PENGARUH HUMANISME DALAM SAINS MODERN
Oleh: Eny Kusumastuti
Manusia menyadari bahwa dirinya adalah agen perubahan dalam sejarah peradaban. Sebagai subyek yang mempunyai kesadaran diri, manusia dapat berhubungan dengan obyek yang ada di luar dirinya. Melalui kemampuan akal budi dan daya nalarnya, manusia dapat memahami realitas di luar dirinya dan bukan hanya memahami realitas, tetapi juga dapat mengubahnya demi kepentingan manusia itu sendiri. Sebagai makhluk yang berkehendak, manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk otonom yang hidupnya tidak dikendalikan oleh faktor di luar dirinya, tetapi diarahkan dan diatur oleh kekuatan internal yang dimilikinya.
Nilai-nilai yang dikembangkan oleh gerakan humanisme seperti kebebasan, aktualisasi diri, otonomi, di satu sisi telah membawa manusia pada kesadaran baru atas kesamaan harkat dan martabat, menentang berbagai ketidakadilan, diskriminasi dan perbudakan. Akan tetapi di sisi lain, pendewaan atas nilai-nilai kebebasan dan otonomi dalam kenyataannya telah membawa manusia pada sikap egosentrisme, individualisme, eksesif, memicu sikap anarkis dan indefferent yang mematikan rasa solidaritas dan tanggungjawab sosial bahkan kearah ateis. Kebebasan yang ditiupkan oleh kaum humanisme diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa pesatnya. Dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian pesatnya mengharuskan manusia bersikap bijak menggunakan kebebasannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Pertanyaannya adalah bagaimana pengaruh humanisme dalam sains modern?
Pengertian Humanisme
Humanisme adalah istilah dalam sejarah intelektual yang acapkali digunakan dalam bidang filsafat, pendidikan dan literatur. Kenyataan ini menunjukkan beragam makna yang terkandung dalam dan diberikan kepada istilah ini. Secara umum, kata humanisme berkenaan dengan pergumulan manusia dalam memahami dan memaknai eksistensi dirinya dalam hubungan dengan kemanusiaan orang lain di dalam komunitas. Secara etimologis, istilah humanisme erat kaitannya dengan kata Latin klasik, yakni humus yang berarti tanah atau bumi. Dari istilah tersebut muncul kata homo yang berarti manusia (makhluk bumi) dan humanus yang lebih menunjukkan sifat membumi dan manusiawi. Istilah yang senada dengannya adalah kata latin humilis yang berarti kesederhanaan dan kerendahan hati (kesahajaan) (Samho 2013: 18). Makna kata humanisme tersebut menunjukkan bahwa inti persoalannya adalah humanus atau manusia itu sendiri, artinya bagaimana membentuk manusia (humanus) itu menjadi lebih manusiawi (melalui humanismus) serta pihak mana atau siapa yang bertanggungjawab dalam proses pembentukkannya (humanista/umanisti/humanist) (Samho 2013: 19).
Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Visi humanisme ini bertujuan menyempurnakan kemanusiaan. Tujuan itu harus dicapai melalui proses yang manusiawi pula, yaitu humanisasi, yang dengan sendirinya mengimplikasikan hominisasi. “Manusia tidak hanya harus menjadi homo (manusia): dia juga harus menjadi homo yang human, artinya berkebudayaan lebih tinggi. Ini juga memuat perhalusan (Driyarkara 200: 371; lihat juga: Mulyana 2004: 111).
Dalam kamus ilmiah populer arti dari kata humanisasi adalah pemanusiaan/penerapan rasa perikemanusiaan. Sedangkan humanisme adalah suatu doktrin yang menekan kepentingan-kepentingan kemanusiaan dan ideal (humanisme pada zaman renaissans didasarkan atas peradaban Yunani purba, sedangkan humanisme modern menekankan manusia secara eksklusif). Makna kemanusiaan harus selalu dirumuskan secara baru dalam setiap perjumpaan dengan realitas dan konteks yang baru. Kemanusiaan perlu dilihat bukan sebagai esensi tetap atau situasi akhir. Makna kemanusiaan adalah proses menjadi manusiawi dalam interaksi antar manusia dengan konteks dan tantangan yang terus berkembang. Humanisme dipandang sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan orang. Humanisme mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari humanisme jauh lebih signifikan; humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural manapun”.
Humanisme ateistik tidak terlepas dari munculnya modernitas di Eropa sekitar abad 17. Pada masa itu modernisasi bergulir demikian kencang, berkembang pesat, dan mencakup banyak bidang. Salah satu bidang utama yang terkena imbas proses kemodernan itu adalah bidang intelektual. Proses ini melahirkan pencerahan intelektual dengan semboyan “sapere aude!” yang artinya beranilah memakai nalarmu sendiri. Semboyan ini merasuki terutama para intelektual pada masa itu. Bisa dikatakan pencerahan menjadi dasar kehidupan dan kerohanian modern. Tuntutannya adalah agar manusia berani berfikir sendiri dan tidak pernah percaya pada sesuatu yang tidak bisa bertahan di hadapan nalar (Djehaniah 2013: 113).
Humanisme percaya bahwa manusia adalah bagian dari alam dan bahwa dia muncul sebagai hasil dari proses yang berkelanjutan, (3) Dengan memegang pandangan hidup organik, humanis menemukan bahwa dualisme tradisional tentang pikiran dan jasad harus ditolak, (4) Humanisme mengakui bahwa budaya religius dan peradaban manusia, sebagaimana digambarkan dengan jelas oleh antropologi dan sejarah, merupakan produk dari suatu perkembangan bertahap karena interaksinya dengan lingkungan alam dan warisan sosialnya. Individu yang lahir di dalam suatu budaya tertentu sebagian besar dibentuk oleh budaya tersebut, (5) Humanisme menyatakan bahwa sifat alam semesta digambarkan oleh sains modern membuat jaminan supernatural atau kosmik apa pun bagi nilai-nilai manusia tidak dapat diterima, (6) Kita yakin bahwa waktu telah berlalu bagi ateisme, deisme, modernisme, dan beberapa macam “pemikiran baru”. Dari definisi humanisme tersebut, nampak sekali para humanis menganggap bahwa manusia adalah segala pusat aktifitas dengan meninggalkan peran Tuhan dalam kehidupannya.
Konsep Ilmu Pengetahuan (Sains Modern)
Ilmu pengetahuan (science) mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengetahuan (knowledge atau dapat juga disebut common sense). Orang awam tidak memahami atau tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan mugkin mereka menyamakan dua pengertian tersebut. Mempelajari apa itu ilmu pengetahuan berarti mempelajari atau membahas esensi atau hakekat ilmu pengetahuan. Demikian pula membahas pengetahuan itu juga berarti membahas hakekat pengetahuan.
Perintisan “Ilmu pengetahuan” dianggap dimulai pada abad 4 sebelum Masehi, karena peninggalan-peninggalan yang menggambarkan ilmu pengetahuan diketemukan mulai abad 4 sebelum Masehi. Abad 4 sebelum Masehi merupakan abad terjadinya pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos, dari dongeng-dongeng ke analisis rasional. Contoh persepsi mitos adalah pandangan yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian misalnya adanya penyakit atau gempa bumi disebabkan perbuatan dewa-dewa. Jadi pandangan tersebut tidak bersifat rasional, sebaliknya persepsi logos adalah pandangan yang bersifat rasional. Dalam persepsi mitos, dunia atau kosmos dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan magis, mistis. Atau dengan kata lain, dunia dijelaskan oleh faktor-faktor luar (eksternal). Sedang dalam persepsi rasional, dunia dianalisis dari faktor-faktor dalam (internal). Atau dengan kata lain, dunia dianalisis dengan argumentasi yang dapat diterima secara rasional atau akal sehat. Analisis rasional ini merupakan perintisan analisis secara ilmiah, tetapi belum dapat dikatakan ilmiah.
Pada periode ini tokoh yang terkenal adalah Aristoteles. Persepsi Aristoteles tentang dunia adalah sebagai berikut: dunia adalah ontologis atau ada (eksis). Sebelum Aristoteles dunia dipersepsikan tidak eksis, dunia hanya menumpang keberadaan dewa-dewa. Dunia bukan dunia riil, yang riil adalah dunia ide. Menurut Aristoteles, dunia merupakan substansi, dan ada hirarki substansi-substansi. Substansi adalah sesuatu yang mandiri, dengan demikian dunia itu mandiri.
pengetahuan” berarti mengembangkan prinsip-prinsip, mengembangkan “ilmu pengetahuan” (teori) tidak terletak pada akumulasi data tetapi peningkatan kualitas teori dan metode.
Secara umum, filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya untuk memahami makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, termasuk juga di dalamnya kriteria-kriteria ilmu pengetahuan, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam ilmu pengetahuan. Supaya lebih fokus, perlu dipertegas beberapa poin tentang filsafat ilmu pengetahuan. Ada berbagai konsep yang digunakan secara khusus oleh seorang ilmuwan, tetapi tidak dianalisis oleh ilmuwan tersebut. Misalnya, ilmuwan seringkali menggunakan konsep-konsep seperti kausalitas, hukum, teori, dan metode (Wattimena 2008: 105).
Ada berbagai macam definisi atau pengertian dari ilmu, yaitu: Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima–ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui, sementara itu secara istilah ilmu diartikan sebagai Idroku syai bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki). Dalam bahasa Inggris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science (berasal dari bahasa latin dari kata Scio, Scire yang berarti tahu) umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama (Suriasumantri 1998: 39).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1998: 231) memiliki dua pengertian: (1) Ilmu Pengetahuan diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya, (2) Ilmu pengetahuan diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu batin, ilmu sihir, dan sebagainya. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis, dengan menggunakan metode-metode tertentu.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemology (Bertens 1989: 16).
Setiap aktivitas ilmiah tentu bertolak dari konsep, karena konsep merupakan sebuah struktur pemikiran. Sontag (1987: 141) menyatakan bahwa setiap pembentukan konsep selalu terkait dengan empat komponen, yaitu, kenyataan (reality), teori (teori), kata-kata (words), dan pemikiran (thought). Kenyataan hanya akan merupakan sebuah misteri manakala tidak diungkapkan ke dalam bahasa. Teori merupakan tingkat pengertian tentang sesuatu yang sudah teruji, sehingga dapat dipakai sebagai titik tolak bagi pemahaman hal lain. Kata-kata merupakan cerminan ide-ide yang sudah diverbalisasikan. Pemikiran merupakan produk akal manusia yang diekspresikan ke dalam bahasa. Kesemuanya itu akan membentuk pengertian pada diri manusia, pengertian ini dinamakan konsep.
penemuan dan pemahaman dunia alami sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Metode ilmiah yang khas dipakai dalam proses ini adalah analisis-rasional, objektif, sejauh mungkin “impersonal” dari masalah-masalah yang didasarkan pada percobaan dan data yang dapat diamati. Bagi Thomas Khun “normal science” adalah ilmu pengetahuan dalam artian proses. Ilmu pengetahuan sebagai masyarakat artinya dunia pergaulan yang tindak-tanduknya, perilaku dan sikap serta tutur katanya diatur oleh empat ketentuan (imperative) yaitu universalisme, komunalisme, tanpa pamrih (disinterstedness), dan skeptisisme yang teratur.
Meslen (1985: 65-66) mengemukakan beberapa ciri yang menandai ilmu pengetahuan yaitu: (1) Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara lohis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus (susunan logis). (2) Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan. (3) universalitas ilmu pengetahuan. (4) Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif (5) Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan. (6) progresivitas artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem-problem baru lagi. (7) Kritis, artinya tidak ada teori ilmiah yang difinitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru. (8) Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.
yang membuat ilmu pengetahuan itu berkembang terus ( http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2070809- sifat-sifat-ilmu-pengetahua n/#ixzz1Hwi8NhCF).
Sedangkan syarat ilmu Pengetahuan sebagaimana pendapat Vardiansyah (2008: 8) dalam bukunya Filsafat Ilmu Komunikasi, bahwa ilmu pengetahuan ilmiah harus memenuhi tiga syarat, yaitu: (1) Sistematik; yaitu merupakan kesatuan teori-teori yang tersusun sebagai suatu sistem, (2) Objektif; atau dikatakan pula sebagai intersubjektif, yaitu teori tersebut terbuka untuk diteliti oleh orang lain/ahli lain, sehingga hasil penelitian bersifat universal. (3) Dapat dipertanggung jawabkan; yaitu mengandung kebenaran yang bersifat universal, dengan kata lain dapat diterima oleh orang-orang lain atau ahli-ahli lain.
Sebagai pandangan lain, syarat utama berdirinya sebuah ilmu pngetahuan adalah bersifat umum-mutlak dan dapat memberi informasi baru. Teori ini dipakai dikarenakan esensinya bisa dipandang uneversal aau memenuhi syarat kebenaran inter-subjektif. Dan ilmu harus dibangun dan dikembangkan di atas tiga pondasi utama yaitu data, teori/epistemologi dan nilai/etika (Anwar 2007: 24). Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu, yang diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang (approach), metode (method),dan sistem tertentu.
Objek ilmu pengetahuan itu ada yang berupa materi (objek materi) dan ada yang berupa bentuk (objek formal). Objek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan,pemikiran, atau penelitian keilmuan bisa berupa benda-benda material maupun yang nonmaterial, bisa pula berupa hal-hal, masalah-masalah, ide-ide dan konsep-konsep. Objek material adalah seluruh lapangan atau bahan yang dijadikan objek penyelidikan suatu ilmu. Objek Formal adalah objek material yang disoroti oleh suatu ilmu, sehingga membedakan ilmu satu dengan ilmu lainnya, jika berobjek material sama. Pada garis besarnya, objek ilmu pengetahuan ialah alam dan manusia (Surajiyo 2005: 29).
Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa menurut objek formalnya, ilmu pengetahuan itu justru berbeda-beda dan banyak jenis serta sifatnya. Ada yang tergolong ilmu pengetahuan fisis (ilmu pengetahuan alam), karena pendekatan yang dilakukan menurut segi yang fisis. Ada pula yang tergolong ilmu pengetahuan non-fisis (ilmu pengetahuan sosial dan humaniora serta ilmu pengetahuan Ketuhanan), Karena pendekatannya menurut segi kejiwaan. Golongan pertama termasuk ilmu pengetahuan yang bersifat kuantitatif, sedangkan golongan kedua merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kualitatif.
secara langsung dan seketika (Salam 102). Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi. Para nabi memperoleh dari Tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan. Tuhan mensucikan jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu (Salam 103).
Pengetahuan dengan jalan ini merupakan kekhususan para nabi. Hal inilah yang membedakan mereka dengan manusia lainnya. Akal meyakinkan bahwa kebenaran pengetahuan mereka berasal dari Tuhan, karena pengetahuan ini memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya, karena hal ini memang diluar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dan membenarkan semua yang berasal dari Nabi (Muatofa 1997: 106).
Menurut Archei J. Bahm, ada enam komponen dalam ilmu pengetahuan (Muslih 2004: 35), yaitu: (1) adanya masalah (problem), (2) adanya sikap ilmiah meliputi keingintahuan, spekulasi, kemauan untuk objektif, kemauan utnuk menangguhkan penilaian, dan kesementaraan, (3) menggunakan metode ilmiah meliputi lima langkah, yaitu menyadari akan masalah, menguji masalah, mengusulkan solusi, menguji usulan atau proposal dan memecahkan masalah., (4) adanya aktifitas yang dilakukan oleh orang-orang khusus (aspek individu), sedangkan aspek social meliputi aktivitas ilmiah yang mencakup lebih banyak dari apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan khusus, (5) adanya simpulan adalah akhir atau tujuan yang membenarkan sikap, metode, dan aktifitasnya sebagai cara-cara, (6) adanya pengaruh terhadap teknologi dan industri, masyarakat dan peradaban.
Pengaruh Humanisme dalam Sains Modern
Konsep humanisme sebenarnya tidak mempunyai kaitan logis dengan ateisme. Humanisme tidak menyebabkan seseorang menjadi ateis atau teis. Humanisme adalah gagasan netral tentang humanitas yang mau menegaskan martabat manusia sebagai manusia. Manusia pantas dihormati karena ia adalah manusia. Manusia bukan binatang yang bisa ditendang, bukan pula barang yang mudah dibuang, bukan juga tuhan yang mesti disembah atau hantu yang harus ditakuti. Humanisme bukanlah konsep tentang agama atau Tuhan sehingga humanisme sepantasnya tidak menggantikan agama karena memang tidak setara dengannya. Kalau ternyata ada humanism yang menolak agama, maka ia tidak layak lagi menyandang label humanisme yang konsep ontologis eksistensi manusia otentik yang bertujuan kemanusiaan. Oleh karenanya istilah humanisme ateis menjadi contradiction in terminis (Subianto 2013: 197).
Pengaruh faham humanisme sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika perkembangan teknologi yang pesat dimana segala sesuatu bisa di atasi oleh teknologi ini timbullah pertanyaaan apakah manusia masih dikatakan humanisme? apakah manusia telah digantikan oleh mesin-mesin teknologi? yang menyukai film petualangan doraemeon tentang dunia robot kaleng mungkin mengetahui bahwa suatu saat mungkin robot menggantikan peran manusia. Film i robot juga menceritakan bagaimana robot bisa berevolusi dengan memiliki emosi. Film mungkin terlihat adalah suatu fiksi dan hanya suatu cerita khayalan. Tapi jangan salah ada ide seperti kedua film ini menujukan bahwa ada kemungkian itu akan terjadi di masa selanjutnya.
teori dan tatanan bahasa. Analisa terbaru menunjukan bahwa identitas manusia itu tidak stabil. Namun ketika kita melihat pesatnya perkembangan IPTEK dimana ditunjukannya dengan munculnya teknologi seperti kloning, mutasi dan modifikasi gen dan lain sebagainya menunjukkan fenomena baru bahwa manusia itu telah mampu melampaui identitas dan kondisi moral manusia itu sendiri. Dalam kondisi ini rasionalitas manusia mengalami perubahan dimana munculnya rasionalitas yang berdasarkan tekno science. Dalam era globalisasi ini dimana pertukaran barang dan informasi begitu canggih justru faktanya meningkatkan adanya ketidakadilan. Teknologi yang awalnya diharapkan bisa menanggulangi permasalahan ketidakadilan justru menimbulkan masalah baru lagi sebagai dampak negatif dari suatu teknologi. hal ini menunjukan bahwa ada fenomena overcomin dalam diri manusia ketika munculnya science dan teknologi. Disini timbullah beberapa masalah seperti apakah humansime itu menjadi term terakhir dalam sejarah peradaban manusia?
Modernisme dengan kata saktinya “perkembangan” dan “perubahan” mampu menciptakan sebuah bentuk masyarakat baru yang semakin menjauh dari tradisi, semakin fasih dan bebas menafsirkan ulang dirinya dan dunianya sendiri. Hal ini sebagai akibat dipicu oleh manifestasi modernisme yang mengagumkan dalam sains dan aplikasinya dalam teknologi. Lebih ekstrim lagi, bahkan kini teknologi nyaris menggantikan fungsi dan kedudukan penting individu terutama dalam dunia kerja dan bisnis. Kemewahan teknologi dengan segala kecanggihan dan kemutakhirannya telah menjadi sandaran hidup manusia yang paling diandalkan dan dalam banyak hal memang meringankan dan bahkan menggantikan kerjaan manusia. Segala sisi modernisme itu menyebar dan masuk dalam kehidupan manusia sehari-hari terutama melalui produk yang dikonsumsi, perangai pasar, etos kerja, teknologi baru, model-model transportasi, karya seni, atau pun sistem komunikasi.
Dampak lebih jauh dari perkembangan modernitas adalah semakin melumernya system nilai tradisional, serentak semakin terkikisnya kekuatan personal manusia yang digantikan oleh kekuatan mesin. Slogan baru seperti universalisme, totalitas, unifikasi, homogenisasi menghancurkan sistem local dan partikularitas. Otonomi subyek dan pengutamaan rasionalitas menjadi kekuatan yang sangat represif, memaksa dan mendominasi. Dengan kata lain dibawah kekuatan rasio dan otonomi subyek, manusia justru ditindas dan dijajah. Akibatnya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisme yang tadinya hendak menuntun manusia menyongsong pencerahan dimana kebebasan dan toleransi menjadi cita-cita dan mega proyeknya, justru menelantarkan manusia dalam rimba kemegahan yang semu dan bahkan menggerogoti kemanusiaan itu sendiri.
Penutup
di segala bidang, kedudukan manusia justru menjadi tertindas dan menjadi budak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.
Daftar Pustaka
Anwar, H. Saeful. 2007. Filsafat Ilmu Al-Ghazali:Dimensi Ontologi dan Aksiologi,Pustaka Setia, Bandung, 2007.
Bertens. K. 1989. Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Jakarta: Gramedia.
Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.
Dinarpratama.2010.Pendidikan dalam Perspektif Aliran Humanisme. http://dinarpratama. wordpress.com/2010/11/28/pendidikan-dalam-perspektif-aliran-humanisme/
Driyarkara, N. 2006. Karya Lengkap Driyarkara, Esai-esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Penyunting: A.Sudiarja, dkk. Jakarta: Gramedia. Djehanih, Darius. 2013. Humanisme Ateistik (Humanisme dan Humaniora editor Bambang
Sugiharto).Bandung: Matahari.
H.A. Mustafa. 1997. Filsafat Islam,Bandung: Pustaka Setia www.jjnet.com/archives/documents/humanist.htm.
Joesoef, Daoed. 1987. “Pancasila Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan”, dalam Pancasila sebagai orientasi Pengembangan Ilmu, Yogyakarta: PT Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat: Yogyakarta, 1987, hlm. 25-26.
Langgulung, Hasan. 2004. Manusia dan Pendidikan, Yogyakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru. Meslen, Van. 1985. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita, Jakarta: Gramedia.
Mulyana, D. 2004. “Pendidikan Perspektif Sunda” dalam: Tim Puspar UGM. 2004. Wawasan Budaya untuk Pembangunan. Yogyakarta: Pilar Politika.
Mustansyir, Rizal. 2006. Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muslih, Muhammad. 2004. Filsafat Ilmu; Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Belukar.
Nasution, Harun. Filsafat Agama
Salam, Burhanuddin. 1987. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Renika ---. 1987. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: PT. Renika Samho, Bartolomeus. 2013. Humanisme Yunani Klasik Dan Abad Pertengahan (Humanisme
dan Humaniora editor Bambang Sugiharto). Bandung: Matahari.
Subianto B,Antonius. 2013. Humanisme: Agama Alternatif? Humanisme, Humanitas dan Humaniora (Humanisme dan Humaniora editor Bambang Sugiharto), Bandung: Matahari.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,Jakarta: PT Bumi Aksara.
Suriasumantri, Jujun S. 1998. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sifat-sifat ilmu pengetahuan http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2070809- sifat-sifat-ilmu-pengetahua n/#ixzz1Hwi8NhCF
Sontag. 1987. Element og Philosophy, New York: Charles Schibner’s Son.
Tafsir, Ahmad. 2007. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya,cet. VII.