• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indeks Glikemik Donat dengan Beberapa Jenis Topping

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Indeks Glikemik Donat dengan Beberapa Jenis Topping"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

INDEKS GLIKEMIK DONAT DENGAN BEBERAPA

JENIS

TOPPING

Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

OLEH :

SYARIFAH RO’FAH

NIM: 1110103000045

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

ii

KATA PENGANTAR

Rasa syukur dan segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas setiap

nikmat yang tak sedetikpun berhenti diberikan. Mengizinkan penulis dalam jalan

yang Ia tunjukkan berjuang dan terus belajar. Hingga sampai masanya penulis

menyelesaikan laporan penelitian ini. Juga kepada Rasul-Nya yang tak pernah

habis kisahnya menjadi teladan kehidupan, dan syafaatnya selalu penulis nantikan.

Penulis menyadari, tanpa bimbingan dan segenap bantuan dari berbagai pihak

maka penelitian ini tidak akan pernah selesai. Oleh sebab itu, penulis

mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr (hc). dr. M.K Tadjudin, SpAnd, dr. M. Djauhari Widjajakusumah,

DR. Arif Sumantri, S.KM, M.Kes, Dra. Farida Hamid, MA selaku Dekan dan

Pembantu Dekan di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. dr. Witri Ardini, M.Gizi, SpGK atas kerja keras dalam memungkinkan

penulis menjalankan masa perkuliahan. Selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Dokter FKIK UIN. Serta untuk segenap waktu, tenaga, dan

pikiran yang diberikan kepada penulis selama menjadi pembimbing 1. Sejak

penelitian ini sekedar judul hingga selesai laporan penelitian ini.

3. dr. Risahmawati, Ph.D, selaku pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu

meski di akhir kehamilannya. Tercurah doa untuk sehat dan bahagianya.

4. drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D yang mengajarkan dan memfasilitasi

penulis untuk menyelesaikan penelitian. Selaku penanggungjawab modul

riset PSPD 2010.

5. Abuyah dan Ibu, Drs. KH. Bisyri Imam. MAg dan Dra. Hj. Darrotul Jannah,

atas limpahan segala cinta dan kasih sayangnya. Untuk dukungan dan

kepercayaan yang diberikan dalam segala bentuk. Hangat peluk di waktu

sakit, kuat doa di waktu sulit, dan motivasi tak habis dalam hidup penulis.

6. Khuya imuh, mba aniq, yayu neli, aaghust, khuya boji, yayu ivana, yayu

najhah, ka muhammad, yayu iis, kang ahmad, kacung hamzie, nok nuvi

kacung safrie, luna, akeefa, injaz, ardha, dan calon adiknya. Untuk mengajari

(6)

iii

Erry, Rima, Riza, Putri, Qori, Uswah, Diny dan Muti, Semoga segala amal

baik dibalas Allah dengan balasan berkali-kali lipat kebaikan.

8. Laboran, satpam, dan staff di kampus FKIK juga abang delivery J.Co yang membantu teknis-teknis penelitian ini.

9. Teman-teman satu kelompok penelitian Laila, Julia, Ainun, Tiara, dan Jidi.

Akhirnya Power of Index Glycemic kita berbuah. Terimakasih untuk perjuangan bersama menyusun tiap kata hingga laporan ini terwujud. Semoga

perjuangan kita selanjutnya dapat mewujudkan hal-hal lain yang luar biasa.

10. Sekali lagi, penulis ucapkan terimakasih kepada Laila, Julia, Jidi dan Bening.

Untuk waktu-waktu yang tidak pernah habis indahnya dan persahabatan yang

tidak habis eratnya. Juga Tiara, teman sekamar yang baik hati seperti peri.

Teman-teman barbie dan GH, serta kaka Azmi untuk bantuan sepenuh hati

secara langsung dan tidak langsung dalam penelitian ini.

11. Teman teman seperjuangan PSPD 2010, untuk kebersamaan yang kita buat

tiap kuliah, diskusi, pleno, kkd, praktikum, ujian, empati, dokmus dan

kunjungan-kunjungan yang sudah kita jalani. Juga riset dan sidang yang

akhirnya kita lalui. Serta koas dan internship yang akan kita hadapi. Semoga

tidak ada kata berhenti untuk kita menjalin kebersamaan.

Penulis menyadari laporan penelitian ini masih jauh dari bentuk yang sempurna.

Segala kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis harapkan. Demikian

laporan ini penulis susun, semoga bermanfaat untuk ilmu pengetahuan, agama,

dunia dan setelahnya nanti. Amien.

Ciputat, 10 September 2013

(7)

iv

ABSTRAK

Syarifah Ro’fah. Program Studi Pendidikan Dokter. Indeks Glikemik Donat dengan Beberapa Jenis Topping. 2013

Indeks glikemik adalah metode kuantitatif untuk menggambarkan kemampuan karbohidrat suatu makanan dalam menaikkan glukosa darah, diperoleh dengan membandingkan luas area di bawah kurva respon glukosa darah makanan uji dengan makanan standar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui indeks glikemik donat dengan beberapa jenis topping. Responden dalam penelitian ini berjumlah sepuluh orang sehat dengan indeks massa tubuh (IMT) normal dan tidak memiliki gangguan metabolisme glukosa. Pemeriksaan glukosa darah dilakukan sebelum diberikan makanan uji dan selama dua jam sesudahnya. Setelah pengolahan dan penghitungan data didapatkan rerata indeks glikemik. Urutan donat dengan indeks glikemik dari yang tertinggi adalah donat topping

gula tepung (98,12%), topping sereal (97,22%), dan topping coklat (89,28%). Ketiga donat dengan tiga toping yang diuji termasuk dalam makanan IG tinggi. Hasil penelitian ini menyimpulkan terdapat perbedaan bermakna antara indeks glikemik makanan standar dengan donat toping gula tepung, dan antara donat toping gula tepung dengan toping coklat, berdasarkan uji statistik dengan

Repeated Anova (p val.ue <0,05)

Kata kunci : indeks glikemik, glukosa darah, donat, topping

ABSTRACT

Syarifah Ro’fah. Medical Education Program. Glycemic Index of Doughnut with Variety Toppings. 2013

Glycemic Index is a quantitative method to measure the blood glucose raising ability of the available carbohydrate in foods, defined by the incremental area under the glycemic response curve (AUC) of tested food comparing by standard food. The aim of this study is to investigate glycemic index of doughnut with variety toppings. This study takes ten healthy respondents with normal body mass index (BMI) without any problems of glucose metabolism. The blood glucose is examined before giving tested food and during two hours after that. The calculation and processing of data gains average of glycemic index. The highest glycemic index successively is doughnut with icing sugar topping 98.12%, chocolate topping 98.12% and grain flakes topping 97.22%. All toppings in this study classified as high index glycemic food. This study shows the significant and meaningful difference between the glycemic index of standard food and doughnut with icing sugar topping, and between icing sugar topping and chocolate topping, based on Repeated Anova statistical analysis (p value <0.05).

(8)

v

LEMBAR JUDUL ... LEMBAR PERNYATAAN ... LEMBAR PERSETUJUAN ... LEMBAR PENGESAHAN ... KATA PENGANTAR ... ABSTRAK ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR SINGKATAN...

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan Penelitian ... 1.3.1 Tujuan Umum ... 1.3.2 Tujuan Khusus... 1.4 Manfaat Penelitian ... 1.4.1 Bagi Peneliti ... 1.4.2 Bagi Institusi... 1.4.3 Bagi Masyarakat ...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori ... 2.1.1 Donat ... 2.1.2 Karbohidrat. ... 2.1.3 Pencernaan dan Metabolisme Karbohidrat ... 2.1.4 Kontrol Glukosa Darah... 2.1.5 Indeks Glikemik ... 2.2 Kerangka Konsep... 2.3 Definisi Operasional...

BAB III METODE PENELITIAN

1.1 Desain Penelitian... 1.2 Waktu dan Tempat Penelitian... 1.3 Alat dan Bahan Penelitian ... 1.4 Alat dan Bahan Penelitian... 1.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi...

1.5.1 Kriteria Inklusi... 1.5.2 Kriteria Eksklusi ... 1.6 Besar dan Cara Pengambilan Responden...

(9)

vi

1.7 Alur Penelitian... 1.8 Cara Kerja Penelitian... 1.9 Rencana Pengolahan dan Analisa Data...

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Responden ....…... 4.2 Makanan Uji... 4.3 Kadar Glukosa Darah ... 4.4 Indeks Glikemik... 4.5 Keterbatasan Penelitian...

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 5.2 Saran ...

DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN ...

15 15 16

17 17 17 18 20 22

23 23 23

(10)

vii

Tabel 2.1 Klasifikasi dan Jenis Karbohidrat... Tabel 2.2 Proses Metabolisme dalam Tubuh... Tabel 2.3 Efek Berbagai Hormon Terhadap Metabolisme... Tabel 2.4 Kategori Pangan Berdasarkan Indeks Gllikemik... Tabel 2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kadar Indeks Glikemik... Tabel 4.1 Karakteristik Responden Penelitian...

(11)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Deskripsi Penurunan Diet Rendah Indeks Glikemik Terhadap Berbagai Metabolisme dalam Tubuh dan Efeknya Terhadap

(12)

ix

Lampiran 1 Lembar Surat Persetujuan Responden... Lampiran 2 Lembar Status Kesehatan Responden... Lampiran 3 Hasil Pemeriksaan Tanda Vital... Lampiran 4 Kriteria Status Gizi Menurut Asia-Pasifik... Lampiran 5 Analisis Gizi dan Perhitungan Kebutuhan Makanan Uji

Sebanyak 50 Gram Karbohidrat... Lampiran 6 Kurva Respon Kadar Glukosa Darah... Lampiran 7 Contoh Perhitungan Luas Area di bawah Kurva... Lampiran 8 Hasil Perhitungan Luas Area di Bawah Kurva dan Indeks

Glikemik Donat... 27 28 29 30

31 33 38

(13)

x

DAFTAR SINGKATAN

IG Indeks Glikemik GDP Gula Darah Puasa IMT Indeks Massa Tubuh

BMI Body Mass Index

AUC The area under glycemic respond curve

AJCN American Journal of Clinical Nutrition

(14)

1

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gaya hidup sehat dicapai dengan keseimbangan energi dimana energy intake

sama dengan energy expenditure.1 Keterlibatan gaya hidup yang tidak sehat diduga meningkatkan risiko penyakit-penyakit yang berhubungan dengan gaya

hidup seperti obesitas, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular. Sebaliknya

gaya hidup termasuk pola makan yang benar dapat menurunkan risiko onset

kejadian baru berbagai penyakit sistemik maupun metabolik.2

Frekuensi makan yang proporsional dan teratur, dengan komposisi zat gizi

seimbang merupakan pola makan yang paling baik. Komposisi makanan yang

baik mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, air, dan

serat dalam jumlah seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.3

Karbohidrat atau disebut juga sakarida yang berarti gula, merupakan zat gizi

yang sangat penting dan berperan sebagai sumber energi utama bagi tubuh.

Karbohidrat dalam makanan menyebabkan respon berbeda-beda terhadap laju

peningkatan kadar glukosa darah. Respon ini dapat dihitung secara kuantitatif

dengan penghitungan indeks glikemik (IG). Dewasa ini, IG banyak diterapkan

sebagai dasar manajemen dan pecegahan berbagai penyakit dengan pendekatan

terapi nutrisi.4

Indeks glikemik adalah metode kuantitatif untuk menggambarkan

kemampuan karbohidrat suatu makanan dalam menaikkan kadar glukosa darah,

diperoleh dengan membandingkan luas area di bawah kurva respon glukosa darah

antara makanan uji dengan makanan standar. Gabriella Ricarrdi et al dalam laporan penelitiannya menyebutkan makanan IG rendah memiliki korelasi positif

dengan penurunan risiko insidensi penyakit-penyakit metabolik dan

kardiovaskular.5

Makanan selingan, makanan yang dikonsumsi di antara dua waktu makan,

penting untuk diketahui pengaruhnya terhadap laju peningkatan kadar glukosa

(15)

2

berbagai jenis kue, dan roti, termasuk donat, merupakan makanan favorit untuk

dikonsumsi sebagai makanan selingan.6

Saat ini donat mengalami perkembangan variasi topping dan bahan baku yang sangat beragam. Belum adanya penelitian IG donat yang spesifik dengan jenis

toppingnya, menyulitkan masyarakat untuk memilih donat yang relatif lebih baik untuk dikonsumsi sebagai makanan selingan. Atas latar belakang tersebut

mendorong penulis untuk melakukan penelitian ini.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah

penelitian sebagai berikut: bagaimanakah indeks glikemik donat dengan beberapa

jenis topping?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui indeks glikemik donat dengan beberapa jenis topping. 1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengklasifikasikan donat dengan beberapa jenis topping dalam makanan IG rendah, sedang atau tinggi.

2. Mengetahui adakah perbedaan bermakna IG donat dengan beberapa

jenis topping.

1.4Manfaat

1.4.2 Bagi Peneliti

1. Mendapatkan pengalaman serta pengetahuan dalam melakukan

penelitian terutama di bidang nutrisi dan kesehatan.

2. Sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran di

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.4.1 Bagi Institusi.

1. Memberikan data IG donat dengan beberapa jenis topping sehingga dapat digunakan sebagai panduan pemilihan makanan selingan bagi

(16)

2. Menambah referensi penelitian di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Referensi tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan

penelitian lebih dalam bagi peneliti yang lain.

1.4.3 Bagi Masyarakat

1. Memberikan informasi IG donat dengan beberapa jenis topping

sehingga dapat digunakan sebagai panduan pemilihan makanan

(17)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1Landasan Teori

2.1.1 Donat

Donat merupakan salah satu jenis makanan olahan berbahan dasar tepung

terigu, berbentuk bundar seperti gelang dengan lubang ditengahnya. Roti ini telah

lama menjadi pilihan banyak orang untuk dikonsumsi sebagai makanan selingan.

Selain tepung terigu, donat diolah dari gula, telur, ragi, margarin, baking powder dan bahan pelembut. Gula berfungsi sebagai pemanis, membentuk warna coklat saat dimasak, dan sebagai nutrisi khamir pada proses fermentasi. Margarin

berperan sebagai stabilisator dan pelumas agar partikel adonan terdispersi merata, sehingga mencegah penggumpalan dan tekstur menjadi lebih halus dan lunak.

Telur dalam adonan bermanfaat sebagai koagulator, pengemulsi dan menambah

citarasa. Selain itu telur dapat meningkatkan nilai gizi berkat protein yang

dikandungnya.7

Ragi yang biasa digunakan dalam proses fermentasi donat ialah

Saccharomyces cerevisiae. Proses ini akan mempengaruhi pengembangan donat. Kombinasi ragi, air, dan tepung akan memulai fermentasi. Enzim memecah pati

menjadi maltosa yang diperlukan sebagai sumber makanan untuk ragi. Ragi

bekerja memetabolisme gula dari pati menghasilkan gas CO2 dan etil alkohol. Gas

CO2 membuat adonan mengembang karena dipertahankan dalam jaringan yang

dibentuk oleh gluten (protein dalam pati tepung).7, 8

2.1.2 Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber kalori makanan terbesar untuk sebagian

besar masyarakat dunia. Karbohidrat merupakan salah satu dari tiga makronutrien

yang merupakan sumber penting untuk kebutuhan energi tubuh. Karbohidrat

terkandung dalam banyak jenis bahan pangan, disebutkan dalam hasil penelitian

oleh Mewa Ariani, bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh

(18)

Istilah karbohidrat secara bahasa berarti “hydrated carbon” atau karbon

yang terhidrasi. Suatu senyawa disebut terhidrasi bila mengandung air (H2O =

terdiri dari hidrogen dan oksigen). Dalam literature lain, penamaan karbohidrat

didasarkan pada unsur kimianya. Senyawa karbohidrat terdiri dari Karbon (C),

Hidrogen (H), dan Oksigen (O).10

Karbohidrat atau sakarida berasal dari bahasa latin Sacharum yang berarti gula. Berdasarkan jumlah sakarida dalam strukturnya, karbohidrat diklasifikasikan

dalam tiga kategori.3

Tabel 2.1 Klasifikasi dan Jenis Karbohidrat3

Klasifikasi Karbohidrat Jenis Keterangan

Monosakarida Satu unit gula, Karbohidrat Simpel

Glukosa

Gula pokok pada metabolisme energi. Banyak dikombinasikan

dengan gula lain.

Fruktosa Ditemukan pada buah, sayur,

madu

Galaktosa Bergabung dengan glukosa

menjadi laktosa (susu)

Disakarida

Dua unit gula, Karbohidrat simpel

Laktosa (Glukosa+ Galaktosa)

Ditemukan pada susu termasuk ASI

Maltosa (Glukosa+Glukosa)

Tidak ditemukan dalam bentuk sendiri, bergabung dengan

molekul gula lain, hasil metabolisme polisakarida

Sukrosa (Glukosa+Fruktosa)

Ditemukan pada jenis produksi gula, (gula bubuk, gula coklat,

gula pasir)

Polisakarida Banyak gula,

Karbohidrat kompleks

Pati/ Starch

Polisakarida yang tersimpan pada tanaman, seperti biji-bijian,

umbi-umbian dan kacang-kacangan

Glikogen

Merupakan jenis simpanan glukosa yang tersimpan pada

(19)

6

Glukosa merupakan bentuk gula yang tersirkulasi dalam darah dan

menjadi bahan bakar primer untuk energi seluruh sel tubuh. Glukosa jarang

didapatkan dari makanan yang dikonsumsi, tubuh mendapatkannya dari proses

metabolisme karbohidrat.10

2.1.3 Pencernaan dan Metabolisme Karbohidrat

Proses pencernaan karbohidrat dimulai dari rongga mulut. Polisakarida

(glikogen/pati) diubah menjadi partikel yang lebih kecil baik secara mekanik oleh

gigi maupun kimiawi oleh bantuan amilase di dalam rongga mulut. Bolus

makanan selanjutnya menuju lambung dengan bantuan gerakan peristaltik

esofagus. Di lambung pencernaan karbohidrat terhenti akibat hancurnya amilase

oleh asam lambung.11

Pencernaan berlanjut saat kimus dari lambung masuk ke dalam usus.

Amilase pankreas mengubah polisakarida menjadi disakarida. Proses pencernaan

karbohidrta dituntaskan oleh enzim disakaridase (maltase, sukrase, dan laktose)

yang disekresikan oleh lumen usus halus dengan menghidrolisis disakarida

menjadi monosakarida.

Sebagian besar hasil akhir pencernaan karbohidrat berupa glukosa,

fruktosa, dan galaktosa. Setelah diabsorpsi dari saluran pencernaan, hampir

seluruh fruktosa dan galaktosa diubah menjadi glukosa di dalam sel hati secara

cepat. Lebih dari 95% monosakarida yang beredar dalam tubuh adalah glukosa,

yang merupakan produk akhir pencernaan karbohidrat. Sehingga disimpulkan

tujuan utama pencernaan karbohidrat adalah untuk memecah polisakarida maupun

disakarida menjadi monosakarida yang dapat dikonversi menjadi glukosa.11

Proses pencernaan dan absorpsi glukosa ke dalam darah dipengaruhi juga

oleh faktor-faktor berikut ini 1) ketahanan starch/zat tepung terhadap aktivitas kerja enzim, 2) derajat aktivitas enzim-enzim pencernaan, terutama laktase pada

dinding mukosa usus, dan 3) adanya zat gizi lain dalam makanan yang

mempengaruhi proses pencernaan, seperti lemak yang memperlambat absorpsi,

serat, pektin, dan lain-lain yang dapat mengurangi efek kerja enzim.12

Glukosa yang diabsorpsi didistribusikan melalui pembuluh darah ke

(20)

untuk sel-sel tubuh sebagai sumber energi. Proses pemakaian glukosa sehingga

menghasilkan energi disebut sebagai metabolisme glukosa.12

Untuk masuk dan dipakai oleh suatu sel, sebelumnya glukosa harus

ditranspor terlebih dahulu ke dalam sel. Transpor glukosa sebagian besar

dilakukan dengan difusi terfasilitasi. Kecepatan transpor glukosa sangat

ditingkatkan oleh kerja insulin, transpor dapat meningkat 10 kali lebih cepat

dengan bantuan aktivitas insulin.13

Segera setelah masuk ke dalam sel, glukosa akan mengalami rangkaian

kejadian berikut: fosforilasi glukosa, glikolisis, hingga siklus krebs atau siklus

asam sitrat. Proses-proses tersebut bertujuan untuk menghasilkan adenosin

trifosfat (ATP) yang akan digunakan sel sebagai energi tinggi untuk

melaksanakan dan menjalankan fungsi.11

2.1.4 Kontrol Glukosa Darah

Proses metabolisme terbagi atas anabolisme dan katabolisme. Proses

anabolisme merupakan proses pembentukan atau sintesis makromolekul organik

yang lebih besar dari subunit organik yang lebih kecil. Sedangkan katabolisme

adalah proses penguraian atau degradasi molekul organik besar di dalam tubuh.11

Dalam kaitannya dengan metabolisme karbohidrat, kedua proses inilah

yang mengontrol dan menjaga glukosa darah dalam rentang yang normal. Saat

keadaan absorptif/setelah makan glukosa tersedia berlimpah dalam darah, maka

terjadi proses yang bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa darah. Sedangkan

pada keadaan puasa terjadi hal sebaliknya. Beberapa reaksi yang terjadi dalam

tubuh terkait proses metabolisme dijelaskan dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2 Proses metabolisme dalam Tubuh11

Proses

metabolisme Jenis proses Reaksi Konsekuensi

Glikogenesis Anabolisme Glukosa menjadi

glikogen Penurunan glukosa darah

Glikogenolisis Katabolisme Glikogen menjadi

glukosa Peningkatan glukosa darah

Glukoneogenesis Anabolisme

Asam amino/asam lemak menjadi glukosa

Peningkatan glukosa darah

Glikolisis Anabolisme Glukosa menjadi

(21)

8

Respon tubuh terhadap regulasi proses metabolisme diatur oleh berbagai

hormon. Insulin dan glukagon yang disekresi pankreas, merupakan hormon

dominan yang meregulasi jalur-jalur metabolisme, selain itu ada pula epinefrin,

kortisol serta hormon pertumbuhan yang mengatur proses katabolik dan anabolik

sesuai dengan kebutuhan. Efek hormon-hormon tersebut terhadap metabolisme

teringkas dalam tabel 2.3.11

Tabel 2.3 Efek Berbagai Hormon terhadap Metabolisme11

Hormon Efek terhadap glukosa Rangsangan utama

untuk sekresi Peran dalam metabolism

Insulin a. ↑ ambilan glukosa

b. ↑ glikogenesis

c. ↓ glikogenolisis

d. ↓ glukoneogenesis

- ↑ glukosa darah

- ↑ asam amino darah

Regulator utama siklus

absorptif dan pasca-absorptif

Glukagon a. ↑ glikogenolisis

b. ↓ glikogenesis

c. ↑ glukoneogenesis

- ↓ glukosa darah

- ↑ asam amino darah

Bersama insulin menjadi

regulator utama siklus

absorptif dan pasca-absorptif,

serta proteksi hipoglikemia

Epinefrin a. ↑ glikogenolisis

b. ↓ glikogenesis

c. ↑ sekresi glukagon

d. ↓ sekresi insulin

Stimulasi simpatis saat

stress dan olahraga

Penyediaan energi untuk

keadaan darurat dan olahraga

Kadar glukosa darah setelah makan meningkat dari kadar puasa 80-100

mg/dL (~5mM) menjadi 120-140 mg/dL (~8mM) dalam waktu 30 menit sampai 1

jam. Kadar glukosa dalam darah kemudian mulai menurun, kembali ke rentang

puasa dalam waktu kurang lebih 2 jam setelah makan.14

2.1.5 Indek Glikemik

Indeks glikemik adalah metode kuantitatif untuk menggambarkan

kemampuan karbohidrat suatu makanan dalam menaikkan kadar glukosa darah.

Nilai ini diperoleh dengan membandingkan luas area di bawah kurva respon

glukosa darah makanan uji dengan makanan standar. Makanan uji dan makanan

(22)

Pada beberapa tahun belakangan ini, IG menjadi populer dalam terapi

nutrisi dan program diet untuk pasien diabetik maupun yang berisiko tinggi

sebagai upaya pencegahan diabetes, penyakit kardiovaskular, dislipidemia bahkan

kanker.16

Indeks glikemik pada awalnya dikembangkan oleh Dr. David Jenkins pada

tahun 1981. Konsep IG ini dirancang untuk mengurutkan makanan berdasarkan

kemampuannya untuk meningkatkan kadar glukosa darah, yang dibandingkan

dengan makanan referensi/standar.

Hasil penelitian Dr. David Jenkins menunjukkan bahwa IG mempunyai

efek terhadap kadar glukosa darah dan dapat digunakan dalam rencana nutrisi

berbagai penyakit metabolik.4

Berbagai penelitian lainnya mencoba menemukan korelasi antara IG dan

efeknya terhadap perjalanan penyakit. Pada studi yang dilaporkan BJ Venn et al, didapatkan adanya penurunan kadar HbA1c sebesar 0,33% setelah dilakukan diet

IG rendah, dan didapatkan konsentrasi fruktosamin yang lebih rendah 0.19 mmol/l

dibanding diet IG tinggi.17

Dalam jurnal yang sama disebutkan adanya korelasi positif makanan yang

memiliki IG rendah dan rasa kenyang. Makanan dengan IG rendah dapat

digunakan untuk pengontrolan berat badan karena menimbulkan rasa kenyang.

Semakin rendah nilai IG dan glycemic load pada waktu makan, maka akan semakin sedikit konsumsi makanan pada waktu makan berikutnya.4

Ada banyak teori yang menjelaskan tentang pengaruh makanan IG rendah

terhadap proses metabolisme. Salah satu teorinya dijelaskan oleh Radulian G

(23)

10

Gambar 2.1 Deskripsi diet rendah indeks glikemik terhadap berbagai metabolisme dalam tubuh dan efeknya terhadap penyakit sistemik dan metabolik

Penelitian Gabriele Riccardi et al menemukan bahwa makanan dengan diet IG dan glycemic load rendah, berhubungan dengan penurunan risiko penyakit kronik tertentu. Hal ini berkaitan dengan hipotesis bahwa glikemia postprandial

yang semakin tinggi menjadi mekanisme universal dari perkembangan perjalanan

penyakit.5

Pemeriksaan IG dapat dilakukan dengan pengambilan darah vena maupun

darah kapiler dari ujung jari maupun telinga. Responden dapat berjumlah 6-14

orang, sehat, laki-laki dan perempuan, IMT normal, tidak hamil, tidak menyusui,

berusia antara 18-75 tahun, serta tidak memiliki diabetes.18

Responden berpuasa sepanjang malam hingga pagi hari, dalam rentang 10

sampai 14 jam. Selanjutnya responden mengkonsumsi satu makanan uji pada satu

hari, dan makanan uji lainnya di hari yang berbeda. Makanan standar dapat berupa

50 gram glukosa, 55 gram dekstrosa atau sejumlah roti tawar putih atau nasi putih

yang mengandung 50 gram karbohidrat.

Diet makanan IG rendah dan penyakit

metabolik

↓ resistensi insulin

↓ fungsi sel-Ƅ

↓ hiperinsulinemia

↓ asam lemak bebas

↓ inflamasi

↓ ↓ resiko disfungsi

endotel

↓ ↓ faktor protrombotik

↓ glikemia

↓ dislipidemia

(24)

Setelah pengambilan kadar glukosa darah puasa, responden diberi

makanan uji dan dilakukan pengambilan darah pada menit ke 15, 30, 45, 60, 90,

dan 120 menit setelah mulai makan. Pengambilan darah responden dapat

dilakukan dari kapiler dengan finger-prick atau diambil dari darah vena.19

Pengambilan darah responden melalui kapiler lebih dipilih untuk

pemeriksaan IG. Selain lebih mudah, peningkatan glukosa pada darah kapiler

lebih tinggi dan juga lebih sedikit variasi yang didapatkan dibandingkan kadar

glukosa darah plasma.20

Makanan uji harus mengandung porsi 50 gram karbohidrat. untuk setiap

makanan uji yang diperiksa dapat disertai dengan 250 sampai 500 mL air atau teh,

atau 50 mL susu bila responden menghendaki. Responden boleh memilih jumlah

dan jenis minuman, namun minuman yang telah dipilih harus sama untuk semua

makanan uji yang akan dikonsumsi. Makanan uji harus dihabiskan dalam waktu

10 menit dengan penghitungan waktu untuk pemeriksaan kadar glukosa darah

dimulai dari gigitan pertama konsumsi makanan uji.19

Selanjutnya kadar glukosa darah dalam 2 jam pemeriksaan dimasukkan

dalam kurva dengan waktu di sumbu x dan kadar glukosa darah di sumbu y.

Indeks glikemik makanan uji, dilakukan dengan cara membandingkan luas area di

bawah kurva makanan uji dengan makanan standar. Kategori pangan berdasarkan

rentang IG seperti dikutip oleh Rimbaawan menurut Jenny Miller tercantum

dalam table 2.4.21

Tabel 2.4 Kategori Pangan Berdasarkan Indeks Glikemik21

Kategori Pangan Rentang Indeks Glikemik

Indeks glikemik rendah <55

Indeks glikemik sedang (intermediate) 55-70

Indeks glikemik tinggi >70

Secara garis besar terdapat dua hal yang dapat memepengaruhi IG, yaitu

faktor individu dan faktor makanan. Faktor individu yang menentukan respon

glikemik seseorang terhadap makanan ialah sensitivitas insulin, fungsi sel beta

pankreas, motilitas saluran gastrointestinal, metabolisme makanan sebelumnya,

(25)

12

glukosa dapat bervariasi pada masing masing orang. Sedangkan faktor dari

makanan dapat dilihat ringkasannya dalam tabel 2.5.22

Tabel 2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Indeks Glikemik Makanan22

Faktor Mekanisme Contoh makanan

Tingkat gelatinisasi pati

Semakin sedikit pati yang tergelatinasi,

semakin lambat proses pencernaannya. Spagetti, oatmeal

Bentuk fisik makanan

Lapisan fibrosa pada buncis dan biji-bijian serta yang menempel pada dinding sel tanaman bekerja sebagai barier, memperlambat enzim untuk masuk dan memulai pencernaan pati

Roti gandum utuh, polong-polongan,

Rasio amilosa dan amilopektin

Semakin banyak suatu makanan mengandung amilosa, semakin lambat kecepatan pencernaan gulanya. Hal ini kebalikannya terhadap amilopektin

polong-polongan, nasi basmati, maizena

Kadar serat pangan

Serat larut dapat meningkatkan viskositas isi intestinal (karena dapat mengikat air) dan memperlambat interaksi antara pati dan enzim pencernanya. Hal ini

menyebabkan semakin lambatnya proses absorpsi

Buncis, apel, roti putih, beberapa jenis sereal sarapan

Kadar gula sukrosa

Sukrosa, yang disusun oleh glukosa dan frukotosa, memproduksi hanya setengah dari banyaknya molekul glukosa dari pati dengan jumlah yang sama.

Keberadaan sukrosa dalam makanan juga merestriksi tingkat gelatinisasi dari molekul pati dengan mengikat air selama proses produksi

Beberapa jenis cookies, dan sereal sarapan

Keasaman Asam pada makanan memperlambat

proses pengosongan lambung Jeruk

Selain itu Rimbawan menyebutkan kadar lemak dan protein juga

mempengaruhi IG. Hal ini akibat lambatnya pengosongan lambung pada

(26)

2.2 Kerangka Konsep

2.3Definisi Operasional

No Variabel Definisi Peng

ukur darah dan dihitung kadarnya dengan

Laju kenaikan kadar glukosa darah

Indeks Glikemik

Faktor intrinsik/individu

•sensitivitas insulin,

•fungsi sel beta pankreas,

•motilitas saluran gastrointestinal,

•metabolisme makanan sebelumnya,

•variasi metabolik individu

Makanan uji Faktor

ekstrinstik/makanan

• Tingkat gelatinisasi pati

• Bentuk fisik

• Rasio amilosa dan amilopektin

• Kadar serat pangan

• Kadar gula sukrosa

(27)

14 BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk mengetahui IG donat

dengan beberapa jenis topping.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2013 sampai Juli 2013 di Kampus

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3.3 Alat dan Bahan Penelitian

a. Alat glukometer dan test strip glukosa darah Gluco.dr®

b. Sampel darah responden dengan metode finger-prick. c. Makanan standar (6 lembar roti tawar putih).

d. Makanan uji : donat topping coklat 2 potong, topping sereal 2 ½ potong dan topping gula tepung 2 ½ potong.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.4.1 Kriteria Inklusi

a. Responden adalah dewasa sehat dengan populasi mahasiswa

pendidikan dokter (18-25 tahun).

b. Responden IMT normal kriteria Asia-Pasifik.23

c. Responden tidak memiliki riwayat gangguan metabolisme glukosa.

d. Responden dalam keadaan sehat.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

a. Responden yang menjalani program diet dalam 3 bulan terakhir.

b. Responden perempuan yang hamil ataupun menyusui.

3.5 Besar dan Cara Pengambilan Responden

Responden dalam penelitian ini berjumlah 10 orang yang sesuai dengan

kriteria inklusi dan eksklusi. Responden terdiri dari perempuan dan laki-laki.

(28)

Proses penentuan responden dilakukan dengan cara anamnesis meliputi

identitas dan riwayat penyakit, serta dilakukan pemeriksaan fisik meliputi tanda

vital, penukuran tinggi badan, dan berat badan. Dilakukan penapisan gangguan

metabolisme glukosa dengan pemeriksaan GDP dan dibandingkan dengan kriteria

normal menurut PERKENI.24 Responden yang memenuhi kriteria inklusi dan

bersedia mengikuti penelitian dilakukan informed consent (lampiran 1,2,3,4).

3.6 Alur Penelitian

*Setiap pemeriksaan berselang 4-5 hari

3.7 Cara Kerja Penelitian

a. Responden menjalani puasa kurang lebih 10 jam.

b. Responden sebelumnya telah diminta untuk menjauhi latihan berat dan

makan seperti biasa selama 48 jam sebelum hari pemeriksaan.

c. Responden mengkonsumsi makanan uji dalam waktu <10 menit.

Populasi

Responden 10 orang

Persiapan sebelum pemeriksaan:*

Puasa 10-14 jam, tidak melakukan aktivitas berat, dan makan porsi normal sebelum puasa

Mahasiswa PSPD 2010

Memenuhi kriteria inklusi

Roti tawar putih Pemeriksaan

pertama

Pemeriksaan glukosa darah kapiler pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 90 dan 120 Pemeriksan

(29)

16

d. Darah responden diambil dari pembuluh kapiler pada ujung jari sebelum

makan dan di menit ke-15, 30, 45, 60, 90, dan 120 menit setelah mulai

makan.

e. Responden diberikan air putih 250 sampai 500 mL air.

f. Kadar gula darah responden dicatat, dan dimasukkan ke dalam kurva.

g. Menghitung nilai indeks glikemik.

3.8 Rencana Pengolahan dan Analisa Data

Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah responden diolah secara manual dan

disajikan dalam bentuk tabel. Kenaikan kadar glukosa darah disajikan dalam

bentuk kurva, sedangkan IG dalam bentuk persentase. Penentuan IG dilakukan

dengan menggunakan rumus berikut:

� � �� =

�� � ℎ � � � ��� �

ℎ � � ℎ � ℎ � �

�� � ℎ � � � ��� � ℎ

� � ℎ � ℎ � � � �

� %

Luas area di bawah kurva dihitung menggunakan metode trapezoid secara manual

dan menggunakan program Microsoft Excel. Metode trapezoid dilakukan dengan

cara menghitung luas semua bangunan trapesium dalam kurva kenaikan glukosa

darah yang selanjutnya dijumlahkan. Luas bangunan trapesium dihitung dengan

rumus: 25

�� � � � = � � ℎ � � � � ���

Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis data statistik menggunakan

Microsoft excel 2010 dan SPSS 16.0. Uji normalitas data menggunakan uji

Shapiro-Wilk karena jumlah responden kurang dari 50 orang. Selanjutnya penulis

menggunakan Uji Repeated Annova bila data terdistribusi normal dan Uji Friedman bila data tidak terdistribusi normal. Pemilihan uji ini didasarkan pada

jenis penelitian berupa deskriptif numerik-numerik dengan variabel yang

(30)

17

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Responden

Responden berjumlah 10 orang, terdiri dari 3 orang laki-laki dan 7 orang

perempuan. Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Penelitian

No. Kode

normal dengan menggunakan klasifikasi status gizi berdasarkan IMT dari Asia

Pasifik (lampiran 4). Responden tidak memiliki gangguan metabolisme glukosa

ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan GDP dalam batas normal. Rerata GDP

responden adalah 89,10 (SD±2,36).

4.2 Makanan Uji

Makanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah roti tawar putih sebagai

makanan standar. Makanan uji menggunakan donat dari gerai donat terdekat

(31)

18

Donat yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dalam bentuk jadi,

dalam hal ini peneliti tidak melakukan proses pengolahan tambahan terhadap

donat yang diuji.

Sebelum dikonsumsi sebagai makanan uji, donat dan topping ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan porsi yang setara dengan 50 gram karbohidrat.

Karena peneliti tidak mendapatkan analisis gizi donat dari produsen secara

langsung, maka penyajian analisis zat gizi berdasarkan donat secara umum

diambil dari Nutrisurvey 2007 (lampiran 5).

Tabel 4.2. Makanan Uji dengan Kandungan Karbohidrat 50 Gram

Makanan uji Sajian

(gram)

topping Gula tepung

100

3,7 50 21,8 5,2

1,0

Donat

topping coklat

100

4.3 Kadar Glukosa Darah

Hasil rerata kadar glukosa darah setiap 30 menit selama dua jam setelah

pemberian makanan uji dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Grafik Kenaikan dan Penurunan Kadar Glukosa Darah

93

Makanan Standar Donat Toping Gula Tepung

(32)

Berdasarkan kurva diatas, kenaikan kadar glukosa darah setelah pemberian

roti tawar putih mencapai puncaknya pada menit ke-45. Selanjutnya mengalami

penurunan pada menit ke-90 hingga 120. Berbeda dengan donat dengan tiga

topping yang diuji, kenaikan kadar glukosa darah mengalami puncak pada menit ke-30 dan menurun pada menit ke-60 hingga 120. Perbedaan ini disebabkan roti

tawar putih mengandung lebih banyak serat sehingga membuat pencernaan dan

absorpsi karbohidrat menjadi lebih lambat.

Respon kenaikan glukosa darah terhadap karbohidrat umumnya signifikan

dalam kisaran waktu 30 menit sampai 1 jam setelah konsumsi makanan.

Berdasarkan hal tersebut, persentase kenaikan dan penurunan kadar glukosa darah

dihitung tiap 30 menit.

Tabel 4.3. Persentase kenaikan/penurunan kadar glukosa darah (%)

No Makanan uji Perrsentase kenaikan kadar glukosa darah pada menit ke-

30’ 60’ 90’ 120’

1 Roti tawar putih 28,06 31,82 -8,31 -4,24

2 Donat topping gula

tepung 66,39 -19,70 -24,75 -27,92

3 Donat topping coklat 32,18 -9,13 -4,65 -7,96

4 Donat topping sereal 48 -7,85 -7,43 -12,72

Makanan uji yang meningkatkan kadar glukosa darah puasa dengan cepat

setelah dikonsumsi dari menit ke-0 hingga menit ke-30 berturut-turut adalah donat

topping gula tepung 66,39%, topping sereal 48%, topping coklat 32,18%, dan roti tawar putih 28,06%.

Topping gula tepung dapat dicerna dan diserap lebih mudah oleh sistem gastrointestinal. Selain karena ukuran partikel makanan yang kecil, karbohidrat

dalam gula tepung berjenis disakarida, sehingga proses pencernaan menjadi lebih

cepat. Semakin cepat penyerapan, maka akan didapatkan peningkatan yang lebih

tinggi dari kadar glukosa darah. Berbeda dengan donat topping sereal dan coklat, yang masing-masing memiliki kandungan dengan absorpsi relatif lebih lambat.

Secara komposisi coklat mengandung lemak yang cukup banyak, dan sereal

mempunyai kandungan serat serta protein. Akibat komposisi ini, sehingga dapat

(33)

20

Serat larut dapat meningkatkan viskositas isi intestinal (karena dapat

mengikat air) dan memperlambat interaksi antara pati dan enzim pencernanya,

sehingga proses pencernaan menjadi lebih lambat. Sedangkan makanan berlemak

dapat memperlambat pengosongan lambung dengan mekanisme penghambatan

sekresi HCL. Dengan demikian kandungan lemak dan serat menyebabkan respon

glukosa darah menjadi lebih lambat.21

4.4 Indeks Glikemik

Penghitungan luas area di bawah kurva dihitung menggunakan perhitungan

trapezoid (lampiran 7 dan 8). Setelah dirata-ratakan dari tiap responden, hasil

akhir IG setiap makanan uji dapat dilihat pada tabel 4.5.

Tabel 4.4. Rerata Indeks Glikemik Makanan Uji dan Makanan Standar

Makanan Indeks glikemik (100%)

Roti tawar putih 100

Donat topping gula tepung 98,12

Donat topping coklat 97,22

Donat topping sereal 89,28%

Secara keseluruhan dari tabel diatas, IG tertinggi adalah donat topping gula tepung 98,12%, sedangkan donat topping coklat menjadi yang paling rendah 89,28%, dan di antara keduanya adalah donat topping sereal 97,22%.

Hasil perhitungan IG donat yang didapat sama dengan hasil penelitian Kaye

Foster-Powell, yang menyebutkan hasil IG donat adalah 108±10%27 dan tidak

jauh berbeda dengan hasil yang didapat Indira Saputra dalam penelitiannya, yang

menyebutkan IG donat adalah 72±6%.7

Donat dengan ketiga topping yang telah diteliti termasuk dalam makanan berindeks glikemik tinggi (>70%) berdasarkan kategori pangan menurut Jenny

Miller. 21

Donat topping gula tepung menjadi makanan dengan IG paling tinggi, disebabkan kandungan makanan mempengaruhi absorpsi saluran pencernaan yang

secara otomatis mempengaruhi kadar glukosa darah. Semakin lambat sebuah

(34)

yang juga lebih tinggi jika dibandingkan bahan coklat maupun sereal. Indeks

glikemik gula tepung adalah 97± 7%, coklat 61± 4% dan sereal 61± 8%.2

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menganjurkan untuk pasien DM atau

yang memiliki resiko tinggi penyakit ini, untuk mengkonsumsi donat dengan

toping coklat. Makanan dengan IG rendah relatif lebih baik menjadi pilihan

makanan selingan. Akan tetapi, karena ditemukan hasil penelitian menunjukkan

semua donat beserta topping ini termasuk dalam kategori IG tinggi, tidak disarankan untuk konsumsi yang berlebihan.

Uji statistik Repeated anova menunjukkan p value 0,005. Dengan demikian terdapat sedikitnya 2 perbedaan bermakna antar IG makanan uji. Setelah

dibandingan dalam pairwise comparison, perbedaan didapatkan antara IG makanan standar dengan donat toping coklat dan antara donat toping gula tepung

dengan toping coklat (lampiran 9).

4.5 Keterbatasan Penelitian

Dalam melakukan penelitian, didapatkan beberapa hal yang menjadi

keterbatasan bagi peneliti sehingga mempengaruhi proses dan hasil dari

penelitian. Tidak dilakukannya analisis zat gizi terhadap makanan uji,

memungkinkan perbedaan komposisi bahan yang digunakan antara produsen yang

satu dengan yang lain.

Selain itu pemeriksaan respon glukosa darah makanan standar hanya

dilakukan satu kali, menyulitkan perhitungan IG yang lebih akurat. Disebutkan

dalam penelitian Thomas MS Wolever et al, pemeriksaan makanan standar perlu dilakukan 2-3 kali.

Pengawasan dan pemantaun terhadap responden sulit dilakukan, terutama

untuk membatasi aktivitas fisik selama penelitian, serta tidak dapat dipastikannya

responden berpuasa 10-14 jam dan makan dalam porsi makan biasa 48 jam

(35)

23

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

1. Hasil penelitan ini menunjukkan donat dengan indeks glikemik tertinggi

berturut-turut adalah donat topping gula tepung (98,12%), topping sereal (97,22%), dan topping coklat (89,28%), Ketiga donat dengan tiga toping yang diuji termasuk dalam makanan IG tinggi.

2. Terdapat perbedaan bermakna IG donat dengan beberapa jenis topping, yaitu antara makanan standar dengan donat toping gula tepung, dan antara

donat toping gula tepung dengan toping coklat.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan analisis zat gizi terhadap makanan yang diuji untuk

penghitungan kebutuhan 50 gram karbohidrat yang dibutuhkan, sehingga

tidak bergantung pada data sekunder tabel zat gizi makanan.

2. Untuk membuat hasil perhitungan IG yang lebih akurat, pemeriksaan

respon glukosa darah makanan standar sebaiknya dilakukan lebih dari satu

kali.

3. Perlu pengawasan dan pemantauan yang lebih baik terhadap responden

(36)

DAFTAR PUSTAKA

1. Mozaffarian D. Changes in Diet and Lifestyle and Long-Term Weight Gain in Women and Men. N Engl J Med 2011;364:2392-404.

2. Lifestyle factors and Risk for New-Onset Diabetes: a Population-Based Cohort Study [internet]. 2002. Diakses pada 12 Juli 2013. Tersedia dalam http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21893622.

3. Nix S. William’s Basic Nutrition and Diet Theraphy. Missori: Elsevier Mosby; 2005. Hal 6, 17-25.

4. David JA Jenkins, Cyril WC Kendall, Livia SA Augustin, Silvia Franceschi, Maryam Hamidi, Augustine Marchie, et al. Glycemic index: Overview of Implications in Health and Disease. Am J Clin Nutr 2002;76(suppl):266S– 73S.

5. Riccardi G, Rivellese AA, Giacco R. Role of Glycemic Index and Glycemic Load in The Healthy State, in Prediabetes, and in Diabetes. Am J Clin Nutr

2008;87(suppl):269S–74S.

6. Marmonier C, Chapelot D, Fantino M, Louis-Sylvestre J. Snacks Consumed in a Nonhungry State Have Poor Satiating Efficiency: Influence of Snack Composition on Substrate Utilization and Hunger. Am J Clin Nutr

2002;76:518–28.

7. Saputra I. Evaluasi Mutu Gizi dan Indeks Glikemik Cookies dan Donat Tepung Terigu yang Disubstitusi Parsial dengan Tepung Bekatul. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. 2008. Tersedia dalam repository.ipb.ac.id.

8. J.Co Donuts and Coffee, Brand Local dengan Reputasi Internasional. Bakery Magazine [internet]. 10 Februari 2011 [diakses pada 12 Juni 2013]. Tersedia pada http://www.bakerymagazine.com/2012/09/05/j-co-donuts-and-coffee-local-brand-dengan-reputasi-internasional/

9. Ariani M. Konsumsi pangan Masyarakat Indonesia. Analisis Data SUSENAS 1999-2005. Didownload pada 17 Juni 2013 dari www.persagi.org

10. Thompson J, Manore M. Nutrition: An Applied Approach, 2nd Edition. USA: Pearson Education publishing; 2007.

(37)

25

12. Gallaghe L. Margie. Nutrient and Their Metabolism. Dalam: Kathleen Mahan, editor. Krause’s Food and Nutrition Therapy, 12th Edition. Missouri: Elsevier; 2008. Hal 49-52.

13. Arthur C. Guyton, John E. Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta: EGC; 2007. Hal.871-874.

14. Dawn B Marks, Allan D. Marks, Collen M. Smith. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta: EGC; 2000. Hal.463.

15. John A Monro and Mick Shaw. Glycemic Impact, Glycemic Glucose Equivalents, Glycemic Index, and Glycemic Load: Definitions, Distinctions, and Implications. Am J Clin Nutr 2008;87(suppl):237S– 43S.

16. Xavier Pi-Sunyer. Glycemic Index and Disease. Am J Clin Nutr

2002;76(suppl):290S–8S.

17. BJ Venn, TJ Green. Glycemic Index and Glycemic Load: Measurement Issues and Their Effect on Diet–Disease Relationships.European Journal of Clinical Nutrition (2007) 61 (Suppl 1), S122–S131

18. Radulian G, Rusu E, Dragomir A, Posea M. Metabolic Effects of Low Glycaemic Index diets. Nutrition Journal 2009; 8:5.

19. MS Wolever, Brand-Miller JC, Abernethy J, Astrup A, Atkinson F, Axelsen M, et al. Measuring the Glycemic Index of Foods: Interlaboratory Study. Am J Clin Nutr 2008;87(suppl):247S–57S.

20. Paper: Carbohydrate in Human Nutrition. FAO Food and Nutrition [internet]. 1998. Chapter 4: The Role of The Glycemic Index Of food. Tersedia dalam http://www.fao.org/docrep/w8079e/w8079e0a.htm

21. Rimbawan, Siagian A. Indeks Glikemik Pangan, Cara Mudah Memilih Pangan yang Menyehatkan. Jakarta: Penebar Swadaya; 2004. Hal.23-28, 33-40.

22. Kalergis M, De Grandpré, Andersons C. The Role of the Glycemic Index in the Prevention and Management of Diabetes: A Review and Discussion.

Canadian Journal of Diabetes 2005;29(1):27-38.

23. The Asia-Pacific Perspective Redefining Obesity and Its Treatment. Diunduh pada tanggal 29 Agustus 2013, tersedia dalam

http://www.wpro.who.int/nutrition/documents/Redefining_obesity/en/

(38)

25. Damayanti E, Rimbawan. Penuntun Praktikum Evaluas Nilai Gizi. Pengukuran Indeks Glikemik. Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor; 2013.

26. Sopiyudin D. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Deskriptif, Bivariat, dan Multivariat. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2009.

27. Foster-Powell K, Susanna HA Holt, and Janette C Brand-Miller. International table of Glycemic Index and Glycemic Load Values. Am J Clin Nutr

(39)

27

LAMPIRAN

(40)
(41)

29

Lampiran 3 Hasil Pemeriksaan Tanda Vital Responden

No. Kode Tekanan darah (mmHg)

Frekuensi Nadi (x/menit)

Frekuensi Nafas (x/menit)

Suhu (oC)

1 PTR 110/80 75 19 37,0

2 IRV 120/80 91 20 37,2

3 NBL 110/70 80 18 36,8

4 RM 120/80 82 18 37,5

5 MTA 100/80 92 22 37,2

6 DNY 120/70 85 20 37,0

7 USW 120/80 82 20 36,5

8 QR 110/80 74 18 37,0

9 PTI 120/80 89 18 36,5

(42)

Lampiran 4 Kriteria Status Gizi Menurut Asia-Pasifik

Untuk menentukan status gizi responden digunakan dengan menilai Indeks Massa

Tubuh (IMT) dengan rumus :

Kriteria yang digunakan adalah penggolongan status gizi dengan IMT Asia-Pasifik,

status gizi dikategorikan dalam underweight, normoweight, overweight dan obesitas.

Klasifikasi IMT (Kg/M2) Resiko komorbiditas

Underweight <18,5

Rendah (dapat

diperparah bila terdapat

masalah klinis)

Normal range 18,5-22,9 Rata-rata

Overweight

Resiko

Obese I

Obese II

≥23

23-24,9

25-29,9

≥30

Meningkat

Sedang

(43)

31

Lampiran 5 Analisis Gizi dan Perhitungan Kebutuhan Makanan Uji Sebanyak 50 Gram Karbohidrat

Makanan uji (gram) Sajian Karbohidrat (gram) Lemak (gram) Protein (gram) (gram) Serat

Roti tawar

putih 80 gr 34 3,5 7 3

Donat 100 gr 46,3 21,8 5,2 1,0

Gula pasir 100 gr 99,8 0 0 0

Coklat 100 gr 63,4 29,7 4,2 0

Sereal 100 gr 63,3 7 12,5 5,4

Berdasarkan informasi gizi kemasan roti putih dan Nutrisurvey 2007, maka estimati

kebutuhan makanan yang digunakan sebanyak 50 gram adalah:

1. 80 gram roti tawar putih mengandung 34 gram karbohidrat.

Untuk mendapatkan 50 gram karbohidrat maka dibutuhkan kurang lebih 118

gram roti tawar putih. Dikonversikan dalam ukuran rumah tangga sama

dengan 6 lembar roti.

2. 100 gram donat mengandung 46,3 gram karbohidrat

100 gram gula putih mengandung 99,8 gram karbohidrat

Untuk mendapatkan donat topping gula putih dengan estimasi kandungan karbohidrat 50 gram adalah 100 gram donat dengan 3,7 gram gula.

Dikonversikan dalam ukuran rumah tangga sama dengan 2½ potong donat

(44)

3. 100 gram donat mengandung 46,3 gram karbohidrat

100 gram coklat mengandung 63,4 gram karbohidrat

Untuk mendapatkan donat topping coklat dengan estimasi kandungan karbohidrat 50 gram adalah 80 gram donat dengan 12 gram coklat.

Dikonversikan dalam ukuran rumah tangga sama dengan 2 potong donat

dengan 1 sendok makan penuh coklat sebagai topping.

4. 100 gram donat mengandung 46,3 gram karbohidrat

100 gram sereal mengandung 63,3 gram karbohidrat

Untuk mendapatkan donat topping gula putih dengan estimasi kandungan karbohidrat 50 gram adalah 100 gram donat dengan 6 gram sereal.

Dikonversikan dalam ukuran rumah tangga sama dengan 2 ½ potong donat

(45)

33

(46)
(47)
(48)
(49)
(50)

Lampiran 7 Contoh Perhitungan Luas Area di bawah Kurva Perhitungan luas area di bawah kurva kenaikan glukosa darah dihitung dengan

menggunakan metode trapezoid.

87 94

Toping sereal

(51)

39

(lanjutan) a. Perhitungan Luas Bangun Makanan Standar:

�� � ���� = + � = ,

�� � ���� = + � =

�� � ���� = + � = ,

�� � ���� = + � = ,

�� � ���� = + � =

�� � ���� = + � =

Total luas bangun : 13882,5

b. Perhitungan Luas Bangun Donat Topping Coklat:

�� � ���� = + � =

�� � ���� = + � = ,

�� � ���� = + � =

�� � ���� = + � =

�� � ���� = + � =

�� � ���� = + � =

Total luas bangun : 12487,5

c. Perhitungan Indeks Glikemik Pangan

(52)

Lampiran 8 Hasil Perhitungan Luas Area di bawah Kurva dan Indeks Glikemik Donat

Kode responden

Makanan standar

Donat topping

gula putih

Donat topping

coklat

Donat topping

sereal

LA IG LB IG LB IG LB IG

PTR 13807,5 100 14045 101,72 12885 93,31885 11385 82,4552

IRV 13882,5 100 12457,5 89,7353 12487,5 89,95138 12480 89,8974

NBL 15727,5 100 16590 105,484 14476,5 92,04578 17047,5 108,393

RM 11017,5 100 12000 108,918 12075 109,5984 10687,5 97,0048

MTA 13470 100 11812,5 87,6949 10770 79,95546 11475 85,1893

DNY 15120 100 14212,5 93,998 11135 73,64418 15015 99,3056

USW 14295 100 14865 103,987 11970 83,73557 16822,5 117,681

QR 14115 100 15000 106,27 13155 93,19872 14040 99,4687

PTI 14762,5 100 12427,5 84,1829 12892,5 87,33277 13177,5 89,2633

RZ 13327,5 100 13234,5 99,3022 12007,5 90,09567 13807,5 103,602

(53)

41

Lampiran 9 Hasil Uji Statistik

a. Uji Normalitas Data Usia, IMT dan GDP

Descriptives

Statistic Std. Error

UMUR

Mean 19.00 .422

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 18.05

Upper Bound 19.95

5% Trimmed Mean 19.00

Median 19.00

Variance 1.778

Std. Deviation 1.333

Minimum 17

Maximum 21

Range 4

Interquartile Range 2

Skewness .000 .687

Kurtosis -1.577 1.334

IMT

Mean 20.350 .4445

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 19.344

Upper Bound 21.356

5% Trimmed Mean 20.350

Median 20.300

Variance 1.976

Std. Deviation 1.4057

Minimum 18.5

Maximum 22.2

Range 3.7

Interquartile Range 2.8

Skewness .005 .687

(54)

GDP

Mean 89.10 2.364

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 83.75

Upper Bound 94.45

5% Trimmed Mean 89.11

Median 90.00

Variance 55.878

Std. Deviation 7.475

Minimum 75

Maximum 103

Range 28

Interquartile Range 9

Skewness -.132 .687

Kurtosis 1.269 1.334

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

UMUR .273 10 .033 .859 10 .074

IMT .193 10 .200* .901 10 .224

GDP .201 10 .200* .960 10 .782

a. Lilliefors Significance Correction

(55)

43

b. Uji Normalitas Rerata Indeks Glikemik

Descriptivesa

Statistic Std. Error

IGGP

Mean 98.1292 2.74113

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 91.9284

Upper Bound 1.0433E2

5% Trimmed Mean 98.3047

Median 1.0051E2

Variance 75.138

Std. Deviation 8.66823

Minimum 84.18

Maximum 108.92

Range 24.73

Interquartile Range 16.46

Skewness -.441 .687

Kurtosis -1.357 1.334

IGCL

Mean 89.2877 3.01704

95% Confidence Interval for Mean

Lower Bound 82.4627 Upper Bound 96.1127

5% Trimmed Mean 89.0284

Median 90.0235

Variance 91.025

Std. Deviation 9.54072

Minimum 73.64

Maximum 109.60

Range 35.95

Interquartile Range 10.44

Skewness .593 .687

(56)

(Lanjutan)

IGSR

Mean 97.2260 3.45339

95% Confidence Interval for Mean

Lower

Bound 89.4139 Upper

Bound 1.0504E2

5% Trimmed Mean 96.9102

Median 98.1552

Variance 119.259

Std. Deviation 1.09206E1

Minimum 82.46

Maximum 117.68

Range 35.23

Interquartile Range 16.55

Skewness .466 .687

Kurtosis -.230 1.334

a. IGMK is constant. It has been omitted.

Tests of Normalityb

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

(57)

45

(lanjutan) c. Uji Repeated Anova

Multivariate Testsb

a. Exact statistic

b. Design: Intercept

Within Subjects Design: factor1

d. Pairwise Comparison

Pairwise Comparisons

95% Confidence Interval for Differencea

Lower Bound Upper Bound

1 2 1.871 2.741 .512 -4.330 8.072

Based on estimated marginal means

(58)

Lampiran 10

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Syarifah Ro’fah

Tempat, tanggal lahir : Cirebon, 12 Desember 1992

Alamat : Pondok Pesantren Gedongan, Desa Ender Kecamatan

Pangenan

Kabupaten Cirebon Jawa Barat

No. HP : +62 857 188 676 13

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan :

1. MI Manbaul Hikmah Ponpes Gedongan Cirebon (1998-2004)

2. MTs Manbaul Hikmah Ponpes Gedongan Cirebon (2004-2007)

3. MA Manbaul Hikmah Ponpes Gedongan Cirebon (2007-2010)

4. Program Studi Pendidikan Dokter

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri syarif hidayatullah Jakarta (2010-sekarang)

Riwayat Organisasi :

1. Pengurus OSIS MTs Manbaul Hikmah (2005-2006)

2. Pengurus OSIS MA Manbaul Hikmah (2008-2009)

3. IPPNU Cabang Cirebon (2008-2009)

4. Pengurus ISOMS al-Shighor (2008-2010)

5. PSDM PMII Cabang Ciputat (2011-sekarang)

6. Bendahara II CSS MoRA UIN Jakarta (2011- 2012)

7. Bendahara I CSS MoRA UIN Jakarta (2012- 2013)

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi dan Jenis Karbohidrat....................................................
Gambar 4.1 Grafik Kenaikan dan Penurunan Kadar Glukosa Darah................
Tabel 2.1 Klasifikasi dan Jenis Karbohidrat3
Tabel 2.2 Proses metabolisme dalam Tubuh11
+7

Referensi

Dokumen terkait

Asupan karbohidrat dan beban glikemik makanan tidak terkait dengan kadar glukosa darah pada lansia di Posyandu Lansia Desa Susukan Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.. Kata Kunci

Berdasarkan nilai dan klasifikasi indeks glikemik dan beban glikemik setiap makanan uji pada penelitian ini, maka biskuit isi selai (SLO) tidak direkomendasikan

Berdasarkan hasil penelitian beberapa variasi sajian siomay, yang memiliki indeks glikemik paling rendah diantara ketiga makanan tersebut adalah siomay campur (97,39%),

Penyandang diabetes mellitus juga harus memperhatikan asupan karbohidrat dan lebih memilih mengkonsumsi sumber karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah karena

Tidak ada hubungan antara asupan makanan indeks glikemik tinggi dan aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe II rawat jalan

Karbohidrat dalam pangan yang dipecah dengan cepat selama proses pencernaan memiliki indeks glikemik tinggi, sebaliknya pangan yang indeks glikemiknya rendah,

Karbohidrat dalam pangan yang dipecah dengan cepat selama proses pencernaan memiliki indeks glikemik tinggi, sebaliknya pangan yang indeks glikemiknya rendah,

BG merupakan nilai yang menunjukkan reaksi glukosa darah setelah mengonsumsi satu porsi makanan yang mengandung sejumlah karbohidrat.21 Bagi sebagian besar orang konsumsi karbohidrat