PERBANDINGAN DAYA SIMPAN DAN DAYA TUMBUH POLS
RUMPUT SETARIA (Setaria splendida Stapf) PADA PANJANG
DAUN DAN SUHU SIMPAN BERBEDA
SKRIPSI
JULIA SARASWATI DEWI
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
i RINGKASAN
JULIA SARASWATI DEWI. D24070184. 2012. Perbandingan Daya Simpan dan Daya Tumbuh Pols Rumput Setaria (Setaria splendida Stapf) pada Panjang Daun dan Suhu Simpan Berbeda. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. M. Agus Setiana, M.S. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Rita Mutia, M. Agr.
Meningkatnya jumlah ternak ruminansia mengakibatkan tingginya kebutuhan akan hijauan pakan tiap tahunnya. Budidaya hijauan pakan berkualitas masih terhambat oleh minimnya produksi dan penyediaan benih serta terkendala pada proses distribusi benih hijauan pakan menuju daerah-daerah di seluruh Indonesia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisa pengaruh panjang daun serta suhu simpan yang berbeda terhadap daya simpan dan daya tumbuh pols rumput Setaria. Rancangan penelitian yang dipakai ialah rancangan acak lengkap (RAL) berpola faktorial 3x4 dengan 5 ulangan. Faktor A ialah perbedaan potongan daun yaitu potongan normal (8 cm), potongan setengah normal (4 cm), dan potongan habis (hanya akar). Faktor B adalah perbedaan lama simpan yang terdiri atas 2, 4, 6, dan 8 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif pada peubah kondisi umum pols setelah penyimpanan serta awal tumbuh dan sidik ragam (ANOVA) pada peubah penyusutan bobot, daya tumbuh serta tinggi vertikal. Uji Duncan akan dilakukan apabila pada data terdapat perbedaan yang nyata.
ii Perlakuan penyimpanan suhu dingin (4ºC) berpengaruh yang tidak terlalu buruk terhadap kondisi umum bahan tanam setelah penyimpanan. Penampakan fisik bahan tanam tidak jauh beda dengan kondisi awal sebelum disimpan yakni warna tetap hijau, bau tetap segar, dan tekstur tidak basah. Bahan tanam mengalami proses dorman (pingsan sementara) karena suhu yang rendah. Hasil sidik ragam pada penyusutan bobot pols menunjukkan bahwa perlakuan potongan dan lama simpan pada suhu dingin memiliki pengaruh nyata (P<0,05) sedangkan interaksi antara kedua faktor tersebut tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan faktor potongan yang memiliki angka penyusutan terkecil ialah potongan normal (8 cm) sedangkan faktor lama simpan yang terkecil penyusutannya ialah 2 hari. Awal pertumbuhan bahan tanam yang telah mengalami penyimpanan pada suhu dingin terhitung lambat karena bahan tanam mengalami dorman dengan tingkat kelayuan yang terjadi tidak terlalu tinggi. Hasil sidik ragam terhadap daya tumbuh menunjukkan bahwa lama simpan berpengaruh nyata (P<0,05) setelah disimpan dalam suhu dingin dengan lama simpan terbaik selama 2 hari. Untuk perlakuan potongan dan interaksi tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Pada sidik ragam terhadap tinggi vertikal diperoleh bahwa perlakuan potongan, lama simpan, serta interaksi antara keduanya memiliki pengaruh nyata (P<0,05). Hasil terbaik didapatkan ketika memadukan perlakuan potongan normal (8 cm) dengan penyimpanan selama 2 hari (P0H1).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan panjang daun dan lama simpan mempengaruhi kondisi daya simpan serta daya tumbuh pols Setaria. Suhu simpan yang terbaik untuk menjaga kondisi daya simpan dan daya tumbuh pols rumput Setaria terjadi pada suhu rendah (4ºC).
iii ABSTRACT
Comparison of Viability and Vigority Setaria Grass Pols (Setaria splendida
Stapf) on The Differences of Leaf Length and Storage Temperature
J. S. Dewi, M. A. Setiana, R. Mutia
Increasing the ruminants population lead to increase demand of forage each year. Cultivation of forage quality is still hampered by the lack of production and supply of the seeds that hampered by process of forage seed distribution to areas throughout Indonesia. The aims of this study is to determine the effect of the length of the leaves and storage temperatures on viability and vigority Setaria grass pols. The study design was used Completely Randomized Design (CRD) patterned 3x4 factorial with 5 replicates. A factor is the difference in leaf pieces of normal pieces (8cm), pieces of half-normal (4cm), and cut out (root only). B Factor is the difference in the old store which consists of 2 days, 4 days, 6 days, and 8 days. The data obtained were analyzed with descriptive analysis and analysis of variance (ANOVA) and if there is a significantly different data then conducted futher test of Duncan. The results from this research can be concluded that differences in leaf length and storage period affect the viability and vigority of pols Setaria. The best storage temperature to keep the viability and vigority of pols Setaria grass is low temperature (4ºC).
iv
PERBANDINGAN DAYA SIMPAN DAN DAYA TUMBUH POLS
RUMPUT SETARIA (Setaria splendida Stapf) PADA PANJANG
DAUN DAN SUHU SIMPAN BERBEDA
JULIA SARASWATI DEWI D24070184
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
v Judul : Perbandingan Daya Simpan dan Daya Tumbuh Pols Rumput Setaria
(Setaria splendida Stapf) pada Panjang Daun dan Suhu Simpan Berbeda Nama : Julia Saraswati Dewi
NIM : D24070184
Menyetujui,
Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,
(Ir. M. Agus Setiana, M.S) (Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr) NIP. 19570824 198503 1 001 NIP. 19630917 198803 2 001
Mengetahui, Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc) NIP : 19670506 199103 1 001
vi RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir pada tanggal 12 Juli 1989 di
Semarang, Jawa Tengah. Penulis adalah anak kedua
dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Sumono
sebagai pegawai swasta di PT. Freeport Papua dan Ibu
Tri Puji Utami, A.Md sebagai Guru SMP N 34
Semarang. Kakak kandung bernama Ryandra
Sutriantoro sebagai pegawai swasta di Semarang dan
adik kandung bernama Tertia Puji Handayani sebagai
siswi di SMP N 15 Semarang.
Pendidikan taman kanak-kanak diselesaikan
pada tahun 1995 di TK PGRI 34 Semarang, pendidikan sekolah dasar diselesaikan
pada tahun 2001 di SD N Tlogosari Kulon 05 Semarang, pendidikan tingkat
menengah pertama diselesaikan pada tahun 2004 di SMP N 15 Semarang dan
pendidikan tingkat atas diselesaikan pada tahun 2007 di SMA N 11 Semarang.
Penulis diterima di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur Undangan Seleksi
Masuk IPB pada pilihan kedua.
Penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Nutrisi Makanan Ternak
(HIMASITER) Fakultas Peternakan Biro Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa
pada tahun 2008/2009 dan 2009/2010. Penulis bergabung dalam Organisasi
Mahasiswa Daerah (OMDA) Patra Atlas Semarang selama menempuh studi di
Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2008, penulis mengikuti Program Kreatifitas
Mahasiswa tingkat Perguruan Tinggi se-Indonesia (PKM DIKTI) dengan
mengajukan proposal kegiatan di bidang kewirausahaan dengan tema “Nugget Ayam
vii KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan
dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah mendukung, baik secara moril maupun materiil sehingga skripsi yang berjudul
“Perbandingan Daya Simpan dan Daya Tumbuh Pols Rumput Setaria (Setaria splendida Stapf) pada Panjang Daun dan Suhu Simpan Berbeda” ini dapat diselesaikan guna memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Dunia peternakan di Indonesia telah mengalami kemajuan pesat. Hal ini
terbukti dengan pencanangan program Swasembada Daging dari Pemerintah.
Meningkatnya jumlah ternak ruminansia juga mengakibatkan tingginya kebutuhan
akan hijauan pakan tiap tahunnya. Budidaya hijauan pakan berkualitas masih
terhambat oleh minimnya produksi dan penyediaan benih serta terkendala pada
proses distribusi benih hijauan pakan menuju daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi pada kemajuan ilmu
pengetahuan dan bermanfaat bagi seluruh pihak khususnya dalam peningkatan
penyediaan pakan di seluruh wilayah Indonesia khususnya hijauan makanan ternak.
Bogor, April 2012
ix
Tinggi Vertikal………. 11
HASIL DAN PEMBAHASAN………. 12
Kondisi Umum Bahan Tanam setelah Penyimpanan………. 12
Penyusutan Bobot………. 13
Awal Tumbuh………. 15
Daya Tumbuh………. 17
Tinggi Vertikal……….. 18
KESIMPULAN DAN SARAN………. 21
UCAPAN TERIMA KASIH………. 22
DAFTAR PUSTAKA………. 23
x DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Analisa Bahan Kering dan Kecernaan Setaria splendidaStapf……… 5 2. Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan pada Suhu Ruang………... 14
3. Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan pada Suhu Dingin…….…… 14
4. Daya Tumbuh Pols setelah Mengalami Penyimpanan pada Suhu Ruang… 17
5. Daya Tumbuh Pols setelah Mengalami Penyimpanan pada Suhu Dingin… 18
6. Tinggi Vertikal Pols yang Telah Disimpan pada Suhu Ruang………. 19
xi DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Rumput Setaria splendidaStapf ……….. 4 2. Kondisi Pols (8 cm) setelah Penyimpanan pada Suhu Ruang ... 12
3. Kondisi Pols (8 cm) setelah Penyimpanan pada Suhu Dingin ………. 13
4. Persentase Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan pada Suhu
Ruang ………
15
5. Persentase Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan pada Suhu
Dingin ……….... 15
6. Rataan Awal Pertumbuhan setelah Tanam (Suhu Ruang) ……… 16
xii DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Potongan Daun Rumput Setaria (8 cm, 4 cm,dan hanya akar)... 26
2. Kondisi Pols selama Penanaman (Penyimpanan Suhu Ruang)…………... 26
3. Kondisi Pols selama Penanaman (Penyimpanan Suhu Dingin)………….. 27
4. ANOVA Penyusutan Bobot Pols pada Penyimpanan Suhu Dingin……... 27
5. ANOVA Penyusutan Bobot Pols pada Penyimpanan Suhu Ruang…...….. 28
6. ANOVA Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin..………. 29
7. ANOVA Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang...……... 29
8. ANOVA Tinggi Vertikal Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin...…….. 30
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Program Swasembada Daging menjadi salah satu program unggulan
Pemerintah Indonesia yang sedang gencar diupayakan untuk mencapai Ketahanan
Pangan Nasional. Pengadaan pakan ternak ruminansia merupakan aspek pendukung
program tersebut yang perlu dikembangkan secara bertahap. Sumber pakan
ruminansia di Indonesia sangat beragam, diantaranya ialah limbah pertanian, limbah
industri pertanian, budidaya hijauan pakan, dan padang penggembalaan. Rumput
masih menjadi primadona dalam ransum ruminansia karena selain harga yang murah,
mudah diperoleh, produksi yang tinggi serta tahan terhadap tekanan defoliasi
(pemotongan dan renggutan).
Meningkatnya jumlah ternak ruminansia mengakibatkan tingginya kebutuhan
akan hijauan pakan tiap tahunnya. Pemenuhan kebutuhan hijauan pakan masih
terhambat oleh beberapa faktor, antara lain ialah berkurangnya ketersediaan lahan
subur seiring meningkatnya pertambahan penduduk dan penyebaran jenis hijauan
pakan berkualitas masih kurang merata. Budidaya hijauan pakan berkualitas masih
terhambat oleh minimnya produksi dan penyediaan benih serta terkendala pada
proses distribusi benih hijauan pakan menuju daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Salah satu contoh hijauan pakan yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan
para peternak ialah rumput Setaria (Setaria splendida Stapf) yang banyak dibudidayakan di wilayah padat ternak dan padat penduduk seperti di Pulau Jawa,
Lampung dan Bali. Setaria splendida Stapf merupakan tanaman tahunan yang berumpun dengan tinggi mencapai 150 cm, produktif dan tahan kering, dengan siklus
vegetatifnya panjang (McIlroy, 1976). Perbanyakan secara vegetatif banyak
digunakan dalam pertumbuhannya atau sering disebut dengan sobekan rumpun/pols.
Permasalahan dalam perbanyakan vegetatif menggunakan pols ialah bahan tanam
mudah mengalami kerusakan serta daya simpan yang terbatas untuk distribusi.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai jenis penanganan serta
teknologi penyimpanan yang tepat terhadap bahan tanam rumput Setaria yang tahan
terhadap kekeringan sehingga memiliki potensi besar untuk pemenuhan kebutuhan
hijauan pakan di musim kemarau. Informasi mengenai daya simpan dan daya tumbuh
2 teknologi serta penanganan yang tepat untuk sistem distribusi. Selain itu,
pengetahuan tersebut juga dapat dijadikan sebagai peluang bisnis penyediaan benih
hijauan pakan untuk didistribusikan ke wilayah tertentu dalam jangka waktu
semaksimal mungkin dengan kondisi benih yang masih baik.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh panjang daun, lama
simpan, dan suhu simpan yang berbeda terhadap daya simpan dan daya tumbuh pols
3 TINJAUAN PUSTAKA
Pembiakan Vegetatif
Secara umum, pembiakan tanaman terbagi menjadi dua cara yaitu pembiakan
generatif dan pembiakan vegetatif. Pembiakan vegetatif merupakan perbanyakan
tanaman tanpa melibatkan proses kawin dan dengan cara ini sifat-sifat tanaman dapat
dipertahankan (Darmawan dan Baharsjah, 1983). Menurut Hartmann dan Kester
(1983), menyatakan bahwa pembiakan vegetatif atau asexual propagation adalah perbanyakan dari bagian-bagian vegetatif tanaman, dimungkinkan terjadinya setiap
sel tanaman mempunyai informasi genetik yang diperlukan untuk membentuk
individu tanaman yang lengkap. Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara
stek (cutting), cangkok (layering), tempelan (budding), dan sambungan (grafting)
(Soerianegara dan Djamhuri, 1979).
Penyebab utama dilakukannya pembiakan vegetatif ialah banyak tanaman
yang tidak menyerupai induknya bila dibiakkan dengan biji (Rochiman dan Harjadi,
1973). Penyebab lainya ialah:
a. Tanaman tidak atau sedikit menghasilkan biji.
b. Tanaman menghasilkan biji namun sukar berkecambah.
c. Beberapa tanaman lebih resisten terhadap hama dan penyakit bila mereka
timbul pada akar-akar yang berhubungan dengan tanaman tersebut.
d. Beberapa tanaman lebih tahan terhadap suhu dingin (hard) bila disambungkan
pada batang jenis lain.
e. Tanaman akan lebih kuat bila disambungkan.
f. Tanaman akan lebih ekonomis bila dibiakkan secara vegetatif.
Viabilitas dan Vigoritas
Pada umumnya viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk
tumbuh menjadi kecambah. Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat
ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu
daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih
(Sadjad, 1993). Pengujian benih, khususnya fisiologis benih dapat diukur melalui uji
viabilitas (Schmidt, 2002). Umumnya parameter untuk viabilitas benih yang
4 perkecambahan kuat dalam hal ini mencerminkan kekuatan tumbuh yang dinyatakan
sebagai laju perkecambahan. Penilaian dilakukan dengan membandingkan kecambah
satu dengan kecambah lainnya sesuai kriteria kecambah normal, abnormal dan mati
(Sutopo, 2002).
Secara umum pengujian benih mencakup pengujian daya tumbuh dan
pengujian vigor (Sadjad, 1980). Pengujian vigor meliputi dua hal yaitu uji kekuatan
tumbuh dan uji daya simpan. Vigor ialah sejumlah sifat-sifat benih yang menandakan
pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang cepat dan seragam.
Gambar 1. Rumput Setaria splendida Stapf Sumber : Forages fact sheet, 2009
Rumput Setaria splendida Stapf
Setaria splendida memiliki nama lain yaitu Giant Setaria atau Setaria Gajah.
Setaria splendida Stapf berasal dari Afrika Tropika dan merupakan tanaman tahunan, tumbuh tegak berumpun (Whyte et al., 1959). Setaria splendida Stapf merupakan tanaman tahunan yang berumpun dengan tinggi mencapai 150 cm, produktif dan
tahan kering, dengan siklus vegetatifnya panjang (McIlroy, 1976). Daun-daunnya
panjang sampai 70 cm dan lebar 12-20 mm (Bogdan, 1977). Setaria splendida Stapf adalah hijauan makanan ternak yang produktif dan mudah cara penanamannya. Pada
bagian pelepah daunnya berwarna ungu kemerahan karena adanya pigmen
anthosianin. Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji dan secara vegetatif
5 Kandungan asam oksalat yang tinggi (5-7%) pada Setaria membatasi
penggunaannya sebagai hijauan makanan ternak. Hal ini akan mengakibatkan
hipokalsemia pada ternak apabila diberikan dalam jumlah yang besar (Jayadi, 1991).
Tabel 1. Analisa Bahan Kering dan Kecernaan Setaria splendida Stapf Bahan kering (%)
Keterangan: PK= Protein Kasar, SK= Serat Kasar, EE= Ether Extract, NFE= Nitrogen Free Extract, ME= Metabolisme Energi.
Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan untuk mencegah kerusakan bahan tanam.
Penyimpanan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, sehingga bahan tanam
masih terjaga kesegarannya. Menurut Sutopo (2002), penyimpanan benih adalah
untuk mempertahankan viabilitas yang maksimum selama mungkin, sehingga
simpanan energi yang dimiliki oleh benih tidak bocor dan benih mempunyai cukup
energi untuk tumbuh saat ditanam. Maksud dari penyimpanan benih ini adalah agar
benih dapat ditanam setelah melalui proses distribusi yang cukup panjang.
Umur simpan benih dipengaruhi oleh sifat benih, kondisi lingkungan, dan
perlakuan manusia. Daya simpan individu benih dipengaruhi oleh faktor sifat dan
kondisi seperti: pengaruh genetik, pengaruh kondisi sebelum panen, pengaruh
struktur dan komponen benih, kulit benih, tingkat kemasakan, ukuran, dormansi,
kadar air benih, kerusakan mekanik, dan vigor. Sedangkan pengaruh lingkungan
diantaranya : suhu, kelembaban, dan cahaya (Justice dan Bass, 2002).
Bahan tanam baik benih ataupun bibit, akan mengalami kemunduran setelah
mengalami penyimpanan. Menurut Justice dan Bass (2002), gejala kemunduran
6 antara lain ialah perubahan warna benih, mundurnya pertumbuhan perkecambahan,
dan meningkatnya kecambah abnormal. Gejala perubahan kimiawi ialah terjadinya
perubahan dalam aktivitas enzim, respirasi, laju sintesa, perubahan membran,
perubahan persediaan makanan, dan perubahan kromosom.
Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila benih itu sebenarnya hidup (viable) tetapi
tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi
syarat bagi perkecambahan dan periode dormansi ini dapat berlangsung semusim
atau tahunan tergantung pada tipe dormansinya (Sutopo, 2002). Dormansi dapat
memberikan dampak negatif maupun positif terhadap benih. Keuntungan benih yang
dorman adalah dapat mencegah agar tidak berkecambah selama penyimpanan.
Umumnya hampir semua kelompok tanaman termasuk keluarga rerumputan akan
mengalami dormansi ketika baru dipanen (Justice dan Bass, 2002).
Respirasi
Respirasi merupakan proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan
energi. Respirasi dilakukan baik siang maupun malam. Seluruh bagian tumbuhan
tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel oleh karena itu, respirasi terjadi
pada sel. Reaksi kimia dari proses respirasi ialah C6H12O6 + O2→ 6CO2 + H2O +
energi. Menurut Salisbury dan Ross (1995), kandungan air yang tinggi akan
meningkatkan kegiatan enzim-enzim yang akan mempercepat terjadinya proses respirasi
sehingga perombakan cadangan makanan menjadi semakin besar. Akhirnya benih akan
kehabisan bahan bakar pada jaringan-jaringan yang penting (meristem). Energi yang
terhambur dalam bentuk panas ditambah keadaan yang lembab merangsang
perkembangan organisme yang dapat merusak benih. Salisbury dan Ross (1995)
menyatakan bahwa faktor-faktor dari luar yang memiliki pengaruh terhadap respirasi
ialah temperatur, konsentrasi O2, perlukaan dan infeksi, cahaya, keadaaan
protoplasma dan hidrasi jaringan.
Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga,
dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan
7 Proses secara ringkas ialah berlangsungnya oksidasi air dan reduksi CO2 untuk
membentuk karbohidrat (Salisbury dan Ross, 1995). Reaksi kimia dari proses
fotosintesis ialah 12H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O.
Daun merupakan organ tumbuhan tingkat tinggi yang berperan sebagai organ utama
fotosintesis. Daun adalah organ tumbuhan yang paling bervariasi, baik secara
morfologi ataupun anatomi (Fahn, 1991). Ketersediaan enzim fotosintesis, khususnya
ribulosa bisfosfat karboksilase (rubisco) merupakan penentu utama dari kapasitas
8 MATERI DAN METODE
Waktu dan Lokasi
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2011. Bertempat di
Laboratorium Agrostologi dan Laboratorium Lapang Agrostologi, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi
Penelitian ini membutuhkan bahan berupa pols Setaria splendida Stapf sebanyak 600 pols, tanah sebagai media tanam, pupuk kandang, pupuk SP36, dan
pupuk KCl. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah plastik bening, tali
rafia, gunting, mesin pendingin suhu 4ºC, lemari simpan, polybag, thermometer, timbangan digital, dan cetok tanah.
Prosedur
Persiapan Pols
Bahan tanaman yang digunakan ialah pols dengan berbagai macam potongan
daun. Potongan daun yang digunakan ialah potongan daun normal (8 cm dari akar),
potongan daun setengah bagian dari potongan normal (4 cm dari akar), dan potongan
daun habis (hanya akar). Tanah yang masih menempel pada akar pols dibersihkan.
Penyimpanan
Mesin Pendingin 4ºC. Bahan tanam (pols) yang telah disiapkan dengan berbagai
potongan daun kemudian dimasukkan ke dalam plastik untuk mempermudah
penyimpanan. Plastik-plastik yang telah diisi dengan pols kemudian diberi
lubang-lubang kecil untuk sirkulasi udara. Apabila sudah tersimpan dengan baik dalam
plastik, pols siap disimpan dalam mesin pendingin 4ºC selama 2 hari. Persiapan yang
sama dilakukan untuk penyimpanan selama 4, 6 dan 8 hari.
Suhu Ruang. Bahan tanam yang telah dipersiapkan dengan berbagai macam
potongan disimpan dalam plastik. Plastik-plastik yang telah diisi dengan pols
kemudian diberi lubang-lubang kecil untuk sirkulasi udara. Pada penyimpanan di
suhu ruang dilakukan dengan meletakkan plastik yang berisi bahan tanam tersebut di
lemari simpan yang tertutup dan memperhatikan suhu serta kelembabannya agar
tetap terjaga seperti suhu ruang pada umumnya selama 2 hari. Persiapan yang sama
9 Pengamatan
Sebelum bahan tanam disimpan, terlebih dahulu diamati bobot awal dan
kondisi fisiknya. Kemudian setelah bahan tanam mengalami penyimpanan selama 2,
4, 6, dan 8 hari masing-masing bahan tanam diamati kembali bobot akhir dan kondisi
fisiknya. Pengamatan kondisi fisik setelah penyimpanan meliputi warna, bau, tekstur
(uji kebasahan).
Uji Daya Tumbuh
Untuk mengetahui daya tumbuh dari bahan tanam yang telah mengalami
perlakuan potongan daun, suhu penyimpanan serta lama penyimpanan yang
berbeda-beda perlu dilakukan penanaman terhadap bahan tanam tersebut. Penanaman
dilakukan pada media tanam berupa tanah yang diletakkan pada polybag. Pols yang ditanam untuk uji daya tumbuh ialah seluruh pols yang dipakai dalam penelitian ini
yaitu sebanyak 600 pols. Uji daya tumbuh dilakukan selama 2 minggu. Indikator
daya tumbuh pols yang digunakan ialah tumbuhnya minimal dua helai daun.
Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) berpola faktorial
3 x 4 dengan 5 kali pengulangan dalam bentuk cluster yang tiap clusternya berisi 5 pols dan rancangan ini berlaku untuk dua suhu simpan. Dua faktor yang digunakan
adalah :
Faktor A adalah perbedaan potongan daun yang meliputi 3 taraf, yaitu:
P0 : potongan normal (8 cm)
P1 : potongan setengah dari normal (4 cm)
P2 : potongan habis
Faktor B adalah perbedaan lama penyimpanan yang meliputi 4 taraf, yaitu:
H1 : 2 hari
H2 : 4 hari
H3 : 6 hari
H4 : 8 hari
Model matematik yang digunakan adalah sebagai berikut :
10 Keterangan:
Yijk =Nilai pengamatan pada perlakuan potongan daun ke-i, perlakuan suhu
penyimpanan ke-j dan ulangan ke-k
µ =Nilai rataan umum
αi =Pengaruh perlakuan potongan daun ke-i
βj =Pengaruh perlakuan suhu penyimpanan ke-j
(αβ)ij =Pengaruh interaksi potongan daun ke-i dan suhu penyimpanan ke-j
εijk =Pengaruh galat
Analisis Data
Analisis data dengan 2 metode yaitu metode deskriptif dan sidik ragam
(ANOVA). Apabila berbeda nyata maka akan dilakukan uji Duncan untuk
mengevaluasi perbedaan nilai rataan antar perlakuan dalam faktor, sehingga bisa
ditarik kesimpulan perlakuan mana yang terbaik (Steel dan Torrie, 1995).
Peubah yang Diamati
Kondisi Umum Bahan Tanam Setelah Penyimpanan
Kondisi fisik pols yang diamati antara lain:
Perubahan Warna. Warna dari pols diamati dari sebelum melalui proses
penyimpanan hingga telah melewati proses penyimpanan.
Bau. Aroma atau bau khas dari pols diamati, baik sebelum ataupun sesudah
penyimpanan.
Tekstur (Uji Kebasahan). Uji kebasahan dilakukan untuk mengetahui tekstur
kelembaban dari pols. Uji ini dilihat dari kelembekkan dari pols sebelum dan sesudah
penyimpanan.
Penyusutan Bobot
Bobot pols sebelum dan sesudah penyimpanan diukur untuk membandingkan
dan untuk mengetahui apakah terjadi penyusutan atau penambahan bobot pols.
Awal Pertumbuhan
Awal pertumbuhan diukur setelah penanaman untuk mengetahui seberapa
cepat awal pertumbuhan bahan tanam tersebut setelah mengalami penyimpanan.
Pertumbuhan tanaman diamati selama dua minggu dengan interval pengamatan
11 Daya Tumbuh
Daya tumbuh dari pols yang telah mengalami proses penyimpanan dapat
diamati setelah ditanam selama dua minggu. Indikator daya tumbuh pols tersebut
ialah tumbuhnya daun (minimal 2 helai). Data daya tumbuh juga berbentuk
persentase seperti tingkat kerusakan. Dari data daya tumbuh dapat diperoleh hasil
perlakuan potongan daun, suhu penyimpanan serta lama penyimpanan mana yang
memiliki daya tumbuh yang paling baik.
Tinggi Vertikal
Tinggi vertikal daun diamati setelah pols mengalami pertumbuhan selama
dua minggu. Pengukuran dimulai dari permukaan tanah hingga pucuk daun tertinggi.
Pengukuran ini hanya dilakukan untuk pols yang mengalami pertumbuhan saja.
Pengukuran tinggi vertikal daun dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh
12 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Bahan Tanam Setelah Penyimpanan
Penyimpanan bahan tanam dilakukan pada kondisi suhu yang berbeda dengan
lama simpan yang sama. Kondisi yang pertama ialah suhu ruang yang berkisar antara
23ºC hingga 30ºC. Penyimpanan pada suhu ruang menunjukkan perubahan fisik
bahan tanam yang terlihat nyata di seluruh perlakuan potongan dan lama simpan.
Terjadi perubahan warna, bau, dan tekstur bahan tanam yang sudah tidak lagi sama
dengan kondisi awal. Menurut Justice dan Bass (2002), gejala kemunduran benih
dapat dilihat dari gejala fisiologi dan kimiawi. Perubahan fisiologi gejalanya antara
lain ialah perubahan warna benih, mundurnya pertumbuhan perkecambahan, dan
meningkatnya kecambah abnormal.
Gambar 2. Kondisi Pols (8 cm) setelah Penyimpanan pada Suhu Ruang
Bagian daun bahan tanam terlihat menguning seperti yang terlihat pada
Gambar 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Rohayati (1997) yang melakukan
penyimpanan pada germinator dengan suhu simpan 25,5ºC. Kisaran suhu yang cukup
tinggi inilah yang menyebabkan tingginya penguapan pada bahan tanam. Munculnya
titik-titik air pada permukaan dalam plastik simpan bahan tanam menjadi bukti
adanya aktivitas penguapan. Terjadinya penguapan juga mengakibatkan perubahan
tekstur bagian daun bahan tanam menjadi lembek/basah namun semakin mengering
pada bagian akarnya. Bau yang dihasilkan setelah penyimpanan pun berbeda dengan
kondisi awal sebelum penyimpanan, yaitu menjadi bau hampir busuk. Namun, belum
13 Pada kondisi suhu ruang masih terjadi pertumbuhan, ada beberapa tunas baru tumbuh
tapi tidak dalam kondisi segar.
Gambar 3. Kondisi Pols (8 cm) setelah Penyimpanan pada Suhu Dingin
Kondisi suhu simpan yang kedua ialah suhu dingin dengan kondisi fisik yang
terdapat pada Gambar 3. Refrigerator diatur dengan suhu tetap yaitu 4ºC dari awal
hingga akhir penyimpanan bahan tanam. Perubahan fisik yang terjadi pada seluruh
perlakuan bahan tanam baik potongan maupun lama simpan menunjukkan hasil yang
tidak berbeda jauh dengan kondisi awal sebelum penyimpanan. Warna daun masih
tetap hijau meskipun sudah tak sesegar kondisi awal. Tekstur serta bau bahan tanam
yang telah melewati penyimpanan masih tetap segar seperti kondisi sebelum
penyimpanan. Penyimpanan pols pada suhu dingin mengakibatkan terjadinya dorman
pada bahan tanam yang disimpan sehingga tidak terdapat pertumbuhan. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Harjadi (1989) bahwa salah satu faktor pembatas
pertumbuhan adalah suhu.
Penyusutan Bobot
Terjadinya penyusutan bobot bahan tanam merupakan salah satu akibat dari
proses penyimpanan. Bahan tanam mengalami proses penguapan ketika disimpan
sehingga terjadi penyusutan bobot, baik pada suhu ruang ataupun suhu dingin. Selain
akibat penguapan, penyusutan bobot terjadi karena berkurangnya cadangan nutrien
pada bahan tanam untuk mempertahankan hidup selama proses penyimpanan.
Hasil penyusutan bobot bahan tanam yang telah disimpan pada suhu ruang
14 perlakuan potongan, lama simpan serta interaksi antara kedua faktor tersebut
memiliki pengaruh nyata (P<0,05) terhadap penyusutan bobot bahan tanam.
Perlakuan dengan penyusutan bobot paling kecil ialah P1H1 (potongan setengah dari
normal 4 cm dengan lama simpan 2 hari).
Tabel 2. Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan pada Suhu Ruang (g)
Potongan
P2 0,44±0,09ab 0,37±0,10ab 0,98±0,16de 0,81±0,28cd 0,65±0,29
Rataan 0,40±0,11 0,55±0,03 0,92±0,16 1,17±0,23
Keterangan: P0=8 cm, P1=4 cm, P2=0 cm; H1=2 hari, H2=4 hari, H3=6 hari, H4=8 hari. Superskrip berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan hasil nyata (P<0,05).
Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan potongan dan lama simpan
pada suhu dingin memiliki pengaruh nyata (P<0,05) sedangkan interaksi antara
kedua faktor tersebut tidak nyata (P>0,05). Dari segi faktor potongan yang memiliki
angka penyusutan terkecil ialah potongan setengah dari normal (4 cm) sedangkan
faktor lama simpan yang terkecil penyusutannya ialah 2 hari. Semakin lama
disimpan maka penyusutan bobot akibat menurunnya kadar air benih karena
tingginya laju respirasi yang diduga diikuti oleh adanya penguapan tinggi dari dalam
bahan tanam (Samjaya et al., 2010).
Tabel 3. Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan pada Suhu Dingin (g)
Potongan
15 Penyusutan bobot yang terjadi pada penyimpanan suhu ruang cenderung lebih
tinggi dibandingkan pada penyimpanan suhu dingin. Hal tersebut sejalan dengan
Sulaiman et al. (2010), penurunan kadar air benih dengan tingginya suhu diduga adanya peningkatan penguapan dari benih selama penyimpanan. Data perbandingan
penyusutan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.
Gambar 4. Persentase Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang
Gambar 5. Persentase Penyusutan Bobot Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin
Awal Tumbuh
Gambar 6 memperlihatkan rataan awal pertumbuhan setelah tanam pada
seluruh perlakuan baik perlakuan potongan maupun lama simpan yang telah
mengalami penyimpanan pada suhu ruang. Awal pertumbuhan yang paling cepat
16 terjadi setelah ditanam selama 2 hari. Semakin menurunnya laju awal pertumbuhan
disebabkan karena telah terjadi perombakan cadangan makanann dalam bahan tanam
selama penyimpanan, sehingga pols kehilangan daya tumbuh (Maemunah dan
Adelina, 2009).
Meskipun awal pertumbuhan bahan tanam ini tergolong cepat, akan tetapi
hasil akhir dari penanaman menunjukkan banyak terjadi kelayuan. Hal ini mungkin
berkaitan dengan perlunya perlakuan khusus sebelum penanaman. Salah satu contoh
perlakuan khusus ini ialah dengan pemberian zat penumbuh pada bahan tanam yang
sudah melalui penyimpanan untuk merangsang pertumbuhannya.
Gambar 6. Rataan Awal Pertumbuhan setelah Tanam (Suhu Ruang)
Gambar 7 menggambarkan rataan awal pertumbuhan setelah tanam pada
bahan tanam yang disimpan dalam suhu dingin. Awal tumbuh terjadi paling cepat
ialah setelah 2 hari tanam namun hal ini hanya terjadi pada satu perlakuan saja yaitu
perlakuan P0H1 (potongan normal 8 cm dengan lama simpan 2 hari). Hal ini
mungkin terjadi karena cadangan nutrien yang cenderung masih banyak tersisa dan
waktu dorman dari bahan tanam juga tidaklah lama.
Lamanya awal pertumbuhan yang terjadi merupakan akibat dari adanya
penyimpanan pada suhu dingin yang menyebabkan terjadinya dormansi pada bahan
tanam tersebut. Justice dan Bass (2002) menyatakan bahwa penyimpanan benih pada
suhu di sekitar titik beku dapat memperpanjang dormansi benih menjadi lebih lama.
Pertumbuhan daun pada pols yang telah mengalami penyimpanan pada suhu dingin
17 menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan pols yang
disimpan pada suhu ruang dan hampir tidak ditemui adanya kelayuan.
Gambar 7. Rataan Awal Pertumbuhan setelah Tanam (Suhu Dingin)
Daya Tumbuh
Tujuan utama penyimpanan benih ialah untuk mempertahankan daya tumbuh
atau viabilitas benih dalam periode simpan yang sepanjang mungkin (Sutopo, 2002).
Penyimpanan cenderung akan mengurangi daya tumbuh dari bahan tanam tersebut.
Hal ini terbukti dari hasil yang terdapat dalam Tabel 4 dan Tabel 5 menunjukkan
bahwa penyimpanan baik dalam suhu ruang ataupun suhu dingin akan tetap
mengurangi daya tumbuh.
Tabel 4. Daya Tumbuh Pols setelah Mengalami Penyimpanan pada Suhu Ruang (%)
Potongan
(cm)
Lama Simpan (hari) Rataan
H1 H2 H3 H4
P0 0,92±0,11e 0,36±0,22c 0,60±0,24d 0,04±0,09ab 0,48±0,37
P1 0,92±0,11e 0,28±0,23bc 0,00±0,00a 0,08±0,18ab 0,32±0,42
P2 0,88±0,27e 0,16±0,26abc 0,04±0,09ab 0,04±0,09ab 0,28±0,40
Rataan 0,91±11 0,27±0,15 0,21±0,09 0,05±0,06
Keterangan: P0=8 cm, P1=4 cm, P2=0 cm; H1=2 hari, H2=4 hari, H3=6 hari, H4=8 hari. Superskrip berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan hasil nyata (P<0,05).
Tabel 4 menggambarkan hasil bahwa perlakuan potongan, lama simpan serta
interaksi antara keduanya memiliki pengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tumbuh
18 dengan lama simpan 2 hari), P1H1 (potongan setengah dari normal 4 cm dengan
lama simpan 2 hari), dan P2H1 (potongan habis hanya akar dengan lama simpan 2
hari) menjadi perlakuan terbaik dengan angka daya tumbuh tertinggi. Menurut
Maemunah dan Adelina (2009), semakin lama benih disimpan menyebabkan vigor
bibit juga semakin menurun.
Tabel 5. Daya Tumbuh Pols setelah Mengalami Penyimpanan pada Suhu Dingin (%)
Potongan
Keterangan: P0=8 cm, P1=4 cm, P2=0 cm; H1=2 hari, H2=4 hari, H3=6 hari, H4=8 hari. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil nyata (P<0,05).
Tabel 5 memperlihatkan bahwa lama simpan berpengaruh nyata (P<0,05)
terhadap daya tumbuh pols setelah disimpan dalam suhu dingin. Untuk perlakuan
potongan dan interaksi tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Penyimpanan selama 2
hari menghasilkan daya tumbuh yang tertinggi. Faktor tunggal periode simpan
berpengaruh sangat nyata terhadap viabilitas potensial benih dengan tolok ukur daya
berkecambah (Rahayu dan Widajati, 2007).
Dapat disimpulkan bahwa baik suhu ruang ataupun suhu dingin, semakin
lama disimpan maka daya tumbuh bahan tanam semakin rendah. Hal ini sejalan
dengan penelitian Rohayati (1997) yang menyatakan bahwa penyimpanan 2 hari
tidak menimbulkan kerusakan berarti sehingga daya tumbuhnya masih tinggi.
Tinggi Vertikal
Bertambahnya tinggi vertikal tanaman menunjukkan adanya pertumbuhan
sel. Tinggi vertikal menjadi salah satu peubah yang dapat terlihat dengan jelas
terhadap peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman yang mendapat pengaruh dari
lingkungan sekitarnya (Kurniasari, 2007). Baik pols yang disimpan pada suhu ruang
ataupun suhu dingin diperoleh hasil yang serupa pada tinggi vertikalnya. Tabel 6
19 ruang. Hasil uji ragam menyatakan bahwa perlakuan potongan, lama simpan serta
interaksi antara keduanya memiliki pengaruh nyata (P<0,05) terhadap tinggi vertikal
tanaman. Perlakuan dengan tinggi vertikal paling baik terjadi pada P0H1 (potongan
normal 8 cm dengan lama simpan 2 hari) dan P1H1 (potongan setengah dari normal
4 cm dengan lama simpan 2 hari).
Tabel 6. Tinggi Vertikal Pols yang Telah Disimpan pada Suhu Ruang (cm)
Potongan
Rataan 19,48±2,86 4,92±2,73 3,83±1,43 0,43±0,54
Keterangan: P0=8cm, P1=4cm, P2=0cm; H1=2hari, H2=4hari, H3=6hari, H4=8hari. Superskrip berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan hasil nyata (P<0,05).
Data pada Tabel 7 juga memperlihatkan hasil yang serupa bahwa perlakuan
potongan, lama simpan, serta interaksi antara keduanya memiliki pengaruh nyata
(P<0,05) terhadap tinggi vertikal tanaman. Hasil terbaik didapatkan ketika
memadukan perlakuan potongan normal (8cm) dengan penyimpanan selama 2 hari
(P0H1).
Tabel 7. Tinggi Vertikal Pols yang Telah Disimpan pada Suhu Dingin (cm)
Potongan
(cm)
Lama Simpan (hari) Rataan
H1 H2 H3 H4
P0 30,92±5,58d 11,47±6,18b 19,75±5,68c 7,10±8,84ab 17,31±10,48
P1 18,23±2,03c 10,12±4,55ab 10,62±6,60ab 4,37±4,25ab 10,83±5,69
P2 7,04±1,88ab 3,77±3,48a 4,75±2,80ab 4,20±1,53a 4,94±1,46
Rataan 18,73±2,13 8,45±2,84 11,70±4,40 5,22±4,41
Keterangan: P0=8cm, P1=4cm, P2=0cm; H1=2hari, H2=4hari, H3=6hari, H4=8hari. Superskrip berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan hasil nyata (P<0,05).
Terdapat perbedaan hasil tinggi vertikal pada suhu ruang dan suhu dingin
yaitu tinggi vertikal pada penyimpanan suhu dingin menghasilkan tinggi vertikal
20 disebabkan karena cadangan nutrien pada bahan tanam yang disimpan dalam suhu
dingin masih tersisa cukup banyak dibandingkan bahan tanam yang disimpan dalam
suhu ruang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasibuan (2011) yang
menyatakan bahwa semakin singkat waktu penyimpanan serta semakin panjang
21 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Perbedaan panjang daun dan lama simpan mempengaruhi kondisi daya
simpan serta daya tumbuh pols Setaria. Suhu simpan yang terbaik untuk menjaga
kondisi daya simpan dan daya tumbuh pols rumput Setaria terjadi pada suhu rendah
(4ºC).
Saran
Perlu dilakukan penelitian lain mengenai metode dan teknologi penyimpanan
bahan tanam berupa pols untuk menghasilkan daya simpan dan daya tumbuh
22 UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas segala nikmat
dan ridho-Nya penelitian dan karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Terima kasih
penulis sampaikan kepada Ir. M. Agus Setiana, M.S selaku pembimbing utama dan
Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr selaku pembimbing anggota dan pembimbing akademik
atas bimbingan, saran, dan arahan. Terima kasih kepada Iwan Prihantoro, S. Pt
selaku dosen pembahas seminar, Dr. Ir. Didid Diapari, M.Si dan Tuti Suryati, S. Pt,
M. Si selaku penguji sidang, dan Ir. Widya Hermana, M. Si selaku panitia sidang atas
masukan dan saran yang diberikan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Adi, Daniel, dan Kiki sebagai
sahabat yang selalu menghibur; untuk Dicky Widijayanto terima kasih atas semangat
dan motivasinya; untuk teman-teman tim penelitian yaitu Emi Laesi Saputri dan
Verawati Ambarita atas kerja sama selama melakukan penelitian; kepada Tsani,
Nurmala, Rindy, Nur, Wahyu, Dendy, Dafi, Dzi, Dedy, Ade, Akhir as Komti
INTP44 dan seluruh teman-teman INTP angkatan 44 sebagai sahabat-sahabat
terbaik. Terima kasih pula untuk sahabat PATRA ATLAS Semarang khususnya Fela,
Gunar, Asa, dan Hanif (kisah kita tanpa akhir). Tak lupa terima kasih untuk
teman-teman penghuni “PONDOK ISWARA 2” yang telah memberi keceriaan selama tinggal bersama.
Penulis menghaturkan terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua
tersayang Djoko Maryanto dan Tri Puji Utami, A.Md yang telah memberikan doa,
pengorbanan dan kasih sayangnya, kakak Ryandra Sutriantoro dan adik Tertia Puji
Handayani atas dukungan dan keceriaan yang diberikan.
Bogor, April 2012
23 DAFTAR PUSTAKA
Bogdan, A. V. 1977. Tropical Pasture and Fodder Plants (Grasses and Legumes). First Published. Longman Inc., New York.
Darmawan J. & J. Baharsjah. 1983. Dasar-Dasar Fisiologi Tanaman. PT. Suryandaru Utama, Semarang.
Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan. Terjemahan: Soediarto. A, RM. Trenggono. K, M. Natasaputra, H. Akmal. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Forages Factsheet. 2009. Setaria splendida.
http://indonesia.tropicalforages.info/key/Forages/Media/Html. [16 April 2012]
Gohl., B. O. 1975. Tropical Feeds. Feeds Information, Summarries, and Nutritive Value. Food and Agriculture Organization of The Unite States, Rome.
Harjadi, S. S. 1989. Dasar Hortikultura. Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hartmann H.T. & D.E. Kester. 1983. Plant Propagation Principle and Practice. Second Edition. Prentice Hall, Inc. Englewood. New Jersey.
Hasibuan, F. N. 2011. Waktu penyimpanan dan panjang rhizome rumput bahia (Paspalum notatum Fluegge) sebagai bahan tanam vegetatif dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan awal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Jayadi, S. 1991. Tanaman Makanan Ternak Tropika. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Justice, O.L. & Bass L.N. 2002. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Terjemahan: Rennie Roesli. Rajawali Press, Jakarta.
Kurniasari, F. D. 2007. Pengaruh dosis dan frekuensi penyiraman garam terhadap produktivitas Chloris gayana Kunth dan Setaria splendida Stapf dengan media tanam tanah tambak dari marunda. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Maemunah & E. Adelina. 2009. Lama penyimpanan dan invigorasi terhadap vigor bibit kakao (Theobroma cacao L.). Med. Litbang. Sulteng 2. 1: 56-61.
McIlroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Terjemahan: S. Susetyo, Pradnya Paramita, Jakarta.
24 Rochiman K. & S.S. Harjadi. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen Agronomi
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rohayati. 1997. Pengaruh penyimpanan terhadap viabilitas dan vigoritas bahan tanam rumput setaria (Setaria splendid Stapf). Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sadjad, S. 1980. Panduan Pembinaan Mutu Benih Tanaman Kehutanan di Indonesia. IPB Press, Bogor.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Salisbury, F.B & C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid dua. Terjemahan: Diah, R. Lukman dan Surargono. Penerbit ITB, Bandung.
Samjaya, Z.R., Z.R. Djafar, Z.P. Negara, M. Hasmeda & H. Suryaningtiyas. 2010. Respirasi dan penurunan mutu benih karet selama penyimpanan. Prosiding: Seminar Nasional Hasil Penelitian Bidang Pertanian “Pertanian Terintegrasi
untuk Mencapai Millenium Development Goals (MDGs)”. Bidang
Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Sriwiaya, Palembang.
Schmidt, L. 2002. Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Departemen Kehutanan, Jakarta.
Soerianegara I. & E. Djamhuri. 1979. Pemuliaan Pohon Hutan. Departemen Manajemen Kehutanan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Steel, R. G. D. & Torrie, J. A. 1995. Principles and Procedures of Statistics. McGraw Hill, New York.
Sulaiman, F., M. U. Harun & A. Kurniawan. 2010. Perkecambahan benih tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) yang disimpan pada suhu dan periode berbeda. Prosiding: Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian dan Pengkajian. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Palembang.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
26 Lampiran 1. Potongan Daun Rumput Setaria (8 cm, 4 cm,dan hanya akar)
Lampiran 2. Kondisi Pols selama Penanaman (Penyimpanan Suhu Ruang)
27 Lampiran 3. Kondisi Pols selama Penanaman (Penyimpanan Suhu Dingin)
Lampiran 4. Anova Penyusutan Bobot Pols pada Penyimpanan Suhu Dingin
SK JK db KT Fhit F0,05
Perlakuan 2.036 11 0.185 5.348 1.995*
Potongan 0.250 2 0.125 3.606 3.191*
Lama Simpan 1.349 3 0.450 12.988 2.798*
Potongan*Lama Simpan 0.438 6 0.073 2.109 2.295
Galat 1.661 48 0.035
Total 3.698 59 0.063
Keterangan : * = berbeda nyata (P<0,05)
Uji Lanjut Duncan Penyusutan Bobot Pols pada Penyimpanan Suhu Dingin
Potongan N Subset, alfa = 0,05
1 2
P 1 20 0.3780
P 0 20 0.4980
P 2 20 0.5270
Sig. 1.000 0.624
Lama Simpan N Subset, alfa = 0,05
1 2 3
H 1 15 0.2520
H 4 15 0.4560
H 3 15 0.4880
H 2 15 0.6747
28 Lampiran 5. Anova Penyusutan Bobot Pols pada Penyimpanan Suhu Ruang
SK JK db KT Fhit F0,05
Perlakuan 9.050 11 0.823 14.552 1.995*
Potongan 0.480 2 0.240 4.245 3.191*
Lama Simpan 5.510 3 1.837 32.487 2.798*
Potongan*Lama Simpan 3.060 6 0.510 9.020 2.295*
Galat 2.714 48 0.057
Total 11.764 59
Keterangan : * = berbeda nyata (P<0,05)
Uji Lanjut Duncan Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang
Ulangan N Subset, alpha = 0.05
1 2 3 4 5 6
2 5 0.260
6 5 0.372 0.372
3 5 0.436 0.436
1 5 0.540 0.540 0.540
8 5 0.564 0.564 0.564
5 5 0.568 0.568 0.568
4 5 0.708 0.708 0.708
12 5 0.808 0.808
9 5 0.980 0.980
10 5 1.032 1.032
7 5 1.228
11 5 1.664
29 Lampiran 6. Anova Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin
SK JK db KT Fhit F0,05
Uji Lanjut Duncan Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin
Potongan N Subset, alfa = 0,05
Lampiran 7. Anova Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang
30 Uji Lanjut Duncan Daya Tumbuh Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang
Ulangan N Subset, alpha = 0.05
1 2 3 4 5
8 5 0.000
9 5 0.400 0.400
10 5 0.400 0.400
12 5 0.400 0.400
11 5 0.800 0.800
6 5 0.160 0.160 0.160
5 5 0.280 0.280
4 5 0.360
7 5 0.600
3 5 0.880
1 5 0.920
2 5 0.920
Sig. 0.221 0.066 0.099 1.000 0.741
Lampiran 8. Anova Tinggi Vertikal Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin
SK JK db KT Fhit F0,05
Model Terkoreksi 3695.814 11 335.983 13.806 1.995*
Potongan 1531.549 2 765.775 31.467 3.191*
Lama Simpan 1501.859 3 500.620 20.571 2.798*
Potongan*Lama Simpan 662.406 6 110.401 4.537 2.295*
Galat 1168.117 48 4.537
Total 4863.931 59
31 Uji Duncan Tinggi Vertikal Pols setelah Penyimpanan Suhu Dingin
Ulangan N Subset, alpha = 0.05
1 2 3 4
6 5 3.772
12 5 4.196
11 5 4.372 4.372
9 5 4.748 4.748
3 5 7.044 7.044
10 5 7.104 7.104
5 5 10.116 10.116
8 5 10.616 10.616
4 5 11.472
2 5 18.232
7 5 19.748
1 5 30.920
Sig. 0.065 0.053 0.629 1.000
Lampiran 9. Anova Tinggi Vertikal Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang
SK JK db KT Fhit F0,05
Model Terkoreksi 4206.555 11 382.414 29.807 1.995*
Potongan 538.932 2 269.466 21.004 3.191*
Lama Simpan 3195.780 3 1065.260 83.032 2.798*
Potongan*Lama Simpan 471.843 6 78.641 6.130 2.295*
Galat 615.817 48 12.830
Total 4822.372 59
32 Uji Duncan Tinggi Vertikal Pols setelah Penyimpanan Suhu Ruang
Ulangan N Subset, alpha = 0.05
1 2 3 4
8 5 0.000
10 5 0.240
12 5 0.380
11 5 0.680
9 5 0.692
6 5 2.732 2.732
5 5 5.008 5.008
4 5 7.012 7.012
7 5 10.812
3 5 10.896
2 5 21.628
1 5 25.908
i RINGKASAN
JULIA SARASWATI DEWI. D24070184. 2012. Perbandingan Daya Simpan dan Daya Tumbuh Pols Rumput Setaria (Setaria splendida Stapf) pada Panjang Daun dan Suhu Simpan Berbeda. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. M. Agus Setiana, M.S. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Rita Mutia, M. Agr.
Meningkatnya jumlah ternak ruminansia mengakibatkan tingginya kebutuhan akan hijauan pakan tiap tahunnya. Budidaya hijauan pakan berkualitas masih terhambat oleh minimnya produksi dan penyediaan benih serta terkendala pada proses distribusi benih hijauan pakan menuju daerah-daerah di seluruh Indonesia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisa pengaruh panjang daun serta suhu simpan yang berbeda terhadap daya simpan dan daya tumbuh pols rumput Setaria. Rancangan penelitian yang dipakai ialah rancangan acak lengkap (RAL) berpola faktorial 3x4 dengan 5 ulangan. Faktor A ialah perbedaan potongan daun yaitu potongan normal (8 cm), potongan setengah normal (4 cm), dan potongan habis (hanya akar). Faktor B adalah perbedaan lama simpan yang terdiri atas 2, 4, 6, dan 8 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif pada peubah kondisi umum pols setelah penyimpanan serta awal tumbuh dan sidik ragam (ANOVA) pada peubah penyusutan bobot, daya tumbuh serta tinggi vertikal. Uji Duncan akan dilakukan apabila pada data terdapat perbedaan yang nyata.
ii Perlakuan penyimpanan suhu dingin (4ºC) berpengaruh yang tidak terlalu buruk terhadap kondisi umum bahan tanam setelah penyimpanan. Penampakan fisik bahan tanam tidak jauh beda dengan kondisi awal sebelum disimpan yakni warna tetap hijau, bau tetap segar, dan tekstur tidak basah. Bahan tanam mengalami proses dorman (pingsan sementara) karena suhu yang rendah. Hasil sidik ragam pada penyusutan bobot pols menunjukkan bahwa perlakuan potongan dan lama simpan pada suhu dingin memiliki pengaruh nyata (P<0,05) sedangkan interaksi antara kedua faktor tersebut tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan faktor potongan yang memiliki angka penyusutan terkecil ialah potongan normal (8 cm) sedangkan faktor lama simpan yang terkecil penyusutannya ialah 2 hari. Awal pertumbuhan bahan tanam yang telah mengalami penyimpanan pada suhu dingin terhitung lambat karena bahan tanam mengalami dorman dengan tingkat kelayuan yang terjadi tidak terlalu tinggi. Hasil sidik ragam terhadap daya tumbuh menunjukkan bahwa lama simpan berpengaruh nyata (P<0,05) setelah disimpan dalam suhu dingin dengan lama simpan terbaik selama 2 hari. Untuk perlakuan potongan dan interaksi tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Pada sidik ragam terhadap tinggi vertikal diperoleh bahwa perlakuan potongan, lama simpan, serta interaksi antara keduanya memiliki pengaruh nyata (P<0,05). Hasil terbaik didapatkan ketika memadukan perlakuan potongan normal (8 cm) dengan penyimpanan selama 2 hari (P0H1).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan panjang daun dan lama simpan mempengaruhi kondisi daya simpan serta daya tumbuh pols Setaria. Suhu simpan yang terbaik untuk menjaga kondisi daya simpan dan daya tumbuh pols rumput Setaria terjadi pada suhu rendah (4ºC).
iii ABSTRACT
Comparison of Viability and Vigority Setaria Grass Pols (Setaria splendida
Stapf) on The Differences of Leaf Length and Storage Temperature
J. S. Dewi, M. A. Setiana, R. Mutia
Increasing the ruminants population lead to increase demand of forage each year. Cultivation of forage quality is still hampered by the lack of production and supply of the seeds that hampered by process of forage seed distribution to areas throughout Indonesia. The aims of this study is to determine the effect of the length of the leaves and storage temperatures on viability and vigority Setaria grass pols. The study design was used Completely Randomized Design (CRD) patterned 3x4 factorial with 5 replicates. A factor is the difference in leaf pieces of normal pieces (8cm), pieces of half-normal (4cm), and cut out (root only). B Factor is the difference in the old store which consists of 2 days, 4 days, 6 days, and 8 days. The data obtained were analyzed with descriptive analysis and analysis of variance (ANOVA) and if there is a significantly different data then conducted futher test of Duncan. The results from this research can be concluded that differences in leaf length and storage period affect the viability and vigority of pols Setaria. The best storage temperature to keep the viability and vigority of pols Setaria grass is low temperature (4ºC).
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Program Swasembada Daging menjadi salah satu program unggulan
Pemerintah Indonesia yang sedang gencar diupayakan untuk mencapai Ketahanan
Pangan Nasional. Pengadaan pakan ternak ruminansia merupakan aspek pendukung
program tersebut yang perlu dikembangkan secara bertahap. Sumber pakan
ruminansia di Indonesia sangat beragam, diantaranya ialah limbah pertanian, limbah
industri pertanian, budidaya hijauan pakan, dan padang penggembalaan. Rumput
masih menjadi primadona dalam ransum ruminansia karena selain harga yang murah,
mudah diperoleh, produksi yang tinggi serta tahan terhadap tekanan defoliasi
(pemotongan dan renggutan).
Meningkatnya jumlah ternak ruminansia mengakibatkan tingginya kebutuhan
akan hijauan pakan tiap tahunnya. Pemenuhan kebutuhan hijauan pakan masih
terhambat oleh beberapa faktor, antara lain ialah berkurangnya ketersediaan lahan
subur seiring meningkatnya pertambahan penduduk dan penyebaran jenis hijauan
pakan berkualitas masih kurang merata. Budidaya hijauan pakan berkualitas masih
terhambat oleh minimnya produksi dan penyediaan benih serta terkendala pada
proses distribusi benih hijauan pakan menuju daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Salah satu contoh hijauan pakan yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan
para peternak ialah rumput Setaria (Setaria splendida Stapf) yang banyak dibudidayakan di wilayah padat ternak dan padat penduduk seperti di Pulau Jawa,
Lampung dan Bali. Setaria splendida Stapf merupakan tanaman tahunan yang berumpun dengan tinggi mencapai 150 cm, produktif dan tahan kering, dengan siklus
vegetatifnya panjang (McIlroy, 1976). Perbanyakan secara vegetatif banyak
digunakan dalam pertumbuhannya atau sering disebut dengan sobekan rumpun/pols.
Permasalahan dalam perbanyakan vegetatif menggunakan pols ialah bahan tanam
mudah mengalami kerusakan serta daya simpan yang terbatas untuk distribusi.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai jenis penanganan serta
teknologi penyimpanan yang tepat terhadap bahan tanam rumput Setaria yang tahan
terhadap kekeringan sehingga memiliki potensi besar untuk pemenuhan kebutuhan
hijauan pakan di musim kemarau. Informasi mengenai daya simpan dan daya tumbuh
2 teknologi serta penanganan yang tepat untuk sistem distribusi. Selain itu,
pengetahuan tersebut juga dapat dijadikan sebagai peluang bisnis penyediaan benih
hijauan pakan untuk didistribusikan ke wilayah tertentu dalam jangka waktu
semaksimal mungkin dengan kondisi benih yang masih baik.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh panjang daun, lama
simpan, dan suhu simpan yang berbeda terhadap daya simpan dan daya tumbuh pols
3 TINJAUAN PUSTAKA
Pembiakan Vegetatif
Secara umum, pembiakan tanaman terbagi menjadi dua cara yaitu pembiakan
generatif dan pembiakan vegetatif. Pembiakan vegetatif merupakan perbanyakan
tanaman tanpa melibatkan proses kawin dan dengan cara ini sifat-sifat tanaman dapat
dipertahankan (Darmawan dan Baharsjah, 1983). Menurut Hartmann dan Kester
(1983), menyatakan bahwa pembiakan vegetatif atau asexual propagation adalah perbanyakan dari bagian-bagian vegetatif tanaman, dimungkinkan terjadinya setiap
sel tanaman mempunyai informasi genetik yang diperlukan untuk membentuk
individu tanaman yang lengkap. Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara
stek (cutting), cangkok (layering), tempelan (budding), dan sambungan (grafting)
(Soerianegara dan Djamhuri, 1979).
Penyebab utama dilakukannya pembiakan vegetatif ialah banyak tanaman
yang tidak menyerupai induknya bila dibiakkan dengan biji (Rochiman dan Harjadi,
1973). Penyebab lainya ialah:
a. Tanaman tidak atau sedikit menghasilkan biji.
b. Tanaman menghasilkan biji namun sukar berkecambah.
c. Beberapa tanaman lebih resisten terhadap hama dan penyakit bila mereka
timbul pada akar-akar yang berhubungan dengan tanaman tersebut.
d. Beberapa tanaman lebih tahan terhadap suhu dingin (hard) bila disambungkan
pada batang jenis lain.
e. Tanaman akan lebih kuat bila disambungkan.
f. Tanaman akan lebih ekonomis bila dibiakkan secara vegetatif.
Viabilitas dan Vigoritas
Pada umumnya viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk
tumbuh menjadi kecambah. Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat
ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu
daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih
(Sadjad, 1993). Pengujian benih, khususnya fisiologis benih dapat diukur melalui uji
viabilitas (Schmidt, 2002). Umumnya parameter untuk viabilitas benih yang
4 perkecambahan kuat dalam hal ini mencerminkan kekuatan tumbuh yang dinyatakan
sebagai laju perkecambahan. Penilaian dilakukan dengan membandingkan kecambah
satu dengan kecambah lainnya sesuai kriteria kecambah normal, abnormal dan mati
(Sutopo, 2002).
Secara umum pengujian benih mencakup pengujian daya tumbuh dan
pengujian vigor (Sadjad, 1980). Pengujian vigor meliputi dua hal yaitu uji kekuatan
tumbuh dan uji daya simpan. Vigor ialah sejumlah sifat-sifat benih yang menandakan
pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang cepat dan seragam.
Gambar 1. Rumput Setaria splendida Stapf Sumber : Forages fact sheet, 2009
Rumput Setaria splendida Stapf
Setaria splendida memiliki nama lain yaitu Giant Setaria atau Setaria Gajah.
Setaria splendida Stapf berasal dari Afrika Tropika dan merupakan tanaman tahunan, tumbuh tegak berumpun (Whyte et al., 1959). Setaria splendida Stapf merupakan tanaman tahunan yang berumpun dengan tinggi mencapai 150 cm, produktif dan
tahan kering, dengan siklus vegetatifnya panjang (McIlroy, 1976). Daun-daunnya
panjang sampai 70 cm dan lebar 12-20 mm (Bogdan, 1977). Setaria splendida Stapf adalah hijauan makanan ternak yang produktif dan mudah cara penanamannya. Pada
bagian pelepah daunnya berwarna ungu kemerahan karena adanya pigmen
anthosianin. Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji dan secara vegetatif
5 Kandungan asam oksalat yang tinggi (5-7%) pada Setaria membatasi
penggunaannya sebagai hijauan makanan ternak. Hal ini akan mengakibatkan
hipokalsemia pada ternak apabila diberikan dalam jumlah yang besar (Jayadi, 1991).
Tabel 1. Analisa Bahan Kering dan Kecernaan Setaria splendida Stapf Bahan kering (%)
Keterangan: PK= Protein Kasar, SK= Serat Kasar, EE= Ether Extract, NFE= Nitrogen Free Extract, ME= Metabolisme Energi.
Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan untuk mencegah kerusakan bahan tanam.
Penyimpanan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, sehingga bahan tanam
masih terjaga kesegarannya. Menurut Sutopo (2002), penyimpanan benih adalah
untuk mempertahankan viabilitas yang maksimum selama mungkin, sehingga
simpanan energi yang dimiliki oleh benih tidak bocor dan benih mempunyai cukup
energi untuk tumbuh saat ditanam. Maksud dari penyimpanan benih ini adalah agar
benih dapat ditanam setelah melalui proses distribusi yang cukup panjang.
Umur simpan benih dipengaruhi oleh sifat benih, kondisi lingkungan, dan
perlakuan manusia. Daya simpan individu benih dipengaruhi oleh faktor sifat dan
kondisi seperti: pengaruh genetik, pengaruh kondisi sebelum panen, pengaruh
struktur dan komponen benih, kulit benih, tingkat kemasakan, ukuran, dormansi,
kadar air benih, kerusakan mekanik, dan vigor. Sedangkan pengaruh lingkungan
diantaranya : suhu, kelembaban, dan cahaya (Justice dan Bass, 2002).
Bahan tanam baik benih ataupun bibit, akan mengalami kemunduran setelah
mengalami penyimpanan. Menurut Justice dan Bass (2002), gejala kemunduran
6 antara lain ialah perubahan warna benih, mundurnya pertumbuhan perkecambahan,
dan meningkatnya kecambah abnormal. Gejala perubahan kimiawi ialah terjadinya
perubahan dalam aktivitas enzim, respirasi, laju sintesa, perubahan membran,
perubahan persediaan makanan, dan perubahan kromosom.
Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila benih itu sebenarnya hidup (viable) tetapi
tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi
syarat bagi perkecambahan dan periode dormansi ini dapat berlangsung semusim
atau tahunan tergantung pada tipe dormansinya (Sutopo, 2002). Dormansi dapat
memberikan dampak negatif maupun positif terhadap benih. Keuntungan benih yang
dorman adalah dapat mencegah agar tidak berkecambah selama penyimpanan.
Umumnya hampir semua kelompok tanaman termasuk keluarga rerumputan akan
mengalami dormansi ketika baru dipanen (Justice dan Bass, 2002).
Respirasi
Respirasi merupakan proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan
energi. Respirasi dilakukan baik siang maupun malam. Seluruh bagian tumbuhan
tersusun atas jaringan dan jaringan tersusun atas sel oleh karena itu, respirasi terjadi
pada sel. Reaksi kimia dari proses respirasi ialah C6H12O6 + O2→ 6CO2 + H2O +
energi. Menurut Salisbury dan Ross (1995), kandungan air yang tinggi akan
meningkatkan kegiatan enzim-enzim yang akan mempercepat terjadinya proses respirasi
sehingga perombakan cadangan makanan menjadi semakin besar. Akhirnya benih akan
kehabisan bahan bakar pada jaringan-jaringan yang penting (meristem). Energi yang
terhambur dalam bentuk panas ditambah keadaan yang lembab merangsang
perkembangan organisme yang dapat merusak benih. Salisbury dan Ross (1995)
menyatakan bahwa faktor-faktor dari luar yang memiliki pengaruh terhadap respirasi
ialah temperatur, konsentrasi O2, perlukaan dan infeksi, cahaya, keadaaan
protoplasma dan hidrasi jaringan.
Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga,
dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan
7 Proses secara ringkas ialah berlangsungnya oksidasi air dan reduksi CO2 untuk
membentuk karbohidrat (Salisbury dan Ross, 1995). Reaksi kimia dari proses
fotosintesis ialah 12H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O.
Daun merupakan organ tumbuhan tingkat tinggi yang berperan sebagai organ utama
fotosintesis. Daun adalah organ tumbuhan yang paling bervariasi, baik secara
morfologi ataupun anatomi (Fahn, 1991). Ketersediaan enzim fotosintesis, khususnya
ribulosa bisfosfat karboksilase (rubisco) merupakan penentu utama dari kapasitas