TUGAS AKHIR MATA KULIAH POLITIK KEUANGAN NEGARA
“PEMANFAATAN
E-BUDGETING
DAN PARTISIPASI ANGGARAN DI
KOTA BANDUNG PADA MASA KEPEMIMPINAN RIDWAN KAMIL”
OLEH
Anggalih Bayu Muh Kamim (15/384256/SP/26968)
M. Asep Rifa’i (15/381161/SP/26773)
Moh Hasan Asy Syadzily (11/317883/SP/24768)
Tegar Ario Yudhanto (15/385690/SP/27038)
DEPARTEMEN POLITIK & PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Pemerintah Kota Bandung telah mendapat banyak manfaat dengan menggunakan instrumen e-budgeting untuk mendorong partisipasi publik dalam tata kelola anggaran. Kota Bandung sebelum menerapkan e-budgeting
banyak dijumpai kegiatan yang tidak efektif. Sebelum e-budgeting banyak muncul kegiatan yang tidak direncanakan. Ada juga kegiatan yang direncanakan tiba-tiba hilang. Setelah e-budgeting hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Dalam penerapan sistem e-budgeting terdapat konsep terdapat konsep akuntabel, transparan dan kontroling dalam penggunaannya.1
Proses persiapan sistem e-Budgeting oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung terbilang yang paling cepat. Proses konstruksi e-Budgeting ini terbilang sangat cepat, yakni hanya enam bulan saja terhitung sejak diluncurkan. Dibandingkan dengan daerah lain, seperti Kota Surabaya dan DKI Jakarta, durasi waktu persiapan di Kota Bandung ini adalah yang tersingkat di Indonesia. Berkat e-Budgeting, kini Pemkot Bandung dapat memonitor komposisi anggaran dari seluruh SKPD dan bisa melakukan langkah-langkah strategis untuk melakukan efisiensi anggaran.2
Sebenarnya, e-budgeting bukanlah salah satu sistem tunggal. Sistem e-budgeting hanya salah satu komponen dalam terobosan sistem pemerintahan masa depan yaitu secara elektronik atau e-government. Sistem tersebut ini dimaksudkan untuk mempermudah hubungan antara pemerintah dengan stakeholder seperti masyarakat dalam hal partisipasi dan pelayanan publik ( e-partisipatif), internal kepegawaian dalam pemantauan kinerja (e-kinerja), dunia usaha dan lembaga lainya baik profit maupun non profit dalam hal pelayanan informasi dan bisnis (e-procurement, e-ppid, e-invesment).3
1 Puteranegara Batubara,” Ridwan Kamil: E-Budgeting Mampu Cegah Korupsi!,”(ditulis pada 2 Desember 2017, diakses pada 19 Desember 2017, https://news.okezone.com/read/2017/12/02/525/1824131/ridwan-kamil-e-budgeting-mampu-cegah-korupsi).
2 Anonim,” e-Budgeting Kota Bandung Tercepat Kelarnya,”(ditulis pada 20 Juni 2016, diakses pada 19 Desember 2017, http://www.balebandung.com/e-budgeting-kota-bandung-tercepat-kelarnya/).
E-budgeting di Bandung juga telah membangtu menfasilitasi partisipasi masyarakat dalam tata kelola anggaran. E-budgeting di Bandung terintegrasi dengan sistem e-musrenbang sampai aplikasi LAPOR yang akan membantu pada evaluasi kinerja SKPD dengan partisipasi masyarakat. E-budgeting di Bandung dibangun dengan paradigma pembangunan partisipatif. Pembangunan partisipatif pada prinsipnya lebih kepada pendekatan pembangunan apa yang ingin diterapkan dalam suatu masyarakat. Sebagaimana paradigma pembangunan yang telah dibahas sebelumnya, maka pendekatan pembangunan yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah desentralisasi pembangunan. Pemerintah memberi kewenangan yang sebesar-besarnya kepada daerah otonom untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Partisipasi yang dimaksud adalah menyelenggarakan dan mengatur pemerintahan di daerah sesuai dengan aspirasi masyarakat dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengkajian mengenai aspek penggunaan
-e-budgeting di Kota Bandung untuk memfasilitasi partisipasi masyarakat menjadi penting untuk memastikan efektivitas instrumen dan responsivitas pemerintah dalam pengelolaan anggaran yang partisipatif. Kota Bandung menjadi menarik untuk dikaji terkait keberhasilannya dalam menyiapkan e-budgeting dalam upaya melibatkan masyarakat dalam tata kelola anggaran.
I.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan pengkajian ini adalah,”Bagaimana mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan sistem e-budgeting untuk tata kelola anggaran di Kota Bandung?”
II. Hasil dan Pembahasan
II.1. Pemanfaatan e-budgeting dalam Pelibatan Masyarakat dalam Tata Kelola Anggaran di Kota Bandung
menetapkan Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Daerah sebagai kegiatan untuk mendukung capaian indikator kinerja” Meningkatnya Tingkat Opini BPK terhadap LKPD”. Untuk mendukung tujuan tersebut, sejak tahun 2003, Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah membentuk Satuan Tugas Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA), dengan tugas:4
1. Mengembangkan/membuat dan melakukan pemutakhiran Program Aplikasi Komputer SIMDA yang berkaitan dengan pembangunan / peningkatan kapasitas pemerintah daerah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau dalam rangka pemenuhan kebutuhan manajemen daerah, mengarah ke grand design Data Base Management System asistensi implementasi Program Aplikasi Komputer SIMDA pada pemerintah daerah.
Tujuan pengembangan Program Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Daerah ini adalah:
1. Menyediakan Data base mengenai kondisi di daerah yang terpadu baik dari aspek keuangan, aset daerah, kepegawaian/aparatur daerah maupun pelayanan publik yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja instansi pemerintah daerah.
2. Menghasilkan informasi yang komprehensif, tepat dan akurat kepada manajemen pemerintah daerah. Informasi ini dapat digunakan sebagai bahan untuk mengambil keputusan.
3. Mempersiapkan aparat daerah untuk mencapai tingkat penguasaan dan pendayagunaan teknologi informasi yang lebih baik.
4. Memperkuat basis pemerintah daerah dalam melaksanakan otonomi daerah.
Gambar 1. Mekanisme Penyusunan APBD di Kota Bandung
Sumber: data.bandung.go.id
Penyusunan RAPBD di Kota Bandung melalui mekanisme e-budgeting
perencanaan pembangunan yang mendorong pengembangan tata pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Salah satunya lewat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Hal ini menjadi upaya memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, setiap pemerintah daerah memiliki perencanaan yang berbeda. Pemkot Bandung akan meningkatkan rencana pembangunan lewat e-Musrenbang. Melalui peran elektronik diyakini dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam merencanakan pembangunan Kota Bandung ke depannya. Dengan aplikasi itu ada yang dinamakan e-musrenbang. Setiap usulan rencana pembangunan bisa dimasukan lewat aplikasi tersebut. Fungsi aplikasi ini untuk memudahkan agar rencana yang diusulkan bisa diterima dengan cepat.5
e-Musrenbang merupakan aplikasi hibah dari Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Barat. Aplikasi tersebut memudahkan para ketua RW memasukkan data aspirasi dari masyarakat. Dengan begitu, para ketua RW akan terlibat aktif dalam menyampaikan usulan kebutuhan kegitan yang bakal dilaksanakan di wilayah masing-masing. Para ketua RW ini akan mendapat pendampingan dari relawan serta aparat pemkot sampai pengajuan usulan tuntas. Dengan e-Musrenbang, masyarakat melalui operator RW diberikan akses untuk memasukkan usulan ke dalam aplikasi. Nantinya ada aparat kelurahan yang bertugas melakukan verifikasi dan pihak kecamatan melakukan validasi secara berjenjang. Sehingga, usulan kegiatan masyarakat akan sesuai dengan perangkat daerah yang menangani. Selain itu, masyarakat dapat melakukan penelusuran (tracking) terhadap usulan kegiatan yang terintegrasi dengan sistem penganggaran (e-budgeting). Aplikasi e-Musrenbang ini juga secara otomatis akan terhubung ke “Bandung Command Center”.6
Setelah melalui musrenbang akan melalui input dalam internal SKPD. Dalam aplikasi sistem informasi perencanaan dan penganggaran daerah, yang berperan sebagai Admin Perangkat Daerah adalah Kepala Perangkat Daerah di Pemerintah Kota Bandung. Peran dari admin adalah Mengatur operator yang dapat merinci setiap kegiatan dan Admin Eharga tiap PD; Membuat kegiatan termasuk mengisi heading
5 Dian Rosadi,” E-Musrenbang jadi solusi peningkatan pembangunan di Kota Bandung,”(ditulis pada 27 Januari 2017, diakses pada 21 Desember 2017, https://bandung.merdeka.com/halo-bandung/e-musrenbang-jadi-solusi-peningkatan-pembangunan-di-kota-bandung--1701273.html).
kegiatan; Memvalidasi Kegiatan. Untuk mengakses aplikasi Perencanaan dan Penganggaran Kota Bandung, admin masuk ke alamat http://apbd.bandung.go.id/.
Setelah login sebagai Admin Perangkat Daerah (Kepala Perangkat Daerah), maka tampilan yang muncul dalam aplikasi adalah seperti di bawah ini.7
Gambar 2. Dashboard Utama Aplikasi SIRA
Pada halaman utama (dashboard) ini terdapat informasi mengenai jumlah kegiatan, jumlah belanja baik belanja langsung maupun belanja tidak langsung, jumlah pendapatan dan jumlah rincian dari tiap jenis belanja langsung. Selain itu ada 4 bagian dari dashboard ini yang perlu diperhatikan, yakni:
1. Bagian Pengaturan ini berisi pilihan untuk mengatur profil dan akun Admin SKPD serta terdapat menu Logout dari aplikasi
2. Pengaturan untuk tahun Anggaran. Di dalamnya terdapat 3 pilihan, yaitu
a. 2017-Murni : Untuk melihat data APBD 2017
b. 2017-Perubahan : Untuk menginput APBD-P 2017
c. 2018-Murni : Untuk menginput APBD 2018
3. Berisi berbagai pilihan menu terkait dengan penggunaan aplikasi
a. Belanja : terdiri dari belanja langsung maupun belanja tidak langsung
b. Pendapatan : memuat informasi mengenai pendapatan di Perangkat Daerah terkait
c. Pembiayaan : memuat informasi mengenai pembiayaan di Perangkat Daerah terkait
d. Musrenbang&Reses: memberikan informasi kegiatan-kegiatan di Perangkat Daerah yang berasal dari usulan Musrenbang dan Reses.
e. Usulan Komponen : Digunakan untuk mengusulkan komponen baik SSH, HSPK dan ASB yang bisa digunakan oleh Perangkat Daerah. Pengusulan komponen ini dapat dilakukan saat fasenya diaktifkan oleh BPKA.
4. Memuat informasi mengenai tahapan pembuatan anggaran yang terdiri dari RKPD, KUA/PPAS, RAPBD dan APBD.
5. Memberikan informasi kepada Kepala Perangkat Daerah (Admin Perangkat Daerah) mengenai kegiatan-kegiatan mana saja yang belum di validasi.
Untuk memperbaiki kegiatan dalam APBD-Perubahan, terdapat beberapa langkah yang
1. Pastikan tahun anggaran sudah diubah menjadi 2017-Perubahan
2. Pilih menu Belanja Langsung
3. Pilih kegiatan yang akan diperbaiki rinciannya
4. Agar kegiatan dapat dirinci oleh operator Perangkat Daerah, maka Kepala Perangkat Daerah harus mengatur terlebih dahulu staff yang dapat merinci kegiatan tersebut. Dalam setiap kegiatan hanya dibatasi 2 orang yang dapat mengedit kegiatan tersebut. Klik tanda panah yang ada di sebelah nama kegiatan -> Pilih Atur Staff.
Setelah kegiatan yang dibuat dirinci oleh operator perangkat daerah, kemudian admin perangkat daerah (Kepala PD) harus memvalidasi kegiatan tersebut agar nilai pagu kegiatan sama dengan nilai rincian kegiatan. Selain itu jika kegiatan tersebut belum divalidasi oleh Kepala PD, RKA dari kegiatan tersebut tidak dapat dicetak. Untuk melakukan validasi klik Detail kemudian akan muncul detail kegiatan yang berisi heading dan rincian komponen. Kemudian di bagian bawah detail kegiatan tersebut ada tombol validasi yang harus di klik.
Pemanfaatan mekanisme e-budgeting di Kota Bandung terintegrasi dalam satu sistem yang disebut BIRMS. Bandung Integrated Resources Management System (BIRMS), yaitu sistem pengelolaan daerah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir yang diawali dari Proses Perencanaan Pembangunan Daerah, Pelaksanaan Anggaran dan Pengawasan Anggaran serta Penilaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran. BIRMS dirancang untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas serta sinkronisasi dalam tata kelola pemerintahan yang antara lain mengelola sistem perencanaan pembangunan Kota dengan sistem pengelolaan keuangan daerah, yang meliputi :8
1. Proses Perencanaan Pembangunan Kota Bandung, terdiri dari proses penyusunan RPJPD, RPJMD, Renstra, Renja SKPD dan RKPD.
2. Pengelolaan Keuangan Daerah berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah untuk kedua kali dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011, yang dimulai dari proses penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Plafond dan Prioritas Anggaran Sementara (PPAS), RAPBD, APBD, Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA), Penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).
Bandung Integrated Resources Management System (BIRMS) dimaksudkan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran terintegrasi dengan Sistem Aplikasi berbasis Web. Tujuan utama dari seluruh system BIRMS ini adalah untuk memudahkan Pimpinan di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung dalam mengambil kebijakan anggaran dan memantau seluruh penyelenggaraan pemerintahan dalam bidang perencanaan pembangunan dan pengelolaan keuangan daerah serta untuk memudahkan penyusunan Pertanggungjawaban Walikota Bandung yang akurat, akuntabel dan transparan. BIRMS terdiri atas mekanisme sebagai berikut:9
Gambar 2. Mekanisme BIRMS di Kota Bandung
e-Project Planning adalah Sistem Perencanaan Kegiatan yang menggunakan teknologi informasi berbasis web untuk memfasilitasi pencatatan rincian rencana kegiatan yang telah ditetapkan berdasarkan faktor waktu, alokasi anggaran dan volume kegiatan. Di dalam e-Project Planning, perencanaan ini meliputi : a. Rencana Pelaksanaan Kegiatan b. Rencana Penyerapan Anggaran c. Rencana Pemilihan Penyedia Barang dan Jasa Sistem informasi yang dimaksud untuk memudahkan proses perencanaan project / pekerjaan setelah anggaran dari suatu kegiatan disetujui. Proses perencanaan tersebut meliputi penentuan pekerjaan dan atribut-atribut lain yang diperlukan untuk proses pemaketan, misalnya penentuan bentuk lelang atau penunjukan langsung. Sistem informasi perencanaan kegiatan merupakan bagian kelanjutan dari e-Budgeting dan tahapan awal yang diperlukan untuk sistem e-Procurement. Tujuan dibuatnya aplikasi ini adalah untuk memudahkan pengguna dari Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) / Unit Kerja di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung dalam merencanakan paket-paket pekerjaan yang telah disetujui alokasi anggarannya, dengan input data langsung dari hasil proses-proses di e-Budgeting. Output dari e-Project Planning diharapkan langsung dapat dipakai oleh sistem e-Procurement tanpa harus ada re-input secara manual.10
Selanjutnya adalah e-contract. Kontrak berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah perjanjian tertulis antara Pejabat Pembuat Komitmen dengan Penyedia Barang/Jasa atau Pelaksana Swakelola. Kontrak merupakan satu kesatuan dokumen yang tidak terpisahkan dengan seluruh dokumen pengadaan barang/ jasa. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan sebuah inovasi untuk mempermudah pembuatan dan penyimpanan dokumen pengadaan barang/jasa dan mampu terintegrasi dengan sistem pengadaan barang/jasa secara elektronik ( e-procurement).11
Berikutnya ialah Electronic Progress atau e-Progress adalah merupakan aplikasi yang membantu proses pembuatan laporan kemajuan pekerjaan dari setiap pelaksanaan pekerjaan. Penyedia melaporkan hasil pekerjaan secara elektronik kepada PPK, dan PPK dapat langsung melakukan pengecekan ke lapangan (untuk
10 Ibied.,
pekerjaan konstruksi) atau melakukan pemeriksaan barang. Selain laporan kemajuan pekerjaan yang dituangkan dalam Berita Acara Penyerahan Pekerjaan, e-Progress dilengkapi juga dengan proses pembuatan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan dan Berita Acara Pembayaran. Ini juga akan diikuti dengan penggunaan electronic progress performance.
Electronic Project Performance adalah aplikasi berbasis teknologi informasi yang dibangun untuk membantu Pemerintah Kota Bandung dalam mengukur kinerja kegiatan masing-masing DPA di setiap SKPD. Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan antara rencana waktu pelaksanaan peyelesaian pekerjaan yang tercantum dalam kontrak yang telah diinput oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam aplikasi e-Contract dan realisasi serah terima pekerjaan yang telah diinput oleh Penyedia barang/jasa dan di setujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam aplikasi e-Progress. Dalam aplikasi ini akan ditampilkan perbandingan antara prosentasi rencana kontrak dan realisasi pekerjaan, baik perbandingan keuangan maupun pekerjaan. Dengan demikian akan terlihat kinerja Kegiatan apa yang mampu melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana. Kinerja kegiatan atau pelaksanan paket pekerjaan lebih.12
Selanjutnya adalah Electronic Asset adalah sebuah aplikasi menggunakan teknologi informasi berbasis web yang didesain untuk membantu proses pencatatan asset dan pemutakhiran data asset, yang diperoleh dari Belanja Modal Kegiatan di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung. Asset ini diintegrasi dengan e-Procurement, e-Contract dan e-Progress. Adapun pencatatan asset dalam e-Contract meliputi sebagai berikut: 1. Nama Kegiatan 2. Nama Pekerjaan Belanja Modal DPA 3. Nilai Anggaran Belanja Modal DPA 4. Nilai Asset 5. Nama dan Alamat SKPD sebagai Pengguna Asset Dengan adanya database pencatatan asset, diharapkan laporan asset dapat secara mudah diakses dan disajikan. Sehingga akan memudahkan dalam proses pencatatan neraca keuangan daerah. Selain hal tersebut, Laporan Asset dapat digunakan untuk proses monitoring dan evaluasi, sehingga memudahkan dalam proses asistensi kebutuhan belanja modal pendukung di setiap SKPD. Seluruh mekanisme ini akan membantu masyarakat untuk memantau dan memberikan masukan dalam tata kelola anggaran di Kota Bandung.13
12 Ibied.,
2.2. Dampak Partisipasi dalam Pemanfaatan e-Budgeting di Kota Bandung
Bandung saat ini mempunyai tiga aplikasi andalan, untuk evaluasi pelayanan di kelurahan/kecamatan warga dapat menggunakan kanal Sistem Informasi Penilaian (SIP), untuk instansi pemerintah memakai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Online (SILAKIP), dan aduan berbagai permasalahan memakai Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR). Walikota Bandung menjelaskan bahwasanya menjelaskan bahwa hanyadengan instrumen partisipatif dari masyarakat, kinerja birokrasinyameningkat. Lima puluh persen permasalahan pelayanan publik di Kota Bandung sudah dapat diselesaikan dengan sistem yang ada. Contohnya, jika dulu masalah perizinan warga harus menghadap ke kantor sekarang dapat dilakukan di rumah, dengan men-scan dokumen dan mengikuti prosedur lewat laman yang ada. Untuk pembayaran biaya perijinan secara online juga dapat dengan mudah ditelusuri hingga nomor antriannya, dokumen yang sudah selesai juga akan dikirim lewat petugas pos langsung kepada pihak yang mengajukan.14
Ridwan Kamil mempunyai prinsip untuk melakukan perubahan ada empat hal yang dipegang yaitu pemerintah dengan political power, civil society dengan social power, pebisnis dengan capital power dan media dengan information power. Semua itu kalau efektif dikerahkan semuanya untuk ikut berpartisipasi membangun Kota Bandung bisa lebih baik. Terutama dalam membangun civil society sebagai sumber kekuatan sosial. Kekuatan social ini erat kaitanya dengan bagaimana kepemimpinan di Kota Bandung bisa menghimpun dengan konsep partisipasi. Ada tiga kunci utama dalam membangun partisipasi yang mengarah pada level Citizen Power dimana kategori tersebut sudah pada level partisipasi yang tinggi dimana masyarakat sendiri bisa menilai, mengontrol dan mengawasi, yaitu melakukan dengan semangat Kolaborasi, Desentralisasi, dan Inovasi.15
Pertama, semangat kolaborasi adalah kunci dalam berbagi baik ide maupun materi semua unsur harus aktif terlibat dalam pembangunan di Kota Bandung. Maka setiap ada program yang harus melibatkan partisipasi masyarakat selalu dilakukan
14 Tri Endang Mudiastuti. Ed.” Ridwan Kamil - Walikota Bandung, Smart City Sebuah Kebutuhan,” Warta Pembangunan, Volume xxIII, Nomor 3, Tahun 2016: Hlm 10-15.
dengan cara terbuka. Semua pihak boleh ikut dan aktif terlibat. Ridwan Kamil mencontohkan pada waktu adanya kegiatan memperingati Konfrensi Asia Afrika Pemkot membuka kepanitiaan agar terlibat aktif untuk membantu suksesnya acara tersebut caranya dengan mendaftarkan diri secara online. Ada sekitar 11000 yang mendaftarkan diri padahal yang dibutuhkan hanya 3000 orang saja. Kalau melihat tingkat antusiasme masyarakat untuk ikut sangat tinggi.
Kedua, semangat desentralisasi memberikan kewenangan-kewenangan yang lebih mandiri untuk pembangunan sampai pada level RW pun Pemkot memberikan anggaran yang cukup besar untuk dikelola sebesar Rp 100 juta. Anggaran ini dimaksudkan agar tingkat partisipasi masyarakat akan lebih tinggi dalam pembangunan.
Ketiga, adalah semangat berinovasi ini erat kaitannya dengan dua kunci sebemnya karena inovasi ini harus menempel pada masing-masing peran sehingga tercipta partisipasi yang efektif. Inovasi ini dilakukan supaya setiap program yang dilakukan untuk mengarahkan pada konsep smart city dengan karakteristik masyarakat di era milenial. Satu contoh yang dilakukan oleh Pemkot adalah membuka ruang partisipasi secara terbuka kepada masyarakat untuk merespon setiap pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Akses itu dibuka melalui media social yang sudah terkoneksi dengan dinas-dinas dan walikota Bandung.
Selain itu Pemkot Bandung melakukan penilaian kinerja bisa dilakukan melalui aplikasi berbasis teknologi informasi yang dikenal dengan Sistem Informasi Penilaian (SIP) Bandung Juara. Aplikasi ini merupakan salahsatu sistem informasi penilaian yang bisa mewadahi partisipasi masyarakat untuk menilai kinerja layanan yang dilakukan kecamatan di Kota Bandung. Pada aplikasi ini terdapat dua kriteria penilaian yaitu pertama, kriteria penialaian warga terhadap kinerja kecamatan meliputi ketertiban, keindahan, kebersihan, indeks kebahagiaan, dan ngabandungan.
Kedua, mengenai kualitas pelayanan yang diberikan dan rata-rata waktu pelayanan. Hasil penilaian warga masyarakat tersebut menjadi bahan penilaian walikota untuk memberikan rapor kecamatan.16
Hasil penilaian masyarakat terhadap kinerja di 30 kecamatan di Kota Bandung berdasarkan kategori penilaian ketertiban, keindahan, kebersihan, indeks kebahagiaan, dan program ngabandungan mendapatkan nilai paling tinggi dengan indeks 3,60 (kategori cukup baik) yakni untuk kecamatan Bandung Kidul. Sedangkan kecamatan yang mendapatkan penilaian paling rendah dengan indeks penilaian 1,79 (kategori sangat kurang baik atau buruk) adalah Kecamatan Bojongloa Kaler. Sebagian besar lagi, masyarakat menilai kinerja kecamatan dalam mewujudkan ketertiban, keindahan, kebersihan, indeks kebahagiaan, dan program ngabandungan dengan penilaian rata-rata pada kategori kurang baik (indeks 2). Berdasarkan penilaian masyarakat terhadap kinerja kecamatan tersebut (meliputi ketertiban, keindahan, kebersihan, indeks kebahagiaan, dan program ngabandungan) 4 kecamatan memperoleh penilaian tertinggi yakni Kecamatan Bandung Kidul, Andir, Ujung Berung, dan Kecamatan Sumur Bandung dengan indeks 3 (cukup baik). 5 kecamatan mendapatkan penilaian kinerja sangat kurang atau buruk yaitu Kecamatan Cibeunying Kaler, Bandung Kulon, Kiaracondong, Cinambo, dan Bojongloa Kaler. Sedangkan sebagian besar kecamatan di Kota Bandung, mendapatkan penilaian dari masyarakat dengan indeks 2 (kurang baik). Penilaian ini menunjukkan bahwa kinerja kecamatan di Kota Bandung masih belum dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat terkait ketertiban, keindahan, kebersihan, indeks kebahagiaan, dan program ngabandungan. Padalah program ini sesungguhnya sudah menjadi janji politik Walikota Ridwan Kamil.17
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan oleh Aristanti Widyaningsih dengan memberikan simpulan atas penelitian mengenai pengaruh partisipasi anggaran terhadap budgetary slack serta pengaruh gaya kepemimpinan sebagai variabel moderasi di lingkungan Pemerintah Kota Bandung ditemukan bahwasannya Partisipasi anggaran berpengaruh langsung dan positif terhadap munculnya budgetary slack. Artinya semakin tinggi tingkat partisipasi dalam penyusunan anggaran maka akan semakin tinggi budgetary slack (senjangan anggaran) yang ditimbulkan. Pengaruh partisipasi anggaran terhadap budgetary slack
tidak dimoderasi oleh gaya kepemimpinan, dalam hal ini gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan.18
17 Novie Indrawati Sagita,” Partisipasi Warga Masyarakat Dalam Penilaian Kinerja Kecamatan Di Kota Bandung,” Jurnal Cosmogov, Vol.2 No.2, Oktober 2016: Hlm 315-317.
Di Kota Bandung pasca pergantian walikota tahun 2013 telah terjadi adanya
reframing namun tidak disertai restructuring. Dalam hal revitalization dan renewal
ada sedikit dilakukan namun tidak dibarengi dengan perubahan regulasi yang memadai contohnya tentang konsep Bandung Juara yang merupakan suatu renewal
dalam menyemangati aparat untuk giat meraih prestasi dalam berbagai bidang sehingga menjadikan Bandung juara (kahiji). Sebaiknya dibarengi dengan memberikan landasan hukum formal setingkat Perda dan didukung kekuatan politik di lembaga DPRD Kota. Hal inilah yang terungkap di DPRD yang menunggu pihak Pemerintah Kota untuk merapat ke DPRD membicarakan langkah konkrit dalam mewujudkan reframing baru di Kota Bandung.19
Selain itu, perlu dilakukan langkah konkret untuk menjaga partisipasi warga dalam mekanisme e-budgeting di Kota Bandung. Para pejabat pimpinan SKPD dalam jajaran Pemerintah Kota Bandung hendaknya tetap melibatkan seluruh Kabid/kabag/kasubag dalam penyusunan anggaran. Hasil penelitian dari Aristanti Widyaningsih menunjukkan hubungan yang lemah antara variabel partisipasi anggaran dengan budgetary slack. Oleh karena itu, pemerintah daerah sebaiknya tidak hanya terfokus pada faktor tersebut, melainkan dengan menggali lebih lagi faktor-faktor lain yang berpengaruh kuat terhadap munculnya budgetary slack dengan kata lain masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang mampu menjelaskan budgetary slack. Menyangkut gaya kepemimpinan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung, meskipun temuan lebih berorientasi kepada hubungan dan tidak berpengaruh terhadap hubungan partisipasi anggaran dengan budgetary slack, namun hendaknya senantiasa tetap memperhatikan struktur tugas dan produktivitas sebagai bagian penting dari gaya kepemimpinan yang dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas kerja seluruh komponen yang terdapat dalam organisasi di Pemerintah Kota Bandung.20
Pemerintah Kota Bandung khususnya pada bagian Pemerintahan Umum perlu melakukan upaya sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat mengenai Sistem Informasi Penilaian (SIP) Bandung Juara agar masyarakat semakin peduli dan sadar
19 Nandang Alamsah Deliarnoor,” Aspek Hukum Transformasi Manajemen Pemerintahan Kota Bandung Tahun 2013-2016,” Jurnal Cosmogov, Vol.2 No.2, Oktober 2016: Hlm 190-192.
akan pentingnya keterlibatan mereka dalam memantau dan mengevaluasi (participation in evaluation) kinerja.
III. Kesimpulan
Berkat e-budgeting, kini Pemkot Bandung dapat memonitor komposisi anggaran dari seluruh SKPD dan bisa melakukan langkah-langkah strategis untuk melakukan efisiensi anggaran. Proporsi anggaran Kota Bandung lebih baik, lebih prioritas, lebih bisa dipertanggungjawabkan dan tidak ada anggaran-anggaran siluman. Dengan E-budgeting, semua harga barang sama, tidak lagi terjadi perbedaan harga antara dinas. Sebelumnya, SKPD bisa mengajukan anggaran seenaknya tapi mulai sekarang pengajuan anggaran diperketat, jika kegiataan dan anggaran tidak sesuai dengan tupoksinya, maka secara otomatis sistem akan menolaknya.
e-Budgeting yang terkoneksi dengan BIRMS telah membantu pelibatan masyarakat dalam tata kelola angaran dengan berbasiskan pada teknologi informasi. BIRMS dengan mekanisme e-budgeting telah menjadi suatu gerakan yang transparansi dalam proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam bentuk keterbukaan dan partisipasi dalam public contracting pada semua tahapan proses kontrak dan semua jenis kontrak. Bandung Integrated Resources Management System (BIRMS) dimaksudkan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran terintegrasi dengan Sistem Aplikasi berbasis Web.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,” e-Budgeting Kota Bandung Tercepat Kelarnya,”(ditulis pada 20 Juni 2016, diakses pada 19 Desember 2017, http://www.balebandung.com/e-budgeting-kota-bandung-tercepat-kelarnya/).
Anonim,” Petunjuk Penggunaan Aplikasi Sistem Informasi Perencanaan Dan Penganggaran Daerah Kota Bandung Untuk APBD Perubahan,” (diunduh pada 22 Desember 2017,
https://apbd.bandung.go.id/doc/manualAPBDPerubahan.pdf).
Batubara, Puteranegara,” Ridwan Kamil: E-Budgeting Mampu Cegah Korupsi!,”(ditulis pada
https://news.okezone.com/read/2017/12/02/525/1824131/ridwan-kamil-e-budgeting-mampu-cegah-korupsi).
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan,” Pengenalan Sistem Informasi Manajemen
Daerah (SIMDA),”(diakses pada 21 Desember 2017,
http://www.bpkp.go.id/sakd/konten/333/Versi-2.1.bpkp).
Deliarnoor, Nandang Alamsah,” Aspek Hukum Transformasi Manajemen Pemerintahan Kota Bandung Tahun 2013-2016,” Jurnal Cosmogov, Vol.2 No.2, Oktober 2016: Hlm 183-200. Fitrat, Irfan,” E-Musrenbang Perkuat Smart City Bandung,”(ditulis pada 3 Februari 2017,
diakses pada 21 Desember 2017,
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/02/02/okrav9400-emusrenbang-perkuat-smart-city-bandung).
Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Umum Bandung Integrated Resources Management System,”Pedoman Umum Bandung Integrated Resouces Management System,” (diunduh pada 22 Desember 2017, https://ppid.bandung.go.id/?media_dl=10103).
Mudiastuti, Tri Endang. Ed.” Ridwan Kamil - Walikota Bandung, Smart City Sebuah Kebutuhan,” Warta Pembangunan, Volume xxIII, Nomor 3, Tahun 2016: Hlm 10-15.
Ramdani, Deni Fauzi dan Fikri Habibi,” Penguatan Partisipasi Masyarakat Dalam Mendorong Program Smart City di Kota Bandung,”(Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Terapan yang dilaksanakan pada Serang, 25 November 2017): Hlm 125-129.
Rosadi, Dian,” E-Musrenbang jadi solusi peningkatan pembangunan di Kota Bandung,”(ditulis pada 27 Januari 2017, diakses pada 21 Desember 2017,
https://bandung.merdeka.com/halo-bandung/e-musrenbang-jadi-solusi-peningkatan-pembangunan-di-kota-bandung--1701273.html).
Sagita, Novie Indrawati,” Partisipasi Warga Masyarakat Dalam Penilaian Kinerja Kecamatan Di Kota Bandung,” Jurnal Cosmogov, Vol.2 No.2, Oktober 2016: Hlm 308-329.