BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang telah tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Eksistensi madrasah telah lama mendapatkan pengakuan dan kehadirannya menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari sistem pendidikan Nasional. Madrasah telah ikut serta dalam upaya mencerdaskan bangsa, tidak hanya dari segi pembentukan moralitas, namun juga berperan dalam pembentukan intelektual anak bangsa. Madrasah adalah jenis pendidikan umum yang berciri khas agama Islam dan dikelola oleh Kementrian Agama.
Pelaksanaan Otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan konsekwensi dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Fatah, 2011 : 55).
Dengan Otonomi daerah, maka sebagian besar urusan pemerintah akan didesentralisasikan kepada daerah setempat. Desentralisasi merupakan
pendekatan yang mempercayakan pengelolaan pendidikan kepada daerah untuk mendesain agar dapat efektif dan efesien (Wardhana, 2007 : 18).
Desentralisasi manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai
sentralisasi. Madrasah sebagai institusi atau lembaga harus dikelola dengan manajemen yang baik dan benar. Kalau tidak, maka sekolah akan menjadi institusi atau lembaga yang tidak teratur, sehingga tidak melaksanakan tugas profesionalnya dengan lancar dan berdampak kepada rendahnya kinerja satuan pendidikan bahkan dapat menimbulkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang telah diterapkan oleh lembaga ini.
Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) bertujuan untuk menjadikan madrasah agar lebih mandiri atau memberdayakan madrasah melalui
pemberian wewenang yang lebih besar dalam mengelola sumberdaya dan mendorong partisipasi warga madrasah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Madrasah sebagai salah satu identitas pendidikan di
Indonesia yang secara spesifik adalah lembaga pendidikan Islam. Keberadaan madrasah secara struktural berada di bawah Kementerian Agama, meskipun madrasah memiliki karakteristik dan struktur yang sama dengan sekolah umum.
tertinggal. Dalam kondisi demikian, kesiapan dan kebijakan kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui MBM tampaknya patut diperjuangkan. Sebagian besar madrasah masih menggantungkan harapan akan pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan dorongan moral serta bantuan dalam mendesain program
pendidikan madrasah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Realitas dukungan masyarakat terhadap pendidikan madrasah juga masih menjadi tanda tanya. Sebagian besar warga masyarakat masih memandang madrasah dengan sebelah mata. Tidak sedikit orang tua yang menyekolahkan anaknya ke madrasah karena tidak diterima di sekolah lain dan juga karena pilihan orang tua karena ingin memperoleh ilmu agama lebih banyak di bandingkan dengan sekolah umum.
Menurut Paul Suparno dalam Sukarjo (2013 : 79) mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya rewel yang sedang berada di tengah arus lalu lintas di jalan bebas hambatan. Mengapa demikian? Pada satu sisi, betapa pendidikan di Indonesia saat ini dirundung masalah besar, yaitu mutu pendidikan di Indonesia masih rendah, sistem pembelajaran belum memadai dan krisis moral yang melanda masyarakat Indonesia, sedangkan pada sisi lain, tantangan memasuki
milenium ketiga tidaklah main-main.
Namun demikian, menurut Ahmad (2005 : 1) performa madrasah sampai saat ini masih sangat rendah. Beberapa permasalahan telah
maupun kebijakan. Masalah kurikulum madrasah yang masih belum “fokus” dan proses pendidikan yang belum mendukung pada visi dan misi madrasah, merupakan contoh isu di tingkat pengelolaan, sedangkan kebijakan
pengembangan madrasah yang masih bersifat “tambal sulam” serta belum adanya “blue print” pengembangan madrasah merupakan contoh isu ditingkat kebijakan.
Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di
Indonesia, madrasah selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, juga ikut berperan dalam menanamkan ras kebangsaan kedalam jiwa rakyat Indonesia. Di samping itu, madrasah juga sangat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Berangkat dari latar belakang yang diungkapkan Abdul Mujib tentunya tidak terlepas dari peran MBM dalam mensukseskan pendidikan di madrasah. Paradigma pendidikan yang memberikan kewenangan luas kepada kepala sekolah dalam mengembangkan berbagai potensinya memerlukan peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam berbagi aspek manajerialnya, agar dapat mencapai tujaun sesuai dengan visi dan misi yang diemban madrasahnya.
Kepemimpinan merupakan unsur fungsional utama dalam manajemen. Karena tujuan manajemen adalah mengelola dan menggerakkan,
mengorganisir dan mengambil keputusan atas sumber daya agar menjadi potensional. Oleh sebab tujuan manajemen seperti itu maka diperlukan sistem kepemimpinan.
Pemberlakuan MBM secara langsung memberikan dampak tanggung jawab yang lebih besar bagi kepala madrasah. Peran kepala madrasah tidak lagi terbatas dalam hal mengelola melalui control dan pemenuhan kewajiban administrative, melainkan juga harus menjadi seorang leader sekaligus manajer dapat mengelola dan meningkatkan kesuksesan madrasah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang Artinya: “Semua kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”. (HR. Bukhori)
berkaitan dengan kepemimpinan kepala madrasah dalam implementasi manajemen berbasis madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, di antaranya tentang; (1) Pengelolaan yang masih lamban, (2) Masih minimnya sarana-prasarana penunjang KBM, (3) Kurangnya koordinasi antara kepala madrasah dengan yayasan, (4) Proses pendidikan yang belum mendukung pada visi dan misi madrasah, (5) Masalah Kurikulum yang belum fokus, dan (6) Masih banyak guru yang tidak sesuai dengan jurusan ketika mengajar.
Dalam penelitian ini mengobservasi kepemimpinan dalam
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan?
2. Bagaimana implementasi Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan Tahun Ajaran 2015/2016 ?
3. Apa yang dimaksud dengan MBM?
4. Bagaimana Tugas dan Tanggung jawab kepala madrasah dalam
pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan Tahun Ajaran 2015/2016?
5. Faktor Apa saja yang menjadi pendukung dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan Tahun Ajaran 2015/2016?
C. Batasan Masalah
Dalam Penelitian ini peneliti terfokus pada kepemimpinan kepala madrasah dalam implementasi Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) di MA Darul Jannah, Muara Burnai II. Lempuing Jaya Kab.OKI, Tahun Ajaran 2015/2016. Adapun bagian yang di teliti antara lain;
1. Kepemimpinan kepala madrasah dalam mengimplementasikan MBM di MA Darul Jannah, Muara Burnai II, Lempuing Jaya, Kab. OKI, Sumatera Selatan pada Tahun Ajaran 2015/2016.
2. Strategi peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan MBM di MA Darul Jannah, Muara Burnai II, Lempuing Jaya, Kab. OKI, Sumatera Selatan pada Tahun Ajaran 2015/2016.
3. Dampak di terapkannya MBM di MA Darul Jannah, Muara Burnai II, Lempuing Jaya, Kab. OKI, Sumatera Selatan pada Tahun Ajaran 2015/2016.
1. Tujuan :
a) Untuk mengetahui secara jelas Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan, Tahun Ajaran 2015/2016?
b) Untuk mengetahui Tugas dan Tanggung jawab kepala madrasah dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan, Tahun Ajaran 2015/2016.
c) Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi pendukung dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan, Tahun Ajaran 2015/2016.
2. Kegunaan : a) Bagi Lembaga
Hasil Penelitian ini diharapkan bagi Lembaga pendidikan, khususnya untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan di MA Darul Jannah Muara Burnai II, Lempuing Jaya. Kab. OKI, Sumatera Selatan, Tahun Ajaran 2015/2016.
b) Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memahami dan bermanfaat sebagai bahan pedoman dalam dalam kegiatan pendidikan. c) Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan dan dapat mengembangkan wawasan peneliti dan pendidikan.
d) Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan sumbangsih bagi implementasi MBM disetiap madrasah secara efektif dan efesien serta berdampak pada pengembangan pendidikan.
BAB I : Pendahuluan, meliputi: Latar belakang masalah, Perumusan masalah, Batasan masalah, Tujuan dan kegunaan penelitian, dan Sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian pustaka, meliputi: deskripsi teoritis tentang Manajemen madrasah, Kepemimpinan.
BAB III : Metode penelitian, meliputi : Pendekatan dan Jenis
Penelitian, Kehadiran peneliti, Lokasi penelitian, Sumber data, Prosedur dan Pengumpulan data, Analisis data, Pengecekan Keabsahan data, Tahap-tahap penelitian.
BAB IV : A. Paparan Dan Analisis Data Meliputi: A. Latar Belakang Obyek Penelitian: 1.Sejarah Singkat MA Darul Jannah Muara Burnai II, 2.Profil MA Darul Jannah Muara Burnai II, 3.Visi Dan Misi MA Darul Jannah Muara Burnai II, 4.Letak
Geografis MA Darul Jannah Muara Burnai II, 5.Kondisi MA Darul Jannah Muara Burnai II, 6.Prestasi Yang Pernah Diraih MA Darul Jannah Muara Burnai II, 7.Sarana Dan Prasarana MA Darul Jannah Muara Burnai II B. Paparan Hasil Penelitian: 1.Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) Di MA Darul Jannah Muara Burnai II, 2.Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Kepemimpinan
1. Pengertian Kepemimpinan
Para ahli mempunyai definisi yang berbeda tentang kepemimpinan karena setiap ahli mempunyai sudut pandang sendiri-sendiri mengenai pengertian kepemimpinan. Untuk memperoleh gambaran mengenai
keanekaragaman definisi kepemimpinan, berikut dituliskan beberapa definisi kepemimpinan menurut para ahli.
Menurut Fatah (2011 : 18), “kepemimpinan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sehingga seseorang tersebut mampu menggerakkan orang-orang untuk melakukan perbuatan atau tindakan dengan penuh kesadaran dan ke ikhlasan”.
Menurut Rivai (2003:3), “kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan
kelompok. Kepemimpinan dipahami dalam dua pengertian yaitu sebagai kekuatan menggerakkan dan mempengaruhi orang. Kepemimpinan hanyalah sebagai alat, sarana atau proses untuk membujuk orang agar mau melakukan sesuatu dengan sukarela/sukacita. Ada beberapa faktor yang dapat
menggerakkan orang yaitu sebagai ancaman, penghargaan, otoritas dan bujukan”.
Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan berbuat sesuatu untuk dapat membantu mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu (Dirawat dkk dalam Sutikno, 2012 : 111)
Kepemimpinan merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan segenap kemampuan untuk memengaruhi, mendorong, mengarahkan, dan menggerakkan orang-orang yang dipimpin supaya mereka mau bekerja dengan penuh semangat dan kepercayaan dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi (Burhanudin (1994) dalam Idochi, 2013 : 91).
Handoko (2001:294), mendefinisikan kepemimpinan sebagai
kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan mencakup unsur pengaruh, komunikasi dan pencapaian tujuan. Seorang pemimpin dikatakan berhasil jika tercapainya satu atau beberapa tujuan, sehingga orang akan memandang pemimpin yang efektif dilihat dari segi kepuasan mereka yang diperoleh dalam bekerja.
Dengan kata lain bahwa pemimpin adalah kemampuan untuk menggerakkan orang lain agar berpartisipasi aktif secara suka rela dalam mencapai tujuan.
kepala sekolah juga adalah seorang pemimpin (leader). Seperti halnya
kepemimpinan pada umumnya, kepemimpinan kepala madrasah bisa diartikan sebagai kemampuan kepala madrasah dalam mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan warga madrasah agar mau dan mampu bekerja dan berperan serta dalam mencapai tujuan madrasah yang sudah ditetapkan. Warga
madrasah yang dimaksud di sini terutama adalah guru, karyawan dan siswa. Semangkin kompleksnya tuntutan tugas kepala madrasah yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efesien sehingga di tuntut untuk profesional. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Mulyasa, 2009 : 24).
Menurut Fatah (2011 : 19) dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Dalam proses pengelolaan kegiatan kerjasama,
diperlukan kecakapan khusus untuk menggerakkan orang lain, diperlukan cara yang disebut human relation. Kepemimpinan merupakan suatu fungsi yang harus dilaksanakan dalam suatu organisasi, karena kepemimpinan itulah yang setiap saat mengambil keputusan tentang hal-hal yang harus dilakukan dalam organisasi. Setiap organisasi memerlukan kepemimpinan tertentu yang sering berbeda antar satu organisasi dengan organisasi lainnya. Disamping itu setiap organisasi selalu mengalami perubahan situsasi dimana setiap situasi
dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran dalam kondisi tertentu.
Di sinilah terletak pentingnya pemimpin, seorang pemimpin tidak hanya pandai memberikan instruksi, tetapi juga dapat memberikan teladan yang dapat di contoh, dapat memberi pengarahan, dapat bekerja sama dan sekaligus dapat menjadi teman kerja.
2. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan menurut Thoha (2014 : 304) adalah norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang dilihat.
Untuk lebih dapat dipahami dalam menjabarkan kepemimpinan kepala madrasah secara propesional maka dapat dijelaskan bahwa kepala madrasah sebagai leader dapat dianalisis dari (1) kepribadian (sifat-sifat
pemimpin/kepala madrasah), (2) pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, (3) visi dan misi madrasah, (4) kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi (Mulyasa 2009:115).
Kepemimpinan berdasarkan hasil penelitian Universitas Ohio dan Universitas Michigan dalam Thoha (2014 : 282) pada dasarnya cenderung ke arah dua hal yaitu konsiderasi dan struktur inisiasi. Kecenderungan ke arah dua hal tersebut dapat dilukiskan dengan gambar 2.1 sebagai berikut.
S Rendah (IV)
S Tinggi (1) Re
K Tinggi K Tinggi
S Rendah (III) K Rendah
S Rendah ) II ( K Rendah (S)
[image:15.595.195.428.110.255.2]Rendah Struktur Inisiasi Tinggi Gambar 2.1 Perilaku Kepemimpinan S: Struktur Inisiasi
K: Struktur Konsiderasi
Dua macam kecenderungan tersebut mempunyai ciri-ciri kepemimpinan, masing-masing sebagai berikut :
1) Kepemimpinan Konsiderasi
Perilaku pemimpin cenderung ke arah kepentingan bawahan. Ciri-ciri perilaku pemimpin, hubungan dengan bawahan adalah:
a) ramah tamah
b) mendukung dan membela bawahan c) mau berkonsultasi
d) mau mendengarkan bawahan e) mau menerima usulan bawahan f) memikirkan kesejahteraan bawahan
g) memperlakukan bawahan setingkat dirinya 2) Struktur Inisiasi
Perilaku pemimpin cenderung lebih mementingkan pencapaian tujuan organisasi dari pada memperhatikan bawahan. Oleh karena itu, perilaku pemimpin memiliki ciri-ciri:
b) menekankan pentingnya batas waktu pelaksanaan tugas kepada bawahan.
c) selalu memberitahu apa yang dikerjakan bawahan.
d) selalu memberi petunjuk bawahan bagaimana melakukan tugas. e) memberikan standar tertentu atas pekerjaan.
f) meminta bawahan agar menuruti dan mengikuti standar yang ditetapkan.
g) selalu mengawasi apakah bawahan bekerja sepenuh kemampuan. Berdasarkan dua macam kecenderungan perilaku tersebut, tentu ada pemimpin yang mempunyai nilai tinggi pada Konsederasi (K), tetapi rendah pada Struktur Inisiasi (S), tetapi mungkin pula sebaliknya. Ada juga kemungkinan pemimpin yang rendah dalam kedua kecenderungan tersebut. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang K dan S nya keduanya memiliki nilai yang tinggi. Perilaku kepemimpinan menurut hasil penelitian Universitas Michigan pada prinsipnya sama dengan hasil-hasil penelitian Universitas Ohio yaitu adanya kecenderungan perilaku pemimpin yang mementingkan hasil (production centered) dan
mementingkan bawahan (employee centered). Kedua macam
kecenderungan perilaku kepemimpinan tersebut pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gayanya.
Fungsi kepemimpinan menurut Ernie (2012 : 259) pada dasarnya menyangkut dua hal pokok yaitu:
b) Fungsi pemeliharaan kelompok group maintenance atau disebut pula fungsi sosial (social functioni) yaitu fungsi kepemimpinan dalam upaya memelihara kesatuan di antara sesama pekerja.
Perilaku kepemimpinan pada hakekatnya mengandung arti bagaimana pemimpin itu berhubungan dengan bawahan atau anggota organisasi. Menurut Abdurahman (2007 : 46) manusia menempati posisi istimewa di alam jagat raya ini. Manusia adalah wakil tuhan di muka bimi, seperti di jelaskan dalam Q.S Al Baqoroh (2) : 30.
Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.". (Q.S Al Baqoroh : 30)
Menurut Ernie dkk (2012 : 260) gaya kepemimpinan ditinjau dari sifat dan orientasinya maka gaya kepemimpinan dibedakan menjadi dua yaitu :
1) Berorientasi kepada tugas (a task oriented style);
Perilaku yang cenderung berorientasi kepada tugas ditandai dengan adanya beberapa hal seperti :
a) Pimpinan memberikan petunjuk-petunjuk kepada bawahan;
b) Pimpinan selalu mengadakan pengawasan secara ketat terhadap apa yang dilakukan bawahan;
c) Pemimpin meyakinkan kepada bawahan, bahwa tugas-tugas harus dapat dilaksanakan sesuai dengan keinginan pemimpin;
d) Pemimpin lebih menekankan pada pelaksanaan tugas daripada pembinaan dan pengembangan bawahan.
Perilaku kepemimpinan yang berorientasi kepada bawahan (an employee oriented style) ditandai dengan gejala sebagai berikut :
a) Pemimpin lebih memberikan motivasi daripada memberikan pengawasan kepada bawahan;
b) Pemimpin melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan; c) Pemimpin lebih bersikap penuh kekeluargaaan, percaya, hubungan
kerjasama yang saling menghormati di antara sesama anggota kelompok. Indrajaya (2000: 145) mengemukakan bahwa hal yang menarik perhatian mengenai kepemimpian adalah perilaku kepemimpinan. Ducan (dalam Indrajaya 2000: 145) menyebutkan adanya beberapa gaya
kepemimpinan yaitu otokrasi, demokrasi dan gaya bebas (laisses faire). 1) Perilaku kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan di mana
pimpinan. Namun demikian, tidaklah berarti bahwa ia kurang memperhatikan anggotanya.
2) Perilaku kepemimpinan demokrasi adalah perilaku pemimpin yang banyak menekanan pada partisipasi pengikut dari pada menentukan sendiri. Para anggota atau pengikut selalu diberi kesempatan menentukan apa yang akan dicapai dan cara mencapainya. Perilaku kepemimpinan ini beranggapan bahwa pendapat orang banyak lebih baik dari pada sendiri dan adanya partisipasi akan menimbulkan tanggung jawab bagi pelaksanaannya. Perilaku ini lebih memberikan kesempatan kepada para anggota untuk mengembangkan dirinya, meskipun pemimpin masih memiliki peran dalam ikut menentukan keputusan. Tipe kepemimpinan demokratis ini memang paling sesuai dengan konsep Islam yang mana di dalamnya banyak menekankan prinsip musyawarah untuk mufakat. Hal ini sebagaimana terdapat dalam Q.S Ali Imron ayat 159, yang berbunyi:
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
3) Perilaku kepemimpinan bebas (laisses faire) adalah perilaku kepemimpinan yang lebih banyak menekankan kepada keputusan kelompok. Seorang pemimpin akan menyerahkan keputusan kepada keinginan kelompok. Apa yang baik menurut kelompok, itulah yang menjadi keputusan. Bagaimana pelaksanaanya pun tergantung kepada kemauan kelompok. Peran pemimpin dalam mengambil keputusan hampir tidak terlihat, semua diserahkan pada hasil keputusan kelompok. Ketiga perilaku kepemimpinan tersebut
cenderung melihat dominansi dalam pengambilan keputusan. 3. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Madrash
Kepemimpinan yang dimaksudkan disini adalah kepemimpinan yang ada dalam bidang pendidikan di madrasah yakni kepala madrasah. Kepala madrasah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti di ungkapkan oleh Daryanto (2011 : 81) menyebutkan bahwa tugas kepala madrasah adalah; 1. Sebagai Penanggung Jawab.
Kepala madrasah merupakan personel madrasah yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan-kegiatan madrasah. Kepala madrasah
mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk
menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan madrasah yang di pimpinnya.
2. Sebagai Pemimpin Madrasah
Adapun Fungsi Kepala madrasah sebagai berikut:
1) Perumusan tujuan kerja dan pembuat pelaksanaan kebijakan madrasah. 2) Pengaturan tata kerja (mengorganisasi) sekolah, yang mencakup;
b) Mengatur petugas dan pelaksana.
c) Menyelenggarakan kegiatan (mengkoordinasi). 3) Pensupervisi kegiatan madrasah, meliputi;
a) Mengawasi kelancaran kegiatan. b) Mengarahkan pelaksanaan kegiatan.
c) Mengevaluasi (menilai) pelaksanaan kegiatan.
d) Membimbing dan meningkatkan kemampuan pelaksana dan sebagainya.
3. Sebagai Supervisor
Tugas kepala madrasah sebagai supervisor berarti ia harus meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana saja yang di perlukan bagi kemajuan madrasah. Supervisi pada dasarnya pelayanan yang disediakan oleh kepala madrasah untuk membantu para guru dan karyawan agar menjadi semakin cakap/terampil dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman. Supervisi merupakan usaha yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam membantu guru-guru agar mampu mewujudkan proses belajar mengajar. Kepala madrasah bertugas
memberikan bimbingan, bantuan, pengawasan dan penilaian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan pengajaran yang berupa perbaikan program dan kegiatan pendidikan pengajaran untuk dapat menciptakan situasi belajar mengajar, tugas ini antara lain :
a) Membimbing guru-guru agar mereka dapat memahami secara jelas tujuan-tujuan pendidikan pengajaran yang hendak dicapai dan hubungan antara aktivitas pengajaran dengan tujuan-tujuan. b) Membimbing guru-guru agar mereka dapat memahami lebih jelas
c) Menyeleksi dan memberikan tugas-tugas yang paling cocok bagi setiap guru sesuai dengan minat, kemampuan bakat masing-masing dan selanjutnya mendorong mereka untuk terus mengembangkan minat, bakat dan kemampuannya.
d) Memberikan penilaian terhadap prestasi kerja madrasah berdasarkan standar-standar sejauh mana tujuan madrasah itu telah dicapai. Kepala madrasah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di madrasah. Sebagaimana di kemukakan dalam Pasal 12 Ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa ;”Kepala madrasah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi madrasah, pembinaan tenaga pendidikan lainnya dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana (Mulyasa, 2009 : 25).
Di samping keputusan yang berkaitan tentang prinsip-prinsip
manajemen, seorang pemimpin atau kepala madrasah harus bisa berlaku adil ketika mengambil setiap kebijakan dan menggunakan kewenangan (otoritas). Sebagaimana telah di jelaskan dalam Q.S. Shaad : 26;
akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan.
Kemampuan kepala madrasah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil resiko dalam mengambil keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, (7) teladan (Mulyasa, 2009 : 115).
Dalam rangka melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manajer, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif dalam mengembangkan lembaga pendidikan yang efektif.
C. Konsep Manajemen Berbasis Madrasah 1. Definisi Manajemen Berbasis Madrasah
Secara etimologis, kata manajemen merupakan terjemahan dari kata management (bahasa inggris) yaitu berasal dari kata manage atau magiare yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen, terkandung dua kegiatan pikir (mind) dan kegiatan tindak laku (Sahertian dalam Ali Imron, 2011: 4).
Menurut Fathurrohman (2013:50) manajemen diartikan sebagai proses
yang membeda-bedakan atas perencanaan (planning),pengorganisasian
(organizing), penggerakanpelaksanaan (actuating), dan pengendalian
(controlling), dengan memanfaatkan ilmu dan seni agar tujuan yang telah
ditetapkan dapat tercapai. Sedangkan menurut Mary Parker Follet Manajemen
Menurut Imron (2012 : 5) suatu kegiatan yang di lakuan secara
bersama-samaoleh dua orang atau lebih yang didasarkan atas aturan tertentu
dalam rangka mencapai suatu tujuan.
Sedangkan menurut Terry dalam Rosady (2014 : 1) mendefinisikan
manjemen sebagai, “ sebuah proses yang khas dan terdiri dari
tindakan-tindakan seperti perencanaan, pengorganisasian, pengaktifan, dan pengawasan
yang di lakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah
di tetapkan melalui pemanfaatan sumber daya dan sumber daya lainnya.
Menurut George (2014 : 1) manajemen adalah suatu proses atau
kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok
orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang
nyata. Menurutnya manajemen memiliki fungsi planning, organizing,
actuating, controlling.
Sedangakan Madrasah merupakan institusi yang speesifik dari seperangkat fungsi-fungsi manajemen.
Menurut Abdul (2006: 21) madrasah adalah sistem organisasi yang di dalamnya terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan yang di kenal sebagai tujuan istitusional. Lebih spesifik lagi, Abdul
Menurut Suparlan (2013 : 49) MBM (Manajemen Berbasis Madrasah) adalah suatu strategi untuk meningkatkan madrasah dengan menyerahkan otoritas pengambilan keputusan secara signifikan dari negara dan kabupaten kepada satuan pendidikan seko madrasah lah secara individual.
Sedangkan menurut Abdul ( 2005 : 37) manajemen berbasis madrasah adalah desentralisasi otoritas pengambilan keputusan pada tingkat madrasah dalam bidang anggaran, kurikulum dan personil. Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) pada dasarnya adalah penggunaan sumber daya yang berdasarkan pada madrasah itu sendiri.
Dengan MBM terdapat perubahan pola yang asalnya sumber daya manajemen pendidikan diatur oleh pemerintah pusat bergeser ke madrasah itu sendiri. MBM merupakan desentralisasi otoritas pengambilan keputusan pada tingkat madrasah dalam bidang angggaran dan lain-lainnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen berbasis madrasah merupakan pengalihan kewenangan pengambilan
keputusan ke level madrasah agar dapat mengelola madrasah dengan mandiri, maka madrasah diharapkan lebih mandiri atau mampu menentukan arah pengembangan pendidikan sesuai dengan kondisi tuntutan lingkungan masyarakat.
2. Tujuan Manajemen Berbasis Madrasah
Secara umum Hardiyanto (2004 : 70) mengatakan bahwa manajemen berbasis madrasah bertujuan untuk menjadikan sekolah agar lebih mandiri atau memberdayakan madrasah melalui pemberian wewenang yang lebih besar dalam mengelola sumberdaya dan mendorong partisipasi warga madrasah dan masyrakat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat
menumbuh kembangkan suasana yang kondusif.
Menurut Suparlan (2013 : 52) ada dua alasan penting di terapkannya MBM dalam sistem pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di
MBM memberikan keterbukaan kepada semua pemangku kepentingan dalam memberikan sasaran dan masukan untuk menentukan kebijakan-kebijakan penting yang diperlukan oleh madrasah. Dengan demikian, aspirasi dari semua pemangku kepentingan sangat dihargai untuk menjadi bagian penting dalam menentukan kebijakan yang akan diambil oleh lembaga pendidikan madrasah.
Sedangkan tujuan MBM menurut Abdul (2005 : 38) adalah untuk ; a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif.
b. Meningkatkan kepedulian warga madrasah dan masyarakat terhadap mutu madrasah.
c. Meningkatkan tanggung jawab warga madrasah terhadap madrasahnya. d. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah tentang mutu
pendidikan.
e. Meningkatkan prestasi siswa.
f. Meningkatkan profesionalisme guru. g. Penerapan reformasi kurikulum.
Menurut UU sisdiknas NO. 20 Tahun 2003, tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat pasal 55 ayat 1: Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Berkaitan dengan pasal tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi, keadilan, efektifitas dan efisiensi, serta akuntabilitas.
pendidikan yang bermutu sekaligus yang relevan dengan berbagai
kebutuhan dan konteksnya. Bagi yang memisahkan keduanya, maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa (lulusan), seperti nilai ujian atau prestasi lainnya, sedangkan relevansi lebih merujuk pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai lingkup atau tuntutan kehidupan (dampak), termasuk juga ranah
pendidikan yang tidak diujikan.
b) MBM bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. Dengan asumsi bahwa setiap anak berpotensi untuk belajar, maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang sosial ekonomi dan psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal. Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi, tetapi setiap sekolah harus melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai), dan secara keseluruhan sekolah harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang
diluluskan. Keadilan ini begitu penting, sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau “quality and equity”.
Efektif-tidaknya suatu sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil, atau dinilai hasilnya. Sebaliknya untuk mencapai hasil yang baik, diupayakan
menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri sekolah efektif. Dengan menerapkan MBM diharapkan setiap madrasah, sesuai kondisi masing-masing, dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai), dan input lain yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya), sehingga semua input tepat guna dan tepat sasaran. Dengan kata lain, efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sementara itu, efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil belajar siswa).
d) MBM bertujuan meningkatkan akuntabilitas madrasah dan komitmen semua stake holders. Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya. Selama ini pertanggung jawaban madrasah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur birokrasi. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada
pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti nasional, maupun pusat-pusat birokrasi di bawahnya),tanpa pertanggung jawaban hasil pelaksanaan program (Umaedi, 2004 : 35).
partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu dapat diperoleh, antar lain, partisipasi orang tua terhadap madrasah, fleksibilitas pengelolaan madrasah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala madrasah, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuh-kembangkan suasana yang kondusif. Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja madrasah yaitu menyangkut efektivitas, kualitas, efisiensi, inovasi, relefansi dan pemerataan serta akses pendidikan.
Sementara peningkatan pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggung jawab pemerintah (Mulyasa, 2004: 13).
3. Karakteristik Manajemen Berbasis Madrasah
Menurut Abdul (2005 : 40) MBM memiliki delapan karakteristik yang bertolak belakang dengan karakteristik Manajemen Kontrol Eksternal (MKE) yaitu dalam hal misi madrasah, strategi manajemen, hakikat aktifitas aktifitas, penggunaan sumber daya, peran warga madrasah, hubungan interpersonal, kualitas pada administrator dan indikator-indikator efektivitas.
a. Misi Madrasah
dan efektivitas madrasah. Budaya organisasi madrasah harus di
kembangkan di antara warga madrasah sehingga mereka bersedia berbagi tanggung jawab, bekerja keras dan terlibat secara penuh dalam pekerjaan sekolah untuk mencapai cita cita bersama. Budaya organisasi yang kuat juga mensosialisasikan warga baru untuk memiliki komitmen terhadap misi madrasah dan dalam waktu yang sama memaksa warga lama bekerja sama secara terus menerus untuk menjalankan misi.
b. Strategi manajemen
Perubahan ke arah MBM dapat direfleksikan dalam aspek-aspek strategi manajemen berikut ini.
a) Konsep tentang asumsi hakikat manusia berpedoman kepada prinsip MBM bahwa di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi taggung jawab. Berdasarkan teori maslow (1943) bahwa guru dan siswa kemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda, di luar keuntungan ekonomi. Mereka mengejar interaksi , afiliasi sosial, aktualisasi diri, dan kesempatan berkembang. Dalam rangka memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tingggi merekabersedia menerima tanntangan dan mereka bekerja lebih keras. MBM dapat menyediakan fleksibilitas lebih dan kesempatan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan guru, siswa dan memberi peran yang lebih besar kepada keduanya.
berkualitas. Madrasah sebagai organisasi tidak sekedar tempat persiapan anak-anak di masa mendatang, tetapi juga tempat untuk siswa-siswa, guru, serta administrator untuk hidup dan berkembang. Tanpa perkembngan profesional dan keterlibatan yang antusias dari guru-guru dan administrator, maka madrasah tidak dapat di
kembangkan dan di tingkatkan secara terus menerus, dan siswa-siswa tidak memiliki pembelajaran hidup yang kaya. Oleh karena itu dalam sebuah peningkatan mutu berbasis madrasah, sekolah tidak hanya tempat membantu perkembangan siswa tetapi juga tempat
perkembangan guru dan administrator.
c) Gaya pengambilan keputusan dalam MBM. Gaya pengambilan keputusan pada tigkat madrasah adalah pembagian kekuasaan (power sharing) atau partisipasi (partisipation) dengan alasan sebagai berikut; (1) Tujun madrsah sering tidak jelas dan sering berubah. (2) Tujuan madrsah itu beragam dan misi madrsah itu kompleks. (3) Partisipasi pengambilan keputusan memberikan kesempatan pada warga bahkan administrator untuk belajar dan berkembang dalam mengelola
madrasah. (4) Partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah proses untuk mendorong guru-guru, orang tua dan siswa untuk terlibat di madrasah.
Stoner dkk (dalam Ernie 2005 : 255) Kepemimpinan adalah procesess of direkting and influencing the task related activities of group
members. Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus di lakukan. Sedangkan menurut Thoha (2014 : 343) gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang diperguanakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi orang lain. Gaya kepemimpinan yang banyak
dikenalkan oleh para ahli teori kepemimpinan antara lain. Gaya kepemimpinan kontinum, gaya kepemimpinan mangerial grid, gaya tiga dimensi dari Reddin, gaya empat sistem dari Likert dan gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard. Sedangkan Menurut sergiovani (dalam abdul, 2006 : 43) terdapat lima tingkat kepemimpinan dari rendah ke tinggi yaitu kepemimpinan teknis, manusia, pendidikan, simbolik dan budaya. Dalam merespon perubahan ke MBM maka gaya kepemimpinan kepala madrasah berubah dari tingkat rendah ke kepemimpinan multi tingkat, berarti tidak hanya kepemimpinan teknis dan manusia melainkan juga kepemimpinan kependidikan, sibolik dan budaya.
e) Penggunaan kekuasaan. Menurut French dalam (Abdul, 2006 : 43) mengkalsifikasikan kekuasaan menjadi lima katagori yaitu
inisiatif warga madrasah, maka gaya tradisional dalam penggunaan kekuasaan harus di ubah.
f) Keterampilan-keterampilan manajemen.
Maka pekerjaan manajemen internal menjadi lebih kompleks dan berat, oleh karena itu di perlukan konsep-konsep baru dalam
keterampilan manajemen baru. Misalnya metode-metode ilmiah untuk analisis keputusan, mengelola konflik, setrategi untuk perubahan dan perkembangan untuk madrasah.
c. Hakikat Aktivitas Madrasah
Hakikat aktivitas madrasah berarti madrasah menjalankan
aktivitas-aktivitas pendidikannya berdasarkan karakteristik, kebutuhan dan situasi madrasah. Hakikat aktivitas berbasis madrasah amat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini secara tidak langsung
d. Penggunaan Sumber Daya Manusia
MBM dalam model school based budgeting program memberikan keleluasan kepada madrasah untuk memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengadakan dan menggunakan sumber daya dan dana.
e. Perbedaan-perbedaan peran
Perubahan ke model MBM menuntut peran aktif kepala madrasah, administrator, guru, orang tua dari yang semula pasif.
a) Peran madrasah adalah gaya pengembangan, inisiatif, memecahkan masalah, dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk memfasilitasi efektivitas pengajaran guru dan efektivitas pembelajaran siswa.
b) Peran Departemen Agama atau yang sekarang disebut Kementerian Agama adalah hanya sebagai pendukung atau advisor penasehat.
c) Peran para administrator adalah pengembang dan pemimpin sebuah tujuan.
d) Peran para guru adalah bekerja bersama-sama dengan komitmen bersama dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk mempromosikan pengajaran efektif dan mengembangkan madrasah mereka dengan antusiasme.
informasi, mendukung dan melindungi madrasah paada saat mengalami kesulitan dan krisis.
f. Hubungan Antar Manusia
Dalam manajemen berbasis madrasah hubungan antar manusia cenderung terbuka, bekerja sama, semangat tim, dan komitmen yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, iklim organisasi cenderung mengarah ke tipe komitmen.
g. Kualitas para administrator
Kualitas administrator sangat penting. Mereka tidak hanya harus dilengkapi dengan pengetahuan dan teknik manajemen modern untuk mengembangkan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain. Akan tetapi, administrator juga perlu belajar dan tumbuh secara terus menerus untuk menemukan dan memecahkan masalah demi kemajuan madrasah. Singkatnya, mereka perlu memperluas wawasan dan pemikirannya dengan belajar sehingga mereka dapat meningkatkan perkembangan jangka panjang madrasahnya.
h. Indikator-indikator Efektivitas
madrasah, kelompok dan individual. Sedangkan indikator multisegi, yaitu mencakup output madrasah, input madrasah dan proses madrasah.
1) Output Madrasah
Madrasah harus memiliki output yang diharapkan diantaranya adalah berupa prestasi akademik seperti NEM, lomba karya ilmiyah, lomba bahasa. Dan prestasi non akademik misalnya: harga diri, kerjasama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama, toleransi, jujur, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olah raga, kepramukaan, dan kesenian.
2) Input Madrasah
Input pendidikan meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Memiliki kebijakan, tujuan, sasaran mutu yang jelas.
b) Sumber daya yang tersedia.
c) Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
d) Memiliki harapan prestasi yang tinggi.
e) Focus pada pelanggan.
f) Input manajemen
a) Madrasah yang efektif pada umumnya memiliki karakteristik proses: Proses belajar mengajar yang efektifitasnya tinggi.
b) Lingkungan madrasah yang aman dan tertib.
c) Partisipasi yang tinggi dari warga madrasah dan masyarakat.
d) Madrasah memiliki keterbukaan manajemen, kemauan untuk berubah..
e) Madrasah memiliki akuntabilitas.
f) Madrasah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan.
g) Madrasah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
h) Madrasah memiliki team work yang kompak, cerdas dan dinamis.
i) Madrasah memiliki kewenangan dan kemandirian.
j) Madrasah memiliki komunikasi yang baik dengan masyarakat. 4. Prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Madrasah
Menurut Abdul (2005 : 38) terdapat empat prinsip MBM yang juga menjadi acuan dalam MBM, yaitu prinsip equifinalis, prinsip desentralisasi, prinsip pengelolaan mandiri dan prinsip inisiatip manusia yang secara jelas diuraikan sebagai berikut :
Prinsip Ekuifinalis ( Equifinality ) yang didasarkan pada teori
tujuan. Manajemen madrasah menekankan fleksibilitas dan harus dikelola oleh madrasah itu sendiri berdasarkan kondisinya masing-masing. Prinsip
equifinalis ini mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan dan
mempersilahkan madrasah memiliki mobilitas yang cukup , berkembang dan bekerja menurut strategi uniknya masing-masing untuk mengelola
madrasahnya secara efektif dan efisien.
Prinsip Desentralisai (Decentralization). Konsisten dengan prinsip equifinalis maka desentralisasi merupakan gejala penting dalam reformasi manajemen modern. Dasar teori dari prinsip desentralisasi ini adalah manajemen madrasah dalam aktivitas pengajaran menghadapi berbagai kesulitan dan permasalahan. Oleh karena itu madrasah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif dan efisien sesegera mungkin ketika permasalahan muncul. Tujuan dari prinsip desentralisasi adalah memecahkan masalah secara efektif dan efisien serta bukan menghindari masalah. Maka MBM harus mampu menemukan
permasalahan, memecahkannya tepat waktu dan member konstribusi terhadap efektivitas dan efisiensi aktivitas belajar mengajar.
Prinsip Sistim Pengelolaan Mandiri (Self Managing System).
Manajemen Berbasis Madrasah tidak menyangkal perlunya mencapai tujuan berdasarkan kebijakan dari atas, tetapi menurut Manajemen Berbasis
kendali kebijakan dan struktur utama, memiliki otonomi untuk
mengembangkan tujuan pengajaran dan strategi manajemen, mendistribusikan sumber daya manusia dan sumber daya lain, memecahkan masalah dan mencapai tujuan menurut kondisi mereka masing-masing. Karena madrasah menerapkan sistem pengelolaan mandiri, maka madrasah dipersilahkan untuk mengambil inisiatif atas tanggung jawab mereka sendiri.
Prinsip Inisiatif Manusia (Human Initiative) Sesuai dengan
perkembangan hubungan kemanusiaan dan perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting factor manusia dalam efektivitas dan efisiensi organisasi. Perpektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia, sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumberdaya manusia di madrasah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Selain itu ada lagi 7 prinsip MBM, yaitu :
a) Madrasah memiliki potensi untuk meningkatkan mutu pendidikan. b) Peningkatan mutu berkelanjutan.
c) Fleksibilitas dalam mencapai tujuan. d) Inisiatif dan pengelolaan mandiri. e) Keberhasilan tim, bukan individual. f) Adanya lingkungan yang mendukung.
g) Akuntabilitas: administrative, professional dan hasil pendidikan atau kinerja.
a) Komitmen, kepala madrasah dan warga madrasah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menggerakkan semua warga madrasah untuk bermanajemen berbasis madrasah.
b) Kesiapan, semua warga madrasah harus siap fisik dan mental untuk manajemen berbasis madrasah.
c) Keterlibatan, pendidikan yang efektif itu, harus melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
d) Kelembagaan, madrasah sebagai lembaga adalah unit terpenting bagi pendidikan yang efektif.
e) Keputusan, segala keputusan madrasah itu harus dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
f) Kesadaran, guru-guru harus mempunyai kesadaran untuk membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan kurikulum.
g) Kemandirian, sekolah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana.
h) Ketahanan, perubahan akan bertahan lebih lama apabila melibatkan stakeholders madrasah
5. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBM Konsep MBM merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentralisasi dalam pemerintah. Strategi apa yang di harapkan agar penerapan MBM dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan?.
Menurut Suparlan (2013 : 58) ada beberapa strategi dalam
Kedua, membangun budaya madrasah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel.
Ketiga, Pemerintah memainkan monitoring dan evaluasi. Denangan kata lain, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBM di
madrasah.
Keempat, mengembangkan program pemberdayaan sekolah bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBM, yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepala madrasah.
Penerapan MBM akan berhasil jika diberikan prakondisi dengan membangun kapasitas dan komitmen madrasah, termasuk semua pemangku kepentingan, yang memiliki tanggung jawab bersama terhadap upaya
peningkatan mutu pendidikan. Keberhasilan sekolah dalam menerapkan MBM dipengaruhi oleh kepedulian pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong serta memberikan kesempatan madrasah menerapkan MBM.
6. Indokator Keberhasilan MBM
pengaruhi oleh kepedulian pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong dan memberikan kesempatan madrasah menerapkan MBM di madrasah (Suparlan, 2013 : 59).
Adapun Indikator keberhasilan MBM menurut Abdul (2006 : 49) sebagai berikut;
a) Jumlah siswa yang mendapatkan layanan meningkat. b) Kualitas layanan pendidikan semakin meningkat.
c) Jumlah siswa tinggal kelas menurun dan produktivitas madrasah meningkat.
d) Program madrasah dibuat bersama dengan warga dan tokoh masyarakat. e) Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan.
f) Meningkatnya keterlibatan orang tua dan mayarakat dalam pengambilan keputusan.
g) Semakin baik iklin dan budaya madrasah sesuai dengan pengembangan ciri khas yang merupakan identitas madrasah.
h) Kesejahteraan guru dan karyawan membaik. i) Demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
MBM merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada kepala madrasah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhannya. Otonomi dalam
manajemen merupakan potensi bagi madrasah untuk meningkatkan kinerja para tenaga pendidikan, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.
membawa dampak terhadap peningkatan efesiensi dan efektivitas kinerja sekolah, dengan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tingkat sosial, salah satu perhatian sekolah harus ditujukan pada asas
pemerataan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Di sisi lain madrasah harus meningkatkan efesiensi, partisipasi, dan mutu, serta
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditunjukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (Nana Syaodih Sukmadinata 2010: 60). Menurut Bogdan dan Taylor dalam bukunya Lexy J. Moleong 2002 : 4 mendefinisikan pendekatan kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau prespektif partisipan. Partisipan adalah orang yang diajak wawancara, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran, persepsinya. Beberapa penelitian kualitatif diarahkan lebih dari sekedar memahami fenomena tetapi juga mengembangkan teori.
Adapun karakteristik penelitian kualitatif menurut Nana 2010 : 95 adalah sebagai berikut;
a) Kajian naturalistik; melihat situasi nyata yang berubah secara alamiah, terbuka, tidakada rekayasa pengontrolan variabel.
c) Holistik; totalitas fenomena dipahami sebagai sistem yang kompleks, keterkaitan menyeluruh tak dipotong padahal terpisah, sebab-akibat. d) Data kualitatif; deskripsi rinci dalam, persepsi pengalaman orang. e) Hubungan dan persepsi pribadi; hubungan akrab peneliti informan,
persepsi dan pengalaman pribadi peneliti penting untuk pemahaman fenomena-fenomena.
f) Orientasi keunikan; tiap situasi khas, pahami sifat khusus dan dalam konteks sosial-historis, analisis silang kasus, hubungan waktu-tempat. g) Empati netral; subjektif murni, tidak dibuat-buat.
Penelitian kualitatif menyatu dengan situasi dan fenomena yang diteliti karena penelitian kualitatif menggunakan peneliti sebagai instrumen. Peneliti melakukan pengamatan, interviu, mencatat hasil pengamatan dan interaksi bersama partisipan. Penelitian menekankan pentingnya pengumpulan data menggunakan orang yang terampil dan telah disiapkan secara sempurna, dari pada menggunakan instrumen tunggal.
Menurut Zainal 2012 : 155 penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama. Pertama, menggambarkan dan mengungkap dan kedua
menekankan pada kepemimpinan kepala madrasah dalam manajemen berbasis madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II.
B. Kehadiran Peneliti
Sesuai dengan jenis penelitian, yaitu penelitian deskriptif, maka kehadiran peneliti di tempat penelitian sangat diperlukan sebagai
instrumen utama. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai perencana, pemberi tindakan, pengumpul data, penganalisis data, dan sebagai pelapor hasil penelitian. Peneliti dilokasi penelitian juga berperan sebagai pengamat penuh. Diagnosa tentang Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam
Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) di MA Darul Jannah Muara Burnai II. Dalam penelitian ini penulis hadir untuk menemukan data-data yang diperlukan yang bersinggungan langsung ataupun tidak langsung dengan masalah yang diteliti, dengan terus menggali data sesuai dengan kesempatan dan informasi.
Menurut Lexy J. Moleong 2002 : 168, kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit, ia sekaligus sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analisis penafsiran data dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian selama dua bulan, yakni November sampai Desember 2015. Selama penelitian
berlangsung, peneliti melakukan wawancara dan observasi yang ada di MA Darul Jannah Muara Burnai II. Di samping itu kehadiran peneliti
C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian akan dilakukan untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan berkaitan dengan masalah penelitian. Adapun obyek dalam penelitian ini adalah MA Darul Jannah Muara Burnai II di Kecamatan Lempuing Jaya, Kab. OKI, Sumatera Selatan, yang terletak di Jalan Lintas Timur Sumatera KM 153.
D. Sumber Data
Lexy J Moleong (1991:112 mengungkapkan bahwa data adalah keseluruhan keterangan mengenai segala sesuatu hal yang berkaitan dengan penelitian. Senada dengan itu Lofland mengungkapkan bahwa Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan
tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Lexy J Moleong, 1991:112). Jadi dapat dikatakan bahwa sumber data merupakan asal dari informasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah kepala madrsah dalam implementasi manajemen berbasis madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II Lempuing Jaya. Sedangkan data yang diambil sesuai dengan penelitian ini adalah sebagai berikut;
a) Data Primer, yaitu data yang didapat secara langsung dari subyek terteliti pada saat penelitian dilakukan. Data primer dalam penelitian ini adalah perencanaan, pengelolaan, pengorganisasian, dan pengawasan program kerja kepala madrsah dalam implementasi manajemen berbasis madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II Lempuing Jaya tahun ajaran
b) Data Sekunder, yaitu data yang berasal dari sumber kedua atau dari instansi seperti dokumen hasil belajar siswa baik dalam bentuk laporan maupun data sekunder lainnya atau dari teks book. Sumber data juga menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan alat penelitian. Adapun jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi:
1) Data tentang konsep MBM.
2) Data tentang konsep kepemimpinan.
3) Data tentang upaya kepemimpinan kepala madrsah dalam
implementasi manajemen berbasis madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II Lempuing Jaya tahun ajaran 2015/2016
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi sebuah penelitian sehingga data yang diperoleh benar-benar sesuai dengan judul yang ditentukan. Seperti yang diungkapkan oleh Sugiono (2005:62) bahwa dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), kuesioner (angket), dokumentasi dan gabungan dari
1) Metode Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara atau interviewer (yang mengajukan pertanyaan) dan terwawancara/diwawancarai atau interview (yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan). Esterberg dalam Sugiono (2005:620) mendefinisikan bahwa wawancara ialah
merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Selanjutnya Esterberg mengemukakan beberapa macam wawancara yaitu:
a) Wawancara tersrtruktur. Yakni digunakan sebagai tehnik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh;
b) Wawancara semi terstruktur. Yakni pelaksanaannya lebih bebas di bandingkan dengan wawancara tersetruktur;
c) Wawancara tidak terstruktur. Yakni wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar
permasalahan yang aka ditanyakan.
Penulis sendiri menggunakan teknik wawancara yang kedua, yaitu wawancara semi terstruktur. Tujuannya ialah untuk menemukan
2) Metode Dokumentasi
Seperti yang diungkapkan oleh Suharsini Arikunto (2002:134) bahwa Metode dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal yang variabelnya berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen, rapat, lengger, agenda dan lain sebagainya. Dari rujukan di atas, teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menganalisis Arsip tertulis yang dimiliki oleh MA Darul Jannah Muara Burnai II Lempuing Jaya tahun ajaran 2015/2016
3) Metode Obsevasi Partisipan
Dalam hal ini, peneliti akan berusaha mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan penelitian. Hal ini bisa dilakukan dengan memilih obyek yang akan diwawancarai baik itu dari kepala sekolah, murid dan dewan guru yang mempunyai peran dalam pembahasan penelitian ini, yaitu tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam
implementasi MBM di MA Darul Jannah Mura Burnai II Lempuing Jaya tahun ajaran 2015/2016.
F. Teknik Analisis Data
mendapatkan data yang sesuai dan akurat mengenai penelitian yang dilakukan, peneliti menggunakan proses analisa data yang akan dijelaskan secara singkat dalam bagan sebagai berikut;
Gambar 3.1 : Proses Analisa Data
Karena dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif maka analisa datanya dilakukan pada saat kegiatan penelitian berlangsung dan dilakukan setelah pengumpulan data selesai. Dimana data tersebut dianalisis secara cermat dan teliti sebelum disajikan dalam bentuk laporan yang utuh dan sempurna.
G. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data dilakukan agar memperoleh hasil yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipercaya oleh semua pihak. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengecekan keabsahan data dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Dalam hal ini, peneliti berusaha membandingkan data dari hasil wawancara, hasil pengamatan dan data dokumentasi. Triangulasi teknik adalah triangulasi
DATA
TELAAH DATA
REDUKSI DATA PENYUSUNAN DATA
teknik untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data dengan sumber yang sama. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha membuktikan data hasil wawancara dengan observasi dan dokumentasi (Lexy J Moleong,1991:103).
H. Tahap-Tahap Penelitian
Yang dimaksud dengan tahap-tahap penelitian adalah langkah-langkah atau cara-cara penulis mengadakan penelitian untuk mencari data. Dalam penyusunan skripsi ini, langkah-langkah yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut; Persiapan penelitian, meliputi 3 kegiatan yaitu
1) Studi pendahuluan (sebelum membuat proposal). Penyusunan proposal. 2) Konsultasi.
3) Pelaksanaan penelitian meliputi 3 kegiatan yaitu a. Pengumpulan data.
b. Pengelolaan analisa data hasil penelitian. c. Pembahasan
4) Laporan hasil penelitian.
Hasil penelitian ini dilaporkan dalam bentuk skripsi sebagai bahan referensi bagi kalangan pendidikan, baik akademisi, pendidik, maupun pembina pendidikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Madrasah Aiyah Darul Jannah Muara Burnai II
1. Sejarah Berdirinya MA Darul Jannah Muara Burnai II
pesantren dari Darul Jannah. Melihat kenyataan yang ada, banyak anak usia sekolah yang kurang mampu untuk dapat melanjutkan sekolah di kota-kota besar, khususnya pendidikan menengah atas untuk
mempersiapkan generasi yang dapat menghadapi globalisasi dan persaingan di era pasar bebas yang mempunyai sumber daya manusia berkualitas tinggi dengan berlandaskan norma–norma dan ajaran agama Islam, maka dibukalah Madrasah Aliyah Darul Jannah Muara Burnai II yang berada dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren darul Jannah.
Madrasah Aliyah Darul Jannah Muara Burnai II mempunyai misi dan visi untuk mengembangkan siswa aktif dan kreatif dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan iman dan taqwa, sehingga lulusan dari Darul Jannah bisa mengabdikan diri untuk masyarakat
berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.
MA Darul Jannah didirikan pada tahun 2008 dengan nomer statistik madrasah 131216020025 yang berada dalam naungan Kementrian Agama, sehingga adanya kewenangan sentralisasi untuk memantau dan
mensupervisi lembaga MA Darul Jannah menjadi lebih baik dan berkembang.
Aliyah Darul Jannah memiliki tempat yang setrategis karena di dukung oleh keadaan pesantren yang menerapkan pendidikan salaf. Adapun alokasi MA Darul Jannah adalah termsuk di tengah-tengah desa.
Gambar 4.1 Lokasi MA Darul Jannah 3. Visi, Misi dan Tujuan Marasah Aliyah Darul Jannah
Visi
Berprestasi berdasarkan Iman & Taqwa Misi
a. Mengefektifkan kegiatan pembelajaran
b. Menggali dan mengembangkan potensi dasar kemampuan Intelektual Olahraga dan Seni.
c. Menumbuhkan kesadaran berdisiplin serta semangat kebersamaan.
d. Mewujutkan Sekolah yang ASRI.
4. Data Madrasah
a. Identitas Madrasah
1) Nama Madrasah : Madrasah Aliyah Darul Jannah 2) Alamat Madrasah : Jl. Lintas Timur KM 112, Muara
Burnai II
3) Kecamatan : Lempuing Jaya 4) No. Telpon Madrasah :
5) Status Madrasah : Swasta 6) Waktu Penyelenggara : Pagi 7) Tahun Pendirian Madrasah : 2008
8) Nomer Statistik Madrasah : 131216020025 9) Jenjang Akreditasi : Terakreditasi C
10) Nama Yayasan : Yayasan PonPes Darul Jannah 11) Nama Ketua Yayasan : KH. Abdul Mustofa
b. Nama Kepala Madrasah
1) Nama Kepala Madrasah : Santoso, S.Pd.I
2) Alamat Rumah : Lubuk Seberuk, Lempuing Jaya
3) No. Tlpn :
c. Sarana Dan Prasarana
Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki MA Darul Jannah Muara Burnai II yang berada dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Jannah yaitu sebagai berikut;
a) luas Tanah : 20.000 M2 b) Status tanah : Milik Yayasan c) Yang sudah terbangun : 10.000 M2 d) Yang belum terbangun : 10.000 M2 2) Bangunan
a) Status Bangunan : Milik
yayasan
b) Sekolah dan Kantor : 4 Ruang
c) Asrama : 31 Ruang
d) Mck : 3 Unit
e) Masjid dan Mushola : 1 Unit
f) Dapur Umum dan Kantin : 2 Unit 3) Luas Bangunan
a) Sekolah dan Kantor : 15.000
M2
b) Asrama : 15.000 M2
c) MCK : 24 M2
d) MAsjid dan Mushola : 325
M2
e) Dapur umum Dan kantin: 84 M2
f) Luas total bangunan : 10.000
M2
Bangunan MA Darul Jannah Muara Burnai II Ruangan/ Bangunan Kondisi (Unit)
Baik RR RB Jumlah
1. Ruang Kelas 3 3
2. Ruang Kantor 1 1
3. Ruang Kepala Madrasah 1 1
4. Ruang Guru 1 1
5. Ruang Tata Usaha 1 1
6. Laboratorium IPA 7. Laboratorium Biologi 8. Laboratorium Komputer 9. Laboratorium Bahasa 10. Laboratorium Multimedia
11. Perpustakaan 1 1
12. Ruang UKS
13. WC 2 2
14. Masjid/ Mushola 1 1
15 Ruang Kesenian
[image:58.595.142.505.133.403.2]Sumber : Profil Madrasah Aliyah Darul Jannah Muara Burnai II Thn Ajaran 2015/2016
Tabel 4.2
Fasilitas dan Mobiler MA Darur Jannah Muara Burnai II
No Fasilitas Total Baik JumlahRR RB
1 Meja Siswa 105 105 2
2 Kursi Siswa 105 105 2
3 Lemari 3 3
4 Papan Tulis 3 3
5 Komputer 1 1
6 Printer 1 1
7 Scaner 1
8 Proyektor 1
9 Alat alat UKS
10 Alat alat Praktek 1
Sumber data : Dokumentasi MA Darul Jannah Tahun Ajaran 2015/2016 d. Data Guru
Adapun data guru madrasah aliyah darul jannah muara burnai II tahun ajaran 2015/2016 sebagi berikut;
[image:58.595.136.509.423.612.2]Data Guru MA Darul Jannah Muara Burnai II Tahun Ajaran 2015/2016 Nama Guru Nomer KTP/NIK Tempat TanggalLahir
Jenis Kelamin
SANTOSO, S.Pd.I 1602212305820001 Bantan Air 23/05/1982 L AH. SUBROTO HIDAYAT,
S.Pd.I 1602221912740002 Martapura 19/12/1974 L
HIKMATUL KHOIRIYAH,
S.Ag 1602224805760001 Jawa Tengah 05/08/1976 P
SUHUDI, S.Pd.I 1602212403850003 Bengkalis 24/03/1985 L PRIYANTI NINGRUM 1602225907820004 Pati - Jateng 19/07/1982 P SUPANDI, S.Pd.I 1602220405880002 Tulung Harapan 05/04/1988 L ANAS MA'RUF 0601151806840001 Sido Mulyo 18/06/1984 L ZUBAIDAH, S.Pd.I 1602135409860002 Tugu Mulyo 14/09/1986 P M.HABIBIE 1602222512880001 Oku Timur 13/07/1992 L ANWAR AFANDI 1602226509960002 Mendayun 25/03/1994 L BUDIMAN, S.Pd.I 1608123012900002 Wono Sari 03/12/1990 L IMAM ROHANI, S.Pd.I 1602221501720012 Rowa Dadi 22/07/1971 L SOLIHUN, S.Pd 1602221506820001 Lubuk Seberuk 14/06/1982 L ESA PRECILLIA
PABELLI,S.Pd.I 1602221507820001 Palembang 27/02/1990 L ERLINAH,S.Pd 1602225510910003 Tinggal Jaya 15/10/1991 P DANIATI 1602224107930030 Lubuk Seberuk 10/09/1993 P Sumber data : Data Guru Madrasah Aliyah Darul Jannah Muara Burnai II Diambil dari Form Emis Personal Tahun Ajaran 2015/2016
[image:59.595.119.513.128.473.2]e. Data Siswa
Tabel 4.4
Jumlah Siswa Madrasah Aliyah (MA) Darul Jannah N
O KELAS
Jenis Kelamin Jumlah Ket.
Lk Pr
1 I 26 32 58
2 II 21 12 33
3 III 11 11 22
Jumlah
Sumber Data; Jumlah Siswa MA Darul Jannah Muara Burnai II dari Data Emis TP 2015/2016
Madrasah Aliyah Darul Jannah Muara Burnai II dalam membenahi kelembagaan telah membuat struktur organisasi yang mengacu pada aturan yang ada. Sehingga memudahkan dalam pembinaan personal yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.
[image:60.595.117.518.339.707.2]Kerjasama dan koordinasi yang jelas membantu pengelolaan menuju kemajuan baik kuantitas maupun kualitas. Kemudian untuk mengetahui lebih jelas struktur organisasi di madasah Aliyah Darul Jannah sebagi berikut:
Gambar 4.2 B. Hasil Penelitian
Kepala Yayasan PonPes Darul Jannah
KH. ABDUL MUSTOFA
Kepala Madrasah Aliyah Darul Jannah SANTOSO, S.Pd.I Tata Usaha Anwar Afandi Waka Ur. Sarana Suhudi, S.Pd.I
Dewan Guru MA Darul Jannah Siswa/Siswi Komite Sekolah Subroto Hidayat, S.Pd.I Waka Ur. Kesiswaan Annas Ma’ruf, S.Pd.I Waka Ur. Kurikulum Imam Rohani, S.Pd.I Waka Ur. Humas Supandi, S.Pd.I
1. Manajemen Berbasis Madrasah di MA Darul Jannah Muara Burnai II Dengan di terapkannya pelaksanaan otonomi daerah yang secara praktis dimulai pada awal tahun 2001, membawa implikasi pada
pelaksanaan otonomi pendidikan, ini berarti bahwa pendidikan harus mulai difikirkan