• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Keadaan umum lokasi penelitian

Lokasi penelitian yang dimaksud dalam penelitian ini bukan lokasi yang dijadikan obyek penelitian, melainkan lokasi tempat mengumpulkan data sekunder. Lokasi tersebut adalah Pelabuhan Perikanan Benoa. Secara geografis, Pelabuhan Benoa yang terletak di Provinsi Bali berada di koordinat 115o 12’ 30”

Bujur Timur dan 8o 44’ 22” Lintang Selatan. Secara administratif Pelabuhan Benoa tercakup pada Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, yaitu di bagian selatan Pulau Bali atau berada di Teluk Benoa, Denpasar. Wilayah Pengelolaan Perairan (WPP) Pelabuhan Tanjung Benoa termasuk dalam WPP 573 yang meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa hingga sebelah Selatan Nusa Tenggara, dan Laut Sawu, serta WPP 713 yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali.

Gambar 2 Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia (Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 2014)

Kegiatan perikanan tuna di Pelabuhan Benoa dilakukan oleh perusahaan BUMN perikanan dengan armada yang dimiliki sebanyak 18 kapal tuna longline. Kapal-kapal tersebut melakukan operasi penangkapan tuna di wilayah perairan Samudera Hindia dan daerah Indonesia bagian Timur. Sepanjang perairan Selatan Jawa hingga perairan Bali juga diketahui sebagai satu-satunya tempat pemijahan (spawning ground) SBT, sehingga Pelabuhan Benoa yang termasuk dalam WPP 573 ini dijadikan sebagai tempat operasi penangkapan kapal tuna longline dan pendaratan ikan SBT terbesar di Indonesia (Mahrus 2012).

10

Spawning ground SBT Total distribution SBT

Gambar 3 Penyebaran SBT dan daerah pemijahannya (Sumber: FAO dalam Mahruz 2012)

Pengelolaan tuna sirip biru selatan oleh CCSBT

Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) adalah organisasi antar pemerintah yang bertanggung jawab atas pengelolaan SBT. CCSBT merupakan organisasi dibawah RFMO yang fokus mengelola SBT memiliki tujuan untuk menjamin konservasi dan pemanfaatan optimum SBT melalui pengelolaan yang tepat. CCSBT secara resmi didirikan pada tanggal 10 Mei 1993 oleh Australia, Jepang, dan Selandia Baru, dimana setelah efektif dijalankan organisasi ini, negara anggota CCSBT terdiri dari 6 negara anggota dan 3 negara non cooperating members. Indonesia sendiri termasuk ke dalam negara anggota, dimana Indonesia resmi menjadi negara anggota CCSBT sejak tanggal 8 April 2008.

Dalam pengelolaan SBT, CCSBT mengadopsi tindakan pengelolaan berbasis output control melalui penetapan kuota penangkapan SBT kepada setiap negara anggota dan pengaturan jumlah kapal yang terdaftar sesuai dengan Management Procedure (MP). MP digunakan sebagai panduan dalam menetapkan Total Allowable Catch (TAC). Prosedur pengelolaan mengenai TAC merupakan seperangkat aturan yang dapat menentukan total penangkapan yang diperbolehkan (TAC) berdasarkan data pemantauan yang diperbaharui. Dari tahun 2002 sampai 2011, CCSBT melakukan usaha yang besar untuk mengembangkan prosedur pengelolaan dalam rangka memandu proses pengaturan TAC untuk SBT. Pada pertemuan ke-18, CCSBT menyetujui prosedur pengelolaan digunakan untuk memandu pengaturan jumlah tangkapan SBT terkait dengan target jumlah populasi tuna SBT yang mengalami penurunan. Prosedur pengelolaan yang

dikenal sebagai “Bali Procedure” yang diadopsi pada pertemuan ke-18 membahas aturan TAC dalam Resolusi Penerapan Manajemen Prosedur dan Resolusi tentang Alokasi Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan. Dalam resolusi TAC ditetapkan

11

CCSBT menggunakan MP untuk menghitung TAC jangka waktu tiga tahun (2012-2014). Perhitungan tiga tahun pertama ini digunakan sebagai awal penentuan TAC Tuna Sirip Biru global tahun 2012 dan seterusnya. Selain itu, CCSBT juga mengatur tentang penetapan daftar kapal-kapal yang berwenang dan diizinkan untuk membawa SBT. Para negara anggota maupun negara non anggota yang bekerja sama ditegaskan untuk tidak menerima perdagangan atau dokumen kapal yang tidak terdaftar dalam aturan konvensi, dan tidak menerima impor atau pendaratan domestik produk SBT dari kapal yang tidak memiliki kewenangan. Setiap kapal penangkapan ikan atau kapal pengangkut ikan yang melakukan penangkapan dan pengangkutan ikan SBT wajib didaftarkan ke CCSBT. Hal ini telah diatur dalam Resolusi CCSBT, yaitu : Resolution on Amandement of The

Resolution on “Illegal, Unregullated and Unreported Fishing (IUU) and

Establishment of a CCSBT Record of Vessels over 24 meters Authorized to Fish

for Southern Bluefin Tuna” (adopted at the fifteenth Annual Meeting, 14-17 October 2008) yang menjelaskan tentang persyaratan dan tatacara pendaftaran kapal perikanan yang menangkap dan/atau mengangkut SBT.

Pengelolaan tuna sirip biru selatan oleh Indonesia dalam aturan CCSBT Indonesia dikenal sebagai produsen tuna terbesar di dunia. Total produksi tuna, cakalang, dan tongkol mencapai 1,1 juta ton per tahun dengan nilai perdagangan sekitar 40 triliun rupiah. Perairan di selatan Bali bahkan tercatat sebagai satu-satunya tempat pemijahan tuna sirip biru di dunia (DJPT 2014). Dalam melakukan upaya pengelolaan sumberdaya SBT, Indonesia menjalin kerjasama dengan organisasi RFMO yang khusus untuk konservasi SBT, yaitu CCSBT. Indonesia bergabung dalam organisasi CCSBT sejak tanggal 8 April 2008. Keanggotaan Indonesia sendiri telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (Konvensi tentang Konservasi Tuna Sirip Biru Selatan). Keikutsertaan Indonesia dalam organisasi CCSBT ini tentunya memiliki konsekuensi bagi Indonesia. Indonesia harus bisa mentransformasikan kewajiban yang ada dalam aturan konvensi CCSBT ke dalam hukum nasional dan harus mengikuti seluruh kewajiban yang diatur dalam konvensi. Beberapa tindakan yang telah dilakukan Indonesia sebagai negara anggota CCSBT yang ikut serta dalam melakukan pengelolaan dan konservasi ikan SBT antara lain : mendaftarkan kapal perikanan yang menangkap ikan SBT dan Catch Documentation Scheme (CDS), yaitu tindakan pengelolaan berkelanjutan terhadap SBT dengan memfokuskan pada pengumpulan data hasil tangkapan melalui penerapan CDS.

Berdasarkan pertemuan Sixth Meeting of The Compliance Committe (6-8 Oktober 2011) dan Eighteenth Annual Meeting of The Commission for The Conservation of Southern Blufin Tuna (10-13 Oktober 2011), disepakati bahwa Indonesia memperoleh kuota penangkapan SBT sebesar 685 ton pada tahun 2012, 707 ton ditahun 2013, dan 750 ton di tahun 2014. Pada awal tahun pertama Indonesia mendapatkan kuota sebesar 800 ton di tahun 2006-2007, kemudian menurun menjadi 750 ton tahun 2008-2009 dan tahun 2010-2011 sebesar 651 ton. Berikut data alokasi kuota penangkapan SBT Indonesia tahun 2006-2014.

12

Tabel 7 Alokasi kuota penangkapan SBT Indonesia tahun 2006-2014 KUOTA 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Indonesia (ton) 800 750 750 750 651 651 685 707 750 Dunia (ton) 11810 11810 11810 11810 9749 9749 10441 10949 12449 Indonesia (%) 7% 6% 6% 6% 7% 7% 7% 6% 6% Sumber: Rahmawati (2014)

Pendaftaran kapal perikanan Indonesia yang melakukan penangkapan, pengangkutan ikan dan/atau menerima transhipment SBT di laut lepas Samudera Hindia juga telah diatur pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor. PER.12/MEN/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Laut Lepas. Anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) mendaftarkan kapal anggota di CCSBT sebanyak 347 kapal dengan kapal penangkapan yang didaftarkan tersebut ke sekretariat CCSBT adalah kapal dengan alat tangkap tuna longline.

Disamping menerapkan aturan pengelolaan berdasarkan konvensi CCSBT, Indonesia melalui Komisi Tuna Indonesia mengusulkan lima aksi untuk mengantisipasi keberlanjutan sumberdaya SBT yang harus dilakukan oleh pemerintah, yaitu:

1. Merealisasikan Rencana Pengelolaan Tuna Indonesia (RPP Tuna) sebagai pedoman pengelolaan tuna

2. Mengelola database perikanan tuna dan penerapan logbook pada setiap kapal penangkap sebagai dukungan pengelolaan tuna

3. Pengaturan dan pengendalian alat tangkap yang banyak dikembangkan oleh banyak pihak sebagai respon dari strategi penangkapan tuna

4. Penentuan alokasi izin penangkapan harus didasarkan pada data dan informasi ilmiah dalam rangka merespon dunia usaha dalam negeri dan tekanan lembaga-lembaga internasional

5. Meningkatkan peranan Indonesia dalam RFMO melalui restrukturasi organisasi.

Respon CCSBT terhadap teknologi circle hook

Circle Hook merupakan jenis mata pancing inovatif berbentuk tajam dan melengkung, seperti bentuk melingkar. Circle hook digunakan dalam penangkapan rawai tuna (longline) untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan (bycacth) dalam kegiatan penangkapan tuna. Circle Hook sendiri adalah hasil inovasi dari kompetisi yang diadakan oleh World Wildlife Fund (WWF) dalam rangka konservasi penyu yang sering tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan, kemudian pancing tersebut dipatenkan oleh WWF.

Sehubungan dengan organisasi CCSBT, circle hook selain berfungsi untuk mencegah penangkapan bycatch penyu, juga efektif untuk menangkap tuna, sehingga dapat mendukung upaya kegiatan penangkapan tuna yang berkelanjutan (Efransyah 2010). Dalam mendukung upaya tersebut, selain CCSBT telah menetapkan aturan kuota penangkapan dan kapal, CCSBT juga mengatur pengurangan bycatch. Upaya pengurangan bycatch yang diatur oleh CCSBT

13

dibagi menjadi dua aturan yang berlaku untuk negara anggota maupun negara non-anggota, yaitu aturan yang mengikat dan aturan yang tidak mengikat. Aturan terikat yang telah disepakati oleh CCSBT meliputi kewajiban menggunakan tori poles bagi semua negara anggota dalam alat tangkap rawai tuna SBT (longline). Sedangkan untuk aturan yang tidak terikat, negara anggota memiliki hak untuk mengembangkan teknik-teknik atau metode yang efektif dalam mengurangi tangkapan spesies bycacth, termasuk kemungkinan dampak terhadap penurunan populasi SBT dalam operasi longline. Selain itu, sesuai dengan rekomendasi CCSBT untuk mengurangi dampak ekologis terkait spesies perikanan untuk SBT, negara anggota akan melakukan Rencana Aksi Internasional untuk mengurangi penangkapan burung laut di perikanan longline (IPOA-Seabirds), Rencana Aksi Internasional untuk Pelestarian dan Pengelolaan Penyu (IPOA-Sharks), dan Pedoman FAO untuk mengurangi kematian penyu dalam operasi penangkapan tuna SBT (FAO-Sea Turtles). Di samping mengikuti aturan yang di rekomendasikan dari CCSBT, negara anggota juga diberi hak untuk mematuhi semua tindakan yang berlaku dan direkomendasikan yang ditujukan untuk perlindungan spesies bycatch dari aturan-aturan yang diadopsi oleh CCSBT, yaitu IOTC, WCPFC, dan ICCAT. Aturan yang dipatuhi dalam IOTC, WCPFC, dan ICCAT ditentukan berdasarkan apakah negara anggota CCSBT yang bersangkutan adalah anggota komisi yang relevan atau negara yang melakukan kerja sama dengan komisi tersebut (CCSBT 2011).

Gambar 4 Pancing circle hook size 14/0 (Sumber: WWF 2012)

Sehubungan dengan hal di atas, penggunaan circle hook oleh CCSBT aturannya masih diadopsi dari aturan komisi lain. CCSBT merekomendasikan aturan tertulis mengenai circle hook dalam Conservation and Management of Sea Turtle (CMM 2008-03) yang ditetapkan oleh tindakan komisi Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC). Negara anggota dan negara non-anggota komisi yang bekerja sama akan menerapkan aturan tersebut untuk mengurangi angka kematian penyu dalam operasi penangkapan ikan tuna, serta memastikan penanganan yang aman terhadap penangkapan penyu dalam rangka meningkatkan kelangsungan hidup mereka. Dalam CMM 2008-03 disebutkan bahwa kapal-kapal yang terdaftar dalam aturan konvensi diminta untuk menerapkan salah satu dari tiga metode berikut untuk mengurangi penangkapan bycacth, yaitu:

1) Penggunaan circle hook dalam penangkapan tuna 2) Hanya menggunakan finfish sebagai umpan

3) Menggunakan tindakan yang lain/rencana yang telah ditelaah oleh komite ilmiah

14

Kebijakan teknologi circle hook di Indonesia

Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab, maka eksploitasi sumberdaya hayati laut harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (responsible fisheries). Berdasarkan hal tersebut, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan, perlu dikaji penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat penangkapan, daerah penangkapan ikan yang sesuai dengan tata laksana Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).

Kajian alat tangkap dalam hal ini difokuskan dalam penangkapan tuna yang banyak menggunakan alat tangkap rawai tuna (longline). Alat pancing longline dilengkapi dengan tali utama dengan dilengkapi ratusan tali cabang. Tali cabang tersebut juga dilengkapi dengan mata pancing dan umpan. Nelayan di Indonesia banyak menggunakan mata pancing jenis J hook, yaitu mata pancing berbentuk J dengan ujung yang meruncing, sehingga memudahkan untuk ikan terjerat di kail ketika memakan umpan. Namun sejak beberapa tahun terakhir, penggunaan rawai tuna dengan mata kail J hook tidak hanya menangkap tuna, tetapi juga menangkap spesies lain (bycacth) terutama penyu. Data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia tahun 2014 menyebutkan kurang lebih 4-8 ekor penyu tertangkap per kapal ketika dilakukan operasi penangkapan ikan tuna. Penggunaan mata kail ini tidak secara langsung mematikan bycatch penyu tersebut, namun luka yang disebabkan oleh kait umpan dapat mempengaruhi kemampuan penyu untuk bertahan hidup di alam dan produktivitas penyu, sehingga dapat mengancam kelestarian spesies tersebut.

Tabel 8 Perbandingan pancing circle hook dan J hook Jenis Pancing

Perbandingan

Circle Hook J Hook

Bentuk

Mata pancing bengkok ke dalam membentuk sudut 90o terhadap batang pancing

Mata pancing tegak lurus terhadap batang (shank)

Metode Penangkapan

Kail tidak perlu

dihentakkan, dan kail akan menancap dibibir ikan atau paling jauh tertancap hingga tenggorokan

Kail dihentakkan secara cepat dan kuat agar pancing masuk ke dalam mulut ikan hingga mencapai usus

15

Mortalitas

Efisiensi penangkapan tinggi dan tingkat mortalitas rendah

Efisiensi penangkapan rendah dan tingkat mortalitas tinggi Umpan Hanya bisa menggunakan

umpan hidup

Dapat menggunakan umpan hidup dan umpan mati

Catch and release

Circle hook tidak mudah tertelan, dan hanya tersangkut dibagian sudut bibir ikan, sehingga lebih mudah untuk melepas kail

Mata pancing J hook yang runcing dan mudah

tertelan, sehingga menyebabkan ikan mati pada saat di release Sumber: Prince et al. (2002)

Penggunaan mata pancing pada alat tangkap rawai tuna (longline), selain menggunakan mata pancing J hook, bisa menggunakan jenis mata pancing yang lain. Sejak tahun 2006, WWF telah memperkenalkan circle hook di Indonesia, namun mata pancing jenis ini belum banyak digunakan hingga sekarang. Circle hook memiliki diameter besar daripada J hook dengan ujung yang melingkar, menghadap ke batang kail (shank) 90 derajat, sehingga memudahkan ikan dan spesies lain yang tertangkap untuk melepaskan diri. Keuntungan menggunakan mata pancing jenis circle hook ini adalah ikan yang tertangkap memakan umpan tidak terlalu dalam dimasukkan ke dalam mulut dan hanya tersangkut di mulut bagian luar, sehingga lebih mudah untuk menghapus dan mengurangi kerusakan pada ikan. Penggunaan circle hook di Indonesia belum banyak digunakan jika dibandingkan dengan J hook. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, circle hook belum pernah disosialisasikan oleh pemerintah. Pemerintah hanya mensosialisasikan terkait dimensi alat yang digunakan, seperti jumlah mata pancing dan ukuran mata jaring. Sedangkan untuk penggunaan dan pengawasan circle hook dalam rawai tuna belum diwajibkan oleh pemerintah. Hal tersebut didasari oleh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang mengatur penangkapan ikan dari segi dimensi alat, bukan dari jenis alat penangkapan ikan yang digunakan. Namun untuk operasi penangkapan di lapangan, pemerintah tidak berarti melarang penggunaan circle hook. Pemerintah membebaskan kepada pelaku perikanan untuk menggunakan jenis mata pancing apapun dalam penangkapan tuna longline dengan ketentuan mengikuti kebijakan operasional penangkapan lain yang telah diatur oleh pemerintah.

Strategi penggunaan circle hook dalam perikanan tuna longline Indonesia dalam upaya penanganan hasil tangkapan sampingan penyu

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden dan penelusuran data sekunder dapat dilihat faktor eksternal untuk mendapatkan strategi penggunaan circle hook. Faktor-faktor yang diidentifikasi sebagai kekuatan dalam kegiatan penangkapan tuna mencakup adanya adanya Permen KP No.12/MEN/2012 Pasal 39 sebagai landasan hukum terkait HTS dan adanya RPP Tuna yang dimiliki oleh pemerintah sebagai pedoman pengelolaan tuna. Sedangkan kelemahan yang masuk ke dalam faktor internal mencakup pemerintah belum mewajibkan

16

penggunaan circle hook dan pengusaha perikanan merasa tidak perlu mengganti mata pancing dengan circle hook. Berikut tabel analisis identifikasi faktor internal. Tabel 9 Analisis faktor internal

Keterangan Bobot Skala Skor

Kekuatan (S)

Adanya Peraturan Menteri Nomor 02/MEN/2011 Pasal 39 sebagai landasan hukum terkait HTS

0,3071 4,0000 1,2284 Pemerintah memiliki RPP Tuna sebagai

pedoman pengelolaan tuna

0,2815 3,6667 1,0321

Total 2,2605

Kelemahan (W)

Pemerintah belum mewajibkan penggunaan circle hook

0,1906 2,6667 -0,5082 Pengusaha perikanan merasa tidak perlu

mengganti mata pancing dengan circle hook

0,2209 3,3333 -0,6626

Total -1,1707

Faktor eksternal yang diidentifikasi yaitu peluang dan ancaman. Peluang yang ada mencakup adanya dukungan dari organisasi pelestarian global (WWF) Indonesia, dan adanya pembentuk kemitraan yang diadakan oleh WWF dengan pengusaha/industri perikanan untuk mendukung pengadaan circle hook. Faktor ancaman yaitu tidak adanya suplai untuk produksi circle hook dan minimnya kesadaran produser pancing bahwa pancing ramah lingkungan akan semakin banyak dibutuhkan. Berikut tabel analisis identifikasi faktor eksternal.

Tabel 10 Analisis faktor eksternal

Keterangan Bobot Skala Skor

Peluang (O)

Adanya dukungan dari organisasi pelestarian global (WWF) Indonesia

0,2695 3,6667 0,9881 Adanya rencana WWF membentuk

kemitraan dengan pengusaha/industri perikanan untuk mendukung pengadaan circle hook

0,2457 3,3333 0,8189

Total 1,8070

Ancaman (T)

Tidak ada suplai untuk produksi circle hook

0,2154 3,0000 -0,6461 produser pancing tidak sadar bahwa

pancing ramah lingkungan akan semakin banyak dibutuhkan

0,2695 3,6667 -0,9881

17

Berdasarkan analisis faktor internal dan faktor eksternal, selanjutnya adalah menentukan strategi yang akan digunakan. Strategi tersebut merupakan kombinasi dari komponen masing-masing faktor internal dan eksternal yang kemudian akan disusun ke dalam model matriks SWOT, yaitu SO (strength-opportunities), ST (strength-threats), WO (weakness-opportunities), dan WT (weakness-threats). Tabel 11 Model matriks analisis SWOT

IFAS EFAS Kekuatan (Strength) S1. Adanya Peraturan Menteri Nomor 12/MEN/2012 Pasal 39 sebagai landasan hukum terkait HTS S2. Pemerintah memiliki RPP Tuna sebagai pedoman pengelolaan tuna Kelemahan (Weakness) W1. Pemerintah belum mewajibkan penggunaan circle hook W2. Pengusaha perikanan merasa tidak perlu mengganti mata pancing dengan circle hook

Peluang (Opportunity)

O1. Adanya dukungan dari organisasi pelestarian global (WWF) Indonesia O2. Adanya rencana

WWF membentuk kemitraan dengan pengusaha/industri perikanan untuk mendukung pengadaan circle hook SO SO1. Mengoptimalkan hubungan kerjasama pemerintah dengan WWF dalam mendukung pelestarian sumberdaya perikanan yang bertanggung jawab(S1, S2, O1) SO2. Memanfaatkan peluang

kemitraan antara pemerintah, WWF dan pihak swasta untuk pengadaan circle hook (S2, O1, O2)

WO

WO1. Pemerintah dan pengusaha perikanan meminta WWF untuk mengajukan aturan wajib penggunaan circle hook (W1, W2, O1) WO2. WWF melakukan kampanye lebih intensif terkait circle hook (W2, O1)

Ancaman (Threat)

T1. Tidak ada suplai untuk produksi circle hook

T2. Produser pancing tidak sadar bahwa pancing yang ramah lingkungan akan semakin banyak dibutuhkan ST ST1. Pengesahan dan merealisasikan Rencana Pengelolaan Tuna Indonesia (RPP Tuna) (S1, S2, T1) ST2. Pemerintah mengundang perusahaan perikanan untuk berpartisipasi dalam pengadaan circle hook (S1, S2, T1)

WT

WT1. Pemberian Insentif kepada pengusaha perikanan dan suplaier circle hook (W2, T1) WT2. Memperkenalkan

manfaat dan cara penggunaan circle hook secara bertahap oleh WWF Indonesia (W1, T2)

18

Berdasarkan Tabel 9 dan Tabel 10 nilai-nilai yang telah diolah dibuat untuk dijadikan grafik hasil Analisis SWOT. Berikut grafik analisis SWOT dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5 Hasil penilaian strategi penerapan circle hook

Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa strategi penerapan kebijakan circle hook berada pada kuadran 1. Rekomendasi strategi yang dapat digunakan adalah strategi SO (Strengths-Opportunity), yaitu:

1. Mengoptimalkan hubungan kerja sama antara pemerintah dengan WWF Indonesia dalam mendukung pelestarian sumberdaya perikanan yang bertanggung jawab.

2. Memanfaatkan peluang kemitraan antara Pemerintah, WWF Indonesia, dan pihak swasta untuk pengadaan circle hook.

Pembahasan

Tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii) atau southern bluefin tuna/SBT adalah jenis ikan tuna besar yang mampu berenang dengan cepat dan beruaya sangat jauh (highly migratory). Penangkapan ikan SBT secara besar-besaran menyebabkan populasinya menurun. Apabila penangkapan tidak dikendalikan, SBT akan mengalami kepunahan sehingga kelestariannya terancam. Penyebaran ikan SBT meliputi wilayah yang luas di perairan Selatan Samudera Hindia antara 30o dan 50o LS dengan perkiraan tempat pemijahan yang terletak antara Selatan Jawa dan Australia Barat Laut.

Dalam mengatur perikanan secara umum dibagi menjadi dua cara, yaitu dengan input control dan output control. Berdasarkan hasil penelitian di atas, pengelolaan SBT, CCSBT menjamin konservasi dan pemanfaatan SBT secara optimum. CCSBT mengadopsi proses pengelolaan perikanan tuna berbasis output control, yaitu dengan menerapkan sistem kuota penangkapan kepada setiap negara anggota sesuai dengan Management Procedure (MP). Pengelolaan input control

-2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2 -2 -1 0 1 2 3

S

W

O

T

19

secara umum digunakan oleh Indonesia. Indonesia mengatur penangkapan dengan pembatasan jumlah operasional alat penangkapan ikan, mengatur banyaknya jumlah mata pancing yang digunakan, serta menetukan ukuran mata jaring yang sesuai dengan target spesies yang ditangkap. Hal ini telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dalam Peraturan Menteri Nomor 12/MEN/2012 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di WPP RI.

Pengelolaan SBT berbasis output control yang digunakan oleh CCSBT hanya mengatur dari segi kuota penangkapan dan pengaturan jumlah kapal yang terdaftar dalam CCSBT. CCSBT tidak menetapkan aturan penggunaan alat tangkap dalam konvensi maupun CMM. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ruaya SBT yang melakukan highly migratory, dan setiap fase perkembangannya, SBT melakukan pergerakan dari suatu perairan dan perairan lain yang tersebar di perairan selatan Samudera Hindia dan di Samudera Hindia Timur Laut Selatan Jawa. Ruaya SBT yang bergerak ke beberapa perairan berdasarkan fase hidupnya menyebabkan penyebarannya tidak merata. Di perairan Indonesia sendiri adalah satu-satunya tempat pemijahan (spawning ground) SBT sebagai pusat persedian SBT, yaitu pada perairan tropis antara Kepulauan Indonesia dan Australia bagian Barat Laut yang merupakan tempat lahir semua SBT (Mahrus 2012). Oleh karena itu, komisi CCSBT secara tegas menerapkan sistem kuota kepada setiap negara anggota dengan jumlah berbeda, tergantung dengan penyebaran SBT di masing-masing perairan negara anggota, serta menetapkan pendaftaran kapal yang menangkap SBT. Kapal yang terdaftar juga digunakan untuk memantau kegiatan perikanan di atas kapal dan untuk mengetahui berapa banyak jumlah setting alat tangkap yang digunakan. Berdasarkan hal tersebut secara tidak langsung jumlah alat penangkapan diatur oleh CCSBT dengan penetapan jumlah kapal perikanan negara anggota yang terdaftar dalam CCSBT. Sedangkan untuk jenis alat tangkap

Dokumen terkait