• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Emas Dalam Logam Campur Emas Kedokteran Gigi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Emas Dalam Logam Campur Emas Kedokteran Gigi"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN EMAS DALAM LOGAM CAMPUR EMAS KEDOKTERAN GIGI

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperolah gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

SATTHVA SIVAM A/L RATNAKRISHANAN NIM : 060600161

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

A) FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

B) DEPARTEMEN ILMU MATERIAL DAN TEKNOLOGI C) TAHUN 2010 D) SATTHVA SIVAM A/L RATNAKRISHNAN.

E) PERANAN EMAS DALAM LOGAM CAMPUR EMAS KEDOKTERAN GIGI F) vi+31 Halaman

G) Emas murni adalah emas yang bersifat sangat lunak sehingga tidak dapat

dipergunakan dalam bidang kedokteran gigi. Pengalloyan emas murni dilakukan

dengan beberapa logam lain seperti tembaga, palladium, seng, platina dan perak

untuk mendapatkan sifat mekanis yang baik. Menurut American Dental Association

(ADA) specification No. 5 logam emas diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan

kandungan emasnya ke dalam 4 tipe yaitu Tipe I (lunak), Tipe II (Sedang), Tipe III

(keras), Tipe IV (sangat keras). Logam emas mempunyai sifat-sifat yang baik

sehingga mendapat hasil yang baik apabila digunakan dalam bidang kedokteran gigi

seperti, mempunyai biokompatibilitas yang baik dimana hanya menunjukkan sedikit

atau tidak ada sama sekali efek yang membahayakan pada rongga mulut, selain itu

mempunyai malleability dan ductility yang baik dibanding logam logam lain.

Dalam penggunaannya logam emas mempunyai kebaikan dan keburukan.

Kebaikan logam emas yaitu mempunyai kekerasan dan kekuatan yang baik, mudah

dimanipulasi, mudah di burnis, mempunyai daya tahan terhadap tarnis dan korosi,

memiliki adaptasi klinis yang baik terhadap gigi dan dapat ditoleransi dengan baik

oleh gusi dan jaringan intra oral, serta tidak memberikan efek beracun terhadap

rongga mulut. Keburukan yaitu warna yang kurang menguntungkan bagi pasien,

memerlukan banyak preparasi gigi sehingga dapat membahayakan pulpa, dan biaya

yang sangat mahal.

Pengaruh emas terhadap logam campur emas adalah malleability dan

ductility. Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu

(3)

kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh

suatu compressive stress. Di dalam pengunaan logam emas, kekerasan emas

bertambah dari tipe I ke tipe IV sedangkan ductility dan malleability berkurang bila

kandungan emas berkurang.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan

di hadapan tim penguji skripsi

Medan, Mei 2010

Pembimbing: Tanda Tangan

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji

pada tanggal Mei 2010

TIM PENGUJI

KETUA : Sumadhi S drg Ph.D

ANGGOTA : 1. Lasminda Syafiar drg M.Kes

2. Rusfian drg M.Kes

3. Siti Chadidjah Az drg

4. Kholidina Imanda Harahap drg

5. Ika Dewi Adiana drg

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi di Departemen Ilmu Material dan

Teknologi Kedokteran Gigi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis ingin mengucapkan rasa hormat dan

terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua tercinta, Ayahanda Ratnakrishnan

dan Ibunda Punya Kumari atas do’a cinta dan kasih sayang atas dukungan moral dan

materil yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan sarjana di

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada:.

1. Sumadhi S drg Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi yang telah begitu sabar

dan banyak meluangkan waktu, tenaga, memberikan pemikiran dan masukan

kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Lasminda Syafiar drg M.Kes selaku Ketua Departmen Ilmu Material dan

Teknologi Kedokteran Gigi FKG USU yang memberikan saran dan masukan

dalam skripsi ini.

3. Rusfian drg M.Kes, Siti Chadidjah Az drg dan Kholidina Imanda Harahap drg

dan Ika Dewi Adiana drg yang sudi memberikan saran dan komentar sewaktu

(7)

4. Teman-teman seperjuangan penulis yaitu Prem Latta, Amee Safia, Jana,

Muniez atas kerjasamanya selama ini serta Muktar, Ika, Chankar dan

teman-teman dari stambuk 2006, 2007, 2008, dan 2009 atas persahabatan, bantuan,

dukungan dan semua hal yang diberikan kepada penulis selama menjalani

perkuliahan.

Penulis mengharapkan semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan sumbangan

pikiran bagi fakultas, pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Medan, Mei 2010

Penulis,

(8)
(9)

3.3.1 Sifat Logam Campuran Emas ... 15

3.4 Wrought Logam Emas ... 19

3.5 Soldering Logam Emas ... 20

BAB 4 KEUNTUNGAN KERUGIAN DAN PENGARUH LOGAM CAMPUR EMAS ... 22

4.1 Keuntungan Logam Campur Emas ... 22

4.2 Kerugian Logam Campur Emas ... 23

4.3 Pengaruh Emas Dalam Logam Campur Emas ... 24

4.3.1 Permalleability dan Ductility ... 24

4.4 Kegunan Logam Campur Emas ... 25

4.4.1 Kegunaan Dental Casting Alloy ... 25

4.4.2 Kegunaan Wrougth Gold Alloy ... 28

4.4.3 Kegunaan Soldering ... 28

BAB 5 KESIMPULAN ... 29

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Klasifikasi Dental Gold Alloy, ADA Specification No.5 ... 6

2. Sifat Fisis Emas ... 9

3. Komposisi (Persentase Berat) Logam Campur Dental Casting Gold Alloy Tipe I Sampai Tipe IV Menurut (ADA) ... 14

4. Komposisi Dari Dental Casting Gold Alloy Menurut Skinner ... 14

5. Sifat Fisis Logam Campur Emas ... 17

6. Sifat Mekanis Logam Campur Emas ... 18

7. Komposisi dari Wrought gold alloy ... 19

(11)

A) FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

B) DEPARTEMEN ILMU MATERIAL DAN TEKNOLOGI C) TAHUN 2010 D) SATTHVA SIVAM A/L RATNAKRISHNAN.

E) PERANAN EMAS DALAM LOGAM CAMPUR EMAS KEDOKTERAN GIGI F) vi+31 Halaman

G) Emas murni adalah emas yang bersifat sangat lunak sehingga tidak dapat

dipergunakan dalam bidang kedokteran gigi. Pengalloyan emas murni dilakukan

dengan beberapa logam lain seperti tembaga, palladium, seng, platina dan perak

untuk mendapatkan sifat mekanis yang baik. Menurut American Dental Association

(ADA) specification No. 5 logam emas diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan

kandungan emasnya ke dalam 4 tipe yaitu Tipe I (lunak), Tipe II (Sedang), Tipe III

(keras), Tipe IV (sangat keras). Logam emas mempunyai sifat-sifat yang baik

sehingga mendapat hasil yang baik apabila digunakan dalam bidang kedokteran gigi

seperti, mempunyai biokompatibilitas yang baik dimana hanya menunjukkan sedikit

atau tidak ada sama sekali efek yang membahayakan pada rongga mulut, selain itu

mempunyai malleability dan ductility yang baik dibanding logam logam lain.

Dalam penggunaannya logam emas mempunyai kebaikan dan keburukan.

Kebaikan logam emas yaitu mempunyai kekerasan dan kekuatan yang baik, mudah

dimanipulasi, mudah di burnis, mempunyai daya tahan terhadap tarnis dan korosi,

memiliki adaptasi klinis yang baik terhadap gigi dan dapat ditoleransi dengan baik

oleh gusi dan jaringan intra oral, serta tidak memberikan efek beracun terhadap

rongga mulut. Keburukan yaitu warna yang kurang menguntungkan bagi pasien,

memerlukan banyak preparasi gigi sehingga dapat membahayakan pulpa, dan biaya

yang sangat mahal.

Pengaruh emas terhadap logam campur emas adalah malleability dan

ductility. Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu

(12)

kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh

suatu compressive stress. Di dalam pengunaan logam emas, kekerasan emas

bertambah dari tipe I ke tipe IV sedangkan ductility dan malleability berkurang bila

kandungan emas berkurang.

(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

Emas berasal dari kata Latin = aurum, dikenal sebagai logam yang bernilai

sejak permulaan peradaban manusia. Sekitar 2/3 perolehan emas diseluruh dunia

berasal dari Afrika Selatan dan sekitar 2/3 total produksi emas Amerika berasal dari

Dakota Selatan dan Nevada. Emas juga dikenal sebagai logam yang memiliki

konduktivitas panas dan listrik yang baik serta tidak bereaksi atau terkorosi oleh

udara dan bahan lainnya. Oleh karena keunggulannya, maka emas dijadikan mata

uang koin dan sebagai standar keuangan dibanyak negara. Selain itu emas juga

digunakan sebagai perhiasan, dekorasi, untuk melapisi logam lain dan bahan dibidang

kedokteran gigi. Charmichael pada tahun 1906 menemukan semacam mahkota emas

sebagian yang disebut Partial Veneer Gold Crown dan juga sering disebut

Charmicheal crown.1.

Bahan logam campur emas dalam kedokteran gigi juga banyak dipergunakan

sebagai bahan tambalan gigi, untuk pembuatan inlay, mahkota dan jembatan atau

dapat pula sebagai landasan gigitiruan. Logam-logam pada umumnya dijadikan alloy

untuk mendapatkan beberapa sifat yang menguntungkan dalam pemakaiannya. Secara

umum sifat-sifat yang perlu dan harus dimiliki dalam pemakaian di kedokteran gigi

adalah derajat resistensi terhadap tarnish dan korosi di dalam mulut tinggi dan

resistensi terhadap stress tanpa menimbulkan deformasi permanent atau fraktur.1,2,3.

Logam campur emas merupakan logam yang terdiri dari beberapa campuran

dengan emas yaitu tembaga, perak, platina, palladium dan seng. Pada tahun 1932

ADA Specification No 5 menetapkan berbagai logam campur emas yang digunakan

dan secara umum mengelompokannya sebagai tipe 1 (lunak), tipe 2 (sedang), tipe 3

(14)

logam campur yang mengandung emas lebih rendah dari 65% -75% terlalu mudah

terkorosi untuk dapat digunakan sebagai tambalan gigi.

2,4.

Logam-logam harus menunjukan kecocokan biologis, mudah untuk dicairkan,

dicor, dilas (disolder) dan dipolish mempunyai ketahanan abrasi yang baik, kekuatan

tinggi dan tahan terhadap tekanan serta tahan terhadap karat dan korosi. Keuntungan

pemakaian logam campur emas pada umumnya adalah mempunyai tensile strength,

ductility yang baik, mudah disolder, mempunyai kekerasan yang cukup dan mudah

dibentuk setipis mungkin, sedangkan kerugiannya adalah harganya mahal dan titik

leburnya tinggi.3,5.

Dalam skripsi ini akan dijelaskan tentang pengertian logam campur emas,

klasifikasi dan komposisi logam campur emas, sifat-sifat emas, pengaruh emas dalam

(15)

BAB 2

PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI LOGAM CAMPUR EMAS

2.1. Pengertian Logam Campur Emas

Emas adalah

univalen) yang lunak, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas

tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya kecuali oleh

melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius.4,5,6.

Emas murni atau pure gold adalah suatu logam yang mengandung 99.5 % atau

lebih Au (Aurum) di dalamnya. Logam campur emas adalah logam mulia yang

dicampur dengan logam yang kurang mulia. Logam yang dipakai disini adalah emas

(Au) 24 karat dan logam lainnya seperti perak (Ag), tembaga (Cu), platina (Pt),

palladium (Pd) dan seng (Zn).

2,3,4.

Logam campur emas (gold alloy) yang digunakan dalam kedokteran gigi

paling sedikit mengandung 2 macam logam maksimum 7-8 logam yang dicampur.

Banyak sedikitnya logam emas yang dipergunakan akan menunjukkan tinggi

rendahnya karat logam campur mulia tersebut. Misalnya makin banyak tembaga (Cu)

yang dicampur makin rendah nilai karat logam campur emas tersebut dan logam

campur emas 14 karat dapat menjadi lebih tinggi nilai karatnya dengan menambah

sejumlah logam campur emas 22 karat.6,7.

Emas murni tidak dipergunakan untuk restorasi tuangan maupun untuk

(16)

mahal. Untuk mengatasi hal ini gold dapat dialloykan dengan elemen-elemen tertentu

yang dapat memberikan sifat-sifat mekanis yang lebih baik.6.

Logam mulia digunakan untuk inlay, mahkota dan jembatan karena daya

tahannya terhadap karat dan korosi. Dari tujuh logam mulia yang dianggap mulia

menurut standar kegunaannya di bidang kedokteran gigi, hanya emas, palladium dan

platinum yang sekarang masih banyak digunakan didalam kedokteran gigi.6,7,8.

2.2 Klasifikasi Logam Campur Emas

Ada beberapa jenis logam campur untuk dipergunakan di kedokteran gigi

yang sekarang ini tersedia dipasaran dunia. Sebagian logam campur ini dirancang

untuk keperluan mahkota logam penuh, jembatan, onlay dan inlay.2.

Menurut American Dental Association (ADA) Specification No. 5 logam emas

diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan kandungan emasnya ke dalam 4 tipe

seperti ditunjukan ditabel 1:

2.2.1 Tipe I (Lunak)

Dental casting logam emas tipe I ini merupakan logam campur emas dengan

79-92.5 % emas. Komposisi dari logam ini terbatas dari emas, perak, tembaga, dan

seng ditambah platinum. Titik cair logam emas tipe I ini relatif tinggi berkisar 9400C

(12250 F). Logam emas tipe I memiliki kekerasan antara 40-75 Brinell Hard Number

(BHN). Logam ini pada umumnya sedikit sedikit ductil, menunjukan proportional

limit yang rendah, dengan nilai elongasi yang berkisar 25% - 30%. Yield strength dari

logam emas ini berkisar antara 100-110 Mpa, yang menunjukan bahwa aloi tipe ini

(17)

2.2.2 Tipe II (Sedang)

Dental casting logam tipe II merupakan logam campur emas dengan

kandungan emas 75-78% emas. Pada aloi ini mempunyai komposisi tembaga lebih

banyak dari tipe I dengan titik cair yang berkisar antara 9000 C (16500F). Logam

emas tipe II memiliki kekerasan berkisar antara 90 -140 BHN. Logam ini memiliki

nilai elongasi hampir sama

dengan alloy tipe I, yang menunjukan bahwa logam ini mempunyai ductility

yang cukup baik. Logam emas ini mempunyai yield strength yang lebih tinggi dari

logam emas tipe I. Kemampuan dari aloi tipe II ini untuk dibentuk dan

dimanipulasikan langsung dengan instrument kedokteran gigi tidak semudah tipe

I.7,8,9.

2.2.3 Tipe III (Keras)

Dental casting logam emas tipe III merupakan logam campur emas dengan

kandungan 62-78% emas. Komposisi dari logam emas ini memiliki persentasi yang

tinggi dari elemen pengeras seperti platinum dan palladium, karena logam ini

memerlukan kekuatan yang besar. Logam emas tipe III ini lebih keras dari kedua tipe

di atas, sehingga dapat menggantikan penggunaan logam emas tipe I dan tipe II.

Logam emas tipe III memiliki kekerasan 90-140 BHN. Logam emas ini memiliki titik

lebur sama dengan tipe II yaitu berkisar antara 9000C (16500F). Dengan proportional

limit sebesar 290 Mpa.7,8,9.

2.2.4 Tipe IV

Dental casting logam emas tipe IV ini merupakan logam campur emas dengan

(18)

murni sedikit sekali. Logam campur emas ini mempunyai sifat yang sangat keras

sekali dengan kekerasan diatas 130 BHN. Titik cair dari tipe IV ini dibawah dari tipe

tipe lainnya 8700 C (16500F).7,8,9

Tabel 1 Klasifikasi Dental Gold Alloy, ADA specification No.5

Type Logam Emas (%) BHN

Min. Max.

I (Soft) 83 40 75

II(Medium) 78 70 100

III(Hard) 78 90 140

IV(Extra Hard) 75 130 -

Klasifikasi Dental Gold Alloy diatas pada umunnya kekerasannya akan

bertambah tinggi dari type 1 hingga type 1V. Brinell Hardness Number (BHN) dari

alloy-alloy ini berhubungan langsung dengan tensile strength. Pada umumnya gold

alloy dengan BHN kurang dari 40 tidak boleh dipergunakan didalam mulut. Alloy

(19)

BAB 3

KOMPOSISI DAN SIFAT- SIFAT LOGAM CAMPUR EMAS

3.1 Komposisi Logam Campur Emas

Hanya sedikit logam yang digunakan dalam bentuk murni untuk tujuan

kedokteran gigi. Emas merupakan merupakan pengecualian yang menonjol. Menurut

ADA No 5, kandungan emas dari sebuah logam campur gigi dinyatakan berupa karat

atau fineness. Karat mengacu pada bagian dari emas murni didalam 24 bagian logam

campur. Misalnya emas 24 karat adalah emas murni, sedangkan emas 22 adalah logam

campur yang 22 bagiannya adalah emas murni dan 2 bagian lainnya adalah logam lain.

Selain daripada itu fineness mejelaskan logam campur emas menurut angka dari

bagian-bagian per1000 bagian emas. Misalnya emas murni mempunyai angka fineness

1000, dan logam campur dengan angka fineness 650 memiliki kandungan emas sebesar

65%. Jadi angka fineness adalah 10 kali angka persentasi kandungan emas didalam

sebuah logam campur. Adapun logam-logam yang digunakan sebagai campuran logam

emas untuk mendapatkan kekerasan, kekuatan dan sebagainya seperti yang diinginkan

maka diperlukan tambahan dengan logam-logam lain seperti:

1. Perak

2. Tembaga

3. Platina

4. Palladium

5. Seng

(20)

3.2.1 Emas

Emas murni adalah logam gigi yang paling murni, jarang berubah warna atau

berkarat dirongga mulut. Emas adalah logam yang paling bisa ditarik memanjang

(ductilitas tinggi) seperti yang ditunjukan oleh kemampuan dari bentuk silinder seberat

(29g 91oz) untuk ditarik menjadi sebuah kawat sepanjang 100 km (62mil). Emas

adalah logam yang paling bisa dibentuk, seperti ditunjukan oleh kemampuannya untuk

ditempa sampai ketebalan 0,00013mm (0.13), yaitu sepertiga dari ketebalan lembaran

emas yang digunakan dalam kedokteran gigi. Emas murni sangat lunak, tetapi setelah

didinginkan, kekerasannya 52 sampai 75 angka kekerasan vickers VHN, setara dan

bahkan melebihi logam campur emas tipe I dalam keadaan lunak yaitu 50 VHN, dan

setelah pengerasan.7,8.

Sifat-Sifat Emas Murni

A. Sifat Fisis:

• Warna : Emas mempunyai massa yang padat dan berwarna kuning, tapi bila dibuat menjadi bagian yang lebih tipis, berwarna ungu, violet, delima, atau

coklat.

• Berat Jenis : Mempunyai berat jenis yang tinggi yaitu 19,30-19,33, tergantung pada tuangan (cast) atau gumpalan (rolled), dan temperaturnya

ditentukan oleh berat jenis seperti yang ditunjukan dalam tabel 2.8,9,10.

(21)

Emas memiliki sifat mekanik seperti Tensile strength, Hardness, dan Elastic

Modulus. Emas memiliki yield strength yang rendah dan dapat ditipiskan dengan

setipis mungkin sehingga emas merupakan logam mulia yang paling ulet dan lunak

sehingga mudah sekali dibentuk.

• Malleability : Malleability adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh suatu compressive stress.

Ketebalannya dapat dikurangi sewaktu ditempa sampai seperduaratus limapuluh

inchi. Emas dapat ditempa sedemikian tipisnya sehingga tumpukan dari 120000

lembar tidak lebih dari 1 cm tebalnya. Satu gram emas dapat menjadi kawat

sepanjang 2,5 km.5,6,9.

• Ductility : Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh tensile stress atau load tanpa putus. Paling besar

dari semua logam-logam. Satu grain (0,0648) dapat dibuat panjang kawat

(22)

• Kekerasan : Kekerasan adalah suatu sifat yang digunakan untuk memperkirakan ketahanan aus suatu bahan dan kemampuan untuk mengabrasi atau mengikis

struktur gigi antagonisnya. Kekerasan permukaan suatu bahan biasanya

merupakan interaksi beberapa sifat mekanis yang terdapat didalam bahan

tersebut. Ada beberapa cara untuk mengukur kekerasan suatu bahan yaitu dengan

Brinell Hardness Test, Rockwell Test, Vickers Hardness Test. Kira-kira sepertiga

dari kekerasan intan. Kekerasan ini akan bertambah bila dicampur dan dipalu atau

digiling. Brinell Hardnessnya 48 dalam perbandingan dengan tembaga 74 dan

perak 59.5,6,7.

Tensile Strength : Tensile strength adalah stress maksimum yang dapat diterima oleh suatu bahan dalam bentuk comperession atau tegangan pada saat benda itu

patah atau rusak total. Tensile strength sering ditulis dengan U.T.S atau Ultimate

Tensile Sterngth. Ultimated Tensile Strength sering terjadi bila memberikan stress

sebelum putus oleh karena sautu tension. Tensile strength dinyatakan dalam

satuan Mega Pascal (Mpa). Menurut Hiorns emas sanggup menahan berat tujuh

kali tiap inchi persegi. Emas dapat disolder dalam keadaan dingin sedangkan

kebanyakan logam-logam lain disolder dalam keadaan panas.5,6,7.

• Modulus Elastisitas : Modulus Elastisitas adalah perbandingan yang konstan antara tenaga-tenaga pada atom yang menahan perpindahan (stress) dengan

derajat perpindahan atom tersebut (Strain). Modulus elastisitas dinyatakan dalam

satuan Giga newton / m2

(GN/m2)5,6,7.

Proportional Limit : Proportional limit atau batas keseimbangan merupakan stress maksimum yang masih dapat dihasilkan oleh suatu benda, dimana stress itu masih

berbanding langsung dengan strain. Proportional limit dinyatakan dalam satuan

(23)

C. Sifat Kimia

• Emas dalam keadaan murni tidak berubah bila digunakan di dalam mulut, tidak bereaksi dengan larutan-larutan asam maupun basa yang umumnya

dapat melarutkan logam-logam yang lainnya. Emas hanya dapat dilarutkan

Aqua-regia atau King Walter yaitu campuran asam klorida dan asam nitrat.

• Dalam kamus kimia emas dikenal Aurum atau Au.

• Memiliki sifat antikorosi yang baik selain stainless steel

3.2.2 Tembaga

• Tembaga adalah untuk menambah kekerasan dan kekuatan dari campuran.

Brinell hardness number (BHN) dari emas murni adalah 32, tapi dengan

menambah kira-kira 4 persen tembaga dapat memberi nilai BHN sampai

setinggi 54.

• Dapat menurukan daya tahan terhadap tarnish dan oksidasi dari campuran, oleh karena itu penggunaannya harus dibatasi kurang dari 15%.

• Tembaga adalah konduktor yang baik untuk panas dan listrik

• Cenderung untuk menurunkan titik lebur dan menambah ductility dari campuran

• Tembaga memberikan warna kemerahan-merahan pada campuran

• Titik Leburnya 10830C.10,11,12,13.

3.3.3 Perak

• Titik lebur perak adalah 9610

• Mengurangi warna kuningan emas serta memutihkan logam campur emas. C dan dapat melebur dengan mudah.

• Mempengaruhi pemanasan.

(24)

• Mengurangi daya tahan terhadap tarnish.10,11,12,13

3.3.4 Seng

• Seng lebih banyak dikenal kuning atau brass dan memiliki simbol kimia Zincum atau Zn.

• Peranan Zn apabila dicampur dengan Cu dalam logam campuran emas untuk memberikan warna yang kekuning-kuningan.

• Selain itu dapat meningkatkan ductility pada logam campur emas.

• Zn memiliki titik lebur yang jauh lebih rendah daripada emas, yakni 419 0C, oleh karena itu memerlukan teknik tersendiri dalam mencampurkan Zn ke

dalam emas.10,11,12,13.

3.3.5 Platina

• Berbanding dengan tembaga, platina memberikan kekerasan dan kekuatan yang lebih besar tetapi pemakaian terbatas karena harganya mahal.

• Mengurangi ductility dan menambah titik lebur lebih dari 10000

• Menambah daya tahan terhadap tarnish dan corrosi.

C.

• Memutihkan logam campur emas.

• 3-4 persen kandungannya dalam logam campur emas.10,11,12,13

3.3.6 Palladium

• Dapat memutihkan logam campur emas.

• Dapat menambah ketahanan terhadap tarnish dan korosi.

• Titik lebur dari palladium 15530C

• Kandungan 5-6 persen dalam logam campur emas. .

(25)

Menurut kegunaanya logam campur emas dibagi dalam tiga katagori yaitu

dental casting gold alloy, wrought gold alloy dan soldering alloy.

3.3 Dental Casting Gold Alloy

Logam Campur Emas adalah emas murni yang dialloykan dengan tembaga,

perak, platina, palladium, dan seng dalam komposisi tertentu. Komposisi suatu logam

adalah sangat penting karena akan menunjukan sifat logam tersebut seperti gold alloy

berkilat, penghantar panas dan penghantar listrik yang baik disebabkan sifat ikatan

logam dan dapat dibentuk setipis mungkin.

Gold alloy yang tersedia di kedokteran gigi ialah dalam keadaan tempa atau

lempegan metal atau kawat, juga dalam bentuk batang-batang kecil atau pelat kecil

yang siap untuk dilebur dan dicasting.12,14,15.

Contoh : 24 karat emas adalah emas murni.

Perbandingan dental gold alloy adalah 24 bagian dari emas dalam alloynya.

22 karat emas adalah 22 bagiannya adalah emas murni dan yang 2

bagian lagi adalah dari logam-logam lain.

Finess dari suatu gold alloy adalah perseribu dari bagian emas murni

Contoh : Emas murni adalah 1000 fine.

Tigaperempat dari alloy adalah emas murni, berarti : 750 fine.6,7,9

Hubungan antara karat dan finenes :

Karat/24 =Finenes/1000

Nilai karat dan fineness merupakan hal yang terpenting bagi dokter gigi,

sebagai pertimbangan untuk harga, ketahanan terhadap tarnish dan untuk

(26)

Tabel 3 Komposisi (Persentase Berat) Logam Campur Dental Casting Gold Alloy

Pada beberapa contoh platina diganti dengan palladium 5 %. Pada white gold alloy

komposisinya dirubah hingga mengandung emas 25 % atau dibawahnya. Pada

dasarnya white gold alloy terdiri dari palladium dan perak dengan persentase emas

sedikit. Alloy ini sebenarnya tidak dianggap sebagai gold alloy karena emas hanya

sebagian kecil.

Tabel 4 Komposisi Dari Dental Casting Gold Alloy Menurut Skinner.1

Type Emas Tembaga Perak Palladium Platina Seng

Klasifikasi yang terlihat pada tabel 3 dan 4 relatif sama akan tetapi untuk

mendapatkan hasil casting yang paling baik dokter gigi harus memilih aloi emas yang

memenuhi persyaratan menurut spesifikasi No .5 dari American Dental Association.

Menurut pemakaiannya gold alloy dibagi kepada tiga bagian yaitu, casting

(27)

3.3.1 Sifat Logam Campur Emas (Gold Alloy)

A.Sifat Fisis

Bahan- bahan yang dipergunakan keperluan didokteran gigi haruslah cukup

kuat, kaku serta tahan terhadap abrasi. Oleh karena itu penting untuk mengetahui

sifat-sifat fisis dari bahan-bahan tersebut agar baik dalam penggunannya. Sifat-sifat

dari logam emas antara lain:

• Ukuran kepadatan (Density)

Kepadatan adalah suatu hal penting untuk sifat dari logam, karena kepadatan

mempengaruhi kandungan klinis lainnya. Kepadatan yang rendah menambah

perpanjangan dan tensile strength dari logam tuang emas tetapi tidak mempengaruhi

kekerasan ataupun yield strength. 13,15,17.

• Warna

Warna merupakan sifat fisis dari logam. Berdasarkan warna dan unsur unsur

yang terdapat maka gold alloy dibagi dua yaitu yellow logam emas dan white gold

alloy. Warna dari campuran dapat dibuat putih atau warna perak dengan penambahan

platina, palladium atau perak dan dapat juga dengan seng dalam jumlah yang kecil.

Warna sering kali menjadi fokus utama bagi dokter gigi dan pasien. Logam emas

mempunyai warna yang kuning hal ini dikarenakan kandungan emas yang tinggi. 15,17.

• Resistensi korosi

Salah satu persyaratan utama bagi logam yang dipergunakan didalam rongga

mulut adalah harus tidak menghasilkan produk-produk korosi yang merusak struktur

(28)

merupakan suatu perusakan sebenarnya melalui reaksi lingkungan. Korosi dapat

menyebabkan kehilangan kualitas estetis dan merubah sifat-sifat dari logam.15,17.

• Konduktivitas termal

Kondukitivitas termal dari suatu logam adalah kemampuan suatu benda untuk

meneruskan atau menghantar panas melalui senyawa padat biasanya terjadi dengan

bantuan konduksi. Di dalam pemilihan bahan restorasi gigi seharusnya dicari suatu

bahan yang sifat konduktivitasnya serendah mungkin. Di Sistem Internasional yang

biasa digunakan untuk konduktivitas termal adalah watt / meter / 0K.15,17.

• Koefisien termal ekspansi

Termal ini penting bagi dokter gigi. Termal ekspansi merupakan kemampuan

suatu bahan akan memuai (ekspansi) bila dipanaskan dan menyusut (kontraksi) bila

didinginkan. Ekspansi dan kontraksi ini diukur dan dinyatakan sebagai Koefisien

Linier Termal Ekspansi yaitu penambahan panjang suatu benda dibanding dengan

unit panjang semula bila temperatur dinaikkan 10C.15,17.

• Titik Lebur

Titik lebur dari suatu emas juga termasuk kedalam sifat fisis dari logam emas.

Titik lebur dari logam emas tergantung pada komposisi dari logam tersebut, namum

jarang berbeda dengan emas murni yaitu 10630C. Biasanya tingginya titik lebur

tergantung kepada kandungan platinum yang terdapat dalam logam. Pada tabel

(29)

Tabel 5 Sifat Fisis Logam Campur Emas 2,3,5.

Dari tabel 5 dapat disimpulkan bahwa hardness, proportional limit, strength, logam

campur emas meningkat dari tipe I ke tipe IV, tetapi ductility, kepadatan dan titik

lebur menurun dari tipe I ke tipe IV.

B. Sifat Mekanis

Kebanyakan bahan kedokteran gigi harus mampu menahan adanya tekanan

pada penggunaan maupun pembuatannya. Oleh karena itu penting untuk mengetahui

sifat – sifat mekanis yang terdapat pada suatu bahan agar baik di dalam penggunannya.

Pada tabel berikut ini dapat dilihat sifat – sifat mekanis logam emas.

Logam campur emas memiliki sifat mekanis seperti hardness, modulus of

elasticity, tensile strength, proptional limit. Yield stress tinggi apabila hasil restorasi

akan memberikan beban yang besar didalam mulut. Bila alloy tidak cukup ductility

maka dapat patah selama pekerjaan pemolesan. Hardness atau kekerasan suatu alloy

merupakan petunjuk apakah alloy tersebut sukar diasah dan dihaluskan.

Tipe UnsurUtama(Au) TitikCair Kepadatan (Persentasi Perpanjangan)

(%) (0C) (g/cm3) (%)

1 83 1100 – 1180 16,6 36

11 78 920 – 970 15,9 38

111 78 900 – 960 15,5 39

(30)

Tabel 6 Sifat Mekanis Logam Campur Emas

Sifat Mekanis

Tipe Logam Campur Emas

I II III IV

Hardness(VHN) 50 -90 90 - 120 120 - 160 150 -230

Modulus of

elasticity (Gpa) 80 80 85 95

Tensile Strength

(Mpa) 250 340 360 500

Proportional

Limit (Mpa) 100 150 290 350

C. Sifat Kimia

Logam emas yang digunakan di kedokteran gigi tidak bereaksi dengan

hydrochlorit dan asam sulfur, walaupun digunakan untuk membersihkan restorasi yang

telah dicasting atau disolder. Logam emas mengalami tarnish dan corrosi didalam

mulut pada keadaan tertentu, contohnya seperti logam-logam yang mengandung emas,

platina, dan palladium komposisinya harus tepat untuk mencegah pudar.13,14.

Biokompatibilitas

Logam emas dalam kedokteran gigi menunjukan sedikit atau tidak ada sama

sekali efek yang membahayakan pada jaringan mulut, tetapi dengan adanya tembaga

dan sedikit perak dapat mengurangi biokompatibilitas dari logam emas.

Dari logam-logam murni emas dan paladium adalah yang paling tidak toxic

(31)

kandungan tembaga yang tinggi memperlihatkan toxisitas sel yang lebih besar. Dengan

penambahan palladium dalam logam emas dapat mengurangi toxisitas tembaga dengan

lebih efektif dari pada emas. Logam nikel memiliki masalah khusus karena sering

menjadi alergen, dimana 6% populasi wanita dan 2% populasi pria sensitif terhadap

logam ini.11,12.

3.4 Wrought Gold Alloy

Setiap bentuk struktur logam yang dikerjakan secara mekanis disebut wrought

metal.

Komposisi sedikit berbeda dibandingkan dengan casting gold alloy seperti terlihat

pada tabel 7.9.

Tabel 7 Komposisi dari wrought gold alloy

Unsur Utama Persentase

(%)

Emas 60

Perak 15

Tembaga 12

Platina 8

Palladium 4

Seng 1

Nikel kadang kadang dimasukkan juga dalam jumlah kecil dan mempunyai

pengaruh yang sama seperti pada casting gold alloy. Nikel dalam jumlah yang

berlebihan mengurangi ductility dan ketahanan dari alloy terhadap tarnish.

(32)

3.5 Soldering Gold Alloy

Soldering adalah proses penyambungan dua logam dengan peleburan logam

solder diantaranya, biasanya peleburan diantara alloy harus di bawah temperatur titik

lebur disebut solder. Dalam bidang kedokteran gigi soldering sangat berperan penting

sebagai penyambung bagian dari suatu restorasi, seperti pada restorasi bridge, dan

menyambung kawat (clasp) dalam perawatan ortodonti. Komposisi dasar dari logam

emas adalah sama dengan casting gold alloy dengan penambahan timah untuk

mengurangi temperatur lebur (fusion temperatur), seperi terlihat pada tabel 8.9,11.

Tabel 8 Komposisi solder emas

Unsur Utama Persentase

(%)

Emas 65

Perak 16

Tembaga 13

Seng 4

Timah 2

Temperatur lebur bahan solder harus lebih rendah daripada temperatur logam

yang disolder, sehingga bagian logam tersebut tidak melebur selama proses

penyolderan. Logam solder tersedia dalam beberapa jenis dari yang lunak sampai yang

keras. Yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi adalah solder keras atau ”High

(33)

Sifat-sifat yang dimiliki oleh logam solder yang keras adalah :

1. Titik lebur harus dibawah dari alloy yang akan disolder.

2. Harus mempunyai daya gabung yang baik untuk alloy akan disolder.

3. Harus bebas mengalir ketika melebur dan harus mempunyai tegangan

permukaan yang rendah ketika melebur.

4. Warna harus sesuai dengan alloy yang akan disolder.

5. Harus tidak tarnish dan corrosi didalam mulut.

(34)

BAB 4

KEUNTUNGANDANKERUGIANDANPENGARUHLOGAM CAMPUREMAS

4.1 Keuntungan Dari Logam Campur Emas2,3,4,5, 6,8, 15,16,17.

1. Tidak larut dalam cairan mulut.

2. Dapat menyesuaikan diri dengan dengan dinding kavitas, jika dikerjakan dengan

baik.

3. Sangat padat, tahan terhadap perusakan dan pinggiran kuat.

4. Dapat dipolish dan mampu bertahan supaya tetap berkilat.

5. Kecenderungan untuk merubah molekulnya rendah, bebas dari penyusutan atau

ekspansi.

6. Tidak membutuhkan bahan lain diantara cement dengan logam campur emas.

7. Tensile strength baik:

• Karena logam tersebut dapat menahan dan melawan daya kunyah yang besar.

• Misalnya pada emas (Au) ditambah dengan perak (Ag) akan menambah

tensile strength.

8. Ductility yang baik karena :

• Logam dapat ditarik menjadi panjang membentuk kawat dengan ukuran 1 grain emas dapat dibuat kawat sepanjang kawat 550 feet dengan diameter

1/5000 inchi.

9. Mudah disolder karena bahan logam yang disolder akan sesuai dengan bahan

(35)

10. Kekerasan cukup :

• Misalnya emas bila makin rendah nilai karatnya maka kekerasan makin bertambah.

• Contoh-contoh logam yang dimasukkan untuk menambah kekuatan adalah tembaga, platina, palladium.

11. Malleability tinggi:

Yaitu mudah dibentuk dan dibuat tipis contohnya,1grain emas dapat dibuat

lempengan tipis seluas 75 sq inchi dengan tebal 1/370,000 inchi.

12. Logam emas merupakan logam yang paling tidak memberikan pengaruh atau

tidak beracun sama sekali terhadap rongga mulut.

4.2 Kerugian Logam Campur Emas2,3,4,5, 6,8, 15,16,17.

1. Dari segi pertimbangan warna kurang menguntungkan bagi pasien karena

tidak sama dengan warna gigi aslinya.

2. Conductivity tinggi.

3. Pada saat preparasi memerlukan banyak pengurangan gigi sehingga dapat

membahayakan pulpa.

4. Biaya yang sangat mahal juga merupakan salah satu masalah yang utama bagi

pasien.

5. Umumnya logam-logam murni lunak dan ductility tidak sesuai digunakan

dalam kedokteran gigi.

6. Titik lebur masih termasuk tinggi terutama jenis yang sangat keras.

(36)

4.3 Pengaruh Emas Terhadap Logam Campur Emas

Pengaruh emas terhadap logam campur emas adalah seperti berikut:

1. Malleability

2. Ductility

4.3.1 Ductility Dan Malleability

Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu

deformasi permanen oleh tensile stress atau load tanpa putus, contohnya metal atau

logam dapat ditarik menjadi panjang kawat. Malleability sangat berkaitan erat dengan

ductility, malleability adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu

deformasi permanen oleh suatu compressive stress, contohnya emas dapat digulung

dan digilas menjadi lembaran yang demikian tipisnya sehingga tembus cahaya2,3.

Pada umumnya ductility berkurang dengan naiknya temperatur sedang malleability

bertambah dengan kenaikan temperature. Ductility dan malleability akan berkurang

bila kandungan emas berkurang.16,17.

Sifat-sifat mekanis logam emas seperti kekerasan dan ductility dapat

diperbaiki dengan pemanasan (Heat treatment), meliputi softening heat treatment

(pelunakan dengan pemanasan).6,7,12. Softening heat treatment yang baik adalah

menurut Spesifikasi No.5 dari American Dental Association. Logam emas dipanaskan

dalam tungku elektrik selama 10 menit pada temperatur 700 0C (1292 0F) kemudian

logam emas ini mendadak di dinginkan (dimasukkan dalam air) pada temperatur

kamar. Proses pendinginan yang cepat dapat mempertahankan logam dalam keadaan

lunak. Cara ini menambah ductility tetapi mengurangi kekerasan, tensile strength dan

(37)

4.4 Kegunaan Dental Logam Campur Emas

Emas merupakan pilihan yang tepat untuk restorasi pada kedokteran gigi

karena nobility dan warnanya. Emas dapat digunakan pada semua kavitas klas I, ideal

untuk klas V karena mudah dicapai dan tidak terlihat. Pada Klas II yang kecil dan

sedang, sedangkan pada klas III yang sering digunakan dengan mengorbankan estetis.

Berdasarkan Spesifikasi ADA No. 5 yang direvisi tahun 1989, empat jenis logam

campur berikut ini klasifikasikan berdasarkan sifat-sifat dan fungsinya.1,2,5,6.

Menurut kegunaannya logam campur emas dibagi dalam tiga katagori

1. Casting gold alloy

2. Wrought gold alloy

3. Soldering gold alloy

4.4.1 Kegunaan Dental Casting Gold Alloy

Sejak diterapkan teknik pengecoran logam di kedokteran gigi, maka dipilih

logam yang mengandung emas yang dipergunakan untuk membuat restorasi-restorasi

tuangan seperti logam campur emas. Emas memiliki banyak sifat-sifat baik yang

diperlukan oleh suatu bahan dental.

Syarat syarat logam untuk pembuatan mahkota dan jembatan yaitu dapat

bertahan terhadap keadaan di dalam mulut, cukup kuat untuk menahan daya kunyah,

dan mudah dikerjakan di laboratorium, tidak berubah warna, tidak mempunyai rasa

dan tidak beracun, tidak kehilangan sifat sifatnya selama dikerjakan atau diolah

(38)

1. Tipe I (Lunak).

Penggunaan dari logam emas tipe I untuk inlay yang simple seperti klas III

dan IV dimana tidak menerima beban pengunyahan yang besar. Akan tetapi

logam emas tipe I ini suah jarang digunakan karena sudah banyak bahan tambalan

langsung yang mempunyai kegunaan yang sama dengan logam emas ini.

2. Tipe II (Sedang)

Penggunaan dari logam campur emas tipe II ini dapat digunakan

untuk segala tipe inlay pada penambalan yang tidak mendapatkan stress yang

besar sehingga penggunaan logam campur tipe ini tidak begitu luas.

3. Tipe III (Keras)

Logam campur ini dapat digunakan untuk keperluan mahkota,

jembatan, dan dapat digunakan sebagai inlay pada dearah yang dapat

menerima beban yang sangat besar selama pengunyahan.

4. Tipe IV (Sangat Keras)

Penggunaan dari logam ini umumnya untuk tuangan yang besar seperti

jembatan yang panjang, gigitiruan sebagaian tuangan dan cangkolan.

Dari semua tipe ini tipe III merupakan logam emas yang paling tepat

untuk pembuatan mahkota, jembatan, dan inlay klas II, dimana jenis aloi ini

memiliki nilai modulus elastisitas yang rendah dan nilai ductility yang tinggi

(39)

Mahkota.

Mahkota adalah suatu restorasi berupa mahkota penuh atau sebagian dari

suatu gigi geraham yang dibuat dari logam porselen, resin atau kombinasi dari kedua

bahan tersebut. Kandungan utama dari tuangan logam murni yang digunakan pada

teknik mahkota logam adalah emas, platinum dan palladium dan palladium

ditambahkan untuk menaikkan temperatur lebur, menurunkan koefisien muai panas

dan untuk menguatan logam tuang tersebut. Mahkota emas digunakan ketika pasien

tidak peduli akan penampilan emas atau ketika gigi tidak terlihat selama pergerakan

normal mulut.8,9,12,17.

Jembatan

Jembatan adalah fixed partial denture merupakan suatu protesa sebagian yang

diletakan secara tetap pada satu atau lebih dari satu gigi penyangga dan mengganti

satu atau lebih dari satu gigi atau geraham yang hilang. Suatu jembatan harus

memiliki persyaratan mekanis, persyaratan fisiologis, persyaratan hygiene,

persyaratan estetik, dan persyaratan fonetik. 8,9,12,17.

Inlay Klas II

Inlay merupakan tambalan yang dibentuk diluar mulut dengan jalan membuat

model malam terlebih dahulu atau tidak, dapat bersifat logam atau non logam dan

disemen pada kavitas.

Inlay yang menggunakan logam campur emas tipe III adalah tambalan inlay

klas II. Faktor-faktor yang mempengaruhi saat mempertimbangan klas I dan klas II

adalah faktor usia, tingkat akitivitas karies, biaya perawatan.

(40)

4.4.2 Kegunaan Wrought Gold Alloy :

• Untuk membentuk clasp.

• Untuk membentuk lingual bar.

• Untuk membentuk saddle dari gigi palsu.

4.4.3 Kegunaan Soldering Gold Alloy:

• Untuk menyatukan bagian dari restorasi

• Untuk membangun contour pada restorasi.

• Untuk menyatukan bagian-bagian dari logam tempa, seperti clasp atau kawat-kawat.

(41)

BAB 5

KESIMPULAN

1. Emas merupakan salah satu logam murni yang dipergunakan di kedokteran gigi,

tapi terbatas karena sangat lunak. Untuk mendapatkan kekuatan, kekerasan dan

warna yang di inginkan digunakan logam campur emas seperti perak, tembaga,

platina, palladium dan seng.

2. Berdasarkan penggunaannya logam campur emas ini digunakan sebagai casting

gold alloy, wrought gold alloy dan soldering gold alloy untuk pembuatan inlay,

crown dan bridge, full dan partial veneer crown, saddle, clasp, lingual bar dan

bingkai dari gigi palsu.

3. Keuntungan pemakaian logam campuran emas yaitu tidak larut dalam cairan

mulut, dapat menyesuaikan diri dengan dinding kavitas, sangat padat,

mempunyai sifat ductility dan permalleability yang baik dapat dipolish.

4. Kerugian pemakaian logam campuran emas yaitu warnanya tidak harmonis

(42)

DAFTAR PUSTAKA

1. Philips RW. Science of Dental Material, 8th

2. John F, McCabe. Applied Dental Materials, 9

ed. Philadelphia : WB Saunders

Company 1999 ; 343 – 55.

th

3. Kenneth J, Anusavice. Ilmu Bahan Kedokteran Gigi, 10

ed. British : Blackwell Pub Ltd

2008 ; 53 – 84.

th

4. Anderson JN. Applied Dental Material, 4

ed. Philadelphia : WB

Saunders Company 2004 ; 273 – 355.

th

5. O'Brien W.

ed.Oxford: Blackwell Scient Pub

1998:13

Evolution of Dental Casting. In: Valega T, editor. Alternatives to

Gold Alloys in Dentistry. Conf. Proc. DHEW Pub. Washington DC, U.S.

Government Printing Office 1977;

6. Craig G, O'Brien W, Powers J.

No. [NIH]77-1227.

Dental Materials Properties and Manipulation.

7. Cohen S, Kakar A, Vaidyanathan T, Viswanadhan T.

St

Louis, Mosby,1983: 236–250.

Castability Optimization of

Palladium Based Alloys. J Prosthet Dent 1996

8. Kansu G, Aydin A.

; 125–131.

Evaluation of the Biocompatibility of Various Dental Alloys:

Part II - Allergenical Potentials. Eur J Prosthodont Rest Dent, 1996; 4

9. Mulders C, Darwish M, Holze R.

: 155–161.

Corrosion Behaviour of Dental Alloys - An

in-vitro study. J Oral Rehabil 1996; 23

10.Frykholm K, Frithiof L, Fernström A, Moberger G, Blohm S, Björn E. : 825–831.

Allergy to

Copper derived from Dental Alloys as a possible cause of Oral Lesions of Lichen

Planus. Acta Dermato-Venereologica 1969; 49

11.Smart E, Macleod R, Lawrence C.

: 268–281.

Resolution of Lichen Planus following

removal of Amalgam Restorations in patients with proven allergy to Mercury

(43)

12.Pierce L, Goodkind R A. Status report of the possible risks of Base Metal Alloys

and their components. J Prosthet Dent 1989; 62

13.Northeast SE, Van Noort R, Johnson A, Winstanley RB, White GE. : 234–237.

Metal-Ceramic

Bridges From Commercial Dental Laboratories: Alloy composition, Cost and

Quality of fit. Br Dent J 1992; 172

14.Nery S, McCabe JF, Wassell RW. : 198–204.

A Comparative Study of Three Dental

Adhesives. J Dent 1994; 23

15.Weiss P.

: 55–61.

New design parameters: Utilising the Properties of Ni-Cr Super Alloys.

Dent Clin N Am 1990; 21

16.Ewing JC. Fixed Partial Prosthesis, 2 : 749.

th

17.Marzouk M, Saleh L, Emanuel R, Malone W.

ed. Philadelpia Lea & Febiger 1998 ;

231-233

Clinical behaviour of

Silver-Palladium Alloy Castings: a Five Year Comparative Clinical Study. J Prosthet

Gambar

Tabel
Tabel 1 Klasifikasi Dental Gold Alloy, ADA specification No.5
Tabel 3 Komposisi (Persentase Berat)  Logam Campur Dental Casting Gold Alloy
Tabel 5 Sifat Fisis Logam Campur Emas
+3

Referensi

Dokumen terkait