HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP TINDAKAN IBU HAMIL TENTANG DETEKSI DINI TANDA-TANDA BAHAYA
KEHAMILAN DI PUSKESMAS MEDAN DELI TAHUN 2015
SKRIPSI
Oleh :
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2015
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP TINDAKAN IBU HAMIL TENTANG DETEKSI DINI TANDA-TANDA BAHAYA
KEHAMILAN DI PUSKESMAS MEDAN DELI TAHUN 2015
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH :
SARAH ARDILLAH 121021096
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator status kesehatan masyarakat.Pada negara-negara berkembang, kesakitan dan kematian ibu menjadi masalah sejak lama. Kematian ibu terutama terjadi pada masa kehamilan dan persalinan. Berdasarkan latar belakang masalah dan hasil studi pendahuluan di Puskesmas Medan Deli diperoleh data cakupan K1 bulan Agustus 2014 sebesar 62,5%, sedangkan cakupan K4 hanya 60,3%. Pencapaian target Standart Pelayanan Minimal (SPM) bidangkesehatan bahwa cakupan K1 dan K4 pada ibu hamil adalah 95% pada tahun 2015 namun target tersebut belum dapat tercapai. Halini dikarenakanmasih rendahnya minat ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada petugas kesehatan dalam rangka deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu hamil tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Untuk melihat hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan tindakan deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli tahun 2015. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang berisiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinannya.
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa variabel
independent(pengetahuan dan sikap) signifikan (berhubungan) dengan tindakan deteksi tanda-tanda bahaya kehamilan (p=0,001). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan tindakan tanda-tanda bahaya kehamilan. Saran yaitu agar ibu hamil agar memeriksakan kehamilan secara teratur ke pelayanan kesehatan untuk mendeksi faktor risiko yang berpengaruh kepada kesehatan ibu dan bayi.
ABSTRACT
Maternal Mortality Rate (MMR) is one indicator of the health status of the community. In the developing nations, maternal morbidity and mortality to be a problem for a long time. Maternal deaths mainly occur during pregnancy and childbirth. Based on the background of the problem and the results of preliminary studies in the public health centers of Medan Deli K1 coverage data obtained in August 2014 at 62.5%, whereas only 60.3% K4 coverage. The achievement of Minimum Service Standards (MSS) that the health field K1 and K4 coverage in pregnant women was 95% in 2015 but this targets are yet to be achieved. This is due to very low interest of pregnant women to carry out medical examinations to health workers in the context of early detectionof pregnancy danger signs.
This research aims to understand the relationship between knowledge and attitudes towards the actions of pregnant women about early detection of danger signs of pregnancy in the PublicHealth Centers of Medan Deli 2015.Type of research was descriptive analytical with cross-sectional design. To see the correlation between knowledge and attitudes of pregnant women with early detection measures the danger signs of pregnancy in the Public Health Centers ofMedan Deli 2015. The sample in this researchwas had the third trimester pregnant women at high risk of pregnancy and childbirth.
The results of chi-square test showed that the independent variables (knowledge and attitude) significantly (associated) with detection measures the danger signs of pregnancy (p = 0.001).Based on the results of research and discussion was conclude that there is a relationship between knowledge and attitudes of pregnant women with actions danger signs of pregnancy.Suggestions are that pregnant women to antenatal health care on a regular basis to allow the detection of risk factors that affect the health of the mother and baby.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Sarah Ardillah
Tempat/TanggalLahir : Pekanbaru, 23 November 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Kawin
AlamatRumah : Jl. Batam No.3
Kelurahan Simpang Empat
Kecamatan Pekanbaru Kota
Provinsi Riau
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. 1996-2002 : SD Negeri 001 Cinta Raja Pekanbaru
2. 2002-2005 : SMP Negeri 14 Pekanbaru
3. 2005-2008 : SMA Tri Bhakti Pekanbaru
4. 2008-2011 : Akademi Kebidanan STIKes Payung Negeri
Pekanbaru
5. 2012-2015 : Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Medan
RIWAYAT PEKERJAAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kehadilat ALLAH SWT yang telah limpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Ibu Hamil Tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Medan Deli Tahun 2015”
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bimbingan dan bantuan yang diberikan dalam penulisan skripsi, kepada :
1. Bapak Dr.Drs Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Heru Sentosa, M.S, Ph.D selaku Kepala Departemen
Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Sri Rahayu Sanusi SKM, M.Kes, Ph.D selaku Dosen Pembimbing I skripsi yang telah meluangkan waktu dan kebijaksanaan memberikan bimbingan, kritik dan saran kepada penulis.
4. Ibu Maya Fitria SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II skripsi yang memberikan pengarahan dan bimbingannya kepada penulis dengan penuh kesabaran.
5. Ibu Ir.Kalsum M.Kes selaku Pembimbing Akademik yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi penulis selama melaksanakan perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh Dosen dan Staff Administrasi di Dapartemen Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara . 7. Ibu Kepala Puskesmas Ibu dr.Nurlelin Sinaga dan Staff Ruang KIA Ibu
8. Hiswandi dan Dra.Ridar Parninggotan Nainggolan selaku orang tua penulis yang tidak hanya berkorban dalam materi tapi banyak mendukung dalam segi moril ketika penulis merasa keadaan labil.
9. Razak Karangan SH selaku adinda yang selalu memberikan dorongan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
10.Keluarga Besar Drs.Salem Nainggolan dan Keluarga Besar Dt.Ampang Limo Husni yang selalu setia memberi doa kepada penulis dalam proses skripsi ini.
11.Teman-teman peminatan Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Angkatan 2012 selalu memberi semangat kepada penulis.
12.Kesayangan penulis Elfira Siregar AM.Keb SKM, Dian Erviana AM.Keb SKM, Regina Putri AM.Keb SKM, Winda Rahmadani AM.Keb SKM, Ika Maulina AM.Keb SKM dan khususnya temen seperjuangan di kontrakan Bumi Johor Sentosa yaitu Rohani AM.Keb SKM, Cinta Yolanda Sari AM.Keb SKM dan Siti Sri Magayanti AM.Keb SKM yang selalu mendampingi dalam mengejar cita-cita menjadi Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat terbatasnya kemampuan dan kurangnya pegalaman yang penulis miliki. Untuk itu dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi penelitian ini dapat bermanfaat khususnya bagi seluruh mahasiswa FKM USU dan umumnya bagi pembaca sekalian. Wassalam.
Medan , Maret 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1Definisi Kehamilan ... 8
2.1.1 Pembagian Kehamilan ... 8
2.1.2 Tanda Gejala Kehamilan ... 9
2.2 Deteksi Dini Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan ... 11
2.3Tanda-tandaBahayaKehamilan ... 14
2.4PencegahanBahayaKehamilan ... 20
2.5Tempat Pertolongan ... 21
2.6 Pengetahuan ... 21
2.6.1 Pengertian Pengetahuan ... 21
2.6.2 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 23
2.6.3 Cara Pengukuran Pengetahuan ... 25
2.7 Sikap ... 25
2.7.1 Pengertian Sikap ... 25
2.7.2 Tingkatan Sikap... 26
2.7.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap ... 27
2.7.4 Cara Pengukuran Sikap ... 28
2.8 Tindakan ... 29
2.8.1 Pengertian Tindakan ... 29
2.8.2 Tingkat- tingkat Praktik atau Tindakan ... 29
2.8.3 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Tindakan ... 30
2.8.4 Pengukuran Perilaku atau Tindakan ... 31
2.9 Kerangka Konsep ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 33
3.2 Lokasi dan Waktu ... 33
3.2.1 Lokasi ... 33
3.2.2 Waktu ... 33
3.3 Populasi dan Sampel ... 33
3.3.1 Populasi ... 33
3.3.2 Sampel ... 34
3.4Definisi Operasional Variabel ... 35
3.5 Aspek Pengukuran ... 36
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 37
3.6.1 Data Primer ... 38
3.6.2 Data Sekunder ... 38
3.7 Instrumen Penelitian ... 38
3.8 Teknik Pengolahan Data dan Analisi Data ... 39
3.8.1 Teknik pengolahan data ... 39
3.8.2 Analisis data ... ... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 42
4.1 Gambaran Umum Puskesmas Medan Deli ... 42
4.1.1 Demografi ... 42
4.1.2 Wilayah Kerja ... 42
4.1.3 Batas-batas wilayah kerja Puskesmas Medan Deli ... 42
4.2 Analisis Univariat ... 44
4.2.1 Gambaran Karakteristik Responden ... 44
4.2.2 Gambaran Pengetahuan Responden ... 46
4.2.3 Gambaran Sikap Responden ... 49
4.2.4 Gambaran Tindakan Responden ... 53
4.3 Analisis Bivariat ... 56
4.3.1 Hubungan Karakteristik Responden dengan Pengetahuan tentang Deteksi Dini Tanda-Tanda BahayaKehamilan ... 56
4.3.2 Hubungan Karakteristik Responden dengan Sikap tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan ... 61
4.3.3 Hubungan Karakteristik Responden Dengan Tindakan tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan ... 65
BAB V PEMBAHASAN ... 72
5.1 Hubungan Karakteristik Responden dengan Pengetahuan tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya Kehamilan ... 72
5.2 Hubungan Karakteristik Responden dengan Sikap tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan ... 77
5.3 Hubungan Karakteristik Responden dengan Tindakan tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan ... 81
5.5 Hubungan Sikap Responden dengan Tindakan tentang
Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan ... 87
5.6 Tindakan Responden Terhadap Tanda-tanda Bahaya Kehamilan... 90
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan... 92
6.2 Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 94
LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1 Kuisioner ... 97
Lampiran 2 Surat Izin Penelitian... 102
Lampiran 3 Surat Balasan Pelaksanaan Penelitian ... 103
Lampiran 4 Master Data... 104
Lampiran 5 Uji Validitas dan Reliabelitas ... 105
Lampiran 6 Hasil Analisis Univariat dan Bivariat ... 111
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Gambaran Karakteristik Responden di Wilayah Kerja
Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 45 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan
di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 47
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Deteksi Dini Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan di
Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015...48
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Sikap di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 49
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 50
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Tindakan
di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 53
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Tindakan Responden tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan di
Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 54
Tabel 4.8 Hubungan Karakteristik Responden dengan Pengetahuan Responden tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas
Medan Deli Tahun 2015 ... 57
Tabel 4.9 Hubungan Karakteristik Responden dengan Sikap tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya
Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas
Tabel 4.10 Hubungan Karakteristik Responden dengan Tindakan tentang Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 66
Tabel 4.11 Hubungan Pengetahuan Responden dengan Tindakan Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015 ... 69
Tabel 4.12 Hubungan Sikap Responden dengan Tindakan Deteksi Dini Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
DAFTAR GAMBAR
Halaman
ABSTRAK
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator status kesehatan masyarakat.Pada negara-negara berkembang, kesakitan dan kematian ibu menjadi masalah sejak lama. Kematian ibu terutama terjadi pada masa kehamilan dan persalinan. Berdasarkan latar belakang masalah dan hasil studi pendahuluan di Puskesmas Medan Deli diperoleh data cakupan K1 bulan Agustus 2014 sebesar 62,5%, sedangkan cakupan K4 hanya 60,3%. Pencapaian target Standart Pelayanan Minimal (SPM) bidangkesehatan bahwa cakupan K1 dan K4 pada ibu hamil adalah 95% pada tahun 2015 namun target tersebut belum dapat tercapai. Halini dikarenakanmasih rendahnya minat ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada petugas kesehatan dalam rangka deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu hamil tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2015. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Untuk melihat hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan tindakan deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli tahun 2015. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang berisiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinannya.
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa variabel
independent(pengetahuan dan sikap) signifikan (berhubungan) dengan tindakan deteksi tanda-tanda bahaya kehamilan (p=0,001). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan tindakan tanda-tanda bahaya kehamilan. Saran yaitu agar ibu hamil agar memeriksakan kehamilan secara teratur ke pelayanan kesehatan untuk mendeksi faktor risiko yang berpengaruh kepada kesehatan ibu dan bayi.
ABSTRACT
Maternal Mortality Rate (MMR) is one indicator of the health status of the community. In the developing nations, maternal morbidity and mortality to be a problem for a long time. Maternal deaths mainly occur during pregnancy and childbirth. Based on the background of the problem and the results of preliminary studies in the public health centers of Medan Deli K1 coverage data obtained in August 2014 at 62.5%, whereas only 60.3% K4 coverage. The achievement of Minimum Service Standards (MSS) that the health field K1 and K4 coverage in pregnant women was 95% in 2015 but this targets are yet to be achieved. This is due to very low interest of pregnant women to carry out medical examinations to health workers in the context of early detectionof pregnancy danger signs.
This research aims to understand the relationship between knowledge and attitudes towards the actions of pregnant women about early detection of danger signs of pregnancy in the PublicHealth Centers of Medan Deli 2015.Type of research was descriptive analytical with cross-sectional design. To see the correlation between knowledge and attitudes of pregnant women with early detection measures the danger signs of pregnancy in the Public Health Centers ofMedan Deli 2015. The sample in this researchwas had the third trimester pregnant women at high risk of pregnancy and childbirth.
The results of chi-square test showed that the independent variables (knowledge and attitude) significantly (associated) with detection measures the danger signs of pregnancy (p = 0.001).Based on the results of research and discussion was conclude that there is a relationship between knowledge and attitudes of pregnant women with actions danger signs of pregnancy.Suggestions are that pregnant women to antenatal health care on a regular basis to allow the detection of risk factors that affect the health of the mother and baby.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses yang normal dan alamiah pada seorang wanita
dimana dalam masa kehamilan terjadi perubahan fisik, psikologis dan sosial.
Setiap kehamilan membawa risiko bagi ibu. World Health Organization (WHO) mempekirakan sekitar 15 % dari seluruh wanita hamil akan berkembang menjadi
komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta mengancam jiwanya (Hani,
2010). Prinsip deteksi dini terhadap faktor risiko kehamilan sangat diperlukan
karena semua wanita selama kurun reproduksi terutama saat hamil selalu
diwaspadai mengalami risiko, meskipun diketahui bahwa kehamilan adalah
sifatnya fisiologi artinya semua wanita yang sehat dan telah menikah akan
mengalami proses kehamilan (Rukiyah, 2011).
Ibu hamil perlu mewaspadai keadaan yang dapat membahayakan diri dan
janinnya. Keadaan-keadaan tersebut mungkin berpengaruh terhadap timbulnya
kesulitan pada kehamilan atau persalinan.Keadaan-keadaan yang dapat
membahayakan ibu serta janinnya yaitu Ibu dengan 4T adalah Terlalu tua umur
diatas >35 tahun, Terlalu muda umur dibawah 20 tahun, Terlalu banyak jumlah
anak lebih dari 4 orang dan Terlalu sering jarak persalinan terakhir dengan awal
kehamilan sekarang kurang dari dua tahun (Kumalasari, 2012).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator status kesehatan
masyarakat (Kemenkes,2010). Pada negara-negara berkembang, kesakitan dan
kematian ibu menjadi masalah sejak lama. Kematian Ibu terutama terjadi pada
masa kehamilan dan persalinan. WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 210
juta kehamilan diseluruh dunia (Wahyuningsih, 2009).
Menurut data WHO tahun 2013, AKI di Indonesia yang tertinggi di Negara
ASEAN yakni 190 per 100.000 Kelahiran Hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di
Negara Malaysia 29 per Kelahiran Hidup, Singapura 6 per 100.000 Kelahiran
Hidup, Thailand 26 per Kelahiran Hidup dan Vietnam 49 per Kelahiran Hidup
(WHO,2013). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 AKI
di Indonesia pada tahun 2012 sebanyak 359 per 100.000 Kelahiran Hidup. Jumlah
AKI di Indonesia bervariasi yaitu di Provinsi Riau pada tahun 2012 sebanyak 112
per Kelahiran Hidup (Dinkes Provinsi Riau, 2012), AKI di Daerah Istimewa
Yogyakarta tahun 2012 sebanyak 87 per 100.000 Kelahiran Hidup (Dinkes
Provinsi Yogyakarta, 2013), AKI di Jawa Tengah tahun 2012 sebanyak 116 per
100.000 Kelahiran Hidup (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2013) dan AKI di
Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2012 sebanyak 276 per 100.000 Kelahiran
Hidup (Dinkes Provinsi Sumatera Utara, 2013).
Menurut Profil Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2014 yang terdapat 39
Puskesmas jumlah ibu hamil sebanyak 53.734 jiwa dan terdapat jumlah ibu hamil
yang paling banyak yaitu di Puskesmas Medan Deli sebanyak 3099 orang dimana
terdapat jumlah ibu hamil yang risiko tinggi sebanyak 619 orang. AKI di Kota
Umur Ibu yang meninggal 20-34 tahun dengan penyebab kematian yaitu
perdarahan, preklamsia dan lainnya. Berdasarkan laporan rutin PWS tahun 2007
penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), eklamsia (20%),
infeksi (7%) dan lain-lainnya (33%).
Target Millenium Development Goals (MDG’s) ditahun 2015 untuk Angka Kematian Ibu nasional adalah 102 per 100.000 Kelahiran Hidup (Dinkes Provinsi
Yogyakarta, 2013). Pada tahun 1990 WHO sudah meluncurkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS), salah satu program MPS adalah menempatkan safe motherhood sebagai prioritas utama dalam rencana pembangunan nasional maupun internasional. Salah satu upaya yang diselenggarakan untuk menurunkan
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah melalui 4 pilar upaya safe motherhooddengan intervensi yang dilakukan salah satunya adalah mengurangi kemungkinan seorang
perempuan hamil mengalami obstetri dalam kehamilan dan memastikan bahwa
komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai melalui
pelayanan antenatal (Wahyuningsih, 2009).
Tujuan Antenatal Care adalah menurunkan atau mencegah kesakitan dan
kematian maternal dan perinatal. Tujuan khususnya mengenali secara dini
penyimpangan dari normal dan memberikan penatalaksanaan yang diperlukan.
Seperti mendeteksi dan menangani komplikasi (preklamsia, perdarahan
Berdasarkan hasil penelitian Astuti (2011) mengenai Hubungan karakteristik
ibu hamil dengan tingkat pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya kehamilan di
Puskesmas Sidiharjo Kabupaten Sragen disimpulkan bahwa terdapat hubungan
antara karakteristik ibu hamil dengan tingkat pengetahuan tentang tanda-tanda
bahaya pada kehamilan. Hasil penelitian Kamidah (2013) menunjukkan bahwa
(53,3%) responden memiliki pengetahuan yang tinggi, dan (63,3%) responden
dikatagorikan patuh dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. Ada hubungan
yang bermakna ( p > 0,05) antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan
pemeriksaan kehamilan.
Penelitian lainnya yaitu dari hasil penelitian Hasugian (2012) menunjukkan
bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap kehamilan
risiko tinggi (p = 0,017) dan hubungan bermakna antara pengetahuan dan prilaku
ibu hamil terhadap kehamilan risiko tinggi (p=0,043). Menurut Syeh (2008) yang
dikutip oleh Astuti (2011) menyatakan bahwa pengetahuan tentang tanda bahaya
pada kehamilan sangat membantu menurunkan AKI, karena dengan mengetahui
tanda bahaya kehamilan seorang ibu hamil akan lebih cepat mencari tempat
pelayanan kesehatan sehingga risiko pada kehamilan akan dapat terdeteksi dan
tertangani lebih dini. Faktor pendidikan merupakan predisposisi dalam perilaku
Sikap ibu yang positif tentang tanda bahaya akan membentuk perilaku yang
positif mencegah terjadinya bahaya dalam kehamilan dan persalinan. Sikap ibu
hamil juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, misalnya pengaruh budaya,
lingkungan, orang terdekat dan juga faktor internal pengetahuan dan sikap ibu
hamil (Wahyuningsih, 2009).
Studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis pada tanggal 25-27 Agustus
di Puskesmas Medan Deli dengan data cakupan K1 (Kunjungan Pertama) pada
bulan Agustus sebasar 62,5%, sedangkan cakupan K4 (Kunjungan Keempat)
hanya 60,3%. Pencapain target Standart Pelayanan Minimal (SPM) bidang
kesehatan bahwa cakupan K1 dan K4 pada ibu hamil adalah 95% pada tahun 2015
namun target SPM tersebut belum tercapai. Hal ini dikarenakan masih rendahnya
minat ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada petugas
kesehatan dalam rangka deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan. Berdasarkan
uraian diatas penulis tertarik untuk mengangkat masalah “Apakah ada hubungan
pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu hamil tentang deteksi dini
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah ditemukan kasus Angka Kematian Ibu
yaitu 9 orang AKI dikota Medan pada tahun 2014 serta kurangnya cakupan K1
(Kunjungan Pertama) dan K4 (Kunjungan Keempat) dikarenakan saat ini masih
kurang kesadaran pada ibu hamil dalam memeriksakan diri khususnya mendeteksi
dini tanda-tanda bahaya kehamilan maka penulis tertarik meneliti masalah sebagai
berikut “Apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu
hamil tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilah di Puskesmas Medan
Deli Tahun 2015” .
1.3Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu
hamil tentang deteksi dini tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Medan Deli
Tahun 2015.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang deteksi dinitanda
bahaya kehamilan di Puskesmas Medan Deli Tahun 2015.
2. Untuk mengetahui sikap ibu hamil tentang deteksi tanda bahaya kehamilan di
Puskesmas Medan Deli Tahun 2015.
3. Untuk mengetahui tindakan ibu hamil tentang deteksi dini tanda bahaya
kehamilan di Puskesmas Medan Deli Tahun 2015.
4. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu
hamil tentang deteksi dini tanda – tanda bahaya kehamilan di Puskesmas
1.4Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat kepada berbagai pihak yaitu :
1. Dapat sebagai informasi dan masukan yang bermanfaat bagi Puskesmas Medan
Deli dalam perencanaan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui
pelayanan kesehatan pada ibu hamil.
2. Data dan informasi dari hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh Ibu hamil
untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu
hamil tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan.
3. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dan pertimbangan untuk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Definisi Kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional dalam Prawiroharjo
(2008) mendefinisikan kehamilan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum lalu dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Apabila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender
internasional.
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan terdiri dari
ovulasi (pelepasan ovum), terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi
dan pertumbuhan zigot, terjadi nidasi( implantasi uterus), pembentukkan plasenta
tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm. Kehamilan adalah suatu peristiwa yang dimulai dari konsepsi sampai adanya tanda-tanda persalinan(Bandiyah, 2009).
2.1.1 Pembagian Kehamilan
Menurut Prawirohardjo (2008), kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan,
yaitu sebagai berikut :
1) Triwulan Pertama : 0 hingga 12 minggu
2) Triwulan Kedua : 13 minggu 28 minggu
3) Triwulan Ketiga : 29 minggu 40 minggu
Penegakkan diagnosis kehamilan terhadap beberapa tanda dan gejala
kehamilan. Perubahan fisiologi yang terjadi pada wanita hamil menyebabkan
timbulnya perubahan-perubahan yang tanda tidak pasti (presumptive sign), tanda kemungkinan (probability sign) dan tanda positif (positife sign) (Hani, 2010).
2.1.2 Tanda dan Gejala Kehamilan
Penegakkan kehamilan ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap
tanda, beberapa gejala kehamilan :
1) Tanda – tanda yang tidak pasti ( presumtive signs) atau tanda mungkin kehamilan
Menurut Manuaba (2009),tanda tidak pasti atau tanda kemungkinan hamil
adalah pembesaran rahim, perubahan serviks, terasa gerakan janin, gejala
subjektif (amenorhe atau tidak haid, mual-muntah, merasakan gerakan janin dalam rahim, sering kecing, serta perubahan mammae menuju perubahan
hamil)
2) Tanda Kemungkinan (Probability Sign)
Pada pemeriksaan kehamilan dapat diduga hamil bila dijumpai
pembesaran rahim dan perut, pemeriksaan memberikan petunjuk adanya
kehamilan ( terdapat kontraksi rahim saat diraba, ada tanda hegar, chadwick,
Adapun pengertian beberapa macam tanda kemungkinan kehamilan adalah
dari Tanda Hegar yaitu segmen bawah rahim melunak, Tanda chadwick yaitu perubahan warna pada vagina dan vulva menjadi lebih merah dan agak kebiruan, Tanda Piscaseek yaitu uterus membesar kesalah satu jurusan hingga menonjol ke jurusan pembesaran tersebut (Rukiyah, 2009).
3)Tanda Pasti Kehamilan
Tanda pasti kehamilan dapat dijumpai dengan jalan :
a) Gerakan janin dalam rahim
Teraba gerakan janin dengan jelas oleh pemeriksa apabila diraba pada usia
kehamilan sekitar 20 minggu (Hani, 2010). Biasanya menjadi jelas setelah
minggu ke 22. Gerakan janin dapat dirasakan dengan jelas setelah minggu
ke-24 (Kusmiyati, 2009).
b) Denyut Jantung Janin
Dapat didengar dengan stetoskop laenec pada minggu 17-18 pada orang gemuk, lebih lambat. Stetoskope ultranic(Doppler) digunakan untuk mendengar DJJ lebih awal sekitar minggu ke 12 dengan melakukan
auskultasi pada janin bisa juga mengidentifikasi bunyi-bunyi yang lain,
seperti : bising tali pusat, bising uterus dan nadi ibu (Pantikawati, 2010).
c) Bagian-bagian Janin
Pada ibu yang diyakini sedang dalam kondisi hamil maka dalam
pemeriksaan melalui USG (Ultrasonografi) terlihat adanya gambaran
janin. USG memungkinkan untuk mendeteksi jantung kehamilan pada
kepala dan bokong janin dan merupakan metode yang akurat dalam
menentukan usia kehamilan (Rukiyah, 2009).
2.2Deteksi Dini Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan
Deteksi dini adalah suatu mekanisme berupa pemberian informasi secara tepat
waktu dan efektif, melalui institusi yang dipilih, agar masyarakat/individu di
daerah rawan mampu mengambil tindakan menghindari atau mengurangi risiko
dan mampu bersiap-siap untuk merespon secara efektif. Deteksi dini dapat juga
dikatakan sebagai upaya memberitahukan kepada seorang klien yang berpotensi
dilanda suatu masalah untuk menyiagakan mereka dalam menghadapi kondisi dan
situasi suatu masalah (Rukiyah, 2011).
Salah satu deteksi dini dalam mengetahui tanda-tanda bahaya kehamilan
adalah dengan melakukan pemeriksaan kehamilan atau yang dikenal dengan
Antenatal Care (ANC). Asuhan antenatal atau antenatal care (ANC) adalah suatu
program yang terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medik pada
ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman
dan memuaskan( Prawirohardjo, 2008).
Deteksi dini terhadap tanda bahaya kehamilan dilakukan minimal 4 kali
selama ibu hamil atau dilakukan pada tiap trimester yaitu: pada kunjungan
pertama atau pada trimester I tanda bahaya yang harus diwaspadai adalah: adanya
Pada kunjungan ulang atau pada trimester kedua, yang harus diwaspadai
tentang kejadian/tanda bahaya yaitu perdarahan, preeklampsia, dan eklampsia,
gangguan pertumbuhan janin. Pada kunjungan ulang di trimester ketiga, tanda
bahayanya adalah adanya kehamilan ganda, ibu mengalami perdarahan (plasenta previa atau solusio plasenta) (Rukiyah, 2011).
Tujuan ANC (antenatal care) menurut Kusmiyati (2009) yaitu :
1. Mempromosikan, menjaga fisik dan mental ibu bayi dengan pendidikan,
nutrisi, kebersihan diri, dan proses kelahiran bayi.
2. Mendeteksi dan melaksanakan komplikasi medis, bedah atau obstetric selama
kehamilan.
3. Mengembangkan persiapan persalinan serta kesiapan menghadapi
komplikasi.
4. Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan sukses, menjalankan
nifas normal, merawat anak secara fisik, psikologis dan sosial.
Menurut Depkes RI (2009), pelayanan antenatal sesuai standar meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaaan laboratorium
rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan
dalam pemeriksaan), adapun penerapan dalam asuhan antenatal yaitu sebagai
berikut:
1. Timbang Berat Badan dan Tinggi Badan
2. Ukur Tekanan Darah
3. Nilai Status gizi (ukur lingkar lengan atas)
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
6. Skrining status imunissasi tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toxoid (TT)
bila diperlukan
7. Pemberian Tablet Zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
8. Tes Laboratorium (rutin dan khusus)
9. Tatalaksana kasus
10. Temu wicara (konseling),termasuk Perencanaan Persalinan danPencegahan
Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.
Kusmiyati (2009) menyatakan bahwa dengan memberikan asuhan antenatal
yang baik akan menjadi salah satu tiang penyangga dalam safe motherhood dalam usaha menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal. Peningkatkan
efektifitas asuhan antenatal meliputi hal-hal berikut :
1. Asuhan diberikan oleh petugas yang terampil dan berkesinambungan.
2. Persiapan menghadapi persalinan yang baik dengan cara memperkirakan
komplikasi.
3. Mempromosikan kesehatan dan pencegahan penyakit (tetanus toxoid,
suplemen gizi, pencegahan konsumsi alkohol dan rokok dan lain-lain).
4. Mendeteksi dini komplikasi serta perawatan penyakit yang diderita ibu hamil
(preeklamsia, eklamsia, HIV/AIDS, tuberkolosis, hepatitis, hipertensi,
Standar waktu pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan
yaitu minimal 1kali pada triwulan pertama, 1kali pada triwulan kedua, dan
minimal 2 kali pada triwulan ketiga untuk menjamin perlindungan kepada ibu
hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi
(Kemenkes, 2010).
2.3Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan
Menurut Depkes 2001 tanda-tanda bahaya dalam kehamilan adalah tanda atau
gejala yang menunjukkan ibu atau bayi yang dikandungnya dalam keadaan
bahaya. Menurut Hani (2010) ada beberapa macam tanda-tanda bahaya kehamilan
adalah sebagai berikut :
1) Perdarahan dari vagina
Menurut Depkes RI (2000) dalam Deliana (2008), pendarahan yang
berhubungan dengan persalinan dibedakan dalam dua kelompok utama yaitu
perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum adalah
perdarahan pervaginam yang terjadi sebelum bayi lahir. Perdarahan yang terjadi
sebelum kehamilan 28 minggu seringkali berhubungan dengan aborsi atau
keguguran. Perdarahan kehamilan setelah 28 minggu dapat disebabkan karena
terlepasnya plasenta secara prematur, trauma, atau penyakit saluran kelamin
bagian bawah. Perdarahan vagina dalam kehamilan adalah normal. Pada masa
awal kehamilan,ibu mungkin mengalami perdarahan yang sedikit atau spotting
disekitar waktu pertama haidnya terlambat. Perdarahan ini adalah perdarahan
kemungkinan pertanda dari friable cervix. Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin suatu tanda adanya suatu infeksi(Hani, 2010).
Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah merah,
perdarahan banyak, atau perdarahan dengan nyeri (berarti abortus atau keguguran, KET atau ectopic pregnancy, mola hidatidosa) ( Rukiyah, 2009). Diperkirakan satu dari tiga kehamilan mengalami keguguran, penyebab keguguran meliputi
kekurangan gizi, ketidakseimbangan hormon, infeksi dan auto-imun atau kelainan
kromosom janin (Zita, 2010). Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak
normal adalah merah, banyak atau sedikit, nyeri (berarti plasenta previa dan
solusio plasenta). Perdarahan melalui jalan lahir sebelum 3 bulan disebabkan keguguran yang mengancam janin. Nyeri perut bagian bawah yang hebat pada
kehamilan 1-2 bulan ini merupakan hal yang berbahaya. Perdarahan 7-9 bulan
meskipun hanya sedikit merupakan ancaman bagi ibu dan janin ( Rukiyah, 2009).
2) Sakit Kepala yang hebat menetap dan tidak hilang
Sepuluh persen dari wanita hamil menderita sakit kepala hebat yang
disebabkan pelebaran pembuluh darah dalam otak dan berhubungan dengan
perubahan hormon yang terjadi dalam kehamilan. Sakit kepala juga disebabkan
oleh kerja hormon, stres, atau tegang pada otot kepala dan leher akibat postur
yang salah selama kehamilan (Zita, 2010).
Sakit kepala selama kehamilan adalah umum dan sering kali ketidaknyamanan
yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan masalah yang
serius adalah sakit kepala yang hebat yang menetap dan tidak hilang dengan
penglihatannya kabur atau berbayangan. Sakit kepala yang seperti ini dalam
kehamilan merupakan gejala dari pre-eklamsia (Hani, 2010).
Pre-eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hypertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan sehingga dapat menyebabkan kematian
pada ibu dan janinnya. Penyakit ini umumnya terjadi pada triwulan ke-3
kehamilan yang dapat terjadi pada waktu antepartum, intrapartum, dan pasca
persalinan (Prawirohardjo, 2008).
Pre-eklamsia ringan harus segera ditangani agar tidak meningkat menjadi
pre-eklamsia berat yang ditandai dengan tekanan darah tinggi terus meningkat dan
kadar protein yang lebih tinggi lagi dalam urine. Gejala pre-eklamsia ringan
menunjukan peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih dan kadar urine
lebih tinggi dari 300 mg per 24 jam (Erikania, 2009). Hipertensi karena kehamilan
yaitu yang terjadi pada saat kehamilan dapat mempengaruhi kehamilan itu sendiri
biasanya terjadi pada usia kehamilan memasuki 20 minggu (Rukiyah, 2011).
3) Gangguan Visual secara tiba-tiba (Pandangan kabur, rabun senja)
Wanita hamil mengeluh penglihatan yang kabur karena pengaruh hormonal,
ketajaman penglihatan ibu dapat berubah dalam kehamilan. Perubahan ringan
adalah normal, masalah penglihatan yang mengindikasikan keadaan yang
mengancap jiwa ibu adalah perubahan visual mendadak, misalnya pandangan
kabur atau berbayang. Perubahan penglihatan ini mungkin disertai dengan sakit
4) Bengkak pada muka dan tangan
Menurut Hani (2010), hampir dari sebagian ibu hamil akan mengalami
pembengkakan yang normal. Bengkak bisa menunjukkan adanya masalah serius
jika muncul pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat dan ikuti
keluhan fisik lain, seperti sakit kepala, gangguan penglihatan. Hal ini bisa
merupakan pertanda anemia, gagal jantung, pre-eklamsia.
Kaki bengkak terjadi pada hamil trimester ketiga. Gangguan pada kaki
bengkak ada dua yaitu retensi (penahanan) air dan garam karena gestosis dan tertekannya pembuluh darah, karena bagian terendah bayi mulai masuk pintu
atas panggul (Bandiyah, 2009). Bengkak pada tangan dan wajah disertai tekanan
darah tinggi dan sakit kepala sangat berbahaya bila diabaikan bisa terjadi
kejang-kejang yang disebut keracunan kehamilan atau eklamsia. Keadaan ini
bisa menyebabkan kematian ibu hamil dan janin (Rukiyah, 2009).
5) Nyeri abdominal yang hebat
Nyeri abdominal menunjukkan masalah yang mengacam keselamatan jiwa
adalah yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa
6) Bayi kurang bergerak seperti biasanya
Menurut Kusmiyati (2009), ibu mulai merasakan gerakan bayinya selama
bulan ke-5 atau ke-6. Beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal.
Jika bayi tidur gerakkan akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali
dalam periode 3 jam. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika berbaring atau
beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik
7) Berat Badan Ibu Tidak Naik
Selama kehamilan berat badan ibu naik sekitar 9-12 kg, karena adanya
pertumbuhan janin dan bertambahnya jaringan tubuh ibu akibat kehamilan.
Kenaikan berat badan ibu biasanya terlihat nyata sejak kehamilan berumur 4 bulan
sampai menjelang persalinan. Apabila berat badan ibu tidak naik pasca akhir
bulan keempat dan pada akhir bulan keenam mengakibatkan pertumbuhan janin
akan terganggu. Penyebab Berat badan ibu naik atau ternganggu dikarenakan
berbagai faktor diantaranya kekurangan gizi (Kekurangan Energi Kronis atau
KEK) dan penyakit lain, seperti batuk menahun, malaria dan lain-lainnya yang
perlu segera di obati (Rukiyah, 2009).
8) Mual muntah berlebihan
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester satu. Mual biasanya terjadi pada pagi
hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang
lebih terjadi pada 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir berlangung selama
kurang lebih 10 minggu. Pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum
perubahan fisiologi menentukan berat ringannya penyakit (Wiknjosastro, 2005).
Adapun gejala-gejala hyperemisi gravidarum menurut Zita (2010) adalah muntah yang parah dan berlebihan disertai juga dengan dehidrasi.
Menurut Manuaba (2009), Hiperemesis gravidarum dapat dibagi menjadi tiga tingkat yaitu sebagai berikut :
a) Tingkat pertama : Muntah berlangsung terus, makan berkurang, berat badan
menurun, kulit dehidrasi , tekanan darah turun dan nadi meningkat, lidah
kering dan mata tampak cekung
b) Tingkatan kedua : Ibu tampak lebih lemah, gejala dehidrasi makin tampak,
mata cekung, lidah kering dan kotor, tekanan darah menurun dan nadi
meningkat, berat badan makin menurun, mata ikterus, terjadi gangguan buang
air besar, menjadi apatis, dan nafas berbau.
c) Tingkatan ketiga : Muntah berkurang, keadaan ibu hamil makin menurun
dengan tekanan darah turun dan nadi meningkat, suhu naik, keadaan dehidrasi
makin jelas, dan gangguan kesadaran sampai koma.
9) Keluarnya air ketuban sebelum waktunya
Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina. Air ketuban dinyatakan pecah dini
jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Pecahnya selaput ketuban
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban
pecah dini terjadi pada kehamilan aterm lebih dari 37 minggu, sedangkan kurang
dari 36 minggu tidak terlalu banyak (Manuaba, 2009).
Menurut Rukiyah (2011), apabila ketuban pecah dan cairan keluar sebelum
ibu mengalami tanda-tanda persalinan janin dan mudah terinfeksi. Demam, bercak
vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat
merupakan tanda infeksi terjadi. Tanda terjadi ketuban pecah sebelum waktunya
adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban
berbau amis, dengan ciri pucat dan berwarna merah darah. Cairan ini tidak akan
berenti atau kering karena terus diproduksi sampai lahir.
2.4Pencegahan Bahaya Kehamilan
Pencegahan pada bahaya kehamilan seperti rasa mual dan muntah yang
berlebihan Menurut Sary (2009) untuk mengatasi mual pada kehamilan yaitu
dengan minum teh jahe atau pappermint dan minum banyak air serta jus buah.
Makan dengan diet tinggi karbohidrat dan protein serta rendah lemak. Ibu
dianjurkan agar ibu makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi
lebih sering. Makanan yang berminyak dan berbau dihindari dan ketika bangun
pagi dianjurkan makan roti atau biskuit dengan teh hangat( Prawirohardjo, 2008).
Cara pencegahan dan mengatasi pada tanda bahaya kehamilan seperti
pre-eklamsia dengan gejala sakit kepala yang hebat yaitu hirup udara segar setiap hari,
mungkin, istirahat yang cukup terutama pukul 17.00 -19.00, lakukan olahraga
ringan dan teratur, makan dengan pola makan seimbang dan sehat (Zeta, 2010).
Tanda bahaya seperti Edema atau pembengkakan ringan pada pergelangan kaki dan tangan dapat dicegah yaitu istirahat dengan mengangkat kaki selama 20
menit, tiga atau empat kali sehari untuk mengurangi pergelangan kaki yang
bengkak (Zeta, 2010). AdapunMenurut Bandiyah (2009), tanda bahaya bengkak
pada bagian tubuh dapat dicegah dengan keadaan ringan kaki bengkak dapat
diatas dengan tidur dengan kaki lebih tinggi dan mengurangi makan garam.
2.5Tempat Mendapatkan Pertolongan
Apabila ibu mengalami tanda-tanda bahaya dalam kehamilan maka keluarga
perlu segera meminta bantuan atau pertolongan bidan terdekat untuk dibawa ke
puskesmas atau Rumah Sakit, agar dapat diperiksa dan diberi pertolongan yang
diperlukan (Depkes, 2001).
2.6Pengetahuan
2.6.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra
manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga.
Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
Menurut Notoadmodjo (2012), pengetahuan yang tercakup dalam domain
kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu :
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari
sebelumnyatermasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi tersebut harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Analisa (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi, dan
masih ada kaitannya satu sama lain.kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
4) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
5) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek.
6) Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real(sebenarnya).
2.6.2 Faktor- faktor yang Mempengaruhi terbentuknya Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan sebagai berikut :
1) Faktor Internal
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang
makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Pendidikan tinggi maka
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi. Pengetahuan sangat erat
kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan faktor penting dalam
menentukan perilaku seseorang, karena pengetahuan dapat menimbulkan
perubahan persepsi kebiasaan masyarakat. Pembentukan sikap seseorang juga
dipengaruhi oleh tingkat pengetahuannya. Semakin tinggi pengetahuan seseorang
maka semakin baik pula sikap seseorang dalam menghadapi masalah.
b. Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan
kehidupan keluarganya. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih
banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak
tantangan. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja
bagi ibu-ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
c. Usia
Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan
menurut Hurlock (1998) yang dikutip oleh Nursalam (2003) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan
bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa
dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari
2) Faktor Eksternal
a. Faktor Lingkungan
Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam (2003) lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dapat mempengaruhi
perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.
b. Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari
sikap dalam menerima informasi.
2.6.3 Cara Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi,materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden (Notoatmodjo, 2012).Pengukuran pengetahuan berupa pertanyaan
tertutup pilihan jawaban a, b, c, dan d. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan skala Guttman nilai 1 jika memilih jawaban benar, nilai 0 jika
memilih jawaban salah atau tidak menjawab pertanyaan (Hidayat, 2009).
2.7Sikap
2.7.1 Pengertian Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap stimulasi atau objek (Notoatmodjo, 2012). Sikap adalah kesediaan diri
seorang individu melaksanakan suatu tindakan tertentu. Sikap dapat bersifat
positif dan negatif. Sifat positif tidak membahayakan dalam kehidupan
masyarakat, sifat negatif menghambat, menciptakan garis pemisah antara
indivudu merupakan penghalang dalam mengadakan interaksi(Wahyuningsih,
2.7.2 Tingkatan Sikap
Seperti halnya dengan pengetahuan, Menurut Notoatmodjo (2012) Sikap ini
terdiri dari berbagai tingkatan yakni sebagai berikut :
1) Menerima(receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek)
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha
untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan.Lepas
pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.
3) Menghargai ( valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang
lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, misalnya
seorang mengajak ibu yang lain ( tetangga, saudaranya, dsb) untuk
menimbang anaknya keposyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah
suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
4) Bertanggung Jawab ( responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.Misalnya seorang
ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari mertua
2.7.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Wawan (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap antara
lain sebagai berikut :
1) Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah
meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila
pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor
emosional.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis
atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini
antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut .
3) Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena
kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu
masyarakat asuhannya.
4) Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya,
berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyekstif dipengaruhi oleh
5) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat
menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada
gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
6) Faktor Emosional
Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang
berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego
2.7.4 Cara Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dilakukan dengan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek. Pengukuran secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan bagaimana pendapat
responden (Notoadmodjo, 2012).
Pengukuran Sikap menggunakan skala likert, yakni berupa sikap positif
(favorable) dan sikap negatif (unfavorable) serata pada pernyataan menggunakan alternatif jawaban : Sangat Setuju(SS), Setuju (S),Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak
2.8Tindakan
2.8.1 Praktik atau Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas
(Notoatmodjo, 2007).
Robert Kwick (1974) yang dikutip dalam Wawan (2011) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat
diamati dan bahkan dapat dipelajari. Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap
hanya suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu objek
dengan cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak
menyenangi objek tersebut. Sikap hanyalah sebagian dari perilaku manusia.
2.8.2 Tingkat- tingkat Praktik
Seperti halnya dengan pengetahuan dan sikap, praktik atau tindakan
(Practice) menurut Notoadmodjo (2007) ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu sebagai berikut :
a. Persepsi ( Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang
akan diambil merupakan pratik tingkat pertama.
b. Respon Terpimpin ( Guided Respons)
Melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh
c. Mekanisme (Mecanism)
Apaila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau
sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktik tingkat
tiga
d. Adaptasi (adaptation)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik. Artinya, tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi
kebenaran tersebut.
2.8.3 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Tindakan
Menurut teori Laurence Green dalam Notoatmodjo (2012) ada 3 sebagai
berikut :
a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing faktors)
Yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan nilai-nilai
dan sebagainya
b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors)
Yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya
fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat
kontrasepsi, jamban dan sebagainya
c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors)
Yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain
2.8.4 Pengukuran Perilaku atau Tindakan
Pengukuran perilaku atau tindakan dapat dilakukan secara tidak langsung
yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan
beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall).Pengukuran juga dapat diukur secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
Pengukuran praktik (overt behavior) juga dapat diukur dari hasil perilaku tersebut (Notoadmodjo, 2012).
2.9Kerangka Konsep
Dalam penelitian ini, kerangka konsep menerangkan tentang hubungan
pengetahuan, sikap dan tindakan ibu hamil tentang deteksi dini tanda-tanda
bahaya kehamilan.
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Hubungan Pengetahuan, Sikap dengan Tindakan Ibu Hamil tentang Deteksi Dini Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan di Puskesmas Medan Deli
Tahun 2014
Variabel Independen Variabel Dependen
1. 1.
Pengetahuan Ibu Hamil tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya
kehamilan Tindakan Ibu Hamil Tentang
Deteksi Dini Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan
2.10 Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Ada hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu hamil dalam
deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan
2. Tidak ada hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tindakan ibu hamil
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei
yang mengunakan deskriptif analitik dengan desaincross-sectional study yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan pengamatan sesaat atau dalam suatu
periode waktu tertentu dan setiap subjek studi hanya dilakukan satu kali
pengamatan selama penelitian. Alasan memakai desain cross-sectional study
karena ingin mengukur variabel-variabelnya dalam waktu yang
bersamaan.Tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap
ibu hamil terhadap tindakan ibu hamil tentang deteksi dini tanda-tanda bahaya
kehamilan.
3.2Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan dalam Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan mulai dari studi pendahuluan sampai dengan
penelitian pada bulan agustus 2014 sampai januari 2015.
3.3Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti (Notoatmodjo,
2010). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil trimester III yang
berdomisili di Puskesmas Medan Deli kota Medan pada tahun 2014 dan yang
berisiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinannya sebanyak 189 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil diseluruh objek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Cara pengambilan
sampel yaitu dengan cara simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada didalam anggota
populasi. Banyaknya sampel dapat dicari dengan rumus Lameshow (1997)
sebagai berikut:
� =��1− ����(1− ��) +�1− ����(1− ��)
(�� − ��)² �²
�= �1,96�0,50(1−0,50) + 0,84�0,65(1−0,65) (0,65−0,50)² �²
�= 60,95
Jadi jumlah sampel pada penelitian ini adalah 61 orang ibu hamil.
Keterangan :
n = besar sampel minimum
Z1-α = nilai Z pada derajat kemaknaan 95 % = 1,96
Po = suatu kasus ibu hamil yang melakukan deteksi dini tanda bahaya
kehamilan, proporsinya tidak diketahui ditetapkan 50% (0, 50)
Pa = suatu kasus ibu hamil yang diharapkan melakukan deteksi dini
tanda bahaya kehamilan proporsinyatidak diketahui, ditetapkan
Pa-Po = perkiraan selisih proposi yang diteliti dengan proporsi dipopulasi
15%
Z1-β = nilai z pada kekuatan uji power 80% = 0,84
3.4 Defenisi Operasional Variabel
1. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui ibu hamil trimester III tentang definisi, macam-macam, pencegahan tanda- tanda bahaya kehamilan
dan tempat pertolongan.
2. Sikap adalah reaksi atau respon positif atau negatif ibu hamil trimester III terhadap segala sesuatu mengenai deteksi dini tanda – tanda bahaya
kehamilan.
3. Tindakan adalah suatu perbuatan nyata mendeteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan atau tidak mendeteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan.
3.5Aspek Pengukuran 3.5.1 Pengetahuan
Variabel pengetahuan terdiri dari 15 pertanyaan.Variebel pengetahuan diukur
dengan menggunakan skala Guttman nilai 1 : memilih jawaban benar, nilai 0:
memilih jawaban salah atau tidak menjawab pertanyaan. Pengukuran pengetahuan
berupa pertanyaan tertutup pilihan jawaban a, b, c, dan d. Dari hasil penelitian
diatas diperoleh skor jawaban responden tertinggi bernilai 15.
Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh maka pengetahuan responden dapat
dikategorikan sebagai berikut : (Pratomo, 1986)
1. Baik : 76%-100% jika total skor jawaban 12-15
2. Cukup Baik : 40-75% jika total skor jawaban 6-11
3.5.2 Sikap
Pengukuran tentang sikap berupa pertanyaan tertutup dengan pilihan
jawaban responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan dirinya.
Variable sikap menggunakan skala likert dengan mengukur melalui 15 pernyataan
dengan item jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju
(Hidayat, 2009).Berdasarkan hasil penelitian diatas diperoleh skor jawaban
responden tertinggi bernilai 60.
Dimana pernyataan sikap terdiri dari pernyataan positif dan negatif dengan
penilaian sebagai berikut :
a. Untuk pernyataan positif (favorable) untuk pertanyaan nomor (1,3,6,8,10,11,12) diberi skor :
Nilai 4 : Jawaban sangat setuju (SS)
Nilai 3 : Jawaban setuju (S)
Nilai 2 : Jawaban tidak setuju (TS)
Nilai 1 : Jawaban sangat tidak setuju (STS)
b. Untuk pernyataan negatif(Unfavorable) untuk pertanyaan
nomor(2,5,7,9,13,14,15) diberi skor :
Nilai 1 : Jawaban sangat setuju (SS)
Nilai 2 : Jawaban setuju (S)
Nilai 3 : Jawaban tidak setuju (TS)
Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh maka sikap responden dapat
dikategorikan menurut ( Pratomo, 1986) sebagai berikut :
1. Baik : 76%-100% jika total skor jawaban 46-60
2. Cukup baik : 40%-75% jika total skor jawaban 24-45
3. Kurang baik :0-39% jika total skor jawaban 15-23
3.5.3 Tindakan
Tindakan responden diukur dengan metode skoring. Kategori pengukuran
sikap terhadap kuesioner yang diberi bobot. Jumlah pertanyaan ada 10, nilai
tertinggi dari keseluruhan pertanyaan 10. Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh
responden dapat dikategorikan sebagai berikut : (Pratomo, 1986)
1. Melakukan Deteksi dini tanda bahaya kehamilan, apabila responden
mendapat skor > 75% dengan total nilai 8-10
2. Tidak Melakukan Deteksi dini tanda bahaya kehamilan, apabila responden
mendapat skor <75% dengan total nilai 0-7
3.6 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.
1. Data Primer diperoleh dari :
Wawancara langsung dengan responden berpedoman pada kuesioner yang
telah disiapkan untuk mengetahui identitas, pengetahuan, sikap dan tindakan
responden dalam deteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan.
Data Dinas Kesehatan dan data Cakupan PWS KIA di Wilayah Puskesmas
Medan Deli.
3.7Instrumen Penelitian
Pada instrumen penelitian akan dilakukan uji validitas dan reliabilitas yang
bertujuan untuk menunjukkan sejauh mana kuisioner dapat mengukur dan
menunjukkan sejauh mana kuisioner dapat dipercaya atau dapat diandalkan dalam
suatu penelitian.
Untuk mendapatkan kualitas hasil penelitian yang baik perlu dilakukan uji
validitas dan uji realiabilitas. Uji validitas diperlukan digunakan untuk mengukur
sah atau valid tidaknya suatu kuesioner sehingga mampu menghasilkan data yang
akurat. Kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Sunyoto,
2011).
Uji validitas dan reabilitas dilakukan terhadap bagaimana tindakan ibu hamil
trimester III dalam menghadapi tanda-tanda bahaya kehamilan. Adapun pemilihan
lokasi dengan pertimbangan tersebut memiliki karakteristik yang sama dengan
lokasi penelitian. Uji validitas suatu instrumen (dalam kuesioner) yang dilakukan
dengan mengukur korelasi antara variabel atau item dengan skor total variabel
pada analisis korelasi dengan melihat nilai correlation corrected item. Validnya suatu kuesioner jika nilai r hitung > r tabel maka dinyatakan valid dan sebaliknya.
Reabilitas data merupakan indeks yang menunjukan sejauh mana suatu
alat pengukur dapat menunjukan ketepatan dan dapat dipercaya dengan metode
Cronbach’s Alpha. Metode ini untuk menganalisis reabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran. Instrumuen dikatakan reliabel apabila nilai r hitung > r tabel
dimana nilai r tabel 0,60.
Uji coba kuesioner dilakukan pada 30 responden yaitu ibu hamil trimester
III di Wlayah Kerja Puskesmas Helvetia. Kuesioner pengetahuan terdiri dari 15
pertanyaan dimana nilai r hitung masing-masing pertanyaan > 0,361 dan realiabel.
Realiabel pengetahuan 0,906 > 0,60. Kuesioner sikap terdiri dari 15 pertanyaan
dimana r hitung > 0,361 dan reliabel. Reliabel sikap r hitung 0,989 > 0,60.
Kuesioner tindakan terdiri dari 10 pertanyaan dimana nilai r hitung > 0,361 dan
realiabel. Reliabel tindakan r hitung 0,864 > 0,60.
3.8Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data 3.8.1 Teknik pengolahan data
Pengolahan data merupakan proses yang sangat penting dalam penelitian.
Oleh karena itu harus dilakukan dengan baik dan benar.Menurut Notoatmodjo
(2010),kegiatan dalam proses pengolahan data antara lain :
1. Pemeriksaan Data (Editing)
Yang dimaksud dengan proses editing adalah hasil wawancara atau angket
yang diperoleh atau dikumpulkan melalui kuesioner perlu disunting (edit) terlebih dahulu. Kalau ternyata masih ada data atau informasi yang tidak
lengkap, dan tidak mungkin dilakukan wawancara ulang, maka kuesioner
2. Pemberian Kode (Coding)
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan
peng”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan.
3. Penyusunan Data (Tabulasi)
Untuk mempermudah pengolahan data serta pengambilan kesimpulan, dan
dimasukkan kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dianalisis dengan
menggunakan SPSS.
3.8.2 Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan analisis data secara akurat.
1. Analisis Univariat
Bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap
variabel penelitian (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini menggunakan ada 2
variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen
terdiri dari pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang deteksi dini tanda-tanda
bahaya kehamilan dan variabel dependen yaitu tindakan ibu hamil tentang deteksi
dini tanda-tanda bahaya kehamilan.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel x dan
variabel y. Uji analisis untuk mengetahui signifikansi-nya (derajat sebagai hasil
atau nilai yang tidak dapat terjadi karena peluang, tetapi dapat dihubungkan
dengan penyebab atau pengaruh khusus) untuk data nominal dan ordinal dapat