TINDAK TUTUR PERCAKAPAN PADA
KOMIK
ASTERIX
SKRIPSI
Oleh:
MAHARANI
NIM 030701018
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TINDAK TUTUR PERCAKAPAN PADA KOMIK ASTERIX
MAHARANI
ABSTRAK
Penelitian ini mengenai “Tindak Tutur Percakapan pada komik Asterix”.
Metode yang digunakan adalah metode padan dengan menggunakandata percakapan
yang terdapat di dalam komik Asterix. Data kemudian dianalisis berdasarkan teori
yang digunakan sebagai kerangka.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan menganalisis jenis-jenis
tindak tutur yang terdapat pada komik Asterix, dan menjelaskan struktur percakapan
yang terdapat di dalam komik Asterix tersebut. Teori yang digunakan adalah bagian
dari pragmatik yaitu teori tindak tutur dan pola pasangan berdampingan. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa percakapan yang terdapat dalam komik Asterix
mempunyai tiga jenis tindak tutur yaitu: (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi, dan (3) tindak perlokusi. Selain tindak tutur, suatu percakapan juga mempunyai struktur yang dibatasi dengan pola pasangan berdampingan, dan setelah dianalisis ditemukan ada 10
pola pasangan berdampingan yang terdapat pada komik Asterix yaitu: (1) pola
sapaan-sapaan, (2) pola panggilan-jawaban, (3) pola permintaan informasi-pemberian, (4) pola penawaran-penolakan, (5) pola keluhan-bantahan, (6) pola pertanyaan-jawaban, (7) pola pemberian informasi-pertanyaan-jawaban, (8) pola perintah-jawaban/menuruti, (9) pola perintah-bantahan, (10) pola sindiran-sindiran.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat dikatakan bahwa
wacana komik Asterix merupakan wacana yang padu sehingga tiap partisipan dapat
PRAKATA
Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa yang telah menganugerahkan
banyak hal kepada penulis sehingga skripsi mengenai tindak tutur ini dapat
diselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini penulis juga menyadari bahwa skripsi ini tidak akan
selesai tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis hendak
menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada pihak-pihak di bawah ini.
1. Bapak Drs. Syaifuddin, M. A., Ph. D , sebagai Dekan Fakultas Sastra USU.
2. Bapak Drs. Parlaungan Ritonga, M. Hum., sebagai Ketua Departemen Sastra
Indonesia Fakultas Sastra USU, yang juga merupakan dosen wali yang telah
memberikan begitu banyak arahan dan dukungan moral selama perkuliahan yang
dijalani oleh penulis.
3. Ibu Dra. Mascahaya, M. Hum., sebagai Sekretaris Departemen Sastra Indonesia
Fakultas Sastra USU, yang juga merupakan Pembimbing II yang telah banyak
mendukung dan membantu penulis semenjak penyusunan proposal hingga
penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Drs. Asrul Siregar, M. Hum., sebagai Pembimbing I yang telah banyak
memberi masukan dan saran kepada penulis, baik dalam perkuliahan, maupun
sewaktu penulisan skripsi ini berjalan.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia Fakultas Sastra USU,
yang telah memberikan bekal dan pengetahuan, baik dalam bidang linguistik,
sastra, maupun bidang-bidang umum lainnya. Dan tidak lupa juga Saya
mengucapkan terima kasih kepada Saudari Fitri, yang telah membantu penulis
dalam hal administrasi di Departemen Sastra Indonesia Fakultas Sastra USU.
6. Kedua orang tua, Ng Eng Hui dan Basrawati Nst., yang tidak hanya mendukung
secara moral dan material, namun juga secara spiritual di dalam doa.
7. Rekan-rekan seangkatan’03, 04, 05, dan teman-teman lainnya yang tidak dapat
disebutkan namanya satu persatu, yang mendorong penulis untuk menghasilkan
yang terbaik, khususnya mereka yang hadir secara langsung saat penulis
mempertahankan proposal dan skripsi ini.
Akhir kata, penulis mengharapkan kiranya skripsi ini dapat berguna,
khususnya dapat dijadikan sumber acuan dalam penelitian mengenai wacana komik
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1Latar Belakang
Sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, masyarakat umum
khususnya para generasi muda harus memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini
bertujuan agar mereka mampu mengembangkan pola pikir serta dapat dengan mudah
mencerna berbagai informasi yang disampaikan. Alat yang umumnya digunakan
untuk meningkatkan minat baca para generasi muda adalah dengan membuat berbagai
media tulisan yang mampu menarik perhatian mereka misalnya komik.
Sebagai salah satu media tulisan, istilah komik sudah tidak asing lagi. Komik
dianggap sebagai media yang mampu menarik minat baca para generasi muda karena
isi dari komik tersebut mudah dicerna dan umumnya memuat cerita yang lucu
(Setiawan dalam Sobur, 2004: 137), dan memberi nasihat kepada pembacanya. Selain
itu, komik juga dapat mengajak para pembacanya untuk ikut atau merasakan situasi
yang disampaikan penulis melalui cerita yang dibuatnya. Dengan demikian, para
pembaca terdorong untuk mengetahui kelanjutan maksud dari cerita tersebut.
Seperti halnya buku, komik sebagai media tulisan juga dapat mengembangkan
wawasan, daya tanggap serta kreativitas pembaca. Kita mengetahui buku dan komik
tidak jauh berbeda, dikatakan demikian karena buku dan komik sama-sama
merupakan wacana tulisan. Wacana dapat diartikan sebagai satuan bahasa terlengkap.
Dalam hirarki gramatikal wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.
ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat
yang lengkap (Kridalaksana dalam Wijana, 2003: 37).
Dengan demikian, perbedaan buku dengan komik hanya terletak pada bentuk
dan isinya. Buku yang merupakan wacana tulisan biasanya berbentuk karangan ilmiah
dengan menggunakan kata-kata baku dan sesuai dengan EyD, seperti buku pelajaran
(buku teks), sedangkan komik yang juga merupakan wacana tulisan tidak harus
menggunakan kata-kata baku karena wacana komik biasanya berbentuk dialog
(percakapan) yang tidak terikat pada norma-norma penulisan ilmiah dan disertai
gambar sebagai pendukung cerita komik tersebut. Kemudian kalau dilihat dari segi
isi, buku umumnya mengajak pembaca untuk mengerti dan memahami suatu hal
(ilmu) yang tidak diketahui sebelumnya sehingga jika membaca buku maka akan
menambah ilmu pengetahuan, sedangkan komik umumnya mengajak pembaca untuk
berkomunikasi dan terlibat diantara tokoh-tokoh yang ada pada komik tersebut serta
mengajak pembaca untuk mengembangkan imajinasinya.
Awalnya komik dikenal oleh bangsa Perancis sejak tahun 1957
yang tepat untuk kata Inggris Comics yang merupakan perwujudan utama dari segala
gambar. Karena tidak ada istilah lain, maka digunakan istilah bande dessinee yang
memiliki arti yang sama dengan comics (Bonneff, 1998:9). Berdasarkan bentuknya
komik dibedakan menjadi dua bentuk yaitu comic-strips dan comic-books.
Comic-strips adalah komik bersambung yang terdapat dalam surat kabar sedangkan
comic-books adalah komik yang berbentuk buku yang hanya memiliki satu cerita walaupun
diterbitkan dengan banyak seri (Bonneff, 1998: 9). Komik Asterix merupakan
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa komik Asterix juga mempunyai
banyak seri yaitu 25 seri yang diterbitkan dengan judul yang berbeda-beda, tetapi
mempunyai kesamaan tokoh dengan maksud peran tokoh utama tidak pernah
digantikan yaitu Asterix. Hampir semua seri pada komik Asterix bercerita tentang
petualangan sehingga membuat pembaca tertarik untuk membacanya.
Komik Asterix merupakan sebuah komik yang bercerita mengenai petualangan
hidup si Asterix (selaku tokoh utama) ke berbagai daerah. Asterix (Perancis: Ast rix)
adalah karekter fiksi yang diciptakan pada tahun 1959, sebagai tokoh utama dari
sebuah serial komik Perancis karya Rene Gosciny (naskah) dan Albert Uderzo
(gambar). Uderzo melanjutkan serial ini setelah Gosciny meninggal pada tahun 1977.
Serial ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa bahkan Latin dan Yunani kuno
dan dapat dijumpai di banyak negara di duni
Komik ini merupakan terjemahan dari komik Perancis yang paling populer di dunia.
Meskipun demikian, Asterix tidak begitu populer di Amerika dan Jepang yang
masing-masing telah memiliki tradisi komik yang kuat. Kunci dari kesuksesan serial
ini mungkin terletak pada ceritanya yang mengandung elemen hiburan untuk segala
usia: anak-anak menyukai adegan perkelahian dan kelucuan visualnya, sementara
orang yang lebih dewasa terhibur oleh berbagai parodi dan permainan kata yang
diucapkan dalam cerita.
Humor yang dijumpai dalam komik Asterix ini merupakan khas Perancis yang
sering mengunakan permainan kata, karikatur, steriotip ringan dari berbagai negara
Eropa kuno dan sejumlah daerah Perancis yang amat spesifik. Akibatnya, proses
penerjemahannya ke dalam bahasa lain agak terhambat karena takut kehilangan kesan
Selain komik Asterix adapula komik lain yang bercerita tentang petualangan
hidup si tokoh utama seperti komik Tin Tin. Berbeda dengan komik lainnya, komik
Asterix bercerita tentang kehidupan Asterix yang hidup sekitar tahun 50 SM di sebuah
desa rekaan di tepi pantai Amorik (dahulu adalah daerah Galia kuno, sekarang dikenal
sebagai Brittany atau Bretagne dalam bahasa Perancis). Desa ini menjadi istimewa
karena merupakan satu-satunya bagian dari Galia yang belum berhasil ditaklukkan
Julius Caesar dan legiun Romawinya. Penduduk desa itu dapat memperoleh kekuatan
super dengan meminum ramuan ajaib buatan dukun yang bernama Panoramix. Satu
sisi dari desa Galia ini dilingkupi pantai dan sisanya adalah hutan yang dijaga ketat
oleh tentara Romawi yang selalu memata-matai desa tersebut
Penelitian tentang komik sudah pernah dilakukan oleh Marcel Bonneff (1971).
Dalam penelitiannya, Bonneff membahas perkembangan komik yang ada di
Indonesia. Penelitiannya ini juga merupakan hasil dari desertasinya, yang
memfokuskan penelitian pada tahapan perkembangan komik khususnya di Indonesia.
Dalam penelitiannya itu ia menggambarkan evolusi komik di Indonesia yang dimulai
dari kisah perwayangan (kisah Mahabarata dan Ramayana) yang sangat populer di
kalangan masyarakat Indonesia pada waktu itu. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa perkembangan komik Indonesia tersebut tidak lepas dari pengaruh komik
Barat dan komik Cina yang ada di Indonesia pada saat itu.
Kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Endah Setia
Rini dengan menggunakan komik Asterix sebagai objek penelitiannya
lebih memusatkan perhatian terhadap permainan kata dari nama-nama tokoh yang
dari nama-nama tokoh di dalam komik tersebut adalah karena di dalam komik Asterix
penamaan tokoh berdasarkan dari ciri fisik dari para tokoh dengan menggunakan
bahasa Perancis sehingga terjadi kesulitan dalam mengartikannya. Dengan demikian,
para penerjemah mengambil langkah dengan melakukan sedikit perubahan terhadap
nama-nama tokoh tersebut dengan menggunakan campuran bahasa Indonesia. Hal ini
dilakukan dengan tujuan agar para pembaca tetap tertarik dan mendapatkan kesan
humor tidak hanya dari segi wacana yang ada didalamnya tetapi juga dari segi
penokohannya.
Contoh:
Penamaan pada tokoh Khurus Khremphenghus dikarenakan tokoh tersebut
mempunyai fisik yang kurus kerempeng. Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa
penerjemah ingin membangkitkan kesan humor serta mempermudah para pembaca
untuk mengetahui atau menggambarkan ciri fisik dari tokoh tersebut. Dengan
demikian, dapat dilihat pula bahwa komik Asterix juga mengajak para pembaca untuk
mengembangkan daya imajinasinya sewaktu membaca komik tersebut.
Ada banyak hal yang membuat para pembaca tertarik untuk membaca komik
tersebut. Karena komik tersebut mampu membangkitkan kesan humor, baik dari segi
gambar, dialog (percakapan) antar tokoh maupun dari nama-nama para tokohnya.
Bentuk percakapan di dalam komik Asterix tidak terlepas dari tindak tutur atau
maksud yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada si pembaca. Dalam
ucapan/ungkapan. Teori tindak tutur adalah bagian dari pragmatik, dan pragmatik itu
sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik.
Teori tindak tutur/bahasa seperti yang disebutkan di atas berkembang dan ini
dimajukan oleh J.L. Austin. Ia mengatakan bahwa secara analitis dapat dipisahkan
menjadi 3 macam tindak tutur yang terjadi secara serentak: (1) tindak ‘lokusi’
(lecutionary act) yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam suatu
ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan
penjelasan dalam sintaksis, (2) tindak ‘ilokusi’ (illecutionary act), yaitu pengucapan
suatu pernyataan, tawaran, janji pernyataan dan sebagainya. Ini erat hubungannya
dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan, dan (3) tindak
‘perlokusi’ (perlocutionary act), yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh
ungkapan itu pasa pendengar sesuai dengan situasidan kondisi pengucapan kalimat
itu.
Dalam setiap situasi ujaran/tutur haruslah ada pihak pembicara (penulis) dan
pihak penyimak (pembaca). Keterangan ini mengandung implikasi bahwa pragmatik
tidak hanya terbatas pada bahasa lisan tetapi juga mencakup bahasa tulis. Setiap
situasi tutur atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Dengan
kata lain, kedua belah pihak baik pembicara maupun penyimak terlibat dalam suatu
kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.
Penelitian tentang tindak tutur sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh
Siregar (2003) dan Hasibuan (2005). Dalam penelitiannya, Siregar mengkaji secara
teoritis prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tindak tutur, pemerolehan tindak tutur
dan siasat kesantunan. Ia juga mengemukakan penggunaan tindak tutur, meskipun
terbatas pada enam bentuk tindak tutur, yaitu tindak tutur permohonan, permohonan
Sedangkan Hasibuan (2005) mengkaji perangkat tindak tutur dan siasat
kesantunan berbahasa dalam bahasa Mandailing. Ia mengemukakan jenis-jenis tindak
tutur versi Searly, yaitu representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Juga
dibahas jenis tindak tutur langsung dan tidak langsung. Ia juga mengaitkan tindak
tutur dengan kesantunan bahasa, sama halnya dengan kajian Siregar.
Selain tindak tutur, dalam suatu percakapan umumnya dilakukan oleh dua
partisipan yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai pembicara dan penyimak. Oleh
karena itu, dapat dikatakan dalam sebuah percakapan kedua partisipan itu disebut
dengan pasangan berdampingan/bersesuaian. Hal tersebut dapat dilihat pada
penelitian mengenai wacana dan percakapan yang telah dilakukan oleh beberapa
peneliti, diantaranya Nasution (2001) dan Arianto (2003).
Dalam penelitiannya, Nasution menunjukkan bahwa wacana persidangan
memiliki lima pola pasangan bersesuaian. Kelima pola itu meliputi pola
panggilan-jawaban, permintaan-pemersilahan, permintaan informasi- pemberian,
penawaran-penerimaan, dan penawaran-penolakan. Selain itu, ia menyimpulkan bahwa tidak
semua pasangan bersesuaian tersebut yang bermakna implikatur. Keempat maksim
dalam prinsip kerja sama juga tidak semuanya diterapkan dalam wacana ini.
Berbeda dengan Nasution, Arianto mengarahkan penelitiannya kepada
wawancara kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan hal yang hampir serupa dengan
penelitian Nasution karena tidak semua maksim dalam prinsip kerja sama dapat
diterapkan. Di samping itu, tidak semua pasangan bersesuaian dalam wacana ini
mengandung makna implikatur. Adapun pola pasangan bersesuain yang muncul
dalam wacana ini adalah pola permintaan-pemersilahan, permintaan
Pada komik Asterix juga dijumpai pasangan berdampingan/bersesuaian.
Mengingat bahwa dalam komik Asterix tersebut juga terdapat percakapan, bentuk
percakapan yang terdapat dalam komik Asterix pastilah berbeda dengan bentuk
percakapan yang terdapat pada wacana persidangan dan wawancara kerja seperti yang
telah diteliti sebelumnya karena situasi percakapannya juga berbeda. Selain itu,
percakapan yang terdapat pada wacana persidangan dan wawancara kerja merupakan
percakapan secara lisan sedangkan percakapan yang terdapat pada komik merupakan
percakapan dalam bentuk tulisan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nasution, ia menunjukkan lima pola
pasangan berdampingan/bersesuaian yang terdapat pada wacana persidangan.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Arianto, ia mengemukakan bahwa ada
empat pola pasangan bersesuaian yang terdapat pada percakapan wawancara kerja.
Maka dapat disimpulkan bahwa dalam setiap percakapan selalu memiliki struktur
yang berbeda-beda begitu pula yang terdapat dalam percapakan komik Asterix.
Selain melihat dari sudut pandang tindak tutur dan pasangan berdampingan,
suatu percakapan dapat diketahui kejelasannya atau dapat dimengerti apabila pembaca
mengetahui konteks dari suatu pembicaraan tersebut. Karena makna kata atau makna
suatu kalimat berhubungan dengan konteksnya.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, pada kesempatan ini peneliti tertarik
untuk meneliti tindak tutur percakapan pada komik Asterix.
1.1.2Masalah
Adapun masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Tindak tutur apa sajakah yang terdapat pada komik Asterix?
1.2Batasan Masalah
Suatu penelitian harus dibatasi supaya penelitian terarah dan tujuan penelitian
tercapai. Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada tindak tutur yang meliputi tindak
lokusi, ilokusi, dan perlokusi, serta bagaimana struktur percakapan yang terdapat pada
komik Asterix. Struktur percakapan yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi
pada pola pasangan berdampingan/bersesuaian. Adapun yang menjadi objek dalam
penelitian ini adalah komik Asterix yang dibatasi pada salah satu seri saja yang
berjudul Asterix di tengah Orang Swiss. Judul tersebut merupakan seri ke-20 dari 25
seri yang ada pada komik Asterix. Dan data yang digunakan untuk dianalisis juga
dibatasi hanya pada dua topik saja karena ada banyak topik percakapan yang terdapat
di dalam komik Asterix. Kemudian dalam dua topik percakapan tersebut terdapat 17
contoh data percakapan untuk dianalisis.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Menemukan dan menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada komik
Asterix.
2. Menjelaskan struktur percakapan yang terdapat pada komik Asterix.
1.3.2Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah:
1. Hasil penelitian ini dapat memberikan penjelasan tentang makna pragmatik pada
wacana komik Asterix khususnya tindak tutur.
2. Pembaca dapat memahami struktur percakapan yang terdapat pada komik
3. Penelitian mengenai tindak tutur percakapan pada komik Asterix ini dapat
dijadikan sumber acuan dalam penelitian mengenai wacana komik yang
berhubungan dengan makna pragmatik.
1.4 Metode Penelitian
1.4.1 Metode dan Teknik Penyediaan Data
Data dalam analisis wacana selalu berupa teks, baik teks lisan maupun tulisan.
Teks lisan di sini mengacu pada bentuk transkripsi rangkaian kalimat atau ujaran yang
dituliskan. Sumber data dalam penelitian ini adalah data tulis atau teks lisan yang
dituliskan yang terdapat pada komik Asterix.
Dalam penelitian ini data diperoleh dengan menggunakan metode simak.
Metode ini dinamakan demikian mengingat pelaksanaan metode ini adalah dengan
menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto 1993: 133). Data dikumpulkan dengan
cara menyimak atau membaca komik yang dijadikan sumber data. Metode simak ini
diwujudkan dengan menggunakan teknik catat (Sudaryanto 1993: 135). Teknik catat
ini digunakan untuk mencatat data-data yang dibutuhkan.
1.4.2Metode dan Teknik Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, mulailah diadakan analisis terhadap data untuk
menyelesaikan permasalahan penelitian yang telah ditetapkan. Kemudian data diolah
dengan menggunakan metode padan yang menggunakan alat penentu di luar, terlepas
dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Teknik analisis yang
digunakan adalah teknik dasar yaitu dengan memilahkan unsur-unsur penentu dan
daya pilah yang sesuai dengan penelitian ini adalah daya pilah pembeda reaksi.
Mengingat bahwa data yang digunakan pada penelitian ini berupa data dalam bentuk
percakapan tertulis. Maka akan dapat diketahui apakah mitra wicaranya akan: (a)
dengan isi yang informatif, (c) tergerak emosinya, ataukah (d) diam, namun
menyimak dan berusaha memahami apa yang dituturkan mitra wicaranya. Kemudian
dilanjutkan dengan teknik lanjutan hubung banding menyamakan (Sudaryanto, 1993:
13-52).
Contoh 1. Data percakapan 1 (dari komik Asterix)
(1) <Pimpinan> : Asterix! Obelix! Kalian berdua kuberi kehormatan
sebagai penandu sangapemimpin!
(2) <Asterix> : Apa? Kami berdua?
(3) <Asterix + Obelix> : Tapi, Pak Pemimpin...
(4) <Pimpinan> : Tidak ada tapi-tapian!
Contoh data percakapan di atas dianalisis dengan menggunakan teori tindak
tutur dan pasangan berdampingan yang dijadikan landasan teori pada penelitian ini.
Teori tindak tutur dibagi menjadi tiga jenis yaitu: (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi,
(3) tindak perlokusi. Kemudian data di atas akan dianalisis sebagai berikut:
Pada data (1) <Pemimpin>: Asterix! Obelix! Kalian berdua kuberi kehormatan
sebagai penandu sang pemimpin!
Tindak tutur yang terdapat pada data (1) adalah:
Tindak lokusi: Pemimpin akan menyerahkan penghargaan kepada Asterix dan Obelix
Tindak ilokusi: Pemimpin mempunyai maksud untuk memberikan perintah kepada
Asterix dan Obelix untuk menjadi penandunya.
Tindak perlokusi: efek yang ditimbulkan pada (1) muncul pada (2) dengan
menyatakan pertanyaan kepada Pemimpin.
Pada data (2) <Asterix> : Apa? Kami berdua?
Tindak tutur yang terdapat pada data (2) adalah:
Tindak lokusi: Asterix bertanya apakah dia dan Obelix yang akan menjadi penandu
Pemimpin.
Tindak ilokusi: Asterix bertanya dengan maksud untuk memperjelas dan ingin tahu
apa yang diutarakan oleh Pemimpin pada data (1).
Tindak perlokusi: efek yang ditimbulkan pada data (2) adalah Asterix tidak
ingin/keberatan atas keputusan pemimpin yang memerintah
Asterix untuk menjadi penandu.
Pada data (3) <Asterix + Obelix> : Tapi, Pak Pemimpin...
Tindak tutur yang terdapat pada data (3) adalah:
Tindak lokusi: Tapi merupakan kata penghubung untuk menyatakan hubungan yang
berlawanan dan bertentangan dan Pak Pemimpin merupakan kata
sapaan untuk laki-laki.
Tindak ilokusi: Asterix dan Obelix mempunyai maksud untuk menolak keinginan
Pemimpin sebagai penandu-penandunya.
Tindak Perlokusi: efek yang ditimbulkan pada (3) adalah timbulnya tuturan (4) yang
berupa bantahan terhadap tuturan (3).
Pada data (4) <Pimpinan> : Tidak ada tapi-tapian!
Tindak lokusi: Tidak berarti penolakan atas sesuatu, ada berarti siap sedia/keadaan
yang menunjukkan wujud nyata, tapi menandakan hubungan yang
berlawanan.
Tindak ilokusi: Pemimpin mempunyai maksud tidak ada yang boleh membantah
perintahnya.
Setelah data di atas dianalisis dengan teori tindak tutur, kemudian dilanjutkan
penganalisisan data tersebut dengan menggunakan teori padangan berdampingan.
Maka dari data di atas dapat kita peroleh pola pasangan berdampingan sebagai
berikut:
(1) <Pimpinan> : Asterix! Obelix! Kalian berdua kuberi kehormatan sebagai penandu sangapemimpin! ‘Perintah’
(2) <Asterix> : Apa? Kami berdua? ‘Jawaban’
(3) <Asterix + Obelix> : Tapi, Pak Pemimpin... ‘Penolakan’
(4) <Pimpinan> : Tidak ada tapi-tapian! ‘Bantahan’
Pada data percakapan di atas terdapat dua pola pasangan berdampingan yaitu: (1) pola
perintah-Jawaban, (2) pola penolakan-bantahan.
Tampak pada data (1) Pemimpin memerintahkan Asterix dan Obelix untuk menjadi
penandu-penandunya. Yang kemudian dilanjutkan dengan Asterix (2) yang
memberikan reaksi jawaban atas perintah tersebut dalam bentuk pertanyaan yang
dimaksudkan untuk memperjelas perintah tersebut. Pada data (3) merupakan
penolakan atas perintah tersebut dan penolakan yang dilakukan oleh Asterix dan
Obelix mendapat respon dari pemimpin dengan memberikan bantahan.
Teknik lanjutan yang digunakan berkenaan dengan metode padan ini adalah
teknik hubung banding menyamakan. Hal yang hendak disamakan di sini adalah
persepsi tiap partisipan. Dengan demikian, baik <Pimpinan> maupun <Asterix dan
Obelix> pada rangkaian tuturan di atas memiliki persepsi yang sama terhadap apa
oleh <Asterix dan Obelix> yaitu mereka berdua mengetahui bahwa mereka diminta
untuk menjadi penandu bagi sang pemimpin dan apabila mereka berdua tidak
memiliki persepsi yang sama dengan <Pimpinan> maka mereka mungkin saja tidak
memberikan jawaban yang relevan seperti yang tertera pada gambar di atas. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa informasi yang dikirimkan dapat diterima dengan
baik.
1.5Landasan Teori
1.5.1Konsep Pragmatik
Menurut Yule Pragmatik adalah “cabang ilmu bahasa yang mempelajari
tentang makna yang dihendaki oleh penutur” (dalam Cahayono, 1995: 213). Dalam
pragmatik juga dilakukan kajian tentang dieksis, praanggapan, implikatur, tindak
tutur, dan aspek-aspek struktur wacana (Levinson, 1983 dalam Soemarno 1988: 169).
Dalam penelitian ini pembicaraan mengenai kajian pragmatik lebih dibatasi
pada kajian tindak tutur, pasangan berdampingan yang merupakan bagian dari suatu
percakapan, dan konteks yang mempunyai peranan penting dalam situasi percakapan.
1.5.2.1 Tindak Tutur
Menurut Searly (1969), dalam komunikasi bahasa terdapat tindak tutur. Ia
berpendapat bahwa komunikasi bahasa bukan sekadar lambang, kata, atau kalimat,
tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau
kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur. Lebih tegasnya, tindak tutur adalah
produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan
terkecil dari komunikasi bahasa. Sebagaimana komunikasi bahasa yang dapat
berwujud pernyataan, pertanyaan, dan perintah, tindak tutur dapat pula berwujud
Tindak tutur dalam ujaran suatu kalimat merupakan penentu makna kalimat
itu. Namun, makna suatu kalimat tidak ditentukan oleh satu-satunya tindak tutur
seperti yang berlaku dalam kalimat yang sedang diujarkan itu, tetapi selalu dalam
prinsip adanya kemungkinan untuk menyatakan secara tepat apa yang dimaksud oleh
penuturnya. Oleh sebab itu, mungkin sekali, dalam setiap tindak tutur, penutur
menuturkan kalimat yang unik karena dia berusaha menyesuaikan ujaran dengan
konteksnya. Dengan demikian, teori tindak tutur adalah teori yang lebih cenderung
meneliti tentang makna kalimat dan bukannya teori yang lebih cenderung berusaha
menganalisis struktur kalimat.
Teori tindak tutur seperti yang disebutkan di atas berkembang dan ini
dimajukan oleh J.L. Austin (dalam Lubis, 1991: 9-10). Ia mengatakan bahwa secara
analitis dapat kita pisahkan 3 macam tindak bahasa yang terjadi secara serentak:
1. Tindak ‘lokusi’ (lecutionary act) yang mengaitkan suatu topik dengan satu
keterangan dalam suatu ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan
‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis; dalam bahasa Inggris
subject-predicate dan topic comment ini disebut juga propositional act (Searly,
dalam Lubis, 1991: 9).
Contoh: Saya lapar, seseorang mengartikan Saya sebagai orang pertama tunggal
(si penutur), dan lapar mengacu ke “perut yang kosong dan perlu diisi”, tanpa
bermaksud untuk meminta makanan.
2. Tindak ‘ilokusi’ (illecutionary act), yaitu pengucapan suatu pernyataan, tawaran,
janji pertanyaan dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk
kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan.
Contoh: Saya lapar, yang maksudnya adalah meminta makanan merupakan suatu
suatu pernyataan saja tapi maksudnya adalah si penutur benar-benar memohon
bantuan.
3. Tindak ‘perlokusi’ (perlocutionary act), yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan
oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan
kalimat itu (Nababan 1989: 18, dalam Lubis, 1991: 9).
Contoh: dari kalimat Saya lapar yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan
efek kepada pendengar yaitu dengan memberikan atau menawarkan makanan
kepada penutur.
Dalam ilmu bahasa dapat kita samakan tindak lokusi itu dengan ‘predikasi’,
tindak ilokusi dengan ‘maksud kalimat’ dan tindak perlokusi dengan akibat suatu
ungkapan.
Atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa lokusi adalah makna dasar
atau referensi kalimat itu, ilokusi sebagai daya yang ditimbulkan oleh pemakainya
sebagai perintah, ejekan, keluhan, pujian, dan lain-lain, dan perlokusi adalah hasil dari
ucapan tersebut terhadap pendengarnya.
Kalimat: Nilai rapotmu bagus sekali.
Dalam segi lokusi, ini hanya sebuah pernyataan bahwa nilai rapot itu bagus (makna
dasar). Dari segi ilokusi, bisa berarti pujian atau ejekan. Pujian kalau memang nilai itu
bagus, dan ejekan kalau nilai rapot itu memang tidak bagus.
Dari segi perlokusi dapat membuat pendengar itu menjadi sedih (muram) dan
sebaliknya dapat mengucapkan terima kasih.
Ucapan yang tidak langsung itu tidak menyatakan pujian atau ejekan tetapi
mengharuskan si pendengar mengolahnya, sehingga makna yang sebenarnya dapat
ditentukannya. Ini dapat diketahui dari kaidah perbincangannya.
Nilai rapotmu bagus sekali bermakna dasar, sebuah rapot bernilai bagus.
Prinsip koperatifnya di sini dijalankan karena si pembicara menyatakan sesuai dengan
tujuan pembicara itu. Dari segi evaluatifnya dapat dikatakan sebagai berikut: Si
pembicara menyatakan sesuatu dengan terang dan jelas dan ini biasanya mempunyai
makna dibaliknya.
Di sini konteksnya dan penuturnya memegang peranan untuk menyatakan
nilai evaluatifnya. Kalau yang menyatakan itu adalah orang tuanya kepada anaknya
yang menunjukkan rapotnya dan air muka orang tuanya itu kelihatan tidak jernih,
maka jelas daya ilokusi pernyataan itu adalah kekesalan. Kesimpulan ini menentukan
bagaimana respon si pendengar atau anak yang mempunyai rapot tersebut. Ia mungkin
akan menyatakan bahwa guru-gurunya tidak jujur atau mungkin juga Cuma merasa
sedih atau mungkin juga ia akan menangis, atau ia akan mengatakan bahwa ia telah
berusaha sekuat mungkin. Dan inilah nilai perlokusi.
1.5.2.2Pasangan Berdampingan
Richard (1995: 11) menyebutkan bahwa suatu cara untuk mengomunikasikan
dan menginterpretasikan makna adalah dengan menggunakan pasangan
berdampingan. Menurutnya pasangan berdampingan adalah ujaran kedua
diidentifikasikan dalam hubungannya dengan ujaran pertama karena diharapkan
ujaran kedua tersebut merupakan kelanjutan dari yang pertama (Kridalaksana, 2001:
156). Coulthard (1977, dalam Richard 1995: 11) melihat pasangan berdampingan ini
sebagai unit struktural dasar dalam percakapan.
Ada delapan pola psangan berdampingan yang diajukan oleh Coulthard
(dalam Richard, 1995: 11-12). Pola-pola tersebut meliputi pola sapaan-sapaan,
panggilan-jawaban, keluhan-bantahan, keluhan-permohonan maaf,
penawaran-penolakan. Namun dalam kasus-kasus tertentu, bukan tidak mungkin
muncul pola yang berbeda dengan pola yang ditawarkan Coulthard tersebut.
1.5.2.3Konteks
Dell Hymes (1972, dalam Chaer, 1995: 62), seorang pakar sosiolinguistik
terkenal mengatakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen,
yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING.
Kedelapan komponen itu adalah:
S (= Setting and Scene)
P (= Paticipants)
E (= Ends: Purpose and goal)
A (= Act sequence)
K (= Key: tone or spirit of act)
I (= Instrumentalities)
N (= Norms of interactions and interpretation)
G (= Genres)
Setting and scene. Di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur
berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi
psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat
menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di lapangan sepak
bola pada waktu ada pertandingan sepak bola dalam situasi yang ramai tentu berbeda
dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan
dalam keadaan sunyi. Di lapangan sepak bola kita bisa berbicara keras-keras, tapi di
ruang perpustakaan harus seperlahan mungkin.
Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa
Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara dan
pendengar, tetapi dalam khotbah di mesjid, khotib sebagai pembicara dan jemaah
sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status sosial partisipan sangat
menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan
menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orang
tuanya atau gurunya bila dibandingkan kalau dia berbicara terhadap teman-teman
sebayanya.
Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi
di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara, namun,
para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa
ingin membuktikan kesalahan terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa
terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil.
Dalam peristiwa tutur di ruang kuliah linguistik, dosen yang cantik itu berusaha
menjelaskan materi kuliah agar dapat dipahami mahasiswanya, namun, barangkali di
antara para mahasiswa itu ada yang datang hanya untuk memandang wajah ibu dosen
yang cantik itu.
Act sequence, mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini
berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, dan
hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam
kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu juga
dengan isi yang dibicarakan.
Key, mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan
disampaikan: dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong,
dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh
Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur
lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada
kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, ragam dialek, atau register.
Norm of Interaction and Interpretation, mengacu pada norma atau aturan
dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya,
dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan
bicara.
Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah,
doa, dan sebagainya.
Dari yang dikemukakan Hymes itu dapat kita lihat betapa kompleksnya
terjadinya peristiwa tutur yang kita lihat, atau kita alami sendiri dalam kehidupan kita
BAB II
TINDAK TUTUR PERCAKAPAN PADA KOMIK ASTERIX
Menemukan Tindak Lokusi, Ilokusi, Perlokusi
Setelah data terkumpul maka akan ditemukan jenis-jenis tindak tutur dalam
komik Asterix yakni sebagai berikut:
Contoh 1. Data Percakapan 2
(1) <Asterix> : Lho...Mereka itu adalah penandu-penandu Abraracourcix pemimpin kita!
(2) <Penandu 1> : Kami dipecat, padahal paginya dia begitu riang gembira bahkan sempat menikmati cuaca segala...
(3) <Penandu 2> : Karena itu pulalah kami melongok ke belakang untuk melihat langit...
(4) <Penandu 1> : Persis pada saat kami berdua mau kembali pemimpin kita itu tidak ada lagi di atas perisai tandu...
(5) <Penandu 2> : Salah sendiri kalau dia merasa tidak puas dengan kami berdua! Yah apa boleh buat, kami kena PHK...
Tabel 1. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 2
Tuturan Tindak
Lokusi Ilokusi Perlokusi
(1)
Para penandu tersebut diberhentikan dari pekerjaannya sebagai penandu Sang Pemimpin.
Para penandu tersebut terkejut dan memandang langit
Ketika para penandu itu
‘memberitahukan
‘para penandu merasa heran atas keputusan Pemimpin’
‘menceritakan perihal
Muncul pada tuturan (2) dengan
memberikan keterangan.
Muncul pada tuturan (3) dengan
memberikan
tambahan keterangan atas pemecatan tersebut.
Muncul pada tuturan (4) dengan
memberikan
keterangan tambahan.
(5)
kembali, mereka tidak melihat Pemimpin mereka di atas tandu lagi.
Penandu 2 menyalahkan Pemimpin mereka atas pekerjaan mereka, dan mereka pasrah untuk di PHK.
pemecatan mereka’
‘mengeluh dan kecewa atas pemecatan
tersebut’
(5) dengan rasa kecewa.
-
Contoh 2. Data percakapan 3
(1) <Penduduk 1> : Ha! Ha! Ha!
Mungkin ada baiknya Kalian pergi berjalan-jalan ke gunung!
(2) <Penduduk 2> : Seharusnya Obelix berjalan di atas lututnya!
(3) <penduduk 3> : Wah! Wah! Dengan cara itu pemimpin kita kelihatan bongkok gara-gara rakyat memberati pundaknya! (4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang
menertawakan kita!
(5) <Asterix> : Sebaiknya Obelix saja yang mengangkatmu, Abraracourcix!
(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!
(7) <Obelix> : Lalu bagaimana dengan bisnis menhirku?
(8) <Sang Pemimpin> : Demi Toutatis! Kalian menolak melayani sang pemimpin?
Tabel 2.Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 3
Tuturan Tindak
Lokusi Ilokusi Perlokusi
(1)
(2)
Penduduk 1 berkata sambil tertawa, sebaiknya Pemimpin, Asterix, dan Obelix pergi berjalan-jalan ke gunung.
Penduduk 2 berkata seharusnya Obelix berjalan dengan
‘mengusulkan dan agar Pemimpin, Asterix, dan Obelix berjalan ke gunung’
‘menyindir Obelix karena mempunyai fisik yang lebih besar
Muncul pada tuturan (2) dengan
memberikan sindiran.
Muncul pada tuturan (3) dengan
(3)
Penduduk 3 berkata bahwa Pemimpin terlihat tidak seimbang karena rakyat memberati bahunya.
Sang Pemimpin
menyuruh agar tandunya diletakkan dengan cepat.
Asterix menyatakan bahwa Obelix saja yang mengangkat/membawa Sang Pemimpin.
Sang Pemimpin berkata harus dua orang
Prajurit/tentara yang mengankatnya dan kalau tidak maka dia akan dipandang sebagai Pemimpin yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan
Obelix bertanya tentang keadaan usaha
menhirnya.
Sang Pemimpin bertanya apakah Asterix dan Obelix menolak untuk menjadi penadu Sang Pemimpin.
daripada Asterix’
‘menyindir Pemimpin karena ia diangkat oleh dua penandu dengan berat badan yang tidak seimbang’ Obelix saja yang mengangkat Pemimpin’
‘memberikan perintah kepada Asterix dan Obelix’
‘menolak untuk menjadi penandu Sang Pemimpin’
‘menanyakan tentang kesediaan Asterix dan Obelix untuk menjadi penandu-penandu Sang Pemimpin’
kepada Pemimpin.
Muncul pada tuturan (4) dengan
memberikan perintah kepada penandu-penandu.
Muncul pada tuturan (5) dengan
memberikan jawaban/pendapat atas perintah itu.
Muncul pada tuturan (6) dengan
memberikan bantahan.
Muncul pada tuturan (7) dengan
memberikan sebuah pertanyaan.
Muncul pada tuturan (8) dengan rasa marah sambil memberikan pertanyaan.
-
Contoh 3. Data Percakapan 4
(1) <Panoramix> : Apa apaan Obelix itu?
Tabel 3. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 4
Tuturan Tindak
Lokusi Ilokusi Perlokusi
(1)
‘ingin tahu tentang apa yang dilakukan obelix’
‘memberikan jawaban atas pertanyaan Panoramix’
muncul pada tuturan (2) dengan memberikan jawaban sambil mengejek. -
Contoh 4. Data Percakapan 5
(1) <Tamu> : Demi Yupiter! Malarius yang mulia... pesta mabuk-mabukan ini sungguh mempesonakan, membuat kita lupa bahwa kita ini berada jauh dari Roma!
(2) <Malarius> : Memang! Ini namanya pesta selera tinggi... Malinguslah yang jadi otak pesta ini!
(3) <Malarius> : Ah! Itu dia penari-penari kita! (4) <Malarius> : Bawa! kesini anggurnya! Cepat!
(5) <Pelayan> : Tuan! Tamu yang tuan nantikan sudah menunggu di ruang kerja!
(6) <Malarius> : Baik! Aku pergi dulu! Cepat bawakan jerohan celeng yang digoreng dengan minyak urus-urus!
(7) <Tamu> : Ah! Malarius yang budiman kau manjakan kami! (8) <Malarius> : Bersenanglah sepuas-puasnya! Aku segera kembali!
Tabel 4.Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 5
Tuturan Tindak
Lokusi Ilokusi Perlokusi
(1)
(2)
Seorang tamu mengatakan bahwa pesta yang dibuat Malarius sangat
menakjubkan sehingga membuat mereka lupa dengan Roma.
Malarius menyatakan bahwa pesta tersebut merupakan pesta selera tinggi dan Malinguslah yang membuat pesta tersebut.
‘memuji pesta yang dibuat oleh Malarius’
‘memberitahukan tentang siapa yang membuat pesta tersebut’
Muncul pada tuturan (2) dengan perasaan senang.
(3) bahwa penari-penari telah datang.
Malarius menyuruh seseorang untuk membawa anggur kepadanya.
Pelayan memanggil Malarius bahwa tamu yang sedang ditunggu telah menunggu di ruang kerja.
Malarius menjawab dia akan pergi dan menyuruh untuk membawakan makanan.
Seorang tamu menyatakan bahwa Malarius berhati baik dan dia menuruti kehendak para tamunya secara berlebihan.
Malarius menyuruh agar para tamu untuk
bersenang-senang dan menginformasikan dia akan kembali dengan cepat. bahwa tamu yang dinantikan sudah kepada para tamu untuk bersenang-senang’
-
Muncul pada tuturan (5) dengan
memberikan informasi tentang sesuatu.
Muncul pada tuturan (6) dengan
memberikan jawaban atas pemberitahuan itu.
Muncul pada tuturan (7) dengan pujian atas perlakuan Malarius kepada mereka.
Muncul pada tuturan (8) dengan rasa senang ia
menanggapi tuturan (7).
-
Contoh 5. Data Percakapan 6
(1) <Pelayan> : Pak! Apakah saya harus menyiapkan sop darah beruang dan capcay leher jerapah?
(2) <Malarius> : Tidak! Bikinkan semangkuk sop sayuran!
(3) <Pelayan> : Apa-apaan lagi nih... macam-macam saja yang mereka inginkan untuk pesta mabuk-mabukan ini!
(4) <Pelayan> : sudah siap, Pak!
(6) <Malarius> : He...He..., ini racun tikus! Demi Yupiter! Ini juga..., ini sama saja..., dan ini yang terakhir...! Aku tidak boleh lupa mengisinya kembali!
(7) <Malarius> : Ini sopnya Inspektur!
(8) <Inspektur> : Gila! Istanamu indah sekali aneh, padahal propinsimu miskin kan? Setoran yang kau serahkan ke pemerintah pusat Cuma beberapa keping emas!
(9) <Malarius> : Masalahnya adalah pada selera! Kalau seleramu tinggi, dari sesuatu yang kecil kau dapat berbuat banyak!
(10) <Inspektur> : Hmm, begitu! Kita lihat saja besok pagi! (11) <Malarius> : Selamat malam, Inspektur!
(12) <Malarius> : He..He...He..
Tabel 5.Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 6
Tuturan Tindak
Lokusi Ilokusi Perlokusi
(1)
Pelayan bertanya apakah dia harus membuat sop darah beruang dan capcay leher jerapah.
Malarius menyuruh pelayan untuk membuat semangkuk sop sayuran.
Pelayan berbicara dengan dirinya sendiri dengan menyatakan kebingungannya atas perintah Malarius.
Pelayan menyatakan bahwa perintah yang diberikan sudah selesai dikerjakan.
Malarius menyuruh agar pelayan meletakkan makanan tersebut dan segera keluar.
Malarius menunjukkan racun tikus dan dia tidak boleh lupa untuk
‘bertanya tentang apa yang harus ia lakukan’
‘memerintahkan
pelayan untuk membuat semangkuk sop
sayuran’
‘mengeluh atas perintah yang diberikan
Malarius’
‘memberitahukan bahwa makanan yang dibuat telah siap dibuat’
‘memerintahkan pelayan untuk meletakkan makanan tersebut dan cepat keluar dari ruangan tersebut’
‘meletakkan racun tikus tersebut ke dalam makanan sop yang telah
Muncul pada tuturan (2) dengan memberikan jawaban.
Muncul pada tuturan (3) dengan memberikan tanggapan yang disertai rasa kesal.
-
Muncul pada tuturan (5) dengan memberikan perintah kepada
pelayan tersebut.
-
(7) apabila sudah habis.
Malarius menunjukkan sop tersebut kepada Inspektur.
Inspektur terkejut melihat istana Malarius padahal propinsinya miskin,
penghasilan/pajak yang diberikan ke pemerintah pusat hanya beberapa keping emas.
Malarius berkata bahwa masalahnya adalah pada kemauan, kalau
kemauanmu (Inspektur) tinggi maka dari suatu hal yang kecil/sedikit (Inspektur) dapat berbuat banyak/lebih.
Inspektur menyetujui pendapat Malarius sambil berkata untuk menunggu besok pagi.
Malarius mengucakpan selamat malam kepada Inspektur.
dibuat oleh pelayan itu’
‘menawarkan sop tersebut kepada Inspektur’
‘menyindir Malarius karena tidak sebanding antara pajak yang diberikannya dengan bentuk istananya yang megah’
Muncul pada tuturan (8) dengan memberikan tanggapan yang berupa ejekan tentang istana Malarius.
Muncul pada tuturan (9) dengan memberikan pernyataan atas
sindiran yang diberikan oleh Inspektur.
Muncul pada tuturan (10) dengan rasa tidak percaya.
Muncul pada tuturan (11) dengan
memberikan salam kepada Inspektur.
-
2.2 Menganalisis Tindak Lokusi, Ilokusi, Perlokusi
Setelah jenis-jenis tindak tutur ditemukan kemudian akan dilanjutkan dengan
analisis data sebagai berikut:
Contoh 1. Data Percakapan 2
(1) <Asterix> : Lho...Mereka itu adalah penandu-penandu Abraracourcix pemimpin kita!
(3) <Penandu 2> : Karena itu pulalah kami melongok ke belakang untuk melihat langit...
(4) <Penandu 1> : Persis pada saat kami berdua mau kembali pemimpin kita itu tidak ada lagi di atas perisai tandu...
(5) <Penandu 2> : Salah sendiri kalau dia merasa tidak puas dengan kami berdua! Yah apa boleh buat, kami kena PHK...
Konteks:
Pada gambar di atas dapat kita lihat percakapan antara penandu-penandu tersebut
dilakukan di sebuah jalan desa Galia dan Asterix dan Obelix hanya melihat dan
merasa terkejut. Topik pembicaraan pada percakapan di atas adalah mereka dipecat
oleh pimpinannya sebagai penandu, situasi pembecaraan mereka tidak formal (santai).
Dalam percakapan di atas dapat diketahui bahwa topik yang dibicarakan
adalah mengenai pemecatan para penandu Abraracourcix yang disebut sebagai
seorang pemimpin.
Pada tuturan (1) menyatakan bahwa <Asterix> sedang menujukkan kepada
semua orang bahwa ia melihat para penandu tersebut dan tuturan itu disampaikan
secara spontan oleh <Asterix> yang disebut dengan tindak lokusi. Selain tindak
lokusi, tuturan (1) juga mempunyai maksud yang ingin disampaikannya yaitu
<Asterix> ingin memberitahukan bahwa ada penandu-penandu Abraracourcix dan
tindak ini disebut tindak ilokusi. Dari tuturan (1) maka munucl tindak perlokusi,
yaitu efek yang ditimbulkan oleh pendengar ketika mendengar tuturan dari lawan
bicaranya, tindak perlokusi pada tuturan (1) yaitu muncul pada tuturan (2) yang
berupa pemberian keterangan dari ucapan <Asterix>.
Tindak lokusi pada tuturan (2) adalah <Penandu 1> menyatakan bahwa ia dan
temannya (<Penandu 2>) diberhentikan dari pekerjaannya sebagai penandu oleh Sang
memberitahukan kepada <Asterix> bahwa mereka telah dipecat oleh Pemimpin.
Kemudian pada tuturan (3) tindak lokusinya adalah <Penandu 2> merasa terkejut dan
melihat langit, dan dilanjutkan dengan tuturan (4) dan (5). Dan tindak ilokusi pada
tuturan (3), (4) adalah mereka sama-sama memberitahukan perihal pemecatan
tersebut, sedangkan untuk tuturan (5) tindak ilokusinya sedikit berbeda yaitu
<Penandu 2> mengeluh atas pemecatan itu.
Tindak perlokusi pada percakapan di atas muncul pada tuturan (2), (3), (4),
dan (5) karena kedua partisipan saling memberikan keterangan/balasan kepada lawan
tuturnya. Dari tuturan (2) muncul tuturan (4) dan dikuti dengan tuturan (5).
Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa masing-masing partisipan
memiliki persepsi yang sama, hal itu dapat dilihat dari setiap ujaran yang dituturkan
oleh masing-masing partisipan tersebut. Antara ujaran yang diberikan <Penandu 1>
kepada <Penandu 2> memiliki persamaan persepsi yaitu mengenai keluhan atas
pemecatan mereka.
Contoh 2. Data percakapan 3
(1) <Penduduk 1> : Ha! Ha! Ha!
Mungkin ada baiknya Kalian pergi berjalan-jalan ke gunung!
(2) <Penduduk 2> : Seharusnya Obelix berjalan di atas lututnya!
(3) <penduduk 3> : Wah! Wah! Dengan cara itu pemimpin kita kelihatan bongkok gara-gara rakyat memberati pundaknya! (4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang
menertawakan kita!
(5) <Asterix> : Sebaiknya Obelix saja yang mengangkatmu, Abraracourcix!
(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!
(8) <Sang Pemimpin> : Demi Toutatis! Kalian menolak melayani sang pemimpin?
Konteks:
Pada gambar di atas dapat kita lihat pembicaraan dilakukan oleh enam partisipan,
yaitu penduduk/warga setempat sebanyak tiga orang, Sang pemimpin, Asterix dan
Obelix. Topik pembicaraannya masih tentang penandu-penandu dan tampak bahwa
warga tidak setuju dengan pengangkatan penandu-penandu baru yaitu Asterix dan
Obelix. Oleh karena itu banyak terjadi sindiran-sindiran yang diutarakan oleh warga,
situasi pembicaraan mereka tidak formal (santai).
Pada Tabel 2. sudah terlihat jelas jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada
percakapan 2 di atas. Semua tuturan pada percakapan 2 mempunyai tindak lokusi dan
ilokusi sedangkan tindak perlokusi muncul pada tuturan yang dihasilkan oleh
pendengar.
Pada tuturan (1), maksud (ilokusi) yang ditimbulkannya adalah dalam bentuk
sindiran yang disebut dengan tindak ilokusi, dan dari tuturan (1) tersebut
menimbulkan reaksi bagi yang mendengarnya maka muncul tuturan (2). Maksud
(ilokusi) dari tuturan (2) juga tidak jauh berbeda dengan tuturan (1) yaitu sama-sama
dalam bentuk sindiran. Begitu juga halnya pada tuturan (3) yang muncul akibat dari
tuturan (2). Dari tuturan (3) tindak perlokusi muncul pada tuturan (4). Di sini tuturan
(4) adalah partisipan yang mendengar ujaran (3) sehingga ketika ia mendengar ujaran
(3) tersebut maka <Sang Pemimpin> memerintahkan para penandu-penandu untuk
meletakkan tandunya.
Tuturan (4) menimbulkan reaksi dari lawan tuturnya yaitu pada tuturan (5).
Tuturan (5) mempunyai maksud (ilokusi) <Asterix> ingin mengusulkan agar hanya
satu orang saja yang mengangkat <Sang Pemimpin> agar tidak terjadi ketimpangan.
Tetapi <Sang Pemimpin> tidak menyetujuinya itu terlihat pada tuturan (6) karena ia
merupakan efek (perlokusi) yang timbul akibat dari tuturan (5). Kemudian dilanjutkan
dengan tuturan (7), dan (8).
Contoh 3. Data Percakapan 4
(1) <Panoramix> : Apa apaan Obelix itu?
(2) <Asterix> : Sedang mengantar sang setengah pemimpin!
Konteks:
Gambar di atas terlihat bahwa Sang Pemimpin hanya diangkat oleh satu penandu saja
yaitu Obelix, sedangkan Asterix hanya berdiri sambil melihat. Pembicaraan dilakukan
oleh dua partisipan yaitu Panoramix dan Asterix, tampak bahwa Panoramix bertanya
kepada Asterix tentang apa yang dilakukan oleh Obelix. Situasi pembicaraan tidak
formal (santai).
Pada data percakapan di atas terdapat tiga tindakan yaitu lokusi, ilokusi, dan
perlokusi. Tuturan (1) dan (2) merupakan tindak lokusi karena kedua tuturan tersebut
sama-sama menyatakan sesuatu yang dapat kita lihat dengan jelas pada tabel 3. yaitu
pada tuturan (1) menyatakan sebuah pertanyaan dan tuturan (3) menyatakan sebuah
jawaban. Kedua tuturan tersebuat juga mempunyai tindak ilokusi, pada tuturan (1)
maksud yang ingin disampikan adalah <Panoramix> ingin tahu apa yang dilakukan
oleh Obelix, yang kemudian dijawab oleh <Asterix> dari jawaban tersebut maksud
yang diperoleh ialah <Asterix memberitahukan apa yang sedang dilakukan oleh
Obelix. Secara tidak langsung tindak perlokusi juga muncul pada tuturan (2) yaitu
dengan memberikan jawaban setelah mendengarkan pertanyaan dari <Panoramix>.
Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa masing-masing partisipan tidak
terjadi kesalahpahaman dalam melakukan sebuah percakapan. Tampak dari tuturan
yang diberikan oleh <Panoramix> yang berupa pertanyaan dapat dijawab oleh
Contoh 4. Data Percakapan 5
(1) <Tamu> : Demi Yupiter! Malarius yang mulia... pesta mabuk-mabukan ini sungguh mempesonakan, membuat kita lupa bahwa kita ini berada jauh dari Roma!
(2) <Malarius> : Memang! Ini namanya pesta selera tinggi... Malinguslah yang jadi otak pesta ini!
(3) <Malarius> : Ah! Itu dia penari-penari kita! (4) <Malarius> : Bawa! kesini anggurnya! Cepat!
(5) <Pelayan> : Tuan! Tamu yang tuan nantikan sudah menunggu di ruang kerja!
(6) <Malarius> : Baik! Aku pergi dulu! Cepat bawakan jerohan celeng yang digoreng dengan minyak urus-urus!
(7) <Tamu> : Ah! Malarius yang budiman kau manjakan kami! (8) <Malarius> : Bersenanglah sepuas-puasnya! Aku segera kembali!
Konteks:
Gambar di atas menampilkan sebuah pesta yang megah dan pesta itu dibuat oleh
Malarius. Ia adalah seorang gubernur. Pembicaraan dilakukan oleh tiga partisipan
yaitu Malarius, seorang tamu, dan pelayan. Topik yang dibicarakan juga mengenai
pesta. Situasi pembicaraan dilakukan dengan ragam santai.
Pada tuturan (1) <Tamu> menyatakan kepada <Malarius> bahwa pesta yang
dibuat oleh Malarius sangat bagus sehingga membuat mereka lupa akan Roma.
Pernyataan pada tuturan (1) tersebut merupakan tindak lokusi. Dari tuturan (1)
tersebut mempunyai maksud (ilokusi) bahwa <Tamu> tersebut ingin memberitahukan
tentang keadaan pesta itu kepada Malarius. kemudian tindak perlokusi muncul pada
tuturan (2). Tindak tersebut muncul karena (2) <Malarius> mendengarkan tuturan (1).
Pada tuturan (2) tersebut <Malarius> memberikan jawaban yang berupa pernyataan
bahwa pesta tersebut memang pesta yang berselera tinggi dan yang membuat pesta itu
adalah Malingus. Maksud (ilokusi) dari pernyataan tuturan (2) tersebut adalah untuk
Berbeda dengan tuturan (2), tuturan (4) mempunyai maksud untuk memerintah
yang merupakan tindak ilokusi. dari tuturan (4) tersebut muncul tuturan (5) yang
merupakan tindak perlokusi. Dan pada tuturan (4) <Malarius> memerintahkan
<Pelayan> untuk membawakan anggur di saat itu juga <Pelayan> tampak pada
tuturan (5) memberitahukan tentang kedatangan seorang tamu, yang kemudian dibalas
oleh <Malarius> pada tuturan (6) dengan mengiyakan informasi tersebut sambil
memberikan perintah untuk membawakan makanan. Begitu juga halnya dengan
tuituran (7) dan (8).
Lebih jelasnya, dari rangkaian percakapan di atas antara masing-masing
partisipan masih memiliki persamaan persepsi. Dan dapat disimpulkan bahwa baik
<Tamu> dan <Malarius> bersikap sama-sama menuruti apa yang diminta oleh mitra
wicaranya. Hal ini terbukti dari tuturan yang diberikan oleh <Malarius> yang
merupakan balasan dari <Tamu> dan seterusnya.
Contoh 5. Data Percakapan 6
(1) <Pelayan> : Pak! Apakah saya harus menyiapkan sop darah beruang dan capcay leher jerapah?
(2) <Malarius> : Tidak! Bikinkan semangkuk sop sayuran!
(3) <Pelayan> : Apa-apaan lagi nih... macam-macam saja yang mereka inginkan untuk pesta mabuk-mabukan ini!
(4) <Pelayan> : sudah siap, Pak!
(5) <Malarius> : Taruh di situ dan keluarlah cepat dari sini!
(6) <Malarius> : He...He..., ini racun tikus! Demi Yupiter! Ini juga..., ini sama saja..., dan ini yang terakhir...! Aku tidak boleh lupa mengisinya kembali!
(7) <Malarius> : Ini sopnya Inspektur!
(9) <Malarius> : Masalahnya adalah pada selera! Kalau seleramu tinggi, dari sesuatu yang kecil kau dapat berbuat banyak!
(10) <Inspektur> : Hmm, begitu! Kita lihat saja besok pagi! (11) <Malarius> : Selamat malam, Inspektur!
(12) <Malarius> : He..He...He..
Konteks:
Pada gambar di atas percakapan dilakukan oleh tiga partisipan yaitu, seorang pelayan,
Malarius, dan Inspektur. Dapat kita lihat pada gambar bahwa Malarius sedang
kedatangan tamu, dan tamunya itu adalah seorang Inspektur kemudian Malarius
menyuruh pelayannya untuk membuatkan makanan. Tampak pada gambar Malarius
ingin berbuat jahat kepada Inspektur tersebut dengan cara memberi racun ke dalam
makanannya. Yang dijadikan topik pembicaraan adalah mengenai pajak yang
diberikan Malarius kepada pemerintah pusat sehingga menimbulkan rasa curiga
kepada Inspektur. Situasi pembicaraan memakai ragam santai/tidak formal.
Pada bagian (1) dan (2), kedua kalimat tersebut diutarakan dengan maksud
(ilokusi) agar baik si penutur dan lawan tutur mau melakukan sesuatu. Pada tuturan
(1) merupakan rangkaian kalimat tanya, dan kalimat tanya yang dipergunakan itu
adalah untuk mengetahui apa lagi tugas yang akan dilakukannya, hal itu tampak pada
percakapan di atas, kemudian pertanyaan yang diutarakan oleh <Pelayan> tersebut
dibalas oleh (2) dengan bantahan (perlokusi) kemudian memberi perintah lagi yang
harus dilakukan oleh <Pelayan> tersebut. Sama halnya juga dengan tuturan (5),
kalimat tersebut juga diutarakan dengan maksud (ilokusi) menginformasikan sesuatu
tetapi diucapkan dengan perintah oleh penuturnya. Perintah tersebut juga menuntut
agar seseorang yang mendengarnya agar segera keluar, dan orang yang mendengarkan
perintah tersebut lalu mengerjakannya disebut dengan tindak perlokusi, dari
percakapan di atas dapat diketahui bahwa kalimat perintah tersebut ditujukan oleh
<Pelayan>.
Pada bagian (3) kalimat yang diutarakan merupakan efek dari tuturan kalimat
ditimbulkan pada (3) tersebut ialah berupa keluhan terhadap perintah yang telah
diberikan kepadanya dan dapat dikatakan bahwa tuturan (3) merupakan tindak
perlokusi.
Tindak ilokusi juga ditemukan pada tuturan (4) yaitu <Pelayan>
menginformasikan kepada <Malarius> bahwa apa yang telah diperintahkan sudah
selesai dikerkajakannya. Reaksi yang ditimbulkan dari tuturannya itu adalah
timbulnya tuturan (5) karena mendengarkannya yang disebut dengan tindak perlokusi.
Pada bagian (6) tuturan tersebut diutarakan dengan maksud (ilokusi) untuk
memberitahukan kepada dirinya senduru agar ia tidak lupa untuk melakukan sesuatu
sesuai dengan percakapan di atas bahwa ia tidak boleh lupa untuk mengisi racun tikus
itu apabila habis. Pada bagian (7) tuturan yang diutarakannya hampir sama dengan (4)
yaitu sama-sama ingin menginformasikan sesuatu.
Pada bagian (8) dapat diketahui bahwa kalimat yang diutarakan tersebut
merupakan sebuah sindiran kepada <Malarius> yang mengatakan bahwa terjadi
ketimpangan antara istana dan pajak yang dihasilkan oleh propinsinya. Dan pada
bagian (9) yang merupakan balasan dari tuturan (8). Kalimat yang diutarakan pada
bagian (9) juga merupakan sindiran sekaligus untuk memperlihatkan keunggulan
<Malarius> atau dengan kata lain perasaan bangga atas dirinya sendiri
(<Malarius>). Dari tuturan (9) tersebut menimbulkan pengaruh kepada lawan
tuturnya hal itu dapat dilihat pada (10), efek yang ditimbulkan itu merupakan rasa
tidak percaya <Inspektur> kepada <Malarius> atas perkataannya. Rasa tidak percaya
2.3 Pasangan Berdampingan pada Komik Asterix
2.3.1 Pola Sapaan - Sapaan
Pola sapaan –sapaan merupakan pola yang paling umum dijumpai
dalamercakapan. Namun, ditemukan pula pola yang berbeda dalam mengawali
seercakapan dalam wacana komik. Pola tersebut berupa pola sapaan – permintaan
informasi. Dalam percakapan yang berpola seperti ini sapaan oleh seorang partisipan
tidak dijawab dengan sapaan melainkan dibalas dengan permintaan informasi oleh
partisipan yang disapa.
Contoh 6. data percakapan 7
(1) <Malarius> :Salam Inspektur! Kami sedang adakan pertemuan keluarga antar rekanan! Ikutlah berpesta bersama kami, Inspektur! (2) <Inspektur> :Tidak! Aku ditugaskan Yulius Caesar memeriksa pembukuan
propinsi ini! Bukankah kau penanggung jawab keuangannya? Cepat usir orang-orang itu dari sini!
2.3.2 Pola Panggilan – Jawaban
Pola panggilan – jawaban merupakan pola yang biasa kita jumpai dan
biasanya pola panggilan – jawaban ini sering dilakukan apabila percakapan tersebut
dilakukan secara lisan seperti halnya percakapan yang terdapat dalam komik Asterix
ini. Dan percakapan yang dilakukan secara lisan tersebut dituliskan ke dalam sebuah
komik.
(1) <Tiphumushlihattix> : Zurix! Cepat buka! Ini aku, Tiphumushlihattix! (2) <Zurix> : Kau tahu ini jam berapa?
2.3.3 Pola Permintaan Informasi – Pemberian
Dalam percakapan juga ditemukan adanya pola permintaan informasi yang
dibalas dengan pemberian infomasi oleh masing-masing mitra wicaranya. Begitu juga
halnya dalam percakapan yang terdapat pada komik Asterix ini.
Contoh 8. Data percakapan 9
(1) <Asterix> : Ada penginapan di dekat sini...Bung Romawi? (2) <Seorang Romawi> : Buanyak! Tuh! Persis di depan ada satu!
Pada data (1) <Asterix> mengutarakan kalimat yang berupa pertanyaan, dan
pertanyaan tersebut diutarakan oleh <Asterix> dengan tujuan untuk meminta
informasi tentang tempat penginapan. Dan pertanyaan tersebut ditanggapi oleh
<Seorang Romawi> yang menjadi lawan tuturnya dengan memberikan jawaban yang
Contoh 9. Data percakapan 10
(1) <Inspektur> : Tolong antar aku ke penginapan, aku Cuma ingin makan sop sayur-sayuran!
(2) <Malarius> : Tentu! Tentu! Nanti kuurus sendiri!
Sedangkan pada contoh 10 di atas terdapat sedikit perbedaan dengan contoh 9.
Pada contoh 10 permintaan yang dimaksud bukanlah permintaan informasi melainkan
tentang permintaan atas sesuatu, terlihat jelas pada data (1) <Inspektur> meminta sop
sayur-sayuran kepada <Malarius> yang menjadi lawan tuturnya. Dan <Malarius>
menyetujui permintaan <Inspektur> tersebut yang terlihat pada data (2).
2.3.4 Pola Penawaran – Penolakan
Pola penawaran – penolakan mengindikasikan adanya pihak yang
menawarkan sesuatu, hanya saja penawaran yang diajukan sama sekali tidak diterima
karena alasan-alasan tertentu.
Contoh 10. Data percakapan 3
(4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang menertawakan kita!
(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!
(7) <Obelix> : Lalu bagaimana dengan bisnis menhirku?
Pada contoh di atas tampak bahwa tawaran yang diajukan oleh <Asterix>
ditolak oleh <Sang Pemimpin> dengan alasan <Sang Pemimpin> tidak mau dianggap
sebagai ‘setengah pemimpin’ karena <Asterix> menawarkan agar yang mengangkat
<Sang Pemimpin> hanya satu orang saja, maka tawaran tersebut ditolak oleh <Sang
Pemimpin>.
2.3.5 Pola Keluhan – Bantahan
Percakapan yang pasangannya berupa keluhan – bantahan mengindifikasikan
bahwa salah seorang partisipan mengeluh karena sesuatu hal. Sebaliknya partisipan
merasa keluhan tersebut dialamatkan pada orang yang salah.
Contoh 11. Data percakapan 11
(1) <KhurusKherempheng> : Apakah kau tidak takut dicurigai pemerintah pusat? Mereka pasti heran, pajak dari propinsi ini begitu kecil?
tahun! Sebelum pusat bertindak, aku sudah pergi jauh! Jauh sekali dan aku sudah kaya raya!
(3) <Malarius> : Dan hidupku hanya akan disibukkan dengan pesta mabuk-mabukan!
(4) <KhurusKherempheng> : Tapi bagaimana jika pemerintah pusat mengirim inspektur ke sini, seorang petugas Badan Pemeriksaan Keuangan?
(5) <Malarius> : Aduuh! Demi Junon! Tahu beres deh! Semuanya bisa di atuur... kalau Dia menolak, yah... apa boleh buat...kita bereskan saja...!
Pada contoh data di atas tuturan yang berupa keluhan tampak pada (4),
keluhan yang disampaikan <KhurusKherempheng> merupakan keluhan rasa cemas
dan takut yang kemudian dibantah oleh <Malarius> yang menyatakan agar tidak perlu
khawatir.
Selain itu juga ada contoh lain yang memiliki pola yang sama yakni:
Contoh 12. Data percakapan 13
(1) <Prajurit> : Huh! Selesai berenang di danau, sekarang dipaksa naik gunung...
(2) <Jenderal> : Lalu kenapa? Memangnya kau sedang liburan??
2.3.6 Pola Pertanyaan – Jawaban
Dalam sebuah percakapan juga sering dijumpai pola pertanyaan – jawaban.
Salah satu partisipan mengutarakan pertanyaan dan partisipan yang menjadi lawan
tuturnya berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal itu dapat dilihat pada