2.2 Menganalisis Tindak Lokusi, Ilokusi, Perlokusi
Setelah jenis-jenis tindak tutur ditemukan kemudian akan dilanjutkan dengan analisis data sebagai berikut:
Contoh 1. Data Percakapan 2
(1) <Asterix> : Lho...Mereka itu adalah penandu-penandu Abraracourcix pemimpin kita!
(2) <Penandu 1> : Kami dipecat, padahal paginya dia begitu riang gembira bahkan sempat menikmati cuaca segala...
(3) <Penandu 2> : Karena itu pulalah kami melongok ke belakang untuk melihat langit...
(4) <Penandu 1> : Persis pada saat kami berdua mau kembali pemimpin kita itu tidak ada lagi di atas perisai tandu...
(5) <Penandu 2> : Salah sendiri kalau dia merasa tidak puas dengan kami berdua! Yah apa boleh buat, kami kena PHK...
Konteks:
Pada gambar di atas dapat kita lihat percakapan antara penandu-penandu tersebut dilakukan di sebuah jalan desa Galia dan Asterix dan Obelix hanya melihat dan merasa terkejut. Topik pembicaraan pada percakapan di atas adalah mereka dipecat oleh pimpinannya sebagai penandu, situasi pembecaraan mereka tidak formal (santai).
Dalam percakapan di atas dapat diketahui bahwa topik yang dibicarakan adalah mengenai pemecatan para penandu Abraracourcix yang disebut sebagai seorang pemimpin.
Pada tuturan (1) menyatakan bahwa <Asterix> sedang menujukkan kepada semua orang bahwa ia melihat para penandu tersebut dan tuturan itu disampaikan
secara spontan oleh <Asterix> yang disebut dengan tindak lokusi. Selain tindak
lokusi, tuturan (1) juga mempunyai maksud yang ingin disampaikannya yaitu <Asterix> ingin memberitahukan bahwa ada penandu-penandu Abraracourcix dan
tindak ini disebut tindak ilokusi. Dari tuturan (1) maka munucl tindak perlokusi,
yaitu efek yang ditimbulkan oleh pendengar ketika mendengar tuturan dari lawan
bicaranya, tindak perlokusi pada tuturan (1) yaitu muncul pada tuturan (2) yang
berupa pemberian keterangan dari ucapan <Asterix>.
Tindak lokusi pada tuturan (2) adalah <Penandu 1> menyatakan bahwa ia dan temannya (<Penandu 2>) diberhentikan dari pekerjaannya sebagai penandu oleh Sang Pemimpin. Dan dari tuturan tersebut <Penandu 1> mempunyai maksud untuk
memberitahukan kepada <Asterix> bahwa mereka telah dipecat oleh Pemimpin. Kemudian pada tuturan (3) tindak lokusinya adalah <Penandu 2> merasa terkejut dan
melihat langit, dan dilanjutkan dengan tuturan (4) dan (5). Dan tindak ilokusi pada
tuturan (3), (4) adalah mereka sama-sama memberitahukan perihal pemecatan tersebut, sedangkan untuk tuturan (5) tindak ilokusinya sedikit berbeda yaitu <Penandu 2> mengeluh atas pemecatan itu.
Tindak perlokusi pada percakapan di atas muncul pada tuturan (2), (3), (4), dan (5) karena kedua partisipan saling memberikan keterangan/balasan kepada lawan tuturnya. Dari tuturan (2) muncul tuturan (4) dan dikuti dengan tuturan (5).
Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa masing-masing partisipan memiliki persepsi yang sama, hal itu dapat dilihat dari setiap ujaran yang dituturkan oleh masing-masing partisipan tersebut. Antara ujaran yang diberikan <Penandu 1> kepada <Penandu 2> memiliki persamaan persepsi yaitu mengenai keluhan atas pemecatan mereka.
Contoh 2. Data percakapan 3
(1) <Penduduk 1> : Ha! Ha! Ha!
Mungkin ada baiknya Kalian pergi berjalan-jalan ke gunung!
(2) <Penduduk 2> : Seharusnya Obelix berjalan di atas lututnya!
(3) <penduduk 3> : Wah! Wah! Dengan cara itu pemimpin kita kelihatan bongkok gara-gara rakyat memberati pundaknya! (4) <Sang Pemimpin> : Cepat letakkan tandunya! Sepertinya orang-orang
menertawakan kita!
(5) <Asterix> : Sebaiknya Obelix saja yang mengangkatmu, Abraracourcix!
(6) <Sang Pemimpin> : Harus dua orang prajurit, kalau tidak, aku dianggap pemimpin yang setengah-setengah atau setengah pemimpin!
(8) <Sang Pemimpin> : Demi Toutatis! Kalian menolak melayani sang pemimpin?
Konteks:
Pada gambar di atas dapat kita lihat pembicaraan dilakukan oleh enam partisipan, yaitu penduduk/warga setempat sebanyak tiga orang, Sang pemimpin, Asterix dan Obelix. Topik pembicaraannya masih tentang penandu-penandu dan tampak bahwa warga tidak setuju dengan pengangkatan penandu-penandu baru yaitu Asterix dan Obelix. Oleh karena itu banyak terjadi sindiran-sindiran yang diutarakan oleh warga, situasi pembicaraan mereka tidak formal (santai).
Pada Tabel 2. sudah terlihat jelas jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada percakapan 2 di atas. Semua tuturan pada percakapan 2 mempunyai tindak lokusi dan ilokusi sedangkan tindak perlokusi muncul pada tuturan yang dihasilkan oleh pendengar.
Pada tuturan (1), maksud (ilokusi) yang ditimbulkannya adalah dalam bentuk sindiran yang disebut dengan tindak ilokusi, dan dari tuturan (1) tersebut menimbulkan reaksi bagi yang mendengarnya maka muncul tuturan (2). Maksud (ilokusi) dari tuturan (2) juga tidak jauh berbeda dengan tuturan (1) yaitu sama-sama dalam bentuk sindiran. Begitu juga halnya pada tuturan (3) yang muncul akibat dari tuturan (2). Dari tuturan (3) tindak perlokusi muncul pada tuturan (4). Di sini tuturan (4) adalah partisipan yang mendengar ujaran (3) sehingga ketika ia mendengar ujaran (3) tersebut maka <Sang Pemimpin> memerintahkan para penandu-penandu untuk meletakkan tandunya.
Tuturan (4) menimbulkan reaksi dari lawan tuturnya yaitu pada tuturan (5). Tuturan (5) mempunyai maksud (ilokusi) <Asterix> ingin mengusulkan agar hanya satu orang saja yang mengangkat <Sang Pemimpin> agar tidak terjadi ketimpangan. Tetapi <Sang Pemimpin> tidak menyetujuinya itu terlihat pada tuturan (6) karena ia takut dianggap pemimpin yang setengah-setengah. Dan tuturan (6) tersebut
merupakan efek (perlokusi) yang timbul akibat dari tuturan (5). Kemudian dilanjutkan dengan tuturan (7), dan (8).
Contoh 3. Data Percakapan 4
(1) <Panoramix> : Apa apaan Obelix itu?
(2) <Asterix> : Sedang mengantar sang setengah pemimpin!
Konteks:
Gambar di atas terlihat bahwa Sang Pemimpin hanya diangkat oleh satu penandu saja yaitu Obelix, sedangkan Asterix hanya berdiri sambil melihat. Pembicaraan dilakukan oleh dua partisipan yaitu Panoramix dan Asterix, tampak bahwa Panoramix bertanya kepada Asterix tentang apa yang dilakukan oleh Obelix. Situasi pembicaraan tidak formal (santai).
Pada data percakapan di atas terdapat tiga tindakan yaitu lokusi, ilokusi, dan
perlokusi. Tuturan (1) dan (2) merupakan tindak lokusi karena kedua tuturan tersebut
sama-sama menyatakan sesuatu yang dapat kita lihat dengan jelas pada tabel 3. yaitu pada tuturan (1) menyatakan sebuah pertanyaan dan tuturan (3) menyatakan sebuah
jawaban. Kedua tuturan tersebuat juga mempunyai tindak ilokusi, pada tuturan (1)
maksud yang ingin disampikan adalah <Panoramix> ingin tahu apa yang dilakukan oleh Obelix, yang kemudian dijawab oleh <Asterix> dari jawaban tersebut maksud yang diperoleh ialah <Asterix memberitahukan apa yang sedang dilakukan oleh
Obelix. Secara tidak langsung tindak perlokusi juga muncul pada tuturan (2) yaitu
dengan memberikan jawaban setelah mendengarkan pertanyaan dari <Panoramix>. Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa masing-masing partisipan tidak terjadi kesalahpahaman dalam melakukan sebuah percakapan. Tampak dari tuturan yang diberikan oleh <Panoramix> yang berupa pertanyaan dapat dijawab oleh <Asterix> dengan persepsi yang sama.
Contoh 4. Data Percakapan 5
(1) <Tamu> : Demi Yupiter! Malarius yang mulia... pesta mabuk-mabukan ini sungguh mempesonakan, membuat kita lupa bahwa kita ini berada jauh dari Roma!
(2) <Malarius> : Memang! Ini namanya pesta selera tinggi... Malinguslah yang jadi otak pesta ini!
(3) <Malarius> : Ah! Itu dia penari-penari kita! (4) <Malarius> : Bawa! kesini anggurnya! Cepat!
(5) <Pelayan> : Tuan! Tamu yang tuan nantikan sudah menunggu di ruang kerja!
(6) <Malarius> : Baik! Aku pergi dulu! Cepat bawakan jerohan celeng yang digoreng dengan minyak urus-urus!
(7) <Tamu> : Ah! Malarius yang budiman kau manjakan kami! (8) <Malarius> : Bersenanglah sepuas-puasnya! Aku segera kembali!
Konteks:
Gambar di atas menampilkan sebuah pesta yang megah dan pesta itu dibuat oleh Malarius. Ia adalah seorang gubernur. Pembicaraan dilakukan oleh tiga partisipan yaitu Malarius, seorang tamu, dan pelayan. Topik yang dibicarakan juga mengenai pesta. Situasi pembicaraan dilakukan dengan ragam santai.
Pada tuturan (1) <Tamu> menyatakan kepada <Malarius> bahwa pesta yang dibuat oleh Malarius sangat bagus sehingga membuat mereka lupa akan Roma. Pernyataan pada tuturan (1) tersebut merupakan tindak lokusi. Dari tuturan (1) tersebut mempunyai maksud (ilokusi) bahwa <Tamu> tersebut ingin memberitahukan tentang keadaan pesta itu kepada Malarius. kemudian tindak perlokusi muncul pada tuturan (2). Tindak tersebut muncul karena (2) <Malarius> mendengarkan tuturan (1). Pada tuturan (2) tersebut <Malarius> memberikan jawaban yang berupa pernyataan bahwa pesta tersebut memang pesta yang berselera tinggi dan yang membuat pesta itu adalah Malingus. Maksud (ilokusi) dari pernyataan tuturan (2) tersebut adalah untuk memberitahukan kepada <Tamu> yang menjadi mitra tuturnya.
Berbeda dengan tuturan (2), tuturan (4) mempunyai maksud untuk memerintah yang merupakan tindak ilokusi. dari tuturan (4) tersebut muncul tuturan (5) yang merupakan tindak perlokusi. Dan pada tuturan (4) <Malarius> memerintahkan <Pelayan> untuk membawakan anggur di saat itu juga <Pelayan> tampak pada tuturan (5) memberitahukan tentang kedatangan seorang tamu, yang kemudian dibalas oleh <Malarius> pada tuturan (6) dengan mengiyakan informasi tersebut sambil memberikan perintah untuk membawakan makanan. Begitu juga halnya dengan tuituran (7) dan (8).
Lebih jelasnya, dari rangkaian percakapan di atas antara masing-masing partisipan masih memiliki persamaan persepsi. Dan dapat disimpulkan bahwa baik <Tamu> dan <Malarius> bersikap sama-sama menuruti apa yang diminta oleh mitra wicaranya. Hal ini terbukti dari tuturan yang diberikan oleh <Malarius> yang merupakan balasan dari <Tamu> dan seterusnya.
Contoh 5. Data Percakapan 6
(1) <Pelayan> : Pak! Apakah saya harus menyiapkan sop darah beruang dan capcay leher jerapah?
(2) <Malarius> : Tidak! Bikinkan semangkuk sop sayuran!
(3) <Pelayan> : Apa-apaan lagi nih... macam-macam saja yang mereka inginkan untuk pesta mabuk-mabukan ini!
(4) <Pelayan> : sudah siap, Pak!
(5) <Malarius> : Taruh di situ dan keluarlah cepat dari sini!
(6) <Malarius> : He...He..., ini racun tikus! Demi Yupiter! Ini juga..., ini sama saja..., dan ini yang terakhir...! Aku tidak boleh lupa mengisinya kembali!
(7) <Malarius> : Ini sopnya Inspektur!
(8) <Inspektur> : Gila! Istanamu indah sekali aneh, padahal propinsimu miskin kan? Setoran yang kau serahkan ke pemerintah pusat Cuma beberapa keping emas!
(9) <Malarius> : Masalahnya adalah pada selera! Kalau seleramu tinggi, dari sesuatu yang kecil kau dapat berbuat banyak!
(10) <Inspektur> : Hmm, begitu! Kita lihat saja besok pagi! (11) <Malarius> : Selamat malam, Inspektur!
(12) <Malarius> : He..He...He..
Konteks:
Pada gambar di atas percakapan dilakukan oleh tiga partisipan yaitu, seorang pelayan, Malarius, dan Inspektur. Dapat kita lihat pada gambar bahwa Malarius sedang kedatangan tamu, dan tamunya itu adalah seorang Inspektur kemudian Malarius menyuruh pelayannya untuk membuatkan makanan. Tampak pada gambar Malarius ingin berbuat jahat kepada Inspektur tersebut dengan cara memberi racun ke dalam makanannya. Yang dijadikan topik pembicaraan adalah mengenai pajak yang diberikan Malarius kepada pemerintah pusat sehingga menimbulkan rasa curiga kepada Inspektur. Situasi pembicaraan memakai ragam santai/tidak formal.
Pada bagian (1) dan (2), kedua kalimat tersebut diutarakan dengan maksud (ilokusi) agar baik si penutur dan lawan tutur mau melakukan sesuatu. Pada tuturan (1) merupakan rangkaian kalimat tanya, dan kalimat tanya yang dipergunakan itu adalah untuk mengetahui apa lagi tugas yang akan dilakukannya, hal itu tampak pada
percakapan di atas, kemudian pertanyaan yang diutarakan oleh <Pelayan> tersebut
dibalas oleh (2) dengan bantahan (perlokusi) kemudian memberi perintah lagi yang
harus dilakukan oleh <Pelayan> tersebut. Sama halnya juga dengan tuturan (5),
kalimat tersebut juga diutarakan dengan maksud (ilokusi) menginformasikan sesuatu tetapi diucapkan dengan perintah oleh penuturnya. Perintah tersebut juga menuntut agar seseorang yang mendengarnya agar segera keluar, dan orang yang mendengarkan perintah tersebut lalu mengerjakannya disebut dengan tindak perlokusi, dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa kalimat perintah tersebut ditujukan oleh
<Pelayan>.
Pada bagian (3) kalimat yang diutarakan merupakan efek dari tuturan kalimat
ditimbulkan pada (3) tersebut ialah berupa keluhan terhadap perintah yang telah diberikan kepadanya dan dapat dikatakan bahwa tuturan (3) merupakan tindak perlokusi.
Tindak ilokusi juga ditemukan pada tuturan (4) yaitu <Pelayan> menginformasikan kepada <Malarius> bahwa apa yang telah diperintahkan sudah selesai dikerkajakannya. Reaksi yang ditimbulkan dari tuturannya itu adalah timbulnya tuturan (5) karena mendengarkannya yang disebut dengan tindak perlokusi. Pada bagian (6) tuturan tersebut diutarakan dengan maksud (ilokusi) untuk memberitahukan kepada dirinya senduru agar ia tidak lupa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan percakapan di atas bahwa ia tidak boleh lupa untuk mengisi racun tikus itu apabila habis. Pada bagian (7) tuturan yang diutarakannya hampir sama dengan (4) yaitu sama-sama ingin menginformasikan sesuatu.
Pada bagian (8) dapat diketahui bahwa kalimat yang diutarakan tersebut
merupakan sebuah sindiran kepada <Malarius> yang mengatakan bahwa terjadi
ketimpangan antara istana dan pajak yang dihasilkan oleh propinsinya. Dan pada bagian (9) yang merupakan balasan dari tuturan (8). Kalimat yang diutarakan pada bagian (9) juga merupakan sindiran sekaligus untuk memperlihatkan keunggulan
<Malarius> atau dengan kata lain perasaan bangga atas dirinya sendiri (<Malarius>). Dari tuturan (9) tersebut menimbulkan pengaruh kepada lawan tuturnya hal itu dapat dilihat pada (10), efek yang ditimbulkan itu merupakan rasa
tidak percaya <Inspektur> kepada <Malarius> atas perkataannya. Rasa tidak percaya