• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEL EKSTRAK DAUN MENIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GEL EKSTRAK DAUN MENIRAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ix ABSTRAK

GEL EKSTRAK DAUN MENIRAN (Phyllanthus niruri) MENINGKATKAN EPITELISASI PENYEMBUHAN LUKA PADA KULIT TIKUS

(Rattus norvegicus) PUTIH JANTAN WISTAR

Luka pada kulit mengakibatkan hilangnya sebagian bahkan seluruh fungsi lapisan kulit yang terkena, timbulnya perdarahan, respon stres simpatis, kontaminasi bakteri bahkan bisa terjadi kematian sel. Proses regenerasi jaringan luka berlangsung lambat bahkan terhambat pada kulit yang mengalami penuaan. Daun Meniran (Phyllanthus niruri) mengandung beberapa molekul bioaktif yang memiliki aktivitas penyembuhan luka karena sifat zat dan antimikroba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa pemberian gel ekstrak daun meniran meningkatkan epitelisasi jaringan luka pada tikus putih wistar jantan.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan 36 ekor tikus galur wistar (Rattus norvegicus) dewasa dan sehat, berumur 3-3,5 bulan, dengan berat badan 200-250 gram, yang terbagi menjadi 2 (dua) kelompok masing-masing berjumlah 18 ekor tikus. Kelompok pertama adalah kelompok kontrol yaitu kelompok yang diberikan gel plasebo + amoxicillin oral selama 8 hari (P0), dan kelompok kedua adalah kelompok perlakuan yaitu kelompok yang diberikan gel ekstrak daun meniran (Phyllanthus niruri) konsentrasi 20% + amoxicillin oral selama 8 hari (P1). Jaringan kulit dianalisis dari preparat yang telah diwarnai dengan pewarnaan Haematoxilin Eosin. Setiap preparat diamati dengan perbesaran lensa objektif 10x dan diukur ketebalan epitel pada tiga titik berbeda dalam satu lapang pandang.

Hasil penelitian menunjukkan rerata epitelisasi pada kelompok kontrol (P0) setelah diberikan gel plasebo + amoxicillin oral selama 8 hari adalah 48,28±20,72µm, sedangkan pada kelompok yang diberikan gel ekstrak daun meniran (Phyllanthus niruri) konsentrasi 20% + amoxicillin oral selama 8 hari (P1) adalah 63,79±18,37µm (p<0,05).

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemberian gel ekstrak daun meniran (Phyllanthus niruri)meningkatkan epitelisasi jaringan luka pada tikus wistar jantan.

(2)

x ABSTRACT

MENIRAN (Phyllanthus niruri) LEAVESGEL EXTRACT INCREASED EPITHELIALIZATION OF SKIN WOUND HEALING IN MALE WISTAR

RATS (Rattus norvegicus)

Skin wound result in partial or complete loss of skin function, causing a bleeding, sympathetic stress response, bacterial contamination and even cell death. The regeneration of injured tissue is slower as the advancing age. Meniran leaves (Phyllanthus niruri) contains several bioactive molecules that have activity for wound healing and antimicrobial properties. The purpose of this study was to prove that the administration of Meniran leaves extract gel can increase epithelialization of skin wound healing in male wistar rats.

This study was an experimental research using 36 healthy Wistar rats (Rattus norvegicus), aged 3-3.5 months, weighing 200-250 grams, divided into 2 (two) groups. The first group was the control group treated with placebo + oral amoxicillin for 8 days (P0), and the second group was the treatment groups treated with Meniran leaves extract gel concentration of 20% + oral amoxicillin for 8 days (P1). The skin as a samples were then processed for tissue processing by using Hematoxillin-Eosin method before performing histophatological examination by using 10x magnificence under a binocular microscope.

The results showed an average of epithelialization in the control group (P0) after treated with placebo + oral amoxicillin for 8 days was 48.28 ± 20,72μm, while in the group treated with Meniran leaves extract gel concentration of 20% + oral amoxicillin for 8 days (P1) was 63.79 ± 18,37μm (p <0.05).

Based on these results, it can be concluded that the administration of Meniran leaves extract gel increased epithelialization of skin wound healing in male wistar rats.

(3)

xi DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v

UCAPAN TERIMAKASIH ... . vi

ABSTRAK ... . ix

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... . xv BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1. ... Latar Belakang ... 1 1.2. ... Rum usan Masalah ... 6 1.3. ... Tujua n Penelitian ... 6 1.3.1. ... Tujua n Umum ... 6 1.3.2. ... Tujua n Khusus ... 6 1.4. ... Manf aat Penelitian ... 7 1.4.1. ... Manf aat Ilmiah ... 7

(4)

xii

1.4.2. ... Manf aat Praktis ... 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8 2.1 ... Prose s Penuaan ... 8 2.1.1 ... Teori Penuaan ... 8 2.2 ... Kulit 10 2.3 ... Luka 14 2.3.1 ... Defin isi Luka ... 14 2.3.2 ... Peny embuhan Luka... 16 2.3.3 ... Fase Inflamasi ... 19 2.3.4 ... Fase Poliferasi ... 22 2.3.5 ... Epite lisasi ... 22 2.3.6 ... Kontr aksi Luka ... 24 2.3.7 ... Fase Remodelling ... 25 2.4 ... Radi

kal Bebas dan Antioksidan ... 26 2.5 ... Tana

man Obat ... 33 2.6 ... Meni

ran ( Phyllanthus niruri) ... 35 2.6.1 ... Desk

(5)

xiii

2.7 ... Gel danAbsorbsi Obat Melalui Kulit ... 39 2.8 ... Amo

xicillin ... 39 2.9 ... Tikus Wistar (Rattus norvegicus) ... 42

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS

PENELITIAN ... 45 3.1 ... Kera ngka Berpikir ... 46 3.2 ... Kons ep Penelitian ... 47 3.3 ... Hipot esis Penelitian ... 47 BAB IV METODE PENELITIAN ... 48 4.1 ... Ranc

angan Penelitian ... 48 4.2 ... Temp

at dan Waktu Penelitian ... 49 4.3 ... Subje

k dan Besar Sampel ... 49 4.3.1 ... Varia bilitas Populasi ... 49 4.3.2 ... Krite ria Subjek ... 49 4.3.3 ... Besar an Sampel ... 49 4.3.4 ... Tekni k Pengambilan Sampel ... 50

(6)

xiv 4.4 ... Varia bel Penelitian ... 51 4.4.1 ... Klasi fikasi Variabel ... 51 4.4.2 ... Hubu ngan Antar Variabel ... 51

4.4.3 ... Defin isi Operasional Variabel ... 52

4.5 ... Baha n dan Instrumen Penelitian Hewan Percobaan ... 54

4.5.1 ... Baha n Penelitian ... 54

4.5.1.1 ... Pemb uatan Bahan Ekstrak dari Simplisida ... 54

4.5.1.2 ... Pemb uatan Gel Ekstrak Meniran ... 55

4.5.2 ... Instru men ... 56 4.5.2.1 ... Kand ang ... 56 4.5.2.2 ... Hewa n Percobaan ... 57 4.6 ... Prose dur Penelitian ... 57 4.7 ... Pemb uatan Sediaan Hisologis ... ... 59

4.7.1 Evaluasi Pengamatan Histopatologi ... 59

4.7.2 Parameter yang diamati ... 61

(7)

xv

4.8 ... Alur Penelitian ... 63 4.9 ... Anali

sis Data ... 64 BAB V HASIL PENELITIAN ... 65 5.1 ... Anali sis Deskriptif ... 65 5.2 ... Uji Normalitas Data ... 67 5.3 ... Uji Homogenitas Data ... 68 5.4 ... Uji Komparabilitas ... 68 BAB VI PEMBAHASAN ... 70 BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 74 7.1 ... Simp ulan ... 74 7.2 ... Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN ... 82

(8)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Rerata Epitelisasi Antar Kelompok ... 67

Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas Data Antar Kelompok ... . 67

Tabel 5.3 Hasil Uji Homogenitas Data Antar Kelompok ... . 68

(9)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1Struktur anatomi kulit ... 11

Gambar 2.2 Fase Penyembuhan Luka ... 18

Gambar 2.3 Regenerasi Luka ... 20

Gambar 2.4 Fase Inflamasi (1), Fase Proliferasi (2), Fase Remodelling (3a,3b) ... 24

Gambar 2.5 Mekanisme Penyembuhan Luka ... 34

Gambar 2.6 Meniran (Phyllanthus niruri) ... 35

Gambar 2.7 Tikus Wistar (Rattus Novergicus) ... 42

Gambar 3.1 Konsep Penelitian ... 48

Gambar 4.1 Skema Rancangan Penelitian ... 56

Gambar 4.2 Hubungan antar variabel ... . 51

Gambar 4.3 Skema Alur Penelitian ... 63

Gambar 5.1 Histopatologi epitelisasiJaringan Kulit Kelompok Kontrol ... 66

Gambar 5.2Histopatologi epitelisasiJaringan Kulit Kelompok Perlakuan.. .. 66

(10)

xviii

DAFTAR SINGKATAN

AAM : Anti-Aging Medicine ADP : Adenosin Diphosphat BMZ : Basement Membrane Zone CTGF : Connective tissue growth factor DNA : Desoxyribonucleic acid

ECM : Extracellular matrix EGF : Epidermal Growth Factor FGF : Fibroblast Growth Factor

GAGs : Glycosaminoglycan

GPx : Glutathione peroksidase IL-1 : Inter Leukin-1

IL-6 : Inter Leukin-6

KGF : Keratinocyte Growth Factor MMP : Matrix metalloproteinase ODC : Ornithine decarboxylase

PDGF : Platelet Derived Growth Factor ROS : Reactive Oxygen Species

SAMe : Sadenosylmetionin SOD : Superoxide dismutase

TGFα : Transforming Growth Factor α TGF β : Transforming Growth Factor β TNF : Tumor necrosis factor

(11)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Uji Analisa Ekstrak Meniran 1 ... 82

Lampiran 2. Hasil Uji Analisa Ekstrak Meniran 2 ... 83

Lampiran 3. Keterangan Kelaiakan Etik ... 84

Lampiran 4. Analisis Statistik ... 85

Lampiran 5. Dokumentasi penelitian ... 86

(12)
(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penuaan adalah suatu proses alami yang pasti terjadi pada semua mahkluk hidup. Bertambahnya usia dan menjadi tua adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Pada umumnya manusia menganggap bahwa keluhan-keluhan yang berhubungan dengan proses penuaan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, dan merupakan proses alamiah yang sewajarnya muncul pada usia tua, sehingga bila timbul keluhan mereka tidak cepat-cepat berusaha untuk mencari pengobatan. Bila keluhan semakin berat barulah mencari pertolongan dokter. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya manusia dapat hidup dengan umur lebih panjang dengan kualitas hidup yang tetap baik.

Ada banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi tua. Penyebab penuaan dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal ialah radikal bebas, hormon berkurang, proses glikolisasi, metilasi, apoptosis, sistem kekebalan yang menurun, dan gen. Faktor eksternal yang utama ialah gaya hidup tidak sehat, kebiasaan salah, polusi lingkungan, stress, dan kemiskinan (Pangkahila, 2011).

Beberapa teori menjelaskan mengapa seseorang menjadi tua. Salah satu teori penuaan yang sangat berkembang adalah Teori Radikal Bebas. Teori ini menjelaskan bahwa suatu organisme menjadi tua karena terjadi akumulasi kerusakan oleh radikal bebas dalam sel sepanjang waktu. Radikal bebas akan

(14)

2

merusak molekul yang elektronnya ditarik oleh radikal bebas tersebut sehinggamenyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi sel, bahkan kematian sel.

Lapisan kulit terdiri dari 3 lapisan yaitu epidermis, dermis dan subkutan. Terutama epidermis juga mengalami penuaan seiring dengan bertambahnya usia.Fungsi kulit manusia yang menurun seiring usia adalah fungsi barier, pergantian sel, pembersihan zat kimia, persepsi sensoris, mekanisme proteksi, penyembuhan luka, respon imun, termoregulasi, produksi keringat, produksi sebum, produksi vitamin D dan perbaikan DNA. Perubahan histologis paling mencolok dan konsisten adalah penyempitan dermal–epidermal juction dengan penipisan pada papila dermal dan epidermal rete pegs. Pemisahan ini menyebabkan orang tua cenderung mudah terjadi luka pada kulit, abrasi superfisial pada trauma minor dan pembentukan bula pada lokasi oedem.

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian dari jaringan tubuh.Luka juga didefinisikan sebagai kerusakan fisik akibat dari terbukanya atau hancurnya kulit yang menyebabkan ketidakseimbangan fungsi dan anatomi kulit normal. Keadaan luka ini banyak faktor penyebabnya diantaranya dantrauma benda tajam atau tumpul, ledakan, zat kimia, perubahan suhu, sengatan listrik, gigitan hewan. Ada 4 macam luka yaitu luka terbuka, luka tertutup, luka akut dan luka kronis (Nagori dan Solanki, 2011).

Pada manusia dan golongan vertebrata yang lebih tinggi penyembuhan luka terjadi melalui suatu proses perbaikan dimana hasil yang dicapai bukan berupa restorasi secara anatomi namun lebih kepada hasil yang fungsional (Falanga, 2007). Berbeda dengan mekanisme yang terjadi pada amphibi dan reptil yang

(15)

3

mampu mengalami regenerasi ke bentuk dan susunan asli dari suatu organ atau bagian anatomi tubuh seperti sebelum terjadi perlukaan.

Penyembuhan luka merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan interaksi yang terus menerus antara sel dengan sel dan antara sel dengan matriks yang terangkum dalam tiga fase yang saling tumpang tindih. Tiga fase mekanisme penyembuhan luka yang terjadi yaitu :

1. Fase Inflamasi (0-3 hari).

2. Fase Proliferasi dan pembentukan jaringan (3-14 hari) (Reddy dkk., 2012).

3. Fase Remodeling jaringan (bisa dimulai pada hari ke 8 dan berlangsung sampai 1 tahun) (Broughton dkk., 2006).

Hasil dari mekanisme penyembuhan luka ini tergantung dari perluasan dan kedalaman luka, serta ada tidaknya komplikasi yang mengganggu perjalanan proses penyembuhan luka yang alami. Gangguan pada proses perbaikan jaringan yang menyebabkan proses penyembuhan luka yang lama, terjadi pada berbagai kondisi seperti pada orang yang berusia lanjut, pengobatan dengan steroid, dan yang menderita penyakit diabetes dan kanker (Gurtner, 2008). Pada kondisi tersebut kemungkinan terjadinya infeksi lebih besar.

Proses penyembuhan luka merupakan proses biologik dimulai dari adanya trauma dan berakhir dengan terbentuknya luka parut. Tujuan dari manajemen luka adalah penyembuhan luka dalam waktu sesingkat mungkin, dengan rasa sakit, ketidaknyamanan, danluka parut yang minimal pada pasien (Sonidan Singhai, 2012), meminimalkan kerusakan jaringan, penyediaan perfusi jaringan yang

(16)

4

cukup dan oksigenasi, nutrisi yang tepat untuk jaringan luka (Reddydkk., 2012). Pengobatan dari luka bertujuan untuk mengurangi faktor-faktor risiko yang menghambat penyembuhan luka, mempercepat proses penyembuhan dan menurunkan kejadian luka yang terinfeksi (Soni danSinghai, 2012).

Sampai saat ini tidak ada substansi yang sangat efektif untuk mempercepat proses penyembuhan luka walaupun banyak usulan dalam ilmu pharmaceutical. Sebagai akibatnya, perhatian meningkat dalam menemukan ekstrak tanaman untuk meningkatkan regenerasi penyembuhan luka, meskipun penggunaan dari ekstrak tanaman untuk pengobatan luka umumnya baru merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat tradisional (Mathivanan dkk., 2006). Di negara berkembang, 25 persen dari pengobatan didasarkan pada pemakaian tanaman obat, yang secara luas digunakan pada masyarakat pedesaan. Nenek moyang menemukan kekuatan penyembuhan dari tumbuhan melalui proses trial and error (Sonidan Singhai, 2012). Banyak tanaman obat yang biasa dipakai untuk mempercepat penyembuhan luka, diantaranya adalah tanaman herba meniran (Phyllanthus niruri) (Anonim, 2010).

Meniran (Phyllanthus niruri) dari famili Euphorbiaceae merupakan tanaman liar yang berasal dari Asia tropik yang tersebar di seluruh daratan Asia termasuk Indonesia. Di beberapa daerah, meniran dikenal dengan nama Kilaneli (India), Zhen chu cao, Ye xia zhu (China), Child pick a back (Inggris). Tanaman ini tingginya hanya 30-100 cm dan mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong (Dalimartha, 2000).

(17)

5

Tanaman meniran (Phylanthus niruri) sangat mudah dijumpai di sekitar kita. Tumbuh liar di halaman rumah kita, di samping pagar, bersama dengan tanaman herbal lainnya. Walaupun tumbuh liar namun tanaman ini juga mengandung khasiat obat yang berguna bagi kita. Tanaman ini dengan mudah dikenali, daunnya mirip pohon asam, namun banyak buah di sepanjang tangkai di bawah daun.Tanaman ini sudah sangat popular sebenarnya untuk pengobatan Jaundicepada manusia. Namun adapula penelitian yang melaporkan bahwa Phylanthus niruri juga berguna untuk pengobatan dalam penyembuhan luka, ulkus, pembengkakan dan gatal (Devi dkk., 2005).

Pada penelitian ini saya menggunakan gel karena absorbsi gel perkutan lebih baik dibandingkan krim.

Hasil uji analisis ekstrak meniran yang dilakukan di Unit Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana pada bulan Juni 2016 didapatkan hasil sebagai berikut :

 Flavonoid : 677,27 mg/100gr Quarcetin Equivalent  Fenol : 1972,21 mg/100gr Galic Acid Equivalent  Tanin : 14045,48 mg/100gr Tanin Acid Equivalent  Vitamin C : 9506,69 mg/100gr

 Antioksidan :118038,52 mg/L Galic Acid Equivalent Antioksidant Capacity(Siahaan, 2016)

Kemudian pada bulan Agustus 2016 dilakukan lagi uji analiis ekstrak meniran di Unit Layanan Analisis Sampel Fakultas MIPA Universitas Udayana

(18)

6

kampus bukit Jimbaran didapatkan antioksidan yang ditemukan pada meniran antara lain Saponin dimana Saponin adalah salah satu antioksidan yang berpengaruh pada kontraksi luka dan meningkatkan kecepatan epitelisasi (Soni danSinghai,2012)

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, dapat dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut :

Apakah pemberian gel ekstrak daun meniran meningkatkan epitelisasi jaringan luka pada tikus putih wistar jantan?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk membuktikan efek pemberian gel ekstrak daun menirandapat mempercepat proses penyembuhan luka pada kulit tikus wistar jantan.

1.3.2 Tujuan Khusus

Untuk membuktikan efek pemberian gel ekstrak daun menirandapat meningkatkan epitelisasi jaringan luka pada kulit tikus wistar jantan.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Ilmiah

(19)

7

1. Memberi informasi ilmiah

mengenai fungsi gel ekstrak daun meniran untuk mempercepat proses penyembuhan luka.

2. Sebagai dasar untuk

digunakan sebagai penelitian lebih lanjut pada manusia.

1.4.2 Manfaat Praktis

Diharapkan masyarakat mengetahui manfaatgel ekstrak daun meniran dalam mempercepat proses penyembuhan luka sehingga diperlukan uji klinis sebelum digunakan untuk manusia.

Referensi

Dokumen terkait

Mencermati uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya asas perkawinan adalah monogami, namun sebahagian ulama membeolehkan praktik poligami dalam keadaan

Hasil eksternalisasi Majalah Detik disebarkan dengan menggambarkan bahwa laki-laki pelaku korupsi dianggap biasa dan mereka masih memiliki kekuatan untuk melawan. Sedangkan

“Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati atau pidana penjara

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang wacana keislaman Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), sebagai bahan pengembangan materi

^ W vǵ ‰ v _ walaupun terjadi penyerahan sejumlah uang atau benda berharga dari korban pemerasan kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang melakukan

Menyetujui untuk memberikan Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-Exclusive Royalty-Free Right) kepada Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas KTI saya yang berjudul

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis memperoleh kekuatan, tenaga, dan pikiran, sehingga dapat menyelesaikan

Terpadu Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) bidang Cipta