1
KESEGARAN JASMANI ATLET
ALI ROSIDI
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengaruh Pemberian Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap Stres Oksidatif dan Kesegaran Jasmani Atlet adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Maret 2014
Ali Rosidi
ALI ROSIDI. Pengaruh Pemberian Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap Stres Oksidatif dan Kesegaran Jasmani Atlet. Dibimbing oleh ALI KHOMSAN, BUDI SETIAWAN, HADI RIYADI, dan DODIK BRIAWAN
Dampak negatif latihan fisik berat dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas. Ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh lebih banyak dibandingkan dengan kapasitas kemampuan antioksidan alami tubuh dapat menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif pada latihan olahraga dapat mempengaruhi kesegaran jasmani atlet. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dikenal di masyarakat luas sebagai obat tradisional. Temulawak mempunyai potensi sebagai antioksidan. Beberapa penelitian menyimpulkan kandungan kurkumin pada temulawak mempunyai efek melindungi kerusakan akibat stres oksidasif dan meningkatkan kesegaran jasmani. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak pemberian temulawak terhadap pencegahan stres oksidatif dan kesegaran jasmani pada atlet.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah double blind randomized controlled trial. Subjek berjumlah 35 atlet sepakbola PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) Salatiga Jawa Tengah. Penelitian dikelompokkan menjadi 5 perlakuan yaitu kelompok I plasebo, kelompok II pemberian kapsul ekstrak temulawak kandungan kurkumin (ETKK) 250 mg/hari, kelompok III ETKK 500 mg/hari, kelompok IV ETKK750 mg/hari, kelompok V diberi kapsul multivitamin dan mineral (MVM) per hari (beta karotene 5000 UI, Vitamin E 200 UI, Vitamin C 500 mg, Zn 15 mg, selenium 50 mcg). Kapsul diberikan selama 21 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ekstrak temulawak ditemukan kadar kurkumin sebesar 27,19% dengan rendemen sebesar 1,02%. Ekstrak temulawak memiliki aktivitas antioksidan sebesar 87,01 ppm tergolong aktif sehingga berpotensi sebagai antioksidan alami yang baik.
Sebelum intervensi, rerata kadar MDA sebesar 953,65±355,76 ppm. Setelah intervensi rerata kadar MDA semua kelompok mengalami penurunan, kecuali perlakuan plasebo. Peningkatan kadar MDA pada plasebo sebesar 104,36±207,07 ppm. Penurunan tertinggi kadar MDA ditemukan pada ETKK 750 mg sebesar 243,49±170,18 ppm. Setelah diuji dengan paired t test, ada perbedaan kadar MDA sebelum dan sesudah pada ETKK 750 mg (p<0,05), namun pada perlakuan lain tidak berbeda nyata (p>0,05). Hasil uji ancova didapatkan hasil bahwa penurunan kadar MDA (adjusted) sesudah intervensi dipengaruhi kadar MDA sebelum intervensi, SOD dan variasi perlakuan (p<0,05), namun variabel lain pengaruhnya tidak nyata (p>0,05). Uji post-hoc LSD menunjukkan bahwa rerata penurunan kadar MDA (adjusted) setelah intervensi secara signifikan (p<0,05) lebih tinggi pada kelompok ETKK 750 mg dibandingkan kelompok ETKK 500 mg dan MVM, meskipun dengan kelompok plasebo dan ETKK 250 mg tidak berbeda nyata (p>0,05).
Pada uji paired t test ada perbedaan kadar asam laktat sebelum dan setelah intervensi pada ETKK 750 mg (p<0,05), namun pada perlakuan lain tidak ada perbedaan (p>0,05). Uji ancova didapatkan hasil bahwa penurunan kadar asam laktat setelah intervensi (adjusted) dipengaruhi oleh kadar asam laktat awal dan variasi perlakuan (p<0,05). Uji post-hoc LSD menunjukkan bahwa penurunan kadar asam laktat (adjusted) pada kelompok ETKK 750 mg lebih rendah dibandingkan dengan plasebo, ETKK 250 mg dan ETKK 500 mg (p<0,05), meskipun dengan MVM tidak berbeda nyata (p>0,05).
Rerata skor kesegaran jasmani sebelum intervensi sebesar 449,26±27,49. Setelah intervensi, rerata skor kesegaran jasmani ditemukan mengalami kenaikan pada semua kelompok perlakuan, kecuali pada kelompok perlakuan plasebo dengan penurunan sebesar 13,29±22,76. Kenaikan tertinggi rerata skor kesegaran jasmani pada kelompok perlakuan MVM sebesar 34±18,51, sedangkan terendah pada kelompok perlakuan ETKK 750 mg sebesar 4,71±25,87. Pada perlakuan esktrak temulawak yang tertinggi kenaikannya pada ETKK 500 mg sebesar 20,14±21,90. Pada uji paired t test ada perbedaan rerata skor kesegaran jasmani sebelum dan setelah intervensi pada ETKK 500 mg dan MVM (p<0,05), namun pada perlakuan lain tidak ada perbedaan (p>0,05). Hasil uji ancova menunjukkan bahwa kenaikan skor kesegaran jasmani setelah intervensi (adjusted) dipengaruhi oleh skor kesegaran jasmani sebelum intervensi, selisih kadar asam laktat dan variasi perlakuan (p<0,05). Uji post-hoc LSD menunjukkan bahwa kenaikan skor kesegaran jasmani (adjusted) pada kelompok perlakuan MVM dan ETKK 500 mg lebih tinggi dibandingkan dengan ETKK 750 mg (p<0,05), meskipun dengan kelompok perlakuan yang lain tidak berbeda nyata (p>0,05).
Simpulannya adalah temulawak merupakan antioksidan alami yang baik. Intervensi esktrak temulawak dapat menurunkan kadar MDA, dan kadar asam laktat dibandingkan dengan multivitamin dan kontrol. Pemberian esktrak temulawak dengan kadar kurkumin 750 mg/hari paling baik dalam menurunkan kadar MDA dan asam laktat. Intervensi ekstrak temulawak dan multivitamin mineral dapat meningkatkan skor kesegaran jasmani dibandingkan plasebo. Pemberian ekstrak temulawak dengan kadar kurkumin 500 mg/hari paling baik dalam meningkatkan skor kesegaran jasmani, namun peningkatan skor kesegaran jasmani masih dibawah perlakuan pemberian multivitamin mineral. Perlunya mensosialisasikan temulawak sebagai herbal yang mempunyai manfaat bagi kesehatan dan kesegaran jasmani oleh karena itu temulawak dapat dijadikan suplemen wajib yang dikonsumsi pada pusat pelatihan olahraga maupun klub-klub olahraga dengan dosis kandungan kurkumin 500 mg/hari.
ALI ROSIDI. The effect of extract of Curcuma xanthorrhiza Roxb on Oxidative Stress and Physical Fitness of Athletes. Supervised by ALI KHOMSAN, BUDI SETIAWAN, HADI RIYADI, DODIK BRIAWAN
The negative impact of heavy physical exercise can increase the formation of free radicals. The imbalance between the number of free radicals formed in the body and the natural antioxidant capacity of the body 's ability can cause oxidative stress. Oxidative stress of exercise can affect a physical fitness of athletes.
Curcuma xanthorrhiza Roxb is known as a traditional medicine in the community.
Curcuma xanthorrhiza Roxb has a potential of antioxidant. Some studies suggest curcumin content of Curcuma xanthorrhiza Roxb has a protective effect on stress oxidative damage and improving physical fitness oksidasif. Therefore the aims of this study was to examine the effect of Curcuma xanthorrhiza Roxb extract supplementation to prevent oxidative stress and improve physical fitness in athletes. Therefore the aims of this study was to examine the effect of Curcuma xanthorrhiza Roxb extract supplementation to prevent oxidative stress and improve physical fitness in athletes.
The study design used was a double-blind randomized controlled trial. A total 35 football athletes of PPLP (Student Training and Education Center) Salatiga, Central Java were enrolled. We grouped into 5 treatments, namely group I : placebo, group II : supplementation of Curcuma xanthorrhiza Roxb extract contains curcumin (TECC) 250 mg/day, group III : TECC 500 mg/day, group IV: TECC 750 mg/day, group V: multivitamin and mineral (MVM with beta carotene 5000 UI, Vitamin E 200 UI, Vitamin C 500 mg, Zn 15 mg, selenium 50 mcg), group V: placebo capsules per day. Capsules had been given for 21 days.
The results showed the extract Curcuma xanthorrhiza Roxb were 27.19 % curcumin content with 1.02 % rendement. The extract Curcuma xanthorrhiza Roxb had antioxidant activity of 87.01 ppm classified as an active and potentially good natural antioxidant.
Before the intervention, the mean MDA levels were 953.65±355.76 ppm. After the intervention the mean MDA levels all of groups decreased, except for the placebo group. MDA levels of placebo group increased of 104.36±207.07 ppm. The highest decline of MDA levels found in TECC 750 mg was 243.49±170.18 ppm. Having tested with the paired t test, no differences in levels of MDA before and after the TECC 750 mg (p<0.05), but the other treatments did not differ significantly (p>0.05). Ancova test results showed that the decrease in MDA levels (adjusted) after intervention before the intervention affected the levels of MDA, SOD and variations of treatment (p<0.05), but other variables the effect is not significant (p>0.05). LSD post-hoc test showed that the average reduction in MDA levels (adjusted) after the intervention was significantly (p<0.05) higher in the 750 mg group compared to the group TECC 500 mg and MVM, although the placebo group and 250 mg did not differ TECC significantly (p>0.05).
0.55 mmol/L. Paired t test on the test there is a difference of lactic acid levels before and after the intervention on TECC 750 mg (p<0.05), but the other treatments no differences (p>0.05). Ancova test showed that the decrease in lactic acid levels after intervention (adjusted) is influenced by the initial lactic acid levels and variations of treatment (p<0.05). LSD post-hoc test showed that the decrease in lactic acid levels (adjusted) in the TECC 750 mg group lower compared with placebo, TECC 250 mg and TECC 500 mg (p<0.05), although with MVM was not significantly different (p> 0.05).
The mean score of physical fitness prior to the intervention of 449.26±27.49. After the intervention, the mean score increased physical fitness found in all treatment groups, except in the group treated with a placebo decrease of 13.29±22.76. The highest increase in the mean score of physical fitness MVM treatment group by 34±18.51, while the lowest in the TECC 750 mg treatment group by 4.71±25.87. In the treatment of ginger extracts the highest increase in TECC 500 mg for 20.14±21.90. In the test there are differences in paired t test mean score of physical fitness before and after the intervention on TECC 500 mg and MVM (p<0.05), but the other treatments no differences (p>0.05). Ancova test results indicate that the increase in physical fitness scores after the intervention (adjusted) is influenced by physical fitness scores before the intervention, the difference in lactic acid levels and variations of treatment (p<0.05). LSD post-hoc test showed that the increase in physical fitness scores (adjusted) in the treatment group TECC 500 mg and MVM higher than the TECC 750 mg (p<0.05), although the other treatment groups were not significantly different (p>0.05).
The conclusion is that Curcuma xanthorrhiza Roxb is a good natural antioxidant. Intervention Curcuma xanthorrhiza Roxb extracts may reduce levels of MDA, and lactic acid levels compared with multivitamins and control. Giving curcumin extracts of Curcuma xanthorrhiza Roxb with levels of 750 mg / day are best in reducing MDA levels and lactic acid. Intervention Curcuma xanthorrhiza Roxb extract minerals and multivitamins can improve physical fitness scores compared to placebo. Curcuma xanthorrhiza Roxb extract with curcumin concentration of 500 mg / day are best in improving physical fitness scores, but an increase in physical fitness scores are still under treatment multivitamin mineral administration. The necessity of socializing ginger as an herb that has benefits for health and physical fitness can therefore be used as a supplement Curcuma xanthorrhiza Roxb mandatory consumed on sports training centers and sports clubs with a dose of curcumin content of 500 mg / day.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2014
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
KESEGARAN JASMANI ATLET
ALI ROSIDI
Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Gizi Manusia
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS Drh. Min Rahminiwati, MS, PhD
Penguji pada Ujian Terbuka : Prof. Dr. dr. Dede Kusmana, Sp.JP(K) FIHA Prof Drh Dondin Sayuthi, MST, PhD
xanthorrhiza Roxb) terhadap Stres Oksidatif dan Kesegaran Jasmani Atlet
Nama : Ali Rosidi NIM : I162090041
Disetujui, Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS Ketua
Dr. Ir. Budi Setiawan, MS Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS Anggota Anggota
Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN Anggota
Mengetahui,
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Gizi Manusia
Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga disertasi ini berhasil diselesaikan. Salam dan salawat saya sampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya yang saleh. Tema yang dipilih dalam penelitian adalah temulawak dan kesegaran jasmani atlet. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) merupakan salah satu tanaman unggulan Indonesia yang perlu dikembangkan secara ilmiah dan dimanfaatkan masyarakat luas. Pemerintah beberapa waktu lalu telah mencanangkan Gerakan Nasional Minum Temulawak karena khasiatnya tersebut. Khasiat temulawak perlu dikembangkan pada semua kelompok masyarakat dalam rangka sehat untuk semua termasuk pada kelompok atlet.
Pertama-tama, ingin saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tinggginya kepada yang terhormat Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, selaku Ketua Komisi Pembimbing. Pribadi yang sarat ilmu dan dalam kesibukannya yang luar biasa, beliau selalu berusaha meluangkan waktu kepada saya untuk konsultasi. Beliau adalah teladan yang perlu dianut.
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Dr. Ir. Budi Setiawan, MS, Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS, Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN, selaku anggota komisi pembimbing. Beliau dengan penuh kesabaran, keikhlasan, kejujuran dan selalu meluangkan waktu kepada saya untuk konsultasi. Bantuan dan perhatian yang besar beliau dan dorongan terus menerus bagi kelancaran dan penyelesaian studi ini.
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS dan Drh. Min Rahminiwati, MS, Ph.D sebagai penguji ujian tertutup dari luar komisi pembimbing. Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan pula kepada Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaiman, MS sebagai pimpinan sidang ujian tertutup dan Drh. M. Rizal M. Damanik, M.Rep.Sc.Ph.D sebagai penguji ujian tertutup dari program studi.
Terima kasih saya sampaikan secara tulus pada semua atlet sepakbola PPLP Salatiga beserta pengurus dan pelatih Bapak Edy dan Mas Aan yang telah ikhlas membantu dan menjadi responden. Terima kasih saya sampikan pula kepada semua pengurus kantin gizi PPLP Salatiga dan Mahasiswa Gizi UNIMUS yang telah membantu dalam penelitian ini.
Ngadiati, Bapak Arif Fasno Napu. Suka duka persahabatan kita adalah mosaik dari lukisan perjalanan panjang sejak kuliah pertama hari pertama hingga akhir. Terima kasih teman-teman, saya akan selalu merindukan anda.
Hormat takzim kepada orang tua tercinta dan kedua mertua, Almarhum Bapak Sukirno, selalu memberikan semangat dan dorongan untuk studi lanjut. Almarhumah Muningah dan Safuan yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik serta mengantarkan saya hingga kehidupan saat ini. Dari Almarhummah ibu, saya telah belajar banyak makna ketabahan, ketekunan dan kesetiaan. Almarhum Bapak Safuan adalah teladan sikap istikomah dan keberanian untuk menyatakan benar. Kata-kata terima kasih tidak lagi memiliki makna manakala membayangkan besar dan tulusnya beliau berdua.
Terima kasih tak terhingga kepada mereka yang amat dicintai. Kepada Enik Sulistyowati, istri yang dengan tekun membantu pengolahan data dan tempat berdiskusi bagi penyempurnaan disertasi ini serta doa demi keberhasilan saya, nyaris tanpa keluhan. Kepada Rhesa Milzam Favian dan Dyfan Elian Rahmatullah, yang merelakan waktu-waktu mereka yang panjang yang seyogyanya diisi dengan senda gurau dan bermanja-manja dengan ayahnya. Dalam usia yang masih relatif muda, mereka menunjukkan pemahaman yang dewasa atas kenyataan hidup yang mereka lakoni sebagai konsekuensi menjadi anak dari seorang ayah yang sedang menuntut ilmu. Sikap dan pemahaman mereka itulah yang menjadi motor penggerak studi saya, teristimewa ketika menghadapi masa-masa kritis yang nyaris membuat frustasi.
Penulis menyadari disertasi ini masih jauh dari sempurna, karena sesungguhnya tidak ada satu penelitian yang tidak mempunyai keterbatasan. Saran dari semua pihak untuk penyempurnaan dan pengembangan sangat bermanfaat penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk pengembangan temulawak dan aplikasinya pada masyarakat khususnya pada atlet. Penulis berharap semoga karya ilmiah ini bisa menjembatani antara dunia olahraga dengan pengobatan herbal dan gizi.
Bogor, Maret 2014
4 PEMBAHASAN
Waktu, Tempat dan Bahan Penelitian... Rancangan Penelitian ...
Hasil Intervensi... 47 Aplikasi dan Keterbatasan Penelitian ... 59 5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan ... Saran ... DAFTAR PUSTAKA ...
1
Rancangan Kelompok Perlakuan dan Jenis Suplemen ... Konversi Dosis antara Hewan dan manusia ... Klasifikasi Kesegaran Jasmani berdasarkan Metode ACSPFT ... Klasifikasi Tingkat Aktivitas Fisik... Klasifikasi Status Gizi ... Distribusi Atlet berdasarkan Karakteristik sebelum Intervensi ... Distribusi Atlet berdasarkan Keturunan, Kebiasaan Konsumsi Suplemen Antioksidan, Minum Kopi sebelum Intervensi…………. Distribusi Atlet berdasarkan Aktivitas Fisik, Intensitas Latihan sebelum Intervensi ... Komposisi Temulawak Kering dari Petani Temulawak Kabupaten Purworejo Jawa Tengah... Aktivitas Antioksidan Ekstrak Temulawak ... Komponen Perhitungan Kecukupan Energi sebelum dan selama Intervensi ... Rerata Asupan Energi dan Tingkat Kecukupan Energi berdasarkan Kelompok Perlakuan ebelum dan selama Intervensi... Distribusi Atlet berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi pada Kelompok Perlakuan sebelum dan selama Intervensi……….... Rerata Asupan Protein berdasarkan Kelompok Perlakuan sebelum dan selama Intervensi... Rerata Asupan Karbohidrat berdasarkan Kelompok Perlakuan sebelum dan selama Intervensi... Rerata Asupan Lemak berdasarkan Kelompok Perlakuan sebelum dan selama Intervensi... Rerata Asupan Vitamin dan Tingkat Kecukupan Vitamin berdasarkan Kelompok Perlakuan sebelum dan selama Intervensi... Rerata Asupan Mineral dan Tingkat Kecukupan Mineral berdasarkan Kelompok Perlakuan sebelum dan selama Intervensi .... Rerata Kadar SOD Menurut Kelompok Perlakuan sebelum dan sesudah Intervensi... Rerata Kadar MDA Menurut Kelompok Perlakuan sebelum dan sesudah Intervensi... Rerata Kadar Asam Laktat berdasarkan Kelompok Perlakuan sebelum dan sesudah Intervensi... Rerata Kesegaran Jasmani Menurut Kelompok Perlakuan sebelum dan sesudah Intervensi... Kategori Volume Oksigen Maksimal (VO2max) berdasarkan
1 Kerangka Pemikiran Penelitian Pengaruh Ekstrak Pemberian Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap Pencegahan Stres Oksidatif dan Kesegaran Jasmani pada Atlet Sepakbola ... 6
DAFTAR LAMPIRAN
1
2 3
Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan FK Universitas Diponegoro ... Perhitungan Energi Atlet ... Tabel Nilai T Tes Kesegaran Jasmani ACSPFT Laki-laki ...
73 74 75
1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan semua cabang olahraga sekarang ini demikian pesat. Semakin pesat perkembangan olahraga merupakan bidang kajian yang menarik sehingga banyak kalangan pakar olahraga dan pakar bidang lain mencurahkan perhatiannya terhadap upaya-upaya peningkatan kesegaran jasmani dan prestasi olahraga. Penemuan terbaru dari pakar dapat diaplikasikan dalam proses latihan sehari-hari, sehingga diharapkan dapat mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia keolahragaan terutama pemanfaatan ilmu dan teknologi untuk pencapaian prestasi olahraga secara maksimal (Purnomo 1997).
Aktivitas olahraga dilakukan dengan tujuan bermacam-macam, ada yang bertujuan untuk sekedar mengisi waktu luang, rekreasi, kesehatan, kebugaran, gengsi, atau pencapaian prestasi. Olahraga yang bertujuan untuk mencapai prestasi memerlukan proses latihan secara detail dan terukur dengan benar, baik yang sifatnya individual ataupun beregu (Herwin 2006).
Latihan fisik untuk setiap cabang olahraga mutlak diperlukan, karena setiap cabang olahraga memiliki karakteristik tersendiri yang harus dipertimbangan dan disesuaikan program latihan. Latihan fisik memiliki peranan besar dalam konteks program pembinaan secara keseluruhan. Melalui proses pelatihan fisik yang terprogram baik, diharapkan atlet memiliki kualitas kesegaran jasmani yang baik pula. Kesegaran jasmani salah satu komponen yang paling dominan dalam pencapaian prestasi olahraga. Kesegaran jasmani yang baik berdampak positif terhadap penampilan teknik bermain (Suharno 1993; Hoedaya 2007: Sumosardjuno 1984 ; Soekarman 1987).
Dampak negatif latihan fisik berat dapat meningkatkan asupan oksigen 10-20 kali lipat karena terjadi peningkatan metabolisme di dalam tubuh. Pembentukan radikal bebas meningkat selama melakukan latihan fisik yang berat sebagai hasil peningkatan asupan oksigen sehingga menginduksi peroksidasi lipid. Peningkatan penggunaan oksigen terutama oleh otot-otot yang berkontraksi, menyebabkan terjadinya ROS (Reactive oxygen species). Reactive oxygen species adalah kondisi dimana suatu molekul atau senyawa yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan (Foss 1998 ; Halliwel dan Gutteridge 1999 ; Clarkson dan Thomson 2000 ; Sauza et al. 2005). Pada umumnya molekul pada orbital intinya mengandung elektron yang berpasangan, namun elektron dapat lepas sehingga elektron tidak berpasangan yang dikenal sebagai radikal bebas. Ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh lebih banyak dibandingkan dengan kapasitas kemampuan antioksidan alami tubuh untuk menanggulanginya dapat menyebabkan kondisi yang disebut sebagai stres oksidatif (oxidative stress). Stres oksidatif yang ditimbulkan oleh radikal bebas tersebut dapat ditentukan dengan mengukur salah satu parameter berupa malondialdehid
Stres oksidatif pada latihan olahraga dilaporkan juga dapat mempengaruhi kesegaran jasmani atlet karena dapat menimbulkan peningkatan rasa nyeri dan kerusakan otot (White et al. 2008 ; Cooke et al. 2010 ; Sen 1995 ; Clarkson dan Thomson 2000, Udani dan Singh 2009) setelah melakukan latihan berat atau pertandingan. Latihan fisik yang melelahkan juga dapat menyebabkan hipoksia (Sugiharto 2000). Keadaan hipoksia akan menyebabkan terjadinya penurunan jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Hal ini berakibat terjadi perubahan metabolisme anaerobik. Pada proses metabolisme aerob melalui fosforilasi oksidatif akan berubah menjadi metabolisme anaerob melalui jalur glikolisis dengan menggunakan cadangan glikogen untuk menghasilkan glukosa. Cadangan glikogen akan menurun, berakibat penumpukan asam laktat (Patellongi dan Badriah 2003). Dalam keadaan hipoksia terjadi peningkatan proses respirasi sel karena ATP berkurang dan jumlah radikal bebas yang terbentuk meningkat. Pada hipoksia mitokondria bersifat lebih rentan, tidak dapat mempertahankan siklus kreb dan proses fosforilasi oksidatif. Rantai respirasi yang berada dalam membran mitokondria akan ikut mengalami kerusakan, sehingga tidak dihasilkan ATP dari proses metabolisme aerob melalui fosforilasi oksidatif. Sumber energi hanya diperoleh dari metabolisme glikolisis anaerob. Metabolisme glikolisis anaerob berakibat akumulasi laktat sangat cepat (Wirya 2002). Penimbunan laktat dalam darah menjadi masalah mendasar dalam kinerja fisik. Hal ini menimbulkan kelelahan yang kronis dan menurunkan kesegaran jasmani (Ahmaidi et al. 1996).
Dalam kondisi normal pembentukan radikal bebas akan diimbangi pembentukan antioksidan endogen yang dihasilkan oleh tubuh seperti SOD (superoksida dismutase),
GPx (glutation peroksidase), katalase. SOD merupakan antioksidan alami berupa enzim, yang berasal dari tubuh sendiri, berefek sangat kuat dan merupakan pertahanan tubuh pertama dalam menghadapi serangan radikal bebas. Semakin tinggi kadar SOD di dalam tubuh semakin optimal pertahanan tubuh terhadap radikal bebas di seluruh sel dan organ tubuh. Peran SOD juga mengaktifkan dan menggerakan seluruh kekuatan sistem pertahanan antioksidan, termasuk antioksidan sekunder. Agar dapat bekerja SOD memerlukan bantuan mineral mangan (Mn), seng (Zn), tembaga (Cu), dan besi (Fe) sebagai ko-faktor dalam jumlah yang cukup (Winarsi 2011).
Tubuh memerlukan antioksidan eksogen untuk mencukupi kebutuhan antioksidan melawan radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan eksogen adalah antioksidan alami. Antioksidan alami asal tumbuhan seperti rempah-rempah, sayuran, dan buah-buahan sebagai makanan semakin diminati karena mempunyai tingkat keamanan lebih baik dibanding antioksidan sintetik (Gordon 1994). Namun demikian beberapa hasil penelitian masih menemukan atlet yunior yang tingkat kecukupan vitamin dan mineral rendah. Hasil penelitian masih menemukan atlet sepakbola yunior di SMA Ragunan Jakarta Selatan tingkat kecukupan vitamin C sebesar 45,5% (Ferdiansyah 2011) dan 96,9% (Anindita 2011), vitamin A sebesar 36,4%, besi sebesar 27,3%, kalsium sebesar 13,6% dalam kategori rendah (Ferdiansyah 2011). Penelitian Kamaruddin (2013) pada Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Provinsi Sulawesi Selatan menemukan tingkat kecukupan seng sebesar 100% dalam kategori kurang pada atlet sepakbola dan 93,75% pada atlet sepak takraw. Pada tingkat kecukupan besi sebesar 69,23% atlet sepakbola dan 93,75% atlet sepak takraw pada kategori kurang. Penelitian Veronica et al.
tidak mengonsumsi suplemen vitamin mineral dibanding dengan atlet yang jarang mengonsumsi sayuran. Demikian pula pada asupan buah, hasil penelitian menunjukkan bahwa atlet sering mengonsumsi buah mempunyai peluang 5,5 kali untuk tidak mengonsumsi suplemen vitamin mineral dibanding dengan atlet yang jarang mengonsumsi buah (Anggraini 2009). Namun demikian pengaruh pemberian antioksidan terhadap kesegaran jasmani atlet masih belum konklusif. Sebagian penelitian melaporkan bahwa pemberian antioksidan tidak secara jelas memperbaiki kesegaran jasmani (Clarkson 1995) tetapi sebagian lain melaporkan adanya perbaikan kesegaran jasmani. Pemberian vitamin E dapat meningkatkan kesegaran jasmani (Devi et al. 2000). Pada penelitian lain dilaporkan bahwa meskipun vitamin C tidak memperbaiki kesegaran jasmani namun hanya dapat mempercepat fase pemulihan (Vasankari et al. 1998). Hasil penelitian pada sepuluh pemain sepakbola laki-laki menunjukkan bahwa pemberian vitamin C 1000 mg dan vitamin E 800 mg memperlihatkan penurunan secara signifikan pada kerusakan oksidasi dan cedera otot dalam latihan yang sangat berat (Zoppi et al.
2006).
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) sudah lama dikenal di kalangan masyarakat luas dimanfaatkan sebagai bumbu masakan tradisional dan obat tradisional (Herman, 1985). Ekstrak temulawak ternyata mempunyai efek antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan efek antioksidan ekstrak temulawak adalah kurkumin (Kunchandy dan Rao 1990 ; Tonnesen dan Greenhill 1992), demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin (Tonnesen 1989). Penelitian lain menunjukkan bahwa sediaan instan rimpang temulawak dapat meningkatkan waktu renang pada mencit jantan galur swiss webster (Damayanti 2008).
Perumusan Masalah
Temulawak merupakan tanaman obat asli Indonesia (Prana 2008). Temulawak dikembangkan di 13 propinsi Indonesia meliputi Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Luas areal panen tanaman temulawak pada tahun 1999 mencapai 433 ha dengan rata-rata produksi 10,7 ton/ha (Direktorat Aneka Tanaman 2000).
Temulawak mempunyai efek antioksidan. Zat bioaktif dalam temulawak antara lain kurkumin, demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin (Kunchandy dan Rao 1990 ; Tonnesen dan Greenhill 1992). Kandungan bahan aktif kurkuminoid pada temulawak mempunyai efektivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan kandungan bahan aktif masing-masing kurkumin, demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin ( Sutrisno et al. 2008). Hasil penelitian lain juga menunjukkan kurkumin lebih aktif dibanding vitamin E, beta karoten dan asam lipoat dibuktikan dengan gugus fenol, 1,3 diketon dan enolisable stiril keton mempunyai peran nyata pada sifat antioksidan kurkumin (Rao 1985). Studi ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh esktrak temulawak terhadap stres oksidatif dan kesegaran jasmani atlet. Kapsul esktrak temulawak diuji dengan membandingkan dengan kapsul multivitamin hasil produk komersial yang selama ini beredar di pasaran dan digunakan para atlet sepakbola.
Pertanyaan penelitian ini adalah : 1) Bagaimana gambaran kandungan kurkumin dan aktivitas antioksidan pada esktrak temulawak? 2) apakah ada pengaruh kapsul esktrak temulawak terhadap penurunan kadar MDA? 3) apakah ada pengaruh kapsul esktrak temulawak terhadap penurunan kadar asam laktat? 4) apakah ada pengaruh kapsul esktrak temulawak terhadap peningkatan kesegaran jasmani?
Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji pengaruh pemberian ekstrak temulawak terhadap pencegahan stres oksidatif dan kesegaran jasmani pada atlet.
Tujuan khusus :
1) Menganalisis kandungan kurkumin dan aktivitas antioksidan pada esktrak temulawak. 2) Mengkaji pengaruh pemberian esktrak temulawak terhadap penurunan kadar MDA
pada atlet.
3) Mengkaji pengaruh pemberian esktrak temulawak terhadap penurunan asam laktat pada atlet.
4) Mengkaji pengaruh pemberian esktrak temulawak terhadap kenaikan kesegaran jasmani pada atlet.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran secara ilmiah tentang khasiat ekstrak temulawak pada atlet kaitannya dengan pencegahan stres oksidatif pada atlet. Selain itu dapat memberikan informasi bahwa ekstrak temulawak dapat menjadi pilihan dalam upaya meningkatkan kesegaran jasmani atlet.
Hipotesis
Perlakuan intervensi ekstrak temulawak menyebabkan penurunan MDA dan asam laktat serta peningkatan kesegaran jasmani dibanding kontrol
Kerangka Pemikiran
Radikal bebas merupakan molekul yang kehilangan satu buah elektron dari pasangan elektron bebasnya. Keberadaan radikal bebas dalam tubuh berasal dari proses yang normal dalam tubuh (radikal endogen). Salah satu sumber radikal endogen adalah latihan fisik atau aktivitas fisik yang berat. Sumber radikal eksogen lain dari asap rokok, penyinaran ultra violet, bahan kimia toksik dan polutan lainnya.
Dalam tubuh manusia terdapat sejumlah mekanisme untuk dapat menetralisir radikal bebas yang terbentuk. Dalam kondisi normal pembentukan radikal bebas akan diimbangi pembentukan antioksidan endogen yang dihasilkan oleh tubuh seperti SOD
(superoksida dismutase), GPx (glutation peroksidase), katalase. Superoksida dismutase merupakan merupakan enzim yang mengatalisis dismutasi ion superoksida radikal (O2-)
menjadi hidrogen peroksida (H2O2) dan oksigen. Berdasarkan kofaktor logam dan
distribusi dalam tubuh, maka SOD terbagi dalam copper, zinc superoxide dismutase (Cu, Zn SOD), manganase superoxide dismutase (Mn SOD) dan iron superoxide dismutase
(Fe SOD). Agar dapat bekerja dengan baik maka memerlukan bantuan mineral mangan (Mn), seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe) sebagai ko-faktor dalam jumlah yang cukup.
Ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh dengan kapasitas kemampuan antioksidan alami tubuh untuk menanggulanginya dapat menyebabkan kondisi yang disebut sebagai stres oksidatif (oxidative stress). Keadaan stres oksidatif biasanya terjadi bila jumlah radikal bebas dalam tubuh lebih tinggi dari jumlah sistem antioksidan. Stres oksidatif yang ditimbulkan oleh radikal bebas tersebut dapat ditentukan dengan mengukur salah satu parameter berupa malondialdehid
(MDA). Bila kadar MDA tinggi dalam plasma, maka dapat dipastikan sel mengalami stres oksidatif.
dihasilkan. Tubuh memerlukan antioksidan eksogen dari luar tubuh untuk mencukupi kebutuhan antioksidan melawan radikal bebas. Antioksidan dari luar melalui makanan atau food suplemen untuk membantu tubuh melawan kelebihan radikal bebas. Antioksidan eksogen yg mencakup beta karoten, vitamin C, vitamin E, seng (Zn), selenium (Se), besi (Fe), tembaga (Cu), Mangan (Mn).
Temulawak memiliki potensi sebagai antioksidan. Kandungan temulawak yaitu kurkumin, demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin mempunyai efek antioksidan. Dengan menekan andanya stress oksidatif, diharapkan dapat menekan tingkat kelelahan sehingga meningkatkan kesegaran jasmani atlet. Asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak juga berkontribusi dalam mempengaruhi kesegaran jasmani atlet.
Pemberian ekstrak temulawak diberikan pada seluruh sampel untuk penekanan stres oksidatif dan perbaikan kesegaran jasmani. Perbedaan perlakuan dilakukan pada dosis pemberian yaitu berupa kapsul ekstrak temulawak. Pemberian dosis ekstrak temulawak mulai dari dosis setengah dari dosis normal, dosis normal sesuai hasil penelitian dan dosis bertingkat 2 kali lipat.
Keterangan: _______ (diteliti) --- (tidak diteliti)
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Pengaruh Pemberian Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap Pencegahan Stres Oksidatif dan Kesegaran Jasmani pada Atlet Sepakbola.
menderita anemia (≥13g/l), mempunyai status gizi nomal (>18,5-25,0) dan tidak mengonsumsi kopi dan merokok, minuman beralkohol serta obat terlarang, atlet juga tidak mengonsumsi antioksidan vitamin atau suplemen lainnya sekurang-kurangnya 2 minggu sebelum penelitian. Semua atlet diperiksa kesehatannya bila ada atlet yang sakit sesuai hasil pemeriksaan dokter, dikeluarkan dari kerangka sampel. Hal ini dilakukan
untuk meminimalkan keragaman faktor eksternal, sehingga meminimalkan bias selain variabel perlakuan. Kerangka penelitian ini disajikan pada Gambar 1.
2. METODE
Penelitian dilakukan di lima tempat. Pembuatan ekstrak temulawak dan uji kurkumin dilakukan di Javaplant PT Tri Rahardja, Jl. Raya Solo Tawangmangu, KM 32 No. 33, Gedangan Salam, Karang Pandan, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah dan PUSPIPTEK Serpong. Pengisian ekstrak temulawak dalam kapsul dilaksanakan di PT PAPROS Semarang. Pemeriksaan darah dilakukan di Laboratorium GAKI Undip Semarang. Pemberian kapsul ekstrak temulawak pada atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Olahraga Salatiga Tengah.
Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan mulai dari persiapan bahan ekstrak temulawak, pengumpulan data awal, intervensi kapsul ekstrak temulawak pada atlet dan pengumpulan data akhir setelah intervensi. Pelaksanaan intervensi kapsul ekstrak temulawak pada atlet dilakukan selama 21 hari.
Bahan baku yang digunakan adalah rimpang temulawak berumur 9 bulan yang telah diiris dan dikeringkan. Temulawak tersebut diperoleh dari petani temulawak di daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah double blind randomized controlled trial (uji acak buta ganda yang terkendali). Sampel dan peneliti tidak mengetahui kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Penelitian ini dikelompokkan dalam 5 perlakuan. Penempatan kelompok dan penempatan sampel dalam kelompok dilakukan secara acak (random assignment). Kelompok perlakuan terdiri dari kontrol (plasebo), kapsul ekstrak temulawak berdasarkan kandungan kurkumin (ETKK) dan kapsul multivitamin mineral (MVM) pada Tabel 1. Kelompok kontrol diberikan kapsul plasebo berupa selulosa (avizel). Kelompok ETKK 250 diberikan kapsul ekstrak temulawak dengan kandungan kurkumin sebanyak 250 mg/hari. Kelompok ETKK 500 dan ETKK 750 diberikan kapsul esktrak temulawak dengan kandungan kurkumin masing-masing sebanyak 500 mg/hari dan 750 mg/hari. Pada kelompok multivitamin mineral diberikan per hari berupa beta carotene 5000 UI, Vitamin E 200 UI, Vitamin C 500 mg, Zn 15 mg, selenium 50 mcg (produk komersial).
Tabel 1. Rancangan Kelompok Perlakuan dan Jenis Suplemen
No Perlakuan Jenis Suplemen 1 Plasebo Plasebo
2 ETKK 250 Ekstrak Temulawak Kandungan Kurkumin 250 mg/hari 3 ETKK 500 Ekstrak Temulawak Kandungan Kurkumin 500 mg/hari 4 ETKK 750 Ekstrak Temulawak Kandungan Kurkumin 750 mg/hari 5 MVM beta carotene 5000 UI, Vitamin E 200 UI, Vitamin C 500
mg, Zn 15 mg, selenium 50 mcg
oleh petugas khusus yang sudah dilatih. Hal ini bertujuan agar peneliti dan sampel tidak dapat melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan bias terhadap hasil penelitian.
Persiapan Bahan Intervensi
Bahan dan Alat
Bahan baku yang digunakan adalah rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza
Roxb.) berumur sembilan bulan yang telah diiris dan dikeringkan. Temulawak tersebut diperoleh dari petani temulawak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bahan lain yang digunakan adalah etanol 70%, aquades, heksana. larutan DPPH, divortex, methanol, asam klorida, kalium sulfat, merkuri oksida Alat yang digunakan labu ekstraksi, overhead stirter, kertas saring, pengeringan dengan sistem vakum kering, spektrofotometer UV-VIS, cawan porselin, oven, desikator, neraca digital, cawan, soxhlet.
Ekstraksi Etanol Rimpang Temulawak
Penelitian ini menggunakan ekstraksi cair-cair ekstrak etanol temulawak dengan pelarut heksana yang dikembangkan PT Javaplant. Serbuk temulawak yang telah kering sebanyak 2,5 kg, diekstraksi mengunakan pelarut etanol 70% dan air dengan metode maserasi dan perkolasi dengan perbandingan 1 : 10 selama 2 jam dalam suhu ± 60oC didalam labu ekstraksi yang dibantu dengan pengadukan menggunakan overhead stirter. Setelah ekstraksi selesai, ekstrak disaring menggunakan kertas saring. Residu diekstrak ulang dengan perlakuan yang sama dengan sebelumnya. Ekstrak etanol temulawak yang diperoleh kemudian diektraksi cair-cair dengan menggunakan pelarut heksana dengan bantuan pengadukan pada skala 7. Heksana bersifat non polar, sementara kurkumin bersifat polar, sehingga senyawa-senyawa yang bersifat non polar (seperti minyak atsiri) dapat ditarik ke dalam fase heksana, dan diharapkan yang lebih banyak tertinggal dalam fase etanol adalah senyawa kurkumin. Langkah selanjutnya dilakukan evaporasi dalam suhu ± 60oC, sterilisasi suhu ± 140oC dalam waktu 2 detik dan pengeringan dengan sistem vakum kering.
Uji Antioksidan
Pengujian antioksidan dilakukan dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dengan metode Gaulejac et al dalam Kiay et al. (2011). Sebanyak 0,5 mL masing-masing esktrak etanol dan air (kering dan basah) ditambahkan dengan 2 mL larutan DPPH dan divortex selama 2 menit. Berubahnya warna larutan unggu ke kuning menunjukkan efisiensi radikal bebas. Selanjutnya pada 5 menit terakhir menjelang 30 menit inkubasi, absorbansinya diukur pada panjang gelombang 517 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Aktivitas penangkal radikal bebas dihitung sebagai prosentase berkurangnya warna DPPH dengan menggunakan persamaan :
Absorbansi sampel
Penentuan Kadar Kurkumin
Analisis Kadar kurkumin Temulawak Menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) (Jayaprakasha et al. 2002). Persiapan injeksi HPLC dilakukan dengan menyiapkan larutan standar kurkumin dalam metanol dengan beberapa konsentrasi yaitu 0,25, 0,5, 0,75 dan 1 ppm. Selanjutnya semua larutan standar disaring menggunakan filter 0,2 μm. Preparasi contoh dilakukan pada ekstrak kental temulawak. Sebanyak ± 30 mg ekstrak di larutkan dalam 10 mL metanol. Selanjutnya larutan stok diencerkan dengan beberapa kali pengenceran untuk mendapatkan luas kurva yang masuk deret standar. Kemudian semua contoh disaring menggunakan filter 0,2 μm. Selanjutnya contoh siap diinjeksi. Sistem elusi dilakukan dengan fase gradien dengan laju alir 1
mL/menit, suhu dijaga pada suhu kamar dan volume injeksi sebanyak 20 μL. Detektor
yang digunakan adalah uv-vis dengan panjang gelombang 425 nm. Fase gerak yang digunakan terdiri atas campuran asetonitril, asam asetat 2% dan metanol. Kolom yang digunakan adalah C18 dengan panjang 300 x 4,6 mm.
Kadar Air
Penentuan kadar air dilakukan dengan metode pengeringan pada oven 1050C sehingga diperoleh bobot tetap. Cawan porselin dikeringkan dalam oven 105oC selama 3 jam, kemudian ditempatkan dalam desikator selama 1 jam. Setelah ditimbang, cawan ditambahkan sebanyak 2,0-2,5 g sampel dan dioven 105oC selama 3 jam. Setelah itu ditempatkan dalam desikator selama 1 jam, Bobot cawan dan sampel ditimbang. Analisis dilakukan 4 kali ulangan untuk masing-masing sampel (AOAC 2006).
Analisis Kadar Abu
Penentuan kadar abu dengan menghilangkan bahan-bahan organik yang dilakukan melalui pengabuan pada suhu tinggi antara 600- 650°C di dalam suatu tanur tahan panas. Cawan porselin dikeringkan dalam oven 1050C selama 3 jam, kemudian ditempatkan dalam desikator selama 1 jam. Setelah ditimbang cawan ditambahkan sebanyak 2.0-2.5 g sampel hasil preparasi. Cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam tanur listrik 650oC selama 18-24 jam. Sampel yang telah jadi abu kemudian ditempatkan dalam desikator selama 1 jam. Bobot cawan dan abu ditimbang. Analisis kadar abu dilakukan sebanyak 4 kali ulangan (AOAC 2006).
Analisis Kadar Protein
Penentuan kadar protein dengan metode Kyeldahl. Unsur nitrogen dikonversikan menjadi senyawa amonium sulfat melalui dektruksi pada suhu tinggi dengan menggunakan katalis kalium sulfat dan merkuri oksida. Amonium sulfat yang terbentuk kemudian didestilasi uap setelah ada penambahan natrium hidroksida untuk mengubah ammonium sulfat menjadi amonium yang kemudian diikat oleh asam borat sebagai penampung destilasi. Melalui titrasi, maka diperoleh nilai nitrogen total dengan mengalikan dengan faktor 6,24, maka diperoleh kadar protein (AOAC 2006).
Penentuan kadar lemak dilakukan dengan metode Soxhlet modifikasi Weibull, sampel ditimbang sebanyak antara 2- 5 gram dan dimasukkan ke dalam beaker glass 400 ml. Kemudian dihidrolisis dengan asam klorida untuk melepaskan lemak yang terikat. Kemudian lemak diekstraksi dengan dietileter pada Soxhlet. Dietileter diuapkan di oven dengan suhu 1050C. Setelah dingin, residu lemak ditimbang dan hasilnya merupakan bobot lemak. Analisis ini dilakukan sebanyak 4 kali ulangan (AOAC 2006).
Analisis Kadar Karbohidrat
Penentuan kadar karbohidrat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: % Kadar Karbohidrat = {100 % - (kadar abu + kadar protein + kadar lemak)} (Winarno 1997)
Dosis Kapsul Ekstrak Temulawak
Berdasarkan hasil penelitian Devis et al. (2007) pemberian kurkumin pada mencit sebanyak 10 mg per hari selama 3 hari dan dengan melihat faktor konversi (Tabel 2) dari mencit 20 g ke manusia 70 kg sebesar 387,9 maka dosis konversi ke manusia sebesar 10 mg x 3 x 387,9 = 11637 mg kurkumin. Hasil penelitian pendahuluan rerata berat badan atlet sebesar 62,09 kg, maka 62,09/70 x 11637 mg = 10322,02 mg kurkumin. Bila dosisnya bertingkat 1,5 kali lipat maka diperlukan kurkumin sebesar 10322,02 mg x 1,5 = 15483,03 mg kurkumin. Bila 0,5 dosis normal maka diperlukan kurkumin sebesar 10322,02 mg x 0,5 = 5161,01 mg kurkumin Hasil pengujian kandungan kurkumin pada ekstrak temulawak sebesar 27,19%. Dengan demikian diperlukan 10322,02/27,19 x 100 mg = 37962,56 mg ekstrak temulawak dan 15483,03/27,19 x 100 = 56943,84 mg ekstrak temulawak (dosis 1,5 kali) serta 5161,01/27,19 x 100 = 18981,28 mg ekstrak temulawak (dosis 0,5 kali).
Berdasarkan hasil penelitian Soni dan Kuttan (1992) dosis kurkumin yang diberikan sebesar 500 mg/hari atau diperlukan 500/27,19 x 100 mg = 1839 mg ekstrak temulawak/hari. Bila dosisnya bertingkat 1,5 kali lipat maka diperlukan 750/27,19 x 100 mg = 2758 mg ekstrak temulawak/hari dan dosisnya 0,5 maka diperlukan 250/27,19 x 100 mg = 919 mg ekstrak temulawak/hari. Ukuran kapsul 0 mampu diisi 325-900 mg maka diperlukan 6 kapsul masing-masing berisi 500 mg ekstrak temulawak/hari (dosis normal), 250 mg ekstrak temulawak/hari (dosis 0,5 kali), dan 750 mg ekstrak temulawak/hari (dosis 1,5 kali). Dalam penelitian ini diperlukan waktu intervensi sebesar 10322,02 mg kurkumin : 500 mg kurkumin per hari = 21 hari.
Populasi adalah seluruh atlet sepakbola PPLP Salatiga, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan dengan kriteria inklusi adalah atlet laki-laki, umur 14-18 tahun, sehat pada pemeriksaan fisik dan laboratorik serta tidak menderita penyakit baik akut maupun kronis, tidak anemia (≥13g/l), status gizi nomal (>18,5-25,0 kg/m2), tidak mengonsumsi kopi dan merokok, minuman beralkohol serta obat terlarang, tidak mengonsumsi antioksidan vitamin atau suplemen lainnya sekurang-kurangnya 2 minggu sebelum penelitian, tidak melakukan aktivitas latihan dan pertandingan selain yang diprogramkan dari pelatih selama dilakukan penelitian dan mempertahankan latihan yang dianjurkan untuk menjaga taraf fitness (kondisi) yang sama semasa penelitian, bersedia menjadi sampel penelitian dengan menandatangani informed consent. Untuk menentukan jumlah sampel penelitian menggunakan rumus perhitungan besar sampel minimal sebagai berikut (Lemeshow 1997)
2δ2 [Z1-α/2 + Z1-β] 2 n = ---
( μ1- μ2)2 Keterangan :
n = Besar sampel yang diperlukan.
δ2
= (S12 + S22) / 2.
S1 = Standar deviasi kelompok kontrol.
S2 = Standar deviasi kelompok perlakuan.
Z1-α/2 = Tingkat kepercayaan 95% (1,96).
Z1-β = Kekuatan uji 90% (1,28).
μ1= Rata-rata nilai kelompok perlakuan.
μ2= Rata-rata nilai kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil penelitian Kiyatno (2009) S1 = 0,59, S2 = 0,97 dan δ2 = 0,6084.
Rerata nilai MDA kelompok perlakuan μ1 = 10,57 dan kelompok kontrol μ2 = 12 maka dari perhitungan rumus dihasilkan masing-masing kelompok sebanyak 6,24 dibulatkan 7 atlet. Bila ada 5 kelompok maka diperlukan sebanyak 35 atlet.
Pelaksanaan Intervensi Kapsul Ekstrak Temulawak
Sebelum dilaksanakan intervensi kapsul ekstrak temulawak pada atlet, diperlukan persiapan antara lain produksi ekstrak temulawak, penapisan sampel, pengambilan data dasar. Bahan dasar dalam penelitian ini adalah ekstrak temulawak. Ekstrak temulawak dianalisis kadar kurkumin menggunakan HPLC, aktivitas antioksidan dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH, pengujian proksimat yang meliputi kadar air, abu, protein lemak, karbohidrat. Persetujuan ethical clearance dilakukan oleh Komisi Etik Kesehatan (KEPK) Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang No. 214/EC/FK/RSDK/2012.
setelah uji aktivitas fisik. Kurun waktu 4 hari setelah uji aktivitas fisik dengan lari cepat 5000 m dilakukan uji kesegaran jasmani.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Dalam pelaksanaan penelitian data yang dikumpulkan meliputi karakteristik atlet, kebiasaan hidup (kebiasaan merokok, kebiasaan minum minuman beralkohol dan obat terlarang, kebiasaan konsumsi antioksidan vitamin atau suplemen lainnya), pemeriksaan kesehatan, asupan pangan, aktivitas fisik meliputi volume, intensitas latihan dan aktivitas lainnya, kesegaran jasmani, status gizi yang diukur dengan IMT meliputi pengukuran berat badan dan tinggi badan, pemeriksaan darah meliputi asam laktat, SOD, dan MDA.
Data karateristik atlet meliputi nama atlet, tempat dan tanggal lahir, asal atlet, nama orang tua, riwayat bidang olahraga yang ditekuni orang tua. Data karakteristik atlet dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner.
Data pemeriksaan kesehatan dilakukan seorang dokter olahraga. Data tersebut meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorik serta anamnesa riwayat penyakit.
Data asupan pangan dikumpulkan melalui metode pencatatan pangan (food record method) dan penimbangan pangan (weighed food method). Pencatatan pangan dan penimbangan pangan dilakukan pada 2 hari sebelum dilakukan intervensi dan 2 hari selama dilakukan intervensi. Data berat semua pangan dikonsumsi sehari ditimbang meliputi bahan mentah sebelum dimasak, hasil masakan, porsi yang dimakan oleh subjek dalam sehari. Pengumpulan data pencatatan pangan dengan form konsumsi pangan diberikan pada subjek dan diisi sesuai dengan pangan yang dikonsumsi meliputi jenis makanan, jumlah makanan (URT), harga makanan dan tempat membeli makanan. Pada minggu berikutnya diverifikasi ketelitihan data tersebut. Data rerata asupan pangan dibandingkan dengan AKG (angka kecukupan gizi). Data asupan pangan meliputi energi, protein, karbohidrat, vitamin A, vitamin C, vitamin E, mangan (Mn), seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe). Data aktivitas fisik meliputi volume latihan, intensitas latihan dan aktivitas lainnya. Form jenis dan lama kegiatan dibedakan antara siang hari dengan malam hari. Form jenis dan lama kegiatan dalam sehari semalam diisi oleh atlet dan kemudian diverifikasi oleh tenaga asisten peneliti. Sebelum melakukan pengisian atlet diberi penjelasan cara pengisian form tersebut.
Data status gizi dengan pengukuran antropometri yaitu berat badan dan tinggi badan. Berat badan ditimbang dengan menggunakan timbangan digital merk ACIS yang berkapasitas 150 kg dengan ketelitian 0,1 kg. Pengukuran tinggi badan dengan microtoise somatometre dengan ketelitian 0,1 cm.
Pengukuran SOD dan MDA dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri dengan menggunakan kit komersial dari BioVision Superoxide Dismutase (SOD) Activity Assay Kit (Catalog #K 335-100) dan Cusabio Human Malondialchehyche (MDA) ELIASA Kit (Catalog No. CSB-E08557h). Spektrofotometer yang digunakan adalah microplate reader ELx800, universal Microplate Reader, BIO-TEK INTRUMENTS, INC. Pengukuran kadar asam laktat darah dilakukan dengan alat
Accutrend Lactate buatan Roche Jerman yang dinyatakan dalam satuan mmol/L. Pengambilan darah dilakukan oleh dokter dan tenaga analis kesehatan. Analisis darah dilakukan di Laboratorium GAKI Universitas Diponegoro Semarang.
bergantung angkat badan, lari hilir mudik 4x10 meter, baring duduk 30 detik, kelentukan togok ke depan dan lari 1000 meter.
Data ketahanan kardiorespirasi diperoleh dengan lari 1000 meter. Prinsip pengukuran strart dilakukan dengan berdiri dan ujung kaki sedekat mungkin dengan garis start dan tidak boleh melebihi garis start dan berlari dengan kecepatan penuh. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai untuk menempuh jarak tersebut sampai melewati garis finish.
Data kelentukan (flexibility) diperoleh dengan melakukan gerakan kelentukan togok ke depan. Tes ini bertujuan untuk mengukur kelentukan togok. Prinsip pengukuran adalah badan dibungkukkan dengan posisi lurus ke bawah dengan kaki lurus dan lutut bagian belakang tidak boleh ditekuk, menyentuh mistar skala. Diusahakan agar ujung jari tangan mencapai skala sejauh mungkin. Sikap ini dipertahankan 3 detik. Pencatatan hasil diukur pada tanda bekas jari yang terjauh.
Data kecepatan (speed) diperoleh dengan lari 50 meter.Prinsip pengukuran adalah start dilakukan dengan berdiri dan ujung kaki sedekat mungkin dengan garis start dan tidak boleh melebihi garis start dan berlari dengan kecepatan penuh. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai untuk menempuh jarak tersebut sampai melewati garis finish.
Data kekuatan otot (muscular strength) diperoleh dengan tes lompat jauh tanpa awalan (standing broad jump). Tujuan pengukuran ini untuk mengukur gerak eksplosif tubuh. Prinsip pengukuran adalah kedua ujung kaki atlet tepat di belakang garis batas tolak dan siap melompat dengan mengayunkan kedua lengan ke depan. Hasil yang dicatat adalah jarak yang dicapai dihitung dalam cm.
Data daya tahan otot (muscular Endurance) diperoleh dengan tes bergantung angkat badan (pull up) dan tes baring duduk (sit-up) 30 detik. Tujuan pengukuran bergantung angkat badan ini adalah untuk mengukur daya tahan otot-otot lengan dan bahu. Prinsip pengukuran adalah atlet mengangkat badan hingga melewati palang tunggal (kepala tidak boleh ditengadahkan) dan menurunkan kembali sehingga kedua lengan betul-betul lurus dan badan bergantung seperti sikap permulaan. Atlet tidak diperbolehkan mengayunkan atau menyepakkan kakinya. Hasil yang dicatat adalah banyaknya atlet mengangkat badan dengan dagu palang tunggal. Pengukuran tes berbaring duduk 30 detik adalah untuk mengukur daya tahan otot-otot perut. Prinsip pengukurannya adalah atlet terlentang di lantai, jari kedua tangan berselang seling di belakang kepala sebagai alas. Kedua lengan merapat di lantai, kedua kaki terbuka dan kedua lutut ditekuk. Atlet melakukan gerakan duduk sampai menyentuh kedua lutut dengan kedua sikunya. Hasil yang dicatat adalah banyaknya atlet melakukan sit-up
selama 30 detik.
Data kelincahan (agality) diperoleh dengan tes hilir mudik (shuttle run) 4x10 meter. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mengukur kelincahan atlet dalam bergerak mengubah arah. Prinsip pengukuran adalah start dilakukan berdiri dan atlet berlari menuju garis pembatas untuk mengambil dan memindahkan balok pertama setengah lingkaran yang berada di tempat garis start.
Pengolahan Data
Kesegaran Jasmani
Data kesegaran jasmani atlet dilakukan menurut ACSPFT (Asian Committe on the Standardization of Physical Fitness Test) dengan tes lari cepat 50 meter, lompat jauh tanpa awalan, bergantung angkat badan, lari hilir mudik 4x10 meter, baring duduk 30 detik, kelentukan togok ke depan dan lari 1000 meter. Masing-masing hasil tes dikonversikan ke Tabel T selanjutnya dijumlahkan nilai T tersebut. Hasil nilai T dapat dikategorikan sesuai Tabel 3.
Tabel 3. Klasifikasi Kesegaran Jasmani berdasarkan Metode ACSPFT
Kategori Kesegaran Jasmani Skor
Baik sekali >430
Baik 376-430
Sedang 311-375
Kurang 250-310
Kurang sekali <250
Sumber : Depkes, 1985
Contoh : nama atlet Arif, umur 18 tahun, hasil tes sebagai berikut :
No Jenis tes Hasil tes nilai T
1 lari cepat 50 m I. 8,5 detik 46
II. 8,8 detik
2. Lompat jauh tanpa awalan I. 215 cm 52 II. 217 cm
3. Bergantung angkat badan I. 10 kali 60
4. Lari hilir mudik 4x10 m I. 11,4 detik
II. 11,6 detik 50
5. Baring duduk 30 detik I. 20 kali 58
6. Kelentukan togok ke depan I. 17,0 cm 60 II. 18,0 cm
7. Lari 1000 m I. 4’36’’ 9 detik 53
Jumlah 379 Tingkat kesegaran jasmani Arif = baik (376-430)
Untuk menentukan konsumsi oksigen maksimal (VO2 max), dari konversi tes lari 1000
meter berdasarkan rumus Klissouras (1973) :
X = (652,17 - Y) / 6,762
Keterangan :
X = VO2 max di ml/Kg/min-1
Y = waktu tempuh lari 1000 meter (detik)
Data aktivitas fisik diolah berdasarkan catatan harian kegiatan sehari. Hasil pantauan kemudian dijumlahkan dalam kegiatan selama 1440 menit. Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan atlet selama 1440 menit dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal) per kilogram berat badan dalam 1440 menit, PAL ditentukan dengan rumus :
Keterangan :
PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik)
PAR = Physical Activity Rasio (jumlah energi yang dikeluarkan tiap jenis aktivitas per satuan waktu tertentu)
Tabel 4. Klasifikasi Tingkat Aktivitas Fisik
Klasifikasi Nilai PAL
Ringan (sendentary lifestyle) 1,40 – 1,69 Sedang (active or moderately active lifestyle) 1,70 – 1,99 Berat (vigorous or vigorously active lifestyle) 2,00 – 2,40 Sumber : FAO/WHO/UNU (2001)
Intensitas latihan
Data intensitas latihan diolah berdasarkan hasil denyut nadi (Sumosrdjuno 1988) dengan rumus : Denyut nadi maksimal = 220 – umur. Intensitas latihan yang baik bila berkisar antara 72%-87% dari denyut nadi maksimal dan intensitas latihan yang tidak baik bila <72% atau >87% dari denyut nadi maksimal (DNM). Misal: Seorang berusia 40 tahun denyut nadi maksimal 220 denyut/menit maka didapatkan hasil 180 denyut/ menit. Intensitas latihan fisik yang baik bila denyut nadinya antara 130-157 denyut/menit.
Volume Latihan
Data volume latihan diolah berdasarkan total waktu berlangsungnya latihan yaitu jumlah latihan dalam yang diukur dengan menit. Diklasifikasikan menjadi 2 yaitu baik (≥ 360 menit) dan kurang baik (< 360 menit) (Sumosardjuno 1988)
Status Gizi
Data status gizi dinilai berdasarkan antopometri yaitu Indeks Masa Tubuh (IMT) terdiri dari berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Berat badan dalam satuan kg dan tinggi badan dalam meter, dengan rumus :
BB (kg) IMT =
TB2(m)
∑(PAR x alokasi waktu tiap aktivitas)
Hasil pengukuran diklasifikasikan dengan standar IMT. Tabel 5. Klasifikasi Status Gizi
Klasifikasi IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat <17,0 Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0-<18,5
Normal 18,5-25,0
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,0-27 Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0 Sumber : Depkes (1995)
Data Asupan Pangan
Data pencatatan pangan subjek tersebut dilakukan survei pangan ke tempat pembelian pangan diluar asrama untuk mendapatkan data harga dan porsi (gram). Daftar ini yang digunakan sebagai panduan pada waktu melakukan konversi asupan pangan dari URT (ukuran rumah tangga) menjadi gram. Data penimbangan pangan meliputi bahan mentah, hasil masakan, dan berat yang dimakan oleh subjek dalam sehari. Penimbangan bahan mentah dan masak di asrama dimaksudkan untuk menghitung faktor konversi (fk) dari masak ke mentah karena Daftar Komposisi Bahan Makanan yang dipakai sebagai rujukan untuk menterjemahkan ke dalam nilai gizi adalah daftar bahan mentah. Rumus perhitungan :
bmtk x bdd bmtd = bmsd x fk fk =
bms Keterangan
bmtd = bahan mentah yang dimakan, bmsd = bahan masak yang dimakan, bmtk = bahan mentah kotor,
bdd = bagian dapat dimakan, bms = bahan masak
Untuk makanan yang tidak dimasak sendiri, fk-nya ditaksir dengan menggunakan rujukan Penilaian dan Perencanaan Konsumsi Pangan (Hardinsyah dan Briawan 1990). Semua bahan makanan yang dimakan diketahui berat mentahnya, dan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) diterjemahkan ke dalam asupan energi dan zat gizi yang dikandungnya. Asupan zat gizi yang diteliti adalah asupan energi, protein, karbohidrat dan besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), vitamin A, vitamin C, vitamin E.
Kecukupan energi dihitung dengan memperhatikan beberapa komponen penggunaan energi yaitu : Basal Metabolic Rate (BMR), Specific Dynamic Action (SDA), aktivitas fisik dan faktor pertumbuhan. Penentuan Basal Metabolic Rate (BMR) yang sesuai dengan jenis kelamin, umur dan berat badan. Penentuan SDA sebesar 10 % BMR. Penentuan penggunaan energi sesuai dengan latihan atau pertandingan sepakbola. Atlet dalam usia pertumbuhan, perlu ditambahkan kebutuhan energi (Burke 1995).
umur 13-15 tahun sebesar 19 mg/hari dan 16-18 tahun sebesar 13 mg/hari, seng anak laki-laki umur 13-15 tahun dan 16-18 tahun sebesar sebesar 8 mg/hari, mangan anak laki-laki-laki-laki umur 13-15 tahun sebesar 2,2 mg/hari dan 16-18 tahun sebesar 2,3 mg/hari, tembaga anak laki-laki umur 13-15 tahun sebesar 795 mg/hari dan 16-18 tahun sebesar 890 mg/hari. Kategori tingkat asupan energi dan protein adalah <70% defisit berat, 70-80% defisit sedang, 80-90% defisit ringan, 90-110% normal, >110% kelebihan, sedangkan untuk vitamin A, vitamin C, vitamin E, zat besi, seng, tembaga, dan mangan menggunakan Batas 70% AKG (Gibson 2005).
Data Asam Laktat, SOD, dan MDA
Data kadar asam laktat, SOD, dan MDA diolah disajikan dalam bentuk rerata dan standar deviasi, nilai tertinggi dan terendah.
Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian diuji univariat, bivariat dan multivariat. Uji univariat pada semua variabel disajikan dalam bentuk nilai rata-rata, standar deviasi, nilai tertinggi dan terendah.
Uji bivariat digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata data keseluruhan variabel antar kelompok sebelum dan sesudah perlakuan. Uji fisher’s exact digunakan untuk menguji kesamaan distribusi variabel non parametrik antar kelompok perlakuan.
Paired t test digunakan untuk membandingkan signifikansi data sebelum dan sesudah pemberian kapsul temulawak meliputi data MDA, SOD, kadar asam laktat, kesegaran jasmani. Perbedaan rerata umur, berat badan, tinggi badan, IMT, hemoglobin, aktifitas fisik, intensitas latihan dan asupan pangan (energi, protein, karbohidrat, vitamin A, vitamin C, Vitamin E, mangan, tembaga, besi, dan seng) diuji dengan anova. Uji normalitas terhadap data variabel perancu dan terikat menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas varian menggunakan Lavene. Kriteria pengujian adalah p> 0,05 terima hipotesis nol (Ho) bahwa data berdistribusi normal dan varian antar perlakukan homogen.
Uji ancova digunakan untuk mengkoreksi variabel perancu dan variabel terikat sebelum pemberian kapsul temulawak. Variabel perancu diduga berpengaruh terhadap kesegaran jasmani, MDA, asam laktat. Tingkat significant yang digunakan adalah 5 %.
Definisi Operasional
Kesegaran jasmani : kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan
efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, dilakukan dengan metode ACSPFT (Asian Committee on The Standardization of Physical Fitness Test) yaitu rangkaian tes yang terdiri dari lari 50 meter, lompat tanpa awalan, lari jauh 1000 m, bergantung angkat badan, lari hilir mudik 4 x 10 meter, baring duduk (sit up) selama 30 detik dan lentuk togok ke muka.
Status gizi adalah gambaran perawakan tubuh atlet yang ditentukan dengan IMT (Indeks
Massa Tubuh) yaitu rasio berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (meter).
Asupan pangan adalah semua pangan yang dikonsumsi dinilai dari kandungan zat gizi
(24 jam) dengan metode pencatatan pangan (food record method) dan penimbangan pangan (weighed food method)
Kebiasaan hidup adalah suatu kegiatan yang terus menerus yang dilakukan oleh atlet
yang meliputi kebiasaan merokok, kebiasaan minum minuman alkhol dan obat terlarang, kebiasaan konsumsi antioksidan vitamin atau suplemen lainnya.
Aktivitas Fisik adalah kegiatan yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan
berbagai kegiatan fisik diukur berdasarkan catatan harian kegiatan sehari (1440 menit). Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan atlet selama 1440 menit dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik.
Intensitas latihan adalah kualitas latihan yang dilakukan oleh atlet dalam suatu waktu
tertentu diukur dengan cara menghitung rata-rata denyut nadi maksimal (DNM) per menit.
Volume latihan adalah jumlah waktu latihan dalam satu minggu yang dinyatakan dalam
menit.
Stress oksidatif adalah ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas yang terbentuk
di dalam tubuh lebih besar dibandingkan dengan kapasitas kemampuan antioksidan alami tubuh untuk menanggulanginya yang diukur dengan parameter malondialdehid (MDA).
Kadar Melondialdehid (MDA) adalah senyawa yang tidak stabil dari penguraian
peroksida lipid sebagai akibat dari terjadinya reaksi antara radikal bebas dengan asam lemak tak jenuh diukur dengan kadar MDA yang terdapat dalam serum dan dinyatakan dalam ppm.
Antioksidan endogen adalah senyawa dibuat oleh tubuh sendiri berupa enzim yang
mampu menetralkan radikal bebas karena senyawa-senyawa tersebut mengorbankan dirinya agar teroksidasi sehingga sel-sel yang lainnya dapat terhindar dari radikal bebas atau melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif yang diukur dengan parameter SOD (superoxide dismutase)
Kadar asam laktat adalah pengukuran kadar asam laktat darah dilakukan dengan alat
Accutrend Lactate buatan Roche Jerman yang dinyatakan dalam satuan mmol/L
3. HASIL
Karakteristik Sampel