PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL TERHADAP. docx

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL TERHADAP

PENYERANGAN POS POLISI MYANMAR DAN PENINDASAN

ETNIS ROHINGYA

Zaeda Zulfa

zaedazulfa@students.unnes.ac.id

Abstrak

Yangon – Otoritas Myanmar menjatuhkan vonis mati terhadap seorang pria Rohingya. Putusan vonis mati ini berkaitan dengan penyerangan pos polisi di perbatasan yang menewaskan 9 personel kepolisian Myanmar sehingga memicu aparat negara untuk melakukan operasi besar-besaran terhadap kelompok minoritas muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Dari operasi pembersihan yang dilakukan pada Oktober 2016 mengakibatkan ratusan warga Rohingya tewas dan puluhan ribu lainnya melarikan diri ke Bangladesh. Laporan terbaru PBB menyebutkan bahwa pembunuhan massal terhadap warga Rohingya di Rakhine juga dibarengi dengan pemerkosaan bergiliran oleh tentara dan polisi Myanmar. Operasi pembersihan oleh aparat negara Myanmar bertujuan untuk menemukan para pelaku penyerangan pos polisi di perbatasan tersebut. Pemerintah Myanmar menduga bahwa dibalik serangan itu adalah teroris Rohingya. Ada 14 terdakwa pelaku penyerangan pos polisi di perbatasan dan salah satu terdakwa bernama Mamahdnu Aka Aulia di vonis hukuman mati. Kepala Kepolisian Sittwe, Yan Naing Lett, menyebutkan pengadilan setempat menjatuhkan vonis mati terhdapa pemimpin penyerangan pos kepolisian di perbatasan Kotankauk. Sittwe merupakan ibu kota Negara Rakhine. Vonis mati dijatuhkan pada Jumat (10/2) lalu. Yan Naing Lett kepada AFP, Senin (13/2) menuturkan bahwa Mamahdnu Aka Aulia dijatuhi vonis mati pada 10 Februari di pengadilan Sittwe atas dakwaan pembunuhan disengaja. Pria tersebut ikut serta dalam penyerangan dan memimpin penyerangan dan merencanakan penyerangan bersama terdakwa lainnya. Kendati demikian, militer Myanmar melakukan pengawasan ketat dengan melakukan operasi di wilayah Rakhine, temapt kekerasan terhadap kaum muslim khususnya Rohingya.

Kata Kunci : Vonis, serangan, Rohingya, polisi, PBB

PENDAHULUAN

Latar belakang

(2)

diikutsertakan sebagai warga Myanmar di dalam Undang-Undang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa etnis Rohingya adalah penduduk yang paling teraniaya di dunia. Mengutip keterangan dari media Republika, hal tersebut diinyatakan sebagai berikut1 : “Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

mengatakan bahwa etnis minoritas Muslim Rohingya di Myanmar merupakan kelompok etnis minoritas yang saat ini paling merana di dunia. Ini dikarenakan konflik kemanusiaan dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pengikut Budha radikal di Myanmar”.

Dapat dilihat dengan jelas tidak ada kesetaraan dalam hidup berdampingan dengan perbedaan keyakinan. Hilangnya prinsip kesetaraan bahwa semua orang adalah sama di hadapan hukum, tidak ada produk hukum yang berlaku untuk beberapa orang. Telah terjadi diskriminasi kaum minoritas Rohingya, kekerasan dan penindasan dirasakan oleh kaum minoritas tersebut. Pemerintah yang tidak mengakui adanya Rohingya semakin sulit memperoleh hak asasinya untuk mendapat perlindungan. Penindasan terhadap etnis Rohingya ini sudah termasuk ke dalam kejahatan genosida. Kejahatan genosida merupakan sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut.2 Menurut Larry May, bahwa kejahatan etnic cleansing

melibatkan adanya suatu kebijakan yang disengaja oleh suatu grup/suku tertentu untuk memindahkan secara paksa dan kekerasan atau diteror agar penduduk sipil lainnya atau grup agama lainnya pindah ke wilayah geografis tertentu.

Dengan tidak diakuinya etnis Rohingya sebagai warga negara Myanmar, etnis Rohingya telah dirugikan, hak asasi untuk memperoleh pengakuan, hak untuk melangsungkan kehidupannya dan lain sebagainya tidak bisa di dapatkan dengan mudah, tidak ada jaminan hukum untuk melindungi warga Rohingya dari ancaman luar. Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan pemberian dari sang pencipta secara kodrati pada setiap individu makhluk sampai melepasnya roh dari jiwa makhluk itu sendiri. Hak memberikan jaminan moral dan dapat menikmati kebebasan manusia itu sendiri dari segala bentuk perlakuan. Manusia mempunyai kedudukan dan martabat yang tinggi sehingga perlu untuk diberikan penghargaan, pengakuan, perlindungan dan pemenuhan HAM sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati nurani.

Penggunaan kekerasan yang dilakukan karena konflik bersenjata internasional atau bersenjata nasional membuat masyarakat internasional melakukan pencegahan dan tindakan dengan cara penyelesaian damai terlebih dahulu. Jika penyelesaian dengan kekeluargaan tidak kunjung usai konfliknya maka digunakan intervensi kemanusiaan yang bersifat menghukum. Untuk memberikan bantuan kemanusiaan dapat dilakukan tanpa harus memperoleh keputusan dari organisasi dunia. Pemberian bantuan guna untuk mengurangi penderitaan yang dirasakan, pemberian dapat berupa penyelamatan korban, memberikan bantuan kebutuhan kehidupan sehari-hari. 3Sedangkan intervensi

11Dipresentasikan pada “Seminar Nasional Rohingya dalam Perspektif Fotografi

Kemanusiaan dan HAM yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terAs) Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta, tanggal 11 Februari 2014.

2Jawahir Thontowi, “Perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap Minoritas Muslim Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional”, Pandecta, Volume 8. Nomor 1. (Januari 2013), hlm. 42.

(3)

kemanusiaan penggunaan kekerasan dengan cara pengiriman militer yang dimaksudkan untuk menekan dan menghentikan tindakan kekerasan dan dalam penyelenggaraannya harus dipertimbangkan melalui putusan atau resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Kronologi Kasus

Pada Oktober 2016, Myanmar kembali tegang sebab telah terjadi penyerangan pos polisi yang menewaskan 9 personel kepolisian Myamnar. Pemerintah Myanmar menuturkan jika serangan pos polisi yang berada di perbatasan sudah disusun dan dirancang oleh kelompok etnis Rohingya. Ada ratusan militan etnis Rohingya yang melakukan penyerbuan pos polisi pengamanan dekat perbatasan Bangladesh. Penyerangan dilakukan karena dirasa telah terjadi diskriminasi minoritas Rohingya oleh pemerintahan Myanmar. Perbedaan agama menyebabkan pula semakin tegangnya konflik yang sedang terjadi. Kaum muslim minoritas berdampingan dengan penduduk mayoritas Budha radikal di Myanmar yang kurang akur semakin memperparah keadaan kaum Rohingya yang dikucilkan di daerah tempat tinggalnya.

Ratusan militan Rohingya diketahui telah menyerang tiga pos polisian yang berada di perbatasan Bangladesh pada 9 Oktober. Untuk mencari para pelaku dalam penyerangan dilakukan operasi pembersihan terhadap warga Rohingya. Tanpa ada pilah-pilah aparat kepolisian dan militer membunuh ratusan warga Rohingya dan sebagian lainnya melarikan diri ke Bangladesh guna menyelamatkan nyawanya dari ancaman bahaya yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar. Laporan PBB terbaru menyatakan jika dalam operasi pembersihan aparat kepolisian dan militer melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan secara bergilir terhadap warga Rohingya.Setelah tertangkapnya 14 terdakwa penyerangan pos polisi, Kepala Kepolisian Sittwe Yan Naing Lett, menyebutkan jika terdapat satu terdakwa yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan setempat. Diduga pelaku tersebut bernama Mamahdnu Aka Aula pemimpin serangan dan merencanakan penyerangan bersama terdakwa lainnya. Mamahdnu dijatuhi hukuman mati pada 10 Februari di pengadilan Sittwe atas dakwaan pembunuhan disengaja. Sedangkan 13 terdakwa lainnya telah disidang namun belum dijatuhi vonis.

Adanya dugaan pelannggaran yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan militer, Kementrian Dalam Negeri Myanmar akan melakukan penyelidikan depatemen guna mencari tahu dugaan kekejaman yang dilakukan aparat keamanan negaranya. Sejak insiden penyerangan pos pengamanan di wilayah tiga perbatasan Myanmar oleh sejumlah kelompok bersenjata militer Myanmar melakukan pengawasan ketat dengan melakukan operasi di Rakhine, tempat kekerasan terhadap kaum Muslim khususnya Rohingya yang juga ditempat itu pula militer Myanmar melakukan pelanggaran HAM berat dengan cara membabi buta secara sadis.4 Tindakan diskriminatif pemerintah Myanmar yang

tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga negara dilegalkan melalui perangkat hukum, kemudian pembunuhan oleh aparat secara masif, perampasan kebebasan, serta pemindahan secara paksa dapat dikategorikan sebagai persekusi. Tindakan yang dilakukan pemerintah Myanmar dengan kebijakan negara tidak adanya pengakuan warga negara semata-mata ditujukan kepada etnis minoritas Myanmar saja.

Rumusan Masalah

(4)

1. Bagaimanakah hukum internasional memandang pemerintah Myanmar? 2. Bagaimana pertanggungjawaban hukum internasional dengan kasus

Rohingya?

Pandangan Hukum Internasional terhadap Pemerintah Myanmar

5Menurut Mochtar Kusumaatmadja, hukum internasioanal (publik) adalah

keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau personal yang melintasi batas negara-negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat perdata. Hukum internasional merupakan sistem hukum yang berkaitan dengan hubungan antar negara yang memberikan pedoman, aturan dan cara atau metode bagimana suatu sengketa dapat diselesaikan dengan damai. Kasus yang menimpa warga Rohingya yang didiskriminasi oleh negaranya sendiri menjadi perhatian oleh negara-negara lain. Sikap keji aparat penegak hukum dengan melakukan cleansing etnic juga pemerkosaan sudah dapat digolongkan ke dalam kejahatan berat. Dugaan masyarakat internasional terhadap ethnic cleansing minoritas Muslim Rohingya dimulai pada bulan Agustus 2012. 6Sebagaimana dikemukakan oleh Adam Jones, bahwa kelompok

minoritas tidak hanya karena mereka sebagai warga pendatang dari luar (imigrant) atau keturunan kaum pendatang (descendant of immigrant) tetapi hampir kebanyakan menjadi target kekerasan. Etnis minoritas Muslim Rohingya yang lebih dulu menduduki Myanmar sebelum kemerdekaan negaranya malah pemerintah Myanmar memperlakukan Muslim Rohingya dengan tidak mengakui mereka sebagai warga negara dan menimbulkan persoalan hukum dan HAM. Pemerintah Myanmar sudah melakukan tindakan diskriminatif terhadap etnis minoritas Rohingya dan bertentangan dengan Konvensi Anti Diskriminasi dan serta Konvensi Kewarganegaraan.

Tindak penyiksaan yang dilakukan polisi dan militer Myanmar bisa termasuk ke dalam tiga unsur yaitu perbuatan yang dimaksudkan mengakibatkan kesengsaraan secara fisik ataupun mental, dapat dilihat jika Etnis Rohingya mengalami kekrasan, pembunuhan dan pemerkosaan yang menimbulkan trauma berat bagi etnis Rohingya. Yang kedua yaitu adanya sikap diam dari bejabat yang berwenang. Pemerintah Myanmar hanya diam tanpa melakukan tidakan untuk mencegah lebih banyak korban berjatuhan, tidak ada keputusan untuk mecabut UU Kewarganegaraan yang tidak mengakui adanya etnis Rohingya. Ketiga, yaitu mens rea, penderitaan yang dilakukan secara sengaja. Al yang esensial untuk membedakan anatar tindak penyiksaan biasa-seperti tindak penyiksaan seorang anak oleh bapaknya dan penyiksaan yang merupakan kejahatan internasional. Sebagai konsekuensi, Pemerintah Myanmar telah melakukan kejahatan Internasional sebagi sebuah perbuatan yang terpisah namun dapat dijangkau oleh hukum internasional.

7Pada tanggal 1 Februari 1989 Konvensi Eropa mengenai Tindak

Penyiksaan mulai berlaku. Tujuan dari dibentuknya Konvensi ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada orang-orang yang terampas kebebasannya

5 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Buku 1 Bagian Umum, (Jakarta: Binacipta, 1982), cetakan keempat, hlm.1.

6 Ibid., hlm. 41.

(5)

dengan cara memperkuat perlindungan bagi mereka terhadap tindak-tindak penyiksaan. Untuk mengawal tujuan ini Konvensi diberikan sebuah Komite yang dapat melakukan kunjungan ke wilayah-wilayah yang telah menjadi kewenangannya Di sini negara Myanmar berperan pasif atau kemungkinan menjadi aktor dalam kasus penyiksaan terhadap Muslim Rohingya, Myanmar dapat dimintakan pertanggungjawaban di depan hukum.

Dalam Statuta Roma, Mahkamah Konstitusi dapat menjalankan fungsi-fungsinya dan memenuhi tujuannya atas Wilayah suatu Negara Pihak dan perjanjian khusus atas wilayah suatu negara. Kejahatan yang digolongkan ke dalam Jurisdiksi Mahkamah yang diatur dalam pasal 5 mengenai kejahatan yang paling serius yang menyangkut masyarakat internasional secra keseluruhan. Statuta yang berkenaan dengan kejahatan-kejahatan adalah kejahatan genosida yang mecakup setiap perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau keagamaan. Kedua kejahatan terhadap kemanusiaan berarti salah satu dari perbuatan pembunuhan, pemusnahan, perbudakan dan deportasi atau pemindahan paksa penduduk dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik yang ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil, dan dengan mengetahui adanya serangan itu. Ketiga, kejahatan perang merupakan kejahatan yang dilakukan sebagai bagian dari suatu rencana atau kebijakan atau sebagi bagian dari suatu pelaksanaan secara besar-besaran dari kejahatan tersebut. Dan keempat kajahatn agresi.

Kasus kejahatan yang ditujukan kepada etnis Rohingya ini termasuk kedalam kejaghatan terhadap kemanusiaan tapi juga bisa di golongkan ke dalam kejahatan genosida karena memilki tujuan untuk menghancurkan etnis Rohingya.

Para Ahli di Komisi DK PBB merumuskan bahwa pembersihan etnis Rohingya mencakup kejahatan pembunuhan, penyiksaan, penangkapan dan pemerkosaan serta penahanan sewenang-wenang oleh pengadilan juga eksekusi tanpa putusan pengadilan terlebih dulu.

Tanggungjawab Hukum Internasional Terhadap Etnis Rohingya

Pemrintah Myanmar yang melakukan pembiaran kejahatan HAM berat terhadap minoritas Rohingya telah mengundang organisasi internasional untuk menyalurkan bantuan. Organisasi internasional seperti OKI telah mengirimkan misi pencari fakta ke Myanmar, Ekmeleddin Ihsaroglu dengan merujuk pada laporan HAM dunia, menunjukkan bukti terjadinya suatu penyiksaan dan diskriminasi disponsori negara. Peran pemerintah yang terkesan lambat dalam menangani kasus ini sangat disayangkan. Kasus ini menjadi perhatian bagi seluruh negara-negara di dunia. Kewajiban internasional untuk melindungi, menjamin dan memenuhi HAM yang fundamental bersifat erga omnes, menjadi tanggungjawab bagi seluruh negara. Kewajiban internasional dapat bersumber dari perjanjian internasional atau kebiasaan internasional.

8Pemerintah Myanmar juga berkewajiban untuk mencabut atau

mengamandemenkan peraturan perundang-undangan yang bersifat diskriminatif, khususnya Undang-Undang Kewarganegaraan (Citizenship Act) tahun 1982. Diskriminasi sudah menjadi permasalahan serius bagi tiap individu

(6)

yang didiskriminasi karena perbedaan warna kulit, asal-usul, dan kepercayaan yang dianutnya merupakan faktor-faktor diluar kekuasaan. Diskriminasi merupakan perlakuan yang diberikan oleh negara atau pemerintah kepada sejumlah orang atau komunitas secara tidak sama atas jaminan hak-hak dasar dan hak-hak kebebasan dasar baik karena alasan perbedaan suku, agama, ras, dan gender. 9Pasal 5 International Convention on the Elimination of All Form of

Racial Discrimination 1969 menyebutkan bahwa negara-negara pihak berkewajiban untuk meghapus segala bentuk tindakan diskriminasi, dan wajib memberikan jaminaj kepada setiap orang tanpa menbedakan ras, warna, kebangsaan, asal usul, suku dan agama.

Pelanggaran HAM berat yang menewaskan banyak manusia dan kehilangan harta bendanya mendorong untuk melakukan tindakan tindakan intervensi kemanusiaan. Banyaknya jumlah korbanyang tewas baik disengaja maupun tidak disengaja dari tindakan rezim pemerintah Myanmar atau negara membiarkan peristiwa terjadi dan atau tiketidakmampuan negara untuk melakukan tindakan sehingga negara gagal untuk menegakkan keadilan. Meski tidak mudah, melakukan intervensi kemanusiaan juga ketika Oganisasi Konferensi Islam menyelenggarakan pertemuan, yang dihadiri oleh lebih dari 40 utusan dari 20 anggota negara muslim mengenai pembahasan minoritas rohingya di Myanmar sebagai anggota masyarakat dunia yang paling tertindas.

Peran Indonesia dalam menyikapi kasus pelanggaran yang terjadi pada etnis Rohingya dengan tegas menolak secar konsisten segala bentuk diskriminasi atas dasr agama, suku, dan ras serta lainnya. Sikap pemerintah Indonesia dengan memberikan rasa kepeduliannya melalui diskusi multirateral dan bilateral dengan pemerintah Myanmar. Indonesia yang penduduknya paling banyak dihuni oleh orang-orang Muslim memberikan kepeduliannya atas dasar kemanusiaan untuk membela orang-orang Muslim Rohingya dari diskriminasi rusial. Hasil sementara dari kunjungan Komisi Tinggi HAM PBB, Navy Pilay 28 Juli menyerukan penyelidikan independen, disertai oleh kunjungan Jean Quintana, yang tiba di Myanmar tanggal 29 Juli 2012. Temuan dari Human Rights Watch ASEAN telah mengemukakan temuannya bahwa pemerintah Myanmar tidak melakukan upaya pencegahan.

Masyarakat Rohingya merupakan kaum imigran yang datang ke Burma, beberapa abad silam. Sebagian berpendapat, bahwa Rohingya berasal dari bahasa Arab Rahama yang berasal dari kesultanan di Bengal. Dari postur tubuh dan bahasa, mereka cenderung memiliki kesamaan tampilan fisik dan kebahasaan dengan bangsa Bangladesh. Penggunaan bahasa mereka berkaitan dengan bahasa Chitagonian yang digunakan kebanyakan orang wilayah perbatasan bagian selatan Bangladesh. Secara geografis, wilayah Arakan (Rakhine) kebanyakan mereka tinggal di wilayah berbatasan antara Bangladesh dengan Arakan wilayah Burma Barat (Myanmar). Kehadiran mereka di Arakan, Burma Barat telah berafiliasi dengan penjajahan Inggris. Pada zaman Jepang, mereka terkucilkan karena tidak berkolaborasi dengan penduduk asli Burma. Sebagian Rohingya menjadi imigran dari Pakistan merupakan konsekuensi politis, sejak pemerintahan Ali Al-Jinnah. Sejak berdirinya Pakistan tahun 1945-1948, mereka dikirim sebagai grup militer yang ditempatkan di wilayah Arakan, di wilayah Pakistan Timur, atau Bangladesh yang saat ini berbatasan dengan wilayah Burma.

(7)

Dalam konferensi dunia pertama untuk memberantas rasisme dan diskriminasi rasial, negara-negar didesak untuk menghapuskan diskriminasi karena latar belakang etnis atau kebangsaan diantara warga negaranya dan melindungi serta meperomosikan hak asasi manusia etnis minoritas dan kebangsaan.pemerintah Myanmar telah melakukan tindakan diskriminasi terhadap etnis rohingya yang didasarkan atas ras, etnis warna kulit dan agama. International Convention on the elimination of all forms of racial disriimation memberikan perlindungan terhadap kebebasan dari diskriminasi. Harapan dari konvensi ini adalah pemerintah Mynmar bisa mengambil langkah-langkah yang bisa menghilangkan praktek diskriminasi. Perlindungan juga diberikan pada pasal 27 International Convenant on civil and political rights, pasal ini menjamin hak atas identitas nasional, etnis, agama atau bahasa dan hak untuk mempertahankan ciri-ciri yang ingin dipelihara dan dikembangkan oelh kelompok tersebut.

Tekanan Pemerintah Burma dan juga masyarakat asli Rakhien kepada Rohingya semakin meningkat. Konflik horizontal antara masyarakat Rohingya dengan suku asli Rakhien tidak pernah terselesaikan secara komprehensif. Puluhan ribu orang Rohingya meninggalkan tempat, untuk menjadi pengungsi yang menuju ke negara-negara yang layak menjadi tempat tujuan lebih aman. Bangladesh termasuk negara yang paling dekat, tetapi tegas menolak kehadiran pengungsi Rohingya karena alasan kepadatan penduduk (over population). Sikap tersebut juga terlihat ketika Pemerintah Bangladesh menolak bantuan asing mendirikan kamp penampungan pengungsi di wilayah perbatasan. Sejak tahun 1978, sekitar 200 ribu orang mengalir menjadi pengungsi ke Bangladesh, tahun 1991-1992 sekitar 10.000 orang lari menjadi pengungsi ke Bangladesh, tahun 1992 sekitar 270.000 ke Bangladesh. Tindakan kekerasan tersebut telah menjadi alasan sah mereka menjadi pengungsi. Pemerintah Burma melakukan pembunuhan, atau pembersihan, pengusiran dan perampasan harta kekayaan minoritas Rohingya.

Kebijakan pemerintah Myanmar yang diskriminatif tersebut, mengarah pada meruyaknya tragedi kemanusiaan terhadap 3 Dalam Pasal 33 Ayat (1) disebutkan bahwa “Tidak satu pun Negara Peserta dapat mengeluarkan atau mengembalikan seorang pengungsi dalam cara apapun ke perbatasan wilayah apabila kehidupan atau kebebasannya terancam karena alasan rasnya, agamanya, kewarganegaraannya, keanggotaannya pada suatu kelompok sosial tertentu atau pendapat politik tertentu”.

Kesimpulan

(8)

didukung oleh faktor politik yang semula beraplikasi dari Inggris, tuntutan otonomi menjadi bagian khusus. Tidak ikut serta dalam penandatanganan dokumen pembentukan Negara Myanmar dan dugaan keterlibatan dengan organisasi Al-Qaeda merupakan faktor penyebab timbulnya diskriminasi. Kebijakan Pemerintah Myanmar terhadap minoritas Rohingnya, terbukti melanggar hukum internasional, baik yang terkait dengan status hukum ysng didasarkan pada UU Keimigrasian dan kewarganegaraan maupun pada upaya-upaya untuk menutup akses kesejahteraan bagi minoritas Rohingnya termasuk pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan kesejahteraan. Secara sosial ekonomi mereka menjadi masyarakat yang miskin, dan begitu mudah dapat dijadikan obyek pengusiran, perampasan harta kekayaan mereka, termasuk juga penyiksaan yang tidak didasarkan peraturan hukum. Tragedi sejarah hitam penindasan terhadap minoritas Muslim Rohingnya tidak dapat disembunyikan. Fakta tersebut mengindikasikan, praktek-praktek kekerasan dan pembunuhan yang sistematis dan meluas. Penegasan pemerintah yang terlibat dan membiarkan tindakan kekerasan itu berlangsung dan menempatkan minoritas Rohingnya sebagai penduduk yang tidak berkewarganegaraan adalah bukti pelanggaran terhadap konvensi anti-diskriminasi dan konvensi genosida. Upaya untuk membebaskan Minoritas Islam Rohingya di Myanmar, negara-negara yang tergabung di OKI, ASEAN telah memfasilitasi adanya kesepakatan untuk memberikan tidak saja bantuan.

DAFTAR PUSTAKA

Dipresentasikan pada “Seminar Nasional Rohingya dalam Perspektif Fotografi Kemanusiaan dan HAM yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terAs) Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta, tanggal 11 Februari 2014.

Thontowi Jawahir, Perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap Minoritas Muslim Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional, Pandecta, Volume 8. Nomor 1. (Januari 2013), hlm. 41-51.

Sujatmoko Andrey, Hukum HAM dan Hukum Humaniter, (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO, 2015)

Kusumaatmadja Mochtar, Pengantar Hukum Internasional, Buku 1 Bagian Umum, (Jakarta: Binacipta, 1982), cetakan keempat.

Pranoto Iskandar, Tindak Penyiksaan dan Hukum Internasiona, Pandecta Volume 6. Nomor 2 (Juli 2011),

(9)
(10)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...