• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat 2018 (Senmaster 2018)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat 2018 (Senmaster 2018)"

Copied!
496
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Ketua : Dra. Lilik Aslichati, M,Si. Sekretaris : 1. Diana Wahyuni, S.Sos.

2. Dwi Kori Budi Wahyuni, S.Sos. Bendahara : Trias Rachmawatika, S.E.

Sie Acara : 1. Dra. Tety Rahmawati, M.Hum. 2. Milda Ayudia, S.E.

3. Tengku Lutfiana, S.Sos. Prosiding : 1. Dra. Tutisiana, M.Ed.

2. Dian Septiansyah, S.Kom.

IT : 1. Faizal Reza, S.Kom

2. Harry Subadri, S.Kom 3. Yoga M. Tampi, S.Ti. Konsumsi : Indriati S.E.

Komite Pengarah: 1. Prof. Dr. Karnedi, M.A 2. Dr. Adi Suryanto, M.Pd 3. Dr. Ake Wihadanto, S.E., M.T. Reviewer:

1. Dr. Adi Suryanto, M.Pd. 6. Ir. M. Toha Anggoro, Ph.D, M.Si. 2. Dr. Trini Prastati, M.Pd. 7. Dra Lilik Aslichati, M.Si. 3. Dr. Sri Sediyanigsih, M.Si 8. Dra. Tutisiana M.Ed. 4. Dr. Adriyansyah, M.M. 9. Dra. Dewi Andriyani, M.Pd. 5. Dr. Tri Darmayanti, M.A. 10.Dra. Etty Kartikawati, M.Pd. Penyunting:

1.Dra. Lilik Aslichati, M.Si. 2.Dra. Tutisiana, M.Ed. 3.Dr. Adi Suryanto, M.Pd. 4.Dr. Adriyansah, M.M.

Designer dan Layouter : 1. Zairul Syah, S.Kom. 2. Arsri Agusti, S. Ds. Penerbit:

Universitas Terbuka

Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan - 15418 Banten – Indonesia

Telp.: (021) 7490941 (hunting); Fax.: (021) 7490147 Laman: www.ut.ac.id.

Edisi kesatu

Cetakan pertama ... 2019

2018 oleh Universitas Terbuka

Hak cipta dilindungi Undang-Undang ada pada Penerbit Universitas Terbuka Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Buku ini dibawah lisensi *Creative commons* Atribut Nonkomersial Tanpa turunan 3.0 oleh Universitas Terbuka, Indonesia.

Kondisi lisesi dapat dilihat pada Http: //creative commons.or.id/ Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Nama : Universitas Terbuka

Judul : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat 2018 (Senmaster 2018) (BNBB) / editor, Dra. Lilik Aslichati, M.Si., Dra. Tutisiana, M.Ed., Dr. Adi Suryanto, M.Pd., Dr. Adriyansah, M.M.

Edisi : 1 | Cetakan : 1

Deskripsi : Tangerang Selatan : Universitas Terbuka, 2019 | 482 halaman ; 30 cm (termasuk daftar referensi)

ISBN: 978-602-392-376-2 e-ISBN: 978-602-392-376-2 Subyek :1. Pendidikan Tinggi – Hasil penelitian

2. Pertanian hidroponik

3. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) 4. Guru – Pendidikan dan pelatihan 5. Higher Education – Research Result 6. Hydroponic agriculture

7. Micro, Small and Medium Enterprises 8. Teacher - Education and training

(3)

SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 2018

(SENMASTER 2018)

Disunting oleh:

Dra. Lilik Aslichati, M.Si.

Dra. Tutisiana, M.Ed.

Dr. Adi Suryanto, M.Pd.

Dr. Andriyansah, M.M.

Diselenggarakan oleh:

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Universitas Terbuka

(4)

mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, karena atas izinNya Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka 2018 (senmaster 2018) dengan tema “Inovasi dalam IPTEKS Perguruan Tinggi untuk Kesejahteraan Masyarakat”, dapat terlaksana dengan baik dan Prosiding ini dapat diterbitkan.

Tema tersebut dipilih dengan alasan untuk memberikan perhatian para akademisi tentang pentingnya perguruan tinggi melakukan inovasi dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni secara terus-menerus dan mengimplementasikannya bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian perguruan tinggi akan menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang cerdas, sehat, sejahtera, dan tentu saja memiliki kualitas yang berdaya saing tinggi.

Para akademisi nasional telah banyak menghasilkan penelitian dan mengimplementasikannya ke masayarakat luas, namun masih banyak yang belum didiseminasikan dan dipublikasikan secara luas, sehingga tidak dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan. Atas dasar tersebut, Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat ini menjadi salah satu ajang bagi para akademisi nasional untuk mempresentasikan hasil-hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukannya, sekaligus bertukar informasi dan memperdalam masalah pengabdian kepada masyarakat, serta mengembangkan kerjasama yang berkelanjutan.

Seminar ini diikuti oleh para dosen dari berbagai bidang ilmu dari seluruh Indonesia, dalam rangka memberikan pemikiran dan solusi untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Universitas Terbuka, pemakalah, peserta, dan panitia, yang telah berupaya menyukseskan Seminar Nasional ini. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa meridhoi semua usaha baik kita. Aamiin

Tangerang Selatan, 30 Oktober 2018 Ketua Panitia,

Dra. Lilik Aslichati, M.Si.,Psikolog

(5)

Salam sejahtera bagi kita semua,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, hidayah dan inayah Nya-kepada kita semua sehingga kita bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat dan berbahagia.

Saya sangat berterimakasih, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Terbuka dapat menyelenggarakan Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat, dengan tema Inovasi dalam IPTEKS Perguruan Tinggi untuk Kesejahteraan Masyarakat. Tema ini sejalan dengan dinamika dan perkembangan yang ada, yaitu Era revolusi industri keempat (4.0). Revolusi industri keempat ini dicirikan dengan kompleksnya persoalan yang akan dihadapi masyarakat dunia. Semua jenis pekerjaan akan semakin kompleks, akibat dari kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi yang kecepatan perkembangannya sangat di luar dugaan. Dahsyatnya perkembangan teknologi dan informasi itu menerobos semua lini kehidupan termasuk Perguruan Tinggi.

Menghadapi perkembangan ini Universitas Terbuka akan mengambil peran dan melakukan perubahan mendasar. Berbagai riset akan diarahkan untuk menghasilkan produk-produk yang inovatif yang dapat diimplementasikan bagi masyarakat luas, salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian Universitas Terbuka akan benar-benar mampu berpartisipasi dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Saya menyambut baik partisipasi para dosen dari berbagai perguruan tinggi dalam kegiatan Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka Tahun 2018 ini. Semoga melalui kegiatan ini kita dapat menjalin kerjasama yang sinergis untuk kemajuan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang kita laksanakan dimasa mendatang.

Saya juga menyampaikan rasa bangga saya kepada dosen-dosen Universitas Terbuka yang telah berpartsipasi dalam seminar ini. Semoga ke depan akan makin banyak dosen yang dapat berpartisipasi.

Selamat mengikuti seminar, semoga seluruh ikhtiar kita mendapat ridlo Allah SWT. Billaahittaufiq wal hidaayah

Wasalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barokaatuh.

Pondok Cabe, 30 Oktober 2018

(6)

Pertanian Di Daerah Perkotaan

Agnes Puspitasari Sudarmo ... 1 - 8

Pelatihan Pengisian Basis Data Potensi Desa Jabon Mekar, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor Tahun 2017

Agus Joko Purwanto, Chanif Nurcholis, Made Yudhi Setiani, Mani Festati, Anto

Hidayat ... 9 - 17

Meningkatkan Keterampilan Bercocok Tanam Dengan Metode Hidroponik Di Kelurahan Mukakuning, Kota Batam

Albert Gamot Malau, Adisti Yuliastrin, Haholongan Simanjuntak, Elliaki Gulo ... 18 - 24

Pengembangan Desain Sudut Kantin Kejujuran Di SMPN 1 Kemang, Kabupaten Bogor

Andayani, Budi Hermaini, Dian Novita, Monika Handayani, Siti Aisyah ... 25 - 34

Budidaya Tanaman Sayuran Dan Tanaman Obat Keluarga (Toga) Di Kelurahan Alalak Selatan

Andi Suci Anita, Edward Zubir, Mukhyar Amani ... 35 - 43

Pengembangan Usaha Mikro Diamond Glassycraft Kabupaten Kuningan,Provinsi Jawa Barat

Angga Sucitra Hendrayana, Imas Maesaroh, Maman Sudirma, Nana Setiana ... 44 - 53

Membangun Kemandirian Masyarakat Berswasasemabada Sayur Dengan Hidroponik

Asnah Marlina Nellawaty Limbong, Dewi Artati Padmo Putri, Purwaningdyah Murti

Wahyuni, Siti Samsiyah, Mohamad Pandu Ristiyono ... 54 - 60

Tata Kelola Keuangan Desa Pada Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor

Ayi Karyana, Bambang Agus Diana, Susanti ... 61 - 67

Pelatihan Dan Pendampingan Pengembangan Soal Untuk Guru SDN Pamulang Timur 2Dan SDN Keranggan Di Kota Tangerang Selatan

Agus Tatang Sopandi, Timbul Pardede, Eko Yuliastuti E.S, Ludivica Endang

Setijorini, Etty Kartikawati ... 68 - 74

Pelatihan Budidaya Kroto Sebagai Pakan Burung Kicauan Pada Masyarakat Kampung Nagrog Desa Tegal, Bogor

(7)

Pelatihan Penulisan Proposal Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD Yayasan Al

Khasyi’un Ciputat

Durri Andriani, Suripto, Rhini Fatmasari ... 97 - 110

Peningkatan Ekonomi Keluarga Melalui Usaha Ternak Kelinci

Durri Andriani, Suripto ... 111 - 118

Penyuluhan Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah Siswa SDN Pengasinan 1, Sawangan, Depok

Eko Yuliastuti E.S., Ariyanti Hartari ... 119 - 131

Membangun Daya Saing Bangsa Melalui Pemantapan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bagi Warga Belajar Di Desa Parit, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir

Enny Sri Martini ... 132 - 143

Pengembangan Model Rumah Baca Anak Sebagai Solusi Pembentukan Karakter

Etty Puji Lestari, Suhartono, Tri Kurniawati R ... 144 - 152

Peningkatan Peran Kelompok Masyarakat Dalam Merawat Taman Obat Keluarga (TOGA) Di RW 07 Bukit Indah, Ciputat, Tangerang Selatan

Gede Umbaran Dipodjoyo ... 153 - 159

Pkm Kelompok Ibu Sadar Gizi (Ibusazi) Dalam Diversifikasi Pangan Berbasis Ikan Haruan Sebagai Solusi Malnutrisi Anak

Herda Ariyani, Nurhikmah, Dewi Nurhanifah, Muhammad Anshari ... 160 - 168

Peningkatan Produksi Gula Merah UKM Desa Purworejo, Pesawaran, Lampung Melalui Rancang Bangun Tungku SK32

Herry Wardono, Mohammad Badaruddin, Simparmin Br Ginting ... 169 - 177

Capacity Building Dan Technical Assistant Marketing Viral Pada Kelompok Pengrajin Kayu Cukli Pasar Seni Mataram

Herry Susanto ... 178 - 191

Teknologi Biopori Untuk Pelestarian Lingkungan Di RW 016 Patrang, Kelurahan Patrang,Kabupaten Jember

(8)

Pelatihan Desain Dan Pengembangan Media Dan Teknologi Pembelajaran, Di Desa Pitue Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan

Jamil, Burhan, Subirman Musa, Zainal Arifin, Basmi Asdam ... 207 - 215

Pelatihan Pembuatan Manisan Sayuran Bagi Paguyuban Ibu Rumah Tangga Di Daerah Pesisir Pantai Timur, Surabaya, Jawa Timur

Junairiah, Sucipto Hariyanto, Tri Nurhariyati, Win Darmanto, Thin Soedarti, Sugiharto, Saikhu Akhmad Husen, Dwi Kusuma Wahyuni, Salamun, Muhammad

Hilman Fu’adil Amin, Listijani Suhargo, Agus Supriyanto, Intan Ayu Pratiwi, Agoes

Soegianto, Trisnadi Widya Leksono Catur Putranto, Eko Prasetyo Kuncoro, Febri Eko

Wahyudianto ... 216 – 221

Pengelolaan Administrasi Berbasis Komputer Di Desa Oesena, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang

Junus J. Beliu, Hasoloan Siregar, Bulkis, Yudith A. Frans, Yusinta N. Fina, Noveni

M.Malle ... 222 - 228

Menjahit Busana Muslim Anggota Majlis Taklim Masjid Al Musabbihin Kelurahan Sudiang Raya, Kec. Biringkanaya, Makassar

Kartini ... 229 - 234

Peningkatan Keterampilan Guru Biologi Sma Membuat Awetan Tumbuhan Di Kecamatan Balaraja, Tangerang

Leonard R Hutasoit, Anna Ratnaningsih, Krisna Iryani, Tri Wahyuningsih, Isti

Rokhyah, Ucu Rahayu ... 235 - 244

Pengembangan Urban Farming Di Rw07 Bukit Indah Tangerang Selatan

Lilik Aslichati, Tutisiana Silawati, Ariyanti Hartari, Mochamad Priono ... 245 - 250

Revitalisasi Penulisan Publikasi Koran

M. Arifin Zaidin ... 251 - 257

Peningkatan Dan Penguatan Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi Bagi Guru Sains Di Selat Panjang

(9)

Pelatihan Menyusun Tes Ulangan Akhir Semester Kepada Guru-Guru SD Di Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung

Munasik ... 283 - 295

Inservice Training Penulisan Karya Ilmiah Bagi Guru Pekanbaru

Radeswandri, Rian Vebrianto ... 296 - 303

Maju Bersama Raih Masa Depan Dengan Pendidikan Kecakapan Hidup

Ratna Marta Dhewi, Lina Asnamawati, Boedhi Oetoyo, Dem Vi Sara ... 304 - 314

Pengembangan Model Kampung Literasi Untuk Meningkatkan Motivasi Pendidikan Dan Minat Membaca Masyarakat Desa Kolam, Kab. Deli Serdang

Sihar Pandapotan ... 315 - 326

Pelatihan Keterampilan Menjahit Dan Menyulam Pada Anak-Anak Panti Asuhan Hikmah Zam-Zam Banjarmasin

Yuli Triana, Siti Aisyah, St. Rahmah, Jamilah ... 327 - 332

Peningkatan Kemampuan Sdm Dalam Pengelolaan Perpustakaan/Taman Bacaan

Sri suharmini Wahyuningsih, Majidah ... 333 - 339

Sosialisasi Teknologi Pemasaran Kreativitas Sampah Plastik Dan Koran

Ratna Marta Dhewi, Stefani Nawati Ekoresti, Euis Susilowati ... 340 - 349

Peningkatan Kemampuan Komunitas Guru Gugus Urip Sumoharjo Dalam Mendesain Power Point Sebagai Media Pembelajaran Audio Visual

Suhartono, Jamaludin, Ismartoyo, Budiharto ... 350 - 364

Pengelolaan Arsip Desa Untuk Membangun Good Governence Di Lingkup Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan

Siti Samsiyah,Santi Dewiki, Herwati Dwi Utami,Yanti Hermawati ... 365 - 373

Pengemasan Produk Hasil Pengembangan Pertanian Urban Di Perumahan Bukit Indah, Serua, Ciputat, Tangerang Selatan

Tutisiana Silawati, Lilik Aslichati, Ariyanti Hartari, Mochamad Priono ... 374 - 379

Pengembangan Database Kependudukan RW 09 Perumahan Sawangan Permai, Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok Tahun 2015

(10)

Pemberdayaan Pengrajin Kain Tenun Ikat Ainan Fen Melalui Penerapan Prinsip Bisnis Dan Kelembagaan Di Desa Oesena, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang

Wise Rogate Silalahi, Yusinta N. Fina, Yanuardi Longgo ... 398 - 408

Pelatihan Penggunaan Alat Peraga Dan Permainan Dalam Pembelajaran Matematika SD/MI

Yumiati, Endang Wahyuningrum, Tarhadi ... 409 - 418

Pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Kuripan, Ciseeng, Bogor

Tamjuddin, Yun Iswanto ... 419 - 426

Program Penyuluhan Anti Narkoba “Maluku Utara Menuju Generasi Bebas

Narkoba”

Yusuf, Anfas, Raden Sudarwo, Mohbir Umasugi ... 427 - 434

Pemanfaatan Limbah Pertanian Dan Pengawetan Bahan Pakan Ternak Kambing Dengan Metode Si Amofer

Adhi Susilo ... 435 - 449

Pengelolaan Bank Sampah Berbasis Masyarakat Sebagai Upaya Menjaga Sanitasi Lingkungan Desa

Siti Aisyah, Syarif Fadilah, Ridho Harta,Ayi Karyana,Enceng ... 450 - 460

Penyadaran Kritis Usahatani Organik Untuk Mengurangi Hotspot Di Kubu Raya Kalimantan Barat

Wijanarko ... 461 - 473

Pendampingan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Dalam Kaitannya Sebagai Infant Organisasi

(11)

1

PEMANFAATAN PERTANIAN SECARA HIDROPONIK UNTUK MENGATASI

KETERBATASAN LAHAN PERTANIAN DI DAERAH PERKOTAAN

Agnes Puspitasari Sudarmo1

1Jurusan Biologi FMIPA UT

Email: [email protected]

ABSTRACT

The limitations of agricultural land in urban areas are due to the rapid development that results in land use being reduced. Belimbing Posyandu which is located in Cinangka Urban Village, Depok City, is in a rapidly growing residential area. This condition also occurs in the area where the Belimbing Posyandu is located, where development in various fields has reduced the allocation of agricultural land. Limitations of agricultural land will trigger that the vegetable supplies will be reduced. The fulfillment of the needs of vegetables is needed to fulfill the nutritional needs of the community, especially for the growth of children in the period of growth and for nursing mothers. The solution to meet these nutritional needs is the use of agriculture with household-scale hydroponic methods. The implementation of hydroponic community service is carried out by providing information, and demonstrations, and direct planting practices. The result of this activity is that members of Integrated Health and Family Planning Services (Posyandu) can do periodic harvesting of vegetables regularly.

Keywords: hydrophonics, limited agricultural land, integrated health and family planning services

ABSTRAK

Keterbatasan lahan pertanian di daerah perkotaan disebabkan pesatnya pembangunan yang berakibat peruntukkan lahan menjadi berkurang. Pos pelayanan kesehatan-keluarga berencana terpadu (Posyandu) Belimbing yang berada di Kelurahan Cinangka, Kota Depok, berada di daerah pemukiman yang berkembang pesat. Kondisi ini juga terjadi di wilayah Posyandu Belimbing berada, di mana pembangunan di berbagai bidang telah mengurangi peruntukan lahan pertanian tersebut. Keterbatasan lahan pertanian tersebut akan memicu berkurangnya pasokan suplai sayuran. Di lain pihak pemenuhan kebutuhan sayuran diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan gizi bagi masyarakat utamanya bagi pertumbuhan anak-anak dalam masa tumbuh kembang maupun ibu menyusui. Solusi untuk pemenuhan kebutuhan gizi tersebut adalah melalui pemanfaatan pertanian dengan metode hidroponik skala rumah tangga. Pelaksanaan abdimas hidroponik ini dilakukan dengan pemberian informasi, dan demonstrasi, dan praktik penanaman secara langsung. Hasil dari kegiatan ini adalah ibu-ibu posyandu dapat melakukan panen berkala sayuran secara berkala.

(12)

2

PENDAHULUAN

Perkembangan pembangunan maupun pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan perkotaan, akan meningkatkan kebutuhan lahan di daerah perkotaan, yang berakibat lahan-lahan pertanian yang ada dikonversi peruntukkannya menjadi kawasan komersial. Pemerintah mencegah alih fungsi tersebut dengan mengeluarkan UU No.41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Salah satu problem mendasar di daerah perkotaan yang sedang berkembang adalah keterbatasan lahan dan harga tanah yang makin meningkat. Konsekuensinya adalah rumah-rumah di daerah perkotaan umumnya tidak mempunyai halaman rumah atau pekarangan yang luas, sehingga pertanian perkotaan merupakan alternatif untuk menyiasati keterbatasan lahan tersebut (Santoso dan Widya, 2014)

Pertanian perkotaan merupakan salah satu cara untuk pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat perkotaan untuk menyikapi berkurangnya lahan pertanian di perkotaan. Kebutuhan pangan dapat

disuplai salah satunya dari pekarangan yang ditanami dengan aneka ragam sayuran. Lahan pekarangan memiliki potensi yang besar jika dapat dimanfaatkan secara tepat dan benar. Potensi lahan pekarangan tersebut yaitu sebagai penyedia bahan pangan keluarga, mengurangi pengeluaran rumah tangga, dan meningkatkan pendapatan keluarga (Ashari, Saptana, Purwantini, 2012).

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Posyandu Belimbing berada, di mana pembangunan di berbagai bidang telah mengurangi peruntukan lahan pertanian tersebut. Posyandu Belimbing yang berada di Kelurahan Cinangka, Kota Depok, berada di daerah pemukiman yang berkembang pesat. Keterbatasan lahan pertanian tersebut akan memicu pasokan berkurangnya suplai sayuran. Di lain pihak pemenuhan kebutuhan bahan pangan yang bergizi sangat dibutuhkan bagi balita dan anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kebutuhan sayuran diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan gizi bagi masyarakat utamanya bagi pertumbuhan anak-anak dalam masa tumbuh kembang maupun ibu

(13)

3 menyusui agar tubuh mereka selalu dalam keadaan sehat. Seringkali orangtua mengabaikan akan pemberian sayuran bagi keluarga mereka selain karena terbatasnya anggaran belanja, juga masih kurangnya pengetahuan mereka akan manfaat nilai gizi sayuran. Terkait dengan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat (IbM) berfokus pada cara memanfaatkan lahan pekarangan sempit atau halaman rumah yang ada dengan menggunakan metode hidroponik. Sasarannya adalah anggota-anggota Posyandu Belimbing RT 01/ RW 09, Kelurahan Cinangka, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Kegiatan produktif yang ditawarkan bagi anggota Posyandu ini berupa pemeliharaan tanaman dengan metode Hidroponik. Kelompok Posyandu ini belum tersentuh dengan kegiatan IbM UT meskipun keberadaaan Posyandu ini sudah berdiri sejak 9 tahun yang lalu. Lokasi Posyandu ini hanya berjarak kurang dari 4 km dari Universitas Terbuka (UT) sehingga kondisi ini merupakan lokasi yang ideal untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat agar kontribusi UT

sebagai institusi dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar lingkungan UT.

Target kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah:

1) memberikan informasi kepada ibu-ibu Posyandu tentang berkebun dengan metode hidroponik,

2) meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota kelompok dalam memelihara tanaman sayuran dengan metode hidroponik.

KAJIAN TEORI

Pemanfaatan pekarangan ataupun halaman rumah yang terbatas dapat mempunyai nilai tambah yang maksimal jika dilakukan secara tepat dan mempunyai konsep yang jelas. Lahan pekarangan yang ada umumnya belum dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, kalaupun dilaksanakan, masih bersifat sambilan atau mengisi waktu luang. Ashari et al. (2012) menyatakan perlu dilakukan rancangan pemanfaatan pekarangan yang lebih komprehensif untuk mengoptimalkan peran lahan pekarangan sebagai penyangga ketahanan pangan rumah tangga. Pekarangan dengan keanekaragaman di

(14)

4 dalamnya juga mempunyai potensi yang besar untuk menaikkan daya dukung lingkungan.

Santoso dan Widya (2014) menyatakan gerakan pertanian perkotaaan dapat menjadi tulang punggung dalam meningkatkan kemandirian masyarakat terutama menjaga ketahanan pangan dalam skala rumah tangga. Keterbatasan lahan yang sempit tersebut memunculkan pilihan bertani dengan sistem hidroponik. Hidroponik adalah sistem menanam dimana kebutuhan nutrisi tanaman diperoleh dari larutan nutrisi/ air tanpa menggunakan media tanah (Wikipedia, 2017). Pada sistem hidroponik penggunaan airnya lebih efisien daripada budidaya dengan menggunakan tanah. Sistem budidaya/bercocok tanam dengan menggunakan tanah, air disiram langsung pada tanaman, tetapi pada sistem hidroponik air secara efisien disirkulasi dalam suatu wadah (Gambar 1). Penggunaan sistem hidroponik dapat digunakan pada daerah yang terbatas pasokan / sumber air yang terbatas ataupun lahan yang terbatas atau tidak terlalu luas. Media

tanaman dapat dirancang dengan berbagai cara misalnya dibuat secara bertingkat ataupun horizontal sesuai dengan luasan lahan yang ada. Kualitas panen sayuran yang dihasilkan menggunakan sistem ini hidroponik adalah sayuran organik (bebas pestisida) dan dari segi pertumbuhan tanaman cepat tumbuhnya.

METODE PELAKSANAAN

Strategi Pendekatan

Tim berkoordinasi dengan Ketua Posyandu Belimbing RT01 RW 09 Kelurahan Cinangka Kecamatan Sawangan Kota Depok untuk menjelaskan maksud dan tujuan IbM yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut, yaitu tentang inovasi menanam sayuran hidroponik untuk ibu rumah tangga. Dalam pelaksanaan kegiatan, tim IbM akan memberikan informasi dan demonstrasi tentang pembuatan sistem hidroponik, praktik penanaman dan pemeliharaan tanaman dan melakukan panen berkala untuk sayuran selama program IbM.

(15)

5

Sasaran

Yang menjadi target audiens atau sasaran dalam kegiatan IbM ini adalah seluruh anggota Posyandu Belimbing RT01 RW 09 Kelurahan Cinangka Kecamatan Sawangan Kota Depok.

Teknik Intervensi

Teknik intervensi untuk kegiatan IbM ini dilakukan melalui demonstrasi langsung di hadapan para peserta tentang budidaya tanaman sayuran menggunakan sistem hidroponik.

Gambar 2: Alat dan bahan praktik

hidroponik

Gambar 3. Peralatan Hidroponik dan panen sayuran dengan metode Hidroponik

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat (PkM) tentang Hidroponik Sayuran di Posyandu Belimbing RT01 RW 09 Kelurahan Cinangka Kecamatan Sawangan Kota Depok dimulai dengan memberikan pre-test terlebih dahulu. Pre Test ini berisi sejumlah pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sampai sejauh mana pengetahuan anggota Posyandu Belimbing tentang Alat dan Bahan yang harus disiapkan :

1. Paralon berukuran 3 inchi, 2. Alat bor listrik,

3. Penyambung paralon, 4. Penutup paralon, 5. Lem paralon,

6. Gergaji pemotong paralon, selang,

7. Pompa aquarium, 8. Solder,

9. Media tanam hidroponik, 10. Benih tanaman,

(16)

6 materi kegiatan budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik. Manfaat Pre Test, tim abdimas UT akan dapat mengukur dan mengetahui pengetahuan anggota Posyandu sebelum penyuluhan sehingga dapat dicari cara tepat untuk menyampaikan materi hidroponik. Tim PkM dari FMIPA Universitas Terbuka membimbing ibu-ibu anggota posyandu yang berjumlah 18 orang yang hadir untuk mengisi Pre Test tersebut.

Setelah kegiatan penyuluhan dan demo selesai dilaksanakan, maka dilakukan kegiatan Post Test. Pada kegiatan Post Test, berisi sejumlah pertanyaan untuk mengukur sampai sejauh mana anggota Posyandu telah mengerti atas materi penyuluhan tentang sistem hidroponik yang telah disampaikan. Anggota Posyandu diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang telah diberikan setelah penyuluhan berakhir.

Jumlah pertanyaan Pre Test dan Post Test terdiri dari masing-masing 4 butir yang berhubungan dengan pengetahuan tentang hidroponik, pemahaman tentang hidroponik, sumber dari mana mengetahui

hidroponik, apakah ada warga yang sudah memakai sistem hidroponik tersebut. Terkait pertanyaan tentang pengetahuan mengenai sistem hidroponik, hasil pre test dan post test menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan warga tentang budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik dari 83,33% menjadi 100%.

Pemahaman warga tentang hidroponik merupakan budidaya tanaman menggunakan media air sebelum penyuluhan abdimas dilaksanakan (pre test) sebesar 77,79%. Hanya sebagian kecil yaitu 22,21% anggota posyandu yang mempunyai pemahaman bahwa hidroponik merupakan budidaya tanaman menggunakan media tanah dan sekam/sabut kelapa. Setelah penyuluhan dan praktik (post test), hampir 89% memahami bahwa hidroponik merupakan budidaya tanaman menggunakan media air.

Butir pertanyaan ketiga terkait dengan sumber pengetahuan anggota sebelum penyuluhan diperoleh dari instansi pendidikan dan penyuluhan dinyatakan oleh 72,23% dan 27,77

(17)

7 persen dari media massa berupa koran, majalah atau TV. Seluruh warga mengetahui ada tetangga sekitar yang sudah menanam sayur dan buah dengan sistem hidroponik.

Dari hasil pre test, dapat digambarkan bahwa anggota Posyandu Belimbing sudah mempunyai tingkat pengetahuan relatif awal yang cukup terkait dengan sistem budidaya tanaman dengan sistem hidroponik. Setelah kegiatan IbM, anggota posyandu mengetahui bahwa hidroponik adalah bercocok tanam dengan menggunakan media air yang telah diberi nutrisi untuk mendukung perkembangan tanaman yang akan diserap oleh akar.

Gambar 4. Foto Bersama Tim IbM FMIPA Program Studi Agribisnis Universitas Terbuka dengan Ketua Posyandu Belimbing RT01 RW 09

Kelurahan Cinangka Kecamatan Sawangan Kota Depok

KESIMPULAN

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Tim Abdimas prodi Agribisnis FMIPA UT ini dapat mencapai target sesuai yang telah direncanakan yaitu:

Program kegiatan pengabdian masyarakat kepada anggota posyandu Belimbing tentang materi budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik sesuai dengan jadwal kegiatan. Ibu-ibu anggota posyandu Belimbing mengikuti kegiatan ini dengan penuh perhatian, hal ini dapat dilihat dengan partisipasi aktif mereka selama kegiatan ini. Sebagai motivasi bagi anggota Posyandu pada akhir kegiatan IbM, tim abdimas FMIPA UT memberikan beberapa hidroponik kit sederhana agar mereka dapat memulainya di rumah masing-masing, atau dalam kelompok kecil.

Masyarakat terutama anggota Posyandu Belimbing setidaknya dapat memanfaatkan sayuran hasil panen dari alat hidroponik bantuan Program

(18)

8 Kegiatan Pengabdian Masyarakat UT untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing. Di mana hasil panen sayuran tersebut adalah sayuran organik yaitu dijamin sehat dan bebas dari pestisida. Ketua Posyandu Belimbing bersama dengan anggota posyandu dapat memanfaatkan keberadaan alat tersebut dan jika memungkinkan merupakan sumber penghasilan baru dari hasil panenan sayuran Selain itu mereka diharapkan dapat menularkan kegiatan ini ke masyarakat lainnya di wilayah setempat, sehingga kebutuhan sayuran dapat terpenuhi secara mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, Saptana, Purwantini, T.B. (2012). Potensi dan Pemanfaatan Lahan Pekarangan Untuk Ketahanan Pangan.

Forum Penelitian Agro Ekonomi.

30 (1): 13-30.

http://pse.litbang.pertanian.go.i d/ind/pdffiles/FAE30-1b.pdf. Diakses pada 04 April 2017 Santoso, E.B. dan Widya, R.R. (2014).

Gerakan pertanian perkotaan dalam mendukung kemandirian masyarakat di kota Surabaya.

Seminar Nasional CITIES.

UU No.41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Hidroponik.

https://id.wikipedia.org/wiki/. Diakses pada 15 April 2017

(19)

9

PELATIHAN PENGISIAN BASIS DATA POTENSI DESA JABON MEKAR,

KECAMATAN PARUNG, KABUPATEN BOGOR TAHUN 2017

Agus Joko Purwanto1,Chanif Nurcholis2, Made Yudhi Setiani3,Mani Festati4, Anto

Hidayat5

Program Studi Ilmu Pemerintahan, FHISIP-UT E-mail: [email protected]

ABSTRACT

Village funding policies encourage villages to implement effective management starting from planning, implementing, monitoring, and reporting the use of village funds. This community service activity was carried out in Jabon Mekar Village, Parung, Bogor. With the low level of education of the Jabon Mekar villagers, the small number of educational facilities, and lack of adequate natural resources to sustain the community's economy, it is difficult for most villagers to compete for jobs in the formal sector. Opportunities that are still open are doing independent business. The main problem in the field of village governance is problem of village data collection, village data management, and village planning. Based on these problems, village data management training was carried out to support village planning. Training was given to RTs, RWs, and village officials. Participants are trained to fill in family data forms, village profile forms, and village potential forms. In addition, the Head of Planning Affairs and the Village Secretary were trained to use village data for village planning purposes. Outcomes of activities are trained apparatus to fill village data and use it for village planning.

Keywords: village data, village planning, village profile, village potention

ABSTRAK

Kebijakan pendanaan desa mendorong desa untuk menerapkan manajemen yang efektif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pelaporan penggunaan dana desa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Jabon Mekar, Parung, Bogor. Dengan rendahnya tingkat pendidikan penduduk desa Jabon Mekar, sedikitnya jumlah fasilitas pendidikan, dan kurangnya sumber daya alam yang memadai untuk menopang perekonomian masyarakat, sulit bagi sebagian besar penduduk desa untuk bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal.Peluang yang masih terbuka adalah melakukan bisnis mandiri. Masalah utama di bidang pemerintahan desa adalah masalah pengumpulan data desa, pengelolaan data desa, dan perencanaan desa. Berdasarkan masalah ini, pelatihan pengelolaan data desa dilakukan untuk mendukung perencanaan desa. Pelatihan diberikan kepada RT, RW, dan aparat desa. Para peserta dilatih untuk mengisi formulir data keluarga, formulir profil desa, dan formulir potensi desa. Selain itu, Kepala Urusan Perencanaan dan Sekretaris Desa dilatih untuk menggunakan data desa untuk tujuan perencanaan desa. Hasil dari kegiatan adalah peralatan yang terlatih untuk mengisi data desa dan menggunakannya untuk perencanaan desa.

(20)

10

PENDAHULUAN

Desa Jabon Mekar merupakan salah satu desa di Kecamatan Parung Kabupaten Bogor hasil pemekaran dari Desa Iwul pada 16 Januari 1986. Melihat usianya maka Desa Jabon Mekar merupakan Desa yang sedang tumbuh. Pada tahun 2916 jumlah penduduk Desa Jabon Mekar adalah 8.867 jiwa yang terdiri dari 4.558 orang laki laki dan 4.309 perempuan. Komposisi penduduk penduduk Jabon Mekar terdiri dari 38% berusia di bawah 14 tahun, sedangkan pendudukan yang sudah tidak produktif (berusia di atas 60 tahun) sebanyak 6%. Pendudukan usia produktif (15-59 tahun) berjumlah 66%. Komposisi ini menunjukkan bahwa penduduk produktif Desa Jabon Mekar memiliki beban yang tinggi karena harus menanggung 44% penduduk usia tidak produktif dan belum produktif.

Jika dilihat dari tingkat pendidikan, mayoritas penduduk Desa adalah berpendidikan rendah. Sejumlah 54% penduduk Desa adalah tamat SD dan tidak tamat SD, 39% penduduk Desa berpendidikan menengah pertama dan atas, dan hanya 6% penduduk Desa Jabon Mekar yang berpendidikan tinggi

Diploma, S-1, S-2 dan S-3. Sebanyak 21,3% penduduk Desa Jabon Mekar tidak bersekolah. Sedangkan jika dilihat dari pekerjaan, mayoritas penduduk Desa Jabon Mekar adalah buruh pabrik (2.398 orang), mengurus rumah tangga 2.608 orang, dan 2. 213 sebagai pelajar. Sisanya bekerja sebagai PNS, tenaga honorer, karyawan swasta, tukang, wiraswasta, pedagang, buruh tani, peternak, ustadz, sopir, tukang ojek, bidan, dan mahasiswa. Sebanyak 181 orang tidak berkerja, dan 274 orang dikategorikan lainnya.

Desa Jabon Mekar tidak memiliki sumberdaya alam yang memadai untuk menopang ekonomi masyarakat. Dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan jumlah sarana pendidikan yang sedikit sulit bagi sebagian besar warga Desa untuk bersaing mendapatkan pekerjaan di sector formal. Peluang yang masih terbuka adalah melakukan usaha mandiri. Dalam wawancara dengan Sekretaris Desa pada tanggal 4 April 2017 diperoleh informasi bahwa pada tahun 2017 ini, Pemerintah Desa Jabon Mekar akan memperoleh bantuan dana desa dari berbagai sumber hampir sekitar 1,8

(21)

11 milyar rupiah. Jumlah dana tersebut cukup besar untuk menggerakkan ekonomi desa.

Dari hasil wawancara dengan Sekretariat Desa dan Dokumen Rencana Pembangunan Desa Jabon Mekar 2017 diperoleh data dan informasi tentang permasalahan yang umum dihadapi oleh Desa, adalah permasalahan bidang pemerintahan desa, bidang pembangunan dan bidang pemberdayaan dan pembinaan masyarakat. Dalam kegiatan ini, masalah yang akan digarap adalah dalam pemerintahan desa terutama dalam perencanaan desa.

Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh Desa Jabon Mekar, pada tahap awal strategi pemecahan masalah pembangunan di Desa Jabon Mekar adalah pengembangan database geografis dan demografis desa yang akan digunakan sebagai dasar penyusunan rencana kerja desa. Kegiatan tersebut adalah:

a. Pelatihan aparat desa dalam pengumpulan, input data, pengolahan dan pemanfaatan basis data desa,

b. Pengembangan basis data desa yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan Target kegiatan ini adalah aparat terlatih dalam menggunakan computer dalam pengumpulan data, input data, pengolahan dan pemanfaatan basis data desa untuk penyusunan perencanaan jangka menengah dan operasional desa sesuai dengan Permendagri 114 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa.

KAJIAN TEORI

Perencanaan desa seperti yang ditentukan dalam Permendagri 114 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa pada dasarnya adalah sebuah perencanaan strategis yang dilaksanakan di desa. Perenancanaan strategis tersebut dikembangkan dan dikombinasikan dengan prinsip-prinsip balance scorecard. Prinsip tersebut menjelaskan bahwa setiap perencanaan yang disusun harus didasarkan pada kebutuhan, yang terbaca dari data dan informasi yang diperoleh di lapangan. Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut kemudian

(22)

12 disusun perencanaan, lalu perencanaan dilaksanakan, dimonitor dan dievaluasi. Dalam literature langkah tersebut dikenal sebagai strategic planning. Strategic planning terdiri dari beberapa fase yaitu:

1) analysis or assessment, where an understanding of the current

internal and external

environments is developed, 2) strategy formulation, where high

level strategy is developed and a basic organization level strategic plan is documented

3) strategy execution, where the high level plan is translated into more operational planning and action items, and

4) evaluation or sustainment / management phase, where

ongoing refinement and

evaluation of performance, culture, communications, data reporting, and other strategic management issues occurs.

Dalam kegiatan ini fase yang dilaksanakan adalah fase pertama yaitu melakukan analisis internal dan eksternal. Analisis internal dilakukan dengan mendata kekuatan dan

kelemahan organisasi. Analisis internal dilakukan dengan menganalisis data kekuatan desa dalam bentuk potensi desa dan data kelemahan dalam bentuk data masalah desa. Dalam konteks perencanaan strategis analisis kekuatan dan kelemahan didefinisikan sebagai berikut:

Strengths describe what an

organization excels at

and separates it from the

competition: a strong brand, loyal customer base, a strong balance sheet, unique technology and so on. For example, a hedge fund

may have developed a

proprietary trading strategy that returns market-beating results. It must then decide how to use those results to attract new investors.

Weaknesses stop an organization

from performing at its optimum level. They are areas where the business needs to improve to remain competitive: higher-than-industry-average turnover, high levels of debt, an inadequate supply chain or lack of capital.

(23)

13 Dari kutipan tersebut nampak jelas bahwa analisis internal dan eksternal, yang dalam Permendagri disebut sebagai analisis potensi dan masalah, merupakan langkah yang sangat menentukan dalam

pengembangan program

pembangunan. Kompetensi dalam mengumpulkan data, menata data, dan melakukan analisis menjadi kunci keberhasilan perencanaan desa. Empat fase perencanaan tersebut menjadi dasar pengembangan Permendagri 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa yang menjadi pedoman pengembangan kegiatan ini.

METODE PELAKSANAAN

Pada bagian Pendahuluan disampaikan bahwa salah satu dari tiga permasalahan utama Desa Jabon Mekar dalam bidang pemerintahan desa adalah masalah pendataan desa, pengelolaan informasi desa, dan penyelenggaraan perencanaan desa. Dari hasil wawancara dengan mitra, hal yang mendasar adalah masalah data potensi desa yang benar dan mudah diakses. Untuk membantu memnyelesaikan masalah tersebut, Tim

PkM melakukan intervensi dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menganalisis kebutuhan data desa untuk memenuhi kebutuhan penyusunan perencanaan jangka menengah dan operasional desa sesuai dengan Permendagri 114 Tahun 2014.

b. Menyusun basis data potensi desa.

c. Melakukan sosialisasi aplikasi basis data potensi desa kepada aparat desa dan petugas pengumpulan data dan petugas input data yang ditunjuk oleh Kepala Desa.

d. Melakukan pelatihan dan pendampingan penggunaan (input data, pengolahan dan pemanfaatan) aplikasi basis data potensi desa kepada aparat desa dan petugas pengumpulan data dan petugas input data yang ditunjuk oleh Kepala Desa. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah mitra mampu melakukan pendataan potensi desa melalui kegiatan pengumpulan data, input data

(24)

14 ke dalam aplikasi data potensi desa, pengolahan data, dan penggunaan data untuk penyusunan perencanaan desa sesuai Permendagri 114 tahun 2014.

Kebutuhan data desa dianalisis dengan melakukan wawancara dan observasi terhadap data sekunder yaitu data kependudukan desa. Dari hasil wawancara dan observasi tersebut ternyata setiap desa sudah diberikan data oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) berupa data dinamis penduduk yang ada di kantor Dukcapil, yaitu data penduduk tercatat di Dukcapil berdasarkan kepemilikan kartu tanda penduduk (KTP). Dari hasil wawancara dengan aparat desa Jabon Mekar, penduduk yang tinggal di Desa Jabon Mekar namun tidak memiliki KTP Desa Jabon Mekar tidak tercatat dalam data Desa, termasuk penduduk Jabon Mekar yang belum memiliki KTP. Perbedaan data ini akan menyebabkan penyediaan layanan yang tidak tepat karena jumlah penduduk yang sebenarnya lebih besar dari pada penduduk yang tercatat dalam data Desa. Temuan lain yaitu data tentang potensi kekayaan dan potensi masalah belum tercatat dalam data desa dan

bukan merupakan data yang disampaikan oleh Dinas Dukcapil. Dengan demikian, data dan informasi yang dibutuhkan Desa untuk melakukan perencanaan desa belum sepenuhnya tersedia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada pelatihan yang telah dilaksanakan, materi yang dilatihkan adalah bagaimana aparat desa, RT, dan RW melengkapi data desa yang kurang. Cara melengkapi datanya adalah:

1) RT melakukan pendataan pada wilayah masing masing dengan cara mengisi form Data Dasar Keluarga.

2) Data tingkat RT yang telah tersusun kemudian di rekap pada tingkat RW dengan menggunakan Form Data Dasar Keluarga yang sama.

3) Data pada tingkat RW ini menjadi data dasar data tingkat Desa. Aparat Desa akan melakukan rekapitulasi data tiap RW untuk digabungkan menjadi data Desa dengan form Tingkat Perkembangan Desa dan Kelurahan.

(25)

15

4) Pada tingkat Desa, terdapat tiga form yang harus diisi yaitu form Tingkat Perkembangan Desa dan

Kelurahan, Form Potensi Desa, dan Form Profil Desa.

Bagan 1 Alur Kerja Penyusunan Perencanaan Desa

Pelatihan yang dilaksanakan merupakan pelatihan simulasi pengisian data RT, RW dan Desa. Dilakukan pula wawancara dan simulasi penyusunan perencanaan Desa Bersama Kepala Urusan Perencanaan Desa. Dari hasil wawancara dan simulasi ternyata data desa yang ada belum mencukupi untuk

penyusunan rencana. Di samping itu, dalam melakukan perencanaan mulai tahap awal yaitu tahap musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) data desa tidak menjadi bahan utama Musrenbang.

Dengan demikian keberadaan data desa belum dianggap sebagai bagian penting dalam perencanaan Pengisian Data dasar keluarga oleh RT Pengisian Data dasar keluarga oleh RT Pengisian Data dasar keluarga oleh RT Rekap Data dasar keluarga oleh RW Pengisian Form Tingkat Perkembangan Desa

dan Kelurahan oleh Desa Pengisian Form Potensi Desa oleh Aparat Desa Pengisian Form Profil Desa oleh Aparat Desa Musrenbang Perencanaan Jangka Menengah dan Jangka Pendek Desa

(26)

16 desa. Secara skematis pelatihan pengisisn adata dasar yang diberikan dapat digambarkan sebagai berikut.

Dalam pelatihan yang dilatihkan adalah pengisian data dasar keluarga, data potensi desa dan data profil desa. Untuk meningkatkan keefektifan pelatihan dan penyusunan perencanaan desa, UT memberikan seperangkat computer beserta form form isian digital yang siap untuk diisi dengan data desa. Pelatihan dilaksanakan di Kantor Desa Jabon Mekar Tanggal 6 November 2017. Jumlah peserta 14 orang yang terdiri dari Aparat Desa dan RT dan RW. Luaran pelatihan ini adalah:

a. Para RT peserta pelatihan mampu mengisi data form data dasar keluarga.

b. Para RW mampu mengisi form data dasar keluarga yang datanya dikumpulkan para RT. c. Aparat desa mampu mengisi

form potensi desa dan form profil desa, serta menggunakan data desa untuk perencanaan desa.

Dari hasil melakukan pelatihan perencanaan desa, tergambar bahwa

masih terlalu berat bagi aparat dan tokoh masyarakat untuk melakukan perencanaan desa dengan alur berpikir strategic management. Mereka kurang memiliki pengetahuan berpikir strategis dan belum terbiasa melakukan perencanaan berbasis data, melakukan

analisis dan menyusun

perencanaannya. Di sisi lain tuntutan penggunaan dana desa yang transparan, akuntabel, sesuai kebutuhan desa memang memerlukan perencanaan strategis. Dilema ini dapat dipecahkan dengan menerjunkan ahli untuk menjadi pelatih, pendamping, dan supervisor dalam seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pelaporan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pelatihan tanggal 6 November 2017, dilakukan monitoring pada tanggal 14 Desember 2017. Hasil monitoring menunjukkan bahwa:

a. Aparat RT, RW, dan Aparat Desa sudah dapat mengisi form-form yang harus diisi, namun belum dilaksanakan sepenuhnya. Sehingga data yang diharapkan

(27)

17 diisikan dalam format digital belum dilakukan.

b. Kaur Perencanaan belum

mampu membaca dan

menggunakan data desa secara benar untuk keperlukan perencanaan Desa.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, masih diperlukan pendampingan intensif untuk melaksanakan pemutakhiran data baik data penduduk, profil desa, dan potensi desa yang sudah dimiliki. Agar basis data Desa Jabon Mekar dapat tersusun dengan baik, Tim PkM Program studi Ilmu Pemerintahan UT secara regular akan melakukan pendampingan. Kegiatan perlu dilanjutkan dalam bentuk pelatihan penyusunan perencanaan desa dengan menggunakan data desa yang sudah disusun.

DAFTAR PUSTAKA

Balanced Scorecard Insitute, Strategic

Planning Basics.

https://www.balancedscorecard

.org/BSC-Basics/Strategic-Planning-Basics. Diunduh pada 25 Oktober 2018

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2007 Tentang Perencanaan Pembangunan Desa

(28)

18

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERCOCOK TANAM DENGAN METODE

HIDROPONIK DI KELURAHAN MUKAKUNING, KOTA BATAM

Albert Gamot Malau1, Adisti Yuliastrin2,Haholongan Simanjuntak3, Elliaki Gulo4

1Program studi Agribisnis, 2Biologi, 3Pendidikan Matematika, 4Manajemen

Universitas Terbuka Email:[email protected]

ABSTRACT

Batam City, which is an industrial area, has fewer agricultural land, resulting in higher prices of basic commodities such as vegetables. With limited land, there is a concept of farming in urban areas by utilizing narrow land called Urban Farming. Through a combination of conventional agricultural concepts and Urban Farming, food needs will be fulfilled from their own gardens. If Batam City is able to realize this, then we have been able to eliminate the risk of the problem of high vegetable prices. To help make it happen, the community service team provides training in the development of urban farming to residents of Muka Kuning Village, Batam City. The results obtained include: (1) residents are able and understand what plants can be planted with hydroponic methods, (2) residents have understood how to plan the cost of farming by using hydroponic methods, (3) residents understand what tools used in hydroponic farming, and (4) residents can train other residents in farming using Hydroponic method.

Key words: hydrophonic method, urban farming, self-sufficiency in vegetatables

ABSTRAK

Kota Batam yang merupakan kawasan Industri, lahan pertaniannya semakin sedikit, sehingga berakibat harga bahan pokok berupa sayur-sayuran semakin tinggi. Dengan lahan yang terbatas maka ada konsep bertani di daerah perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit yang disebut Urban Farming. Melalui perpaduan konsep pertanian konvensioanal dan Urban Farming, maka kebutuhan pangan akan tercukupi sendiri. Apabila Kota Batam mampu mewujudkan ini, maka kita telah mampu mengeliminir resiko masalah harga sayur mayur yang cukup tinggi. Untuk membantu mewujudkannya, tim pengabdian kepada masyarakat memberikan pelatihan pengembangan urban farming kepada warga Kelurahan Muka Kuning, Kota Batam. Hasil yang diperoleh antara lain: (1) warga suda mampu dan memahami tanaman apa saja yang dapat ditanam dengan metode hidroponik, (2) warga sudah memahami bagaimana perencanaan biaya bercocok tanam dengan mengunakan metode hidroponik, (3) warga memahami alat-alat apa saja yang digunakan dalam bercocok tanama hidroponik, dan (4) warga dapat melatih warga lain dalam bercocok tanam dengan menggunakan metode Hidroponik

(29)

19

PENDAHULUAN

Kota Batam adalah salah satu kota di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Kota Batam merupakan sebuah pulau yang terletak sangat strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional. Kota ini memiliki jarak yang dekat dengan Singapura dan Malaysia. Kota Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 orang penduduk, namun hingga Desember 2008 jumlah penduduk telah bertambah menjadi 915.882 jiwa. Pada dekade 1970-an, dengan tujuan awal menjadikan Batam sebagai Singapura-nya Indonesia, maka sesuai Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam (BOB) sebagai penggerak pembangunan Batam. Adapun Kota Batam ini memiliki luas wilayah daratan seluas 715 km² atau sekitar 115% dari wilayah

Singapura, sedangkan luas wilayah keseluruhan mencapai 1.570.35 km².

Kota Batam yang merupakan kawasan industri, yang mengakibatkan lahan pertanian semaking sedikit, dan berakibat harga bahan pokok berupa sayur-sayuran semakin tinggi. Dengan lahan yang terbatas maka ada konsep bertani di daerah perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit yang ada. Konsep itu bernama Urban Farming. Kita tidak lagi memerlukan lahan yang luas untuk bertani. Cukup memanfaatkan lahan sempit yang tersedia di halaman rumah atau teras, kita tetap mampu menanam sayur atau buah-buahan, bahkan padi sekalipun. Bisa kita bayangkan, apabila kita dapat memadukan konsep pertanian

konvensional dan Urban Farming, maka

kita akan mampu mencukupi kebutuhan pangan kita sendiri bahkan mampu mengespornya ke negara lain. Hal Ini tidak saja memberi keuntungan ekonomis namun juga membuat Kota Batam memiliki ketahanan pangan yang kuat dan akan membawa Kota Batam swasembada Pangan. Apabila Kota Batam mampu mewujudkan ini, maka kita telah mampu mengeliminir resiko

(30)

20 masalah harga sayur mayur yang cukup tinggi.

Pola tanam hidroponik dikenalkan oleh William Frederick Gericke dari Universitas California di Berkeley yang mulai mempromosikan secara terbuka tentang Solution culture

yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian. Hingga kemudian pada tahun 1937 Gerick menciptakan istilah hidroponik untuk budidaya tanaman air. Hidroponik berasal dari bahasa Latin yang berarti hydro (air) dan ponos (kerja). Selanjutnya hidroponik didefinisikan secara ilmiah sebagai suatu cara budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, akan tetapi menggunakan media inert seperti gravel, pasir, peat, vermikulit, pumice atau sawdust, yang diberikan larutan hara yang mengandung semua elemen essensial yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal tanaman (Resh, 1998). Metode penanaman hidroponik memiliki berbagai macam keunggulan, yaitu pertumbuhan tanaman dapat di kontrol, tanaman dapat berproduksi dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi, tanaman jarang terserang hama

penyakit karena terlindungi, pemberian air irigasi dan larutan hara lebih efisien dan efektif, dapat diusahakan terus menerus tanpa tergantung oleh musim, dan dapat diterapkan pada lahan yang sempit (Harris, 1988). Hidroponik merupakan metode bercocok tanam yang biasanya digunakan untuk menanam sayuran.Sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh. Sebagai upaya untuk memenuhi sumber vitamin dan mineral maka warga kota dapat memanfaatkan pekarangannya yang sempit. Contoh sayuran yang biasanya ditanam dengan menggunakan hidroponik adalah sawi, bayam, selada, kangkung, tomat dan lain-lain.

Terdapat beberapa

permasalahan yang terkait dengan lahan yang terbatas yang relevan dengan Program keterampilan bercocok tanam dengan metode hidroponik bagi masyarakat, yaitu sebagai berikut (1) Bagaimana memotivasi (membangun kemauan) masyarakat supaya dapat bercocok tanam dengan metode hidroponik, (2) Bagaiman menyusun perencanaan program wirausaha bercocok tanam dengan metode

(31)

21 hidroponik, (3) Bagaimana menyusun keuangan program wirausaha bercocok tanam dengan metode hidroponik, dan (4) Bagaimana menyusun proposal pengajuan program wirausaha bercocok tanam dengan metode hidroponik. Oleh karena itu, perlu diadakannnya pelatihan bercocok tanam dengan metode hidroponik bagi warga RW 02 Kelurahan Muka Kuning di Kawasan Industri Batamindo.

KAJIAN TEORI

Menurut Mathis (2002), pelatihan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, proses ini terikat dengan berbagai tujuan organisasi, pelatihan dapat dipandang secara sempit maupun luas. Pelatihan (training) adalah “sebuah proses sistematis untuk mengubah perilaku kerja seorang/sekelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi”. Menurut Ariningsih,dkk (2008) selain potensi terjadinya kerawanan pangan permasalahan lain pertahanan pangan dan gizi adalah tingkat konsumsi

sebagian penduduk Indonesia yang masih di bawah anjuran pemenuhan gizi (diproduksi dengan pola pangan harapan). Oleh karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi adalah dengan pemanfaatan lahan perkarangan rumah tangga. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam tanaman (Lingga, 1984). Hidroponik adalah teknik penanaman dengan media tanam non tanah, bisa berupa kerikil, pasir kasar, atau sabut kelapa

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan pengabdian masyarakat ini difouskan pada kegiatan pelatihan Bercocok Tanam dengan Metode Hidroponik Bagi Masyarakat Kelurahan RT/RW 02 Kawasan Industri Batamindo Pelatihan tersebut melibatkan warga di RT/RW 02 Kawasan Industri Batamindo. Agar pelaksanaan pelatihan bagi masyarakat ini lebih terarah, maka metode yang digunakan adalah metode lesson study (LS) dengan tiga tahap kegiatan utama yaitu: (1)

(32)

22 tahap perencaan dan persiapan (plan), (2) tahap pelaksanaan (do), dan (3) tahap evaluasi dan refleksi (see), (Lewis, 2002). Adapun uraiannya sebagai berikut:

Tahap Persiapan

Pertama melakukan identifikasi terhadap warga RT/RW 02 Kawasan Industri Batamindo, yang berminat bercocok tanam dengan menggunakan metode hidroponik.

Kedua menyiapkan materi pelatihan hidroponik mulai dari perencanaan, pelaksanan dan evaluasi. Pada bagian perencanaan meliputi (1) penyusunan angaran bercocock tanam mengunakan metode hidroponik, (2) menjelasakan keuntungan dan kelemahan bercocok tanam hidroponik, (3) penyiapan bahan dan alan habis pakai. Pada bagian Pelaksanaan meliputi (1) bagaimana mendisain ruang (tempat) bercocok tanam, (2) bagaimana cara pembibitan, (3) bagaimana cara pemberian pupuk dan penanaman terhadap tanaman hidroponik, (4) koordinasi dengan pihak mitra. Pada Pelaksanan Evaluasi meliputi (1) simulasi praktek kepada setiap kelompok, (2) monitoring kepada kelompok tani hidroponik yang

dilakukan mitra. Adapun alat yang digunakan adalah: (1) sisa botol aqua gelas, (2) busa, (3) kater, (4) bibit tanaman, (5) paralon ukuran 5 cm, dan lain-lain.

Tahap Pelaksanaan

Tahap ini meliputi tahap pelatihan dan

workshop bercocok tanam hidroponik

dengan narasumber dari Staf Dosen UPBJJ-UT Batam dengan pihak Mitra PT Tunas Karya Indonesia. Tahap pelaksanan ini menjelaskana manfaat,dan keuntugan bercocok tanaman dengan hidroponik. Pada tahap ini juga dijelaskana juga perencanaan biaya dalam bercocok tanama hidroponik, Pada tahap ini juga ada praktek langsung mulai dari tahap persiapan,pelaksanan dan evaluasi, dan diharapkan peserta melakukan bimbingan kepada warga di lingkungan masing-masing. Secara Garis besar daftar isi pelatihan Bercocok tanam Hidroponik adalah sebagai berikut: Bab 1. Pendahuluan

Bab 2. Pengertian dan Manfaat Hidroponik

(33)

23 Bab 4. Perencanaan Biaya Hidroponik

Bab 5. Praktek/workshop Hidroponik

Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi dilakukan untuk melihat sejauhmana keberlanjutan pelatihan bercocok tanam Hidroponik oleh pihak Mitra . Sedangkan Tahap pelaporan akhir untuk melaporkan bagaimana pelaksanaan dan hasil pelaksanaan kegiatan di lapangan ke LPPM Universitas Terbuka.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh sekitar 55 orang peserta yang terdiri dari laki-laki dan wanita serta kelompok remaja yang berminat bercocok tanam dengan hidroponik. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah bertambahnya pengetahuan serta pengalaman masyakat dalam metode bercocok tanam menggunakan sistem vertikultur dan hidroponik. Melalui demonstrasi dan workshop yang dilaksanakan, masyarakat dapat melakukan sendiri proses pembibitan, pencampuran nutrisi, penanaman, dan pembuatan tempat dan media tanam.

Pembuatan media tempat menanam adalah dengan menggunakan peralon yang dilubagi menggunakan bor atau kaleng kemasan olahan ikan dengan diameter 4 cm. Selain itu digunakan juga toples yang dilubagi bagian tutupnya dengan diameter 4 cm, serta menggunakan botol plastik kemasan air minum yang tidak digunakan lagi, yang dibagi 2, kemudian bagian atas digunakan sebagai tempat tanaman, sedangkan bagian bawah untuk tempat media tanam. Pada proses penanaman, media hidroponik yang sudah siap pakai dimasukkan ke dalam toples atau botol atau bak (sesuai kebutuhan). Kemudian bibit tanaman yang sudah siap pakai dipindahkan ke dalam netcup dengan rockwoll, dan sementara akar belum tumbuh mencapai media tanam, netcup diberi kain flanel yang berfungsi sebagai saluran nutrisi untuk tanaman.

Pada kesempata ini peserta juga dibekali bibit serta alat-alat pelatihan bercocok tanam hidroponik

(34)

24

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan bercocok Tanam dengan metode Hidroponik dapat disimpulkan sebagai berikut (1) warga sudah mampu dan memahami tanaman apa saja yang dapat ditanam dengan metode hidroponik, (2) warga sudah memahami bagaimana perencanaan biaya bercocok tanam dengan menggunakan metode hidroponik, (3) warga memahami alat-alat apa saja yang digunakan dalam bercocok tanama hidroponik, (4) peserta (warga ) dapat melatih wargalain dalam bercocok tanam dengan menggunakan metode hidroponik. Selanjutnya hasil koesioner peserta, 95 % menyatakan kegiatan ini sangat bermanfaat terutama di daerah yang memiliki lahan sempit dan sangat membantu kebutuhan akan pangan.harapan peserta supaya kegiatan ini bisa di lakukan secara kontiniu.berjalan dengan lancer, sesuai dengan perencanaan

DAFTAR PUSTAKA

Ariningsih,E. dan H.P.S Rachman. (2008). Strategi peningkatan

ketahanan Pangan Rumah

Tangga Rawan Pangan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan

Kebijakan Pertanian. Jakarta:

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

BPS Kota Batam. (2017). Batam Dalam

Angka

Jimmy-Halim. (2016). Teknik

Hidroponik.“ Jakarta: Penerbit

Penebar Swadaya

Lingga, Pinus. (1984). Hidroponik

Bercocok Tanam Tanpa Tanah.

Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya

Nurdin SQ. (2017). Mempercepat Panen

Sayuran Hidroponik. Jakarta: PT

AgroMedia Pustaka

Umi-Fadilllah. (2016). Jago Bertanam

Hidroponik Untuk Pemula.

Jakarta: PT AgroMedia Pustaka Mathis R. L., & Jackson,J.H. (2002).

Manajemen Sumber Daya

Manusia. Jakarta: Salemba

(35)

25

PENGEMBANGAN DESAIN SUDUT KANTIN KEJUJURAN

DI SMP NEGERI 1 KEMANG KABUPATEN BOGOR

Andayani1

, Budi Hermaini2, Dian Novita3, Monika Handayani4, Siti Aisyah5 Jurusan Pendidikan Dasar FKIP UT1, Jurusan Pendidikan Dasar FKIP UT2, Jurusan Pendidikan Dasar FKIP

UT3, Jurusan Pendidikan Dasar FKIP UT4, Jurusan Pendidikan Dasar FKIP UT5

Email: [email protected]

ABSTRACT

Kemang Middle School 1 in the environment of Tegal Village, Kemang District, Bogor Regency, is the only school destination for children from the surrounding villages. One of The expectations of the District Office is to build the School has character. Through the development of Honesty Canteen (Kantin Kejujuran), it is expected to raise awareness of students to the honest character. In the first year, the 2017 activities of developing the Honesty Canteen Corner are focused on preparing physical facilities. In addition, the Likert scale is used to capture information about students 'and teachers' perceptions of honesty. Meanwhile, an open questionnaire is used to find information about students' desire for the contents of an honesty canteen However, from limited trials, it seems that a very hard effort is needed to build awareness of honest behavior among students. For 2018, the Honesty Canteen design is improved by developing a clearer mechanism by involving students in maintaining honesty canteens, as well as placing motivational words as an evocative effort and a reminder to behave honestly.

Keywords: character, honesty, honesty canteen

ABSTRAK

SMP Negeri 1 Kemang di lingkungan Desa Tegal Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor, merupakan satu-satunya tujuan bersekolah bagi anak-anak dari berbagai desa disekitarnya. Harapan Dinas Kecamatan menginginkan SMP tersebut dapat menjadi unggul di berbagai bidang. Salah satunya menjadikan SMP Berkarakter. Melalui pengembangan Kantin Kejujuran diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran para siswa terhadap karakter jujur. Tahun 2017 merupakan tahun pertama kegiatan pengembangan Sudut Kantin Kejujuran yang difokuskan pada penyiapan fasilitas fisik. Seiring dengan hal tersebut, melalui skala likert didapatkan gambaran awal tentang persepsi siswa dan guru terhadap karakter jujur dan melalui kuesioner terbuka didapat gambaran tentang harapan siswa dan guru untuk Kantin Kejujuran yang diinginkan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengembangan desain sudut kantin kejujuran adalah persepsi yang mirip yang diutarakan siswa dan guru bahwa karakter jujur sangat penting dan harus dikembangkan. Untuk tahun 2018, perlu dikembangkan prosedur pelaksanaan pemanfaatan sudut kantin kejujuran yang sesuai dengan karakteristik para siswa di SMP tersebut.

(36)

26

PENDAHULUAN

Degradasi moral yang saat ini dialami oleh bangsa Indonesia merupakan bentuk kegagalan dalam dunia pendidikan terutama dalam penerapan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan tujuan dari Pendidikan Nasional. Seperti yang dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 mengenai Sisdiknas, menjelaskan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, serta sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab”. Sekolah merupakan salah satu tempat siswa untuk mengembangkan karakter yang diharapkan. Sehingga, sekolah perlu menyediakan fasilitas dan menyusun program kegiatan yang mendorong siswa untuk memperoleh karakter yang diharapkan. Pendidikan karakter tidak

hanya melalui pembelajaran dari satu mata pelajaran di dalam kelas tetapi juga kegiatan terintegrasi melalui beberapa mata pelajaran yang diperoleh di dalam dan di luar kelas (Suherman, 2018:2).

Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Pimpinan Desa Tegal Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor diketahui bahwa satu-satunya SMP di Kecamatan Kemang yaitu SMP Negeri 1 Kemang belum melakukan kegiatan yang didesain secara khusus untuk mendorong pembentukan karakter pada siswa. Hal tersebut juga didukung dari pernyataan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kemang Bogor yang menjelaskan bahwa 25% dari guru yang ada belum mendapatkan Pelatihan Pendidikan Karakter, sehingga pembinaan karakter belum diterapkan dengan optimal. Oleh sebab itu diperlukan adanya suatu Program di SMP Negeri 1 Kemang Bogor yang mampu mendorong terbangun dan terbentuknya karakter siswa, khususnya membangun karakter kejujuran. Melalui Kantin Kejujuran, diharapkan secara berangsur-angsur

(37)

27 terbangun kesadaran para siswa untuk berperilaku jujur.

Melalui Program Pengabdian pada Masyarakat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka yang didesain dilaksanakan dalam 3 tahun (2017 – 2019), diharapkan paling tidak warga SMP Negeri 1 Kemang Bogor terutama jajaran Manajer dan para Guru serta juga para Siswa memiliki kesadaran tentang pentingnya karakter jujur untuk berkehidupan dan bermasyarakat.

KAJIAN TEORI

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mendorong siswa untuk memiliki perilaku baik. Murphy (1998: 22) menjelaskan bahwa effective character education is based on core ethical values rooted in democratic

society, in particular, respect,

responsibility, trustworthiness, justice and fairness, caring and civic virtue and

citizenship”. Dikatakan bahwa

pelaksanaan pendidikan karakter yang efektif harus didasarkan atas nilai-nilai inti dari etika yang berkembang dalam masyarakat, khususnya seperti saling

menghormati, tanggungjawab, saling percaya, keadilan, serta kepedulian satu dengan yang lain dalam bermasyarakat. Nilai-nilai karakter tersebut semestinya sudah ditanamkan dan ditumbuhkan semenjak dini dalam keluarga dan dilanjutkan dalam lingkungan persekolahan. Dengan demikian, pembentukan lingkungan masyarakat yang berkarakter menjadi perlu diperhatikan untuk menumbuhkan individu-individu yang berkarakter.

Sementara itu, pendidikan karakter bisa dipelajari tidak hanya sebatas mengerti tetapi juga dapat melakukan dan membiasakan. Seperti yang dijelaskan oleh Lickona yang membagi karakter dalam tiga elemen yaitu moral knowing, moral feeling,

dan moral action (Sukidjo, Mulyani,

Endang, dan Mustofa, 2016). Tersurat bahwa dalam melaksanakan pendidikan karakter secara bertahap nampaknya dimulai terlebih dahulu melalui proses mengetahui, dilanjutkan dengan proses merasakan atau memiliki kesadaran, dan diikuti oleh tingkahlaku berkarakter.

(38)

28 Kejujuran merupakan salah satu karakter dalam kurikulum 2013 yang wajib dikuasai siswa. Jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. (Hasan, 2010: 9). Secara sederhana siswa yang memiliki karakter jujur adalah siswa yang mampu memiliki kesesuaian dalam perkataan, tindakan dan pekerjaannya. Kodsinco (dalam Yaumi 2014: 66) menguraikan beberapa hakikat dari kejujuran, sebagai berikut:

1. Saat perkataan kita benar, maka kita sedang melakukan kejujuran 2. Kita melakukan kejujuran ketika

kita bertindak sesuai dengan yang dipikirkan

3. Walaupun orang la

Gambar

Gambar  3.  Peralatan  Hidroponik  dan
Tabel 1. Skala Likert Persepsi Mengenai Kejujuran
Gambar  4.  Persepsi  siswa  mengenai  berbohong bukan merupakan perilaku  yang baik
Tabel Jadwal Kegiatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Syukur Alhamdulillah, Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat (SN-PKM) dengan Tema“Pengabdian Kepada Masyarakat melalui Alih Teknologi untuk

Oleh karennya, pada penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efek hepatoprotektif ekstrak rambut jagung terhadap kadar ALT dan gambaran histopatologis hati

Kesimpulan yang dapat ditarik dari PKM Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru dalam Menyusun Artikel Ilmiah di SMK Negeri 1 Nanga Sayan, Melawi tersebut ialah

Hasil e-kuisioner Pertanyaan 2 Pelatihan Sistem Informasi Tata Kelola Administrasi Bimbel KESIMPULAN Kegiatan pelatihan pemanfaatan e-learning dengan media Edmodo dan pelatihan

2.Peserta dapat memanfaatkan smartphone sebagai media Fotografi dan memaksimal teknik fotografi smartphone 2 Pelatihan editing foto dan tips komposisi gambar 1.Peserta dapat melakukan

Seminar Nasional Kolaborasi Pengabdian pada Masyarakat 2018 LPPM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Seminar Nasional Kolaborasi Pengabdian pada Masyarakat 2018 Proceeding SNK-PPM vol 1,

Materi yang diberikan pada kegiatan pelatihan keterampilan dasar game edukasi dengan aplikasi Educandy dilaksanakan secara daring yang dikemas dengan pemanfaatan perangkat teknologi

206 | Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT KOTA PALU TENTANG COVID- 19 DAN PENCEGAHANNYA Hayani Anastasia1*, Made