• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERIKSAAN PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN PADA LANSIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMERIKSAAN PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN PADA LANSIA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERIKSAAN PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN PADA LANSIA

KEPERAWATAN GERONTIK

MAKALAH

oleh

Kelompok 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)

PEMERIKSAAN PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN PADA LANSIA

MAKALAH

disusun sebagai pemenuhan tugas Keperawatan Gerontik dengan dosen pengampu: Ns. Kusharyadi, M.Kep.

oleh

Kelompok 1

Ulfi Bini'matillah 142310101002 Yuke Dwi P. S 142310101024 Hamdani Rifki P.A 142310101032 Dinda Krisdayanti 142310101057 Eka Marta T 142310101108 Devi Putwi H 142310101124

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, karena telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “Pemeriksaan Pendengaran dan Penglihatan pada Lansia” dengan tepat waktu. Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan dan saran dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Ns. Lantin Sulistyorini, S.Kep.,M.Kes. selaku ketua program studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember,

2. Ns. Kusharyadi, M.Kep. selaku dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Gerontik yang selalu memberikan masukan dalam penulisan makalah ini. 3. teman-teman yang selalu memberikan dukungan pada saat penulisan

makalah, dan

4. semua pihak yang memberikan bantuan dalam penyelesaian makalah.

Penulis menyadari didalam penyusunan dan penulisan makalah ini banyak kekurangannya dari segi teknik dan metode penulisan yang jauh dari sempurna. Merupakan suatu penghargaan bagi penulis apabila ada saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan karya ilmiah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis.

Jember, Maret 2017

(4)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Lansia merupakan proses perkembangan manusia yang paling akhir. Pada proses ini bias disebut dengan penuaan atau degenerative yang memerlukan penanganan khusus. Lansia mengalami penurunan system dan fungsi tubuh. hal yang dapat membedakan adalah lansia memeberikan respon yang berbeda saat diberikan stimulus. Peran keluarga serta asuhan keperawatan sangat dibutuhkan dalam membantu lansia, sehingga lansia mampu mencapai mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Pada keperawatan lansia, perlu dilakukan pemeriksaan fungsi system tubuh yang mengalami penurunan dengan keahlian khusus. Pemeriksaan ini salah satunya adalah dengan pemeriksaan system dan fungsi dari penglihatan serta pendengaran, sehingga perawat dan keluarga dapat mengetahui sejauhmana lansia dapat mendengar dan melihat. Perawat dalam hal ini harus mampu mempelajari, mengerti dan mengaplikasikan bagaimana cara memeriksa lansia yang telah mengalami kehilangan fungsi penglihatan dan pendengaran dan lansia yang masih dapat melihat ataupun mendengar dengan baik. Oleh karena itu, pemeriksaan penglihatan dan pemeriksaan pendengaran perlu dipelajari dengan baik oleh seorang perawat agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada lansia di masyarakat.

1.2 RumusanMasalah

Berikut rumusan masalah mengenai pemeriksaan penglihatan dan pendengaran pada lansia.

(5)

1.2.2 Bagaimana cara melakukan pemeriksaan penglihatan dan pendengaran pada lansia?

1.3 Tujuan

Berikut tujuan mengenai pemeriksaan penglihatan dan pendengaran pada lansia.

1.3.1 Untuk mengetahui konsep teori pemeriksaan penglihatan dan pendengaran pada lansia.

(6)

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Konsep Teori Pemeriksaan Pendengaran dan Penglihatan pada Lansia a. Pemeriksaan Pendengaran

Pada umumnya lansia mengalami penurunan pendengaran simetris dan bilateral dan diperparah pada suasana ramai. Penurunan pendengaran yang tidak berkaitan dengan proses menua dapat disebabkan oleh impaksi serumen, infeksi, adanya benda asing, atau otosklerosis. Pengkajian efektif yang dapat dilakukan pada lansia dengan penurunan pendengaran adalah dengan memberikan pertanyaan apakah lansia mengalami penurunan pendengaran dan telinga merasa berdengung. Lakukan juga pemeriksaan dan evaluasi secara teratur pada alat bantu dengar yang digunakan oleh lansia. Masalah yang sering terjadi pada alat bantu dengar antara lain adalah komponen yang rusak atau hilang, penyetelan volume yang kurang tepat dan baterai yang lemah.

b. Pemeriksaan Penglihatan 1) Pemeriksaan visus.

a) Memeriksa Visus sentral (dan perifer) secara sederhana b) Mampu menentukan derajat penilaian visus

(7)

Tajam penglihatan dicatat sebagai jarak baca pada nomor baris, dari huruf terkecil yang dilihat. Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasi antara 6/4 hingga 6/6 (20/15 atau 20/20 kaki). Apabila penglihatan kurang maka diukur dengan menentukan kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari) ataupun proyeksi sinar.

Teknis

(1) Menggunakan kartu Snellen dan penerangan cukup.

(2) Pasien didudukkan jarak 6 meter, paling sedikit jarak 5 meter dari kartu Snellen.

(3) Kartu Snellen di digantungkan sejajar setinggi / lebih tinggi dari mata pasien. (4) Pemeriksaan dimulai pada mata kanan terlebih dahulu, mata kiri ditutup.

Pasien disuruh membaca huruf SNELLEN dari baris paling atas ke bawah. Hasil pemeriksaan dicatat, kemudian diulangi untuk mata sebelahnya.

2) Menghitung jari.

(8)

3) Reflek pupil Cara pemeriksaan :

a) Mata pasien fiksasi pada jarak tertentu.

b) Berikan objek yang bisa di lihat dan dikenali (Gambar atau benda). c) Sumber cahaya haruslah terang dan mudah di manipulasi.

d) Observasi general pupil : bentuk, ukuran, lokasi, warna iris, kelainan bawaan. e) Rangsangan cahaya diberikan 2-5 detik.

4) Pemeriksaan Kornea Alat : Kapas steril

Caranya :

a) Bentuk ujung kapas dengan pinset steril agar runcing dan halus

b) Fiksasi mata pasien keatas agar bulu mata tidak tersentuh saat kornea disentuh c) Fiksasi jari pemeriksa pada pipi pasien dan ujung kapas yang halus dan

runcing disentuhkan dengan hati-hati pada kornea, mulai pada mata yang tidak sakit.

Hasil

a) Pada tingkat sentuhan tertentu reflek mengedip akan terjadi.

b) Penilaian dengan membandingkan sensibilitas kedua mata pada pasien tersebut.

2.2 Pedoman untuk Mengkaji Pendengaran dan Penglihatan a. Pedoman untuk Mengkaji Pendengaran

1) Pertanyaan untuk mengkaji faktor resiko gangguan pendengaran

a) Apakah Anda memiliki riwayat keluarga yang memiliki gangguan pendengaran atau tuli?

b) Apakah Anda telah terpapar suara-suara yang keras di pekerjaan atau waktu luang Anda?

c) Apakah Anda memiliki riwayat penyakit, misalnya: diabetes, hipertiroidisme, penyakit Meniers, atau penyakit Paget?

d) Obat-obatan apa yang Anda konsumsi?

e) Apakah anda pernah terkena dampak kotoran telinga?

2) Pertanyaan untuk Menilai Kesadaran dan Adanya Defisit Pendengaran a) Apakah Anda memiliki masalah dengan pendengaran Anda?

b) Apakah Anda memperhatikan adanya perubahan pada kemampuan Anda untuk memahami pembicaraan atau kata-kata yang Anda dengar?

(9)

3) Pertanyaan untuk Menanyakan jika gangguan pendengaran diakui a) Berapa lama Anda memperhatikan adanya gangguan pendengaran?

b) Apakah Anda memperhatikan perbedaan pendengaran di telinga kiri dan kanan Anda?

c) Apakah gangguan terjadi secara progresif atau masalah pendengaran terjadi secara tiba-tiba?

d) Jelaskan kesulitan pendengaran Anda.

e) Apakah ada kondisi, seperti lingkungan yang berisik atau suara-suara tertentu yang mempengaruhi pendengaran Anda?

f) Apakah gangguan pendengaran Anda mempengaruhi kemampuan komunikasi Anda dengan orang lain, baik secara individi ataupun kelompok?

g) Apakah ada aktifitas yang ingin Anda lakukan, tetapi Anda merasa tidak bisa karena masalah pendengaran?

h) Pernahkah Anda mendapat atau berfikir mendapatkan evaluasi untuk alat bantu pendengaran?

i) Pernahkan kamu mencoba menggunakan alat bantu pendengaran?

4) Pertanyaan untuk mengidentifikasi kesempatan edukasi tentang pencegahan penyakit dan promosi kesehatan

a) Apakah orang tersebut melakukan aktifitas yang membuatnya terpapar suara-suara yang keras, seperti pertukangan atau memotong rumput? Jika iya, apakah dia mengerti pentingnya menggunakan pelindung telinga? b) Jika orang tersebut memiliki riwayat terkena kotoran telinga, apakah dia

mengambil tindakan pencegahan?

c) Apakah dia merokok atau tinggal di rumah dengan perokok? (jika iya, apakah dia menyadari bahwa ini merupakan faktor risiko gangguan pendengaran?)

d) Apa sikap seseorang tentang gangguan pendengaran?

e) Apakah gangguan pendengaran dianggap normal dan tidak dapat diobati? f) Apakah alat bantu pendengaran menjadi stigma?

g) Jika seseorang resisten terhadap evaluasi audiologik, apa penghalangnya? (contoh, adakah keterbatasan keuangan dan transportasi yang mengganggu untuk mendapatkan alat bantu pendengaran?)

(10)

i) Dalam kesempatan apa biasanya orang berkomunikasi dan bagaimana gangguan pendengaran mempengaruhi pola tersebut? (misalnya, apakah seseorang tinggal di lingkungan dimana penting untuk menggunakan telephon?)

j) Apakah seseorang tinggal di lingkungan yang berisik dan mendapatkan ketenangan dengan penurunan pendengaran?

k) Jika seseorang tinggal di lingkungan dimana aktifitas kelompok merupakan bagian besar dari aktifitas sehari-hari, apakah orang tersebut ingin berpartisipasi dalam aktifitas tersebut?

b. Pedoman untuk Mengkaji Penglihatan

1) Pertanyaan untuk menilai kesadaran dan adanya penurunan pengelihatan a) Apakah Anda memperhatikan adanya perubahan pada pengelihatan Anda

dalam beberapa tahun ini?

b) Apakah Anda merasakan gejala yang tidaknyamanan, seperti mata yang kering?

c) Apakah Anda memiliki kesulitan mengatur aktifitas Anda karena masalah pengelihatan Anda? (misalnya, menjahit, membaca, berkendara, berpakaian, menyiapkan makanan, menggunakan telphon, belanja, menonton tv, mengatur uang, menulis surat, melakukan hobi, naik dan turun tangga.) d) Pernahkan Anda tersandung atau jatuh karena maslah pengelihatan Anda? e) Pernahkah Anda berhenti melakukan aktifitas karena masalah pengelihatan?

(contohnya, pernahkah Anda berhenti menyetir pada malam hari karena sulit melihat?)

f) Adakah sesuatu yang akan Anda lakukan jika dapat melihat lebih baik?

2) Pertanyaan untuk Menanyakan jika gangguan pengelihatan diakui

a) Kapan Anda pertama kali menyadari gangguan pengelihatan atau perubahan kemampuan melihat?

b) Apakah perubahan terjadi secara bertahap atau Anda menyadari tiba-tiba terjadi perubahan di waktu tertentu?

c) Bagaimana Anda mendeskripsikan perubahan kemampuan melihat Anda? d) Pernahkah Anda merakasan sakit, pengelihatan kabur, terbakar atau geli,

lingkaran cahaya disekitar lampu, intoleransi cahaya yang terang, perbedaan pengelihatan antara siang dan malam, atau bintik-bintik atau bintik cahaya di depan mata?

(11)

3) Pertanyaan untuk mengidentifikasi kesempatan edukasi tentang pencegahan penyakit dan promosi kesehatan

a) Kapan terakhir kali Anda mendapatkan pemeriksaan mata? b) Dimana Anda melakukan perawatan mata?

c) Pernahkah Anda mendapatkan pemeriksaan mata untuk katarak, glaucoma, dan kondisi mata lain?

d) Apa pendapatmu tentang melakukan pemeriksaan reguler untuk glaucoma dan masalah mata lain?

4) Pertanyaan untuk mengidentifikasi faktor risiko gangguan pengelihatan

a) Kapan Anda menghabiskanwaktu diluar dibawah sinar matahari, apakah kamu menggunakan sunglasses atau topi untuk melindungi mata Anda dari sinar matahari?

b) Apakah Anda merokok?

c) Apakah Anda memiliki riwayat diabetes atau hipertensi? d) Apa obat-obatan yang Anda konsumsi?

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada umumnya lansia mengalami penurunan pendengaran simetris dan bilateral dan diperparah pada suasana ramai. Pengkajian efektif yang dapat dilakukan pada lansia dengan penurunan pendengaran adalah dengan memberikan pertanyaan apakah lansia mengalami penurunan pendengaran dan telinga merasa berdengung. Sedangkan pemeriksaan penglihatan menggunakan pemeriksaan visus, menghitung jari, reflek pupil, pemeriksaan kornea, dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetaui adanya penurunan penglihatan dan risiko gangguan penglihatan.

(12)

Setelah mengetahui mengenai cara pemeriksaan pendengaran dan penglihatan pada lansia, perawat diharapkan mampu menerapkan pemeriksaan ini. Selain itu, perawat diharapkan mengasah kemampuannya dalam melakukan pemeriksaan pendengaran dan penglihatan pada lansia karena cara melakukan pemeriksaan pada lansia, berbeda dengan kelompok usia lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sofia Rhosma. 2014. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Deepublish.

Miller, Carol A. 2009. Nursing for Wellness in Older Adults. Edisi 5. Wolter Kluwer Health. Lippincott William & Wilkins.

Nithasari, Atika. 2014. Perbedaan Tajam Penglihatan Pascaoperasi Fakoemulsifikasi antara Pasien Katarak Senilis tanpa Miopia dengan Miopia Derajat Tinggi. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Diambil dari: undip.ac.id/44479/3/Atika_Nithasari_ 22010110130174_Bab2KTI.pdf [Online]. Diakses pada tanggal 8 Maret 2017.

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Latar Belakang: Lansia wanita lebih sering mengalami gangguan pola tidur dikarenakan semakin bertambah umur seseorang maka akan mengalami penurunan fungsi organ yang berpengaruh

Pada penelitian ini juru parkir yang mengalami penurunan fungsi pendengaran akibat bising atau noise induced hearing loss (NIHL) sebanyak 7 orang (17,5%), sedangkan dari

Meskipun demikian, pada lansia umumnya terjadi penurunan berat badan dengan rata-rata selama 10 tahun mencapai 7 kg pada lansia pria dan 6 kg pada lansia wanita, hal

Mengingat perubahan kondisi fisik yang menurun pada lansia maka lansia sering mengalami penurunan dalam kemampuan fungsional dan mengalami kesulitan dalam melakukan

Dari hasil penelitian tersebut, lansia cenderung mengalami tingkat depresi ringan, karena pada umumnya lansia masih tinggal dengan keluarga, lansia masih semangat

Pada lansia dengan demensia terutama yang mengalami penurunan fisik dan kognitif serta permasalahan pada psikologinya akan menjadi beban bagi lansia yang lainnya dan pengasuh /

Berdasarkan hasil pada penelitian ini , peneliti menganalisa bagaimana penurunan hot flashes terhadap lansia yang mengalami menopause dengan cara melakukan penurunan sebelum dilakukan

Kedua lansia menunjukkan respon yang berbeda dimana pada lansia 1 mengalami penurunan tekanan darah sementara lansia 2 tidak menunjukkan penurunan tekanan darah setelah diberikan