i
POLISEMI PADA VERBA PERSEPTIF LOOK:
SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF
Naskah Publikasi
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai gelar derajat Sarjana S-2
Program Studi Linguistik
Diajukan Oleh
Prayudha 12/339605/PSA/07327
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA
ii
Naskah Publikasi
POLISEMI PADA VERBA LOOK: SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF
Disusun oleh
Prayudha 12/339605/PSA/07327
Telah disetujui sebagai naskah publikasi oleh pembimbing
pada tanggal 4 September 2014
Pembimbing
iii
ABSTRACT
This research investigates polysemy of verb of perception (VPs) look from the framework of Cognitive Linguistics. The data is taken from the dictionary and corpus. Dictionary provides systematic data and the corpus provides rich data.
The research method used was a descriptive-qualitative research method. The implementation of this method through a number of stages: data collection, analyzing data, and presenting the results of data analysis. The stage of analyzing the data was performed using agih and padan methods with a number of techniques.
The study found that VPs look consists of two meanings that are ‗to see‘
and ‗to seem to be‘. The first meaning belongs to VPs look agentive verb (look [A]) and another is owned by VPs perceptive verb look (look [P]). VPs look [A]) has dynamic, telic, and durative semantic characters while VPs look [P] has static, atelic, and punctual semantic characters. With such semantic characteristics, look [A] is a transitive verb and look [P] is an intransitive verb. Each of grammatical constructions of look has particular characteristics of their arguments. Both meanings are related in a semantic network.
VPs look has 20 extension meanings in phrasal verb construction and also includes a number of idiomatic construction meanings. The extension meanings are ‘to turn away’, ‘to stare’, ‘to scrutinize’, ‘to predict’, ‘to remember’, ‘to consider’, ‘to underestimate’, ‘to admire’, ‘to feel happy’, ‘to expect’, ‘to beware’, ‘to become better’, ‘to examine’, ‘to delve’, ‘to search’, ‘to share’, ‘to take care of’, ‘to visit’, ‘to avoid’, and ‗to read’. Meanwhile, all of the extension meanings of look in idiomatic construction are transparent idiom.
1 1. Pengantar
Polisemi merupakan fenomena kebahasaan yang penting. Stephen Ulman
mengatakan bahwa polisemi adalah ―poros dari analisis semantik‖ (1977: 117).
Lewandowska-tomaszezyk (2007: 139) menegaskan pentingnya polisemi dengan
mengatakan, ―One of the most fundamental phenomena observed in language is the existence of a diversity of related meanings expressed by the same word form.
Pendapat-pendapat tersebut sangat beralasan. Ini karena polisemi merupakan ciri
fundamental bahasa dalam rangka mengembangkan kemampuan kosakatanya
untuk mengungkapkan konsep-konsep baru yang belum ada sebelumnya (Wijana,
2010: 164). Pengkajian mendalam terhadap polisemi bisa menjelaskan proses
perkembangan bahasa.
Posisi strategis polisemi guna mengungkap tahapan perkembangan bahasa
mesti mendapat perhatian lebih. Polisemi mesti diperlakukan sebagai sesuatu yang
tak terlepas dari pengalaman, pikiran, dan bahasa itu sendiri. Linguistik kognitif
— sebagai tradisi linguistik yang mencoba menata ulang konsepsi kebahasaan — menawarkan alternatif analisis kebahasaan yang bisa menjelaskan lebih banyak
hal terkait polisemi sekaligus menjawab sekian pertanyaan terhadap polisemi
yang sukar dijelaskan hingga kini. Untuk itu, Taylor (1989 dalam
Lewandowska-tomaszczyk, 2007: 140) mengatakan, ―Even though classical polysemy refers first of all to lexis, Cognitive linguistic tools make it possible to observe polysemic
effects in phonology, morphology, and syntax.‖ Linguistik kognitif, dengan
sejumlah prinsipnya, memungkinakan studi terkait polisemi menjadi lebih
mendalam dan komperhensif.
Salah satu prinsip tersebut adalah prinsip pengejawantahan (embodiment).
Evans & Green (2006:44—48) menjelaskan bahwa prinsip tersebut menekankan
bahwa realitas tidaklah objektif akan tetapi terejawantahkan dalam pengalaman
badaniah (embodied eksperience). Prinsip tersebut menjelaskan bahwa
pengetahuan diperoleh dari pengalaman atas organ-oragan tubuh.
Salah satu organ yang sering digunakan dalam berintraksi adalah mata.
Sebagaimana prinsip pengejawantahan, leksikon terkait mata dan pengalaman
terkait mata akan begitu kaya. Untuk itulah, penelitian ini mencoba menganalisis
polisemi verba LOOK dalam sudut pandang linguistik kognitif. Verba LOOK
sendiri merupakan bagian dari jenis verba perseptif. Verba perseptif (selanjutnya
disingkat PVs) memiliki nilai tersendiri, terutama dalam linguistik kognitif.
Gisborne (2010: 181—182) mengatakan, ―I claim that verbs of perception are special precisely because they are directly embodied and experiental… After all, we only become aware of motion and causation via perception, so in this sense, perception is even more basic”. VPs memiliki arti penting karena verba tersebut berhubungan langsung dengan pengalaman nyata. Jenis verba lainnya, seperti
verba aksi-proses atau verba pergerakan muncul sebagai akibat perkembangan
dari verba perseptif.
2. Landasan Teori 2.1Linguistik Kognitif
Linguistik kognitif merupakan kajian yang relatif baru. Kajian yang
muncul pada akhir 1970-an dan mulai berkembang pada tahun 1980-an ini
mencoba keluar dari dominasi pendekatan formal dalam studi kebahasaan saat itu.
Lahirnya lingustik kognitif dipengaruhi oleh berkembangnya kajian kognisi –
mengenai memori, persepsi, atensi, dan kategorisasi - saat itu khususnya psikologi
kognitif. Linguistik kognitif berfokus pada studi mengenai hubungan antara
bahasa (language), minda (mind), dan pengalaman sosio-fisik (socio-physical
experience).
Lakoff (1990 dalam Evans, Bergan, & Zinken, 2007: 4) menjelaskan
bahwa linguistik kognitif memiliki sejumlah komitmen kunci. Evans & Green
(2006:27—48) membagi komitmen tersebut menjadi komitmen generalisasi
(Generalisation Commitment) dan komitmen kognitif (Cognitive Commitment).
Keduanya menjadi penentu teori dan model analisis dalam presepektif linguistik
kognitif.
Komitmen generalisasi didasarkan pada asumsi bahwa bahasa
merefleksikan mekanisme dan proses kognitif secara umum. Komitmen tersebut
itu, menurut Evans (2007: 88), komitmen generalisasi mendorong linguistik
kognitif untuk mengkaji prinsip-prinsip pengorganisasian umum (general
organising principles) yang terjadi pada sistem bahasa yang berbeda (fonologi,
sintaksis, semantik, dan sebagainya). Evans & Green (2006:28—39) menyebut
prinsip pengorganisasian umum tersebut meliputi mekanisme konseptual seperti
(i) kategorisasi: misalnya konstruksi diminuitif (morfologi), kelas gramatikal
(sintaksis), fitur pembeda (fonologi), (ii) polisemi yang muncul pada struktur
leksikon, morfologis, dan sintaksis, dan (iii) metafora yang muncul pada tataran
leksikon dan sintaksis termasuk mekanisme konseptual seperti metafora,
pemaduan konseptual, dan fenomena polisemi. Komiten ini sekaligus mencoba
keluar dari pandangan linguistik formal yang cenderung memisahkan kajian
linguistik berdasarkan aspek cakupannya, seperti fonologi (bunyi) terpisah dengan
morfologi (struktur kata) dalam model analisisnya dan seterusnya.
Komitmen kognitif — sebagai definisi dari linguistik kognitif itu sendiri –
juga menolak pendekatan modular (modular approach) pada bahasa dan minda
dalam linguistik formal. Komitmen kognitif merepresentasikan pandangan bahwa
prinsip-prinsip struktur linguistik harus merefleksikan kognisi manusia dari
disiplin ilmu lainnya, khususnya ilmu sains kognitif (filsafat, psikologi, artificial
intelligence, dan neuroscience) (Evans, 2007: 19). Dengan kata lain, komitemn
kognitif melihat bahasa dan pengorganisasian linguistik harus mencerminkan
prinsip kognitif umum dari prinsip kognitif spesifik menjadi milik bahasa. Lakoff
(1990 dalam Evans, Bergan, & Zinken, 2007: 4) menjelaskan bahwa komitmen
kognitif menjadikan linguistik kognitif menjadi kognitif dan pendekatan dalam
kajian ini menjadi interdisipliner. Penelitian ini dilakukan dalam naungan
sejumlah komitmen dan prinsip dalam Linguistik Kognitif yang ada.
2.2Polisemi
Polisemi merupakan salah satu kajian dalam cabang linguistik kognitif:
berarti ―tanda‖. Artinya, polisemi adalah satu leksem yang memiliki variasi makna yang saling terkait.
Linguistik kognitif, melalui cabangnya semantik kognitif, selanjutnya
mengembangkan sejumlah model pendekatan untuk mengkaji kepolisemian.
Pendekatan pertama dikembangkan dari teori dalam tatabahasa kognitif mengenai
relasi antara trajector (TR) dan landmark (LM). Beberapa pendekatan tersebut
adalah Full-Specifi Cation Approach yang dikembangkan oleh Lakoff mulai tahun
1987. Berikutnya adalah pendekatan Partial Approach dirumuskan oleh Kreitzer
pada tahun 1997. Terakhir, dengan mengembangkan pendekatan sebelumnya,
Vyvyan Evans merumuskan Principled Polysemy sebagai model analisis polisemi.
Dalam pendekatan ini, polisemi akan terbagi maknanya ke dalam makna utama —
disebut juga makna prototipe — dan makna perluasan yang terhubung dalam
sebuah jejaring makna. (periksa Evans, Bergen, & Zinken, 2007: 189-199).
Pendekatan dalam analisis polisemi berikutnya dikembangkan dalam naungan
Tatabahasa Konstruksi. Dalam pendekatan yang ditawarkan Croft dan Cruse
(2004: 109) ini, analisis polisemi dimaknai sebagai sebuah persoalan
pengisolasian bagian yang berbeda atas makna penuh (total meaning) yang
potensial terhadap kata dalam kondisi (circumstances) yang berbeda. Proses
pengisolasian bagian (portion) atas makna yang potensial tersebut ditunjukan
melalui perumusan sebuah batasan makna (sense boundary) yang memagari
sejumlah makna.
3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian deskriptif-kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik
pustaka dengan sumber data adalah teks yang didalamnya mengandung verba
LOOK. Dalam kajian linguistik kognitif, analisis kebahasaan mesti diawali dari
analisis makna. Untuk dapat menjelaskan polisemi pada verba look, penelitian ini
menggunakan metode agih dan padan sekaligus dengan sejumlah tekniknya. Hasil
4. Hasil dan Pembahasan 4.1Makna Verba Perseptif Look
Dalam analisis polisemi pada sebuah leksem atau kelas kata, Cruse (1986,
dalam Reimer 2005: 146), menawarkan pengujian polisemi dengan tes sinonimi.
Tes tersebut memandang jika sebuah kosakata dapat digantikan dengan kosakata
lain dalam sebuah konstruksi maka glos tersebut berpolisemi. VPs look terbagai
ke dalam dua makna yakni sebagaimana ditunjukan oleh data berikut.
(1) She looked at me and smile. Ox1 She {saw} me and smile.
‗Dia menatapku sambil tersenyum.‘
(2) That book looks interesting. Ox That book {seems} interesting.
‗Buku itu nampak menarik.‘
Kedua data tersebut membuktikan jika VPs look memiliki dua makna.
Data (1) menunjukan jika look dapat digantikan oleh verba see yang memiliki
makna ‗to see’ atau ‗menatap‘. Meski verba see tidak sepenuhnya mampu
menggantikan VPs look, data tersebut menunjukan jika makna ‗menatap‘
merupakan bagian dari makna VPs look. Gisborne (2010: 4 – 6) menyebut verba
look terdiri dari kelas verba perseptif yang bersifat agentif (selanjutnya disebut
look [A]). Ini karena look [A] menerangkan aktifitas yang dilakukan oleh
pengalam. Sementara itu, data (2) menunjukan jika VPs look dapat digantikan
oleh verba seem tanpa mengubah makna kalimat. Ini menunjukan jika makna ‗to seem to be’ atau ‗tampak‘ merupakan bagian dari makna VPs look. Pada makna ini, VPs look disebut sebagai verba perseptif yang murni (selanjutnya disebut look
[P]). Ini karena pada makna ‗tampak‘, look [P] setara dengan stimulus yang
menjadi objek dari tindakan ‗menatap‘ dari look [A]. Van Valin (2005: 55)
menyebut verba seperti look [P] sebagai statif perception verb yang masuk dalam
klasifikasi verba keadaan (state verb) sementara look [A] merupakan drected
perception verb yang merupakan bagian dari verba aktifitas (activity verb).
1
4.2Kedinamisan Verba Perseptif Look
Secara leksikal, look [A] dan look [P] memiliki ciri yang berbeda. Ciri
leksikal oleh Brinton (1988; Gisborne, 2010: 185) dijelaskan sebagai tingkat
kedinamisan atau Aktionsarten. Kedinamisan sebuah verba menurutnya terbagi
dari: kedinamisan (dynamism), telisitas (telicity), durasi (duration). Pengujian
terhadap tingkat kedinamisan sebuah verba dapat ditempuh melalu serangkaian
pengujian sebagaimana ditunjukan oleh data berikut.
(3) He looked at her with an icy contempt. BNC2
‗Dia menatapnya dengan penuh kebencian.‘
(3a) He {was looking} at her with an icy contempt.
‗Dia sedang memandangnya dengan penuh kebencian.‘
(3b) He {finished} looking at her with an icy contempt.
‗Dia berhenti memandanginya dengan penuh kebencian.‘
(3c) He looks at her with an icy contempt {for a minut}.
‗Dia memandangnya dengan penuh kebencian selama satu menit.‘
Data (3) menunjukan tingkat kedinamisan yang dimiliki oleh look [A].
Data (3a) menunjukan jika look [A] mampu berada dalam kala progresif. Ini
menunjukan jika look [A] bersifat dinamis. Data (3b) dapat diperluas dengan
menambahkan verba finished yang menunjukan jika look [A] bersifat telis. Verba
telis sendiri adalah verba yang menggambarkan perbuatan yang tuntas
(Kridalaksana, 2008: 256). Selanjutnya, data (3c) dapat diperluas dengan
menambahkan keterang waktu for a minut. Ini menunjukan jika look [A] bersifat
duratif. Verba duratif adalah verba yang menunjukan aktiftas yang memiliki
tenggang waktu (Vendler, 1967 dalam Gisborne, 2010: 187). Pengujian tersebut
menyimpulkan bahwa VPs look [A] memiliki sifat DINAMIS, TELIS, dan
DURATIF. Sementara itu, kedinamisan dari look [P] dapat diamati dari pengujian
berikut ini.
2
(4) That book looks interesting. BNC
‗Buku itu tampaknya menarik.‘
(4a) *That book {is looking} interesting.
‗Buku itu sedang tampak menarik.
(4b) * That book {finished} looking interesting.
‗Buku itu berhenti tampak menarik.‘
(4c) *{For an hour}, that book looks interesting.
‗Selama satu jam, buku itu tampak menarik.‘
Data (4) menunjukan pengujian terhadap tingkat kedinamisan dari VPs
look [P]. Data (4a) menunjukan jika look [P] tidak dapat muncul dalam kala
progresif yang menunjukan jika verba tersebut memiliki sifat statis. Data (4b)
tidak berterima jika diperluas dengan verba finish yang menunjukan jika look [P]
bersifat atelis. Kridalaksana (2008: 254) menjeaskan jika verba atelis merupakan
verba yang menggambarkan perbuatan yang tidak tuntas. Berikutnya, data (4c)
juga tidak berterima karena diperluas dengan keterangan waktu for an hour. Hal
tersebut menunjukan jika look [P] tidak bersifat duratif tetapi pangtual (punctual).
Verba pangtual (punctual) adalah verba yang menerangkan keadaan saat itu juga.
Uji kedinamisan yang dikenakan pada data (4) menunjukan jika VPs look [P]
memiliki sifat STATIS, ATELIS, dan PANGTUAL.
4.3Konstruksi Garamtikal Verba Perseptif Look
Kedinamisan dari VPs look [A] dan look [P] memiliki dampak pada
konstruksi garamatikal dari keduanya. Verhaar (2010: 193) mengatakan bahwa
ciri-ciri semantis verba secara leksikal akan mempengaruhi sifat-sifat dari
argumennya. Sifat dari argumen yang terpengaruh oleh ciri leksikal verba adalah
i) valensi verba, ii) peran dari argumen, iii) sifat-sifat dari argumen (persona,
a. Valensi Verba Perseptif Look
Ciri leksikal yang berbeda membuat VPs look [A] dan look [P] memiliki
pola valensi yang berbeda. Valensi sendiri terbagi menjadi valensi kosong
(valency zero), valensi satu (valency one), vanlensi dua (valency two) (Kreidler,
1998: 68 – 73). Berikut adalah data yang menunjukan pola valensi dari VPs look.
(5) I amlooking at Alan. BNC *I am looking.
‗Aku sedang menatap Alan,‘
(6) You look awful. BNC *You look {Alan}.
‗Kamu tampak kacau.‘
Kedua data tersebut menunjukan valensi yang berbeda dari VPs look. Data
(5) menunjukan jika look [A] hanya dapat berada pada konstruksi dengan dua
argumen. Ini menunjukan jika look [A] hanya mampu bervalensi satu. Dengan
kata lain, look [A] secara konstruksi merupakan verba transitif. Ini berbeda
dengan pola valensi dari look [P] yang ditunjukan oleh data (6). Data tersebut
menunjukan jika look [P] tidak dapat didampingi oleh dua argumen. Ini
menunjukan jika VPs tersebut hanya mampu bervalensi kosong. Dengan
demikian, VPs look [P] merupakan verba intransitif karena tidak memerlukan
kehadiran objek.
b. Peran dan Sifat Argumen Verba Perseptif Look
Pembahasan sebelumnya telah menunjukan bahwa VPs look [A]
merupakan verba transitif sementara VPs look [P] adalah verba intransitif.
Ketransitifan yang berbeda tersebut memiliki pengaruh pada pola argumen
keduanya. Berikut ini adalah data-data yang menunjukan sifat dari argumen dari
VPs look.
(7) He looked at her uncomprehendingly. BNC S: Pn P: VP Prep O: St Ket. Klt
(8) Bob was looking at her with amusement. BNC S: Pn P: VP Prep O: St Ket. Klt
‗Dia sedang memandanginya dengan penuh tawa.‘
Kedua data tersebut menunjukan relasi argumen dari VPs look [A]. Data
(7) menunjukan kehadiran look [A] didampingi oleh argumen dengan fungsi
subjek he dengan peran semantis sebagai pengalam dan argumen objek her yang
berperan sebagai stimulus. Data (8) menunjukan kehadiran look [A] didampingi
oleh argumen subjek Bob dengan peran semantis pengalam dan argumen objek
her sebagai stimulus. Meski kedua data tersebut menunjukan subjek berupa
persona ketiga jamak, VPs look [A] sejatinya dapat memiliki objek persona
pertama, kedua, dan ketiga baik jamak maupun tunggal. Namun demikian,
pengalam dari look [A] hanya dapat berwujud mahluk hidup yang memiliki indra
penglihatan. Stimulus dari VPs ini harus merupakan benda konkrit yang mampu
dilihat oleh mata. Peran dan sifat argumen dari look [A] tersebut berbeda dengan
peran dan sifat argumen dari look [P] sebagaimana ditunjukan oleh data berikut.
(9)Your curtains look really nice. BNC S: St P:VK Pel
‗Hordemu tampak manis sekali.‘
(10) It looks a mess. BNC S:St P:VK Pel
‗Ini tampak kacau.‘
Data-data tersebut menunjukan relasi argumen dari look [P]. Pada data (9),
kehadiran VPs look [P] didampingi pengisi fungsi subjek your curtains yang
berperan stimulus. Konstruksi tersebut juga memiliki pelengkap berkategori
adjektifa yakni really nice. Sementara itu, data (10) menunjukan kehadiran VPs
look [P] didampingi oleh argumen pengisi fungsi subjek it yang berperan semantis
stimulus. Nomina a mess merupakan pelengkap dalam konstruksi tersebut.
Pengisi fungsi subjek dari verba look [P] dapat bersifat konkrit dan abstrak.
tersebut bukan citra visual tapi dapat berupa ide atau emosi. Ini berbeda dengan
stimulus dari look [A] yang harus berupa citra visual yang dapat dilihat oleh mata.
4.4Makna Prototipe Verba Perseptif Look
Pembahasan pada poin 4.1 menunjukan jika VPs look terdiri dari dua
makna yakni ‗to see‘ atau ‗menatap‘ dan ‗to seem to be’ atau ‗tampak‘. Secara
literal keduanya berhubungan dengan aktifitas indra penglihatan. Akan tetapi,
pembahasan poin 4.3b menunjukan jika makna ‗tampak‘ yang dimiliki oleh look
[P] dapat pula terkait dengan perasaan atau dapat juga terkait dengan pikiran jika
jenis timulusnya berupa benda abstrak. Secara keseluruhan, perbedaan antara
makna look [A] dan look [P] dapat diamati dari tabel berikut.
Tabel 1. Perbedaan VPs look [A] dan VPs look [P]
makna jenis kedinamisan valensi subjek objek
to see VPs
*terkait dengan aktifitas perasaan atau pikiran
Dari kedua makna tersebut, terdapat makna VPs look yang tipikal atau
disebut sebagai makna prototipe. Prototipe sendiri adalah repersntasi atau
perwakilan yang abstrak dari sebuah kategori atau bagian dari kategori yang
digunakan sebagai acuan dalam menentukan keanggotaan sebuah kategori Rosch
& Mervis (1975: 575 dalam Lipka, 1986: 85). Penentuan makna prototipe dapat
mengikuti kriteria3 yang dirumuskan oleh Tyler dan Evans (2001) dalam teori
polisemi terperinsip (principled polysemy).
Secara etimologis, menurut A concise Etymological Dictionary of The
English Language, VPs look berasal dari bahasa Inggis kuno (Old English) locian
dengan makna ‗use the eyes for seeing, gaze‘ . Makna ‗menggunakan mata untuk
melihat‘ tersebut dimiliki oleh look [A]. Selain itu, makna tersebut juga
3
mendominasi jejaring semantis karena unik dan atribut dari makna tersebut
terdapat pada makna-makna lain. Atribut stimulus yang berupa benda konkrit
merupakan subjek dalam makna look [P].
Makna ‗to see‘ yang menunjukan aktifitas pengalam mengarahkan tatapan ke arah stimulus juga paling banyak muncul dalam konstruksi gabungan baik
dalam bentuk kata majemuk (compound form) maupun verba frasal (phrasal
verb). Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, terdapat setidaknya lima
kata majemuk berupa nomina yang melibatkan verba look. Kata majemuk tersebut
adalah lookalike, looker, lookism, lookout, dan lookup. Dari lima kata majemuk
tersebut, tiga kata majemuk yakni looker, lookout, dan lookup berasal dari
gabungan verba look [A]. Sebagai verba frasal, setidaknya terdapat 17 verba frasal
dengan look sebagai verba akar. Seluruh verba frasal tersebut lebih memiliki
kaitan dengan look [A].
Hubunggan look [A] dengan verba perseptif lainnya memastikan jika
makna ‗to see’ merupakan makna prototipe dari VPs look. Verba perseptif lain yang dimaksud adalah verba yang masih melibatkan indera penglihatan. Verba
tersebut di antaranya adalah see, eye, glimpse, view, watch. gawk, gaze, glance,
glare, peer, stare, dan seems. Dari sejumlah verba tersebut, eye, glimpse, view,
watch. gawk, gaze, glance, glare, peer, dan stare merupakan verba perseptif
agentif atau sejenis dengan verba look [A]. Hanya verba seems merupakan jenis
verba perseptif murni sebagaimana verba look [P].
4.5Jejaring Semantis Verba Perseptif Look
Makna ‗to see’ maupun ‗to seem to be‘ dari VPs look memeiliki keterkaitan. Keterkaitan tersebut dapat digambarkan dalam sebuah jejaring
semantis. Dalam linguistik kognitif, di antara makna VPs look tersebut terdapat
makna yang lebih dekat dengan makna lainnya sehingga dapat dikelompokan
dalam jejaring semantis (Evan dan Tyler, 2006: 45). Jejaring semantis VPs look
Gambar 1. Jejaring semantis VPs Look
Jejaring semantis tersebut menunjukan jika makna dari VPs look saling
berjejaring. Makna ‗menatap‘ merupakan makna prototipe. Makna tersebut terkait
dengan makna ‗tampak‘. Makna ‗tampak‘ ini memiliki dua cabang yakni sebagai aktifitas indra penglihatan yang menghendaki stimulus berupa benda konkrit.
Cabang berikutnya adalah ketika makna ‗tampak‘ ini menerangkan stimulus berupa benda abstrak. Kondisi tersebut akan menyebabkan makna ‗tampak‘
tersebut tidak lagi bersifat visual tetapi terkait dengan perasaan atau pikiran.
4.6Perluasan Makna VPs Look dalam konstruksi Verba Frasal
Sebagian besar perluasan makna dari VPs look justeru berada pada
konstruksi verba frasal. Biber, Johansson, Leech, Conrad, dan Finegan (2007:
403) menjelaskan bahwa verba frasal merupakan unit multi kata yang terdiri dari
sebuah verba yang diikuti oleh partikel. Setidaknya terdapat 17 verba frasal
dengan look sebagai verba akar. Verba frasal tersebut adalah look after, look
ahead, look at, look away, look back, look down, look for, look forward, look in,
look into, look on, look out, look over, look around, look through, look to, dan
look up. Masing-masing verba frasal tersebut memiliki makna tersendiri. Sebagian
besar verba frasal bahkan memiliki lebih dari satu makna. Dengan melakukan tes
sinonimi sebagaimana dilakukan pada look [A] dan look [P], terdapat setidaknya
20 makna dari verba frasal dengan look sebagai verba akar. Pengujian makna
tersebut sebagaimana ditunjukan oleh data-data berikut. LOOK
menatap
tampak
(11) Passersby just looked on as he was attacked. Ox Passersby just {stared} as he was attacked.
‗Para pengguna jalan hanya memandangi saat dia diserang.‘
(12) She looked at him then looked away. Ox She looked at him then {turned away}.
‗Dia menatapnya lalu berpaling.‘
(13) Four possible routes were looked at the new road. Ox Four possible routes were {thought} the new road.
‗Keempat rute yang memungkinkan tengah ditelaah untuk (diterapkan pada) jalan baru.‘
(14) The team is looking ahead to next season. Ox The team is {predicting} next season.
‗Tim tengah memperkirakan pertandingan di musim depan.‘
(15) He looked back on his time in England with a sense of nostalgia. Ox He {remember} on his time in England with a sense of nostalgia.
‗Dengan ―indra nostalgianya‖, dia mengenang masa-masa ketika dia
tinggal di Inggris.‘
(16) I look on you as my friend. Ox I {consider} you as my friend.
‗Aku menganggapmu seperti temanku sendiri.‘
(17) They looked down on our little house. Ox They {underestimate} on our little house.
‗Mereka meremehkan rumah kecil kita.‘
(18) She always looked up to her older sister. Ox She always {admire} to her older sister.
‗Dia selalu menghormati kakaknya.‘
(19) We’re looking forward to the concert. Ox We’re {feeling happy} to the concert.
(20) They looked to us for help. Ox They {expect} us for help.
‗Mereka mengharapkan bantuan kita.‘
(21) Look out! There’s a car coming. Ox {Beware!} There’s a car coming.
‗Hati-hati! Ada mobil mendekat.‘
(22) Business is looking up at last. Ox Business is {becoming better} at last.
‗Akhir-akhir ini, bisnis menjadi lebih baik.‘
(23) This situation should be looked into. Ox This situation should be {examined}.
‗Situasi ini sebaiknya diperiksa.‘
(24) What are you doing looking through my bag? Ox What are you doing {delve} my bag?
‗Untuk apa kamu memeriksa isi tasku?‘
(25) She’s been looking for you. Ox She’s been {seeking} you.
‗Dia sedang mencarimu.‘
(26) There aren’t enough books so you’ll have to look on with your neighbor.
There aren’t enough books so you’ll have to {share} with your neighbor.
‗Bukunya tidak cukup jadi kamu harus membaginya dengan tetanggamu.‘
(27) She doesn’t look after her clothes. Ox She doesn’t {take care of} her clothes.
‗Dia tidak merawat pakaiannya.‘
‗Kami diundang untuk mengunjungi ruang kelas baru.‘
(29) Look out for birds such as redshank and lapwing. BNC {Avoid} birds such as redshank and lapwing.
‗Hindari burung seperti redshank dan lapwing.‘
(30) She looked through her notes before the exam. Ox She {read} her notes before the exam.
‗Dia membaca catatannya sebelum ujian.‘
Makna-makna tersebut dapat digolongkan ke dalam beberapa
penggolongan. Berdasarkan maknanya, Celce-Murcia & Larsen-Freeman (1998:
274) membagi verba frasal dalam tiga jenis: (i) literal, (ii) aspektual, dan (iii)
figuratif atau idiomatis. Sementara itu, verba frasal figuratif terbagi ke dalam
verba frasal figuratif kognitif, emotif, pergerakan, dan aksi-proses. Makna-makna
verba frasal dengan look terbagi ke dalam tiga jenis verba frasal tersebut
sebagaimana ditunjukan tabel berikut.
Tabel 2. Perlusan VPs look dalam konstruksi Verba Frasal
*literal aspektual figuratif
kognitif emotif pergerakan aksi-proses
look up
*makna spasial bersama dengan VPs look [A]
Makna perluasan VPs look dalam konstruksi verba frasal pada tabel
tersebut beragam. Sebagian besar makna perluasan tidak lagi sebagai VPs
melainkan sudah menjadi jenis verba yang berbeda. Makna yang masih masuk
dalam jenis VPs adalah makna literal, aspektual, kognitif, dan emotif. Sementara
itu, makna-makna lain sudah merupakan verba pergerakan dan verba aksi-proses.
Ini sekaligus membuktikan bahwa VPs merupakan verba penting yang kemudain
4.7Perluasan Makna VPs Look pada Konstruksi Idiomatis
Makna perluasan VPs look juga dapat ditemui dalam konstruksi idiomatis.
Langlotz (2006 :3) mengklasifikasikan komposisi dari konstruksi idiomatis dapat
berupa frasa, kata majemuk (seperti blackbird, chatterbox), verba frasal (seperti
stand by, see through, come across) dan proverb atau peribahasa (seperti Birds of
a feather flock together). Konstruksi idiomatis dari VPs look sebagaimana
ditunjukan sumber data NTC’S English Idioms Dictionary berupa idiom proverb
atau peribahasa. Secara garis besar, idiom tersebut berkembang dari look [A] dan
sebagaian dari look [P]. Sifat idiom dapat dipilah menjadi dua yakni idiom yang
maknanya benar-benar telah menyimpang dari makna pembentuknya (idiom
gelap) dan idiom yang maknanya masih dapat ditelusuri dari makna unsur
pembentuknya (idiom transparan) Chaer (2009: 75). Untuk mengetahui sifat dari
idiom dapat ditempuh dengan menelusuri perbandiangan yang ada (teori
metafora). Berikut adalah tabel yang menunjukan sifat dari konstruksi idiomatis
VPs look.
Tabel 3. Sifat konstruksi idiomatis dari VPs look
idiom medan sifat idiom
look cross-eyed at human transparan
look down your nose human transparan
look me in the eye human transparan
look the other way Inanimate transparan
look to o e’s laurels inanimate transparan
look under the hood inanimate transparan
looks as if butter would ’t elt i o e’s outh inanimate transparan
looks good on paper inanimate transparan
look like a million dollars inanimate transparan
looks like death warmed over human transparan
looks like something the cat dragged in animate transparan
look like the cat that swallowed the canary animate transparan
Konstruksi idiomatis yang ditunjukan tabel 3 menunjukan jika perluasan
dalam masing-masing konstruksi tersebut, tidak semua idiom menjadikan VPs
look sebagai pembanding. Ini menunjukan jika perluasan makna yang terjadu
sudah cukup jauh. Akan tetapi, jika dirunut dari pembanding dan pembanding dari
tiap idiom, semua idiom tersebut masih bersifat transparan. Ini karean hubungan
antara pembanding dan yang dibandingkan masih dapat ditelusuri.
5. Penutup
Fenomena kebahasaan polisemi pada VPs look menunjukan bagaimana
mekanisme kognisi dalam memproses bahasa. VPs look merupakan verba yang
erat kaitannya dengan pengalaman badaniah secara visual. Sebagian besar memori
kognisi manusi didadapt dari indera penglihaatan. Pembahasan mengenai polisemi
VPs look membuktikan bagaimana produktifnya leksem atau kelas kata yang
terkait dengan panca indra.
Secara umum VPs look memiliki dua makna ‗menatap‘ dan ‗tampak‘.
Makna pertama dimiliki oleh look [A] dan berikutnya dimiliki oleh look [P]. VPs
look [A] memiliki ciri semantis DINAMIS, TELIS, dan DURATIF. Sementara
itu, VPs look [P] memiliki ciri semantis STATIS, ATELIS, dan PANGTUAL.
Ciri semantis tersebut berpengaruh pada konstruksi gramatikal dari kedua verba
tersebut di mana VPs look [A] bersifat transitif dan VPs look [P] bersifat
intransitif. Argumen subjek dari VPs look [A] harus berwujud mahluk bernyawa
dan memiliki objek yang konkrit. Sebaliknya, VPs look [P] dapat memiliki subjek
bersifat konkrit maupun abstrak baik bernyawa maupun taknyawa. Makna-makna
tersebut dapat dihubungkan dalam sebuah jejaring semantis di mana VPs look [P]
berkemungkinan memiliki dua makna. Makna tersebut mucul saat VPs look [P]
memiliki subjek yang berbeda: konkrit atau abstrak.
Perluasan VPs look sebagain besar terjadi pada konstruksi verba frasal.
Terdapat 20 makna perluasan VPs look dalam konstruksi verba frasal. Makna
tersebut sebagiannya telah menjadi verba aksi-proses dan verba pergerakan.
Makna yang masih merupakan VPs dibedakan dari jenis timulusnya. Makna VPs
tersebut adalah aspektual, emotif, dan kognitif. Makna VPs look dalam konstruksi
6. Daftar Pustaka
Evans, Vyvyan. 2007. A Glossary of Cognitive Linguistics. Edinburgh: Edinburgh
University Press.
Evans, Vyvyan. & Green, Melanie. 2006. Cognitive Linguistics: An Introduction.
Edinburgh: Edinburgh University Press.
Biber, Douglas., Johansson, Stig., Leech, Geoffrey., Conard, Susan., Finegan,
Edward. 2007. Longman Grammar of Spoken and Writeen English.
London: Pearson Education Limited.
Celce-Murcia, Marianne & Diane Larsen-Freeman. 1998. The grammar book. An ESL/EFL teacher’s course. Boston: Heinle & Heinle.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Croft, William & Cruse, Alan D. 2004. Cognitive Linguistics. New York :
Cambridge University Press.
Cruse, D.A. 1986. Lexical Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.
Gisborne, Nikolas. 2010. The Event Structure of Perception Verbs. New York:
Oxford University Press.
Hornby, A.S. 2002. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English.
Britain: Oxford University Press.
Kreidler, W. Charles. 1998. Introducing English Semantics. New York:
Routledge.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Lakoff, George. 1987. Woman, Fire, and Dangerous Things: What Categories
Langlotz, Andreas. 2006. Idiomatic Creativity: A Cognitive-Linguistic Model of
Idiom-Representation and Idiom-Variation in English. Philadelphia: John
Benjamins Publishing Company.
Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.
Tyler, Andrea dan Vyvyan Evans. 2001a. Reconsidering Prepositional Polysemy
Networks: The Case of Over. Language, 77(4). Linguistic Society of
America.
Tyler, Andrea., Evans, Vyvyan. 2003. The Semantics of English Prepositions:
Spatial Scenes, Embodied Meaning, & Cognition. New York: Cambridge
University Press.
Ulman, Stephen. 1977. Semantics: An Introduction to The Sciene of Meaning.
Oxford: Basil Blackwell.
Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Wijana, I Dewa Putu & Muhammad Rohmadi. 2008. Semantik: Teori dan
Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Pustaka Laman: