• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLISEMI PADA VERBA PERSEPTIF LOOK SEBUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POLISEMI PADA VERBA PERSEPTIF LOOK SEBUA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

i

POLISEMI PADA VERBA PERSEPTIF LOOK:

SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF

Naskah Publikasi

Untuk memenuhi sebagian persyaratan

mencapai gelar derajat Sarjana S-2

Program Studi Linguistik

Diajukan Oleh

Prayudha 12/339605/PSA/07327

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA

(2)

ii

Naskah Publikasi

POLISEMI PADA VERBA LOOK: SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF

Disusun oleh

Prayudha 12/339605/PSA/07327

Telah disetujui sebagai naskah publikasi oleh pembimbing

pada tanggal 4 September 2014

Pembimbing

(3)

iii

ABSTRACT

This research investigates polysemy of verb of perception (VPs) look from the framework of Cognitive Linguistics. The data is taken from the dictionary and corpus. Dictionary provides systematic data and the corpus provides rich data.

The research method used was a descriptive-qualitative research method. The implementation of this method through a number of stages: data collection, analyzing data, and presenting the results of data analysis. The stage of analyzing the data was performed using agih and padan methods with a number of techniques.

The study found that VPs look consists of two meanings that are ‗to see

and ‗to seem to be‘. The first meaning belongs to VPs look agentive verb (look [A]) and another is owned by VPs perceptive verb look (look [P]). VPs look [A]) has dynamic, telic, and durative semantic characters while VPs look [P] has static, atelic, and punctual semantic characters. With such semantic characteristics, look [A] is a transitive verb and look [P] is an intransitive verb. Each of grammatical constructions of look has particular characteristics of their arguments. Both meanings are related in a semantic network.

VPs look has 20 extension meanings in phrasal verb construction and also includes a number of idiomatic construction meanings. The extension meanings are ‘to turn away’, ‘to stare’, ‘to scrutinize’, ‘to predict’, ‘to remember’, ‘to consider’, ‘to underestimate’, ‘to admire’, ‘to feel happy’, ‘to expect’, ‘to beware’, ‘to become better’, ‘to examine’, ‘to delve’, ‘to search’, ‘to share’, ‘to take care of’, ‘to visit’, ‘to avoid’, and ‗to read’. Meanwhile, all of the extension meanings of look in idiomatic construction are transparent idiom.

(4)

1 1. Pengantar

Polisemi merupakan fenomena kebahasaan yang penting. Stephen Ulman

mengatakan bahwa polisemi adalah ―poros dari analisis semantik‖ (1977: 117).

Lewandowska-tomaszezyk (2007: 139) menegaskan pentingnya polisemi dengan

mengatakan, ―One of the most fundamental phenomena observed in language is the existence of a diversity of related meanings expressed by the same word form.

Pendapat-pendapat tersebut sangat beralasan. Ini karena polisemi merupakan ciri

fundamental bahasa dalam rangka mengembangkan kemampuan kosakatanya

untuk mengungkapkan konsep-konsep baru yang belum ada sebelumnya (Wijana,

2010: 164). Pengkajian mendalam terhadap polisemi bisa menjelaskan proses

perkembangan bahasa.

Posisi strategis polisemi guna mengungkap tahapan perkembangan bahasa

mesti mendapat perhatian lebih. Polisemi mesti diperlakukan sebagai sesuatu yang

tak terlepas dari pengalaman, pikiran, dan bahasa itu sendiri. Linguistik kognitif

— sebagai tradisi linguistik yang mencoba menata ulang konsepsi kebahasaan — menawarkan alternatif analisis kebahasaan yang bisa menjelaskan lebih banyak

hal terkait polisemi sekaligus menjawab sekian pertanyaan terhadap polisemi

yang sukar dijelaskan hingga kini. Untuk itu, Taylor (1989 dalam

Lewandowska-tomaszczyk, 2007: 140) mengatakan, ―Even though classical polysemy refers first of all to lexis, Cognitive linguistic tools make it possible to observe polysemic

effects in phonology, morphology, and syntax.‖ Linguistik kognitif, dengan

sejumlah prinsipnya, memungkinakan studi terkait polisemi menjadi lebih

mendalam dan komperhensif.

Salah satu prinsip tersebut adalah prinsip pengejawantahan (embodiment).

Evans & Green (2006:44—48) menjelaskan bahwa prinsip tersebut menekankan

bahwa realitas tidaklah objektif akan tetapi terejawantahkan dalam pengalaman

badaniah (embodied eksperience). Prinsip tersebut menjelaskan bahwa

pengetahuan diperoleh dari pengalaman atas organ-oragan tubuh.

Salah satu organ yang sering digunakan dalam berintraksi adalah mata.

Sebagaimana prinsip pengejawantahan, leksikon terkait mata dan pengalaman

(5)

terkait mata akan begitu kaya. Untuk itulah, penelitian ini mencoba menganalisis

polisemi verba LOOK dalam sudut pandang linguistik kognitif. Verba LOOK

sendiri merupakan bagian dari jenis verba perseptif. Verba perseptif (selanjutnya

disingkat PVs) memiliki nilai tersendiri, terutama dalam linguistik kognitif.

Gisborne (2010: 181—182) mengatakan, ―I claim that verbs of perception are special precisely because they are directly embodied and experiental… After all, we only become aware of motion and causation via perception, so in this sense, perception is even more basic”. VPs memiliki arti penting karena verba tersebut berhubungan langsung dengan pengalaman nyata. Jenis verba lainnya, seperti

verba aksi-proses atau verba pergerakan muncul sebagai akibat perkembangan

dari verba perseptif.

2. Landasan Teori 2.1Linguistik Kognitif

Linguistik kognitif merupakan kajian yang relatif baru. Kajian yang

muncul pada akhir 1970-an dan mulai berkembang pada tahun 1980-an ini

mencoba keluar dari dominasi pendekatan formal dalam studi kebahasaan saat itu.

Lahirnya lingustik kognitif dipengaruhi oleh berkembangnya kajian kognisi –

mengenai memori, persepsi, atensi, dan kategorisasi - saat itu khususnya psikologi

kognitif. Linguistik kognitif berfokus pada studi mengenai hubungan antara

bahasa (language), minda (mind), dan pengalaman sosio-fisik (socio-physical

experience).

Lakoff (1990 dalam Evans, Bergan, & Zinken, 2007: 4) menjelaskan

bahwa linguistik kognitif memiliki sejumlah komitmen kunci. Evans & Green

(2006:27—48) membagi komitmen tersebut menjadi komitmen generalisasi

(Generalisation Commitment) dan komitmen kognitif (Cognitive Commitment).

Keduanya menjadi penentu teori dan model analisis dalam presepektif linguistik

kognitif.

Komitmen generalisasi didasarkan pada asumsi bahwa bahasa

merefleksikan mekanisme dan proses kognitif secara umum. Komitmen tersebut

(6)

itu, menurut Evans (2007: 88), komitmen generalisasi mendorong linguistik

kognitif untuk mengkaji prinsip-prinsip pengorganisasian umum (general

organising principles) yang terjadi pada sistem bahasa yang berbeda (fonologi,

sintaksis, semantik, dan sebagainya). Evans & Green (2006:28—39) menyebut

prinsip pengorganisasian umum tersebut meliputi mekanisme konseptual seperti

(i) kategorisasi: misalnya konstruksi diminuitif (morfologi), kelas gramatikal

(sintaksis), fitur pembeda (fonologi), (ii) polisemi yang muncul pada struktur

leksikon, morfologis, dan sintaksis, dan (iii) metafora yang muncul pada tataran

leksikon dan sintaksis termasuk mekanisme konseptual seperti metafora,

pemaduan konseptual, dan fenomena polisemi. Komiten ini sekaligus mencoba

keluar dari pandangan linguistik formal yang cenderung memisahkan kajian

linguistik berdasarkan aspek cakupannya, seperti fonologi (bunyi) terpisah dengan

morfologi (struktur kata) dalam model analisisnya dan seterusnya.

Komitmen kognitif — sebagai definisi dari linguistik kognitif itu sendiri –

juga menolak pendekatan modular (modular approach) pada bahasa dan minda

dalam linguistik formal. Komitmen kognitif merepresentasikan pandangan bahwa

prinsip-prinsip struktur linguistik harus merefleksikan kognisi manusia dari

disiplin ilmu lainnya, khususnya ilmu sains kognitif (filsafat, psikologi, artificial

intelligence, dan neuroscience) (Evans, 2007: 19). Dengan kata lain, komitemn

kognitif melihat bahasa dan pengorganisasian linguistik harus mencerminkan

prinsip kognitif umum dari prinsip kognitif spesifik menjadi milik bahasa. Lakoff

(1990 dalam Evans, Bergan, & Zinken, 2007: 4) menjelaskan bahwa komitmen

kognitif menjadikan linguistik kognitif menjadi kognitif dan pendekatan dalam

kajian ini menjadi interdisipliner. Penelitian ini dilakukan dalam naungan

sejumlah komitmen dan prinsip dalam Linguistik Kognitif yang ada.

2.2Polisemi

Polisemi merupakan salah satu kajian dalam cabang linguistik kognitif:

(7)

berarti ―tanda‖. Artinya, polisemi adalah satu leksem yang memiliki variasi makna yang saling terkait.

Linguistik kognitif, melalui cabangnya semantik kognitif, selanjutnya

mengembangkan sejumlah model pendekatan untuk mengkaji kepolisemian.

Pendekatan pertama dikembangkan dari teori dalam tatabahasa kognitif mengenai

relasi antara trajector (TR) dan landmark (LM). Beberapa pendekatan tersebut

adalah Full-Specifi Cation Approach yang dikembangkan oleh Lakoff mulai tahun

1987. Berikutnya adalah pendekatan Partial Approach dirumuskan oleh Kreitzer

pada tahun 1997. Terakhir, dengan mengembangkan pendekatan sebelumnya,

Vyvyan Evans merumuskan Principled Polysemy sebagai model analisis polisemi.

Dalam pendekatan ini, polisemi akan terbagi maknanya ke dalam makna utama —

disebut juga makna prototipe — dan makna perluasan yang terhubung dalam

sebuah jejaring makna. (periksa Evans, Bergen, & Zinken, 2007: 189-199).

Pendekatan dalam analisis polisemi berikutnya dikembangkan dalam naungan

Tatabahasa Konstruksi. Dalam pendekatan yang ditawarkan Croft dan Cruse

(2004: 109) ini, analisis polisemi dimaknai sebagai sebuah persoalan

pengisolasian bagian yang berbeda atas makna penuh (total meaning) yang

potensial terhadap kata dalam kondisi (circumstances) yang berbeda. Proses

pengisolasian bagian (portion) atas makna yang potensial tersebut ditunjukan

melalui perumusan sebuah batasan makna (sense boundary) yang memagari

sejumlah makna.

3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian deskriptif-kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik

pustaka dengan sumber data adalah teks yang didalamnya mengandung verba

LOOK. Dalam kajian linguistik kognitif, analisis kebahasaan mesti diawali dari

analisis makna. Untuk dapat menjelaskan polisemi pada verba look, penelitian ini

menggunakan metode agih dan padan sekaligus dengan sejumlah tekniknya. Hasil

(8)

4. Hasil dan Pembahasan 4.1Makna Verba Perseptif Look

Dalam analisis polisemi pada sebuah leksem atau kelas kata, Cruse (1986,

dalam Reimer 2005: 146), menawarkan pengujian polisemi dengan tes sinonimi.

Tes tersebut memandang jika sebuah kosakata dapat digantikan dengan kosakata

lain dalam sebuah konstruksi maka glos tersebut berpolisemi. VPs look terbagai

ke dalam dua makna yakni sebagaimana ditunjukan oleh data berikut.

(1) She looked at me and smile. Ox1 She {saw} me and smile.

‗Dia menatapku sambil tersenyum.‘

(2) That book looks interesting. Ox That book {seems} interesting.

‗Buku itu nampak menarik.‘

Kedua data tersebut membuktikan jika VPs look memiliki dua makna.

Data (1) menunjukan jika look dapat digantikan oleh verba see yang memiliki

makna ‗to see’ atau ‗menatap‘. Meski verba see tidak sepenuhnya mampu

menggantikan VPs look, data tersebut menunjukan jika makna ‗menatap‘

merupakan bagian dari makna VPs look. Gisborne (2010: 4 – 6) menyebut verba

look terdiri dari kelas verba perseptif yang bersifat agentif (selanjutnya disebut

look [A]). Ini karena look [A] menerangkan aktifitas yang dilakukan oleh

pengalam. Sementara itu, data (2) menunjukan jika VPs look dapat digantikan

oleh verba seem tanpa mengubah makna kalimat. Ini menunjukan jika makna to seem to be’ atau ‗tampak‘ merupakan bagian dari makna VPs look. Pada makna ini, VPs look disebut sebagai verba perseptif yang murni (selanjutnya disebut look

[P]). Ini karena pada makna ‗tampak‘, look [P] setara dengan stimulus yang

menjadi objek dari tindakan ‗menatap‘ dari look [A]. Van Valin (2005: 55)

menyebut verba seperti look [P] sebagai statif perception verb yang masuk dalam

klasifikasi verba keadaan (state verb) sementara look [A] merupakan drected

perception verb yang merupakan bagian dari verba aktifitas (activity verb).

1

(9)

4.2Kedinamisan Verba Perseptif Look

Secara leksikal, look [A] dan look [P] memiliki ciri yang berbeda. Ciri

leksikal oleh Brinton (1988; Gisborne, 2010: 185) dijelaskan sebagai tingkat

kedinamisan atau Aktionsarten. Kedinamisan sebuah verba menurutnya terbagi

dari: kedinamisan (dynamism), telisitas (telicity), durasi (duration). Pengujian

terhadap tingkat kedinamisan sebuah verba dapat ditempuh melalu serangkaian

pengujian sebagaimana ditunjukan oleh data berikut.

(3) He looked at her with an icy contempt. BNC2

‗Dia menatapnya dengan penuh kebencian.‘

(3a) He {was looking} at her with an icy contempt.

‗Dia sedang memandangnya dengan penuh kebencian.‘

(3b) He {finished} looking at her with an icy contempt.

‗Dia berhenti memandanginya dengan penuh kebencian.‘

(3c) He looks at her with an icy contempt {for a minut}.

‗Dia memandangnya dengan penuh kebencian selama satu menit.‘

Data (3) menunjukan tingkat kedinamisan yang dimiliki oleh look [A].

Data (3a) menunjukan jika look [A] mampu berada dalam kala progresif. Ini

menunjukan jika look [A] bersifat dinamis. Data (3b) dapat diperluas dengan

menambahkan verba finished yang menunjukan jika look [A] bersifat telis. Verba

telis sendiri adalah verba yang menggambarkan perbuatan yang tuntas

(Kridalaksana, 2008: 256). Selanjutnya, data (3c) dapat diperluas dengan

menambahkan keterang waktu for a minut. Ini menunjukan jika look [A] bersifat

duratif. Verba duratif adalah verba yang menunjukan aktiftas yang memiliki

tenggang waktu (Vendler, 1967 dalam Gisborne, 2010: 187). Pengujian tersebut

menyimpulkan bahwa VPs look [A] memiliki sifat DINAMIS, TELIS, dan

DURATIF. Sementara itu, kedinamisan dari look [P] dapat diamati dari pengujian

berikut ini.

2

(10)

(4) That book looks interesting. BNC

‗Buku itu tampaknya menarik.‘

(4a) *That book {is looking} interesting.

‗Buku itu sedang tampak menarik.

(4b) * That book {finished} looking interesting.

‗Buku itu berhenti tampak menarik.‘

(4c) *{For an hour}, that book looks interesting.

‗Selama satu jam, buku itu tampak menarik.‘

Data (4) menunjukan pengujian terhadap tingkat kedinamisan dari VPs

look [P]. Data (4a) menunjukan jika look [P] tidak dapat muncul dalam kala

progresif yang menunjukan jika verba tersebut memiliki sifat statis. Data (4b)

tidak berterima jika diperluas dengan verba finish yang menunjukan jika look [P]

bersifat atelis. Kridalaksana (2008: 254) menjeaskan jika verba atelis merupakan

verba yang menggambarkan perbuatan yang tidak tuntas. Berikutnya, data (4c)

juga tidak berterima karena diperluas dengan keterangan waktu for an hour. Hal

tersebut menunjukan jika look [P] tidak bersifat duratif tetapi pangtual (punctual).

Verba pangtual (punctual) adalah verba yang menerangkan keadaan saat itu juga.

Uji kedinamisan yang dikenakan pada data (4) menunjukan jika VPs look [P]

memiliki sifat STATIS, ATELIS, dan PANGTUAL.

4.3Konstruksi Garamtikal Verba Perseptif Look

Kedinamisan dari VPs look [A] dan look [P] memiliki dampak pada

konstruksi garamatikal dari keduanya. Verhaar (2010: 193) mengatakan bahwa

ciri-ciri semantis verba secara leksikal akan mempengaruhi sifat-sifat dari

argumennya. Sifat dari argumen yang terpengaruh oleh ciri leksikal verba adalah

i) valensi verba, ii) peran dari argumen, iii) sifat-sifat dari argumen (persona,

(11)

a. Valensi Verba Perseptif Look

Ciri leksikal yang berbeda membuat VPs look [A] dan look [P] memiliki

pola valensi yang berbeda. Valensi sendiri terbagi menjadi valensi kosong

(valency zero), valensi satu (valency one), vanlensi dua (valency two) (Kreidler,

1998: 68 – 73). Berikut adalah data yang menunjukan pola valensi dari VPs look.

(5) I amlooking at Alan. BNC *I am looking.

‗Aku sedang menatap Alan,‘

(6) You look awful. BNC *You look {Alan}.

‗Kamu tampak kacau.‘

Kedua data tersebut menunjukan valensi yang berbeda dari VPs look. Data

(5) menunjukan jika look [A] hanya dapat berada pada konstruksi dengan dua

argumen. Ini menunjukan jika look [A] hanya mampu bervalensi satu. Dengan

kata lain, look [A] secara konstruksi merupakan verba transitif. Ini berbeda

dengan pola valensi dari look [P] yang ditunjukan oleh data (6). Data tersebut

menunjukan jika look [P] tidak dapat didampingi oleh dua argumen. Ini

menunjukan jika VPs tersebut hanya mampu bervalensi kosong. Dengan

demikian, VPs look [P] merupakan verba intransitif karena tidak memerlukan

kehadiran objek.

b. Peran dan Sifat Argumen Verba Perseptif Look

Pembahasan sebelumnya telah menunjukan bahwa VPs look [A]

merupakan verba transitif sementara VPs look [P] adalah verba intransitif.

Ketransitifan yang berbeda tersebut memiliki pengaruh pada pola argumen

keduanya. Berikut ini adalah data-data yang menunjukan sifat dari argumen dari

VPs look.

(7) He looked at her uncomprehendingly. BNC S: Pn P: VP Prep O: St Ket. Klt

(12)

(8) Bob was looking at her with amusement. BNC S: Pn P: VP Prep O: St Ket. Klt

‗Dia sedang memandanginya dengan penuh tawa.‘

Kedua data tersebut menunjukan relasi argumen dari VPs look [A]. Data

(7) menunjukan kehadiran look [A] didampingi oleh argumen dengan fungsi

subjek he dengan peran semantis sebagai pengalam dan argumen objek her yang

berperan sebagai stimulus. Data (8) menunjukan kehadiran look [A] didampingi

oleh argumen subjek Bob dengan peran semantis pengalam dan argumen objek

her sebagai stimulus. Meski kedua data tersebut menunjukan subjek berupa

persona ketiga jamak, VPs look [A] sejatinya dapat memiliki objek persona

pertama, kedua, dan ketiga baik jamak maupun tunggal. Namun demikian,

pengalam dari look [A] hanya dapat berwujud mahluk hidup yang memiliki indra

penglihatan. Stimulus dari VPs ini harus merupakan benda konkrit yang mampu

dilihat oleh mata. Peran dan sifat argumen dari look [A] tersebut berbeda dengan

peran dan sifat argumen dari look [P] sebagaimana ditunjukan oleh data berikut.

(9)Your curtains look really nice. BNC S: St P:VK Pel

‗Hordemu tampak manis sekali.‘

(10) It looks a mess. BNC S:St P:VK Pel

‗Ini tampak kacau.‘

Data-data tersebut menunjukan relasi argumen dari look [P]. Pada data (9),

kehadiran VPs look [P] didampingi pengisi fungsi subjek your curtains yang

berperan stimulus. Konstruksi tersebut juga memiliki pelengkap berkategori

adjektifa yakni really nice. Sementara itu, data (10) menunjukan kehadiran VPs

look [P] didampingi oleh argumen pengisi fungsi subjek it yang berperan semantis

stimulus. Nomina a mess merupakan pelengkap dalam konstruksi tersebut.

Pengisi fungsi subjek dari verba look [P] dapat bersifat konkrit dan abstrak.

(13)

tersebut bukan citra visual tapi dapat berupa ide atau emosi. Ini berbeda dengan

stimulus dari look [A] yang harus berupa citra visual yang dapat dilihat oleh mata.

4.4Makna Prototipe Verba Perseptif Look

Pembahasan pada poin 4.1 menunjukan jika VPs look terdiri dari dua

makna yakni ‗to see‘ atau ‗menatap‘ dan ‗to seem to be’ atau ‗tampak‘. Secara

literal keduanya berhubungan dengan aktifitas indra penglihatan. Akan tetapi,

pembahasan poin 4.3b menunjukan jika makna ‗tampak‘ yang dimiliki oleh look

[P] dapat pula terkait dengan perasaan atau dapat juga terkait dengan pikiran jika

jenis timulusnya berupa benda abstrak. Secara keseluruhan, perbedaan antara

makna look [A] dan look [P] dapat diamati dari tabel berikut.

Tabel 1. Perbedaan VPs look [A] dan VPs look [P]

makna jenis kedinamisan valensi subjek objek

to see VPs

*terkait dengan aktifitas perasaan atau pikiran

Dari kedua makna tersebut, terdapat makna VPs look yang tipikal atau

disebut sebagai makna prototipe. Prototipe sendiri adalah repersntasi atau

perwakilan yang abstrak dari sebuah kategori atau bagian dari kategori yang

digunakan sebagai acuan dalam menentukan keanggotaan sebuah kategori Rosch

& Mervis (1975: 575 dalam Lipka, 1986: 85). Penentuan makna prototipe dapat

mengikuti kriteria3 yang dirumuskan oleh Tyler dan Evans (2001) dalam teori

polisemi terperinsip (principled polysemy).

Secara etimologis, menurut A concise Etymological Dictionary of The

English Language, VPs look berasal dari bahasa Inggis kuno (Old English) locian

dengan makna ‗use the eyes for seeing, gaze‘ . Makna ‗menggunakan mata untuk

melihat‘ tersebut dimiliki oleh look [A]. Selain itu, makna tersebut juga

3

(14)

mendominasi jejaring semantis karena unik dan atribut dari makna tersebut

terdapat pada makna-makna lain. Atribut stimulus yang berupa benda konkrit

merupakan subjek dalam makna look [P].

Makna ‗to see‘ yang menunjukan aktifitas pengalam mengarahkan tatapan ke arah stimulus juga paling banyak muncul dalam konstruksi gabungan baik

dalam bentuk kata majemuk (compound form) maupun verba frasal (phrasal

verb). Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, terdapat setidaknya lima

kata majemuk berupa nomina yang melibatkan verba look. Kata majemuk tersebut

adalah lookalike, looker, lookism, lookout, dan lookup. Dari lima kata majemuk

tersebut, tiga kata majemuk yakni looker, lookout, dan lookup berasal dari

gabungan verba look [A]. Sebagai verba frasal, setidaknya terdapat 17 verba frasal

dengan look sebagai verba akar. Seluruh verba frasal tersebut lebih memiliki

kaitan dengan look [A].

Hubunggan look [A] dengan verba perseptif lainnya memastikan jika

makna ‗to see’ merupakan makna prototipe dari VPs look. Verba perseptif lain yang dimaksud adalah verba yang masih melibatkan indera penglihatan. Verba

tersebut di antaranya adalah see, eye, glimpse, view, watch. gawk, gaze, glance,

glare, peer, stare, dan seems. Dari sejumlah verba tersebut, eye, glimpse, view,

watch. gawk, gaze, glance, glare, peer, dan stare merupakan verba perseptif

agentif atau sejenis dengan verba look [A]. Hanya verba seems merupakan jenis

verba perseptif murni sebagaimana verba look [P].

4.5Jejaring Semantis Verba Perseptif Look

Makna ‗to see’ maupun ‗to seem to be‘ dari VPs look memeiliki keterkaitan. Keterkaitan tersebut dapat digambarkan dalam sebuah jejaring

semantis. Dalam linguistik kognitif, di antara makna VPs look tersebut terdapat

makna yang lebih dekat dengan makna lainnya sehingga dapat dikelompokan

dalam jejaring semantis (Evan dan Tyler, 2006: 45). Jejaring semantis VPs look

(15)

Gambar 1. Jejaring semantis VPs Look

Jejaring semantis tersebut menunjukan jika makna dari VPs look saling

berjejaring. Makna ‗menatap‘ merupakan makna prototipe. Makna tersebut terkait

dengan makna ‗tampak‘. Makna ‗tampak‘ ini memiliki dua cabang yakni sebagai aktifitas indra penglihatan yang menghendaki stimulus berupa benda konkrit.

Cabang berikutnya adalah ketika makna ‗tampak‘ ini menerangkan stimulus berupa benda abstrak. Kondisi tersebut akan menyebabkan makna ‗tampak‘

tersebut tidak lagi bersifat visual tetapi terkait dengan perasaan atau pikiran.

4.6Perluasan Makna VPs Look dalam konstruksi Verba Frasal

Sebagian besar perluasan makna dari VPs look justeru berada pada

konstruksi verba frasal. Biber, Johansson, Leech, Conrad, dan Finegan (2007:

403) menjelaskan bahwa verba frasal merupakan unit multi kata yang terdiri dari

sebuah verba yang diikuti oleh partikel. Setidaknya terdapat 17 verba frasal

dengan look sebagai verba akar. Verba frasal tersebut adalah look after, look

ahead, look at, look away, look back, look down, look for, look forward, look in,

look into, look on, look out, look over, look around, look through, look to, dan

look up. Masing-masing verba frasal tersebut memiliki makna tersendiri. Sebagian

besar verba frasal bahkan memiliki lebih dari satu makna. Dengan melakukan tes

sinonimi sebagaimana dilakukan pada look [A] dan look [P], terdapat setidaknya

20 makna dari verba frasal dengan look sebagai verba akar. Pengujian makna

tersebut sebagaimana ditunjukan oleh data-data berikut. LOOK

menatap

tampak

(16)

(11) Passersby just looked on as he was attacked. Ox Passersby just {stared} as he was attacked.

‗Para pengguna jalan hanya memandangi saat dia diserang.‘

(12) She looked at him then looked away. Ox She looked at him then {turned away}.

‗Dia menatapnya lalu berpaling.‘

(13) Four possible routes were looked at the new road. Ox Four possible routes were {thought} the new road.

‗Keempat rute yang memungkinkan tengah ditelaah untuk (diterapkan pada) jalan baru.‘

(14) The team is looking ahead to next season. Ox The team is {predicting} next season.

‗Tim tengah memperkirakan pertandingan di musim depan.‘

(15) He looked back on his time in England with a sense of nostalgia. Ox He {remember} on his time in England with a sense of nostalgia.

‗Dengan ―indra nostalgianya‖, dia mengenang masa-masa ketika dia

tinggal di Inggris.‘

(16) I look on you as my friend. Ox I {consider} you as my friend.

‗Aku menganggapmu seperti temanku sendiri.‘

(17) They looked down on our little house. Ox They {underestimate} on our little house.

‗Mereka meremehkan rumah kecil kita.‘

(18) She always looked up to her older sister. Ox She always {admire} to her older sister.

‗Dia selalu menghormati kakaknya.‘

(19) We’re looking forward to the concert. Ox We’re {feeling happy} to the concert.

(17)

(20) They looked to us for help. Ox They {expect} us for help.

‗Mereka mengharapkan bantuan kita.‘

(21) Look out! There’s a car coming. Ox {Beware!} There’s a car coming.

‗Hati-hati! Ada mobil mendekat.‘

(22) Business is looking up at last. Ox Business is {becoming better} at last.

‗Akhir-akhir ini, bisnis menjadi lebih baik.‘

(23) This situation should be looked into. Ox This situation should be {examined}.

‗Situasi ini sebaiknya diperiksa.‘

(24) What are you doing looking through my bag? Ox What are you doing {delve} my bag?

‗Untuk apa kamu memeriksa isi tasku?‘

(25) She’s been looking for you. Ox She’s been {seeking} you.

‗Dia sedang mencarimu.‘

(26) There aren’t enough books so you’ll have to look on with your neighbor.

There aren’t enough books so you’ll have to {share} with your neighbor.

‗Bukunya tidak cukup jadi kamu harus membaginya dengan tetanggamu.‘

(27) She doesn’t look after her clothes. Ox She doesn’t {take care of} her clothes.

‗Dia tidak merawat pakaiannya.‘

(18)

‗Kami diundang untuk mengunjungi ruang kelas baru.‘

(29) Look out for birds such as redshank and lapwing. BNC {Avoid} birds such as redshank and lapwing.

‗Hindari burung seperti redshank dan lapwing.‘

(30) She looked through her notes before the exam. Ox She {read} her notes before the exam.

‗Dia membaca catatannya sebelum ujian.‘

Makna-makna tersebut dapat digolongkan ke dalam beberapa

penggolongan. Berdasarkan maknanya, Celce-Murcia & Larsen-Freeman (1998:

274) membagi verba frasal dalam tiga jenis: (i) literal, (ii) aspektual, dan (iii)

figuratif atau idiomatis. Sementara itu, verba frasal figuratif terbagi ke dalam

verba frasal figuratif kognitif, emotif, pergerakan, dan aksi-proses. Makna-makna

verba frasal dengan look terbagi ke dalam tiga jenis verba frasal tersebut

sebagaimana ditunjukan tabel berikut.

Tabel 2. Perlusan VPs look dalam konstruksi Verba Frasal

*literal aspektual figuratif

kognitif emotif pergerakan aksi-proses

look up

*makna spasial bersama dengan VPs look [A]

Makna perluasan VPs look dalam konstruksi verba frasal pada tabel

tersebut beragam. Sebagian besar makna perluasan tidak lagi sebagai VPs

melainkan sudah menjadi jenis verba yang berbeda. Makna yang masih masuk

dalam jenis VPs adalah makna literal, aspektual, kognitif, dan emotif. Sementara

itu, makna-makna lain sudah merupakan verba pergerakan dan verba aksi-proses.

Ini sekaligus membuktikan bahwa VPs merupakan verba penting yang kemudain

(19)

4.7Perluasan Makna VPs Look pada Konstruksi Idiomatis

Makna perluasan VPs look juga dapat ditemui dalam konstruksi idiomatis.

Langlotz (2006 :3) mengklasifikasikan komposisi dari konstruksi idiomatis dapat

berupa frasa, kata majemuk (seperti blackbird, chatterbox), verba frasal (seperti

stand by, see through, come across) dan proverb atau peribahasa (seperti Birds of

a feather flock together). Konstruksi idiomatis dari VPs look sebagaimana

ditunjukan sumber data NTC’S English Idioms Dictionary berupa idiom proverb

atau peribahasa. Secara garis besar, idiom tersebut berkembang dari look [A] dan

sebagaian dari look [P]. Sifat idiom dapat dipilah menjadi dua yakni idiom yang

maknanya benar-benar telah menyimpang dari makna pembentuknya (idiom

gelap) dan idiom yang maknanya masih dapat ditelusuri dari makna unsur

pembentuknya (idiom transparan) Chaer (2009: 75). Untuk mengetahui sifat dari

idiom dapat ditempuh dengan menelusuri perbandiangan yang ada (teori

metafora). Berikut adalah tabel yang menunjukan sifat dari konstruksi idiomatis

VPs look.

Tabel 3. Sifat konstruksi idiomatis dari VPs look

idiom medan sifat idiom

look cross-eyed at human transparan

look down your nose human transparan

look me in the eye human transparan

look the other way Inanimate transparan

look to o e’s laurels inanimate transparan

look under the hood inanimate transparan

looks as if butter would ’t elt i o e’s outh inanimate transparan

looks good on paper inanimate transparan

look like a million dollars inanimate transparan

looks like death warmed over human transparan

looks like something the cat dragged in animate transparan

look like the cat that swallowed the canary animate transparan

Konstruksi idiomatis yang ditunjukan tabel 3 menunjukan jika perluasan

(20)

dalam masing-masing konstruksi tersebut, tidak semua idiom menjadikan VPs

look sebagai pembanding. Ini menunjukan jika perluasan makna yang terjadu

sudah cukup jauh. Akan tetapi, jika dirunut dari pembanding dan pembanding dari

tiap idiom, semua idiom tersebut masih bersifat transparan. Ini karean hubungan

antara pembanding dan yang dibandingkan masih dapat ditelusuri.

5. Penutup

Fenomena kebahasaan polisemi pada VPs look menunjukan bagaimana

mekanisme kognisi dalam memproses bahasa. VPs look merupakan verba yang

erat kaitannya dengan pengalaman badaniah secara visual. Sebagian besar memori

kognisi manusi didadapt dari indera penglihaatan. Pembahasan mengenai polisemi

VPs look membuktikan bagaimana produktifnya leksem atau kelas kata yang

terkait dengan panca indra.

Secara umum VPs look memiliki dua makna ‗menatap‘ dan ‗tampak‘.

Makna pertama dimiliki oleh look [A] dan berikutnya dimiliki oleh look [P]. VPs

look [A] memiliki ciri semantis DINAMIS, TELIS, dan DURATIF. Sementara

itu, VPs look [P] memiliki ciri semantis STATIS, ATELIS, dan PANGTUAL.

Ciri semantis tersebut berpengaruh pada konstruksi gramatikal dari kedua verba

tersebut di mana VPs look [A] bersifat transitif dan VPs look [P] bersifat

intransitif. Argumen subjek dari VPs look [A] harus berwujud mahluk bernyawa

dan memiliki objek yang konkrit. Sebaliknya, VPs look [P] dapat memiliki subjek

bersifat konkrit maupun abstrak baik bernyawa maupun taknyawa. Makna-makna

tersebut dapat dihubungkan dalam sebuah jejaring semantis di mana VPs look [P]

berkemungkinan memiliki dua makna. Makna tersebut mucul saat VPs look [P]

memiliki subjek yang berbeda: konkrit atau abstrak.

Perluasan VPs look sebagain besar terjadi pada konstruksi verba frasal.

Terdapat 20 makna perluasan VPs look dalam konstruksi verba frasal. Makna

tersebut sebagiannya telah menjadi verba aksi-proses dan verba pergerakan.

Makna yang masih merupakan VPs dibedakan dari jenis timulusnya. Makna VPs

tersebut adalah aspektual, emotif, dan kognitif. Makna VPs look dalam konstruksi

(21)

6. Daftar Pustaka

Evans, Vyvyan. 2007. A Glossary of Cognitive Linguistics. Edinburgh: Edinburgh

University Press.

Evans, Vyvyan. & Green, Melanie. 2006. Cognitive Linguistics: An Introduction.

Edinburgh: Edinburgh University Press.

Biber, Douglas., Johansson, Stig., Leech, Geoffrey., Conard, Susan., Finegan,

Edward. 2007. Longman Grammar of Spoken and Writeen English.

London: Pearson Education Limited.

Celce-Murcia, Marianne & Diane Larsen-Freeman. 1998. The grammar book. An ESL/EFL teacher’s course. Boston: Heinle & Heinle.

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka

Cipta.

Croft, William & Cruse, Alan D. 2004. Cognitive Linguistics. New York :

Cambridge University Press.

Cruse, D.A. 1986. Lexical Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.

Gisborne, Nikolas. 2010. The Event Structure of Perception Verbs. New York:

Oxford University Press.

Hornby, A.S. 2002. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English.

Britain: Oxford University Press.

Kreidler, W. Charles. 1998. Introducing English Semantics. New York:

Routledge.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Utama.

Lakoff, George. 1987. Woman, Fire, and Dangerous Things: What Categories

(22)

Langlotz, Andreas. 2006. Idiomatic Creativity: A Cognitive-Linguistic Model of

Idiom-Representation and Idiom-Variation in English. Philadelphia: John

Benjamins Publishing Company.

Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta

Wacana University Press.

Tyler, Andrea dan Vyvyan Evans. 2001a. Reconsidering Prepositional Polysemy

Networks: The Case of Over. Language, 77(4). Linguistic Society of

America.

Tyler, Andrea., Evans, Vyvyan. 2003. The Semantics of English Prepositions:

Spatial Scenes, Embodied Meaning, & Cognition. New York: Cambridge

University Press.

Ulman, Stephen. 1977. Semantics: An Introduction to The Sciene of Meaning.

Oxford: Basil Blackwell.

Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Wijana, I Dewa Putu & Muhammad Rohmadi. 2008. Semantik: Teori dan

Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Pustaka Laman:

Gambar

Tabel 1. Perbedaan VPs look [A] dan VPs look [P]
Gambar 1. Jejaring semantis VPs Look
Tabel 2. Perlusan VPs look dalam konstruksi Verba Frasal
Tabel 3. Sifat konstruksi idiomatis dari VPs look

Referensi

Dokumen terkait

Pada sistem ini digunakan Easy VR 3.0 yang memiliki fitur user- defined speaker dependent yang dapat menyimpan suara sebagai referensi untuk dibandingkan dengan perintah

N : Judul saya adalah Perencanaan Komunikasi Disbudpar Kota Semarang Terhadap Aktivitas Komunitas Denok Kenang Dalam Rangka Mencapai Tujuan Promosi Pariwisata?. Nah, saya

WPAP ( Wedha’s Pop Art Portrait) adalah gaya ilustrasi potret manusia (biasanya figur-figur terkenal) yang didominasi bidang-bidang datar marak warna depan, tengah dan belakang untuk

Asam askorbat dalam bahan pangan berfungsi sebagai penangkap oksigen sehingga mencegah proses oksidasi, mendegenerisasi fenolik atau antioksidan larut lemak, menjaga

Komposisi Jenis dan Potensi Ancaman Tumbuhan Asing Invasif di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat.. Pengantar Ekologi

HUBUNGAN SENSATION SEEKING DENGAN MOTIVASI REMAJA UNTUK MENJADI ANGGOTA GENG MOTOR.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Informasi merupakan salah satu hal yang sangat penting dan menjadi faktor pendukung dalam proses manajemen, dimana keberadaan informasi menjadi hal yang perlu diperhitungkan karena

Perbedaan Kemampuan Gerak ( Motor Ability ) Berbasis Status Gizi Kurang, Normal, Dan Lebih Pada Siswa Laki-Laki Sdn Gumuruh 8 Batununggal.. Universitas Pendidikan Indonesia |