A. Gambaran Umum Orientasi Politik Luar Negeri Mesir
B. Orientasi Politik Luar Negeri Mesir Masa Kepemimpinan Hosni Mubarak
C. Politik Luar negeri Mesir Masa Kepemimpinan Hosni Mubarak
D. Sikap Israel terhadap Mesir
E. Opini Publik Mesir terhadap Politik Luar Negeri Mesir terhadap Israel
Bab III Politik Luar Negeri Mesir Setelah Revolusi Israel Tahun 2011: Studi Hubungan Bilateral Mesir-Israel 2011-2013
20
A. Politik Luar Negeri Mesir pada Masa Transisi di bawah Supreme Council
of Armed Forces (SCAF)
B. Politik Luar Negeri Mesir pada Masa Pemerintahan Mohammed Mursi
Bab IV Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Politik Luar Negeri Mesir terhadap Israel tahun 2011-2013
A. Faktor Internal Mesir
1. Struktur Kekuasaan dan Pemerintahan
2. Geostrategik dan Geopolitik Mesir
3. Opini Publik Mesir terhadap Israel
B. Faktor Eksternal Mesir
1. Amerika Serikat 2. Uni Eropa 3. Iran 4. Hamas 5. Arab Saudi 6. Turki Bab V Penutup A. Kesimpulan B. Saran-saran
21
BAB II
Politik Luar Negeri Mesir Sebelum Revolusi 2011
Bab ini akan menjelaskan politik luar negeri Mesir dengan Israel sebelum revolusi yang terjadi pada tahun 2011. Batasan waktu pembahasan dalam bab ini ialah kondisi Mesir di bawah pemerintahan Hosni Mubarak (1981-2011). Fokus pembahasan bab ini meliputi beberapa hal, antara lain: 1) gambaran umum orientasi politik luar negeri Mesir, 2) orientasi politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak, 3) kebijakan luar negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak terhadap Israel, 4) opini publik terhadap Politik Luar Negeri Mubarak, dan 5) Sikap Israel terhadap Mesir yang dipimpin oleh Mubarak.
Alasan utama bab ini membatasi periodisasi pembahasan politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak ialah permulaan masa pemerintahan Mubarak dimulai setelah meninggalnya Anwar Sadat, yang merupakan salah satu tokoh yang menandatangani perjanjian Camp David pada tahun 1979. Sejak awal menggantikan posisi Anwar Sadat sebagai presiden, Mubarak langsung dihadapkan oleh pilihan untuk melanjutkan perjanjian Camp David atau menghentikannya. Langkah yang diambil oleh Mubarak kemudian menjadi salah satu faktor yang menunjukkan sikap dan orientasi politik luar negeri Mesir. Hal tersebut ditambah lagi dengan posisi strategis Mesir di kawasan yang menjadi pertimbangan dan modal dalam menentukan arah politik luar negeri di bawah kepemimpinan Mubarak.
22
1. Gambaran Umum Orientasi Politik Luar Negeri Mesir
Gamal Abdel Nasser dalam The Philosophy of Revolution (1955),
menyatakan bahwa orientasi politik luar negeri Mesir secara umum tidak dapat dilepaskan oleh faktor historis semenjak revolusi tahun 1952. Terdapat tiga hal
yang menjadi dasar utama orientasi tersebut, yakni Arab, Afrika, dan Islam.32
Pada saat Nasser memimpin Mesir, semangat Nasionalisme Arab menjadi fokus bagi Mesir untuk menjadi negara yang memiliki kekuatan dominan di Timur-Tengah. Selain itu, dalam pergaulan internasional, Nasser berfokus untuk membawa Mesir melakukan hubungan yang intensif dengan Uni Soviet dan Blok Sosialis. Hal tersebut disebabkan dengan adanya semangat anti-Imprealisme yang diusung oleh Nasser dalam rangka membangun Mesir dan Dunia Arab dari
penjajahan yang dilakukan oleh Barat33.
Akan tetapi, memasuki tahun 1970-an, yakni saat jabatan presiden Mesir dipegang oleh Anwar Sadat dan selanjutnya Hosni Mubarak, politik luar negeri Mesir sudah mulai mengalami pergeseran orientasi. Politik luar negeri Mesir saat itu tidak lagi mengutamakan semangat menyatukan Negara-negara Arab, melainkan cenderung lebih dekat dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan
Negara-negara Teluk34. Saat itu pula, Mesir mengadakan kerjasama di berbagai
32
Abdel Monem Said Aly, Post-Revolution Egyptian Foreign Policy, Crown Center of Middle East Studies No. 86 (November 2014), h. 1
33 Tianse,
Four Point Toward, h. 95
34 Said Aly,
23
bidang, seperti ekonomi, militer, dan keamanan dengan Jepang, Australia, dan
Kanada35.
Selanjutnya, pada periode ini pula Mesir memilih menjadi negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel yang berhasil dikonfrontasi oleh AS. Perjanjian Camp David yang ditandatangani pada tahun 1979 oleh Anwar Sadat - selaku presiden Mesir - dan Menachem Begin - selaku presiden Israel-, ini membuat hubungan antara Mesir dengan AS dan Israel terikat dalam sebuah kesepakatan formal. Perjanjian ini kemudian dilanjutkan oleh Hosni Mubarak, sebagai pengganti dari Anwar Sadat sebagai presiden Mesir. Dengan memilih meneruskan Perjanjian Camp David tersebut, orientasi politik luar negeri Mesir dinilai senantiasa melindungi kepentingan AS di Timur Tengah, khususnya
yang berkaitan dengan eksistensi Israel di kawasan Timur-Tengah.36
Dalam situasi demikian, politik luar negeri Mesir mengalami kemunduran
dari segi eksistensi sebagai representasi negara dunia ketiga.37 Namun, dari segi
eksistensi di berbagai forum internasional, Mesir masih memiliki daya tarik untuk meraih dukungan dari Dunia Arab dan Afrika dalam organisasi internasional, seperti Non-Aligment Movement (NAM), Organization of Islamic Conference (OIC), dan African Union (AU). Hal tersebut berdasarkan pada upaya yang dilakukan Mesir untuk menyatukan prinsip orientasi politik luar negeri Mesir itu
sendiri; Arab, Afrika, dan Islam.38 Selain itu, langkah tersebut merupakan cara
35 Ibid, h. 3
36Ashraf Khalil. “Liberation Square: Inside the Egyptian Revolution and The Rebirth of A
Nation”. New York: St. Martin’s Press, hal. 21.
37 Said Aly,
Post-Revolution Egyptian, h.3
24
yang dilakukan oleh Pemerintah Mesir untuk dapat menarik kembali simpati dari Negara-negara Arab yang telah mengucilkan Mesir setelah penandatanganan
Perjanjian Camp David dengan Israel.39
Berakhirnya kekuasaan Mubarak akibat revolusi tahun 2011 menyebabkan orientasi politik luar negeri Mesir banyak diinterpretasikan mengalami perubahan. Perubahan tersebut dilihat dari kelompok yang mendominasi struktur kekuasaan Mesir setelah diadakannya pemilihan umum yang menjadikan Ikhwanul Muslimin
melalui sayap politiknya – Freedom and Justice Party (FJP) – sebagai
pemenang.40 Indikasi adanya pergeseran dalam orientasi politik luar negeri Mesir
lebih berdasarkan pada nilai-nilai ideologis Ikhwanul Muslimin yang mempengaruhi cara pandang dan persepsi permasalahan yang terjadi di
lingkungan eksternal Mesir.41 Dengan demikian, Pemerintah Mesir dinilai lebih
mengakomodir kepentingan religiusitas dalam proses penetapan orientasi politik luar negeri.
2. Politik Luar Negeri Mesir Masa Pemerintahan Mubarak
Sebagaimana yang dialami pemerintahan negara-negara Timur Tengah pasca perang 1973, politik luar negeri Mesir menjadi salah satu perhatian yang harus diutamakan oleh Mubarak. Bagi Mubarak, kepentingan nasional bagi Mesir
39 Tianse,
Four Point Toward, h.91
40 “Muslim Brotherhood-backed candidate Morsi wins Egyptian presidential election”, June 24, 2012. Diakes melalui http://www.foxnews.com/world/2012/06/24/egypt-braces-for-announcement-president/#ixzz2QgHPWWF7 pada 17 April 2014
41 Said Aly,
25
merupakan pertimbangan utama dalam merumuskan kebijakan luar negeri Mesir dan usaha mengawal posisi strategis Mesir di kawasan Timur-Tengah. Dengan pertimbangan tersebut, Mesir memiliki orientasi tertentu untuk dapat memenuhi tujuan dan kepentingan nasional dengan membangun kerangka kerjasama, baik secara bilateral maupun multilateral. Selain itu, orientasi politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang melibatkan Mesir dengan pihak-pihak di luar Mesir.
a. Konsisten terhadap Perjanjian Camp David
Sejak penandatanganan Perjanjian Camp David tahun 1979, Mesir terikat
kerjasama triparted dengan Israel dan AS. Sebagai inisiator perjanjian tersebut,
AS bersedia memberikan berbagai jenis bantuan finansial kepada Mesir.42
Kesediaan Mesir untuk mengikat diri dengan Perjanjian Camp David tersebut mengindikasikan bahwa arah kebijakan luar negeri Mesir lebih condong kepada kepentingan AS dan sekutunya di Timur-Tengah, yakni Israel.
Konsistensi pemerintah Mubarak dalam menjaga perjanjian dengan Israel tersebut dipengaruhi oleh kepentingan untuk memenuhi kebutuhan nasional Mesir. Akibat dari perjanjian ini, Mesir mendapatkan berbagai jenis bantuan ekonomi, militer, dan persenjataan dari AS. Berdasarkan hasil laporan bagian penelitian Kongres AS pada tanggal 27 Juni 2013 mengenai bantuan luar negeri
AS untuk Mesir Sejak tahun 1948 hingga 2011, Mesir telah menerima bantuan
dari AS sekitar $71,6 Milyar, termasuk di antaranya $1,3 Milyar untuk bantuan
42 Eric Fillinger, “Mubarak Matters: The Foreign Policy of Egypt Under Hosni Mubarak”,School of International Service American University (2009), hal. 4
26
militer Mesir pada tahun 1987. Bantuan dengan jumlah yang sama kembali Mesir terima dari AS pada tahun 2008. Bantuan senilai $1,3 Milyar secara khusus diberikan AS melalui persetujuan Kongres yang didistribusikan melalui Foreign Military Financing (FMF), Economic Support Funds (ESF), dan International
Military Education and Training (IMET). 43
Selain dari bantuan pada bidang militer, Mesir juga menerima bantuan dari AS untuk bidang ekonomi. Total bantuan yang diberikan AS untuk membantu ekonomi Mesir sebesar $815 juta. Secara keseluruhan, total bantuan yang diberikan AS kepada Mesir tiap tahun pada masa pemerintahan Mubarak
mencapai $2,1 Milyar.44 Lalu, berdasarkan data Washington Institute of Near East
Policy, bantuan yang diberikan ekonomi dan militer yang diberikan oleh AS merupakan sebuah strategi yang disusun untuk mempertahankan perjanjian yang melibatkan Mesir dengan Israel. Strategi tersebut merupakan upaya mencapai dan
mempertahankan kepentingan nasional AS di Timur Tengah.45
Perjanjian Camp David memberikan dampak jangka panjang bagi hubungan antara Mesir dengan Israel dan AS. Sejak ditandatangani pada tahun 1979, Mesir menjadi partner strategis bagi AS di Timur Tengah, khususnya dalam upaya rekonstruksi hubungan negara-negara Arab dengan Israel. AS menilai pemerintahan Mesir menjunjung tinggi nilai-nilai moderat dan fokus pada upaya
43
Sharp, Egypt: Background, h.9. 44
Meita, Domestic Challenges, h.7
45 Khalil,
27
stabilisasi kawasan, sehingga cocok dengan kebutuhan AS dalam
mempertahankan kepentingan di Timur Tengah.46
Upaya yang dilakukan Mesir di bawah pemerintahan Mubarak ini pula turut memberikan dampak positif bagi citra Mesir di dunia internasional sebagai negara pelopor stabilitas dan keamanan regional. Selain itu, perjanjian Camp David dalam pandangan pemerintah Mesir memberikan kebutuhan dasar atas berbagai kebijakan, baik itu kebijakan dalam negeri, maupun kebijakan dalam negeri. Pemerintah Mesir di bawah pimpinan Mubarak menyadari pentingnya bantuan yang diberikan oleh AS akibat dari perjanjian damai dengan Israel. Pemerintah Mubarak meyakini bantuan yang diberikan oleh AS akan terus diberikan selama digunakan untuk memperkuat posisi Mesir di regional dan terus
mempertahankan kelanjutan perjanjian damai dengan Israel.47
b. Melindungi kepentingan Negara-negara Arab
Selain bertujuan mencapai kepentingan nasionalnya sendiri, Mesir juga memiliki orientasi politik luar negeri yang bertujuan melindungi kepentingan negara lain yang berada di kawasan Timur-Tengah, khususnya negara-negara Arab. Fokus permasalahan yang berada di negara-negara-negara-negara Arab ini ialah konflik Israel-Palestina. Sebagai wujud komitmen terhadap kepentingan negara-negara Arab, Mesir senantiasa mendukung Palestina dalam berbagai upaya
46Samuel J. Spector, “Washington and Cairo: Near theBreaking Point?” Middle East Quarterly
12, no. 3 (2005), 11.
47 Fillinger.
28
perundingan damai dengan Israel dan tidak segan pula untuk memberikan tekanan
terhadap Israel. 48
Langkah yang dilakukan Mesir dalam mewujudkan orientasi politik luar negeri yang melindungi kepentingan negara-negara Arab juga terlihat dari adanya upaya mediasi yang dipelopori oleh Mesir terhadap berbagai permasalahan yang berkaitan dengan berbagai pihak di negara-negara Arab tersebut. Peran sebagai mediator tersebut merupakan simbol bagi upaya Mesir meraih kembali legitimasi
sebagai great power dan memperbaiki citra di hadapan negara-negara Arab pasca
penandatanganan perjanjian damai oleh Mesir dan Israel.49
Dalam praktiknya, upaya mencapai orientasi politik luar negeri di atas seringkali berbenturan dengan kepentingan nasional Mesir itu sendiri. Salah satu
contohnya ialah masalah proteksi yang dilakukan Mesir di Semenanjung Sinai.50
Mesir memiliki kebijakan sendiri terhadap pengamanan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Israel tersebut. Dalam pandangan Mesir, tidak ada lagi pengakuan, perdamaian, dan perundingan apabila Israel melanggar perjanjian di perbatasan kedua negara tersebut. Upaya tersebut secara berbeda ditanggapi oleh negara-negara Arab yang menyatakan langkah sepihak tersebut dapat menimbulkan kerugian yang besar bagi negara-negara Arab. Hal ini dapat
48 Tianshe.
Four Points towards, h. 90
49
Ibid
50
Gabi siboni and ram Ben-Barak, “The Sinai Peninsula Threat Development and Response Concept”, Analysis Paper The Institute For National Security Studies Number31, January 2014, h.1
29
mengakibatkan terulangnya konflik antara negara Arab dengan Israel pada masa silam.51
Namun menyadari adanya potensi benturan tersebut, terdapat langkah preventif yang dilakukan oleh Mesir. Salah satunya ialah Mesir menegaskan untuk mempertahankan perjanjian damai dengan Israel di saat negara-negara Arab
menolak eksistensi Israel.52 Selain itu, Mesir berupaya menyeimbangkan posisi
antara kepentingan nasional dengan kepentingan negara-negara Arab. Langkah ini penting dilakukan dalam implementasi politik luar negeri Mesir, karena apabila terjadi benturan antara kedua kepentingan tersebut akan menimbulkan efek yang
buruk bagi Mesir dan juga bagi negara-negara Arab.53
c. Memperbaiki citra Mesir di kawasan
Pasca penandatanganan perjanjian damai antara Mesir dengan Israel, negara-negara Arab bersikap antipati terhadap Mesir. Mesir mendapat . Keadaan tersebut coba diperbaiki oleh Mubarak dengan menerapkan politik luar negeri yang lebih adaptif dengan kondisi eksternal Mesir. Salah satu langkah yang dilakukan oleh Mubarak yaitu bersikap dingin terhadap Israel dan menempatkan
hubungan dengan Israel berada pada level terendah.54
Langkah yang dilakukan oleh Mubarak tersebut didasarkan pula pada keinginan untuk membawa Mesir kembali menjadi kekuatan utama di kawasan.
51 Wang, J, “An Analysis of Egypt’s Foreign Policy”,West Asia and Africa no. 4 (2006), h.32
52
Tianshe. Four Points toward, h.91
53
Yang, H. and Zhu, K., National Conflicts and Religious Disputes: The history of Hotspot Issues in Contemporary Middle East (Beijing: People’s Publishing House,1996), h.86
54 Tianshe.
30
Dengan modal persepsi sebagai negara yang moderat dan stabil, Mubarak
menempatkan keamanan dan stabilitas kawasan sebagai prioritas. 55 Selanjutnya,
Mubarak membawa Mesir untuk memiliki peranan terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di kawasan, khususnya yang melibatkan negara-negara
Arab.56
3. Sikap Israel terhadap Mesir pada Masa Pemerintahan Mubarak
Dalam setiap pelaksanaan politik luar negeri suatu negara, dapat dipastikan akan mendapat respon dari pihak lain di luar batas teritorial negara tersebut. Hal ini juga ditunjukkan oleh Israel dalam merespon politik luar negeri yang dijalankan oleh Mesir pada masa pemerintahan Mubarak. Israel merupakan pihak yang terlindungi dengan adanya intervensi AS dalam keberlangsungan perjanjian Camp David antara Mesir dengan Israel. Orientasi politik luar negeri Mubarak yang memilih untuk menjaga perjanjian damai tersebut semakin menambah legitimasi Israel dalam mempertahankan eksistensi di Timur-Tengah.
Namun, di lain sisi terdapat hal yang kontradiktif dalam kontinuitas perdamaian antara Mesir dan Israel pada masa pemerintahan Mubarak yang didasari oleh Perjanjian Camp David. Dari perspektif Israel, kontinuitas dari perjanjian tersebut tidak membawa kedua negara pada perdamaian yang seutuhnya. Selanjutnya, perjanjian ini membuat hubungan kedua negara semakin
55
Mahmoud Muhareb, Israel and Egypt Revolution, Arab Center for Research & Policy Studies Case Analysis, Doha (May, 2011), hal 4
31
kompleks, khususnya yang berkaitan dengan status, peran, dan pengaruh
keduanya dalam konstelasi politik dan keamanan di Timur-Tengah.57
Israel menyiapkan berbagai strategi antisipatif untuk menghadapi probabilitas dalam menjalani hubungan bilateral dengan Mesir. Strategi yang dibuat oleh Israel antara lain: 1) memperkuat kapabilitas militer, 2) melakukan monopoli dalam program proliferasi senjata nuklir, 3) meningkatkan kapabilitas ekonomi, 4) menyatukan posisi politik dalam masalah keamanan nasional, yakni menjadikan militer sebagai pemeran utama dalam formulasi tujuan nasional dan memobilisasi massa untuk mendukung setiap pergerakan yang dilakukan militer, serta 5) memperkuat hubungan bilateral dengan AS, karena AS merupakan pendukung utama eksistensi Israel di wilayah Timur-Tengah dengan berbagai
bantuan yang diberikan, seperti bantuan sekonomi, politik, dan militer.58
Berdasarkan pertimbangan power dan kapabilitas, Israel berhasil
mereduksi posisi Mesir dalam level regional dan di antara negara-negara Arab. Setelah berhasil mereduksi peran Mesir tersebut, Israel merancang agenda politik luar negeri yang diarahkan untuk permasalahan utama di kawasan, yakni konflik Palestina-Israel. Israel berhasil melakukan cara untuk merubah Mesir menjadi negara yang sejalan dengan agenda politik luar negeri Israel terhadap masalah utama tersebut dan masalah-masalah lain di kawasan. Cara yang dilakukan oleh
57 Ibid, hal 1 58 Sharp,
32
Israel ialah dengan sandiwara mediasi konflik, perang melawan terorisme, dan
konfrontasi dengan kelompok Islamis-Ekstrimis.59
Di balik semua kontradiksi yang terjadi antara Mesir dengan Israel, terdapat sebuah apresiasi tinggi yang diberikan Israel kepada Mesir. Apresiasi tersebut ditujukan atas konsistensi Mesir menjaga perjanjian damai dengan Israel dan menjadi mitra strategis bagi Israel di kawasan. Selain itu, dalam pandangan Israel, Mesir merupakan negara yang berjasa atas pemenuhan kebutuhan gas nasional Israel. Selain itu, Mesir juga telah berhasil menjamin stabilitas dan keamanan Israel di kawasan. Dengan jaminan yang diberikan oleh Mesir tersebut, Israel berhasil mengurangi beban anggaran yang dialokasikan untuk pertahanan dan keamanan, khususnya anggaran dalam bidang militer.
Dalam pandangan Israel, Hosni Mubarak merupakan orang yang paling berjasa dengan adanya kontinuitas perjanjian damai antara Mesir dengan Israel. Salah satu penyebabnya ialah masa jabatan Mubarak yang lama (1981-2011). Bagi Israel sendiri, hal tersebut merupakan sebuah keuntungan, mengingat sosok Mubarak memiliki power yang kuat dalam sistem pemerintahan Mesir dan dalam lingkup politik internasional. Faktor lain yang membuat Israel dapat terus menunjukkan eksistensi di Timur-Tengah juga tidak terlepas dari sistem pemerintahan dibentuk oleh Mesir. Meskipun Mubarak menyebut Mesir sebagai negara yang demokratis, namun pada realitanya sangat berbeda. Pada masa pemerintahan Mubarak, Mesir lebih melekat dengan sistem pemerintahan tirani tersebut kemudian muncul penguasa yang korup disertai dengan orang-orang yang
59 Mahmoud Muhareb
33
loyal di sekitarnya.60 Dengan demikian, Israel berhasil melihat sebuah celah yang
dapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk meraih legitimasi dari Mesir, karena sentral dari segala kebijakan dalam politik luar negeri Mesir berada di tangan Mubarak.
Secara umum, perjanjian damai dengan Mesir dijadikan sebuah landasan bagi Israel untuk menahan diri dari peperangan dengan negara-negara di kawasan
– terlepas dari Intifada dan beberapa perang lainnya.61 Dengan berlandaskan
perjanjian damai tersebut, Israel dapat lebih menentukan skala prioritas dalam masalah keamanan dan stabilitas di Timur-Tengah. Israel dapat mempersiapkan kondisi dan kapabilitas militer yang dimiliki dan dapat melakukan kalkulasi terhadap langkah strategis yang diambil dalam menyikapi tendensi yang terjadi di
kawasan. 62
4. Opini Publik terhadap Politik Luar Negeri Mubarak
Kontinuitas perjanjian damai antara Mesir dengan Israel tidak terlepas dari tanggapan berbagai pihak. Tanggapan dari berbagai pihak tersebut terbagi menjadi dua, yakni pihak yang setuju dan mendukung kontinuitas perjanjian damai tersebut, dan pihak yang tidak setuju dan menolak hal tersebut. Selain itu, tanggapan yang muncul dari politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan
60
Ibid, hal.2
61
Ibid
62 Elie Podeh and Nimrod Goren, “Israel in the Wake of the Arab Spring: Seizing Opportunities, Overcoming Challenges” (May 2013), h.1
34
Mubarak ini mencakup opini dari dalam negeri Mesir, maupun dari luar negeri Mesir.
a. Opini di dalam negeri Mesir
Dari dalam negeri Mesir, opini pro dan kontra yang muncul akibat kebijakan politik luar negeri pemerintahan Mubarak ini berasal dari berbagai kelompok. Dari pihak yang pro antara lain ialah militer Mesir. Hal yang menyebabkan pihak militer mendukung langkah yang diambil oleh Mubarak ialah adanya akses lebih bagi militer dalam menempati posisi strategis di dalam sistem
pemerintahan Mesir.63 Selain itu, dengan kebijakan Mubarak ini, militer Mesir
mendapatkan efek langsung berupa bantuan senilai $ 1,3 miliar per tahun dari AS.64
Hal yang berbeda ditunjukkan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin. Kelompok ini merupakan pihak yang paling keras dalam menentang eksistensi Israel di Timur Tengah, khususnya di tanah Palestina. Ikhwanul Muslimin menilai bahwa perjanjian damai dengan Israel merupakan sebuah degradasi bagi Mesir
yang membiarkan pihak asing melakukan intervensi terhadap Mesir.65 Intervensi
yang dimaksud oleh Ikhwanul Muslimin ialah adanya pengaruh dan dukungan AS dalam perjanjian tersebut.
63 Zeinab Abul-Magd, “Understanding SCAF: The Long Reign of Egypt’s Generals”, Cairo Review 6 , (2012), hal. 155
64
Sharp, Egypt: Background and U.S. Relations, hal. 9
65 Benny Morris.
One State, Two State: Resolving the Israel/Palestine Conflict (New Heaven: Yale University Press, 2009), hal. 32-33
35
Salah satu hal yang disoroti dari efek perjanjian ini ialah ekspor gas alam Mesir ke Israel. Ikhwanul Muslimin menilai ekspor gas alam ini merupakan salah satu potensi tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan pada
masa Mubarak.66 Selain itu, menurut survei yang dilakukan oleh Synovate
Research and Poll pada bulan Oktober 2011, sebanyak 73 persen masyarakat Mesir menolak ekspor gas yang dilakukan Mesir ke Israel dan hanya 9 persen
masyarakat Mesir yang menyetujuinya.67 Dengan melihat gelombang opini publik
terhadap masalah ekspor gas ini, dapat memperbesar kemungkinan bagi Mesir untuk menghentikan kebijakan ini.
b. Opini di luar negeri Mesir
Situasi yang tidak jauh berbeda terlihat pada opini di dalam negeri Mesir dengan opini di luar negeri Mesir. Terdapat pula pihak yang pro dan kontra terhadap politik luar negeri Mesir pada masa pemerintahan Mubarak ini. Pihak