PERBEDAAN INDEKS GLIKEMIK BERBAGAI JENIS
SUSU KEMASAN
Laporan penelitian
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN
Muhammad Fahreza Kautsar
NIM:1111103000030
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
v
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb
Puji serta syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Judul penelitian ini adalah “Perbedaan Indeks Glikemik Beberapa Jenis Susu Kemasan”.
Peneliti ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada:
1. Prof. Dr. (hc). dr. M. K. Tadjudin, Sp.And. selaku DEKAN Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. dr. M. Djauhari Widjajakusumah, AIF, PFK, Dr. Arif Sumantri, S.KM, M.Kes, dan Dr. Dra. Delina Hasan, Apt, M.Kes. selaku Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
3. dr. Witri Ardini, M.Gizi., Sp.GK. selaku Kepala Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. dr. Witri Ardini, M.Gizi, Sp.GK. dan dr. Risahmawati, Ph.D. selaku dosen pembimbing yang telah membantu, menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk selalu membimbing peneliti dari awal hingga akhir penelitian ini.
5. Seluruh dosen dan segenap Civitas Akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu kepada peneliti.
6. Ayahanda Ir. Joko Pitoyo, CES. dan Ibunda Dr. drs. Nining Puspaningsih. yang memberikan dukungan moral, material dan doa serta kasih sayang yang tidak pernah putus.
vi
8. Teman-teman satu kelompok penelitian yaitu Andhiny Rezkia Enhas, Evan Pramudito, Tiara Putri Methas dan Abdul Jafar Sidiq yang berjuang bersama-sama untuk menyelesaikan penelitian ini.
9. Teman-teman satu kontrakan GPL F45 yaitu Dimas B.P., Lintang S.B. Nurul Khafidz, M. Arif R., Hanindyo R.B., Bimo D.P. dan Andhika P. yang mendukung dan membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. 10.Teman-teman PSPD 2011 yang selalu bersama dan telah banyak sekali
memberikan ilmu serta pengalaman selama 3 tahun menjalani preklinik. 11.Teman-teman PSPD 2010, 2012, dan 2013 yang selalu memberi dukungan
dan bantuan kepada peneliti untuk menyelesaikan penelitian.
12.Teman-teman Angkatan Rakit Bambu yang sudah terlebih dahulu menjadi sarjana, yang menjadi pacuan untuk dapat menjadi seperti mereka.
13.Ayame Goriki, Emi Takei, Tomomi, Haruna, Mami dan Rina yang menjadi penyemangat dalam menyelesaikan penelitian ini.
Peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun bagi peneliti.Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Ciputat, 12 September 2014
vii
ABSTRAK
Muhammad Fahreza Kautsar. Program Studi Pendidikan Dokter. Perbedaan Indeks Glikemik Berbagai Jenis Susu Kemasan. 2014
Setiap tahun penderita obesitas dan diabetes melitus terus meningkat jumlahnya. Peningkatan angka ini disebabkan oleh faktor gaya hidup seperti mengkonsumsi makanan dan minuman kemasan. Makanan dan minuman kemasan memiliki indeks glikemik yang tinggi. Indeks glikemik adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian adalah mengetahui perbedaan indeks glikemik beberapa varian susu kemasan. Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan responden berjumlah sepuluh orang. Penelitian meliputi pemeriksaan glukosa darah setelah mengkonsumsi susu full cream, susu cokelat dan susu low-fat pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 90 dan 120, serta uji statistik
Repeated Annova. Pemeriksaan glukosa darah dicatat dan dihitung perbandingan luas kurva susu dengan luas kurva makanan standar. Hasil penelitian didapatkan rerata indeks glikemik susu cokelat, susu full cream dan susu low-fat adalah 95.07, 85.82 dan 85.17. Ketiga jenis susu tersebut termasuk kategori makanan indeks glikemik tinggi dan terdapat perbedaan yang bermakna (p 0.000).
Kata kunci : Indeks glikemik, glukosa darah, susu cair full cream , susu cair cokelat dan susu cair low-fat
ABSTRACT
Muhammad Fahreza Kautsar. Medical Education Study Program. The Difference Between Glycemic Index in Different Types of Milk Packaging. 2014
Every year people with obesity and diabetes mellitus are increasing. This increase
is caused by people’s lifestyle such as food and beverage packaging. Food and
beverage packaging have a high glycemic index. The glycemic index is a value that indicates the ability of a carbohydrate-containing foods raise levels of glucose in the blood. The purpose of the study is to determine the different of glycemic index on several variants of milk packaging. It is an experimental study with ten people as respondent. This study includes the examination of blood glucose after consumtion of full cream milk, chocolate milk and low-fat milk in minute -0, 15, 30, 45, 60, 90 and 120 and also the statistical test Repeated Annova. The examination of blood glucose recorded and calculated the ratio between area the curve of milk with the curve of standard food. Chocolate milk, full cream milk and low-fat milk have a glycemic index 95.07, 85.82 and 85.17. The three types of milk packaging is included in the category of high glycemic index foods and there are significant differences (p 0.000).
viii
1.4.4. Bagi Subjek Penelitian ... 3
BAB IITINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Landasan Teori ... 4
2.1.1. Karbohidrat ... 4
2.1.2. Susu Kemasan ... 6
2.1.3. Pencernaan Karbohidrat ... 7
2.1.4. Metabolisme Karbohidrat ... 8
2.1.5. Kadar Glukosa Darah... 11
2.1.6. Indeks Glikemik ... 12
2.1.7. Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik ... 14
ix
2.2. Kerangka Teori ... 16
2.3. Kerangka Konsep ... 17
2.4. Definisi Operasional ... 18
BAB III METODE PENELITIAN ... 19
3.1. Desain Penelitian ... 19
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 19
3.3. Alat dan Bahan Penelitian ... 19
3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 19
3.4.1. Kriteria Inklusi ... 19
3.4.2. Kriteria Eksklusi ... 20
3.4.3. Kriteria Eliminasi / Drop-out ... 20
3.5. Besar dan Cara Perekrutan Responden ... 20
3.6. Cara Persiapan Makanan Uji ... 20
3.7. Alur Penelitian ... 22
3.8. Cara Kerja Penelitian... 23
3.9. Rencana Pengolahan dan Analisa Data ... 23
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1. Karakteristik Responden ... 25
4.2. Kadar Glukosa Darah ... 25
4.3. Indeks Glikemik ... 28
4.4. Keterbatasan Penelitian ... 29
BAB VKESIMPULAN DAN SARAN ... 31
5.1. Kesimpulan ... 31
5.2. Saran ... 31
DAFTAR PUSTAKA ... 32
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Klasifikasi Karbohidrat ... 5 Gambar 2.2. Jalur Utama Metabolisme Glukosa ... 10 Gambar 2.3. Kurva untuk Makanan dengan IG Tinggi dan IG Rendah ... 13 Gambar 4.1. Kurva Kadar Glukosa Darah Makanan Standar
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Peran Enzim Disakaridase ... 8
Tabel 2.2. Jalur Metabolik pada Metabolisme Karbohidrat ... 9
Tabel 2.3. Fungsi Hormon dalam Meregulasi Kadar Glukosa Darah ... 12
Tabel 2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik ... 14
Tabel 2.5. Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik ... 14
Tabel 3.1. Makanan Uji dengan Kandungan Karbohidrat Sebesar 50 Gram ... 21
Tabel 4.1. Karakteristik Responden ... 25
Tabel 4.2. Presentase Kenaikan dan Penurunan Kadar Glukosa Darah ... 28
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Surat Persetujuan Responden ... 35
Lampiran 2. Lembar Status Kesehatan Responden ... 36
Lampiran 3. Hasil Pemeriksaan Tanda Vital Pasien... 37
Lampiran 4. Kriteria Status Gizi... 38
Lampiran 5. Perhitungan Kebutuhan Makanan Uji ... 39
Lampiran 6. Informasi Nilai Gizi Makanan Uji ... 41
Lampiran 7. Cara Perhitungan Luas Area di Bawah Kurva ... 43
Lampiran 8. Hasil Uji Statistik ... 45
xiii
DAFTAR SINGKATAN
IG : Indeks Glikemik
GDP : Gula Darah Puasa
IMT : Indeks Massa Tubuh
DM : Diabetes Melitus
LABK : Luas Area di Bawah Kurva
WHO : World Health Organization
UHT : Ultra High Temperature
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Saat ini berdasarkan data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 sekitar 15,4% penduduk Indonesia menderita obesitas. Nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 10,3% di tahun 2007 dan 12,2% pada tahun 2010. Jumlah penderita obesitas di Indonesia terbanyak terdapat di kota Jakarta yang jumlahnya mencapai 30,1%. Seseorang dengan obesitas memiliki risiko menderita hipertensi, dislipidemia dan sindrom metabolik yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang normal. Sekitar 61% orang dengan obesitas memiliki penyakit Diabetes Melitus (DM). Angka ini lebih tinggi dari penyakit lain yang diderita oleh seseorang dengan obesitas seperti penyakit jantung koroner (17%) atau osteoarthritis (30%). World Health Organization (WHO) tahun 2011 sekitar 3,4 juta orang meninggal akibat tingginya kadar gula darah pada penderita diabetes melitus. World Health Organization (WHO) memprediksi pada tahun 2030 jumlah penderita DM di Indonesia akan meningkat hingga 21,2 juta jiwa dari jumlah sebelumnya yaitu 8,4 juta jiwa penderita pada tahun 2000. Pada tahun 2013 berdasarkan laporan riskesdas, penduduk Indonesia berusia ≥15 tahun yang menderita DM mencapai 6,9%. Di kota Jakarta, prevalensi DM sudah mencapai 2,5% dari populasi. Berdasarkan tingginya angka kejadian obesitas dan DM saat ini serta perkiraan perkembangan penyakit ini, maka penyakit diabetes melitus layak mendapat perhatian utama.1,2,3,4
2
berakibat pada peningkatan berat badan dan peningkatan kadar glukosa darah. Oleh sebab itu, salah satu cara untuk mencegah terkena penyakit diabetes melitus dan obesitas adalah menjalani pola makan yang sehat dan mengkonsumsi makanan sehat dengan indeks glikemik yang rendah.Indeks glikemik (IG) adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah.5,6,7
Perubahan pola makan pada masyarakat terjadi akibat banyaknya makanan instan dan minuman dalam kemasan. Salah satu minuman dalam kemasan yang sering dikonsumsi adalah susu. Saat ini tidak hanya anak-anak yang mengkonsumsi susu melainkan remaja dan orang dewasa juga mengkonsumsi susu. Susu kemasan yang sering dijumpai dan dikonsumsi oleh masyarakat adalah susu Ultra High Temperature (UHT). Susu UHT merupakan susu cair dalam kemasan yang telah diolah sedemikian rupa sehingga memiliki berbagai jenis variasi baik dalam segi rasa dan kandungan nutrisinya. Kandungan nutrisi utama seperti karbohidrat, protein dan lemak yang diperhatikan saat memilih varian susu UHT. Susu UHT menjadi pilihan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Hal ini karena susu UHT selain mengandung nutrisi yang hampir serupa dengan susu segar, susu UHT juga lebih tahan lama disimpan dan memiliki rasa yang lebih bervariasi.8,9,10,11
Berdasarkan pemaparan diatas peneliti tertarik meneliti mengenai indeks glikemik pada susu kemasan yang sering dikonsumsi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan indeks glikemik beberapa varian susu dalam kemasan.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Menggolongkan indeks glikemik beberapa varian susu dalam kemasan ke dalam indeks glikemik rendah, sedang dan berat.
2. Mengetahui apakah terdapat perbedaan yang bermakna di antara indeks glikemik di beberapa varian susu dalam kemasan.
1.4.Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Institusi
1. Penelitian ini menambah referensi yang ada di kepustakaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Penelitian ini dapat menjadi acuan untuk penelitian serupa yang berikutnya.
1.4.2. Bagi peneliti
1. Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Mendapatkan ilmu khususnya kesehatan tentang ilmu gizi.
1.4.3. Bagi Masyarakat
Sebagai acuan masyarakat dalam mengkonsumsi susu kemasan yang sesuai dengan kebutuhannya.
1.4.4. Bagi Subjek Penelitian
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Landasan Teori
2.1.1.Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama energi manusia karena lebih dari setengah total asupan kalori sehari-hari umumnya adalah karbohidrat. Sebanyak 60-70% kebutuhan energi diperoleh dari karbohidrat setiap harinya. Sebagian besar sumber makanan mengandung karbohidrat.12
Karbohidrat dalam ilmu gizi secara umum terbagi menjadi karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Klasifikasi karbohidrat secara rinci dapat dilihat pada gambar 2.1. Karbohidrat sederhana terdiri dari monosakarida dan disakarida. Sedangkan karbohidrat kompleks terdiri dari oligosakarida yang mengandung 3-10 unit sakarida, dan polisakarida yang mengandung lebih dari 10 unit sakarida.12,13
1. Karbohidrat Sederhana a. Monosakarida
Karbohidrat dengan bentuk paling sederhana dari molekul karbohidrat lainnya. Bentuk karbohidrat ini tidak dapat dipecah lagi menjadi unit yang lebih kecil melalui proses hidrolisis.
b. Disakarida
2. Karbohidrat Kompleks a. Oligosakarida
Karbohidrat yang memiliki bentuk berupa rantai pendek 3-10 monosakarida yang terikat oleh ikatan kovalen. Jumlah rantai cincin karbon terlihat dari namanya seperti tri- (tiga rantai karbon), tetra- (empat rantai karbon), penta- (lima rantai karbon) dan seterusnya. Awalan jumlah rantai cincin karbon ini diikuti oleh -sakarida. Di alam, oligosakarida paling banyak terdapat dalam bentuk trisakarida.
b. Polisakarida
Polisakarida adalah bentuk rantai panjang dari monosakarida yang mampu mencapai puluhan atau ratusan hingga ribuan monosakarida yang saling berikatan. Dalam konteks nutrisi, bentuk polisakarida umumnya adalah glikogen. Glikogen dapat ditemukan pada jaringan hewan (di otot hewan), sedangkan di tanaman dapat ditemukan dalam bentuk pati dan selulosa.14
Gambar 2.1 Klasifikasi Karbohidrat14 Karbohidrat
Karbohidrat sederhana Karbohidrat kompleks
Disakarida (2 unit glukosa) Monosakarida
(1 unit glukosa)
Glukosa Fruktosa Galaktosa
Oligosakarida (3-10 unit glukosa)
Polisakarida (>10 unit glukosa)
Laktosa Sukrosa Maltosa
Glukosa Galaktosa Glukosa Glukosa
Glukosa Fruktosa
Glukosa Fruktosa Galaktosa Glukosa
6
2.1.2. Susu Kemasan
Pada dasarnya susu merupakan salah satu sumber nutrisi yang baik bagi tubuh. Susu disebut sebagai makanan yang memiliki kandungan zat gizi lengkap. Susu mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim, vitamin-vitamin dalam jumlah memadai. Kandungan nutrisi utama di dalam susu yang dibutuhkan tubuh adalah karbohidrat, protein dan lemak. Saat ini banyak jenis varian susu yang beredar di pasaran dan dapat dengan mudah kita konsumsi. Salah satu jenis susu yang sering dikonsumsi masyarakat adalah susu segar. Susu segar adalah susu yang langsung berasal dari hasil pemerahan sapi atau kambing. Kandungan susu segar tersebut tidak dikurangi ataupun ditambahkan apapun (tidak ada perlakuan).10
Beberapa jenis varian susu yang lebih umum dijumpai dan lebih sering dikonsumsi oleh masyarakat adalah susu olahan, baik dalam bentuk cair maupun susu dalam bentuk bubuk. Susu cair segar yang umum dijumpai di kehidupan sehari-hari adalah susu dalam kemasan yang telah melalui proses pengolahan khusus. Susu Ultra High Temperature (UHT) adalah susu cair segar yang melewati proses pemanasan suhu tinggi dalam waktu singkat. Proses tersebut bertujuan untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme lainnya tanpa merusak kandungan gizi di dalam susu segar. Susu UHT diproduksi dengan memperhatikan komposisi nutrisinya. Kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein dan lemak menjadi dasar untuk membuat bebeapa varian susu kemasan. Sehingga saat ini dapat dijumpai susu full cream, susu dengan berbagai macam rasa dan susu low-fat serta susu high-protein. Keunggulan susu UHT adalah kemampuan susu untuk tahan lebih lama saat disimpan di suhu ruangan, terlebih lagi saat disimpan di lemari pendingin.9,15
Komposisi nutrien pada susu mencakup protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim dan vitamin-vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Makronutrien dan mikronutrien terkandung di dalam susu dengan jumlah yang memadai. Susu mengandung zat gizi seperti kalsium sehingga susu memiliki manfaat bagi tubuh yaitu membantu dalam pembentukan tulang dan mencegah osteoporosis pada orang lanjut usia. Susu juga memiliki jumlah kalori sekitar 220 kilokalori (kkal) dalam setiap takaran saji 250 mililiter (ml). Jumlah kalori dalam susu hampir serupa dengan jumlah kalori dalam satu porsi nasi putih.11,16
2.1.3.Pencernaan Karbohidrat
Dari sisi nutrisi, bentuk karbohidrat yang lebih banyak berperan saat dikonsumsi adalah bentuk polisakarida dan disakarida dibandingkan dengan bentuk monosakarida. Bentuk monosakarida biasanya tidak terdapat pada makanan alami dalam jumlah yang signifikan. Penggunaan karbohidrat di tingkat sel bergantung pada proses pencernaan dan penyerapan (absorpsi) karbohidrat makanan di saluran cerna. Proses pencernaan ini bertujuan mengubah bentuk polisakarida dan disakarida dengan proses hidrolisis menjadi bentuk monosakarida. Bentuk monosakarida dapat dengan mudah dan lebih cepat diabsorpsi oleh tubuh.17
Proses pencernaan karbohidrat terjadi di beberapa bagian tubuh. Setiap tahap pada proses pencernaan dan organ-organ yang terlibat adalah sebagai berikut17,18:
a. Mulut
Proses pencernaan di mulut terjadi secara mekanis dan enzimatik. Pencernaan mekanis bertujuan mengubah bentuk makanan padat menjadi bentuk bolus (lunak). Bolus makanan yang dikunyah oleh mulut akan bercampur dengan enzim amilase maka terjadilah pencernaan enzimatik. Enzim amilase akan menghidrolisis amilum atau pati menjadi bentuk yang lebih sederhana, yaitu dekstrin.
b. Lambung
8
lambung karena tidak ada enzim apapun yang mampu menghidrolisis karbohidrat.18
c. Usus Halus
Pencernaan karbohidrat terutama berlangsung di usus halus. Di usus halus terdapat enzim amilase yang diproduksi oleh pankreas. Enzim amilase mengubah karbohidrat menjadi bentuk dekstrin dan maltosa. Sel-sel mukosa usus halus menghasilkan enzim-enzim disakaridase (maltase, sukrase dan laktase).
Peran setiap enzim disakaridase dijelaskan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. Peran Enzim Disakaridase14
No. Enzim Fungsi
1. Maltase Mengubah maltosa menjadi 2 molekul glukosa
2. Sukrase Mengubah sukrosa menjadi 1 molekul glukosa dan 1 molekul fruktosa
3. Laktase Mengubah laktosa menjadi 1 molekul glukosa dan 1 molekul galaktosa
Karbohidrat yang sudah menjadi monosakarida selanjutnya diabsorbsi melalui sel-sel epitel usus halus dan didistribusikan melalui pembuluh darah. Bentuk karbohidrat yang diabsorpsi adalah glukosa, fruktosa dan galaktosa. Selanjutnya monosakarida didistribusikan melalui pembuluh darah dan sebagian disimpan di hati.
d. Usus Besar
Setelah pencernaan di usus halus, substrat-substrat seperti pati non-karbohidrat dan pati yang tidak dapat dicerna masuk ke usus besar. Substrat-substrat ini sangat potensial untuk difermentasi oleh mikroorganisme di usus besar. Beberapa substrat potensial yang difermentasi adalah fruktosa, sorbitol, laktosa, verbakosa dan fruktan.12
2.1.4. Metabolisme Karbohidrat
Glukosa sangat diperlukan oleh sel untuk menghasilkan energi. Metabolisme karbohidrat dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jalur. Beberapa jalur metabolisme karbohidrat ditunjukkan di tabel 2.2.
Tabel 2.2. Jalur Metabolik pada Metabolisme Karbohidrat17 Jalur Metabolik pada Metabolisme Karbohidrat
Proses Tujuan / Hasil
Glikogenesis Pembentukan glikogen
Glikogenolisis Pemecahan glikogen
Glikolisis Hidrolisis glukosa
Glikoneogenesis Produksi glukosa dari sumber nonkarbohidrat
Hexoses monophosphate shunt Produksi dari rantai 5-carbon monosakarida dan
NADPH
Tricarboxylic Acid Cycle (TCA) Oksidasi dari piruvat dan asetil-KoA
Jalur metabolik pada metabolisme karbohidrat merupakan jalur metabolik dalam penggunaan dan penyimpanan karbohidrat. Beberapa proses penting terkait proses pembentukan energi dari karbohidrat adalah :
1) Glikolisis
Glikolisis terjadi di sitosol dan bersifat anaerobik. Reaksi ini mengubah 6-karbon glukosa menjadi 2 molekul 3-karbon piruvat.18 2) Konversi piruvat menjadi asetil-KoA
Merupakan proses yang penting sebelum memasuki tahapan
Tricarboxylic Acid Cycle (TCA) atau yang lebih dikenal sebagai siklus krebs (daur asam sitrat). Proses ini terjadi di mitokondria. Pada proses konversi secara aerobik ini, piruvat diubah menjadi ikatan 2-carbon yang dikenal sebagai asetil-KoA.
3) Tricarboxylic Acid Cycle (TCA)
10
hingga menghasilkan karbondioksida, ATP, dan koenzim sisa metabolik seperti FADH2 dan NADH.
4) Fosfolirasi oksidatif
Proses terakhir dari hidrolisis glukosa. Proses ini terjadi pada rantai transport elektron yang berada pada membran dalam mitokondria. Pada tahapan ini, FADH2 dan NADH yang membawa elektron menghasilkan air dan ATP tambahan.17,18,19
Glukosa yang berasal dari pemecahan karbohidrat akan mengalami proses metabolisme di sel tubuh. Proses metabolisme glukosa dapat terlihat secara lebih ringkas pada gambar 2.2.
2.1.5. Kadar Glukosa Darah
Setelah mengkonsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat, kadar glukosa darah dalam tubuh meningkat. Hal ini akibat hasil absorpsi karbohidrat dalam bentuk glukosa. Glukosa tersebut didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Sebagian glukosa dalam darah disimpan di hati dalam bentuk glikogen. Dalam keadaan tidak ada asupan makanan (puasa), glikogen ini kelak akan diuraikan atau dipecah melalui proses glikogenolisis. Proses glikogenolisis memecah glikogen untuk menghasilkan glukosa.13
Jumlah glukosa dalam darah dan cadangan glikogen di dalam tubuh akan habis jika lebih dari 30 jam tubuh tidak mendapat sedikit pun makanan sebagai sumber glukosa (energi). Hati dan organ-organ lain berperan dalam fungsi homeostasis glukosa. Regulasi konsentrasi glukosa darah dipengaruhi oleh sistem hormon. Hormon utama yang sangat berperan adalah insulin dan glukagon yang dihasilkan kelenjar pankreas serta hormon glukokortikoid yang dihasilkan kelenjar adrenal.20
Peningkatan glukosa darah akan sejalan dengan proses pencernaan karbohidrat. Saat pencernaan karbohidrat akan terjadi perangsaan terhadap sekresi insulin dan inhibisi terhadap sekresi glukagon. Perbedaan kadar hormon insulin dan glukagon saling bertolak belakang dalam merespon kadar glukosa darah. Insulin dan glukagon memiliki peran untuk mengatur homeostatis darah.17
12
Tabel 2.3. Fungsi Hormon dalam Meregulasi Kadar Glukosa Darah18
Hormon Pengaruhya terhadap Glukagon ↑ Glikogenolisis
↓ Glikogenesis
↑ Glukoneogenesis
↑ Asam amino darah
↓ Glukosa darah Regulator utama pada siklus absorptif dan pasca-absorptif, proteksi tubuh terhadap hipoglikemia
Insulin ↑ Ambilan glukosa
↓ Glikogenolisis
↓ Glukoneogenesis
↑ Glikogenesis
↑ Asam amino darah
↑ Glukosa darah Regulator utama pada siklus absorptif dan pasca-absorptif
Epinefrin ↑ Sekresi glukagon
↑ Glikogenolisis Stimulasi sarah simpatis (contoh : saat olahraga / stress)
Penghasil energi dalam keadaan sulit / darurat dan saat olahraga
2.1.6. Indeks Glikemik
Indeks glikemik adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah. Salah satu implikasi indeks glikemik dalam kehidupan adalah untuk dapat membantu seorang penderita diabetes melitus atau seorang yang obesitas dalam memilih makanan, khususnya makanan-makanan yang indeks glikemiknya rendah.20
Makanan berkabohidrat memiliki efek terhadap konsentrasi glukosa darah yang dikenal sebagai respon glikemik. Beberapa makanan mampu meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah dengan cepat, sedangkan beberapa makanan lain meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah secara bertahap atau perlahan. Pemilihan makanan yang tepat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah, kadar kolesterol dan kadar trigliserilda. Konsep indeks glikemik ditemukan untuk menunjukkan secara kuantitatif kemampuan makanan dalam mempengaruhi kadar glukosa darah.Konsep indeks glikemik pertama kali dikembangkan oleh Dr. David Jenkins, Professor Gizi di Universitas Toronto, pada tahun 1981. Konsep indeks glikemik pertama beranggapan bahwa setiap makanan berkabohidrat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Indeks glikemik akhirnya dikembangkan dengan tujuan membantu pasien penderita diabetes dalam mengkonsumsi makanan.6,12,20
50 gram karbohidrat), dibandingkan dengan jumlah yang sama pada makanan yang dijadikan makanan rujukan. Roti tawar putih biasanya digunakan sebagai makanan rujukan dan dianggap memiliki nilai IG sebesar 100. Pada praktiknya nilai IG didapatkan setelah memeriksa peningkatan kadar glukosa darah selama dua jam pertama pencernaan makanan tersebut. Setelah pemeriksaan kadar glukosa darah, akan didapatkan kurva kadar glukosa darah. Bentuk kurva kadar glukosa darah ditunjukkan oleh gambar 2.2.14
Gambar 2.3. Kurva Makanan IG Tinggi (atas) dan Kurva Makanan IG Rendah (bawah)14
Indeks glikemik ditentukan dari perhitungan Luas Area di Bawah Kurva (LABK). Untuk mendapatkan indeks glikemik, terlebih dahulu dihitung LABK pada makanan standar yaitu roti tawar putih. Selanjutnya dihitung LABK pada makanan yang dicari indeks glikemiknya. Rumus perhitungan indeks glikemik adalah
14
2.1.7. Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik
Indeks Glikemik dapat berbeda-beda di setiap makanan. Indeks glikemik makanan yang jenisnya sama bisa saja berbeda; hal ini berhubungan dengan cara pengolahan dan penyajian makanan. Proses pengolahan makanan dapat mengubah struktur dan komposisi zat gizi sehingga berpengaruh terhadap daya serap zat gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. Semakin mudah makanan diserap tubuh maka semakin cepat kadar glukosa dalam darah akan meningkat, sehingga makanan tersebut tergolong dalam kategori IG tinggi. Sedangkan jika makin lambat diserap oleh tubuh maka kenaikan glukosa darah pun akan terjadi perlahan, sehingga didapatkan makanan yang masuk kategori IG rendah.10,21
Faktor yang mempengaruhi indeks glikemik ditunjukkan pada tabel 2.4.
Tabel 2.4. Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik6,10,22
No. Faktor Pengaruh terhadap Indeks Glikemik
1. Cara pengolahan makanan Bentuk makanan mempengaruhi kemampuan enzim untuk
mencerna
2. Kadar serat makanan Serat meningkatkan viskositas di intestinal dan
memperlambat interaksi antara pati dan enzim pencernaan
3. Kadar protein dan lemak Protein dan lemak yang tinggi dalam makanan membuat
waktu pengosongan lambung lebih lama
4. Kadar gizi lainnya Vitamin C di makanan yang asam dapat membuat proses
penyerapan berjalan lebih lama
2.1.8. Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik
Makanan digolongkan ke dalam tiga golongan indeks glikemik. Klasifikasi makanan dilihat dari indeks glikemiknya ditunjukkan pada tabel 2.5.
Tabel 2.5. Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik12
No. Kategori Pangan Rentang Indeks Glikemik
1. IG rendah < 55
2. IG sedang (intermediet) 55-70
3. IG tinggi >70
16
2.2. Kerangka Teori
Asupan Makanan
Protein Karbohidrat Lemak
Proses pencernaan
Mulut
Lambung
Usus halus
Absorpsi ke dalam pembuluh darah
Asam amino Glukosa Monogliserida dan
asam lemak bebas
Metabolisme
2.3. Kerangka Konsep
Nilai indeks glikemik Laju kenaikan konsentrasi
glukosa darah
Kurva kenaikan kadar glukosa dalam darah Metabolisme dalam tubuh
Faktor intrinsik (individu)
o Fungsi hati normal
(Insulin)
o Fungsi pencernaan
normal
o Metabolisme makanan
sebelumnya Responden
Makanan Faktor eksrinsik
o Cara pengolahan
makanan
o Kadar serat
o Kadar lemak dan
protein
o Kadar gizi lainnya
Makanan Uji : Susu cair full cream, susu cair cokelat, susu cair low-fat
19
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk mengetahui nilai IG pada beberapa jenis susu kemasan.
3.2.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014 sampai Juni 2014 di Kampus Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan sekitarnya.
3.3.Alat dan Bahan Penelitian
a. Glukometer dan test strip glukosa darah merk Easy-touch b. Makanan standar roti tawar putih
c. Makanan uji : Susu kemasan cair full cream, susu kemasan cair low-fat, susu kemasan cair cokelat.
d. Sampel darah responden, diambil dengan metode finger-prick
3.4.Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.4.1. Kriteria Inklusi
a. Responden sehat
b. Responden adalah dewasa sehat usia antara 17-24 tahun c. Responden IMT normal kriteria Asia-Pasifik
20
3.4.2. Kriteria Eksklusi
a. Responden mempunyai gangguan hormon
b. Responden sedang menjalani program diet 3 bulan terakhir c. Responden sedang hamil / menyusui
3.4.3. Kriteria Eliminasi / Drop-out
a. Responden tidak dapat melanjutkan kegiatan penelitian hingga selesai dengan beberapa alasan
b. Responden menolak melanjutkan kegiatan penelitian c. Responden tidak biasa mengkonsumsi susu
3.5. Besar dan Cara Perekrutan Responden
Responden pada penelitian ini berjumlah 10 orang. Responden terdiri dari pria dan wanita. Pemilihan responden dilakukan dengan consecutive sampling.23
Proses penentuan responden dilakukan dengan cara anamnesis terlebih dahulu. Anamnesis meliputi identitas dan riwayat penyakit dahulu. Setelah anamnesis, dilakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tanda vital, pengukuran tinggi badan dan berat badan. Untuk melihat ada atau tidaknya gangguan metabolisme pada responden dilakukan pemeriksaan gula darah puasa (GDP). Hasil GDP responden dibandingkan dengan kriteria normal GDP. Hasil keseluruhan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan GDP dibandingkan dengan kondisi normalnya. Responden yang direkrut adalah responden yang normal dan sehat, sesuai dengan kriteria inklusi.3
3.6. Cara Persiapan Makanan Uji
Susu kemasan yang digunakan merupakan susu kemasan yang mudah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari dan sering dikonsumsi oleh masyarakat.
yang setara dengan 50 gram karbohidrat berdasarkan indeks nutrisi yang tercantum pada kemasan susu. Kandungan nutrisi dari makanan uji yang digunakan dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1. Makanan Uji dengan Kandungan Karbohidrat Sebesar 50 Gram
Makanan Uji Sajian Karbohidrat total
(gram)
Lemak (gram) Protein (gram)
Roti tawar putih* 102.7 gram 50 4.16 8.34
Susu Full cream 961 ml 50 30.75 7
Susu Cokelat 378 ml 50 10.58 7
Susu Low-fat 961 ml 50 11.54 7
22
3.7. Alur Penelitian
Perbandingan luas area di bawah kurva makanan
uji dengan luas area di bawah kurva makanan
Anamnesis (Identitas dan Riwayat Penyakit)
Pemeriksaan Fisik (Tanda Vital, Tinggi Badan dan Berat badan)
3.8. Cara Kerja Penelitian
a. Dari populasi diambil 10 responden dengan consecutive sampling
b. Dilakukan penapisan awal untuk memastikan seluruh responden masuk ke kriteria inklusi. Penapisan awal berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan gula darah puasa
c. Dilakukan pemeriksaan pertama yaitu menggunakan makanan standar d. Responden diminta berpuasa minimal 8 jam sebelum pemeriksaan
e. Responden mengkonsumsi makanan standar dalam waktu kurang dari 10 menit
f. Dilakukan pemeriksaan darah kapiler dari ujung jari responden pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 90 dan 120 setelah mengkonsumsi makanan
g. Pencatatan kadar gula darah responden di setiap waktu yang ditentukan h. Hasil pencatatan dibuat ke dalam bentuk kurva kadar glukosa
i. Dilakukan pemeriksaan kedua yaitu dengan menggunakan makanan uji 1, makanan uji 2 lalu makanan uji 3. Rentang waktu dengan pemeriksaan sebelumnya adalah 5-7 hari
j. Prosedur di point (d) hingga (h) dilakukan kembali di setiap pemeriksaan makanan uji
k. Menghitung luas area di bawah kurva kadar glukosa darah pada makanan standar maupun makanan uji
l. Membandingkan luas area di bawah kurva kadar glukosa darah pada makanan uji dengan luas area di bawah kurva kadar glukosa darah pada makanan standar untuk mencari nilai indeks glikemik
3.9. Rencana Pengolahan dan Analisa Data
24
Luas area di bawah kurva (LABK) dihitung dengan metode trapezoid secara manual dan dengan program Microsoft Excel. Metode ini menghitung luas semua bangunan trapesium dalam kurva kenaikan gula darah dan akhirnya akan dijumlahkan.24
Luas trapesium dihitung dengan rumus :
25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Karakteristik Responden
Responden pada penelitian berjumlah 10 orang, terdiri dari 4 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Karakteristik responden tertera pada tabel 4.1. Tabel 4.1. Karakteristik Responden
Indeks Massa Tubuh (IMT) seluruh responden termasuk dalam kategori normal menurut klasifikasi status gizi berdasarkan kriteria Asia Pasifik. Responden tidak ada yang memiliki gangguan metabolisme glukosa. Nilai Gula Darah Puasa (GDP) dari setiap responden berada dalam batas normal dengan nilai rata-rata GDP 83.50 (SD±2.93).
4.2.Kadar Glukosa Darah
26
Gambar 4.1. Kurva Kadar Glukosa Darah Makanan Standar dan Makanan Uji
Dari kurva diatas terdapat kenaikan kadar glukosa darah setelah pemberian makanan standar yang mencapai puncaknya pada menit ke-30. Selanjutnya terjadi penurunan kadar glukosa darah mulai menit ke-60 hingga menit ke-120. Sedangkan pada makanan uji 1 yaitu susu cair full cream terdapat kenaikan kadar glukosa darah yang mencapai puncaknya pada menit ke-45. Selanjutnya terjadi penurunan kadar glukosa darah mulai menit ke-90 hingga menit ke-120. Pada makanan uji 2 yaitu susu cair cokelat kenaikan kadar glukosa darah mencapai puncak pada menit ke-45. Penurunan kadar glukosa darah terjadi di menit ke-90 hingga menit ke-120. Pada makanan uji 3 yaitu susu cair low-fat terdapat perbedaan puncak kenaikan kadar gula darah dengan makanan uji lainnya. Puncak kenaikan kadar gula darah pada susu cair low-fat terjadi di menit ke-60. Selanjutnya pada menit ke-90 hingga menit ke-120 akan terjadi penurunan kadar glukosa darah. Perbedaan waktu peningkatan dan penurunan kadar glukosa darah disebabkan adanya perbedaan komposisi dalam setiap makanan yang diuji.
Perbedaan puncak kadar glukosa darah pada susu full cream dan susu cokelat dengan susu low-fat disebabkan perbedaan kandungan nutrisi di dalamnya. Pada susu low-fat terkandung tambahan gula yaitu sukrosa. Sukrosa
merupakan golongan disakarida. Gula disakarida membutuhkan waktu lebih lama untuk dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana yaitu monosakarida hingga akhirnya dapat diabsorpsi dan meningkatkan kadar glukosa darah. Pada susu cokelat gula yang digunakan termasuk ke dalam gula sederhana yaitu monosakarida. Monosakarida dapat langsung diabsorpsi di usus halus sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa darah yang lebih cepat.
Kurva kadar glukosa menunjukkan susu cair cokelat memiliki bentuk kurva yang lebih tinggi dibandingkan makanan uji lainnya. Bentuk kurva saat kenaikan kadar glukosa darah tidak terlihat curam begitu pula dengan kurva saat penurunan kadar glukosa darahnya. Hal ini menunjukkan kenaikan atau penurunan glukosa darah terjadi secara perlahan. Bentuk kurva serupa terlihat pada makanan uji susu cair full cream. Perbedaan antara keduanya adalah susu cair full cream mempunyai nilai kurva yang lebih kecil dibandingkan dengan susu cair cokelat. Bentuk kurva susu low-fat terlihat lebih landai dan puncak tertinggi didapatkan dengan waktu lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan glukosa darah terjadi dengan sangat perlahan, begitu pula dengan penurunannya.
Nilai akhir kurva didapatkan setelah dua jam berlalu. Nilai akhir kurva kadar glukosa darah di menit ke-120 pada susu cokelat lebih tinggi dibandingkan susu cair low-fat dan susu cair full cream. Susu cair full cream memiliki nilai akhir kurva kadar glukosa darah yang paling rendah diantara ketiga makanan uji dan lebih mendekati nilai di menit awal. Susu cair cokelat memiliki kemampuan memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan dengan susu cair full cream
28
Tabel 4.2. Persentase Kenaikan dan Penurunan Kadar Glukosa Darah (%)
No. Makanan Uji
Persentase kenaikan & penurunan glukosa darah pada menit ke-
15’ 30’ 45’ 60’ 90’ 120’
1 Roti tawar
putih 47,41176 56,82353 -1,57539 -16,5041 -20,4801 -29,9325
2 Susu full
cream 11,08434 14,21687 26,98795 -0,75901 -8,91841 -14,0417
3 Susu cokelat 27,18676 30,37825 39,2435 -0,8489 -13,5823 -16,6384
4 Susu low-fat 9,906292 15,79652 21,68675 45,78313 -4,22406 -10,7438
Tubuh dapat meregulasi konsentrasi glukosa dalam darah setelah makan. Hal-hal yang mempengaruhi kemampuan tubuh dalam meregelasi konsentrasi glukosa darah adalah jumlah karbohidrat yang dikonsumsi, tingkat absorbsi karbohidrat tersebut dan kemampuan kerja insulin di dalam tubuh. Roti menjadi yang paling cepat diserap oleh saluran pencernaan dan paling cepat meningkatkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan susu yang dikonsumsi sebagai makanan uji pada penelitian. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan susu yang memiliki jumlah lemak lebih banyak dari pada roti tawar putih. Lemak dapat mempengaruhi waktu pengosongan lambung akibat dihambatnya sekresi HCL dalam lambung.26
4.3.Indeks Glikemik
Perhitungan nilai indeks glikemik menggunakan penghitungan luas area di bawah kurva. Luas daerah di bawah kurva menggunakan perhitungan luas trapesium. Setelah dirata-ratakan nilai luas setiap bangun ruang trapesium di bawah kurva, didapat nilai akhir IG dari setiap makanan uji, seperti tertera pada tabel 4.3.26
Tabel 4.3. Indeks Glikemik Makanan Standar dan Makanan Uji
Makanan Indeks glikemik P value
Roti tawar putih 100
Susu full cream 85.82
Susu cokelat 95.07 0.000
Secara umum terlihat bahwa IG tertinggi diantara makanan uji adalah susu cair cokelat 95.07, diikuti dengan susu cair full cream 85.82 dan yang paling rendah adalah susu cair low-fat 85.17. Sehingga ketiga jenis susu dapat digolongkan menjadi makanan dengan indeks glikemik yang tinggi (≥70).27
Hasil perhitungan di penelitian kali ini terdapat beberapa perbedaan dengan hasil beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa susu termasuk dalam makanan dengan IG rendah. Seperti susu cair full cream yang memiliki IG 40 hingga 57, susu low-fat yang memiliki IG 34 hingga 49. Perbedaan ini terjadi disebabkan oleh perbedaan makanan uji yang digunakan, metode penelitian dan alat yang digunakan selama penelitian. Sampel darah yang digunakan untuk mengukur kadar gula darah dapat mempengaruhi hasil. Terdapat perbedaan konsentrasi gula darah pada darah kapiler dengan darah dari pembuluh vena.8,22,27
Ketiga jenis makanan uji yaitu susu full cream, susu cokelat dan susu low-fat dilakukan uji statistik yaitu uji Repeated Annova. Hasil Uji Repeated Annova
(p 0.000) menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna diantara ketiga makanan uji.
4.4. Keterbatasan Penelitian
30
4.5.Keunggulan Penelitian
31
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Susu dengan indeks glikemik tertinggi dimiliki oleh susu dengan rasa yaitu susu cokelat (IG=95,07), diikuti dengan susu full cream (IG=85,82) dan yang terendah terdapat pada susu low-fat (IG=85,17). Ketiga jenis susu ini termasuk dalam makanan dengan nilai IG tinggi. Terdapat perbedaan yang bermakna di antara ketiga jenis susu kemasan tersebut.
5.2.Saran
1. Melakukan penelitian dengan lebih banyak jenis varian susu kemasan yang memiliki nilai kandungan gizi yang berbeda-beda sehingga dapat dijadikan sumber referensi yang lebih lengkap.
2. Pemeriksaan glukosa darah saat melakukan penelitian serupa dilakukan lebih dari satu kali pemeriksaan untuk mendapatkan perhitungan yang lebih akurat.
3. Pengawasan dan pemantauan yang lebih baik untuk memastikan responden mengikuti tata cara dan memenuhi persyaratan yang diperlukan dari sebelum penelitian hingga penelitian selesai.
32
DAFTAR PUSTAKA
1. Janssen I, Katzmarzyk PT, Ross R. Waist Circumference And Not Body Mass Index Explains Obesity Related Health Risk. American Journal of Clinical Nutrition. 2004 August.
2. Horton R, Sanders D, Nath LM, Momen H, Baum F, Sitthi-amorn C. WHO. South-East Asia Journal of Public Health. 2014 January.
3. (PERKENI) PEI. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. 2011.
4. KEMENKES. Riset Kesehatan Dasar : Riskesdas. Jakarta:, Badan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI; 2013.
5. Tjekyan S. Risiko Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 di Kalangan Peminum Kopi Susu di Kotamadya Palembang. Makara Kesehatan. 2007; 11.
6. Rimbawan SA. Indeks Glikemik Pangan, Cara Mudah Memilih Pangan yang Menyehatkan Jakarta: Penebar Swadaya; 2004.
7. Aronne LJ. Classification of Obesity and Assessment of Obesity-Related Health Risks. Obesity Research. 2004 December; 10.
8. Ellison JM, Stegmann jM, Colner SL, Michael RH, Sharma MK, Ervin KR, et al. Rapid Changes in Postprandial Blood Glucose Produce Concentration Differences at Finger, Forearm and Thigh Sampling Sites. Diabetes Care. 2002 June; 25.
9. Rahman A. Analisis Kepuasan Konsumen Produk Susu. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2008.
10. Planck N. Real Food. 2nd ed. New York: Bloomsburry Publishing; 2007.
11. Resmawati T, Mukid MA, Safitri D. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Produk Susu Berbasis Analisis Conjoint Menggunakan Pairwise Comparison. Jurnal Gaussian. 2013 April; 2.
2010.
13. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia Harper. 27th ed. Wulandari N, Rendy L, Dwijayanthi L, Lienna , Dany F, Rachman LY, editors. Jakarta: EGC; 2009.
14. Gropper SS, Smith JL, Groof JL. Advanced Nutrition and Human Metabolism. 5th ed. USA: Wadsworth; 2009.
15. Zakaria Y. Pengaruh Jenis Susu dan Persentase Starter yang Berbeda terhadap Kualitas Kefir. 2009 April; 9.
16. Miller JB, Powell KF, Leeds A. The Low GI to your Heart and Metabolic Syndrome Sydney: Hachette Livre; 2006.
17. Martini FH, Nath JL. Fundamentals of Anatomy and Physiology. 8th ed. San Francisco: Pearson Benjamin Cummings; 2012.
18. Sherwood L. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. 6th ed. Yesdelinta N, editor. Jakarta: EGC; 2011.
19. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia Kedokteran Dasar : Sebuah Pendekatan Klinis Suyono J, Sadikin V, Mandera LI, editors. Jakarta: EGC; 2000.
20. Thompson JL, Manore MM, Vaughan LA. The Science of Nutrition. 2nd ed. USA: Pearson; 2011.
21. Lee RD, Niemman DC. Nutritional Assessment. 4th ed. Singapore: Mc Graw Hill; 2007.
22. Brouns F, Bjorck I, Frayn KN, Gibbs AL, Lang V. Glycemic Index Methodology. Nutrition Research Review. 2005.
23. Sopiyudin MD. Besar dan Cara Pengambilan Sampel Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Jakarta: Salemba Medika; 2010.
24. Damayanti RE. Penuntun Praktikum Evaluasi Nilai Gizi. Pengukuran Indeks Glikemik. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia; 2013.
34
26. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause's Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Alexopoulos Y, Hebberd K, Bays H, editors. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2008.
LAMPIRAN
Lampiran 1
36
Lampiran 2
Lampiran 3
Hasil Pemeriksaan Tanda Vital Pasien
No. Inisial Tekanan darah
(mmHg)
Frekuensi Nadi
(x/menit)
Frekuensi nafas
(x/menit)
1 TSY 120/80 70 15
2 KK 120/80 65 19
3 RSY 110/70 66 20
4 AGT 120/80 80 18
5 ERC 120/80 70 20
6 FZL 120/90 100 23
7 PRD 110/70 90 21
8 LDY 120/80 100 17
9 DNS 110/70 75 20
38
Lampiran 4
Kriteria Status Gizi
Status gizi responden ditentukan dengan menghitung nilai Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT :2
Kritertia penggolongan status gizi menggunakan IMT mengacu kepada IMT Asia-Pasifik. Dalam kriteria IMT Asia-Pasifik, status gizi digolongkan ke dalam underweight, normoweight, overweight dan obesitas.
Tabel klasifikasi indeks massa tubuh berdasarkan kriteria Asia Pasifik
Klasifikasi IMT (kg/m2) Risk of co-morbidities
Underweight < 18.5 Rendah (tetapi dapat meningkatkan
risiko masalah kesehatan yang lain)
Normal 18.5 – 22.9 Rata-rata
Overweight ≥ 23
Berisiko 23 – 24.9 Meningkat
Obese I 23 – 29.9 Sedang
Lampiran 5
Perhitungan Kebutuhan Makanan Uji
Makanan Uji Sajian Karbohidrat
(gram)
Kebutuhan jumlah makanan uji yang digunakan untuk mencapai jumlah 50 gram karbohidrat terlihat pada tabel di atas.
1. 74 gram roti tawar putih dengan pinggiran mengandung 36 gram karbohidrat. Untuk mendapatkan jumlah 50 gram karbohidrat dibutuhkan roti tawar putih sebanyak 102.7 gram. Jika dikonversikan jumlah 102.7 gram roti tawar putih dengan pinggiran berjumlah sama dengan 3 lembar roti.
2. Setiap 250 ml susu full cream mengandung karbohidrat total sebanyak 13 gram. Untuk mendapatkan jumlah karbohidrat sebanyak 50 gram, dibutuhkan susu full cream sebanyak 961 ml. Jika dikonversikan ke dalam jumlah kemasan sama dengan 4 kotak susu full cream .
40
(Lanjutan)
4. Setiap 250 ml susu low-fat mengandung karbohidrat total sebanyak 13 gram. Untuk mendapatkan jumlah karbohidrat sebanyak 50 gram, dibutuhkan susu low-fat sebanyak 961 ml. Jika dikonversikan ke dalam jumlah kemasan sama dengan 4 kotak susu low-fat.
Lampiran 6
Informasi Nilai Gizi Makanan Uji
Fakta nutrisi atau informasi nilai gizi yang terkandung di dalam susu dan dituliskan pada kemasan susu.
a. Informasi Nilai Gizi Susu Full cream
Jumlah takaran saji 1 pak (250 ml), dengan energi total 100 kkal dan energi dari lemak 30 kkal.
No. Nutrien Jumlah %AKG*
1. Lemak Total 8 gram 13%
2. Protein 7 gram 12%
3. Karbohidrat Total 13 gram 4%
4. Gula 0 gram
5. Natrium 115 miligram 5%
6. Kalium 430 miligram 9%
b. Informasi Nilai Gizi Susu Cokelat
Jumlah takaran saji 1 pak (250 ml), dengan energi total 220 kkal dan energi dari lemak 60 kkal.
No. Nutrien Jumlah %AKG*
1. Lemak Total 7 gram 11%
2. Protein 7 gram 11%
3. Karbohidrat 33 gram 10%
4. Gula 23 gram
5. Natrium 95 miligram 4%
42
(Lanjutan)
c. Informasi Nilai Gizi Susu Low-Fat
Jumlah takaran saji 1 pak (250 ml), dengan energi total 100 kkal dan energi dari lemak 30 kkal.
No. Nutrien Jumlah %AKG*
1. Lemak Total 3 gram 5%
2. Lemak Jenuh 0.5 gram 4%
3. Kolesterol 3 miligram 1%
4. Protein 7 gram 12%
5. Karbohidrat 13 gram 4%
6. Gula 11 gram
7. Sukrosa 5 gram
8. Natrium 110 miligram 5%
9. Kalium 390 miligram 8%
Lampiran 7
Cara Perhitungan Luas Area di Bawah Kurva
Perhitungan luas area di bawah kurva kadar glukosa darah dapat dihitung dengan menggunakan perhitungan luas trapesium.
Gambar kurva kadar glukosa darah
44
(Lanjutan)
a. Perhitungan luas bangun trapesium pada kurva roti tawar putih
Luas bangun A =
Luas bangun B =
Luas bangun C =
Luas bangunD =
Luas bangunE =
Luas bangunF =
Total luas = 13882.5
b. Perhitungan luas bangun trapesium pada kurva susu low-fat
Luas bangun A =
Luas bangun B =
Luas bangun C =
Luas bangunD =
Luas bangunE =
Luas bangunF =
Total luas = 12645
c. Perhitungan Indeks Glikemik Susu low-fat
IG Susu low-fat =
=
x 100
Lampiran 8
Hasil Uji Statistik
a. Uji normalitas data Usia, IMT dan GDP
Case Processing Summary
Interquartile Range 2.25
Skewness -1.059 .687
Interquartile Range 2.88
Skewness .819 .687
46
(Lanjutan)
Gula Darah Puasa Mean 83.5000 2.93352
95% Confidence Interval for
Interquartile Range 16.75
Skewness .386 .687
*. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction
b. Uji Normalitas Indeks Glikemik Susu Kemasan
(Lanjutan)
Interquartile Range 10.08
Skewness -.391 .687
Kurtosis -1.424 1.334
Susu Cokelat Mean 95.0754 2.62321
95% Confidence Interval for
Interquartile Range 13.96
Skewness .153 .687
Interquartile Range 14.77
Skewness -.670 .687
Kurtosis -1.267 1.334
48
Difference (I-J) Std. Error Sig.b
95% Confidence Interval
Based on estimated marginal means
*. The mean difference is significant at the ,05 level.
b. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no
Lampiran 9
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Muhammad Fahreza Kautsar
Tempat, tanggal lahir : Bogor, 7 Agustus 1992
Alamat :Villa Bogor Indah B2/12, Ciparigi, Kota Bogor, Jawa
Barat.
No. Telepon : +62 857 19 636 000
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. SDN Cibuluh 1 Kota Bogor (1998-2004)
2. SMPN 1 Kota Bogor (2004-2007)
3. SMAN 1 Kota Bogor (2007-2010)