• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ecocenrtism Dalam Pengelolaan Taman Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Ecocenrtism Dalam Pengelolaan Taman Nasional"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS

ECOCENRTISM DALAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL

MUHDI, S.HUT., M.SI NIP. 132296512

(2)

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, kami panjatkan kehadlirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya

tulis ini.

Karya tulis ini berjudul : ”Ecocentrism dalam Pengelolaan Taman Nasional”,

merupakan kajian tentang konsep pengelolaan taman nasional yang menerapkan

pandangan yang lebih konservasi dan lingkungan.

Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. Kritik

dan saran untuk penyempurnaan karya tulis inisangat penulis harapkan.

Medan, Pebruari 2008

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...i

DAFTAR ISI...ii

PENDAHULUAN ...1

TAMAN NASIONAL ...3

MANFAAT TAMAN NASIONAL...4

ECOCENTRISM DALAN PENELOLAAN TAMAN NASIONAL ...5

PENUTUP...8

(4)

PENDAHULUAN

Pemanfaatan sumber daya alam yang ada di permukaan maupun di dalam

perut lahan yang kurang bijak telah menyebabkan terjadi perubahan yang mengarah

kepada kerusakan. Padahal semestinya manusia berkewajiban mengelola sumber

daya alam yang ada di lahan, agar bermanfaat untuk semua makhluk hidup dalam

jangka waktu yang panjang.

Kerusakan lingkungan yang kita alami dewasa ini sebenarnya berakar pada

kesalahan cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam

keseluruhan ekosistem. Akhirnya, hal itu menyebabkan kesalahan pola perilaku

manusia.

Arne Naess, seorang filsuf Norwegia, penggagas gerakan Deep Ecology,

mengatakan bahwa krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan

melakukan perubahan yang fundamental dan radikal pada cara pandang dan perilaku

manusia terhadap alam. Apabila ingin menyelamatkan lingkungan, manusia harus

beralih dari cara pandang antropocentrism menuju cara pandang ecosentrism.

Cara pandang ecosentrism ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi masyarakat

tradisional Indonesia yang semula akrab dengan alam. Seiring perkembangan zaman,

masyarakat beralih ke budaya modern yang cenderung mengeksploitasi alam. Jadi,

perubahan ini lebih pada membangkitkan kembali kesadaran moral, kultural, dan

politis yang mengakui kesatuan, keterkaitan, dan saling ketergantungan antara

(5)

Dalam pengelolaan sumber daya alam sering terjadi pertentangan antara

kelompok yang menganut paham antropocentrism dan ecosentrism. Paham

antropocentrism cenderung menggunakan indikator ekonomi sebagai tolok ukur

keberhasilan pembangunan. Sementara itu paham ecosentrism yang sangat idealis

dalam mempelopori dan memperjuangkan gerakan penyelamatan lingkungan. Dua

paham ini ibarat dua kutub yang saling berlawanan. Kelompok yang menganut paham

antropocentrism sering menganggap paham ecosentrism merupakan penghambat

pembangunan. Sebaliknya kelompok penganut paham ecosentrism menganggap

pembangunan menjadi ancaman penyelamatan lingkungan.

Kedua paham ini memang sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan,

sehingga lebih pas kalau terjadi perpaduan di antara keduanya. Di sektor kehutanan,

pengelolaan taman nasional merupakan salah satu contoh bentuk perpaduan dari

kedua paham ini. Taman nasional dikembangkan menjadi beberapa zona. Zona inti

yang tidak boleh dijamah sama sekali, zona rimba yang dipergunakan untuk

penyelidikan, buffer zone sebagai kawasan penyangga dan zona pemanfaatan dimana

pada zona ini dapat dilakukan pemanfaatan ekonomi secara terbatas. Konsep

pengelolaan taman nasional seperti ini mestinya juga dapat diadopsi untuk model

pengelolaan sumber daya alam yang lain. Dengan perpaduan ini diharapkan

pembangunan tetap berjalan tetapi kerusakan lingkungan dapat ditekan.

Adapun formulasi Kebijakan dan Kelembagaan, meliputi metode yang

membatasi penggunaan sumberdaya lahan melalui zonasi, pemberian insentif dan

pajak untuk menekan praktek penggunaan lahan yang secara potensial dapat merusak;

(6)

menetapkan kebijakan pengaturan kepentingan swasta dan masyarakat yang

menguntungkan bagi konservasi keanekaragaman hayati.

TAMAN NASIONAL

Undang-undang RI No. 5 Tahun 1990 menyatakan bahwa taman nasional

adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. dikelola dengan si

stem zonasi yang dimanfaatkan unluk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,

pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Menurut PP No. 68 Tahun

1998 kawasan taman nasional dapat dimanfaatkan sesuai dengan sistem zonasi

pengelolaannya.

Berdasarkan sistem zonasi pengelolaannya kawasan taman nasional dapat dibagi

atas zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan atau zona lain yang ditetapkan

Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Zona pemanfaatan taman nasional adalah bagian kawasan taman nasional yang

dijadikan tempat pariwisata alam dan kunjungan wisata. Rencana pengelolaan adalah

suatu rencana bersifat umum dalam rangka pengelolaan taman nasional, taman hutan

raya dan taman wisata alam yang disusun oleh menteri kehutanan (PP No. 18 Tahun

(7)

Kriteria Penetapan Kawasan Taman Nasional

Kriteria Penetapan Kawasan Taman Nasional (TN) adalah sebagai berikut :

a. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin

kelangsungan proses ekologis secara alami;

b. Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan

maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami;

c. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh;

d. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai

pariwisata alam;

e. Merupakan kawasan yang dapat dibagi kedalam Zona Inti, Zona Pemanfaatan,

Zona Rimba dan Zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi

kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka

mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,

dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri.

MANFAAT TAMAN NASIONAL

Pengelolaan taman nasional dapat memberikan manfaat antara lain :

1. Ekonomi

Dapat dikembangkan sebagai kawasan yang mempunyai nilai ekonomis,

sebagai contoh potensi terumbu karang merupakan sumber yang memiliki

(8)

meningkatkan pendapatan bagi nelayan, penduduk pesisir bahkan devisa

negara.

2. Ekologi

Dapat menjaga keseimbangan kehidupan baik biotik maupun abiotik di

daratan maupun perairan.

3. Estetika

Memiliki keindahan sebagai obyek wisata alam yang dikembangkan sebagai

usaha pariwisata alam / bahari.

4. Pendidikan dan Penelitian

Merupakan obyek dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan

penelitian.

5. Jaminan Masa Depan

Keanekaragaman sumber daya alam kawasan konservasi baik di darat maupun di

perairan memiliki jaminan untuk dimanfaatkan secara batasan bagi kehidupan

yang lebih baik untuk generasi kini dan yang akan datang.

ECOCENTRISM DALAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL

Ketika Deep ecology mendorong kita untuk meninggalkan cara pandang

atroposentris, dan cara pandang holistik mengajak kita meninggalkan cara pandang

cartesian, sesungguhnya kita diajak untuk kembali ke kearifan tradisional. Dengan

(9)

Prinsip etika berdasarkan teori biosentrisme dan ekosentrisme sesunguhnya

telah ada dan dipraktekkan oleh masyarakat tradisional di berbagai belahan dunia.

Cara pandang mengenai manusia merupakan bagian integral dari alam, serta perilaku

yang bertanggungjawab, penuh sikap hormat dan peduli teradap kelangsungan hidup

semua kehidupan dialam semesta, telah menjadi cara pandang dan perilaku berbagai

masyarakat adat di seluruh dunia.

Kondisi kekinian Taman Nasional Kutai mendemonstrasikan konflik

kepentingan antara kelompok pengusung gagasan antropocentrism dan ecosentrism.

Dua kutub kepentingan ini saling tarik dan "medan" yang menjadi arena pertarungan

itu adalah hutan dan taman nasional. Aktivitas ancaman keberadaan taman nasional

seperti penebangan liar, perburuan satwa liar, pembukaan lahan untuk perkebunan,

kebakaran hutan merupakan antangan bagi pengelolaan taman nasional.

Di sisi lain, bencana ekologi berupa banjir dan tanah longsor yang melanda

beberapa daerah di tanah air belakangan ini, telah mulai menyadarkan manusia akan

pentingnya kerusakan ekologi di sekitar kita yang sudah mencapai ambang kritis. Dan

lebih jauh, bencana ekologi ini semakin menyentakkan kita tentang betapa urgensinya

kesadaran etika lingkungan. Sebab, bila kerusakan ekologi itu tetap dibiarkan, dan

tidak segera tumbuh suatu kesadaran etis-ekologis dalam masyarakat, dikhawatirkan

kehidupan ekologi kian berada dalam ancaman serius.

Lahan adalah suatu organisme yang hidup yang bagian-bagiannya, tanah,

gunung, sungai, atmosfer dan sebagainya, menyerupai organ-organ terpadu dari suatu

keseluruhan ekosistem yang tertib dan teratur. Dan untuk menjaga keseimbangan

(10)

etika adalah memelihara keseimbangan alam dan melestarikan keutuhan,

kelangsungan, kekayaan, dan keserasian ekosistem. Jadi, segala yang ada dan hidup

di dalam alam ini, termasuk juga manusia, mengandung suatu tuntutan moral yang

harus selalu dipertimbangkan dalam setiap tindakan yang berhadapan dengan alam,

atau yang kerap disebut etika ekologi atau etika alam.

Etika lahan, menurut Aldo Leopold, adalah suatu usaha untuk memperluas

rasa persekutuan dengan segala makhluk lainnya secara kolektif, kebersatuan dengan

alam itu sendiri. Etika tersebut mengubah kedudukan serta peran manusia dari

penakluk alam beserta isinya, menjadi anggota alam yang harus terus belajar hidup

saling berdampingan dengan penuh rasa hormat dan cinta dalam suatu komunitas

besar, alam.

Restorasi perilaku dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah usaha untuk

memulihkan kembali keseimbangan ekosistem yang telah rusak oleh tindakan

manusia. Alam boleh dimanfaatkan, tetapi harus dengan bijaksana. Atau, yang oleh

Giffor Pichot, seorang penganjur etika perlindungan alam (conservation ethic)

dikatakan segala sumber daya alam hendaknya dimanfaatkan dengan bijaksana guna

menciptakan kesejahteraan optimal bagi sebanyak mungkin orang dan dalam kurun

waktu yang selama mungkin pula. Maka, ia menganjurkan agar pengelolaan

lingkungan serta sumber daya alam harus ditangani oleh negara demi kemakmuran

bersama warga negara. Dan negara pun harus memahami dan menjiwai benar etika

alam. Sehingga, alam pun tidak dirusak oleh negara yang tentu saja memiliki

kekuasaan, wewenang dan otoritas yang tinggi terutama dalam pengelolaan taman

(11)

PENUTUP

Pendekatan ecosentrism pada program konservasi Taman Nasional memiliki peranan

yang sangat penting, terutama karena kawasannya merupakan habitat berbagai flora

dan fauna serta plasma nutfah yang sangat berharga. Namun demikian, diperlukan

pula suatu pengelolaan yang bijaksana dan menyeluruh serta mampu menggali

potensi yang ada tersebut sehingga pada akhirnya, sumberdaya alam yang ada dapat

dimanfaatkan oleh masyarakat terutama yang berada di sekitar kawasan, dan juga

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Asep. 2000. Kasatuan Adat Banten Kidul (Dinamika Masyarakat dan Budaya Sunda Kasepuhan di Kawasan Gunung Halimun Jawa Barat). Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Boer, R. Las I, dan Baharsjah JS. 2003. Adaptasi Terhadap Keragaman dan Perubahan Iklim (Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia ) Paper disajikan dalam Simposium VI Perhimpi, Biotrop 9-10 September 2003.

Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 1991. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Devall, B. 1985. Deep Ecology. Pererrine Smits Books. Salt Lake City.

Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 1999. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Haba, J. 2007. Masa Depan Taman Nasional Kutai. Suara Pembaharuan. Terbit : 30-10-2007.

Harada, Jauhar, Widada. 2000. Guide Book: Gunung Halimun National National Park. Biodiversity Conservation Project.. Bogor

Keraf, A.S. 2002. Etika Lingkungan Hidup. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Koten, T. 2006. Mengembangkan Etika Lingkungan yang Tepat. Suara Pembaharuan. Terbit 27-01-06.

[MoE] Ministry of Environment Republic of Indonesia. 2003. National Strategy Study on CDM in Forestry Sector. Final Report Jakarta.

Nasution M. 1999. Untuk Mewujudkan Pembangunan Kehutanan dan Perkebunan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan. Jakarta. Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

(13)

Santosa I. 2004. Pemberdayaan Petani Tepian Hutan Melalui Pembaharuan Perilaku Adaftif. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB Bogor. Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Stern, N. 2007. Kearifan Lokal Pengelolaan Hutan, Harapan Untuk Mengurangi Emisi Karbon. Siaran Pers. KKI Warsi. Jambi.

Suryanti, T. 2008. Lanskap dan Keanekaragaman Hayati di Gunung Halimun. Tropika. Conservation International Indonesia.

Telapak. 2007. Tantangan Etis Pengelolaan Hutan Berbasis Komunitas. http://www.telapak.org/index.php?option=com_content&task=section&id=5&Itemi d=28 [14 Desember 2007].

UNESCO. 1996. Biosphere Reserves: The Seville Strategy and the Statutory Framework of the World Network. Diterbitkan oleh UNESCO, Paris, 1996

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada variabel lainnya, CAR, FDR, ROA, dan ROE tidak menunjukkan perbedaan kinerja antara satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah spin-off, dengan nilai

Penulis akan membuat sebuah pembangkit listrik yang bersifat mengubah gerakan menjadi tenaga listrik, seperti kincir air tetapi akan memakai gaya gravitasi sebagai

Tingkat maturity level sistem otomasi perpustakaan yang diterapkan di STMIK Potensi Utama berada pada level Defined , yang berarti proses terstandar dengan baik

Pemberian materi pendidikan agama Islam di sekolah tidak hanya menjadi pengetahuan saja, tetapi lebih kepada pembentukan akhlak yang baik kepada peserta didik dan

BODY IMAGE PADA REMAJA PUTRI PENGGEMAR GIRL BAND K-POP.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Informan masih kanak - kanak ketika ayah intorman melakukan poligami dan kemudian ayah jarang pulang ke rumah, sedangkan pada usia informan sangat dibutuhkan

Dengan adanya penerapan sistem informasi penggunaan dana kas kecil yang sudah terkomputerisasi, diharapkan pembuatan laporan kas kecil menjadi akurat, tepat dan cepat

humas untuk merumuskan strategi media relations yang lebih baik, melalui pembentukan hubungan antarpribadi dengan jurnalis yang didasari atas.