• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH. pdf"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PADA INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

(STUDI KASUS: IPAL MARGASARI)

Disusun Oleh:

Ardy Hermawan (14.11.106.701501.1462)

Kahar Banda (14.11.106.701501.1504)

Nur Fadillah (14.11.106.701501.1493)

Suprianto (14.11.106.701501.1459)

Syahril (14.11.106.701501.1476)

Thio Nikara (14.11.106.701501.1452)

Zaenal Aqli (14.11.106.701501.1479)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

UNIVERSITAS BALIKPAPAN

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb,

Puji syukur kami ucapkan Alhamdulillah kepada Allah Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayatnya makalah tentang Pengelolaan Limbah Cair (Domestik) Kampung Atas Air Balikpapan ini dapat selesai dan tersusun dengan baik. Kami selaku Kelompok I telah menyelesaikan tugas dalam mata kuliah Metode Penelitian ini.

Dalam makalah ini berisikan bagaimana proses pengolahan air limbah yang berasal dari rumah tangga (Limbah Domestik) yang ada di Instalasi Pengolahan Air Limbah Margasari.

Sekiranya apabila terdapat kekurangan / kesalahan dalam penulisan makalah ini, kami selaku Kelompok I memohon maaf karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kami juga mengharapkan adanya kritikan dan saran masukan yang membangun bagi kelompok kami pada makalah ini. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Tim Penyusun,

(3)

DAFTAR ISI

2.2.1 Pengolahan Primer (Primary Treament) ... 10

2.2.2 Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment) ... 11

2.2.3 Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment) ... 13

2.2.4 Desinfeksi (Desinfaction) ... 13

2.2.5 Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment) ... 14

(4)

3.6 Intrumen Penelitian ... 18

3.7 Pengolahan Data... 18

3.8 Bagan Alir Penelitian ... 18

3.9 Penjelasan Bagan Alir Penelitian ... 19

BAB IV PEMBAHASAN ... 21

4.2 Pemanfaatan Pengolahan Air Limbah Terolah ... 27

4.2.1 Sebagai Sistem Proteksi IPAL Margasari Balikpapan ... 27

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah. Seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan berbagai industri, maka pencemaran air telah menjadi masalah serius yang dihadapi oleh manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan yang paling terancam dewasa ini adalah lingkungan perairan karena air merupakan kebutuhan utama industri dan rumah tangga. Pada akhirnya sebagian besar air yang telah digunakan oleh industri dan rumah tangga akan dilepaskan ke lingkungan bersama-sama dengan berbagai jenis polutan yang terkandung di dalamnya.

(6)

menyebabkan pencemaran lingkungan yang mengancam kehidupan manusia. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengambil judul makalah “Pengolahan Limbah Cair (Domestik) IPAL Margasari, Balikpapan”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan judul penelitian diatas, rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini yakni bagaimanakah proses pengelolaan limbah cair di IPAL Margasari agar limbah yang telah diproses layak untuk dibuang ke lingkungan.

1.3 Batasan Masalah

Untuk membatasi penelitian agar tidak masuk ke dalam lingkup yang lebih luas, maka dalam penelitian ini kami hanya mengamati proses pengelolaan limbah cair (domestik) di Instalasi Pengolahan Air Limbah Margasari, Balikpapan dan kami mengambil sampel di Kampung Atas Air, Balikpapan.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui proses pengolahan limbah cair (domestik) di Instalasi Pengolahan Air Limbah Margasari, Balikpapan sehingga limbah domestik ini dapat dibuang maupun dimanfaatkan kembali.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun penelitian ini penulis berharap dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak, antara lain:

1. Bagi Masyarakat Kampung Atas Air Balikpapan

(7)

dengan IPAL Margasari karena limbah domestik yang mereka biasa hasilkan dapat diproses sehingga layak untuk dibuang ke lingkungan.

2. Bagi Kelompok I

Menambah pengetahuan dan pengalaman khusus mengenai proses pengelolaan limbah cair sehingga layak untuk dibuang ke lingkungan dan juga tentunya untuk memenuhi tugas dari Mata Kuliah Metode Penelitian.

3. Bagi Universitas kususnya Program Studi Diploma IV K3

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Limbah Cair

Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine, air pencucian alat-alat). Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya. Komponen utama limbah cair adalah air (99%) sedangakan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan tersebut (Rustama et. al, 1998). Limbah cair merupakan gabungan atau campuran dari air dan bahan pencemar yang terbawa oleh air, baik dalam keadaan terlarut maupun tersuspensi, yang terbuang dari sumber domestik (perkantoran, perumahan, dan perdagangan), dan sumber industri (Soeparman, 2001).

Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah. Seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan berbagai industri, maka pencemaran air telah menjadi masalah serius yang dihadapi oleh manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan yang paling terancam dewasa ini adalah lingkungan perairan karena air merupakan kebutuhan utama industri dan rumah tangga. Pada akhirnya sebagian besar air yang telah digunakan oleh industri dan rumah tangga akan dilepaskan ke lingkungan bersama-sama dengan berbagai jenis polutan yang terkandung di dalamnya.

(9)

manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Karakteristik limbah cair bervariasi dipengaruhi oleh lokasi, jumlah penduduk, industri, tataguna lahan, muka air tanah dan tingkat pemisahan antara Storm water dan Sanitary Water. Limbah cair dibagi kedalam 3 kategori yakni Domestic Wastewater (Limbah cair domestik) meliputi: limbah cair dari dapur, kamar mandi, laundry dan sejenisnya, Sanitary Wastewater meliputi: Domestic Wastewater, komersial, kantor, dan fasilitas sejenisnya, dan Industrial Wastewater berasal dari industri (sangat bervariasi sesuai dengan jenis industrinya).

Sifat-sifat air limbah industri relatif bervariasi tergantung dari bahan baku yang di gunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan adiktif yang digunakan selama proses produksi. Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 fraksi penting, yaitu Tinja (faeces), berpotensi mengandung Mikroba Pathogen, air seni (urine), umumnya mengandung Nitrogen (N) dan Fosfor, serta kemungkinan kecil mikro-organisme dan grey water yang merupakan air bekas cucian dapur, mesin cucidan kamar mandi. Grey water sering juga disebut dengan istilah sullage. Campuran faeces dan urine disebut sebagai excreta, sedangkan campuran excreta dengan air bilasan toilet disebut sebagai black water. Mikroba pathogen banyak terdapat pada excreta. Untuk industrial wastewater, zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, antara lain: nitrogen, sulfida, amoniak, lemak garam-garam zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut dansebagainya.Sampai awal 1900-an limbah cair dari kota (municipal wastewater) yang berasal dari pemukiman, komersial, industri dan urban runoff tidak diolah terlebih dahulu, sehingga masuk langsung ke perairan termasuk laut. Baru akhir 1940an sampai sekarang, banyak kota didunia membangun sistem sewer (selokan) terutama untuk mencegah meledaknya berbagai penyakit. Sewer merupakan suatu alat atau saluran yang berguna untuk mengalirkan limbah domestik dan industri serta air hujan (storm water) ke wastewater treatment plant (WWTP) dan perairan.

(10)

wastewater (limbah cair) adalah polutan (bahan pencemar), pencemaran dikatakan terjadi bila bahan terlarut maupun tersuspensi menyebabkan bahaya bagi manusia dan lingkungan.

2.2 Pengolahan Limbah Cair

Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial.

2.2.1 Pengolahan Primer (Primary Treatment)

Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara fisika. Berikut merupakan tahapan pengolahan primer:

1. Penyaringan (Screening)

Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.

2. Pengolahan Awal (Pretreatment)

(11)

3. Pengendapan

Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Pada tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).

4. Pengapungan (Floation)

Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan. Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.

2.2.2 Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)

(12)

Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .

1. Metode Trickling Filter

Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.

Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan

2. Metode Activated Sludge

(13)

3. Metode Treatment ponds/ Lagoons

Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

2.2.3 Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)

Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.

Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik. Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.

(14)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Daya racun zat

2. Waktu kontak yang diperlukan 3. Efektivitas zat

4. Kadar dosis yang digunakan

5. Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan 6. Tahan terhadap air

7. Biayanya murah

Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet (UV), atau dengan ozon (Oз). Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.

2.2.5 Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)

(15)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Racangan penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan melakukan pengamatan langsung atau observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi dan suatu sistem pemikiran serta peristiwa yang telah terjadi (Antara, 2008). Tujuan dari suatu penelitian deskriptif adalah untuk membuat eksploratif gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara berbagai gejala yang akan diteliti. Berdasarkan pemikiran tersebut dan dengan menggunakan metode observasi langsung, panduan wawancara, melakukan wawancara mendalam dan studi dokumen, dibuat deskripsi apa yang terjadi dan berusaha mendapatkan fakta yang terkait dengan strategi pengembangan daerah tujuan wisata (Antara, 2008).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Instalasi Pengolahan Air Limbah Margasari, Balikpapan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2016.

3.3 Objek Penelitian

Bahan yang menjadi objek penelitian kali yakni aktifitas proses pengolahan air limbah.

(16)

Data yang diperoleh dan dikumpulkan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder.

3.4.1 Data Primer

Data diperoleh dari:

1. Wawancara dengan pengelola IPAL Margasari Balikpapan.

2. Observasi terhadap implementasi standard operating procedure pekerjaan maupun proses pengelolaan air limbah.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data-data yang diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan referensi pendukung yang masih berhubungan dengan obyek yang diteliti. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi:

a. Dokumen perusahaan, berupa pedoman pengelolaan air limbah dan buku referensi lainnya milik IPAL Margasari.

b. Kumpulan jurnal publik, artikel, dan informasi yang sesuai dengan pengolahan limbah cair.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaan ini penulis juga mengumpulkan data-data dengan cara sebagai berikut.

(17)

Suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang sedang diteliti guna mendapatkan data penelitian yang jelas dan terperinci.

3.5.2 Wawancara

Wawancara atau interview adalah suatu percakapan atau kegiatan tanya jawab yang dilakukan seorang secara lisan berlangsung secara berhadapan dan secara fisik serta diarahkan kepada masalah tertentu, dalam hal ini adalah tentang proses pengolahan air limbah.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini yakni berupa diagram alir pengolahan air limbah.

3.7 Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang kami lakukan yakni dengan mempelajari terlebih dahulu sebelum melakukan observasi dan dilanjutkan dengan wawancara.

(18)

3.9 Penjelasan Bagan Alir Penelitian

Dalam penyusunan laporan ini diperlukan alur atau kerangka kerja yang terstruktur dan sistematis dan bias disebut sebagai metode penelitian. Metode penelitian ini merupakan suatu proses yang terdiri dari tahap-tahap yang saling terkait antara satu dengan yang lain. Gambaran umum penyusunan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi Tujuan

Pada awal penyusunan tugas akhir ini telah ditetapkan tujuan awal penulisan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut terdapat pada Bab I Pendahuluan.

2. Studi Literatur

Pemahaman terhadap konsep teori yang ada melalui referensi dan artikel yang berhubungan dengan pengolahan limbah cair.

3. Studi Lapangan

Studi lapangan dilakuakn bersama studi literatur. Peninjauan lapangan dilakukan di IPAL dengan melihat secara langsung proses kerja.

4. Identifikasi permasalahan

Tahapan ini merupakan tahap untuk mengidentifikasikan permasalahan yang terjadi pada pengolahan limbah cair. Dalam pelaksanaan pengidentifikasian pemasalahan dibantu oleh instansi terkait dalam hal ini staff IPAL Margasari.

(19)

Tahapan pengumpulan data merupakan tahap dimana penulis mengumpulkan data-data yang diperlukan sebelum dilakukannya pengolahan data. Pengumpulan yang penulis dapatkan melalui pengamatan langsung ke IPAL Margasari. Sedangkan dalam pengolahannya penulis mengevaluasi dan menganalisa hasil dari data yang di peroleh.

6. Kesimpulan dan Saran

(20)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Proses Pengolahan Limbah Cair

Proses pengelolaan limbah cair di Kampung Atas Air yakni melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Margasari. Pada proses ini air limbah disalurkan dari rumah – rumah melalui Sambungan Rumah (SR) menuju kebak penampungan dan disalurkan menuju IPAL. Untuk lebih jelas berikut flow chart aliran IPAL.

Gambar 1. Flow Chart diagram IPAL Margasari

4.1.1 Sambungan Rumah (SR)

(21)

Gambar 2. Sambungan Rumah

4.1.2 Bak Internal Control (IC)

Bak IC merupakan bak penampungan yang berasal dari SR dan dialirkan oleh pipa tersier yang berukuran 4 inch. Biasanya bak ini berjarak 7 – 25 meter dari rumah. Satu bak IC dapat menampung 6-7 SR. Ukuran bak IC ini yakni 80cm x 80cm x 100cm.

Gambar 3. Penyaluran menuju bak IC

(22)

Bak Manhole merupakan bak penampungan yang dialirkan oleh bak IC. Limbah ini dialirkan oleh pipa sekunder berdiameter 6 inch. Satu bak Mainhole dapat menampung 3-4 bak IC. Dan sistem penyaluran limbah dari SR menuju PS memanfaatkan hukum gravitasi sehingga tidak menggunakan pompa.

Gambar 4. Penyaluran menuju bak Manhole

4.1.4 Bak Pompa Station (PS)

Bak PS merupakan bak penampungan terakhir sebelum disalurkan menuju IPAL Margasari. Kemudian dialirkan oleh pipa induk.

4.1.5 Bak RSPS

(23)

Gambar 5. Bak RSPS

4.1.6 Bak Equalisasi

Setelah dari bak RSPS, air limbah disalurkan menuju bak equalisasi. Disini bak equalisasi berfungsi untuk meratakan beban air limbah yang akan diolah.

4.1.7 Bak Aerator

Bak aerator berfungsi untuk menurunkan mikroba / bakteri (E. Coli) dan amoniak. Proses ini berfungsi untuk menghilangkan bau pada air limbah. Kemudian pada bak ini terdapat mixer didalamnya.

(24)

4.1.8 Bak Sedimentasi 1 dan 2

Bak berfungsi untuk mengendapkan padatan dengan memanfaatkan gravitasi dalam waktu tinggal yang. Kemudian lumpur yang dihasilkan dibak sedimentasi dialirkan menuju bak lumpur melalui pipa.

Gambar 7. Bak Sedimentasi 1 dan 2

4.1.9 Bak Flokulasi

Didalam bak flokulasi dibubuhkan larutan kaporit. Kaporit disini berfungsi untuk menjernihkan air limbah. Pada tahapan ini, bak didesain dengan baffle agar tercipta aliran turbulen sehingga mendukung proses pembentukan flok – flok.

(25)

4.1.10 Bak Air Terolah

Bak ini menampung hasil dari air olahan yang berasal dari bak flokulasi. Kemudian air dialirkan menuju ke bak reservoir.

4.1.11 Bak Lumpur

Pada bak ini terdapat lumpur yang berasal dari air limbah. Pada bak ini konsentrasi lumpur lebih banyak dibandingkan dengan air. Kemudian lumpur dan air akan dilairkan ke bak pengering lumpur untuk melakukan pemisahan lumpur dengan air.

4.1.12 Bak Pengering Lumpur

Pada bak ini akan dilakukannya pemisahan antara air dengan lumpur. Bak pengering lumpur mempunyai beberapa bak sehingga air akan mengalir ke bak yang lebih rendah, sehingga lumpur akan terpisah dengan air limbah terolah. Kemudian lumpur ini dapat dijadikan sebagai pupuk organik tentunya dengan memerlukan sedikit proses lagi.

(26)

4.1.13 Bak Reservoir

Bak reservoir ini merupakan penampungan akhir dari air yang terolah. Bak ini menggunakan sistem over flow, dimana apabila bak penuh air akan tumpah kemudian mengalir ke sungai / laut pandansari. Tentunga air yang dibuang kelingkungan ini telah memenuhi standar baku mutu limbah cair.

4.2 Pemanfaatan pengelolaan air limbah terolah

Air limbah terolah ini telah memenuhi standar baku mutu lingkungan. Namun bukan berarti air limbah terolah ini dapat digunakan sebagai air minum, dibutuhkannya satu proses lagi yang membutuhkan biaya besar untuk dapat mengolah air limbah terolah ini untuk dapat dijadikan air minum. Namun air limbah terolah ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber air dari sarana hydrant IPAL, kemudian sumber air dari DKPP Balikpapan, dan lumpur dapat dijadikan sebagai pupuk organik.

4.2.1 Sebagai sistem proteksi kebakaran IPAL Margasari Balikpapan

Air limbah terolah yang berada pada reservoir memiliki sambungan menuju hydrant pada IPAL Margasari. Total semua terdapat dua hydrant yang berada di IPAL Margasari yang juga berfungsi sebagai sistem proteksi kebakaran pada IPAL Margasari Balikpapan.

4.2.2 Sebagai sumber air DKPP Balikpapan

(27)

4.2.3 Pembuatan pupuk organik.

Lumpur yang tersisa dapat gunakan sebagai pembuatan pupuk organik. Tentunya lumpur sudah harus terpisah dengan air. Caranya yakni campurkan lumpur dengan serbuk kayu gergaji yang telah dijemur. Kemudian campuran ini difermentasi selama 1 – 2 minggu dan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Gambar 10. Pupuk Hasil Pengolahan

4.3 Hasil dokumentasi

Berikut merupakan hasil dokumentasi kami selama melakukan observasi di IPAL Margasari yang mengolah air limbah dari kawasan Kampung Atas Air Balikpapan

(28)

Bak Flokulasi Bak Sedimen 2

Bak Sedimen 1

Bak Reservoir Bak Pemisah

Bak Lumpur

Bak Pengering Lumpur

(29)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Air limbah rumah tangga (domestik) merupakan sumber utama pencemaran air laut. Hal ini terjadi karena adanya kebiasaan masyarakat dan cara berpikir mereka yang sudah turun temurun sehingga mereka membuang limbah domestik langsung ke laut.

Namun sekarang Pemkot Balikpapan telah membangun IPAL Margasari di Balikpapan. Sehingga diharapkan masyarakat tidak langsung membuang domestik kelaut. Tapi tentunya tidak semua masyarakat belum mengerti sehingga dibutuhkannya sosialisasi ke masyarakat tentang pengelolaan limbah domestik agar tidak mencemari lingkungan.

5.2 Saran

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Nelwan, Freddy., Kawik Sugiana, Budi Kamulyan. 2003. Kajian Program Pengelolaan Air Limbah Perkotaan Studi Kasus Pengelolaan IPAL

Balikpapan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

(31)

Gambar

Gambar 1. Flow Chart diagram IPAL Margasari
Gambar 2. Sambungan Rumah
Gambar 4. Penyaluran menuju bak Manhole
Gambar 5. Bak RSPS
+4

Referensi

Dokumen terkait

tetitang kesehatan lingkungan dan kedisiplinan diri secara bersama-sama dengan perilaku pengelolaan air limbah rumah tangga masyarakat Desa Simodong Kecamatan Sei

Limbah yang diolah oleh instalasi pengolahan air limbah PT SIER berasal dari limbah domestik atau limbah industri dari berbagai perusahaan/industri yang berada di

Dari semua sumber pencemar lingkungan, pencemaran yang diakibatkan oleh limbah rumah tangga menempati urutan pertama (40%) diikuti kemudian oleh limbah industri (30%)

Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen  pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat

Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia.Limbah rumah tangga yang

Pengaruh Jenis Industri dan Kegiatan terhadap Tingkat Toksisitas Organisme Uji Secara keseluruhan, hanya efluen IPAL kegiatan rumah sakit yang tidak memberikan pengaruh toksik pada

Pada penelitian ini digunakan limbah cair rumah makan/restaurant yang diambil di kawasan G Obos, Palangka Raya yang mana di rumah makan tersebut belum terdapat pengolahan lebih lanjut

Selain kandungan zat warnanya tinggi, limbah industri batik dan tekstil juga mengandung bahan-bahan sintetik yang sukar larut atau sukar diuraikan, pada umumnya polutan yang terkandung