PENGARUH KOTA TEBING TINGGI SEBAGAI KOTA
PERDAGANGAN DAN JASA TERHADAP
PENGEMBANGAN WILAYAH
TESIS
Oleh
LIA SARI
097003012/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2012
SE K
O L A
H
P A
S C
A S A R JA
N
PENGARUH KOTA TEBING TINGGI SEBAGAI KOTA
PERDAGANGAN DAN JASA TERHADAP
PENGEMBANGAN WILAYAH
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
LIA SARI
097003012/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PENGARUH KOTA TEBING TINGGI SEBAGAI KOTA PERDAGANGAN DAN JASA TERHADAP
PENGEMBANGAN WILAYAH Nama Mahasiswa : Lia Sari
Nomor Pokok : 097003012
Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Prof. Bachtiar Hassan Miraza) K e t u a
(Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE) (Dr. Drs. Rujiman, MA) Anggota Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE)(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)
Telah diuji pada
Tanggal : 20 Januari 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Bachtiar Hassan Miraza
Anggota : 1. Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE
2. Dr. Drs. Rujiman, MA
3. Ir. Supriadi, MS
PENGARUH KOTA TEBING TINGGI SEBAGAI KOTA PERDAGANGAN DAN JASA TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH
ABSTRAK
Posisi Kota Tebing Tinggi sebagai Kota Perdagangan dan Jasa berdampak terhadap perkembangan wilayah disebabkan Kota Tebing Tinggi yang merupakan lintasan antar Propinsi Sumatera Utara sangat mendukung bagi penduduk untuk mengembangkan usaha perdagangan dan jasa.
Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisis posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa, dan menganalisis pengaruh Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa terhadap pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi, menggunakan metode analisis LQ, analisis linier regresi berganda, dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa sesuai dengan nilai LQ yang lebih dari satu, termasuk sektor yang maju dan tumbuh pesat berdasarkan tipologi klassen dan tumbuh cepat di Kabupaten berdasarkan analisis shift share, kecuali sektor jasa-jasa yang tumbuh lambat. Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa, yang dilihat dari variable perdagangan masyarakat dan jasa-jasa masyarakat secara simultan maupun secara parsial memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi.
THE EFFECT OF TEBING TINGGI CITY AS CITIES AGAINST TRADE AND SERVICES ON REGIONAL DEVELOPMENT
ABSTRACT
The position of Tebing Tinggi City as the city of commerce and services impact on regional growth due the City of Tebing Tinggi which is a path between the Province of North Sumatra is very supportive for residents to develop trade and services.
The purpose of this study to analyze the position of Tebing Tinggi City as a city of trade and services, and analyze the influence of Tebing Tinggi City as a city of trade and services to the regional development of Tebing Tinggi City, using the LQ analysis, linear regression analysis and descriptive analysis.
The results showed that the position of Tebing Tinggi City as a city of trade and services in accordance with the LQ of more than one, including the advanced sector and growing rapidly based on the typology Klassen and rapidly growing district based on shift share analysis, except for the services sector is growing slowly . The City of Tebing Tinggi as a city of trade and services, as seen from the trade variable and the public services and partially simultaneous positive and significant influence on the regional development of Tebing Tinggi City.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan taufik dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan
judul: “Pengaruh Kota Tebing Tinggi Sebagai Kota Perdagangan dan Jasa
Terhadap Pengembangan Wilayah”. Tesis ini diajukan untuk memenuhi salah satu
syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Pengembangan Wilayah dan
Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada kesempatan ini tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya sehingga
tulisan ini dapat diselesaikan, terutama kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Bapak Prof. Bachtiar Hassan Miraza, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang
telah banyak memberi saran dan arahannya sejak awal perkuliahan hingga
penyelesaian tesis ini.
3. Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE, selaku Ketua Program Studi
Pengembangan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana USU Medan dan
sekaligus Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak memberi saran dan
arahannya sejak awal perkuliahan hingga penyelesaian tesis ini.
4. Bapak Dr. Drs. Rujiman, MA, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah
banyak memberi saran dan arahannya sejak awal perkuliahan hingga penyelesaian
tesis ini.
5. Bapak Ir Supriadi, MS dan Agus Suriadi, S.Sos, M.Si selaku Dosen
Pembanding yang telah memberikan saran dan masukan demi kesempurnaan tesis
ini.
6. Seluruh Dosen-Pengajar, beserta Staf Administrasi yang telah banyak
7. Ayahnda dan Ibunda tercinta yang senantiasa berdoa dan memberikan dorongan
dan perhatian yang tulus ikhlas sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
Tesis ini bukan tujuan akhir melainkan merupakan salah satu tujuan antara
yang harus penulis lalui untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Penulis menyadari
bahwa penulisan ini masih belum sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang
membangun dari semua pihak yang berkesempatan membaca tulisan ini sangat
diharapkan.
Medan, Januari 2012
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Tebing Tinggi pada tanggal 10 Pebruari 1985.
Penulis merupakan putri tunggal dari pasangan Ayahanda Ir. Syamsuddin Marpaung
dan Ibunda B. Harnisyah Hasibuan.
Penulis menempuh pendidikan TK. Raudhatul Anfhal di Kota Palembang.
Kemudian Sekolah Dasar Negeri 165728 Kota Tebing Tinggi tamat tahun 1997.
Melanjutkan pendidikan di SLTPN I Kota Tebing Tinggi tamat tahun 2000 dan
SMUN I Kota Tebing Tinggi tamat tahun 2003. Pada tahun 2004 penulis diterima di
Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dengan status ikatan dinas.
Penulis memilih jurusan Pembangunan dan Pemberdayaan di Fakultas Politik
Pemerintahan. Penulis menyelesaikan pendidikan program Diploma IV (D-IV) pada
tahun 2008 dengan memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Pemerintahan (S.STP).
Tahun 2008 penulis bekerja sebagai staf di Kelurahan Pasar Baru Kota Tebing
Tinggi dan di tahun 2010 menjabat sebagai Kepala Seksi Pemerintahan di Kelurahan
Pasar Baru Kota Tebing Tinggi. Di Tahun 2010 ini juga penulis mendapat
kesempatan melanjutkan pendidikan Pascasarjana pada Program Studi Perencanaan
DAFTAR ISI
1.1.Latar Belakang ………
1.2.Perumusan Masalah ………
1.3.Tujuan Penelitian ………...
1.4.Manfaat Penelitian ………..
1
5
5
5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………... 7
2.1 Pembangunan Daerah………...
2.2 Perencanaan Pembangunan Daerah………..
2.3. Teori Basis Ekonomi (Economic Base Theory) ………..
2.3.1. Analisis Location Quotient (LQ) ………..
2.3.2. Analisis Tipologi Klassen ……….
2.3.3. Analisis Shift Share (Shift Share Analysis) …………...
2.4 Produk Domestik Regional Bruto………
2.5. Pendapatan Masyarakat ………...
2.6. Perkembangan Wilayah ………...
2.7. Penelitian Sebelumnya ………
2.8. Kerangka Pemikiran ………
BAB III METODE PENELITIAN ……….. 35
3.1 Ruang Lingkup Penelitian……….
3.2 Jenis dan Sumber Data………...
3.3 Lokasi Penelitian ………….……….
3.4 Populasi dan Sampel ………
3.5. Teknik Pengumpulan Data ………...
3.6. Uji Coba Instrumen ……….
3.6.1. Uji Validitas ………..
3.6.2. Uji Realibilitas ………..
3.7 Analisis Data ………
3.6. Definisi Variabel Penelitian ……… 35
4.1. Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi ………...
4.1.1. Sejarah Terbentuknya Kota Tebing Tinggi …………..
4.1.2. Kondisi Fisik Kota Tebing Tinggi ………....
4.1.3. Penduduk Kota Tebing Tinggi ………..
4.2. Posisi Kota Tebing Tinggi sebagai Kota Perdagangan
dan Jasa ………
4.2.1. Klasifikasi Pertumbuhan Sektor Perekonmian Kota Tebing Tinggi ……….
4.2.2. Analisis LQ ………
4.2.3. Analisis Shift Share ………....
4.3.2.2. Perdagangan masyarakat ………
4.3.2.3. Jasa-jasa masyarakat ………..
4.3.3. Uji Hipotesis ……… 63
63
64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……… 71
5.1 Kesimpulan ………...
5.2 Saran-saran ………... 71
71
DAFTAR TABEL
Lokasi Penelitian ……….
Jumlah Penduduk Kota Tebing Tinggi pada Tahun 2009 ...
Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor PDRB Provinsi Sumatera Utara dan Kota Tebing Tinggi Tahun 2005-2009 ……
Klasifikasi Sektor PDRB Kota Tebing Tinggi Tahun 2005-2009 berdasarkan Tipologi Klassen ………
Hasil Perhitungan Indeks Location Quotient (LQ) Kota Tebing
Tinggi Tahun 2005-2009 ………...
Analisis PDRB Kota Tebing Tinggi dan Sumatera Utara dengan
Metode Shift Share ………
Hasil Perhitungan NationalShare Kota Tebing Tinggi …………
Hasil Perhitungan ProportionalShare (P) Kota Tebing Tinggi …
Hasil Perhitungan Differential Shift (D) Kota Tebing Tinggi …...
Jumlah Responden Berdasarkan Umur ………...
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ………..
Uji Validitas Variabel Pengembangan Wilayah………...
Uji Validitas Variabel Perdagangan Masyarakat …..…………...
Uji Validitas Variabel Jasa-jasa Masyarakat………...
Hasil Analisis Regresi Berganda …………...
4.16
4.17.
4.18
4.19
Jumlah Sarana Pendidikan (TK, SD, SMP, SMA) di Kota Tebing Tinggi Tahun 2005-2009 ………...
Jumlah Sarana Kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit) di Kota Tebing Tinggi Tahun 2005-2009 ………..
Infrastruktur Jalan di Kota Tebing Tinggi Tahun 2005-2009 ...
Penerimaan PAD Kota Tebing Tinggi Tahun 2009-2010 (Rp. Jutaan) ………...
67
68
69
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1.
4.1.
Kerangka Pemikiran Penelitian ………...
Peta Administrasi Kota Tebing Tinggi ...…...
34
DAFTAR
LAMPIRAN
Hasil Uji Validitas dan Realibitas Variabel Pengembangan Wilayah ………....…...
Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Variabel Perdagangan
Masyarakat ………
Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Variabel Jasa-Jasa
Masyarakat ………
Data Tabulasi Variabel Penelitian ……….
Hasil Analisis Regresi Berganda ………...
Data PDRB (Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga
Konstan Tahun 2000 (Rp. Milyar) ………
Data PDRB Kota Tebing Tinggi Atas Harga Konstan Tahun 2000 (Rp. Jutaan rupiah) ………...
PENGARUH KOTA TEBING TINGGI SEBAGAI KOTA PERDAGANGAN DAN JASA TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH
ABSTRAK
Posisi Kota Tebing Tinggi sebagai Kota Perdagangan dan Jasa berdampak terhadap perkembangan wilayah disebabkan Kota Tebing Tinggi yang merupakan lintasan antar Propinsi Sumatera Utara sangat mendukung bagi penduduk untuk mengembangkan usaha perdagangan dan jasa.
Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisis posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa, dan menganalisis pengaruh Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa terhadap pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi, menggunakan metode analisis LQ, analisis linier regresi berganda, dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa sesuai dengan nilai LQ yang lebih dari satu, termasuk sektor yang maju dan tumbuh pesat berdasarkan tipologi klassen dan tumbuh cepat di Kabupaten berdasarkan analisis shift share, kecuali sektor jasa-jasa yang tumbuh lambat. Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa, yang dilihat dari variable perdagangan masyarakat dan jasa-jasa masyarakat secara simultan maupun secara parsial memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi.
THE EFFECT OF TEBING TINGGI CITY AS CITIES AGAINST TRADE AND SERVICES ON REGIONAL DEVELOPMENT
ABSTRACT
The position of Tebing Tinggi City as the city of commerce and services impact on regional growth due the City of Tebing Tinggi which is a path between the Province of North Sumatra is very supportive for residents to develop trade and services.
The purpose of this study to analyze the position of Tebing Tinggi City as a city of trade and services, and analyze the influence of Tebing Tinggi City as a city of trade and services to the regional development of Tebing Tinggi City, using the LQ analysis, linear regression analysis and descriptive analysis.
The results showed that the position of Tebing Tinggi City as a city of trade and services in accordance with the LQ of more than one, including the advanced sector and growing rapidly based on the typology Klassen and rapidly growing district based on shift share analysis, except for the services sector is growing slowly . The City of Tebing Tinggi as a city of trade and services, as seen from the trade variable and the public services and partially simultaneous positive and significant influence on the regional development of Tebing Tinggi City.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang berlangsung secara
sadar, terencana dan berkelanjutan dengan sasaran utamanya adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan hidup manusia atau masyarakat suatu bangsa. Ini berarti
bahwa pembangunan senantiasa beranjak dari suatu keadaan atau kondisi kehidupan
yang kurang baik menuju suatu kehidupan yang lebih baik dalam rangka mencapai
tujuan nasional suatu bangsa.
Pembangunan dan pengembangan harus berjalan sesuai dengan kebijakan
publik yang telah disusun sebelumnya. Kebijakan publik yang disusun harus
mencakup kepentingan dari seluruh masyarakat (Miraza, 2005). Di sisi lain
pembangunan yang berkesinambungan harus dapat memberi tekanan pada
mekanisme ekonomi sosial, politik dan kelembagaan, baik dari sektor swasta maupun
pemerintah, demi terciptanya suatu perbaikan standar hidup masyarakat secara cepat
(Mahalli, 2005).
Pembangunan suatu wilayah akan cepat berkembang bila didukung
infrastruktur dan sistem jaringan yang memadai di wilayah tersebut. Infrastruktur
seperti pembangunan ruas jalan, penataan lingkungan, drainase dan lain sebagainya.
Di era otonomi daerah setiap wilayah diberikan wewenang untuk mengembangkan
untuk mengakses sarana dan prasarana baik fisik maupun sosial dan antara wilayah
satu dengan wilayah lainnya.
Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu
tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem yang tersedia pada daerah
tersebut. Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut maka
semakin mudah aksesibilitas yang didapat, begitu pula sebaliknya semakin rendah
tingkat aksesibilitas yang didapat maka semakin sulit daerah itu dijangkau dari daerah
lainnya (Bintarto, 1982: 91).
Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara.
Seperti umumnya daerah perkotaan yang mengandalkan perdagangan dan jasa,
perekonomian Kota Tebing Tinggi juga ditopang oleh kedua lapangan usaha tersebut.
Pada tahun 2009, kontribusi lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran
mencapai 25,46%, dan kontribusi lapangan usaha jasa-jasa mencapai 22,31% dari
total PDRB.
Pergeseran penduduk selalu dipengaruhi oleh kondisi social, budaya, dan
ekonomi, serta pemerintah. Pergeseran penduduk juga dapat dipengaruhi oleh adanya
fasilitas pendidikan, kesehatan, lapangan kerja yang tersedia, termasuk jaringan
utilitas yang pada dasarnya dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan
masyarakat.
Pola peegeseran penduduk di Kota Tebing Tinggi secara spasial mengikuti
jenjang hirarki beberapa kota kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai dan
dan pertumbuhan bagi beberapa kota kecamatan yang ada di sekitar Kota Tebing
Tinggi. Oleh karena itu pola pergerakan penduduk Kota Tebing Tinggi mengikuti
pala pergerakan barang dan fungsi pelayanan jasa. Pola pergerakan barang dan jasa di
Kota Tebing Tinggi dibedakan atas pola pergerakan internal dan pola pergerakan
eksternal.
Pola pergerakan internal merupakan pergerakan manusia yang terjadi antar
bagian wilayah Kota Tebing Tinggi. Pola pergerakan yang terjadi umumnya
berorientasi kepada bagian tengah wilayah Kota Tebing Tinggi yang memiliki
intensitas kegiatan ekonomi yang potensial, yaitu Kelurahan Pasar Gambir (terdapat
pasar tradisional berskala regional), Kelurahan Pasar Baru dan Kelurahan Badak
Bejuang (terdapat pasar ikan laut, ayam dan daging) serta sebagian Kelurahan Tebing
Tinggi Lama. Keempat kelurahan tersebut berfungsi sebagai kawasan kolektor dan
distributor barang dan jasa. Pola pergerakan internal ini didukung oleh aksesbilitas
dan fasilitas yang memadai seperti kondisi jalan raya yang cukup baik dan
tersedianya sarana transportasi yang memadai, baik dan lancar serta tersedianya
fasilitas sosial ekonomi lainnya.
Pola pergerakan eksternal merupakan pergerakan yang terjadi dari dalam
keluar wilayah Kota Tebing Tinggi dan dari luar ke dalam wilayah Kota Tebing
Tinggi. Pola pergerakan eksternal ini sangat dipengaruhi oleh konentrasi settlement
yang terpusat pada hirarki kota-kota kecamatan dalam kabupaten yang berada di
Sebagai sebuah kota yang termasuk kategori sedang, dalam dua dasawarsa
terakhir perekonomian Tebing Tinggi tumbuh dengan cepat seiring dengan
perkembangan fasilitas yang ada baik fasilitas ekonomi seperti perdagangan,
perbankan, industri, fasilitas pendidikan, kesehatan, komunikasi, serta fasilitas
pendukung lainnya. Perkembangan ekonomi Tebing Tinggi dipacu karena letak
strategis Kota tebing Tinggi yang menjadi jalur lintas Sumatera. Di samping itu
karena Tebing Tinggi merupakan daerah hinterland yang berkembang menjadi
wilayah kota yang maju, sehingga sebagian besar masyarakat daerah tetangga
memanfaatkan Kota Tebing Tinggi sebagai alternatif utama dalam pemenuhan
kebutuhan mereka, karena akses ke Kota Tebing Tinggi relatif lebih dekat,
terjangkau, efisien dan ekonomis. Kondisi ini mendorong perkembangan Kota Tebing
Tinggi sebagai kota perdagangan, yang tercermin dari aktivitas yang menonjol di
sektor perdagangan. Selain itu pola kegiatan ekonomi Kota Tebing Tinggi secara
perlahan mengalami pergeseran dan peralihan dimana peran kelompok tersier dalam
struktur PDRB lebih besar dari kelompok primer dan sekunder
Posisi Kota Tebing Tinggi sebagai Kota Perdagangan dan Jasa berdampak
terhadap perkembangan wilayah disebabkan Kota Tebing Tinggi yang merupakan
lintasan antar Provinsi Sumatera Utara sangat mendukung bagi penduduk untuk
mengembangkan usaha perdagangan dan jasa.
Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tebing Tinggi
untuk mendorong pembangunan daerah adalah melalui program pemberdayaan
Kecil dan Menengah (UKM). Saat ini lebih dari 4000 UKM beroperasi diberbagai
sektor usaha. Sejak Tahun 2001 Pemerintah Kota Tebing Tinggi telah menyalurkan
bantuan modal bergulir tanpa bunga kepada 1.000 UKM sebesar Rp 6,7 Milyar.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, penulis ingin menganalisis sejauh mana
dampak posisi Kota Tebing Tinggi terhadap perkembangan wilayah, dalam hal ini
mengambil judul “Pengaruh Kota Tebing Tinggi sebagai Kota Perdagangan dan
Jasa terhadap Perkembangan Wilayah”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas, maka dapat
diidentifikasikan masalah di dalam penulisan ini adalah:
1. Bagaimana posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa.
2. Bagaimana pengaruh Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa
terhadap pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis:
1. Posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa.
2. Pengaruh Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa terhadap
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu:
1. Sebagai bahan informasi masukan bagi pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk
mengetahui sudah sampai sejauh manakah pengaruh Kota Tebing Tinggi sebagai
kota perdagangan dan jasa terhadap perkembangan wilayah
2. Agar dapat digunakan oleh instansi lain, yang terkait dalam hal penyusunan
perencanaan pembangunan sarana dan prasarana pendukung perkembangan
wilayah
3. Sebagai bahan perbandingan dan studi bagi peneliti-peneliti lain yang ingin
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pembangunan Daerah
Sasaran utama dari pembangunan nasional adalah meningkatkan pertumbuhan
ekonomi serta pemerataan hasil-hasilnya demikian juga ditujukan bagi pemantapan
stabilitas nasional. Hal tersebut sangat ditentukan keadaan pembangunan secara
kedaerahan. Dengan demikian para perencana pembangunan nasional harus
mempertimbangkan aktifitas pembangunan dalam konteks kedaerahan tersebut sebab
masyarakat secara keseluruhan adalah bisnis dan bahkan merupakan faktor yang
sangat menentukan bagi keberhasilan pembangunan nasional.
Sehubungan dengan keterangan di atas maka perlu diuraikan pengertian
pembangunan daerah seperti dikemukakan oleh Sukirno (2000) yaitu:
1. Sebagai pembangunan negara ditinjau dari sudut ruang atau wilayahnya dan
dalam konteks ini istilah yang paling tepat digunakan adalah pembangunan
wilayah.
2. Strategi pembangunan daerah dimaksudkan sebagai suatu langkah untuk
melengkapi strategi makro dan sektoral dari pembangunan nasional.
Dengan dilaksanakannya pembangunan wilayah bukanlah semata-mata
terdorong oleh rendahnya tingkat hidup masyarakat melainkan merupakan keharusan
dalam meletakkan dasar-dasar pertumbuhan ekonomi nasional yang sehat, untuk
dapat menaikkan taraf hidup masyarakat sekaligus merupakan landasan
pembangunan nasional akan berhasil apabila pembangunan masyarakat berhasil
dengan baik.
Pada dasarnya pembangunan daerah adalah berkenaan dengan tingkat dan
perubahan selama kurun waktu tertentu suatu set variabel-variabel, seperti produksi,
penduduk, angkatan kerja, rasio modal tenaga, dan imbalan bagi faktor (faktor
returns) dalam daerah di batasi secara jelas (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).
Dalam upaya pembangunan regional, masalah yang terpenting yang menjadi
perhatian para ahli ekonomi dan perencanaan wilayah adalah menyangkut proses
pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Perbedaan teori pertumbuhan
ekonomi wilayah dan teori pertumbuhan ekonomi nasional terletak pada sifat
keterbukaannya. Dalam sistem wilayah mobilitas barang maupun orang atau jasa
relatif lebih terbuka, sedangkan pada skala nasional bersifat lebih tertutup
(Sirojuzilam, 2005).
Pembangunan daerah merupakan pembangungan yang segala sesuatunya
dipersiapkan dan dilaksanakan oleh darerah, mulai dari perencanaan, pembiayaan,
pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawabannya. Dalam kaitan ini daerah
memiliki hak otonom. Sedangkan pembangunan wilayah merupakan kegiatan
pembangunan yang perencanaan, pembiayaan, dan pertanggungjawabannya
dilakukan oleh pusat, sedangkan pelaksanaannya bisa melibatkan daerah di mana
Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bahwa corak pembangunan
yang diterapkan di setiap daerah akan berbeda pula. Peniruan mentah-mentah
terhadap pola kebijaksanaan yang pernah diterapkan dan berhasil pada suatu daerah,
belum tentu memberi manfaat yang sama bagi daerah yang lain (Munir, 2002).
Pada dasarnya pembangunan daerah dilakukan dengan usaha-usaha sendiri
dan bantuan teknis serta bantuan lain-lain dari pemerintah. Dalam arti ekonomi
pembangunan daerah adalah memajukan produksi pertanian dan usaha-usaha
pertanian serta industri dan lain-lain yang sesuai dengan daerah tersebut dan berarti
pula merupakan sumber penghasilan dan lapangan kerja bagi penduduk.
Dalam strategi pembangunan wilayah aspek-aspek pokok yang penting
dipecahkan adalah: di daerah-daerah mana serangkaian pembangunan selayaknya
dijalankan. Untuk beberapa proyek letak daerahnya sudah khusus dan tidak dapat lagi
dipindahkan, seperti proyek bendungan untuk tenaga listrik dan irigasi, proyek
pertambangan dan sebagainya.
Dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan
seluruhnya masayarakat Indonesia, pembangunan daerah perlu dipacu secara
bertahap. Untuk menjamin agar pembangunan daerah dapat memberikan sumbangan
yang maksimal dalam keseluruhan usaha pembangunan nasional haruslah dilakukan
kordinasi yang baik antara keduanya. Hal ini berarti bahwa pemerintah daerah harus
mempertimbangkan berbagai rencana pemerintah pusat maupun di daerah lain.
Sebelum suatu daerah menyusun berbagai langkah-langkah dalam
lebih terbatas dalam usaha mencapai tujuan pembangunannya sebab program
pembangunan daerah yang akan dilaksanakan suatu daerah tidak dapat bertentangan
dengan program pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Jadi pada hakekatnya perencanaan pembangunan yang dilaksanakan oleh
sesuatu daerah merupakan pelengkap perencanaan pembangunan yang dilaksanakan
oleh pemerintah pusat yaitu membuat suatu program untuk menyebarkan
proyek-proyek ke berbagai daerah dengan tujuan agar penyebaran tersebut akan memberikan
sumbangan yang optimal kepada usaha pemerintah untuk membangun.
Namun dalam prakteknya tujuan tersebut tidak selalau tercapai karena
perencanaan yang jauh dari sempurna oleh sesuatu daerah, organisasi tidak efisien,
kurangnya informasi mengenai potensi daerah dan berbagai faktor lain. Sebagai
akibat banyaknya kekurangan dalam merumuskan dan melaksanakan penyebaran
proyek-proyek ke berbagai daerah, pemerintah daerah dengan bantuan badan
perencana daerah yang bersangkutan haruslah secara aktif membantu perumusan
rencana pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat.
Dalam mewujudkan sasaran jangka panjang pembangunan, yakni menuju
masyarakat yang adil dan makmur telah dilakukan berbagai upaya yang mengarah
pada tercapainya cita-cita tersebut. Pembangunan daerah yang merupakan rangkaian
yang utuh dari pembangunan nasional pada beberapa tahun terakhir telah mulai
menunjukkan kemajuan yang berarti dalam meningkatkan kinerja dari daerah
Proses pembangunan bukan hanya ditentukan oleh aspek ekonomi semata,
namun demikian pertumbuhan ekonomi merupakan unsur yang penting dalam proses
pembangunan daerah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi masih merupakan target
utama dalam rencana pembangunan daerah disamping pembangunan sosial.
Pertumbuhan ekonomi setiap daerah akan sangat bervariasi sesuai dengan potensi
ekonomi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Simanjuntak, 2003).
2.2. Perencanaan Pembangunan Daerah
Wilayah adalah kumpulan daerah berhamparan sebagai satu kesatuan
geografis dalam bentuk dan ukurannya. Wilayah memiliki sumber daya alam dan
sumber daya manusia serta posisi geografis yang dapat diolah dan dimanfaatkan
secara efisien dan efektif melalui perencanaan yang komprehensif (Miraza, 2005).
Perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai upaya menghubungkan
pengetahuan atau teknik yang dilandasi kaidah-kaidan ilmiah ke dalam praksis
(praktik-praktik yang dilandasai oleh teori) dalam perspektif kepentingan orang
banyak atau public (Nugroho dan Dahuri, 2004). Karena berlandaskan ilmiah, maka
perencanaan pembangunan haruslah tetap mempertahankan dan bahkan
meningkatkan validitas keilmuan (scientific validity) dan relevansi kebijakannya.
Didorong oleh motif ini, perencanaan pembangunan mengalami perkembangan yang
Dalam upaya pembangunan regional, masalah yang terpenting yang menjadi
perhatian para ahli ekonomi dan perencanaan wilayah adalah menyangkut proses
pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan (Sirojuzilam dan Mahalli,
2010).
Dalam perencanaan pembangunan nasional maupun dalam perencanaan
pembangunan daerah, pendekatan perencanaan dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu pendekatan sektoral dan pendekatan regional (wilayah). Pendekatan sektoral
dengan memfokuskan perhatian pada sektor-sektor kegiatan yang ada di wilayah
tersebut. Pendekatan ini mengelompokkan kegiatan ekonomi atas sektor-sektor yang
seragam atau dianggap seragam. Pendekatan regional melihat pemanfaatan ruang
serta interaksi berbagai kegiatan dalam ruang wilayah. Jadi, terlihat perbedaan fungsi
ruang yang satu dengan ruang lainnya dan bagaimana ruang itu saling berinteraksi
untuk diarahkan kepada tercapainya kehidupan yang efisien dan nyaman. Perbedaan
fungsi terjadi karena perbedaan lokasi, perbedaan potensi, perbedaan aktivitas utama
pada masing-masing ruang yang harus diarahkan untuk bersinergi agar saling
mendukung penciptaan pertumbuhan yang serasi dan seimbang (Tarigan, 2006).
Kebijakan pembangunan wilayah merupakan keputusan atau tindakan oleh
pejabat pemerintah berwenang atau pengambil keputusan publik guna mewujudkan
suatu kondisi pembangunan. Sasaran akhir dari kebijakan pembangunan tersebut
adalah untuk dapat mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan sosial secara menyeluruh sesuai dengan keinginan dan aspirasi yang
2.3. Teori Basis Ekonomi (Economic Base Theory)
Teori basis ekspor murni dikembangkan pertama kali oleh Tiebout. Teori ini
membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas
sektor basis dan sektor non basis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat
exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan
sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Sedangkan
kegiatan non basis adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah
itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum
perekonomian wilayah tersebut. Artinya, sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas
tumbuh). Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara
keseluruhan (Tarigan, 2007).
Aktivitas basis memiliki peranan sebagai penggerak utama (primer mover)
dalam pertumbuhan suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu wilayah ke wilayah
lain akan semakin maju pertumbuhanan wilayah tersebut, dan demikian sebaliknya.
Setiap perubahan yang terjadi pada sektor basis akan menimbulkan efek ganda
(multiplier effect) dalam perekonomian regional (Adisasmita, 2005).
Sektor basis adalah sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian
daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif (Competitive Advantage) yang
cukup tinggi. Sedangkan sektor non basis adalah sektor-sektor lainnya yang kurang
potensial tetapi berfungsi sebagai penunjang sektor basis atau service industries
Location Quotient (LQ), yaitu suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu
sektor/industri di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut
secara nasional (Tarigan, 2007).
2.3.1. Analisis Location Quotient (LQ)
Pendekatan LQmempunyai dua kelebihan diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Memperhitungkan ekspor, baik secara langsung maupun tidak lansung (barang
antara).
b. Metode ini tidak mahal dan dapat diterapkan pada data distrik untuk mengetahui
kecendrungan.
Kelebihan analisis LQ yang lainnya adalah analisis ini bisa dibuat menarik
apabila dilakukan dalam bentuk time series/trend, artinya dianalisis selama kurun
waktu tertentu. Dalam hal ini perkembangan LQ bisa dilihat untuk suatu komoditi
tertentu dalam kurun waktu yang berbeda, apakah terjadi kenaikan atau penurunan
(Tarigan, 2005).
Untuk menentukan sektor basis dan non basis di Kota Tebing Tinggi
digunakan metode analisis Location Quotient (LQ). Metode LQ merupakan salah satu
pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal
untuk memahami sektor kegiatan dari PDRB Kota Tebing Tinggi yang menjadi
pemacu pertumbuhan. Metode LQ digunakan untuk mengkaji kondisi perekonomian,
mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian. Sehingga nilai LQ
yang sering digunakan untuk penentuan sektor basis dapat dikatakan sebagai sektor
pada penciptaan lapangan kerja. Untuk mendapatkan nilai LQ menggunakan metode
yang mengacu pada formula yang dikemukakan oleh Bendavid-Val dalam Kuncoro
(2004) dan Tarigan (2007) sebagai berikut:
Perhitungan LQ menggunakan rumus sebagai:
Si/S LQ = ---
Ni/N
Keterangan:
LQ: Nilai Location Quotient
Si : PDRB Sektor i di Kota Tebing Tinggi
S : PDRB total di Kota Tebing Tinggi
Ni : PDRB Sektor i di Provinsi Sumatera Utara
N : PDRB total di Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada
tiga kemungkingan nilai LQ yang dapat diperoleh, yaitu:
1. Nilai LQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kota Tebing
Tinggi adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi
Sumatera Utara.
2. Nilai LQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kota Tebing
Tinggi lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian
3. Nilai LQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kota Tebing
Tinggi lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian
Provinsi Sumatera Utara.
Apabila nilai LQ > 1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut
merupakan sektor basis dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak
perekonomian Kota Tebing Tinggi. Sebaliknya apabila nilai LQ < 1, maka sektor
tersebut bukan merupakan sektor basis dan kurang potensial untuk dikembangkan
sebagai penggerak perekonomian Kota Tebing Tinggi.
Data yang digunakan dalam analisis Location Quotient (LQ) ini adalah PDRB
Kota Tebing Tinggidan Provinsi Sumatera Utara tahun 2005-2009 menurut lapangan
usaha atas dasar harga konstan tahun 2000.
2.3.2. Analisis Tipologi Klassen
Tipologi Klassen merupakan salah satu alat analisis ekonomi regional yang
dapat digunakan untuk mengetahui klasifikasi sektor perekonomian wilayah Kota
Tebing Tinggi. Analisis Tipologi Klassen digunakan dengan tujuan mengidentifikasi
posisi sektor perekonomian Kota Tebing Tinggi dengan memperhatikan sektor
perekonomian Provinsi Sumatera Utara sebagai daerah referensi.
Analisis Tipologi Klassen menghasilkan empat klasifikasi sektor dengan
karakteristik yang berbeda sebagai berikut (Sjafrizal, 2008):
1. Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector) (Kuadran I).
Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam
PDRB daerah yang menjadi referensi (s) dan memilki nilai kontribusi sektor
terhadap PDRB (ski) yang lebih besar dibandingkan kontribusi sektor tersebut
terhadap PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan
dengan si > s dan ski
2. Sektor maju tapi tertekan (stagnant sektor) (Kuadran II). Kuadran ini merupakan
kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (s > sk.
i) yang lebih kecil
dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang
menjadi referensi (s), tetapi memilki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (ski)
yang lebih besar dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah
yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si < s dan ski
3. Sektor potensial atau masih dapat berkembang (developing sector) (Kuadran III).
Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam
PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam
PDRB daerah yang menjadi referensi (s), tetapi memilki nilai kontribusi sektor
terhadap PDRB (ski) yang lebih kecil dibandingkan kontribusi sektor tersebut
terhadap PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan
dengan s
>
sk.
i > s dan ski
4. Sektor relatif tertinggal (underdeveloped sector) (Kuadran IV). Kuadran ini
merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (s < sk.
i) yang
lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah
PDRB (ski) yang lebih kecil dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap
PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si
< s dan ski
Klasifikasi sektor PDRB menurut Tipologi Klassen sebagaimana tercantum pada
Tabel 2.1.
< sk.
Tabel 2.1. Klasifikasi Sektor PDRB Menurut Tipologi Klassen
Kuadran I Kuadran II
Sektor yang maju dan tumbuh dengan Sektor maju tapi tertekan
pesat (developed sector) (Stagnant sector)
si > s dan ski > sk si < s dan ski > sk
Kuadran III Kuadran IV
Sektor potensial atau masih dapat Sektor relatif tertinggal
berkembang (developing sector) (underdeveloped sector)
si > s dan ski < sk si < s dan ski
Sumber: Sjafrizal, 2008
< sk
2.3.3. Analisis Shift Share (Shift Share Analysis)
Analisis Shift Share digunakan untuk menganalisis dan mengetahui
pergeseran dan peranan perekonomian di daerah. Metode itu dipakai untuk
mengamati struktur perekonomian dan pergeserannya dengan cara menekankan
pertumbuhan sektor di daerah, yang dibandingkan dengan sektor yang sama pada
tingkat daerah yang lebih tinggi atau nasional. Perekonomian daerah yang didominasi
oleh sektor yang lamban pertumbuhannya akan tumbuh dibawah tingkat pertumbuhan
perekonomian daerah di atasnya.
Shift Share merupakan teknik yang sangat berguna dalam Analisis
nasional. Analisis ini bertujuan untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja
perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan daerah yang lebih besar.
Analisis ini memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam 3 bidang
yang berhubungan satu dengan yang lainnya (Arsyad, 1999; Tarigan, 2007), yaitu:
Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis:
a. perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan
pada sektor yang sama di perekonomian yang dijadikan acuan.
b. Pergeseran proporsional (proportional shift) mengukur perubahan relatif,
pertumbuhan atau penurunan, pada daerah dibandingkan dengan perekonomian
yang lebih besar yang dijadikan acuan. Pengukuran ini memungkinkan kita untuk
mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada sektor-sektor yang
tumbuh lebih cepat daripada perekonomian yang dijadikan acuan.
c. Pergeseran diferensial (differential shift) membantu kita dalam menentukan
seberapa jauh daya saing sektor-sektor daerah (lokal) dengan perekonomian yang
dijadika acuan. Oleh karena itu, jika pergeseran diferensial dari suatu sektor
adalah positif, maka sektor tersebut lebih tinggi daya saingnya daripada sektor
yang sama pada perekonomian yang dijadikan acuan.
Rumus dari analisis Shift Share adalah sebagai berikut (Glasson, 1990):
Gj : Yjt – Yjo
(Nj + Pj + Dj)
Nj : Yjo (Yt / Yo) – Yjo
Pj : ∑i [(Yjt / Yio) – (Yt / Yo)] Yijo
Dj : ∑t [ Yijt – (Yit / Yio) Yijo]
: (P + D) j – Pj
Di mana:
Gj : Pertumbuhan PDRB Total Kota Tebing Tinggi
Nj : Komponen Share
(P + D)j : Komponen Net Shift
Pj : Proportional Shift Kota Tebing Tinggi
Dj : Differential Shift Kota Tebing Tinggi
Yj : PDRB Total Kota Tebing Tinggi
Y : PDRB Total Provinsi Sumatera Utara
o,t : Periode awal dan Periode akhir
i : Subskripsi sektor pada PDRB
Catatan: Simbol E (tenaga kerja) dalam buku asli, diganti dengan simbol Y (PDRB)
karena data yang diteliti adalah PDRB.
Jika Pj > 0, maka Kota Tebing Tinggiakan berspesialisasi pada sektor yang di tingkat
propinsi tumbuh lebih cepat. Sebaliknya jika Pj < 0, maka Kota Tebing Tinggi akan
berspesialisasi pada sektor yang di tingkat propinsi tumbuh lebih lambat.
Bila Dj > 0, maka pertumbuhan sektor i di Kota Tebing Tinggi lebih cepat dari
pertumbuhan sektor yang sama di Provinsi Sumatera Utara dan bila Dj < 0, maka
pertumbuhan sektor i di Kota Tebing Tinggi relatif lebih lambat dari pertumbuhan
2.4. Produk Domestik Regional Bruto
Dalam ruang lingkup suatu negara dikenal istilah yang disebut: Gross
National Product (GNP) yang berarti Produk Nasional Kotor, sedangkan dalam suatu
kesatuan wilayah yang lebih rendah hal ini disebut Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB).
Berdasarkan uraian di atas dapat kita nyatakan sebagai Produk Nasional Kotor
yang dapat mencakup suatu negara kesatuan wilayah tertentu. Apabila ditarik
pengertian tersebut dalam suatu wilayah (region) tertentu maka diperoleh Produk
Regional Kotor yang sebenarnya merupakan perkiraan pendapatan yang diterima oleh
penduduk suatu wilayah yakni jumlah seluruh pendapatan sebagai balas jasa
penggunaan faktor-faktor produksi oleh wilayah. Dengan kata lain Produk Domestik
Regional Bruto dapat diartikan sebagai: Estimasi total produk barang dan jasa yang
diterima oleh masyarakat suatu daerah sebagai balas jasa dari penggunaan
faktor-faktor produksi yang dimilikinya. Dalam hal ini maka pendapatan yang dihasilkan
atas penggunaan faktor-faktor tetapi berada di luar wilayah tersebut tidaklah
diperhitungkan.
Menurut Kusmadi, dkk., (1996 dalam Prihatin, 1999) produk domestik
regional bruto (PDRB) merupakan satu indikator ekonomi untuk mengukur kemajuan
pembangunan di suatu wilayah. Sebagai nilai dari semua barang dan jasa yang
dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi, PDRB bermanfaat untuk mengetahui tingkat
pertumbuhan ekonomi, dan pola/struktur perekonomian pada satu tahun atau periode
di suatu negara atau wilayah tertentu.
Berdasarkan lapangan usaha, PDRB dibagi dalam sembilan sektor, sedangkan
secara makro ekonomi dibagi menjadi tiga kelompok besar yang disebut sebagai
sektor primer, sekunder dan tersier. Sektor primer apabila outputnya masih
merupakan proses tingkat dasar dan sangat bergantung kepada alam, yang termasuk
dalam sektor ini adalah sektor Pertanian dan sektor Pertambangan dan Penggalian.
Untuk sektor ekonomi yang outputnya berasal dari sektor primer dikelompokkan ke
dalam sektor sekunder, yang meliputi sektor Industri Pengolahan, sektor Listrik, Gas
dan Air Minum serta sektor Bangunan. Sedangkan sektor-sektor lainnya, yakni sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor Bank
dan Lembaga Keuangan lainnya serta sektor Jasa-Jasa dikelompokkan ke dalam
sektor tersier (Sitorus, dkk., 1997 dalam Prihatin, 1999).
Dalam perhitungan pendapatan nasional, terdapat 2 (dua) metode antara lain:
1. Metode langsung, yaitu perhitungan nilai tambah dari sutu lapangan usaha/sektor
atau sub sektor suatu region dengan cara mengalokasikan angka pendapatan
nasional.
2. Metode tidak langsung, yaitu metode alokasi pendapatan nasional dengan
memperhitungkan nilai tambah sektor/sub sektor suatu region dengan cara
mengalokasikan angka pendapatan nasional dan sebagai dasar alokasi adalah
jumlah produksi fisik, nilai produksi fisik, nilai produksi bruto/netto dan tenaga
Metode umum yang digunakan dalam kedua metode di atas adalah dengan
metode langsung, seperti di Indonesia bahkan juga di Pemerintah Kota Tebing
Tinggi.
Metode dimasud dilaksanakan dengan beberapa pendekatan antara lain:
1. Pendekatan Produksi (Production Approach), yaitu menghitung nilai tambah dari
barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan cara
mengurangkan biaya tiap-tiap sektor/sub sektor.
2. Pendekatan Pendapatan (Income Approach), yaitu menghitung nilai tambah setiap
sektor kegiatan ekonomi dengan menjumlahkan semua balas jasa faktor-faktor
produksi yaitu upah/gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tidak langsung
netto.
3. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach), yaitu menghitung nilai tambah
suatu kegiatan ekonomi yang bertitik tolak pada penggunaan akhir dari barang
dan jasa yang diproduksi (Kusmadi, dkk., 1996 dalam Prihatin, 1999).
Di Indonesia, pendekatan yang umum digunakan adalah dari segi Pendekatan
Produksi. Perlu diperhatikan bahwa dalam menjumlahkan hasil produksi barang dan
jasa, haruslah dicegah perhitungan ganda (Double Counting/Multiple Counting). Hal
tersebut penting sebab sering terjadi bahan mentah suatu sektor dihasilkan oleh sektor
lain, sehingga nilai bahan mentah tersebut telah dihitung pada sektor yang
menghasilkannya.
Produk Domestik Regional Bruto secara keseluruhan maupun sektoral
atas dasar harga konstan dengan suatu tahun dasar. Penyajian atas dasar harga berlaku
menunjukkan besaran nilai tambah bruto masing-masing sektor, sesuai dengan
keadaan pada tahun sedang berjalan. Dalam hal ini penilaian terhadap produksi, biaya
antara ataupun nilai tambahnya dilakukan dengan menggunakan harga berlaku pada
masing-masing tahun.
Penyajian atas dasar harga konstan merupakan penyajian harga yang berlaku
secara berkala, perkembangan pendapatan regional dapat diartikan sebagai
perkembangan karena mengingkatnya produksi juga diikuti oleh meningkatnya
harga-harga. Oleh karena itu penyajian seperti ini masih dipengaruhi oleh adanya
faktor perubahan harga (inflasi/deflasi).
Penyajian atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan harga
tetap suatu tahun dasar. Dalam hal ini semua barang dan jasa yang dihasilkan, biaya
antara yang digunakan ataupun nilai tambah masing-masing sektor dinilai
berdasarkan harga-harga pada tahun dasar. Penyajian seperti ini akan memperlihatkan
perkembangan produktivitas secara riil karena pengaruh perubahan harga
(inflasi/deflasi) sudah dikeluarkan.
Angka PDRB secara absolut memberikan gambaran besarnya tingkat produksi
suatu wilayah. Angka PDRB yang dinilai dengan harga konstan memperlihatkan laju
pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut yang diwakili oleh peningkatan produksi
berbagai sektor.
Dari uraian-uraian tersebut akan diperlihatkan adanya kenaikan PDRB
menurut sektor-sektor primer, sekunder maupun tertier. Pergeseran struktur pada
masing-masing sektor yang bersangkutan seperti sektor pertanian, industri,
perdagangan, pemerintahan dan sektor-sektor lainnya.
2.5. Pendapatan Masyarakat
Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan
ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah
tersebut. Kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan nonbasis. Dalam
menggunakan ukuran pendapatan, nilai pengganda basis adalah besarnya kenaikan
pendapatan seluruh masyarakat untuk setiap satu unit kenaikan pendapatan si sektor
basis (Tarigan, 2005).
Ciri yang umum di negara yang sedang berkembang ditandai dengan
rendahnya tingkat pendapatan masyarakat, walaupun diantara negara berkembang itu
ada yang mempunyai pendapatan perkapita sama dengan negara-negara maju.
Masalah pokok yang dihadapi negara-negara berkembang adalah kemiskinan yang
menimpa sebagian besar penduduknya. Usaha untuk mengatasinya adalah dengan
melakukan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai
kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan
ekonomi dan taraf hidup masyarakat atau sebagai suatu proses yang menyebabkan
pendapatan perkapita masyarakat meningkat dalam jangka panjang (Sukirno, 2000).
Usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita diperlukan pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi hingga dapat melampaui pertumbuhan penduduk yang
berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi melahirkan masalah merawankan dalam
pemerataan ekonomi dan sosial yang bermula dari penemuan Kuznets, dkk
(Hasibuan,1993). Hasil penemuan mereka, membuktikan bahwa pertumbuhan
ekonomi yang pesat selalu dibarengi kenaikan dalam ketimpangan pembagian
pendapatan (ketimpangan relatif). Hal ini juga sejalan dengan pendapat Sumitro
(Mahlil, 2001) bahwa terdapat kecenderungan seakan-akan pola dan sifat
pertumbuhan justru menambah kepincangan pembagian pendapatan.
Alasan yang dikemukakan: pertama, karena untuk mencapai laju
pertumbuhan yang tinggi maka sektor modern pasti mendapat tempat karena dapat
meningkatkan pertumbuhan yang cepat. Hal ini menyebabkan tidak meratanya
pembagian kesempatan kerja. Kedua, mengejar pertumbuhan sama artinya
mengutamakan daerah yang sebelumnya sudah maju, sehingga daerah yang sudah
maju akan bertambah maju dan daerah terbelakang akan semakin tertinggal.
Di dalam banyak literatur mengenai teori distribusi pendapatan dapat
ditemukan beberapa pendekatan untuk pengukurannya antara lain: pertama, distribusi
pendapatan fungsional atau distribusi faktor yang lazim digunakan oleh ahli ekonomi
yang mencoba menerangkan pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing
faktor. Kedua, distribusi pendapatan personal (personal income distribution) yang
merupakan distribusi pendapatan perorangan yang menyangkut segi manusia
sehingga perorangan atau rumah tangga dan total pendapatan yang diterima (Todaro,
Pada dasarnya kedua pendekatan inilah yang digunakan untuk menganalisis
dan menilai distribusi pendapatan. Distribusi pendapatan fungsional yang berasal dari
teori produktivitas maginal, atau yang dikenal dengan distribusi balas jasa dalam teori
ekonomi mikro. Perangkat analisis dari distribusi fungsional adalah fungsi produksi
serta alokasi faktor-faktor produksi yang diikutsertakan dalam fungsi produksi.
Pendekatan ini jarang dipakai karena teori yang mendasarinya memiliki hubungan
antara balas jasa input yang dipergunakan dengan output yang dihasilkan di dalam
suatu proses produksi spesifik.
Pendekatan yang lazim dipergunakan adalah pendekatan distribusi personal
atau rumah tangga. Pendekatan ini dilakukan dengan mengelompokkan perorangan
ke dalam kelompok (deciles atau quintiles) yang akan menggambarkan pola
pembagian pendapatan di dalam suatu kelompok masyarakat. Kemudian menetapkan
proporsi yang diterimanya oleh masing-masing kelompok dari pendapatan total.
2.6. Perkembangan Wilayah
Perkembangan konsep wilayah mempunyai sejarah yang panjang, secara
umum wilayah dapat diartikan sebagai bagian permukaan bumi yang dapat dibedakan
dalam hal-hal tertentu dari daerah sekitarnya. Sehubungan dengan hal tersebut
sebagian wilayah dapat disebut wilayah administratif (Bintarto, 1989).
Pengembangan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan menambah,
meningkatkan, memperbaiki atau memperluas. Konsep pengembangan wilayah di
pemahaman teoritis dengan pengalaman-pengalaman praktis sebagai bentuk
penerapannya yang bersifat dinamis (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).
Miraza (2005), di dalam sebuah wilayah terdapat berbagai unsur
pembangunan yang dapat digerakkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Unsur dimaksud seperti natural resources, human resources, infrastructure,
technology dan culture.
Sirojuzilam (2005), pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai arti
peningkatan nilai manfaat wilayah bagi masyarakat suatu wilayah tertentu dan
mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkatan kesejahteraan
masyarakat yang rata-rata banyak sarana dan prasarana, barang dan jasa yang
tersedia dan kegiatan usaha-usaha masyarakat yang meningkat, baik dalam arti jenis,
intensitas, pelayanan maupun kualitasnya.
Pengembangan wilayah adalah merupakan suatu rangkaian usaha
pertumbuhan dan perubahan yang terencana dan dilaksanakan secara sadar oleh suatu
bangsa, negara dan pemerintah menuju modernisasi dalam rangka pembinaan bangsa.
Sandy (1992), pengembangan wilayah pada hakekatnya adalah pelaksanaan
pembangunan nasional di suatu wilayah yang disesuaikan dengan kemampuan fisik
dan sosial wilayah tersebut serta tetap menaati peraturan perundangan yang berlaku.
Hadisaroso (1993), mengemukakan pengembangan wilayah merupakan suatu
tindakan mengembangkan wilayah atau membangun daerah/kawasan dalam rangka
usaha memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut pengembangan
dengan mengembangkan wilayah-wilayah tertentu melalui berbagai kegiatan sektoral
secara terpadu, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah itu secara
efektif dan efisien serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Mulyanto (2008), pengembangan wilayah yaitu setiap tindakan pemerintah
yang akan dilaksanakan bersama-sama dengan para pelakunya dengan maksud untuk
mencapai suatu tujuan yang menguntungkan bagi wilayah itu sendiri maupun bagi
kesatuan administratif di mana wilayah itu menjadi bagiannya, dalam hal ini Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Pada umumnya pengembangan wilayah dapat
dikelompokkan menjadi usaha-usaha mencapai tujuan bagi kepentingan-kepentingan
di dalam kerangka azas:
a. Sosial
Usaha-usaha mencapai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan peningkatan
kualitas hidup serta peningkatan kesejahteraan individu, keluarga, dan seluruh
masyarakat didalam wilayah itu diantaranya dengan mengurangi pengangguran
dan menyediakan lapangan kerja serta menyediakan prasarana-prasarana
kehidupan yang baik seperti fasilitas transportasi, dan lain sebagainya.
b. Ekonomi
Usaha-usaha mempertahankan dan memacu perkembangan dan pertumbuhan
ekonomi yang memadai untuk mempertahankan kesinambungan dan perbaikan
kondisi-kondisi ekonomis yang baik bagi kehidupan dan memungkinkan
c. Wawasan lingkungan
Pencegahan kerusakan dan pelestarian terhadap kesetimbangan lingkungan.
Aktivitas sekecil apapun dari manusia yang mengambil lingkungan dari, atau
memanfaatkan potensi alam, sedikit banyak akan mempengaruhi
kesetimbangannya, yang apabila tidak diwaspadai dan dilakukan penyesuaian
terhadap dampak-dampak yang terjadi akan menimbulkan kerugian bagi
manusia, khususnya akibat dampak yang dapat bersifat tak berubah lagi
(irreversible change). Untuk mencegah hal-hal ini maka dalam melakukan
pengembangan wilayah, program-programnya harus berwawasan lingkungan
dengan tujuan: mencegah kerusakan, menjaga kesetimbangan dan
mempertahankan kelestarian alam.
2.7. Penelitian Sebelumnya
Adapun penelitian yang telah dilakukan mengenai analisis sektor unggulan
daerah sebelumnya antara lain:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Supangkat tahun 2002, dengan judul penelitian
“Analisis Penentuan Sektor Prioritas dalam Peningkatan Pembangunan Daerah
Kota Asahan”, dengan menggunakan Pendekatan Sektor Pembentuk PDRB. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian dan industri pengolahan
berpeluang untuk dijadikan sebagai sektor prioritas bagi peningkatan
pembangunan di daerah Kota Asahan, terutama sub sektor perkebunan, perikanan
2. Marhayanie (2003), dalam tesisnya “Identifikasi Sektor Ekonomi Potensial dalam
Perencanaan Pembangunan Kota Medan”. Variabel yang diteliti kontribusi per
sektor dengan metode analisis linkage, menyimpulkan bahwa analisis angka
pengganda diperoleh bahwa sektor ekonomi yang potensial dalam perencanaan
pembangunan Kota Medan adalah sektor industri pengolahan. Sektor yang
memberikan kontribusi terbesar pada total PDRB Kota Medan pada tahun 2000
adalah sektor perdagangan, restoran dan hotel, yaitu sebesar 29,76%, sedangkan
sedangkan yang terkecil adalah sektor pertambangan dan galian sebesar 0,01%.
Hasil analisis linkage dengan Tabel I-O tahun 2000, sektor bangunan memiliki
backward linkage terbesar yaitu 2,22 dan yang terkecil sektor keuangan,
persewaan dan jasa-jasa perusahaan sebesar 1,37, sedangkan sktor yang memiliki
forward linkage terbesar adalah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 3,80 dan
yang terkecil sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 1,07.
3. Amir dan Riphat tahun 2005, dalam penelitian “Analisis Sektor Unggulan untuk
Evaluasi Kebijakan Pembangunan Jawa Timur menggunakan Tabel Input-Output
1994 dan 2000”. Variabel penelitian yang diteliti adalah berbagai sektor unggulan
(key sector) dalam perekonomian Jawa Timur pada tahun 1995 – 2000, dengan
menggunakan analisis input-output yang telah banyak digunakan untuk
menganalisis sektor unggulan, yang biasanya dilihat menggunakan angka
pengganda (multiplier) sektor ekonomi dan tingkat keterkaitan antar sektor
perekonomian. Tingkat keterkaitan antar sektor perekonomian akan diukur
dengan sektor lainnya sebagai penjumlahan atas angka Daya Penyebaran
(Backward Linkage) dan Daya Kepekaan (Forward Linkage). Hasil penelitian
menunjukkan selama periode penelitian telah terjadi pergeseran dalam
sektor-sektor unggulan dan proses industrialisasi. Kebijakan strategi pembangunan harus
diarahkan kepada kebijakan yang memberikan dampak yang optimal bagi
pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan
lapangan pekerjaan. Berdasarkan analisis sektor unggulan menggunakan angka
pengganda (output, pendapatan dan lapangan kerja) dan keterkaitan sektoral (pure
total linkage) direkomendasikan untuk menjadikan Jawa Timur sebagai pusat
industri (industri lainnya dan indutri makanan, minuman dan tembakau), pusat
perdagangan, dan pusat pertanian.
4. Sukatendel (2007) dalam tesisnya “Analisis Keterkaitan Alokasi Anggaran dan
Sektor Unggulan Dalam Mengoptimalkan Kinerja Pembangunan Daerah di Kota
Bogor”, dengan varibel penelitian yang diteliti adalah: sektor unggulan, potensi
dan pengembangan sektor unggulan, dan alokasi anggaran untuk sektor unggulan
di Kota Bogor. Metode yang digunakan adalah analisis input-output, analisis
kewilayahan, analisis kelembagaan alokasi anggaran dan pembuatan peta tematik.
Hasil penelitian menunjukkan sektor unggulan di Kota Bogor adalah industri
pengolahan, perdagangan, bangunan dan pertanian tanaman pangan. Sektor
unggulan seperti industri pengolahan dan perdagangan lokasinya memusat di
wilayah utara Bogor Bagian Tengah dan Bogor Bagian Timur. Sedangkan sektor
Bagian Barat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dukungan anggaran
pembangunan Kota Bogor untuk sektor unggulan masih sangat kurang (tidak ada
keterkaitan) kecuali untuk sektor Bangunan. Namun untuk sektor unggulan
seperti industri pengolahan dan perdagangan sebenarnya tidak perlu didukung
oleh anggaran pembangunan yang besar karena akan mengakibatkan semakin
besarnya ketimpangan wilayah pembangunan di Kota Bogor. Sedangkan sektor
unggulan tanaman bahan makanan masih perlu didukung oleh anggaran
pembangunan yang besar agar sektor tersebut bisa semakin berkembang sehingga
diharapkan dapat mengatasi ketimpangan wilayah pembangunan di Kota Bogor.
2.8. Kerangka Pemikiran
Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu Kota di Provinsi Sumatera Utara
yang merupakan lintasan antar Provinsi Sumatera Utara sangat mendukung bagi
penduduk untuk mengembangkan usaha perdagangan dan jasa. Perkembangan usaha
perdagangan dan jasa di Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu sumber
pendapatan bagi Kota Tebing Tinggi dan memberikan kontribusi terhadap Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tebing Tinggi, sehingga diperlukan
menganalisis posisi Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa dalam
perekonomian Kota Tebing Tinggi dengan melihat sektor perdagangan dan jasa
dalam PDRB Kota Tebing Tinggi sebagai sektor basis menggunakan analisis LQ dan
melihat kesejahteraan masyarakat menggunakan analisis deskriptif dan analisis
regresi berganda. Kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
2.9. Hipotesis
Berdasarkan permasalahan, maka rumusan hipotesis dari penelitian ini adalah:
1. Posisi Kota Tebing Tinggi merupakan basis kota perdagangan dan jasa.
2. Kota Tebing Tinggi sebagai kota perdagangan dan jasa berpengaruh terhadap
pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi. Kota Tebing Tinggi
Posisi Kota Tebing Tinggi Pengembangan Wilayah
Kota Perdagangan dan Jasa
Analisis LQ Deskriptif dan Regresi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Ruang Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian ini meliputi posisi Kota Tebing Tinggi sebagai basis kota
perdagangan dan jasa, pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi.
3.2.Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dari responden masyarakat yang dijadikan sampel penelitian dengan
menyebarkan kuisioner pertanyaan mengenai Kota Tebing Tinggi sebagai kota
perdagangan dan jasa-jasa terhadap pengembangan wilayah Kota Tebing Tinggi.
Data sekunder diperoleh dari objek penelitian, yang menggambarkan situasi dan
kondisi Kota Tebing Tinggi, dalam hal ini sarana dan prasarana Kota Tebing Tinggi
yang bersumber dari Kota Tebing Tinggi Dalam Angka.
3.3. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Tebing Tinggi. Alasan dalam pemilihan lokasi
penelitian karena Kota Tebing Tinggi merupakan satu-satunya kota penghubung
3.4. Populasi dan Sampel
Mengingat luasnya lokasi kecamatan yang akan diteliti, hal ini disebabkan
Kota Tebing Tinggi terdiri dari 5 Kecamatan dan 35 Kelurahan, maka perlu dilakukan
pembatasan terhadap lokasi penelitian. Untuk keperluan studi ini, peneliti mengambil
masing-masing 1 (satu) Kelurahan dari 5 (lima) kecamatan yang ada di Kota Tebing
Tinggi dengan cara purposive, dengan alasan Kelurahan tersebut merupakan wilayah
ibukota kecamatan. Sehingga populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala
keluarga (KK) yang ada di wilayah ibu kota Kecamatan Kota Tebing Tinggi yang
pada tahun 2009 berjumlah 3.683 KK (kepala keluarga).
Sampel responden masyarakat ditetapkan mengikuti pendapat Roscoe
(Sugiono, 2003), yang menyatakan berapapun jumlah populasinya dalam penelitian
sosial ukuran sampel yang layak digunakan adalah antara 30 hingga 500 orang.
Berdasarkan pendapat di atas, maka ditetapkan anggota sampel responden penelitian
sebanyak 60 kepala keluarga (KK), dengan pertimbangan telah melebihi ambang
batas kriteria Roscoe, yakni batasan minimal 30 orang, Pengambilan sampel
responden dilakukan secara purposive.
Tabel 3.1. Lokasi Penelitian
No. Kecamatan Jumlah
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah:
a. Studi Kepustakaan, yaitu membaca dan mengumpulkan bahan-bahan, dokumen
serta buku-buku yang memberikan informasi berkaitan dengan penelitian ini.
b. Observasi, yaitu mengumpulkan informasi dengan cara melakukan pengamatan
langsung di lapangan terhadap aktivitas objek penelitian.
c. Wawancara, yaitu pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan
melakukan wawancara langsung kepada responden yang terkait dengan objek
penelitian.
Alat pengumpulan data yang dipakai pada peneltian ini adalah:
a. Pedoman Wawancara, dilakukan untuk menggali informasi secara mendalam
melalui pokok-pokok pertanyaan yang dijadikan pegangan peneliti.
b. Kuesioner, yaitu dengan cara menyebarkan kuesioner yang bersifat tertutup,
yaitu kuesioner yang berisikan daftar pertanyaan yang sudah disediakan
alternatif jawabannya.
Selanjutnya jawaban yang diberikan responden terhadap kuesioner yang
diberikan untuk keperluan analisis diberi bobot nilai tertentu yaitu:
a) Untuk alternatif jawaban (a) diberi nilai atau skor 5, yang berarti sangat
setuju/sangat baik.
b) Untuk alternatif jawaban (b) diberi nilai atau skor 4, yang berarti setuju/ baik.
d) Untuk alternatif jawaban (d) diberi nilai atau skor 2, yang berarti tidak
setuju/baik.
e) Untuk alternatif jawaban (e) diberi nilai atau skor 1, yang berarti sangat tidak
setuju/sangat tidak baik.
Hasil tanggapan responden dianalisis dengan cara:
3.6. Uji Coba Instrumen
Dalam penelitian, data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data
merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat
pembuktian hipotesis. Benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya
hasil penelitian. Sedang benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen
pengumpulan data.
Sebelum instrumen diedarkan untuk menjaring data, maka instrumen
diujicobakan terlebih dahulu terhadap 25 orang masyarakat yang menjadi sampel
penelitian. Kemudian data di analisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitas.
3.6.1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan
atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai
validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas
rendah (Arikunto, 2006). Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui