BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pemberlakuan Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Otonomi Daerah mengingatkan kemungkinan- kemungkinan
pengembangan suatu wilayah dalam suasana kondusif dan dalam wawasan yang
demokratis, termasuk pula di dalamnya berbagai kemungkinan pengelolaan dan
pengembangan bidang pendidikan. Pemberlakuan undang-undang tersebut
menuntut adanya perubahan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat
sentralistik kepada lebih bersifat desentralistik.
Desentralisasi pendidikan merupakan keharusan. Ada tiga hal yang
berkaitan dengan desentralisasi pendidikan yaitu (1) pembangunan masyarakat
demokratis, (2) pengembangan sosial kapital dan (3) peningkatan daya saing bangsa (Tilaar,2002:20).
Ketentuan otonomi daerah yang dilandasi oleh undang-undang nomor 32
tahun 2004 telah membawa perubahan dalam berbagai kehidupan termasuk
penyelenggaraan pendidikan. Apabila pada kebijakan sebelumnya manajemen
pendidikan merupakan wewenang pusat, dengan berlakunya undang-undang
tersebut kewenangan dialihkan ke pemerintah kota dan kabupaten. Sehubungan
dengan hal tersebut, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang perlu direkonstruksi dalam rangka otonomi daerah, berkaitan dengan peningkatan
mutu pendidikan adalah melalui konsensus nasional antara pemerintah
akan berbeda antara sekolah atau antar daerah akan menghasilkan standar
kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal moral (main
stream) dan unggulan (Sidi ,2000:6).
Pelaksanaan otonomi pendidikan menuntut adanya perubahan dalam
sistem evaluasi yang bukan saja mengemban pengawasan tetapi juga fungsi
pembinaan dan pemberdayaan terhadap penyelenggaraan pendidikan.
Pengurusan dan pembinaan pendidikan dilakukan baik ditingkat satuan pendidikan maupun birokrasi pengelolaan. Undang-undang nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar dan arah
pengembangan, sekaligus membangun sistem pengendalian mutu pendidikan
melalui empat program yang terintegrasi yaitu standarisasi, evaluasi, akreditasi
dan sertifikasi. Standarisasi pendidikan haruslah dimaknai sebagai upaya
penyamaan arah pendidikan secara nasional yang memiliki keluasan dan
sekaligus keluwesan dalam implementasinya.
Pelaksanaan otonomi pendidikan harus tetap berorientasi pada upaya
peningkatan mutu pendidikan secara nasional yang merupakan salah satu program yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah yang diarahkan agar
lembaga pendidikan selalu berupaya untuk memberikan jaminan mutu layanan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan atau masyarakat. Apabila setiap
satuan pendidikan selalu berupaya untuk memberi jaminan mutu dan upaya
ini secara terus menerus dilakukan maka diharapkan mutu pendidikan
secara nasional akan terus meningkat.
Gerakan keterunggulan (excellence movement) ini kemudian
pendidikan (sekolah) dalam bentuk-bentuk sekolah yang mempunyai trademark
di masyarakat, yang corak dan ragamnya kini sedang berkembang dan menjamur.
Misalnya; sekolah plus, sekolah unggulan, sekolah alam, sekolah terpadu, sekolah
eksperimen (laboratorium), sekolah fullday, dan label-label lain yang melekat
pada sekolah yang diasumsikan dengan unggul .
Sekolah fullday secara historis di Indonesia merupakan pengembangan
dari sekolah unggul (excellent school) yang muncul pada pertengahan tahun 1990
an. Pada sekolahfulldaymemberikan jam tambahan, yang biasanya jam tambahan
tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat dhuhur sampai sholat ashar,
sehingga praktis sekolah model ini masuk pukul 06.45 WIB pulang pada pukul 15.30 WIB. Sedangkan pada sekolah-sekolah umum, anak biasanya sekolah
sampai pukul 13.00 WIB.
Sekolah dengan model ini sangat diminati dikalangan masyarakat modern yang nota bene mempunyai kesibukan di luar rumah sangat tinggi (bekerja), karena secara umum fullday school didirikan karena beberapa tuntutan , diantaranya adalah : pertama, minimnya waktu orang tua di rumah, lebih lebih karena kesibukan di luar rumah yang tinggi (tuntutan kerja). Hal ini kalau tidak disiasati dengan tambahan jam sekolah maka akan berimplikasi pada kurangnya kontrol orang tua terhadap anak di rumah (di luar jam sekolah); kedua, perlunya penambahan jam pelajaran bagi guru bidang studi, khususnya guru yang sertifikasi; ketiga, perlunya peningkatan mutu pendidikan sebagai solusi alternatif untuk mengatasi perkembangan jaman.
Usaha pengembangan sekolah model ini penting dilakukan, seyampang
pembinaan prestasi akademik harus selalu ditingkatkan dengan memberikan
jadwal remedial secara kolektif atau secara individu bagi anak-anak yang kurang
mampu dalam mengikuti pelajaran di kelas, sehingga anak benar-benar sangat
menguasai pelajaran, (2) pembinaan prestasi non akademik melalui berbagai
kegiatan ekstra kurikuler harus terus ditingkatkan. Seluruh potensi siswa sebisa mungkin dapat digali dan disalurkan serta diasah sehingga kelak setiap siswa
dapat mempunyai bidang ketrampilan (bekal hidup) yang ditekuni secara
profesional sesuai minat dan bakatnya, (3) peningkatan mutu dan kualitas tenaga
pengajar, sarana prasarana belajar termasuk perpustakaan dan laboratorium serta
sumber-sumber belajar lainnya, (4) memberikan teladan dalam melaksakanschool culture sehingga siswa memiliki karakter yang tangguh dalam menjalankan
keyakinan agamanya, dan (5) menjalin kerjasama antara sekolah dan masyarakat
dalam meningkatkan mutu sekolah.
Kebijakan satuan pendidikan dalam hal ini adalah sekolah untuk melaksanakan gerakan keterunggulan dengan sistem fullday school juga terlindungi dengan Peratuan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab VIII pasal 49 ayat (1) yang menyatakan bahwa Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas , dan pasal 51 : (1) Pengambilan keputusan pada satuan pendidikan dasar dan menengah di bidang akademik dilakukan oleh rapat Dewan Pendidikan yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan,
(2) Pengambilan keputusan pada satuan pendidikan dasar dan menengah di bidang non akademik dilakukan oleh komite sekolah/madrasah yang dihadiri oleh kepala satuan pendidikan,
(3) Rapat dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dilaksanakan atas dasar musyawarah mufakat yang berorientasi pada peningkatan mutu satuan pendidikan
Berdasarkan Undang Undang nomor 32 tentang Pemerintah Otonomi Daerah, Undang Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan di atas maka sistem fullday school yang dilaksanakan oleh sekolah sebagai satuan pendidikan yang berbasis keunggulan telah memiliki dasar hukum untuk dilaksanakan di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Kebijakan Pokok Pembangunan Pendidikan Nasional yang salah satu diantaranya adalah peningkatan mutu pendidikan,relevansidan daya saing.
terpenuhi pada saat ini dan masa yang akan datang. Namun kunci keberhasilan sekolah fullday ini sebenarnya terletak pada kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengejawantahkan konsep-konsep ideal. Dengan kata lain, reliabilitas personal dan profesional para pengelola sekolah menjadi faktor dominan bagi tercapainya tujuan sekolah serta memberi kontribusi terbesar bagi peningkatan akses masyarakat.
Konsepfullday school akhir akhir ini mulai berkembang di Indonesia, dan telah banyak dilaksanakan di banyak sekolah, namun demikian ada sebagian dari sekian sekolah yang telah menerapkan konsepfullday schoolterkesan dipaksakan dengan tanpa memperhatikan kesiapan-kesiapan seluruh komponen pendidikan di sekolah, mulai dari sarana prasarana, kesiapan guru, staff, karyawan, sampai pada kesiapan program-program dari fullday school itu sendiri. Tentu ini dengan berbagai alasan, karena kebijakan otoritas pendidikan, karena ikut-ikutan trend, sampai pada orientasi sebuah proyek pengembangan pendidikan karena mengikuti program yang dicanangkan oleh pemerintah, tanpa memperhatikan kesiapan dari berbagai komponen yang ada di sekolah.
sekolahnya. Dan sebaliknya ada banyak siswa yang tidak pernah dan tidak terbiasa mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.Tentu hal yang demikian
akan sangat fatal bagi sebuah investasi pendidikan
(http://smkn1lmj.sch.id/di/fuldayschool.pdf).
SMA Negeri 1 Mejayan, merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan model fullday school, sebagai konsekuensinya anak anak didik
diberi waktu lebih banyak di lingkungan sekolah, yaitu mulai jam 06.45 WIB
sampai dengan 15.30 WIB. Perpanjangan waktu ini yang kemudian disebut
fullday school (sekolah sepanjang hari), karena siswa menghabiskan waktunya di
sekolah hampir sepanjang hari.
SMA Negeri 1 Mejayan juga menawarkan keunggulan tertentu, yakni mendidik siswa berakhlakul karimah dan berprestasi akademik secara maksimal. SMA Negeri 1 Mejayan adalah salah satu lembaga pendidikan yang telah banyak berprestasi. Hal ini telah terbukti dengan banyaknya prestasi kejuaraan yang diperoleh SMA Negeri 1 Mejayan.
Hal inilah yang menyebabkan peneliti ingin meneliti lebih dalam tentang implementasifullday schoolsebagai usaha peningkatan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Mejayan Kabupaten Madiun.
Pada penelitian terdahulu yang membahas tentang fullday school telah dilakukan oleh Sugiyanti, 2005 dengan judul Manajemen Pembelajaran Sistem
implementasifullday schoolsebagai usaha peningkatan mutu pendidikan.
B.Fokus Penelitian
Pelaksanaan Fullday school mempunyai beberapa masalah antara lain
masalah mutu pendidikan, manajemen, sarana dan prasarana, sosial dan evaluasi
tetapi dalam penelitian ini peneliti membatasi masalah pada implementasifullday school sebagai usaha peningkatkan mutu pendidikan. Adapun fokus penelitian
ini dapat dinyatakan dalam rumusan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah kebijakan sistem fullday school di SMA Negeri 1 Mejayan
Kabupaten Madiun?
2. Bagaimanakah implementasi fullday school dalam aspek akademis dan non
akademis sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan di SMA Negeri 1
Mejayan Kabupaten Madiun?
3. Apa dampak penerapan fullday school sebagai usaha peningkatan mutu
pendidikan di SMA Negeri 1 Mejayan Kabupaten Madiun?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah memperoleh penjelasan mengenai implementasi fullday school sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan. Adapun secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang :
1. kebijakan sistemfullday schooldi SMA Negeri 1 Mejayan Kabupaten Madiun;
Madiun;
3. dampak penerapan fullday school sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Mejayan Kabupaten Madiun.
D. Kegunaan Penelitian
Secara akademis penelitian ini diharapkan sebagai upaya kritis
terhadap kebijakan fullday school. Melalui fullday school diharapkan dapat
dijadikan sarana dalam memecahkan masalah (problem solving), utamanya peningkatan kualitas dan mutu pendidikan. Secara teoritis dimaksudkan untuk
pengembangan kualitas pendidikan khususnya standar mutu pendidikan melalui
sistemfullday school, dan secara praktis dapat diterapkan di lembaga-lembaga
sekolah khususnya di tingkat Sekolah Menengah Atas.
E.Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi persepsi yang beragam tentang istilah yang dijadikan fokus dalam penelitian ini, maka diberikan batasan penelitian dalam bentuk penegasan istilah sebagai berikut.
1. Implementasi adalah penerapan suatu kebijakan yang telah diputuskan sesuai ketentuan ketentuan yang berlaku dan prosedur yang ditetapkan sebelumnya. 2. Katafullday schoolberasal dari bahasa Inggris.Fullartinya penuh,dayartinya
pendalaman materi dan kegiatan penunjang lainnya. Dan yang diutamakan dalam fullday school adalah pengaturan jadwal pelajaran dan pendalaman (Salim,1998:340).
MPLEMENTASI
FULLDAY SCHOOL
SEBAGAI
USAHA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
(Kajian Kebijakan Pendidikan di SMA Negeri 1 Mejayan Kab. Madiun)TESIS
✁✂✄ ☎ ✂ ✆✝✞✟ ✠ ✡☛☞✆☎☛ ✌✟ ✍ ✂ K✍ ✎☛ ✏✆✑ ✆✒✡ ✆✒✁✍ ✒☎✍ ✝✎ ✆✒☎ ✆✒✁✍ ✒ ✡☛ ✡☛✑✆ ✒
D☛ ✆✏✠✑ ✆ ✒✠ ✒✟✠ ✑☞✍ ✝✍ ✒ ✠✓☛✌✍✎ ✆☎☛✆✒✁✍✂✌y✆ ✂ ✆✟✆✒ ☞✍ ✝✔✍ ✂✄✕✍ ✓ G✍✕✆✂☞ ✆☎☛ ✌✟✍✂✁✍✒ ✡☛✡☛ ✑ ✆✒
D
✖✗ ✘✙✚✗ ✛✜ ✢✣✤ ✥LULUS PUJIARTO
NIM. 09370194
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MALANG
✬✬ ✭
MPLEMENTASI
FULLDAY SCHOOL
SEBAGAI
USAHA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
(Kajian Kebijakan Pendidikan di SMA Negeri 1 Mejayan Kab. Madiun)
Yang diajukan oleh:
LULUS PUJIARTO
Nim: 09370194
Telah disetujui Tanggal, 15 Mei 2011
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Drs. Hari Sunaryo, M.Si. Drs. Soeparto, M.Pd
Direktur Ketua Program Studi
Program Pascasarjana Magister KPP
✮✮✮
T
✯S I S
D✰ ✱ ✲✳ ✴✰ ✵✱ ✶ ✵✷✸ ✵✷ ✸✰✴ ✹✴ ✹✷✺ ✻ ✲✼✽
Lulus Pujiarto NIM 09370194
✾ ✲✻ ✵✼✸✰✱ ✲✳ ✿ ✵✼ ✵✷ ✶ ✵✷ ✸✰✸ ✲✱ ✵✷ D✲❀✵✷❁✲✷ ❂ ✹❃ ✰
❁✵✸ ✵✾ ✵✷ ❂ ❂ ✵ ✻❄ ❅ J✹✷ ✰❄ ❅❆ ❆
SUSUNAN DEWAN PENGUJI
K✲✿ ✹ ✵ ✽D✳✴❇H✵✳ ✰❈✹✷ ✵✳✺❉y ❊❇ ❈✰ ❇ _______________
Sekretaris : Drs. Soeparto, M.Pd _______________
Penguji I : Akhsanul In am, Ph.D. _______________
❋● SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama : LULUS PUJIARTO
NIM : 09370194
Program Studi : Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan
Dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:
1. Tesis dengan judul Implementasi Fullday School sebagai Usaha Peningkatan Mutu Pendidikan (Kajian Kebijakan Pendidikan di SMA Negeri 1 Mejayan Kabupaten Madiun) adalah hasil karya saya dan dalam Tesis ini tidak terdapat karya
ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik
disuatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, baik sebagaian ataupun
keseluruhan, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan
dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
2. Apabila ternyata di dalam naskah Tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur
plagiasi, saya bersedia Tesis ini digugurkan dan gelar akademik yang telah saya
peroleh dibatalkan, serta diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
3. Tesis ini dapat dijadikan sumber pustaka yang merupakan hak bebas royalti non
eksklusif.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dipergunakan
sebagaimana mestinya.
Malang, ...
Yang menyatakan
LULUS PUJIARTO
v
❍■❏■❑▲ ▼◆■ ▼❏ ■ ❖
DP ◗❘ ❙ ◗ ❚P ❚ ❙◗❯ ❙❱ ❲ ❙ ◗ ❳ ❨❯ ❩ ❬y❨ ❲ ❨❭ ❲P ❪ ❙❫❩❭ ❙❱ A❴ ❴❙❪ ❵❛ ❜ ❙❱❙❬ ❬P ❘ ❙❴❙
❴❩❚❳ ❙❪ ❙ ◗❭ ❙❪ ❚ ❙❱ ❝❱❙❨❞ ❩q serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
tesis yang berjudul Implementasi ❡ ❢❣lday ❤chool sebagai Usaha Peningkatan
Mutu Pendidikan dengan lancar.
Penulisan Tesis ini bertujuan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Magister Kebijakan
dan Pengembangan Pendidikan di Univertas Muhamadiyah Malang
Dalam menyelesaikan tesis ini penulis banyak mendapatkan bantuan baik
secara moral maupun secara material yang tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu. Untuk itu sebagai ungkapan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya
penulis sampaikan kepada yang terhormat Bapak/Ibu :
1. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.AP, selaku rektor Universitas Muhammadiyah
Malang
2. Dr. Latipun, M.Kes, sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Universitas
Muhammadiyah Malang
3. Akhsanul In am, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Kebijakan dan
Pengembangan Pendidikan Program Pasca Sarjana UMM Malang
4. Drs. Hari Sunaryo,M.Si sebagai pembimbing utama
5. Drs. Soeparto, M.Pd sebagai pembimbing pendamping
6. Drs. Waluyo sebagai Kepala SMA 1 Mejayan Kabupaten Madiun
7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak
vi
✐❥ ❦❧ ♠ ♥♦♣ ❥❦ qr sr t ♥ s❥ ❦✉r ❦♦ ❥✈ ❥ ❦❧ ✇ ✇r ① ♥②r ✇③r④ ❥♦ ❥♣✈ ❧ t❦rr❦ ✇r❦ qr ♣♥♠♥④
A♠ ♠r✇⑤ ⑥♠ ❥ ✇ ♦ ❥ ②r ② ♥①❧ ♦❧ sr✇ ②rtr ❦✉ ① ❥❦ ①❧ sr♠ r♣ ① ❥♦♥♦ ♥ ❦♥ ♣ r♦ ♥ ✇ ①❥t sr✈ r①
④ ❥④❧ tr ❦✉r❦ sr ❦ ④ ❥♠ ❥♣r✇r❦ yr❦✉ s ♥♦ ❥②r②④r ❦ ⑥♠ ❥ ✇ sr❦✉ ④r ♠ ❦ qr ✈ ❥❦✉ ❥ ①r✇❧r❦ ✈ ❥❦❧ ♠ ♥♦ sr❦ ④❥ ①❥ t ②r①r♦ r ❦ ③r ④ ①❧ ⑦ ⑧❦ ①❧ ④ ♥ ①❧ ♦ ❥✉ r♠r ④ t ♥① ♥④ sr ❦ ♦rtr ❦ r ❦✉y ② ❥t♦ ♥⑨ r ① ♣ ❥♣ ②r ❦✉ ❧ ❦s ❥♣ ♥④ ❥♦ ❥♣✈❧ t ❦rr❦① ❥♦ ♥♦♥ ❦♥♦ r ❦✉r①✈ ❥❦❧ ♠ ♥♦✇r tr✈ ④r ❦ ⑦
⑩❧ sr ✇ ❶♣❧ sr ✇r ❦ ①❥♦ ♥♦ ♥ ❦ ♥ sr ✈ r ① ②❥ t♣r ❦⑨ rr① ②r✉ ♥ ✈ ❥♣ ②r ❷r ⑤ ①❥ t❧ ①r♣ r ✈ r tr
✈ ❥♣❥t ✇r① ♥s ♥② ♥sr❦✉④❥ ② ♥❸ r ④r ❦sr❦✈ ❥ ❦✉ ❥♣ ②r ❦✉r❦✈ ❥ ❦s ♥ s ♥ ④r❦⑦
viii
❼ ❽ ❾❿ ❽
R ISI
H➀➁ ➀➂ ➀➃
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
HALAMAN MOTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
DAFTAR SINGKATAN ... xvi
ABSTRAK ... xvii
ABSTRAC ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 9
C. Tujuan Penelitian ... ... 9
D. Kegunaan Penelitian ... . ... 10
➄➅ ➆➇ ➆➈➈ ➉ ➊➇➋➈➇ ➌➍➎➏➇➊➇T dan KERANGKA TEORI
A.H➐➑ ➒➑ ➐➓➔→ ➣↔ ➒↔ ➒➑ ➐➣↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ➙ ➛ B↕➜➓ ➐➣↔ ➐➝➞ ➐➟➒➠ ➣➐➡➔ → ➣↔ ➒↔ ➒➑ ➐ ➣↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ➙ ➢
C↕I➣➠ ➤ ➐➟ ➒➔ →➣↔ ➒↔ ➒➑ ➐ ➣ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ↕ ... 16
1. Peningkatan Kualitas Pendidikan .. 16
2. Manajemen Berbasis Sekolah .... ... 18
D. ➥➦ ➧lday ➨ ➩llho ... . .. ... 20
1. Pengertian➥ ➦➧lday ➨chool ... . .... 20
2. Alasan Memilih dan Menggunakan➥➦ ➧lday ➨chool ... 21
3. Sistem Pembelajaran➥ ➦➧lday ➨chool ... 25
4. Pengertian Mutu ... 29
5.➥➦ ➧lday ➨chool sebagai Usaha Peningkatan Mutu Pendidikan ... 33
6. Kebijakan➥ ➦➧lday ➨chool di SMA Negeri 1 Mejayan... 39
BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... . 41
B. Lokasi Penelitian .. ... 41
C. Jenis Data dan Sumber Data ... 42
D. Teknik Pengumpulan Data ... ... ... 42
E. Teknik Analisis Data ... ... 46
F. Teknik Pengujian Keabsahan Data ... 49
x
➫➭ ➫➯V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A➲K➳ ➵ ➸➺ ➻➼ ➻➽➾ ➸➚➪➳ ➶➹➘ ➴lday ➷ ➬hool ➮ ➸➾ ➱A ✃➳ ❐➳ ❒ ➸❮
➱➳➺➻y➻➽ K➻➵ ❰ Ï ➻➪➳➽➱➻➮ ➸❰➽➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ Ð Ñ B➲I➶ÏÒ➳➶➳➽ ➪➻ ➚➸➹➘ ➴y lda➷ ➬lhoo D➻Ò ➻ ➶ A➚Ï➳➼ A➼ ➻➮ ➳ ➶➸ ➚
➮ ➻➽ ✃Ó ➽A➼ ➻➮➳➶➸➚➚➳ ➵ ➻❐ ➻➸Ô ➚➻Õ ➻Ö➳ ➽ ➸➽ ❐➼ ➻ ➪➻➽ ➱❰➪ ❰ Ö➳ ➽➮ ➸➮ ➸➼ ➻➽➮ ➸ ➾ ➱A ✃➳ ❐➳ ❒ ➸ ❮ ➱➳ ➺ ➻y➻➽ K➻➵ ❰Ï ➻➪➳➽
➱➻➮ ➸ ❰➽➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ××
C➲D➻➶ Ï➻➼Ö➳ ➽ ➳❒ ➻Ï ➻➽➹y alldu➷chool ➚➳ ➵ ➻❐ ➻ ➸Ô ➚➻ Õ➻
Ö➳ ➽ ➸➽ ❐➼ ➻➪ ➻➽➱❰ ➪❰Ö➳ ➽➮ ➸➮ ➸➼ ➻➽➮ ➸➾ ➱A ✃➳ ❐➳ ❒ ➸❮
➱➳➺➻➻➽y K➻➵ ❰Ï ➻ ➪➳➽➱➻➮ ➸❰➽ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲➲ ➲ ➲ ➲ ➲ ➲ 77
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan ... 92
B. Saran ... 94
1. Bagi Sekolah ... 94
2. Bagi Guru ... 94
3. Bagi Peneliti Lain ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 96
xi
DAFØÙÚLAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 98
Lampiran 2 : Piagam Penghargaan Juara Harapan II Lomba Perilaku Budi Pekerti di Sekolah ... 99
Lampiran 3 : Penghargaan Adiwiyata Tingkat Nasional... 100
Lampiran 4 : Pembagian Jam Mengajar ... 101
Lampiran 5 : Pedoman Wawancara Kepala Sekolah... 102
Lampiran 6 : Pedoman Wawancara Wakasek Kurikulum... 104
Lampiran 7 : Pedoman Wawancara Wakasek Kesiswaan... 105
Lampiran 8 : Pedoman Wawancara Guru ... 106
Lampiran 9 : Pedoman Wawancara Siswa ... 107
Lampiran 10 : Pedoman Wawancara Komite ... 108
Lampiran 11 : Transkrip Wawancara dengan Kepala SMA 1 Mejayan Kabupaten Madiun... 109
Lampiran 12 : Transkrip Wawancara dengan Wakasek Kurikulum SMA 1 Mejayan Kabupaten Madiun... 113
Lampiran 13 : Transkrip Wawancara dengan Wakasek Kesiswaan SMA 1 Mejayan Kabupaten Madiun... 115
Lampiran 14 : Transkrip Wawancara dengan Guru SMA 1 Mejayan Kabupaten Madiun... 118
xii Lampiran 16 : Transkrip Wawancara dengan Siswa B SMA 1 Mejayan
Kabupaten Madiun... 123
Lampiran 17 : Transkrip Wawancara dengan Siswa C SMA 1 Mejayan
Kabupaten Madiun... 125
Lampiran 18 : Transkrip Wawancara dengan Komite SMA 1 Mejayan
Kabupaten Madiun... 127
Lampiran 19 : Korpus Data ... 129
Lampiran 20 : Korpus Foto ... 140
Lampiran 21 : Panduan PelaksanaanÛÜ Ýlday Þchool di SMA Negeri 1
xiii Student Learning.diakses 25 Pebruari 2011 dari (http:Bloom.com/Fun).
Depdiknas, (2001). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
Depdiknas, (2004). Kebijakan Akreditasi Sekolah I. Jakarta : Badan Akreditasi Nasional.Departemen Pendidikan Nasional.
_______, (2004). Kebijakan Akreditasi Sekolah 2. Jakarta : Badan Akreditasi Nasional. Departemen Pendidikan Nasional.
, ( 2004). Kebijakan Akreditasi Sekolah 3. Jakarta : Badan AkreditasiNasional. Departemen Pendidikan Nasional.
Fattah, Nanang. (2004). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung : Remaja Roesdakarya.
Hamalik, Oemar. (1994). Media Pendidikan. Cet ke-7 Bandung : Citra Aditya Bakti.
Miles,MB & Huberman. (1984). Qualitative Data Analysis. Beverly Hill: SAGE Publication, Ltd.
Moleong, L.J (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Roesdakarya.
Muhaimin. (2004). Paradigma Pendidikan Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya
Mulyasa, E. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implementasi.Bandung : Remaja Rosdakarya.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas
Poerwadarminta. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
xiv
Bandung : Sekolah Pascasarjana UPI Bandung
Tilaar, HAR. (2002).Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta
Tilaar, HAR. (2004). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta.
Undang undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Otonomi Daerah