KAJIAN ADOPSI
CIRCLE HOOK
DALAM PERIKANAN
TUNA
LONGLINE
OLEH
COMMISSION FOR THE
CONSERVATION OF SOUTHERN BLUEFIN TUNA
(CCSBT) DAN INDONESIA
YUANNA LESTARI
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kajian Adopsi Circle Hook dalam Perikanan Tuna Longline oleh Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) dan Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
ABSTRAK
YUANNA LESTARI. Kajian Adopsi Circle Hook dalam Perikanan Tuna Longline oleh Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) dan Indonesia. Dibimbing oleh MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA dan AKHMAD SOLIHIN
Populasi tuna sirip biru selatan (southern bluefin tuna - SBT, Thunnus maccoyii) dianggap telah mengalami eksploitasi yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu di antaranya adalah penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan alat tangkap dalam aturan konvensi CCSBT, menganalisis proses penerapan teknologi circle hook dalam penangkapan SBT, dan menentukan strategi penerapan teknologi pancing circle hook dalam perikanan tuna Indonesia. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan cara mendapatkan informasi langsung dari pihak-pihak yang berkaitan dengan upaya penerapan circle hook di Indonesia, pencarian informasi pada situs-situs resmi (internet surfing), dan studi pustaka. Jenis analisis data yang diterapkan adalah analisis yuridis normatif dan pola strategi penerapan circle hook serta analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konvensi CCSBT tidak mengatur jenis dan penggunaan alat tangkap. CCSBT mengelola tuna SBT melalui aturan yang telah ditetapkan dalam konvensi, yaitu penetapan jumlah kapal yang beroperasi dan sistem kuota penangkapan. Migrasi tuna SBT yang berpindah-pindah setiap fase pemijahannya, sehingga CCSBT menyerahkan aturan alat penangkapan ikan kepada aturan nasional negara anggotanya sesuai dengan kriteria negara perairan yang dilalui oleh proses migrasi ikan SBT. Teknologi circle hook mendapat tanggapan baik dari CCSBT dan Indonesia, namun untuk aturan penerapannya belum diratifikasi secara resmi oleh keduanya. Strategi yang diusulkan untuk menerapkan circle hook dalam perikanan tuna Indonesia antara lain dengan (1) mengoptimalkan hubungan kerja sama antara Pemerintah dengan WWF Indonesia dalam mendukung pelestarian sumberdaya perikanan yang bertanggung jawab, dan (2) memanfaatkan peluang kemitraan antara Pemerintah, WWF Indonesia, dan pihak swasta untuk pengadaan circle hook.
ABSTRACT
YUANNA LESTARI. The Study on Adoption of Circle Hook in Tuna Longline Fishery by Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna(CCSBT) and Indonesia. Supervised by MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA and AKHMAD SOLIHIN
The population of southern bluefin tuna (SBT, Thunnus maccoyii) has been exploited on a large scale. It is caused by several factors, one of which is the use of fishing gear that is not environmentally friendly. This study was conducted to analyze the rules of fishing gear policy in the CCSBT convention, to analyze the process of applying circle hook technology in catching southern bluefin tuna, and to establish the implementation strategy of circle hooks technology in Indonesia tuna fisheries. The data collection of this study was conducted by getting information directly from the stakeholders that related to the implementation effort of circle hook in Indonesia, search of information on official website (internet surfing), and literature. The type of data analysis used a normative juridical analysis, and the pattern of circle hook implementation strategy was identified by using SWOT analysis. CCSBT convention does not regulate the type and the use of fishing gear. CCSBT manages the southern bluefin tuna through predefined rules in convention, which is about the establishment of the number of vessels operating and fishing quota system. The migration of SBT that move in every phase of spawning lead the CCSBT to hand the rule of fishing gear to the
members’ national rule based on the criteria of maritime countries passed by SBT migration. The circle hook technology got a good responses by CCSBT and Indonesia, but the application rules have not been ratified yet. The proposed strategies to implement the circle hook in Indonesia tuna fishery are by (1) optimizing the working relationship between the government and WWF Indonesia in supporting the conservation of responsible fisheries resources, and (2) utilizing the partnership opportunities between the government, WWF Indonesia, and the private sector for procurement circle hook.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan
pada
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
KAJIAN ADOPSI
CIRCLE HOOK
DALAM PERIKANAN
TUNA
LONGLINE
OLEH
COMMISSION FOR THE
CONSERVATION OF SOUTHERN BLUEFIN TUNA
(CCSBT)
DAN INDONESIA
YUANNA LESTARI
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PRAKATA
\Alhamdulillahirobbil’aalamiin. Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, sehingga kritikan serta saran sehubungan dengan penulisan skripsi ini akan sangat membantu saya dalam melakukan penyempurnaan skripsi. Penulisan skripsi ini dapat terlaksana dan terselesaikan berkat bimbingan, dorongan, dan bantuan dari semua pihak. Untuk itu pada kesempatan ini saya sampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr Ir Muhammad Fedi Alfiadi Sondita, MSc dan Bapak Akhmad Solihin, SPi MH selaku dosen pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengarahkan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor atas ilmunya yang sangat berharga.
3. Orangtua saya, Ayahanda Alyulyadi dan Ibunda Riana yang telah mencurahkan seluruh tenaganya demi menyelesaikan pendidikan sarjana saya, serta Adik Bintang Dwi Putra atas segala kasih sayang, doa restu dan dorongannya selama ini.
4. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, bagian Kapal dan Alat Penangkapan Ikan, yang membantu saya dalam pengambilan data penelitian.
5. Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) di Benoa, Bali atas bantuan pengambilan data penelitian.
6. Akhmad Yudhan, SPd yang selalu memberikan kesabaran dan dorongan semangat selama penelitian hingga penulisan skripsi.
7. Teman-teman seperjuangan di PSP 48 dan keluarga IKPB Bogor yang telah menemani dan mewarnai hari-hari 4 tahun dunia perkuliahan dan perantauan. 8. Semua pihak yang telah membantu selama ini, baik secara langsung dan tidak
langsung yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Akhir kata, saya berharap skripsi ini dapat membawa manfaat, baik bagi saya sendiri maupun bagi semua pihak, serta dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu kelautan di masa yang akan datang.
Bogor, Agustus 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Penelitian Terdahulu 2
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
METODE 3
Waktu dan Tempat 3
Bahan dan Alat 4
Metode Pengumpulan Data 4
Analisis Data 5
HASIL DAN PEMBAHASAN 9
Hasil 9
Keadaan umum lokasi penelitian 9
Pengelolaan tuna sirip biru selatan oleh CCSBT 10 Pengelolaan tuna sirip biru selatan oleh Indonesia dalam aturan CCSBT 11
Respon CCSBT terhadap teknologi circle hook 12
Kebijakan teknologi circle hook di Indonesia 14 Strategi penerapan circle hook dalam perikanan tuna Indonesia 15
Pembahasan 18
SIMPULAN DAN SARAN 22
Simpulan 22
Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 23
LAMPIRAN 25
DAFTAR TABEL
1 Data primer penelitian 4
2 Data sekunder penelitian 5
3 Identifikasi faktor internal dan faktor eksternal 7
4 Analisis faktor internal 7
5 Analisis faktor eksternal 7
6 Model matriks analisis SWOT 8
7 Alokasi kuota penangkapan tuna SBT Indonesia 12
8 Perbandingan pancing circle hook dan J hook 14
9 Hasil analisis faktor internal 16
10 Hasil analisis faktor eksternal 16
11 Hasil model matriks analisis SWOT 17
DAFTAR GAMBAR
1 Diagram analisis SWOT 6
2 Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia 9
3 Peta sebaran SBT dan daerah pemijahannya 10
4 Pancing circle hook 13
5 Grafik hasil analisis SWOT 18
DAFTAR LAMPIRAN
1 Tahapan analisis SWOT 25
2 Peraturan Menteri terkait bycatch 28
3 Aturan konvensi CCSBT terkait mitigasi bycatch 29 4 Conservation and Management of Sea Turtle (CMM 2008-03) 30
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sumberdaya ikan tuna di kawasan Samudera Hindia telah mengalami eksploitasi secara berlebihan (Mahrus 2012). Salah satunya adalah tuna sirip biru atau southern bluefin tuna (Thunnus maccoyii), selanjutnya disebut SBT. Ikan ini memiliki harga pasar yang sangat tinggi. Sebagai contoh, harga ikan ini di menyebabkan ikan ini menjadi target penangkapan terutama oleh armada Jepang, Taiwan, Korea, Selandia Baru, Australia, termasuk Indonesia.
Negara yang menjadikan SBT sebagai ikan target utama penangkapan membentuk sebuah konvensi internasional dibawah RFMO untuk pengelolaan ikan tuna sirip biru yang dikenal dengan CCSBT (Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna). Sesuai dengan yang tertuang dalam konvensi, komisi perlindungan CCSBT adalah sebuah organisasi antar pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan SBT sepanjang wilayah distribusinya, yang menjamin keberlanjutan sumberdaya SBT melalui manajemen yang tepat, perlindungan dan pemanfaatan secara optimal SBT.
Permasalahan menurunnya produksi SBT banyak disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adanya perdagangan ekspor-impor tuna ilegal, dan kurangnya upaya penerapan sistem kuota hasil tangkapan tuna serta kurangnya upaya pencegahan penggunaan alat tangkap yang mengancam kelestarian SBT. Prosedur pengelolaan (management procedure) yang ditetapkan CCSBT menekankan pentingnya menstabilkan TAC (total allowable catch) dalam rangka mencegah terjadinya penurunan jumlah populasi SBT. TAC yang ditetapkan dalam manajemen prosedur ini dituangkan dalam Resolusi TAC-1, yaitu mengenai alokasi global jumlah tangkapan yang diizinkan yang berlaku baik untuk anggota konvensi maupun pihak non-anggota yang bekerjasama dengan CCSBT. Resolusi TAC-1 dibentuk untuk dijadikan dasar terbentuknya Resolusi TAC-2 tentang aturan jumlah tangkapan yang diperbolehkan dalam periode tiga tahun (CCSBT 2002). Selain itu, CCSBT juga mengatur tentang penetapan daftar kapal-kapal yang berwenang dan diizinkan untuk membawa SBT. Para negara anggota maupun negara non anggota yang bekerja sama ditegaskan untuk tidak menerima perdagangan atau dokumen kapal yang tidak terdaftar dalam aturan konvensi, dan tidak menerima impor atau pendaratan domestik produk SBT dari kapal yang tidak memiliki kewenangan (CCSBT 2011).
2
prosedur. Sebaiknya CCSBT perlu juga menentukan aturan terkait alat penangkapan ikan karena faktor ini dapat menyebabkan penurunan populasi SBT.
Alat tangkap dapat menyebabkan penurunan populasi ikan target (dalam hal ini SBT) dan jenis ikan lainnya yang bukan target atau hasil tangkapan sampingan (bycatch). Salah satu bycatch penting yang tertangkap oleh armada perikanan tuna adalah penyu. Banyaknya penyu yang tertangkap disebabkan karena mayoritas nelayan internasional maupun lokal masih menggunakan mata pancing J-Hook dalam alat pancing rawai tuna (longline). Sejak tahun 2006 di Indonesia telah diperkenalkan jenis pancing pengganti, yaitu circle hook. Pancing ini dirancang untuk mencegah tertangkapnya penyu, namun hingga saat ini penggunaanya masih minim oleh nelayan rawai tuna (Zainudin 2008). Keefektifan circle hook telah banyak dibuktikan di beberapa negara, seperti di negara Amerika Latin, Jepang, dan Indonesia (Wasdalin 2014). Namun penggunaan circle hook masih menghadapi kendala dari berbagai sisi, misalnya kurangnya apresiasi masyarakat nelayan, minimnya industri yang memproduksi circle hook, dan masih belum adanya aturan terkait kebijakan teknologi dalam circle hook.
Penelitian Terdahulu
Penelitian terkait dengan CCSBT sudah dilakukan oleh beberapa orang, diantaranya adalah Rahmawati (2014). Rahmawati 2014 meneliti tentang pengelolaan SBT di Indonesia melalui sistem kuota penangkapan. Menurut Rahmawati, sebagai anggota Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), Indonesia harus mengikuti aturan kuota SBT yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan pengaturan dan tata kelola yang baik dalam pemanfaatan SBT di Indonesia agar selaras dengan aturan internasional yang telah disepakati Indonesia sebagai bagian dari CCSBT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum produksi SBT Indonesia selama dua belas tahun terakhir (2002-2013) cenderung meningkat. Permasalahan umum perikanan SBT di Indonesia diantaranya adalah kuota penangkapan SBT di Indonesia telah melebihi kuota yang ditetapkan oleh CCSBT dan kuota untuk Indonesia diduga bernilai lebih kecil dari kemampuan Indonesia berproduksi. Dalam mengelola perikanan SBT, Indonesia telah membuat kebijakan dengan membagi aturan kuota penangkapan SBT Nasional kepada dua asosiasi yaitu ATLI dan ASTUIN, pendaftaran kapal, dan melakukan pendataan SBT melalui penerapan Catch Documentation Scheme (CDS).
3
terlibat uji coba merekomendasikan penggunaan pancing lingkar. Penggunaan pancing lingkar tidak menurunkan hasil tangkapan hiu secara signifikan, sedangkan burung laut dan mamalia laut sangat sedikit berinteraksi dengan rawai tuna di perairan Indonesia.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Menganalisis aturan alat tangkap yang tidak diatur secara tertulis dalam manajemen prosedur konvensi dan dikaitkan dengan penemuan teknologi circle hook yang diadopsi oleh CCSBT dalam CMM 2008-03 (Conservation and Management of Sea Turtle). Dalam hal ini mencakup:
1) Kebijakan tentang penggunaan alat penangkapan ikan yang digunakan oleh negara-negara anggota CCSBT
2) Penerapan kebijakan circle hook dalam perikanan SBT oleh CCSBT dan Indonesia
2. Membuat rumusan rekomendasi strategi penerapan kebijakan teknologi pancing circle hook dalam perikanan tuna Indonesia.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Analisis aturan konvensi dan Conservation and Management Measure (CMM) yang ditetapkan oleh negara anggota CCSBT
2. Memberikan informasi bagaimana CCSBT merespon penemuan teknologi circle hook dalam aturan konvensi dan CMM.
3. Mengetahui perkembangan kebijakan teknologi circle hook dalam perikanan tuna Indonesia.
4. Memberi informasi tentang rekomendasi strategi untuk diterapkannya kebijakan teknologi pancing circle hook
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
4
Penelitian utama dilaksanakan pada akhir Oktober 2014 di Pelabuhan Tanjung Benoa, Bali dan dilanjutkan pada bulan Februari 2015 di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta untuk mengumpulkan data primer dan sekunder yang diperlukan.
Alat dan Objek Penelitian
Alat yang digunakan adalah alat tulis kantor, peralatan dokumentasi seperti kamera, fasilitas kerja (laptop). Objek penelitian adalah kebijakan dalam teknologi circle hook dan respon CCSBT terhadap teknologi tersebut.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat formal maupun informal, yaitu melalui metode survei, studi pustaka dan dokumentasi, wawancara serta diskusi. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dan data sekunder diperoleh dari pihak terkait, seperti instansi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, asosiasi dan pelaku usaha serta literatur dan dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian. Jenis dan data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1 Data primer penelitian
5
Tabel 2 Data sekunder penelitian
No. Data Sumber
4 Data statistik perikanan Tuna
Identifikasi dapat diperkuat dengan metode survei, yaitu metode yang bertujuan untuk mengumpulkan data dari sejumlah variabel pada suatu kelompok masyarakat melalui wawancara langsung dan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya dengan berupa kuisioner. Aspek yang akan diteliti yaitu mengenai konvensi CCSBT, Conservation and Management Measure (CMM) dan resolusi SBT terkait penemuan teknologi circle hook dan implementasi aturan konvensi CCSBT dengan perikanan tuna di Indonesia. Teknik pengambilan sampel dalam proses wawancara pada penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel yang bersifat tidak acak. Pemilihan responden dilakukan dengan sengaja, berdasarkan stratifikasi dan beberapa pertimbangan yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Dalam metode survei ini menggunakan lampiran kuisioner yang ditujukan kepada pelaksana di lapangan, yaitu pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Pelabuhan Tanjung Benoa, Bali. Pelabuhan tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa hasil tangkapan SBT di indonesia sebagian besar didaratkan di Tanjung Benoa, Bali. Selain itu terdapat asosiasi terpilih yang khusus mengawasi penangkapan tuna, yaitu Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) serta dari pihak LSM yang diwakili oleh World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.
Analisis Data
Penelitian ini dianalisis menggunakan 2 metode, yaitu: 1. Metode analisis yuridis normatif
6
serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Yuridis normatif dilakukan untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat serta hubungan antar fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode analisis ini menggambarkan aturan konvensi dan CMM CCSBT yang berlaku akan dikaitkan dengan mengapa CCSBT tidak mengatur tentang alat tangkap secara spesifik dalam aturan tersebut.
2. Analisis SWOT
Analisis SWOT digunakan untuk menyusun faktor-faktor strategis yang menggambarkan peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki (Rangkuti 2006). Data yang dibutuhkan untuk membuat matriks analisis SWOT adalah analisis faktor internal dan eksternal terkait penerapan aturan penggunaan circle hook dalam perikanan tuna SBT yang diperoleh dari hasil wawancara dari pemerintah dan lembaga terkait. Identifikasi analisis SWOT ini menggunakan tiga parameter, yaitu kelembagaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai otoritas pengelolaan, dan perusahaan / industri perikanan yang diwakili oleh ATLI, dan LSM yang diwakili oleh WWF Indonesia. Gambar 1 menunjukkan diagram analisis SWOT yang membagi situasi pada 4 kuadran. Tiap kuadran menggambarkan situasi objek yang dianalisis, dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
Gambar 1 Diagram analisis SWOT (Sumber: Rangkuti 2006) Tahap analisis SWOT adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal
Faktor internal merupakan aspek dari dalam yang memberikan pengaruh kepada organisasi dalam proses pengambilan keputusan. Kekuatan-kekuatan yang ada akan dijadikan landasan pengambilan keputusan. Sedangkan kelemahan-kelemahan yang ada akan menjadi acuan organisasi untuk memperbaiki kinerjanya. Sedangkan faktor eksternal merupakan aspek di luar organisasi yang dapat memberikan pengaruh nyata terhadap proses pengambilan kebijakan. Faktor ini meliputi peluang dan ancaman yang
Peluang (opportunities)
Ancaman (threats)
Kekuatan (strengths) Kelemahan (weaknesses)
Kuadran 1
Kuadran 2 Kuadran 3
7
memiliki kaitan dengan kebijakan yang diambil. Keterangan yang berkaitan dengan faktor internal dan faktor eksternal dilakukan dengan sejumlah analisis pertanyaan yang terlampir pada Tabel 3.
Tabel 3 Identifikasi faktor internal dan faktor eksternal penerapan teknologi circle hook
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1) Keunggulan yang dimiliki untuk dapat diberlakukannya circle hook
2) Upaya apa yang telah
dilaksanakan oleh pemerintah 3) Hal-hal yang dinyatakan oleh
pihak lain sebagai kekuatan
Setelah dilakukan proses analisis faktor internal dan eksternal pada Tabel 3, kemudian menghitung bobot, rating dan skornya berdasarkan hasil wawancara dengan responden.
Tabel 4 Penilaian analisis faktor internal
Keterangan Bobot Skala Skor
Kekuatan
Tabel 5 Penilaian analisis faktor eksternal
Keterangan Bobot Skala Skor
8
Penentuan bobot, skala dan skor dilakukan setelah mendapatkan hasil penilaian dari responden terkait setiap keterangan yang dipaparkan. Berikut tahapan pengolahan datanya :
(1) Hitung nilai survey berdasarkan nilai setiap keterangan dari responden, kemudian dibagi dengan total nilai dalam faktor internal dan faktor eksternal dari masing-masing responden
(2) Bobot diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata survey dari semua responden pada setiap keterangan. Total bobot dalam faktor internal maupun faktor eksternal adalah 1
(3) Skala ditentukan dengan menghitung rata-rata penilaian semua responden terhadap masing-masing keterangan
(4) Skor pada setiap keterangan dihitung dengan cara mengalikan nilai bobot dan nilai skala. Setiap skor dari kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dijumlahkan untuk membuat grafik analisis SWOT
Tahapan pengolahan data untuk analisis SWOT pada penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1
2) Penentuan Strategi
Langkah selanjutnya adalah penentuan strategi penggunaan circle hook dalam perikanan tuna longline Indonesia. Tabel 6 merupakan tabel analisis matriks SWOT yang memaparkan strategi pada setiap situasi. Strategi yang diambil merupakan strategi yang ditunjukkan pada grafik hasil pengolahan data.
9
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Keadaan umum lokasi penelitian
Lokasi penelitian yang dimaksud dalam penelitian ini bukan lokasi yang dijadikan obyek penelitian, melainkan lokasi tempat mengumpulkan data sekunder. Lokasi tersebut adalah Pelabuhan Perikanan Benoa. Secara geografis, Pelabuhan Benoa yang terletak di Provinsi Bali berada di koordinat 115o 12’ 30” Bujur Timur dan 8o 44’ 22” Lintang Selatan. Secara administratif Pelabuhan Benoa tercakup pada Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, yaitu di bagian selatan Pulau Bali atau berada di Teluk Benoa, Denpasar. Wilayah Pengelolaan Perairan (WPP) Pelabuhan Tanjung Benoa termasuk dalam WPP 573 yang meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa hingga sebelah Selatan Nusa Tenggara, dan Laut Sawu, serta WPP 713 yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali.
Gambar 2 Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia (Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 2014)
10
Spawning ground SBT Total distribution SBT
Gambar 3 Penyebaran SBT dan daerah pemijahannya (Sumber: FAO dalam Mahruz 2012)
Pengelolaan tuna sirip biru selatan oleh CCSBT
Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) adalah organisasi antar pemerintah yang bertanggung jawab atas pengelolaan SBT. CCSBT merupakan organisasi dibawah RFMO yang fokus mengelola SBT memiliki tujuan untuk menjamin konservasi dan pemanfaatan optimum SBT melalui pengelolaan yang tepat. CCSBT secara resmi didirikan pada tanggal 10 Mei 1993 oleh Australia, Jepang, dan Selandia Baru, dimana setelah efektif dijalankan organisasi ini, negara anggota CCSBT terdiri dari 6 negara anggota dan 3 negara non cooperating members. Indonesia sendiri termasuk ke dalam negara anggota, dimana Indonesia resmi menjadi negara anggota CCSBT sejak tanggal 8 April 2008.
Dalam pengelolaan SBT, CCSBT mengadopsi tindakan pengelolaan berbasis output control melalui penetapan kuota penangkapan SBT kepada setiap negara anggota dan pengaturan jumlah kapal yang terdaftar sesuai dengan Management Procedure (MP). MP digunakan sebagai panduan dalam menetapkan Total Allowable Catch (TAC). Prosedur pengelolaan mengenai TAC merupakan seperangkat aturan yang dapat menentukan total penangkapan yang diperbolehkan (TAC) berdasarkan data pemantauan yang diperbaharui. Dari tahun 2002 sampai 2011, CCSBT melakukan usaha yang besar untuk mengembangkan prosedur pengelolaan dalam rangka memandu proses pengaturan TAC untuk SBT. Pada pertemuan ke-18, CCSBT menyetujui prosedur pengelolaan digunakan untuk memandu pengaturan jumlah tangkapan SBT terkait dengan target jumlah populasi tuna SBT yang mengalami penurunan. Prosedur pengelolaan yang
11
CCSBT menggunakan MP untuk menghitung TAC jangka waktu tiga tahun (2012-2014). Perhitungan tiga tahun pertama ini digunakan sebagai awal penentuan TAC Tuna Sirip Biru global tahun 2012 dan seterusnya. Selain itu, CCSBT juga mengatur tentang penetapan daftar kapal-kapal yang berwenang dan diizinkan untuk membawa SBT. Para negara anggota maupun negara non anggota yang bekerja sama ditegaskan untuk tidak menerima perdagangan atau dokumen kapal yang tidak terdaftar dalam aturan konvensi, dan tidak menerima impor atau pendaratan domestik produk SBT dari kapal yang tidak memiliki kewenangan. Setiap kapal penangkapan ikan atau kapal pengangkut ikan yang melakukan penangkapan dan pengangkutan ikan SBT wajib didaftarkan ke CCSBT. Hal ini telah diatur dalam Resolusi CCSBT, yaitu : Resolution on Amandement of The
Resolution on “Illegal, Unregullated and Unreported Fishing (IUU) and
Establishment of a CCSBT Record of Vessels over 24 meters Authorized to Fish
for Southern Bluefin Tuna” (adopted at the fifteenth Annual Meeting, 14-17 October 2008) yang menjelaskan tentang persyaratan dan tatacara pendaftaran kapal perikanan yang menangkap dan/atau mengangkut SBT.
Pengelolaan tuna sirip biru selatan oleh Indonesia dalam aturan CCSBT
Indonesia dikenal sebagai produsen tuna terbesar di dunia. Total produksi tuna, cakalang, dan tongkol mencapai 1,1 juta ton per tahun dengan nilai perdagangan sekitar 40 triliun rupiah. Perairan di selatan Bali bahkan tercatat sebagai satu-satunya tempat pemijahan tuna sirip biru di dunia (DJPT 2014). Dalam melakukan upaya pengelolaan sumberdaya SBT, Indonesia menjalin kerjasama dengan organisasi RFMO yang khusus untuk konservasi SBT, yaitu CCSBT. Indonesia bergabung dalam organisasi CCSBT sejak tanggal 8 April 2008. Keanggotaan Indonesia sendiri telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (Konvensi tentang Konservasi Tuna Sirip Biru Selatan). Keikutsertaan Indonesia dalam organisasi CCSBT ini tentunya memiliki konsekuensi bagi Indonesia. Indonesia harus bisa mentransformasikan kewajiban yang ada dalam aturan konvensi CCSBT ke dalam hukum nasional dan harus mengikuti seluruh kewajiban yang diatur dalam konvensi. Beberapa tindakan yang telah dilakukan Indonesia sebagai negara anggota CCSBT yang ikut serta dalam melakukan pengelolaan dan konservasi ikan SBT antara lain : mendaftarkan kapal perikanan yang menangkap ikan SBT dan Catch Documentation Scheme (CDS), yaitu tindakan pengelolaan berkelanjutan terhadap SBT dengan memfokuskan pada pengumpulan data hasil tangkapan melalui penerapan CDS.
12
Tabel 7 Alokasi kuota penangkapan SBT Indonesia tahun 2006-2014 KUOTA 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Pendaftaran kapal perikanan Indonesia yang melakukan penangkapan, pengangkutan ikan dan/atau menerima transhipment SBT di laut lepas Samudera Hindia juga telah diatur pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor. PER.12/MEN/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Laut Lepas. Anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) mendaftarkan kapal anggota di CCSBT sebanyak 347 kapal dengan kapal penangkapan yang didaftarkan tersebut ke sekretariat CCSBT adalah kapal dengan alat tangkap tuna longline.
Disamping menerapkan aturan pengelolaan berdasarkan konvensi CCSBT, Indonesia melalui Komisi Tuna Indonesia mengusulkan lima aksi untuk mengantisipasi keberlanjutan sumberdaya SBT yang harus dilakukan oleh pemerintah, yaitu:
1. Merealisasikan Rencana Pengelolaan Tuna Indonesia (RPP Tuna) sebagai pedoman pengelolaan tuna
2. Mengelola database perikanan tuna dan penerapan logbook pada setiap kapal penangkap sebagai dukungan pengelolaan tuna
3. Pengaturan dan pengendalian alat tangkap yang banyak dikembangkan oleh banyak pihak sebagai respon dari strategi penangkapan tuna
4. Penentuan alokasi izin penangkapan harus didasarkan pada data dan informasi ilmiah dalam rangka merespon dunia usaha dalam negeri dan tekanan lembaga-lembaga internasional
5. Meningkatkan peranan Indonesia dalam RFMO melalui restrukturasi organisasi.
Respon CCSBT terhadap teknologi circle hook
Circle Hook merupakan jenis mata pancing inovatif berbentuk tajam dan melengkung, seperti bentuk melingkar. Circle hook digunakan dalam penangkapan rawai tuna (longline) untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan (bycacth) dalam kegiatan penangkapan tuna. Circle Hook sendiri adalah hasil inovasi dari kompetisi yang diadakan oleh World Wildlife Fund (WWF) dalam rangka konservasi penyu yang sering tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan, kemudian pancing tersebut dipatenkan oleh WWF.
13
dibagi menjadi dua aturan yang berlaku untuk negara anggota maupun negara non-anggota, yaitu aturan yang mengikat dan aturan yang tidak mengikat. Aturan terikat yang telah disepakati oleh CCSBT meliputi kewajiban menggunakan tori poles bagi semua negara anggota dalam alat tangkap rawai tuna SBT (longline). Sedangkan untuk aturan yang tidak terikat, negara anggota memiliki hak untuk mengembangkan teknik-teknik atau metode yang efektif dalam mengurangi tangkapan spesies bycacth, termasuk kemungkinan dampak terhadap penurunan populasi SBT dalam operasi longline. Selain itu, sesuai dengan rekomendasi CCSBT untuk mengurangi dampak ekologis terkait spesies perikanan untuk SBT, negara anggota akan melakukan Rencana Aksi Internasional untuk mengurangi penangkapan burung laut di perikanan longline (IPOA-Seabirds), Rencana Aksi Internasional untuk Pelestarian dan Pengelolaan Penyu (IPOA-Sharks), dan Pedoman FAO untuk mengurangi kematian penyu dalam operasi penangkapan tuna SBT (FAO-Sea Turtles). Di samping mengikuti aturan yang di rekomendasikan dari CCSBT, negara anggota juga diberi hak untuk mematuhi semua tindakan yang berlaku dan direkomendasikan yang ditujukan untuk perlindungan spesies bycatch dari aturan-aturan yang diadopsi oleh CCSBT, yaitu IOTC, WCPFC, dan ICCAT. Aturan yang dipatuhi dalam IOTC, WCPFC, dan ICCAT ditentukan berdasarkan apakah negara anggota CCSBT yang bersangkutan adalah anggota komisi yang relevan atau negara yang melakukan kerja sama dengan komisi tersebut (CCSBT 2011).
Gambar 4 Pancing circle hook size 14/0 (Sumber: WWF 2012)
Sehubungan dengan hal di atas, penggunaan circle hook oleh CCSBT aturannya masih diadopsi dari aturan komisi lain. CCSBT merekomendasikan aturan tertulis mengenai circle hook dalam Conservation and Management of Sea Turtle (CMM 2008-03) yang ditetapkan oleh tindakan komisi Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC). Negara anggota dan negara non-anggota komisi yang bekerja sama akan menerapkan aturan tersebut untuk mengurangi angka kematian penyu dalam operasi penangkapan ikan tuna, serta memastikan penanganan yang aman terhadap penangkapan penyu dalam rangka meningkatkan kelangsungan hidup mereka. Dalam CMM 2008-03 disebutkan bahwa kapal-kapal yang terdaftar dalam aturan konvensi diminta untuk menerapkan salah satu dari tiga metode berikut untuk mengurangi penangkapan bycacth, yaitu:
1) Penggunaan circle hook dalam penangkapan tuna 2) Hanya menggunakan finfish sebagai umpan
14
Kebijakan teknologi circle hook di Indonesia
Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab, maka eksploitasi sumberdaya hayati laut harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (responsible fisheries). Berdasarkan hal tersebut, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan, perlu dikaji penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat penangkapan, daerah penangkapan ikan yang sesuai dengan tata laksana Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).
Kajian alat tangkap dalam hal ini difokuskan dalam penangkapan tuna yang banyak menggunakan alat tangkap rawai tuna (longline). Alat pancing longline dilengkapi dengan tali utama dengan dilengkapi ratusan tali cabang. Tali cabang tersebut juga dilengkapi dengan mata pancing dan umpan. Nelayan di Indonesia banyak menggunakan mata pancing jenis J hook, yaitu mata pancing berbentuk J dengan ujung yang meruncing, sehingga memudahkan untuk ikan terjerat di kail ketika memakan umpan. Namun sejak beberapa tahun terakhir, penggunaan rawai tuna dengan mata kail J hook tidak hanya menangkap tuna, tetapi juga menangkap spesies lain (bycacth) terutama penyu. Data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia tahun 2014 menyebutkan kurang lebih 4-8 ekor penyu tertangkap per kapal ketika dilakukan operasi penangkapan ikan tuna. Penggunaan mata kail ini tidak secara langsung mematikan bycatch penyu tersebut, namun luka yang disebabkan oleh kait umpan dapat mempengaruhi kemampuan penyu untuk bertahan hidup di alam dan produktivitas penyu, sehingga dapat mengancam kelestarian spesies tersebut. terhadap batang (shank)
15 Umpan Hanya bisa menggunakan
umpan hidup mudah untuk melepas kail
Mata pancing J hook yang runcing dan mudah spesies lain yang tertangkap untuk melepaskan diri. Keuntungan menggunakan mata pancing jenis circle hook ini adalah ikan yang tertangkap memakan umpan tidak terlalu dalam dimasukkan ke dalam mulut dan hanya tersangkut di mulut bagian luar, sehingga lebih mudah untuk menghapus dan mengurangi kerusakan pada ikan. Penggunaan circle hook di Indonesia belum banyak digunakan jika dibandingkan dengan J hook. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, circle hook belum pernah disosialisasikan oleh pemerintah. Pemerintah hanya mensosialisasikan terkait dimensi alat yang digunakan, seperti jumlah mata pancing dan ukuran mata jaring. Sedangkan untuk penggunaan dan pengawasan circle hook dalam rawai tuna belum diwajibkan oleh pemerintah. Hal tersebut didasari oleh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang mengatur penangkapan ikan dari segi dimensi alat, bukan dari jenis alat penangkapan ikan yang digunakan. Namun untuk operasi penangkapan di lapangan, pemerintah tidak berarti melarang penggunaan circle hook. Pemerintah membebaskan kepada pelaku perikanan untuk menggunakan jenis mata pancing apapun dalam penangkapan tuna longline dengan ketentuan mengikuti kebijakan operasional penangkapan lain yang telah diatur oleh pemerintah.
Strategi penggunaan circle hook dalam perikanan tuna longline Indonesia dalam upaya penanganan hasil tangkapan sampingan penyu
16
penggunaan circle hook dan pengusaha perikanan merasa tidak perlu mengganti mata pancing dengan circle hook. Berikut tabel analisis identifikasi faktor internal. Tabel 9 Analisis faktor internal
Keterangan Bobot Skala Skor
Kekuatan (S)
Adanya Peraturan Menteri Nomor 02/MEN/2011 Pasal 39 sebagai landasan hukum terkait HTS Pengusaha perikanan merasa tidak perlu
mengganti mata pancing dengan circle hook
0,2209 3,3333 -0,6626
Total -1,1707
Faktor eksternal yang diidentifikasi yaitu peluang dan ancaman. Peluang yang ada mencakup adanya dukungan dari organisasi pelestarian global (WWF) Indonesia, dan adanya pembentuk kemitraan yang diadakan oleh WWF dengan pengusaha/industri perikanan untuk mendukung pengadaan circle hook. Faktor ancaman yaitu tidak adanya suplai untuk produksi circle hook dan minimnya kesadaran produser pancing bahwa pancing ramah lingkungan akan semakin banyak dibutuhkan. Berikut tabel analisis identifikasi faktor eksternal.
Tabel 10 Analisis faktor eksternal
Keterangan Bobot Skala Skor
Peluang (O)
Adanya dukungan dari organisasi pelestarian global (WWF) Indonesia
0,2695 3,6667 0,9881 produser pancing tidak sadar bahwa
pancing ramah lingkungan akan semakin banyak dibutuhkan
0,2695 3,6667 -0,9881
17
Berdasarkan analisis faktor internal dan faktor eksternal, selanjutnya adalah menentukan strategi yang akan digunakan. Strategi tersebut merupakan kombinasi dari komponen masing-masing faktor internal dan eksternal yang kemudian akan disusun ke dalam model matriks SWOT, yaitu SO (strength-opportunities), ST (strength-threats), WO (weakness-opportunities), dan WT (weakness-threats). Tabel 11 Model matriks analisis SWOT
18
Berdasarkan Tabel 9 dan Tabel 10 nilai-nilai yang telah diolah dibuat untuk dijadikan grafik hasil Analisis SWOT. Berikut grafik analisis SWOT dapat dilihat pada gambar 5.
Gambar 5 Hasil penilaian strategi penerapan circle hook
Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa strategi penerapan kebijakan circle hook berada pada kuadran 1. Rekomendasi strategi yang dapat digunakan adalah strategi SO (Strengths-Opportunity), yaitu:
1. Mengoptimalkan hubungan kerja sama antara pemerintah dengan WWF Indonesia dalam mendukung pelestarian sumberdaya perikanan yang bertanggung jawab.
2. Memanfaatkan peluang kemitraan antara Pemerintah, WWF Indonesia, dan pihak swasta untuk pengadaan circle hook.
Pembahasan
Tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii) atau southern bluefin tuna/SBT adalah jenis ikan tuna besar yang mampu berenang dengan cepat dan beruaya sangat jauh (highly migratory). Penangkapan ikan SBT secara besar-besaran menyebabkan populasinya menurun. Apabila penangkapan tidak dikendalikan, SBT akan mengalami kepunahan sehingga kelestariannya terancam. Penyebaran ikan SBT meliputi wilayah yang luas di perairan Selatan Samudera Hindia antara 30o dan 50o LS dengan perkiraan tempat pemijahan yang terletak antara Selatan Jawa dan Australia Barat Laut.
Dalam mengatur perikanan secara umum dibagi menjadi dua cara, yaitu dengan input control dan output control. Berdasarkan hasil penelitian di atas, pengelolaan SBT, CCSBT menjamin konservasi dan pemanfaatan SBT secara optimum. CCSBT mengadopsi proses pengelolaan perikanan tuna berbasis output control, yaitu dengan menerapkan sistem kuota penangkapan kepada setiap negara anggota sesuai dengan Management Procedure (MP). Pengelolaan input control
-2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2
-2 -1 0 1 2 3
S
W
O
19
secara umum digunakan oleh Indonesia. Indonesia mengatur penangkapan dengan pembatasan jumlah operasional alat penangkapan ikan, mengatur banyaknya jumlah mata pancing yang digunakan, serta menetukan ukuran mata jaring yang sesuai dengan target spesies yang ditangkap. Hal ini telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dalam Peraturan Menteri Nomor 12/MEN/2012 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di WPP RI.
Pengelolaan SBT berbasis output control yang digunakan oleh CCSBT hanya mengatur dari segi kuota penangkapan dan pengaturan jumlah kapal yang terdaftar dalam CCSBT. CCSBT tidak menetapkan aturan penggunaan alat tangkap dalam konvensi maupun CMM. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ruaya SBT yang melakukan highly migratory, dan setiap fase perkembangannya, SBT melakukan pergerakan dari suatu perairan dan perairan lain yang tersebar di perairan selatan Samudera Hindia dan di Samudera Hindia Timur Laut Selatan Jawa. Ruaya SBT yang bergerak ke beberapa perairan berdasarkan fase hidupnya menyebabkan penyebarannya tidak merata. Di perairan Indonesia sendiri adalah satu-satunya tempat pemijahan (spawning ground) SBT sebagai pusat persedian SBT, yaitu pada perairan tropis antara Kepulauan Indonesia dan Australia bagian Barat Laut yang merupakan tempat lahir semua SBT (Mahrus 2012). Oleh karena itu, komisi CCSBT secara tegas menerapkan sistem kuota kepada setiap negara anggota dengan jumlah berbeda, tergantung dengan penyebaran SBT di masing-masing perairan negara anggota, serta menetapkan pendaftaran kapal yang menangkap SBT. Kapal yang terdaftar juga digunakan untuk memantau kegiatan perikanan di atas kapal dan untuk mengetahui berapa banyak jumlah setting alat tangkap yang digunakan. Berdasarkan hal tersebut secara tidak langsung jumlah alat penangkapan diatur oleh CCSBT dengan penetapan jumlah kapal perikanan negara anggota yang terdaftar dalam CCSBT. Sedangkan untuk jenis alat tangkap yang digunakan, CCSBT menyerahkan aturan tersebut kembali ke aturan nasional negara anggota masing-masing berdasarkan kriteria negara perairan yang dilalui oleh proses migrasi ikan SBT.
Sebagai anggota Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), Indonesia harus mengikuti aturan kuota dan pendaftaran kapal yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan pengaturan dan tata kelola yang baik dalam pemanfaatan SBT di Indonesia agar sesuai dengan aturan-aturan internasional yang telah disepakati Indonesia sebagai bagian dari CCSBT. Selain itu, karena Indonesia mengatur perikanan dari segi input control, Indonesia mempunyai aturan tambahan sendiri untuk mengelola SBT, salah satunya adalah pengaturan dan pengendalian alat tangkap yang banyak dikembangkan oleh banyak pihak sebagai respon dari strategi penangkapan tuna. Hal ini tidak dijadikan suatu masalah terhadap aturan CCSBT dan Indonesia.Walaupun sebagai konsekuensinya, Indonesia harus mentransformasikan kewajiban yang ada dalam konvensi CCSBT tersebut ke dalam hukum nasional, namun CCSBT tidak bisa menekan negara anggota dalam aturan nasional lainnya yang diterapkan untuk mengelola SBT, yang penting negara anggota mengikuti resolusi CCSBT yang telah ditetapkan.
20
tertangkap di alat tangkap yang digunakan, yaitu rawai tuna (longline). Berdasarkan hasil penelitian, CCSBT mengatur tentang pengurangan hasil tangkapan sampingan berupa burung laut, hiu, dan penyu laut. Tindakan pencegahan untuk mengurangi kedua spesies non target, burung laut dan hiu telah diterbitkan dan diberlakukan kepada nelayan SBT sejak tahun 2003, sedangkan untuk mitigasi bycatch penyu belum ada aturan tersendiri yang dibuat oleh CCSBT. Dalam perikanan SBT, kapal anggota negara yang terdaftar secara global menggunakan kapal rawai tuna. Disebutkan dalam aturan terikat pengurangan bycatch, bahwa diwajibkan kepada semua negara anggota untuk menggunakan tori poles dalam alat tangkap pancing rawai SBT, namun penggunaan tori poles ini hanya efektif untuk target bycatch burung laut.
Circle hook, seperti yang telah disebutkan sebelumnya merupakan jenis mata pancing yang digunakan untuk penangkapan tuna longline. Circle hook direkomendasikan sebagai pengganti mata pancing J hook. Circle hook terbukti efektif dalam mengurangi hasil tangkapan bycatch penyu. Terkait dengan CCSBT, komisi ini merespon dengan baik adanya teknologi tersebut, namun secara teori, CCSBT belum menetapkannya dalam aturan konvensi. Hal ini disebabkan karena dalam konvensi, aturan terkait bycatch penyu laut pun belum diatur. CCSBT baru mengimplementasikan untuk bycatch burung laut dalam IPOA-Seabird dan bycatch hiu dalam IPOA-Shark. CCSBT belum memiliki tindakan sendiri dalam penanganan bycatch penyu, sehingga aturan mitigasi penyu CCSBT mengadopsi upaya tindakan pencegahannya melalui WCPFC Guidelines for The Handling of Sea Turtles yang menjelaskan tentang bagaimana cara penanganan penyu yang terjerat dalam mata pancing longline, dan melalui FAO: Guidelines to Reduce Sea Turtle Mortality in Fishing Operations mengenai informasi prosedur untuk pemulihan penyu yang tertangkap dan jenis alat yang dapat digunakan untuk penanganan. Selain dari dua tindakan di atas, CCSBT juga mengadopsi tindakan konservasi penyu dalam resolusi yang telah diatur dalam komisi IOTC, WCPFC, dan ICCAT. Disebutkan dalam salah satu resolusi tersebut dianjurkan bagi kapal penangkapan ikan yang terdaftar untuk menggunakan circle hook dalam penangkapan tuna demi mengurangi hasil tangkapan sampingan penyu.
Menurut Rahmawati (2014), SBT memiliki nilai presentase terkecil sebesar 4% dari komposisi hasil tangkapan tuna longline di Indonesia. Presentase produksi SBT memiliki kecenderungan meningkat seiring dengan meningkatnya nilai produktivitas tuna longline yang menangkap SBT. Hal ini membuktikan bahwa tingkat kemampuan efektivitas tuna longline Indonesia masih tergolong baik, sehingga jenis alat tangkap ini banyak digunakan oleh nelayan di wilayah Indonesia. Namun ternyata penggunaan rawai tuna (longline) tidak hanya bisa menangkap tuna SBT, spesies lainnya (bycatch) juga ikut tertangkap, terutama penyu. Banyaknya penyu yang tertangkap menurut data WWF tahun 2013, sekitar 285 penyu yang tertangkap dari 1473 kail pancing rawai tuna yang disebar oleh 31 kapal di 3 pelabuhan besar (Muara Baru, Benoa, dan Bitung). Hal ini tentu menjadi perhatian, karena penyu yang tertangkap menunjukkan bahwa alat tangkap rawai tuna (longline) yang digunakan belum terkategorikan ramah lingkungan.
21
negara, termasuk di Indonesia. Berdasarkan uji coba tersebut, circle hook terbukti lebih efektif untuk menangkap tuna dan penangkapan bycatch penyu juga mengalami penurunan.
Walaupun CCSBT belum mengatur tentang mitigasi penyu dalam resolusinya, namun Indonesia yang termasuk ke dalam negara anggota bukan berarti tidak bisa mengatur mitigasi penyu dalam penangkapan ikan SBT. Secara tidak langsung, CCSBT sebenarnya telah menyerukan kepada negara anggota dan negara non anggota (CNMs) melalui aturan yang diadopsinya mengenai bycatch penyu, salah satunya yaitu penggunaan mata pancing circle hook dalam penangkapan tuna. Di Indonesia, aturan penangkapan penyu sudah diatur dan diratifikasi oleh pemerintah, hanya penggunaan alat penangkapan ikannya yang belum diwajibkan oleh pemerintah Indonesia.
Berdasarkan Tabel 9, Tabel 10, dan Tabel 11 nilai-nilai yang telah diolah dijadikan ke dalam grafik hasil analisis SWOT. Total nilai IFAS yang merupakan selisih antara kekuatan dan kelemahan yaitu sebesar 1,0897. Total nilai EFAS yang merupakan selisih antara peluang dan ancaman bernilai 0,1728. Hal tersebut menandakan bahwa nilai IFAS positif yang berarti faktor kekuatan lebih besar daripada faktor kelemahan, sedangkan nilai EFAS positif yang berarti faktor peluang lebih besar daripada faktor ancaman. Mempertimbangkan nilai skor untuk unsur Kekuatan (S), Kelemahan (W), Peluang (O) dan Ancaman (T), strategi untuk menangani permasalahan terkait penerapan kebijakan circle hook di Indonesia adalah opsi SO atau kombinasi kekuatan dan peluang (kuadran 1, Gambar 5). Penjelasan strategi ini adalah sebagai berikut:
1) Mengoptimalkan hubungan kerja sama antara pemerintah dengan WWF Indonesia dalam mendukung pelestarian sumberdaya perikanan yang bertanggung jawab
(1)Sosialisasi secara terus menerus tentang circle hook kepada pengusaha dan nelayan rawai tuna
Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan wajib disosialisasikan oleh Pemerintah Indonesia bersama WWF-Indonesia agar kegiatan penangkapan ikan tidak mengancam kelestarian populasi ikan target dan bycatch. Sosialisasi penggunaan pancing circle hook dapat dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dan WWF Indonesia melalui berbagai kegiatan, seperti kunjungan ke perusahaan dan mendampingi nelayan melihat perkembangan praktek perikanan tuna saat ini. Selain itu, Pemerintah bersama WWF Indonesia juga menyediakan paket-paket circle hook sebagai langkah awal uji coba kepada pengusaha perikanan setempat. Sosialisasi melalui uji coba (experimental fishing) langsung dapat dilakukan dengan melakukan pembandingan hasil antara mata pancing circle hook dan J hook yang selama ini banyak digunakan oleh nelayan Indonesia dalam penangkapan tuna.
(2)Pemerintah dan WWF Indonesia melakukan program pelatihan penanganan hasil tangkapan sampingan di atas kapal
22
publik terhadap isu perikanan tangkap yang bertanggung jawab. Salah satu yang dapat diterapkan adalah adanya pelatihan On-board Observer secara rutin. On-board observer melibatkan para nelayan yang dikoordinir oleh WWF Indonesia untuk melakukan pemantauan di atas kapal yang sedang melakukan penangkapan hasil laut dan didukung oleh pemerintah sebagai fasilitator untuk mendukung kegiatan pelatihan ini.
2) Memanfaatkan peluang kemitraan antara Pemerintah, WWF Indonesia, dan pihak swasta untuk pengadaan circle hook
WWF Indonesia memiliki program seafood savers yang bertujuan mewujudkan kegiatan perikanan yang berkelanjutan melalui upaya bersama para pelaku di industri perikanan. Program seafood savers merupakan program kemitraan bagi perusahaan perikanan yang menjalankan aktivitas perikanannya dengan bertanggung jawab. Seafood savers dijadikan sebagai landasan relasi yang melibatkan industri perikanan, retail, dan institusi keuangan. Pelaksanaan program seafood savers mengajak dan merekrut perusahaan perikanan menjadi anggota seafood savers, dimana perusahaan/industri perikanan tersebut mendapatkan pelatihan teknis dalam perbaikan perikanan yang didukung penuh oleh pemerintah dan lembaga kemasyarakatan (LSM). Adanya keterlibatan kemitraan ini dapat memfasilitasi pengadaan produk perikanan tangkap yang bertanggung jawab, salah satunya adalah pengadaan circle hook dan pelatihan teknis dalam program perbaikan perikanan tangkap dengan menggunakan circle hook.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Dalam prosedur pengelolaan SBT, kebijakan penggunaan alat penangkapan ikan oleh negara anggota CCSBT serta penerapan circle hook oleh CCSBT dan Indonesia:
(1) Penggunaan alat penangkapan ikan tidak resmi diatur secara tertulis oleh CCSBT, sehingga negara-negara anggota merumuskan sendiri kebijakan mengenai aturan penggunaan alat tangkap ke dalam aturan nasional
(2) CCSBT dan Indonesia memberikan tanggapan positif terhadap teknologi circle hook dalam perikanan tuna longline, namun belum ada pernyataan resmi tentang kebijakan penerapan teknologi ini.
23
Saran
Dalam rangka mewujudkan program perikanan tangkap yang bertanggung jawab perlu ditingkatkan kerja sama antara pemerintah dengan keberpihakan stakeholder lain untuk mendukung keberlanjutan sektor perikanan.
DAFTAR PUSTAKA
Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). 1993. Convention For The Conservation Of Southern Bluefin Tuna (Origins of Conservation). [terhubung berkala]http://www.ccsbt.org/site (5 Mei 2014)
Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). 2002. Conservation and Management (Total Allowable Catch). [terhubung berkala]http://www.ccsbt.org/site (28 Desember 2014)
Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). 2011. Authorised Vessels and Farms. [terhubung berkala] http://www. ccsbt. org/site (28 Desember 2014)
Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). 2011. Conservation and Management (Management Prosedure). [terhubung berkala]http://www.ccsbt.org/site (28 Desember 2014)
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT). 2014. Eksploitasi Ikan Tuna. [terhubung berkala]http://www.djpt.kkp.go.id/index.php/arsip (6 Januari 2015)
Efransyah. 2010. WWF : Pancing Lingkar Lebih Unggul. WWF [Internet]. [diunduh 2015 Feb 20]. Tersedia pada: http://www.wwf.or.id
Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (Konvensi tentang Konservasi Tuna Sirip Biru Selatan)
Mahrus. 2012. Distribusi Ukuran Panjang dan Berat Tuna Sirip Biru Selatan yang tertangkap dari Perairan Samudera Hindia dan Didaratkan di Pelabuhan Benoa, Bali [tesis]. Depok (ID) : Universitas Indonesia
Patnistik E. 2015 Jan 6. Tuna Sirip Biru Laku Seharga Ratusan Juta di Jepang. Kompas [Internet]. Tersedia pada: http://internasional.kompas.com/read /2015/01/06/10384121. (12 Juni 2015)
Peraturan Menteri Nomor 12/MEN/2012 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia
Prawira WT. 2014. Tak Sengaja Tertangkap, Penyu Harus Dapat Penanganan Tepat. WWF [Internet]. [diunduh 2015 Jun 13]. Tersedia pada: http://www.wwf.or.id
Prince ED, Ortiz M, Venizelos A. 2002. A Comparison of Circle Hook and J Hook Performance in Recreational Catch-and-Release Fisheries for Billfish. American Fisheries Society, Symposium 30: 66-79
24
Rangkuti F. 2006. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta (ID) : PT. Gramedia Pustaka Utama
Syamsudin S. 2011. Mitigasi Penyu Hasil TangkapSampingan Rawai Tuna Indonesia. Jurnal. Jakarta (ID) : Sekolah Tinggi Perikanan
Wasdalin. 2014 Sept 8. Kementerian Kelautan dan Perikanan Jaga Kelestarian Tuna. Akuamina. Edisi 80: hal 14
WWF. 2012. Reducing Bycatch By Using Innovative Fishing Gear, Circle Hook. [terhubung berkala]http://www.wwf.or.id. (5 Januari 2015)
25
Lampiran 1 Tahapan analisis SWOT
Analisis SWOT dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1) Tentukan indikator pada faktor-faktor internal dan eksternal
2) Pengisian skala 1-4 berdasarkan hasil data wawancara dengan responden. Keterangan : 1= sangat tidak penting, 2= tidak penting, 3= penting, 4= sangat penting
3) Rating ditentukan dengan menghitung rata-rata penilaian semua responden terhadap masing-masing indikator
26
5) Bobot didapatkan dengan menghitung rata-rata nilai survey dari semua responden. Total bobot dalam faktor internal dan eksternal = 1
6) Skor dihitung dengan mengalikan bobot dengan rating. Hal ini dilakukan pada faktor internal maupun eksternal
7) Setiap skor dari kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dijumlahkan
27
koordinat y diisi dengan jumlah skor dari peluang dan ancaman. Selanjutnya dibuat grafik dengan koordinat tersebut.
9) Kuadran yang menunjukkan letak strategi dapat diketahui dengan membuat grafik kedua. Koordinat x untuk grafik ini merupakan total skor pada faktor internal dan koordinat y merupakan total skor pada faktor eksternal
28
29
30
31
32
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tanjungpandan pada tanggal 14 Februari 1994 dari pasangan Bapak Alyulyadi dan Ibu Riana. Penulis adalah putri pertama dari dua bersaudara. Penulis lulus dari SMA Negeri 1 Tanjungpandan pada tahun 2011 dan pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswi Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN Undangan.