• Tidak ada hasil yang ditemukan

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PENGETAHUA. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PENGETAHUA. pdf"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

(PENGETAHUAN DASAR DALAM PROSES

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI

SENI RUPA DAN DESAIN)

Popon Sjarif Arifin

dipublikasikan pada Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2 No.5 September 2002

Abstrak

Tulisan ini berusaha memberikan gambaran tentang kurikulum yang berdasarkan kompetensi. Kompetensi ini berkaitan dengan ulcuran/ standar yang harus dipenuhi dalam menjalankan suatu profesi, termasuk didalamnya profesi mengajar, yang dituangkan dalam kurikulum dan sesuai dengan acuan yang berlaku dalam sistem pendidikan.Dengan demikian kompetensi ini juga harus dipahami oleh dosen sebagai pelaksana harian dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kata Kunci: pendidikan, kompetensi, kurikulum,

I. Pendahuluan

Pendidikan memberikan konstribusi yang tidak kecil terhadap kemajuan suatu bangsa, namun demikian seringkali diabaikan, baru terasa apabila timbul berbagai hal yang dirasakan tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Seperti halnya pada masa kini

masyarakat merasakan bahwa salah satu sebab

ketidakberes-an/kesembrawutan

(2)

2 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

tidak dapat dipungkiri

bahwa pendidikan

bertanggung jawab untuk membantu menyediakan sumber daya manusia yang handal.

Salah satu usaha yang dapat dilaksanakan yaitu dengan mendidik individu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan perkataan lain bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

untuk menunjang

tersedianya individu yang

kompeten dalam

mengerjakan pekerjaan tertentu, yang dapat dituangkan ke dalam salah satu komponen pendidikan yaitu kurikulum. Namun ini tidak mudah karena

menyangkut semua

komponen pendidikan, terutama dosen. Dosenlah yang paling mengetahui mata kuliah yang diberikannya.

II. Dasar Pemikiran

Untuk sampai pada

tujuan yang ingin kita capai, yaitu sumber daya manusia yang handal, dirasakan kurikulum yang

ada sudah tidak

menunjang, maka dicoba untuk

mengembangkannya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal ini, yaitu salah satu diantaranya adanya kesediaan untuk berubah. Perubahan ini terjadi karena adanya ketidak cocokan antara kenyataan dan harapan, keadaan inilah yang mendorong individu untuk berubah.

Namun biasanya

perubahan ini akan

mendapat kendala

apabila tidak diatasi akan memungkinkan untuk tidak adanya perubahan. Dalam hal ini STISI sudah memahami harus ada

perubahan dalam

kurikulum karena

dirasakan sudah kurang sesuai dengan tuntutan masyarakat.

(3)

3 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

sangat beragam

tergantung dari institusi itu sendiri, namun pada intinya proses itu berpijak

pada masa kini

berdasarkan masa lalu dan melihat kemasa yang akan datang. Harapan sumber daya manusia pada masa yang akan datang adalah yang berkualitas sesuai dengan bidangnyi:i Untuk mengetahui apakah indivitar berkualitas untuk satu pekerjaan memerlukan suatu standar yang dapat dipenuhi oleh individu tersebut, serta memperlihatkan satu hasil yang sesuai dengan apa yang institusi harapkan.

Dalam menentukan

standar tersebut tidak dapat dilepaskan dari tujuan yang ingin dicapai dan uraian pekerjaan yang hams dikerjakan yang akan dicapai melalui pendidikan tertentu. Dengan perkataan lain

bahwa individu

diharapkan kompeten dalam mengerjakan pekerjaannya. Kompetensi ini adalah salah satu topik

yang sedang populer dibicarakan dalam dunia sumber daya manusia

untuk menunjang

terselenggaranya suatu institusi/organisasi

sesuai dengan tujuan

yang berdasarkan

kebutuhan masyarakat.

III. Kompetensi

a. Latar belakang

Pada awal permulaan abad keduapuluh banyak

perusahaan yang

berperhatian tentang kompetensi yang dimiliki oleh pekerjanya. Tiap pekerja dituntut untuk mempunyai sejumlah keterampilan, seperti:

akuntan memahami

bagaimana

mengadministrasikan laba rugi; tukang membuat

mebel membuat

bermacammacam

furniture; sepeda dirakit dengan tangan; dan keterampilan lain dan tiap kahlian.

Bisnis tertentu

(4)

4 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

mempunyai kompetensi yang spesifik. Untuk hal tertentu ada kompetensi yang mudah didapat dan ada pula kompetensi yang kompleks. Kompetensi ini

didapat melalui

pendidikan yang

sederhana ataupun melalui pendidikan tertentu dengan memerlukan waktu belajar yang relatif lebih panjang serta latihan yang memadai. Untuk waktu belajar/latihan yang panjang dapat terdiri dan beberapa tahapan yang mungkin mem-punyai tujuan yang berbeda untuk tiap tahapannya dalam

mendidik tenaga kerja yang kompeten.

Sesudah perang dunia II banyak pekerja yang tidak memiliki kompetensi yang

memadai untuk

mengerjakan sejumlah tugas yang dibebankan sehingga memerlukan latihan tertentu. Dalam hal

ini perusahaan

mengadakan latihan yang sesuai dengan persyaratan

pekerjaannya. Pada waktu ini kualitas tidak menjadi acuan perusahaati, namun yang dipentingkan adalah Mass Quantities (Cooper, 2000: 4) dimana yang diperlukan adalah latihan tertentu untuk menghasilkan hasil tertentu. Inilah titik terendah dari apa yang dikatakan kompetensi dalam dunia kerja. Setelah terpenuhinya tenaga

pekerja dengan

keterampilan tertentu,

maka kemudian

perusahaan merasa perlu untuk meningkatkan kualitas produksinya, sehingga kemudian men-ciptakan kualitas berdasarkan ukuran/

persyaratan yang

ditentukan sesuai dengan kompetensi pekerjanya. Bagian terakhir dari abad duapuluh kemudian perusahaan yakin, bahwa kualitas itu akan didapat apabila tiap pekerja

kompetan dalam

(5)

5 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

b. Pengertian Kompetensi Pada umumnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan tentang suatu hal selalu sampai pada pengertian yang belum jelas yang dapat membingungkan. Salah satu usaha untuk mengatasinya antara lain dengan menjelaskan apa yang dimaksud dengan pengertian tersebut.

Apabila kita sampai pada pengertian kompetensi maka ada dua macam

defmisi yang

mendasarinya, seperti dikemukakan oleh Cooper (2000: 12) dalam bukunya:

"Competent: Qualified to perform to standards the processes of a job. Competence: The condition or state of being competent".

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang

dimaksud dengan

kompetensi adalah bahwa individu itu telah sampai pada keadaan competence dan kualitas dalam memenuhi suatu proses

yang sesuai dengan standar pekerjaan competent (kompeten).

Lebih jauh dikemukakan bahwa pekerjaan itu dikatakan competent apabila dia bekerja sesuai dengan tugas, yang berarti menyelesaikan dalam waktu tertentu, dengan tidak ada kesalahan, dan sesuai dengan harapan pengguna (customer). Apabila terlihat hasilnya dengan baik sesuai dengan standar maka is dapat dikatakan competence dalam proses tersebut.

Uraian di atas

dimaksudkan untuk menjelaskan pengertian kompeten dan kompetensi. Untuk memahami lebih lanjut, maka penting juga memahami apa yang tidak

termasuk dalam

competence.

Selanjutnya dijelaskan bahwa:

(6)

6 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

2. Process input 3. Process output 4. A t r a i t

5. Capability or ability 6. A motivational

attitude

Dengan uraian:

1. Competence is not

performance

Pengertian yang salah, yang sering terjadi yaitu dicampur adukannya

kompetensi dengan

performance.

Kompetensi adalah sudah terjadinya pelaksanaan

competence,

berkualitas untuk performance.

Kaitannya competence dengan performance, yaitu performance adalah ditunjukkanya hasil kerja yang berarti sudah terjadi proses tertentu, tapi belum tentu betul ataupun tidak selesai mengerjakannya dan tidak dapat dikatakan

berkualitas ataupun dikerjakan asalasalan sehingga hanya sampai pada taraf performance saja. Sedangkan

competence menuntut tidak hanya sudah dikerjakan tapi juga betul dan seseuai dengan standar.

2. Competence is not

process input

Pada umumnya

konsep standar yang dipakai dalam pengembangan

kualitas adalah proses SIPOC sebagai singkatan dari

Suppliers of Input to a

Process generating

Output to Customers.

Input didefinisikan sesuai dengan 'TQM' yang klasik disebut four M's: manpower, materials, methods,

and machinery.

(7)

7 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

kualifikasi individu mengerjakan satu pekerjaan. Walaupun manpower dipakai bukan untuk melihat hasil kerjanya namun untuk menghitung berapa orang yang dibutuhkan untuk mengerjakan satu pekerjaan tersebut, namun manpower ini harus mereka yang kompeten

dibidangnya.

Materials, methods

dan machinery

adalah bagian dari proses.

3. Competence is not

process output

Hal yang

membingungkan juga yang menyebabkan pengertian yang salah ialah apabila kompetensi dikaitkan dengan hasil yang diperoleh. Output adalah hasil dari satu proses, sebagai hasil/produk dari

pekerja yang

kompeten. Hasil itu

sendiri bukan kompetensi. Hasil dari satu proses adalah salah satu dari ukuran keberhasilan.

Contohnya: making sales quota bukan kompetensi. Itu adalah output dari proses penjualan. A zero-defect production run bukan kompetensi tapi itu adalah hasil dari proses perakitan (manufacturing).

Namun tidak dapat dipungkiri sering terjadi kesalah fahaman karena hasil itu berhubungan erat dengan kompetensi,

mereka yang

kompeten dalam pekerjaannya

diharapkan bekerja dengan betul dan hasilnya memenuhi standar.

4. Competence is not a trait

Trait adala

karakteristik

(8)

8 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

individu. Dalam dunia kerja ada beberapa karakteristik yang biasanya pelanpelan masuk secara tidak disadari dalam daftar kompetensi, yaitu: confidence, loyalty, honesty, innovation, valuing people, influence, result orientation, problem orientation, openess, change orientation, commitment, team orientation, and flexibility. Personaliti dibentuk sejak awal dab beberapa peneliti percaya bahwa elemen personaliti merupakan faktor generik dan susah berubah. Jadi personaliti ini yang dibawa individu ke pekerjaannya.

Personaliti ini dapat dipakai dasar dalam mencari minat yang sesuai dari suatu pekerjaan, tapi tidak

dapat dimasukkan

dalam model

kompetensi. Jadi tidak ada kaitannya dengan

kompetensi.

5. Competence is not capability or ablity

Kedua kata ini dapat membingungkan kalau sampai pada proyek yang berkaitan dengan kompetensi. Yang

dimaksud dengan

capability kapasitas individu di dunia kerja,

yang berkonotasi

dengan potensi untuk

suatu performance

pada waktu yang akan

datang. Umpanya:

perusahaan mengambil lulusan Si, bukan untuk mengetahui apa

yang akan mereka

ketahui ataupun apa yang dapat mereka

kerjakan, tapi

kemampuan dasar ma -la yang sesuai dengan lulusan Si. Namun demikian perusahaan masih berasumsi bahwa lulusan S1

mampu belajar dalam

lingkungan yang

(9)

9 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

tim, mencari dan

mempergunakan

sejumlah informasi,

dan berprestasi

dalam ukuran yang telah digariskan

perusahaan. Ability juga berkaitan erat

dengan kompetensi

terutama dalam

performance karena ability merupakan refleksi dari bakat. Namun balk capability ataupun ability tidak

dapat menjamin

performance individu.

Yang harus

diperhatikan kalau kita

bicara tentang

kompetensi adalah

capability dan ability mana yang menunjang

seseorang untuk

bekerja dalam

mencapai kualitas

tertentu.

6. Competence is not a motivational attitude

Apabila kita berbicara tentang kompetensi

tidak termasuk

elemen motivasi.

Alasannya seperti

halnya yang telah

diuraikan dalam

uraian trait, selain itu sikap motivasi adalah

integral dengan

personaliti individu.

Termasuk di

dalamnya motivation, aggression, self-condidence,

assertion, ambition, dedication,

decisiveness,

commitment. Attitude dapat timbul dalam pembicaraan

mengenai kompetensi

berkaitan dengan

bagaimana pimpinan

membawa anak

buahnya untuk

kompeten serta

berpengaruh dalam

evaluasi masalah

yang berkaitan

dengan pekerja,

karena menyangkut

mau mengerjakan

atau dapat

mengerjakan. Yang

mau belum tentu

dapat mengerjakan sedangkan yang dapat mengerjakan belum

(10)

10 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

mengerjakan.

Sedangkan dapat dan mau ini berkaitan dengan kualifikasi individu dalam mengerjakan

pekerjaannya serta motivasi untuk mengerjakannya.

c. Kompetensi dan Quality Movement (Cooper, 2000: 5)

Quality movement dimulai pada tahun 1950 yang dimulai di Jepang. Juga pada tahun in Deming (Cooper, 2000: 5) dari

Amerika mulai

mengajarkan kualitai kontrol yang modern pada perusahaan Jepang. Deming menjelaskan bahwa kualitas adalah tujuan utama dari perusahaan. Proses kualitas apabila dipadukan dengan pengembangan yang berkesinambungan akan meningkatkan efesiensi

dan memangkas

pembiayaan, yang kemudian pendekatan Deming ini disebut Total Quality Management (TQM)

Ada beberapa prinsip TQM ini yang berkaitan erat dengan kompetensi:

1. Pekerja yang paling bawah adalah biasanya lebih faham dari supervisor tentang pekerjaannya dan kebutuhan pelanggan. Dengan demikian penentuan persyaratan pekerjaan dan apa yang ingin dicapai dari pendidikan seyogiyanya dimulai dari mereka yang langsung berhubungan dengan pemakai jasa.

2. Individu yang paling tepat yang biasanya memuaskan pelanggan adalah dengan siapa mereka itu pertama kali berhubungan. Apabila mereka dituntut untuk bertemu dengan manajeman mereka biasanya sudah terlanjur marah.

(11)

11 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

kualitas yang baik sebaiknya memilih pegawai yang kompeten dalam bidangnya.

Kemudian konsep TQM ini diterapkan pula dalam pendidikan, sehubungan dengan Quality in Teaching and Learning

(Ashcroft, 1989: 55).

d. Hubungan Kompetensi dengan Peraturan Pemerintah

Berhubungan institusi pendidikan adalah salah satu komponen dalam sistem pendidikan, maka Peraturan Pemerintah tidak dapat diabaikan dengan alasan bahwa tujua pendidikan telah digariskan dan pelaksanaannya diatur dalam beberapa peraturan. Di antaranya SK Menteri No. 232/U/2000 tentang Pedoman. Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasisw; SK Menteri No, 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi.

Dan kedua SK dapat dipahami bagaimana menyusun kurikulum berdasarkan kompetensi yang sesuai dengan Tujuan Pendidikan Institusi dan

Menteri menganjurkan kalangan Pendidikan Tinggi untuk melaksanakan penetapan kompetensi ini bersama masyarakat profesi dan pengguna lulusan.

Yang perlu diperhatikan berdasarkan kedua SK ini, adalah:

1. Pengertian kompetensi, seperti yang diuraikan dalam Pasal 1 (Diknas, 2000: 1). Yang dimaksud dengan kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap

mampu oleh

(12)

12 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

dalam Pasal 2 kompetensi hasil didik terdiri atas: kompotensi utama, kompetensi pendukung dan kompetensi lain yang bersifat khusus dan terkait dengan kompetensi utama, dan ciri khas kompetensi utama lulusan sebagai pembeda antara program studi satu dan lainnya. Adapun perbandingannya antara kompetensi utama dan pendukung serta kompetensi lainny berkisar antara 40-80% : 20-40% : 0-30%.

2. Kurikulum Inti dan Kurikulum Institusional

Dari kedua aspek ini yang berkaitan langsung dengan komp yang diharapkan dipunyai oleh peserta didik yang berdasarkan kurikulum inti, yaitu: "... bentuk

penciri ilmu

pengetahuan dan keterampilan berkarya" (Diknas, 2000: 7). Selain itu dari

kurikulum institusional "... tambahan dan kelompok ilmu dalam kurikulum inti disusun dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan lingkungan serta ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan.

Lebih jauh diuraikan bahwa kedua kurikulum ini hares mencakup beberapa hal yang dikelompokkan ke dalam:

a. Kelompok Matakuliah Pengembangan

Kepribadian (MPK) adalah kelornpok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

b. Kelompok Matakuliah

Keilmuan dan

(13)

13 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama untuk memberi landasan ilmu dan keterampilan tertentu.

c. Kelompok Matakuliah Keahlian Berkarya (MKB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai.

d. Kelompok Matakuliah Perilaku Berkarya (MPB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku seseorang dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai.

e. Kelompok Matakuliah Kehidupan

Bermasyarakat (MBB) adalah kelompok bahan kajian dan p e I aj aran yang diperlukan seseorang untuk dapat

memahami kaidah berkehidupan

bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian berkarya.

Dari uraian di atas maka bahwa yang berkaitan dengan kompetensi adalah MKK dan MKB.

3. Beban Studi serta perbandingan

Kurikulum Inti dan Kurikulum

Institusional

Kurikulum inti program Sarjana berkisar antara 40-80% dari jumlah SKS dari beban studi sekurang-kurangnya 144 (seratus empat puluh empat) SKS dan sebanyak-banyaknya 160 (seratus enam puluh) SKS.

Dalam hal ini dapat diartikan bahwa kurikulum institusional dapat ditentukan oleh institusi itu sendiri berdasarkan tujuan institusinya masing-masing.

(14)

14 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

disimpulkan bahwa institusi pendidikan dapat menentukan ciri khasnya masingmasing yang berdasarkan kompetensi yang ditentukan oleh pemakai

(user).

IV.Pengembangan Kurikulum

Di atas telah disinggung bahwa pengembangan ini menyangkut suatu perubahan. Kurikulum berbasis kompetensi ini ditawarkan karena dianggpa kurikulum yang telah ada tidak lagi sesuai dengan keinginan masyarakat. Keinginan masyarakat mana dan kompetensi bagaimana yang diinginkannya, institusi pendidikan tidak dapat memutuskan sendiri. Oleh sebab itu, kita perlu mengikut sertakan pemakai

(user).

Pemakai dapat menjelaskan kompetensi mana yang diinginkannya, yang memenuhi standar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaannya.

Dari pemakai diharapkan saran dan pengalamannya yang dapat dijadikan bahan pertimbangan institusi pendidikan dalam menentapkan kompetensi mana yang akan menjadi tujuan pendidikan institusinya.

Di samping itu dalam pengembangan kurikulum ini pendekatan mana yang akan dipakai. Banyak pendekatan yang dapat dipakai, di antaranya pendekatan sistem. Dalam pendekatan ini semua unsur/aspek dalam institusi akan dilibatkan karena keberhasilan ataupun ketidakberhasilan itu adalah tanggungjawab bersama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. menerapkan tujuan yang ingin dicapai dan perkembangan ini sesuai dengan visi, misi dan tujuan institusi.

(15)

15 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

kurikulum.

3.dalam kurun waktu

berapa lama perubahan

ini sudah harus

dilaksanakan.

4.semua langkah

perubahan seyogiyanya

disosialisasikan kepada

seluruh dosen dan

tenaga penunjang.

Adapun langkah-langkah

yang dapat dilaksanakan

dalam perubahan ini,

meliputi:

1. membuat keputusan

bahwa akan

mengembangkan

kurikulum yang sudah ada.

2. menentukan

pendekatan mana yang akan dipakau.

3. menetapkan tim yang

akan mengerjakan,

menetapkan tujuan

yang ingin dicapai dari

tim tersebut dan

bagaimana prosedur

pelaksanannya.

4. menelaah

perkembangan

kurikulum yang sudah

ada serta dasar

penyusunannya.

5. membuat rancangan

yang ideal.

6. mengadakan

penyesuaian dengan

keadaan yang nyata.

V. Penutup

Bahan ini diharapkan

dapat memberikan urun

saran dalam

perkembangan

kurikulum berdasarkan kompetensi.

*) Disampaikan pada

acara Semiloka

"Evaluasi dan

Pengembangan

Kurikulum Seni

Rupa dan Desain

STISI, 24 Juli

(16)

16 Wacana Seni Rupa Jurnal Seni Rupa & Desain Vol.2 No.5 September 2002

Daftar Bacaan

Ashcroft, K. 1995. The Lecturer's Guide to Quality and

Standards in Colleges and Universities. London: The

Falmer Press

Conrad, C.F, and Haworth, J.G. 1995.

Revisioning Curriculum in Higher Education. Needham

Height, Massachusets, Simon & Schuster Custom Publishing.

Cooper, K.C. 2000. Effective Competency

Modeling & Reporting. New York: American Management

Association.

Diamond, R.M. 1989. Designing and Improving Courses

and Curricula in Higher Education. A Sytematic

Approuch. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.

Kementrian Pendidikan Nasional (Diknas). 2000. SK

Menteri No. 232/U/2000, tentang Pedoman

Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi.

Referensi

Dokumen terkait

Pada umumnya ibu nifas dengan paritas lebih dari dua (multipara dan grandemultipara) menunjukkan bahwa pengetahuan ibu nifas tentang perawatan masa nifas (cara meneteki

Sedangkan analisa yang dilakukan pada data seismik adalah analisa hasil inversi secara vertikal untuk mengetahui nilai Impedansi Elastik zona target dan analisa

Terdapat beberapa perbaikan dalam implementasi diagram ruang-waktu yang digunakan untuk menampilkan jadwal akhir yang dihasilkan, yaitu penggunaan beberapa warna untuk

Tahap awal yang perlu dilakukan untuk dapat menetapkan strategi dan program Pengelolaan Sumber Daya Air adalah dengan mengidentifikasi permasalahan pengelolaan sumber

Kandungan unsur silica yang mencapai 68% pada fly ash merupakan salah satu indikator kemampuan fly ash untuk dijadikan sebagai bahan cetakan pada industri

1) Struktur makro, makro ini merupakan makna global/ umum dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa. Hal- hal yang

Kaum wanita pada hari ini juga banyak yang menceburkan diri dalam bidang beruniform seperti anggota tentera,polis,imigresen dan pelbagai lagi. - mereka berani menghadapi cabaran

Berdasarkan latar belakang yang sudah peneliti jelaskan di atas, peneliti mencoba melakukan penelitian pengembangan dengan judul Pengembangan Bahan Ajar