• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindak Tutur Percakapan pada Komik Asterix

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Tindak Tutur Percakapan pada Komik Asterix"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

TINDAK TUTUR PERCAKAPAN PADA

KOMIK

ASTERIX

SKRIPSI

Oleh:

MAHARANI

NIM 030701018

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

TINDAK TUTUR PERCAKAPAN PADA KOMIK ASTERIX

MAHARANI

ABSTRAK

Penelitian ini mengenai “Tindak Tutur Percakapan pada komik Asterix”.

Metode yang digunakan adalah metode padan dengan menggunakandata percakapan

yang terdapat di dalam komik Asterix. Data kemudian dianalisis berdasarkan teori

yang digunakan sebagai kerangka.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan menganalisis jenis-jenis

tindak tutur yang terdapat pada komik Asterix, dan menjelaskan struktur percakapan

yang terdapat di dalam komik Asterix tersebut. Teori yang digunakan adalah bagian

dari pragmatik yaitu teori tindak tutur dan pola pasangan berdampingan. Temuan

penelitian menunjukkan bahwa percakapan yang terdapat dalam komik Asterix

mempunyai tiga jenis tindak tutur yaitu: (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi, dan (3) tindak perlokusi. Selain tindak tutur, suatu percakapan juga mempunyai struktur yang dibatasi dengan pola pasangan berdampingan, dan setelah dianalisis ditemukan ada 10

pola pasangan berdampingan yang terdapat pada komik Asterix yaitu: (1) pola

sapaan-sapaan, (2) pola panggilan-jawaban, (3) pola permintaan informasi-pemberian, (4) pola penawaran-penolakan, (5) pola keluhan-bantahan, (6) pola pertanyaan-jawaban, (7) pola pemberian informasi-pertanyaan-jawaban, (8) pola perintah-jawaban/menuruti, (9) pola perintah-bantahan, (10) pola sindiran-sindiran.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat dikatakan bahwa

wacana komik Asterix merupakan wacana yang padu sehingga tiap partisipan dapat

(3)

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa yang telah menganugerahkan

banyak hal kepada penulis sehingga skripsi mengenai tindak tutur ini dapat

diselesaikan dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis juga menyadari bahwa skripsi ini tidak akan

selesai tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis hendak

menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada pihak-pihak di bawah ini.

1. Bapak Drs. Syaifuddin, M. A., Ph. D , sebagai Dekan Fakultas Sastra USU.

2. Bapak Drs. Parlaungan Ritonga, M. Hum., sebagai Ketua Departemen Sastra

Indonesia Fakultas Sastra USU, yang juga merupakan dosen wali yang telah

memberikan begitu banyak arahan dan dukungan moral selama perkuliahan yang

dijalani oleh penulis.

3. Ibu Dra. Mascahaya, M. Hum., sebagai Sekretaris Departemen Sastra Indonesia

Fakultas Sastra USU, yang juga merupakan Pembimbing II yang telah banyak

mendukung dan membantu penulis semenjak penyusunan proposal hingga

penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Drs. Asrul Siregar, M. Hum., sebagai Pembimbing I yang telah banyak

memberi masukan dan saran kepada penulis, baik dalam perkuliahan, maupun

sewaktu penulisan skripsi ini berjalan.

5. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia Fakultas Sastra USU,

yang telah memberikan bekal dan pengetahuan, baik dalam bidang linguistik,

sastra, maupun bidang-bidang umum lainnya. Dan tidak lupa juga Saya

mengucapkan terima kasih kepada Saudari Fitri, yang telah membantu penulis

dalam hal administrasi di Departemen Sastra Indonesia Fakultas Sastra USU.

6. Kedua orang tua, Ng Eng Hui dan Basrawati Nst., yang tidak hanya mendukung

secara moral dan material, namun juga secara spiritual di dalam doa.

7. Rekan-rekan seangkatan’03, 04, 05, dan teman-teman lainnya yang tidak dapat

disebutkan namanya satu persatu, yang mendorong penulis untuk menghasilkan

yang terbaik, khususnya mereka yang hadir secara langsung saat penulis

mempertahankan proposal dan skripsi ini.

Akhir kata, penulis mengharapkan kiranya skripsi ini dapat berguna,

khususnya dapat dijadikan sumber acuan dalam penelitian mengenai wacana komik

(4)

Penulis,

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

1.1.1Latar Belakang

Sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, masyarakat umum

khususnya para generasi muda harus memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini

bertujuan agar mereka mampu mengembangkan pola pikir serta dapat dengan mudah

mencerna berbagai informasi yang disampaikan. Alat yang umumnya digunakan

untuk meningkatkan minat baca para generasi muda adalah dengan membuat berbagai

media tulisan yang mampu menarik perhatian mereka misalnya komik.

Sebagai salah satu media tulisan, istilah komik sudah tidak asing lagi. Komik

dianggap sebagai media yang mampu menarik minat baca para generasi muda karena

isi dari komik tersebut mudah dicerna dan umumnya memuat cerita yang lucu

(Setiawan dalam Sobur, 2004: 137), dan memberi nasihat kepada pembacanya. Selain

itu, komik juga dapat mengajak para pembacanya untuk ikut atau merasakan situasi

yang disampaikan penulis melalui cerita yang dibuatnya. Dengan demikian, para

pembaca terdorong untuk mengetahui kelanjutan maksud dari cerita tersebut.

Seperti halnya buku, komik sebagai media tulisan juga dapat mengembangkan

wawasan, daya tanggap serta kreativitas pembaca. Kita mengetahui buku dan komik

tidak jauh berbeda, dikatakan demikian karena buku dan komik sama-sama

merupakan wacana tulisan. Wacana dapat diartikan sebagai satuan bahasa terlengkap.

Dalam hirarki gramatikal wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

(6)

ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat

yang lengkap (Kridalaksana dalam Wijana, 2003: 37).

Dengan demikian, perbedaan buku dengan komik hanya terletak pada bentuk

dan isinya. Buku yang merupakan wacana tulisan biasanya berbentuk karangan ilmiah

dengan menggunakan kata-kata baku dan sesuai dengan EyD, seperti buku pelajaran

(buku teks), sedangkan komik yang juga merupakan wacana tulisan tidak harus

menggunakan kata-kata baku karena wacana komik biasanya berbentuk dialog

(percakapan) yang tidak terikat pada norma-norma penulisan ilmiah dan disertai

gambar sebagai pendukung cerita komik tersebut. Kemudian kalau dilihat dari segi

isi, buku umumnya mengajak pembaca untuk mengerti dan memahami suatu hal

(ilmu) yang tidak diketahui sebelumnya sehingga jika membaca buku maka akan

menambah ilmu pengetahuan, sedangkan komik umumnya mengajak pembaca untuk

berkomunikasi dan terlibat diantara tokoh-tokoh yang ada pada komik tersebut serta

mengajak pembaca untuk mengembangkan imajinasinya.

Awalnya komik dikenal oleh bangsa Perancis sejak tahun 1957

yang tepat untuk kata Inggris Comics yang merupakan perwujudan utama dari segala

gambar. Karena tidak ada istilah lain, maka digunakan istilah bande dessinee yang

memiliki arti yang sama dengan comics (Bonneff, 1998:9). Berdasarkan bentuknya

komik dibedakan menjadi dua bentuk yaitu comic-strips dan comic-books.

Comic-strips adalah komik bersambung yang terdapat dalam surat kabar sedangkan

comic-books adalah komik yang berbentuk buku yang hanya memiliki satu cerita walaupun

diterbitkan dengan banyak seri (Bonneff, 1998: 9). Komik Asterix merupakan

(7)

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa komik Asterix juga mempunyai

banyak seri yaitu 25 seri yang diterbitkan dengan judul yang berbeda-beda, tetapi

mempunyai kesamaan tokoh dengan maksud peran tokoh utama tidak pernah

digantikan yaitu Asterix. Hampir semua seri pada komik Asterix bercerita tentang

petualangan sehingga membuat pembaca tertarik untuk membacanya.

Komik Asterix merupakan sebuah komik yang bercerita mengenai petualangan

hidup si Asterix (selaku tokoh utama) ke berbagai daerah. Asterix (Perancis: Ast rix)

adalah karekter fiksi yang diciptakan pada tahun 1959, sebagai tokoh utama dari

sebuah serial komik Perancis karya Rene Gosciny (naskah) dan Albert Uderzo

(gambar). Uderzo melanjutkan serial ini setelah Gosciny meninggal pada tahun 1977.

Serial ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa bahkan Latin dan Yunani kuno

dan dapat dijumpai di banyak negara di duni

Komik ini merupakan terjemahan dari komik Perancis yang paling populer di dunia.

Meskipun demikian, Asterix tidak begitu populer di Amerika dan Jepang yang

masing-masing telah memiliki tradisi komik yang kuat. Kunci dari kesuksesan serial

ini mungkin terletak pada ceritanya yang mengandung elemen hiburan untuk segala

usia: anak-anak menyukai adegan perkelahian dan kelucuan visualnya, sementara

orang yang lebih dewasa terhibur oleh berbagai parodi dan permainan kata yang

diucapkan dalam cerita.

Humor yang dijumpai dalam komik Asterix ini merupakan khas Perancis yang

sering mengunakan permainan kata, karikatur, steriotip ringan dari berbagai negara

Eropa kuno dan sejumlah daerah Perancis yang amat spesifik. Akibatnya, proses

penerjemahannya ke dalam bahasa lain agak terhambat karena takut kehilangan kesan

(8)

Selain komik Asterix adapula komik lain yang bercerita tentang petualangan

hidup si tokoh utama seperti komik Tin Tin. Berbeda dengan komik lainnya, komik

Asterix bercerita tentang kehidupan Asterix yang hidup sekitar tahun 50 SM di sebuah

desa rekaan di tepi pantai Amorik (dahulu adalah daerah Galia kuno, sekarang dikenal

sebagai Brittany atau Bretagne dalam bahasa Perancis). Desa ini menjadi istimewa

karena merupakan satu-satunya bagian dari Galia yang belum berhasil ditaklukkan

Julius Caesar dan legiun Romawinya. Penduduk desa itu dapat memperoleh kekuatan

super dengan meminum ramuan ajaib buatan dukun yang bernama Panoramix. Satu

sisi dari desa Galia ini dilingkupi pantai dan sisanya adalah hutan yang dijaga ketat

oleh tentara Romawi yang selalu memata-matai desa tersebut

Penelitian tentang komik sudah pernah dilakukan oleh Marcel Bonneff (1971).

Dalam penelitiannya, Bonneff membahas perkembangan komik yang ada di

Indonesia. Penelitiannya ini juga merupakan hasil dari desertasinya, yang

memfokuskan penelitian pada tahapan perkembangan komik khususnya di Indonesia.

Dalam penelitiannya itu ia menggambarkan evolusi komik di Indonesia yang dimulai

dari kisah perwayangan (kisah Mahabarata dan Ramayana) yang sangat populer di

kalangan masyarakat Indonesia pada waktu itu. Hasil penelitiannya menunjukkan

bahwa perkembangan komik Indonesia tersebut tidak lepas dari pengaruh komik

Barat dan komik Cina yang ada di Indonesia pada saat itu.

Kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Endah Setia

Rini dengan menggunakan komik Asterix sebagai objek penelitiannya

lebih memusatkan perhatian terhadap permainan kata dari nama-nama tokoh yang

(9)

dari nama-nama tokoh di dalam komik tersebut adalah karena di dalam komik Asterix

penamaan tokoh berdasarkan dari ciri fisik dari para tokoh dengan menggunakan

bahasa Perancis sehingga terjadi kesulitan dalam mengartikannya. Dengan demikian,

para penerjemah mengambil langkah dengan melakukan sedikit perubahan terhadap

nama-nama tokoh tersebut dengan menggunakan campuran bahasa Indonesia. Hal ini

dilakukan dengan tujuan agar para pembaca tetap tertarik dan mendapatkan kesan

humor tidak hanya dari segi wacana yang ada didalamnya tetapi juga dari segi

penokohannya.

Contoh:

Penamaan pada tokoh Khurus Khremphenghus dikarenakan tokoh tersebut

mempunyai fisik yang kurus kerempeng. Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa

penerjemah ingin membangkitkan kesan humor serta mempermudah para pembaca

untuk mengetahui atau menggambarkan ciri fisik dari tokoh tersebut. Dengan

demikian, dapat dilihat pula bahwa komik Asterix juga mengajak para pembaca untuk

mengembangkan daya imajinasinya sewaktu membaca komik tersebut.

Ada banyak hal yang membuat para pembaca tertarik untuk membaca komik

tersebut. Karena komik tersebut mampu membangkitkan kesan humor, baik dari segi

gambar, dialog (percakapan) antar tokoh maupun dari nama-nama para tokohnya.

Bentuk percakapan di dalam komik Asterix tidak terlepas dari tindak tutur atau

maksud yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada si pembaca. Dalam

(10)

ucapan/ungkapan. Teori tindak tutur adalah bagian dari pragmatik, dan pragmatik itu

sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik.

Teori tindak tutur/bahasa seperti yang disebutkan di atas berkembang dan ini

dimajukan oleh J.L. Austin. Ia mengatakan bahwa secara analitis dapat dipisahkan

menjadi 3 macam tindak tutur yang terjadi secara serentak: (1) tindak ‘lokusi’

(lecutionary act) yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam suatu

ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan

penjelasan dalam sintaksis, (2) tindak ‘ilokusi’ (illecutionary act), yaitu pengucapan

suatu pernyataan, tawaran, janji pernyataan dan sebagainya. Ini erat hubungannya

dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan, dan (3) tindak

‘perlokusi’ (perlocutionary act), yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh

ungkapan itu pasa pendengar sesuai dengan situasidan kondisi pengucapan kalimat

itu.

Dalam setiap situasi ujaran/tutur haruslah ada pihak pembicara (penulis) dan

pihak penyimak (pembaca). Keterangan ini mengandung implikasi bahwa pragmatik

tidak hanya terbatas pada bahasa lisan tetapi juga mencakup bahasa tulis. Setiap

situasi tutur atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Dengan

kata lain, kedua belah pihak baik pembicara maupun penyimak terlibat dalam suatu

kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.

Penelitian tentang tindak tutur sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh

Siregar (2003) dan Hasibuan (2005). Dalam penelitiannya, Siregar mengkaji secara

teoritis prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tindak tutur, pemerolehan tindak tutur

dan siasat kesantunan. Ia juga mengemukakan penggunaan tindak tutur, meskipun

terbatas pada enam bentuk tindak tutur, yaitu tindak tutur permohonan, permohonan

(11)

Sedangkan Hasibuan (2005) mengkaji perangkat tindak tutur dan siasat

kesantunan berbahasa dalam bahasa Mandailing. Ia mengemukakan jenis-jenis tindak

tutur versi Searly, yaitu representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Juga

dibahas jenis tindak tutur langsung dan tidak langsung. Ia juga mengaitkan tindak

tutur dengan kesantunan bahasa, sama halnya dengan kajian Siregar.

Selain tindak tutur, dalam suatu percakapan umumnya dilakukan oleh dua

partisipan yang memiliki dua fungsi yaitu sebagai pembicara dan penyimak. Oleh

karena itu, dapat dikatakan dalam sebuah percakapan kedua partisipan itu disebut

dengan pasangan berdampingan/bersesuaian. Hal tersebut dapat dilihat pada

penelitian mengenai wacana dan percakapan yang telah dilakukan oleh beberapa

peneliti, diantaranya Nasution (2001) dan Arianto (2003).

Dalam penelitiannya, Nasution menunjukkan bahwa wacana persidangan

memiliki lima pola pasangan bersesuaian. Kelima pola itu meliputi pola

panggilan-jawaban, permintaan-pemersilahan, permintaan informasi- pemberian,

penawaran-penerimaan, dan penawaran-penolakan. Selain itu, ia menyimpulkan bahwa tidak

semua pasangan bersesuaian tersebut yang bermakna implikatur. Keempat maksim

dalam prinsip kerja sama juga tidak semuanya diterapkan dalam wacana ini.

Berbeda dengan Nasution, Arianto mengarahkan penelitiannya kepada

wawancara kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan hal yang hampir serupa dengan

penelitian Nasution karena tidak semua maksim dalam prinsip kerja sama dapat

diterapkan. Di samping itu, tidak semua pasangan bersesuaian dalam wacana ini

mengandung makna implikatur. Adapun pola pasangan bersesuain yang muncul

dalam wacana ini adalah pola permintaan-pemersilahan, permintaan

(12)

Pada komik Asterix juga dijumpai pasangan berdampingan/bersesuaian.

Mengingat bahwa dalam komik Asterix tersebut juga terdapat percakapan, bentuk

percakapan yang terdapat dalam komik Asterix pastilah berbeda dengan bentuk

percakapan yang terdapat pada wacana persidangan dan wawancara kerja seperti yang

telah diteliti sebelumnya karena situasi percakapannya juga berbeda. Selain itu,

percakapan yang terdapat pada wacana persidangan dan wawancara kerja merupakan

percakapan secara lisan sedangkan percakapan yang terdapat pada komik merupakan

percakapan dalam bentuk tulisan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nasution, ia menunjukkan lima pola

pasangan berdampingan/bersesuaian yang terdapat pada wacana persidangan.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Arianto, ia mengemukakan bahwa ada

empat pola pasangan bersesuaian yang terdapat pada percakapan wawancara kerja.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam setiap percakapan selalu memiliki struktur

yang berbeda-beda begitu pula yang terdapat dalam percapakan komik Asterix.

Selain melihat dari sudut pandang tindak tutur dan pasangan berdampingan,

suatu percakapan dapat diketahui kejelasannya atau dapat dimengerti apabila pembaca

mengetahui konteks dari suatu pembicaraan tersebut. Karena makna kata atau makna

suatu kalimat berhubungan dengan konteksnya.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, pada kesempatan ini peneliti tertarik

untuk meneliti tindak tutur percakapan pada komik Asterix.

1.1.2Masalah

Adapun masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Tindak tutur apa sajakah yang terdapat pada komik Asterix?

(13)

1.2Batasan Masalah

Suatu penelitian harus dibatasi supaya penelitian terarah dan tujuan penelitian

tercapai. Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada tindak tutur yang meliputi tindak

lokusi, ilokusi, dan perlokusi, serta bagaimana struktur percakapan yang terdapat pada

komik Asterix. Struktur percakapan yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi

pada pola pasangan berdampingan/bersesuaian. Adapun yang menjadi objek dalam

penelitian ini adalah komik Asterix yang dibatasi pada salah satu seri saja yang

berjudul Asterix di tengah Orang Swiss. Judul tersebut merupakan seri ke-20 dari 25

seri yang ada pada komik Asterix. Dan data yang digunakan untuk dianalisis juga

dibatasi hanya pada dua topik saja karena ada banyak topik percakapan yang terdapat

di dalam komik Asterix. Kemudian dalam dua topik percakapan tersebut terdapat 17

contoh data percakapan untuk dianalisis.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Menemukan dan menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada komik

Asterix.

2. Menjelaskan struktur percakapan yang terdapat pada komik Asterix.

1.3.2Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah:

1. Hasil penelitian ini dapat memberikan penjelasan tentang makna pragmatik pada

wacana komik Asterix khususnya tindak tutur.

2. Pembaca dapat memahami struktur percakapan yang terdapat pada komik

(14)

3. Penelitian mengenai tindak tutur percakapan pada komik Asterix ini dapat

dijadikan sumber acuan dalam penelitian mengenai wacana komik yang

berhubungan dengan makna pragmatik.

1.4 Metode Penelitian

1.4.1 Metode dan Teknik Penyediaan Data

Data dalam analisis wacana selalu berupa teks, baik teks lisan maupun tulisan.

Teks lisan di sini mengacu pada bentuk transkripsi rangkaian kalimat atau ujaran yang

dituliskan. Sumber data dalam penelitian ini adalah data tulis atau teks lisan yang

dituliskan yang terdapat pada komik Asterix.

Dalam penelitian ini data diperoleh dengan menggunakan metode simak.

Metode ini dinamakan demikian mengingat pelaksanaan metode ini adalah dengan

menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto 1993: 133). Data dikumpulkan dengan

cara menyimak atau membaca komik yang dijadikan sumber data. Metode simak ini

diwujudkan dengan menggunakan teknik catat (Sudaryanto 1993: 135). Teknik catat

ini digunakan untuk mencatat data-data yang dibutuhkan.

1.4.2Metode dan Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, mulailah diadakan analisis terhadap data untuk

menyelesaikan permasalahan penelitian yang telah ditetapkan. Kemudian data diolah

dengan menggunakan metode padan yang menggunakan alat penentu di luar, terlepas

dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Teknik analisis yang

digunakan adalah teknik dasar yaitu dengan memilahkan unsur-unsur penentu dan

daya pilah yang sesuai dengan penelitian ini adalah daya pilah pembeda reaksi.

Mengingat bahwa data yang digunakan pada penelitian ini berupa data dalam bentuk

percakapan tertulis. Maka akan dapat diketahui apakah mitra wicaranya akan: (a)

(15)

dengan isi yang informatif, (c) tergerak emosinya, ataukah (d) diam, namun

menyimak dan berusaha memahami apa yang dituturkan mitra wicaranya. Kemudian

dilanjutkan dengan teknik lanjutan hubung banding menyamakan (Sudaryanto, 1993:

13-52).

Contoh 1. Data percakapan 1 (dari komik Asterix)

(1) <Pimpinan> : Asterix! Obelix! Kalian berdua kuberi kehormatan

sebagai penandu sangapemimpin!

(2) <Asterix> : Apa? Kami berdua?

(3) <Asterix + Obelix> : Tapi, Pak Pemimpin...

(4) <Pimpinan> : Tidak ada tapi-tapian!

Contoh data percakapan di atas dianalisis dengan menggunakan teori tindak

tutur dan pasangan berdampingan yang dijadikan landasan teori pada penelitian ini.

Teori tindak tutur dibagi menjadi tiga jenis yaitu: (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi,

(3) tindak perlokusi. Kemudian data di atas akan dianalisis sebagai berikut:

Pada data (1) <Pemimpin>: Asterix! Obelix! Kalian berdua kuberi kehormatan

sebagai penandu sang pemimpin!

Tindak tutur yang terdapat pada data (1) adalah:

Tindak lokusi: Pemimpin akan menyerahkan penghargaan kepada Asterix dan Obelix

(16)

Tindak ilokusi: Pemimpin mempunyai maksud untuk memberikan perintah kepada

Asterix dan Obelix untuk menjadi penandunya.

Tindak perlokusi: efek yang ditimbulkan pada (1) muncul pada (2) dengan

menyatakan pertanyaan kepada Pemimpin.

Pada data (2) <Asterix> : Apa? Kami berdua?

Tindak tutur yang terdapat pada data (2) adalah:

Tindak lokusi: Asterix bertanya apakah dia dan Obelix yang akan menjadi penandu

Pemimpin.

Tindak ilokusi: Asterix bertanya dengan maksud untuk memperjelas dan ingin tahu

apa yang diutarakan oleh Pemimpin pada data (1).

Tindak perlokusi: efek yang ditimbulkan pada data (2) adalah Asterix tidak

ingin/keberatan atas keputusan pemimpin yang memerintah

Asterix untuk menjadi penandu.

Pada data (3) <Asterix + Obelix> : Tapi, Pak Pemimpin...

Tindak tutur yang terdapat pada data (3) adalah:

Tindak lokusi: Tapi merupakan kata penghubung untuk menyatakan hubungan yang

berlawanan dan bertentangan dan Pak Pemimpin merupakan kata

sapaan untuk laki-laki.

Tindak ilokusi: Asterix dan Obelix mempunyai maksud untuk menolak keinginan

Pemimpin sebagai penandu-penandunya.

Tindak Perlokusi: efek yang ditimbulkan pada (3) adalah timbulnya tuturan (4) yang

berupa bantahan terhadap tuturan (3).

Pada data (4) <Pimpinan> : Tidak ada tapi-tapian!

(17)

Tindak lokusi: Tidak berarti penolakan atas sesuatu, ada berarti siap sedia/keadaan

yang menunjukkan wujud nyata, tapi menandakan hubungan yang

berlawanan.

Tindak ilokusi: Pemimpin mempunyai maksud tidak ada yang boleh membantah

perintahnya.

Setelah data di atas dianalisis dengan teori tindak tutur, kemudian dilanjutkan

penganalisisan data tersebut dengan menggunakan teori padangan berdampingan.

Maka dari data di atas dapat kita peroleh pola pasangan berdampingan sebagai

berikut:

(1) <Pimpinan> : Asterix! Obelix! Kalian berdua kuberi kehormatan sebagai penandu sangapemimpin! ‘Perintah’

(2) <Asterix> : Apa? Kami berdua? ‘Jawaban’

(3) <Asterix + Obelix> : Tapi, Pak Pemimpin... ‘Penolakan’

(4) <Pimpinan> : Tidak ada tapi-tapian! ‘Bantahan’

Pada data percakapan di atas terdapat dua pola pasangan berdampingan yaitu: (1) pola

perintah-Jawaban, (2) pola penolakan-bantahan.

Tampak pada data (1) Pemimpin memerintahkan Asterix dan Obelix untuk menjadi

penandu-penandunya. Yang kemudian dilanjutkan dengan Asterix (2) yang

memberikan reaksi jawaban atas perintah tersebut dalam bentuk pertanyaan yang

dimaksudkan untuk memperjelas perintah tersebut. Pada data (3) merupakan

penolakan atas perintah tersebut dan penolakan yang dilakukan oleh Asterix dan

Obelix mendapat respon dari pemimpin dengan memberikan bantahan.

Teknik lanjutan yang digunakan berkenaan dengan metode padan ini adalah

teknik hubung banding menyamakan. Hal yang hendak disamakan di sini adalah

persepsi tiap partisipan. Dengan demikian, baik <Pimpinan> maupun <Asterix dan

Obelix> pada rangkaian tuturan di atas memiliki persepsi yang sama terhadap apa

(18)

oleh <Asterix dan Obelix> yaitu mereka berdua mengetahui bahwa mereka diminta

untuk menjadi penandu bagi sang pemimpin dan apabila mereka berdua tidak

memiliki persepsi yang sama dengan <Pimpinan> maka mereka mungkin saja tidak

memberikan jawaban yang relevan seperti yang tertera pada gambar di atas. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa informasi yang dikirimkan dapat diterima dengan

baik.

1.5Landasan Teori

1.5.1Konsep Pragmatik

Menurut Yule Pragmatik adalah “cabang ilmu bahasa yang mempelajari

tentang makna yang dihendaki oleh penutur” (dalam Cahayono, 1995: 213). Dalam

pragmatik juga dilakukan kajian tentang dieksis, praanggapan, implikatur, tindak

tutur, dan aspek-aspek struktur wacana (Levinson, 1983 dalam Soemarno 1988: 169).

Dalam penelitian ini pembicaraan mengenai kajian pragmatik lebih dibatasi

pada kajian tindak tutur, pasangan berdampingan yang merupakan bagian dari suatu

percakapan, dan konteks yang mempunyai peranan penting dalam situasi percakapan.

1.5.2.1 Tindak Tutur

Menurut Searly (1969), dalam komunikasi bahasa terdapat tindak tutur. Ia

berpendapat bahwa komunikasi bahasa bukan sekadar lambang, kata, atau kalimat,

tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau

kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur. Lebih tegasnya, tindak tutur adalah

produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan

terkecil dari komunikasi bahasa. Sebagaimana komunikasi bahasa yang dapat

berwujud pernyataan, pertanyaan, dan perintah, tindak tutur dapat pula berwujud

(19)

Tindak tutur dalam ujaran suatu kalimat merupakan penentu makna kalimat

itu. Namun, makna suatu kalimat tidak ditentukan oleh satu-satunya tindak tutur

seperti yang berlaku dalam kalimat yang sedang diujarkan itu, tetapi selalu dalam

prinsip adanya kemungkinan untuk menyatakan secara tepat apa yang dimaksud oleh

penuturnya. Oleh sebab itu, mungkin sekali, dalam setiap tindak tutur, penutur

menuturkan kalimat yang unik karena dia berusaha menyesuaikan ujaran dengan

konteksnya. Dengan demikian, teori tindak tutur adalah teori yang lebih cenderung

meneliti tentang makna kalimat dan bukannya teori yang lebih cenderung berusaha

menganalisis struktur kalimat.

Teori tindak tutur seperti yang disebutkan di atas berkembang dan ini

dimajukan oleh J.L. Austin (dalam Lubis, 1991: 9-10). Ia mengatakan bahwa secara

analitis dapat kita pisahkan 3 macam tindak bahasa yang terjadi secara serentak:

1. Tindak ‘lokusi’ (lecutionary act) yang mengaitkan suatu topik dengan satu

keterangan dalam suatu ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan

‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis; dalam bahasa Inggris

subject-predicate dan topic comment ini disebut juga propositional act (Searly,

dalam Lubis, 1991: 9).

Contoh: Saya lapar, seseorang mengartikan Saya sebagai orang pertama tunggal

(si penutur), dan lapar mengacu ke “perut yang kosong dan perlu diisi”, tanpa

bermaksud untuk meminta makanan.

2. Tindak ‘ilokusi’ (illecutionary act), yaitu pengucapan suatu pernyataan, tawaran,

janji pertanyaan dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk

kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan.

Contoh: Saya lapar, yang maksudnya adalah meminta makanan merupakan suatu

(20)

suatu pernyataan saja tapi maksudnya adalah si penutur benar-benar memohon

bantuan.

3. Tindak ‘perlokusi’ (perlocutionary act), yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan

oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan

kalimat itu (Nababan 1989: 18, dalam Lubis, 1991: 9).

Contoh: dari kalimat Saya lapar yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan

efek kepada pendengar yaitu dengan memberikan atau menawarkan makanan

kepada penutur.

Dalam ilmu bahasa dapat kita samakan tindak lokusi itu dengan ‘predikasi’,

tindak ilokusi dengan ‘maksud kalimat’ dan tindak perlokusi dengan akibat suatu

ungkapan.

Atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa lokusi adalah makna dasar

atau referensi kalimat itu, ilokusi sebagai daya yang ditimbulkan oleh pemakainya

sebagai perintah, ejekan, keluhan, pujian, dan lain-lain, dan perlokusi adalah hasil dari

ucapan tersebut terhadap pendengarnya.

Kalimat: Nilai rapotmu bagus sekali.

Dalam segi lokusi, ini hanya sebuah pernyataan bahwa nilai rapot itu bagus (makna

dasar). Dari segi ilokusi, bisa berarti pujian atau ejekan. Pujian kalau memang nilai itu

bagus, dan ejekan kalau nilai rapot itu memang tidak bagus.

Dari segi perlokusi dapat membuat pendengar itu menjadi sedih (muram) dan

sebaliknya dapat mengucapkan terima kasih.

Ucapan yang tidak langsung itu tidak menyatakan pujian atau ejekan tetapi

mengharuskan si pendengar mengolahnya, sehingga makna yang sebenarnya dapat

ditentukannya. Ini dapat diketahui dari kaidah perbincangannya.

(21)

Nilai rapotmu bagus sekali bermakna dasar, sebuah rapot bernilai bagus.

Prinsip koperatifnya di sini dijalankan karena si pembicara menyatakan sesuai dengan

tujuan pembicara itu. Dari segi evaluatifnya dapat dikatakan sebagai berikut: Si

pembicara menyatakan sesuatu dengan terang dan jelas dan ini biasanya mempunyai

makna dibaliknya.

Di sini konteksnya dan penuturnya memegang peranan untuk menyatakan

nilai evaluatifnya. Kalau yang menyatakan itu adalah orang tuanya kepada anaknya

yang menunjukkan rapotnya dan air muka orang tuanya itu kelihatan tidak jernih,

maka jelas daya ilokusi pernyataan itu adalah kekesalan. Kesimpulan ini menentukan

bagaimana respon si pendengar atau anak yang mempunyai rapot tersebut. Ia mungkin

akan menyatakan bahwa guru-gurunya tidak jujur atau mungkin juga Cuma merasa

sedih atau mungkin juga ia akan menangis, atau ia akan mengatakan bahwa ia telah

berusaha sekuat mungkin. Dan inilah nilai perlokusi.

1.5.2.2Pasangan Berdampingan

Richard (1995: 11) menyebutkan bahwa suatu cara untuk mengomunikasikan

dan menginterpretasikan makna adalah dengan menggunakan pasangan

berdampingan. Menurutnya pasangan berdampingan adalah ujaran kedua

diidentifikasikan dalam hubungannya dengan ujaran pertama karena diharapkan

ujaran kedua tersebut merupakan kelanjutan dari yang pertama (Kridalaksana, 2001:

156). Coulthard (1977, dalam Richard 1995: 11) melihat pasangan berdampingan ini

sebagai unit struktural dasar dalam percakapan.

Ada delapan pola psangan berdampingan yang diajukan oleh Coulthard

(dalam Richard, 1995: 11-12). Pola-pola tersebut meliputi pola sapaan-sapaan,

panggilan-jawaban, keluhan-bantahan, keluhan-permohonan maaf,

(22)

penawaran-penolakan. Namun dalam kasus-kasus tertentu, bukan tidak mungkin

muncul pola yang berbeda dengan pola yang ditawarkan Coulthard tersebut.

1.5.2.3Konteks

Dell Hymes (1972, dalam Chaer, 1995: 62), seorang pakar sosiolinguistik

terkenal mengatakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen,

yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING.

Kedelapan komponen itu adalah:

S (= Setting and Scene)

P (= Paticipants)

E (= Ends: Purpose and goal)

A (= Act sequence)

K (= Key: tone or spirit of act)

I (= Instrumentalities)

N (= Norms of interactions and interpretation)

G (= Genres)

Setting and scene. Di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur

berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi

psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat

menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di lapangan sepak

bola pada waktu ada pertandingan sepak bola dalam situasi yang ramai tentu berbeda

dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan

dalam keadaan sunyi. Di lapangan sepak bola kita bisa berbicara keras-keras, tapi di

ruang perpustakaan harus seperlahan mungkin.

Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa

(23)

Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara dan

pendengar, tetapi dalam khotbah di mesjid, khotib sebagai pembicara dan jemaah

sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status sosial partisipan sangat

menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan

menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orang

tuanya atau gurunya bila dibandingkan kalau dia berbicara terhadap teman-teman

sebayanya.

Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi

di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara, namun,

para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa

ingin membuktikan kesalahan terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa

terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil.

Dalam peristiwa tutur di ruang kuliah linguistik, dosen yang cantik itu berusaha

menjelaskan materi kuliah agar dapat dipahami mahasiswanya, namun, barangkali di

antara para mahasiswa itu ada yang datang hanya untuk memandang wajah ibu dosen

yang cantik itu.

Act sequence, mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini

berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, dan

hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam

kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu juga

dengan isi yang dibicarakan.

Key, mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan

disampaikan: dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong,

dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh

(24)

Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur

lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada

kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, ragam dialek, atau register.

Norm of Interaction and Interpretation, mengacu pada norma atau aturan

dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya,

dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan

bicara.

Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah,

doa, dan sebagainya.

Dari yang dikemukakan Hymes itu dapat kita lihat betapa kompleksnya

terjadinya peristiwa tutur yang kita lihat, atau kita alami sendiri dalam kehidupan kita

(25)

BAB II

TINDAK TUTUR PERCAKAPAN PADA KOMIK ASTERIX

Menemukan Tindak Lokusi, Ilokusi, Perlokusi

Setelah data terkumpul maka akan ditemukan jenis-jenis tindak tutur dalam

komik Asterix yakni sebagai berikut:

Contoh 1. Data Percakapan 2

(1) <Asterix> : Lho...Mereka itu adalah penandu-penandu Abraracourcix pemimpin kita!

(2) <Penandu 1> : Kami dipecat, padahal paginya dia begitu riang gembira bahkan sempat menikmati cuaca segala...

(3) <Penandu 2> : Karena itu pulalah kami melongok ke belakang untuk melihat langit...

(4) <Penandu 1> : Persis pada saat kami berdua mau kembali pemimpin kita itu tidak ada lagi di atas perisai tandu...

(5) <Penandu 2> : Salah sendiri kalau dia merasa tidak puas dengan kami berdua! Yah apa boleh buat, kami kena PHK...

Tabel 1. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 2

Tuturan Tindak

Lokusi Ilokusi Perlokusi

(1)

Para penandu tersebut diberhentikan dari pekerjaannya sebagai penandu Sang Pemimpin.

Para penandu tersebut terkejut dan memandang langit

Ketika para penandu itu

‘memberitahukan

‘para penandu merasa heran atas keputusan Pemimpin’

‘menceritakan perihal

Muncul pada tuturan (2) dengan

memberikan keterangan.

Muncul pada tuturan (3) dengan

memberikan

tambahan keterangan atas pemecatan tersebut.

Muncul pada tuturan (4) dengan

memberikan

keterangan tambahan.

(26)

(5)

kembali, mereka tidak melihat Pemimpin mereka di atas tandu lagi.

Penandu 2 menyalahkan Pemimpin mereka atas pekerjaan mereka, dan mereka pasrah untuk di PHK.

pemecatan mereka’

‘mengeluh dan kecewa atas pemecatan

tersebut’

(5) dengan rasa kecewa.

-

Contoh 2. Data percakapan 3

(1) <Penduduk 1> : Ha! Ha! Ha!

Mungkin ada baiknya Kalian pergi berjalan-jalan ke gunung!

(2) <Penduduk 2> : Seharusnya Obelix berjalan di atas lututnya!

(3) <penduduk 3> : Wah! Wah! Dengan cara itu pemimpin kita kelihatan bongkok gara-gara rakyat memberati pundaknya! (4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang

menertawakan kita!

(5) <Asterix> : Sebaiknya Obelix saja yang mengangkatmu, Abraracourcix!

(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!

(7) <Obelix> : Lalu bagaimana dengan bisnis menhirku?

(8) <Sang Pemimpin> : Demi Toutatis! Kalian menolak melayani sang pemimpin?

Tabel 2.Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 3

Tuturan Tindak

Lokusi Ilokusi Perlokusi

(1)

(2)

Penduduk 1 berkata sambil tertawa, sebaiknya Pemimpin, Asterix, dan Obelix pergi berjalan-jalan ke gunung.

Penduduk 2 berkata seharusnya Obelix berjalan dengan

‘mengusulkan dan agar Pemimpin, Asterix, dan Obelix berjalan ke gunung’

‘menyindir Obelix karena mempunyai fisik yang lebih besar

Muncul pada tuturan (2) dengan

memberikan sindiran.

Muncul pada tuturan (3) dengan

(27)

(3)

Penduduk 3 berkata bahwa Pemimpin terlihat tidak seimbang karena rakyat memberati bahunya.

Sang Pemimpin

menyuruh agar tandunya diletakkan dengan cepat.

Asterix menyatakan bahwa Obelix saja yang mengangkat/membawa Sang Pemimpin.

Sang Pemimpin berkata harus dua orang

Prajurit/tentara yang mengankatnya dan kalau tidak maka dia akan dipandang sebagai Pemimpin yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan

Obelix bertanya tentang keadaan usaha

menhirnya.

Sang Pemimpin bertanya apakah Asterix dan Obelix menolak untuk menjadi penadu Sang Pemimpin.

daripada Asterix’

‘menyindir Pemimpin karena ia diangkat oleh dua penandu dengan berat badan yang tidak seimbang’ Obelix saja yang mengangkat Pemimpin’

‘memberikan perintah kepada Asterix dan Obelix’

‘menolak untuk menjadi penandu Sang Pemimpin’

‘menanyakan tentang kesediaan Asterix dan Obelix untuk menjadi penandu-penandu Sang Pemimpin’

kepada Pemimpin.

Muncul pada tuturan (4) dengan

memberikan perintah kepada penandu-penandu.

Muncul pada tuturan (5) dengan

memberikan jawaban/pendapat atas perintah itu.

Muncul pada tuturan (6) dengan

memberikan bantahan.

Muncul pada tuturan (7) dengan

memberikan sebuah pertanyaan.

Muncul pada tuturan (8) dengan rasa marah sambil memberikan pertanyaan.

-

Contoh 3. Data Percakapan 4

(1) <Panoramix> : Apa apaan Obelix itu?

(28)

Tabel 3. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 4

Tuturan Tindak

Lokusi Ilokusi Perlokusi

(1)

‘ingin tahu tentang apa yang dilakukan obelix’

‘memberikan jawaban atas pertanyaan Panoramix’

muncul pada tuturan (2) dengan memberikan jawaban sambil mengejek. -

Contoh 4. Data Percakapan 5

(1) <Tamu> : Demi Yupiter! Malarius yang mulia... pesta mabuk-mabukan ini sungguh mempesonakan, membuat kita lupa bahwa kita ini berada jauh dari Roma!

(2) <Malarius> : Memang! Ini namanya pesta selera tinggi... Malinguslah yang jadi otak pesta ini!

(3) <Malarius> : Ah! Itu dia penari-penari kita! (4) <Malarius> : Bawa! kesini anggurnya! Cepat!

(5) <Pelayan> : Tuan! Tamu yang tuan nantikan sudah menunggu di ruang kerja!

(6) <Malarius> : Baik! Aku pergi dulu! Cepat bawakan jerohan celeng yang digoreng dengan minyak urus-urus!

(7) <Tamu> : Ah! Malarius yang budiman kau manjakan kami! (8) <Malarius> : Bersenanglah sepuas-puasnya! Aku segera kembali!

Tabel 4.Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 5

Tuturan Tindak

Lokusi Ilokusi Perlokusi

(1)

(2)

Seorang tamu mengatakan bahwa pesta yang dibuat Malarius sangat

menakjubkan sehingga membuat mereka lupa dengan Roma.

Malarius menyatakan bahwa pesta tersebut merupakan pesta selera tinggi dan Malinguslah yang membuat pesta tersebut.

‘memuji pesta yang dibuat oleh Malarius’

‘memberitahukan tentang siapa yang membuat pesta tersebut’

Muncul pada tuturan (2) dengan perasaan senang.

(29)

(3) bahwa penari-penari telah datang.

Malarius menyuruh seseorang untuk membawa anggur kepadanya.

Pelayan memanggil Malarius bahwa tamu yang sedang ditunggu telah menunggu di ruang kerja.

Malarius menjawab dia akan pergi dan menyuruh untuk membawakan makanan.

Seorang tamu menyatakan bahwa Malarius berhati baik dan dia menuruti kehendak para tamunya secara berlebihan.

Malarius menyuruh agar para tamu untuk

bersenang-senang dan menginformasikan dia akan kembali dengan cepat. bahwa tamu yang dinantikan sudah kepada para tamu untuk bersenang-senang’

-

Muncul pada tuturan (5) dengan

memberikan informasi tentang sesuatu.

Muncul pada tuturan (6) dengan

memberikan jawaban atas pemberitahuan itu.

Muncul pada tuturan (7) dengan pujian atas perlakuan Malarius kepada mereka.

Muncul pada tuturan (8) dengan rasa senang ia

menanggapi tuturan (7).

-

Contoh 5. Data Percakapan 6

(1) <Pelayan> : Pak! Apakah saya harus menyiapkan sop darah beruang dan capcay leher jerapah?

(2) <Malarius> : Tidak! Bikinkan semangkuk sop sayuran!

(3) <Pelayan> : Apa-apaan lagi nih... macam-macam saja yang mereka inginkan untuk pesta mabuk-mabukan ini!

(4) <Pelayan> : sudah siap, Pak!

(30)

(6) <Malarius> : He...He..., ini racun tikus! Demi Yupiter! Ini juga..., ini sama saja..., dan ini yang terakhir...! Aku tidak boleh lupa mengisinya kembali!

(7) <Malarius> : Ini sopnya Inspektur!

(8) <Inspektur> : Gila! Istanamu indah sekali aneh, padahal propinsimu miskin kan? Setoran yang kau serahkan ke pemerintah pusat Cuma beberapa keping emas!

(9) <Malarius> : Masalahnya adalah pada selera! Kalau seleramu tinggi, dari sesuatu yang kecil kau dapat berbuat banyak!

(10) <Inspektur> : Hmm, begitu! Kita lihat saja besok pagi! (11) <Malarius> : Selamat malam, Inspektur!

(12) <Malarius> : He..He...He..

Tabel 5.Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 6

Tuturan Tindak

Lokusi Ilokusi Perlokusi

(1)

Pelayan bertanya apakah dia harus membuat sop darah beruang dan capcay leher jerapah.

Malarius menyuruh pelayan untuk membuat semangkuk sop sayuran.

Pelayan berbicara dengan dirinya sendiri dengan menyatakan kebingungannya atas perintah Malarius.

Pelayan menyatakan bahwa perintah yang diberikan sudah selesai dikerjakan.

Malarius menyuruh agar pelayan meletakkan makanan tersebut dan segera keluar.

Malarius menunjukkan racun tikus dan dia tidak boleh lupa untuk

‘bertanya tentang apa yang harus ia lakukan’

‘memerintahkan

pelayan untuk membuat semangkuk sop

sayuran’

‘mengeluh atas perintah yang diberikan

Malarius’

‘memberitahukan bahwa makanan yang dibuat telah siap dibuat’

‘memerintahkan pelayan untuk meletakkan makanan tersebut dan cepat keluar dari ruangan tersebut’

‘meletakkan racun tikus tersebut ke dalam makanan sop yang telah

Muncul pada tuturan (2) dengan memberikan jawaban.

Muncul pada tuturan (3) dengan memberikan tanggapan yang disertai rasa kesal.

-

Muncul pada tuturan (5) dengan memberikan perintah kepada

pelayan tersebut.

-

(31)

(7) apabila sudah habis.

Malarius menunjukkan sop tersebut kepada Inspektur.

Inspektur terkejut melihat istana Malarius padahal propinsinya miskin,

penghasilan/pajak yang diberikan ke pemerintah pusat hanya beberapa keping emas.

Malarius berkata bahwa masalahnya adalah pada kemauan, kalau

kemauanmu (Inspektur) tinggi maka dari suatu hal yang kecil/sedikit (Inspektur) dapat berbuat banyak/lebih.

Inspektur menyetujui pendapat Malarius sambil berkata untuk menunggu besok pagi.

Malarius mengucakpan selamat malam kepada Inspektur.

dibuat oleh pelayan itu’

‘menawarkan sop tersebut kepada Inspektur’

‘menyindir Malarius karena tidak sebanding antara pajak yang diberikannya dengan bentuk istananya yang megah’

Muncul pada tuturan (8) dengan memberikan tanggapan yang berupa ejekan tentang istana Malarius.

Muncul pada tuturan (9) dengan memberikan pernyataan atas

sindiran yang diberikan oleh Inspektur.

Muncul pada tuturan (10) dengan rasa tidak percaya.

Muncul pada tuturan (11) dengan

memberikan salam kepada Inspektur.

-

2.2 Menganalisis Tindak Lokusi, Ilokusi, Perlokusi

Setelah jenis-jenis tindak tutur ditemukan kemudian akan dilanjutkan dengan

analisis data sebagai berikut:

Contoh 1. Data Percakapan 2

(1) <Asterix> : Lho...Mereka itu adalah penandu-penandu Abraracourcix pemimpin kita!

(32)

(3) <Penandu 2> : Karena itu pulalah kami melongok ke belakang untuk melihat langit...

(4) <Penandu 1> : Persis pada saat kami berdua mau kembali pemimpin kita itu tidak ada lagi di atas perisai tandu...

(5) <Penandu 2> : Salah sendiri kalau dia merasa tidak puas dengan kami berdua! Yah apa boleh buat, kami kena PHK...

Konteks:

Pada gambar di atas dapat kita lihat percakapan antara penandu-penandu tersebut

dilakukan di sebuah jalan desa Galia dan Asterix dan Obelix hanya melihat dan

merasa terkejut. Topik pembicaraan pada percakapan di atas adalah mereka dipecat

oleh pimpinannya sebagai penandu, situasi pembecaraan mereka tidak formal (santai).

Dalam percakapan di atas dapat diketahui bahwa topik yang dibicarakan

adalah mengenai pemecatan para penandu Abraracourcix yang disebut sebagai

seorang pemimpin.

Pada tuturan (1) menyatakan bahwa <Asterix> sedang menujukkan kepada

semua orang bahwa ia melihat para penandu tersebut dan tuturan itu disampaikan

secara spontan oleh <Asterix> yang disebut dengan tindak lokusi. Selain tindak

lokusi, tuturan (1) juga mempunyai maksud yang ingin disampaikannya yaitu

<Asterix> ingin memberitahukan bahwa ada penandu-penandu Abraracourcix dan

tindak ini disebut tindak ilokusi. Dari tuturan (1) maka munucl tindak perlokusi,

yaitu efek yang ditimbulkan oleh pendengar ketika mendengar tuturan dari lawan

bicaranya, tindak perlokusi pada tuturan (1) yaitu muncul pada tuturan (2) yang

berupa pemberian keterangan dari ucapan <Asterix>.

Tindak lokusi pada tuturan (2) adalah <Penandu 1> menyatakan bahwa ia dan

temannya (<Penandu 2>) diberhentikan dari pekerjaannya sebagai penandu oleh Sang

(33)

memberitahukan kepada <Asterix> bahwa mereka telah dipecat oleh Pemimpin.

Kemudian pada tuturan (3) tindak lokusinya adalah <Penandu 2> merasa terkejut dan

melihat langit, dan dilanjutkan dengan tuturan (4) dan (5). Dan tindak ilokusi pada

tuturan (3), (4) adalah mereka sama-sama memberitahukan perihal pemecatan

tersebut, sedangkan untuk tuturan (5) tindak ilokusinya sedikit berbeda yaitu

<Penandu 2> mengeluh atas pemecatan itu.

Tindak perlokusi pada percakapan di atas muncul pada tuturan (2), (3), (4),

dan (5) karena kedua partisipan saling memberikan keterangan/balasan kepada lawan

tuturnya. Dari tuturan (2) muncul tuturan (4) dan dikuti dengan tuturan (5).

Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa masing-masing partisipan

memiliki persepsi yang sama, hal itu dapat dilihat dari setiap ujaran yang dituturkan

oleh masing-masing partisipan tersebut. Antara ujaran yang diberikan <Penandu 1>

kepada <Penandu 2> memiliki persamaan persepsi yaitu mengenai keluhan atas

pemecatan mereka.

Contoh 2. Data percakapan 3

(1) <Penduduk 1> : Ha! Ha! Ha!

Mungkin ada baiknya Kalian pergi berjalan-jalan ke gunung!

(2) <Penduduk 2> : Seharusnya Obelix berjalan di atas lututnya!

(3) <penduduk 3> : Wah! Wah! Dengan cara itu pemimpin kita kelihatan bongkok gara-gara rakyat memberati pundaknya! (4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang

menertawakan kita!

(5) <Asterix> : Sebaiknya Obelix saja yang mengangkatmu, Abraracourcix!

(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!

(34)

(8) <Sang Pemimpin> : Demi Toutatis! Kalian menolak melayani sang pemimpin?

Konteks:

Pada gambar di atas dapat kita lihat pembicaraan dilakukan oleh enam partisipan,

yaitu penduduk/warga setempat sebanyak tiga orang, Sang pemimpin, Asterix dan

Obelix. Topik pembicaraannya masih tentang penandu-penandu dan tampak bahwa

warga tidak setuju dengan pengangkatan penandu-penandu baru yaitu Asterix dan

Obelix. Oleh karena itu banyak terjadi sindiran-sindiran yang diutarakan oleh warga,

situasi pembicaraan mereka tidak formal (santai).

Pada Tabel 2. sudah terlihat jelas jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada

percakapan 2 di atas. Semua tuturan pada percakapan 2 mempunyai tindak lokusi dan

ilokusi sedangkan tindak perlokusi muncul pada tuturan yang dihasilkan oleh

pendengar.

Pada tuturan (1), maksud (ilokusi) yang ditimbulkannya adalah dalam bentuk

sindiran yang disebut dengan tindak ilokusi, dan dari tuturan (1) tersebut

menimbulkan reaksi bagi yang mendengarnya maka muncul tuturan (2). Maksud

(ilokusi) dari tuturan (2) juga tidak jauh berbeda dengan tuturan (1) yaitu sama-sama

dalam bentuk sindiran. Begitu juga halnya pada tuturan (3) yang muncul akibat dari

tuturan (2). Dari tuturan (3) tindak perlokusi muncul pada tuturan (4). Di sini tuturan

(4) adalah partisipan yang mendengar ujaran (3) sehingga ketika ia mendengar ujaran

(3) tersebut maka <Sang Pemimpin> memerintahkan para penandu-penandu untuk

meletakkan tandunya.

Tuturan (4) menimbulkan reaksi dari lawan tuturnya yaitu pada tuturan (5).

Tuturan (5) mempunyai maksud (ilokusi) <Asterix> ingin mengusulkan agar hanya

satu orang saja yang mengangkat <Sang Pemimpin> agar tidak terjadi ketimpangan.

Tetapi <Sang Pemimpin> tidak menyetujuinya itu terlihat pada tuturan (6) karena ia

(35)

merupakan efek (perlokusi) yang timbul akibat dari tuturan (5). Kemudian dilanjutkan

dengan tuturan (7), dan (8).

Contoh 3. Data Percakapan 4

(1) <Panoramix> : Apa apaan Obelix itu?

(2) <Asterix> : Sedang mengantar sang setengah pemimpin!

Konteks:

Gambar di atas terlihat bahwa Sang Pemimpin hanya diangkat oleh satu penandu saja

yaitu Obelix, sedangkan Asterix hanya berdiri sambil melihat. Pembicaraan dilakukan

oleh dua partisipan yaitu Panoramix dan Asterix, tampak bahwa Panoramix bertanya

kepada Asterix tentang apa yang dilakukan oleh Obelix. Situasi pembicaraan tidak

formal (santai).

Pada data percakapan di atas terdapat tiga tindakan yaitu lokusi, ilokusi, dan

perlokusi. Tuturan (1) dan (2) merupakan tindak lokusi karena kedua tuturan tersebut

sama-sama menyatakan sesuatu yang dapat kita lihat dengan jelas pada tabel 3. yaitu

pada tuturan (1) menyatakan sebuah pertanyaan dan tuturan (3) menyatakan sebuah

jawaban. Kedua tuturan tersebuat juga mempunyai tindak ilokusi, pada tuturan (1)

maksud yang ingin disampikan adalah <Panoramix> ingin tahu apa yang dilakukan

oleh Obelix, yang kemudian dijawab oleh <Asterix> dari jawaban tersebut maksud

yang diperoleh ialah <Asterix memberitahukan apa yang sedang dilakukan oleh

Obelix. Secara tidak langsung tindak perlokusi juga muncul pada tuturan (2) yaitu

dengan memberikan jawaban setelah mendengarkan pertanyaan dari <Panoramix>.

Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa masing-masing partisipan tidak

terjadi kesalahpahaman dalam melakukan sebuah percakapan. Tampak dari tuturan

yang diberikan oleh <Panoramix> yang berupa pertanyaan dapat dijawab oleh

(36)

Contoh 4. Data Percakapan 5

(1) <Tamu> : Demi Yupiter! Malarius yang mulia... pesta mabuk-mabukan ini sungguh mempesonakan, membuat kita lupa bahwa kita ini berada jauh dari Roma!

(2) <Malarius> : Memang! Ini namanya pesta selera tinggi... Malinguslah yang jadi otak pesta ini!

(3) <Malarius> : Ah! Itu dia penari-penari kita! (4) <Malarius> : Bawa! kesini anggurnya! Cepat!

(5) <Pelayan> : Tuan! Tamu yang tuan nantikan sudah menunggu di ruang kerja!

(6) <Malarius> : Baik! Aku pergi dulu! Cepat bawakan jerohan celeng yang digoreng dengan minyak urus-urus!

(7) <Tamu> : Ah! Malarius yang budiman kau manjakan kami! (8) <Malarius> : Bersenanglah sepuas-puasnya! Aku segera kembali!

Konteks:

Gambar di atas menampilkan sebuah pesta yang megah dan pesta itu dibuat oleh

Malarius. Ia adalah seorang gubernur. Pembicaraan dilakukan oleh tiga partisipan

yaitu Malarius, seorang tamu, dan pelayan. Topik yang dibicarakan juga mengenai

pesta. Situasi pembicaraan dilakukan dengan ragam santai.

Pada tuturan (1) <Tamu> menyatakan kepada <Malarius> bahwa pesta yang

dibuat oleh Malarius sangat bagus sehingga membuat mereka lupa akan Roma.

Pernyataan pada tuturan (1) tersebut merupakan tindak lokusi. Dari tuturan (1)

tersebut mempunyai maksud (ilokusi) bahwa <Tamu> tersebut ingin memberitahukan

tentang keadaan pesta itu kepada Malarius. kemudian tindak perlokusi muncul pada

tuturan (2). Tindak tersebut muncul karena (2) <Malarius> mendengarkan tuturan (1).

Pada tuturan (2) tersebut <Malarius> memberikan jawaban yang berupa pernyataan

bahwa pesta tersebut memang pesta yang berselera tinggi dan yang membuat pesta itu

adalah Malingus. Maksud (ilokusi) dari pernyataan tuturan (2) tersebut adalah untuk

(37)

Berbeda dengan tuturan (2), tuturan (4) mempunyai maksud untuk memerintah

yang merupakan tindak ilokusi. dari tuturan (4) tersebut muncul tuturan (5) yang

merupakan tindak perlokusi. Dan pada tuturan (4) <Malarius> memerintahkan

<Pelayan> untuk membawakan anggur di saat itu juga <Pelayan> tampak pada

tuturan (5) memberitahukan tentang kedatangan seorang tamu, yang kemudian dibalas

oleh <Malarius> pada tuturan (6) dengan mengiyakan informasi tersebut sambil

memberikan perintah untuk membawakan makanan. Begitu juga halnya dengan

tuituran (7) dan (8).

Lebih jelasnya, dari rangkaian percakapan di atas antara masing-masing

partisipan masih memiliki persamaan persepsi. Dan dapat disimpulkan bahwa baik

<Tamu> dan <Malarius> bersikap sama-sama menuruti apa yang diminta oleh mitra

wicaranya. Hal ini terbukti dari tuturan yang diberikan oleh <Malarius> yang

merupakan balasan dari <Tamu> dan seterusnya.

Contoh 5. Data Percakapan 6

(1) <Pelayan> : Pak! Apakah saya harus menyiapkan sop darah beruang dan capcay leher jerapah?

(2) <Malarius> : Tidak! Bikinkan semangkuk sop sayuran!

(3) <Pelayan> : Apa-apaan lagi nih... macam-macam saja yang mereka inginkan untuk pesta mabuk-mabukan ini!

(4) <Pelayan> : sudah siap, Pak!

(5) <Malarius> : Taruh di situ dan keluarlah cepat dari sini!

(6) <Malarius> : He...He..., ini racun tikus! Demi Yupiter! Ini juga..., ini sama saja..., dan ini yang terakhir...! Aku tidak boleh lupa mengisinya kembali!

(7) <Malarius> : Ini sopnya Inspektur!

(38)

(9) <Malarius> : Masalahnya adalah pada selera! Kalau seleramu tinggi, dari sesuatu yang kecil kau dapat berbuat banyak!

(10) <Inspektur> : Hmm, begitu! Kita lihat saja besok pagi! (11) <Malarius> : Selamat malam, Inspektur!

(12) <Malarius> : He..He...He..

Konteks:

Pada gambar di atas percakapan dilakukan oleh tiga partisipan yaitu, seorang pelayan,

Malarius, dan Inspektur. Dapat kita lihat pada gambar bahwa Malarius sedang

kedatangan tamu, dan tamunya itu adalah seorang Inspektur kemudian Malarius

menyuruh pelayannya untuk membuatkan makanan. Tampak pada gambar Malarius

ingin berbuat jahat kepada Inspektur tersebut dengan cara memberi racun ke dalam

makanannya. Yang dijadikan topik pembicaraan adalah mengenai pajak yang

diberikan Malarius kepada pemerintah pusat sehingga menimbulkan rasa curiga

kepada Inspektur. Situasi pembicaraan memakai ragam santai/tidak formal.

Pada bagian (1) dan (2), kedua kalimat tersebut diutarakan dengan maksud

(ilokusi) agar baik si penutur dan lawan tutur mau melakukan sesuatu. Pada tuturan

(1) merupakan rangkaian kalimat tanya, dan kalimat tanya yang dipergunakan itu

adalah untuk mengetahui apa lagi tugas yang akan dilakukannya, hal itu tampak pada

percakapan di atas, kemudian pertanyaan yang diutarakan oleh <Pelayan> tersebut

dibalas oleh (2) dengan bantahan (perlokusi) kemudian memberi perintah lagi yang

harus dilakukan oleh <Pelayan> tersebut. Sama halnya juga dengan tuturan (5),

kalimat tersebut juga diutarakan dengan maksud (ilokusi) menginformasikan sesuatu

tetapi diucapkan dengan perintah oleh penuturnya. Perintah tersebut juga menuntut

agar seseorang yang mendengarnya agar segera keluar, dan orang yang mendengarkan

perintah tersebut lalu mengerjakannya disebut dengan tindak perlokusi, dari

percakapan di atas dapat diketahui bahwa kalimat perintah tersebut ditujukan oleh

<Pelayan>.

Pada bagian (3) kalimat yang diutarakan merupakan efek dari tuturan kalimat

(39)

ditimbulkan pada (3) tersebut ialah berupa keluhan terhadap perintah yang telah

diberikan kepadanya dan dapat dikatakan bahwa tuturan (3) merupakan tindak

perlokusi.

Tindak ilokusi juga ditemukan pada tuturan (4) yaitu <Pelayan>

menginformasikan kepada <Malarius> bahwa apa yang telah diperintahkan sudah

selesai dikerkajakannya. Reaksi yang ditimbulkan dari tuturannya itu adalah

timbulnya tuturan (5) karena mendengarkannya yang disebut dengan tindak perlokusi.

Pada bagian (6) tuturan tersebut diutarakan dengan maksud (ilokusi) untuk

memberitahukan kepada dirinya senduru agar ia tidak lupa untuk melakukan sesuatu

sesuai dengan percakapan di atas bahwa ia tidak boleh lupa untuk mengisi racun tikus

itu apabila habis. Pada bagian (7) tuturan yang diutarakannya hampir sama dengan (4)

yaitu sama-sama ingin menginformasikan sesuatu.

Pada bagian (8) dapat diketahui bahwa kalimat yang diutarakan tersebut

merupakan sebuah sindiran kepada <Malarius> yang mengatakan bahwa terjadi

ketimpangan antara istana dan pajak yang dihasilkan oleh propinsinya. Dan pada

bagian (9) yang merupakan balasan dari tuturan (8). Kalimat yang diutarakan pada

bagian (9) juga merupakan sindiran sekaligus untuk memperlihatkan keunggulan

<Malarius> atau dengan kata lain perasaan bangga atas dirinya sendiri

(<Malarius>). Dari tuturan (9) tersebut menimbulkan pengaruh kepada lawan

tuturnya hal itu dapat dilihat pada (10), efek yang ditimbulkan itu merupakan rasa

tidak percaya <Inspektur> kepada <Malarius> atas perkataannya. Rasa tidak percaya

(40)

2.3 Pasangan Berdampingan pada Komik Asterix

2.3.1 Pola Sapaan - Sapaan

Pola sapaan –sapaan merupakan pola yang paling umum dijumpai

dalamercakapan. Namun, ditemukan pula pola yang berbeda dalam mengawali

seercakapan dalam wacana komik. Pola tersebut berupa pola sapaan – permintaan

informasi. Dalam percakapan yang berpola seperti ini sapaan oleh seorang partisipan

tidak dijawab dengan sapaan melainkan dibalas dengan permintaan informasi oleh

partisipan yang disapa.

Contoh 6. data percakapan 7

(1) <Malarius> :Salam Inspektur! Kami sedang adakan pertemuan keluarga antar rekanan! Ikutlah berpesta bersama kami, Inspektur! (2) <Inspektur> :Tidak! Aku ditugaskan Yulius Caesar memeriksa pembukuan

propinsi ini! Bukankah kau penanggung jawab keuangannya? Cepat usir orang-orang itu dari sini!

2.3.2 Pola Panggilan – Jawaban

Pola panggilan – jawaban merupakan pola yang biasa kita jumpai dan

biasanya pola panggilan – jawaban ini sering dilakukan apabila percakapan tersebut

dilakukan secara lisan seperti halnya percakapan yang terdapat dalam komik Asterix

ini. Dan percakapan yang dilakukan secara lisan tersebut dituliskan ke dalam sebuah

komik.

(41)

(1) <Tiphumushlihattix> : Zurix! Cepat buka! Ini aku, Tiphumushlihattix! (2) <Zurix> : Kau tahu ini jam berapa?

2.3.3 Pola Permintaan Informasi – Pemberian

Dalam percakapan juga ditemukan adanya pola permintaan informasi yang

dibalas dengan pemberian infomasi oleh masing-masing mitra wicaranya. Begitu juga

halnya dalam percakapan yang terdapat pada komik Asterix ini.

Contoh 8. Data percakapan 9

(1) <Asterix> : Ada penginapan di dekat sini...Bung Romawi? (2) <Seorang Romawi> : Buanyak! Tuh! Persis di depan ada satu!

Pada data (1) <Asterix> mengutarakan kalimat yang berupa pertanyaan, dan

pertanyaan tersebut diutarakan oleh <Asterix> dengan tujuan untuk meminta

informasi tentang tempat penginapan. Dan pertanyaan tersebut ditanggapi oleh

<Seorang Romawi> yang menjadi lawan tuturnya dengan memberikan jawaban yang

(42)

Contoh 9. Data percakapan 10

(1) <Inspektur> : Tolong antar aku ke penginapan, aku Cuma ingin makan sop sayur-sayuran!

(2) <Malarius> : Tentu! Tentu! Nanti kuurus sendiri!

Sedangkan pada contoh 10 di atas terdapat sedikit perbedaan dengan contoh 9.

Pada contoh 10 permintaan yang dimaksud bukanlah permintaan informasi melainkan

tentang permintaan atas sesuatu, terlihat jelas pada data (1) <Inspektur> meminta sop

sayur-sayuran kepada <Malarius> yang menjadi lawan tuturnya. Dan <Malarius>

menyetujui permintaan <Inspektur> tersebut yang terlihat pada data (2).

2.3.4 Pola Penawaran – Penolakan

Pola penawaran – penolakan mengindikasikan adanya pihak yang

menawarkan sesuatu, hanya saja penawaran yang diajukan sama sekali tidak diterima

karena alasan-alasan tertentu.

Contoh 10. Data percakapan 3

(4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang menertawakan kita!

(43)

(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!

(7) <Obelix> : Lalu bagaimana dengan bisnis menhirku?

Pada contoh di atas tampak bahwa tawaran yang diajukan oleh <Asterix>

ditolak oleh <Sang Pemimpin> dengan alasan <Sang Pemimpin> tidak mau dianggap

sebagai ‘setengah pemimpin’ karena <Asterix> menawarkan agar yang mengangkat

<Sang Pemimpin> hanya satu orang saja, maka tawaran tersebut ditolak oleh <Sang

Pemimpin>.

2.3.5 Pola Keluhan – Bantahan

Percakapan yang pasangannya berupa keluhan – bantahan mengindifikasikan

bahwa salah seorang partisipan mengeluh karena sesuatu hal. Sebaliknya partisipan

merasa keluhan tersebut dialamatkan pada orang yang salah.

Contoh 11. Data percakapan 11

(1) <KhurusKherempheng> : Apakah kau tidak takut dicurigai pemerintah pusat? Mereka pasti heran, pajak dari propinsi ini begitu kecil?

(44)

tahun! Sebelum pusat bertindak, aku sudah pergi jauh! Jauh sekali dan aku sudah kaya raya!

(3) <Malarius> : Dan hidupku hanya akan disibukkan dengan pesta mabuk-mabukan!

(4) <KhurusKherempheng> : Tapi bagaimana jika pemerintah pusat mengirim inspektur ke sini, seorang petugas Badan Pemeriksaan Keuangan?

(5) <Malarius> : Aduuh! Demi Junon! Tahu beres deh! Semuanya bisa di atuur... kalau Dia menolak, yah... apa boleh buat...kita bereskan saja...!

Pada contoh data di atas tuturan yang berupa keluhan tampak pada (4),

keluhan yang disampaikan <KhurusKherempheng> merupakan keluhan rasa cemas

dan takut yang kemudian dibantah oleh <Malarius> yang menyatakan agar tidak perlu

khawatir.

Selain itu juga ada contoh lain yang memiliki pola yang sama yakni:

Contoh 12. Data percakapan 13

(1) <Prajurit> : Huh! Selesai berenang di danau, sekarang dipaksa naik gunung...

(2) <Jenderal> : Lalu kenapa? Memangnya kau sedang liburan??

2.3.6 Pola Pertanyaan – Jawaban

Dalam sebuah percakapan juga sering dijumpai pola pertanyaan – jawaban.

Salah satu partisipan mengutarakan pertanyaan dan partisipan yang menjadi lawan

tuturnya berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal itu dapat dilihat pada

Gambar

gambar, dialog (percakapan) antar tokoh maupun dari nama-nama para tokohnya.
Tabel 1. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 2
Tabel 2. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 3
Tabel 4. Jenis-jenis Tindak Tutur yang terdapat pada Percakapan 5
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pada maksud tindak tutur ini di dominasi oleh tindak tutur direktif dengan modus mengajak dan memerintah; (2) Karakteristik tindak tutur pada wacana

Pada maksud tindak tutur ini di dominasi oleh tindak tutur direktif dengan modus mengajak dan memerintah; (2) Karakteristik tindak tutur pada wacana slogan cenderung juga

meliputi tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi, dan (2) fungsi bahasa yang terdapat dalam tindak tutur pada wacana rubrik Rakyat Bicara surat kabar

Dengan demikian penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan wujud tindak tutur ekspresif, jenis memuji, dan pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca dalam komik

Hasil dari penelitian terdapat sembilan tindak tutur lokusi, Sembilan tindak tutur ilokusi, dan tiga tindak tutur perlokusi pada novel Rembulan Tenggelam Di

Dengan demikian penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan wujud tindak tutur ekspresif, jenis memuji, dan pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca dalam komik

Tuturan (a) merupakan tindak tutur perlokusi dimana guru mengucapkan kata horotokono tersebut disela pembelajaran untuk mengibur siswa supaya tidak bosan. Efek

Berdasarkan fenomena di atas penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi yang digunakan dalam tradisi upacara pernikahan masyarakat Madura