ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP
PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG),
INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)
DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI).
Oleh :
Rifan Dwi Martono
NIM : (106081002483)
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP
PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45,
DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk memenuhi syarat-syarat untuk meraih gelar sarjana ekonomi
Disusun Oleh :
Rifan Dwi Martono
NIM : 106081002483
Dibawah bimbingan :
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM Titi Dewi Warninda, SE, M.Si
NIP: 19692032001121003 NIP: 197312212005012002
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
Hari ini Selasa Tanggal 23 Bulan April Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Rifan Dwi Martono NIM : 106081002483 dengan judul skripsi
“ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP
PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)”. Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Jakarta, 23 April 2010
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Indoyama Nasaruddin, SE, MAB Titi Dewi Warninda, SE, M.Si
Ketua Sekretaris
Hari ini Jumat Tanggal 4 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian Skripsi atas nama Rifan Dwi Martono NIM: 106081002483 dengan judul Skripsi “ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)”. Memperhatikan Penampilan Mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 4 Juni 2010
Tim Penguji Skripsi
Prof.Dr. Ahmad Rodoni, MM Titi Dewi Warninda, SE, M.Si
Ketua Sekretaris
Indoyama Nasarudin, SE, MAB Arief Mufraini, Lc, M.Si
SURAT PERNYATAAN
Nama Mahasiswa : Rifan Dwi Martono
NIM : 106081002483
Jurusan : Manajemen
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang lain.
Apabila terbukti skripsi ini plagiat atau replikasi maka skripsi ini dianggap gugur dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan serta gelarnya dibatalkan.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul dikemudian hari menjadi tanggung jawab saya
Jakarta, 8 Juni 2010
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Rifan Dwi Martono
2. Alamat : Komp. Dephan/Mabes TNI Cidodol No.31, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
3. TTL : Pekalongan, 20 Maret 1988
4. Agama : Islam
5. Status : Belum Menikah 6. IPK terakhir : 3.51
7. Tel : 99430423
8. E-mail : [email protected]
II. PENDIDIKAN FORMAL
1. SD : SDI Al-Falah 1 Pagi (1994-2000) 2. SMP : SMP 48 (2000-2003)
3. SMA : SMA 29 (2003-2006)
4. S1 : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2006-2010)
III. SEMINAR DAN PELATIHAN
• Seminar Wirausaha Mandiri tahun 2010 di Jakarta Convention Centre • ESQ Training Leadership tahun 2007
• Lembaga Pendidikan&Pengembangan Profesi Terpadu Nurul Fikri tahun 2007
IV. PENGALAMAN ORGANISASI
ii Abstract
The objective of this research is to analyse the effect of commodities price to Jakarta Composite Index, LQ 45 Index, and Jakarta Islamic Index (JII) movement in BEI. This research use six commodity price and data used in this research are monthly from period 2005-2009. The analysis tool that used in this research is Vector Autoregression (VAR). There are two models in the analysis of the resulting model VAR, (i) impulse response function that can trace the response of one endogenous variables in the model; (ii) variance decomposition to show the relative contribution of certain endogenous variable variability.
The result of Johansen cointegration test show that the commodity price and stock price indices are cointegrated. Based on the result of impulse response show that the commodities price shock with any response by each market price indices. Result of variance decomposition analysis suggest that contribution price to market price indices movements in BEI are varied.
iii Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pergerakan harga komoditas terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan 6 harga komoditas dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan dari periode 2005-2009. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vector Autoregression (VAR). Terdapat 2 model analisis yang dihasilkan dalam model VAR, (i) impulse response function yang digunakan untuk melacak dampak shock dari variabel endogen terhadap variabel lain dalam sistem VAR; (ii) variance decomposition digunakan untuk memprediksi kontribusi harian setiap variabel karena adanya perubahan variabel tertentu didalam sistem VAR.
Hasil dari Johansen cointegration test menunjukan bahwa harga komoditas dan indeks harga saham terdapat hubungan kointegrasi. Berdasarkan hasil impulse response menunjukan adanya shock harga komoditas direspon secara beragam oleh masing-masing indeks harga saham. Demikian juga hasil dari analisis variance decomposition menggambarkan bahwa kontribusi dari harga komoditas juga beragam terhadap masing-masing indeks harga saham.
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil 'alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang senatiasa mencurahkan rahmat, hidayah dan nikmat-Nya sehingga saya dapat membuat skripsi ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke jaman yang terang benderang.
Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan baik moril maupun spiritual kepada peneliti dalam pembuatan skripsi ini:
1. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu tercinta beserta seluruh keluarga atas segala kasih sayang, do'a, dan pengorbanannya yang begitu besar sehingga memotivasi saya untuk tetap semangat dalam menjalani hari-hari di bangku kuliah
2. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM selaku dosen pembimbing 1 yang senantiasa memberikan arahan dan motivasi sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Titi Dewi Warninda, SE, M.Si selaku dosen pembimbing 2 yang selalu membimbing dan memberikan banyak masukan serta selalu memberikan motivasi dan semangat sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Prof.Dr Abdul Hamid selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang banyak memberikan dukungan atas sarana dan prasarana di FEB
5. Bapak Indoyama Nasarudin, SE. MAB selaku ketua jurusan manajemen dan dosen evaluasi kuantitatif, yang selalu memberikan bimbingan, semangat dan motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Para staff akademik dan jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah banyak memberikan bantuan.
7. Para Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang selama ini telah memberikan materi dan memberikan bimbingan serta motivasi.
v
9. Terima kasih juga buat tim KKS-BT purwodadi 2009 yang memberikan pengalaman berharga yang tak terlupakan
10.Terima Kasih semua temen-temen kuliah angkatan 2006 yang tak bisa disebutkan satu persatu.
11.Para staff dan pegawai di perpustakaan utama dan perpustakan fakultas sebagai tempat dalam mencari bahan-bahan dan sumber referensi bagi penulis. Saya menyadari sepenuhnya bahwa penulisan sripsi ini masih banyak kekurangan, hal ini karena adanya keterbatasan dari penulis. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi menunjang kesempurnaan dari Tugas akhir kuliah (Skripsi) ini. Saya berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Jakarta, Mei 2010
vi
DAFTAR ISI
Daftar Riwayat Hidup... i
Abstract... ii
C. Tujuan Penelitian ... 13
D. Manfaat Penelitian ... 14
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 16
A. Pasar Modal ... 16
B. Indeks Harga Saham ... 18
1) Indeks Harga Saham Gabungan ... 18
2) Indeks LQ 45 ... 19
D. Penelitian Terdahulu ... 30
E. Kerangka Pemikiran ... 35
vii
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 38
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 38
B. Metode Pemilihan Sampel ... 39
C. Metode Pengumpulan Data ... 40
D. Metode Analisis Data ... 42
E. Operasional Variabel Penelitian... 46
BAB IV. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 49
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian... 49
1) Perkembangan Pasar Modal Indonesia ... 49
B. Analisa Data dan Pembahasan ... 50
1) Analisis Deskriptif ... 50
2) Analisis Pengujian Statistik ... 72
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 97
A. Kesimpulan ... 97
B. Implikasi Penelitian ... 101
C. Saran ... 102
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Harga Minyak Mentah ... 51
Tabel 4.2 Harga Emas ... 53
Tabel 4.3 Harga Nikel ... 56
Tabel 4.4 Harga Timah ... 58
Tabel 4.5 Harga Batubara ... 60
Tabel 4.6 Harga CPO ... 63
Tabel 4.7 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ... 65
Tabel 4.8 Indeks LQ 45 ... 67
Tabel 4.9 Jakarta Islamic Index (JII) ... 70
Tabel 4.10 Uji Stasioneritas Data Tingkat Level ... 73
Tabel 4.11 Uji Stasioneritas Data Tingkar Diferensi Pertama ... 74
Tabel 4.12 Uji Kointegrasi ... 75
Tabel 4.13 Nilai Variance Decomposition IHSG ... 79
Tabel 4.14 Nilai Impulse Response IHSG ... 81
Tabel 4.15 Nilai Variance Decomposition Indeks LQ 45 ... 85
Tabel 4.16 Nilai Impulse Response Indeks LQ 45 ... 87
Tabel 4.17 Nilai Variance Decomposition JII ... 90
Tabel 4.18 Nilai Impulse Response JII ... 92
Tabel 4.19 Variance Decomposition Indeks Harga Saham ... 95
ix
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1 Perkembangan IHSG 2005-2009 ... 3
Grafik 1.2 Pergerakan Harga Komoditas ... 9
Grafik 2.1 Harga Nikel ... 28
Gambar 1 Kerangka Pemikiran ... 36
Grafik 4.1 Harga Minyak Mentah Dunia ... 52
Grafik 4.2 Harga Emas Dunia ... 54
Grafik 4.3 Harga Nikel Dunia ... 57
Grafik 4.4 Harga Timah Dunia ... 59
Grafik 4.5 Harga Batubara Dunia ... 62
Grafik 4.6 Harga CPO Dunia ... 64
Grafik 4.7 Indeks Harga Saham Gabungan ... 66
Grafik 4.8 Indeks LQ 45 ... 69
Grafik 4.9 Jakarta Islamic Index ... 71
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pasar modal merupakan salah satu tempat (media) yang memberikan kesempatan berinvestasi bagi investor perorangan maupun institusional. Oleh karena itu, arah dan besarnya pergerakan pasar modal menjadi topik yang menarik bagi para akademisi dan praktisi pasar untuk mempelajarinya (Pananda Pasaribu, 2008:1).
2 perbankan Indonesia dalam bentuk penarikan dana besar-besaran (rush) oleh deposan untuk kemudian disimpan di luar negeri (capital flight). Tingkat suku bunga yang mencapai 70% dan depresiasi nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar AS sebesar 500% mengakibatkan hampir semua kegiatan ekonomi terganggu. Dampak lain dari menurunnya kepercayaan masyarakat berimbas sampai ke pasar modal. Harga-harga saham menurun secara tajam sehingga menimbulkan kerugian yang cukup signifikan bagi investor (Ana Oktavia, 2007:1).
3 Indeks harga saham mengalami peningkatan yang semakin pesat sejak krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Hal ini ditunjukkan dari perkembangan nilai IHSG dan nilai transaksi. Nilai IHSG mengalami peningkatan hingga 400 persen dari tahun 2000 hingga 2008. Kondisi ini juga diikuti nilai transaksi yang terus semakin meningkat. Nilai IHSG yang semakin tinggi merupakan bentuk kepercayaan investor atas kondisi ekonomi Indonesia yang semakin kondusif (Adler Manurung, 2008:1). Perkembangan IHSG dalam beberapa tahun terakhir dapat dilihat pada Grafik 1.1.
Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI), data diolah
Berdasarkan grafik 1.1 diatas dapat dilihat bahwa IHSG mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2008. Namun krisis ekonomi global mulai pertengahan tahun 2008 telah mendorong jatuhnya nilai Indeks harga saham sebesar 50 % dalam kurun waktu yang relatif singkat (satu tahun). Krisis yang berasal dari Amerika Serikat telah meruntuhkan perekonomian di benua Eropa dan Asia, khususnya negara berkembang. Akibat terimbas krisis
0
Grafik 1.1 Perkembangan IHSG 2005 - 2009
Tabel 1.1 …IHSG
4 finansial global tersebut IHSG terus mengalami penurunan, puncaknya terjadi pada awal bulan Oktober 2008, dimana IHSG terkoreksi sebesar 10,38% hingga menyentuh level 1.451,669. Hal tersebut mendorong BEI men-suspend perdagangan efek bersifat ekuitas dan derivatif di seluruh pasar hingga dibuka kembali pada tanggal 13 Oktober 2008. Tujuan suspensi tersebut adalah untuk memberikan perlindungan kepada investor dan pasar secara lebih luas. Pada tiga bulan terakhir di tahun 2008 IHSG terus menurun yang diikuti dengan penurunan nilai kapitalisasi pasar di BEI. Hal tersebut menyebabkan pada akhir tahun 2008, IHSG ditutup pada level 1.340,892 atau turun sebesar 51,17 % dari level penutupan di tahun 2007 sebesar 2.745,826. Memasuki tahun 2009 IHSG kembali mengalami penguatan dimana pada bulan Oktober telah mencapai level 2.528,14. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya menurunnya harga minyak dunia, menguatnya nilia tukar rupiah, serta sentiment regional (finance.yahoo.com).
Indonesia sebagai negara berkembang mendapat pengaruh yang cukup besar dari krisis finasial global. Berbagai kebijakan diambil pemerintah untuk meredam pengaruh buruk dari krisis, mulai dari menaikkan tingkat suku bunga, menaikkan harga bahan bakar minyak, maupun memperketat lalu lintas mata uang asing (Pananda Pasaribu, 2008:2).
5 informasi baru akan berpengaruh pada ekspektasi investor yang akhirnya akan berpengaruh pada Indeks harga saham (Pananda Pasaribu, 2008). Indeks harga saham merupakan bagian penting dalam pembicaraaan mengenai pasar modal, karena indeks ini merupakan indikator dari berbagai hal dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi makro, ekonomi mikro, moneter dan kebijakan lainnya (Paulus Situmorang, 2008:133).
Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat berkepentingan dengan naik turunnya Indeks harga saham karena nilai portofolio sahamnya secara umum tergantung pada naik-turunnya indeks. Secara intuitif, sebagian besar saham atau portofolio saham bergerak searah dengan pergerakan indeks. Maka dari itu, perlu untuk diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi Indeks harga saham dan seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut (Budy Frensidy, 2009:3).
perusahaan-6 perusahaan yang berhubungan dengan komoditas mempunyai nilai kapitalisasi yang cukup besar pada indeks harga saham. Perubahan yang terjadi pada harga komoditas akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan yang bersangkutan yang pada akhirnya akan mempengaruhi indeks harga saham. Maka dari itu, merupakan hal yang menarik untuk diteliti seberapa besar pengaruh dari perubahan harga komoditas terhadap indeks harga saham.
Komoditas yang paling berpengaruh saat ini adalah minyak mentah. Fluktuasi harga minyak mentah dunia mendapat sorotan utama karena minyak menjadi sebuah komoditas yang penting bagi banyak pihak, sehingga menjadi isu penting bagi masyarakat, pemerintah, dan para pelaku usaha. Gejolak minyak yang terjadi akhir-akhir ini merupakan permasalahan yang menimbulkan kekhawatiran di berbagai Negara konsumen diseluruh dunia. Kenaikan harga minyak mentah menjadikan turut naiknya harga bahan bakar diseluruh dunia. Indonesia dan sejumlah Negara lain telah menaikan harga BBM yang vital bagi kehidupan dan perekonomian. Kondisi ini menjadi sangat penting karena tingginya harga minyak akan memicu kenaikan harga komoditas lain dan menimbulkan tekanan inflasi diseluruh dunia (Alfred Pakasi, 2008:143).
7 disamping meningkatnya permintaan akan minyak. Pertumbuhan permintaan akan minyak di negara maju berjalan lambat sekalipun petumbuhan ekonomi tetap berlangsung. Perlu dicatat bahwa pertumbuhan penduduk yang terutama menyebabkan naiknya permintaan akan energi, khusunya minyak. Penduduk di negara maju hampir tidak bertambah. Permintaan minyak yang naik tajam berasal dari Asia, khususnya China dan India (A.J Surjadi, 2006:1).
Meningkatnya harga minyak mentah dunia dapat mempengaruhi harga saham pada berbagai sektor. Pengaruh yang diberikannya dapat bersifat positif dan dapat juga bersifat negatif. Selain itu, dampak yang diberikan oleh meningkatnya harga minyak mentah dunia tehadap harga saham juga dapat bersifat langsung, seperti pada sektor pertambangan dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia fluktuasi harga saham-saham di sektor pertambangan baik untuk sektor pertambangan batubara, pertambangan minyak dan gas bumi, ataupun pertambangan logam mineral lainnya berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan pertambangan serta karakteristik spesifik dari perusahaan (Budi Santoso, 2009:6).
8 menjadi relatif rendah. Harga minyak yang tinggi dinilai hanya menguntungkan negara-negara produsen minyak, tetapi merugikan bagi negara lain karena akan membuat harga-harga melambung sehingga pembangunan tersendat. Akan tetapi, hal ini agaknya tidak berlaku bagi bursa saham di Indonesia. Harga minyak yang turun justru direspons investor pasar modal Indonesia dengan melakukan aksi jual saham besar-besaran. Dengan demikian, membuat IHSG terkoreksi cukup dalam. Sektor komoditas pertambangan dan perkebunan sangat rentan terhadap pergerakan harga minyak karena batu bara dan CPO merupakan produk substitusi emas hitam itu. Turunnya harga minyak dipastikan akan menekan harga komoditas batu bara dan CPO dan selanjutnya berpengaruh terhadap kinerja saham perusahaan pertambangan dan perkebunan (Reinhard Nainggolan, 2008).
9 Perusahaan-perusahaan berbasis komoditas terutama energi, mineral, pertambangan dan perkebunan mengalami masa kejayaan saat ekonomi global tengah bertumbuh karena energi yang dibutuhkan sangat besar untuk memacu pertumbuhan. Ekspektasi yang besar terhadap kebutuhan energi dan substitusinya telah mendorong kenaikan seluruh harga komoditas, seperti minyak bumi, batu bara dan minyak sawit mentah (CPO). Kenaikan harga-harga komoditas tersebut akan mendorong peningkatan laba absolut, apalagi jika perusahaan yang bersangkutan dapat meningkatkan kapasitas produksi, sehingga cost of production akan menurun drastis. Dampak lanjutan dari peningkatan laba perusahaan adalah kenaikan estimasi earning per share dan fair value per share yang pada akhirnya akan memicu eskalasi harga pasar saham per lembar.
Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI), data diolah
Grafik 1.2 memperlihatkan pergerakan harga minyak mentah yang diikuti oleh pergerakan harga komoditas lainnya yaitu, batubara dan CPO. Dilihat
0
10 dari pergerakannya terlihat bahwa harga komoditas tersebut bergerak dengan arah yang sama. Apabila dibandingkan dengan pergerakan IHSG pada grafik 1.1 maka akan terlihat pola pergerakan yang sama. Hal ini menunjukan terdapat hubungan antara harga komoditas dan pergerakan IHSG, terutama harga komoditas pada sektor pertambangan dan perkebunan.
11 Matiur Rahman (2008), melakukan penelitian terhadap pengaruh dari jumlah uang yang beredar (M2) dan harga minyak terhadap Pasar modal Amerika (S&P 500) dengan menggunakan data bulanan dari bulan Januari 1974 sampai dengan April 2006. Hasil uji kointegrasi menggambarkan bahwa terdapat hubungan kointegrasi pada ketiga variabel tersebut. Estimasi dari model VECM menunjukan tidak adanya hubungan jangka panjang, hanya hubungan jangka pendek yang terjadi antara variabel terhadap pasar modal. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, para investor dengan perencanaan jangka pendek harus menaruh perhatian terhadap kebijakan moneter pemerintah Amerika dan pasaran harga minyak di masa depan. Sementara itu, investor dengan perencanaan jangka panjang tidak membutuhkan perhatian lebih terhadap kebijakan pemerintah.
12 (SET, VNI). Selain itu, dijelaskan juga bahwa terdapat hubungan jangka pendek diantara harga emas internasional dan pasar modal di ASEAN. Kemudian, hasil dari Uji Kointegrasi menunjukan bahwa hanya sedikit variabel yang mempunyai kointegrasi, yaitu antara (JKSE, KLSE), (JKSE,PSE), (KLSE,PSE), dan (KLSE, VNI).
Penelitian juga dilakukan oleh Haymnas Manurung (2008), yang meneliti pengaruh harga komoditas pertambangan terhadap IHSG. Dalam penelitian tersebut melihat hubungan antara harga komoditas dan IHSG dari dua sisi yaitu pertama menggunakan harga yang ada antara IHSG dan juga komoditas, serta yang kedua dengan menggunakan return dari IHSG serta return dari harga komoditas. Penelitian ini menggunakan Granger Causality Test dan regresi berganda. Adapun komoditas yang digunakan adalah minyak mentah, emas, perak, alumunium, tembaga, nikel, timah, dan juga seng. Hasil penelitian tersebut menunjukan terdapat hubungan positif antara pergerakan IHSG dengan komoditas baik dari sisi harga maupun return. Adapun korelasi terkuat ditunjukan oleh harga emas, perak, tembaga, serta minyak mentah. Sementara itu, hasil dari uji kausalitas Granger mendapatkan hasil bahwa IHSG mempengaruhi harga minyak mentah, emas, dan perak dan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara IHSG dengan aluminium dan tembaga.
13 perubahan harga komoditas terhadap pergerakan IHSG, Indeks LQ 45, dan JII. Penelitian ini menggunakan alat analisis VAR (Vector Autoregresion) agar hasil penelitian lebih maksimal. Selain itu, dalam penelitian ini komoditas yang digunakan adalah merupakan komoditas unggulan Indonesia. Perusahaan yang menjadi produsen utama dari komoditas tersebut mempunyai nilai kapitalisasi pasar cukup besar dalam IHSG, sehingga perusahaan tersebut mempunyai kontribusi yang besar dalam mempengaruhi pergerakan dalam IHSG.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang seperti yang dijelaskan di atas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana respon dari IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) akibat shock yang terjadi pada tingkat harga komoditas dunia.
2. Bagaimana kontribusi dari tingkat harga komoditas terhadap pergerakan IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII).
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menganalisis respon dari IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) akibat shock yang terjadi pada tingkat harga komoditas dunia.
14 D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka diharapkan dengan adanya penelitian ini akan bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan terhadap hasil penelitian ini antara lain :
1. Bagi peneliti, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memperdalam dan memperluas wawasan mengenai seberapa besar perubahan harga komoditas dapat mempengaruhi indeks harga saham. 2. Bagi investor dan emiten yang tercatat di BEI, hasil dari penelitian ini
dapat membantu mereka dalam menentukan keputusan apakah akan menjual, membeli, atau menahan saham yang mereka miliki berkenaan dengan perubahan-perubahan terhadap Indeks harga saham yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas. Karena kesalahan dalam menentukan dan menerapkan strategi perdagangan di pasar modal, akan berakibat buruk bagi perusahaan atau investor sehingga dapat mengalami kerugian.
15 4. Bagi akademisi, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pasar Modal
Pasar modal Indonesia pertama kali didirikan oleh pemerintah Belanda pada awal tahun 1990-an. Bursa yang didirikan berlokasi di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Namun bursa saham tersebut ditutup pada periode 1940-1952 karena timbulnya perang dunia kedua. Bursa kembali dibuka pada tahun 1952, dimana efek yang yang diperdagangkan sebagian berasal dari emisi efek terdahulu. Pemerintah mengaktifkan kembali pasar modal dengan tujuan untuk lebih memacu pertumbuhan ekonomi nasional sehingga dunia usaha dapat memperoleh sebagian atau seluruh pembiayaan jangka panjang yang diperlukan. Beberapa tahun kemudian pasar modal Indonesia mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah (Yulfasni, 2005:43).
A stock market or equity market is a public market for the trading of company stock and derivatives at an agreed price; these are securities listed on a stock exchange as well as those only traded privately (Jhon Wiley, 2001:4).
17 menengah dan dana jangka panjang bagi investor dunia usaha, pemerintah, dan perorangan (Pandji Anoraga, 2006:9).
Paulus Situmorang (2008:3) menyatakan bahwa secara teoritis pasar modal didefinisikan sebagai perdagangan instrument keuangan (sekuritas) jangka panjang, baik dalam bentuk modal sendiri (stock) maupun hutang (bonds), baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities) maupun oleh perusahaan swasta (private sector).
Ahmad Rodoni (2008:40) mendefinisikan pasar modal sebagai pasar keuangan untuk dana-dana jangka panjang atau dana yang jatuh tempo lebih dari satu tahun dan merupakan pasar yang konkrit.
Sedangkan menurut UU. no. 8 tahun 1995 tentang pasar modal, bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasar modal merupakan suatu institusi dengan sistem yang terorganisir dengan rapi, dimana diperjualbelikannya berbagai instrument keuangan yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan swasta, dan public authorities yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Irsan Nasarudin, 2008:13).
18 memberikan peluang (kesempatan) kepada pemilik dana untuk memperoleh imbalan (Pandji Anoraga, 2006:14).
B. Indeks Harga Saham
Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks harga saham merupakan salah satu indikator utama pergerakan harga saham. Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi (Ana Oktavia, 2007:18).
Pada Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat lima indeks, yaitu : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, Jakarta Islamic Index (JII), indeks individual, dan indeks sektoral. Namun dalam penelitian ini hanya digunakan 3 indeks harga saham yaitu IHSG, indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) untuk melihat respon dari indeks harga saham terhadap perubahan harga komoditas dunia :
1)Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
19 yang pernah dicapai IHSG adalah 2.830,26 poin yang tercatat pada 9 Januari 2008 (Pandji Anoraga, 2006:102).
Perhitungan IHSG dilakukan setiap hari, yaitu setelah penutupan perdagangan setiap harinya. Dalam waktu dekat, diharapkan perhitungan IHSG dapat dilakukan beberapa kali atau bahkan dalam beberapa menit, hal ini dapat dilakukan setelah sistem perdagangan otomasi diimplementasikan dengan baik (Paulus Situmorang, 2008:137).
2)Indeks LQ 45
Indeks LQ 45 terdiri dari 45 saham yang dipilih setelah melalui bebrapa kriteria. Indeks ini terdiri saham-saham yang mempunyai likuiditas yang tinggi dan juga mempunyai nilai kapitalisasi pasar yang relatif besar. Sejak diluncurkan pada bulan Februari 1997 ukuran utama likuiditas transaksi adalah nilai transaksi di pasar reguler. Sesuai dengan perkembangan pasar, dan untuk lebih mempertajam kriteria likuiditas, maka sejak review bulan Januari 2005, jumlah hari perdagangan dan frekuensi transaksi dimasukkan sebagai ukuran likuiditas (Paulus Situmorang, 2008:140).
Kriteria suatu saham untuk dapat masuk dalam perhitungan indeks LQ 45 adalah sebagai berikut:
a) Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan
b) Masuk dalam 60 saham berdasarkan nilai transaksi di pasar regular. c) Dari 60 saham tersebut, 30 saham dengan nilai transaksi terbesar secara
20 d) Untuk mendapatkan 45 saham akan dipilih 15 saham lagi dengan
menggunakan kriteria Hari Transaksi di Pasar Reguler, Frekuensi Transaksi di Pasar Reguler dan Kapitalisasi Pasar. Metode pemilihan 15 saham tersebut adalah:
• Dari 30 sisanya, dipilih 25 saham berdasarkan Hari Transaksi di Pasar Reguler.
• Dari 25 saham tersebut akan dipilih 20 saham berdasarkan Frekuensi Transaksi di Pasar Reguler
• Dari 20 saham tersebut akan dipilih 15 saham berdasarkan Kapitalisasi Pasar, sehingga akan didapat 45 saham untuk perhitungan indeks LQ45
e) Selain melihat kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar tersebut di atas, akan dilihat juga keadaan keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan tersebut.
21 data historikal yang cukup panjang, hari dasar yang digunakan adalah tanggal 13 Juli 1994, dengan nilai indeks sebesar 100 (Paulus Situmorang, 2008:142).
3) Jakarta Islamic Index (JII)
Menurut Ana Oktavia (2007:17) Jakarta Islamic Index atau Indeks Syariah merupakan indeks terakhir yang dikembangkan oleh BEI bekerja sama dengan PT. Danareksa Investment Management. Indeks ini merupakan indeks yang mengakomodasi syariah investasi dalam Islam. Saham-saham yang masuk dalam JII adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti :
a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang
b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
c. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram.
d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan atau menyediakan : barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
22 kenyataannya ada perusahaan yang menerbitkan dua macam saham, yaitu saham biasa dan saham preferen yang tidak punya hak suara namun punya hak untuk mendapatkan deviden yang sudah pasti. Tentunya hal ini bertentangan dengan aturan syariah tentang bagi hasil. Maka saham yang sesuai syariah adalah saham yang setiap pemiliknya memiliki hak yang proporsional dengan jumlah lembar saham yang dimilkinya (Nurul Huda, 2007:55).
C. Harga Komoditas
Menurut Alfred Pakasi (2009:11), komoditas adalah barang dagangan atau bahan yang memiliki nilai ekonomis yang ditawarkan atau disediakan oleh produsen untuk memenuhi permintaan konsumen. Ciri khas dari perdagangan di pasar komoditi primer adalah pergerakan harga yang fluktuatif dan perkembangan tren harga mengikuti pola tertentu, sehingga menarik untuk dimasuki dan dilakukan oleh para investor.
23 perusahaan tersebut dan jika pergerakan yang ada terjadi serentak maka akan memberikan pengaruh positif pada pergerakan IHSG (Manurung, 2008:1).
Dalam penelitian ini akan membahas apakah selama ini terdapat hubungan yang positif antara perubahan harga komoditas dengan pergerakan Indeks harga saham. Ada 6 komoditas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : minyak mentah, emas, batubara nikel, timah, dan juga minyak kelapa sawit (CPO).
1)Harga Minyak Mentah
Oil is a key input for manufacturing output. Surges in oil prices translate into higher manufacturing costs. Rising production costs generate cost-push inflation in the economy, taking a toll on corporate profits in a highly competitive market environment wherein corporations lose pricing power. Also, an oil price increase acts like an inflation tax on consumption, reducing the amount of disposable income for consumers. These effects reduce company wealth, lowering their dividends (Rogoff, 2006). Studying the U.S., Canadian, Japanese and U.K. stock markets, Jones and Kaul (1996), show that all the markets respond negatively to oil shocks (Mustafa, 2008:1).
24 ekonomi global. Meningkatnya harga minyak berpotensi mempengaruhi kinerja pasar modal dengan mempengaruhi kinerja keuangan atau aliran kas dari perusahaan. Peningkatan harga minyak akan menyebabkan keuntungan yang diharapkan mengalami penurunan dan ini merupakan salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi biaya perusahaan. Peningkatan biaya perusahaan ini akan berimplikasi terhadap penurunan harga saham (Agusman, 2008:3).
Harga suatu komoditas umumnya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Namun harga minyak dunia yang mencapai puncaknya pada tahun 2008 merupakan ulah para spekulan. Naiknya minyak mentah dunia pada tahun 2008 telah membuat sebagian besar bursa dunia meningkat cukup tajam termasuk Indonesia. Umumnya pergerakan harga minyak mentah mempunyai hubungan yang searah dengan komoditas lainnya, seperti: CPO, batubara, timah, dan lainnya (Pananda, 2008:6).
25 dicatat bahwa pertumbuhan penduduk yang terutama menyebabkan naiknya permintaan akan energi, khusunya minyak. Penduduk di negara maju hampir tidak bertambah. Permintaan minyak yang tajam berasal dari Asia, khususnya China dan India (A.J. Surjadi, 2006:1).
26 2) Harga Emas
Gold support a very active derivatives market. In no other commodity do producers routinely sell their output five years ahead or more. According to the Bank for International Settlements, gold derivative account for 45% of the commodity derivatives exposure of banks in the G10 countries. Gold has certain qualities which have made it synonymous with money for many generations, and these go some way to explaining the flourhising derivatives market (Anthony Neubergen, 2001:30).
Logam emas mempunyai kegunaan dalam berbagai industri. Tapi penggunaan utamanya adalah sebagai perhiasan dan alat transaksi perdagangan atau mata uang, keduanya merupakan sarana lindung nilai. Emas telah digunakan sebagai mata uang sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu. Emas merupakan logam yang mempunyai nilai yang sangat tinggi di semua kebudayaan di dunia, bahkan dalam bentuk mentahnya sekalipun. Di Indonesia terdapat salah satu tambang emas terbesar di dunia, yaitu yang berada di Tembaga Pura, Papua yang dikelola oleh PT. Freeport Indonesia (Agus, 2002:339).
27 terbatas dan tidak mudah didapat, sementara permintaan terhadap emas tidak pernah berkurang, akibatnya harga emas cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada kenyataan sehari-hari, harga emas tidak hanya tergantung kepada situasi permintaan dan penawaran, atau supply and demand (kebun emas.com).
3) Harga Nikel
Kenaikan harga komoditas sektor pertambangan dalam beberapa tahun terakhir, ternyata tak berlaku untuk komoditi nikel. Harga komoditi yang satu ini justru semakin terpuruk. Kondisi ini jelas memberi sentimen negatif bagi emiten saham seperti PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO). PT INCO mencatat penurunan laba bersih yang cukup signifikan hingga 87% pada triwulan I-2009 (Taufan Wiguna, 2009).
28 Grafik 2.1.
Harga nikel (Juli 2004-Juni 2009)
4) Harga Timah
Ada tiga hal yang membuat harga timah dunia relatif tinggi. Pertama diakibatkan turunnya stok di London Metal Exchange (LME), kedua akibat permintaan yang meningkat. Yang ketiga, berhubungan dengan Indonesia, yaitu apabila ekspor dari Indonesia mengalami penurunan. Pasar memang mencermati berita mengenai perkembangan ekspor Indonesia, karena Indonesia kini dianggap sudah menjadi price maker harga timah dunia (Sutedjo Sujitno, 2001:6).
29 internasional. Bahkan, tambahnya, produksi timah Indonesia memberikan kontribusi hingga lebih dari 30% terhadap perdagangan dunia (Sutedjo Sujitno, 2001:6).
5) Harga Batubara
Batubara merupakan satu dari energi alternatif yang termasuk memiliki pertumbuhan yang pesat, baik dari segi produksi maupun konsumsi. Hal ini yang membuat industri batubara kian populer, terutama setelah kenaikan harga bahan bakar utama, yaitu minyak bumi, yang tak terkendali yang terjadi pada tahun lalu. Selain penggunaanya yang lebih efisien, batubara juga tersedia dalam jumlah yang melimpah di dunia sehingga memberikan kemungkinan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Selama kurun waktu 10 tahun, yaitu 1997-2007, produksi dan konsumsi batubara dunia telah naik lebih dari 35%, dengan kenaikan tertinggi terjadi di wilayah Asia Pasifik (Asia Securities, 2009).
Produsen batubara dunia terbesar saat ini adalah China, USA, India, Australia, Afrika Selatan, Rusia, dan Indonesia. Sedangkan eksportir terbesar batubara dunia adalah Australia, Indonesia, Rusia. Produksi batubara China dan India lebih banyak untuk dikonsumsi sendiri di dalam negeri (Ermina Miranti, 2008:1).
30 memberikan pengaruh yang signifkan terhadap pergerakan IHSG karena saham-saham tersebut mempunyai nilai kapitalisasi yang besar.
6) Harga Minyak Kelapa Sawit (CPO)
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memberikan kontribusi penting pada pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pada pengembangan agroindustri. Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia tahun 1996 mencapai 2 juta Ha dengan produksi CPO hampir 5 juta ton. Pada tahun 2010 luas perkebunan kelapa sawit direncanakan akan mencapai 7 juta Ha, dengan produksi CPO lebih dari 12 juta ton. Pada tahun tersebut Indonesia diharapkan akan menjadi Negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Keberadaan minyak kelapa sawit sebagai salah satu sumber minyak nabati relatif cepat diterima oleh pasar domestik dan pasar dunia. Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam empat puluh tahun terakhir. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menguasai hampir 90% produksi minyak sawit dunia (Hanafi Sofyan, 2000:102).
D. Penelitian terdahulu
31 Capital Internasional Index dan US Short-term T-Bill Rate yang mewakili faktor global. Sedangkan untuk faktor domestik menggunakan tingkat suku bunga Saudi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa harga minyak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap saham-saham dari perusahaan yang beroperasi pada sektor yang mempunyai beta yang tinggi, seperti sektor Industri, Electricity (listrik) dan Semen.
Guntur Irianto (2001) yang mengadakan penelitian di Indonesia mengenai pengaruh harga emas, kurs mata uang dan bunga deposito terhadap IHSG dengan menggunakan analisis regresi berganda. Dengan menggunakan data periode 1998-2000, menyimpulkan bahwa perubahan atas harga emas akan mempengaruhi IHSG secara positif. Hal tersebut karena pembelian emas oleh masyarakat bukan bermotif investasi tetapi bermotif konsumtif untuk perhiasan. Sementara itu tingkat suku bunga deposito dan kurs Rp/$ berpengaruh negatif terhadap IHSG.
32 positif antara pergerakan IHSG dengan komoditas baik dari sisi harga maupun return. Adapun korelasi terkuat ditunjukan oleh harga emas, perak, tembaga, serta minyak mentah. Sementara itu, hasil dari uji kausalitas Granger mendapatkan hasil bahwa IHSG mempengaruhi harga minyak mentah, emas, dan perak dan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara IHSG dengan aluminium dan tembaga.
Matiur Rahman (2008), melakukan penelitian terhadap pengaruh dari jumlah uang yang beredar (M2) dan harga minyak terhadap Pasar modal Amerika (S&P 500) dengan menggunakan data bulanan dari bulan Januari 1974 sampai dengan April 2006. Hasil uji kointegrasi menunjukan bahwa terdapat hubungan kointegrasi pada ketiga variabel tersebut. Estimasi dari model VECM menunjukan tidak adanya hubungan jangka panjang, hanya hubungan jangka pendek yang tejadi antara variabel terhadap pasar modal. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, para investor dengan perencanaan jangka pendek harus menaruh perhatian terhadap kebijakan moneter pemerintah Amerika dan pasaran harga minyak di masa depan. Sementara itu, investor dengan perencanaan jangka panjang tidak membutuhkan perhatian lebih terhadap kebijakan pemerintah.
33 dan tidak ada masalah multikolinearitas. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa perubahan harga minyak secara umum tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham industri. Selain itu, kebijakan dari pemerintah terhadap harga minyak domestik pada bulan Oktober 2005 ternyata mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham di sektor pertambangan, tetapi mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham pada sektor perdagangan. Selanjutnya, dengan menggunakan dummy variabel dijelaskan bahwa pengaruh dari kenaikan harga minyak yang diikuti kebijakan pemerintah pada harga minyak domestik memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap sektor konsumsi dan infrastruktur. Namun, kepekaan return saham sektor ini terhadap perubahan harga minyak adalah asymmetric, penurunan dari harga minyak tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap return saham pada sektor lainnya. Penemuan ini mungkin mengindikasikan bahwa walaupun kenaikan harga minyak membawa kerugian bagi investor-investor di sektor perdagangan, konsumsi, dan infrastruktur, penurunan harga minyak ternyata juga tidak membawa good signal bagi para investor.
34 Nasdaq, NYSE Composite, S&P 500 Composite, Russell 3000, dan Wilshire 5000. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya hubungan jangka pendek diantara return emas dan return dari Indeks harga saham adalah kecil dan negatif, pada beberapa periode penelitian menunjukan hasil yang tidak signifikan. Selama periode penelitian, dijelaskan bahwa tidak hubungan kointegrasi meliputi harga emas dan Indeks harga saham Amerika. Hasil Uji Kausalitas Granger menemukan bukti bahwa terdapat hubungan kausalitas tidak searah dari return pasar modal AS terhadap return dari harga emas pada London morning fixing dan closing price. Sementara itu, untuk harga emas pada Afternoon fixing terdapat hubungan timbal balik diantara pasar emas dan pasar modal.
35 terdapat hubungan jangka pendek diantara harga emas internasional dan pasar modal di ASEAN. Kemudian, hasil dari Uji Kointegrasi menunjukan bahwa hanya sedikit variabel yang mempunyai kointegrasi, yaitu antara (JKSE, KLSE), (JKSE,PSE), (KLSE,PSE), dan (KLSE, VNI).
E. Kerangka Pemikiran
36 Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Ya Tidak
Harga Komoditas Dunia :
Minyak Mentah, Emas, Nikel, Timah, Batubara, Minyak Kelapa Sawit (CPO)
Terjadi kointegrasi Input Data
IHSG, Indeks LQ 45, Jakarta Islamic Index (JII)
Uji Stasioneritas data
Stasioner
VAR Bentuk
Model VAR Bentuk
Diferensi
Tidak stasioner
Stasioner di diferensi data
VECM
37 F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H
o : Pergerakan harga komoditas dunia tidak berpengaruhsecara signifikan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII).
H
a: Pergerakan harga komoditas dunia berpengaruh secara
38 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah analisis pengaruh dari pergerakan harga komoditas dunia terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
39 Adapun beberapa kejadian yang berpengaruh terhadap Indeks harga saham diantaranya adalah semenjak tahun 2004 mulai terjadi kenaikan harga minyak dunia yang sangat signifikan. Selain itu, mulai pertengahan tahun 2008 terjadi krisis ekonomi global akibat dari kasus subprime mortgage yang terjadi Amerika Serikat. Hal tersebut juga memicu pergerakan harga komoditas dunia pada saat itu, sehingga menyebabkan nilai IHSG turun sebesar 50% dalam kurun waktu yang relatif singkat (satu tahun). Maka dari itu merupakan hal yang menarik untuk meneliti seberapa besar pengaruh dari pergerakan harga komoditas dunia terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI.
Harga komoditas yang digunakan adalah harga komoditas dunia yang ada di pasar komoditas dunia yang menjadi acuan seperti di London, Malaysia, dan Australia. Adapun mata uang yang digunakan sebagai acauan dari harga komoditas tersebut adalah Dollar Amerika Serikat (USD). Hal ini dikarenakan Dollar Amerika Serikat adalah salah satu mata uang utama dunia yang digunakan oleh banyak negara dalam melakukan transaksi.
Data Indeks harga saham yang digunakan adalah data bulanan yang terdapat di BEI yang mencerminkan kondisi keseluruhan transaksi bursa saham yang terjadi.
B. Metode Pemilihan Sampel
40 Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia mulai dari Januari tahun 2005 sampai dengan Desember 2009. Sedangkan variable independennya dibatasi pada harga komoditas dunia untuk sektor pertambangan dan perkebunan.
Harga komoditas dunia yang digunakan adalah data yang banyak dipublikasikan di internet. Harga minyak dunia dapat dilihat pada data yang dipublikasikan oleh OPEC sedangkan harga logam, mineral serta barang tambang lainnya dapat dilihat pada situs-situs yang menjadi acuan pasar komoditas dunia seperti di London Metal Exchange (LME). Mata uang acuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dollar Amerika Serikat (USD), hal ini dikarenakan Dollar Amerika Serikat adalah salah satu mata uang utama dunia yang digunakan oleh banyak negara dalam melakukan transaksi. Periode penelitian adalah mulai dari bulan Januari tahun 2005 sampai dengan bulan Desember 2009. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data bulanan.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam mendapatkan data yang akurat, penulis menggunakan beberapa cara yang diambil dari subyek penelitian. Menurut Prof. Dr. Suahrsimi Arikunto (2000 : 134) “ Teknik pengolahan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data”.
41 dikumpulkan oleh studi-studi sebelumnya atau yang diterbitkan oleh berbagai instansi-instansi lain yang sudah dipublikasikan atau memanfaatkan data yang sudah ada (Suparmako, 1997 : 67). Metode yang digunakan dalam pengumpulan data untuk melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Riset Kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara mengunjungi lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perpustakaan (UIN, UI, BI), kemudian mengumpulkan, membaca dan memahami buku, literatur, laporan/ jurnal penelitian terdahulu, catatan perkuliahan, internet dan lain sebagainya yang berkaitan dengan topik pembahasan penulis.
b. Field Research
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat sekunder yaitu data yang diperoleh dari pihak lain (yang berkaitan) dengan penulisan skripsi ini, seperti Pusat Referensi Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia.
c. Internet Research
42 D. Metode Analisis Data
1) Uji Stasioneritas
Langkah pertama pembentukan model vector autoregresion adalah melakukan uji stasioneritas data. Suatu data runtun waktu dikatakan stasioner jika nilai rata-rata (mean), variance, dan autocovariance pada setiap lag adalah tetap sama pada setiap waktu. Jika data time series tidak memenuhi kriteria tersebut maka data dikatakan tidak stasioner Dengan kata lain data time series dikatakan tidak stasioner jika rata-ratanya maupun variancenya tidak konstan, berubah-ubah sepanjang waktu (time-varying mean and variance) (Agus Widarjono, 2007).
Stasioneritas dari suatu data runtun waktu menjadi penting karena pengaruhnya pada hasil estimasi regresi. Regresi antara variable-varibel yang tidak stasioner akan menghasilkan fenomena regresi palsu (spurious regression).
43
Y
t= A
1Y
t-1+…+A
pY
t-p+BX
t+
t2) Uji Kointegrasi
Jika data tidak stasioner pada tingkat level tetapi stasioner pada proses diferensi data, maka kita harus menguji apakah data tersebut mempunyai hubungan dalam jangka panjang atau tidak dengan melakukan uji kointegritasi. Kointegrasi adalah suatu hubungan jangka panjang atau ekuilibrium antara variabel-variabel yang tidak stasioner, dengan kata lain walaupun secara individual variabel-variabel tersebut tidak stasioner, namun kombinasi linier antara varibel tersebut dapat menjadi stasioner.
Dalam penelitian ini, pengujian hubungan kointegritas menggunakan metode Johansen Cointegration Test. Untuk menjelaskan uji dari Johansen maka digunakan model autoregresif dengan order p sebagai berikut :
Dimana Yt adalah vector k dari variable I(1) non-stasioner, Xt adalah
vector d dari variabel deterministik dan et merupakan vector inovasi. Ada
tidaknya kointegrasi didasarkan pada uji likehood ratio (LR). Jika nilai hitung LR lebih besar dari nilai kritis LR maka kita menerima adanya kointegrasi sejumlah varibel dan sebaliknya, jika nilai hitung LR lebih kecil dari nilai kirtisnya maka tidak ada kointegrasi.
3) Vector Auto Regression (VAR)
44 (3.1) (3.1) menyediakan spesifikasi yang ketat dan tepat atas hubungan dinamis antar variabel. Misalnya teorinya terlalu kompleks sehingga simplifikasi harus dibuat atau sebaliknya fenomena yang ada terlalu kompleks jika hanya dijelaskan dengan teori yang ada.
VAR kemudian muncul sebagai jalan keluar atas permasalahan ini, model VAR dibangun dengan pertimbangan meminimalkan pendekatan teori dengan tujuan agar mampu menangkap fenomena ekonomi dengan baik. Dengan VAR kita hanya perlu memperhatikan dua hal, yang pertama adalah kita tidak perlu membedakan mana yang merupakan variabel endogen dan eksogen. Semua variabel baik endogen maupun eksogen yang dipercaya saling berhubungan seharusnya dimasukan di dalam model. Namun kita juga bisa memasukan variabel eksogen di dalam VAR, dan yang kedua adalah untuk melihat hubungan antar variabel di dalam VAR kita membutuhkan sejumlah kelambanan variabel yang ada. Kelambanan variabel ini diperlukan untuk menangkap efek dari variabel tersebut terhadap variabel yang lain di dalam model (Agus Widarjono, 2007).
Secara umum model VAR dengan n variabel endogen bisa ditulis sebagai berikut :
Y
t=
01+
i 1Y
1t-i+
i1Y
2t-1+….+
i 1Y
nt-1+ e
1tY
nt=
01+
i 2Y
1t-i+
i2Y
2t-1+….+
i nY
nt-1+ e
nt45 VAR akan dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut secara berurutan. Terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan metode ini, pertama akan dilakukan pengujian stasioneritas dari setiap series yang digunakan di dalam model. Hasil series stasioner akan berujung pada penggunaan VAR dengan metode standar sementara series non stasioner akan berimplikasi pada dua pilihan VAR, VAR dalam bentuk difference atau VECM (Vector Error Correction Model). Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini adalah sebagai berikut :
a) VAR ( Unrestricted VAR)
VAR biasa atau tanpa restriksi digunakan jika data yang digunakan di dalam pembentukan VAR, stasioner di tingkat level. Variasi VAR tanpa restriksi biasanya terjadi akibat adanya perbedaan derajat integrasi variabelnya. Kedua bentuk VAR akibat adanya perbedaan derajat integritas data variabelnya ketika data yang digunakan memiliki bentuk stasioner dalam level. Sementara, jika data tidak stasioner dalam level tetapi tidak memiliki hubungan kointegrasi, maka estimasi VAR dapat dilakukan dalam bentuk difference.
b) VECM (Restricted VAR)
46 Terdapat beberapa penggunaan VAR yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
1. Forecast Error Decomposition of Variance
Merupakan prediksi kontribusi persentase varian setiap variabel karena adanya perubahan variabel tertentu di dalam sistem VAR. 2. Impulse Response
Melacak respon saat ini dan masa depan setiap variabel akibat perubahan atau shock suatu variabel tertentu
Software yang digunakan sebagai alat bantu penelitian adalah Eviews 5.0 dan juga program Microsoft Exel dalam membantu memudahkan pengoperasian software yang digunakan dalam penelitian.
E. Operasional Variable Penelitian
Agar setiap variabel yang terdapat di dalam penelitian ini dapat dimengerti dengan jelas, serta untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan pengertian, maka perlu pembatasan pengertian dari variabel yang akan diteliti, yaitu :
1) Variable Terikat (Dependent Variable)
47 a. IHSG
IHSG merupakan catatan semua saham sebagai komponen penghitung indeks. IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983 sebagai indikator pergerakan harga semua saham biasa maupun saham preferen.
b. Indeks LQ 45
Indeks LQ45 hanya terdiri dari 45 saham yang telah terpilih melalui berbagai kriteria pemilihan, sehingga akan terdiri dari saham-saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi. Saham-saham pada indeks LQ45 harus memenuhi kriteria dan melewati seleksi. Saham-saham yang termasuk didalam LQ45 terus dipantau dan setiap 6 bulan akan diadakan review. Apabila ada saham yang sudah tidak masuk kriteria maka akan diganti dengan saham lain yang memenuhi syarat.
c. Jakarta Islamic Index (JII)
48 2) Variabel Independen (Independent Variable)
Variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan yang positif ataupun negatif bagi variabel dependen nantinya. Variasi dalam variabel dependen merupakan hasil dari variabel independen (Uma Sekaran, 2006:117). Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Harga komoditas dunia
Menurut Alfred Pakasi (2009:11), komoditas adalah barang dagangan atau bahan yang memiliki nilai ekonomis yang ditawarkan atau disediakan oleh produsen untuk memenuhi permintaan konsumen. Ciri khas dari perdagangan di pasar komoditi primer adalah pergerakan harga yang fluktuatif dan perkembangan tren harga mengikuti pola tertentu, sehingga menarik untuk dimasuki dan dilakukan oleh para investor.
49 BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
1) Perkembangan Pasar Modal Indonesia
Indeks Harga Saham Gabungan mengalami peningkatan yang semakin pesat sejak krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Hal ini ditunjukkan dari perkembangan nilai IHSG dan nilai transaksi. Nilai IHSG mengalami peningkatan hingga 400 persen dari tahun 2000 hingga 2008. Kondisi ini juga diikuti nilai transaksi yang terus semakin meningkat. Nilai IHSG yang semakin tinggi merupakan bentuk kepercayaan investor atas kondisi ekonomi Indonesia yang semakin kondusif.
50
Penggabungan BEJ dan BES merupakan salah satu strategi yang telah dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia Tahun 2005-2009 dalam rangka restrukturisasi lembaga Bursa Efek. Penggabungan BEJ dan BES ini juga telah masuk sebagai salah satu program dalam Paket Kebijakan Sektor Keuangan (PKSK) yang telah ditetapkan pada tahun 2006. Tujuan utama dari program penggabungan ini adalah untuk menciptakan sinergi dan efisiensi dalam kegiatan di Pasar Modal.
Pada tanggal 30 Oktober 2007, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEJ dan BES telah menyetujui Rancangan Penggabungan BEJ dan BES yang kemudian dituangkan dalam Akta Penggabungan. Selanjutnya Bursa Efek hasil penggabungan berganti nama menjadi PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) yang resmi beroperasi menggunakan nama baru tersebut sejak tanggal 1 November 2007.
B. Analisa dan pembahasan
1) Analisis Deskriptif
51
Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Indeks (JII). Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut :
a. Harga komoditas dunia 1) Harga Minyak Mentah
Periode 2005 2006 2007 2008 2009
Januari 45 63 54 92 33
Februari 45 60 58 95 31
Maret 53 62 62 104 40
April 52 70 67 109 42
Mei 49 70 67 123 51
Juni 54 69 71 132 62
Juli 58 74 77 133 56
Agustus 64 73 71 108 63
September 63 62 77 96 61
Oktober 59 58 82 69 67
November 55 59 92 49 69
Desember 57 62 91 33 66
Rata-rata/bln 55 65 72 95 54
Tabel 4.1
Harga Minyak Mentah (US$/barel)
Sumber : OPEC, data diolah
Harga minyak dunia memiliki kecenderungan selalu berfluktuasi dari waktu-waktu. Harga minyak selama periode penelitian sempat mengalami trend kenaikan hingga tahun 2008 lalu menurun tajam hingga akhir periode penelitian. Meningkatnya harga minyak mentah dunia dapat mempengaruhi harga saham pada berbagai sektor. Pengaruh yang diberikannya dapat bersifat positif dan dapat juga bersifat negatif. Selain itu, dampak yang diberikan oleh meningkatnya harga minyak mentah dunia tehadap harga saham juga dapat bersifat
52
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa harga minyak mentah pada awal periode penelitian tercatat sebesar $45. Selama periode penelitian harga minyak mentah terus mengalami kenaikan
dimana harga minyak mentah tercatat berada pada harga yang sangat tinggi pada bulan Juli tahun 2008. Rata-rata harga tertinggi terjadi di tahun 2008 dan harga rata-rata terendah berada pada tahun 2005.
Berdasarkan grafik 4.1 harga minyak mentah dunia menunjukan trend kenaikan pada awal periode penelitian yang dilakukan. Sempat mengalami penurunan yang drastis pada pada akhir tahun 2008 dan mengalami kenaikan kembali pada tahun 2009.
20 40 60 80 100 120 140
2005 2006 2007 2008 2009
MINYAK
Grafik 4.1
53
Sepanjang tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 harga minyak mentah dunia terus meningkat, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu ketatnya cadangan prasarana pengadaan minyak, kapasitas produksi, pengangkutan dan terutama kapasitas kilang. Sementara itu, penyebab turunnya harga minyak pada periode 2008 sampai dengan 2009 adalah akibat dampak dari krisis global yang melanda perekonomian dunia, sehingga berimbas pada anjloknya harga minyak.
2) Harga Emas
Periode 2005 2006 2007 2008 2009
Januari 424 550 631 890 859
Februari 423 555 665 922 943
Maret 434 557 655 968 924
April 429 611 679 910 890
Mei 422 675 667 889 929
Juni 431 596 656 889 946
Juli 425 634 665 940 934
Agustus 438 633 665 839 949
September 456 598 713 830 997
Oktober 470 586 755 807 1043
November 477 628 806 761 1127
Desember 510 630 803 816 1135
Rata-rata/bln 445 604 697 872 973
Harga Emas (US $/troy ounce) Tabel 4.2
Sumber: Bank Indonesia, data diolah
54
mudah didapat, sementara permintaan terhadap emas tidak pernah berkurang, akibatnya harga emas cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa harga emas pada awal periode penelitian adalah sebesar $424. Selama periode penelitian harga emas terus mengalami trend kenaikan dan tercatat
berada pada harga yang tinggi pada akhir periode penelitian yaitu sebesar $1135 yang merupakan rekor tertinggi harga emas. Rata-rata tertinggi terjadi pada tahun 2009 dan harga rata-rata terendah berada pada tahun 2005, dimana harga emas tertinggi terjadi pada bulan Desember 2009 sebesar $1218,25 dan harga terendah terjadi pada bulan Februari $411,10.
400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200
2005 2006 2007 2008 2009
55
Berdasarkan grafik 4.2 nilai harga emas menunjukan trend kenaikan sepanjang periode penelitian yang dilakukan. Pada awal periode penelitian tercatat harga emas sebesar $424, harga emas terus mengalami kenaikan hingga puncaknya adalah pada akhir penelitian yang mencapai nilai $1135 yang merupakan rekor tertinggi dari harga emas.
56
3) Harga Nikel
Periode 2005 2006 2007 2008 2009
Januari 14564 14661 36822 27775 11563
Februari 15416 14975 41078 28065 10411
Maret 16240 14926 46125 31093 9711
April 16138 18029 49957 28777 11332
Mei 17002 21131 51783 25657 12763
Juni 16113 20586 41552 22563 14962
Juli 14588 26186 33400 20107 16025
Agustus 14962 30469 27650 19112 19376
September 14155 29703 29548 17782 17405
Oktober 12431 32551 31156 12145 18490
November 12235 31892 30506 10777 16911
Desember 13491 34401 26054 9847 17122
Rata-rata/bln 14778 24126 37136 21141 14672
Harga Nikel (US $/Metric Tons) Tabel 4.3
Sumber: Bank Indonesia, data diolah
Kenaikan harga komoditas sektor pertambangan dalam beberapa tahun terakhir, ternyata, tak berlaku untuk komoditi nikel. Harga komoditi yang satu ini justru semakin terpuruk. Kondisi ini jelas memberi sentimen negatif bagi emiten saham seperti PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO).
57
Berdasarkan grafik 4.3 dapat diketahui bahwa harga nikel sempat mengalami trend kenaikan selama periode 2005 sampai 2007 hingga mencapai level harga tertinggi yaitu pada bulan Mei 2007 sebesar $51783. Setelah mencapai level tertinggi pada tahun 2007 harga nikel cenderung mengalami trend penurunan sampai menjelang akhir periode penelitian. Peningkatan harga nikel pada periode awal penelitian sampai dengan tahun 2007 mengikuti peningkatan harga komoditas lainnya terutama harga minyak mentah. Selain itu, meningkatnya permintaan terutama dari Cina juga turut mempengaruhi peningkatan harga nikel. Sementara itu penurunan
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000
2005 2006 2007 2008 2009
NIKEL
58
harga nikel pada akhir periode penelitian disebabkan oleh krisis global yang melanda perekonomian dunia yang menyebabkan ditutupnya operasi tambang nikel di cekungan Sudbury, Kanada milik Vale Inco Ltd yang memberikan kontribusi pada 10% produksi nikel dunia.
4) Harga Timah
Periode 2005 2006 2007 2008 2009
Januari 7706 7067 11332 16311 11563
Februari 8106 7789 12890 17270 11075
Maret 8442 7949 13787 19799 10689
April 8134 8860 13953 21646 11830
Mei 8099 8793 14162 23854 13872
Juni 7604 7859 14079 22133 15009
Juli 7181 8356 14733 22956 13904
Agustus 7228 8437 15047 19935 14762
September 6771 8975 14989 18307 14936
Oktober 6415 9810 16068 14423 15037
November 6174 10038 16661 13674 14966
Desember 6763 11126 16245 11292 15589
Rata-rata/bln 7385 8755 14495 18467 13603 Harga Timah (US $/Metric Tons)
Tabel 4.4
Sumber: Bank Indonesia, data diolah
Ada tiga hal yang membuat harga timah dunia relatif tinggi.
Pertama diakibatkan turunnya stok di London Metal Exchange (LME), kedua akibat permintaan yang meningkat. Yang ketiga, berhubungan dengan Indonesia, yaitu apabila ekspor dari Indonesia