• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik luar negeri Mesir setelah revolusi 2011: studi hubungan bilateral Mesir-Israel Tahun 2011-2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Politik luar negeri Mesir setelah revolusi 2011: studi hubungan bilateral Mesir-Israel Tahun 2011-2013"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

POLITIK LUAR NEGERI MESIR SETELAH REVOLUSI 2011:

STUDI HUBUNGAN BILATERAL MESIR-ISRAEL TAHUN

2011-2013

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh :

Khairul Rizal

11100113000054

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

iv Abstraksi

Skripsi ini menganalisis politik luar negeri Mesir setelah revolusi yang terjadi pada tahun 2011, khususnya yang berkaitan dengan hubungan bilateral Mesir dengan Israel pada periode tahun 2011 hingga 2013. Tujuan penelitian ini ialah untuk memberikan gambaran politik luar negeri Mesir, khususnya yang berkaitan dengan hubungan Mesir dengan Israel pada rezim pemerintahan setelah revolusi tahun 2011. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka, berupa kajian melalui buku-buku serta jurnal yang berkaitan dengan masalah ini. Selain itu, penelitian ini menggunakan kerangka teori berupa politik luar negeri dan kebijakan luar negeri yang di dalamnya juga menjelaskan berbagai sumber yang dapat dijadikan masukan bagi pengambil kebijakan suatu negara.

Pada penelitian ini dapat diketahui bahwasanya politik luar negeri yang dijalani oleh Mesir pada masa rezim setelah revolusi tahun 2011 berupaya untuk

meningkatkan power Mesir dalam lingkup regional. Dalam masalah hubungan

bilateral dengan Israel, posisi yang ditunjukkan oleh Mesir lebih banyak berfokus pada permasalahan keberlanjutan perjanjian damai dengan Israel, masalah keamanan di perbatasan kedua negara yang terletak di wilayah Semenanjung Sinai, dan masalah konflik Palestina-Israel. Dinamika yang terjadi dalam hubungan kedua negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari internal maupun eksternal Mesir. Dari faktor internal Mesir dipengaruhi oleh sistem dan struktur kekuasaan yang mendominasi setelah revolusi, kondisi geostrategik dan geopolitik Mesir, dan opini publik Mesir. Sementara faktor eksternal banyak dipengaruhi oleh adanya hubungan yang terjalin antara Mesir dengan negara-negara atau pihak-pihak lain. Adanya hubungan tersebut disebabkan oleh faktor kepentingan nasional yang dimiliki oleh kedua belah pihak.

Pada akhirnya, penelitian ini memberikan sebuah kesimpulan terhadap politik luar negeri Mesir dan hubungan bilateral dengan Israel bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari politik luar negeri Mesir, termasuk dalam hubungan bilateral dengan Israel. Faktor penentunya ialah keberlanjutan perjanjian damai yang sudah disepakati kedua negara dari tahun 1979. Adapun sikap atau kebijakan lain dari Mesir pada rezim setelah revolusi tahun 2011 merupakan sebuah bentuk ekspresi terhadap kondisi situasional Mesir saat itu dengan berdasarkan pada kalkulasi yang dilakukan oleh pengambil kebijakan.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, Tuhan

Yang Maha Kuasa, atas selesainya skripsi ini. Penulisan skripsi ini yang berjudul

“Politik Luar Negeri Mesir Setelah Revolusi Tahun 2011: Studi Kasus Hubungan Bilateral Mesir-Israel Tahun 2011-2013” ditujukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata 1 di program studi Hubungan

Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulisan skripsi ini pula tidak terlepas dari berbagai

hambatan, baik yang berasal dari diri penulis sendiri, maupun dari faktor-faktor

lain. Namun berkat petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha

Kuasa, serta dari motivasi dan dukungan berbagai pihak, hambatan tersebut

perlahan dapat teratasi.

Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak

yang telah mendukung dan memberikan motivasi kepada penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini, antara lain:

1. Kedua orangtua penulis, Drs. Mahfud dan Rukiah S.Pd.I, yang telah

memberikan berbagai dukungan moril maupun materiil yang tidak terhitung

jumlahnya. Tanpa ridho dan doa dari kalian, tidaklah mampu penulis

melangkah hingga sejauh ini. Terima kasih ayah dan mama.

2. Bapak Dr. Ali Munhanif, MA, selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih

atas segala bantuan dan masukan dalam penyusunan skripsi ini di tengah

(7)

vi

3. Ibu Debbie Affianty, MA, selaku ketua sekaligus dosen program studi

Hubungan Internasional. Terima kasih atas berbagai ilmu, motivasi, serta

pelayanan yang diberikan selama masa perkuliahan.

4. Bapak Andar Nubowo DEA, selaku dosen pembimbing akademik. Terima

kasih atas segala saran dan motivasi yang diberikan hingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh dosen program studi Hubungan Internasional, UIN Jakarta. Meskipun

tidak saya sebut satu persatu, namun tidak mengurangi rasa hormat saya.

Terima kasih atas berbagai macam ilmu yang diberikan. Semoga kelak menjadi

ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.

6. Kedua adik penulis, Khalida Isfahani dan Tazkia Azzahra, yang senantiasa

menjadi teman pelepas kejenuhan. Semoga Allah mengabulkan cita-cita kita.

7. Kepada seluruh keluarga dan sanak saudara yang telah memberi dukungan dan

doa kepada penulis dalam menempuh studi hingga proses penyelesaian skripsi

ini.

8. Seluruh rekan HI B 2010. Terima kasih atas berbagai masukan dan dukungan

selama menempuh studi. Semoga ilmu yang kita dapat di dunia kampus dapat

berguna dan bermanfaat bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.

9. Keluarga besar OC, Ade Ayu Farah Yunika, Riedianty, Mar’atul Rifqiyah,

Syifa Kasyifatussaja, Mahbub Alaidrus, Muhammad Zaid, Kahfi Aditya

Ramadhan, Muhammad Faraidly, Ahmad Badzar, Ardhi Suryanto, dan

(8)

vii

10. Seluruh rekan KKN KOMPAK 2013. Syafaat, Fatah, Rasyid, Imam, Doni,

Hafiz, Kahfi, Daus, Alfan, Eva, Nia, Indah, Nurma, Dina, Elis, Rahmi, dan

Ayu. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk

beraktualisasi dan menimba berbagai macam ilmu selama kegiatan KKN.

11. Keluarga besar Yayasan United Islamic Cultural Center of Indonesia (UICCI)

cabang Pejaten. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk dapat

menuntut berbagai macam ilmu pengetahuan.

12. Keluarga besar Naady Araby MAN 4 Jakarta. Terima kasih atas kesempatan

yang diberikan untuk memperoleh banyak pengalaman.

13. Keluarga besar Gugus Depan Shalahudin Al-Ayyubi MAN 4 Jakarta. Terima

kasih atas semangat kekeluargaan doa, dan motivasi yang kalian berikan

kepada penulis.

14. Dan seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, membalas segala jenis

kebaikan yang telah kalian berikan.

Penulis menyadari tulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu,

penulis mengharapkan berbagai kritik dan saran yang membangun untuk

kesempurnaan tulisan ini di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat

memberikan manfaat bagi khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang

Hubungan Internasional.

Ciputat, 5 Desember 2014

(9)

viii

BAB II POLITIK LUAR NEGERI MESIR SEBELUM REVOLUSI TAHUN 2011 A. Gambaran Umum Orientasi Politik Luar Negeri Mesir .………… 22

B. Politik Luar Negeri Mesir Masa Kepemimpinan Hosni Mubarak……… 28

C. Sikap Israel terhadap Mesir pada Masa Pemerintahan Mubarak………... 29

D. Opini Publik Mesir terhadap Politik Luar Negeri Mesir terhadap Israel... 33

BAB III POLITIK LUAR NEGERI MESIR SETELAH REVOLUSI 2011: STUDI HUBUNGAN BILATERAL MESIR-ISRAEL TAHUN 2011-2013 A. Politik Luar Negeri Mesir pada Masa Transisi di bawah Supreme Council of Armed Forces (SCAF)……… 36

(10)

ix

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLITIK LUAR NEGERI MESIR TERHADAP ISRAEL TAHUN 2011-2013

A. Faktor Internal Mesir……… 54

1. Struktur kekuasaan dan Pemerintahan………... 54

2. Geostrategik dan Geopolitik Mesir……… 58

3. Opini Publik Mesir terhadap Israel……… 59

B. Faktor Eksternal Mesir………... 61

a. Amerika Serikat……… 61

b. Uni Eropa………. 64

c. Hamas ..………... 67

d. Iran ….………... 69

e. Arab Saudi………... 72

f. Turki ……… 74

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan………... 77

B. Saran-Saran……….. 80

(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.Pernyataan Masalah

Revolusi yang terjadi di Mesir pada 2011 telah menjadi sorotan dunia

internasional. Revolusi tersebut berhasil menggulingkan Presiden Hosni Mubarak,

seorang pemimpin nasional Mesir yang telah menjabat selama 30 tahun.

Berakhirnya kekuasaan Mubarak membuka jalan baru bagi Mesir dalam

menjalankan roda pemerintahan, baik di bidang sosial, politik dan ekonomi,

termasuk kemungkinan adanya perubahan yang mendasar dalam politik luar

negeri. Dalam hal yang terakhir ini, setidaknya sebagaimana yang terlihat dalam

berbagai perkembangan politik setelah revolusi, Mesir dihadapkan pada tantangan

untuk mempertahankan stabilitas keamanan kawasan dan memperkuat hubungan

dengan lingkungan eksternal – baik regional mapun internasional - yang

berdasarkan pada kepentingan nasional.1 Dalam konteks ini pula, salah satu

tantangan terbesar negara ini pada periode setelah-Revolusi adalah menjawab

berbagai persoalan kebijakan luar negeri yang diwariskan oleh pemerintahan

terdahulu, yakni Perjanjian Camp David antara Mesir dengan Israel yang telah

disepakati dan dijalani sejak 1979.2

1Amr Darrag, “On The New Vision for the Egyptian Foreign Policy After the Revolution”, Tesev Foreign Policy Programme (March 2013), h. 2

2 María Celeste Baranda, “Post-Mubarak Egypt: Redefining its Role in the New Middle Eastern

(12)

2

Semenjak Mubarak berkuasa (1981-2011), Mesir telah menunjukkan

dominasinya di Timur Tengah dengan kepemimpinannya dalam merespon gejolak

dan dinamika yang terjadi di dunia internasional, khususnya permasalahan dalam

lingkup kawasan. Kepemimpinan Mesir tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam

sebuah tatanan formal yang bernama politik luar negeri. Politik luar negeri Mesir

terbentuk dalam bingkai menjawab berbagai prioritas masalah yang ada dan

berkembang saat itu. Dalam perspektif teori Hubungan Internasional, terdapat dua

hal determinan yang mendasari politik luar negeri Mesir pada masa Mubarak,

yaitu: 1) pengaruh dan tekanan dari internal maupun eksternal Mesir, dan 2)

kepentingan nasional yang hendak diraih oleh Mesir.3

Politik luar negeri Mesir di bawah kepemimpinan Mubarak juga tidak bisa

dilepaskan dari pengaruh dari dua faktor determinan tersebut. Sebagaimana kita

tahu dalam berbagai perkembangan dinamika politik Timur Tengah setelahPerang

Oktober 1973 antara Israel melawan gabungan kekuatan militer negara Arab

Mesir, Suriah dan Yordania, Mesir telah menempuh perdamaian dengan Israel

yang disepakati pada 1979.4 Di bawah Anwar Sadat, sejak 1980 Mesir telah

menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan saling membuka perwakilan

setingkat Duta Besar antara Mesir-Israel. Perdamaian antara dua negara yang

berpengaruh di Dunia Arab itu menyisakan persoalan serius dalam hal tekanan

yang dialami Mesir di kalangan negara-negara Arab yang lain. Pada waktu

Mubarak naik ke tampuk kekuasaan tidak lama setelah Anwar Sadat terbunuh

3

Chen Tianshe, “Four Points toward the Understanding of Egypt’s Foreign Relations”, Journal of Middle Eastern and Islamic Studies (in Asia) 5 no. 1 (2011), h. 99-100

(13)

3

pada 1981 sebagai protes terhadap perdamaian Mesir-Isreal, Mesir dihadapkan

pada dilema yang sama, yakni melanjutkan perjanjian damai dengan Israel atau

membatalkannya. Mubarak tampaknya mengambil pilihan yang kedua, yakni

melanjutkan perjanjian damai dengan Israel.5

Menurut sejumlah pengamat, sikap Mubarak itu disebabkan oleh

kepentingan nasional Mesir yang hendak dituju dari perjanjian tersebut. Harus

diakui, berbagai kerugian diplomatis dialami Mesir dengan adanya perjanjian itu.

Salah satu kerugian bagi Mesir yang lahir dari perjanjian damai tersebut adalah

konsekuensi yang mengikat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam proses

perjanjian damai, yakni Mesir, Israel, dan Amerika Serikat. Misalnya, sebagai

persyaratan yang harus dipenuhi dari perjanjian damai ini adalah bahwa Mesir

diharuskan mengirimkan gas alam ke Israel untuk memenuhi kebutuhan energi

bagi masyarakat Israel.6 Selain itu, Mesir juga harus menerapkan zona

demiliterisasi di Semenanjung Sinai yang juga menjadi wilayah otoritas Mesir dan

wilayah yang berbatasan dengan Israel. Mesir juga harus menjalin hubungan

bilateral dengan Israel dan AS meskipun terdapat dinamika pasang-surut antara

Mesir dengan kedua negara tersebut.7

Namun demikian, sejumlah keuntungan dari segi politik militer juga

diperoleh Mesir dari perjanjian itu. Misalnya, Mesir mendapatkan bantuan

keamanan, militer, dan ekonomi dari AS selaku mediator dalam perjanjian

5 Baranda,

Post-Mubarak Egypt, h. 11

6

Michael Sharnoff, “Post Mubarak Egyptian Attitudes Towards Israel”, Foreign Policy Researches Institute (October 2011), hal. 1

(14)

4

tersebut. Berdasarkan hasil laporan bagian penelitian Kongres AS pada tanggal 27

Juni 2013 mengenai bantuan luar negeri AS untuk Mesir, sejak tahun 1948 hingga

2011, Mesir telah menerima bantuan dari AS sekitar $71,6 Milyar, termasuk di

antaranya $1,3 Milyar untuk bantuan militer Mesir pada tahun 1987. Bantuan

dengan jumlah yang sama kembali Mesir terima dari AS pada tahun 2008.

Bantuan senilai $1,3 Milyar secara khusus diberikan AS melalui persetujuan

Kongres yang didistribusikan melalui Foreign Military Financing (FMF),

Economic Support Funds (ESF), dan International Military Education and

Training (IMET).8

Selain bantuan militer, AS juga menjanjikan untuk membantu Mesir

bidang ekonomi. Total bantuan yang diberikan AS untuk membantu ekonomi

Mesir sebesar $815 juta. Secara keseluruhan, total bantuan yang diberikan AS

kepada Mesir tiap tahun pada masa pemerintahan Mubarak mencapai $2,1

Milyar.9 Dengan demikian, bantuan luar negeri yang diberikan AS kepada Mesir

termasuk salah satu pertimbangan yang membuat Mubarak tetap mempertahankan

perjanjian damai dengan Israel hingga akhir kekuasaannya.

Kejatuhan Mubarak menjadi awal transisi politik di negara itu dan

membuat Supreme Council of Armed Forces (SCAF) mengisi kekuasaan

demisioner Mesir. Tugas dari lembaga ini adalah untuk mengawal transisi dan

mencapai tujuan revolusi, yakni menjadikan Mesir sebagai negara yang

(15)

5

demokratis seutuhnya. Selain mengurus permasalahan transisi yang sedang

dijalani oleh Mesir, SCAF juga berwenang mengatasi masalah politik luar negeri

Mesir pada saat itu. SCAF membentuk sebuah Deklarasi Konstitusional I yang

salah satu poin pentingnya ialah berkomitmen terhadap berbagai perjanjian

internasional yang telah disepakati dan mengikat Mesir.10 Poin penting ini

merupakan hasil dari upaya SCAF untuk menjadi lembaga yang mewadahi

berbagai jenis aspirasi masyrakat Mesir. SCAF juga melakukan berbagai dialog

dengan berbagai elemen masyarakat dan politik untuk merumuskan kebijakan

dalam proses transisi.

Namun demikian, fenomena yang kontradiktif timbul di kalangan

masyarakat Mesir di mana terdapat aspirasi yang mempersoalkan hasil Deklarasi

Konstitusional 1 poin kelima ini. Pada masa transisi ini, masyarakat Mesir

menyuarakan aspirasi mereka untuk menghentikan perjanjian damai dengan Israel

yang disebabkan pembunuhan yang dilakukan oleh Israel terhadap lima orang

pasukan penjaga perbatasan Mesir di Sinai.11 Kejadian tersebut menimbulkan

protes dan respon anti-Israel dari ribuan massa dengan melakukan aksi

demonstrasi di depan kedutaan besar Israel pada tanggal 9 September 2011.12

Selain itu, terdapat masalah serius lain yang memerlukan perhatian khusus dari

hubungan bilateral antara Mesir dengan Israel pada masa kepemimpinan SCAF

ini, yakni ekspor gas ke Israel. Meskipun ekspor gas ke Israel merupakan sebuah

10

Ibid, h.18

11

Sharnoff, Post-Mubarak Egyptian, Hal. 1

12Tami Amanda Jacoby, “Israel’s Relations with Egypt and Turkey during the Arab Spring:

(16)

6

konsekuensi dari perjanjian damai kedua negara, namun dibalik itu semua terdapat

sebuah tindakan koruptif yang dilakukan pejabat pemerintahan Mesir.13

Tugas akhir dari SCAF dalam mengawal transisi di Mesir ialah

mengadakan pemilihan umum secara demokratis. Hasil dari pemilihan umum

yang dilakukan secara demokratis itu menunjukkan kondisi perpolitikan Mesir

diisi oleh tokoh-tokoh dari kelompok Islam, yang berhasil mendapatkan suara

terbanyak dalam pemilihan umum. Ikhwanul Muslimin yang pada masa

pemerintahan Mubarak mendapat label sebagai organisasi ilegal berhasil meraih

suara mayoritas (37% suara atau 216 kursi parlemen) melalui sayap politiknya

Freedom and Justice Party (FJP). Selain itu, kelompok ini juga menempatkan

salah satu tokohnya, yakni Mohammed Mursi sebagai presiden baru Mesir.14

Tantangan politik luar negeri Mesir di bawah pimpinan Mursi ini tidak

jauh berbeda dengan masa pemerintahan Mubarak dan masa pemerintahan transisi

di bawah SCAF. Kelanjutan perjanjian Camp David menjadi diskursus yang

semakin kuat di tengah masyarakat Mesir. Hal ini diperkuat dengan latar belakang

presiden Mursi dan FJP selaku partai yang berkuasa. Selaku sayap politik dari

Ikhwanul Muslimin, nilai-nilai ideologis kelompok ini tidak dapat dilepaskan,

khususnya dalam pandangan terhadap eksistensi Israel. Selain itu, dinamika

politik di Timur Tengah saat itu turut memberikan pengaruh terhadap proses

penentuan arah politik luar negeri Mesir, khususnya dalam masalah hubungan

bilateral dengan Israel.

13

Ibid, h.31

14Sarah Lynch. “Muslim Brotherhood Top Winner in Egyptian Election”,

(17)

7

Dinamika politik luar negeri Mesir saat sebelum hingga sesudah revolusi

memiliki daya tarik tersendiri dalam penelitian ini. Faktor pergantian rezim

setelah revolusi menjadi pijakan utama dalam penelitian ini untuk melakukan

identifikasi arah politik luar negeri Mesir terhadap Israel pada masa Mubarak

(sebelum revolusi), hingga memasuki masa transisi di bawah SCAF dan masa

pemerintahan Morsi (setelah revolusi). Selanjutnya, penelitian ini mengambil

batasan waktu dari tahun 2011 hingga tahun 2013. Adapun analisa dari periode

waktu tersebut dimulai saat Mesir berada di bawah rezim SCAF hingga

berakhirnya pemerintahan Mohammed Mursi pada bulan Juni 2013. Fokus

penelitian ini terdapat pada politik luar negeri Mesir setelah revolusi, khususnya

yang berkaitan dengan hubungan bilateral antara Mesir dan Israel pada dua masa

pemerintahan setelah revolusi tahun 2011 tersebut.

B.Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan pernyataan masalah pada penelitian ini, maka penelitian ini

hendak menjawab pertanyaan:

1. Bagaimana politik luar negeri Mesir terhadap Israel setelah revolusi tahun

2011 hingga tahun 2013?

2. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi politik luar negeri Mesir

(18)

8 C.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yang hendak dicapai, antara

lain:

1. Tujuan Penelitian

a. Menjelaskan politik luar negeri Mesir terhadap Israel setelah revolusi

tahun 2011 hingga tahun 2013.

b. Menjelaskan orientasi kebijakan luar negeri Mesir setelah revolusi tahun

2011 hingga tahun 2013.

c. Menjelaskan faktor-faktor internal dan eksternal Mesir yang berpengaruh

dalam hubungan diplomatik dengan Israel setelah revolusi tahun 2011

hingga tahun 2013.

d. Menganalisis perkembangan hubungan diplomatik Mesir-Israel setelah

revolusi tahun 2011 hingga tahun 2013.

2. Manfaat Penelitian

a. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam penelitian yang

berkaitan dengan topik pembahasan dan wilayah kajian Timur-Tengah.

b. Penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan dalam bidang hubungan

internasional.

D.Kerangka Konseptual

1. Politik Luar Negeri

Dalam rangka menjelaskan politik luar negeri Mesir setelah revolusi,

(19)

9

yakni politik atau policy dan luar negeri. Politik merupakan seperangkat

keputusan yang menjadi pedoman untuk bertindak atau seperangkat aksi yang

bertujuan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. Policy berakar dari konsep

pilihan politik yang berarti memilih tindakan atau membuat keputusan untuk

mencapai tujuan. Sementara untuk memahami variabel luar negeri dapat dibantu

dengan menggunakan konsep kedaulatan. Kedaulatan berarti kontrol atas wilayah

yang dimiliki suatu negara. Berdasarkan definisi di atas politik luar negeri

merupakan seperangkat pedoman untuk memilih tindakan yang ditujukan ke luar

wilayah suatu negara.15

Sementara definisi lain politik luar negeri ialah suatu strategi atau rencana

nyata dari pembuat keputusan dalam suatu negara kepada negara lain untuk

mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan dalam istilah kepentingan

internasional.16 Dalam pengertian lain politik luar negeri menurut Harry Kissinger

ialah ”foreign policy begins when domestic policy ends”.17 Dari definisi tersebut

menunjukkan bahwa politik luar negeri berada pada intersection antara aspek

domestik dengan aspek internasional suatu negara.

Politik luar negeri mencerminkan tiga hal, yaitu: 1) Desain kepentingan

pada negara masing-masing yang melakukan penyesuaian, bertolak dari

pandangan hidup dan pandangan strategisnya atau dalam rangka merealisasikan

berbagai manfaat untuk banyak orang, serta desain kepentingan tersebut untuk

15Anak Agug Banyu Perwita dan Yanyan M. Yani, 2005,

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung: Remaja Rosdakarya, h.48

16

Jack C. Plano and Roy Olton, 1978, The International Relation Dictionary, New York, h.127

17 Wolfram F. Hanrieder,

(20)

10

mencapai target yang dapat dicapai dengan membuat hubungan kausalitas antara

apa yang ada dan apa yang hendak dicapai, 2) batasan muatan politik luar negeri

dilakukan dengan mempelajari kepentingan dan menyusun dalam skala prioritas

ke dalam kepentingan vital dan sekunder, serta menjelaskan tata cara

mengembannya di luar batas pengaruhnya bagi kepentingan negara lain, dengan

begitu juga bagi negara tersebut, dan 3) proses pelaksanaan, dengan

mengoordinasikan berbagai sarana pelaksanaan, serta penyelarasan antara

kemampuan negara dengan target yang direalisasikan. Keberhasilan dalam politik

luar negeri menuntut adanya pemahaman yang benar mengenai dunia, posisi

internasional, dan hubungan internasional. Maka, kekuatan negara merupakan

sebuah jaminan bagi keberhasilan politik luar negerinya.18

2. Kebijakan Luar Negeri

Menurut Rosenau, kebijakan luar negeri merupakan upaya suatu negara

untuk mengatasi dan memperoleh keuntungan dari lingkungan eksternalnya.19

Kebijakan luar negeri ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan

kelangsungan hidup suatu negara. Selain itu, dalam kebijakan luar negeri terdapat

fenomena yang bersifat kompleks dan luas yang meliputi aspek kehidupan

internal dan kehidupan eksternal. Kedua aspek tersebut meliputi aspirasi, atribut

18

Muhammad Musa, 2003, Hegemoni Barat Terhadap Percaturan Politik Dunia: Sebuah Potret Hubungan Internasional, Jakarta: Wahyu Press, h. 36-37

19 James N. Rosenau, et.al. 1976.

(21)

11

nasional, kebudayaan, konflik, kapabilitas, institusi, dan aktivitas rutin yang

ditujukan untuk mencapai dan memelihara identitas sosial, hukum, dan geografi.20

Sementara itu, menurut Holsti, kebijakan luar negeri meliputi semua

tindakan serta aktivitas negara terhadap lingkungan eksternalnya. 21 Hal tersebut

dilakukan dalam upaya untuk memperoleh keuntungan dari lingkungan

eksternalnya tersebut, serta hirau akan berbagai kondisi internal yang menopang

formulasi tindakan tersebut. Tujuan-tujuan yang hendak dicapai suatu negara

dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1) nilai yang menjadi tujuan

dari pembuat kebijakan, 2) jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan

yang telah ditetapkan, dan 3) tipe tuntutan yang diajukan suatu negara kepada

negara lain.22

Dari beberapa teori yang dikemukan oleh para pemikir tentang kebijakan

luar negeri di atas, secara garis besar kebijakan luar negeri merupakan sebuah

tindakan yang dilakukan oleh suatu negara yang disebabkan oleh adanya

faktor-faktor yang mempengaruhi, baik faktor-faktor internal maupun faktor-faktor eksternal, yang

bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari lingkungan eksternal negara

tersebut dan bergantung pada kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh negara tersebut

berdasarkan skala prioritas yang telah ditentukan oleh suatu negara dan

menentukan jenis kebijakan yang dikeluarkan.

20

Ibid, h.15

21 K.J. Holsti.1988.

International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey: Prentice Hall, hal. 21

22 Perwita dan Yani,

(22)

12

Sementara itu, Rosenau mengklasifikasikan sumber-sumber utama dalam

kebijakan luar negeri tersebut kedalam empat kategori, yang mana terdapat

sumber yang berasal dari internal dan eksternal suatu negara, 23 yaitu:

1. Sumber sistemik (systemic sources)

Sumber ini berasal dari lingkungan eksternal suatu negara. Sumber ini

menjelaskan struktur hubungan antara negara-negara besar, pola aliansi antar

negara, dan faktor eksternal lain, seperti isu area atau krisis.

2. Sumber masyarakat (societal resources)

Yaitu, sumber yang mencakup berbagai faktor yang berasal dari internal

negera itu sendiri, antara lain berupa:

a. Kebudayaan dan sejarah, yang meliputi nilai, norma, tradisi, dan

pengalaman.

b. Pembangunan ekonomi, yang mencakup kemampuan suatu negara untuk

mencapai kesejahteraan sendiri.

c. Struktur sosial, yang mencakup sumber daya manusia yang dimiliki suatu

negara atau seberapa besar konflik dan harmoni internal di dalam

masyarakat.

d. Perubahan opini publik, yang mencakup perubahan sentimen masyarakat

terhadap dunia luar.

3. Sumber pemerintahan (governmental resources)

Sumber ini menjelaskan tentang pertanggungjawaban politik dan struktur

dalam pemerintahan. Sumber ini berasal dari internal suatu negara pula. Dalam

23 Rosenau.et.al,

(23)

13

masalah pertanggungjawaban terhadap politik di suatu negara, pemimpin suatu

negara yang memiliki otoritas dalam pembuatan kebijakan luar negeri dapat

fleksibel untuk merespon situasi eksternal.Yang juga sangat berpengaruh dari

sumber ini ialah struktur kepemimpinan yang berasal dari berbagai individu dan

kelompok yang berbeda-beda.

4. Sumber idiosinkratik (idiosyncratic sources)

Sumber ini berasal dari kepribadian elit-elit politik yang mempengaruhi

persepsi, kalkulasi, dan perilaku mereka terhadap kebijakan luar negeri. Hal ini

juga meliputi persepsi seorang elit politik tentang keadaan alamiah dari arena

internasionaldan tujuan nasional yang hendak dicapai.

E.Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian yang ditulis oleh Adhi Cahya Fahadayna yang berjudul

Pengaruh Ikhwanul Muslimin terhadap Politik Luar Negeri Mesir dalam Konflik Israel-Palestina” membahas salah satu instrumen yang turut memberikan pengaruh terhadap kebijakan luar negeri Mesir, yakni eksistensi kelompok

Ikhwanul Muslimin.24 Ikhwanul Muslimin berhasil meraih kekuasaan setelah

pemilihan umum yang diselenggarakan secara demokratis pada tahun 2011-2012

yang lalu. Ikhwanul Muslimin juga menempatkan salah seorang tokoh senior

mereka, Mohammed Mursi, sebagai presiden melalui pemilihan umum secara

demokratis pertama sejak revolusi 2011. Dengan berhasil menguasai

24 Adhi Cahya Fahadayna, “Pengaruh Ikhwanul Muslimin terhadap Politik Luar Negeri Mesir

(24)

14

kepemimpinan di Mesir, Mursi dan Ikhwanul Muslimin memberikan pengaruh

signifikan terhadap kebijakan luar negeri Mesir, khususnya yang berkaitan dengan

isu Palestina-Israel.

Selain itu, Adi Cahya juga menilai bahwasanya Ikhwanul Muslimin telah

membuka jalan bagi Mesir untuk melakukan reorientasi dan rekonstruksi politik

luar negeri yang independen. Menurutnya, politik luar negeri Mesir sebelum

pemerintahan Mursi lebih identik dengan kepentingan Amerika Serikat di Timur

Tengah. Oleh sebab itu, semenjak menjabat sebagai presiden, Mursi mencoba

untuk mengembalikan independensi dalam politik luar negeri Mesir. Langkah

Mursi tersebut diimplementasikan dengan melakukan hubungan intensif dengan

negara-negara di Timur Tengah dan Afrika.25

Penelitian yang dilakukan oleh Adhi Cahya Fahadayna melihat peranan

Ikhwanul Muslimin sebagai new religious movements yang membawa

unsur-unsur keagamaan terhadap isu Palestina-Israel. Dengan menjadikan agama

sebagai instrumen utama pergerakan, Ikhwanul Muslimin mampu mendominasi

politik Mesir setelah revolusi dan mampu memperoleh dukungan legitimasi dari

rakyat Mesir. Setelah itu, dalam kasus ini, Ikhwanul Muslimin juga berhasil

merubah orientasi kebijakan luar negeri Mesir Perubahan tersebut terlihat dari

sikap Mesir yang dengan tegas mendukung Palestina sebagai permanent observer

di PBB. Dengan demikian, dukungan tersebut mengindikasikan Mesir sudah tidak

sepenuhnya lagi tunduk pada perjanjian Camp David.26

(25)

15

Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Major Ehab Elsayed

Elhadad yang berjudul “The Egyptian Military’s Role In The 25 January

Revolution, And The Post-Revolution Impacts On Egypt’s Foreign Relations And Middle East Stability” dalam salah satu sub pembahasan menjelaskan tentang hubungan Mesir-Israel yang sudah terjalin sejak 1948 menunjukkan adanya

ketidakstabilan dan berada pada tingkat ketegangan yang tinggi.27 Hubungan

kedua negara tersebut ditengahi oleh AS yang berujung pada kesepakatan damai

melalui Perjanjian Camp David tahun 1979. Perjanjian tersebut membuat

hubungan kedua negara menjadi harmonis dalam bidang politik maupun ekonomi.

Menurut Major Ehab, setelah revolusi yang terjadi di Mesir pada tahun

2011 lalu, Israel mengalami kekhawatiran akan nasib dari perjanjian tersebut. Hal

ini disebabkan adanya pergantian rezim yang dihasilkan setelah revolusi, yaitu

berakhirnya rezim Mubarak dan terpilihnya Mursi sebagai presiden baru Mesir.

Kekhawatiran Israel terhadap status Perjanjian Camp David dalam pandangan

pemerintah yang baru berdasarkan pada tiga kategori, yaitu:

1. keinginan pemerintah Mesir untuk mengakhiri perjanjian tersebut,

2. keinginan pemerintah Mesir untuk merevisi beberapa poin dalam

perjanjian tersebut,

3. dan keinginan pemerinah Mesir untuk terus berkomitmen menjalani

perjanjian tersebut.28

27

Major Ehab Elsayed Elhadad, The Egyptian Military’s Role In The 25 January Revolution, And

The Post-Revolution Impacts On Egypt’s Foreign Relations And Middle East Stability, (Fort Leavenworth: Kansas, 2012), h. 62

(26)

16

Dalam tesis Major Ehab juga menjelaskan beberapa faktor yang

menyebabkan adanya upaya untuk mengakhiri Perjanjian Camp David.

Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Masalah pendudukan Israel di Palestina

2. Hubungan erat antara Ikhwanul Muslimin di Mesir dengan gerakan

pembebasan Palestina (PLO) dan gerakan anti-Israel; Hamas.

3. Masalah perbatasan Mesir-Israel di dataran tinggi Sinai.

4. Masalah blokade Israel terhadap kapal Mavi Marmara Turki yang

membawa bantuan untuk Palestina.29

Dari faktor-faktor tersebut, Major Ehab menilai permasalahan Israel

dengan Palestina menjadi permasalahan sensitif yang membuat opini publik di

Mesir mengarahkan pandangannya untuk mengakhiri perjanjian Camp David.

Selain itu, pandangan publik Mesir pula tertuju pada upaya untuk menciptakan

keamanan dan stabilitas di kawasan Timur Tengah yang selama ini terus berada

dalam ketegangan, khususnya dalam konflik Palestina-Israel.30

Berbeda dengan skripsi yang ditulis oleh Adhi Cahya Fahadayna (2011)

yang menyoroti hubungan Mesir-Israel melalui pengaruh Ikhwanul Muslimin

yang dipandang sebagai new religious movement, skripsi ini mencoba meyoroti

hubungan kedua negara melalui kerangka teoritis berupa konsep politik luar

negeri dan kebijakan luar negeri Mesir. Melalui konsep tersebut, skripsi ini

mencoba mengidentifikasi politik luar negeri Mesir dan berbagai faktor-faktor

(27)

17

yang mempengaruhinya, khususnya dalam hubungan bilateral dengan Israel tahun

2011-2013 (pada masa SCAF dan Mohammed Mursi).

Selain itu, perbedaan antara tesis yang ditulis oleh Major Ehab Elsayed

Elhadad dengan penelitian ini ialah terletak pada pembahasan mengenai sumber

dalam proses pengambilan kebijakan terhadap hubungan diplomatik Mesir dengan

Israel pada periode sebelum hingga sesudah revolusi Mesir. Pembahasan yang

terdapat pada tesis Major Ehab Elsayed Elhadad lebih menyoroti pada pergantian

rezim dan struktur kekuasaan di Mesir setelah diselenggarakannya pemilihan

umum setelah revolusi tahun 2011. Major Ehab lebih melihat pengaruh cara

pandang kelompok yang berkuasa – Ikhwanul Muslimin – dalam masalah

Palestina-Israel setelah berhasil meraih kekuasaan politik dominan di Mesir.

Berbeda dengan tesis Major Ehab, penelitian ini tidak hanya berfokus pada

masalah Palestina-Israel dan disertai dengan cara pandang ideologis Ikhwanul

Muslimin, melainkan juga mengidentifikasi secara umum langkah dan kebijakan

luar negeri Mesir terhadap Israel, dinamika hubungan bilateral Mesir-Israel

setelah revolusi 2011, dan disertai dengan orientasi politik luar negeri Mesir

setelah revolusi 2011.

F. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian

kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif

(28)

18

dari orang-orang yang diteliti.31 Dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan

data dapat melalui teknik wawancara mendalam, pengamatan partisipasi, bahan

dokumenter, serta teknik-teknik baru seperti teknik bahan visual serta teknik

penelusuran bahan internet.

Sementara itu, dalam penelitian ini skripsi ini menggunakan beberapa

teknik pengumpulan data kualitatif, antara lain teknik analisis bahan dokumenter,

yang terdiri dari berbagai jenis buku, jurnal ilmiah, media massa, serta penelitian

terdahulu berupa skripsi dan tesis. Dengan menggunakan teknik pengumpulan

data tersebut, seluruh data yang skripsi ini dapatkan diklasifikasikan ke dalam

jenis data sekunder.

Selain mengolah data sekunder, skripsi ini dilengkapi dengan

data-data primer yang bersumber dari berbagai jenis laporan yang terkait dengan

politik luar negeri Mesir setelah revolusi tahun 2011 terhadap Israel, serta

faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan berbagai jenis nota kesepahaman antara kedua

negara dalam menjalin hubungan diplomatik.

Semua sumber data tersebut dapat skripsi ini dapatkan dari beberapa

perpustakaan berbagai universitas, baik negeri maupun swasta, serta beberapa

perpustakaan dari lembaga penelitian dan lembaga pemerintahan yang terkait

dengan pembahasan penelitian ini. Selain itu, skripsi ini juga melakukan teknik

pengumpulan data dari berbagai hasil penelusuran di internet untuk mencari

berbagai informasi yang terkait dengan permasalahan yang dibahas dalam

penelitian ini.

31 Steven J. Taylor dan Robert Bogdan.

(29)

19 G.Sistematika Penulisan

Dalam penelitian ini merumuskan kerangka yang sistematis dan sesuai

dengan aturan yang berlaku di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun sistematika penelitian ini

adalah sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan

A. Pernyataan masalah

B. Pertanyaan penelitian

C. Tujuan penelitian dan manfaat penelitian

D. Tinjauan pustaka

E. Kerangka teori

F. Metode penelitian

G. Sistematika penulisan

Bab II Politik Luar Negeri Mesir Sebelum Revolusi tahun 2011

A. Gambaran Umum Orientasi Politik Luar Negeri Mesir

B. Orientasi Politik Luar Negeri Mesir Masa Kepemimpinan Hosni Mubarak

C. Politik Luar negeri Mesir Masa Kepemimpinan Hosni Mubarak

D. Sikap Israel terhadap Mesir

E. Opini Publik Mesir terhadap Politik Luar Negeri Mesir terhadap Israel

Bab III Politik Luar Negeri Mesir Setelah Revolusi Israel Tahun 2011: Studi

(30)

20

A. Politik Luar Negeri Mesir pada Masa Transisi di bawah Supreme Council

of Armed Forces (SCAF)

B. Politik Luar Negeri Mesir pada Masa Pemerintahan Mohammed Mursi

Bab IV Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Politik Luar Negeri Mesir terhadap

Israel tahun 2011-2013

A. Faktor Internal Mesir

1. Struktur Kekuasaan dan Pemerintahan

2. Geostrategik dan Geopolitik Mesir

3. Opini Publik Mesir terhadap Israel

B. Faktor Eksternal Mesir

1. Amerika Serikat

2. Uni Eropa

3. Iran

4. Hamas

5. Arab Saudi

6. Turki

Bab V Penutup

A. Kesimpulan

(31)

21

BAB II

Politik Luar Negeri Mesir Sebelum Revolusi 2011

Bab ini akan menjelaskan politik luar negeri Mesir dengan Israel sebelum

revolusi yang terjadi pada tahun 2011. Batasan waktu pembahasan dalam bab ini

ialah kondisi Mesir di bawah pemerintahan Hosni Mubarak (1981-2011). Fokus

pembahasan bab ini meliputi beberapa hal, antara lain: 1) gambaran umum

orientasi politik luar negeri Mesir, 2) orientasi politik luar negeri Mesir pada masa

pemerintahan Mubarak, 3) kebijakan luar negeri Mesir pada masa pemerintahan

Mubarak terhadap Israel, 4) opini publik terhadap Politik Luar Negeri Mubarak,

dan 5) Sikap Israel terhadap Mesir yang dipimpin oleh Mubarak.

Alasan utama bab ini membatasi periodisasi pembahasan politik luar

negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak ialah permulaan masa

pemerintahan Mubarak dimulai setelah meninggalnya Anwar Sadat, yang

merupakan salah satu tokoh yang menandatangani perjanjian Camp David pada

tahun 1979. Sejak awal menggantikan posisi Anwar Sadat sebagai presiden,

Mubarak langsung dihadapkan oleh pilihan untuk melanjutkan perjanjian Camp

David atau menghentikannya. Langkah yang diambil oleh Mubarak kemudian

menjadi salah satu faktor yang menunjukkan sikap dan orientasi politik luar negeri

Mesir. Hal tersebut ditambah lagi dengan posisi strategis Mesir di kawasan yang

menjadi pertimbangan dan modal dalam menentukan arah politik luar negeri di

(32)

22

1. Gambaran Umum Orientasi Politik Luar Negeri Mesir

Gamal Abdel Nasser dalam The Philosophy of Revolution (1955),

menyatakan bahwa orientasi politik luar negeri Mesir secara umum tidak dapat

dilepaskan oleh faktor historis semenjak revolusi tahun 1952. Terdapat tiga hal

yang menjadi dasar utama orientasi tersebut, yakni Arab, Afrika, dan Islam.32

Pada saat Nasser memimpin Mesir, semangat Nasionalisme Arab menjadi fokus

bagi Mesir untuk menjadi negara yang memiliki kekuatan dominan di

Timur-Tengah. Selain itu, dalam pergaulan internasional, Nasser berfokus untuk

membawa Mesir melakukan hubungan yang intensif dengan Uni Soviet dan Blok

Sosialis. Hal tersebut disebabkan dengan adanya semangat anti-Imprealisme yang

diusung oleh Nasser dalam rangka membangun Mesir dan Dunia Arab dari

penjajahan yang dilakukan oleh Barat33.

Akan tetapi, memasuki tahun 1970-an, yakni saat jabatan presiden Mesir

dipegang oleh Anwar Sadat dan selanjutnya Hosni Mubarak, politik luar negeri

Mesir sudah mulai mengalami pergeseran orientasi. Politik luar negeri Mesir saat

itu tidak lagi mengutamakan semangat menyatukan Negara-negara Arab,

melainkan cenderung lebih dekat dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan

Negara-negara Teluk34. Saat itu pula, Mesir mengadakan kerjasama di berbagai

32

Abdel Monem Said Aly, Post-Revolution Egyptian Foreign Policy, Crown Center of Middle East Studies No. 86 (November 2014), h. 1

33 Tianse,

Four Point Toward, h. 95

34 Said Aly,

(33)

23

bidang, seperti ekonomi, militer, dan keamanan dengan Jepang, Australia, dan

Kanada35.

Selanjutnya, pada periode ini pula Mesir memilih menjadi negara Arab

pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel yang berhasil

dikonfrontasi oleh AS. Perjanjian Camp David yang ditandatangani pada tahun

1979 oleh Anwar Sadat - selaku presiden Mesir - dan Menachem Begin - selaku

presiden Israel-, ini membuat hubungan antara Mesir dengan AS dan Israel terikat

dalam sebuah kesepakatan formal. Perjanjian ini kemudian dilanjutkan oleh Hosni

Mubarak, sebagai pengganti dari Anwar Sadat sebagai presiden Mesir. Dengan

memilih meneruskan Perjanjian Camp David tersebut, orientasi politik luar negeri

Mesir dinilai senantiasa melindungi kepentingan AS di Timur Tengah, khususnya

yang berkaitan dengan eksistensi Israel di kawasan Timur-Tengah.36

Dalam situasi demikian, politik luar negeri Mesir mengalami kemunduran

dari segi eksistensi sebagai representasi negara dunia ketiga.37 Namun, dari segi

eksistensi di berbagai forum internasional, Mesir masih memiliki daya tarik untuk

meraih dukungan dari Dunia Arab dan Afrika dalam organisasi internasional,

seperti Non-Aligment Movement (NAM), Organization of Islamic Conference

(OIC), dan African Union (AU). Hal tersebut berdasarkan pada upaya yang

dilakukan Mesir untuk menyatukan prinsip orientasi politik luar negeri Mesir itu

sendiri; Arab, Afrika, dan Islam.38 Selain itu, langkah tersebut merupakan cara

35 Ibid, h. 3 36Ashraf Khalil. “

Liberation Square: Inside the Egyptian Revolution and The Rebirth of A

Nation”. New York: St. Martin’s Press, hal. 21.

37 Said Aly,

Post-Revolution Egyptian, h.3

(34)

24

yang dilakukan oleh Pemerintah Mesir untuk dapat menarik kembali simpati dari

Negara-negara Arab yang telah mengucilkan Mesir setelah penandatanganan

Perjanjian Camp David dengan Israel.39

Berakhirnya kekuasaan Mubarak akibat revolusi tahun 2011 menyebabkan

orientasi politik luar negeri Mesir banyak diinterpretasikan mengalami perubahan.

Perubahan tersebut dilihat dari kelompok yang mendominasi struktur kekuasaan

Mesir setelah diadakannya pemilihan umum yang menjadikan Ikhwanul Muslimin

melalui sayap politiknya – Freedom and Justice Party (FJP) – sebagai

pemenang.40 Indikasi adanya pergeseran dalam orientasi politik luar negeri Mesir

lebih berdasarkan pada nilai-nilai ideologis Ikhwanul Muslimin yang

mempengaruhi cara pandang dan persepsi permasalahan yang terjadi di

lingkungan eksternal Mesir.41 Dengan demikian, Pemerintah Mesir dinilai lebih

mengakomodir kepentingan religiusitas dalam proses penetapan orientasi politik

luar negeri.

2. Politik Luar Negeri Mesir Masa Pemerintahan Mubarak

Sebagaimana yang dialami pemerintahan negara-negara Timur Tengah

pasca perang 1973, politik luar negeri Mesir menjadi salah satu perhatian yang

harus diutamakan oleh Mubarak. Bagi Mubarak, kepentingan nasional bagi Mesir

39 Tianse,

Four Point Toward, h.91

40 Muslim Brotherhood-backed candidate Morsi wins Egyptian presidential election”, June 24,

2012. Diakes melalui http://www.foxnews.com/world/2012/06/24/egypt-braces-for-announcement-president/#ixzz2QgHPWWF7 pada 17 April 2014

41 Said Aly,

(35)

25

merupakan pertimbangan utama dalam merumuskan kebijakan luar negeri Mesir

dan usaha mengawal posisi strategis Mesir di kawasan Timur-Tengah. Dengan

pertimbangan tersebut, Mesir memiliki orientasi tertentu untuk dapat memenuhi

tujuan dan kepentingan nasional dengan membangun kerangka kerjasama, baik

secara bilateral maupun multilateral. Selain itu, orientasi politik luar negeri Mesir

pada masa pemerintahan Mubarak tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai

permasalahan yang melibatkan Mesir dengan pihak-pihak di luar Mesir.

a. Konsisten terhadap Perjanjian Camp David

Sejak penandatanganan Perjanjian Camp David tahun 1979, Mesir terikat

kerjasama triparted dengan Israel dan AS. Sebagai inisiator perjanjian tersebut,

AS bersedia memberikan berbagai jenis bantuan finansial kepada Mesir.42

Kesediaan Mesir untuk mengikat diri dengan Perjanjian Camp David tersebut

mengindikasikan bahwa arah kebijakan luar negeri Mesir lebih condong kepada

kepentingan AS dan sekutunya di Timur-Tengah, yakni Israel.

Konsistensi pemerintah Mubarak dalam menjaga perjanjian dengan Israel

tersebut dipengaruhi oleh kepentingan untuk memenuhi kebutuhan nasional

Mesir. Akibat dari perjanjian ini, Mesir mendapatkan berbagai jenis bantuan

ekonomi, militer, dan persenjataan dari AS. Berdasarkan hasil laporan bagian

penelitian Kongres AS pada tanggal 27 Juni 2013 mengenai bantuan luar negeri

AS untuk Mesir Sejak tahun 1948 hingga 2011, Mesir telah menerima bantuan

dari AS sekitar $71,6 Milyar, termasuk di antaranya $1,3 Milyar untuk bantuan

(36)

26

militer Mesir pada tahun 1987. Bantuan dengan jumlah yang sama kembali Mesir

terima dari AS pada tahun 2008. Bantuan senilai $1,3 Milyar secara khusus

diberikan AS melalui persetujuan Kongres yang didistribusikan melalui Foreign

Military Financing (FMF), Economic Support Funds (ESF), dan International

Military Education and Training (IMET). 43

Selain dari bantuan pada bidang militer, Mesir juga menerima bantuan dari

AS untuk bidang ekonomi. Total bantuan yang diberikan AS untuk membantu

ekonomi Mesir sebesar $815 juta. Secara keseluruhan, total bantuan yang

diberikan AS kepada Mesir tiap tahun pada masa pemerintahan Mubarak

mencapai $2,1 Milyar.44 Lalu, berdasarkan data Washington Institute of Near East

Policy, bantuan yang diberikan ekonomi dan militer yang diberikan oleh AS

merupakan sebuah strategi yang disusun untuk mempertahankan perjanjian yang

melibatkan Mesir dengan Israel. Strategi tersebut merupakan upaya mencapai dan

mempertahankan kepentingan nasional AS di Timur Tengah.45

Perjanjian Camp David memberikan dampak jangka panjang bagi

hubungan antara Mesir dengan Israel dan AS. Sejak ditandatangani pada tahun

1979, Mesir menjadi partner strategis bagi AS di Timur Tengah, khususnya dalam

upaya rekonstruksi hubungan negara-negara Arab dengan Israel. AS menilai

pemerintahan Mesir menjunjung tinggi nilai-nilai moderat dan fokus pada upaya

43

Sharp, Egypt: Background, h.9. 44

Meita, Domestic Challenges, h.7

45 Khalil,

(37)

27

stabilisasi kawasan, sehingga cocok dengan kebutuhan AS dalam

mempertahankan kepentingan di Timur Tengah.46

Upaya yang dilakukan Mesir di bawah pemerintahan Mubarak ini pula

turut memberikan dampak positif bagi citra Mesir di dunia internasional sebagai

negara pelopor stabilitas dan keamanan regional. Selain itu, perjanjian Camp

David dalam pandangan pemerintah Mesir memberikan kebutuhan dasar atas

berbagai kebijakan, baik itu kebijakan dalam negeri, maupun kebijakan dalam

negeri. Pemerintah Mesir di bawah pimpinan Mubarak menyadari pentingnya

bantuan yang diberikan oleh AS akibat dari perjanjian damai dengan Israel.

Pemerintah Mubarak meyakini bantuan yang diberikan oleh AS akan terus

diberikan selama digunakan untuk memperkuat posisi Mesir di regional dan terus

mempertahankan kelanjutan perjanjian damai dengan Israel.47

b. Melindungi kepentingan Negara-negara Arab

Selain bertujuan mencapai kepentingan nasionalnya sendiri, Mesir juga

memiliki orientasi politik luar negeri yang bertujuan melindungi kepentingan

negara lain yang berada di kawasan Timur-Tengah, khususnya

negara-negara Arab. Fokus permasalahan yang berada di negara-negara-negara-negara Arab ini ialah

konflik Israel-Palestina. Sebagai wujud komitmen terhadap kepentingan

negara-negara Arab, Mesir senantiasa mendukung Palestina dalam berbagai upaya

46Samuel J. Spector, “Washington and Cairo: Near theBreaking Point?”

Middle East Quarterly

12, no. 3 (2005), 11.

47 Fillinger.

(38)

28

perundingan damai dengan Israel dan tidak segan pula untuk memberikan tekanan

terhadap Israel. 48

Langkah yang dilakukan Mesir dalam mewujudkan orientasi politik luar

negeri yang melindungi kepentingan negara-negara Arab juga terlihat dari adanya

upaya mediasi yang dipelopori oleh Mesir terhadap berbagai permasalahan yang

berkaitan dengan berbagai pihak di negara-negara Arab tersebut. Peran sebagai

mediator tersebut merupakan simbol bagi upaya Mesir meraih kembali legitimasi

sebagai great power dan memperbaiki citra di hadapan negara-negara Arab pasca

penandatanganan perjanjian damai oleh Mesir dan Israel.49

Dalam praktiknya, upaya mencapai orientasi politik luar negeri di atas

seringkali berbenturan dengan kepentingan nasional Mesir itu sendiri. Salah satu

contohnya ialah masalah proteksi yang dilakukan Mesir di Semenanjung Sinai.50

Mesir memiliki kebijakan sendiri terhadap pengamanan di wilayah yang

berbatasan langsung dengan Israel tersebut. Dalam pandangan Mesir, tidak ada

lagi pengakuan, perdamaian, dan perundingan apabila Israel melanggar perjanjian

di perbatasan kedua negara tersebut. Upaya tersebut secara berbeda ditanggapi

oleh negara-negara Arab yang menyatakan langkah sepihak tersebut dapat

menimbulkan kerugian yang besar bagi negara-negara Arab. Hal ini dapat

(39)

29

mengakibatkan terulangnya konflik antara negara Arab dengan Israel pada masa

silam.51

Namun menyadari adanya potensi benturan tersebut, terdapat langkah

preventif yang dilakukan oleh Mesir. Salah satunya ialah Mesir menegaskan untuk

mempertahankan perjanjian damai dengan Israel di saat negara-negara Arab

menolak eksistensi Israel.52 Selain itu, Mesir berupaya menyeimbangkan posisi

antara kepentingan nasional dengan kepentingan negara-negara Arab. Langkah ini

penting dilakukan dalam implementasi politik luar negeri Mesir, karena apabila

terjadi benturan antara kedua kepentingan tersebut akan menimbulkan efek yang

buruk bagi Mesir dan juga bagi negara-negara Arab.53

c. Memperbaiki citra Mesir di kawasan

Pasca penandatanganan perjanjian damai antara Mesir dengan Israel,

negara-negara Arab bersikap antipati terhadap Mesir. Mesir mendapat . Keadaan

tersebut coba diperbaiki oleh Mubarak dengan menerapkan politik luar negeri

yang lebih adaptif dengan kondisi eksternal Mesir. Salah satu langkah yang

dilakukan oleh Mubarak yaitu bersikap dingin terhadap Israel dan menempatkan

hubungan dengan Israel berada pada level terendah.54

Langkah yang dilakukan oleh Mubarak tersebut didasarkan pula pada

keinginan untuk membawa Mesir kembali menjadi kekuatan utama di kawasan.

Yang, H. and Zhu, K., National Conflicts and Religious Disputes: The history of Hotspot Issues in Contemporary Middle East (Beijing: People’s Publishing House,1996), h.86

54 Tianshe.

(40)

30

Dengan modal persepsi sebagai negara yang moderat dan stabil, Mubarak

menempatkan keamanan dan stabilitas kawasan sebagai prioritas. 55 Selanjutnya,

Mubarak membawa Mesir untuk memiliki peranan terhadap berbagai

permasalahan yang terjadi di kawasan, khususnya yang melibatkan negara-negara

Arab.56

3. Sikap Israel terhadap Mesir pada Masa Pemerintahan Mubarak

Dalam setiap pelaksanaan politik luar negeri suatu negara, dapat

dipastikan akan mendapat respon dari pihak lain di luar batas teritorial negara

tersebut. Hal ini juga ditunjukkan oleh Israel dalam merespon politik luar negeri

yang dijalankan oleh Mesir pada masa pemerintahan Mubarak. Israel merupakan

pihak yang terlindungi dengan adanya intervensi AS dalam keberlangsungan

perjanjian Camp David antara Mesir dengan Israel. Orientasi politik luar negeri

Mubarak yang memilih untuk menjaga perjanjian damai tersebut semakin

menambah legitimasi Israel dalam mempertahankan eksistensi di Timur-Tengah.

Namun, di lain sisi terdapat hal yang kontradiktif dalam kontinuitas

perdamaian antara Mesir dan Israel pada masa pemerintahan Mubarak yang

didasari oleh Perjanjian Camp David. Dari perspektif Israel, kontinuitas dari

perjanjian tersebut tidak membawa kedua negara pada perdamaian yang

seutuhnya. Selanjutnya, perjanjian ini membuat hubungan kedua negara semakin

55

Mahmoud Muhareb, Israel and Egypt Revolution, Arab Center for Research & Policy Studies Case Analysis, Doha (May, 2011), hal 4

(41)

31

kompleks, khususnya yang berkaitan dengan status, peran, dan pengaruh

keduanya dalam konstelasi politik dan keamanan di Timur-Tengah.57

Israel menyiapkan berbagai strategi antisipatif untuk menghadapi

probabilitas dalam menjalani hubungan bilateral dengan Mesir. Strategi yang

dibuat oleh Israel antara lain: 1) memperkuat kapabilitas militer, 2) melakukan

monopoli dalam program proliferasi senjata nuklir, 3) meningkatkan kapabilitas

ekonomi, 4) menyatukan posisi politik dalam masalah keamanan nasional, yakni

menjadikan militer sebagai pemeran utama dalam formulasi tujuan nasional dan

memobilisasi massa untuk mendukung setiap pergerakan yang dilakukan militer,

serta 5) memperkuat hubungan bilateral dengan AS, karena AS merupakan

pendukung utama eksistensi Israel di wilayah Timur-Tengah dengan berbagai

bantuan yang diberikan, seperti bantuan sekonomi, politik, dan militer.58

Berdasarkan pertimbangan power dan kapabilitas, Israel berhasil

mereduksi posisi Mesir dalam level regional dan di antara negara-negara Arab.

Setelah berhasil mereduksi peran Mesir tersebut, Israel merancang agenda politik

luar negeri yang diarahkan untuk permasalahan utama di kawasan, yakni konflik

Palestina-Israel. Israel berhasil melakukan cara untuk merubah Mesir menjadi

negara yang sejalan dengan agenda politik luar negeri Israel terhadap masalah

utama tersebut dan masalah-masalah lain di kawasan. Cara yang dilakukan oleh

57 Ibid, hal 1 58 Sharp,

(42)

32

Israel ialah dengan sandiwara mediasi konflik, perang melawan terorisme, dan

konfrontasi dengan kelompok Islamis-Ekstrimis.59

Di balik semua kontradiksi yang terjadi antara Mesir dengan Israel,

terdapat sebuah apresiasi tinggi yang diberikan Israel kepada Mesir. Apresiasi

tersebut ditujukan atas konsistensi Mesir menjaga perjanjian damai dengan Israel

dan menjadi mitra strategis bagi Israel di kawasan. Selain itu, dalam pandangan

Israel, Mesir merupakan negara yang berjasa atas pemenuhan kebutuhan gas

nasional Israel. Selain itu, Mesir juga telah berhasil menjamin stabilitas dan

keamanan Israel di kawasan. Dengan jaminan yang diberikan oleh Mesir tersebut,

Israel berhasil mengurangi beban anggaran yang dialokasikan untuk pertahanan

dan keamanan, khususnya anggaran dalam bidang militer.

Dalam pandangan Israel, Hosni Mubarak merupakan orang yang paling

berjasa dengan adanya kontinuitas perjanjian damai antara Mesir dengan Israel.

Salah satu penyebabnya ialah masa jabatan Mubarak yang lama (1981-2011).

Bagi Israel sendiri, hal tersebut merupakan sebuah keuntungan, mengingat sosok

Mubarak memiliki power yang kuat dalam sistem pemerintahan Mesir dan dalam

lingkup politik internasional. Faktor lain yang membuat Israel dapat terus

menunjukkan eksistensi di Timur-Tengah juga tidak terlepas dari sistem

pemerintahan dibentuk oleh Mesir. Meskipun Mubarak menyebut Mesir sebagai

negara yang demokratis, namun pada realitanya sangat berbeda. Pada masa

pemerintahan Mubarak, Mesir lebih melekat dengan sistem pemerintahan tirani

tersebut kemudian muncul penguasa yang korup disertai dengan orang-orang yang

59 Mahmoud Muhareb

(43)

33

loyal di sekitarnya.60 Dengan demikian, Israel berhasil melihat sebuah celah yang

dapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk meraih legitimasi dari Mesir, karena

sentral dari segala kebijakan dalam politik luar negeri Mesir berada di tangan

Mubarak.

Secara umum, perjanjian damai dengan Mesir dijadikan sebuah landasan

bagi Israel untuk menahan diri dari peperangan dengan negara-negara di kawasan

– terlepas dari Intifada dan beberapa perang lainnya.61 Dengan berlandaskan

perjanjian damai tersebut, Israel dapat lebih menentukan skala prioritas dalam

masalah keamanan dan stabilitas di Timur-Tengah. Israel dapat mempersiapkan

kondisi dan kapabilitas militer yang dimiliki dan dapat melakukan kalkulasi

terhadap langkah strategis yang diambil dalam menyikapi tendensi yang terjadi di

kawasan. 62

4. Opini Publik terhadap Politik Luar Negeri Mubarak

Kontinuitas perjanjian damai antara Mesir dengan Israel tidak terlepas dari

tanggapan berbagai pihak. Tanggapan dari berbagai pihak tersebut terbagi

menjadi dua, yakni pihak yang setuju dan mendukung kontinuitas perjanjian

damai tersebut, dan pihak yang tidak setuju dan menolak hal tersebut. Selain itu,

tanggapan yang muncul dari politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan

60

Ibid, hal.2

61

Ibid

62 Elie Podeh and Nimrod Goren, “Israel in the Wake of the Arab Spring: Seizing Opportunities,

(44)

34

Mubarak ini mencakup opini dari dalam negeri Mesir, maupun dari luar negeri

Mesir.

a. Opini di dalam negeri Mesir

Dari dalam negeri Mesir, opini pro dan kontra yang muncul akibat

kebijakan politik luar negeri pemerintahan Mubarak ini berasal dari berbagai

kelompok. Dari pihak yang pro antara lain ialah militer Mesir. Hal yang

menyebabkan pihak militer mendukung langkah yang diambil oleh Mubarak ialah

adanya akses lebih bagi militer dalam menempati posisi strategis di dalam sistem

pemerintahan Mesir.63 Selain itu, dengan kebijakan Mubarak ini, militer Mesir

mendapatkan efek langsung berupa bantuan senilai $ 1,3 miliar per tahun dari

AS.64

Hal yang berbeda ditunjukkan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin.

Kelompok ini merupakan pihak yang paling keras dalam menentang eksistensi

Israel di Timur Tengah, khususnya di tanah Palestina. Ikhwanul Muslimin menilai

bahwa perjanjian damai dengan Israel merupakan sebuah degradasi bagi Mesir

yang membiarkan pihak asing melakukan intervensi terhadap Mesir.65 Intervensi

yang dimaksud oleh Ikhwanul Muslimin ialah adanya pengaruh dan dukungan AS

dalam perjanjian tersebut.

Sharp, Egypt: Background and U.S. Relations, hal. 9

65 Benny Morris.

(45)

35

Salah satu hal yang disoroti dari efek perjanjian ini ialah ekspor gas alam

Mesir ke Israel. Ikhwanul Muslimin menilai ekspor gas alam ini merupakan salah

satu potensi tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan pada

masa Mubarak.66 Selain itu, menurut survei yang dilakukan oleh Synovate

Research and Poll pada bulan Oktober 2011, sebanyak 73 persen masyarakat

Mesir menolak ekspor gas yang dilakukan Mesir ke Israel dan hanya 9 persen

masyarakat Mesir yang menyetujuinya.67 Dengan melihat gelombang opini publik

terhadap masalah ekspor gas ini, dapat memperbesar kemungkinan bagi Mesir

untuk menghentikan kebijakan ini.

b. Opini di luar negeri Mesir

Situasi yang tidak jauh berbeda terlihat pada opini di dalam negeri Mesir

dengan opini di luar negeri Mesir. Terdapat pula pihak yang pro dan kontra

terhadap politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak ini. Pihak

asing yang pro terhadap langkah yang diambil oleh Mubarak ini ialah AS.

Kepastian dukungan yang diberikan AS ini dapat dilihat dari peran AS sebagai

inisiator dalam perjanjian ini. Selain itu, AS bersedia memberikan bantuan

ekonomi, politik, dan militer bagi Mesir dengan persyaratan tetap

mempertahankan perjanjian damai dengan Israel.68

Sedangkan dari pihak yang kontra dari politik luar negeri Mesir masa

pemerintahan Mubarak ini adalah negara-negara Arab atau secara institusi formal

tergabung dalam Liga Arab (League of Arab). Akibat dari perjanjian damai

66

Sharnoff, Post-Mubarak Egyptian, hal. 3

67 Jacoby. Israel’s Relations, hal. 31 68 Sharp,

(46)

36

dengan Israel ini, Liga Arab pernah mengeluarkan Mesir dari status

keanggotaan.69 Mesir pun dikucilkan dari pergaulan internasional dan dianggap

telah mencederai perjuangan negara-negara Arab dalam mencapai kepentingan

bersama, yakni keamanan dan stabilitas regional. Selain itu, masalah utama yang

menjadi sorotan negara-negara Arab dari efek perjanjian damai Mesir dengan

Israel ialah masalah konflik Palestina dengan Israel.70 Situasi negara-negara Arab

dalam kasus tersebut untuk membantu membebaskan Palestina dari okupasi yang

dilakukan oleh Israel. Namun, dengan adanya perjanjian damai dengan Israel,

Mesir dianggap telah merubah orientasi dukungannya kepada Israel.

69 Tianshe.

Four Points toward, h.89

(47)

37

BAB III

POLITIK LUAR NEGERI MESIR SETELAH REVOLUSI 2011: STUDI

HUBUNGAN BILATERAL MESIR-ISRAEL TAHUN 2011-2013

Pada bab ini akan menjelaskan politik luar negeri Mesir setelah revolusi

yang terjadi pada tahun 2011 hingga tahun 2013. Batasan tahun terakhir dalam

pembahasan bab ini ialah masa pemerintahan Mohammed Mursi, yang berakhir

pada bulan Juni 2013. Sebelumnya bab ini akan terlebih dahulu membahas politik

luar negeri Mesir pada masa pemerintahan transisi - setelah berakhirnya

kekuasaan presiden Hosni Mubarak - di bawah Supreme Council of Armed Forces

(SCAF) yang dipimpin oleh Marshall Hussein Tantawi. Dari dua masa

pemerintahan setelah revolusi tersebut, bab ini akan memberikan gambaran terkait

dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh masing-masing rezim, khususnya

yang berkaitan dengan hubungan bilateral dengan Israel dan kepentingan nasional

yang hendak dicapai oleh Mesir dari lingkungan eksternal, baik pada level

regional maupun internasional.

A.Politik Luar Negeri Mesir Masa Transisi di bawah Kepemimpinan SCAF

1. Eksistensi SCAF di Mesir pada Revolusi Tahun 2011

Supreme Council of Armed Forces (SCAF) atau Dewan Tinggi Angkatan

Bersenjata Mesir merupakan lembaga yang mengambil alih pemerintahan transisi

Mesir pasca berakhirnya kekuasaan Mubarak pasca revolusi tahun 2011 silam.

Gambar

Table of U.S. Foreign Assistance to Egypt ($ in millions)

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini ditulis dengan judul Perjuangan Politik Al-Ikhwan Al-Muslimun Dalam Melawan Rezim Otorianisme di Mesir Pada Era Husni Mubarak (1981-2011).. Tujuan penulisan skripsi

Ada dua hal penting yang disebutkan Washington yang berkaitan dengan arah kebijakan luar negeri, pertama harapan agar Amerika Serikat sebagai negara baru untuk tidak terlibat

Keputusan itu ditandai dengan perbedaan politik luar negeri terhadap Kurdi yang berupa: - Pertama, sikap Israel terhadap kelompok Kurdi KRG adalah bentuk aliansi periphery,

Memperkaya penulisan sejarah politik Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan negara lain, dalam hal ini adalah Amerika Serikat (AS) yang dilatarbelakangi

Kepemimpinan Rafael Correa juga membawa kondisi politik luar negeri Ekuador muncul sebagai negara yang aktif dalam menjalin hubungan bilateral dengan banyak negara

Salah satu ciri-ciri kajian baru, berbeda dengan tiga pendekatan tadi, menekankan kepada sumber-sumber politik luar negeri dan bagaimana proses modernisasi dan

Analisis Pengaruh Identitas Terhadap Kebijakan Luar Negeri Israel Setelah melewati berbagai hal dan pada akhirnya berhasil mendirikan sebuah negara, membuat bangsa Yahudi

Atas hal tersebut tergambarkan dengan jelas pada saat pilgub Gorontalo, khususnya etnis Arab, dalam mengambil sikap politik berbentuk partisipasi konvensional yang