• Tidak ada hasil yang ditemukan

HI-Kedaulatan Teritorial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HI-Kedaulatan Teritorial"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KEDAULATAN TERITORIAL

(2)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

 Wilayah (territory) dan kaitannya dengan kedaulatan (sovereignty)

 Oppenheim: Soevereignty is founded upon the fact of territory. Without

territory a legal person cannot be a state.

 Pengertian Kedaulatan Teritorial

 Kelsen: Kedaulatan yang dimiliki oleh suatu negara dalam

melaksanakan jurisdiksi eksklusif di wilayahnya

 M.A. de La Pradelle (the Nationality Decrees in Tunis and Morocco

Case):

Suatu kerangka untuk melaksanakan kekuasaan publik dari suatu negara

 Pentingnya kedaulatan

 Huber (the Island of Palmas Case): Sovereignty in the relations

(3)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Bentuk-bentuk rejim wilayah

Kedaulatan Teritorial

Wilayah mandat/ trust

Res nullius

tidak dimiliki/ tidak berada dalam kedaulatan

suatu negara

Res communis

tidak dapat diklaim sebagai bagian dari

wilayah/ kedaulatan suatu negara

Prinsip memperoleh wilayah

Prinsip Efektivitas

 Kasus “Eastern Greenland” (Norway v. Denmark) Denmark lebih menunjukkan “effectivity of the occupation” dengan menerapkan hukumnya di wilayah tersebut dan terhadap penduduk setempat

(4)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

 Prinsip uti possidetis

 Pada prinsipnya batas-batas wilayah suatu negara baru akan mengikuti batas-batas wilayah dari negara yang mendudukinya

 Komisi Arbitrase Yugoslavia: “whatever the circumstances, the right to self-determination must not involve changes to existing frontiers at the time of independence (uti possidetis juris) except where the states concerned agree otherwise”

 The Land, Island and Maritime Frontier Dispute Case (El Salvador v. Hounduras), 1992:  Perubahan perbatasan wilayah dapat terjadi karena adanya putusan pengadilan atau

perjanjian perbatasan

Cara-cara pemilikan suatu wilayah

 Occupation (Okupasi)  Prescription (Preskripsi)  Cession (Cessi)

(5)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Occupation (Okupasi)

 Merupakan pendudukan terhadap terra nullius

 Mengandung dua unsur: discovery & effective control

 Kasus “Clipperton Island” (France v. Mexico), 1931:

 “… taking of possession consists in the act, or series of acts, by which the occupying state … takes steps to exercise exclusive authority there”

Prescription (Preskripsi)

 Pemilikan suatu wilayah oleh suatu negara yang telah didudukinya

dalam jangka waktu yang lama dan dengan sepengetahuan serta tanpa keberatan dari pemiliknya.

 Syarat-syarat sahnya preskripsi (Fauchille & Johnson)

 Memperlihatkan adanya kekuasaan/ kewenangan (a titre du souverain)  Berlangsung secara damai tanpa adanya protes

 Bersifat publik

 Berlangsung terus menerus

 “Chamizal arbitration” (US v. Mexico) peaceful and uninterrupted

(6)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Cession (Cessi)

 Pengalihan wilayah secara damai dari suatu negara ke negara lain

 Biasanya berlangsung dalam rangka suatu perjanjian setelah usai perang  Contoh:

 Treaty of Nanking (1842), Inggris – Cina: penyerahan Hongkong sebagai koloni

Inggris

 Treaty of Utrecht (1713), Inggris – Spanyol: penyerahan Gibraltar kepada Inggris

Annexation (Aneksasi)/ Conquest/ Subjugation

 Merupakan bentuk pemilikan suatu wilayah berdasarkan kekerasan

(penaklukan)

 Larangan penggunaan kekerasan

 Briand-Kellogg Pact  Piagam PBB 1945

 Dewasa ini penggunaan kekerasan hanya boleh dilakukan untuk maksud

(7)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

 Accretion (Akresi)

 Cara perolehan suatu wilayah baru melalui proses alam (geografis)

 Misalnya: pembentukan pulau di mulut sungai, avulsion (akibat dari letusan

vulkanik)

 Contoh: Iwo Jima  Plebicite (Plebisit)

 Pengalihan suatu wilayah melalui pilihan penduduknya  Dilaksanakan lewat pemilihan umum/ referendum

 Merupakan pencerminan dari prinsip self-determination (the East Timor Case,

Portugal v. Australia, 1995)

Kedaulatan negara atas wilayah darat

 Mencakup segala kekayaan yang berada di bawah/ di atas tanah tersebut  Termasuk di dalamnya:

(8)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Kedaulatan Negara atas Wilayah Laut

 Sejarah perkembangan hukum laut internasional

 Runtuhnya Kerajaan Romawi

 Mare Liberum (Grotius) v. Mare Clausum (Selden)  Pendapat Pontanus

 Konferensi Kodifikasi Den Haag, 1930

 Laut Teritorial  Hak lintas damai

 Jurisdiksi negara pantai di laut teritorial  Pengejaran seketika (hot pursuit)

 Konferensi Hukum Laut I menghasilkan 4 Konvensi Jenewa 1958

 Konvensi tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan; Konvensi tentang Laut

Lepas; Konvensi tentang Landas Kontinen; Konvensi tentang Perikanan dan Perlindungan Sumber Kekayaan Hayati di Laut Lepas

(9)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

 Konferensi Hukum Laut III

 Diwarnai oleh Perubahan peta bumi politik, kemajuan teknologi, dan

ketergantungan terhadap sumber daya alam

 Konsep dasar laut dalam sebagai “common heritage of mankind” (Dr.

Avid Pardo)

 Lahirnya Declaration of Principles, 1970

 Menghasilkan Konvensi Hukum Laut (UN Convention on the Law of the

Sea) 1982

 Menyangkut pengaturan di berbagai zona maritim, termasuk:

Perairan PedalamanLaut Teritorial

Selat

Jalur Tambahan Landas Kontinen

Zona Ekonomi EksklusifLaut Lepas

(10)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Daratan

Landas Kontinen

(Continental Shelf)

Dasar Laut Dalam

(Deep Sea-Bed)

12 mil Laut Teritorial

12 mil Jalur Tambahan

200 mil

Zona Ekonomi Eksklusif

(11)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Kedaulatan Negara atas Wilayah Udara

“Cujus est solum, ejus est usque ad coelum”

Konvensi Paris 1919:

 “The High Contracting States recognize that every Power has

complete and exclusive sovereignty over the air space above its territory … and the territorial waters adjacent thereto.”

Konvensi Chicago 1944 (Convention on International Civil

Aviation)

 Jurisdiksi eksklusif dan wewenang negara atas ruang udara di atas

wilayahnya

Five freedoms of the air

(12)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Five freedoms of the air meliputi:

 Terbang melintasi wilayah negara asing tanpa mendarat (fly across

foreign territory without landing)

 Mendarat untuk tujuan-tujuan komersial (land for non-traffic

purposes)

 Menurunkan penumpang di wilayah negara asing yang berasal dari

negara asal pesawat udara (disembark in a foreign country traffic originating in the state of the origin of the aircraft)

 Mengangkut penumpang pada lalu lintas negara asing yang bertujuan

ke negara asal pesawat udara (pick-up in a foreign country traffic destined for the state of origin of the aircraft)

 Melakukan pengangkutan antara dua negara asing (carry traffic

(13)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Kedaulatan di Wilayah Ruang Angkasa

 Pada prinsipnya, ruang angkasa adalah ruang yang berada di atas

ruang udara

 Peran PBB dalam perkembangan hukum angkasa

 Pembentukan Committee on Peaceful Uses of Space

 Resolusi No. 1962 (XVIII), 13 Desember 1963 mengenai

prinsip-prinsip pemanfaatan ruang angkasa

 Treaty on Principles Governing the Activities of States in the

Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and other Celestial Bodies (Space Treaty) 1967

 Eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa harus

menguntungkan dan untuk kepentingan semua negara

 Benda-benda angkasa tidak dapat dimiliki oleh suatu negara  Untuk tujuan damai

 Perjanjian lainnya: Rescue Agreement (1968), Liability Convention

(14)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Antartika

Treaty of Antarctica 1959

 Kegiatan yang dilakukan di Antartika hanya untuk tujuan damai

 Kebebasan melakukan penelitian dan kerja sama ilmiah

 Pemeliharaan lingkungan

 “No acts or activities taking place while the present treaty is in

force shall constitute a basis for asserting, supporting or denying a claim to territorial sovereignty in Antarctica or create any

rights of sovereignty in Antarctica. No new claim, or

(15)

(c) 2006 Gusman Sis

wandi

KEDAULATAN TERITORIAL

Servitudes

Muncul manakala di wilayah suatu negara terdapat

hak-hak (legal rights) negara lain

Merupakan pembatasan terhadap kedaulatan

teritorial suatu negara

Contoh kasus: Terusan Suez

Berdasarkan Konvensi Konstantinopel 1888,

Referensi

Dokumen terkait

Proses penetapan dan penegasan batas wilayah darat dimaksud, ditempuh melalui hubungan kerjasama kedua negara dengan dibentuknya komisi teknis perbatasan pada tahun

Sebagai negara kepulauan yang diharuskan menetapkan batas wilayah perairan, sebaiknya Indonesia mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan di dalam UNCLOS III

suatu negara yang tidak mengikuti instruksi dari petugas administrasi ADIZ nekat untuk terbang di wilayah tersebut, maka angkatan senjata dari negara „tuan rumah‟ berhak

Dalam aspek program, Indonesia akan melanjutkan dan menyelesaikan penegasan batas wilayah darat dan wilayah laut dengan negara tetangga, juga melakukan pendataan

Adapun ketidak jelasan batas-batas wilayah negara terutama pada batas wilayah laut telah menyebabkan adanya sengketa internasional.Baru-baru ini telah terjadi sengketa

Negara tersebut terdiri dari Serbia dan Montenegro yang memproklamirkan diri sebagai federasi Yugoslavia baru pada tanggal 27 April 1992, kemudian ditambah beberapa

Novel Tentang Kehidupan Pierre Fauchard, karya Ferizal Sang Pelopor Sastra Kedokteran Gigi Indonesia : A novel about the life of Pierre Fauchard Judul Buku : Novel Tentang Kehidupan Pierre Fauchard, karya Ferizal Sang Pelopor Sastra Kedokteran Gigi Indonesia : A novel about the life of Pierre Fauchard Penulis / Editor : Ferizal QRCBN : 62-6418-9288-164 https://www.qrcbn.com/check/62-6418-9288-164 Pembuat Sampul : Ferizal Jumlah Halaman : 236 Jenis Penerbitan : PT. TV FANA SPM KESEHATAN PUSKESMAS Edisi : 24-6-2025 Sinopsis Novel ini : Melalui novel ini, Ferizal membawa kita menyusuri lorong waktu abad ke-18, mengenal Pierre sebagai manusia yang berani melawan tradisi, menembus batasan ilmu, dan memperjuangkan kesehatan dengan pena dan keyakinan. Sebuah kisah yang bukan hanya tentang gigi, tetapi tentang keberanian, cinta, dan pengabdian yang menginspirasi generasi. Pierre memulai perjalanan sunyi untuk menemukan cara baru. Tanpa gelar megah dan tanpa dukungan akademi, ia menulis Le Chirurgien Dentiste—sebuah buku yang menantang tradisi dan membuka babak baru dalam kedokteran gigi. Perjalanan Pierre dipenuhi cemooh, ancaman, dan pengkhianatan. Ia menghadapi bukan hanya musuh yang terlihat, tetapi juga rasa takut dan kesendirian yang menghantui langkahnya. Namun dalam setiap luka, Pierre menemukan cahaya kecil: senyum orang-orang kecil yang diselamatkannya. Bersama muridnya, Louis Gervais, Pierre membuktikan bahwa ilmu bukan milik segelintir orang berkuasa. Ilmu adalah hak setiap manusia yang ingin hidup tanpa rasa sakit. Meski ia berjalan dalam sunyi, warisan Pierre perlahan menembus batas negara dan zaman. Novel ini berlatar kisah nyata yang dibalut dengan narasi fiksi historis yang emosional. Pierre Fauchard Bapak Kedokteran Gigi Modern, beliau berjuang dari nol hingga mengubah sejarah Kedokteran