• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK PERCERAIAN PASANGAN SUAMI ISTERI (STUDI KASUS PENGADILAN AGAMA MEDAN KELAS IA).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KONFLIK PERCERAIAN PASANGAN SUAMI ISTERI (STUDI KASUS PENGADILAN AGAMA MEDAN KELAS IA)."

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

KONFLIK PERCERAIAN PASANGAN SUAMI ISTRI

(STUDI KASUS PENGADILAN AGAMA MEDAN KELAS IA)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

DWI ANGGRIANI TARIGAN 3131122011

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRACK

Dwi Anggriani Tarigan, Nim. 3131122011, Tahun 2017, Judul Skripsi: Konflik Perceraian Pasangan Suami Isteri (Studi Kasus Pengadilan Agama Medan Kelas IA). Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latarbelakang konflik antara pasangan suami isteri sehingga menyebabkan pelaporan perceraian di Pengadilan Agama, dan proses mediasi yang dilakukan Pengadilan Agama untuk menyelesaikan konflik perceraian serta mengetahui faktor penyebab putusnya pekara perceraian pada persidangan di Pengadilan Agama. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Adapun dalam penelitian lapangan melakukan teknik observasi non partisipasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur semua teknik pengumpulan data telah dilakukan untuk menggambarkan secara koperehensif konflik perceraian pasangan suami isteri yang mengajukan gugatan carai di Pengadilan Agama Medan. Berdasarkan metode tersebut diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : (1) Konflik perceraian dari kasus yang ada dikarenakan bermula dari tidak adanya tanggung jawab dari pihak suami. Permasalahnya juga karena faktor ekonomi, sikap bermalas-malasan dari suami yang tidak ingin berusaha untuk mencari pekerjaan. Tidak jarang terjadi keributan yang berujung pada kekerasan yang dilakukan oleh suami kepada isteri. Konflik yang selalu diributkan akan ditemukan jalan keluarnya dengan cara bercerai, sebab dengan bercerai konflik tersebut akan diselesaikan dengan cara baik-baik tanpa ada lagi menimbulkan perkelahian lagi. (2) Mediasi yang dilakukan oleh PA Medan tidak berjalan dengan efektif karena semua pekara yang masuk ke PA Medan adalah perkara yang sudah tidak bisa diselesaikan lagi. (3) Faktor Penyebab putusnya perceraian pada persidangan lebih dominan dikarenakan tidak adanya tanggung jawab dari suami. Faktor utamanya juga karena ekonomi. Namun, ada faktor lain temuan baru dari setiap persidangan yang mengakibatkan putusnya perceraian, yaitu penggunaan Narkoba oleh suami yang mengakibatkan tidak diterimanya suami untuk bekerja dimanapun.

(6)

ii

KATA PENGANTAR BISMILLAHIRAHMANIRAHIM

Alhamdulillahi rabbil’alamin. Segala puji untuk Allah SWT yang masih

memberikan kesehatan dan kekuatan untuk menuliskan karya yang bermanfaat untuk semua kalangan di kemudian hari. Teriring Shalawat dan salam penulis hadiahkan kepada guru terbaik ummat ini, Nabi besar Muhammad SAW berserta keluarga dan para sahabat, semoga kelak di yaumil masyar kita mendapat safaat beliau. Amin ya Rabbal Alamin.

Atas izin Allah SWT penulis dapat menyelesaikan tugas Akhir Strata-1 yang berjudul : KONFLIK PERCERAIAN PASANGAN SUAMI ISTERI (STUDI KASUS PENGADILAN AGAMA MEDAN KELAS IA. Tulisan ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Prodi Pendidikan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

Penulis mengucapkan terimakasih yang tulus atas perhatian dan kerjasamanya dalam penyusunan Skripsi ini kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, MS selaku Rektor Universitas Negeri Medan

2. Ibu Dra. Nurmala Berutu selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan serta seluruh fungsionaris Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

3. Ibu Dr. Rosramadhana, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan Antropologi dan juga sebagai Pembimbing Skripsi penulis selama penulis menyelesaikan Skripsi ini.

4. Bapak Drs. Tumpal Simarmata, M.Si sebagai penguji pertama dan Pembimbing Akademik untuk penulis selama penulis menjalankan perkuliahan di Prodi Pendidikan Antropologi.

5. Ibu Dr. Ratih Baiduri, M.Si selaku penguji II dan Bapak Drs. Payerli Pasaribu, M.Si selaku penguji III yang telah memberikan banyak masukan sekaligus mengajarkan tentang profesional atas pekerjaan yang dilakukan untuk dipertanggung jawabkan.

6. Seluruh Dosen-dosen di Program Pendidikan Antropologi yang selalu memberi arahan, nasihat, ilmu pengetahuan serta dukungan moril kepada penulis terkusus dosen termuda Abangda Muhammad Iqbal, S.Sos., M.Si yang bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan penulis. Kakaknda Ayu Febriani, M.Si yang banyak membantu dalam hal adminitrasi.

(7)

iii

8. Ibunda Ratnawanti, wanita yang mengajarkan penulis tentang ketegaran dan kedewasaan. Ibunda terhebat untuk ananda, yang tetap memberi dukungan moril dan motivasi kepada ananda dan Ayahnda Masa Tarigan, Terimakasih bertuliskan tinta emas kepada Ibunda dan Ayahnda, tidak akan pernah mampu ananda membalas jasa-jasa yang telah diberikan. 9. Untuk saudari kandung penulis, Fitri Dian Tamara Tarigan, Amd. Kom.

dan Putri Karina Tarigan, saudari penulis yang luar biasa yang menyemangati serta menjadi acuan untuk penulis selalu mawas diri.

10. Teman-teman terbaik dan seperjuangan penulis selama menyelesaikan perkuliahan di Program Studi Pendidikan Antropologi, Anggun Yuniar, Suci Ramadhani, Salwiyah Fitriani, Mawaddah Safitri Dmk, Tika Nilda Febriaska, Muhammad Ridho Kurniawan, Endi Purwanto, Andi Sitompul, Sarma Rohani Tobing, Nurul Ramadhani, Mailinda Sitanggang, Sarah Aulia. Dan seluruh teman-teman C Reg 2013. Sukses untuk kita dimanapun berada dan mengabdi untuk mendidik anak bangsa.

11. Teman-teman seperjuangan di Dakwah Fakultas, terhantur kepada Syahrani Karina Putri, Halimatus Syakdiah, Yasinta, Hafnisah Manurung, Nur Cahaya, Rispandi Adha, Rizky Kurniawan, M. Fadli, Legino Alek.

12. Fathiyah Al-Muna (Wanita Sukses Mengejar Cita-cita) sahabat sekaligus

teman lingkaran yang sama-sama belajar tentang agama dan terhantur kepada para murobbiah-murobbiah.

13. Kepada Sahabat Organisasi UKMI Ar-Rahman Universitas Negeri Medan Terkhusus Tim Solid Keluarga Eksternal 2017 Connection Is Weapon, Dani Friski, Adi Syahputra, Abdurrahim, Parmonangan, Abdul Ramadhani, Legyanti, Tiamana Daulay, Sri Suci Ramadhani, S.Pd., yang telah sama-sama belajar dan mengajarkan banyak hal kepada penulis. 14. Teman-teman PPLT 2016 MAN 2 Model Medan

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis menganjurkan untuk ada yang melanjutkan penelitian ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan skripsi ini, penulis terima sebagai perbaikan.

Medan, Februari 2017 Penulis,

(8)

iv DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi... iv

Daftar Tabel ... vi

Daftar Grafik ... vii

Daftar Gambar ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 5

1.3 Pembatasan Masalah ... 6

1.4 Rumusan Masalah ... 6

1.6 Tujuan Penulisan ... 6

1.7 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ... 8

2.1 Kajian Pustaka ... 8

2.2 Landasan Teori ... 12

2.3 Kerangka Konseptual ... 13

(9)

v

BAB III METODE PENELITIAN... 20

3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 20

3.2 Lokasi Penelitian ... 21

3.3 Subjek Penelitian ... 21

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 22

3.5 Teknik Analisis dan Pengelolaan Data ... 25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

4.1 Gambaran Umum Kota Medan ... 28

4.2 Gambaran Umum Pengadilan Agama Medan Kelas I A ... 30

4.3 Latar Belakang Konflik Perceraian Pasangan Suami Isteri... 43

4.4 Proses Mediasi yang dilakukan Pengadilan Agama dalam menyelesaikan konflik pasangan suami isteri ... 59

4.5 Faktor-faktor Penyebab Putusnya Perceraian Pada Persidangan ... 67

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 71

Kesimpulan ... 71

Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA

(10)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 : Pejabat Pengadilan Agama ... 32

Tabel 4.2 : Nama-nama Hakim Pengadilan Agama ... 33

Tabel 4.3 : Nama-nama Panitera Pengadilan Agama... 34

Tabel 4.4 : Nama-nama Juru Sita Pengadilan Agama... 35

Tabel 4.5 : Nama-nama Moderator Non Hakim Pengadilan Agama ... 35

Tabel 4.6 : Data Pekara Perceraian 5 Tahun Terakhir ... 37

Tabel 4.7 : Data Cerai-Talak dan Cerai-Gugat 2016 ... 38

Tabel 4.8 : Perceraian Menurut Wilayah Kecamatan ... 38

Tabel 4.9 : Pekara Perceraian Yang Dicabut Tahun 2016 ... 41

(11)

vii

DAFTAR GRAFIK

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Perkawinan adalah dua individu antara pria dan wanita yang bertemu dan

mengikat tali perjanjian untuk hidup berumah tangga di hadapan penghulu atau

tokoh agama dan dihadiri oleh beberapa saksi serta disahkan menurut hukum

masing-masing agamanya dan kepercayaan bagi pasangan yang akan

melangsungkan perkawinan. Setiap perkawinan akan dicatat menurut

perundang-undangan yang berlaku. Menurut Sudarsono (1994:1) yang dimaksud hukum

masing-masing agamanya dan kepercayaannya termasuk ketentuan

perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaan itu sepanjang

tidak bertentangan dalam undang-undang.

undang yang mengatur tentang perkawinan adalah

Undang-Undang No. 1 tahun 1974 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perkawinan

ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami

isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, (Sudarsono, 1994:288).

Perkawinan yang telah disahkan adalah bentuk hubungan atau komitment

yang harus dijalankan antara kedua belah pihak dalam waktu yang tidak

ditentukan. Artinya hubungan perkawinan tersebut akan berlangsung sampai

seumur hidup dengan kondisi sulit dan senangnya harus dilewati oleh kedua

pasangan tersebut.

(14)

2

Setiap pasangan yang menikah, menginginkan bentuk keluarga yang

harmonis dan sesuai dengan yang diimpikan. Terwujudnya keharmonisan dalam

keluarga yang berdampak pada kasih sayang bagi masing-masing pasangan suami

isteri dan anak-anaknya, tidak hanya karena faktor cinta saja. Namun ada faktor

lain yang perlu untuk diperhatikan dan menjadi penghambat untuk membentuk

keluarga yang harmonis, yaitu faktor keserasian. Meskipun pada mulanya

pasangan suami isteri tersebut saling mencintai dan berkeinginan untuk

membentuk sebuah keluarga yang sesuai dengan diimpikan oleh pasangan suami

isteri tersebut. Menurut Hadisubrata (1990:18) tidak ada keserasian dan terdapat

terlalu banyak perbedaan diantara mereka dan tidak dapat diatasinya lagi maka

perkawinan tidak dapat berjalan seperti yang diinginkan dan tidak jarang berakhir

dengan perceraian.

Menurut Karim (dalam Kustini 2008:16) Proses perceraian selalu

memungkinkan terjadi karena pada dasarnya sebuah keluarga yang dibentuk

melalui lembaga perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang

memiliki latar belakang sosial-budaya yang berbeda. Sehingga memungkinkan

terjadinya perceraian juga bisa terjadi pada berbagai kelas sosial, berbagai umur,

agama maupun etnik.

Kehidupan dalam keluarga memang tidak luput dari perselisihan antara

pasangan suami isteri yang menimbulkan konflik diantara keduanya. Dan sering

sekali konflik yang terjadi sampai pada puncak perceraian. Jika konflik yang

(15)

3

tersebut tidak menemukan kebahagian dalam rumah tangga yang dijalaninya,

mungkin salah satu jalan keluar yang ditempuh adalah proses perceraian.

Melalui pendekatan konflik dipahami bahwa keluarga merupakan sumber

konflik yang diakibatkan oleh adanya kepentingan yang berbeda antar anggota

keluarga tersebut. Konflik dalam keluarga dianggap suatu yang wajar dan alamiah

dalam interaksi manusia. Menurut Goode (dalam Nurhayanti, 2010:11)

Kekacauan keluarga dapat ditafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga,

terputusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota

gagal menjalankan peran dan kewajiban mereka secukupnya.

Perceraian adalah jalan keluar yang ditempuh atas tidak selesainya konflik

dalam berumah tangga. Hal tersebut diperbolehkan pada masing-masing negara

yang mengatur hukum tentang perceraian. Salah satunya Indonesia, perceraian di

Indonesia masih menjadi tugas besar negara karena angkanya tiap tahun

meningkat. Beberapa daerah-daerah tertentu di Indonesia dalam kurun waktu satu

tahun bisa menerima ± 10 pekara perceraian setiap harinya, termasuk diantaranya

adalah Kota Medan.

Kota Medan adalah salah satu kota yang tercatat sebagai Ibukota provinsi

tertinggi tingkat perceraiannya. Dalam kurun waktu satu tahun, tercatat pelaporan

pengaduan perceraian. Lonjakan yang tinggi ini membuat Kota Medan saat ini

dijuluki sebagai “Kota Duda Janda” (Sumber: http://sumut.pojoksatu.id/2016/

(16)

4

Berdasarkan data dari dokumen laporan perceraian Pengadilan Agama

(PA) Medan Kelas I A, tercatat dengan jumlah 2.547 pekara gugatan yang

diterima oleh Pengadilan Agama Kota Medan diakhir tahun 2016. Sebanyak 522

pekara perceraian yang diajukan oleh pihak suami atau cerai talak dan sebanyak

2.025 pekara perceraian yang diajukan oleh pihak isteri atau cerai gugat.

Tingginya pelaporan perkara perceraian di Kota Medan dilatarbelakangi

oleh konflik antara kedua belah pihak pasangan suami isteri tersebut. Konflik

yang terjadi diantara kedua belah pihak mungkin saja penyebabnya adalah faktor

ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, atau pasangan yang

menikah masih berusia muda sehingga menyebabkan kedua belah pihak masing

belum matang pemikirannya.

Perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama Medan adalah

pekara yang sudah tidak bisa terselesaikan melalui pendekatan keluarga. Artinya,

umumnya para penggugat sudah yakin dengan keputusannya untuk bercerai di

Pengadilan Agama karena apabila bercerai di depan majelis hakim akan memiliki

legalitas hukum yang sah dan kuat. Dan lebih dominan gugatan cerai tersebut

berasal dari para isteri karena menganggap suaminya sudah tidak mampu lagi

memberi nafkah dan tidak bertanggung jawab dengan keluarganya.

Faktor-faktor tersebut memungkinkan menjadi alasan kuat bagi salah satu

pihak baik suami maupun isteri untuk mengajukan pekara perceraian ke

Pengadilan Agama. Jika saja kedua belah pihak memahami kondisi

masing-masing pasangan, cukup sampai proses mediasi antara kedua belah pihak

(17)

5

terlintas, kasus perceraian telah sampai pada Pengadilan Agama dan majelis

hakim sebagai pengambil keputusan sidang pekara perceraian mempunyai peran

andil menentukan suatu pekara perceraian tersebut. Sidang perceraian tersebut

dilakukan apabila Pengadilan Agama tidak bisa menjadi mediasi bagi kedua

belah pihak.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkajinya lebih

dalam. Adapun judul penelitian ini dapat dirumuskan sebagai “Konflik Perceraian

Pasangan Suami Isteri (Studi Kasus di Pengadilan Agama Medan Kelas I A)”.

1.2Identifikasi Masalah

Agar penelitian ini lebih jelas dan terarah, maka permasalahan

diidentifikasi sebagai berikut :

1. Undang-undangan yang mengatur perkawinan

2. Konflik perceraian pasangan suami isteri

3. Proses mediasi di Pengadilan Agama Medan Kelas I A

4. Faktor penyebab tingginya pelaporan pekara perceraian yang terjadi

di Kota Medan Tahun 2016

5. Fungsi Pengadilan Agama dalam penyelesaian kasus perceraian

(18)

6

1.3Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini tidak menjadi rancu dan menjadi luas dengan

menyangkut hal-hal yang tidak terkait dengan masalah yang akan diteliti, maka

penulis memiliki panduan penelitian dan perlunya ada pembatasan masalah. Oleh

karena itu, penulis mebatasi masalah dengan merumuskannya menjadi “Konflik

Perceraian Pasangan Suami Isteri (Studi Kasus di Pengadilan Agama Medan

Kelas I A).

1.4Rumusan Masalah

Dari pembatasan masalah, maka ditarik rumusan masalah untuk penelitian

ini adalah :

1. Bagaimana latarbelakang terjadinya konflik pada pasangan suami

isteri sehingga menyebabkan terjadinya pelaporan pekara perceraian

di Pengadilan Agama Medan Kelas I A?

2. Bagaimana proses mediasi yang dilakukan Pengadilan Agama dalam

menyelesaikan konflik perceraian pasangan suami isteri di

Pengadilan Agama Medan Kelas I A?

3. Apa faktor-faktor penyebab putusnya perceraian pada persidangan

pasangan suami isteri di Pengadilan Agama Medan Kelas I A?

1.5 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui latarbelakang terjadinya konflik yang

menyebabkan perceraian pasangan suami isteri di Pengadilan Agama

(19)

7

2. Untuk mengetahui proses mediasi yang di lakukan Pengadilan

Agama dalam menyelesaikan konflik perceraian pasangan suami istri

di Pengadilan Agama Medan Kelas I A

3. Untuk mengetahui faktor penyebab putusnya perceraian pada

persidangan di Pengadilan Agama Medan Kelas I A

1.6Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang akan diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini

adalah:

1. Secara Teoritis

a. Sebagai pengembangan Ilmu Pengetahuan khususnya tentang

Sosiologi Konflik yang terkait dengan konflik keluarga untuk

menyiptakan keluarga yang harmonis sesuai dengan fungsi dan

peran masing-masing anggota keluarga.

2. Secara Praktis

a. Untuk penulis sebagai tambahan wawan dan pengetahuan tentang

latar belakang konflik perceraian pasangan suami isteri yang

terjadi di Kota Medan dengan masyarakat yang heterogen.

b. Sebagai bahan bacaan dan referensi bagi penelitian selanjutnya,

(20)

72

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan dan setelah penulis sajikan

data-datanya serta penulis paparkan diatas, penulis menyimpulkan bahwa :

1. Dari 3 hasil penelitian pada 3 orang wanita yang menggugat cerai suaminya

diperoleh bahwa latar belakang konflik yang terjadi pada pasangan suami

isteri yang menyebabkan salah satu pihak untuk mengajukan laporan pekara

perceraiannya ke Pengadilan Agama Medan Kelas I A bahwa bermula dari

tidak adanya tanggung jawab dari salah seorang pihak. Akar permasalahnya

juga karena faktor ekonomi, sikap bermalas-malasan dari suami yang tidak

ingin berusaha untuk mencari pekerjaan. Tidak jarang terjadi keributan yang

berujung pada kekerasan yang dilakukan oleh suami kepada isteri. Karena

kekerasan yang diterima oleh inilah yang akhirnya isteri memilih untuk

bercerai. Konflik yang selalu diributkan akan ditemukan jalan keluarnya

dengan cara bercerai, sebab dengan bercerai konflik tersebut akan

diselesaikan dengan cara baik-baik tanpa ada lagi menimbulkan perkelahian

lagi. Contoh pekara perceraian ini sesuai dengan teori konflik dari Lewis

Coser bahwa konflik tersebut bersifat konkrit artinya ada penyebab yang

tampak dan bisa dirasakan dari konflik tersebut dan penyelesainnya dengan

cara mengajukan pekara perceraian ke Pengadilan Agama Medan Kelas I A

(21)

72

agar konflik tersebut dapat diselesaikan tanpa menimmbulkan perkelahian

lagi.

2. Mediasi yang dilakukan di Pengadilan Agama Medan Kelas I A bahwa

pekara perceraian yang telah masuk di Pengadilan Agama Medan adalah

pekara perceraian yang sudah tidak bisa dipertahankan kembali. Keputusan

akhir dari mediasi ada 3 yaitu mediasi berhasil maka perkara perceraian

akan dicabut dari Pengadilan Agama, mediasi ditunda disebabkan karena

salah satu dari pihak tidak datang atau salah satu dari pihak yang ingin

dimediasi di wakilkan oleh kuasa hukumnya dan ini tidak dibenarkan dalam

mediasi maka mediasi akan ditunda selama 40 hari. Dan terakhir mediasi

dinyatakan gagal apabila masing-masing pasangan bersikap dan sudah

berprinsip untuk bercerai apapun kendalanya. Sehingga tingkat keberhasilan

mediasi di Pengadilan Agama tidak terlalu berpengaruh untuk pasangan

yang ingin bercerai. Dari 2.547 pekara perceraian, 103 pekara perceraian

yang berhasil dicabut atau di mediasi oleh mediator non hakim di

Pengadilan Agama.

3. Faktor-faktor penyebab putusnya perceraian di Pengadilan Agama Medan

Kelas I A yang paling tinggi pengaduaannya adalah faktor tidak adanya

tanggung jawab sebanyak 1.254 pekara perceraian, tidak adanya

keharmonisan sebanyak 405 perkara perceraian dan adanya gangguan pihak

ketiga sebanyak 106 pekara peceraian. Ketiga faktor ini pada dasarnya

memiliki keterkaitan yang sama, antara tidak adanya tanggung jawab dari

(22)

73

tidak harmonisnya hubungan pasanngan suami isteri tersebut. Serta

gangguan orang ketidak akibat dari hilangnya komunikasi antara pasangan

suami isteri yang sudah tidak harmonis lagi. Namun, ada faktor penyebab

lainnya yang menjadi dalang dari perceraian tersebut, sejak tahun 2014

faktor penyebab ini semakin meningkat, yaitu penggunaan Narkoba oleh

suami yang berdampak pada pekerjaan. Tidak ada tempat kerja formal yang

menerima karyawannya jika sudah menggunakan narkoba. Faktor ini hanya

ditemukan pada laporan pekara gugatan yang diajukan oleh isteri. Tidak

jarang akibat pemakaian narkoba ini, kekrassan dalam rumah tangga terjadi,

dan menjadi korban adalah isteri dan anak-anaknya.

B. SARAN

Setelah penulis melakukan penelitian akan konflik perceraian pasangan

suami dan isteri studi kasus Pengadilan Agama Medan Kelas I A, bahwa ada

beberapa saran yang penulis, yaitu :

1. Bangunlah komunikasi yang lebih baik kepada para informan agar lebih

detail dan terperinci untuk mendapatkan informasi terkait dengan latar

belakang seseorang mengajukan cerai ke Pengadilan Agama

2. Berusaha untuk lebih mendekati informan dengan cara kekeluargaan agar

bisa mengikuti proses mediasi ketika informan melakukan mediasi di

Pengadilan Agama. Karena hasil penelitian penulis masih banyak

(23)

74

3. Untuk para calon pasangan yang akan menikah, maka pahamilah terlebih

dahulu pasangan anda. Cari karakter dan watak calon anda yang sesuai

dengan keinginan anda sebagai pasangan hidup. Karena pernikahan tersebut

suatu yang sakral untuk sekali dalam seumur hidup. Usahakan tidak untuk

langsung mengambil langkah menikah apabila perkenalannya masih relatif

singkkat, sebab didalam proses hubungan yang singkat tersebut banyak

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Adi, As Edi.. 2012. Hukum Acara Perdata dalam Perspektif Mediasi (ADR) di

Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Bungin, Burhan. 2013. Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi;

Format-format Kualitatif dan Kuantitatif untuk studi Sosiologi, Kebijakan Publik,

Komunikasi, Manajemen dan Pemasaran. Jakarta: Kencana Perdana

Media Group.

Bidang Statistika dan Laporan Bappeda Kota Medan. 2001. Kota Medan; Pintu

Gerbang Indonesia Bagian Barat. Medan: Badan Perencanaan

Pembangun Daerah Kota Medan.

Dana, Januar. Litigasi Perceraian Dengan Jalan Khulu’(Studi Kasus Pengadilan

Agama Medan). Medan: Fak. Syari’ah IAIN-SU.

Hadisubrata. 1990. Keluarga Dalam Dunia Modern. Jakarta: PT. BPK Gunung

Mulia.

Haraharap. Yahya. 2003. Kedudukan Dan Kewenangan Peradilan Agama.

Jakarta: Sinar Grafika.

Herdiansyah, Haris. 2013. Wawancara, Observasi dan Focus Groups Sebagai

Instrument Penggalian dan Kualitatif. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Hidayatullah, dkk. 2007. Yuridiksi Pengadilan Tinggi Agama Medan. Diktorat

Jendral Pengadilan Agama.

Ihromi, T.O. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. 2004. Yayasan Obor Indonesia.

(25)

Fatih, Abdullah Aidil. 2005. Ketika Suami Dan Isteri Hidup Bermasalah,

Bagaimana Mengatasinya?. Gema Insani. Jakarta.

James, A. Black dan Dean J. Champion. 2009. Metode dan Masalah Penelitian

Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.

Jamil, Abdul dan Fakhruddin. 2015 Isu dan Realita di Balik Tingginya Angka

Cerai Gugat di Indramayu. Jurnal Multikultural & Multireligiu, Vol. 14,

No.2 Sumber http://jurnal.balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.php/

harmoni/article/view/51/51Diakses tanggal 24 Juni 2016, Pukul.

15.44Wib. Online

Johnson, Paul Doyle. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Terjemahan

Robert M. Z. Lawang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Khairat, Ruhama Uraya. 2010. Ketidak Perawanan Isteri Mengakibatkan

Pertengkaran Terus-Menerus sebagai Alasan Dalam Perceraian (Studi

Kasus Putusan PA No. 323/pdt.G/2009 Pengadilan Agama Medan Kelas

IA). Medan: Fak. Syari’ah IAIN-SU.

Kustini. 2008. Perceraian Dibawah Tangan; Peminggiran Hak-hak Perempuan.

Jakarta Timur: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.

Manan, Abdul dan M. Fauzan. 2002. Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang

Peradilan Agama. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Meuraxa, Dada. 1974. Sejarah Hari Jadinya Kota Medan. 1 Juli 1590. Medan:

Sastrawan.

Mulyana, Deddy. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja

(26)

Nurhayati, Lina. 2010. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Angka Cerai Gugat

(Studi Kasus di Pengadilan Agama Yogyakarta Tahun 2006-2008). Fak.

Syari’ah UIN Kalijaga: Yogyakarta. Sumber : https://www.google.com/

digilib.uin-suka.ac.id/daftarpustaka.pdf Diakses pada Tanggal 6 Juni

2016 Pukul. 10.30Wib. Online

Ritzer, George. 2004. Teori Sosiologi Modern, Edisi Ke-6. Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada.

_______. 2003. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada.

Samadani, Adil. 2013. Kompetensi pengadilan agama terhadap tindak kekerasan

dalam rumah tangga. Yogyakarta. Graha ilmu

Silalahi, Ulber. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.

Sukbekti, R. Dan Tjitrosudibio R. 2009. Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Sudarsono. 1994. Hukum Perkawinan Nasional. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Susan, Novri. 2009. Pengantar Sosiologi Konflik. Jakarta: Pernanda Media Group

Suyanto, Bagonng dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial; Berbagai

Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Pernanda Group.

Usman, Rachamadi. 2012. Mediasi Di Pengadilan Agama; Dalam Teori Dan

Praktik. Jakarta: Paragonatama Jaya.

Yusuf, Indra. 2011. Alasan Hakim Menetapkan Perceraian yang Dilatarbelakangi

oleh Perkawinan Paksa (Analisis Putusan Pengadilan Agama Medan No.

(27)

Internet :

---... PojokSumut.Com. Medan- Selama Kurun Waktu Satu Tahun

Pengadilan Agama (PA) Medan Kelas I A menangani sebanyak 3.000 pekara.

http://sumut.pojoksatu.id/2016/

04/25/wow-2-500-warga-medan-jadi-janda-dan-duda-muda/ Diakses pada tanggal 04 April 2016, Pukul 10.35Wib [Online]

---... Sistem Keanekaragaman Hayati Provinsi Sumatera Utara.

http://blh.sumutprov.go.id/sim_keanekaragaman_hayati/ kabupaten /1.html)

Diakses pada Tanggal 20 Januari 2017, Pukul. 22.10Wib [Online]

Dokumen :

Gambar

Tabel  4.1   : Pejabat Pengadilan Agama ........................................................
Grafik 4.1   : Perceraian Berdasarkan Pekerjaannya .......................................
Gambar 2.1  : Kerangka Berpikir ....................................................................

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hukum isteri dengan suami mafqud dan untuk mengetahui proses penyelesaian

Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hukum isteri dengan suami mafqud dan untuk mengetahui proses penyelesaian

Temuan penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan resolusi konflik perkawinan melalui mediasi dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Manado dilakukan dengan

18 data penelitian ini yang menjadi data primer, meliputi: dokumen-dokumen pasangan suami isteri yang melakukan perceraian di Pengadilan Agama Ambarawa Tahun 2015, data yang

Penelitian ini menemukan bahwa pasangan suami – isteri yang tidak memiliki anak di kota Gunungsitoli tidak mudah mengalami perpecahan seperti perceraian karena telah

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian selama pandemi Covid-19 di Pengadilan Agama Sragen, dan apakah

Perceraian adalah putusnya ikatan perkawinan antara suami istri yang sah dengan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan resolusi konflik perkawinan melalui mediasi dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Manado dilakukan dengan