MODEL SPASIAL HABITAT PREFERENSIAL TARSIUS
BELITUNG (
Cephalopachus bancanus saltator
Elliot, 1910)
DI PULAU BELITUNG
FIFIN FITRIANA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Model Spasial Habitat Preferensial Tarsius Belitung (Cephalopachus bancanus saltator Elliot,1910) Di Pulau Belitung adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2017
Fifin Fitriana
RINGKASAN
FIFIN FITRIANA. Model Spasial Habitat Tarsius Belitung (Cephalopachus bancanus saltator Elliot,1910) di Pulau Belitung. Dibimbing oleh LILIK BUDI PRASETYO dan AGUS PRIYONO KARTONO.
Tarsius belitung (Cephalopachus bancanus saltator) merupakan salah satu jenis tarsius yang endemik di Pulau Belitung dan menjadi satwa identitas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mengkategorikan tarsius belitung sebagai satwa yang terancam punah karena tingginya fragmentasi habitat akibat deforestasi. Upaya konservasi tarsius belitung masih sangat terbatas mengingat kajian ekologi jenis ini belum banyak dilakukan. Salah satu aspek kajian yang penting diketahui adalah terkait model spasial habitat preferensial. Model spasial habitat preferensial tarsius belitung diharapkan dapat digunakan sebagai dasar upaya konservasi yakni dalam manajemen populasi dan habitat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik komponen habitat preferensial bagi tarsius belitung, (2) menyusun model spasial habitat preferensial tarsius belitung berdasarkan komponen habitat tersebut.
Identifikasi keberadaan tasius ditandai dari pantulan mata, identifikasi bau urine, informasi dari masyarakat dan identifikasi berdasarkan kesesuaian habitat. Lokasi keberadaan tarsius kemudian diukur seluruh komponen habitatnya yang meliputi: jenis, tinggi dan dimater pohon perjumpaan, kerapatan tajuk/Leaf Area Index (LAI), keberadaan satwa lain, kerapatan vegetasi tiap tingkat pertumbuhan, ketinggian dan kelerengan tempat, suhu permukaan, bioclimate/bioiklim, jarak dari tepi hutan, jarak dari jalan dan jarak dari permukiman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarsius belitung memiliki preferensi terhadap karakteristik habitat yang berada pada tipe tutupan lahan pertanian lahan kering dan semak, dekat dengan tepi hutan (0 - 874 m), dekat dengan jalan (0 – 403 m), dekat dengan permukiman (0 -1849 m), berada pada ketinggian 1 - 142 m dpl, kelas kelerengan datar dan landai, nilai LAI berkisar 0.83-2.46, suhu permukaan 24-250C, serta pada habitat yang hangat dan curah hujan yang tinggi. Model persamaan yang diperoleh untuk model spasial habitat preferensial tarsius belitung adalah Y= 0.513 + 0.113PC1- 0.031PC2 dengan Nagelkerke (R2) sebesar
0.704 (70.4%). Hasil pemodelan spasial habitat tarsius belitung menunjukkan bahwa habitat yang paling disukai tarsius hanya sekitar 1058 ha (7.83%), habitat yang disukai sekitar 1449 ha (10.73%), dan habitat yang kurang disukai sekitar 10998 ha (81.44%).
SUMMARY
FIFIN FITRIANA. Spatial Modeling of Habitat Preference for Belitung Tarsier (Cephalopachus bancanus saltator Elliot.1910) on Belitung Island. Supervised by LILIK BUDI PRASETYO and AGUS PRIYONO KARTONO.
.
Belitung tarsier is one of endemic tarsier in Belitung Island and as landmark animal of Bangka Belitung Porvince. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) categorized belitung tarsier as threatened species due to high habitat fragmentation by deforestation. Conservation efforts of tarsier in Belitung still less and limited due to lack of studies of this species. Study of spatial model of habitat preference is important to explore the ecology of belitung tarsier. We expect this study could support conservation effort to manage habitat and population of belitung tarsier and to develop spatial model of habitat preference of belitung tarsier based on its habitat components.
Identification of existence of tarsier can be detetcted by eye reflection, urine odor detection, local people information and its proper habitat. All component of habitat in point of tarsier distribution then be measured, such as: species, height, tree diameter, canopy density/leaf area index, presence of other animals, vegetation density in all life stages, elevation and slope, surface temperature, bioclimate, distance from forest edge, distance from road and distance from village.
The result of this study showed that belitung tarsier has preference to habitat characteristics wich located in the dry farmland and shrubs, close to the forest edge (0874 m), close to the road (0404 m) and close to the village ( 0 -1849 m). Belitung tarsier also is prefer to exist on elevation 1 – 242 m asl, slope slighty, LAI 0.83 – 2.46, with surface temperature 24- 25 0C, warm habitat and high intensity of rainfall. From these result we obtain the model of spatial model of habitat preference of belitung tarsier is Y= 0.513 + 0.113 PC1 - 0.031PC2 with
Negelkerke (R2) 0.704 (70.4%). Then this model showed that the most favorable habitat for belitung tarsier about 1058 ha from total study area (7.83%), favorable habitat about 1449 ha (10.73%) and less favorable about 10998 ha (81.44%).
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2017
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika
MODEL SPASIAL HABITAT PREFERENSIAL TARSIUS
BELITUNG (
Cephalopachus bancanus saltator
Elliot, 1910)
DI PULAU BELITUNG
FIFIN FITRIANA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini berjudul Model Spasial Habitat Preferensial Tarsius Belitung (Cephalopachus bancanus saltator Elliot, 1910) di Pulau Belitung yang dilaksanakan sejak bulan Maret hingga Mei 2016.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof Dr Ir Lilik Budi Prasetyo, MSc dan Bapak Dr Ir Agus Priyono Kartono, MSi selaku pembimbing, serta Bapak Dr Ir Entang Iskandar, MSi selaku penguji luar pada sidang tesis. Penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Budi, Kak Fatwa, Bang Salman, Bang Saiful, Mas Dana, Mas Tarmizi, Keluarga Bang Salman, Keluarga Ibu Sujani, Keluarga Bapak Samsir yang telah banyak membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, suami serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Februari 2017
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ii
DAFTAR GAMBAR ii
DAFTAR LAMPIRAN iii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
2 TINJAUAN PUSTAKA 3
Morfologi 3
Preferensi Habitat 4
Perilaku 5
Teknologi GIS pada Satwa Liar 6
Pemodelan Spasial Habitat 6
3 METODE 7 Lokasi dan Waktu 7 Alat dan Bahan 7 Metode Pengumpulan Data 8 Metode Analisis Data 13
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 17
Sebaran Titik Tarsius Belitung 17
Karakteristik Habitat Preferensial Tarsius Belitung 19
Analisis Komponen Utama 33
Model Spasial Habitat Preferensial Tarsius Belitung 36
5. SIMPULAN DAN SARAN 41
Simpulan 41
Saran 41
DAFTAR PUSTAKA 41 LAMPIRAN 46
DAFTAR TABEL
1 Kritera yang diukur pada metode Neu (1974) 14
2 Tujuan peneltian, metode pengumpulan data, peubah yang diukur,
pengolahan dan analisis data 17
3 Tipe tutupan lahan dan sebaran titik tarsius 18
4 Perjumpan tarsius berdasarkan jenis tumbuhan 20
5 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel LAI 22 6 Sepuluh jenis vegetasi tingkat pohon yang memiliki kerapatan tertinggi
di lokasi penelitian 23
7 Sepuluh jenis vegetasi tingkat tiang yang memiliki kerapatan tertinggi
di lokasi penelitian 23
8 Sepuluh jenis vegetasi tingkat pancang yang memiliki kerapatan
tertinggi di lokasi penelitian 24
9 Sepuluh jenis vegetasi tingkat semai yang memiliki kerapatan tertinggi
di lokasi penelitian 24
10 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel ketinggian
tempat ditemukannya tarsius 26
11 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel kelas
kelerengan 27
12 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel suhu 28 13 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak dari
tepi hutan 29
14 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak
dengan jalan 30
15 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak
dengan permukiman 30
16 Rentang kelas setiap variabel bioiklim yang disukai tarsius 31
17 Keragaman total komponen utama 33
18 Vektor ciri PCA 34
19 Component Transformation Matrix 34
20 Kelas preferensi habitat tarsius belitung 37
21 Validasi tiap kelas preferensi habitat tarsius 38
DAFTAR GAMBAR
1 Morfologi tarsius belitung 4
2 Peta lokasi pengambilan data 7
3 Desain pengukuran kerapatan vegetasi tiap tingkat pertumbuhan dan
penentuan titik pengambilan data LAI 9
4 Tahapan pembuatan peta bioiklim 11
5 Tahapan pembuatan peta kerapatan tajuk/ LAI 11
6 Tahapan pembuatan peta ketinggian dan kelas kelerengan 12 7 Tahapan pembuatan peta jarak dari tepi hutan, jarak dari jalan dan jarak
dari permukiman 12
9 Peta sebaran titik tarsius di berbagai tutupan lahan 18 10 Perjumpaan tarsius berdasarkan famili tumbuhan 19 11 a) Tarsius menggendong anaknya b)Tarsius melepas anaknya c) Anak
tarsius 21
12 Foto hemispherical pada lokasi perjumpaan tarsius di beberapa tipe tutupan lahan (a) permukiman (b) hutan kering sekuder (c) pertanian
lahan kering dan semak 21
13 Kerapatan vegetasi tiap tingkat pertumbuhan 23
14 Kondisi hutan lahan kering sekunder di (a) HL Gunung Tajam (b)
perkebunan masyarakat 25
15 Tarsius memakan (a) burung madu (b) cicak hutan 26 16 (a) dan (b) kondisi jalan di lokasi penelitian 30 17 Beberapa tumbuhan yang berbunga (a) nasi-nasi (Syzygium buxifolium)
(b) tenam (Psychotria viridiflora) (c) kermuntingan (Rhodomyrtus
tomentosa) (d) jemang (Rhodamnia cinerea) 33
18 Posisi berbagai faktor variabel habitat tarsius 35 19 Peta habitat preferensial tarsius belitung di HL Gunung Tajam 37 20 Peta habitat preferensial tarsius belitung di Pulau Belitung 39 21 Kondisi vegetasi ditemukannya tarsius (a) sebelum ditebang (b) setelah
ditebang 40
DAFTAR LAMPIRAN
1 Daftar jenis tumbuhan di lokasi penelitian 47
2 Hasil analisis pemilihan habitat tarsius di setiap variabel 50 3 Hasil analisis preferensial tarsius pada variabel bioiklim 54
4 Hasil analisis regresi LAI & NDVI 56
5 Hasil Analisis Komponen Utama (PCA) 57
6 Hasil analisis regresi linear penyusun model habitat preferensial tarsius
belitung 63
7 Koordinat titik penyusun model 64
8 Koordinat titik validasi model 65
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tarsius adalah salah satu anggota famili Tarsiidae yang hanya terdapat di Indonesia, Philiphina dan Malaysia. Groves & Shekelle (2010) menyatakan terdapat 18 jenis tarsius yang terbagi dalam tiga genus yaitu genus Tarsius di Sulawesi dan sekitarnya, genus Cephalopachus di Kalimantan, Sumatera bagian selatan, Pulau Bangka Belitung dan Kepulauan Natuna, serta genus Carlito untuk di bagian selatan Philiphina dan pulau-pulau sekitanya. Tarsius belitung (Cephalopachus bancanus satator) merupakan salah satu dari empat sub spesies
Cephalopachus bancanus yang endemik di Pulau Belitung (Shekelle 2008, Groves & Shekelle 2010) dan menjadi satwa identitas Provinsi Bangka Belitung berdasarkan Keputusan Mendagri No:522.53-958/2010. Tarsius belitung memiliki perbedaan dengan sub spesies lainnya yaitu secara morfologi memiliki rambut tidak terlalu lebat dan warna punggung cenderung keabuan, serta tidak mengeluarkan suara panggilan duet pada pagi hari (Fogden 1974, Yustian 2007). Kepadatan tarsius belitung di Pulau Belitung hanya sekitar 19-46 individu/km2 (Yustian et al. 2009). Populasi tarsisus diduga akan semakin berkurang karena berbagai ancaman, baik pada populasi maupun habitatnya. Ancaman utama terhadap kelestarian tarsius belitung adalah dari kegiatan pertambangan dan perkebunan, terutama sawit (Yustian et al. 2009). Adanya perubahan tutupan hutan yang dulunya mendominasi tutupan lahan di Pulau Belitung menjadi area tambang dan area perkebunan akan mempengaruhi habitat alami tarsius belitung. Habitat alami tarsius belitung akan terfragmentasi menjadi kantong-kantong habitat yang terisolasi. Indrawan et al. (2012) menyatakan bahwa satwa yang berada di habitat yang terisolasi akan terdorong pada fenomena kepunahan. Terlebih lagi, sampai saat ini belum ada kawasan konservasi di Pulau Belitung (Supriatna et al. 2000).
Status konservasi tarsius berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 merupakan satwa yang dilindungi. Pada tahun 2000 oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) tarsius belitung digolongkan menjadi satwa dengan kategori Data Deficient karena masih minimnya data, kemudian pada tahun 2006 status konservasi tarsius ditingkatkan menjadi Endangered. Perubahan status tersebut didasarkan pada luas wilayah habitat tarsius yang hanya 4800 km2 dengan tingginya fragmentasi habitat akibat deforestasi (IUCN 2015). Adanya berbagai kategori status konservasi tersebut mengindikasikan bahwa tarsius belitung merupakan satwa terancam punah dan perlu upaya konservasi untuk melestarikan jenisnya.
2
memilih suatu habitat yang memiliki sumberdaya sesuai dengan kebutuhan hidupnya (Moris 1987). Akan tetapi kebutuhan hidup satwa liar tersebut pada umumnya tidak tersebar secara merata di seluruh lingkungan sehingga dapat diasumsikan bahwa satwaliar akan menyukai beberapa habitat tertentu dibandingkan habitat lainnya. Penelitian terkait habitat preferensial tarsius belitung belum pernah dilakukan sebelumnya. Disisi lain, informasi tersebut sangat dibutuhkan untuk memberikan gambaran secara spesifik mengenai komponen habitat yang berpengaruh penting terhadap keberadaan tarsius belitung. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji komponen habitat yang mendorong tarsius belitung dalam memilih habitat yang disukai melalui pemodelan spasial habitat dengan bantuan GIS. Clark et al. (2008) menyatakan sistem informasi geografis (GIS) dapat menjadi alat untuk mendapatkan informasi faktor-faktor habitat yang penting bagi suatu spesies melalui pemodelan. Adapun pemodelan spasial habitat satwa liar merupakan suatu analisis hubungan kompleks antara beberapa variasi faktor lingkungan yang tersedia, yang merupakan kabutuhan hidup dari satwa liar dalam bentuk geografis (Coop & Catling 2002). Seiring perkembangan aplikasi GIS bagi satwa liar, penelitian pemodelan spasial habitat pada satwa liar terutama primata semakin banyak dilakukan karena memberikan abstraksi atau penyederhanaan dari kondisi kesesuaian habitat satwa liar yang dapat menjadi dasar yang tepat dalam menentukan kebijakan untuk upaya pelestarian. Beberapa penelitian pemodelan spasial yang telah dilakukan antara lain untuk monyet hitam sulawesi (Indrawati 2010), owa jawa (Kadhafi 2011) dan orangutan kalimantan (Fitriana 2013). Penelitian pemodelan spasial habitat untuk tarsius belitung terutama preferensi habitat belum pernah dilakukan. Model spasial habitat preferensial tarsius belitung diharapkan dapat memberikan informasi tentang preferensi habitat bagi tarsius belitung, selain itu juga dapat diperoleh informasi terkait kantong-kantong habitat tarsius belitung yang tersisa sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pendugaan kepadatan populasi serta sebagai dasar manajemen populasi dan habitiat.
Perumusan Masalah
Tarsius belitung merupakan salah satu dari 18 jenis tarsius yang terdapat di Indonesia, Phiiliphina dan Malaysia serta termasuk ke dalam jenis primata endemik dan langka (Shekelle 2008, Groves & Shekelle 2010). Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menjadikan tarsius sebagai satwa identitas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan Keputusan Mendagri No:522.53-958/2010, namun kebijakan tersebut tidak diiringi dengan upaya konservasi yang ditandai dengan tidak terdapatnya area konservasi untuk melindungi tarsius belitung di Provinsi tersebut (Supriatna et al. 2002). Upaya Pemerintah untuk mengurangi kegiatan pertambangan dan perkebunan sawit yang merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup tarsius belitung masih minim. Keberadaan tarsius di alam sangat penting. Secara ekologi tarsius dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem karena tarsius merupakan satwa insektivora atau pemakan serangga (Lowing et al. 2013).
3 lahan oleh manusia. Penelitian tarsius belitung masih sedikit jika dibandingkan dengan tarsius di Sulawesi, Kalimantan maupun Philipina. Penelitian tarsius belitung di alam hanya pernah dilakukan oleh Yustian (2007) yang menduga populasi dan wilayah jelajah. Penelitian habitat terlebih preferensi habitat belum pernah dilakukan, sedangkan informasi preferensi habitat sangat diperlukan untuk mengetahui karakteristik komponen habitat yang disukai tarsius sebagai dasar manajemen habitat tarsius belitung.
Dalam penelitian Yustian (2007) dinyatakan bahwa Citra Landsat yang digunakan untuk menduga populasi tarsius belitung adalah Citra Landsat tahun 2000, sehingga kepadatan tersebut bisa berubah seiring dengan perubahan lahan yang menjadi habitat tarsius belitung. Pemodelan spasial habitat menggunakan citra terbaru yang didasarkan pada komponen habitat preferensial akan dapat memberikan gambaran informasi yang lebih baik tentang habitat tarsius belitung, sehingga dapat digunakan sebagai dasar manajemen populasi dan habiat tarsius belitung.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan dari penelitian ini adalah :
1. Bagaimana karakteristik komponen habitat preferensial tarsius belitung? 2. Bagaimana model spasial habitat preferensial tarsius belitung?
Tujuan Penelitian
Tujuan dari studi karakteristik habitat preferensial tarsius belitung adalah : 1. Mengidentifikasi karakteristik komponen habitat preferensial bagi tarsius
belitung.
2. Menyusun model spasial habitat preferensial tarsius belitung berdasarkan komponen habitat tersebut.
Manfaat Penelitian
Manfaat spesifik dari hasil penelitian adalah sebagai berikut :
1. Tersedianya data dan informasi tentang karakteristik komponen habitat preferensial bagi tarsius belitung.
2. Model spasial habitat preferensial tarsius belitung yang disusun dapat digunakan sebagai acuan dalam manajemen populasi dan habitat tarsius belitung.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Morfologi
Tarsius belitung merupakan salah satu dari empat sub spesies
Cephalopachus bancanus (Gurski et al. 2008). Groves (2010) menyebutkan empat sub spesies Cephalopachus bancanus diantaranya adalah Cephalopachus bancanus bancanus penyebarannya di Sumatera selatan dan Pulau Bangka,
Cephalophacus bancanus saltator penyebarannya di Pulau Belitung,
4
Cephalophacus bancanus natunensis penyebarannya di Pulau Natuna selatan. Tarsius belitung mempunyai ciri-ciri dan perilaku yang berbeda dengan jenis tarsius lainnya. Anak jenis saltator memiliki rambut yang cenderung kurang lebat dan bagian punggunya lebih berwarna gelap. Tarsius belitung memiliki ciri sexual dimorphisme. Jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada betina. Panjang tubuh pada tarsius belitung dewasa adalah jantan 121.4-123 mm (4.28-4.33 inch) dan betina 101.2-108.5 mm (3.6-3.8 inch) (Yustian 2007). Bentuk morfologi tarsius belitung disajikan pada Gambar 1.
Ga
Gambar 1 Morfologi tarsius belitung Preferensi Habitat
Habitat adalah serangkaian komunitas biotik yang ditempati oleh binatang atau populasi kehidupan (Bailey 1984). Habitat merupakan komponen kunci yang sangat penting bagi kelangsungan hidup satwaliar. Faktor utama komponen habitat satwaliar adalah pakan, air, ruang dan karakteristik struktur. Ketersediaan pakan merupakan pembatas yang paling dominan bagi sejumlah spesies. Beberapa spesies akan memilih suatu habitat yang memiliki sumberdaya yang sesuai dengan kebutuhan nutrisinya, akan tetapi kebutuhan hidup satwaliar tersebut pada umumnya tidak tersebar secara merata di seluruh lingkungan sehingga sangat beralasan untuk mengasumsikan bahwa satwaliar akan menyukai beberapa habitat tertentu dibanding lainnya.
5 oleh struktur morfologi, perilaku, kemampuan memperoleh makanan dan perlindungan.
Tarsius memiliki preferensi khusus untuk melangsungkan kehidupannya (Qiptayah & Setiawan 2012, Qiptiyah et al. 2010). Yustian (2007) dalam penelitiannya terhadap tarsius belitung menunjukkan bahwa kelimpahan populasi tarsius belitung di Gunung Tajam pada kawasan hutan sekunder dengan perkebunan lada berskala kecil sebanyak 0.11 ekor/ha sedangkan pada kawasan hutan sekunder yang dikelilingi oleh perkebunan sawit adalah 0.17 ekor/ha. Tarsius memiliki preferensi terhadap faktor penyusun habitat baik biotik maupun fisik, diantaranya adalah preferensi tarsius terhadap jenis pohon tertentu untuk beraktivitas. Tarsius spectrum di CA Tangkoko menggunakan pohon jenis Ficus sp sebagai pohon sarang (Lowing et al. 2013) dan Tarsius tarsier di CA Tangkoko menggunankan rumpun bambu terutama bambu berduri (Bambusa multiflex) sebagai tempat bersarang (Wirdateti & Dahrudin 2008). Tarsius juga memiliki preferensi ketinggian tertentu pada pohon untuk melakukan aktivitas. Sinaga et al. (2009) menyatakan bahwa ketinggian pohon tidur atau sarang tarsius adalah antara 0 - 20 m di atas permukaan tanah serta lebih tergantung pada jenis tumbuhan. Merker (2006) melaporkan bahwa tarsius biasa meloncat pada cabang dan anakan pohon dengan diameter antara 1 – 4 cm. MacKinnon & MacKinnon (1980) melaporkan bahwa tarsius membutuhkan cabang pohon dengan diameter kecil (< 4 cm) terutama untuk berburu dan menjelajah, diameter sedang (4 – 8 cm) terutama digunakan untuk istirahat dan menandai daerah jelajah (home range), sedangkan diameter >8 cm juga digunakan untuk istirahat dan menandai daerah jelajah (home range) meskipun tidak sebanyak diameter sedang. MacKinnon & MacKinnon (1980) juga menyatakan bahwa selain diameter pohon, tingkat kerapatan pohon dan tutupan tajuk pohon juga berpengaruh terhadap keberadaan tarsius.
Preferensi tarsius terhadap faktor fisik dapat terlihat dari pemilihan tarsius di Pulau Selayar yang menggunakan topografi datar hingga kemiringan 17.63% pada hutan pantai dan pada hutan pegunungan dengan topografi landai hingga kemiringan 36.39% sebagai strategi berlindung dari predator (Wirdateti & Dahruddin 2008). Supriatna & Wahyono (2000) menyatakan tarsius dapat hidup pada ketinggian yang bervariasi tergantung pada jenisnya, mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 2200 m dpl. Tarsius membutuhkan kawasan dengan vegetasi beragam untuk tempat mencari pakan. Pada beberapa penelitian tarsius sering dijumpai di perbatasan hutan, seperti perbatasan antara hutan primer dengan hutan sekunder dan perbatasan antara hutan sekunder dengan ladang atau perkebunan karena lokasi tersebut memiliki jenis dan jumlah serangga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya.
Perilaku
Tarsius merupakan satwa insectivora yaitu memiliki pakan utama serangga. Beberapa jenis serangga utama sebagai pakan tarsius, seperti kumbang, belalang, jangkrik, kupu-kupu, ngengat, semut, rayap dan kecoa. Ngengat, kupu– kupu dan jangkrik merupakan sumber makanan penting bagi C.bancanus dan
6
C.bancanus adalah 35% sejenis kumbang, 21% semut, 16% belalang, 10% tonggeret, 8% kecoa, dan 10% binatang bertulang belakang seperti burung, ular dan kelelawar (Supriatna 2000). Berdasarkan Sesa et al. (2014) diketahui jumlah serangga yang berpotensi sebagai pakan tarsius sebanyak 14 spesies dari 20 famili.
Tarsius belitung memiliki sistem perkawinan monogami tinggal bersama keturunannya dalam suatu teritorial. Teritori ditandai dengan urin yang baunya khas. Nietmietz (1979) menyatakan bahwa bau dengan urin dikenal sebagai komponen penting dalam perilaku tersius. Sistem monogami memiliki komposisi sex ratio antara jantan dan betina adalah 1:1 (Yustian 2007). Siklus hidup tarsius hanya 16 tahun. Tarsius belitung berbeda dengan jenis tarsius lain. Tarsius belitung tidak mengeluarkan suara duet dipagi hari seperti tarsius di Sulawesi (Fogden 1974).
Teknologi GIS pada Satwaliar
Perkembangan teknologi spasial dalam bidang konservasi telah berkembang pesat. Saat ini, teknologi GIS tidak hanya digunakan untuk perlindungan bentang alam dan hutan tetapi juga untuk satwaliar didalamnya. Clark et al. (2008) menunjukkan bahwa implementasi GIS pada satwaliar memiliki beberapa manfaat diantaranya yaitu, menunjukkan distribusi spasial, menggambarkan penggunaan habitat satwaliar termasuk homerange dan overlap, menunjukkan adanya perpindahan populasi, menganalisis hubungan antara satwaliar dan habitatnya serta menganalisa rencana konservasi terhadap bentang alam yang digunakan oleh satwaliar.
Pemodelan Spasial Habitat
7
3
METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Lindung Gunung Tajam dan di area berhutan di dalam perkebunan masyarakat Kelekak Datuk yang terletak di Dusun Kelekak Datuk, Desa Badau, Kecamatan Badau, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengambilan data lapangan dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan Maret s/d Mei 2016. Lokasi penelitian disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2 Peta lokasi pengambilan data Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi: 1. GPS (Global Positioning System)
2. Kamera digital 3. Haga hypsometer
4. Phi band
5. Tallysheet
6. Alat tulis 7. Headlamp
8. Kertas label
9. Kamera FishEye Lens
10.Waterpass 11.Kompas 12.Meteran 13.Tali Rafia
14.ArcGis ver. 10.2.
15.ERDAS Imagine ver. 9.1. 16.SPSS ver 16.
17.HemiView ver 2.1
8
Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini meliputi data keberadaan tarsius (presence) dan data karakteristik habitat. Data keberadaan tarsius ditentukan berdasarkan perjumpaan langsung, tanda-tanda sekunder seperti bau urine serta informasi dari masyarakat. Data karakteristik habitat ditentukan berdasarkan faktor-faktor lingkungan baik biotik dan abiotik yang menjadi kebutuhan hidup maupun ancaman keberadaan tarsius belitung.
Keberadaan Tarsius Belitung
Metode yang digunakan untuk menentukan keberadaan tarsius adalah metode eksplorasi/jelajah yaitu dengan mencari tarsius di lokasi – lokasi yang diduga terdapat tarsius. Keberadaan tarsius dapat ditandai dengan pantulan cahaya merah dari mata tarsius dan dari bau urine tarsius yang digunakan untuk menandai wilayah jelajahnya. Tarsius belitung tidak memiliki tapetum lucidum namun mata tarsius belitung dapat memantulkan cahaya merah bila tekena sinar pada jarak 4 – 50 m. Identifikasi keberadaan tarsius belitung tidak dapat dilakukan melalui suara karena tarsius di Belitung tidak mengeluarkan suara seperti tarsius yang berada di Sulawesi (Fogden 1974). Pengambilan data di lapang dilakukan pada waktu aktif tarsius yakni pada malam hari 19:00 – 22:00 WIB. Tarsius melakukan aktivitasnya mulai sore hari sampai pagi hari, yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam seperti rasa takut/gelisah dan lapar sedangkan faktor dari luar seperti keadaan cuaca, habitat, serta kemampuan kelompok dalam mempertahankan wilayahnya (Mumbunan 1998). Tarsius yang dijumpai dicatat jumlah individu serta aktivitasnya, kemudian posisinya ditandai dengan GPS dan selanjutnya dilakukan pengukuran karakteristik habitat. Perjumpaan tarsius secara tidak langsung yaitu melalui bau urine dan informasi masyarakat ditandai posisinya dengan menggunakan GPS.
Sebaran Tarsius
Sebaran pemanfaatan tarsius di berbagai tipe tutupan lahan diperoleh melalui overlay titik keberadaan tarsius dengan peta tutupan lahan BAPLAN 2014. Karakteristik Habitat Preferensial Tarsius
Variabel yang diukur ditentukan berdasarkan analisis karakterisitik habitat dengan meninjau faktor-faktor biotik dan abiotik keberadaan tarsius belitung. Karakteristik komponen biotik habitat
1) Jenis tumbuhan yang digunakan oleh tarsius
Tumbuhan yang digunakan tarsius pada saat perjumpaan langsung diidentifikasi jenis dan familinya. Identifikasi jenis pohon dibantu oleh penduduk setempat.
2) Ketinggian tarsius di pohon pada saat ditemukan (m)
9 dengan skala 5 m, 20 m, 25 m, atau 30 m. Kemudian membaca hasil pengukuran dengan menghitung jumlah atau selisih dari kedua pembacaan tersebut sesuai posisi kaki pohon dari mata pengukur.
3) Diameter setinggi dada (DBH) pohon yang digunakan tarsius (m)
Diameter setinggi dada diukur dengan menggunakan phi-band pada ketinggian 1.3 m dari permukaan tanah.
4) Kerapatan tajuk (Leaf Area Index)
Pengambilan data LAI dilakukan di setiap petak pengukuran kerapatan vegetasi. Nilai LAI diperoleh melalui analisis foto dari kamera Fisheye Lense
dengan menggunkan software Hemiview ver 2.1 kemudian nilai tersebut diregresikan dengan nilai NDVI. Desain pengambilan data LAI disajikan pada Gambar 3.
5) Keberadaan satwa lain (predator dan kompetitor)
Kompetisi dan predasi dianggap sebagai salah satu faktor yang berperan penting dalam penggunaan habitat oleh organisme. Pengumpulan data keberadaan satwa lain akan dilakukan melalui pengamatan langsung di lapang, dianalisis secara deskriptif sebagai penggambaran langsung dari hasil pengamatan di lapangan.
6) Kerapatan vegetasi setiap tingkat pertumbuhan (individu/ha)
Pengukuran kerapatan vegetasi setiap tingkat pertumbuhan dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik vegetasi tiap tingkat pertumbuhan di sekitar lokasi perjumpaan tarsius. Penentuan kerapatan tiap tingkat pertumbuhan dilakukan dengan membuat petak pengamatan 20 m x 20 m untuk tingkat pohon, petak 10 m x 10 m untuk tingkat tiang, petak 5 m x 5 m untuk tingkat pancang dan petak 2 m x 2 m untuk tingkat semai. Petak tersebut akan diletakkan di sekitar titik perjumpaan dengan tarsius. Desain pengukuran kerapatan vegetasi tingkat pohon disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3 Desain pengukuran kerapatan vegetasi tiap tingkat pertumbuhan dan penentuan titik pengambilan data LAI
Karakteristik komponen fisik habitat
1) Ketinggian tempat ditemukannya tarsius di atas permukaan laut (m dpl)
10
2) Kelas kelerengan (%)
Identifikasi kelas kelerengan dibuat melalui peta Digital Elevation Model (DEM) dengan software ArcGis 10.2.
3) Suhu permukaan (0C)
Pengukuran suhu dilakukan melalui analisis Citra Landsat 8 OLI 09 Agustus 2016 path 122/ row 62 band 10 dan band 11.
4) Jarak dari tepi hutan (m)
Jarak dari tepi hutan dibuat dari ekstraksi peta tutupan tahun 2014 lahan kemudiandianalisis dengan Euclidean distance.
5) Jarak dari jalan (m)
Jarak dari jalan dibuat dari peta jaringan jalan yang dianalisis dengan
Euclidean distance. 6) Jarak dari Permukiman
Jarak dari permukiman dibuat dari ekstraksi peta tutupan lahan tahun 2014, kemudian dianalisis dengan Euclidean distance.
7) Bioclimate/Bioiklim
Bioclimate/bioiklim merupakan variabel iklim yang diperoleh dari suhu dan nilai-nilai curah hujan yang sering digunakan untuk pemodelan distribusi spesies dan terkait dengan pemodelan ekologi sehingga suatu variabel lebih dapat menjelaskan secara biologis (O’Donnel & Ignizio 2016). Peta bioiklim terdiri dari 19 variabel bioiklim yang diunduh dari www.worldclim.org. Peta hasil unduhan memiliki resolusi 1kmx1km, sehingga dilakukan perubahan resolusi menjadi 30mx30m dengan cara interpolasi kriging agar bisa dianalisis lebih lanjut. Proses pembuatan peta bioklim dengan interpolasi kriging
11 Pembangunan Data Spasial
Pembangunan data spasial diperlukan untuk membuat peta habitat preferensial tarsius belitung. Adapun proses pembuatan peta pada setiap variabel adalah sebagai berikut:
DownGrid Peta Bioiklim
Masing-masing peta variabel bioiklim yang telah diunduh dilakukan penurunan resolusi dari 1km x 1km menjadi 30m x 30m dengan cara interpolasi
kriging. Tahapan pembuatan peta bioiklim disajikan pada: :
Gambar 4 Tahapan pembuatan peta bioiklim Pembuatan peta kerapatan tajuk/ LAI (Leaf Area Index)
Peta kerapatan tajuk diperoleh dari nilai LAI hasil Hemispherical Photography yang dihubungkan dengan peta NDVI menggunakan analisis regesi. Adapun peta NDVI diperleh melalui Citra landsat 8 OLI 09 Agustus 2016 path 122 row 62 yang diolah menggunakan software ERDAS 9.1. Tahapan pembuatan peta kerapatan tajuk disajikan pada Gambar 5:
Gambar 5 Tahapan pembuatan peta kerapatan tajuk/ LAI Pembuatan peta ketinggian dan peta kelas kelerengan
Peta ketinggian dan kemiringan lereng dibuat dari data peta DEM resolusi 30m x 30m menggunakan software ArcGis 10.2. sehingga menghasilkan peta ketinggian dan kemiringan lereng digital yang diinginkan. Tahapan pembuatan peta ketiggian dan kelerengan disajikan pada Gambar 6 berikut ini:
Citra Landsat8
(Erdas imagine 9.1) Peta NDVI
Foto Hemispirical Hemiview regresi
12
Gambar 6 Tahapan pembuatan peta ketinggian dan kelas kelerengan Pembuatan peta Buffer
Peta buffer ditujukan untuk membuat peta jarak dari tepi hutan, jarak dari jalan dan jarak dari permukiman yang diperoleh dengan melakukan analisis
euclidean distance pada ArcGIS 10.2. Tahapan pembuatan buffer adalah sebagai berikut Gambar 7:
Gambar 7 Tahapan pembuatan peta jarak dari tepi hutan, jarak dari jalan dan, jarak dari permukiman
Pembuatan peta suhu permukaan
Peta sebaran suhu diperoleh dengan melakukan dua tahapan konversi. Pertama, mengestimasi nilai suhu permukaan dengan menggunakan band 10, Citra Landsat 8 OLI 09 Agustus 2016 path 122 row 62 pada ERDAS imagine 9.1 untuk dikonversi menjadi nilai radiasi. Berdasarkan USGS (2015) persamaan yang digunakan adalah Lλ = MLQcal + AL, dengan Lλ = Radiasai spektral ; ML =
Multiplicative rescaling factor band 10 (3,3420 × 10-4); Qcal = Digital Number ; AL =
Additive rescaling factor band 10 (0,1000).
Selanjutnya, dilakukan konversi radial spektral untuk mengetahui nilai suhu permukaan dalam satuan kelvin. Konversi nilai dari Kelvin menjadi Celcius adalah dengan mengurangi nilai suhu sebanyak 273 derajat. Sedangkan konversi radiasi spektral menjadi nilai suhu digunakan persamaan sebagai berikut (USGS 2015) :
λ
Keterangan: T = Suhu Efektif (K); K2 = Konstanta Kalibrasi 2 (1321,08); K1 = Konstanta
Kalibrasi 1 (774,89); Lλ = Radiasai spektral. Peta tutupan lahan
Peta jaringan jalan
13 Metode Analisis Data
Analisis Multikolinieritas
Analisis multikolinieritas dilakukan pada data raster tiap variabel untuk mencegah adanya kolonieritas antar variabel. Analisis multikolinieritas dilakukan dengan menganalisis peta variabel ke dalam Band Collection Statistic di ArcGis ver 10.2.
Klasifikasi Setiap Variabel
Pembuatan kelas setiap variabel didasarkan pada aturan Sturge’s (Sturge’s Rule) yaitu:
K = 1+3.3log(n)
dimana k adalah jumlah kelas dan n adalah jumlah titik model, Adapun lebar kelas setiap variabel dianalisis sebagai berikut:
Keterangan: L= lebar kelas; Xmax= nilai maksimum; Xmin= nilai minimum; k=jumlah kelas
Analisis Pemilihan Habitat
Ostle (1963) dalam Neu (1974) menyatakan bahwa salah satu cara yang berguna dalam penentuan validitas statistik dari pemanfaatan tersedianya data adalah dengan melakukan uji chi-square untuk hipotesis apakah satwaliar menggunakan habitat atau mencari makan dalam proporsi ketersediaan habitatnya. Pemilihan habitat oleh tarsius diukur mengguanakan fungsi-fungsi seleksi sumberdaya (Manly et al. 2002). Pengujian signifikansi menggunakan uji Chi-square (X2) (Johnson & Bhattacharyya 1992) dengan rumus sebagai berikut:
Hipotesis null (Ho) yang diuji adalah tarsius tidak melakukan seleksi dalam menempati suatu habitat. Adapun kaidah keputusannya adalah menolak Ho jika nilai lebih besar daripada pada taraf uji Analisis Preferensi Habitat
Pendugaan rentang kelas disetiap variabel yang paling disukai dilakukan dengan pendekatan pendekatan Metode Neu (indeks preferensi). Metode Neu
14
Tabel 1 Kritera yang diukur pada metode Neu (1974)
Tipe Habitat Availability Usage Index
Proportion Record Proportion Selection Standaralised
(a) (n) ( r) (w) (b)
Analisis kerapatan vegetasi di setiap tingkat pertumbuhan
Kerapatan vegetasi pada setiap tingkat pertumbuhan dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut (Soerianegara & Indrawan 2005):
Kerapatan (K) =
Analisis spasial model habitat preferensial
Pembuatan model spasial habitat preferensial tarsius belitung dilakukan dengan membangun dan menganalisis data spasial di Pulau Belitung. Data yang dikumpulkan meliputi data spasial yang berupa: a) Citra Landsat 8 OLI 09 Agustus 2016 path 122 row 62, b) Peta Rupa Bumi Pulau Belitung, c) Peta DEM Pulau Belitung, d) Peta tutupan lahan BAPLAN 2014, dan e) data lapangan, titik koordinat keberadaan tarsius. Analisis dalam pembuatan peta adalah sebagai berikut:
Principal Componen Analysis
Principal Component Analysis (PCA) merupakan teknik analisis multivariabel (menggunakan banyak variabel) yang dilakukan untuk tujuan ortogonalisasi dan penyederhanaan variabel. Analisis ini merupakan teknik statistik yang mentransormasikan secara linier satu set variabel ke dalam variabel baru dengan ukuran lebih kecil namun representatif dan tidak saling berkorelasi (ortogonal) atau yang disebut dengan principal component (Dunteman 1989
dalam Umar 2009).
Variabel-varibael habitat tarsius belitung yang telah dilakukan analisis pemilihan dan preferensi. Variabel habitat yang dipilih dan disukai oleh tarsius selanjutnya dianalisis dengan PCA untuk mengetahui variabel yang berpengaruh terhadap keberadaan tarsius. Tahapan dalam analisis PCA adalah sebagai berikut: 1. Tranformasi angular square root seluruh data yang memiliki satuan persen
15 2. Uji nilai KMO (Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy) dan Bartlett-test sebagai prasyarat dilakukannya analisis komponen utama. Analisis komponen utama dapat dilakukan jika nilai KMO ≥ 0.5.
3. Reduksi faktor, variabel dikatakan komponen utama yang berpengaruh terhadap keberadaan tarsius belitung jika nilai Bartlett-test < 0.05 atau
Measure Sampling Adequacy (MSA) ≥ 0.5, jika terdapat beberapa variabel bebas yang memiliki nilai MSA < 0.5 maka variabel yang memiliki nilai MSA terkecil harus direduksi dan analisis komponen utama diulang hingga seluruh variabel tersisa tidak ada yang memiliki nilai MSA < 0.5.
4. Reduksi variabel yang memiliki nilai communalities >0.5.
5. Mengidentifikasi eigenvalue untuk mengetahui kepentingan relatif masing-masing faktor dalam menghitung varians dari ketujuh variabel yang dianalisis. 6. Regresi dari komponen baru yang terbentuk terhadap variabel Y untuk
mengetahui persamaan nilai masing-masing PC pada setiap varian data. Sehingga persamaan model preferensialnya adalah :
Y= α+β1X1+ …+βnXn
Keterangan: Y = Frekuensi relatif kehadiran tarsius di suatu tutupan lahan; α = Konstanta; β n = Bobot masing-masing PC ; Xn = PC
Semua analisis statistik dilakukan dengan menggunakan data model sebanyak 70% atau 52 titikdan 30% atau 23 titikdigunakan untuk validasi model. Peta habitat preferensial tarsius dibuat dengan menggunakan perangkat lunak ArcGis 10,2. ArcGis menggabungkan semua informasi yang ada (variable-variabel lingkungan yang berpengaruh nyata) ke dalam sebuah peta kesesuaian (Syartinilia & Tsuyuki, 2008). Tingkat preferensial habitat ditentukan berdasarkan pada tiga kategori yaitu kurang disukai, disukai dan Paling disukai. Penentuan batas kategori mengacu pada distribusi data dengan batas kategori sebagai berikut berikut:
Validasi Model
Validasi model berguna untuk menujukkan apakah model dapat diterima dan dapat diekstrapolasi di kawasan lain atau tidak. Sebanyak 70 % data pengamatan digunakan sebagai data untuk menyusun model, sedangkan 30 % sisanya digunakan untuk keperluan validasi model. Apabila nilai validasi lebih dari 85% dari kelas paling disukai dan disukai maka model dikatakan layak. Persamaan untuk memvalidasi model adalah sebagai berikut:
Validasi =
Keterangan: n = jumlah titik presence yang ada pada satu klasifikasi kesesuaian N = jumlah total titik presence hasil survey
Min - (mean+Std. Dev) = Kurang disukai (Max IKHI) - (Max IKHI+ 0.5 Std) = Disukai
16
Peta Habitat Preferensial Tarsius Belitung
Tahapan pembuatan peta habitat preferensial tarsius belitung disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 Tahapan pembuatan peta habitat preferensial tarsius belitung. Ekstrapolasi Model
17 Tabel 2 Tujuan peneltian, metode pengumpulan data, peubah yang diukur,
pengolahan dan analisis data
Tujuan Penelitian
Metode Pengumpulan
Data
Peubah yang diukur Metode pengolahan dan analisis data
18
Tabel 3 Tipe tutupan lahan dan sebaran titik tarsius
Tipe Tutupan Lahan Luas
Hutan lahan kering sekunder 5359 39.68 29.00 38.67
Pertanian lahan kering & semak 3553 26.31 46.00 61.33
Semak belukar 556 4.12 0.00 0.00
Keberadaan tarsius berkaitan erat dengan tipe tutupan lahan yang menjadi habitatnya. Tarsius banyak berada di tutupan lahan pertanian lahan kering dan semak karena di tipe tutupan lahan tersebut terdiri dari berbagai perkebunan diantaranya kebun lada, kebun karet, kebun nanas, kebun buah (kelekak) serta
patch-patch hutan sekunder yang terbentuk dari sisa perkebunan karet. Pada tipe tutupan hutan lahan kering sekunder merupakan kawasan lindung yang didominasi oleh tegakan hutan. Komposisi tutupan lahan yang beragam menyebabkan serangga yang menjadi sumber pakan tarsius juga beragam. Murdoch et al. (1972) menyatakan jumlah jenis tumbuhan pada suatu tempat merupakan representasi dari keanekaragaman serangga yang berada di dalamnya. Hal inilah yang menjadikan tarsius banyak ditemukan di tutupan lahan pertanian lahan kering dan semak. Menurut MacKinnon & MacKinnon (1980) tarsius ditemukan hidup dan berkembang biak pada berbagai tipe habitat salah satunya adalah area perkebunan. Amnur (2010) juga menyatakan serangga menyenangi jenis tanaman yang ditanam oleh penduduk. Peta sebaran titik tarsius di berbagai tipe tutupan lahan disajikan pada Gambar 9.
19 Karakteristik Habitat Preferensial Tarsius Belitung
Karakteristik komponen biotik
Jenis pohon perjumpaan, diameter pohon perjumpaan, ketinggian pada saat ditemukan.
Berdasarkan 30 titik perjumpaan langsung, tarsius ditemukan pada 17 jenis tumbuhan yang terdiri dari 9 famili. Tarsius banyak ditemukan pada tumbuhan dengan famili Euphorbiaceae (24.16%) yakni tumbuhan karet (Hevea brasiliensis) (20.69%), diikuti famili Clusiaceae yaitu pada tumbuhan kiras (Garcinia hombroniana) (10.35%). Tarsius juga ditemukan di tanggul (ajir) lada yang sudah lapuk. Perjumpaan tarsius berdasarkan famili tumbuhan disajikan pada Gambar 10 dan perjumpaan tarsius berdasarkan jenis tumbuhan disajikan pada Tabel 4.
Gambar 10 Perjumpaan tarsius berdasarkan famili tumbuhan
Tarsius banyak ditemukan pada tumbuhan karet (Hevea brasiliensis) karena tumbuhan karet di lokasi penelitian memiliki kerapatan yang tinggi terutama pada tingkat pohon dan tiang (Tabel 5 dan 6). Kondisi hutan di pertanian lahan kering dan semak yang menjadi lokasi terbanyak ditemukan tarsius merupakan area bekas kebun karet warga. Tarsius diduga memanfaatkan karet karena pohon karet menjadi penyedia pakan bagi serangga baik getah maupun bunganya (Pers com.). Tarsius di lokasi penelitian juga memanfaatkan tanggul (ajir) lada yang sudah lapuk. Tarsius memakan jangkrik saat di jumpai di tanggul (ajir) lada.
20
menggunakan pohon untuk mencari pakan dan menandai wilayah jelajah. Terbukti dari perjumpaan tarsius pada saat penelitian sebagian besar aktivitas tarsius yang dijumpai adalah mencari pakan (diam dan berpindah) sebanyak 93% serta aktivitas makan sebanyak 7%. Rata-rata tinggi perjumpaan tarsius di pohon adalah 122.73 ± 59.33 cm. Tarsius berada pada ketinggian < 1 m ketika sedang mencari pakan dan pada saat terancam tarsius mencari posisi yang lebih tinggi. Pada penelitian tidak ditemukan adanya pohon tidur karena pengambilan data dilakukan pada waktu aktif tarsius mencari pakan, selain itu identifikasi pohon tidur sulit dilakukan karena tarsius belitung tidak mengeluarkan panggilan seperti tarsius di Sulawesi yang mengeluarkan suara panggilan tertentu pada saat meninggalkan dan kembali ke pohon tidurnya.
Tabel 4 Perjumpaan tarsius berdasarkan jenis tumbuhan
Jenis Nama Ilmiah Famili Frekuensi %
Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 4 13.79
Kiras Garcinia hombroniana Clusiaceae 3 10.34
Simpur bini Dillenia suffruticosa Dilleniaceae 2 6.90
Betor Calophyllum sp. Clusiaceae 2 6.90
Jemang Rhodamnia cinerea Myrtaceae 2 6.90
Tebalik angin Mallotus barbatus Euphorbiaceae 2 6.90
Pelepak Hynocarpus sp. Flacourtiaceae 2 6.90
Kemantuyan Undet. Undet. 2 6.90
Samak Syzygium lepidocarpa Myrtaceae 2 6.90
Medang lendir Nothaphoebe umbelliflora Lauraceae 1 3.45
Rambutan Nephelium lappaceum Sapindaceae 1 3.45
Pulas Guioa pleuropteris Sapindaceae 1 3.45
Suji hutan Pandanus sp . Pandanaceae 1 3.45
Pelangas Aporosa aurita Euphorbiaceae 1 3.45
Pelawan Tristaniopsis obovata Myrtaceae 1 3.45
Mentenuk Commersonia bartramia Sterculeaceae 1 3.45
Seruk Schima wallichii K Theaceae 1 3.45
21
Gambar 11 a) Tarsius menggendong anaknya b) Tarsius melepas anaknya c) Anak tarsius.
Leaf Area Indeks (LAI)
LAI dapat didefinisikan secara sederhana sebagai jumlah area permukaan daun tiap unit area permukaan tanah dan memiliki bidang aplikasi dalam ekofisiologi, pemodelan keseimbangan air dan karakterisasi dari interaksi vegetasi dan atmosfer (Lang et al.1991). Rahmat (2012) menyatakan bahwa nilai LAI merupakan nilai penutupan tajuk yang diperoleh dari bawah tajuk. Semakin tinggi nilai LAI mengindikasikan bahwa penutupan tajuk semakin rapat sehingga intensitas cahaya yang masuk ke lantai hutan semakin sedikit karena terhalang oleh bagian daun. Nilai LAI yang digunakan pada penelitian ini adalah nilai LAI yang diregresikan dengan nilai NDVI yaitu Y= -0.93 + 7.25 NDVI dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 23.60% (P=0.007). Persamaan tersebut bermakna, kenaikan nilai NDVI sebesar satu unit maka akan menurunkan nilai LAI sebesar 0.09. Beberapa hasil foto LAI di beberapa lokasi perjumpaan tarsius disajikan pada Gambar 12.
Gambar 12 Foto hemispherical pada lokasi perjumpaan tarsius di beberapa tipe tutupan lahan (a) permukiman (b) hutan kering sekuder (c) pertanian lahan kering dan semak
(a) (b) (c)
(a)
22
Rentang nilai LAI yang dihasilkan dari regersi dengan NDVI adalah 0 – 3.27. Pengkelasan berdasarkan aturan Sturge’s diperoleh empat kelas nilai LAI, dan rentang nilai 1.64 - 2.46 memiliki frekuensi perjumpaan tarsius terbanyak yaitu 55 titik (73.33%). Pemilihan habitat tarsius dipengaruhi oleh LAI/tutupan tajuk (χ2h = 8.63, χ20.05,6 = 7.81). Rekapitulasi analisis pemilihan habitat secara
lengkap disajikan pada Lampiran 2. Hasil perhitungan indeks preferensi (w) menunjukkan bahwa rentang nilai LAI 0.83 - 1.64 (w=1.53) merupakan kelas nilai LAI yang disukai oleh tarsius, diikuti rentang nilai 1.64 - 2.46 (w=1.18). Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi disajikan pada Tabel 5.
Aragao et al. (2005) menyatakan bahwa kisaran nilai LAI pada tipe tutupan lahan berhutan antara 2.18 hingga 8.18. Hasil penelitian menujukkan bahwa tarsius menggunakan area yang cenderung terbuka untuk melakukan aktivitasnya. Area terbuka lebih banyak digunakan tarsius sebagai area mencari pakan. Pada area yang cenderung terbuka, akan memudahkan tarsius untuk menangkap mangsanya terutama pakan serangga (Wirdateti 2005). Sumber pakan tarsius banyak terdapat di area yang cenderung terbuka karena dengan kondisi terbuka banyak semak yang menjadi habitat bagi pakan tarsius (serangga). Erawati & Kahono (2010) menyatakan bahwa area dengan tumbuhan sekunder (semak, rumput, belukar) akan mengundang berbagai jenis serangga.
Tabel 5 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel LAI
Kelas LAI
23
Gambar 13 Kerapatan vegetasi tiap tingkat pertumbuhan
Sebanyak 39 jenis tumbuhan ditemukan pada tingkat pohon. Karet (Hevea brasiliensis) memiliki kerapatan tertinggi 10 ind/ha diikuti seruk (Schima wallichii) 4 ind/ha. Sepuluh jenis vegetasi tingkat pohon dengan kerapatan tertinggi disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Sepuluh jenis vegetasi tingkat pohon yang memiliki kerapatan tertinggi di lokasi penelitian
Nama Jenis Nama Ilmiah Famili Jumlah
Kerapatan (ind/ha)
Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 58 10
Seruk Schima wallichii Theaceae 24 4
Betor Calophyllum sp. Clusiaceae 13 3
Cempedak Artocarpus integer Moraceae 11 2
Mensira Ilex cymosa Aquifoliaceae 10 2
Kabal Lithocarpus blumeanus Fagaceae 9 2
Mentepung Vernonia arborea Asteraceae 9 2
Saga Ormosia bancana Fabaceae 9 2
Samak Syzygium lepidocarpa Myrtaceae 9 2
Mangga Mangifera indica Anacardiaceae 4 1
Sengon Paraserianthes falcataria Fabaceae 4 1
Pada tingkat tiang ditemukan 51 jenis tumbuhan dengan karet (Hevea brasiliensis) memiliki kerapatan yang paling tinggi 67 ind/ha diikuti seruk 63 ind/ha. Sepuluh jenis vegetasi tingkat tiang dengan kerapatan tertinggi di sajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Sepuluh jenis vegetasi tingkat tiang yang memiliki kerapatan tertinggi di lokasi penelitian
Nama Jenis Nama Ilmiah Famili Jumlah
Kerapatan (ind/ha)
Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae 100 67
Seruk Schima wallichii Theaceae 95 63
Mensira Elaeocarpus floribundum Elaeocarpaceae 45 30
Betor Calophyllum sp. Clusiaceae 43 29
Samak Syzygium lepidocarpa Myrtaceae 32 21
Kiras Garcinia hombroniana Clusiaceae 24 16
Pulas Guioa pleuropteris Sapindaceae 17 11
Cempedak Artocarpus integer Moraceae 15 10
Pelepak Hynocarpus sp. Flacourtiaceae 11 8
Jemang Rhodamnia cinerea Myrtaceae 10 7
Saga Ormosia bancana Fabaceae 10 7
24
Komposisi vegetasi tingkat pancang terdiri dari 73 jenis yang didominasi oleh jenis betor (Calophyllum sp.) 981 ind/ha diikuti kemantuyan (Undet.) sebanyak 768 ind/ha. Sepuluh jenis tumbuhan vegetasi tingkat pancang dengan kerapatan tertinggi disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Sepuluh jenis vegetasi tingkat pancang yang memiliki kerapatan tertinggi di lokasi penelitian
Nama Jenis Nama Ilmiah Famili Jumlah
Kerapatan (ind/ha)
Betor Calophyllum sp. Clusiaceae 368 981
Kemantuyaan Undet. Undet. 288 768
Kiras Garcinia hombroniana Clusiaceae 249 664
Jemang Rhodamnia cinerea Myrtaceae 235 627
Pelawan Tristaniopsis obovata Myrtaceae 189 504
Nasi-nasi Syzygium buxifolium. Myrtaceae 173 461
Samak Syzygium lepidocarpa Myrtaceae 142 379
Sesala Eurya nitida Theaceae 139 371
Suji Pandanus sp . Pandanaceae 131 349
Pelepak Hynocarpus sp. Flacourtiaceae 122 325
Komposisi vegetasi tingkat semai terdiri dari 61 jenis yang didominasi oleh jenis betor (Calophyllum sp) 600 ind/ha diikuti jemang (Rhodamnia cinerea)
483 ind/ha. Sepuluh jenis vegetasi tingkat semai dengan kerapatan tertinggi disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Sepuluh jenis vegetasi tingkat semai yang memiliki kerapatan tertinggi di lokasi penelitian
Nama Jenis Nama Ilmiah Famili Jumlah
Kerapatan (ind/ha)
Betor Calophyllum sp. Clusiaceae 36 600
Jemang Rhodamnia cinerea Myrtaceae 29 483
Kemantuyan Undet. Undet. 28 467
Seruk Schima wallichii Theaceae 24 400
Nasi-nasi Syzygium buxifolium Myrtaceae 23 383
Pulas Guioa pleuropteris Sapindaceae 23 383
Suji Pandanus sp . Pandanaceae 23 383
Samak Syzygium lepidocarpa Myrtaceae 21 350
Pelawan Tristaniopsis obovata Myrtaceae 20 333
Kiras Garcinia hombroniana Clusiaceae 19 317
Nilai kerapatan vegetasi di lokasi penelitian cenderung rendah jika dibandingkan dengan penelitian tarsius Sulawesi oleh Amnur (2010) bahwa kerapatan vegetasi di Blok Parang Tembo pada tingkat pohon 383 ind/ha, tingkat tiang 1467 ind/ha, tingkat pancang 10667 ind/ha dan tingkat semai 89.17 ind/ha. Hal ini disebabkan karena secara umum ekosistem hutan yang tumbuh di daratan Pulau Belitung adalah ekosistem hutan kerangas (Oktavia 2014). Hutan kerangas tumbuh di atas tanah podsol, tanah pasir kuarsa miskin hara dan memiliki pH rendah (Brunig 1974, Whitmore 1984, Whitten et al. 1984, MacKinnon et al. 1996). Kondisi demikian menyebabkan vegetasi di atasnya sulit untuk bertumbuh.
25 semai. Kondisi hutan lahan kering sekunder di lokasi penelitian dihat dilihat pada Gambar 14a. Di tipe tutupan pertanian lahan kering dan semak sebagaian besar didominasi oleh tumbuhan tingkat pancang dan semai. Masyarakat banyak memanfaatkan tumbuhan pada tingkat pohon dan tiang untuk membuat bahan bangunan atau untuk tanggul (ajir) lada. Tumbuhan yang banyak ditebang masyarakat seperti pelawan (Tristaniopsis obovata), seruk (Schima wallichii), betor (Calophyllum sp.), kabal (Lithocarpus blumeanus) dan lain-lain. Kondisi hutan sekunder di lahan perkebunan masyarakat dapat dilihat pada Gambar 14b.
Gambar 14 Kondisi hutan di (a) HL Gunung Tajam (b) perkebunan masyarakat. Keberadaan satwa lain
Hasil identifikasi berdasarkan perjumpaan langsung, tanda sekunder/ jejak, serta berdasarkan informasi dari masyarakat ditemukan berbagai jenis satwa antara lain : ular sanca (Pythonreticulatus), ular kobra (Naja sputatrix), ular viper pohon (Trimeresurus alborabis), biawak (Varanus salvator), kadal (Mabouya multifasciata), tokek (Gekko gecko), cicak hutan (Hemidactylus frenatus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Trachypitechus cristatus), musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus), kancil (Tragulus javanicus), rusa
(Muntiacus muntjak), kucing hutan (Felis bengalensis), kelelawar (ordo chiroptera), burung hantu (Phodilus badius) dan (Bubo sumatranus), burung gagak (Corvus enca), burung merbah (Pycnonotus goiavier), burung madu (Cinnyris jugularis), elang ular bido (Spilornis cheela), alap-alap (Falco severus) serta beberapa jenis kupu-kupu. Satwa-satwa tersebut yang teridentifikasi menjadi predator tarsius adalah ular, burung hantu dan musang. Hal ini ditandai dengan lokasi yang terdapat satwa predator tidak ditemukan adanya tarsius. Pada saat pengambilan data dijumpai tarsius yang meloncat di sekitar pohon pada waktu sore dikarenakan terdapat ular sanca di pohon tersebut. Kompetitor tarsius yang teridentifikasi di lokasi penelitian adalah tokek. Tokek menjadi kompetitor dikarenakan tokek aktif pada malam hari dan juga memakan serangga yang ada di pohon. Satwa yang menjadi mangsa tarsius selain serangga yaitu cicak hutan dan burung madu (Gambar 15).
26
Gambar 15 Tarsius memakan (a) burung madu (b) cicak hutan Karakteristik variabel fisik habitat
Ketinggian tempat ditemukannya tarsius di atas permukaan laut (m dpl)
Salah satu komponen fisik habitat yang dapat mempengaruhi kehidupan satwaliar termasuk tarsius adalah ketinggian tempat. Pulau Belitung berada di dataran yang rendah. Puncak tertinggi di Pulau Belitung hanya sekitar 500 m dpl yang terdapat di Gunung Tajam, sedangkan ketinggian di lokasi penelitian berada pada rentang 1– 493 m dpl. Hasil penelitian diperoleh bahwa faktor ketinggian tempat mempengaruhi tarsius dalam memilih habitat (χ2
h = 14.77, χ20.05,6 =12.59)
(Lampiran 2). Tarsius menyukai habitat dengan ketinggian rendah 71 – 142 m dpl (w=1.26) diikuti 1-71 m dpl (w= 1.18) (Tabel 10).
Tabel 10 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel ketinggian tempat ditemukannya tarsius
13505 100.00 75.00 100.00 2.44 1.00
Tarsius dapat hidup pada ketinggian yang bervariasi tergantung pada jenisnya, mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 2200 m dpl (Supriatna & Wahyono 2000). Di lokasi penelitian tarsius menyukai lokasi dataran rendah karena ketersediaan pakan lebih banyak dibandingkan lokasi di dataran tinggi. Bismark (2009) dalam Hadinoto (2012) menyatakan bahwa keberadaan suatu spesies di suatu tempat tergantung dari adanya sumber pakan dan kondisi habitat yang sesuai. Dataran tinggi biasanya mempunyai keanekaragaman dan kelimpahan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan dataran rendah (Wolda 1983). Dataran tinggi di lokasi penelitian merupakan puncak tertinggi Pulau Belitung dengan status kawasan hutan lindung yang tutupan lahannya adalah hutan lahan kering sekunder,
27 sedangkan pada dataran rendah sebagian besar tutupan lahannya area pertanian lahan kering dan semak. Oleh karena itu, kuantitas pakan lebih banyak ditemukan di dataran rendah. Komposisi penggunaan lahan di dataran rendah yang meliputi hutan sekunder, berbagai perkebunan warga dan semak, diduga menyebabkan lebih banyak serangga. Erawati & Kahono (2010) menyatakan bahwa keanekaragaman serangga berkorelasi positif dengan tingkat kompleksitas lingkungannya. Lingkungan yang lebih kompleks (jenis tumbuhannya, iklim, ekosistemnya, dan landscape) biasanya memiliki keanekaragaman serangga yang lebih tinggi.
Kelas kelerengan (%)
Pembagian kelas kelerengan didasarkan pada SK Menteri Pertanian No.837/Kpts/II/1980 tentang kriteria dan tata cara penetapan Hutan lindung yang terbagi menjadi 5 kelas. Lokasi penelitian berada di berbagai kelas kelerengan tersebut, namun tarsius hanya dijumpai di kelas kelerengan datar dan landai (Tabel 11). Tarsius diduga melakukan pemilihan terhadap kelas kelerengan, terlihat dari hubungan yang signifikan antara sebaran tarsius dengan kelas kelerengan (χ2
h = 43.56, χ20.05,5 =11.07) (Lampiran 2). Hasil analisis preferensi
menunjukkan bahwa tarsius menyukai kelerengan datar (w=1.68) diikuti kelas kelerengan landai (w=1.05) (Tabel 11).
Tabel 11 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel kelas kelerengan
0-8 6741 49.92 63.00 84.00 1.68 0.62
8-15 2067 15.30 12.00 16.00 1.05 0.38
>15 4697 34.78 0.00 0.00 0.00 0.00
13505 100.00 75.00 100.00 2.73 1.00
Wirdateti & Dahruddin (2008) menyatakan bahwa tarsius di Sulawesi memanfaatkan kelerengan yang terjal sebagai strategi anti predator. Kondisi sebaliknya terjadi pada tarsius di Belitung. Tarsius belitung menyukai area yang datar karena keberadaan predator lebih sedikit. Di area yang datar di manfaatkan masyarakat untuk berkebun, sehingga terdapat campur tangan masyarakat dalam memburu satwa yang dianggap berbahaya oleh masyarakat. Satwa-satwa berbahaya tersebut di alam menjadi peredator tarsius. Di dataran yang berlereng terjal merupakan area hutan lindung yang tidak memperbolehkan adanya perburuan. Menurut Amnur (2010) kondisi yang berlereng memudahkan lokomosi tarsius, namun di lokasi penelitian lokomosi tarsius didukung oleh kondisi tajuk yang cenderung terbuka. Wirdateti (2005) menyatakan pada area yang cenderung terbuka, akan memudahkan tarsius untuk menangkap mangsanya terutama pakan serangga.
Suhu permukaan (0C)
28
memberikan dampak buruk bagi satwa tersebut seperti dalam penelitian Kiroh (2009) di penangkaran (ex-situ), suhu dan kelembaban yang tidak sesuai dapat mengakibatkan ekor tarsius kasar dan dapat menimbulkan luka-luka pada bagian tangan dan kaki. Rentang suhu di lokasi penelitian berada pada kisaran suhu maksimum 270C dan suhu minimum 200C serta memasuki musim hujan. Sebaran tarsius belitung terbanyak berada pada kelas suhu 24 - 250C sebanyak 47 titik, diikuti 23 - 240C sebanyak 26 titik dan 25 – 260C sebanyak 2 titik. Suhu permukaan diduga mempengaruhi tarsius dalam memilih habitat (χ2h = 60.38,
χ2
0.05,6 =12.59) (Lampiran 2). Tarsius menyukai habitat pada kelas suhu 24 - 250C
(w=2.52) (Tabel 12). Rentang suhu 24 - 25 0C diduga merupakan suhu yang nyaman bagi tarsius. Lafferty (2009) menyatakan bahwa semua spesies memiliki batas toleransi suhu terdingin dan suhu terpanas. Suhu udara yang umum digunakan oleh mamalia pada hutan hujan tropis adalah 25 °C (Clarke et al. 2010).
.Tabel 12 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel suhu
Kelas Suhu
Jarak Dari Tepi Hutan
Pemilihan habitat oleh tarsius dipengaruhi oleh jarak dari tepi hutan (χ2h =
34.67, χ20.05,6 =12.59) (Lampiran 2). Hasil analisis preferensial diketahui tarsius
menyukai habitat yang cenderung dekat dengan tepi hutan, terlihat dari nilai indeks Neu pada jarak dari tepi hutan 0 – 437 m sebesar w=1.67 dan pada jarak 437- 874 m sebesar w=1.47. Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak dari tepi hutan disajikan pada Tabel 13.
29 Tabel 13 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak dari
tepi hutan
874 -1311 2499 18.50 9.00 12.00 0.65 0.17
1311 - 1748 2040 15.11 1.00 1.33 0.09 0.02
1748 - 3059 1603 11.87 0.00 0.00 0.00 0.00
13505 100.00 75.00 100.00 3.88 1.00
Jarak dari Jalan
Sebaran tarsius berdasarkan jarak dari jalan menunjukkan bahwa seluruh titik keberadaan tarsius berada pada jarak 0 - 403 m (100%) dari jalan (Tabel 14). Hasil analisis pemilihan habitat menunjukkan jarak dari jalan mempengaruhi tarsius dalam memilih habitat (χ2h = 163.78, χ20.05,6 =12.59) (Lampiran 2).
Tabel 14 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak dengan jalan
30
Gambar 16 (a) dan (b) kondisi jalan di lokasi penelitian.
Jarak dari Permukiman
Hasil intersect antara titik keberadaan tarsius dengan jarak dari permukiman, diketahui sebaran tarsius memiliki frekuensi terbanyak pada jarak 1849 - 3698 m sebesar 47%, diikuti 0 – 1849 m (25 %) dan 3698 – 5547 m (3%). Pemilihan habitat oleh tarsius dipengaruhi oleh jarak dari permukiman (χ2
h =
269.31, χ20.05,6 =12.59) (Lampiran 2). Tarsius menyukai habitat yang dekat dengan
permukiman yaitu pada jarak 0 – 1849 m (w=4.97) diikuti dengan jarak 1849 – 3698 m (w=4.67) (Tabel 15). Di lokasi penelitian tarsius tidak terganggu dengan keberadaan manusia. Masyarakat disekitar lokasi peneltian tidak memburu tarsius karena di sekitar lokasi penelitian terdapat objek wisata yang menjadikan tarsius sebagai salah satu daya tarik wisatanya, sehingga masyarakat tidak beranggapan bahwa tarsius adalah monyet hantu yang membawa sial. Selain itu, permukiman penduduk yang tidak padat dengan perkebunan di sekitarnya menyebabkan area permukiman menjadi salah satu habitat yang disukai oleh tarsius karena tersedianya pakan berupa serangga. Perkebunan di area permukiman memiliki kondisi yang hampir sama dengan perkebunan di tutupan pertanian lahan kering dan semak. Hal ini menjadikan sumber pakan tarsius juga melimpah seperti di tipe tutupan pertanian lahan kering dan semak.
Tabel 15 Rekapitulasi perhitungan indeks preferensi terhadap variabel jarak dari permukiman
1849 - 3698 1813 13.42 47.00 62.67 4.67 0.47
3698 - 5547 2587 19.16 3.00 4.00 0.21 0.02
5547 - 7395 8199 60.71 0.00 0.00 0.00 0.00
13505 100.00 75.00 100.00 9.85 1.00