• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PERIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PERIL"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus Masyarakat Pondok Sendang, Kec. Beringin, Kab. Semarang 2009)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Oleh :

NETI FAILA SUFFA

NIM : 11104017

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(2)

ii

Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi saudara:

Nama : Neti Faila Suffa

NIM : 11104017

Jurusan : Tarbiyah

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Judul : PENGARUH SHALAT BERJAMAAH

TERHADAP PERILAKU SOSIAL

telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.

Salatiga, 03 Maret 2010

Pembimbing

Peni Susapti, M.Si.

(3)

iii

http//www.salatiga.ac.id e-mail:[email protected]

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi Saudara NETI FAILA SUFFA dengan Nomor Induk Mahasiswa 11104017 yang

berjudul : “PENGARUH SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT PONDOK SENDANG KECAMATAN BERINGIN

KABUPATEN SEMARANG 2009/2010“ telah dimunaqosahkan dalam Sidang Panitia

Ujian Jurusan TARBIYAH, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada : Sabtu, 13 Maret 2010 dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I).

Salatiga, 13 Maret 2010 M 27 Rabiul Awal 1931H Panitia Ujian

Ketua Sidang Sekretaris Sidang

Drs. Imam Sutomo, M.Ag Dr. H. Muh. Saerozi, M. Ag NIP. 19580827 198303 1 002 NIP. 19660215 1991103 1 001

Penguji I Penguji II

Drs. H. Zulfa, M.Ag. Dra. Djami’atul Islamiah, M.Ag. NIP. 19520430 197703 1 001 NIP. 19570812 198802 2 001

Pembimbing

(4)

iv Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Neti Faila Suffa

NIM : 11104017

Jurusan : Tarbiyah

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skipsi yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya

saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang

lain yang terdapat dalam skipsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Salatiga, 01 Februari 2010

Yang menyatakan,

(5)

v

Motto

“Hidup sederhana asal beriman dari pada hidup mewah tidak beriman”

Persembahan

Untuk orang tuaku dan untuk mertuaku tersayang, untuk

para dosenku, untuk suamiku tercinta, untuk adikku,

saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku Isna, Rina,

(6)

vi Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dengan mengucap rasa syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan

hidayahnya yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH SHALAT BERJAMAAH

TERHADAP PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT PONDOK SENDANG

KECAMATAN BERINGIN KABUPATEN SEMARANG 2009/2010“.

Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka bersamaan dengans elesainya skripsi ini perkenankanlah penulis menghaturkan rasa terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak dan ibu Serta segenap keluarga yang senantiasa memberi motivasi baik

moril maupun materiil.

2. Ketua STAIN Salatiga dan segenap staf yang telah banyak membantu dalam

proses mencari ilmu

3. Ibu Peni Susapti, M.Si yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran guna

membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak dan ibu dosen yang telah membekali penulis berbagai ilmu pengetahuan

selama di STAIN Salatiga.

5. Kepada suamiku tercinta yang selalu memberi dorongan secara tulus dan ikhlas

Harapan dan doa penulis semoga amal dan jasa dari semua pihak diterima

Allah SWT dan mendapat balasan yang berlimpah.

Semoga sekripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Salatiga, 01 Februari 2010

(7)

vii

Suffa, Neti Faila. 2010. Pengaruh Shalat Berjamaah terhadap Perilaku Sosial (Studi Masyarakat Pondok Sendang Kecamatan Beringin, Kabupaten Semarang). Skripsi Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing : Peni Susapti, M.Si.

Kata kunci: Shalat Berjamaah Perilaku Sosial

Penelitian ini upaya untuk mengetahui tingkat kesadaran shalat berjamaah yang akan berpengaruh pada perilaku sosial yang positif pada masyarakat Pondok Sendang. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) bagaimana tingkat kesadaran masyarakat dalam melaksanakan shalat berjamaah? (2) bagaimana perilaku masyarakat Pondok Sendang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan pendekatan dengan mengembangkan penelitian (research).

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Pondok Sendang yang melaksanakan shala tberjamaah di Masjid/Mushola tergolong tingi dan perilaku sosial masyarakat Pondok Sendang tergolong baik.

(8)

viii

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN LEMBAR LOGO ... ii

HALAMAN JUDUL ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

LEMBAR PENGESAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Hipotesis ... 6

E. Kegunaan Penelitian ... 7

F. Penegasan Istilah ... 7

G. Metode Penelitian ... 9

H. Sistematika Penulisan ... 13

(9)

ix

b. Pengertian Shalat Berjamaah ... 21

c. Tujuan Shalat Berjamaah ... 23

d. Tata Tertib Mendirikan Shalat Berjamaah ... 26

2. Keutamaan Shalat Berjamaah ... 28

3. Wajibnya Shalat Berjamaah ... 29

4. Pengaruh Shalat Berjamaah... 29

B. Perilaku Sosial ... 35

1. Pengertian ... 35

2. Jenis-jenis perilaku ... 38

3. Indikator Perilaku Sosial ... 39

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ... 41

5. Peran agama dalam Kehidupan ... 42

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN. A. Kondisi obyektif Desa Pondok Sendang ... 45

1. Letak Geografis ... 45

2. Batas wilayah desa ... 45

3. Situasi dan kondisi sosial ekonomi ... 46

4. Sarana fisik ... 46

5. Jumlah Penduduk ... 47

6. Keadaan Pendidikan... 48

7. Sdtruktur Organisasi ... 48

(10)

x

A. Analisis Data ... 69

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 73

B. Saran-saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

(11)

xi

TABEL I Batas Wilayah Desa ... 45

TABEL II Situasi dan Kondisi Sosial Ekonomi ... 46

TABEL III Sarana Fisik ... 46

TABEL IV Daftar nama Responden dan Jumlah Penduduk ... 47

TABEL V Keadaan Pendidikan ... 48

TABEL VI Jawaban Angket Shalat Berjamaah ... 51

TABEL VII Score Jawaban Shalat Berjamaah ... 53

TABEL VIII Frekuensi Intensitas Shalat Berjamaah ... 55

TABEL IX Analisis Item Angket Shalat Berjamaah ... 56

TABEL X Jabawan Angket Perilaku Sosial ... 59

TABELXI Score Jawaban Perilaku Sosial ... 61

TABELXII Frekuensi Intensitas Perilaku Sosial ... 63

(12)

1 A. LATAR BELAKANG

Shalat adalah “rukun Islam teragung setelah dua kalimat syahadat”. (Muqoddim,2005:15). Kedudukannya menjadi perkara yang

penting. Keutamaannya yaitu induk seluruh ibadah. Setiap orang Islam wajib

melaksanakan shalat wajib 5 (lima) waktu dalam sehari semalam. Setiap

muslim yang melaksanakan shalat wajib, menjadi manusia yang paling baik

akhlaqnya.(As-Shaqqaf, 1996: 13).

Shalat merupakan amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat

kelak. “Mendirikan rukun Islam yang kedua dari kelima rukun Islam adalah

merupakan tiang agama, amal yang paling dicintai oleh Allah SWT. (Ilahi,

2004: 2).

Al Quran sebagai kitab sucinya umat Islam, mengandung hukum dan

perintah shalat. Shalat menjadi sebuah kewajiban yang telah ditentukan

waktunya dan muslim yang mengerjakan akan terhindar dari perbuatan keji

dan mungkar. Umat Islam memang teguh kitab sucinya Al Quran sebagai

sumber hukum tertinggi dalam kehidupannya.

Adapun dasar kewajiban shalat dan mengenai pelaksanaan shalat

akan terpengaruh pada akhlak seorang muslim agar terjaga dari perbuatan keji

(13)

Firman Allah SWT S.

orang beriman” (QS. An-Nissa‟: 103).

Shalat merupakan amalan agama yang paling akhir hilang. Oleh karena

jika shalat hilang dari agama, tidak ada lagi yang tersisa dari agama.

Shalat berjamaah merupakan shalat yang wajib dilaksanakan oleh orang

yang beriman (mukmin). Ash Siddieqy (1989 : 303 ) berkata: “Apabila kita

memperhatikan ayat-ayat perintah di dalam Al-Quran, terdapatlah ayat-ayat yang

memberi pengertian bahwa kita diperintahkan melaksanakan shalat dengan

berjamaah di masjid-masjid.”

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang

yang ruku’ (shalat berjamaah)” (QS. Al-Baqoroh: 43).

Al-Quran QS. Al-Baqoroh ayat 43 di atas memberikan landasan hukum

yang jelas untuk melaksanakan shalat bersama-sama (berjamaah) umat Islam

diperintahkan ruku‟ beserta orang-orang yang ruku‟ mengandung shalat

(14)

kepada kita, bahwa kita diperintahkan bersholat bersama-sama (beramai-ramai)

berjamaah.”

Shalat berjamaah kedudukannya dalam Agama Islam menempati tempat

utama. “Orang Islam yang mengerjakannya secara istiqomah mendapat tempat

mulia. Islam memasukannya ke dalam ibadah yang penuh tantangan dan ujian.

Pahala yang dijanjikan adalah sebanyak dua puluh tujuh derajat (tingkatan)”. (Al-Ghozali, 1994: 22)

Hal yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah, mencintai masjid

untuk melaksanakan shalat berjamaah. Maka Allah SWT akan memberikan

perlindungan pada hari dimana tidak terdapat perlindungan kecuali milik-Nya.” (Ilahi, 2004: 24).

Namun sekarang banyak muslim yang melupakan shalat berjamaah, baik

di rumah, masjid atau di mushola, setiap ada panggilan adzan yang hadir hanya

beberapa orang. Anak atau generasi muda sedikit sekali yang mendirikan shalat

berjamaah. Penulis melihat masjid, mushola di dusun/desa Pondok Sendang

Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang yang mayoritas masyarakatnya

menganut agama Islam, sering terlihat kosong pada waktu shalat berjamaah

didirikan. Masjid merupakan tempat terbaik untuk shalat berjamaah.

Pembangunan tempat ibadah yang merupakan simbol umat Islam tidak

sepadan dengan manfaat yang diperoleh. Permasalahan yang muncul yaitu

apakah umat Islam belum mengetahui keutamaan shalat berjamaah, berupa

(15)

mengetahui manfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial bagi dirinya

dan dalam hidup bermasyarakat.

Mengapa umat Islam malas mendirikan shalat secara berjamaah di

masjid, dan mushola, padahal untuk mendirikan tempat ibadah itu membutuhkan

usaha keras, waktu, dana, tenaga dan fikiran yang tidak sedikit.

Keadaan semakin sedikitnya muslim yang mendirikan ibadah yang

utama tersebut menjadi masalah besar, khususnya dalam penegakan syariat Islam

dan terciptanya hubungan harmonis sesama masyarakat. Sikap acuh tak acuh

terhadap fenomena tersebut mendasari penurunan keutuhan keimanan seseorang

dan pada tingkat selanjutnya mempengaruhi keseimbangan kehidupan sosial

masyarakat. Budaya cinta shalat yang dilaksanakan secara bersama-sama

(berjamaah) menjadi penting dalam kehidupan karena menjaga nilai dan

mendasari terjaganya keberadaan sikap-sikap berisi kebaikan nilai-nilai yang

menjadi dasar kehidupan.

Perubahan tatanan sosial yang tidak berdasarkan asas Islam membuat

manusia mementingkan diri sendiri atau individualis dan materialis. Kehidupan

tidak seimbang antara jasmani dan rohani. Sikap-sikap kerohanian semakin

luntur dan kesucian pola fikir atau pola tingkah laku tidak sesuai dengan

keseimbangan hidup. Akibatnya secara perlahan tetapi pasti nilai-nilai yang ada

akan terkikis dan kerusakan alam semakin banyak. Kerugian besar jika

keseimbangan tergerus sikap acuh tak acuh dan idealisme yang negatif.

(16)

dapat menjaga keutuhan nilai Islam yang pada akhirnya akan menciptakan

masyarakat madani.

Masalah yang berkembang saat ini yaitu ada beberapa orang di

masyarakat Pondok, yang penulis ketahui kurang menekankan pentingnya shalat

berjamaah yang akan berpengaruh kepada perilaku sosial masyarakat.

Penulis tertarik untuk meneliti seberapa jauh masyarakat Pondok

Sendang menegakkan syariat shalat berjamaah yang akan berpengaruh kepada

perilaku sosial yang positif pada masyarakat.

Bertitik tolak dari permasalahan tersebut, perlu kiranya dikaji secara

mendalam tentang sholat berjamaah. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan

dan obyektif diperlukan pendekatan ilmiah. Untuk itu penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul Skripsi: “PENGARUH SHALAT

BERJAMAAH TERHADAP PERILAKU SOSIAL” (Masyarakat Pondok Sendang, Kec. Bringin, Kab. Semarang, Tahun 2009).

B. RUMUSAN MASALAH

Dalam melakukan penelitian ini penulis memberikan pokok masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat kesadaran shalat berjamaah masyarakat Pondok Sendang,

Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang?

2. Bagaimana tingkat perilaku sosial masyarakat Pondok Sendang, Kecamatan

(17)

3. Adakah pengaruh shalat berjamaah terhadap perilaku sosial masyarakat

Pondok Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Sermarang?

C. TUJUAN PENELITIAN

Dalam setiap penelitian yang dilakukan akan memiliki tujuan yang

hendak dicapai. Adapun tujuan penulis adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tingkat kesadaran shalat berjamaah masyarakat Pondok

Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

2. Untuk mengetahui tingkat perilaku sosial masyarakat Pondok Sendang,

Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

3. Untuk mengetahui pengaruh shalat berjamaah terhadap perilaku sosial

masyarakat Pondok Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

D. HIPOTESIS

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara terhadap permasalahan

penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Arikunto,1998: 67).

Berdasarkan pengamatan sementara dapat peneliti ambil hipotesis sebagai

berikut, „Adanya Pengaruh Positif Shalat berjamaah terhadap Perilaku sosial

Masyarakat Pondok Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang Tahun

(18)

E. KEGUNAAN PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang jelas

tentang adanya pengaruh atau hubungan antara shalat berjamaah dengan perilaku

sosial. Dari informasi tersebut dapat memberikan manfaat secara praktis dan

teoritis yaitu:

1. Secara praktis, apabila ada hubungan, seseorang atau masyarakat dapat

mengetahui akan arti penting shalat berjamaah tehadap perilaku sosial.

Dengan pengetahuan tersebut mereka dapat berperilaku baik dengan

siapapun (masyarakat).

2. Secara teoritis, diharapkan dapat memberikan motivasi pada masyarakat

untuk lebih baik dalam berteman,dan jadi orang yang beriman dan bertakwa.

F. PENEGASAN ISTILAH

1. Shalat berjamaah

Shalat berjamaah terdiri dari dua kata yaitu shalat dan jamaah.

Shalat menurut bahasa adalah “Doa”. Menurut syara‟ adalah “beberapa

ucapan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir, dan diakhiri

dengan salam yang dengannya kita beribadat kepada Allah, menurut

syarat-syarat yang telah ditentukan. “Ibadah wajib yang dilaksanakan sehari 5 (lima) waktu berjamaah artinya, berkumpul atau ramai-ramai

atau bersama-sama. (As-Sawaf, 2007: 41,303). Pengertian shalat

berjamaah suatu perbuatan pelaksanaan shalat yang dikerjakan

(19)

seorang diantara mereka mengikuti yang lainnya, maka keduanya dinamakan

shalat berjamaah. Orang yang diikuti di depan disebut imam dan yang

mengikuti di belakang disebut makmum.” (Abullah, 2003: 39)

Shalat yang pelaksanaannya dipimpin seorang imam dan diikuti

makmum yang dimaksud dalam penelitian ini adalah shalat berjamaah 5

(lima) waktu sehari semalam (shalat isya‟, magrib, asyar, zuhur, dan subuh).

Yang dimulai dari takbirotul ihrom imam dan sampai setelah salam imam

dan dilanjutkan dzikir yang disambung dengan doa. Penulis meneliti shalat

berjamaah yang dikerjakan para masyarakat Pondok, Kecamatan Bringin

tahun 2008.

Adapun indikator-indikator shalat berjamaah antara lain sebagai berikut:

a. Tepat waktu dalam melaksanakan shalat berjamaah di masjid atau

mushola.

b. Rajin melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan mushola.

c. Kebiasaan melakukan shalat berjama‟ah

d. Berpakaian terbaik dalam melaksanakan shalat berjamaah di masjid

atau mushola.

e. Selalu berusaha menempati shaf yang pertama.

f. Mengingatkan imam jika ada kesalahan dalam shalat.

g. Meluruskan shaf dan mengisi shaf yang kosong

2. Perilaku sosial.

Perilaku adalah perbuatan sebagai reaksi terhadap suatu rangsangan

(20)

Indonesia bermakna berkenaan dengan khalayak, dengan masyarakat, dengan

umat, suka menolong dan memperhatikan orang lain.

Dengan demikian perilaku sosial adalah reaksi seseorang dalam

menjalin secara harmonis dengan masyarakat dan lingkungan sosial.

Adapun indikator-indikator perilaku sosial yang baik adalah sebagai berikut:

a. Berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan

b. Taat pada peraturan di masyarakat, berbangsa dan bernegara

c. Menghargai pendapat orang lain

d. Sopan santun dalam berbicara

e. Memaafkan kesalahan orang lain

f. Menjenguk tetangga yang sakit.

g. Tidak melakukan perbuatan anarki.

h. Tolong menolong dengan sesama.

i. Menahan amarah.

G. METODE PENELITIAN

1. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian, sedang yang

menjadi pupulasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Pondok

Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

Menurut Hadi, 1989:158, sampel adalah sebagian individu yang

diselidiki. Dalam menentukan sampel, apabila populasi kurang dari 100,

(21)

diambil 10%, 20%, 25% atau lebih. Dalam penelitian ini jumlah populasi ada

80 orang yang berarti populasi kurang dari 100, maka penulis mengambil

semua populasi atau sampel.

Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah jamaah

masjid atau mushola, masyarakat Pondok sendang dengan perincian sebagai

berikut:

Tempat Beribadah Laki-laki Perempuan Jumlah

Masjid 20 15 35

Mushola 1 15 10 25

Mushola 2 13 7 20

Jumlah 48 32 80

Adapun “daftar pertanyaan yang dikirimkan oleh seseorang peneliti kepada responden tentang data pribadi sendiri atau orang lain. (Hadi, 1981:

158)

3. Teknik pengumpulan data

Demi tercapainya tujuan penelitian yang ideal, maka harus memiliki

faliditas tinggi. Adapun metode yang digunakan dalam memperoleh data riil

adalah:

a Metode Observasi

Sebagai metode ilmiah, observasi dapat diartikan mengamati

dengan sistematik fenomena. Fenomena yang diselidiki. Observasi yang

penulis lakukan adalah dengan menggunakan alat bantu check list, yaitu

(22)

diselidiki (Arikunto, 2005: 101). Metode ini digunakan untuk mencari

data tentang keadaan masyakat Pondok sendang.

b Metode Interview

Interview merupakan metode pengumpulan data dengan jalan

proses tanya jawab secara lisan dimana dua orang atau lebih

berhadap-hadapan. Secara fisik yang satu dapat melihat muka yang lain. (Hadi,

1989: 158) Interview dilakukan untuk mendapatkan data berupa

pertanyaan, kesaksian, pendapat, tanggapan dari orang yang diinterview.

Data tentang pengalaman melaksanakan shalat berjamaah.

c Metode Angket

Metode ini merupakan jumlah pertanyaan secara tertulis yang

digunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dalam arti

masyarakat yang diteliti.(Arikunto, 1986:140).Metode ini penulis

gunakan dalam mencari data tentang intensitas shalat berjamaah dan

perilaku social masyarakat Pondok Sendang.

d Dokumentasi

“Mencari data yang berupa, catatan, transkip, buku-buku, surat

kabar dan lain-lain.” (Hadi, 1989: 149) 4. Analisis Data

Setelah data dikumpulkan, maka untuk mengetahui validitas dan

(23)

a Analisis pertama

Tahap yang dilakukan mengelompokkan data yang akan

dimasukkan ke distribusi frekuensi dan diadakan pengolahan atau tahap

pemberian nilai hasil angket dengan memberi bobot nilai sebagai

berikut:

1) Alternatif jawaban A di beri skor 3

2) Alternatif jawaban B di beri skor 2

3) Alternatif jawaban C di beri skor 1

b Analisis kedua

Analisis ini merupakan langkah kedua setelah data terkumpul

dengan cara mengadakan perhitungan terhadap data yang ada, kemudian

hasilnya dimasukkan ke dalam prosentase, yaitu untuk mengetahui

frekuensi pengaruh shalat berjamaah terhadap perilaku sosial.

% 100 x N F

P 

Keterangan :

P = Prosentasi perolehan

F = Frekuensi

N = Jumlah Populasi

c Analisis ketiga.

Yaitu analisis terakhir untuk mengetahui hubungan antara

variabel pengaruh (X) dan terpengaruh (Y) digunakan rumus Chi-Square

(24)

X2=

h h o

f f

f )2

( 

Keterangan:

X2= Uji Beda Frekuensi

fo = Frekuensi Observasi

fh = Frekuensi Hipotesis (Hadi; 1987)

H. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

Penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang tersusun dengan

sistematika sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan. Meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, hipotesis penelitian, kegunaan penelitian,

penjelasan istilah, metode penelitian, sistematika penulisan

skripsi.

BAB II : Landasan teori, berisi tentang shalat berjama‟ah, (pengertian shalat

berjama‟ah, tujuan shalat berjama‟ah, tata tertib berjama‟ah). Keutamaan shalat berjama‟ah, wajibnya shalat berjama‟ah, pengaruh shalat bejama‟ah, perilaku sosial, jenis-jenis perilaku,

factor-faktor yang mempengaruhi perilaku, cirri-ciri perilaku

sosial, peran agama dalamkehidupan.

BAB III : Laporan penelitian, yang membahas kondisi obyektif Desa Pondok

Sendang, yang meliputi, letak geografis dan kondisi Desa Pondok

Sendang, keadaan umum, situasi dan kondisi sosial ekonomi,

(25)

organisasi, keadaan penduduk dan mata pencaharian, daftar hasil

angket,.

BAB IV : Analisis data, yang meliputi analisis pertama, analisis kedua,

analisis ketiga.

BAB V : Adalah bab penutup yang merupakan bab terakhir dari

pembahasan penulisan skripsi yang meliputi kesimpulan, saran,

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang menghuni bumi dan

menjadi khalifah di bumi menurut ajaran Agama Islam. Allah SWT adalah Tuhan

dari semua makhluk di alam semesta. Manusia menjadi hamba Allah SWT, beriman

kepada Allah SWT dan tunduk patuh secara total kepada-Nya, menjalankan segala

perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Amanah yang diberikan Robb pencipta

alam semesta menjadi tonggak awal kehidupan manusia untuk bertakwa dan menjadi

makhluk yang berkualitas dalam menghadapi kehidupan. Akan tetapi dari awal

kehidupan di bumi sampai sekarang masih banyak yang lalai dan melupakan fitrah

kemanusiaannya.( Arief, 2002:19)

Pada abad ke-21 ini, dunia mengalami perubahan/perkembangan yang sangat

pesat. Perkembangan dunia kehidupan terjadi dalam berbagai bidang. Bidang

pemikiran dan sosial mengalami kebangkitan yang besar sehingga menimbulkan

peradaban baru yang beda dari zaman dahulu. Akibat perubahan baru tersebut,

merebaklah berbagai pemikiran, ideologi, cara pandang, paradigma baru dan

perubahan sistem nilai masyarakat. Salah satu kebangkitan tersebut yaitu

kebangkitan dunia Islam. Dunia Islam yang berada di dunia terdapat dua macam

yaitu umat yang memegang teguh semua dasar ajaran Islam yang berupa prinsip dan

amal,dan ideologi non Islam yang berpijak pada landasan peradaban barat.(Omar,

1979:189)

(27)

Ajaran Islam mengandung peradaban dan sistem nilai yang universal. Segala

segi kehidupan tidak terlepas dari kehidupan yang teratur, mapan dan penuh

penghargaan akan nilai diri setiap manusia. Dasar hukum untuk menjadi landasan

berpijak pada perbuatan baik adalah kitab suci umat Islam yaitu Al Quran sebagai

landasan utama, yang kedua hadist dari nabi Muhammad SAW dan juga ijma‟ para

ulama. Shalat berjamaah merupakan ajaran Islam yang terbesar setelah aqidah

(shalihut saimin, 2003:13).

Shalat berjamaah menjadi pembeda antara muslim dan mukmin. Umat Islam

yang mendirikannya secara baik akan menjadi masyarakat yang berkualitas.

Kehidupan akan menjadi penuh makna dan dinamis sehingga perlu ditekankan akan

pentingnya sholat berjamaah dan jika meninggalkan berarti masalah besar yang

akan/sedang menimpa umat Islam.( Ash shiddieqy, 1989:303)

A. SHOLAT BERJAMAAH

1. Pengertian

a. Pengertian Sholat

Agama Islam merupakan kepercayaan yang mengandung ajaran

tentang nilai-nilai universal dan keyakinan tentang ketauhitan

(mengesakan Allah). Ajaran yang berdasarkan pada kitab suci Al Quran

sebagai hukum dasar dan hadist dari Nabi Muhammad SAW. Sebagai

penjelas untuk memahami Al Quran merupakan kesatuan pegangan umat

manusia untuk hidup di Indonesia dan bekal hidup dunia dan di akherat.

(28)

rukun Islam yang kedua dan ia merupakan rukun yang sangat ditekankan

(utama) sesudah dua kalimat syahadat. “Sholat adalah penghubung

antara hamba dengan Robbnya” (Shalihut Saimin, 2003: 13). Hamba

membutuhkan sarana untuk dapat memanjatkan rasa pengabdian dan

ketaatan yang berarti tunduk kepada Allah melalui sholat. Sholat

menurut bahasa berarti berdoa memohon kebaikan. Kebaikan segala

perihal kehidupan. Adapun menurut Ahli Fiqih berarti “perkataan” dan

perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbirotul ihrom dan

diakhiri salam (Sunarto, 2002: 148).

Sholat adalah ibadah yang terdiri perkataan dan perbuatan

tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan membaca

salam. Sholat mempunyai beberapa syarat wajib, syarat syah. Rukun

sunnah dan hal-hal yang membatalkan sholat, juga hal-hal yang

dimakruhkan (Qodir ar Rahbawi, 2001: 169). Segala aktivitas sholat

didasarkan pada tuntunan hadist yang berasal dari Nabi Muhammad

SAW, sehingga sholat yang dikerjakan syah dan benar.

Sholat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk

dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena sholat adalah proses

perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia

untuk menemui Tuhan semesta alam. “Sholat dapat menjernihkan jiwa

(29)

contiousness) dan pengalaman puncak (peak experience)” (Sangkan,

2006: 7).

“Sholat secara lahiriah merupakan aktivitas ibadah seluruh

anggota tubuh, sedangkan secara esensial ia merupakan aktivitas ibadah

hati, dengan demikian sholat merupakan aktivitas tubuh sekaligus ruh

yang menerangi hati si pelaku dan menghadapkannya kepada cahaya

ilahi” (As-Sawwaf, 2007: 6-7). Menurut Ilahi, 2004 : 15, “Sesungguhnya

sholat yang merupakan rukun Islam yang kedua, menjadi tiang agama

dan merupakan amalan yang paling dicintai Allah.” Maka hamba yang

mengamalkan sholat akan dicintai Allah SWT yang telah menjaga tiang

agamanya. Sholat merupakan bentuk peribadatan yang paling sempurna

dan paling bagus “Yang merupakan gabungan dari berbagai asas agama

oleh Rosulullah sesudah tauhid” (Al-Muqoddim, 2005: 11).

Sholat adalah anugerah terbesar dari Allah kepada umat

manusia, kepada siapa saja yang dengan rendah hati memiliki keinginan

untuk melakukannya.

Menurut Siddieqy, 1989: 62, pengertian sholat ada 4 (empat)

macam, yaitu:

1) Ta‟rif yang menggambarkan shuratush sholat adalah rupa sholat

yang lahir; perkataan sholat dalam pengertian bahasa arab ialah

(30)

Adapun Ta‟rif yang dikehendaki syara‟ adalah beberapa ucapan dan

beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan

salam yang dengannya kita beribadah kepada allah SWT menurut

syarat-syarat yang ditentukan.

2) Ta‟rif menggambarkan Haqreqatush sholat atau “sir” (rupanya yang

bathin) atau hakikatnya: Hakikat sholat ialah melahirkan hajat dan

keperluan kita kepada Allah SWT yang kita sembah, dengan

perkataan dan pekerjaan.

3) Ta‟rif yang menggambarkan rukush sholat (jiwa sholat) Ruhush

sholat adalah berharap kepada Allah SWT dengan khusyu‟, ikhlas,

baik dalam berdzikir, baik dalam berdo‟a maupun dalam memuji.

4) Ta‟rif yang melengkapi hakikat dan jiwa sholat

Ta‟rif yang melengkapi rupa dan hakikat sholat adalah berharap hati

(jiwa) kepada allah SWT. Hadap yang mendatangkan takut,

menumbuhkan rasa kebesaranNya dan kekuasaanNya dengan

sepenuh khusyu‟ dan ikhlas di dalam beberapa perkataan dan

perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Umat Islam melaksanakan sholat wajib lima waktu karena

hukumnya adalah fardhu „ain, diwajibkan bagi semua muslim yang baliq

dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan yang telah dikenai seruan

Nabi Muhammad SAW. Mampu melaksanakannya, dan suci dari hadast

(31)

Allah SWT kepada oang-orang islam guna menyucikan jiwa,

membersihkan hati, dan menjadikan mereka selalu bersama Allah yang

maha tinggi lagi maha besar dalam keterikatan dan ingatan yang abadi

dan kekal. Dalam sholat 5 ( lima ) waktu, ada yang fardhu dan ada yang

sunnah, adapun yang fardu total bilangannya ada 17 (tujuh belas)

rakaatnya dalam sehari semalam. Dua rakaat shalat subuh, tiga rakaat

sholat magrib, dan masing-masing empat rekaat pada sholat zuhur, asyar

dan isya‟.

Beberapa syarat-syarat kewajiban sholat yaitu:

1) Orang Islam, artinya orang yang tidak beragama Islam tidak wajib

mengerjakan sholat.

2) Baliqh, artinya sudah dewasa dengan tanda-tandanya sebagai

berikut:

a) Telah berumur lima belas tahun.

b) Telah keluar mani atau telah bermimpi bersetubuh.

c) Telah keluar haidh bagi perempuan, kira-kira umur 9 tahun.

3) Berakal, artinya orang yang tidak berakal seperti orang gila, pingsan,

sedang tidur dan anak-anak yang masih kecil belum wajib

mengerjakan sholat.

4) Sehat

(32)

6) Sampainya dakwah Islam kepadanya atau seruan Nabi Muhammad

SAW.

Perintah sholat pertama kali disampaikan kepada Nabi

Muhammad SAW, ketika beliau sedang Isro‟ dan mi‟roj langsung dari

Allah (Abyan, 1994:53-54).

Sholat sempurna yang didasari oleh kekusyu‟kan (al-kusyu‟)

dan ketundukan diri (al-khudu‟) akan menerangi hati dan mendidik jiwa.

Di samping itu “Sholat juga menjadi perhiasan seorang hamba yang

menjadikannya semakin diperindah oleh kesempurnaan akhlaq, seperti

jujur, terpercaya, menerima apa adanya, menepati janji, lapang dada,

rendah hati, adil berbuat baik, menjunjung pemiliknya dan

mengarahkannya hanya kepada Allah SWT semata” (As Sawwaf, 2007:

15).

b. Pengertian Sholat Berjamaah

Kata-kata jama‟ah artinya kumpul. Jadi pengertian “Sholat

jamaah” menurut bahasa adalah sholat yang dikerjakan sama-sama lebih

dari satu orang. Pengertian sholat berjamaah menurut pengertian syara‟

ialah sholat yang dikerjakan bersama-sama oleh dua orang atau lebih,

salah seorang diantaranya bertindak sebagai imam (pemimpin yang

harus diikuti) sedangkan yang lain disebut makmum, yang harus

(33)

Sholat berjama‟ah merupakan perintah Allah SWT. Umat Islam

yang mengerjakan termasuk manusia ciptaan Allah yang bertakwa, yaitu

melaksanakan perintah Allah SWT. Allah memerintahkan kaum

muslimin untuk mendirikan sholat yang dilakukan bersama-sama

berdasarkan firman Allah yang terdapat dalam Al Qur‟an. Al Qur‟an

menjadi dasar utama dan pertama pengambilan hukum dalam Islam.

Surat Al Baqoroh ayat 43 memberikan landasan hukum yang

jelas untuk melaksanakan sholat berjama‟ah (bersama-sama).

Menurut Hamka dalam tafsirannya Al–Azhar “Ruku‟lah beserta

orang-orang yang ruku‟, bawalah diri ke tengah masyarakat pergilah

berjama‟ah.” (Amrullah, 1982: 190). Dalam tafsir yang lain “Ruku‟lah

beserta orang-orang yang ruku‟ dan kerjakanlah sholat dengan

berjamaah. Tuhan mendorong kita untuk menegakkan sholat berjama‟ah,

karena dengan berjama‟ah akan terhimpun jiwa (orang) untuk bersama

-sama bermunajat (berkomunikasi) kepada Allah, sekaligus untuk

mewujudkan kerukunan dan sikap saling menolong antara para mukmin.

Dengan berkumpul dan bersholat akan terbuka kesempatan melakukan

musyawarah untuk memecahkan permasalahan bersama demi

kemaslahatan dan kemajuan (Shiddieqy, 2002: 98)

Agama Islam akan tegak dengan didirikannya sholat berjama‟ah

(34)

mendekatkan diri kepada Allah dan tempat untuk mengoptimalkan

potensi-potensi positif yang dimilikinya

c. Tujuan sholat berjama‟ah

Allah SWT memerintahkan kaum mukmin untuk melaksanakan

sholat secara bersama-sama (berjama‟ah). Seorang hamba berkewajiban

berkumpul dengan umat Islam yang lainnya untuk mengerjakan sholat.

Bagi mukmin yang telah melaksanakan sholat maka itu termasuk

menjaga ketaatan dan mengerjakan kewajiban dari perintah Allah.

Rosulullah SAW mewajibkan melaksanakan sholat berjamaah kepada

umatnya dalam beberapa hadist, bahkan Nabi bersikap keras yaitu

memerintahkan membakar rumah orang Islam laki-laki yang tidak mau

melasanakan sholat berjamaah di masjid. (Utsaimin, 2006:8)

Menurut Al-Qalkhani, 2006:15, tujuan sholat berjamaah yaitu:

melaksanakan perintah Allah, makna agama dari syiar Islam, amalan

yang paling utama adalah sholat yang dikerjakan tepat waktu dan selalu

menjaganya, membiasakan kedisiplinan, dan memperbaiki penampilan.

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1) Melaksanakan perintah Allah

Pelaksanaan sholat berjamah mengandung makna “pelaksanaan

perintah Allah, sebagai bentuk ibadah yang dilaksanakan oleh orang

(35)

2) Makna agama dari syiar Islam

Sholat berjamah merupakan makna dari pelaksanaan agama,

syiarIslam, serta bukti terbesar bagi manusia yang menunjukkan dia

muslim.

3) Amalan yang paling utama adalah sholat yang dikerjakan tepat

waktu dan selalu menjaganya.

Faedah sholat berjamaah yang lain adalah menjadi penyebab

terlaksananya sholat tepat pada awal waktu, atau paling tidak pada

waktu yang semestinya. ini merupakan bagian yang paling utama di

sisi Allah.

4) Penyantun, kasih sayang dan persamaan.

Diantara tujuan Islam yang paling agung adalah penyatuan antara

hati orang-orang beriman, menjaga kasih sayang dan memelihara

kesamaan diantara mereka, dalam melaksanakan sholat berjamaah,

ini semua dapat terwujud, yaitu ketika mereka yang mengerjakan

sholat itu berada dalam satu barisan dalam keadaan lurus, rata, rapat,

sehingga tidak ada perbedaan diantara mereka.

5) Membiasakan kesiplinan

Faedah sholat berjamaah yang lain adalah mengadakan kedisiplinan

dan hidup teratur. Pelajaran ini diambil dari sikap mengikuti imam

dalam takbir dan perpindahan dari satu gerakan sholat ke gerakan

(36)

darinya, atau bersamaan dengannya, atau mengejar atau

mengalahkan gerakkannya.

6) Memperbaiki penampilan

Pelaksanaan sholat berjamaah biasanya juga menjadikan seorang

muslim memperhatikan penampilannya, sehingga dia berusaha

untuk tampil sebaik mungkin dengan pakaian yang bersih dan aroma

yang harum sebab dia akan bertemu dan berkumpul dengan

saudara-saudaranya, baik di waktu siang atau malam, setiap kali melakukan

kewajiban sholat.

7) Dakwah nyata kepada kebaikan dan saling berlomba dalam

melaksanakan ketaatan kepada Allah

Keluar rumah untuk pergi ke masjid untuk menghadiri sholat

berjamaah merupakan dakwah alamiah yang nyata, untuk

menunaikan ibadah ini dan menjaganya, demikian juga,

“pelaksanaan sholat berjamaah akan mendorong para jamaah untuk

saling berlomba dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan

penuh kesungguhan dan keikhlasan, ketika diantara sesama jamaah

saling memperhatikan ibadah yang dilaksanakan oleh orang lain (Al

Qohhani, 2006: 16-19).

Al-Ghazali,1979:518, menulis dalam ihya‟ ulumudin: “Barang siapa

(37)

padanya suatu takbirotul ihrom, maka dituliskan oleh Allah baginya

dua kelepasan kelepasan dari nifaq dan kelepasan dari neraka.

d. Tata tertib mendirikan jamaah (imam dan makmum dalam sholat

berjamaah)

Imam dan makmum adalah sebutan orang muslim yang

mengerjakan sholat secara berjamaah. Sholat yang dilakukan secara

bersama-sama membutuhkan tata aturan, supaya pelaksanaan sesuai

dengan ajaran Islam. Umat Islam wajib mengambil hukum ibadah sesuai

dengan Al Quran dan Hadist yang shahih. Sabda Rasulullah SAW

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (Zamil Zainu,

1998: 66).

Amalan ibadah menjadi sah dan tertib jika didasarkan pada

perintah ajaran dalam Islam dan sesuai tata tertib, sehingga diharapkan

tujuan dan makna ibadah tersebut dapat tercapai, maka tata tertib

mendirikan jamaah harus diketahui, baik tata tertib sebagai imam dan

makmum. Tata tertib sholat berjamaah menyangkut sifat imam, adab

imam dan sikap makmum. Mengenai tata tertib tersebut yaitu, imam

jamaah hendaklah orang yang mempunyai sifat-sifat di bawah ini:

1) Hendaklah imam-imam jamaah menunaikan amanah Allah, yakni

memelihara diri dari fusuq (kefasikan), dari dosa besar dan dari

(38)

2) Keadaan imam tidak cidera pembacaan Al Quran (Al Fatihah dan

surah dan dzikir) .

3) Islam, baliq, berakal, laki-laki tulen, sehat, suci dari hadast dan najis,

berlidah fasih (Qotani, 2006:327-329)

Adab imam sholat berjamaah yaitu:

1) Mengetahui hukum-hukum sholat

Yaitu mengetahui yang mengesyahkan sholat dalam segala sudut

karena itu tidak syah diikuti orang-orang tidak sedikit juga

mengetahui Al Quran dan fiqh. Dikehendaki dengan mengetahui fiqh

disini ialah: mengetahui hukum-hukum bersuci dan hukum sholat.

2) Imam (laki-laki) hendaklah berdiri di tengah shaf (dan di belakangnya

orang-orang dewasa (Rahbawi:2004:322-326).

3) Berniat menjadi imam dan tidak ada dinding yang menghalangi imam

dan makmum (Sunarto: 328).

Sikap makmum sholat yang dilakukan secara bersama-sama.

1) Makmum selalu mengikuti imam, takbirotul ihrom makmum

dilakukan setelah takbirotul ihrom imam (Rahbawi:2004:333).

2) Hendaklah para makmum mengingatkan imamnya apabila imam lupa

perbuatan dengan mengucapkan tasbih (Asymuni:2001: 67).

3) Jangan terdepan atau sama tempatnya dengan imam artinya makmum

tidak boleh di depan atau bersamaan tempatnya dengan imam

(39)

2. Keutamaan Sholat Berjamaah

Setiap ibadah mempunyai nilai keutaman bagi mukmin yang

mendirikannya, bentuk pahala dan sanjungan dari Allah. Sholat berjamaah

mempunyai beberapa keutamaan, adapun menurut fadhal Ilahi yaitu:

a. Hati yang tergantung di masjid berada di bawah naungan Allah ta‟ala.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadist “Seorang yang hatinya

terlambat dengan masjid” artinya dia sangat mencintai masjid dan sangat

konsisten melakukan sholat berjamaah dan yang dimaksud disitu adalah

bukan konsisten duduk di masjid.

b. Keutamaan berjalan ke masjid untuk menunaikan sholat berjamaah di

dalamnya.

Orang yang melangkahkan kaki menuju ke masjid dalam keadaan suci

untuk menunaikan sholat berjamaah akan mendapat pahala ibadah haji,

berada dalam jaminan Allah, mendapatkan jamuan dari surga setiap kali

ia pergi pada pagi dan petang hari.

c. Keutamaan shaf yang pertama dan sebelah kanan

Shaf pertama seperti shaf para malaikat, sholawat Allah dan para

malaikat untuk shaf pertama, sholawat Nabi pada shaf pertama dan

kedua.

d. Keutamaan sholat berjamaah dibanding sholat sendirian

Allah akan meninggikan derajatnya berlipat ganda daripada sholat

(40)

e. Bertambahnya keutamaan sholat berjamaah seiring dengan

bertambahnya bilangan orang yang sholat.

f. Keutaman berjamaah pada sholat isya‟, subuh, dan asyar.

“Melaksanakan sholat isya‟ berjamaah sama nilainya dengan sholat

setengah malam dan sholat fajar berjamaah sama halnya seperti sholat

semalam suntuk, dan malaikat yang berkumpul di waktu Asyar

beristiqfar untuk orang yang berjamaah Asyar (Ilahi, 2004: 8-9).

3. Wajibnya Sholat Berjamaah

Kewajiban sholat berjamaah berdasarkan pada dasar hukum dari Al

Quran dan hadist sehingga perlu diketahui dan dikaji secara mendalam,

supaya lebih jelas dan tepat. Fadlal Ilahi dalam bukunya menyusun beberapa

dasar hukum kewajiban yang berdasarkan dari Al Quran dan As Sunnah,

beberapa kewajiban tersebut adalah:

a. Ancaman kemurkaan Allah sebab meninggalkan sholat berjamaah.

b. Keinginan Nabi SAW membakar rumah-rumah yang engan menunaikan

sholat berjamaah.

c. Akibat buruk bagi orang “yang tidak bertanggung menjawab seruan

untuk sujud” (Ilahi, 2004: 10).

4. Pengaruh Sholat Berjamaah

Umat Islam yang mengerjakan sholat, segenap eksistensinya terlibat

dalam satu peristiwa yang menggetarkan kalbu ketika sholat manusia

(41)

sepenuh jiwa, serta memuji asma-Nya berulang-ulang, pemilik sifat-sifat

yang terindah. Sholat sebagai ritual, lembaga, dan komitmen besar bagi

pribadi dan bersama pada ketertiban, ketepatan waktu, perubahan dan

kesatuan. Sholat berjamaah mempunyai pengaruh yang positif. Orang

muslim yang mendirikan sholat secara berjamaah akan menemukan makna

kehidupan. Adapun pengaruh mendirikan sholat berjamaah adalah sebagai

berikut:

a. Aspek Spiritual

Adalah hubungan antara hamba dengan Allah SWT. Sehingga

mempunyai nilai tinggi berdasarkan firman Allah.

1) Sholat jamaah 27 (dua tujuh) kali lipat dari pada sholat sendiri,

orang yang mengerjakan sholat dengan berjamaah akan memperoleh

pahala 27 (dua tujuh) kali lipat dari pahala orang yang melakukan

sholat sendiri.

2) Allah SWT telah mensyariatkan pertemuan bagi umat ini pada

waktu-waktu tertentu diantaranya adalah yang berlangsung dalam

satu hari satu malam, misalnya sholat 5 (lima) waktu. Sebagai sarana

untuk menjalin hubungan, yaitu kebaikan, kasih sayang, dan

penjagaan, juga dalam rangka membersihkan diri sekaligus dakwah

ke jalan Allah SWT, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.

(42)

4) Berjalan ke tempat sholat berjamaah setelah menyempurnakan

wudhu dan menghapus dosa.

5) Berkumpulnya kaum muslimin di masjid dengan mengharapkan

berbagai hal yang ada di sisi Allah yang dapat menjadi sarana

turunnya berbagai macam berkah.

6) Dengan sholat berjamaah, Allah akan memberikan perlindungan

kepada pelakunya dari syaitan.

7) Seseorang yang sholat berjamaah akan mendapakan dua tulisan dari

Allah, dari sifat munafik dan api neraka (Ghozali, 1994: 24).

b. Pengaruh dalam aspek dakwah Islam dan pendidikan

1) Memperhatikan salah satu syiar Islam terbesar. Seandainya umat

manusia ini secara keseluruhan sholat di rumah mereka

masing-masing, niscaya tidak akan diketahui bahwa disana terdapat ibadah

sholat.

2) Memperhatikan kemuliaan kaum muslimin yaitu jika mereka masuk

ke masjid-masjid kemudian keluar secara keseluruhan, pada yang

demikian itu membuat murka (marah) orang-orang munafik dan

orang-orang kafir. Di dalamnya juga terkandung upaya menjauhkan

diri dari menyerupai mereka dan menghindar dari jalan mereka.

3) Memberikan motivasi kepada orang yang tidak ikut sholat

(43)

saling mengingatkan untuk berpihak pada kebenaran dan senantiasa

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.

4) Berkumpulnya kaum muslimin pada waktu-waktu tertentu akan

mendidik mereka untuk senantiasa mengatur waktu.

5) Dakwah ke jalan Allah SWT. Dalam bentuk ucapan dan perbuatan

dan faedah lainnya yang banyak.

c. Pengaruh dalam aspek kehidupan sosial dan beragama

Tujuan khusus aspek religius dari dimensi sholat berjamaah

menurut Haryanto,2003:117-121, yaitu:

(44)

Aspek demokratis terlihat dari berbagai aktivitas yang

melingkupi sholat berjamaah itu sendiri, antara lain:

a) Memukul kentongan/bedug

Di masjid, langgar atau mushola terutama di pedesaan dan

sebagaian di perkotaan ada kentongan atau bedug sebagai tanda

memasukan sholat. Dalam hal ini siapa saja boleh memukul

kentongan/bedug, tentunya harus mengerti aturan atau

kesepakatan di daerah tersebut. Ini berarti Islam sudah

menerapkan bahwa kedudukan manusia sama, tidak dibedakan

berdasarkan berbagai atribut kemanusiaan.

b) Mengumandangkan adzan

Adzan merupakan tanda waktu sholat dan harus

dikumandangkan oleh muadzin (tukang adzan). Siapa yang

mengumandangkan adzan tidak dipersoalkan oleh Islam karena

pada prinsipnya siapa saja boleh. Namun perlu diingat bahwa

adzan adalah sebagian dari syiar Islam, sehingga memang

benar-benar orang yang mengerti dan diharapkan mempunyai suara

yang bagus (lafalz ucapannya baik dan benar).

c) Melantunkan iqomat

Iqomat adalah sebagai tanda sholat (berjamaah) akan segera

dimulai. Iqomat bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak harus yang

(45)

terlalu lama, hal ini sekaligus menggambarkan masalah

kedisiplinan dan penghargaan terhadap waktu.

d) Pemilihan atau pengisian shaf

Dalam hal ini siapa saja boleh menempati shaf atau barisan

pertama. Dengan kata lain siapa yang datang dahulu/awal maka

boleh menempati tempat paling terhormat yaitu di barisan

depan.

e) Proses pemilihan imam

Sholat berjamaah harus ada yang menjadi imam dan makmum,

mesti itu hanya berdua. “Apabila diperhatikan maka seolah-olah

ada suatu musyawarah untuk memilih imam (pemimpin) dalam

sholat yang dilakukan di masjid atau mushola.”

2) Rasa Diperhatikan dan Berarti

a) Memilih dan menempati shaf. Dalam sholat siapa saja datang

lebih dulu berhak untuk menempati shaf atau barisan paling

depan.

b) Imam akan memerintahkan makmum “untuk mengisi shaf yang

kosong dan meluruskannya.” (Haryanto, 2003: 128-132).

3) Perasaaan kebersamaan. Sholat berjamaah mempunyai nilai

terapeutik, dapat menghindarkan seseorang dari rasa terisolir,

terpencil, tidak dapat bergabung dengan kelompok, tidak diterima

(46)

4) Tidak ada jarak personal (personal space) salah satu kesempurnaan

sholat berjamaah adalah lurus dan rapatnya barisan (shaf) para

jamaahnya, ini berarti tidak ada jarak personal antara satu dengan

lainnya.

B. PERILAKU SOSIAL

1. Pengertian

Perilaku sosial tersusun dari dua kata, perilaku dan sosial. Perilaku

atau tingkah laku menurut Walgito, 1997:10, adalah tingkah laku atau

aktivitas yang ada pada individu atau organisme yang tidak timbul dengan

sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsangan yang

mengenai individu atau organisme itu.

Tingkah laku pada manusia tidak timbul dengan sendirinya, namun

akibat dari adanya rangsangan atau pengaruh yang datang dari luar, sehingga

apabila pengaruh yang mengenainya itu pengaruh yang baik, maka baik pula

apa yang dikerjakan dan sebaliknya apabila pengaruh buruk yang ia

dapatkan maka buruk pula yang dikerjakan.

Sedangkan sosial, menurut fajri,769 adalah segala sesuatu yang

berkaitan dengan masyarakat, khayalak, umum,suka menolong dan

memperhatikan orang lain.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku sosial

(47)

perasaan, sikap dalam rangka memenuhi kebutuhan diri atau orang lain yang

sesuai dengan tuntunan sosial.

Dalam Surat Al A‟raf ayat 96, Al Quran menggambarkan hubungan

antara ketakwaan dari satu sisi dengan masyarakat di sisi lain.



“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Pesan utama ayat ini, disatu sisi dapat dilihat sebagai janji Allah

yang menyatakan bahwa, jika suatu masyarakat beriman dan bertakwa, maka

mereka akan memperoleh keberuntungan. Sedangkan di sisi lain, pesan

utama ayat ini juga mengilustrasikan hubungan kualitas antara iman dan

takwa dengan kesejahteraan hidup para pemeluknya.(Ar- Rifai, 1999:108)

Takwa dalam hal ini dapat dipahami sebagai keadaan kualitas jiwa

seseorang (individu) yang membimbing dan memandu hidupnya dalam

mewujudkan kondisi sosial (kolektif) yang makmur dan sejahtera bagi

seluruh alam semesta. Kesejahteraan kolektif ini akan terwujud dengan

sendirinya jika setiap individu telah melaksanakan ketentuan-ketentuan iman

dan takwa secara utuh dan benar.

Islam memandang bahwa perubahan individual harus bermula dari

(48)

dimensi idiologikal (berpegang pada kalimat tauhid). Dimensi ritual harus

tercermin dalam dimensi sosial. Dalam Islam, sholat selalu, dihubungkan

dengan kehidupan bermasyarakat. Sholat harus dapat mencegah perbutan

keji dan mungkar. Firman Allah SWT (Al-Ankabut: 45).



“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (Sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah

mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S Al-Ankabut. 45)

Ibadah sholat selalu dikaitkan dengan zakat banyak ayat al Quran;

sholat diperintahkan bersama dengan tindakan yang bersifat sosial, firman

Allah QS. Al Ma‟arij. 22-28

mengerjakan sholatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”

Selain itu masih nayak ayat-ayat perintah ibadah sholat (Ritual)

dalam Al Quran yang dihubungkan dengan perintah tentang pelaksanaan

(49)

2. Jenis-jenis perilaku

a. Perilaku terpuji

Yang termasuk perilaku terpuji adalah Ridho kepada Allah, cinta

dan beriman kepada-Nya,beriman kepada malaikatkitab, rosul, hari

kiamat, takdir, taat beribadah, selalu menepati janji, melaksanakan

amanah, berlaku sopan dalam ucapan, dan perbuatan qonaah (rela

terhadap pemberian Allah), tawakal (berserah diri),sabar, syukur,

tawadhu‟ (merendah diri) dan segala perbuatan yang baik menurut ukuran

atau pandangan islam, ciri pokoknya yaitu :

1) Keimanan

Ciri pokok akhlak terpuji adalah keimanan, karena iman

merupakan landasan pokok keagamaan, artinya pelaksanaan agama

seseorang sangat tergantung pada kualitas imannya. Semakin tinggi

kualitas iman seseorang, maka semakin tinggi pula kulitas ibadah dan

akhlaknya. Yang semakin mendasar lagi ialah bahwa iman itu

merupakan kondisi dasar manusia, artinya dalam pandangan islam,

iman merupakan pembawaan dasar manusia.

2) Takwa

Takwa meruakan tujuan pokok dari segala bentuk kehendak,

(50)

kebahagiaan. Jadi apabila ciri-ciri pokok yang ada diatas dipenuhi

maka perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan terpuji,

menurut dirinya sendiri, orang lain dan menurut agama ( Jamhari,

1999:77-79).

b. Perilaku Tercela

Perilaku tercela adalah tingkah laku tercela yang merusak iman

seseorang dan menjatuhkan martabat manusia. Bentuk-bentuk perilaku

tercela ini dapat berkaitan dengan Allah, Rosulullah, dirinya,

keluarganya, masyarakat, atau sesama manusia dan lingkungan.

(Jamhari,1999:100 )

Jadi yang dimaksud dengan perilaku tercela merupakan kegiatan

yang merugikan baik bagi dirinya sendiri atau orang lain dan perbuatan

yang dilakukan bertentangan dengan norma agama, susila dan norma

budaya. Perbuatan tercela yang akan mendapat balasan dari Allah SWT.

3. Indikator-indikator perilaku sosial

a. Berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan

Sebagai makhluk sosial, kita harus mampu mengabdikan potensi

yang kita miliki terhadap masyarakat. Seperti pikiran, tenaga dan materi

yang ada pada diri kita

(51)

Sebagai warga negara yang baik, kita wajib menaati peraturan

yang telah ditetapkan demi menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan

masyarakat

c. Menghargai pendapat orang lain

Organisasi adalah sebagai wadah di mana sekelompok orang

mempunyai tujuan bersama, di mana tujuan itu di ambil dari kesepakatan

bersama. Yang bersumber pada pendapat tiap-tiap anggota. Setiap

pendapat akan menjadi motivasi untuk diri sendiri dan semua anggota.

Sehingga kita wajib menghargai setiap pendapat orang lain

d. Sopan santun dalam berbicara

Kehormatan seseorang adalah mereka yang mampu menjaga

perkataan dalam setiap ucapan

e. Memaafkan kesalahan orang lain

Kebesaran hati seseorang tercermin pada sikap dan perilaku

seseorang dalam memaafkan kesalahan orang lain

f. Menjenguk tetangga yang sakit.

Ukhuwah terdapat pada pertemuan, kebahagiaan orang sakit

hanyalah mengharap do‟a pada orang lain .

g. Tidak melakukan perbuatan anarki.

Bagian terbaik seseorang adalah kebaikan.janganlah kamu

melakukan hal-hal yang tidak baik dalam bermasyarakat.

(52)

Kehidupan seseorang tidak harus menjadi yang terbaik namun,

harus berusaha sebaik-baik nya bagi orang lain.

i. Menahan amarah.

Kemarahan tidak akan menyelesaikan suatu masalah, tetapi akan

menimbulkan masalah yang baru. Jika hati di bekali dengan amarah maka

hati kita akan di penuhi rasa dendam terhadap orang lain. Lain halnya

kesabaran, akan meredam hawa nafsu kita terhadap tindakan kita. Karena

kunci segala sesuatu adalah kesabaran.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku

Manusia dalam berperilaku dan berbuat sesuatu diakibatkan oleh

adanya beberapa faktor atau sebab, perkembangan individu itu akan

ditentukan baik oleh faktor pembawaa (dasar) atau faktor endogen maupun

oleh faktor keadaan atau lingkungan maupun faktor eksogen

(walgito,1997:46). Faktor endogen adalah faktor yang dibawa oleh luar diri

individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan

sebagainya. Sedangkan faktor eksogen atau dari luar meliputi keluarga,

masyarakat, dan sebagainya. Akan berpengaruh juga padakehidupan

seseorang.

Dari uraian yang di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi perilaku seseorang dapat dibedakan menjadi dua (2) meliputi

(53)

Faktor internal merupakan perbuatan seseorang yang dipengaruhi

oleh keadaanyang berasal dari diri itu sendiri, baik itu dari pola fikir,

kondisi badan, kecerdasannya, dan lain sebagainya.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor pembentukan perilaku

seseorang yang berasal dari luar diri seseorang, baik itu berasal dari

keluarga, lingkungan, termasuk media di dalamnya, dan faktor pembentuk

perilaku seseorang yang berasal dari luar.

5. Peran Agama dalam Kehidupan

Rais, 1998:107, Dalam bukunya Tauhid Sosial menyebutkan bahwa

tauhid sosial adalah dimensi sosial dari tauhidullah. Ini dimaksudkan agar

tauhid uluhiyyah, rubiyyah, yang sudah tertanam pada kaum muslimin, bisa

diturunkan lagi ke dalam dataran pergaulan sosial, realitas sosial, secara

konkrit. Seperti halnya ibadah mahdhah yang termasuk dalam arkanul Islam,

seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji sebenarnya juga sarat dengan dimensi

sosial.

Konsep ketauhidan menggambarkan harus adanya kesatuan dan

keadilan lain. Meskipun berbeda-beda dalam profesi, menempuh beragam

orientasi hidup, tetapi dalam konsep yang paling dasar manusia adalah satu

(54)

Disatu sisi, agama mengajarkan untuk berbuat baik antar sesama,

menyantuni kaum-kaum miskin dan orang-orang tertindas. Namun di sisi

lain agama juga mendoktrin untuk melakukan jihad dan memerangi segala

bentuk kemungkaran dan kemaksiatan.

Pemahaman terhadap ajaran agama yang primodial akan berimplikasi

pada perilaku keagamaan. Sehingga yang terjadi, perilaku yang bertentangan

dengan agama dianggapnya sebagai misi keagamaan. Agama hadir di muka

bumi untuk mengatur dan menata kehidupan sosial kemanusiaan. Agama dan

seperangkat doktrin sucinya diturunkan bukan untuk Tuhan, Rosul, apalagi

untuk agama itu sendiri, karena agama hanya untuk kemaslahatan umat

(manusia). Agama merupakan penyadaran manusia mengenai,

hubungan-hubungan keagamaan, realitas, sehingga religisitas merupakan bentuk

kesadaran hubungan keagamaan realitas tersebut. (Mulkhan, 1998: 22).

Tugas utama yang diperintahkan Tuhan kepada Nabi adalah

membangun peradaban yang mampu memanusiakan manusia tanpa melihat

latar belakang sosial, ekonomi, maupun dari keturunan karena setiap ajaran

agama selalu menganjurkan makna ceivilited atau beradaban manusia, bukan

beradaban Tuhan. Sebab Tuhan sudah punya peradaban sendiri. Disinilah

misi agama menjadi jelas, bahwa secara substantif agama berpihak untuk

membela dan memperjuangkan kepentingan manusia, bukan kepentingan

Tuhan, karena Tuhan tidak punya kepentingan terhadap manusia (Mulkhan,

(55)

Dari permasalah di atas, penulis bermaksud mengadakan penelitian

ilmiah yang membahas tentang pengaruh sholat berjama‟ah terhadap

perilaku sosial. Penulis berusaha menyampaikan ada atau tidaknya pengaruh

sholat berjama‟ah bagi orang yang melaksanakannya terhadap perilaku

(56)

BAB III

HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Obyektif Desa Pondok Sendang Kec. Bringin Kab. Semarang

Sebelum penulis memasuki pokok masalah, yaitu penyajian data, penulis

memandang perlu untuk menyajikan keadaan obyektif penelitian secara umum,

yakni untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang obyek penelitian yang

dimaksud, yakni meliputi:

1. Letak Geografis

Letak geografis Desa Pondok sendang kec. Bringin Kab. Semarang

merupakan bagian dari kabupaten semarang terletak 30 Km, kearah selatan

dari ibu kota semarang di Ungaran. dengan luas 40,5 Ha. Dengan jumlah

penduduk 800 jiwa.

2. Batas wilayah Desa

TABEL I

Letak Batas Desa / Kelurahan Keterangan

Sebelah Utara Desa Wiru

Sebelah Selatan Desa Dukoh dan Daton

Sebelah Barat Desa Dolog dan Celong

Sebeleh Timur Desa Wonokerto

(57)

3. Situasi dan Kondisi Sosial Ekonomi

Tabel II

NO PEKERJAAN JUMLAH (ORANG)

1 Petani 759

2 Peternak 4

3 Guru 5

4 PNS/ABRI 9

5 Perangkat Desa 5

6 Pensiunan ABRI/SIPIL 3

7 Pegawai Swasta 6

8 Industri Kecil 9

4. Sarana fisik

Tabel III

NO SARANA DAN PRASARANA JUMLAH

1 Gedung Kelurahan 1

2 Gedung Sekolah SD

Gedung Sekolah MI

Gedung Sekolah TK

1

1

1

3 Sarana Ibadah

Masjid

Mushola

Gereja

1

2

(58)

5. Jumlah Penduduk

a. Jumlah penduduk seluruhnya : 800 Jiwa

b. Jumlah kepala keluarga : 100

Tabel 1V

Nama Responden dan Jenis Kelamin

(59)

38 Sbrw L 78 Znl L

39 Swnt L 79 Ksr L

40 Znr L 80 Trn P

Jumlah 48 32

6. Keadaan Pendidikan

Tabel V

NO URAIAN JUMLAH

1 Tidak tamat SD 90

2 Tamat SD 88

3 Tamat SLTP 293

4 Tamat SLTA 312

5 Tamat Perguruan tinggi 23

7. Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI

DESA PONDOK SENDANG

BPD

KAUR PEMERINTAHAN

KAUR PEMBANGUNAN

KAUR UMUM KEPALA DESA

(60)

Dengan Perincian sebagai berikut :

a. Kepala Desa : Nur Faizin SAg

b. Sekretaris Desa : Dimyati

c. Kaur Pemerintah : Sihana

d. Kaur Pembangunan : Suyuti

e. Kaur Umum : Suparman

f. Kepala Tehnis Pengairan : Siti Kabsah

g. Kadus RW I : Wahyudi

h. Kadus RW II : M Abdillah

i. Kadus RW III : Nur Solikhin

j. Kadus RW IV : Damiri

B. Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian

Desa Pondok Sendang merupakan desa yang tidak terlalu padat

penduduknya. Masyarakat pondok sendang masih erat hubungan

kekeluargaannya dengan sesama warga, karena masyarakat dalam melakukan

kegiatan masih bergotong royong, misal dalam mendirikan rumah seorang warga

dengan melakukan secara bersama-sama.

KAUR KEUANGAN KADUS 1

KADUS 2

KADUS 3

(61)

Kondisi keagamaan masyarakat Pondok Sendang sangatlah maju, Di

Pondok Sendang sudah ada tempat ibadah baik masjid atau mushola, Bahkan

kegiatan keberagamaan sudah berjalan dengan baik. Seperti mengadakan

pengajian rutinan setiap malam selasa, jum‟at, dan minggu di Pondok Sendang

berjalan dengan lancar.

Dalam bidang pendidikan sudah maju karena anak-anak belajar di sebuah

TPA yang ada di Pondok Sendang. bahkan Orang tua juga mendukung

anak-anakya untuk mengaji dan belajar ilmu-ilmu agama di masjid atau mushola, juga

di lembaga pendidikan keagamaan seperti Madrasah Diniyah atau TPA.

Mata pencaharian masyarakat Pondok Sendang kebanyakan bertani, karena

wilayah ini merupakan daerah pertanian sehingga sebagian penduduknya petani,

tanaman yang di tanam sangatlah beragam menanam padi biasanya tiga kali

dalam setahun, tetapi ada juga yang menanam sayuran dan tanaman lain.

C. Daftar Hasil Angket

Data yang penulis peroleh di lapangan bahwa sebagian besar masyarakat

di Pondok Sendang mengerjakan shalat berjamaah.

Untuk membuktikan pengaruh shalat berjamaah terhadap perilaku sosial

masyarakat Pondok,penulis menyabarkan angket pada 80 orang (responden) yang

diambil dari 48 orang laki-laki, dan 32 orang perempuan masyarakat Pondok

Sendang.

Penulis menyebarkan angket kepada 80 orang (responden) masyarakat

(62)

1. 10 pertanyaan untuk intensitas masyarakat melaksanakan shalat berjamaah

2. 10 pertanyaan untuk perilaku sosial masyarakat.

1. Analisis yang Pertama

Penulis bermaksud mencari jawaban untuk tujuan penelitian, untuk

mengetahui shalat berjamaah yang dilakukan masyarakat Pondok Sendang

dengan menggunakan angket yang telah disebarkan. Ada 10 pertanyaan untuk

mengungkap intensitas masyarakat Pondok Sendang dalam melaksanakan

shalat berjamaah.

Dari masing-masing pertanyaan terdiri dari 3 alternatif jawaban

dengan menggunakan pilihan jawaban a, b, c, kemudian penulis beri nilai

sebagai berikut:

Untuk jawaban berkode a diberi nilai 3

Untuk jawaban berkode b diberi nilai 2

Untuk jawaban berkode c diberi nilai 1

a. Data tentang jawaban angket intensitas shalat berjamaah dapat dilihat

(63)
(64)

Gambar

Tabel III
Tabel 1V
NO Tabel V URAIAN
Tabel VI Jawaban Angket
+7

Referensi

Dokumen terkait

dibuat sudah sesuai dengan rancangan yang dapat memberikan informasi eksekutif untuk mendukung kegiatan evaluasi diri pada STMIK Duta Bangsa. Surakarta

Bahkan ia menafsirkan sampai pada kesimpulan bahwa ayat tersebut –dengan dalil perintah tunduk pada ulil amri dengan koridor tunduk pada Allah dan Rasul– merupakan penjelasan

Dengan adanya latar belakang tersebut pada akhirnya efektivitas pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) khususnya sektor industri pariwisata harus lebih dikaji lebih dalam, baik

Namun klindamisin lebih efektif dalam penggunaan terapi infeksi bakteri terutama yang disebabkan oleh bakteri anaerob dan dapat digunakan pula untuk terapi

SS0264 FALISHA RAIHANA ALEXANDRIA SEKOLAH GLOBAL MANDIRI CIBUBUR SS0075 CHUEN FUNG HOW SINGAPORE SCHOOL, BONA VISTA SS0068 REHAN CYRUS POONAWALLA SINGAPORE SCHOOL, BONA VISTA

tindakan dari Aparatur Sipil N~gara, dimana sebagai Pegawai Negeri Sipil memang harns memperlihatkan sebuah prestasi kerja lebih menonjolkan kepada prestasi kerja bukan hanya

Penelitian tindakan kelas yang berjudul “Optimalisai Perkembangan Bahasa Melalui Kegiatan Eksplorasi Lingkungan Menggunakan Media Kaca Pembesar Pada Anak Kelompok TK B Di

Rencana Strategis Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bekasi 2013-2018 adalah salah satu landasan operasional kinerja yang memuat