. Jakarta. PT Rineka

(13)

13 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) 8. Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan

Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar.

Jakarta. Rineka Cipta. 1997.

9. Rahman, A. Sanitasi Pondok Pesantren.

Surabaya. FKM Unair. 2003.

10.Noor, N.N.. Epidemiologi. Jakarta: Rineka

(14)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 14 ANALISA KESADAHAN TOTAL DAN KADAR KLORIDA AIR

DI KECAMATAN TANGGULANGIN SIDOARJO

Devyana Dyah Wulandari

Staf Pengajar Program Studi D-IV Analis Kesehatan Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Surabaya, Indonesia

Abstract

Subdistrict Tanggulangin was relatively close to the source of the Lapindo mud flow, the release of mud content into the water will cause the death of aquatic organisms and lead to serious consequences for humans who depend their life on these waters. Therefore, researchers seek to determine the total water hardness and chloride content in Tanggulangin district. Water make up the population and sample, taken from 15 points in Tanggulangin, Sidoarjo. Total hardness determination was conducted using complexometric titration method, whereas chloride content was performed using argentometry Mohr titration method. Water sample from 3 of 10 regions in Tanggulangin is drinkable, namely the sample A (320 mg / L), sample C (170 mg / L), sample E (304 mg / L), sample F (298 mg / L), sample I (372 mg / L), samples J (340 mg / L). While the in the other samples, the content of total hardness exceeds the maximum threshold (> 500 mg / L) which means unfit for consumption, and 5 of the 10 areas in the district is drinkable, namely the sample A (123.2 mg / L), sample C (49.7 mg / L), sample E (245.7 mg / L), sample I (182.4 mg / L), and samples J (64 mg / L).

Keywords:Total Hardness, Chloride Levels, Water

Abstrak

Kecamatan Tanggulangin merupakan daerah yang cukup dekat dengan sumber lumpur Lapindo. Kandungan pelepasan lumpur ke perairan akan menyebabkan kematian hewan air dan menyebabkan akibat serius bagi manusia yang tergantung pada perairan tersebut. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui kandungan kesadahan total dan kadar klorida air di kecamatan Tanggulangin Sidoarjo. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah air yang diambil dari 15 titik di wilayah Tanggulangin, Sidoarjo. Kesadahan total dilakukan menggunakan metode titrasi kompleksometri, sedangkan kadar klorida air dilakukan menggunakan metode titrasi argentometri metode Mohr. Diperoleh hasil 3 dari 10 daerah di kecamatan Tanggulangin Sidoarjo yang layak dikonsumsi, yaitu pada kode sampel A (320 mg/L), C (170 mg/L), E (304 mg/L), F (298 mg/L), I (372 mg/L), dan J (340 mg/L). Sedangkan pada kode sampel lainnya, kandungan kesadahan total melebihi ambang batas maksimal (> 500 mg/L) yang berarti tidak layak untuk dikonsumsi, dan 5 dari 10 daerah di kecamatan Tanggulangin Sidoarjo yang layak dikonsumsi, yaitu pada kode sampel A (123.2 mg/L), C (49.7 mg/L), E (245.7 mg/L), I (182.4 mg/L), dan J (64 mg/L). Sedangkan pada kode sampel lainnya, kandungan kadar klorida melebihi ambang batas maksimal yang berarti tidak layak untuk dikonsumsi.

(15)

15 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) PENDAHULUAN

Air merupakan kebutuhan pokok bagi

manusia, hampir 2/3 bagian massa tubuh

manusia berisi cairan, oleh karena itu setiap hari

dianjurkan untuk minum air sebanyak delapan

gelas atau sekurang-kurangnya dua setengah

liter, dan sebaiknya mengkonsumsi air putih,

karena air putih memiliki daya larut yang tinggi,

sehingga metabolisme tubuh berjalan dengan

baik. Hal ini sangat penting apalagi hidup di

iklim tropis dimana akan lebih banyak cairan

tubuh yang keluar sehingga akibatnya jika tubuh

kurang minum maka terjadi dehidrasi dan dapat

merusak sel saraf tubuh; Air juga membantu

oksigen bersirkulasi keseluruh sel tubuh.

Meskipun air begitu vital, masyarakat jarang

sekali mengawasi mutu air yang dikonsumsi dan

sering kali menganggap ringan tentang hal ini.

Air minum yang sehat harus memenuhi

persyaratan fisik, kimia, maupun bakteriologis.

Untuk mendapatkan kualitas air yang baik maka

air perlu diproses terlebih dahulu sebelum

dikonsumsi.

Air minum tidak boleh mengandung racun,

zat-zat mineral atau zat-zat kimia tertentu dalam

jumlah melampaui batas yang telah ditentukan

(Sutrisno et al, 2004). Zat ataupun bahan kimia

yang terdapat di dalam air minum tidak boleh

sampai menimbulkan kerusakan pada tempat

penyimpanan air, sebaliknya zat ataupun bahan

kimia dan atau mineral yang dibutuhkan oleh

tubuh, hedaknya harus terdapat dalam kadar yang

sewajarnya dalam sumber air minum tersebut

(Azwar, 1995).

Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor

492/Menkes/IV/2010 menyatakan bahwa air

minum yang sehat harus memenuhi persyaratan

fisik, kimia, dan mikrobiologi. Beberapa

persyaratan tersebut antara lain air harus jernih

atau tidak keruh, tidak berwarna, rasanya tawar,

pH netral, tidak mengandung zat kimia beracun,

kesadahannya rendah, dan tidak boleh

mengandung bakteri patogen seperti Escherichia

coli. Berdasarkan peraturan tersebut jelas

disebutkan bahwa salah satu syarat yang harus

dipenuhi dalam kualitas air minum dengan

parameter kimia adalah kesadahan. Kadar

kesadahan maksimum yang diperbolehkan dalam

air minum adalah 500 mg/L (Permenkes, 2010).

Kecamatan Tanggulangin merupakan

daerah yang cukup dekat dengan sumber lumpur

Lapindo. Berdasarkan Laporan “Environmental

assasment” oleh UNDAC Tahun 2006 di daerah

sekitar luapan lumpur Sidoarjo, disebutkan

bahwa kandungan pelepasan lumpur ke perairan

akan menyebabkan kematian hewan air dan

menyebabkan akibat serius bagi manusia yang

tergantung pada perairan tersebut. Kandungan

logam berat yang bersifat toksik dan ditemukan

pada konsentrasi yang tinggi adalah merkuri

(Hg) yang berpotensi terakumulasi dalam tubuh

manusia melalui kegiatan mengkonsumsi ikan.

Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui

(16)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 16 pada air kran di beberapa daerah di kecamatan

Tanggulangin Sidoarjo.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian jenis

eksperimental karena data diambil melalui uji

laboratorium. Populasi dan sampel pada

penelitian ini adalah air yang diambil dari 15 titik

di wilayah Tanggulangin, Sidoarjo. Kesadahan

total dilakukan menggunakan metode titrasi

kompleksometri, sedangkan kadar klorida air

dilakukan menggunakan metode titrasi

argentometri metode Mohr.

larutan penyangga pH 10 + 0,1.

c. Tambahkan seujung spatula 30 mg sampai

dengan 50 mg indikator EBT.

d. Lakukan titrasi dengan larutan baku

Na2EDTA 0,01 M secara perlahan sampai

terjadi perubahan warna merah keunguan

menjadi biru.

e. Catat volume larutan baku Na2EDTA yang

digunakan.

f. Ulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian

rata-ratakan volume Na2EDTA yang digunakan.

Kesadahan Total (mg CaCO3/L) =

1000 x VEDTA X MEDTA X 100

b. Tambahkan 1 ml indikator K2CrO4 ;

c. Titrasi dengan larutan standar perak nitrat

(AgNO3) sampai timbul warna kuning

kemerah-merahan;

d. Lakukan titrasi blanko dengan mengukur

dengan teliti 100 ml air suling dan

selanjutnya kerjakan sama dengan perlakuan

contoh;

e. Lakukan pengerjaan duplo;

f. Hitung kadar klorida (Cl-) dalam contoh.

Perhitungan

mg Cl/l = (A - B) x N × 35450

V

dengan:

A adalah volume AgNO3 yang dipakai penitaran

contoh (ml);

B adalah volume AgNO3 yang dipakai penitaran

blanko (ml);

N adalah normalitas AgNO3;

V adalah volume contoh (m.l)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kesadahan Total

Telah dilakukan penelitian analisis

kesadahan total (CaCO3) air di Kecamatan

Tanggulangin Sidoarjo dengan jumlah sampel

(17)

17 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) air kran diambil secara acak dan pada

pengambilan sampel dilakukan dalam satu hari.

Dari jumlah 15 sampel tersebut dilakukan

pemeriksaan secara duplo (dua kali). Penetapan

kesadahan total ini menggunakan metode

kompleksometri, yaitu pembentukan kompleks

berwarna oleh logam. Dengan menggunakan

larutan standar Na2EDTA dan indikator EBT.

Bila penambahan indikator EBT pada larutan

yang mengandung ion Ca dan Mg pada pH 10 ±

0,1 larutan akan menjadi merah anggur. Bila

kemudian dititrasi dengan Na2EDTA, ion Ca dan

Mg sudah terikat, larutan yang berwarna merah

anggur berubah menjadi biru sebagai titik akhir

titrasi. Hasil titrasi Na2EDTA pada pemeriksaan

kesadahan total (CaCO3) disajikan dalam Tabel

5.1 berikut.

Tabel 1 Hasil analisa kesadahan total air

Kode

Kesadahan total dihitung menggunakan

rumus (SNI 01- 3554-2006):

Kesadahan Total (mg CaCO3/L) =

1000 x VEDTA X MEDTA X 100

Vsampel

Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai

berikut:

Saat sebelum titik ekuivalen:

Ca2+ + HIn2-(biru) CaIn- + H+

Merah

Saat setelah titik ekuivalen:

CaIn- + H2Y2- CaY2- + HIn2- + H+

Biru

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI

Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010, batas

maksimal kesadahan total dalam air minum

adalah 500 mg/L. Berdasarkan data diatas, dapat

diketahui bahwa 3 dari 10 daerah di kecamatan

Tanggulangin Sidoarjo yang layak dikonsumsi,

yaitu pada kode sampel A (320 mg/L), kode

sampel C (170 mg/L), kode sampel E (304

mg/L), kode sampel F (298 mg/L), kode sampel

I (372 mg/L), dan kode sampel J (340 mg/L).

Sedangkan pada kode sampel lainnya,

kandungan kesadahan total melebihi ambang

batas maksimal (> 500 mg/L) yang berarti tidak

layak untuk dikonsumsi.

Menurut WHO air yang bersifat sadah akan

menimbulkan dampak, terhadap kesehatan dapat

menyebabkan cardiovascular (penyumbatan

darah jantung) dan urolithiasis (batu ginjal),

menyebabkan pengerakan pada peralatan logam

untuk memasak sehingga penggunaan energi

(18)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 18 karena endapan CaCO3, dan pemakaian sabun

menjadi lebih boros karena buih yang dihasilkan

sedikit.

Kadar Klorida

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan

di laboratorium biokimia Universitas Nahdlatul

Ulama Surabaya menggunakan metode titrasi

argentometri berdasarkan SNI 01- 3554-2006

diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 2 Hasil analisa kadar klorida air

Kode

Kadar klorida dihitung menggunakan rumus

(SNI 01- 3554-2006):

mg Cl/l = (A - B) x N × 35450

V

Analisa kadar klorida air dilakukan

menggunakan titrasi argentometri metode Mohr.

Metode Mohr dapat digunakan untuk

menetapkan kadar klorida dalam suasana netral

dengan larutan standar AgNO3 dan penambahan

K2CrO4 sebagai indikator. Titrasi ini dilakukan

dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis,

pH 6,5 – 9,0. Apabila ion klorida telah habis

diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat

akan bereaksi membentuk endapan perak kromat

yang berwarna coklat/merah bata sebagai titik

akhir titrasi. Reaksi yang terjadi saat titrasi

adalah sebagai berikut:

Saat sebelum titik ekuivalen:

AgNO3 + Cl- AgCl(s) + NO3- Endapan putih

Saat setelah titik ekuivalen:

AgNO3 + K2CrO4  Ag2CrO4(s) + NO3 Endapan merah bata

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI

Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010, batas

maksimal kadar klorida dalam air minum adalah

250 mg/L. Berdasarkan data diatas, dapat

diketahui bahwa 5 dari 10 daerah di kecamatan

Tanggulangin Sidoarjo yang layak dikonsumsi,

yaitu pada kode sampel A (123.2 mg/L), kode

sampel C (49.7 mg/L), kode sampel E (245.7

mg/L), kode sampel I (182.4 mg/L), dan kode

sampel J (64 mg/L). Sedangkan pada kode

sampel lainnya, kandungan kadar klorida

melebihi ambang batas maksimal yang berarti

tidak layak untuk dikonsumsi.

Kadar klorida yang tinggi dapat berbahaya

bagi kesehatan diantaranya dapat bersifat

merusak atau korosif pada kulit dan peralatan,

selain itu juga berpotensi merusak sistem

(19)

19 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan

dapat disimpulkan bahwa:

1. 3 dari 10 daerah di kecamatan

Tanggulangin Sidoarjo yang memiliki

tingkat kesadahan < 500 mg/L (kesadahan

ringan).

2. 5 dari 10 daerah di kecamatan

Tanggulangin Sidoarjo yang memiliki

kadar klorida < 250 mg/L.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

untuk mengetahui kadar logam lain seperti Pb,

Cd dan Hg untuk mendukung penelitian ini.

REFERENSI

Campbell, J and Peterson, D. 2010.

Determination Of Water Hardness From

Common Water Sources Using Flame

Atomic Absorbance Spectrometry.

Concordia College Journal of Analytical

Chemistry 1, 4-8 4

Day RA. Jr dan Al Underwood.1992. Analisis

Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima. Jakarta:

Erlangga

Depkes RI. 2010. Permenkes RI No.

492/MENKES/PER/IV/2010. Tentang

Persyaratan Kualitas Air Minum. Depkes

RI, Jakarta.

Heruna Tanty Statistika. 2011. Analisis

Kandungan Zat Kimia Anorganik pada

Beberapa Proses Filtrasi Air Minum

Menggunakan One-Way Manova. Jurusan

Matematik & Statistik, Fakultas Sains dan

Teknologi Vol. 11 No. 2.

Khopkhar, SM. 1990. Konsep Dasar Kimia

Analitik. Jakarta: UI Press

Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Slamet, J. S. 1994. Kesehatan Lingkungan.

Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press

Sunaryo, T.M. 2005. Pengelolaan Sumber Daya

Air. Malang: Bayumedia Publishing

Anggota IKAPI Jatim

Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah

dan Air. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Sutrisno, Totok C. 2004. Teknologi Penyediaan

Air Bersih. Rineka Cipta, Jakarta

Tae-Kee Hong, Hoon Kim, and

Myung-Zoon Czae. 2010. Research Article

Determination of Chlorinity of Water

without the Use of Chromate Indicator.

International Journal of Analytical

Chemistry Volume, Article ID 602939, 7

pages

Waluyo, L. 2009. Mikrobiologi Lingkungan.

(20)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 20 PENGARUH KEBUTUHAN GIZI TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN IBU

HAMIL DI DESA PETIS RT 02 RW 02

KECAMATAN DUDUK SAMPEYAN KABUPATEN GRESIK

Eppy Setiyowati1, Desi Emilyati2

1Program Studi S1 Keperawatan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Email : [email protected]

Abstract

Pregnancy caused by changes in body weight of pregnant women, which is not significantly impact on the growth of the fetus in the womb, experiencing anemia and low birth weight. The purpose of this study analyzed the nutritional needs of pregnant mothers to changes in maternal and fetal body weight in the Village District of RW 02 Petis Duduk Sampeyan Gresik. Analytical study design with cross sectional study design. The population is all pregnant women in the village of RT 02 RW 02 Petis Sitting Sampeyan District of Gresik by 33 people. Sampling sampling techniques with simple random sampling. The instrument uses observation. This variable is the nutritional needs of pregnant women and changes in maternal and fetal body weight. Data were analyzed with the Mann-Whitney

test with α = 0.05. The result showed the majority (66.7%) of respondents need good nutrition. As well as the vast majority (66.7%) of respondents normal weight. It can be concluded that there is influence the nutritional needs of pregnant mothers to changes in maternal and fetal body weight in the Village District of RW 02 Petis Sitting Sampeyan Gresik. More nurses can improve the promotion program to improve maternal and fetal body weight through promotion and education in local communities about the importance of maternal and fetal weight.

Key words: Nutrition of Pregnant Women, Weight

Abstrak

Kehamilan yang disebabkan oleh perubahan berat badan ibu hamil, yang tidak signifikan dapat berdampak pada pertumbuhan janin dalam rahim, mengalami anemia dan berat badan lahir rendah. Tujuan penelitian ini menganalisis kebutuhan gizi ibu hamil terhadap perubahan berat badan ibu dan janin di Desa Petis RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik. Desain penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasinya adalah semua ibu hamil yang berada di Desa Petis RW 02 RT 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik sebesar 33 orang. Teknik sampling dengan sampling simple random sampling. Instrumen menggunakan observasi. Variabel ini adalah kebutuhan gizi ibu hamil dan perubahan berat badan ibu dan janin. Data dianalisis dengan uji

mann-Whitney dengan α = 0,05. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar (66,7%) responden kebutuhan gizi baik. Serta sebagian besar (66,7%) responden berat badan normal. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh kebutuhan gizi ibu hamil terhadap perubahan berat badan ibu dan janin di Desa Petis RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik. Perawat lebih banyak dapat meningkatkan penggalakan program peningkatan berat badan ibu dan janin melalui promosi maupun penyuluhan pada masyarakat setempat tentang pentingnya berat badan ibu dan janin.

(21)

21 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) PENDAHULUAN

Kehamilan merupakan proses yang

berkesinambungan mulai dari ovulasi, konsepsi,

nidasi, pembentukan plasenta dan pertumbuhan

hasil konsepsi sampai aterm (Manuba, 2010). Ibu

hamil akan mengalami perubahan anatomi dan

adaptasi fisiologis diantaranya adalah perubahan

berat badan. Penambahan berat badan ibu hamil

yang terjadi selama kehamilan disebabkan juga

oleh peningkatan ukuran berbagai jaringan

reproduksi, dan terbentuknya cadangan lemak

dalam tubuh ibu (Dikutip oleh Meita Dwi

Endarwati, 2013). Sebuah kehamilan dianggap

normal jika tanpa ada penyulit atau komplikasi,

akan tetapi kehamilan saat ini banyak sekali

diiringi dengan komplikasi salah satunya

kehamilan yang disebabkan oleh perubahan berat

badan ibu hamil, kejadian komplikasi dengan

preeklampsia, begitu banyak disebabkan oleh ibu

hamil obesitas dengan indeks massa tubuh > 29

meningkatkan yang meningkatkan resiko empat

kali lipat terjadi preeklampsia. Akan tetapi

fenomena tersebut tidak semua terjadi pada ibu

hamil obesitas tetapi perempuan dengan indeks

masa tubuh normal juga banyak yang mengalami

preeklamsia Chapman (2006), selain itu ibu

hamil yang mempunyai peningkatan berat badan

yang terlalu berlebihan akan beresiko terjadinya

komplikasi kehamilan seperti diabetes

gestasional, dan terjadinya bayi makrosomia.

Perubahan berat badan ibu hamil yang tidak

signifikan dapat berdampak pada pertumbuhan

janin dalam rahim, ibu mengalami anemia dan

berat badan lahir rendah (Lailiyana, 2010).

Asupan makanan ibu hamil meningkat

seiring dengan bertambahnya usia kehamilan

sehingga mempengaruhi pola kenaikan berat

badan ibu selama kehamilan (Paath, 2004).

Perubahan berat badan ibu hamil merupakan

salah satu penilaian yang digunakan untuk

memberikan gambaran massa tubuh ibu sebagai

penentu kondisi gizi ibu hamil. Trimester I

kisaran pertambahan berat badan 1-2 kg

sementara trisemester II dan III sekitar 0,34-0,0

kg tiap minggu. Kenaikan total berat badan ibu

hamil dihitung mulai trimester I sampai trimester

III sebesar 11,5-16 kg atau 20% dari berat badan

sebelum hamil (Arisman, 2009).

Kebutuhan gizi adalah ekspresi dari

keadaan seimbang dalam bentuk variabel.

Kebutuhan gizi ibu hamil adalah keadaan gizi ibu

berdasarkan IMT yaitu berat badan (kg)/ tinggi

badan (cm)(Supariasi, 2002). Kebutuhan gizi ibu

hamil sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan

embrio pada masa perkembangan dan

pembentukan organ-organ tubuh (Setianingrum,

2005). Gizi pada ibu hamil yang kurang dapat

mengurangi cadangan jaringan tubuh ibu

sehingga akan terjadi juga kemerosotan jaringan

yang ditandai dengan penurunan berat badan ibu

(Supariasa, 2012).

UNICEF-WHO (2007) memperkirakan

189 juta ibu hamil beresiko tinggi diseluruh

dunia mengalami penurunan dibandingkan

(22)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 22 hamil dengan tinggat prevalensi tinggi terdapat

di Afrika (45%) dan Asia (34%)

Hasil Riskesdas (2013) prevalensi ibu

hamil beresiko tinggi yaitu ibu hamil dengan

tinggi badan < 150 cm. Prevalensi ibu hamil

beresiko tinggi sebesar 31,3 %. Prevalensi ibu

hamil beresiko tinggi terendah di Bali (12,1 %)

dan tertinggi di Sumatera Barat (39,8%) dan di

jawa timur (15,8%) (Warta Surya, 2011).

Data awal yang penulis lakukan pada bulan

januari 2015 ditemukan 7 ibu hamil pada

trimester I sampai trimester III mengalami

penurunan berat badan yang tidak sesuai dengan

kondisi normal pada ibu hamil. Dua ibu hamil

mengalami penurunan berat badan dengan berat

55 kg pada trimester I, sedangkan 5 ibu hamil

mengalami penurunan berat badan 60 kg pada

trimester III.

Peningkatan berat badan ibu hamil

dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi ibu

sebelum hamil yaitu apabila status ekonomi baik

kebutuhan gizi ibu hamil akan terpenuhi dan

sebaliknya apabila status ekonomi kurang

kebutuhan gizi ibu hamil juga akan kurang, jarak

kelahiran yang terlalu dekat, usia kehamilan dan

keadaan kesehatan gizi ibu sebelum dan selama

kehamilan (Arisan, 2004).

Faktor yang mempengaruhi kebutuha gizi

ibu hamil yaitu pengetahuan, prasangka,

kebiasaan, kesukaan dan ekonomi (Alimul

Hidayat, 2006). Banyaknya faktor yang

mempengaruhi sehingga perlu diupayakan untuk

menjaga agar berat badan naik sesuai usia

kehamilan dengan cara memenuhi kebutuhan

gizi ibu hamil secara kuantitas maupun kualitas,

menjaga lingkungan yang kondusif yaitu

membuat suasana tempat tinggal yang nyaman,

menjaga kesehatan kehamilan dengan

memeriksakan kehamilanya.

Upaya yang dapat dilakukan oleh perawat

untuk menekan angka gizi kurang pada ibu hamil

salah satunya dengan memberikan pendidikan

kesehatan tentang kebutuhan gizi yang baik pada

ibu hamil. Disamping itu dengan pemantauan

kebutuhan gizi ibu hamil baik pada awal

kehamilan dan pemantauan gizi selama hamil

sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi

sedini mungkin (Marsianto dkk, 2005). Hasil

penelitian ini diharapkan dapat memberikan

masukan kepada ibu dan perawat khususnya

dalam memberikan asuhan keperawatan

komunitas.

Penulis tertarik untuk melakukan

penelitian berdasarkan latar belakang tersebut

mengenai, “Pengaruh Kebutuhan Gizi Terhadap

Perubahan Berat Badan Ibu Hamil di Desa Petis

RT 02 RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan

Kabupaten Gresik.”

METODE PENELITIAN

Rancang bangun yang digunakan dalam

penelitian ini adalah analitik observasional

dengan menggunakan pendekatan secara cross

sectional yakni jenis penelitian yang

menekankan pada waktu pengukuran atau

(23)

23 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) gizi) dan dependen (perubahan berat badan ibu)

hanya satu kali pada waktu yang sama.

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Usia Ibu Hamil

Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan umur Desa Petis RT 02 RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik 2014

Umur tahun Jumlah

Frekuensi Persentase

< 20 5 16,7

20 – 35 25 83,3

> 35 0 0

Jumlah 30 100

Tabel 1. menunjukkan bahwa dari 30

responden hampir seluruhnya (83,3%) responden

berumur 20 – 35 tahun.

Kebutuhan Gizi Ibu Hamil

Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan pengaruh kebutuhan gizi ibu hamil di Desa Petis RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik 2015

Kebutuhan gizi Jumlah

Frekuensi Presentase

Baik 20 66,7

Buruk 10 33,3

Jumlah 30 100

Berdasarkan Tabel 2. menunjukkan bahwa

dari 30 responden sebagian besar (66,7%)

responden kebutuhan gizi baik. Status gizi pada

ibu hamil terkadang tidak sesuai dengan

kebutuhan ibu yang dibutuhkan hal ini

menimbulkan kenaikan berat badan setiap wanita

hamil berbeda, tergantung dari tinggi badan dan

berat badannya sebelum kehamilan, ukuran bayi

dan plasenta, dan kualitas diet makan sebelum

dan selama kehamilan. Indeks Massa Tubuh

diukur dengan cara membagi berat badan dalam

satuan kilogram dengan tinggi badan dalam

satuan meter kuadrat untuk memperbaiki jumlah

total lemak dalam tubuh. Sedangkan bahayanya

bagi ibu yang kurang pada pemenuhan gizi

adalah dapat menimbulkan komplikasi

kehamilan maupun persalinan terutama pada

resiko janin, terjadi BBLR pada bayi. Oleh

karena itu selama kehamilan, ibu sangat

membutuhkan gizi yang baik walau masih

dipengaruhi oleh riwayat kesehatan dan status

gizi sebelumnya, kekurangan asupan makanan

pada salah satu zat akan mengakibatkan

kebutuhan terhadap sesuatu nutrisi yang tidak

konstan selama kehamilan (Kristiyanasari,

2010).

Perubahan Berat Badan Ibu Hamil

Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan perubahan berat badan ibu dan janin di Desa Petis RT 02 RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik 2015

Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa

dari 30 responden sebagian besar (66,7%)

(24)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 24 normal akan memberikan dampak yang positif

bagi kebutuhan ibu sendiri. Bila ibu hamil kurus

atau gemuk sebelum hamil akan menimbulkan

resiko pada janin terutama apabila peningkatan

atau penurunan sangat menonjol. Bila sangat

kurus maka akan melahirkan bayi BBLR.

Sebab-sebab penurunan atau peningkatan

berat badan yang mencolok, yaitu multipara,

edema, hipertensi kehamilan, makan berlebihan.

Selain itu berat badan berlebih sebelum dan saat

hamil bisa menyebabkan terjadinya penyempitan

pembuluh darah yang membahayakan ibu dan

janin. Bahayanya bagi janin adalah pertumbuhan

janin terhambat karena tidak memperoleh

oksigen dan zat-zat makanan yang mencukupi.

Sedangkan bahayanya bagi ibu adalah dapat

menimbulkan komplikasi kehamilan maupun

persalinan seperti perdarahan, tekanan darah

tinggi, diabetes mellitus dan pre-eklamsia.

Maka dari itu perkembangan pada wanita dalam

menentukan kenaikan kehamilannya juga

dipengaruhi oleh usia ibu hamil. Hal ini menurut

menurut Aguswilopo (2004) yang dikutip oleh

Mutalazimah (2005), bahwa status gizi ibu hamil

belum pulih sebelum 2 tahun pasca peersalinan

sebelumnya, oleh karena itu belum siap untuk

kehamilan berikutnya. Jarak yang terlalu dekat

akan menyebabkan kualitas janin atau anak yang

rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu.

Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk

memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan

energi yang cukup untuk memulihkan keadaan

setelah melahirkan anaknya). Dengan

mengandung kembali maka akan menimbulkan

masalah gizi ibu dan janin atau bayi yang

dikandung.

Pengaruh kebutuhan gizi ibu hamil terhadap perubahan berat badan ibu

Tabel 4. Tabulasi silang antara pengaruh kebutuhan gizi ibu hamil terhadap perubahan berat badan ibu dan janin di Desa Petis RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik 2015

Kebutuhan gizi Berat badan ibu Jumlah

BB rendah BB normal BB lebih

n % n % n % n %

Baik 2 10 16 80 2 10 20 100

Buruk 6 60 4 40 0 0 10 100

(25)

25 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) Berdasarkan Tabel 4. menunjukkan

bahwa dari 30 responden yang mempunyai

kebutuhan gizi baik didapatkan hampir

seluruhnya (80%) BB normal, sedangkan

kebutuhan gizi buruk didapatkan sebagian besar

(60%) perubahan berat badannya rendah.

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4

menunjukkan bahwa dari 30 responden hampir

seluruhnya (80%) responden mempunyai

kebutuhan gizi baik dengan berat badan normal.

Status gizi ibu hamil menentukan berat

bayi yang dilahirkan, maka pemantauan gizi ibu

hamil sangatlah penting dilakukan. Sebagai

ukuran sekaligus pengawasan bagi kecukupan

gizi ibu hamil bisa di lihat dari kenaikan berat

badannya. Ibu yang kurus dan selama kehamilan

disertai pertambahan berat badan yang rendah

atau turun sampai 10 kg, mempunyai resiko

paling tinggi untuk melahirkan bayi dengan

BBLR. Sehingga ibu hamil harus mengalami

kenaikan berat badan berkisar 11,5-16 kg atau

20% dari berat badan sebelum hamil. Dari hasil

tabel 3 menunjukkan bahwa ibu hamil dengan

kebutuhan gizi baik dengan berat badan normal,

menunjukkan kebutuhan gizi yang baik bagi ibu

dan janin terutama untuk mencegah terjadinya

komplikasi kehamilan, hal ini sesuai dengan

pendapatnya Chapman (2006), ibu hamil yang

mengalami ketidak seimbangan antara

kebutuhan gizi dan beratbadan akan

menyebabkan terjadinya penyulit atau

komplikasi, kejadian komplikasi dengan

preeklampsia, begitu banyak disebabkan oleh ibu

hamil obesitas dengan indeks massa tubuh > 29

meningkatkan yang meningkatkan resiko empat

kali lipat terjadi preeklampsia. Akan tetapi

fenomena tersebut tidak semua terjadi pada ibu

hamil obesitas tetapi perempuan dengan indeks

masa tubuh normal juga banyak yang mengalami

preeklamsia, selain itu ibu hamil yang

mempunyai peningkatan berat badan yang terlalu

berlebihan akan beresiko terjadinya komplikasi

kehamilan seperti diabetes gestasional, dan

terjadinya bayi makrosomia.

responden berat badan normal.

3. Ada pengaruh kebutuhan gizi ibu hamil

Siklus Kehidupan.Jakarta, Kharisma Putra

Utama

2. Alimul hidayat, A Aziz. (2006). Pengantar

kebutuhan dasar manusia : aplikasi konsep

dan proses keperawatan. Jakarta, Salemba

Medika

3. Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian

(26)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 26 4. Arisman.(2006). Gizi dalam Daur

Kehidupan. Jakarta, EGC.

5. Badriah, D.L. (2011). Gizi dalam Kesehatan

Reproduksi. Bandung, Refika Aditama.

6. Departemen Kesehatan RI. (2006).

Pedoman Umum Gizi Seimbang. Jakarta:

Depkes RI.

7. Khairina, Desy.(2008). Faktor-faktor yang

Berhubungan dengan Status Gizi

berdasarkan IMT Pada Pembantu Rumah

Tangga di Perumahan Duta Indah

Bekasi.FKM, UI.

8. Friedman. (2006). Keperawatan Keluarga.

Jakarta, EGC.

9. Kartono, Djoko. (2012). Angka Kecukupan

Gizi (AKG) 2012 untuk Orang Indonesia.

Jakarta, WNPG

10.Khosman, A. (2007). Teknik Pengukuran

Pengetahuan Gizi. Bogor, Institut Pertanian.

11.Kristiyansari, Weni. (2010). Gizi Ibu

Hamil.Yogyakarta, Nuha Medika.

12.Kusuma, R.M. (2013). Berapakah

Seharusnya Ibu Hamil Mengetahui

Kenaikan Berat Badan. Bidan Sahabat

Perempuan. Edisi 85. Hal 27.

13.Lailiyana.(2010) Gizi Kesehatan

Reproduksi. Jakarta, EGC.

14.Mandriawati, G.A. (2011). Asuhan

Kebidanan Antenatal. Jakarta, EGC.

15.Manuaba, IBG. (2010). Ilmu Kebidanan,

Penyakit Kandungan dan Keluarga

Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta,

EGC.

16.Notoatmojo.(2007). Pendidikan dan

Perilaku Kesehatan.Jakarta, Rineka Cipta.

17.Nursalam.(2010). Konsep dan Penerapan

Metodolgi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Jakarta, Selemba Medika.

18.Paath, E.F. (2005). Gizi dalam Kesehatan

Reproduksi.Jakarta, EGC.

19.Prawiroharjo, S. (2009). Ilmu Kandungan.

Jakarta, Bina Pustaka.

20.Rochjati, Poedji. (2007). Skrining Antenatal

pada Ibu Hamil, Pengendalian Faktor

Resiko, Deteksi Dini Ibu Hamil Resiko

Tinggi. Surabaya, Universitas Airlangga.

21.Salmah (2005).Asuhan Kebidanan

Antenatal. Jakarta, EGC.

22.Setianingrum, S.I.W. (2005). Hubungan

Antara Kenaikan Berat Badan, Lingkar

Lengan Atas dan Kadar Hemoglobin Ibu

Hamil Trimester III dengan Berat Bayi

Lahir di Puskesmas Ampel I Boyolali Tahun

2005.Semarang, Universitas Negeri

Semarang. Jurnal.

23.Suharjo.(2005). Berbagi Cara Pendidikan

Gizi.Jakarta, PT. Bumi Aksara.

24.Almatsier, Sunita. (2005). Prinsip Dasar

Ilmu Gizi.Jakarta, PT. Gramedia Pustaka.

25.Supariasa, I.D.N. (2012). Penilaian Status

(27)

27 | Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal)

PENGARUH KEMAMPUAN IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN DETEKSI DINI RISIKO PREEKLAMSIA TERHADAP PARITAS, PENGETAHUAN DAN

KETERPAPARAN INFORMASI

Rr. Galuh Ajeng Indu Dewi

Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Email : [email protected]

Abstract

Health conditions, mental status and Life & Style can be lead to complications on Pregnancy can be causing death of mother and fetus (Depkes RI, 2014). The main factor that cause maternal death are postpartum bleeding / HPP (28%), preeclampsia (24%) and infection (11%) (Indonesia Health Profile, 2007). Those factors that cause maternal death actually could be prevented by pregnancy and early detection of the risk of pregnancy check up. The type of this research is analitic observational by using cross sectional design. The population is consist of 171 pregnant mother. The sample used are amount of 62 pregnant mothers. The sample used is probability sampling with stratified random sampling technique. Data collection using primary data with questionnaire instrument through interview. Furthermore, the data would be analyzed with simple logistic regression analysis and multiple logistic regression analysis with the level of meaning 5% (α = 0,05). Based on the results of multiple logistic regression analysis in Sawahan show disclosure information variable of danger signs with significancy Exp value (B) 5,657 are significant variables and variable of paritas with significancy Exp value (B) 9,060 are significant variables. Sawahan Public Health Center is the Public Health Center which has high of Maternal Mortality Rate. Puskesmas Sawahan

must have information forum. So that, pregnant mother and the other patient or patient’s family

should get more information about the danger signs of pregnancy, especially preeclampsia.

Keywords : Early Detection, Preeclampsia.

Abstrak

Kondisi kesehatan, status mental dan gaya hidup dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan yang dapat menyebabkan kematian ibu dan janin (Depkes RI, 2014). Penyebab kematian ibu yaitu pendarahan Pascapersalinan (28%), preeklamsia (24%) dan infeksi (11%) (Profil Kesehatan Indonesia, 2007). Penyebab kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan dan deteksi dini risiko kehamilan. Jenis penelitian observational analitik menggunakan desain cross sectional. Jumlah populasi 171 ibu hamil. Jumlah sampel 62 ibu hamil. Sampling yang

dipakai adalah “probability sampling”dengan tehnik “Stratified Random Sampling”. Pengumpulan

data menggunakan data primer dengan instrumen kuesioner secara wawancara. Analisa data dengan

(28)

Medical Technology and Public Health Journal (MTPH Journal) | 28 sehingga ibu hamil maupun pasien lain ataupun keluarga pasien dapat lebih banyak menerima informasi seputar tanda bahaya kehamilan khususnya preeklamsia.

Kata Kunci : Deteksi Dini, Preeklamsia

PENDAHULUAN

Kehamilan dan persalinan merupakan

proses alami, namun bukan berarti tanpa risiko.

Kehamilan merupakan kondisi dimana tubuh

harus terjaga dengan sangat prima. Kondisi

kesehatan, status mental dan gaya hidup dapat

mengakibatkan komplikasi pada kehamilan yang

dapat menyebabkan kematian ibu dan janin1.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)2

menjelaskan bahwa kematian diberbagai negara

memperkirakan angka kematian yang

disebabkan oleh kehamilan mencapai 500.000

tiap tahunnya. Berdasarkan hasil Survei

Demografi dan Kesehatan Indonesia, angka

kematian ibu mencapai 359 per 100 ribu

kelahiran hidup3. Dalam survei yang sama, tahun

2007 angka kematian ibu hanya 228 per 100 ribu

kelahiran hidup. Penurunan AKI merupakan

tujuan ke 5 pembangunan millennium, yaitu

meningkatkan kesehatan ibu, dengan target yang

akan dicapai pada tahun 2015 adalah mengurangi

sampai ¾ risiko jumlah kematian ibu4.

Tingginya AKI di Indonesia dipengaruhi

oleh beberapa hal yang lebih dikenal dengan

istilah 4 terlalu dan 3 terlambat, yakni terlalu

muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan,

terlalu banyak, dan terlambat dalam mencapai

fasilitas, terlambat mendapatkan pertolongan,

dan terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan

dan persalinan5. Faktor utama penyebab

kematian ibu yakni pendarahan, hipertensi saat

hamil atau preeklamasia dan infeksi6.

Pendarahan Pascapersalinan (HPP) menempati

persentase tertinggi penyebab kematian ibu

(28%), anemia dan kekurangan energi kronis

(KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama

terjadinya pendarahan dan infeksi yang

merupakan faktor kematian utama ibu. Di

berbagai negara paling sedikit seperempat dari

seluruh kematian ibu disebabkan oleh

pendarahan; proporsinya antara kurang dari 10%

sampai hampir 60%7.

Persentase tertinggi kedua penyebab

kematian ibu adalah preeklamsia (24%), kejang

bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah

tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol saat

kehamilan maupun persalinan. Hipertensi dapat

terjadi karena kehamilan, dan akan kembali

normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun

ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi

lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila

hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil.

Sedangkan persentase tertinggi ketiga penyebab

kematian ibu melahirkan adalah infeksi (11%)7.

Penyebab kematian ibu sebenarnya dapat

dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (ANC)

yang memadai dan deteksi dini risiko ibu hamil.

Gambar

Tabel 8. Jenis Penyakit yang Sering Dialami
Gambar 1. Interaksi
Tabel 1 Hasil analisa kesadahan total air
Tabel 4. Tabulasi silang antara pengaruh kebutuhan gizi ibu hamil terhadap perubahan berat badan ibu dan janin di Desa Petis RW 02 Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik 2015
+5

Referensi

Dokumen terkait

Populasi penelitian ini adalah semua ibu hamil dengan usia kehamilan ≥ 37 minggu, pada wanita ketuban pecah dini sebagai kelompok studi dan wanita.. yang tidak

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value 0,040 yang menunjukkan tidak ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu hamil dalam

Simpulan terdapat perbedaan berat badan lahir bayi pada ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan ibu hamil anemia di Puskesmas Mlonggo Kabupaten Jepara (ρ

Faktor utama terjadinya KEK pada ibu hamil yaitu kebutuhan energy pada orang hamil lebih tinggi padahal ibu hamil tersebut sejak sebelum hamil sudah mengalami

Faktor lain pada penelitian lainnya menunjukkan berat badan kelahiran, status asupan ASI, usia ibu, jumlah keluarga, status sosioekonomi, dan uru- tan kelahiran juga

Received MM, DD, YYY Revisied from MM, DD, YYY Accepted MM, DD, YYY Published online MM, DD, YYY E-ISSN : INDONESIAN JOURNAL OF ISLAM AND PUBLIC HEALTH Volume 1, No 1 2021

Indonesian Journal of Medical Chemistry and Bioinformatics Indonesian Journal of Medical Chemistry and Bioinformatics Volume 1 Number 1 Article 5 8-26-2022 Molecular docking of

Riswanti Septiani & Bambang Budi Raharjo./ Public Health Perspective Journal 2 3 2017 262 - 269 264 melakukan penghitungan IMT pada siswa, didapatkan data bahwa dari terdapat 48 siswa