• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

(2)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………i

KATA SAMBUTAN ………..iii

DAFTAR ISI ...iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... ... ... .... ... .... ... .... ... ...1

B. Perumusan Masalah ... ... ...3

C. Tujuan Penulisan ………. 3

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Desa ... .. ... ... .. ...4

B. Unsur-Unsur Desa ... ... ... ... ... ... ..4

C. Pembangunan Desa ………..9

BAB III PENUTUP ... ... ...13

DAFTAR PUSTAKA

(3)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rakyat Indonesia telah berkembang, dilihat dari segi ketatanegaraan, jauh sebelum

kedatangan bangsa Eropa. Telah terdapat lembaga-lembaga pemerintah yang pada dasarnya

ada tiga tingkat, pertama nasional (Raja), kedua tingkat Kabupaten (Bupati) dan ketiga

tingkat desa (Kepala Desa).

Hidup bersama melahirkan tata hidup yang berkembang menjadi adat, yang ditaati

tanpa syarat oleh segenap anggota masyarakat. Adat adalah tidak lain dari hakum yang tidak

tertulis, turun temurun sejak adanya nenek moyang, hukuman bagi yang melanggar berupa

sikap tindakan dari keseluruhan golongan. 0leh karena itu masyarakatnya disebut

masyarakat hukum (rechts gemeenschap) dan daerahnya dinamakan daerah hukum

(rechtsgebied atau rechtsstreek). Dengan demikian maka tiap daerah mempunvai adat

istiadatnya masing-masing, mengatur dan mengurus hidup bersama. Istilah “mengatur”

berarti bahwa ada orangnya yang mengatur, yang dapat terdiri dari satu atau lebih orang atau

suatu lembaga. Istilah lain dari mengatur ialah “memerintah” maka lembaganya disebut

pemerintah.

Ada tiga unsur pokok pada pemerintahan desa, pertama Kepala Desa, kedua

Pamong Desa dan ketiga Rapat Desa.

Kepala Desa adalah penguasa tunggal dalam pemerintahan desa. Bersama-sama

dengan pembantunya ia merupakan Pamong Desa. Kepala Desa adalah pelaksana dan

penyelenggara urusan rumah tangga Desa dan di samping itu ia menyelenggarakan

urusan-urusan pemerintah. Meskipun demikian di dalam melaksanakan tugasnya ia

mempunyai batas-batas tertentu,

(4)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

Ia tidak dapat menuruti keinginannya sendiri. Dalam membuat peraturan desa, kepala desa

harus meminta pendapat masyarakat dalam rapat desa, khususnya mengenai urusan yang

menyangkut Desa, urusan yang sangat penting. Kepala Desa wajib berunding dengan rakyat

yang berhak memilih Kepala Desa dan orang yang dipandang sesepuh dan menurut adat

dipandang terkemuka.

Oleh karena itu, Kepala Desa merupakan administrasi pembangunan, administrator

pemerintah dan administrator kemasyarakatan Desa. Ia mengadalsan koordinasi dan kontrol

atas segala kegiatan pembangunan di desa, terutama yane dilaksanakan oleh, untuk dan dari

desa, yang diselenggarakan oleh lembaga-1embaga desa.

Derasnya laju pembangunan di desa adalah pencerminan dari kegiatan, kreatifitas

dan daya inisiatif Pemerintah Desa, tepatnya Kepala desa untuk terlaksananya pembangunan

tersebut.

Pembangunan Desa berusaha untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dengan

meningkatkan taraf hidup dan kehidupan masyarakat Desa yang meliputi peningkatan

prakarsa dan swadaya masyarakat, perbaikan lingkungan dan perumahan, pengembangan

usaha ekonami Desa dan pengembangan Lembaga Keuangan Desa serta ketertiban dengan

mengadakan kegiatan-kegiatan yane dapat menambah kemampuan dan kesanggupan

masyarakat desa menaikkan hasil produksinya. Dengan meluaskan produksi akan bertambah

luas lapangan kerja dan bertambahnya lapangan kerja akan menaikkan pendapatan

masyarakat. Ini merupakan pekerjaan rumah Kepala Desa yane tidak mudah.

(5)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

B. MASALAH

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya., maka masalah yang

muncul dalam tulisan ini adalah Apa kewajiban Kepala Desa sebagai pelopor pembangunan?.

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui apa kewajiban Kepala Desa sebagai pelopor pembangunan di desa

2. Untuk mengetahui apa makna pembangunan desa

(6)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

. .

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Desa

Desa menurut pasal I BAB I UU No. 22/1999 adalah Kesatuan masyarakat hukum

yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat

berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam Sistem Pemerintahan

Nasional dan berada di daerah Kabupaten.

Dan pengertian di atas maka dapat kita lihat bahwa pada hakikatnya Desa bukanlah

daerah otonom, sebab dalam pasal 2 ayat 1 UU No.22/1999 telah dijelaskan bahwa hanya

ada dua tingkat daerah otonom yaitu Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. Desa juga

bukan merupakan suatu satuan wilayah yang berdiri sendiri tetapi adalah satuan

ketatanegaraan yang berkedudukan langsung di bawah kecamatan. Satuan ketatanegaraan

maksudnya mencakup wilayah yang tertentu batas-batasnya, jumlah penduduk yang

merupakan masyarakat tertentu, dan suatu-satuan organisasi pemerintahan yang disebut

Pemerintah Desa.

B. Unsur-Unsur Desa

Yang dimaksud dengan unsur-unsur Desa ialah kompanen-komponen pembentuk

Desa sebagai satuan ketatanegaraan. Komponen-komponen tersebut ialah :

(7)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006 a. Wilayah Desa

Yang dimaksud dengan wilayah desa ialah suatu satuan wilayah yang tertentu

Batas-batasnya, yang secara fisik terdiri atas unsur daratan, angkasa, dan bagi desa pantai,

desa pulau atau desa kabupaten, suatu perairan, sebagai lokasi pemukiman dan sumber

nafkah yang memenuhi persyaratan tertentu.

Dari pengertian tersebut maka wilayah Desa haruslah memenuhi persyaratan tertentu

agar dapat dikelola secara efektif dan efesien, baik ke luar maupun ke dalam. Syarat-sarat itu

antara lain:

Sedapat-dapatnya dapat berfungsi sebagai kesatuan wiayah pelayanann pemerintah yang

terkecil.

i. Harus utuh, tidak terpecah, bagian-bagiannya tidak terpecah satu sama lain.

9 Potensial bagi kelangsungan hidup masyarakat.

b. Penduduk atau Masyarakat Desa

Dipandang dari segi demografis, penduduk suatu Desa ialah setiap orang yang

terdaftar sebagai penduduk atau bertempat kedudukan di dalam wilayah Desa yang

bersangkutan, tidak masalah dimana ia mencari nafkahnya.

Penduduk setiap Desa haruslah merupakan suatu satuan masyarakat yang utuh.

Setiap satuan masyarakat perlu diberi atau memiliki tanggung jawab tertentu secara langsung

dalam soal-soal pemerintah dan pembangunan. Agar setiap satuan masyarakat merasa

bertanggung jawab secara langsung atas pembangunan dan pemerintahan desanya,

masyarakat itu harus diberi atau memiliki peranan atas suatu atau beberapa fungsi atau

langkah-langkah pemerintahan dan pembangunan.

(8)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006 c. Pemerintahan Desa

Berdasarkan UU No. 22 tahun 1999 pasal 94, disebutkan di desa dibentuk pemerintah

Desa dan Badan Perwakilan Desa dan Badan Perwakilan Desa yang merupakan pemerintahan

Desa. Dalam melaksanakan tugasnya pemerintah Desa dibantu oleh perangkat desa yang

terdiri dari sekretaris desa dan kepala-kepala dusun.

Kepala desa dalam kedudukannya memiliki fungsi dan peranan ganda, yang

menempatkannya pada kedudukan dan peranan strategis dalam mata rantai administrasi

pembangunan. Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim mengatakan bahwa, disatu

pihak ia mewakili dan berfungsi sebagai alat pemermtah, dan dipihak lain ia berfungsi sebagai

alat dan mewakili masyarakat. Pemermtah Desa diharapkan menjadi sarana yang efektif, baik

dalam rangka meningkatkan keberhasilan program pemerintah maupun dalam rangka

menggerakkan partisipasi masyarakat. Timothy mahoney (dalam Gary E.Hansen; 1984 : 154)

berpendapat bahwa dengan komunikasi yang semakin intensif dengan dunia luar, fungsi ganda

kepala Desat/Lurah berkembang menjadi intermediator yang berperanan penting.

Kepala Desa berkedudukan sebagai alat pemerintahan desa dan pelaksananaan

pemerintahan di atas desa. Sesuai dengan kedudukan dimaksud, KepalaDesa mempunyai tugas

pokok untuk pemerintahan urusan rumah tangga sendiri, menjalankan urusan pemerintahan,

pembangunan dan pembinaan masyarakat, dan menumbuhkan serta mengembangkan

semangat gotong-royong masyarakat sebagai sendi yang utama pelaksanaan pemerintahan dan

pembangunan di desa.

Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut Kepala Desa mempunyai fungsi untuk

melaksanakan kegiatan dalam rangka

(9)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

penyelenggaraan urusan rumah tangganya, menggerakkan partisipasi masyarakat dalam

wilayah desanya, melaksanakan kegiatan dalam rangka menciptakan ketenteraman dan

ketertiban masyarakat, melaksanakan koordinasi dan menyelenggarakan kegiatan dalam

rangka urusan dari pemerintahan lain nya.

Menurut UU No. 22 tahun 1999 pasal 101, Tugas dan Kewajiban Kepala Desa adalah

:

a. Memimpm penyelenggaraan Pemerintah Desa

b. MembinaKehidupan masyarakat Desa

c. MembinaPerekonomian Desa

d. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa

e. Mendaikan perselisihan masyarakat di Desa dan

f. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya.

Untuk membantu Kepala Desa dalam menjalankan tugas dan kewajibannya

dibentuklah sekretaris desa sebagai unsur stafnya.

Adapun kedudukan, tugas dan fungsi sekretaris desa adalah sebagai berikut :

a. Sekretaris desa berkedudukan sebagai unsur pembantu pimpinan di bidang ketatausahaan.

b. Sesuai dengan kedudukan tersebut, sekretaris desa mempunyai tugas pokok untuk

menyelenggarakan pelaksanaan admmistrasi pemerintahan, administrasi pembangunan,

administrasi kemasyarakatan dan memberikan pelayanan ketatausahaan.

c. Untuk menyelenggarakan tugas pokok dimaksud, sekretaris desa mempunyai fungsi

untuk melaksanakan urusan administrasi umum dan

(10)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

melaksanakan urusan surat menyurat, kearsipan dan laporan, melaksanakan urusan

keuangan serta tugas Kepala Desa dalam hal Kepala Desa berhalangan dalam

melaksanakan tugasnya.

Untuk memperlancar tugas-tugas dan fungsi sekretaris desa maka dibentuklah

kepala-kepala urusan. Kepala urusan mempunyai tugas untuk menjalankan kegiatan

pemerintah desa dalam kepemimpinan Kepala Desa di wilayahnya. Sedangkan fungsi

kepala-kepala urusan adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan urusan pembangunan,

kesejahteraan, dan urusan-urusan umum sesuai bidang tugasnya masing-masing serta

melaksanakan pelayanan administrasi Kepala Desa.

Selanjutnya demi kelancaran tugas dan jalannya pemerintahan desa, maka dalam

desa dibentuk dusun vang dikepalai oleh kepala dusun, sesuai dengan Peraturan Menteri

Dalam Negeri No. 5 tahun 1981.

Kepala dusun adalah unsur pelaksana tugas kepala desa dengan wilayah kerja

tertentu. Kepala Dusun diangkat dan diberhentikan oleh Camat atas nama Bupati Kepala

daerah Tingkat II atas usul Kepala Desa.

Dengan gambaran tersebut di atas maka dapatlah dikatakan bahwa perangkat

pemerintah desa mempunyai tugas serta peranan yang sangat penting dalam terlaksananya

pemerintahan desa yang menyangkut masalah pemerintahan, pembangunan dan

kemasyarakatan dalam usaha meningkatkan partisipasi masyarakat desa, sehingga

pembangunan nasional dapat terwujudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Indonesia pada umumnya dan masyarakat pedesaan khususnya.

(11)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006 C. Pembangunan Desa

Sejak dahulu di Indonesia telah ada satuan-satuan masyarakat kecil yang

menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri. (Bayu Suryaningrat; 1976 : 4).

Selanjutnya sesuai dengan perkembangan jaman desa terus berkembang dan menjadi

perhatian utama di banyak negara-negara berkembang. Untuk itu pembangunan desa mau

tidak mau harus dilaksanakan dalam rangka pengentasan kemiskinan masyarakat.

Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan pembangunan masyarakat desa adalah

meninggikan taraf penghidupan masyarakat desa dengan jalan melaksanakan pembangunan

yang integral dari masyarakat desa, berdasarkan asas kekuatan sendiri serta asas pemufakatan

bersama antara anggota-anggota masyarakat desa dengan bimbingan serta bantuan alat-alat

pemerintah yang bertindak sebagai suatu keseluruhan dalam rangka kebijaksanaan umum

yang sama.

Pembangunan desa ditujukan untuk segenap masyarakat, dengan demikian

pelaksanaannya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat desa. Pembangunan

desa bukanlah terfokus dalam satu bidang saja, akan tetapi harus seimbang, serasi dan

mencakup segala bidang. Jelasnya dikatakan bahwa keseluruhan kegiatan pembangunan yang

berlangsung di pedesaan dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, dilaksanakan

secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong-royong (Keppres Rio. 21/1989 :26).

Pembangunan desa adalah suatu pembangunan yang diarahkan untuk meningkatkan

taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dan didasarkan kepada tugas dan kewajiban

masyarakat desa (AgusthoaKaswata; 1985 : 24).

(12)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

Dari beberapa pendekatan atas pelaksanaan pembangunan desa dapat dikemukakan :

a. Pembangunan desa yang dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya

adalah suatu pembangunan akan langsung menyentuh kebutuhan sebahagian besar rakyat

Indonesia, dimana lebih dari 80% penduduk bermukim di pedesaan.

b. Pembangunan desa mencakup keseluruhan aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat

desa, dan terdiri atas sektor dan program yang saling berkaitan yang dilaksanakan oleh

masyarakat dengan bantuan dan bimbingan pemerintah melalui berbagai departemen dan

non departemen dengan aparatnya di daerah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab

masing-masing.

c. Pembangunan desa mempunyai makna yang lebih hakiki bagi masyarakat Indonesia

karena dalam realisasi fisiknya justru bersifat menyeluruh dan menyebar luas ke seluruh

pelosok pedesaan serta dengan menggali segala potensi dengan menggerakkan partisipasi

masyarakat untuk memadukannya.

d. Pembangunan desa mempunyai arti yang sangat strategis dalam rangka pembangunan

nasional, karena desa beserta masyarakatnya merupakan landasan atau basis dari

kekuatan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Ini dapat diartikan

sebagai titik sentral dari pembangunan nasional, karena pembangunan desa merupakan

pembangunan yang langsung bersangkutan dengan masyarakat yang berada di pedesaan.

Semua jenis pembangunan, baik pembangunan sektoral, pembangunan regional maupun

pembangunan khusus (inpres), semuanya diarahkan ke pedesaan.

(13)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

e. Pada akhirnya pembangunan desa tidak mungkin hanya dilakukan oleh sepihak saja

tanpa koordinasi dan kerja sama dari semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah sampai

pemerintah desa. Dari sini pulalah perlu inisiatif bahwa, beban dan tanggung jawab

pembangunan bukanlah tugas ringan, justru berhasil tidaknya pembangunan desa akan

berakibat langsung kepada kehidupan dan penghidupan sebagian besar masyarakat

Indonesia.

Dengan melihat pendekatan pembangunan desa yang dilaksanakan oleh warga desa

maka pembangunan desa dapat dilihat sebagai suatu proses dan metode. Dikatakan sebagai

proses karena memperlihatkan jalannya proses perubahan yang berlangsung dari cara yang

tradisional ke arah yang lebih maju dan lebih menekankan kepada aspek perubahan yang

terjadi pada masyarakat, baik yang menyangkut aspek sosial maupun aspek pisikologisnya.

Dan sebagai metoda berarti bahwa pembangunan desa akan mengusahakan agar masyarakat

berkemampuan membangun dirinya sendiri dengan kemampuan dan sumber-sumberyang

mereka miliki.

Dalam pelita VI dikatakan bahwa : pembangunan desa adalah usaha pembangunan

dari masyarakat pada unit pemerintahan terendah yang harus dilaksanakan dan dibina secara

terus menerus, sistematis dan terarah sebagai bagian penting dalam usaha pembangunan

negara yang menyeluruh (Depdagri Dirjend Bangdes; 1981 : 12).

Pembangunan desa adalah seluruh kegiatan pembangunan yang berlangsung di

pedesaan dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, dilaksanakan secara terus

menerus dengan mengembangkan swadaya gotong-royong (I. Nyoman Beratha; 1982 : 71).

(14)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

Berdasarkan uraian-uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa pembangunan desa

dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu dengan imbangan kewajiban yang serasi antara

pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah wajib memberikan bimbingan, pengarahan,

bantuan dan fasilitas yang diperlukan, sedangkan masyarakat memberikan partisipasinya

dalam bentuk swakarsa dan swadaya. gotong-royong masyarakat pada setiap pembangunan

yang diinginkan. Partisipasi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan tersebut

diwujudkan melalui lembaga Ketahanan Masyarakat Desa dan program pembinaan

Kesejahteraan Keluarga.

Dengan demikian jeIaslah di dalam melaksanakan pembangunan desa, prakarsa dan

swadaya gotong-royong masyarakatlah yang utama yang memegang faktor kunci dalam

mencapai keberhasilan pembangunan desa tersebut. Pemerintah hanyalah membimbing,

mengawasi, menumbuhkan dan mengembangkan prakarsa dan swadaya serta inisiatif dari

masyarakat dengan jalan memberi bantuan baik material, saran, prasarana maupun dalam

peningkatan kecakapan dan penyelenggaraan kursus-kursus serta latihan-latihan kerja.

Jadi jelaslah bahwa pembangunan desa tersebut dilaksanakan dari, oleh dan untuk

masyarakat desa itu sendiri sehingga keberhasilan pembangunan desa tersebut ditentukan

oleh dan dari masyarakat itu sendiri dengan melihat rasa tanggung jawab di dalam

membangun desanya.

(15)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

BAB III

PENUTU P

Kepala Mesa meskipun sebagai pimpinan di desa yang harus mampu mempelopori

pembangunan harus didukung oleh masyarakatnya. Kepala Desa harus mampu meningkatkan

prakarsa dan swadaya masyarakat, kepala desa harus mampu menggerakkan masyarakatnya

agar sadar lingkungan, mampu mengembangkan usaha ekonomi desa dan mengembangkan

keuangan desa.

Sebagai pembuat kebijaksanaan bersama-sama dengan lembaga-lembaga lain yang

dibentuk, Kepala Desa juga sekaligus sebagai pelaksana kebijaksanaan dan melakukan

pembinaan dan pengawasan pembangunan di desanya. Agar pembangunan yang diharapkan

dapat terwujud, maka Kepala Desa harus mampu menggerakkan masyarakat agar

berpartisipasi dan mempunyai kesadaran yang cukup tinggi dalam rangka membangun

desanya.

(16)

Tengku Irmayani: Peranan Kepala Desa Sebagai Pelopor Pembangunan, 2002

USU Repository©2006

DAFTAR PUSTAKA

Bayu Surjaningrat, Pemerintahan -Administrasi Desa dan Kelurahan, Aksara Baru, Jakarta,

1985.

Bintoro Tjokroamidjojo, Pengantar Administrasi Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1986.

Departemen Dalam Negeri Dirjen Bangdes, Himpunan Peraturan-Peraturan Tentang

LKMD, Jakarta, 1981.

F.X.Siola, Pembangunan dan Pengembangan Desa Terpadu, Usaha Nasional, Surabaya,

1985.

Koentjaraningrat, Masalah-Masalah Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 1984.

LAN, Sistem Administrasi Negara Indonesia, Haji Mas Agung, Jakarta, 1993.

Soewarno Handajaningrat dan R.Hindratmo, Landasan dan Pedoman Kerja Administrasi

Pemerintahan Daerah, Kota dan Desa, Gunung Agung, Jakarta, 1984.

Soetarjo. K, Desa, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.

Suwarsono dan Alvin Y.SO, Perubahan Sosial dan Pembangunan Indonesia, PL3ES,

Jakarta, 1991.

Suwigno, Administrasi Pembangunan Desa dan Sumber-Sumber Pendapatan Desa, Ghalia

Indonesia, Jakarta, 1986.

Taliziduhu Ndraha, Dimensi-Dimensi Pemerintahan Desa, Bina Aksara, Jakarta, 1984.

______,. Pembangunan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta, 1990.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal para pihak tidak menentukan hukum mana yang akan berlaku, penjelasan Pasal 56 ayat (2) UU NO. 30 Tahun 1999 menyatakan bahwa yang harus diberlakukan adalah ketentuan

[r]

Secara hukum, UU ini lahir berdasarkan ketentuan Pasal 104 ayat (1) UU Nomor 39 tahun 1999 yang menyatakan bahwa yang berhak mengadili pelanggaran HAM yang berat sesuai

Secara hukum, UU ini lahir berdasarkan ketentuan Pasal 104 ayat (1) UU Nomor 39 tahun 1999 yang menyatakan bahwa yang berhak mengadili pelanggaran HAM yang berat sesuai

Menimbang : a) Bahwa dengan diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Desa, dan Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto No.12 Tahun 2000 tentang Pembentukan Badan

Pentignya spiritual dalam pendidikan juga dapat kita lihat dalam pengertian pendidikan yang tersurat di UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 Pasal 1, bahwa

Pengaturan mengenai pencantuman klausula baku dalam perjanjian terdapat dalam UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), dimana pada Pasal 1 ayat (10), dijelaskan

Pada Pasal 10 ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1979 disebutkan bahwa dalam menjalankan hak, wewenang dan kewajiban pimpinan pemerintahan desa, kepala desa : a) bertanggungjawab