TUGAS AKHIR
EVALUASI PROGRAM PENATAAN
KAWASAN NGARSAPURA
Di susun oleh: FADHILAH RUSMIATI
I 0607039
Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai Jenjang Strata-1 Perencanaan Wilayah dan Kota
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 5
1.3.Tujuan dan Sasaran Penelitian ... 6
1.4.Manfaat Penelitian ... 6
1.5.Ruang Lingkup Penelitian ... 7
1.5.1 Ruang Lingkup Wilayah ... 7
1.5.2 Ruang Lingkup Materi ... 7
1.6.Kerangka Pikir ... 9
1.7.Sistematika Pembahasan ... 10
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1.Teori Elemen Perancangan Kawasan ... 12
2.1.1. Tata Guna Lahan ( Land Use) ... 12
2.1.2. Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing) ... 13
2.1.3. Sirkulasi dan Parkir (Circulation and Parking ) ... 13
2.1.4. Ruang Terbuka (Open Space) ... 14
2.1.5. Jalur Pedestrian (Pedestrian Ways) ... 16
2.1.6. Tanda-tanda (Signage) ... 18
2.1.8. Konservasi ( Conservation )... 21
2.2.Pengertian Peremajaan dan Revitalisasi Kawasan ... 22
2.2.1. Pengertian Peremajaan ... 22
2.2.2. Pengertian Revitalisasi Kawasan ... 25
2.3.Tinjauan Pasar ... 28
2.3.1. Pengertian Pasar ... 28
2.3.2. Tipe dan Ciri-Ciri Pasar ... 29
2.3.3. Lokasi Bangunan Pasar ... 31
2.3.4. Tata Ruang Pasar ... 32
2.3.5. Fasilitas Pasar ... 34
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 37
3.1.Tipe Penelitian ... 37
3.2.Pendekatan Penelitian ... 37
3.3.Variabel Penelitian ... 39
3.4.Langkah-Langkah Penelitian ... 43
3.4.1.Tahap Persiapan ... 43
3.4.2. Metode Pengumpulan Data ... 44
3.4.3. Metode Analisis ... 52
BAB 4 GAMBARAN UMUM KAWASAN NGARSAPURA ... 56
4.1.Penataan Koridor Ngarsapura ... 56
4.1.1. Kondisi Fisik Koridor Ngarsapura ... 57
4.1.2. Kondisi Non Fisik Koridor Ngarsapura ... 64
4.2.Pembangunan Pasar Ngarsapura ... 66
4.2.1. Kondisi Fisik Pasar Ngarsapura ... 66
4.2.2. Kondisi Non Fisik Pasar Ngarsapura ... 69
4.3.Renovasi Pasar Triwindu ... 77
4.3.1. Kondisi Fisik Pasar Triwindu ... 77
4.3.2. Kondisi Non Fisik Pasar Triwindu... 83
4.4.Pengembangan Night Market Ngarsapura ... 93
BAB 5 ANALISIS KONDISI KAWASAN NGARSAPURA PASCA
PENATAAN KAWASAN ... 98
5.1.Analisis Kondisi Koridor Ngarsapura ... 98
5.1.1. Analisis Kondisi Fisik Koridor Ngarsapura ... 98
5.1.2. Analisis Kondisi Non Fisik Koridor Ngarsapura ... 106
5.2.Analisis Kondisi Pasar Ngarsapura ... 110
5.2.1. Analisis Kondisi Fisik Pasar Ngarsapura ... 110
5.2.2. Analisis Kondisi Non Fisik Pasar Ngarsapura ... 113
5.3.Analisis Kondisi Pasar Triwindu ... 117
5.3.1. Analisis Kondisi Fisik Pasar Triwindu ... 117
5.3.2. Analisis Kondisi Non Fisik Pasar Triwindu ... 121
5.4.Kondisi Night Market Ngarsapura ... 126
5.4.1. Analisis Kondisi Fisik Night Market Ngarsapura ... 126
5.4.2. Analisis Kondisi Non Fisik Night Market Ngarsapura ... 128
5.5.Analisis Indikasi Program Penataan Kawasan Ngarsapura ... 130
5.6.Temuan Penelitian... 132
BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 137
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
Tabel 2.1. Kriteria Penilaian Klasifikasi Pasar Tradisional ... 35
Tabel 3.1. Variabel Penelitian ... 39
Tabel 3.2. Tabulasi Instansi dan Data yang Dibutuhkan ... 49
Tabel 4.1 Pemakaian Kios Pedagang Pasar Ngarsapura ... 66
Tabel 4.2 Luasan Kios dan Besar Retribusi Pedagang Pasar Ngarsapura ... 68
Tabel 4.3 Jumlah Pedagang Menurut Jenis Dagangan ... 70
Tabel 4.4 Jumlah Pembeli Per Hari Pasar Ngarsapura ... 73
Tabel 4.5 Jumlah Pendapatan Per Hari Pasar Ngarsapura. ... 75
Tabel 4.6 Pemakaian Kios Pasar Triwindu ... 80
Tabel 4.7 Luasan Kios Pedagang Pasar Triwindu ... 81
Tabel 4.8 Jumlah Pedagang Pasar Triwindu. ... 83
Tabel 4.9 Jumlah Pembeli Per Hari Pasar Triwindu. ... 87
Tabel 4.10 Jumlah Pendapatan Per Hari Pasar Triwindu ... 90
Tabel 4.11 Jumlah Pedagang Night Market Ngarsapura... 95
Tabel 4.12 Jumlah Pembeli Night Market Ngarsapura ... 96
Tabel 4.13 Jumlah Pendapatan Night Market Ngarsapura ... 96
Tabel 5.1 Tanggapan Responden Terhadap Kualitas Sarana dan Prasarana Pasar Ngarsapura ... 111
Tabel 5.2 Tanggapan Responden Terhadap Kualitas Sarana dan Prasarana Pasar Triwindu... 119
Tabel 5.3 Tanggapan Responden Terhadap Kualitas Sarana dan Prasarana Night Market Ngarsapura ... 126
Tabel 5.4 Indikasi Program Penataan Kawasan Ngarsapura ... 131
Tabel 5.5 Tabel Hasil Temuan Penelitian Program Penataan Kawasan Ngarsapura ... 133
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
Gambar 1.1 Kawasan Pasar Pon Singosarenweg ... 1
Gambar 1.2 Kondisi Pasar Triwindu... 2
Gambar 1.3 Kawasan Ngarsapura (Januari 2008) ... 3
Gambar 1.4 Peta Peta Program Penataan Kawasan Ngarsapura ... 8
Gambar 1.5 Kerangka Pikir ... 9
Gambar 4.1 Rencana Jalur Pedestrian Koridor Ngarsapura ... 47
Gambar 4.2 Kondisi Pedestrian Jalan Diponegoro (Kiri) dan Jalan Ronggowarsito (Kanan) ... 58
Gambar 4.3 Kondisi Street Furniture Pedestrian Ngarsapura ... 59
Gambar 4.4 Bangunan Pasar Ngarsapura ( Kiri) dan Pasar Triwindu (Kanan) ... 60
Gambar 4.5 Bangunan Gedung Pertemuan ( Kiri) dan Rumah Makan (Kanan) ... 60
Gambar 4.6 Bangunan Sekolah ( Kiri) dan Kantor Kelurahan Keprabon (Kanan) ... 60
Gambar 4.7 Kondisi Jalan Diponegoro (Kiri) dan Jalan Ronggowarsito (Kanan) .. 61
Gambar 4.8 Rencana Penataan Koridor Ngarsapura ... 62
Gambar 4.9 Drainase Koridor Ngarsapura ... 63
Gambar 4.10 Jaringan Listrik Koridor Ngarsapura ... 63
Gambar 4.11 Persampahan Koridor Ngarsapura ... 63
Gambar 4.12 Aktivitas Ekonomi di Koridor Ngarsapura ... 64
Gambar 4.13 Aktivitas Sosial di Koridor Ngarsapura ... 65
Gambar 4.14 Aktivitas Seni dan Budaya di Koridor Ngarsapura ... 65
Gambar 4.15 Diagram Pemakaian Kios Pedagang Pasar Ngarsapura ... 67
Gambar 4.16 Bangunan Pasar Ngarsapura ... 67
Gambar 4.17 Tipe Luasan Kios Pasar Ngarsapura ... 68
Gambar 4.18 Luasan Kios Pasar Ngarsapura ... 68
Gambar 4.19 Kondisi Prasarana Air Bersih dan Listrik Pasar Ngarsapura ... 69
Gambar 4.20 Kondisi Sarana Kebersihan dan Parkir Pasar Ngarsapura ... 69
Gambar 4.22 Jumlah Pembeli Per Hari Pasar Ngarsapura ... 71
Gambar 4.23 Pendapatan Pedagang Per Hari Pasar Ngarsapura ... 72
Gambar 4.24 Gambar Desain Tampak Depan Pasar Triwindu ... 77
Gambar 4.25 Gambar Desain Tampak Situasi Pasar Triwindu ... 77
Gambar 4.26 Gambar Desain Perspektif Tenggara Pasar Triwindu ... 78
Gambar 4.27 Bangunan Barat Pasar Triwindu ... 79
Gambar 4.28 Bangunan Timur Pasar Triwindu ... 79
Gambar 4.29 Pemakaian Kios Pedagang Pasar Triwindu... 80
Gambar 4.30 Luasan Kios Pasar Triwindu ... 81
Gambar 4.31 Tipe Luasan Kios Pasar Triwindu ... 81
Gambar 4.32 Kondisi Sarana Parkir Pasar Triwindu ... 82
Gambar 4.33 Kondisi Sarana MCK Pasar Triwindu ... 82
Gambar 4.34 Kondisi Prasarana Drainase Pasar Triwindu ... 83
Gambar 4.35 Diagram Jumlah Pedagang Menurut Jenis Dagangan ... 84
Gambar 4.36 Jumlah Pembeli Per Hari Pasar Triwindu ... 85
Gambar 4.37 Pendapatan Pedagang Pasar Triwindu ... 86
Gambar 4.38 Gambar Rencana Zonasi Night Market Ngarsapura ... 93
Gambar 4.39 Kondisi Night Market Ngarsapura ... 94
Gambar 4.40 Jumlah Pedagang Menurut Jenis Dagangan ... 95
Gambar 4.41 Jumlah Pembeli Night Market Ngarsapura ... 96
Gambar 4.42 Jumlah Pendapatan Pedagang Night Market Ngarsapura ... 97
Gambar 5.15 Pendapatan Pedagang Pasar Triwindu ... 84
Gambar 5.1 Pedestrian Jalan Ronggowarsito Sebelum ( Kiri) dan Sesudah ( Kanan) Penataan Kawasan ... 99
Gambar 5.2 Kondisi Pedestrian Jalan Diponegoro Sebelum ( Kiri) dan Sesudah ( Kanan) Penataan Kawasan ... 100
Gambar 5. 3 Kondisi Koridor Ngarsapura Sebelum ( Kiri) dan Sesudah ( Kanan) Penataan Kawasan ... 104
Gambar 5.6 Gambar Aksesisbilitas Pasar Ngarsapura ... 115 Gambar 5.7 Kondisi Tampak Depan Pasar Triwindu Sebelum (Kiri)
dan Setelah (Kanan) Renovasi Pasar ... 118 Gambar 5.8 Kondisi Bangunan Pasar Triwindu Sebelum (Kiri)
dan Setelah (Kanan) Renovasi Pasar ... 118 Gambar 5.9 Tanggapan Responden Terhadap Kualitas Sarana
dan Prasarana Pasar Triwindu ... 120 Gambar 5.10 Gambar Aksesibilitas Pasar Triwindu ... 124 Gambar 5.11 Tanggapan Responden Kualitas Sarana dan Prasarana
Night Market Ngarsapura ... 127
LAMPIRAN
ABSTRAK
Kawasan Ngarsapura berkaitan erat dengan budaya Kota Surakarta, namun tumbuh menjadi pusat perdagangan yang ternyata menurunkan kualitas lingkungan kawasan. Dalam mengembalikan citra Ngarsapura sebagai kawasan budaya, dilakukan program penataan kawasan yang terdiri dari empat program yaitu penataan koridor Ngarsapura (Jalan Diponegoro dan Jalan Ronggowarsito), pembangunan Pasar Ngarsapura, renovasi Pasar Triwindu serta pengembangan Night Market Ngarsapura.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi program penataan kawasan Ngarsapura dalam mengembangkan fisik, dan non fisik (ekonomi serta sosial budaya) kawasan Ngarsapura. Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan rasionalistik yang merupakan penggabungan metode kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis nya menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik dengan uji regresi linear sederhana. Teknik sampling menggunakan teknik purposive sampling dengan mengambil sampel Pedagang Pasar Ngarsapura, Pasar Triwindu dan Night Market Ngarsapura.
Dari analisa yang dilakukan diperoleh suatu kesimpulan bahwa program penataan koridor Ngarsapura meliputi perbaikan pedestrian, penataan bangunan serta peningkatan jalan dan utilitas lingkungan mampu meningkatkan kualitas fisik kawasan dan sebagai ruang terbuka publik kota mewadahi aktivitas ekonomi serta aktivitas sosial dan budaya. Penataan ini dapat mengembalikan image (citra visual) yang spesifik sebagai kawasan budaya. Penataan kawasan akan berpengaruh pada aspek ekonomi masyarakat dimana ternyata menurunkan aktivitas perdagangan baik Pasar Triwindu maupun Pasar Ngarsapura. Oleh karena itu penataan kawasan Ngarsapura dapat dikatakan masih belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat penghuninya.
ABSTRACT
Ngarsapura area closely related to the cultural city of Surakarta, but grew as a trade center that turned out to reduce the environmental quality of the region. In Ngarsapura restore the image as a cultural area, conducted restructuring program area consists of four programs, namely the arrangement of corridors Ngarsapura (Diponegoro street and Ronggowarsito street), Ngarsapura Market development, Triwindu Market renovation and Ngarsapura Night Market development.
This study aims to evaluate the program structuring Ngarsapura region in developing physical and non physical (economic and socio-cultural) Ngarsapura region. This study is a descriptive evaluative research using rationalistic approach which is an amalgamation of qualitative and quantitative methods. this analysis techniques use descriptive analysis of qualitative and statistic analysis with simple linear regression test. Sampling technique using a purposive sampling technique by taking samples the traders of Ngarsapura Market, Triwindu Market and Ngarsapura Night Market.
From the analysis carried out to obtain a conclusion that the arrangement of the program include improved pedestrian in corridor of Ngarsapura, the arrangement of buildings and the upgrading of roads and utility environment can improve the physical quality of the area and as public open space accommodate urban economic activities as well as social and cultural activities. This arrangement can restore the image (visual imagery) as a specific cultural area. Structuring the region will have an effect on the economic aspects of society which turned out to decrease the activity of trade both in Ngarsapura Market and Triwindu Market. Therefore, the arrangement of the region Ngarsapura can be said is still not able to improve the welfare of the community residents.
Key words: Structuring, Regions, Physical, Economic, Social and Cultural
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejarah awal mula Ngarsapura sangat berhubungan erat dengan keberadaan Pura Mangkunegaran. Nama Ngarsapura sendiri berasal dari dua kata yaitu ‘Ngarsa’ dan ‘Pura’. Ngarsa berarti Depan sedangkan Pura yang dimaksud adalah Pura Mangkunegaran. Pura Mangkunegaran sendiri adalah tempat tinggal KGPAA Mangkunegara dan keluarganya. Dahulu kawasan Ngarsapura dikenal dengan kawasan Pasar Pon. Penamaan pasar ini didasarkan pada tradisi penanggalan masyarakat Jawa yang menggunakan hari pasaran Jawa seperti Wage, Kliwon, Legi, Pahing, dan Pon. Pada jaman penjajahan Belanda, kawasan cukup ramai dengan kegiatan ekonomi masyarakat seperti pasar, pertokoan serta gedung pertunjukan (bioskop). Lokasi kawasan membentuk sumbu lurus dengan Pura Mangkunegaran, yang merupakan pemerintahan kedua setelah Keraton Kasunanan Surakarta. Berikut adalah gambar kawasan Ngarsapura pada masa 1930-an.
Salah satu elemen penting yang berada di kawasan Ngarsapura selain Pura Mangkunegaran adalah Pasar Triwindu. Pasar ini berada secara administratif termasuk dalam bagian wilayah Kelurahan Keprabon Kecamatan Banjarsari. Dilihat dari sejarahnya, Pasar Triwindu dibangun pada tahun 1939 untuk memperingati tiga windu bertahtanya Mangkunegara
Gambar 1.1 Kawasan Pasar Pon Singosarenweg (1936)
Sumber : Toponim Surakarta, Keragaman Budaya dalam Penamaan Ruang Kota ( Kementerian Kebudayan dan Pariwisata)
VII. Pasar ini memperdagangkan barang-barang seni dan antik yang terkenal di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Selain sangat erat hubungannya dengan aspek budaya,kawasan ini juga merupakan kawasan yang tumbuh pesat terutama dalam perdagangan elektronik serta alat-alat olahraga. Hal ini dapat dilihat pada banyaknya pertokoan tersebut yang berjajar di sepanjang Jalan Diponegoro dan Jalan Ronggowarsito. Aktivitas perdagangan semakin meningkat sehingga kawasan ini sering disebut juga sebagai pusat perdagangan barang elektronik dan alat olahraga. Namun ternyata hal ini berdampak besar pada perkembangan lingkungan kawasan. Keberadaan pertokoan tersebut membuat kondisi lingkungan menjadi kumuh dan tidak tertata. Selain menempati tanah milik negara, pertokoan tersebut membuat pergerakan atau sirkulasi lalu lintas di Jalan Diponegoro dan Jalan Ronggowarsito menjadi macet karena parkir kendaraan yang memakai badan jalan. Kondisi lingkungan kawasan juga mengalami kerusakan akibat pembangunan yang tidak terkendali sehingga sering terjadi banjir. Dari segi estetika kawasan, keberadaan pertokoan ini menganggu citra kawasan Ngarsapura yang erat dengan aspek budaya lokal. Oleh karena itu kawasan ini memiliki potensi begitu besar sebagai kawasan yang direkomendasikan untuk dilindungi atau dikonservasi karena terletak di lingkungan budaya Pura Mangkunegaran serta memiliki peruntukan yang bermacam-macam yaitu perdagangan, sekolah, serta permukiman.
Gambar 1.2 Kondisi Pasar Triwindu Sumber : Dokumen RTBL Ngarsapura
Dalam mengembalikan citra kawasan Ngarsapura sebagai kawasan budaya, maka dilakukan peremajaan kawasan. Kota Surakarta dibawah kepemimpinan Walikota Joko Widodo menciptakan program-program untuk meningkatkan pamor dan mempercantik wajah kota. Berbagai kebijakan pembangunan wilayah kota diberbagai sektor terus digalakkan untuk meningkatkan citra kota Surakarta sebagai kota budaya. Revitalisasi, renovasi, dan restorasi sebagai wujud dari peremajaan kawasan akan menjadikan Ngarsapura lebih berkarakter lokal, dan dapat mengungkap kembali nilai-nilai lokal masa lalu sera menjadi pusat kegiatan baru bagi aktivitas sosial, ekonomi dan seni-budaya. Penataan Ngarsapura meliputi pengembangan fisik dan non fisik. Pengembangan fisik berupa perencanaan tata bangunan dan tata lingkungan dengan tetap mempertahankan keaslian unsur-unsur kawasan serta arsitektur bangunan yang menjadi ciri khas kawasan. Pengembangan non fisik berupa arahan pengembangan ekonomi, sosial budaya, kepariwisataan lokal. Pengembangan sosial budaya (aktivitas seni dan budaya) yang ditingkatkan sebagai wujud pelestarian dan pengembangan terhadap seni budaya lokal khususnya, dan seni modern pada umumnya. Penataan kawasan dilakukan untuk mewujudkan Ngarsapura sebagai kawasan budaya yang bersifat urban dan menjadi aset bagi kepariwisataan lokal bagi Kota Surakarta.
Program penataan kawasan Ngarsapura ini terdiri dari empat program yaitu penataan koridor Ngarsapura yaitu Jalan Diponegoro dan Jalan Ronggowarsito, relokasi pedagang Jalan Diponegoro dan Jalan
Gambar 1.3 Kawasan Ngarsapura (Januari 2008) Sumber : Dokumen RTBL Ngarsapura
Ronggowarsito ke dalam bangunan vertikal yang dinamakan Pasar Ngarsapura, renovasi bangunan Pasar Triwindu serta pengembangan Night Market Ngarsapura untuk memperkenalkan produk khas Surakarta. Keempat program tersebut menjadi satu kesatuan yang diharapkan akan membangun kembali citra kawasan sebagai kawsan budaya serta menumbuhkan ekonomi serta wisata budaya baru di Kota Surakarta. Program ini dilaksanakan mulai tahun 2008 hingga tahun 2009.
Program-program yang telah selesai dan berjalan selama beberapa tahun tersebut ternyata masih belum berjalan sesuai yang diharapkan. Pembangunan fisik lingkungan kawasan tersebut mengalami peningkatan seperti pembangunan pedestrian, peningkatan jalan dan utilitas lingkungan serta pembangunan pasar menjadi bangunan permanen, modern serta dilengkapi dengan fasilitas penunjang pasar. Perubahan tatanan fisik lingkungan kawasan tersebut ternyata mampu mengubah kondisi non fisik terutama aktivitas perdagangan baik pada pertokoan elektronik maupun pada Pasar Triwindu. Secara fisik lingkungan mengalami peningkatan kualitas, namun ternyata membuat aktivitas perdagangan menurun. Hal ini dapat dilihat pada turunnya pendapatan sehingga membuat pedagang yang lebih memilih menutup kios mereka.
(1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh, (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan program tersebut.
Kegiatan evaluasi dilakukan kepada berbagai aspek yaitu dari segi fisik, sosial serta ekonomi kawasan. Evaluasi tersebut dilakukan sebagai penilaian atas kesesuaian antara tujuan dan konsep penataan kawasan terhadap penerapannya di suatu kawasan . Dengan adanya evaluasi program tersebut maka akan dapat dilihat bagaimana pengaruh yang ditimbulkan dari program tersebut dalam mengembangkan potensi-potensi kawasan di Kota Surakarta. Proses evaluasi ini merupakan suatu masukan (input) didalam perencanaan kedepan khususnya penataan kawasan yang berkesinambungan dan berdaya guna bagi masyarakat, lingkungan, dan keberadaannya didalam kawasan Kota Surakarta.
1.2. Rumusan Masalah
Program penataan kawasan Ngarsapura ini terdiri dari empat program yaitu penataan koridor Ngarsapura (Jalan Diponegoro dan Jalan Ronggowarsito), pembangunan Pasar Ngarsapura elektronik, renovasi bangunan Pasar Triwindu serta pengembangan Night Market Ngarsapura. Program-program ini dilaksanakan mulai tahun 2008 hingga tahun 2009.
Berdasarkan uraian latar belakang, maka identifikasi masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana program penataan kawasan dalam mengembangkan fisik, dan non fisik (ekonomi serta sosial budaya) kawasan Ngarsapura.
1.3. Tujuan dan Sasaran Penelitian 1.3.1.Tujuan
Mengevaluasi program penataan kawasan Ngarsapura dalam mengembangkan fisik, dan non fisik (ekonomi serta sosial budaya) kawasan Ngarsapura.
1.3.2.Sasaran
a. Mengidentifikasi konsep serta implementasi program penataan kawasan Ngarsapura.
b. Mengidentifikasi kondisi fisik dan non fisik (sosial budaya-ekonomi) kawasan Ngarsapura pasca program penataan kawasan.
c. Melakukan evaluasi program penataan kawasan Ngarsapura dalam mengembangkan fisik, dan non fisik (ekonomi serta sosial budaya) kawasan Ngarsapura.
d. Membuat kesimpulan dan rekomendasi dari hasil evaluasi program penataan kawasan Ngarsapura
1.4. Manfaat Penelitian
a. Bagi pembaca, memberikan informasi mengenai konsep program penataan kawasan Ngarsapura serta permasalahan yang timbul pasca program penataan. Selain itu juga menambah wawasan dan pengetahuan tentang evaluasi penataan kawasan pada kondisi fisik, ekonomi serta sosial budaya kawasan Ngarsapura.
b. Bagi Pemerintah Daerah Kota Surakarta, dapat memberikan masukan dalam upaya tindak lanjut program penataan kawasan Ngarsapura berdasarkan hasil penelitian di lapangan.
c. Bagi masyarakat setempat merupakan obyek utama yang terpengaruh oleh adanya penataan kawasan, sehingga dengan adanya penelitian ini
maka dapat dijadikan masukan bagi masyarakat mengenai kondisi yang ada akibat penatan kawasan. Selain itu juga dapat melakukan suatu tindakan sebagai upaya pengembangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian 1.5.1.Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah yang digunakan dalam penelitian ini adalah kawasan Ngarsapura. Kawasan Ngarsapura masuk dalam Kelurahan Keprabon dan Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari. Batasan yang digunakan bukan merupakan batasan fisik atau administratif melainkan batasan fungsional dari kawasan Ngarsapura. Batasan fungsional tersebut disesuaikan dengan lingkup wilayah program penataan kawasan Ngarsapura. Batasannya meliputi koridor Ngarsapura yaitu Jalan Diponegoro dan penggal Jalan Ronggowarsito, bangunan terdiri dari bangunan Pasar Ngarsapura serta Pasar Triwindu. Bangunan Pasar Triwindu termasuk dalam Kelurahan Keprabon sedangkan Pasar Ngarsapura termasuk dalam Kelurahan Timuran.
1.5.2.Ruang Lingkup Materi
Materi yang akan dibahas meliputi konsep program penataan serta kondisi fisik dan non fisik kawasan Ngarsapura pasca penataan kawasan. Penilaian dilakukan pada aspek fisik dan non fisik kawasan. Aspek fisik terdiri pedestrian, bangunan, jalan serta utilitas koridor Jalan Diponegoro dan Jalan Ronggowarsito, kondisi bangunan pasar beserta fasilitas penunjang pasar. Sedangkan untuk aspek non fisiknya antara lain tingkat ekonomi pedagang pasar baik Pasar Ngarsapura, Pasar Triwindu maupun Night Market Ngarsapura serta aktivitas ekonomi, sosial budaya yang terjadi di koridor Ngarsapura.
1.1.Kerangka Pikir
Gambar 1.5 Kerangka Pikir
Bagaimana program penataan kawasan dalam mengembangkan fisik, dan non fisik (ekonomi serta sosial budaya) kawasan Ngarsapura.
1.2. Sistematika Pembahasan
Sistematika Pembahasan dalam studi Evaluasi Program Penataan Kawasan Ngarsapura terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, manfaat studi, ruang lingkup wilayah, ruang lingkup substansional, kerangka pikir dan sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi teori-teori yang mendasari studi ini, yang diperoleh dari literatur serta berbagai media informasi, penelitian, seminar, workshop, dan lainnya yang digunakan sebagai dasar acuan. Kajian pustaka terdiri dari teori perancangan kawasan, peremajaan dan revitalisasi kawasan serta tinjauan pasar serta fasilitas pasar.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Berisi metode-metode yang digunakan terdiri dari tipe penelitian, pendekatan penelitian, variabel penelitian, langkah-langkah penelitian dari tahap persiapan, pengumpulan data serta metode analisis penelitian.
BAB IV GAMBARAN UMUM KAWASAN NGARSAPURA
Berisi program penataan kawasan serta kondisi fisik kawasan ngarsapura yang terdiri dari koridor Ngarsapura, bangunan serta jalan dan utilitas lingkungan pasca penataan kawasan. Sedangkan kondisi non fisik yang terdiri dari aktivitas ekonomi dan aktivitas sosial-budaya pasca penataan kawasan.
BAB V ANALISIS KONDISI KAWASAN NGARSAPURA PASCA PENATAAN KAWASAN
Pada bagian ini berisi tentang analisis studi yang menggunakan teori dan metode penelitian deskriptif kualiitatif terhadap kondisi fisik dan non fisik kawasan pasca penataan kawasan. Análisis terdiri dari análisis koridor Ngarsapura, análisis kondisi Pasar
Ngarsapura, análisis kondisi Pasar Triwindu, dan análisis kondisi Night Market Ngarsapura.
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berisi kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada kondisi fisik, dan non fisik
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Elemen Perancangan Kawasan
Perancangan kawasan merupakan elemen penting dalam perwujudan ruang kota yang berkualitas tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan ruang tersebut di dalam membentuk pola hidup masyarakat urban yang sehat. Untuk itu maka unsur-unsur arsitektur kota yang berpengaruh terhadap proses pembentukan ruang yang dimaksud harus diarahkan serta dikendalikan perancangannya sesuai dengan skenario pembangunan yang telah digariskan. Unsur-unsur di atas, biasa juga dikenal dengan istilah elemen rancang kota. Shirvani Hamid (1985), mengklasifikasikan elemen perancangan kawasan (urban design) dalam delapan kategori berikut :
2.1.1.Tata Guna Lahan ( Land Use)
Pada prinsipnya land use adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga secara umum dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah pada suatu kawasan seharusnya berfungsi. Land use bermanfaat untuk pengembangan sekaligus pengendalian investasi pembangunan. Pada skala makro, land use lebih bersifat multifungsi / mixed use. Tata guna lahan dirancang dan dikembangkan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tata guna lahan, hal tersebut untuk menginteraksikan antara rancangan dan kebijaksanaan bagi peruntukan fungsi-fungsi yang tepat pada areal tertentu (khusus). Problem rancangan tata guna lahan di masa lampau adalah, kurangnya pemahaman keanekaragaman peruntukkan lahan yang berskala kawasan, kegagalan dalam mempertimbangkan faktor-faktor fisik, lingkungan alamiah dan infrastruktur.
penggunaan yang diijinkan dalam suatu area, hubungan fungsi kota, jumlah maksimum lantai yang diijinkan, skala dan perkembangan kota baru sebagai pendorong perkembangan kota pada kawasan yang spesifik.
2.1.2.Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing)
Bentuk dan massa bangunan ditentukan oleh ketinggian atau besarnya bangunan, penampilan bentuk maupun konfigurasi dari massa bangunannya, besaran selubung bangunan (building envelope), BCR (KDB) dan FAR (KLB), ketinggian bangunan, sempadan bangunan, ragam arsitektur, skala, material, warna dan sebagainya.
Sedangkan Spreiregen (1965) membuat sintesa mengenai bentuk dan massa bangunan, yang meliputi skala, berhubungan dengan pandangan, sirkulasi, ukuran bangunan yang berdekatan. Ruang kota merupakan elemen utama perancangan kota, skala dan rasa terlingkupi (sence of enclosure) serta macam ruang dan massa bangunan.
2.1.3.Sirkulasi dan Parkir (Circulation and Parking )
Diperlukan suatu manajemen transportasi yang menyeluruh terkait dengan masalah sirkulasi kota. Di sebagian besar negara maju sudah dicanangkan atau digencarkan penggunaan moda transportasi umum (mass transport) dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Selain kebutuhan ruang untuk bergerak, moda transport juga membutuhkan tempat untuk berhenti (parkir). Kebutuhan parkir semakin meningkat terutama di pusat-pusat kegiatan kota. Parkir memiliki dua pengaruh yang dapat mempengaruhi kualitas lingkungan, yaitu kelangsungan kegiatan komersial di pusat kota dan perwajahan atau bentukan fisik kota yang harus diamati. Menurut Dirjen Perhubungan Darat Tahun 1998, parkir dibedakan atas parkir pada badan jalan (on street parking) dan parkir di luar badan jalan (off street parking). Parkir pada badan jalan (on street parking) sangat dipengaruhi oleh sudut parkir, lokasi parkir dan panjang jalan yang digunakan untuk parkir. dalam penempatan fasilitas parkir di luar badan jalan (off street parking) dikelompokkan atas dua bagian, yakni:
ü Fasilitas untuk umum yaitu tempat parkir berupa gedung parkir atau taman parkir untuk umum yang diusahakan sebagai kegiatan sendiri. ü Fasilitas parkir penunjang yaitu berupa gedung parkir atau taman parkir
yang disediakan untuk menunjang kegiatan pada bangunan utama. Shirvani (1985) menyatakan bahwa perparkiran memiliki dua pengaruh langsung terhadap kualitas lingkungan perkotaan yaitu: kelangsungan aktivitas kota, dimana di dalamnya terdapat masalah parkir serta menimbulkan visual impact (dampak visual) yang negatif terhadap bentuk fisik dan struktur kota. Suatu lingkungan yang tidak menyenangkan terutama di daerah perkotaan dan pusat perdagangan sering dihubungkan dengan keadaan parkir kendaraan yang tidak tertib dan terkesan semrawut. Nilai arsitektur kota dapat berkurang sebagai akibat kesemrawutan kota. Pada sisi yang lain, parkir sangat dibutuhkan sekali terutama pada pusat-pusat kegiatan, hal ini memudahkan untuk mencapai akses dari jalan yang akan dituju.
2.1.4.Ruang Terbuka (Open Space)
Elemen lansekap terdiri dari elemen keras (hardscape seperti : jalan, trotoar, patun, bebatuan dan sebagainya) serta elemen lunak (softscape) berupa tanaman dan air. Dalam perencanan open space akan dengan perabot taman / jalan (street furniture) seperti lampu, tempat sampah, papan nama, bangku dan sebagainya. Bentuk ruang terbuka menurut Rob Krier dalam Urban Space (1979) diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Berbentuk memanjang, yaitu : ruang terbuka umumnya hanya mempunyai batas-batas di sisi-sisinya, misalnya : jalan, sungai, pedestrian, dan lain-lain. Ruang terbuka ini menciptakan suatu koridor. b. Berbentuk cluster, yaitu : ruang terbuka ini mempunyai batas-batas di
sekelilingnya, misalnya : plasa, square, lapangan, bundaran , dll. Ruang terbuka ini membentuk kantong-kantong yang berfungsi sebagai ruang-ruang akumulasi aktifitas kegiatan masyarakat kota.
Rustam Hakim (1997) meninjau ruang terbuka dari kegiatannya yang menurutnya dapat dibagi ke dalam dua kategori. Ruang terbuka aktif yang mengundang unsur-unsur kegiatan di dalamnya seperti bermain, olahraga, upacara, bersantai, berjalan-jalan, berkomunikasi dan lain-lain. Ruang ini dapat berupa plaza, lapangan olah raga, area bermain, penghijauan di tepi sungai, dan lain-lain. Ruang terbuka pasif yang di dalamnya tidak mengandung kegiatan manusia seperti lahan hijau yang digunakan sebagai jarak terhadap rel kereta api, jalur hijau pembatas jalan bebas hambatan, dan lain-lain.
Untuk itu, secara umum, fungsi ruang terbuka itu sendiri dapat dibagi ke dalam empat macam diantaranya fungsi ekologik (paru-paru kota, pengatur iklim mikro, pengatur dan pengendali sistem air tanah), fungsi fisik (peneduh, penahan angin), fungsi sosial budaya (tempat rekreasi, olah raga), dan fungsi estetika (memperindah lingkungan). Sebagai fungsi sosial budaya bagi masyarakat perkotaan, ruang terbuka merupakan ruang umum (public space) yang selain memenuhi fungsi sebagai tempat (places) beraktivitas juga memiliki arti yang sangat penting bagi cermin kehidupan masyarakat pada kota dimana ruang tersebut berada. Penggunaan secara sadar oleh masyarakat telah memberikan implikasi yang luas terhadap keberadaan ruang terbuka , baik positif maupun negatif.
Stephen Carr, dkk (1992) melihat ruang terbuka publik sebagai ruang wadah aktivitas sosial yang melayani dan juga mempengaruhi kehidupan masyarakat kota. Ruang terbuka juga merupakan wadah dari kegiatan fungsional maupun aktivitas ritual yang mempertemukan sekelompok masyarakat dalam rutinitas normal kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan periodic. Ruang terbuka publik adalah simpul dan sarana komunikasi pengikat sosial untuk menciptakan interaksi antarkelompok masyarakat. Secara umum, tujuan ruang terbuka publik adalah:
ü Kesejahteraan Masyarakat, menjadi motivasi dasar penciptaan dan pengembangan ruang terbuka publik yang menyediakan jalur untuk pergerakan, pusat komunikasi, dan tempat untuk bebas dan santai. ü Peningkatan Visual (Visual Enhancement), keberadaan ruang publik di
suatu kota akan meningkatkan kualitas visual kota tersebut menjadi lebih manusiawi, harmonis, dan indah.
ü Peningkatan Lingkungan (Environmental Enhancement), penghijauan pada suatu ruang terbuka publik sebagai sebuah nilai estetika juga paru-paru kota yang memberikan udara segar.
ü Pengembangan Ekonomi (Economic Development) adalah tujuan yang umum dalam penciptaan dan pengembangan ruang terbuka publik. ü Peningkatan Kesan (Image Enhancement) merupakan tujuan yang tidak
tertulis secara jelas dalam kerangka penciptaan suatu ruang terbuka publik namun selalu ingin dicapai.
2.1.5.Jalur Pedestrian (Pedestrian Ways)
Sistem pedestrian yang baik akan mengurangi keterikatan terhadap kendaraan di kawasan pusat kota, mempertinggi kualitas lingkungan melalui sistem perancangan yang manusiawi, menciptakan kegiatan pedagang kaki lima yang lebih banyak dan akhirnya akan membantu kualitas udara di kawasan tersebut. Dalam perancangan jalur pedestrian perlu diperhitungkan keseimbangan antara jumlah pejalan kaki dan pemakai jalan serta keseimbangan antara penggunaan jalur pedestrian guna mendukung ruang-ruang umum yang ada. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah keselamatan dan ketersediaan ruang yang cukup bagi para pejalan kaki tersebut. Sedangkan kriteria sebagai bahan pertimbangan dalam perancangan jalur pedestrian adalah kesesuaian, skala, material, perlengkapan perabot jalan dan pedagang eceran. Melalui perencanaan dan perancangan elemen-elemen pembentuk visual pedestrian ini akan menghadirkan citra kawasan.
Jalur pejalan kaki yang terletak pada Ruang Milik Jalan (Rumija) yang diberi lapisan permukaan dengan elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan. Untuk penyediaan fasilitas pejalan kaki mengacu pada Peraturan Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki Di Kawasan Perkotaan yang dibuat oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Bina Marga Tahun 1995. Ketentuan teknis trotoar sebagai jalur pejalan kaki adalah sebagai berikut:
- Lebar trotoar harus leluasa, minimal bila dua orang pejalan kaki berpapasan, salah satu diantaranya tidak harus turun ke jalan
- Lebar minimum trotoar adalah 1,50 meter
- Untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada pejalan kaki maka jalur harus diperkeras, dan apabila mempunyai perbedaan tinggi dengan sekitarnya harus diberi pembatas.
- Perkerasan dapat dibuat dari blok beton, beton, perkerasan aspal atau plester. Permukaan harus rata dan mempunyai kemiringan melintang 2-4% supaya tidak terjadi genangan air. Kemiringan memanjang disesuaikan dengan kemiringan memanjang jalan dan disarankan kemiringan maksimum adalah 10%.
Elemen Pendukung Jalur Pedestrian (street furniture) menurut (Rubenstein, 1992) antara lain:
· Paving, pemilihan paving dipengaruhi oleh skala, pola, warna dan tekstur. Material paving dibedakan : cocrete (beton), brick (batu bata), stone (batu), asphalt (aspal)
· Lampu penerangan untuk memberikan keamanan bagi pejalan kaki. Lampu penerangan diperlukan untuk menjamin keamanan dan keselamatan pejalan kaki. Lampu penerangan diutamakan ditempatkan di jalur penyeberangan pejalan kaki, dengan lampu yang cukup terang dan tidak menyilaukan pengguna jalan. Dirjen Bina Marga dalam Tata Cara Perencanaan Teknik Lanskap Jalan (1996) menyebutkan lampu penerangan khusus pejalan kaki memiliki kriteria sebagai berikut:
- tinggi lampu 4-6 meter
- jarak interval 10-15 meter, tidak menimbulkan blankspot
- mengakomodasi tempat untuk menggantung umbul-umbul/banner - kriteria desain yang sederhana, geometris, modern dan fungsional.
· Sign, berfungsi sebagai identitas mall, rambu lalu lintas, identitas daerah perdagangan, memberi informasi lokasi atau aktivitas
· Sculpture, sebagai eye cathing, pemanis dalam sebuah ruang terbuka
· Bollards, semacam balok-balok batu sebagai barrier atau pembatas antara jalur pedestrian dan jalur kendaraan pada pedestrian tipe semi mall. Bollards ini biasanya dikombinasikan dengan lampu jalan.
· Shelter (pelindung/peneduh),Shelter bisa berbentuk linier sebagai corridor atau sitting group yang fungsinya bisa berupa tempat istirahat atau halte
· Tanaman Peneduh, persyaratan pemilihan pohon peneduh menurut Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum adalah sebagai berikut:
- Mempunyai batang dan percabangan yang kuat, tidak mudah patah.
- Struktur percabangan tegak/semi tegak, tidak jatuh menjuntai.
- Percabangan 2 m di atas tanah.
- Bentuk percabangan batang tidak merunduk.
- Bermassa daun padat.
- Ditanam secara berbaris
- Pertumbuhan tajuk tidak menghalangi jalan.
2.1.6.Tanda-tanda (Signage)
2.1.7.Pendukung Kegiatan (Activity Support )
Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk, lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan-kegiatannya. Penciptaan kegiatan harus mempertimbangkan fungsi utama dan penggunaan elemen-elemen kota yang dapat menggerakkan aktivitas, misalnya : perbelanjaan, taman rekreasi, perkantoran, dan sebagainya.
Activity support dapat berperan sebagai komunitas agar dapat menciptakan dialog atau kualitas ruang kota yang menerus antara fungsi kegiatan yang satu dengan fungsi yang lain, sekaligus dapat memberikan image (citra visual) yang spesifik pada kawasan kota. Hal ini dapat menghadirkan identitas serta karakteristik lokal yang meliputi seluruh penggunaan dan yang membantu memperkuat ruang-ruang umum kota yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Bentuk lokasi dan karakter suatu kawasan tertentu akan menarik fungsi-fungsi dan aktivitas yang khas. Sebaliknya suatu aktivitas cenderung dialokasikan dalam suatu tempat yang dapat cepat menyesuaikan keperluan-keperluan dan kegiatan itu. Saling ketergantungan antara ruang dan penggunaan merupakan elemen yang penting dalam perancangan kota. Pendukung aktivitas bukan berarti hanya penyediaan plaza dan jalur pedestrian saja, namun juga mempertimbangkan elemen-elemen penggunaan fungsional kota yang membangkitkan aktivitas.
Karakteristik bangunan, koridor dan jenis guna lahan mempengaruhi aktivitas manusia di dalamnya. Bangunan dan guna lahan yang kompak dapat menciptakan aktivitas sosial yang baik. Koridor memiliki fungsi menghubungkan antara daerah yang satu dengan yang lain, dan hal tersebut sangat berkait erat dengan awal dan akhir maupun tujuan suatu pergerakan. Selain itu, fungsi merupakan hal utama yang berkaitan dengan wajah sebuah koridor yang dapat dibedakan sebagai berikut (Vhardani, 2003):
· Koridor komersial, merupakan koridor dimana kehidupan dan pergerakannya dipacu oleh aktivitas komersial yang memberikan kontribusi vital pada pertumbuhan kota. Suasana tragic/comic ditimbulkan melalui deretan toko, penanda, pedestrian, dan sebagainya.
· Koridor permukiman, merupakan bagian terbesar dari area kota
· Koridor multifungsi, terjadi akibat adanya perubahan fungsi, sehingga koridor yang terbentuk tidak dapat secara tegas dinyatakan fungsinya.
Sistem kegiatan suatu wilayah/koridor mempengaruhi keinginan seseorang untuk berjalan kaki di lokasi tersebut. Menurut Kamil (2002:2), tiga prinsip dasar dalam menciptakan koridor yang memiliki aktivitas sosial terutama pejalan kaki yang ramai adalah sebagai berikut:
ü Densitas yang optimal. Pada dasarnya koridor jalan yang penuh dengan bangunan umumnya lebih berpotensi sebagai pedestrian generator yang akan melahirkan keaktifan sosial yang ramai dan menyenangkan.
ü Tata guna lahan yang mendukung. Tata guna lahan yang berorientasi pada publik seperti halnya jasa/perdagangan umumnya sangat membantu dalam mengaktifkan kegiatan publik di koridor jalan.
ü Koridor Jalan yang didesain dengan baik dan cermat. Koridor jalan haruslah didesain sangat spesifik mengikuti karakter sosial, ekonomi dan budaya lokal. Koridor jalan yang yang didesain dengan cermat umumnya menjadi ruang publik yang dominan dan seringkali menjadi tujuan wisata baik lokal maupun internasional.
dapat saling melihat dan dilihat (see and to be seen). Pada fungsi ini, ruang jalan juga sekaligus berfungsi sebagai ruang untuk berkomunikasi (communication space). Ketersediaan street furniture sangat penting dalam kaitannya dengan fungsi ini.
2.1.8.Konservasi ( Conservation )
Konservasi suatu individual bangunan harus selalu dikaitkan dengan keseluruhan kota. Konsep tentang konservasi kota memperhatikan beberapa aspek,antara lain: bangunan-bangunan tunggal, struktur dan gaya arsitektur, hal yang berkaitan dengan kegunaan, umur bangunan atau kelayakan bangunan. Beberapa kategori konservasi antara lain preservasi (preservation), konservasi (conservation), rehabilitasi (rehabilitation), revitalisasi (revitalitation) dan peningkatan (improvement).
Berbagai macam jenis pelestarian dirangkum dari tulisan Catanese & Snyder (1979), dan Fitch (1982), sebagai berikut:
· Preservasi, adalah suatu upaya untuk melindungi/menjaga bangunan, monumen, dan lingkungan dan kerusakan, serta mencegah proses kerusakan yang terjadi.
· Konservasi, adalah upaya mempreservasikan bangunan agar penggunaan lebih efisien, dan mengarahkan perkembangan di masa depan.
· Restorasi, adalah pengembalian kondisi fisik bangunan seperti sedia kala dengan membuang elemen-elemen tambahan dan memasang kembali bagian-bagian orisinil yung telah rusak atau menurun, sehingga dapat berfungsi kembali seperti sedia kala.
· Rehabilitasi, adalah pengembalian kondisi bangunan yang telah rusak atau menurun, sehingga dapat berfungsi kembali seperti sedia kala.
· Renovasi, adalah tindakan merubah interior bangunan, baik itu sebagian maupun keseluruhan, sehubungan dengan adaptasi bangunan tersebut terhadap bangunan baru atau konsep-konsep modern.
· Rekonstruksi, adalah upaya mengembalikan atau membangun kembali semirip mungkin dengan penampilan orisinil yang diketahui.
· Adaptasi, yaitu segala upaya dalam mengubah suatu tempat agar dapat digunakan untuk fungsi baru yang sesuai.
· Replikasi, yaitu pembangunan bangunan baru yang meniru unsur-unsur atau bentuk-bentuk bangunan lama yang sebelumnya ada tetapi sudah hancur atau musnah.
Di dalam menentukan arah pembangunan suatu kawasan atau bangunan, perlu adanya motivasi-motivasi pelestarian, antara lain (Attoe dalam Cataanese dan Snyder, 1986, Sidharta dan Budihardjo, 1989) :
- Melindungi warisan budaya atau warisan sejarah.
- Menjamin terwujudnya variasi dalam bangunan perkotaan sebagai
tuntutan aspek estetis dan variasi budaya masyarakat.
- Motivasi ekonomis, yang memandang bangunan-bangunan yang
dilestarikan tersebut dapat meningkat nilainya apabila dipelihara dengan baik, sehingga memiliki nilai komersial yang digunakan sebagai modal lingkungan.
- Motivasi simbolis, dimana kelompok bangunan terkadang dikaitkan
dengan kelompok orang tertentu, sehingga bangunan-bangunan itu merupakan manifestasi fisik dari identitas suatu kelompok tertentu yang pernah menjadi bagian dari kota.
2.2. Pengertian Peremajaan dan Revitalisasi Kawasan 2.2.1.Pengertian Peremajaan
menguasai, menata dan merehabilitasi atau membangun kembali suatu bagian wilayah kota yang telah rusak untuk dapat menampung kegiatan-kegiatan yang konsisten dengan rencana kota yang ada. Sebagai suatu program peremajaan kota dapat merupakan bagian dari suatu kegiatan pelaksanaan pembangunan kota yang terkoordinir dan terpadu. Pengertian peremajaan kota yang lain (Mochtarram, 1993), yaitu sebagai berikut :
- Menurut Grebler; peremajaan kota adalah usaha perubahan lingkungan
perkotaaan yang disesuaikan dengan rencana dan perubahan tersebut dilakukan secara besar-besaran untuk dapat memenuhi tuntutan baru kehidupan di kota.
- Menurut Parry Lewis; peremajaan kota adalah pembongkaran secara
besar-besaran dari bangunan yang pada umumnya sudah tua agar terdapat lahan kosong yang cukup besar sehingga dapat direncanakan dan dibangun kelompok bangunan baru, jalan dan ruang terbuka.
- Menurut Weimer dan Hoyt; peremajaan kota adalah meliputi
usaha-usaha rehabilitasi untuk memperbaiki struktur di bawah standar sehingga memenuhi standar yang seharusnya; konservasi adalah menyangkut rehabilitasi dan pemeliharaan dengan maksud meningkatkan mutu suatu daerah; redevelopment yaitu pembongkaran, pembersihan dan pembangunan kembali suatu daerah.
- Menurut Danisworo yaitu peremajaan kota dapat diartikan sebagai salah
satu pendekatan dalam proses perencanaan kota yang diterapkan untuk menata kembali suatu kawasan di dalam kota dengan tujuan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih memadai dari kawasan kota tersebut sesuai dengan potensi serta nilai ekonomi yang dimilikinya.
kondisi bangunan dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat. Menurut Chapin (1965) kerusakan kawasan perkotaan terdiri atas dua macam,yaitu :
ü Kerusakan yang sederhana/ringan (“simple form of urban blight”), meliputi : kerusakan-kerusakan struktural, tidak ada fasilitas sanitasi, pemeliharaan lingkungan yang elementer kurang, penumpukan sampah, bau/bising, kekurangan fasilitas sosial, dan sebagainya.
ü Kerusakan kawasan kota yang kompleks/rumit (“complex form of urban blight”), meliputi : tata guna lahan yang campur aduk, pembagian dari blok-blok rumah dan jalan-jalan yang tidak praktis, kondisi yang tidak sehat, keadaan yang tidak aman serta membahayakan, dan sebagainya.
Peremajaan kota dilakukan dengan pertimbangan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi. Faktor pertimbangan ekonomi, menurut Richardson (Dritasto, dkk., 1998) ada dua hal yang mengakibatkan diperlukannya usaha peremajaan kota, yaitu keadaan buruk perumahan penduduk berpenghasilan rendah di pusat kota.
Serta adanya kebutuhan akan lokasi di pusat kota untuk kegiatan komersial maupun perumahan penduduk berpenghasilan tinggi. Menurut, Davis dan Winston (Dritasto, dkk, 1998) eksternalitas negatif dapat mendorong kemerosotan fisik suatu lingkungan karena nilai maupun manfaat suatu bangunan yang merupakan komponen dari lingkungan tersebut sangat tergantung pada perwatakan lingkungannya. Faktor pertimbangan non-ekonomi, yaitu adanya keuntungan dari segi sosial akibat perbaikan fisik, seperti peningkatan kesehatan masyarakat, berkurangnya bahaya kebakaran dan tindak kejahatan yang berkurang. Selain itu, pertimbangan non-ekonomi adalah dengan meningkatnya kenyamanan dan nilai estetis suatu bagian wilayah kota. Hal ini dapat menumbuhkan perasaan bangga bagi warganya.
2.2.2.Pengertian Revitalisasi
Revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi. Skala revitalisasi ada tingkatan makro dan mikro. Skala upaya revitalisasi bisa terjadi pada tingkatan mikro kota, seperti pada sebuah jalan, atau bahkan skala bangunan, akan tetapi juga bisa mencakup kawasan kota yang lebih luas. Apapun skalanya tujuannya adalah sama, yaitu memberikan kehidupan baru yang produktif yang akan mampu memberikan kontribusi positif pada kehidupan sosial-budaya, terutama kehidupan ekonomi kota. Proses revitalisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial.
Pendekatan revitalisasi harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan (sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra tempat) (Danisworo, 2002). Gejala penurunan kualitas fisik dapat dengan mudah diamati pada kawasan kota bersejarah/tua, karena sebagai bagian dari perjalanan sejarah (pusat kegiatan perekonomian dan sosial budaya), kawasan kota tersebut umumnya berada dalam tekanan pembangunan. Namun bukan berarti bahwa kegiatan revitalisasi hanya terbatas kawasan kota bersejarah/tua.
Untuk melaksanakan revitalisasi perlu adanya keterlibatan masyarakat. Keterlibatan yang dimaksud bukan sekedar ikut serta untuk mendukung aspek formalitas yang memerlukan adanya partisipasi masyarakat, selain itu masyarakat yang terlibat tidak hanya masyarakat di lingkungan tersebut saja, tapi masyarakat dalam arti luas . Revitalisasi dapat menjadi alternatif dalam memecahkan masalah pelestarian wajah kota lama, dan kebutuhan ruang teratasi dengan meminimalisasikan pudarnya eksistensi kota lama. Pada dasarnya proses revitalisasi kota terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut: intervensi fisik; rehabilitasi ekonomi; dan revitalisasi sosial/institusional.
a. Intervensi Fisik
Intervensi fisik mengawali kegiatan fisik revitalisasi dan dilakukan secara bertahap, meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan ruang terbuka kawasan (urban realm). Mengingat citra kawasan sangat erat kaitannya dengan kondisi visual kawasan, khususnya dalam menarik kegiatan dan pengunjung, intervensi fisik ini perlu dilakukan. Isu lingkungan (environmental sustainability) pun menjadi penting, sehingga intervensi fisik pun sudah semestinya memperhatikan konteks lingkungan. Perencanaan fisik tetap harus dilandasi pemikiran jangka panjang. Dalam arah perancangan kota, intervensi fisik bangunan baru pada kawasan konservasi yang dilestarikan dapat dilakukan melalui pendekatan-pendekatan yang berlandaskan pada teori-teori berikut:
· Architecture in Context (Brolin, 1980) ; bertujuan untuk mempelajari bagaimana merancang kaitan visual yang baik dalam menjalin hubungan bangunan baru ke dalam lingkungan yang lama.
· Adaptive Use (Fitch, 1992) ; merupakan pendekatan dengan menggunakan bangunan bersejarah untuk fungsi/ kegiatan sesuai dengan pertimbangan perkembangan kebutuhan, misalnya nilai ekonomi.
b. Rehabilitasi Ekonomi
Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi. Perbaikan fisik kawasan yang bersifat jangka pendek, diharapkan bisa mengakomodasi kegiatan ekonomi informal dan formal (local economic development), sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi kawasan kota (P. Hall/U. Pfeiffer, 2001 dalam Wongso, 2006).
c. Revitalisasi Sosial/Institusional
Keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang menarik (interesting), jadi bukan sekedar membuat beautiful place. Maksudnya, kegiatan tersebut harus berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/warga (public realms). Sudah menjadi sebuah tuntutan yang logis, bahwa kegiatan perancangan dan pembangunan kota untuk menciptakan lingkungan sosial yang berjati diri (place making) dan hal ini pun selanjutnya perlu didukung oleh suatu pengembangan institusi yang baik.
2.3. Tinjauan Pasar 2.3.1.Pengertian Pasar
Kata Pasar diduga dari kata Sansekerta yang dilaksanakan sekali dalam 5 hari Jawa. Kegiatan utama dalam pasar adalah interaksi sosial dan ekonomi dalam satu peristiwa. Berkumpul dalam arti saling ketemu muka dan berjual pada hari pasaran menjadi semacam panggilan sosial periodik (Wiryomartono, 1995). Sedangkan menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, pengertian pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional,pertokoan,mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya. Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah daerah, swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko,kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.
Definisi istilah pasar tradisional digunakan untuk menunjukkan tempat bagi perdagangan pasar yang asli setempat yang sudah berlangsung sejak lama. Suatu pasar yang baru dibangun 10 tahun terakhir, misalnya, dapat dimasukkan dalam jenis pasar tradisional karena perdagangannya menggunakan cara-cara tradisional. (Brookfield, 1969). Sedangkan dalam Wiryomartono (1995) diungkap bahwa pasar di Jawa merupakan kegiatan yang rutin dimana aktivitas sosial ekonomi terjadi dan berkembang. Pasar di dalam kehidupan urban Jawa menjadi masyarakat sekitarnya untuk menukar, menjualbelikan produksi pertanian maupun industri rumahtangga. Isi dari pasar diperkaya oleh kesempatan-kesempatan atraksi yang bersifat rekreatif sebagai selingan kegiatan rutin.
adalah masyarakat kecil. Implikasinya pasar tradisional mempunyai nilai strategis yang tinggi dalam memelihara keseimbangan pembangunan wilayah dan pengendali roda perekonomian. Seiring dengan kegiatan perdagangan, tumbuhlah kegiatan pemerintahan, kebudayaan, dan rekreasi disekitar pasar tersebut. Makin lama kegiatan tersebut makin komplek dan berkembang, maka tumbuhlah suatu kota (Bintarto, 1977). Sedangkan Max Weber memandang suatu tempat itu kota, jika penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar setempat (Daldjoeni,1998). Pasar tidak selalu muncul dengan sendirinya atau dibuat dengan sengaja. Pasar semacam ini dibuat biasanya disebabkan oleh keinginan penguasa setempat untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat. Timbulnya pasar-pasar di pusat kerajaan seperti Kotagede, Kerta, Plered, Kartasura, Surakarta dan Yogyakarta merupakan contoh yang nyata (Sutjipto, 1970).
2.3.2.Tipe dan Ciri-ciri Pasar
Sejarah perkembangan pasar tradisional, pada mulanya terjadi dari ruang terbuka dengan sebuah naungan pepohonan, tanpa ada batas fisik yang permanen. Kebutuhan adanya naungan yang lebih melahirkan fisik bangunan yang disebut dengan los. Pada perkembangan berikutnya komposisi los tidak hanya sekedar naungan tetapi juga mempertimbangkan sirkulasi udara dan alur pencahayaan alami. Pada dekade 1920-1935, di Jawa, sejumlah pasar didirikan oleh pemerintah kolonial. Ciri fisik ditandai oleh komposisi los besi yang membentuk alur barat timur sesuai dengan penyinaran matahari. (Sunoko, 2006). Menurut Vagale (1972), pasar memiliki karakter yang berbeda berdasarkan :
a. Skala Transaksi (the scale of transaction)
· Skala Kota yang ruang lingkup transaksinya meliputi wilayah kota.
· Skala Wilayah yang ruang lingkup transaksinya meliputi beberapa wilayah.
· Skala Lingkungan yang ruang lingkup transaksinya meliputi satu lingkungan di sekitar pasar.
b. Tipe Komoditas (type of comodity), berdasarkan barang-barang konsumsi yang dibeli untuk dikonsumsikan dibeberapa wilayah.
c. Sistem Pengelolaannya (administration)
· Kelompok (dikelola bersama-sama).
· Individu (pedagang eceran). d. Periodesasi (perodicity)
· Siklus musiman
· Siklus non musiman
e. Waktu Operasi (nature of growth)
· Harian, pasar yang waktu kegiatan perdagangannya setiap hari.
· Periodik, pasar yang waktu kegiatan perdagangannya pada waktu-waktu tertentu saja, misal : Pasar Legi, Kliwon, Pon, Wage, pasar Minggu, Pasar Senin, Pasar Rebo, Pasar Jum’at dan sebagainya. f. Kepemilikan Tanah dan Bangunan (ownership of land and building)
Kepemilikan tanah dan bangunan adalah Pemerintah, sedangkan pedagang selaku pengguna dengan sistem sewa (membayar retribusi).
Sedangkan menurut David Dewar dan Vanessa Watson (1990), pengelompokkan tipe pasar terdapat 5 (lima) tipologi, yaitu :
- Besar kecilnya barang yang diperjual belikan, skala besar atau kecil (the
nature of suply)
- Fungsi pasar dengan komoditas campuran atau tertentu (function). - Bentuk linier dan nucleated market (form).
- Waktu operasi yaitu temporal atau permanen (time operation).
- Barisan pedagang informal di jalan-jalan pasar menambah penuhnya
servis pada bangunan pasar (degre of formality).
Ciri yang paling mudah diamati dari pasar menunjukkan tempat yang digunakan bagi kegiatan yang bersifat indegenous market trade sebagaimana telah dipraktekkan sejak lama. Pasar sendiri sebenarnya sangat beragam jenisnya dan pertumbuhannya memerlukan waktu yang cukup
lama. Masing-masing pasar memantapkan peran, fungsi serta bentuknya sendiri-sendiri. Bila berfungsi sebagai pasar pengecer di satu wilayah, maka pasar yang lain berkembang menjadi pasar pengumpul dan atau menjadi pasar grosir. Menurut Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pasar Tradisional, pasar ditinjau dari jenis dagangan dibedakan:
- Pasar Umum adalah pasar dengan jenis dagangan yang diperjualbelikan
lebih dari satu jenis dagangan secara berimbang minimal tersedia untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari; dan
- Pasar Khusus adalah pasar dengan dagangan yang diperjualbelikan
sebagian besar terdiri dari satu jenis dagangan beserta kelengkapannya. Pasar ditinjau dari klasifikasi dibedakan menjadi 3 (tiga) klas yaitu klas I, klas II dan klas III. Klasifikasi ini ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat dengan memperhatikan letak strategis pasar, luasan lahan, kualitas bangunan, jumlah pedagang, terkait dengan pendapatan pedagang, jumlah kios dan los, pedagang oprokan, waktu efektif, fasilitas.
2.3.3.Lokasi Bangunan Pasar
Lokasi sebuah pasar adalah merupakan faktor yang paling penting dan berpengaruh tehadap keberhasilan pasar tersebut (David Dewar dan Vanessa Watson, 1990). Pada skala kota ada 3 (tiga) faktor utama yang mempengaruhi lokasi tersebut, yaitu :
a. Lokasi Pergerakan Populasi (Location of Population Movement)
Pasar sangat peka pada sirkulasi dan konsentrasi dari pejalan kaki dan lalu lintas, disebut berhasil karena dekat dengan pergerakan orang banyak. Dengan demikian, biasanya pasar yang berada di pusat kota sangat besar perkembangannya. Hal ini sangat wajar, karena pada lokasi pasar tersebut, banyak orang berkumpul dan mudah dicapai serta pasar tersebut menyediakan barang kebutuhan sehari-hari.
b. Sumber Persediaan Barang (Sources of Supply)
Faktor kedua yang mempengaruhi keberhasilan lokasi pasar pada skala kota harus dekat dengan kiriman persediaan (is sitting of mayor sourcess of supply) sumber-sumber utama barang yang diperjual belikan serta memiliki akses mudah dikunjungi.
c. Lokasi Pembeli (Location of Consumers)
Faktor ketiga yang mempengaruhi keputusan dalam menentukan lokasi perencanaan sebuah pasar adalah kemudahan untuk melayani kebutuhan konsumen-konsumen kota. Bahwa lokasi pasar seharusnya mudah dijangkau oleh konsumen pasar, baik yang berpenghasilan tinggi (higher income) maupun yang berpenghasilan rendah (lower income). Untuk yang berpenghasilan rendah menggunakan jasa angkutan umum ataupun pejalan kaki, sehingga harus dipertimbangkan titik-titik tempat transit kendaraan umum (halte, sub terminal), juga harus memiliki areal parkir yang cukup untuk pengunjung dengan kendaraan pribadi (roda 4 dan roda 2), selain taxi stand dan mungkin juga diperlukan tempat parkir transit untuk becak, ojek dan sebagainya. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern Lokasi untuk Pendirian Pasar Tradisional, wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah KabupatenlKota dan Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota termasuk peraturan zonasinya
2.3.4.Tata Ruang Pasar
sayur-sayuran ditempatkan pada tempat yang berdekatan dengan daging, ikan, telur dan sebagainya.
Menurut D.Dewar dan Vanessa W., penempatan barang-barang yang memiliki karakter sejenis ini dengan alasan, sebagai berikut :
· Setiap barang membutuhkan lingkungan yang spesifik untuk mengoptimalkan penjualannya, seperti butuh pencahayaan.
· Setiap barang mempunyai efek samping yang berlainan, seperti bau dan pandangan.
· Setiap barang mempunyai karakter penanganan, seperti tempat bongkarnya, drainase, pencucian dan sebagainya.
· Para konsumen/pembeli dengan mudah dapat memilih dan membandingkan harganya.
· Perilaku pembeli sangat beragam, konsentrasi dari sebagian barang-barang dan pelayanan memberikan efect image dari para konsumen.
Berkaitan dengan pemanfaatan fungsi ruang, problem yang sangat berhubungan dengan lay out fisik ruang pasar adalah problem spatial marginalization. Hal ini berkaitan dengan pergerakan populasi pengunjung di dalam pasar dan berhubungan dengan tata ruang/kios-kiosnya. Penyebaran dari pergerakan pedestrian dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor utama, yaitu : lingkungan, orientasi dari pasar pada pola sirkulasi pedestrian yang dominan dan kontak visual. Pergerakan/sirkulasi di dalam pasar akan berpengaruh pada sering atau tidaknya los/kios yang dikunjungi atau dilewati oleh pengunjung, sehingga di dalam pasar sering dijumpai tempat yang tidak/kurang dikunjungi (dead spots). Menurut Nelson (1958) karakter pilihan lokasi usaha dari aspek konsumen (pembeli) agar transaksi perdagangan merupakan hasil pilihan pembeli terhadap faktor-faktor daya tarik dan penghambat dari fasilitas perdagangan yang ada, antara lain :
- Ketersediaan barang dagangan.
- Keuntungan harga unit retail, standard, harga kompetitif, dampak
promosi, penjualan khusus
- Kemudahan : transportasi umum (biaya, waktu frekwensi), transportasi
pribadi (parkir, aksesibilitas, kondisi lalu lintas, jarak parkir).
Sedangkan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam merencanakan los perdagangan, menyangkut tanggapan konsumen, menurut Nelson (1958), yaitu :
- Konsumen cenderung mengunjungi pusat perdagangan yang dominan. - Konsumen tidak akan melewati suatu pusat perdagangan untuk menuju
pusat perdagangan lain yang mempunyai fasilitas yang sama.
- Konsumen akan mengunjungi pusat perdagangan terdekat dengan
fasilitas yang sama.
- Konsumen cenderung mengikuti pola sirkulasi yang sudah umum.
2.3.5.Fasilitas Pasar
Menurut Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pasar Tradisional, fasilitas pasar meliputi komponen utama dan komponen pendukung. Komponen utama fasilitas pasar terdiri dari :
a. Lahan; b. Kios; c. Los;
d. Tempat Dasaran Tenda; e. Jaringan Listrik;
f. Drainase; g. Sarana Parkir;
h. Sarana Bongkar Muat; i. Sarana Ibadah;
j. Sarana Kantor Pengelola;
k. Sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) dan Air Bersih; l. Sarana Keamanan dan Pengamanan;
o. Sarana Untuk Orang yang Mengalami Keterbatasan Fisik;dan p. Akses Jalan dan Pintu.
Sedangkan komponen pendukung fasilitas pasar antara lain: a. Jaringan Telekomunikasi;
b. Space Iklan; c. Gudang;
d. Pos Pelayanan Tera Ulang Alat Ukuran Takaran Timbangan dan Perlengkapan (UTTP);
e. Jalan dan/atau Pintu Darurat;
f. Alat Transportasi (Tangga, Eskalator/Lift); g. Pos Pelayanan Terpadu;
h. Pos Pelayanan Jasa; dan i. Ruang Terbuka Hijau.
Dalam Perda Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pasar Tradisional, juga dijelaskan mengenai kriteria penilaian klasifikasi pasar tradisional untuk penetapan dasar kelas pasar Kota Surakarta. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
No Komponen Kriteria Nilai Keterangan
1 Letak Pasar
Sangat Terjangkau 100 Letak Pasar:
a.Sangat Terjangkau,
Tabel 2.1 Kriteria Penilaian Klasifikasi Pasar Tradisional
No Komponen Kriteria Nilai Keterangan
Lengkap Sekali Fasilitas Pasar:
a. Lengkap Sekali,
Sumber : Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pasar Tradisional
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Tipe Penelitian
Ditinjau dari permasalahan dan tujuan penelitian maka tipe penelitian yang dilaksanakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998), penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi). Penelitian deskriptif mempelajari masalah – masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi – situasi tertentu, termasukhubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam penelitian ini fenomena yang muncul di lapangan adalah perubahan pemanfaatan kawasan pasca penataan. Untuk menghasilkan gambaran yang tepat tentang fenomena yang berkaitan dengan kawasan Ngarsapura baik secara normatif maupun historis digunakan pendekatan induktif dalam lingkup yang tidak terlalu luas, fleksibel dan kontekstual. Dengan demikian data-data yang dikumpulkan baik data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dapat dideskripsikan secara tuntas untuk menjelaskan kondisi kawasan Ngarsapura pasca penataan.
3.2. Pendekatan Penelitian