• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Kepariwisataan Terhadap Kehidupan Masyarakat Sembahe (1980-1999)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Dampak Kepariwisataan Terhadap Kehidupan Masyarakat Sembahe (1980-1999)"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK KEPARIWISATAAN TERHADAP KEHIDUPAN

MASYARAKAT SEMBAHE (1980-1999)

SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN

O L E H

Lorense Harold Wilson Nim: 060706017

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

DAMPAK KEPARIWISATAAN TERHADAP KEHIDUPAN

MASYARAKAT SEMBAHE (1980-1999)

SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O

L E H

Lorense Harold Wilson Nim: 060706017

Pembimbing

Drs. Samsul Tarigan NIP 195811041486011002

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian

Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, Untuk melengkapi Salah satu syarat ujian sarjana Ilmu budaya

Dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Lembar Pengesahan Pembimbing Sripsi

DAMPAK KEPARIWISATAAN TERHADAP KEHIDUPAN

MASYARAKAT SEMBAHE (1980-1999)

Yang diajukan oleh:

Nama: Lorense Harold Wilson

Nim: 060706017

Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh:

Pembimbing

Drs. Samsul Tarigan

Tanggal 19 Desember 2012

NIP 195811041486011002

Ketua Departemen Sejarah

Drs. Edi Sumarno, M.Hum

Tanggal 19 Desember 2012

NIP 196409221989031001

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

PENGESAHAN :

Diterima oleh :

Paniltia ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra USU Medan

Pada : Tanggal : Hari :

FAKULTAS SASTRA USU Dekan

Drs. Syahron lubis, M.A Nip 195110131976031001

Panitia ujian

No. Nama Tanda Tangan

(5)

Lembar Pengesahan Ketua Departemen

Disetujui Oleh

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara

Medan

2012

Departemen Sejarah

Ketua Departemen

(6)

UCAPAN TRIMAKASIH

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah

menyertai dan senantiasa memberkati penulis dalam hidup ini, terutama pada saat

menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat, guna memperoleh sarjana

pada jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul

skripsi ini adalah “DAMPAK KEPARIWISATAAN TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT SEMBAHE (1980-1999)”.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, hal ini karena

keterbatasan pengetahuan penulis, kemampuan, pengalaman, maupun literatur yang dimiliki

penulis. Meski menghadapi berbagai tantangan, berkat usaha yang gigih dari penulis, dan

berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana

mestinya.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih yang

sebanyak-banyaknya kepada:

1. Ayahanda S. Barus dan Ibunda J.Br.Tarigan , yang senantiasa mengasihi saya sejak

lahir hingga saat ini, dan memberi dukungan dan kasih sayang yang tidak ternilai

harganya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

2. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Sumatera Utara beserta staf dan pegawainya.

3. Bapak Drs. Edi Sumarno M. Hum selaku Ketua Departemen Sejarah FIB-USU dan

(7)

4. Bapak DR. Budi Agustono selaku dosen wali saya,Terima kasih atas dukungan dan

bimbingan yang bapak berikan selama ini.

5. Bapak Drs. Samsul Tarigan, selaku dosen pembimbing dalam penulisan ini yang

telah memberikan inspirasi, semangat, dorongan, dan telah banyak meluangkan

waktu untuk membimbing penulis. Kebaikan Bapak senantiasa penulis ingat, semoga

Tuhan memberikan berkatNya kepada Bapak sekeluarga.

6. Bapak dan ibu dosen serta staf administrasi pendidikan Departemen Sejarah

(B˜Ampera) yang telah banyak membantu penulis mulai masa awal perkuliahan

hingga dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Seluruh Staf pengajar Departemen Sejarah yang tidak dapat saya sebutkan satu

persatu. Terimakasih atas ilmu yang telah engkau ajarkan kepada saya, sehingga saya

bisa meraih gelar sarjana.

8. Seluruh Informan di Desa Sembahe yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu,

Terimakasih atas waktu dan kesempatan untuk memberikan informasi kepada penulis

sehingga tulisan ini terselesaikan.

9. Kakak saya yang paling Cantik’S Meifrina Br.Barus dan Silih saya Danta Manik

Yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada saya, Terima kasih Kak

semoga Tuhan menyertai kakak dan Keluarga.

10. Bulang S.Tarigan Terimakasih atas didikan dan arahan yang bulang berikan mulai

saya dari kecil sampai sekarang

11. Bibi Uda dan bapak Uda Terimakasih atas dukungannya yang selalu memperhatikan

dan mengingatkan.

12. Kawan – kawan seperjuangan Pahlawan Revolusi “06 (Hendra Sonang, Dody,

(8)

13. Kawan – kawan Pejuang yang tidak pernah letih untuk berada digarda depan,” Brad,

Nando, Jhon, Mas Ramlan, Haradongan, Shaka, Gabriel, Uye, Poly, Moga Muda.

14. “Clara Terbit Tabita” Terima Kasih atas dukungan, perhatian dan kasih sayang yang

selalu senantiasa menemani.

Akhirnya untuk semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak seluruhnya

disebutkan dalam penyusunan skripsi ini, saya mengucapkan banyak terima kasih. Semoga

semua kebaikan yang penulis terima dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Medan,

Penulis

(9)

ABSTRAK

Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan

melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat

setempat. Bahkan pariwisata dikatakan mempunyai energi dobrak yang luar biasa,

yang mampu membuat masyarakat setempat mengalami metamorpose dalam

berbagai aspeknya. Dampak sosial- pariwisata terhadap kehidupan masyarakat lokal

merupakan suatu pekerjaan yang sangat sulit, terutama dari segi metodologis.

Masyarakat Sembahe sebelum tahun 1970-an adalah masyarakat yang bermata

pencarian sebagai petani. Berdagang dan beternak. Akan tetapi pekerjaan ini

ternyata kurang bisa meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat, mengingat kondisi

lahan pertanian berbukit-bukit. Salah satu kendala yang hampir tidak dapat diatasi

adalah banyaknya pengaruh yang ikut berperan di dalam mempengaruhi perubahan

yang terjadi, seperti pendidikan, media massa, transportasi, komunikasi, maupun

sektor-sektor pembangunan lainnya menjadi wahana dalam perubahan

sosial-budaya, serta dinamika internal masyarakat itu sendiri. Hal ini adalah karena

pariwisata terjalin erat dengan berbagai aktivitas lain, yang mungkin pengaruhnya

lebih besar, atau sudah berpengaruh jauh sebelum pariwisata berkembang.

Demikian juga mengenai penilaian tentang positif dan negatif, sangat sulit untuk

digeneralisasi untuk suatu masyarakat, karena penilaian positif atau negatif tersebut

sudah merupakan penilaian yang mengandung ‘nilai‘, sedangkan nilai tersebut tidak

(10)

DAFTAR ISI

UCAPAN TERIMAKASIH………i

ABSTRAK…………..……….……….…………..ii

DAFTAR ISI………..……….…...iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……….………1

1.2 Rumusan Masalah………....………...……….7

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian……….………...……7

1.4 Tinjauan pustaka………..………...….8

1.5 Metode Penelitian………..……….…10

BAB II GAMBARAN UMUM PENELITIAN 2.1 Topografi Desa Sembahe………….……….………..13

2.2 Kondisi Masyarakat………..…..16

2.2.1 Masyarakat Berdasarkan Kelompok Umur………...16

2.2.2 Masyarakat Berdasarkan Mata Pencaharian……...18

(11)

2.2.4 Masyarakat Berdasarkan Kepercayan………20

2.3 Sejarah Desa Sembahe Sebelum Terbentuknya Desa Sembahe…....21

2.3.1 Potensi Wisata………...25

BAB III SEJARAH TERBENTUKNYA PEMANDIAN SEMBAHE 3.1 Awal Terbentuknya Wisata Pemandian Sembahe………...28

3.2 Sarana dan Prasarana………...30

3.2.1 Transportasi………...32

3.2.2 Restoran dan Rumah Makan………33

3.2.3 Penginapan………...34

3.3 Dukungan Pemerintah Terhadap Pembangunan Pemandian Sembahe……….34

3.3.1 Pembangunan Infrastruktur………...38

BAB IV DAMPAK KEPARIWISATAAN SEMBAHE TERHADAP DESA SEMBAHE 4.1 Aspek Sosial Ekonomi……….………….41

4.1.1 Sektor Perdagangan………...………44

(12)

4.2.1 Komersialisasi Sosial Budaya………47

4.2.2 Pemanfaatan Lingkungan Hidup………..…48

4.2.4 Pergaulan Masyarakat………...51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan………..56

5.2 Saran………...……….59

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR INFORMAN

DAFTAR PERTANYAAN

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel I Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kelompok Umur………..17

Tabel II Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kelompok

Mata Pencaharian……….18

Tabel III Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kelompok

Tingkat Pendidikan………..20

Tabel IV Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kepercayaan………..21

(14)

ABSTRAK

Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan

melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat

setempat. Bahkan pariwisata dikatakan mempunyai energi dobrak yang luar biasa,

yang mampu membuat masyarakat setempat mengalami metamorpose dalam

berbagai aspeknya. Dampak sosial- pariwisata terhadap kehidupan masyarakat lokal

merupakan suatu pekerjaan yang sangat sulit, terutama dari segi metodologis.

Masyarakat Sembahe sebelum tahun 1970-an adalah masyarakat yang bermata

pencarian sebagai petani. Berdagang dan beternak. Akan tetapi pekerjaan ini

ternyata kurang bisa meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat, mengingat kondisi

lahan pertanian berbukit-bukit. Salah satu kendala yang hampir tidak dapat diatasi

adalah banyaknya pengaruh yang ikut berperan di dalam mempengaruhi perubahan

yang terjadi, seperti pendidikan, media massa, transportasi, komunikasi, maupun

sektor-sektor pembangunan lainnya menjadi wahana dalam perubahan

sosial-budaya, serta dinamika internal masyarakat itu sendiri. Hal ini adalah karena

pariwisata terjalin erat dengan berbagai aktivitas lain, yang mungkin pengaruhnya

lebih besar, atau sudah berpengaruh jauh sebelum pariwisata berkembang.

Demikian juga mengenai penilaian tentang positif dan negatif, sangat sulit untuk

digeneralisasi untuk suatu masyarakat, karena penilaian positif atau negatif tersebut

sudah merupakan penilaian yang mengandung ‘nilai‘, sedangkan nilai tersebut tidak

(15)

DAMPAK KEPARIWISATAANTERHADAP KEHIDUPAN

MASYARAKAT SEMBAHE (1980-1999)

A. Latar Belakang

Kabupaten Deli serdang adalah salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara. Prioritas utama Pemerintah Kabupaten Deli Serdang adalah menjadikan sektor pariwisata dalam pembangunan kepariwisaatan pada objek dan daya tarik wisata, serta panggilan objek wisata. Perkembangan dunia pariwisata telah mengalami berbagai perubahan baik perubahan pola, bentuk dan sifat kegiatan, serta dorongan untuk melakukan perjalanan, cara berpikir, maupun sifat perkembangan itu sendiri.1

Perkembangan kepariwisataan di Indonesia khususnya bagi pariwisata Kabupaten Deli Serdang yang mengelola Pemandian Sembahe, dimana keluarnya dukungan pemerintah dalam pengembangan kepariwisataan sejak tahun 1978 yang di tuangkan dalam TAP MPR No IV/MPR/1978, yaitu bahwa pariwisata perlu di tingkatkan dan diperluas untuk meningkatkan penerimaan devisa, memperluas lapangan kerja, dan memperkenalkan kebudayaan. Pembinaan serta pengembangan pariwisata dilakukan dengan tetap memperhatikan terpeliharanya kebudayaan dan kepribadian nasional. Untuk itu perlu di ambil langkah-langkah dan

1

(16)

pengataturan yang terarah berdasarkan kebijakan yang terpadu, antara lain bidang promosi, penyedian fasilitas serta mutu, dan kelancaran pelayanan.

Pariwisata merupakan industri gaya baru yang mampu membuka perubahan dalam masyarakat. Perubahan yang terjadi dalam bidang sosial yaitu terjadi interaksi antara wisatawan dengan masyarakat yang dijumpai.Interaksi yang terjadi dapat membuka wawasan ataupun perkembangan zaman terhadap masyarakat daerah lainnya. Sosialisasi yang terjadi membawa pada dampak positif yaitu terbentuk integrasi antara masyarakat yang berbeda etnis.

Dalam pengembangan pariwisata yang telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta telah meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan dari satu daerah ke daerh lain. Kunjungan wisatawan akan merangsang interaksi sosial sengan penduduk sekitar tempat wisata dan merangsang tanggapan masyarakat sekitarnya sesuai dengan kemampuan mereka dalam beradaptasi baik di bidang perekonomian, kemasyarakatan maupun kebudayaan mereka.

(17)

Pembangunan ini dilakukan karena Desa sembahe mempunyai daya tarik yang layak dijual untuk dijadikan sebagai sumber devisa daerah. Daya tarik yang dimiliki sembahe adalah aliran Sungai yang berasal dari hutan.Pengelolaan Sungai Sembahe ini dimulai pada tahun 1980 yang dilakukan oleh pemerintah.Untuk menjaga pelestarian dan kebersihan, pemerintah menetapkan retribusi yang dikenakan kepada pengunjung.

Dimulainya pembangunan wisat alam Pemandian Sembahe sejak jalan masuk ke pemandian alam ini awalnya merupakan jalan Negara Medan-Berastagi, kemudian setelah rusak jembatan, Pemerintah Dinas PU Bina Marga meluruskan jalan ini ke hilir sungai. Setelah dipindahkan jalan dimaksud, kemudian ditatalah sungai ini menjadi tempat Pemandian Alam karena air sungai yang mengalir di sana sangat sejuk dan jernih serta panorama alamnya yang indah. Lokasi ini sangat diminati masyarakat umum dan hingga kini merupakan objek wisata alam yang paing ramai dikunjungi wisatawan.2

Untuk menambah daya tarik pemandian Sembahe terhadap wisatawan, pihak swasta dan pemerintah banyak melakukan perpaduan budaya seperti upacara selamat datang yaitu Mejuah-juah. Dampak kepariwisataan terhadap budaya masyarakat lokal yang terjadi adalah akulturasi dengan Etnis Jawa, Batak Toba, dan Minang.Bentuk akulturasi yang dimaksud adalah saling mengenalnya budaya antar etnis yang ada di desa Sembahe, contohnya perkawinan antar suku sehingga membentuk integrasi secara tidak langsung.

2

(18)

Pariwisata dengan segala aspek kehidupanyang terkait didalamnya akan menuntut konsekuensi dari terjadinya pertemuan dua budaya atau lebih yang berbeda, yaitu budaya para wisatawan dengan budaya masyarakat sekitar obyek wisata. Budaya-budaya yang berbeda dan saling bersentuhan itu akan membawa pengaruh yang menimbulkan dampak terhadap segala aspek kehidupan dalam masyarakat sekitar obyek wisata.

Pada hakekatnya ada empat bidang pokok yang di pengaruhi oleh usaha pengembangan pariwisata yaitu: ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup. Dampak positif yang menguntungkan dalam bidang ekonomi yaitu bahwa kegiatan pariwisata mendatangkan pendapatan devisa Negara ataupun terhadap pendapatan daerah dan terciptanya kesempatan kerja, serta adanya kemungkinan bagi masyrarakat di daerah tujuan wisata untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup mereka. Dampak positif yang lain adalah perkembangan atau kemajuan kebudayaan, terutama dalam unsur budaya teknologi dan system pengetahuan yang maju. Dampak negative dari perkembangan pariwisata tampak menonjol pada bidang sosial, yaitu pada gaya hidup baru masyarakat di daerah tujuan wisata. Gaya hidup ini meliputi perubahan sikap, tingkah laku, dan perilaku karenakontak langsung denganpara wisatawanyang berasal dari budaya berbeda.3

3

Nyoman S. Pendit. Ilmu Pariwisata “ Sebuah Pengantar Perdana”. Jakarta: PT. Pradana Paramita, 1990.hlm.

(19)

Parawisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung memberi, menyentuh dan melibatkan masyarakat sehingga membawa dampak terhadap masyarakat setempat.4 Pariwisata juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat antara lain sosial ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Selain itu industri pariwisata tidak hanya terikat pada atraksi wisata, tetapi juga terkait dengan industri lain, seperti perhotelan, restoran, angkutan darat dan produk-produk industri lainya.5

Dengan adanya perbaikan kondisi lingkungan sekitar Pemandian Sembahe maka kondisi lingkungan yang semula kumuh berubah menjadi bersih, nyaman dan terkendali sehingga menyebabkan para pengunjung tertarik dan nyaman untuk datang berwisata. Daerah-daerah yang berada di sekita Pemandian Semabahe mempunyai potensi untuk dikembangkan dan secara langsung ikut berpengaruh terhadap jumlah pengunjung. Daerah sekitar berkembang menjadi daerah yang padat kerja dalam pengertian masyarakat ikut menunjang dan berpartisipasi dalam memberikan pelayanan trasnportasi, telekomunikasi, rumah makan, souvernir, budidaya tanaman hias, dan munculnya home industri.

Muncul Pemandian Sembahe menjadi daerah wisata menjadi peralihan bagi masyarakat dari bertani menjadi pelaku industri jasa. Dengan peralihan sumber mata pencaharian ini, bagi masyarakat Desa Sembahe akan terbuka pola piker yang baru

4

I Gede Pintana & Putu G. Gayatri, Sosiologi Pariwisata, kajian Sosiologi Terhadap Struktur, Sistem dan

Dampak-dampak Pariwisata. Yogyakarta: ANDI OFFSET.2005.hlm.109.

5

Endang Tjitroresmi.Peran Industri Kepariwisataan Dalam Perekonomian Nasional dan Daerah. Jakarta: P2E-LIPI,2003.hlm.105.

(20)

untuk mengikuti perkembangan zaman yang harus dipelajari, melalui dukungan pemerintah untuk meningkatkan penatalayan terhadap para wisatawan (pengunjung).

Adanya obyek wisata Pemandian Sembahe menimbulkan kecenderungan terjadinya saling pengaruh mempengaruhi antara wisatawan dengan masyarakat setempat.Pengaruh disini merupakan daya yang ada tau yang timbul dari sesuatu, yaitu obyek wisata tersebut terhadap kehidupan masyarakat Desa Sembahe.

Akan tetapi dampak negatif hadir kepariwisataan ini terhadap masyarakat yang sekaligus menjadi faktor penarik yang terselubung adalah hadirnya tempat prostitusi di tengah kehidupan masyarakat. Dengan adanya tempat prostitusi maka akan mempengaruhi satu sama lain yaitu dibidang social mempengaruhi prilaku oarng tua terlebih generasi muda, dibidang ekonomi yaitu menambah pendapatan masyarakat, dan di dalam bidang budaya dimana pekerja seks komersial (PSK) banyak berasal dari luar daerah yang mempengaruhi kebiasaan masyarakat seperti cara berpakaian.

(21)

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat di ungkapkan permasalahan dari adanya wisata di kawasan Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang dan pengembangannya dari tahun 1980 sampai dengan tahun 1999 yaitu:

1. Faktor yang mendukung kawasan Desa Sembahe menjadi kawasan wisata ? 2. Bagaimana proses terbentuknya kawasan Desa Sembahe menjadi kawasan

wisata ?

3. Bagaimana dampak wisata Pemandian Sembahe kawasan Desa Sembahe ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian

Segala sesuatu yang dilakukan manusia tentunya mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah terbentuknya wisata Pemandian Sembahe

2. Untuk mengetahui apa dampak setelah terbentuknya Pemandian Sembahe menjadi daerah wisata

3. Untuk mengetahui dampak wisata pemandianSembahe terhadap kawasan desa Sembahe.

(22)

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk memperluas cakrawala ilmu pengetahuan bagi mahasiswa secara umum dan ilmu sejarah secara khususnya tentang wisata Pemandian Sembahe.

2. Peneliatian diharapkan bermanfaat untuk masyarakat khususnya bagi masyarakat Desa Sembahe agar dapat meningkatkat pelayanan wisata terhadap pengunjung.

3. Salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana.

D. Tinjauan Pustaka

Kepariwisataan yang bentuknya industri jasa membawa pemilik baru dalam kehidupan masyarakat Sembahe.Untuk meneliti polemik ini maka perlu dibuat buku acuan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di masyarakat Desa Sembahe. Adapun buku yang berkaitan dengan judul penelitian ini :

Pustaka pertama yang digunakan adalah buku Gamal Suwantoro yang berjudul Dasar- Dasar Pariwisata.dalam buku ini diuraikan tentang gambaran konsep awal displin ilmu pariwisata yang pada akhirnya akan menuju pada pola pengembangan pariwisata. Buku ini membahas tentang perencanaan produk wisata yang tidak lepas dari organisasi-organisasi pariwisata yang bertujuan untuk pengembangan pariwisata dengan melihat potensi pasaran wisata.

(23)

bentuk dan komponen perjalanan wisata, perencanaan produk wisata , sebagai kegiantan ekonomi sampai dengan kebijaksanaan pengembangan pariwisata di Indonesia. Buku ini dapat memberikan acuan dan dapat digunakan sebagai pelengkap.

Pustaka yang kedua yang digunakan adalah Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya yang dituis oleh James J.Spillane. Dalam buku ini diuraikan tentang apa sebenarnya pariwisata itu dan mengapa parawisata itu penting. Pariwisata dikatakan sebagai industri yang menarik dengan sifat-sifatnya yang khusus dan konsep-konsep pokok dari bidang ekonnomi yang mempengaruhi industri yang bersangkutan.Menurutnya pariwisata digolongkan sebagai industri ketiga ( tertiaryindustry) yang cukup penting perananya dalam ikut menetapkan kebijaksanaan yang berkaitan dengan penyelidikan kesempatan kerja. Aspek lain yang di anggap penting dalam kegiatan ekonomi ialah membangun daerah melalui kegiatan pariwisata. Pustaka ini juga membahas tentang berbagai hal yang menyangkut masalah kepariwisataan secara sistematis dan mengetengahkan perkembangan industri pariwisata, aspek-aspek ekonomis pariwisata, memberikan evaluasi penilaian terhadap pariwisata serta kemungkinan-kemungkinan perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi. Buku ini dapat memberikan acuan dan dapat digunakan sebagai pembanding.

Acuan yang ketiga adalah buku dari I Gee Pitana, Putu Gayanti yaitu

(24)

kepariwisataan yang dikembangkan adalah kepariwisataan budaya karena sebagaimana disebutkan pariwisata budaya mempunyai ciri yaitu pariwista budaya melibatkan masyarakat local secara lebih luas dan lebih intensif karena kebudayaan yang menjadi daya tarik utama pariwisata melekat pada masyarakat itu sendiri.

Kelebihan buku ini adalah ekspose kebudayaan lokal pariwisata secara intensif juga berpeluang melunturkan keaslian kebudayaan dan keasliannya hanya bias didaptkan pada back stage. Kegiatan ini akan mendorongwisatwan untuk mencari keaslian. Relevansi dengan penulisan skripsi ini adalah pariwisata suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat dan pariwisata disekitarnya.

Skripsi Zetro Sinaga yang berjudul Pengaruh Kepariwisataan Terhadap Kehidupan Masyarakat Parapat ( 1970 – 1980) sebagai acuan untuk mendukung penelitian tentang Kepariwisataan Terhadap Masyarakat Sembahe tahun 1980 – 1999 dengan cara membandingkan.

E. Metode Penelitian

(25)

maslah dengan menggunakan data atau peninggalan-peninggalan masa lalu untuk memahami peristiwa yang terjadi, dan untuk merenkontruksi peristiwa masa lampau secara imajinatif.6

Untuk keperluan analisis, peneliti mencari sumber-sumber acuan utama, yaitu sumber-ssumber yang diduga memuat data yang relavan tau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan menelan sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkup penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal ( waktu ) dan spasial ( tempat/wilayah)objek penelitian.

Metode penelitian yang digunakan untuk mencari informasi tentang mulai dan terbentuknya Pemandian Sembahe yang mempunyai pengaruh luas terhadap dalam masyarakat Desa Sembahe adalah metode library research (penelitian pustaka) dan

field research ( studi lapangan).

Penelitian sejarah yang dasarnya adalah penelitian terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu heuristic, kritik, interpretasi, dan historiografi.

a. Heuristik

Kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan.Penelusuran sumber-sumber sejarah terdiri dari arsip, dokumen, buku, majalah, suratkabar,

6

(26)

dan lain-lain.Berdasarkan sifatnya, sumber sejarah terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder.

b. Kritik Sumber

Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukan sembarangan, tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus di nilai melalui kritik ekstern dan kritik intern.Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu asli, turunan, atau palsu.Kritik ekstern ini menilai ke akuratan sumber.Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber.Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data, sehingga diperoleh fakta.

c. Interpretasi

Setelah fakta untuk mengungkapkan dan membahas yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interprestasi, yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atsa fakta harus dilandasi dengan sikap obyektif.

d. Historiografi

(27)

BAB II

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

II.1. Topografi Desa Sembahe

Kabupaten Deli Serdang dikenal sebagai salah satu daerah dari 25 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup menjanjikan.

Dulu wilayah ini disebut Kabupaten Deli dan Serdang, dan pemerintahannya berpusat di Kota Medan. Memang dalam sejarahnya, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah ini terdiri dari dua pemerintahan yang berbentuk kerajaan (kesultanan) yaitu Kesultanan Deli berpusat di Kota Medan, dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan.

Dulu daerah ini mengelilingi tiga “daerah kota madya” yaitu kota Medan yang menjadi ibukota Provinsi Sumatera Utara, kota Binjai dan kota Tebing Tinggi disamping berbatasan dengan beberapa Kabupaten yaitu Langkat, Karo, dan Simalungun, dengan total luas daerah 6.400 KM2 terdiri dari 33 Kecamatan dan 902 Kampung.

(28)

lalu meminta/mengadakan perluasan daerah, sehingga luasnya berkurang menjadi 4.397,94 KM2.

Diawal pemerintahannya Kota Medan menjadi pusat pemerintahannya, karena memang dalam sejarahnya sebagian besar wilayah kota Medan adalah “tanah Deli” yang merupakan daerah Kabupaten Deli Serdang. Sekitar tahun 1980-an, pemerintahan daerah ini pindah ke Lubuk Pakam, sebuah kota kecil yang terletak di pinggir jalan lintas Sumatera lebih kurang 30 kilometer dari Kota Medan yang telah ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Deli Serdang.

Tahun 2004 Kabupaten ini kembali mengalami perubahan baik secara Geografi maupun Administrasi Pemerintahan, setelah adanya pemekaran daerah dengan lahirnya Kabupaten baru Serdang Bedagai sesuai dengan U.U. No. 36 Tahun 2003, sehingga berbagai potensi daerah yang dimiliki ikut berpengaruh.

Dengan terjadinya pemekaran daerah, maka Luas wilayahnya sekarang menjadi 2.497,72 KM2 terdiri dari 22 kecamatan dan 403 desa/kelurahan, yang terhampar mencapai 3.34 persen dari luas Sumatera Utara.

(29)

Dalam gerak pembangunannya, motto Kabupaten Deli Serdang yang tercantum dalam Lambang Daerahnya adalah “Bhinneka Perkasa Jaya” yang memberi pengertian; dengan masyarakatnya yang beraneka ragam suku, agama, ras dan golongan bersatu dalam kebhinnekaan secara kekeluargaan dan gotong royong membangun semangat kebersamaan, menggali dan mengembangkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya sehingga menjadi kekuatan dan keperkasaan untuk mengantarkan masyarakat kepada kesejahteraan dan kejayaan sepanjang masa.

Kabupaten Deli Serdang secara geografis, terletak diantara 2°57’ - 3°16’ Lintang Utara dan antara 98°33’ - 99°27’ Bujur Timur, merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan Palung Pasifik Barat dengan luas wilayah 2.497,72 Km2 Dari luas Propinsi Sumatera Utara, dengan batas sebagai berikut : - Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Sumatera.- Sebelah Selatan berbatasan dergan Kabupaten Karo. - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat.

Desa Sembahe terletak ± 800 meter diatas permukaan laut (DPL), desa ini juga mempunyai luas sekitar 300 hektar.Daerah ini dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar satu jam dari Medan (Ibu Kota Sumatera Utara)7

7

Kecamatan Sembahe, 1985. Gambaran Daerah Sembahe.

(30)

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bingkawan - Sebelah Selatan berbatasan dengan Buah Nabar - Sebelah Timur berbatasan dengan Batu Mbelin - Sebelah Barat berbatasan dengan Buah Nabar

II.2. Kondisi Masyarakat

Masyarakat di sekitar kawasan objek wisata Sembahe adalah mayoritas karo, yang terdiri dari beberapa marga yaitu :ketaren, Tarigan, Sembiring, Karo-Karo, Parangin-angin dan Ginting. Pembuka desa sembahe pertama kali adalah orang yang bermarga ketaren dan tarigan.Orang yang pertama membuka lahan ialah Raja Ketaren.

Masyarakat Sembahe juga mempunyai kekerabatan yang sangat erat dengan sesama warga Sembahe.Dan beberapa informan menyatakan masyarakat disembahe mempunyai isme yang sangat kental (isme di Sembahe masih sangat tinggi).

II.2.1. Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kelompok Umur

(31)
[image:31.612.106.533.156.470.2]

TABEL I

JUMLAH PENDUDUK MENURUT UMUR

NO Kelompok Umur Jumlah ( Dalam Jiwa )

1 0 – 5 49

2 5 – 10 89

3 11 – 15 77

4 16 – 20 91

5 21 – 25 95

6 25 – 30 181

7 30 – 35 149

8 36 – 40 199

9 41 – Keatas 280

Jumlah 1210

Sumber : kantor kepala Desa Sembahe 1985

(32)

II.2.2 Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kelompok Mata

Pencaharian

[image:32.612.112.534.407.636.2] [image:32.612.114.527.409.635.2]

Mayoritas masyarakat Sembahe adalah bermata pencaharian sebagai petani. Petani yang dimaksud adalah kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari lahan pertanian dengan cara bercocok tanam yang jenis tanamannya padi. Disamping padi mereka juag berladang dengan jenis tanamannya tanaman plawija yaitu Durian, pinang dan tanaman lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

TABEL II

MASYARAKAT BERDASARKAN MATA PENCAHARIAN

NO Jenis Pekerjaan Jumlah ( jiwa )

1 PNS 9

2 Pedagang / Wiraswasta 20

3 Petani 398

4 Supir 5

5 Pegawai Swasta 44

6 Dan Lain – lain 142

Jumlah 618

(33)

II.2.3. Kondisi Masyarakat BerdasarkanTingkat Pendidikan

Pengembangan Sumber Daya Manusia masyarakat merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability) dan keterampilan (skill) mereka sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mereka lakukan.Dengan pengembangan ini diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik dan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi khususnya dibidang kepariwisataan.

Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan seperti sekolah dan pendidikan dan pelatihan masyarakat perlu dilakukan untuk menciptakan daya saing khususnya di daerah tujuan wisata agar dapat memanfaatkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan yang utama.Kualitas sarana dan prasarana sosial tersebut perlu dibangun lebih baik, sehingga masyarakat termotivasi untuk bersekolah dan menambah pengetahuan masyarakat khususnya dibidang pariwisata.

Sembahe memiliki sarana dan prasarana pendidikanyang terdiri dari beberapa gedung sekolah.2 unit Sekolah Dasar ( SD ), 1 unit SMP. Aktivitas para pelajar setelah pulang sekolah biasanya membantu orang tua. Mereka belum ada mengikuti kursus – kyrsus diluar sekolah, sebagaimana aktivitas pelajar di kota – kota besar.

(34)
[image:34.612.107.534.156.385.2]

TABEL III

MASYARAKAT BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN

NO Tingkat pendidikan Jumlah ( Dalam Jiwa ) 1 Tidak / belum sekolah 216

2 Tidak Tamat SD / Sederajat 152

3 Tamat SD 546

4 SMP 180

5 SMA 109

6 Akademi / perguruan Tinggi 7

Jumlah 1210

Sumber :Kantor kepala Desa Sembahe 1985

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah tamatan SD merupakan jumlah yang paling besar.Mereka tidak mau melanjutkan sekolahnya karena berbagai alasan. Alasan mereka adalah masalah ekonomi.

II.2.4. Kondisi Masyarakat Berdasarkan Kepercayaan

(35)
[image:35.612.107.530.280.478.2]

Dilihat dari rumah ibadah, maka daerah ini terdapat rumah ibadah seperti Gereja sebagai tempat beribadah agama Kristen ada 2 buah, Mesjid sebagai tempat ibadah agama Islam ada 1 buah.Bagi pemeluk agama Budha didirikan sebuah kuil untuk beribadah sekaligus sebagai tempat upacara keagamaan.

TABEL IV

MASYARAKAT BERDASARKAN AGAMA

NO Agama / Kepercayaan Jumlah ( Dalam Jiwa )

1 Islam 235

2 Katholik 157

3 Kristen Protestan 622

4 Hindu 18

5 Kepercayaan Lain 178

Jumlah 1210

Sumber : Kantor kepala Desa Sembahe 1985

II.3. Sejarah Desa Sembahe Sebelum Terbentuknya Pemandian

Sembahe

(36)

Tanah Karo.Dahulu kala, terdapatlah sebuah kampung kecil di salah satu daerah di Tanah Karo. Kampung Uruk Rambuten, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Hanya beberapa keluarga saja yang tinggal di sana. Rumah-rumah mereka mengelilingi sebuah pohon beringin besar.Kampung tersebut memang perkampungan kecil yang hanya dihuni marga Ketaren.8

Alkisah, hiduplah seorang peladang di kampung tersebut.Dia biasa dipanggil Opung (kakek) Ketaren.Sebagai seorang peladang, Opung mau membuka hutan yang masih berada tidak jauh dari kawasan perkampungan untuk dijadikan lahan bercocok tanam.Dalam perjalanan menuju lokasi tersebut, Opung bertemu dengan sesosok mahkluk bertubuh kecil dengan kakinya terbalik. Tumitnya menghadap ke depan dan jari kakinya ke belakang. Orang-orang menyebutnya Umang.“Mau kemana?”Umang bertanya pada Opung.Opung menjelaskan bahwa dia mau membuka hutan untuk berladang padi.Umang pun menawarkan bantuan kepada Opung, dengan syarat Opung tidak boleh membawa perempuan dan anak kecil ke ladangnya.Opung menyanggupinya, walaupun dia sendiri punya seorang istri yang baru saja melahirkan.Akhir kata, Umang dan kawan-kawannya membantu Opung membuka hutan.

Dalam satu hari, lahan seluas tiga hektar selesai dibersihkan dan siap untuk ditanam.Sebelum senja, Opung kembali ke rumahnya. Di rumah, dia mengatakan kepada istrinya, bahwa lahan untuk ladang sudah selesai dibuka, dan besok dia akan

8

(37)

mulai menanam padi. Dia juga meminta istrinya untuk menyiapkan benih padi yang akan ditanam besok. Sang istri pun heran, bagaimana bisa lahan seluas tiga hektar dapat diselesaikan suaminya dalam waktu hanya satu hari. Dengan hati bertanya-tanya, dia tetap menyiapkan benih padi yang akan ditanam. Keesokan harinya, Opung sudah berada kembali di ladangnya dengan membawa benih padi yang akan ditanam. Namun tak disangka, Umang marah padanya karena dia telah mengingkari janji. Opung sama sekali tidak mengerti kenapa Umang bisa menuduhnya seperti itu. Padahal dia tidak pernah membawa perempuan atau anak kecil ke ladangnya.Tiba-tiba saja, istri dan anak Opung sudah berada di belakangnya.Ternyata, istri Opung diam-diam mengikutinya karena rasa penasaran yang tak tertahankan.Perjanjian Opung dengan Umang pun batal.Semuanya berubah menjadi hutan kembali seperti sedia kala.Mendapati itu, Opung marah besar. Namun apa daya, nasi sudah jadi bubur.

Besoknya, Opung kembali membuka hutan tersebut untuk dijadikan ladang padi.Selama berhari-hari akhirnya Opung pun berhasil membersihkannya.Ketika itulah ditemukan batu besar yang disebut Gua Kemang.Hingga saat ini, batu besar tersebut diyakini oleh masyarakat setempat sebagai rumah Umang yang pernah membantu Opung.

(38)

sebagai rumah Umang ini dikenal juga dengan nama Gua Umang. Karena mistis, banyak orang yang bertapa dan membawa sesajen ke sana. Bahkan dulu, setiap orang yang lewat di daerah Sembahe, selalu singgah dan menyembah batu ini.“Makanya dibilang Sembahe.Asal kata dari ‘semba e’, sembah ini. Sembahe dulu di kampung itu,” dari sini asal usul kata sembahe.

Dulu gua batu ini juga bisa tiba-tiba menghilang, raib entah kemana. Menurut keyakinan masyarakat di sana, hal itu berarti ada Umang yang menempatinya. “Kadang nampak batunya, kadang tidak.Kata orang, kalau umangnya sudah pergi, baru nampak batunya,” ujar Tolen. Seperti dikisahkan Tolen lagi, menurut cerita dari orang-orang tua di sana, terdapat jalan bawah tanah dari Gua Kemang menuju sebuah batu besar lainnya. “Secara magis, ada jalan bawah tanah dari gua batu itu ke Batu Penjemuren, tempat jemuran padi si Umang,” cerita bapak berusia 46 tahun tersebut.Batu Penjemuren sendiri merupakan batu besar dengan bagian atasnya yang datar.Batu ini berada di pinggir Sungai Sembahe, sekitar satu kilometer dari Gua Kemang.Namun jalan bawah tanah tersebut tidak pernah ditemui oleh Tolen.9

Gua batu yang ditemukan oleh masyarakat setempat pada zaman penjajahan Belanda ini, pernah hendak diangkat untuk dipindahkan ke Belanda.Tetapi tidak bisa dipindahkan.Tolen sendiri pun tidak tahu kenapa gua batu ini tidak bisa diangkat.Mungkin ada kaitannya juga dengan kekuatan magisnya.Sebagian masyarakat meyakini bahwa hingga saat ini kadang-kadang masih ada yang menghuni gua batu tersebut.“Konon, sekarang masih ada penghuninya,” kata Hendri,

9

(39)

pemuda setempat yang menemani saya menuju lokasi Gua Kemang.Kampung Uruk Rambuten yang dianggap sebagai awal Desa Sembahe, sampai saat ini masih dikenali.Namun tak ada lagi penduduk yang menghuni kampung tersebut.Kampung Uruk Rambuten berada di dekat lokasi jatuhnya pesawat Garuda Indonesia pada 26 September 1997 lalu. Menurut Tolen, ada kemungkinan pesawat tersebut jatuh karena tersangkut pohon beringin besar yang tumbuh di tengah-tengah kampung Uruk Rambuten.

II.3.1 Potensi Wisata

Potensi wisata adalah segala bentuk kekayaan alam, budaya dan antraksi – antraksinya yang dapat digali dan dikembangkan menjadi suatu produk wisata.10

Suatu tempat kunjungan wisata harus memiliki sejumlah antraksi wisata tertentu, yang dianggap sabagai bahan mentah yang perlu dikembangkan dan dibentuk untuk memenuhi selera bermacam – macam wisatawan.Bahan mentah ini mencakup 2 komponen utama, yakni komponen yang bersifat alamiah yaitu tata letak tahan, pemandangan yang indah, yang sejuk.Komponen berikutnya adalah tata nilai budaya yaitu peninggalan sejarah dan purba kala, bentuk – bentuk budaya, pola hidup masyarakat, bangunan dan sebagainya.

Suatu produk wisata yang menarik akan banyak dikunjungi manusia dalam tujuan mencari suasana baru dalam hidupnya yang dapat mereka nikmati dari hasil karya ciptaan Tuhan dan juga karya buatan manusia.

11

10

Nyoman S Pedit, pengantar Ilmu Pariwisata, Jakarta : PT. Pradya Paramita, 1990. Hal.32.

11

(40)

Berdasarkan potensi wilayah, Sembahe mengandalkan keindahan alam dan udara yang sejuk sebagai potensi wisatanya.Sembahe memounyai fenomena alam yang cukup indah, yaitu sungai yang dikelilinginoleh perbukitan.Di daerah ini terdapat cukup banyak tempat yang dijadikan dan dikembangkan menjadi objek wisata sebagai daya tarik.

Desa sembahe adalah salah satu tujuan wisata yang sangat menarik yang terdapat di Kabupaten Deli Serdang, walaupun mempunyai pemandangan yang indah objek wisata ini belumlah sempurna, bahkan masih banyak yang perlu dibenahi dari objek wisata ini. Hal – hal yang harus di benahi dalam objek Wisata di Desa Sembahe

1. Kurangnya Penataan : kurangnya penataan disini maksudnya ialah kurangnya penataan terhadap pondok-pondok dan tempat-tempat jualan. Solusinya, masyarakat hendaknya memperbaiki pondok-pondok dan tempat-tempat jualan mereka supaya pengunjung lebih banyak yang berdatangan ke objek wisata tersebut. Faktor penghambatnya adalah modal yang dimiliki oleh masyarakat terbatas, pemerintah hendaknya berperan dalam perbaikan ini. 2. Lampu-lampu masih kurang (standart) : objek wisata ini perlu menambah

lampu-lampu/pencahayaan didaerah wisata Sembahe. Solusinya : masyarakat atau orang yang mengontrak sembahe perlu menambah pencahayaan di sembahe.

3. Infrastruktur di daerah wisata sudah tua : salah satu contoh infrastruktur yang sudah tua di objek Wisata Sembahe adalah jembatan penghubung yang

(41)

terdapat diatas sungai. Solusinya : buat suatu tim peninjau, untuk meninjau infrastruktur apa saja yang sudah rusak dan harus di benahi.

4. Toilet yang kurang memadai : pemandangan ketika masuk ke salah satu toilet disembahe sangat tidak sebanding pemandangan alamnya yang mempesona. Dengan kata lain toilet di sembahe masih kurang memadai untuk ukuran sebuah objek wisata. Solusinya : toilet dibenahi supaya pengunjung mau menggunakan toilet untuk membuang air (kecil/besar) dan tidak mengotori objek wisata dengan membuang air dikawasan yang tidak sepantasnya.

5. Bayaknya sampah : maksud banyaknya sampah disini adalah banyaknya samapah yang dibuang disungai dan di jalan-jalan sekitar objek wisata.objek wisata menjadi terkesan kotor karena banyaknya sampah. Solusinya : buat beberapa papan reklame yang menganjurkan pengunjung supaya tidak membuang sampah sembarangan, karena dapat merugikan sesama. Dan perbanyak tempat-tempat sampah umum di lokasi objek wisata.

6. Kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah Deli Serdang. Salah satu sebabnya mungkin karena letak Sembahe yang jauh dari Ibu Kota Deli

(42)

BAB III

SEJARAH TERBENTUKNYA PEMANDIAN SEMBAHE

III.1. Awal Terbentuknya Wista Pemandian Sembahe

Sebelum Belanda masuk ke Indonesia, di daerah perbukitan itu terdapat jalan setapak. Tepat di sebelah jalan setapak itu terdapat suatu bukit yang tinggi, bukit itu dinamai masyarakat sekitar dengan nama bukit ”Sembahe Ganjang”, diatas bukit sembahe ganjang itu terdapat sebuah patung yang diberi nama ”Gana-Gana” oleh masyarakat sekitar, dan setiap orang yang melewati bukit sembahe ganjang harus menyembah dan memberikan sesajen kepada Gana-Gana, karena menurut kepercayaaan masyarakat siapa yang tidak mau menyembah dan memberikan sesajen akan mendapat musibah dalam perjalanannya, sesajen yang diberikan oleh para pendatang yang lewat yaitu, laki-laki memberikan rokok kepada Gana-Gana dan kalau yang lewat wanita dia harus memberikan sirih kapada Gana-Gana.

(43)

dipindahkan kebawah oleh Belanda, dan dari hal itu lah ada istilah sembahe atas dan sembahe bawah yang diketahui oleh masyarakat sekitar.

Kawasan objek wisata Sembahe pertama kali dibuka sekitar tahun 1960-1970, ketika itu putra daerah setempat yaitu letjen Jamin Ginting membuat pos Kodam di daerah Sembahe, menurut keterangan informan PKI juga masih ada ketika pos kodam ini dibentuk. Setelah Letjen Jamin Ginting meninggal di Kanada, pos kodam masih terus berlanjut sampai sekarang, mereka juga yang mengontrakkan objek wisata Sembahe ini kepada seorang pengusaha alat berat yang bernama A kiaw sampai saat ini.12

Pertama kali objek wisata Sembahe ini ada, yang dibuka pertama kali ialah pondok-pondok oleh masyarakat setempat.Selanjutnya kodam membuat motel-motel di Sembahe.Walaupun dikontrak oleh seorang pengusaha, daerah objek wisata Sembahe masih dikuasai oleh masyarakat setempat, hal ini dapat kita lihat dari semua yang berjualan di daerah wisata ialah masyarakat setempat dan yang menyewakan pondok-pondok juga masih masyarakat setempat.Para pendatang yang mencari nafkah di daerah ini ialah orang-orang yang memperjual belikan barang dagangannya.

Walaupun dikontrak oleh seorang pengusaha, daerah objek wisata Sembahe masih di kuasai oleh masyarakat setempat, hal ini dapat kita lihat dari semua yang berjualan di daerah wisata ialah masyarakat setempat dan yang menyewakan pondok-pondok juga masih masyarakat setempat. Para pendatang yang mencari nafkah di daerah ini ialah orang-orang yang berjualan sate, rujak, pecel dan es krim.

12

(44)

III.2. Sarana Dan Prasarana

Sarana wisata merupakan kelengkapan pendukung yang diperlukan untuk melayani wisatawan dalam menikmati kunjungan wisatanya.Berbagai sarana wisata yang harus disediakan di daerah tujuan wisata adalah hotel, biro perjalanan, alat transportasi, rumah makan dan sebagainya. Tentu saja semakin lengkap sarana wisata/ fasilitas yang dapat diberikan oleh daerah tujuan wisata akan meningkatkan daya tarik obyek wisata

Secara umum sarana dan prasarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan publik, karena apabila kedua hal ini tidak tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana. 13

Moenir (1992 : 119) mengemukakan bahwa sarana adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. Pengertian yang dikemukakan oleh Moenir, jelas memberi arah bahwa sarana dan prasarana adalah merupakan seperangkat alat yang digunakan dalam suatu proses kegiatan baik alat tersebut adalah merupakan peralatan pembantu maupun peralatan utama, yang keduanya berfungsi untuk mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.

Berdasarkan pengertian di atas, maka sarana dan prasarana pada dasarnya memiliki fungsi utama sebagai berikut:

13

(45)

1. Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat menghemat waktu.

2. Meningkatkan produktivitas, baik barang dan jasa. 3. Hasil kerja lebih berkualitas dan terjamin.

4. Lebih memudahkan/sederhana dalam gerak para pengguna/pelaku. 5. Ketepatan susunan stabilitas pekerja lebih terjamin.

6. Menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang berkepentingan.

7. Menimbulkan rasa puas pada orang-orang yang berkepentingan yang mempergunakannya.

Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana yang dimaksud di atas berikut ini akan diuraikan istilah sarana kerja/fasilitas kerja yang ditinjau dari segi kegunaan menurut Moenir ( 2000 : 120) membagi sarana dan prasarana sebagai berikut :

1. Peralatan kerja, yaitu semua jenis benda yang berfungsi langsung sebagai alat produksi untuk menghasilkan barang atau berfungsi memproses suatu barang yang berlainan fungsi dan gunanya.

2. Perlengkapan kerja, yaitu semua jenis benda yang berfungsi sebagai alat pembantu tidak langsung dalam produksi, mempercepat proses, membangkit dan menambah kenyamanan dalam pekerjaan.

(46)

mesin ketik, mesin pendingin ruangan, mesin absensi, dan mesin pembangkit tenaga.14

III.2.1. Transportasi

Perkembangan dunia pariwisata tidak akan pernah menjadi maju, tanpa adanya perkembangan yang sangat pesat dalam alat transportasi yang memungkinkan wisatawan dapat mencapai setiap tempat di dunia ini dengan waktu lebih cepat dengan biaya rendah. Para wisatawan dapat sampai disebuah daerah tujuan wisata dan menikmati dengan cara menggunakan jasa transportasi baik transportasi darat, laut dan udara.

Kebutuhan akan transportasi dalam industri pariwisata telah menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Sembahe. Tidak sedikit masyarakat Sembahe yang berprofesi sebagai supir angkutan dalam rangka memudahkan masyarakat dan terutama wisatawan dalam memperlancar aktivitas perjalanannya.

Di Sembahe terdapat beberapa jenis angkutan darat, yang menghubungkan beberapa daerah lain disekitarnya. Seperti Medan, Berastagi, Kabanjahe, sidikalang dan daerah lainnya. Dengan dilakukannya perbaikan jembatan yang ada di sembahe yaitu jembatan yang menghubungkan Medan – Berastagi – sidikalang – Aceh telah merangsang para pengusaha angkutan darat untuk melayani rute ini. Menjelang awal tahun 1970-an dimana arus kunjungan wisata semakin meningkat ke daerah ini dan terutama pada tahun 1980 ketika rumah makan sembahe didirikan. Terhitunglah ada

14

(47)

beberapa perusahaan bus yang melayani trayek ini dan yang melintas dari daerah ini seperti Sinabung jaya ( 1961 ).

Khusus untuk angkutan lokal yang hanya melayani rute antar daerah sekitar sembahe seperti sibolangit – pancur batu. Nama angkutannya adalah Rajawali yang sudah ada sejak tahun 1979 walaupun dengan jumlah armada yang terbatas yaitu 5 buah angkutan dengan jumlah penumpang 5 – 10 orang.15

III.2.2.Restoran Dan Rumah Makan

Restoran dan rumah makan merupakan jasa pelayanan yang menyediakan makanan dan minuman. Pertumbuhan restoran di Sembahe pada periode 1980-an dipengaruhi oleh makin meningkatnya arus kunjungan wisatawan yang datang ke daerah ini. Terhitung ada 1 restoran yang berdiri atau dibuka di sembahe yaitu restoran Sembahe ( 1970 ) menyajikan berbagai jenis makanan seperti, ikan mas, ikan mujahir, ayam kampung dan sebagainya. Tarif makan di restoran ini di awal tahun 1980 sudah mencapai Rp.3.000 untuk satu kali makan. Pada tahun 1990-an berdiri lagi rumah makan baru seperti rumah makan Gaya Baru, Rumah Makan Siang – Malam dan Rumah Makan Tima Mala. Tarif untuk satu kali makan dengan berdirinya rumah makan ini pada tahun 1992 sudah mencapai Rp.5.000.16

Berbeda dengan restoran Sembahe, rumah makan yang didirikan belakangan ini hanya menyediakan masakan khas daerah Batak karo, Minang dan

15

Wawancara dengan Mulia Kataren, tanggal 19 0ktober 2012

16

(48)

Melayu.Biasanya pengunjung yang makan di tempat ini adalah wisatawan- wisatawan daerah sekitar.Rumah makan – rumah makan yang didirikan ini sekaligus sebagai tempat persinggahan angkutan – angkutan antar lintas seperti yang berangkat dari Medan menuju Sidikalang dan Aceh.

III.2.3. Penginapan

Menurut salah satu informan ‘Rumkit’ adalah salah satu kebutuhan atau bisa disebut juga daya tarik di Objek Wisata Sembahe, karena banyaknya pengunjung yang hendak menyewa ‘Rumkit’ ini, maka pengelola Objek Wisata menambah jumlah ‘Rumkit’. ‘Rumkit’ juga merupakan salah satu kebutuhan utama pengunjung yang datang membawa pasangan, karena kebanyakan dari mereka lebih memilih berdua-duaan di dalam pondok atau ‘rumkit’ dari pada melihat alam-alam sekitar.17

Oleh beberapa anak muda sembahe merupakan tempat yang asik apabila dipakai untuk memadu kasih, baik itu bersama pacar ataupun orang yang menyediakan jasa seks ( Wanita Tuna Susila), di tempat ini tersedia gubuk-gubuk atau pondok-pondok yang biasa disebut orang-orang sebagai ”Rumkit” atau rumah kitik-kitik. Rumkit ini adalah salah satu fenomena yang sangat menarik dari Objek Wisata Sembahe.

III.3. Dukungan Pemerintah Terhadap Pembangunan Pemandian

Sembahe

17

(49)

Perkembangan kepariwisataan di Indonesia khususnya bagi kepariwisataan Deli Serdang yang mengelola pemandian Sembahe, dimana dikeluarkannya dukungan pemerintah dalam pembangunan kepariwisataan sejak tahun 1978 yang dituangkan dalam TAP MPR NOo IV/MPR/1978, yaitu bahwa pariwisata perlu ditingkatkan dan diperluas untuk meningkatkan penerimaan devisa, memperluas lapangan kerja dan memperkenalkan kebudayaan.

Kebijaksanaan ini diikuti oleh paket kebijaksanaan lainnya, baik yang secara langsung maupun yang tidak langsung memberikan dampak terhadap usaha pengembangan industry pariwisata.dari segi ekonomi, pariwisata alam akan menciptakan lapangan pekerjaan di daerah – daerah terpencil.

Dibandingkan dengan pariwisata internasional, pariwisata alam membutuhkan investasi yang relative besar untuk pembangunan sarana dan prasarananya.Untuk itu diperlukan evaluasi yang teliti terhadap kegiatan pariwisata alam tersebut.Banyak pendapat yang menyatakan bahwa pariwisata alam yang berbentuk ekoturisme belumberhasil berperan sebagai alat konservasi alam ataupun untuk mengembangkan perekonomian. Salah satu penyebabnya adalah masalah sulitnya mendapatkan dana pengembangan kegiatannya. Kalaupun ada keuntungan yang didapatkan dari penyelenggara jenis pariwisata tersebut, namun masih relatif kecil jumlah yang dialokasikan untuk mendukung usaha konservasi dan pengembangan ekonomi.

(50)

pelestarian alam atau program pengembangan masyarakat, secara umum pendapatan dari kegiatan pariwisata alam belum tercapai secara optimal.

Di dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata alam di kawasan pelestarian alam diperlukan suatu pengusahaan bisnis pariwisata alam agar mampu menyerap wisatawan, baik wisatawan manca Negara maupun wisatawan domestik, antara lain dengan mengembangkan aktivitas – aktivitas tradisional, menata objek dan daya tarik alam yang khas, konservasi dan pemberian insentif wisata alam terhadap wisatawan lokal.

Kajian tentang tingkat pemulihan biaya perlu dipertimbangkan untuk mengetahui biaya untuk menutup investasi pengembangan pariwisata alam, pengeluaran investasi pembangunan pariwisata alam dan pengoperasiannya disamping juga harus mampu menutup biaya tidak langsung akibat dampak negatif kegiatan pariwisata tersebut terhadap masyarakat yang biaya tersebut sulit dikuantifikasikan.

(51)

merencanakan usul pengambilalihan objek wisata kepada Pemerintah Daerah karena pengurus objek wisata yang sekarang mengelola objek wisata mempunyai tutur yang lebih tinggi dalam hubungan kekerabatan. Disini dapat kita ambil kesimpulan bahwa hubungan kekerabatan dapat juga menghambat majunya sebuah objek wisata.

Menurut ketetapan MPR No. II/MPR1983 tentang GBHN, tentangpengembangan pariwisata sebagai berikut:18

• Pengembangan pariwisata perlu ditingkatkan untuk memperluas kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha, meningkatkan penerimaan devisa serta memperkenalkan alam dan budaya Indonesia. Pembinaan serta pengembangan pariwisata dilakukan dengan tetap memperhatikan terpeliharannya kebudayaan dan kepribadian nasional serta kelestarian lingkungan hidup

• Pembinaan dan pengembangan pariwisata dalam negeri ditingkatkan dengan tujuan lebih mengenalkan alam dan kebudayaan bangsa dalam rangka memupuk cinta tanah air dan menanamkan jiwa semangat dan nilai – nilai 1945, disamping untuk memperluas lapangan kerja

• Dalam rangka pengembangan pariwisata perlu di ambil langkah dan pengaturan lebih terarah berdasarkan kebijakan yang terpadu antaralain berupa peningkatan promosi dan pendidikan kepariwisataan, penyediaan sarana dan prasarana serta peningkatan mutu dan kelancaran pelayanan.

18

(52)

III.3.1. Pembangunan Infrastruktur

Motivasi yang mendorong orang untuk mengadakan perjalanan akan menimbulkan permintan – permintaan mengenai prasarana. Sarana – sarana perjalanan dan perhubungan, sarana – sarana akomodasi dan jasa serta persediaan – persediaan lainnya. Industri kepariwisataan tidak hanya memerlukan perusahaan – perusahaan yang dapat menyediakan kamar untuk menginap ( motel ), makanan dan minuman ( restoran ), industri kerajinan dan industri pariwisata yang memerlukan prasarana ekonomi seperti jalan raya, jembatan. Disamping itu juga memerlukan sarana yang bersifat umum seperti pembangkit listrik, bank, penyediaan air bersih, dan telekomunikasi.19

Bidang pariwisata erat kaitannya dengan bidang – bidang lain yang bersifat fisik, diantaranya prasarana perhubungan. Semakin luas dan meningkatnya jumlah dan kualitas jalan raya maka mengakibatkan semakin meningkatnya frekwensi orang yang melakukan perjalanan wisata, lebih – lebih lagi dengan semakin meningkatnya taraf hidup serta semakin banyaknya golongan ekonomi menengah dalam masyarakat.Dalam hubungan ini, bidang pariwisata dalam banyak hal sebenarnya bisamempercepat pembangunan.

Industri kepariwisataan di Sembahe tidak hanya memberikan dampak atau pengaruh bagi kehidupan masyarakat di bidang sosial ekonomi dan sosial budaya

19

(53)
(54)

BAB IV

DAMPAK KEPARIWISATAAN SEMBAHE TERHADAP

MASYARAKAT SEMBAHE

Setiap manusia tidak luput dari tuntutannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.Tingkat kebutuhan hidup manusia berbeda-beda tergantung pada tersedianya jumlah barang dan jasa yang di peroleh, sedangkan untuk memperoleh barang dan jasa itu ditentukan oleh pendapatan yang diterimanya.

Pariwisata merupakan kegiatan perpindahan tempat sejumlah orang-orang yang sedang melakukan perjalanan secara sendiri-sendiri atau berkelompok, yang masing-masing mempunyai alas an tersendiri untuk bepergian, dengan keinginan dan harapannya pun berlainan. Semua ini menyebabkan kegiatan pariwisata menjadi suatu aktivitas lintas budaya, karena kegiatan ini menjadi kaca pertemuan manusia dari berbagai daerah dan suku, yang latar belakang budayanya berbeda dan lingkungan sosial yang tidak sama.20

Kedatangan para wisatawan ini dapat menjadi unsur keberuntungan atau suatu malapetaka. Hal ini bergantung pada cara pariwisata yang ditangani oleh daerah tujuan wisata (DTW) itu sendiri, terutama pada daerah asal wisatawan itu sendiri.

Sektor kepariwisataan yang dikembangkan di Desa Sembahe adalah dengan harapan dapat memberikan manfaat terhadap peningkatan pendapatan

20

(55)

masyarakat.Pembangunan kepariwisataan di Desa Sembahe mempengaruhi beberapa bidang kehidupan masyarakat serta kondisi daerah Sembahe sebagai daerah tujuan wisata.Bidang kehidupan masyarakat serta kondisi daerah Sembahe sebagai daerah tujuan wisata.Bidang yang dipengaruhi itu adalah bidang sosial ekonomi, dan sosial budaya masyarakat. Pengaruh lain dari pengembangan pariwisata ini adalah perubahan keadaan fisik daerah, akibat dari adanya pembangunan sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan, selain itu pengaruh dan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan hidup agar terpeliharanya kesejukan dan kelestarian daerah tempat wisata.

IV.I. Aspek sosial Ekonomi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ekonomi berarti segala sesuatu tentang asas – asa produksi, distribusi dan pemakaian barang – barang serta kekayaan. Dapat dikaitkan ekonomi merupakan proses memproduksi, mendistribusikan dan pemakaian atau pemanfaatan hasilnya, dengan kata lain ekonomi bekaitan dengan proses pemenuhan keperluan hidup sehari – hari. Sedangkan pengertian dari kata sosial masih menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah berkawan atau bermasyarakat.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan sosial ekonomi berarti bagaimana manusia atau anggota masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya didalam aktivitas hidup sehari – hari.

(56)

sehari – hari.Dengan kondisi tanah yang kurang produktif yaituberbukit – bukit dan bebatuan, masyarakat mengusahakan lahan – lahan pertaniannya se-efisien mungkin dengan menanam palawija di ladang. Mereka menanam hasil pertaniannya selama satu kali dalam 20 tahun karena yang ditanamnya pinang, kecuali tanaman padi di sawah. Hasil pertanian mereka didistribusikan ke berbagai pasar di kota Medan. Transportasi yang digunakan yaitu angkutan umum yang kuantitasnya masih sedikit.21

Ketika Sembahe menjadi daerah tujuan wisata yang dimulai dengan pembangunan – pembangunan sarana penunjang kepariwisataan pada tahun 1980-an seperti restoran atau rumah makan, motel, dan perbaikan jalur transportasi darat, ternyata telah merubah mata pencarian sebagian masyarakat. Sembahe pada saat itu sudah dikunjungi oleh para wisatawan dalam negeri yang berasal dari kota lain antara tahun 1980 – 1999 terus meningkat.

21

(57)
[image:57.612.109.534.159.302.2]

TABEL V

ARUS KUNJUNGAN WISATAWAN KE SEMBAHE ( 1980 – 1995 )

TAHUN WISATAWAN

DALAM NEGERI

WISATAWAN LUAR NEGERI

JUMLAH

1980 7319 68 7387

1985 13973 112 14085

1990 16128 224 16352

1995 20172 173 20345

Kedatangan para wisatawan yang terus meningkat tidak terlepas dari usaha masyarakat dan pemerintah yang mulai mempromosikan daerah ini sabagai daerah tujuan wisata dan semakin memadai dengan lengkapnya sarana pariwisata di daerah. Untuk menarik perhatian para wisatawan agar berkunjung ke daerah ini masyarakat dan pemerintah bekerja sama melakukan pembangunan sarana dan prasarana kepariwisataan serta akomodasi penginapan, transportasi, dan kepentingan publik.

(58)

Para wisatawan yang berkunjung seiring dengan memadainnya sarana dan prasarana pendukung pariwisata di daerah ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Kebutuhan akan tempat tinggal sementara dari wisatawan yang dijawab dengan pembangunan losmen dan tempat – tempat penginapan lain yang memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sebagai karyawan atau yang mengelola penginapan ini. Keinginan untuk memperoleh cinderamata sebagai barang kenang – kenangan dari daerah yang dikunjungi wisatawan juga memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat dalam membuka usaha – usaha dagang untuk menjual barang khas daerah tersebut.

IV.I.1. Sektor perdagangan

Sebagian kecil masyarakat Sembahe berprofesi sebagai pedagang dimana menjual barang dagangannya untuk memenuhi kabutuhan sehai – hari. Para pedagang di Sembahe diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu :

1. Pedagang menetap

Pedagang menetap adalah kelompok masyarakat yang menjual barang dagangannya untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.Penulis membagi pedagang menetap menjadi 2 kelompok, yaitu pedagang kelontong dan pedagang souvenir atau cendera mata.

(59)

wisata dari tahun ke tahun pada decade 1980 – 1990, maka makin mempengaruhi kemajuan usaha kelontong ini.Hal ini disebabkan karena semakin bertambahnya permintaan barang – barang dagangan mereka, dimana selain itu untuk konsumsi masyarakat lokal juga disediakan.

Pedagang souvenir atau cenderamata adalah pedagang yang menjual barang – barang karya seni sebagai barang kenang – kenangan untuk wisatawan.Di kawasan pemandian sembahe merupakan pusat penjualan souvenir atau cenderamata tepatnya di pintu masuk pemandian itu.Barang – barang souvenir yang diperjual belikan di sebuah kios adalah bentuk rumah – rumah adat kas Karo.22

Bapak P. Ginting salah satu pemilik kios menyatakan bahwa beliau menjalani profesi sebagai pedagang souvenir sejak tahun 1976. Barang – barang yang dijualnya seperti ukiran ruha adat karo, ulos, ukiran gantungan kunci danlain – lain.

2. Pedagang Musiman

Pedagang musiman adalah pedagang yang menjual barang dagangannya pada saat – saat tertentu seperti pada hari – hari besar atau hari libur.Hal ini disebabkan karena pada saat – saat itu Sembahe banyak di kunjungi oleh wisatawan. Pedagang yang termasuk dalam kelompok 2 ini adalah pedagang kecil – kecilan seperti penjual buah ( durian), mie, minuman botol, rokok, mie goring dan nasi bungkus. Biasanya para pedagang ini mendirikan tenda atau berkeliling.23

22

Wawancara dengan P. Ginting, tanggal 26 Oktober 2012

23

(60)

Pedagang musiman ini biasanya dilakoni oleh para ibu – ibu dan anak – anak.Mereka memanfaatkan waktu ketika Sembahe ramai dikunjungi wisatawan untuk menambah pendapatan keluarga.Seperti yang diungkapkan oleh ibu S.br Ginting beliau kadang berdagang mie goreng ketika hari – hari libur walaupun suaminya bekerja sebagai salah seorang supir angkutan umum.Untuk mendapatkan keuntungan yang agak lebih, para pedagang musiman ini biasanya menaikan harga dan kadang – kadang terjadi kecurangan dengan mempermainkan rasa dan isinya.Hal inilah yang melahirkan suatu pandangan yang buruk tentang pariwisata Sembahe.

IV.2. Aspek Sosial Budaya

Salah satu dorongan kebutuhan hidup manusia untuk mengunjungi suatu daerah adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu, mengagumi serta melihat secara asli seni budaya suatu daerah yang dikunjungi, dengan demikian pembvangunan pariwisata di daerah tujuan wisata akan membenahi seni budaya sendiri, baik seni budaya yang telah lama terpendam maupun seni budaya masa kini. Dengan penggalian seni dan budaya tersebut telah dapat meransang wisatawan serta disisi lain turut juga usaha melestarikan seni budaya masyarakat setempat.24

Tidak dapat disangkal bahwa pembangunan pariwisata inipun memberikan pengaruh negative terutama terhadap kebudayaan masyarakat setempat, seperti pada motivasi untuk menggali dan memperkenalkan budaya asli yang bergeser kearah

24

(61)

hanya untuk mencari keuntungan secara ekonomi dan pada tata pergaulan masyarakat yang juga berubah terutama bagi anak muda.

IV.2.1. Komersialisasi Seni dan Budaya

Penggalian seni dan budaya lama dalam menghidupkan kepariwisataan sering dipandang sebagai komersialisasi seni budaya tersebut dimanfaatkan untuk mengejar nilai ekonomi. Faktor ekonomi adalah sebagai salah satu alas an dalam pengembangan sebuah daerah tujuan wisata, oleh salah sebab itu seni budaya tersebut harus diangkat menjadi sebuah daya tarik wisata. Komersialisasi seni budaya yang dimaksud adalah menyajikan suatu kesenian tradisional yang tidak dilakukan seperti yang biasa hidup di masyarakat.25

Sebagai contoh komersialisasi seni budaya di tempat objek wisata sembahe terlihat dengan sering dilakukannya pagelaran budaya pada hari – hari besar disepanjang tahun 1970 – 1980, seperti pada hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus dan hari – hari besar lainnya.

Hal ini telah dilakukan karena tujuan utamanya adalah memberikan kebutuhan wisatawan tanpa menghiraukan makna dan nilai dari seni tradisional tersebut.

Pergeseran nilai seni budaya yang terlihat adalah karena adanya saling membutuhkan dalam sebuah industry pariwisata di daerah tujuan wisata Sembahe.Pagelaran seni budaya yang dulunya dilakukan karena motivasi tradisi untuk memperkenalkan sekaligus sebagai daya tarik bagi wisatawan atau

25

(62)

pengunjung.Akibat dari motivasi ini maka makna yang lebih biasa di lakukan menjadi terkikis akibat dari hubungan antara masyarakat dan wisatawan yang berbeda prinsip antara nasional dan tradisional.

Dengan kata lain manusia mulai memisahkan diri secara mental dari alam budayaaslinya, dan dapat memecah pandangan hidup kuno oleh karena mereka menemukan faktor yang baru, akan tetapi penemuan itu merupakan pemberontakan terhadap tata tertib suci yang tradisional.

IV.2.2. Pemanfaatan Lingkungan Hidup

Wisatawan yang mempunyai tujuan rekreasi, menginginkan suatu daerah yang menimbulkan suatu suasana baru lepas dari kebisingan kehidupan sehari – hari.Daerah yang diinginkan adalah suatu daerah yang terang, pemandangan aslinya yang nyaman untuk keperluan istirahat.Biasanya daerah ini berupa daerah pantai, gunung – gunung, pedesaan, hutan – hutan, ladang – ladang. Gairah wisatawan yang demikian justru mendorong pemeliharaan lingkungan alam, sebab apabila daerah tujuan wisata tersebut rusak atau tidak dipelihara maka wisatawan tidak akan datang karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Oleh karena itu sebenarnya pemeliharaan lingkungan harus sejalan dengan perkembangan pariwisata karena hal ini merupakan syarat mutlak dan dapat saling membantu.26

Perkembangan pariwisata dapat menimbulkan masalah – masalah terhadap kerusakan lingkungan hidup, misalnya polusi air, kekurangan air, keramaian lalu

26

(63)

lintas, dan kerusakan pemandangan yang dari tradisional.Hal ini mengurangi kwalitas hidup dari masyarakat setempat serta wisatawan dan pada jangka panjang mengancam kelangsungan daerah industri wisata itu sendiri.27

Sebaiknya dalam pengelolaan lingkungan perlu dipelajari betul – betul sifat dan gejala alam secara rinci hingga analisis masalah dampak lingkungannya dapat dilaksanakan dengan baik, benar, dan tepat guna, untuk menghindari kemungkinan terjadinya masalah dalam pemamfaatan lingkungan hidup.28

Industri kepariwisataan sembahe telah membawa masyarakat kepada pengelolaan potensi alam yang selama ini terlantar dengan keindahannya ditata secara rapi demi mendukung daerah ini sebagai daerah tujuan wisata.Atas dasar inisiatif sadar lingkungan ini, maka semua pihak yang terlibat dalam bisnis kepariwisataan turut berusaha membenahi lingkungan hidup. Adapun pembenahan lingkungan hidup meliputi :

1. Penataan dengan baik lokasi khusus bagi wisatawan dengan berbagai fasilitas seperti penginapan, tempat pemandian, dan tempat bersantai. 2. Di lokasi wisata telah dilaksanakan pelarangan ternak – ternak yang

berkeliaran, pelarangan bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan dan menyediakan tempat sampah, hal ini bertujuan untuk menjaga kebebasan kebersihan tempat wisata

27

pillane, James J,1993. Pariwisata Indonesia : Sosial Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan. Yogyakarta; Kansius, Hal. 60

28

(64)

3. Pelarangan penebangan dan pembakaran hutan secara sembarangan di daerah pegunungan

4. Penanaman kembali hutan yang gundul dan penanaman pohon di sepanjang jalan agar suasana asri dan sejuk.29

Semua hal di atas telah menjadi perhatian utama sebagai pemanfaatan lingkungan di daerah objek wisata Sembahe.Namun setelah lingkungan hidup itu dikelola untuk kepentingan kepariwisataan tidak justru membawa permasalahan yang baru, seperti permasalahan terhadap lingkungan akibat tidak adanya analisis masalah dampak lingkungan.

Penananman kembali hutan yang telah gundul disekitar daerah aliran sungai Sembahe, ternyata pohon yang dipilih untuk ditanam kembali adalah pohon pinus. Seperti yang telah diketahui salah satu tujuan penghijauan kembali hutan yang telah gundul untuk menjaga kesejukan iklim di Sembahe dan menjaga stabilitas air sungai. Pembangunan motel – motel yang pertama dilakukan dengan membabat hutan dan menebang pepehonan yang ada di pinggiran sungai Sembahe. Hutan yang selama ini menjaga keseimbangan lingkungan alam menjadi hilang akibat ditebangai hanya untuk mendapatkan lokasi penginapan tanpa memperdulikan dampak yang akan timbul dikemudian hari. Selain itu kesadaran masyarakat dan wisatawan untuk menjaga kebersihan lingkungan masih belum tampak, terbukti masyarakat dan para wisatawan itu masih banyak membuang sampah ke sungai, akibatnya sungai menjadi

29

(65)

Gambar

TABEL I
tabel berikut ini :
TABEL III
TABEL IV
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pengembangan kota terhadap kualitas kehidupan sosial masyarakat Desa Lau Bekari dan Sampecita kecamatan Kutalimbaru Kabupaten

Kehidupan masyarakat Bagan memberikan ketertarikan kepada penulis untuk mengkajinya secara lebih dalam baik itu dari segi kehidupan ekonomi atau sosial, masyarakatnya yang sebagian

Dampak positif dari Pariwisata Bukit Mangunan untuk perubahan status sosial ekonomi bisa disimpulkan bahwa, Pariwisata Bukit Mangunan dengan kekayaan alam sekitar sebagai

Menurut JJ Spilance dalam (Sabtimarlia, 2013) terdapat peranan dari pariwisata dalam pembangunan yaitu segi ekonomi menjadi peningkatan devisa, segi sosial pembuka

Perkembangan kawasan pariwisata Sanur berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang telah mengalami pergeseran dari non pariwisata ke pemberi jasa

Atas berkat kasih anugerahnya maka penulis dapat melaksanakan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Dampak Industrialisasi Terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi dan

Dampak positif yang menguntungkan dalam bidang ekonomi yaitu bahwa kegiatan pariwisata mendatangkan pendapatan devisa Negara ataupun terhadap pendapatan daerah dan

Pengaruh pariwisata terhadap karakteristik sosial ekonomi masyarakat pada 74awasan objek wisata candi Borobudur kabupaten magelang.. Semarang : Universitas Diponegoro Setyaningsih,