PERANAN EMAS DALAM LOGAM CAMPUR EMAS KEDOKTERAN GIGI
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperolah gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh:
SATTHVA SIVAM A/L RATNAKRISHANAN NIM : 060600161
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
A) FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
B) DEPARTEMEN ILMU MATERIAL DAN TEKNOLOGI C) TAHUN 2010 D) SATTHVA SIVAM A/L RATNAKRISHNAN.
E) PERANAN EMAS DALAM LOGAM CAMPUR EMAS KEDOKTERAN GIGI F) vi+31 Halaman
G) Emas murni adalah emas yang bersifat sangat lunak sehingga tidak dapat
dipergunakan dalam bidang kedokteran gigi. Pengalloyan emas murni dilakukan
dengan beberapa logam lain seperti tembaga, palladium, seng, platina dan perak
untuk mendapatkan sifat mekanis yang baik. Menurut American Dental Association
(ADA) specification No. 5 logam emas diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan
kandungan emasnya ke dalam 4 tipe yaitu Tipe I (lunak), Tipe II (Sedang), Tipe III
(keras), Tipe IV (sangat keras). Logam emas mempunyai sifat-sifat yang baik
sehingga mendapat hasil yang baik apabila digunakan dalam bidang kedokteran gigi
seperti, mempunyai biokompatibilitas yang baik dimana hanya menunjukkan sedikit
atau tidak ada sama sekali efek yang membahayakan pada rongga mulut, selain itu
mempunyai malleability dan ductility yang baik dibanding logam logam lain.
Dalam penggunaannya logam emas mempunyai kebaikan dan keburukan.
Kebaikan logam emas yaitu mempunyai kekerasan dan kekuatan yang baik, mudah
dimanipulasi, mudah di burnis, mempunyai daya tahan terhadap tarnis dan korosi,
memiliki adaptasi klinis yang baik terhadap gigi dan dapat ditoleransi dengan baik
oleh gusi dan jaringan intra oral, serta tidak memberikan efek beracun terhadap
rongga mulut. Keburukan yaitu warna yang kurang menguntungkan bagi pasien,
memerlukan banyak preparasi gigi sehingga dapat membahayakan pulpa, dan biaya
yang sangat mahal.
Pengaruh emas terhadap logam campur emas adalah malleability dan
ductility. Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu
kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh
suatu compressive stress. Di dalam pengunaan logam emas, kekerasan emas
bertambah dari tipe I ke tipe IV sedangkan ductility dan malleability berkurang bila
kandungan emas berkurang.
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan
di hadapan tim penguji skripsi
Medan, Mei 2010
Pembimbing: Tanda Tangan
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji
pada tanggal Mei 2010
TIM PENGUJI
KETUA : Sumadhi S drg Ph.D
ANGGOTA : 1. Lasminda Syafiar drg M.Kes
2. Rusfian drg M.Kes
3. Siti Chadidjah Az drg
4. Kholidina Imanda Harahap drg
5. Ika Dewi Adiana drg
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi di Departemen Ilmu Material dan
Teknologi Kedokteran Gigi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis ingin mengucapkan rasa hormat dan
terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua tercinta, Ayahanda Ratnakrishnan
dan Ibunda Punya Kumari atas do’a cinta dan kasih sayang atas dukungan moral dan
materil yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan sarjana di
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:.
1. Sumadhi S drg Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi yang telah begitu sabar
dan banyak meluangkan waktu, tenaga, memberikan pemikiran dan masukan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Lasminda Syafiar drg M.Kes selaku Ketua Departmen Ilmu Material dan
Teknologi Kedokteran Gigi FKG USU yang memberikan saran dan masukan
dalam skripsi ini.
3. Rusfian drg M.Kes, Siti Chadidjah Az drg dan Kholidina Imanda Harahap drg
dan Ika Dewi Adiana drg yang sudi memberikan saran dan komentar sewaktu
4. Teman-teman seperjuangan penulis yaitu Prem Latta, Amee Safia, Jana,
Muniez atas kerjasamanya selama ini serta Muktar, Ika, Chankar dan
teman-teman dari stambuk 2006, 2007, 2008, dan 2009 atas persahabatan, bantuan,
dukungan dan semua hal yang diberikan kepada penulis selama menjalani
perkuliahan.
Penulis mengharapkan semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan sumbangan
pikiran bagi fakultas, pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Medan, Mei 2010
Penulis,
3.3.1 Sifat Logam Campuran Emas ... 15
3.4 Wrought Logam Emas ... 19
3.5 Soldering Logam Emas ... 20
BAB 4 KEUNTUNGAN KERUGIAN DAN PENGARUH LOGAM CAMPUR EMAS ... 22
4.1 Keuntungan Logam Campur Emas ... 22
4.2 Kerugian Logam Campur Emas ... 23
4.3 Pengaruh Emas Dalam Logam Campur Emas ... 24
4.3.1 Permalleability dan Ductility ... 24
4.4 Kegunan Logam Campur Emas ... 25
4.4.1 Kegunaan Dental Casting Alloy ... 25
4.4.2 Kegunaan Wrougth Gold Alloy ... 28
4.4.3 Kegunaan Soldering ... 28
BAB 5 KESIMPULAN ... 29
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Klasifikasi Dental Gold Alloy, ADA Specification No.5 ... 6
2. Sifat Fisis Emas ... 9
3. Komposisi (Persentase Berat) Logam Campur Dental Casting Gold Alloy Tipe I Sampai Tipe IV Menurut (ADA) ... 14
4. Komposisi Dari Dental Casting Gold Alloy Menurut Skinner ... 14
5. Sifat Fisis Logam Campur Emas ... 17
6. Sifat Mekanis Logam Campur Emas ... 18
7. Komposisi dari Wrought gold alloy ... 19
A) FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
B) DEPARTEMEN ILMU MATERIAL DAN TEKNOLOGI C) TAHUN 2010 D) SATTHVA SIVAM A/L RATNAKRISHNAN.
E) PERANAN EMAS DALAM LOGAM CAMPUR EMAS KEDOKTERAN GIGI F) vi+31 Halaman
G) Emas murni adalah emas yang bersifat sangat lunak sehingga tidak dapat
dipergunakan dalam bidang kedokteran gigi. Pengalloyan emas murni dilakukan
dengan beberapa logam lain seperti tembaga, palladium, seng, platina dan perak
untuk mendapatkan sifat mekanis yang baik. Menurut American Dental Association
(ADA) specification No. 5 logam emas diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan
kandungan emasnya ke dalam 4 tipe yaitu Tipe I (lunak), Tipe II (Sedang), Tipe III
(keras), Tipe IV (sangat keras). Logam emas mempunyai sifat-sifat yang baik
sehingga mendapat hasil yang baik apabila digunakan dalam bidang kedokteran gigi
seperti, mempunyai biokompatibilitas yang baik dimana hanya menunjukkan sedikit
atau tidak ada sama sekali efek yang membahayakan pada rongga mulut, selain itu
mempunyai malleability dan ductility yang baik dibanding logam logam lain.
Dalam penggunaannya logam emas mempunyai kebaikan dan keburukan.
Kebaikan logam emas yaitu mempunyai kekerasan dan kekuatan yang baik, mudah
dimanipulasi, mudah di burnis, mempunyai daya tahan terhadap tarnis dan korosi,
memiliki adaptasi klinis yang baik terhadap gigi dan dapat ditoleransi dengan baik
oleh gusi dan jaringan intra oral, serta tidak memberikan efek beracun terhadap
rongga mulut. Keburukan yaitu warna yang kurang menguntungkan bagi pasien,
memerlukan banyak preparasi gigi sehingga dapat membahayakan pulpa, dan biaya
yang sangat mahal.
Pengaruh emas terhadap logam campur emas adalah malleability dan
ductility. Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu
kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh
suatu compressive stress. Di dalam pengunaan logam emas, kekerasan emas
bertambah dari tipe I ke tipe IV sedangkan ductility dan malleability berkurang bila
kandungan emas berkurang.
BAB 1
PENDAHULUAN
Emas berasal dari kata Latin = aurum, dikenal sebagai logam yang bernilai
sejak permulaan peradaban manusia. Sekitar 2/3 perolehan emas diseluruh dunia
berasal dari Afrika Selatan dan sekitar 2/3 total produksi emas Amerika berasal dari
Dakota Selatan dan Nevada. Emas juga dikenal sebagai logam yang memiliki
konduktivitas panas dan listrik yang baik serta tidak bereaksi atau terkorosi oleh
udara dan bahan lainnya. Oleh karena keunggulannya, maka emas dijadikan mata
uang koin dan sebagai standar keuangan dibanyak negara. Selain itu emas juga
digunakan sebagai perhiasan, dekorasi, untuk melapisi logam lain dan bahan dibidang
kedokteran gigi. Charmichael pada tahun 1906 menemukan semacam mahkota emas
sebagian yang disebut Partial Veneer Gold Crown dan juga sering disebut
Charmicheal crown.1.
Bahan logam campur emas dalam kedokteran gigi juga banyak dipergunakan
sebagai bahan tambalan gigi, untuk pembuatan inlay, mahkota dan jembatan atau
dapat pula sebagai landasan gigitiruan. Logam-logam pada umumnya dijadikan alloy
untuk mendapatkan beberapa sifat yang menguntungkan dalam pemakaiannya. Secara
umum sifat-sifat yang perlu dan harus dimiliki dalam pemakaian di kedokteran gigi
adalah derajat resistensi terhadap tarnish dan korosi di dalam mulut tinggi dan
resistensi terhadap stress tanpa menimbulkan deformasi permanent atau fraktur.1,2,3.
Logam campur emas merupakan logam yang terdiri dari beberapa campuran
dengan emas yaitu tembaga, perak, platina, palladium dan seng. Pada tahun 1932
ADA Specification No 5 menetapkan berbagai logam campur emas yang digunakan
dan secara umum mengelompokannya sebagai tipe 1 (lunak), tipe 2 (sedang), tipe 3
logam campur yang mengandung emas lebih rendah dari 65% -75% terlalu mudah
terkorosi untuk dapat digunakan sebagai tambalan gigi.
2,4.
Logam-logam harus menunjukan kecocokan biologis, mudah untuk dicairkan,
dicor, dilas (disolder) dan dipolish mempunyai ketahanan abrasi yang baik, kekuatan
tinggi dan tahan terhadap tekanan serta tahan terhadap karat dan korosi. Keuntungan
pemakaian logam campur emas pada umumnya adalah mempunyai tensile strength,
ductility yang baik, mudah disolder, mempunyai kekerasan yang cukup dan mudah
dibentuk setipis mungkin, sedangkan kerugiannya adalah harganya mahal dan titik
leburnya tinggi.3,5.
Dalam skripsi ini akan dijelaskan tentang pengertian logam campur emas,
klasifikasi dan komposisi logam campur emas, sifat-sifat emas, pengaruh emas dalam
BAB 2
PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI LOGAM CAMPUR EMAS
2.1. Pengertian Logam Campur Emas
Emas adalah
univalen) yang lunak, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas
tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya kecuali oleh
melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius.4,5,6.
Emas murni atau pure gold adalah suatu logam yang mengandung 99.5 % atau
lebih Au (Aurum) di dalamnya. Logam campur emas adalah logam mulia yang
dicampur dengan logam yang kurang mulia. Logam yang dipakai disini adalah emas
(Au) 24 karat dan logam lainnya seperti perak (Ag), tembaga (Cu), platina (Pt),
palladium (Pd) dan seng (Zn).
2,3,4.
Logam campur emas (gold alloy) yang digunakan dalam kedokteran gigi
paling sedikit mengandung 2 macam logam maksimum 7-8 logam yang dicampur.
Banyak sedikitnya logam emas yang dipergunakan akan menunjukkan tinggi
rendahnya karat logam campur mulia tersebut. Misalnya makin banyak tembaga (Cu)
yang dicampur makin rendah nilai karat logam campur emas tersebut dan logam
campur emas 14 karat dapat menjadi lebih tinggi nilai karatnya dengan menambah
sejumlah logam campur emas 22 karat.6,7.
Emas murni tidak dipergunakan untuk restorasi tuangan maupun untuk
mahal. Untuk mengatasi hal ini gold dapat dialloykan dengan elemen-elemen tertentu
yang dapat memberikan sifat-sifat mekanis yang lebih baik.6.
Logam mulia digunakan untuk inlay, mahkota dan jembatan karena daya
tahannya terhadap karat dan korosi. Dari tujuh logam mulia yang dianggap mulia
menurut standar kegunaannya di bidang kedokteran gigi, hanya emas, palladium dan
platinum yang sekarang masih banyak digunakan didalam kedokteran gigi.6,7,8.
2.2 Klasifikasi Logam Campur Emas
Ada beberapa jenis logam campur untuk dipergunakan di kedokteran gigi
yang sekarang ini tersedia dipasaran dunia. Sebagian logam campur ini dirancang
untuk keperluan mahkota logam penuh, jembatan, onlay dan inlay.2.
Menurut American Dental Association (ADA) Specification No. 5 logam emas
diklasifikasikan berdasarkan kekuatan dan kandungan emasnya ke dalam 4 tipe
seperti ditunjukan ditabel 1:
2.2.1 Tipe I (Lunak)
Dental casting logam emas tipe I ini merupakan logam campur emas dengan
79-92.5 % emas. Komposisi dari logam ini terbatas dari emas, perak, tembaga, dan
seng ditambah platinum. Titik cair logam emas tipe I ini relatif tinggi berkisar 9400C
(12250 F). Logam emas tipe I memiliki kekerasan antara 40-75 Brinell Hard Number
(BHN). Logam ini pada umumnya sedikit sedikit ductil, menunjukan proportional
limit yang rendah, dengan nilai elongasi yang berkisar 25% - 30%. Yield strength dari
logam emas ini berkisar antara 100-110 Mpa, yang menunjukan bahwa aloi tipe ini
2.2.2 Tipe II (Sedang)
Dental casting logam tipe II merupakan logam campur emas dengan
kandungan emas 75-78% emas. Pada aloi ini mempunyai komposisi tembaga lebih
banyak dari tipe I dengan titik cair yang berkisar antara 9000 C (16500F). Logam
emas tipe II memiliki kekerasan berkisar antara 90 -140 BHN. Logam ini memiliki
nilai elongasi hampir sama
dengan alloy tipe I, yang menunjukan bahwa logam ini mempunyai ductility
yang cukup baik. Logam emas ini mempunyai yield strength yang lebih tinggi dari
logam emas tipe I. Kemampuan dari aloi tipe II ini untuk dibentuk dan
dimanipulasikan langsung dengan instrument kedokteran gigi tidak semudah tipe
I.7,8,9.
2.2.3 Tipe III (Keras)
Dental casting logam emas tipe III merupakan logam campur emas dengan
kandungan 62-78% emas. Komposisi dari logam emas ini memiliki persentasi yang
tinggi dari elemen pengeras seperti platinum dan palladium, karena logam ini
memerlukan kekuatan yang besar. Logam emas tipe III ini lebih keras dari kedua tipe
di atas, sehingga dapat menggantikan penggunaan logam emas tipe I dan tipe II.
Logam emas tipe III memiliki kekerasan 90-140 BHN. Logam emas ini memiliki titik
lebur sama dengan tipe II yaitu berkisar antara 9000C (16500F). Dengan proportional
limit sebesar 290 Mpa.7,8,9.
2.2.4 Tipe IV
Dental casting logam emas tipe IV ini merupakan logam campur emas dengan
murni sedikit sekali. Logam campur emas ini mempunyai sifat yang sangat keras
sekali dengan kekerasan diatas 130 BHN. Titik cair dari tipe IV ini dibawah dari tipe
tipe lainnya 8700 C (16500F).7,8,9
Tabel 1 Klasifikasi Dental Gold Alloy, ADA specification No.5
Type Logam Emas (%) BHN
Min. Max.
I (Soft) 83 40 75
II(Medium) 78 70 100
III(Hard) 78 90 140
IV(Extra Hard) 75 130 -
Klasifikasi Dental Gold Alloy diatas pada umunnya kekerasannya akan
bertambah tinggi dari type 1 hingga type 1V. Brinell Hardness Number (BHN) dari
alloy-alloy ini berhubungan langsung dengan tensile strength. Pada umumnya gold
alloy dengan BHN kurang dari 40 tidak boleh dipergunakan didalam mulut. Alloy
BAB 3
KOMPOSISI DAN SIFAT- SIFAT LOGAM CAMPUR EMAS
3.1 Komposisi Logam Campur Emas
Hanya sedikit logam yang digunakan dalam bentuk murni untuk tujuan
kedokteran gigi. Emas merupakan merupakan pengecualian yang menonjol. Menurut
ADA No 5, kandungan emas dari sebuah logam campur gigi dinyatakan berupa karat
atau fineness. Karat mengacu pada bagian dari emas murni didalam 24 bagian logam
campur. Misalnya emas 24 karat adalah emas murni, sedangkan emas 22 adalah logam
campur yang 22 bagiannya adalah emas murni dan 2 bagian lainnya adalah logam lain.
Selain daripada itu fineness mejelaskan logam campur emas menurut angka dari
bagian-bagian per1000 bagian emas. Misalnya emas murni mempunyai angka fineness
1000, dan logam campur dengan angka fineness 650 memiliki kandungan emas sebesar
65%. Jadi angka fineness adalah 10 kali angka persentasi kandungan emas didalam
sebuah logam campur. Adapun logam-logam yang digunakan sebagai campuran logam
emas untuk mendapatkan kekerasan, kekuatan dan sebagainya seperti yang diinginkan
maka diperlukan tambahan dengan logam-logam lain seperti:
1. Perak
2. Tembaga
3. Platina
4. Palladium
5. Seng
3.2.1 Emas
Emas murni adalah logam gigi yang paling murni, jarang berubah warna atau
berkarat dirongga mulut. Emas adalah logam yang paling bisa ditarik memanjang
(ductilitas tinggi) seperti yang ditunjukan oleh kemampuan dari bentuk silinder seberat
(29g 91oz) untuk ditarik menjadi sebuah kawat sepanjang 100 km (62mil). Emas
adalah logam yang paling bisa dibentuk, seperti ditunjukan oleh kemampuannya untuk
ditempa sampai ketebalan 0,00013mm (0.13), yaitu sepertiga dari ketebalan lembaran
emas yang digunakan dalam kedokteran gigi. Emas murni sangat lunak, tetapi setelah
didinginkan, kekerasannya 52 sampai 75 angka kekerasan vickers VHN, setara dan
bahkan melebihi logam campur emas tipe I dalam keadaan lunak yaitu 50 VHN, dan
setelah pengerasan.7,8.
Sifat-Sifat Emas Murni
A. Sifat Fisis:
• Warna : Emas mempunyai massa yang padat dan berwarna kuning, tapi bila dibuat menjadi bagian yang lebih tipis, berwarna ungu, violet, delima, atau
coklat.
• Berat Jenis : Mempunyai berat jenis yang tinggi yaitu 19,30-19,33, tergantung pada tuangan (cast) atau gumpalan (rolled), dan temperaturnya
ditentukan oleh berat jenis seperti yang ditunjukan dalam tabel 2.8,9,10.
Emas memiliki sifat mekanik seperti Tensile strength, Hardness, dan Elastic
Modulus. Emas memiliki yield strength yang rendah dan dapat ditipiskan dengan
setipis mungkin sehingga emas merupakan logam mulia yang paling ulet dan lunak
sehingga mudah sekali dibentuk.
• Malleability : Malleability adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh suatu compressive stress.
Ketebalannya dapat dikurangi sewaktu ditempa sampai seperduaratus limapuluh
inchi. Emas dapat ditempa sedemikian tipisnya sehingga tumpukan dari 120000
lembar tidak lebih dari 1 cm tebalnya. Satu gram emas dapat menjadi kawat
sepanjang 2,5 km.5,6,9.
• Ductility : Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu deformasi permanen oleh tensile stress atau load tanpa putus. Paling besar
dari semua logam-logam. Satu grain (0,0648) dapat dibuat panjang kawat
• Kekerasan : Kekerasan adalah suatu sifat yang digunakan untuk memperkirakan ketahanan aus suatu bahan dan kemampuan untuk mengabrasi atau mengikis
struktur gigi antagonisnya. Kekerasan permukaan suatu bahan biasanya
merupakan interaksi beberapa sifat mekanis yang terdapat didalam bahan
tersebut. Ada beberapa cara untuk mengukur kekerasan suatu bahan yaitu dengan
Brinell Hardness Test, Rockwell Test, Vickers Hardness Test. Kira-kira sepertiga
dari kekerasan intan. Kekerasan ini akan bertambah bila dicampur dan dipalu atau
digiling. Brinell Hardnessnya 48 dalam perbandingan dengan tembaga 74 dan
perak 59.5,6,7.
• Tensile Strength : Tensile strength adalah stress maksimum yang dapat diterima oleh suatu bahan dalam bentuk comperession atau tegangan pada saat benda itu
patah atau rusak total. Tensile strength sering ditulis dengan U.T.S atau Ultimate
Tensile Sterngth. Ultimated Tensile Strength sering terjadi bila memberikan stress
sebelum putus oleh karena sautu tension. Tensile strength dinyatakan dalam
satuan Mega Pascal (Mpa). Menurut Hiorns emas sanggup menahan berat tujuh
kali tiap inchi persegi. Emas dapat disolder dalam keadaan dingin sedangkan
kebanyakan logam-logam lain disolder dalam keadaan panas.5,6,7.
• Modulus Elastisitas : Modulus Elastisitas adalah perbandingan yang konstan antara tenaga-tenaga pada atom yang menahan perpindahan (stress) dengan
derajat perpindahan atom tersebut (Strain). Modulus elastisitas dinyatakan dalam
satuan Giga newton / m2
(GN/m2)5,6,7.
• Proportional Limit : Proportional limit atau batas keseimbangan merupakan stress maksimum yang masih dapat dihasilkan oleh suatu benda, dimana stress itu masih
berbanding langsung dengan strain. Proportional limit dinyatakan dalam satuan
C. Sifat Kimia
• Emas dalam keadaan murni tidak berubah bila digunakan di dalam mulut, tidak bereaksi dengan larutan-larutan asam maupun basa yang umumnya
dapat melarutkan logam-logam yang lainnya. Emas hanya dapat dilarutkan
Aqua-regia atau King Walter yaitu campuran asam klorida dan asam nitrat.
• Dalam kamus kimia emas dikenal Aurum atau Au.
• Memiliki sifat antikorosi yang baik selain stainless steel
3.2.2 Tembaga
• Tembaga adalah untuk menambah kekerasan dan kekuatan dari campuran.
Brinell hardness number (BHN) dari emas murni adalah 32, tapi dengan
menambah kira-kira 4 persen tembaga dapat memberi nilai BHN sampai
setinggi 54.
• Dapat menurukan daya tahan terhadap tarnish dan oksidasi dari campuran, oleh karena itu penggunaannya harus dibatasi kurang dari 15%.
• Tembaga adalah konduktor yang baik untuk panas dan listrik
• Cenderung untuk menurunkan titik lebur dan menambah ductility dari campuran
• Tembaga memberikan warna kemerahan-merahan pada campuran
• Titik Leburnya 10830C.10,11,12,13.
3.3.3 Perak
• Titik lebur perak adalah 9610
• Mengurangi warna kuningan emas serta memutihkan logam campur emas. C dan dapat melebur dengan mudah.
• Mempengaruhi pemanasan.
• Mengurangi daya tahan terhadap tarnish.10,11,12,13
3.3.4 Seng
• Seng lebih banyak dikenal kuning atau brass dan memiliki simbol kimia Zincum atau Zn.
• Peranan Zn apabila dicampur dengan Cu dalam logam campuran emas untuk memberikan warna yang kekuning-kuningan.
• Selain itu dapat meningkatkan ductility pada logam campur emas.
• Zn memiliki titik lebur yang jauh lebih rendah daripada emas, yakni 419 0C, oleh karena itu memerlukan teknik tersendiri dalam mencampurkan Zn ke
dalam emas.10,11,12,13.
3.3.5 Platina
• Berbanding dengan tembaga, platina memberikan kekerasan dan kekuatan yang lebih besar tetapi pemakaian terbatas karena harganya mahal.
• Mengurangi ductility dan menambah titik lebur lebih dari 10000
• Menambah daya tahan terhadap tarnish dan corrosi.
C.
• Memutihkan logam campur emas.
• 3-4 persen kandungannya dalam logam campur emas.10,11,12,13
3.3.6 Palladium
• Dapat memutihkan logam campur emas.
• Dapat menambah ketahanan terhadap tarnish dan korosi.
• Titik lebur dari palladium 15530C
• Kandungan 5-6 persen dalam logam campur emas. .
Menurut kegunaanya logam campur emas dibagi dalam tiga katagori yaitu
dental casting gold alloy, wrought gold alloy dan soldering alloy.
3.3 Dental Casting Gold Alloy
Logam Campur Emas adalah emas murni yang dialloykan dengan tembaga,
perak, platina, palladium, dan seng dalam komposisi tertentu. Komposisi suatu logam
adalah sangat penting karena akan menunjukan sifat logam tersebut seperti gold alloy
berkilat, penghantar panas dan penghantar listrik yang baik disebabkan sifat ikatan
logam dan dapat dibentuk setipis mungkin.
Gold alloy yang tersedia di kedokteran gigi ialah dalam keadaan tempa atau
lempegan metal atau kawat, juga dalam bentuk batang-batang kecil atau pelat kecil
yang siap untuk dilebur dan dicasting.12,14,15.
Contoh : 24 karat emas adalah emas murni.
Perbandingan dental gold alloy adalah 24 bagian dari emas dalam alloynya.
22 karat emas adalah 22 bagiannya adalah emas murni dan yang 2
bagian lagi adalah dari logam-logam lain.
Finess dari suatu gold alloy adalah perseribu dari bagian emas murni
Contoh : Emas murni adalah 1000 fine.
Tigaperempat dari alloy adalah emas murni, berarti : 750 fine.6,7,9
Hubungan antara karat dan finenes :
Karat/24 =Finenes/1000
Nilai karat dan fineness merupakan hal yang terpenting bagi dokter gigi,
sebagai pertimbangan untuk harga, ketahanan terhadap tarnish dan untuk
Tabel 3 Komposisi (Persentase Berat) Logam Campur Dental Casting Gold Alloy
Pada beberapa contoh platina diganti dengan palladium 5 %. Pada white gold alloy
komposisinya dirubah hingga mengandung emas 25 % atau dibawahnya. Pada
dasarnya white gold alloy terdiri dari palladium dan perak dengan persentase emas
sedikit. Alloy ini sebenarnya tidak dianggap sebagai gold alloy karena emas hanya
sebagian kecil.
Tabel 4 Komposisi Dari Dental Casting Gold Alloy Menurut Skinner.1
Type Emas Tembaga Perak Palladium Platina Seng
Klasifikasi yang terlihat pada tabel 3 dan 4 relatif sama akan tetapi untuk
mendapatkan hasil casting yang paling baik dokter gigi harus memilih aloi emas yang
memenuhi persyaratan menurut spesifikasi No .5 dari American Dental Association.
Menurut pemakaiannya gold alloy dibagi kepada tiga bagian yaitu, casting
3.3.1 Sifat Logam Campur Emas (Gold Alloy)
A.Sifat Fisis
Bahan- bahan yang dipergunakan keperluan didokteran gigi haruslah cukup
kuat, kaku serta tahan terhadap abrasi. Oleh karena itu penting untuk mengetahui
sifat-sifat fisis dari bahan-bahan tersebut agar baik dalam penggunannya. Sifat-sifat
dari logam emas antara lain:
• Ukuran kepadatan (Density)
Kepadatan adalah suatu hal penting untuk sifat dari logam, karena kepadatan
mempengaruhi kandungan klinis lainnya. Kepadatan yang rendah menambah
perpanjangan dan tensile strength dari logam tuang emas tetapi tidak mempengaruhi
kekerasan ataupun yield strength. 13,15,17.
• Warna
Warna merupakan sifat fisis dari logam. Berdasarkan warna dan unsur unsur
yang terdapat maka gold alloy dibagi dua yaitu yellow logam emas dan white gold
alloy. Warna dari campuran dapat dibuat putih atau warna perak dengan penambahan
platina, palladium atau perak dan dapat juga dengan seng dalam jumlah yang kecil.
Warna sering kali menjadi fokus utama bagi dokter gigi dan pasien. Logam emas
mempunyai warna yang kuning hal ini dikarenakan kandungan emas yang tinggi. 15,17.
• Resistensi korosi
Salah satu persyaratan utama bagi logam yang dipergunakan didalam rongga
mulut adalah harus tidak menghasilkan produk-produk korosi yang merusak struktur
merupakan suatu perusakan sebenarnya melalui reaksi lingkungan. Korosi dapat
menyebabkan kehilangan kualitas estetis dan merubah sifat-sifat dari logam.15,17.
• Konduktivitas termal
Kondukitivitas termal dari suatu logam adalah kemampuan suatu benda untuk
meneruskan atau menghantar panas melalui senyawa padat biasanya terjadi dengan
bantuan konduksi. Di dalam pemilihan bahan restorasi gigi seharusnya dicari suatu
bahan yang sifat konduktivitasnya serendah mungkin. Di Sistem Internasional yang
biasa digunakan untuk konduktivitas termal adalah watt / meter / 0K.15,17.
• Koefisien termal ekspansi
Termal ini penting bagi dokter gigi. Termal ekspansi merupakan kemampuan
suatu bahan akan memuai (ekspansi) bila dipanaskan dan menyusut (kontraksi) bila
didinginkan. Ekspansi dan kontraksi ini diukur dan dinyatakan sebagai Koefisien
Linier Termal Ekspansi yaitu penambahan panjang suatu benda dibanding dengan
unit panjang semula bila temperatur dinaikkan 10C.15,17.
• Titik Lebur
Titik lebur dari suatu emas juga termasuk kedalam sifat fisis dari logam emas.
Titik lebur dari logam emas tergantung pada komposisi dari logam tersebut, namum
jarang berbeda dengan emas murni yaitu 10630C. Biasanya tingginya titik lebur
tergantung kepada kandungan platinum yang terdapat dalam logam. Pada tabel
Tabel 5 Sifat Fisis Logam Campur Emas 2,3,5.
Dari tabel 5 dapat disimpulkan bahwa hardness, proportional limit, strength, logam
campur emas meningkat dari tipe I ke tipe IV, tetapi ductility, kepadatan dan titik
lebur menurun dari tipe I ke tipe IV.
B. Sifat Mekanis
Kebanyakan bahan kedokteran gigi harus mampu menahan adanya tekanan
pada penggunaan maupun pembuatannya. Oleh karena itu penting untuk mengetahui
sifat – sifat mekanis yang terdapat pada suatu bahan agar baik di dalam penggunannya.
Pada tabel berikut ini dapat dilihat sifat – sifat mekanis logam emas.
Logam campur emas memiliki sifat mekanis seperti hardness, modulus of
elasticity, tensile strength, proptional limit. Yield stress tinggi apabila hasil restorasi
akan memberikan beban yang besar didalam mulut. Bila alloy tidak cukup ductility
maka dapat patah selama pekerjaan pemolesan. Hardness atau kekerasan suatu alloy
merupakan petunjuk apakah alloy tersebut sukar diasah dan dihaluskan.
Tipe UnsurUtama(Au) TitikCair Kepadatan (Persentasi Perpanjangan)
(%) (0C) (g/cm3) (%)
1 83 1100 – 1180 16,6 36
11 78 920 – 970 15,9 38
111 78 900 – 960 15,5 39
Tabel 6 Sifat Mekanis Logam Campur Emas
Sifat Mekanis
Tipe Logam Campur Emas
I II III IV
Hardness(VHN) 50 -90 90 - 120 120 - 160 150 -230
Modulus of
elasticity (Gpa) 80 80 85 95
Tensile Strength
(Mpa) 250 340 360 500
Proportional
Limit (Mpa) 100 150 290 350
C. Sifat Kimia
Logam emas yang digunakan di kedokteran gigi tidak bereaksi dengan
hydrochlorit dan asam sulfur, walaupun digunakan untuk membersihkan restorasi yang
telah dicasting atau disolder. Logam emas mengalami tarnish dan corrosi didalam
mulut pada keadaan tertentu, contohnya seperti logam-logam yang mengandung emas,
platina, dan palladium komposisinya harus tepat untuk mencegah pudar.13,14.
Biokompatibilitas
Logam emas dalam kedokteran gigi menunjukan sedikit atau tidak ada sama
sekali efek yang membahayakan pada jaringan mulut, tetapi dengan adanya tembaga
dan sedikit perak dapat mengurangi biokompatibilitas dari logam emas.
Dari logam-logam murni emas dan paladium adalah yang paling tidak toxic
kandungan tembaga yang tinggi memperlihatkan toxisitas sel yang lebih besar. Dengan
penambahan palladium dalam logam emas dapat mengurangi toxisitas tembaga dengan
lebih efektif dari pada emas. Logam nikel memiliki masalah khusus karena sering
menjadi alergen, dimana 6% populasi wanita dan 2% populasi pria sensitif terhadap
logam ini.11,12.
3.4 Wrought Gold Alloy
Setiap bentuk struktur logam yang dikerjakan secara mekanis disebut wrought
metal.
Komposisi sedikit berbeda dibandingkan dengan casting gold alloy seperti terlihat
pada tabel 7.9.
Tabel 7 Komposisi dari wrought gold alloy
Unsur Utama Persentase
(%)
Emas 60
Perak 15
Tembaga 12
Platina 8
Palladium 4
Seng 1
Nikel kadang kadang dimasukkan juga dalam jumlah kecil dan mempunyai
pengaruh yang sama seperti pada casting gold alloy. Nikel dalam jumlah yang
berlebihan mengurangi ductility dan ketahanan dari alloy terhadap tarnish.
3.5 Soldering Gold Alloy
Soldering adalah proses penyambungan dua logam dengan peleburan logam
solder diantaranya, biasanya peleburan diantara alloy harus di bawah temperatur titik
lebur disebut solder. Dalam bidang kedokteran gigi soldering sangat berperan penting
sebagai penyambung bagian dari suatu restorasi, seperti pada restorasi bridge, dan
menyambung kawat (clasp) dalam perawatan ortodonti. Komposisi dasar dari logam
emas adalah sama dengan casting gold alloy dengan penambahan timah untuk
mengurangi temperatur lebur (fusion temperatur), seperi terlihat pada tabel 8.9,11.
Tabel 8 Komposisi solder emas
Unsur Utama Persentase
(%)
Emas 65
Perak 16
Tembaga 13
Seng 4
Timah 2
Temperatur lebur bahan solder harus lebih rendah daripada temperatur logam
yang disolder, sehingga bagian logam tersebut tidak melebur selama proses
penyolderan. Logam solder tersedia dalam beberapa jenis dari yang lunak sampai yang
keras. Yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi adalah solder keras atau ”High
Sifat-sifat yang dimiliki oleh logam solder yang keras adalah :
1. Titik lebur harus dibawah dari alloy yang akan disolder.
2. Harus mempunyai daya gabung yang baik untuk alloy akan disolder.
3. Harus bebas mengalir ketika melebur dan harus mempunyai tegangan
permukaan yang rendah ketika melebur.
4. Warna harus sesuai dengan alloy yang akan disolder.
5. Harus tidak tarnish dan corrosi didalam mulut.
BAB 4
KEUNTUNGANDANKERUGIANDANPENGARUHLOGAM CAMPUREMAS
4.1 Keuntungan Dari Logam Campur Emas2,3,4,5, 6,8, 15,16,17.
1. Tidak larut dalam cairan mulut.
2. Dapat menyesuaikan diri dengan dengan dinding kavitas, jika dikerjakan dengan
baik.
3. Sangat padat, tahan terhadap perusakan dan pinggiran kuat.
4. Dapat dipolish dan mampu bertahan supaya tetap berkilat.
5. Kecenderungan untuk merubah molekulnya rendah, bebas dari penyusutan atau
ekspansi.
6. Tidak membutuhkan bahan lain diantara cement dengan logam campur emas.
7. Tensile strength baik:
• Karena logam tersebut dapat menahan dan melawan daya kunyah yang besar.
• Misalnya pada emas (Au) ditambah dengan perak (Ag) akan menambah
tensile strength.
8. Ductility yang baik karena :
• Logam dapat ditarik menjadi panjang membentuk kawat dengan ukuran 1 grain emas dapat dibuat kawat sepanjang kawat 550 feet dengan diameter
1/5000 inchi.
9. Mudah disolder karena bahan logam yang disolder akan sesuai dengan bahan
10. Kekerasan cukup :
• Misalnya emas bila makin rendah nilai karatnya maka kekerasan makin bertambah.
• Contoh-contoh logam yang dimasukkan untuk menambah kekuatan adalah tembaga, platina, palladium.
11. Malleability tinggi:
Yaitu mudah dibentuk dan dibuat tipis contohnya,1grain emas dapat dibuat
lempengan tipis seluas 75 sq inchi dengan tebal 1/370,000 inchi.
12. Logam emas merupakan logam yang paling tidak memberikan pengaruh atau
tidak beracun sama sekali terhadap rongga mulut.
4.2 Kerugian Logam Campur Emas2,3,4,5, 6,8, 15,16,17.
1. Dari segi pertimbangan warna kurang menguntungkan bagi pasien karena
tidak sama dengan warna gigi aslinya.
2. Conductivity tinggi.
3. Pada saat preparasi memerlukan banyak pengurangan gigi sehingga dapat
membahayakan pulpa.
4. Biaya yang sangat mahal juga merupakan salah satu masalah yang utama bagi
pasien.
5. Umumnya logam-logam murni lunak dan ductility tidak sesuai digunakan
dalam kedokteran gigi.
6. Titik lebur masih termasuk tinggi terutama jenis yang sangat keras.
4.3 Pengaruh Emas Terhadap Logam Campur Emas
Pengaruh emas terhadap logam campur emas adalah seperti berikut:
1. Malleability
2. Ductility
4.3.1 Ductility Dan Malleability
Ductility adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu
deformasi permanen oleh tensile stress atau load tanpa putus, contohnya metal atau
logam dapat ditarik menjadi panjang kawat. Malleability sangat berkaitan erat dengan
ductility, malleability adalah kesanggupan suatu bahan untuk mempertahankan suatu
deformasi permanen oleh suatu compressive stress, contohnya emas dapat digulung
dan digilas menjadi lembaran yang demikian tipisnya sehingga tembus cahaya2,3.
Pada umumnya ductility berkurang dengan naiknya temperatur sedang malleability
bertambah dengan kenaikan temperature. Ductility dan malleability akan berkurang
bila kandungan emas berkurang.16,17.
Sifat-sifat mekanis logam emas seperti kekerasan dan ductility dapat
diperbaiki dengan pemanasan (Heat treatment), meliputi softening heat treatment
(pelunakan dengan pemanasan).6,7,12. Softening heat treatment yang baik adalah
menurut Spesifikasi No.5 dari American Dental Association. Logam emas dipanaskan
dalam tungku elektrik selama 10 menit pada temperatur 700 0C (1292 0F) kemudian
logam emas ini mendadak di dinginkan (dimasukkan dalam air) pada temperatur
kamar. Proses pendinginan yang cepat dapat mempertahankan logam dalam keadaan
lunak. Cara ini menambah ductility tetapi mengurangi kekerasan, tensile strength dan
4.4 Kegunaan Dental Logam Campur Emas
Emas merupakan pilihan yang tepat untuk restorasi pada kedokteran gigi
karena nobility dan warnanya. Emas dapat digunakan pada semua kavitas klas I, ideal
untuk klas V karena mudah dicapai dan tidak terlihat. Pada Klas II yang kecil dan
sedang, sedangkan pada klas III yang sering digunakan dengan mengorbankan estetis.
Berdasarkan Spesifikasi ADA No. 5 yang direvisi tahun 1989, empat jenis logam
campur berikut ini klasifikasikan berdasarkan sifat-sifat dan fungsinya.1,2,5,6.
Menurut kegunaannya logam campur emas dibagi dalam tiga katagori
1. Casting gold alloy
2. Wrought gold alloy
3. Soldering gold alloy
4.4.1 Kegunaan Dental Casting Gold Alloy
Sejak diterapkan teknik pengecoran logam di kedokteran gigi, maka dipilih
logam yang mengandung emas yang dipergunakan untuk membuat restorasi-restorasi
tuangan seperti logam campur emas. Emas memiliki banyak sifat-sifat baik yang
diperlukan oleh suatu bahan dental.
Syarat syarat logam untuk pembuatan mahkota dan jembatan yaitu dapat
bertahan terhadap keadaan di dalam mulut, cukup kuat untuk menahan daya kunyah,
dan mudah dikerjakan di laboratorium, tidak berubah warna, tidak mempunyai rasa
dan tidak beracun, tidak kehilangan sifat sifatnya selama dikerjakan atau diolah
1. Tipe I (Lunak).
Penggunaan dari logam emas tipe I untuk inlay yang simple seperti klas III
dan IV dimana tidak menerima beban pengunyahan yang besar. Akan tetapi
logam emas tipe I ini suah jarang digunakan karena sudah banyak bahan tambalan
langsung yang mempunyai kegunaan yang sama dengan logam emas ini.
2. Tipe II (Sedang)
Penggunaan dari logam campur emas tipe II ini dapat digunakan
untuk segala tipe inlay pada penambalan yang tidak mendapatkan stress yang
besar sehingga penggunaan logam campur tipe ini tidak begitu luas.
3. Tipe III (Keras)
Logam campur ini dapat digunakan untuk keperluan mahkota,
jembatan, dan dapat digunakan sebagai inlay pada dearah yang dapat
menerima beban yang sangat besar selama pengunyahan.
4. Tipe IV (Sangat Keras)
Penggunaan dari logam ini umumnya untuk tuangan yang besar seperti
jembatan yang panjang, gigitiruan sebagaian tuangan dan cangkolan.
Dari semua tipe ini tipe III merupakan logam emas yang paling tepat
untuk pembuatan mahkota, jembatan, dan inlay klas II, dimana jenis aloi ini
memiliki nilai modulus elastisitas yang rendah dan nilai ductility yang tinggi
Mahkota.
Mahkota adalah suatu restorasi berupa mahkota penuh atau sebagian dari
suatu gigi geraham yang dibuat dari logam porselen, resin atau kombinasi dari kedua
bahan tersebut. Kandungan utama dari tuangan logam murni yang digunakan pada
teknik mahkota logam adalah emas, platinum dan palladium dan palladium
ditambahkan untuk menaikkan temperatur lebur, menurunkan koefisien muai panas
dan untuk menguatan logam tuang tersebut. Mahkota emas digunakan ketika pasien
tidak peduli akan penampilan emas atau ketika gigi tidak terlihat selama pergerakan
normal mulut.8,9,12,17.
Jembatan
Jembatan adalah fixed partial denture merupakan suatu protesa sebagian yang
diletakan secara tetap pada satu atau lebih dari satu gigi penyangga dan mengganti
satu atau lebih dari satu gigi atau geraham yang hilang. Suatu jembatan harus
memiliki persyaratan mekanis, persyaratan fisiologis, persyaratan hygiene,
persyaratan estetik, dan persyaratan fonetik. 8,9,12,17.
Inlay Klas II
Inlay merupakan tambalan yang dibentuk diluar mulut dengan jalan membuat
model malam terlebih dahulu atau tidak, dapat bersifat logam atau non logam dan
disemen pada kavitas.
Inlay yang menggunakan logam campur emas tipe III adalah tambalan inlay
klas II. Faktor-faktor yang mempengaruhi saat mempertimbangan klas I dan klas II
adalah faktor usia, tingkat akitivitas karies, biaya perawatan.
4.4.2 Kegunaan Wrought Gold Alloy :
• Untuk membentuk clasp.
• Untuk membentuk lingual bar.
• Untuk membentuk saddle dari gigi palsu.
4.4.3 Kegunaan Soldering Gold Alloy:
• Untuk menyatukan bagian dari restorasi
• Untuk membangun contour pada restorasi.
• Untuk menyatukan bagian-bagian dari logam tempa, seperti clasp atau kawat-kawat.
BAB 5
KESIMPULAN
1. Emas merupakan salah satu logam murni yang dipergunakan di kedokteran gigi,
tapi terbatas karena sangat lunak. Untuk mendapatkan kekuatan, kekerasan dan
warna yang di inginkan digunakan logam campur emas seperti perak, tembaga,
platina, palladium dan seng.
2. Berdasarkan penggunaannya logam campur emas ini digunakan sebagai casting
gold alloy, wrought gold alloy dan soldering gold alloy untuk pembuatan inlay,
crown dan bridge, full dan partial veneer crown, saddle, clasp, lingual bar dan
bingkai dari gigi palsu.
3. Keuntungan pemakaian logam campuran emas yaitu tidak larut dalam cairan
mulut, dapat menyesuaikan diri dengan dinding kavitas, sangat padat,
mempunyai sifat ductility dan permalleability yang baik dapat dipolish.
4. Kerugian pemakaian logam campuran emas yaitu warnanya tidak harmonis
DAFTAR PUSTAKA
1. Philips RW. Science of Dental Material, 8th
2. John F, McCabe. Applied Dental Materials, 9
ed. Philadelphia : WB Saunders
Company 1999 ; 343 – 55.
th
3. Kenneth J, Anusavice. Ilmu Bahan Kedokteran Gigi, 10
ed. British : Blackwell Pub Ltd
2008 ; 53 – 84.
th
4. Anderson JN. Applied Dental Material, 4
ed. Philadelphia : WB
Saunders Company 2004 ; 273 – 355.
th
5. O'Brien W.
ed.Oxford: Blackwell Scient Pub
1998:13
Evolution of Dental Casting. In: Valega T, editor. Alternatives to
Gold Alloys in Dentistry. Conf. Proc. DHEW Pub. Washington DC, U.S.
Government Printing Office 1977;
6. Craig G, O'Brien W, Powers J.
No. [NIH]77-1227.
Dental Materials Properties and Manipulation.
7. Cohen S, Kakar A, Vaidyanathan T, Viswanadhan T.
St
Louis, Mosby,1983: 236–250.
Castability Optimization of
Palladium Based Alloys. J Prosthet Dent 1996
8. Kansu G, Aydin A.
; 125–131.
Evaluation of the Biocompatibility of Various Dental Alloys:
Part II - Allergenical Potentials. Eur J Prosthodont Rest Dent, 1996; 4
9. Mulders C, Darwish M, Holze R.
: 155–161.
Corrosion Behaviour of Dental Alloys - An
in-vitro study. J Oral Rehabil 1996; 23
10.Frykholm K, Frithiof L, Fernström A, Moberger G, Blohm S, Björn E. : 825–831.
Allergy to
Copper derived from Dental Alloys as a possible cause of Oral Lesions of Lichen
Planus. Acta Dermato-Venereologica 1969; 49
11.Smart E, Macleod R, Lawrence C.
: 268–281.
Resolution of Lichen Planus following
removal of Amalgam Restorations in patients with proven allergy to Mercury
12.Pierce L, Goodkind R A. Status report of the possible risks of Base Metal Alloys
and their components. J Prosthet Dent 1989; 62
13.Northeast SE, Van Noort R, Johnson A, Winstanley RB, White GE. : 234–237.
Metal-Ceramic
Bridges From Commercial Dental Laboratories: Alloy composition, Cost and
Quality of fit. Br Dent J 1992; 172
14.Nery S, McCabe JF, Wassell RW. : 198–204.
A Comparative Study of Three Dental
Adhesives. J Dent 1994; 23
15.Weiss P.
: 55–61.
New design parameters: Utilising the Properties of Ni-Cr Super Alloys.
Dent Clin N Am 1990; 21
16.Ewing JC. Fixed Partial Prosthesis, 2 : 749.
th
17.Marzouk M, Saleh L, Emanuel R, Malone W.
ed. Philadelpia Lea & Febiger 1998 ;
231-233
Clinical behaviour of
Silver-Palladium Alloy Castings: a Five Year Comparative Clinical Study. J Prosthet