• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negara dan pluralisme agama (studi pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme agama di Indonesia pasca orde baru)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Negara dan pluralisme agama (studi pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme agama di Indonesia pasca orde baru)"

Copied!
190
0
0

Teks penuh

(1)

Di Indonesia Pasca Orde Baru)

Oleh

Anang Lukman Afandi

NIM : 103 033 227 810

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Pluralisme agama sepertinya menemui jaman keemasan kembali. Di saat masyarakat Indonesia sering terjadi konflik yang bernuansa agama, pembahasan tentang pluralisme akan kembali menjadi topik perbincangan para tokoh lintas agama di Indonesia. Dalam hal ini penulis akan mencoba untuk mengulas kembali makna pluralisme menurut salah satu tokoh moderat Islam yaitu Hasyim Muzadi, Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Kajian tentang pluralisme agama Hasyim Muzadi dalam skripsi ini dilatar-belakangi bahwa penulis menganggap bahwa selama ini masih sedikit karya-karya yang berisi pemikiran Hasyim Muzadi. Tujuan penulis adalah ingin memperdalam pengetahuan pemikiran-pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme serta langkah-langkah yang beliau lakukan guna memperjuangkan pluralitas keagamaan di Indonesia.

Hasyim Muzadi sebagai salah satu tokoh moderat yang konsisten memperjuangkan Pluralisme, menawarkan sebuah solusi atas kebuntuan dialog antar agama maupun keyakinan. Pluralisme dianggap sebagai sebuah keniscayaan untuk mempertahankan pluralitas keagamaan di Indonesia dan menjaga kerukunan antar umat yang berbeda agama maupun keyakinan sehingga dapat memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(6)

ii

Alhamdulillah, sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, memberikan akal dan pikiran

kepada manusia sehingga dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan selamanya kepada Nabi Muhammad

SAW, berserta para keluarga, sahabat dan pengikutnya dan semoga menjadi

tauladan bagi kita semua.

Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih

kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing, dan mendukung penulis

secara fisik maupun moral dalam penyusunan skripsi ini yang tidak akan tercapai

kesempurnaan lantaran bantuannya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk dapat menempuh studi di kampus peradaban ini.

2. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Alimun Hanif, MA, selaku Ketua Jurusan Ilmu Politik Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

4. Bapak Dr. Sirojuddin Aly, MA, selaku pembimbing skripsi yang telah

meluangkan waktunya untuk selalu memberikan saran dan kritik guna

(7)

iii Hidayatullah Jakarta.

6. Ayahanda tercinta Imam Nawawi (Boniran) dan Ibunda tersayang

Khomsatun, Kakek Boyamin dan Mbok Samijem, orang tua penulis yang

tiada lelah memberikan do’a, semangat dan motivasi dengan kasih sayang

yang tak terhingga. Serta keluarga besar Imam Nawawi, Kakakku Ali

Murtadho, Yeni Siswanti serta saudara-saudaraku Shidiq dan kholil.

7. Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan KH. Bahruddin

yang telah mengasuh dan memberikan ilmu yang tak terhingga saat

penulis mondok di Pesantren Ciganjur dan Darul Hikam Ciputat.

8. Sahabat-sahabat selam kuliah di kampus tercinta UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, khususnya Usep Kholil, Dedi, Farid, Dian, Budi, Bayan, Hamid,

Furqon, Janan, Bagus, Yamin, Iwan, Hamdi, Fuad, dan semuanya yang

tidak penulis sebutkan satu per satu.

9. Sahabat dan teman kerja di Bio Team Ciputat, Andi, Shofyan, Zulfan,

Enjum, Ujang, Roy, Rifki, serta teman pondok di Pesantren Darul Hikam

Ciputat, Rahmat Kabir dan Shoghir, Harid, Fatoni, Tsani, Abu, Azis,

Malik, Iwan, Syu’eib, Firman dan semuanya.

10.Terkhusus untuk calon istriku tercinta, Umi Charisah yang telah

memberikan motivasi dan semangat sehingga penulis dapat segera

(8)
(9)

v

ABSTRAK ………. i

KATA PENGANTAR ………. ii

DAFTAR ISI ……….... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan ... 7

D. Tinjauan Pustaka ... 8

E. Metode Penelitian ... 9

F. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II NEGARA DAN PLURALISME A. Pengertian Negara ………. 12

B. Pengertian Pluralisme ……… 14

C. Pendapat Para Ahli Tentang Pluralisme ……… 31

D. Pro-Kontra Tentang Pluralisme ………. 33

E. Wacana Pluralisme di Indonesia ……….. 37

BAB III BIOGRAFI INTELEKTUAL & POLITIK HASYIM MUZADI A. Kehidupan Sosio-Kultural Hasyim Muzadi ……….. 41

B. Latar Belakang Pemikiran Hasyim Muzadi ……….. 44

(10)

vi

BAB IV PEMIKIRAN HASYIM MUZADI TENTANG PLURALISME

AGAMA DI INDONESIA

A. PEMIKIRAN PLURALISME HASYIM MUZADI ……… 49

1. Islam Rahmatan lil Alamin ………... 54

2. Pluralisme Teologis Dan Sosiologis ………. 55

3. Pendekatan Dialog Peradaban ……….. 56

4. Pluralisme Agama Sebagai Bagian dari Humanisme ….. 61

a. Dimensi Humanisme Dalam Agama ……… 61

b. Kerjasama Islam Dengan Agama Lain ……….... 64

B. PANDANGAN HASYIM MUZADI TERHADAP FATWA

MUI ……… 69

C. KOMITMEN MENJAGA PLURALITAS KEAGAMAAN.. 71

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ... 78

B. Saran-Saran ... 81

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam konteks masa depan Islam Indonesia khususnya serta Islam pada

umumnya yang terjadi hari ini justru yang muncul adalah indikasi yang kuat untuk

bersama-sama membangun paradigma baru tentang Islam terutama Islam

Indonesia di mata dunia Internasional. Karena Islam, terutama pasca serangan 11

September 2001 yang menghancurkan Gedung WTC (World Trade Centre), telah

dimaknai oleh Barat sebagai agama kekerasan, dan pada saat itu hal-hal yang

menyangkut agama menjadi kian sensitif. Padahal mayoritas masyarakat Islam di

Dunia tidak pernah menganggap Barat sebagai musuh.

Kasus hancurnya gedung World Trade Center (WTC) di New York dan

Pentagon di Washington DC, yang diduga dilakukan sekelompok ekstrimis Islam

di bawah komando Osama bin Laden membuat penilaian negatif masyarakat Barat

terhadap umat Islam semakin kencang dan hubungan keduanya mencapai titik

nadir.1

Kondisi itu mengakibatkan kaum muslim di dunia dipandang buruk dan

disebut sebagai pengikut ajaran agama yang dogmanya hanya menyebarkan teror

dan kekerasan. Pandangan yang sangat buruk itu terjadi karena masyarakat barat

melampiaskan kekecewaannya terhadap umat Islam yang diyakininya sebagai

kaum yang tidak bisa hidup berdampingan dengan kaum lainnya. Padahal

kebanyakan penduduk barat itu tidak tahu secara pasti ajaran Islam sesungguhnya

1

(12)

dan hanya didasari atas pemberitaan kasus terorisme dari media massa yang

pemberitaan dan content-nya hanya menyudutkan umat Islam, yang distigmakan

sebagai kaum yang lekat dengan dunia kekerasan dan tidak bisa berdamai dengan

ajaran lainnya. Sehingga membuat umat lain menjadi berang kepada umat Islam.

Tantangan yang dihadapi dewasa ini sebenarnya bukan dalam bidang

ekonomi, politik, sosial dan budaya, tetapi tantangan pemikiran. Sebab persoalan

yang ditimbulkan oleh bidang-bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya

ternyata bersumber dari pemikiran. Di antara tantangan pemikiran yang paling

serius saat ini adalah di bidang pemikiran keagamaan. Tantangan yang sudah lama

disadari adalah tantangan internal yang berupa fanatisme, taklid buta, bid'ah,

kurafat, dan sebagainya. Sedangkan tantangan eksternal yang sedang dihadapi saat

ini adalah masuknya paham liberalisme, sekulerisme, relativisme, pluralisme

agama dan lain sebagainya, kedalam wacana pemikiran keagamaan bangsa

Indonesia.2

Skripsi ini akan membahas salah satu tantangan eksternal dengan

memfokuskan pada makna pluralisme agama beserta sejarah, faktor-faktor,

penyebaran, dampak dan solusinya.

Pluralisme, selama ini bangsa Indonesia terlalu takut dan bahkan antipati

dengan kata ini. Memang kata ini sangat sensitif untuk dibicarakan, namun hal ini

bisa menjadi api dalam sekam kalau masyarakat dibiarkan dengan ketidaktahuan

mereka dengan istilah ini. Penulis tertarik dengan editorial yang disajikan redaksi

Media Indonesia dengan judul ”Untung Masih ada NU dan Muhammadiyah”3

2

Adian Husaini, Plurlisme Agama Haram (Jakarta: Perspektif, 2005), h. 2.

3

(13)

tulisan tersebut mencoba menggambarkan bagaimana keadaan bangsa Indonesia

yang majemuk menghadapi persoalan lintas agama.

Indonesia bukan negara yang baru pertama kali ini terbentur masalah lintas

agama. Sejak awal lahirnya persoalan lintas agama sudah menjadi diskusi menarik

antar tokoh bangsa. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia sudah sedari

dulu mewanti-wanti akan adanya benturan keagamaan jika masyarakat Indonesia

tidak mengedepankan pluralisme dan kebebasan beragama.4 Walaupun beliau

lebih dikenal orang sebagai seorang “abangan” dari pada seorang santri,5 namun

spirit itu tidaklah mati begitu saja. Dua organisasi yang sudah berdiri sejak

sebelum kemerdekaan yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah masih setia

mengedepankan tenggang-rasa dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Sikap

ini adalah wajib adanya demi menjaga kesatuan NKRI karena memang Indonesia

tidak hanya tersusun oleh satu agama saja. Indonesia mempunyai banyak budaya,

ras, suku, dan adat istiadat. Gesekan sosial rasial atau teologi sangatlah berpotensi

terjadi di tengah masyarakat. Dan bila pemerintah diam dan cenderung tidak

peduli dengan hal ini maka itu sama saja dengan membiarkan perang saudara

terjadi di mana-mana di pelosok negeri.

Tapi satu hal yang penulis soroti saat ini adalah adanya dua kutub yang

senantiasa memancarkan pengaruhnya di bumi Indonesia. Satu kutub berusaha

mengekstrimisasi umat beragama, dan satu kutub berusaha menjaga pluralitas

beragama. Dua kutub ini mau tidak mau pasti saling berlawanan. Berebut

pengaruh di masyarakat. Dan di sinilah letak keharusan masyarakat mengenal

4

Lihat http://www.republika.com/perjalanan-sejarah-indonesia-175.page.html

5

(14)

dengan baik apa itu pluralisme dan bagaimana seharusnya hidup di dalam bangsa

yang multi-kultural. Mungkin lebih bijak jika kita mulai membicarakan dari sisi

Islam karena Islam memang agama terbesar yang dianut di Indonesia. Islam sejak

awal lahirnya telah menampakkan nilai-nilai humaniora yang kental di

masyarakat. Dengan caranya yang santun para mubaligh Islam saat itu

menginfiltrasi budaya dan agama yang saat itu ada dengan ajaran Islam yang

rahmatan lil alamin tanpa merusak budaya lokal. Dari situlah Islam dikenal

bangsa Indonesia sebagai agama yang toleran. Tidak ada penghinaan terhadap

agama lain namun tetap wibawa menjaga kehormatannya. Bentuk keseimbangan

inilah yang kemudian menjadi dasar diterimanya Islam oleh masyarakat

Indonesia.

Bagaimana pun NKRI adalah harga mati dan pluralisme adalah

jaminannya. Tidak akan terwujud sebuah negara kesatuan dengan Islam, Kristen,

Katolik, Hindu, dan Budha di dalamnya tanpa ada tenggang-rasa antar umat

beragama. Tidak akan ada kedamaian dan ketenteraman dalam menjalankan

ibadah ketika nilai-nilai ”lakum diinukum waliya din” sudah tidak lagi diamalkan

bangsa Indonesia. Jika sudah tidak lagi ada kerukunan antar umat beragama

mungkin bisa jadi bangsa Indonesia akan menjadi bangsa barbar yang beringas.

Dan bukan mustahil satu agama dan agama yang lain akan saling menjatuhkan

dan berperang di atas bumi Indonesia. Sungguh tidak ada satu agama pun yang

menghendaki hal seperti ini.

Dalam kerangka itu, Hasyim Muzadi sebagai salah satu pemimpin

organisasi Islam terbesar di Indonesia, gencar melakukan agenda yang terkait

(15)

diselenggarakannya pertemuan Ulama’ Sunni-Syiah seluruh dunia yang

diprakarsainya.6 Pertemuan-pertemuan semacam itu seakan menjadi titik terang

usaha beliau dalam menata Islam Indonesia menuju Islam Global yang lebih baik

sebagai aktualisasi rahmatan lil-alamiin.

Sedang pada hakikatnya, sebuah masyarakat heterogen yang sedang

tumbuh, seperti bangsa Indonesia, tentu sulit untuk mengembangkan saling

pengertian antar beraneka ragam unsur-unsur etnis, dan budaya daerah. Kalaupun

tidak terjadi salah pengertian mendasar atas unsur-unsur itu, paling tidak tentu

saling pengertian yang tercapai barulah bersifat nominal belaka, dengan kata lain,

suasana optimal yang dapat dicapai bukanlah saling pengertian, melainkan

sekedar mengurangi kesalahpahaman.7

Atas dasar kenyataan seperti di atas dan juga banyaknya ide-ide dari

pemikir dan pemimpin Islam di Indonesia tentang permasalahan Islam, maka

Penulis ingin mengkaji lebih jauh tentang pemikiran atau ide pluralisme

keagamaan yang terkait erat dengan hubungan antar agama dan negara.

Untuk lebih fokusnya kajian ini, Penulis mengambil pemikiran dari salah

seorang tokoh Islam yang pernah menjadi pemimpin salah satu organisasi Islam

terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama) yaitu Hasyim Muzadi. Kajian tentang

pluralisme agama Hasyim Muzadi ini didasari oleh kenyataan bahwa menurut

Penulis selama ini, belum ada karya-karya yang berisi pemikiran utuh dari

Hasyim Muzadi terkait dengan pemikiran pluralismenya. Kalaupun ada, hal ini

hanya berupa pernyataan-pernyataan Hasyim Muzadi yang tersebar di media

6

Pada tanggal 9 November 2004, Hasyim Muzadi beserta Din Syamsuddin mengundang ulama-ulama Sunni-Syiah seluruh dunia yang terdiri dari 84 negara untuk menyerukan sikap toleransi dan persatuan di dunia Islam di Bogor, Jawa Barat.

7

(16)

massa maupun media elektronik, dan juga dari beberapa buku dari para penulis

yang mengungkap sebagian pemikiran atau sosok Hasyim Muzadi.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

Dari uraian di atas, maka perlu Penulis tegaskan bahwa batasan dan

rumusan dari permasalahan ini yaitu :

1. Bagaimana pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme agama?

2. Bagaimana bentuk hubungan agama dan negara menurut Hasyim Muzadi?

Tiga pokok masalah di atas diharapkan dapat mewakili (cover) dari

beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Di samping itu juga

berguna untuk memperjelas arah penelitian yang dimaksud.

C. Tujuan dan Manfaat

Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana dalam bidang Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu ada tujuan dan manfaat yang lain yaitu :

1. Tujuan :

a. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih tajam tentang karakteristik

pemikiran Hasyim Muzadi mengenai wacana pluralisme keagamaan, serta

hubungan Islam dan negara.

b. Mengidentifikasi asal-usul gagasan beliau, baik itu berlatar belakang sosial,

pendidikan ataupun politik.

c. Mendapatkan deskripsi yang jelas mengenai implikasi gagasan tersebut

(17)

2. Manfaat :

a. Dapat diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan

terhadap karakteristik pemikiran Hasyim Muzadi.

b. Bagi dunia ilmu pengetahuan, akan memberi tambahan khazanah baru

dalam pemikiran yang terkait dengan wacana diatas.

c. Bagi umat Islam pada umumnya, dan umat Islam Indonesia pada khususnya,

diharapkan akan memiliki persepsi yang benar mengenai Islam Indonesia

sehingga tidak terjebak pada pemahaman tunggal yang menyebabkan

fanatisme keagamaan yang berlebihan dan kontra-produktif.

D. Tinjauan Pustaka

Kajian tentang pluralisme serta hubungan agama dan negara dalam

literatur Indonesia cukup banyak, dan memang di era sekarang kajian tersebut

seperti menemukan zaman keemasannya karena didukung oleh kondisi

sosio-kultural yang memang memungkinkan wacana tersebut berkembang, apalagi

kondisi Indonesia yang memang plural, baik dalam hal suku bangsa, ras, maupun

agama.

Sedangkan pembahasan tentang pluarlisme sendiri telah banyak dilakukan

oleh para penulis baik dalam maupun luar negeri. Karya terakhir dalam rentang

penulisan skripsi ini adalah tentang pemikiran Abdurrahman Wahid tentang

pluralisme dan humanisme yang ditulis oleh Saiful Ma’arif, mahasiswa UIN

(18)

Menurut penulis, kajian tentang pemikiran Hasyim Muzadi sendiri belum

ada yang tulis dalam bentuk skripsi, kecuali buku-buku yang telah banyak beredar

walaupun tidak secara spesifik membahas tentang pluralisme Hasyim Muzadi.

Buku-buku karya Hasyim kebanyakan membahas tentang bagaimana pandangan

Islam mengenai globalisasi dan terorisme.

Disamping itu, dalam banyak studi dan penerbitan yang ada, pembahasan

Hasyim Muzadi lebih sering ditujukan pada persoalan politik. Padahal

sebagaimana yang diharapkan terdapat dalam skripsi ini, Hasyim Muzadi

memiliki ide sentral pluralisme yang mewarnai banyak pemikiran-pemikirannya.

Dengan latar belakang bahwa penulisan tentang ide pluralisme Hasyim Muzadi

belum banyak dilakukan, skripsi ini mencoba mengangkat tema tersebut dan

mengaitkannya dengan kehidupan beragama dan sosial budaya di Indonesia.

E. Metode Penelitian

Dalam bahasan terkait dengan penelitian ini, perlu penulis paparkan

tentang metode penelitian yang digunakan. Antara lain meliputi jenis penelitian,

sifat penelitian, tehnik pengumpulan data, pendekatan-pendekatannya dan analisa

data.

1. Jenis penelitian.

Kajian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yang mana lebih

mengutamakan bahan perpustakaan sebagai sumber utamanya. Karena ini studi

tokoh maka ada dua metode pokok untuk memperoleh pemikiran tokoh tersebut.

Pertama, penelitian pikiran dan keyakinan tokoh tersebut. Kedua, penelitian

(19)

2. Sifat Penelitian.

Studi yang merupakan penelitian pustaka ini lebih kepada teknik

deskriptif-analisis. Yang dimaksud dengan deskriptif dalam konteks ini adalah

menggambarkan karakteristik dan fenomena yang terdapat dalam masyarakat atau

literatur. Dengan kata lain karakter dan fenomena yang dikaji dalam penelitian ini

ialah karakter dari Hasyim Muzadi dan fenomena yang mempengaruhi

pemikirannya. Adapun analisis disini adalah analisis dalam pengertian historis,

yakni meneliti akar sejarah yang melatarbelakangi gagasan beliau, dalam hal ini

penulis lebih memfokuskan pada aliran pemikiran Islam kontemporer yakni

modernis dan neo-modernis yang penulis anggap sebagai representasi dari beliau.

3. Tehnik Pengumpulan Data.

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua macam yaitu : data

primer dan data sekunder. Karya-karya asli dari beliau baik buku, artikel dan

kumpulan tulisan yang dibukukan dianggap sebagai data primer. Sedangkan karya

yang mengkaji tentang gagasan beliau dan hasil-hasil penelitian yang relevan

dengan kajian ini dimasukkan sebagai data sekunder.

4. Pendekatan.

Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif

dan sosio-historis. Yang dimaksud pendekatan normatif ialah suatu pendekatan

untuk menjelaskan masalah yang dikaji dengan norma atau hukum (fiqih) yang

berlaku sebagai upaya penegasan. Hal ini penting untuk dilakukan karena

diskursus Islam dan negara merupakan bagian dari kajian hukum Islam,

(20)

Adapun pendekatan sosio-historis yaitu pendekatan yang menyatakan bahwa

setiap produk pemikiran itu merupakan hasil interaksi pemikir dengan lingkungan

sosio-kultural dan sosio-politik yang mengitarinya. Berkaitan dengan penelitian

ini sudah barang tentu sosial politik dan kultur yang melatarbelakangi metode

pemikiran Hasyim Muzadi akan dikaji sepanjang peristiwa tersebut

mempengaruhi pemikiran beliau dalam masalah ini.

F. Sistematika Penulisan

Dalam pembahasan ini penulis membagi menjadi lima bab. Bab pertama

memuat pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan dan kegunaan, telaah pustaka, metodologi penelitian, dan yang terakhir

sistematika pembahasan.

Bab kedua melacak asal-usul dan tipologi pluralisme agama, relasi agama

dan negara dalam sejarah politik Islam, yang tentunya berimplikasi terhadap

pemikiran tokoh politik Islam Indonesia dalam mengkaji hubungan Islam dan

negara di Indonesia. Yang dalam pembahasannya kedua perspektif tersebut akan

dihadapkan pada tokoh yang dikaji.

Bab ketiga memaparkan biografi Hasyim Muzadi. Penelaahan ini meliputi

latar belakang sosial dan prilaku politik beliau dalam menggagas pluralism agama

serta relasi Islam dan negara di Indonesia. Bab ini juga menyinggung sedikit

cita-cita ideologi negara yang beliau perjuangkan sebagai repesentasi tokoh muslim

yang peduli terhadap bangsa.

Bab keempat menganalisa pemikiran beliau tentang relasi Pluralisme

(21)

pancasila. Selain itu, bab ini juga berusaha menjelaskan implikasi gagasan beliau

terhadap tokoh politisi muslim Indonesia dan pemikiran politik Islam generasi

saat ini.

Bab kelima penutup, berisi kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan

dimaksudkan untuk memperlihatkan letak signifikansi penelitian ini dengan

penelitian sebelumnya, dengan memberikan konklusi pemikiran Hasyim Muzadi

tentang pluralisme agama serta hubungan Islam dan negara di Indonesia,

sedangkan saran-saran ditujukan bagi para penulis atau peneliti yang akan

(22)

BAB II

NEGARA DAN PLURALISME

A.Pengertian Negara

Negara adalah suatu daerah atau wilayah yang ada di permukaan bumi di

mana terdapat pemerintahan yang mengatur ekonomi, politik, sosial, budaya,

pertahanan keamanan, dan lain sebagainya. Di dalam suatu negara minimal

terdapat unsur-unsur negara seperti rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat

serta pengakuan dari negara lain. 8

Istilah negara di terjemahkan dari kata-kata asing yaitu “steat” (bahasa

Belanda dan Jerman). “state” (Bahasa Inggris. “Etat” (bahasa Perancis). Kata

“Staat, State, etat itu diambil dari kata bahasa latin yaitu “status” atau statum”

yang artinya keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifata yang

tegak dan tetap. Kata “status” atau “statum” lazim diartikan sebagai “standing”

atau “station” (kedudukan) yang dihubungkan dengan kedudukan persekutuan

hidup manusia sebagaiman diartikan dalam istilah “Status Civitatis” atau “Status

Republicae”. 9

Sejak kata “negara” diterima secara umum sebagai pengertian yang

menunjukkan organisasi teritorial suatu bangsa yang memiliki kedaulatan. Negara

pun mengalami berbagai pemahaman tentang hakikat dirinya. Negara merupakan

integrasi dari kekuasaan Politik, negara adalah organisasi pokok dari kekuasaan

politik. Negara adalah agency (alat) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan

untuk mengatur hubungan-hubungan masyarakat dan menertibkan gejala-gejala

8

Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia PustakaUtama, 2008), h. 51

9

(23)

kekuasaan dalam masyarakat. Negara adalah organisasi yang dalam sesuatu

wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan

kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan

bersama itu. Negara menetapkan cara-cara dan batas-batas sampai dimana

kekuasaan dapat digunakan dalam kehidupan bersama itu, baik oleh individu dan

golongan atau asosiasi maupun oleh negara sendiri.10

Pengertian Negara Berdasarkan Pendapat Para Ahli :

a. Roger F. Soltau : Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau

mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.

b. Georg Jellinek : Negara merupakan organisasi kekuasaan dari kelompok

manusia yang telah berdiam di suatu wilayah tertentu.

c. Prof. R. Djokosoetono : Negara adalah suatu organisasi manusia atau

kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.

Negara mempunya dua tugas yaitu :

1. Mengendalikan dan menatur gejala-gejalah kekuasaan yang asosial.

Yakni yang bertentangan satu-sama lain. Supaya tidak anatagonistik

yang membahayakan.

2. Mengorganisasikan dan mengintergrasikan kegiatan manusia dan

golongan-golongan ke arah tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat

seluruhnya.11

10

Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, h. 82

11

(24)

B.Pengertian Pluralisme

Pluralisme terdiri dari dua suku kata yaitu Plural yang berarti jamak; lebih

dari satu,12 dan isme sufiks pembentuk nomina sistem kepercayaan berdasarkan

politik, sosial, atau ekonomi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pluralisme

berarti keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial

dan politiknya).13 Dalam tulisan ini, penulis akan lebih mengkonsentrasikan

pembahasan pada pluralisme agama.

Dalam wacana pemikiran Islam, pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia Islam terutama sejak era reformasi gereja yang terjadi pada abad ke-15 yang berpengaruh besar terhadap perubahan dalam aspek sosial, budaya, dan terutama pemikiran. Di sisi lain, Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas pada saat ini di dalam maupun di luar Arab. Menurut Asghar Ali, pada dasarnya tujuan Pluralisme adalah

persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan

(equality), dan keadialan sosial (sosial justice).14

Dalam kaitannya dengan pluralisme, Islam sangat menekankan pada dua

aspek dasar, yaitu :

1. Kesatuan manusia (unityofmankind).

2. Keadilan di semua aspek kehidupan.15

Keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat

lemah dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka

untuk menjadi pemimpin.16 Menurut pendapat Muhammad Quttub, Islam

12

(25)

memberikan hak-hak yang penting terhadap semua orang tanpa perbedaan

apapun. Islam menyatukan semua jenis karena pada hakikatnya mereka

sama-sama manusia dan juga menjamin kebebasan mutlak untuk memilih agama di

bawah penjagaan dan perlindungannya. 17

Pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda. Allah menjelaskan

bahwa dengan perbedaan itu manusia dituntut untuk saling mengenal, lita

arofu.18 Namun ketika seseorang memahami sebagai kebenaran mutlak yang ia

yakini, orang itu kerap kali terjebak dalam pandangan yang mengarah pada

konflik, pertikaian antara seorang muslim dan non-muslim atau mungkin diantara

sesama Muslim yang berbeda faham. Bagaimana menjembatani

perbedaan-perbedaan ini sehingga memungkinkan terwujudnya perdamaian?

Hal itu menurut Khamami Zada, sangat terkait dengan bagaimana

seseorang memahami agama lain sebagai sesuatu yang mempunyai jalan

tersendiri. Allah telah menyebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 48, likullin

ja’alna minkum siratan wa minhaja’, (untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami

berikan aturan dan jalan yang terang) dalam setiap agama itu ada syari’atnya

sendiri, jalannya sendiri, yang memiliki kebenarannya masing-masing. Tanpa

memahami kebenaran mutlak di masing-masing agama, kita akan sulit

menemukan perdamaian diantara agama-agama itu sendiri. Disinilah kekurangan

umat Islam ketika memahami agama lain sebagai sesuatu yang lain, ‘ the others’.

Agama lain harus dipahami sebagai suatu realitas yang ada dimasyarakat.19

17

Muhammad Quttub, Islam Agama Pembebas, fungky kusnaedi timur (terj) (Yogyakarta Mittra Pustaka, 2001), h. 368.

18

Baca QS. Al-Hujurrat (49) : 13

19

(26)

Islam sebaiknya tidak sekedar didakwahkan dalam perspektif yang

lahiriyah, persoalan-persoalan keakhiratan yang melupakan dimensi sosial. Kalau

Islam didakwahkan secara inklusif, dan bisa memahami agama-agama lain

sebagai suatu realitas kebenaran tersendiri, maka Islam akan benar-benar menjadi

agama rahmatan lil ’alamain.20

Oleh karena itu, Budhi Munawar-Rahman, menjadi penting untuk disadari

adalah memposisikan fungsi kritis terhadap agama yang harus dilakukan dengan

menjauhi sikap-sikap yang bersifat totaliter.21 Disamping itu agamapun dituntut

untuk mangadakan kritik terhadap dirinya sendiri, karena keberadaan agama telah

mendasarkan diri pada iman kepada Tuhan “pencipta manusia” bukan Tuhan

“ciptaan manusia”.22 Agama juga tidak bisa apolitis dalam pengertian hanya

membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan

individu kepada Tuhannya, tetapi perlu terlibat kedalam proses transformasi

sosial.23

Abdul Wahid Hamid mengatakan, suatu ciri khas ajaran Islam adalah

keyakinan bahwa agama Islam itu suatu cara hidup yang lengkap dan menyeluruh.

Agama yang mempunyai hubungan integral dan organik dengan politik dan

masyarakat. Ideal Islam itu terbayang dalam perkembangan hukum Islam yang

merupakan suatu hukum yang serba mencakup.24 Sebagai ajaran yang benar,

20

Ibid., h. 75.

21

(27)

Islam pada dasarnya bisa diterapkan disepanjang masa dan dimanapun (shalihun li

kulli zaman wa makam).25

Dalam tiap langkahnya, seorang muslim akan selalu berhadapan dengan

Tuhan yang terepresentasikan melalui syari’atnya. Disini tanggung jawab individu

menjadi jelas, karena kehadiran Tuhan dalam perasaan manusia saja sudah cukup

membuat setiap manusia benar-benar sadar akan kewajibannya, demikian menurut

pendapat Khurshid Ahamad.26 Mengutif pernyataan Fazrul Rahman, kenyataan

yang peling mendasar tentang Islam dalam abad sekarang ini adalah kemerdekaan

dari kekuasaan asing yang dicapai oleh rakyat-rakyat Muslim diberbagai negri

mereka.27 Dengan mengacu pada kenyataan seperti itu, maka Islam telah

memainkan peran yang menentukan dan dominan.

Menurut Anis Malik Toha gagasan plurarisme agama dalam wancana pemikiran Islam baru muncul pada masa-masa Perang Dunia II, yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya barat. Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wawancara pemikiran Islam, antara lain melalui karya-karya pemikiran mistik barat seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Zaeni) dan Frithjob Schuon (Isa Nurdin Ahmad). Karya-karya

mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The Transcendent Unity of

Religion, sangat syarat dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh kembangnya wacana pluralisme agama.28 Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh muslim syiah moderat, adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan “Islam tradisional”. Keberhasilannya dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama tersebut mengantarkannya pada sebuah posisi ilmuan kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama besar seperti Ninian Semart, John Hick, Annemarie Schimmel. Nasr mencoba menuangkan tesisnya pada

25

Abdul Wahid Hamid, Islam Cara Hidup Alamiah, Arif Rahmat (terj.), (Yogyakarta: Lazuardi, 2001), h. 301

26

Khurshid Ahmad, Pesan Islam, Ahsin Muhammad (terj.), (Bandung: Pustaka, 1983), h. 121.

27

Fazlur Rahman, Islam, Ahsin Muhammad (terj.), (Bandung: Pustaka, 1984), h. 365.

28

(28)

pluralisme agama dalam kemasan sophia perenis atau perenial wisdom

(al-hikmat al-khalidah, atau kebenaran abadi), yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi dibalik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah

dikenal manusia semenjak Adam ‘alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk

atau menyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sumgguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada simbol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama yang satu. Dari sini dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Demikian penuturan Anis Malik Toha.29

Hamdi Fahmy mengatakan, pluralisme sebagai paham yang merambah dalam bidang agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda tapi ujungnya sama yaitu aliran kesatuan transenden agama-agama (transcenden unity of religion) dan teologi global. Yang pertama lebih merupakan protes terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan pendukung grakan globalisasi. Pendekatan yang dipakai oleh aliran teologi global terhadap agama-agama lebih bersifat sosiologis, kultural dan idiologis. Bersifat sosiologis dan kultural karena agama-agama yang ada di dunia ini harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat modern yang plural. Idiologis sebab ia telah mejadi bagian dari program gerakan globalisasi yang jelas-jelas memasarkan ideologi barat. Akibatnya, menurut Malcom Walter globalisasi yang datang bersama dengan kapitalisme ini malah membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuatan lainnya. Karena kenyataannya gerakan globalisasi ini telah membawa ideologi baru yang bertujuan agar semua menjadi terbuka dan bebas menerima ideologi dan nilai-nilai kebudayaan barat seperti demokrasi, hak asasi manusia, feminisme/gender, liberalisme dan sekularisme.30

Menurut Amin Abdullah, dalam konteks keIndonesiaan terlepas dari sejarah besar pluralisme. Kerukunan antar umat beragama sangat penting dan sangat dibutuhkan bagi bangsa yang majemuk dalam hal agama seperti halnya di Indonesia. Keanekaragaman (pluralisme) agama yang hidup di Indonesia termasuk di dalamnya keanekaragaman paham keagamaan yang ada di dalam tubuh intern umat beragama adalah merupakan kenyataan historis.31 Jika toleransi dalam beragama tidak ditegakkan, maka negara atau bangsa tersebut akan menghadapi berbagai konflik antar pemeluk masing-masing agama dan dapat menyebabkan

29

Diakses dari tulisan Anis Malik Toha, http://www.hidayatulloh.comcontent&task =view&id =1406&Itemid=0

30

Ditulis oleh Hamdi Fahmy, diakses dari http://www.insistnet.com/content/view/25/34/,

31

(29)

disintegrasi. Untuk memberi perhatian khusus kepada masalah kerukunan antar umat beragama, harus diupayakan untuk memahami masalah yang sebenarnya dan dapat menemukan cara untuk menciptakan kerukunan itu (jika belum ada), atau menumbuhkan serta mengembangkan (jika telah ada). Ada beberapa ayat yang secara tegas mengatur pluralisme agama yang menyebutkannya dengan jelas. Selain ayat dalam Qu’an surat al-Kafirun, ada satu ayat lagi yang tegas-tegas menyatakan bahwa agama tidak bisa dipaksakan kepada seseorang, yaitu al-Baqarah: 256 yang

artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang salah. Karena itu siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”.

Ayat di atas sebenarnya mengajarkan bahwa Allah telah menjelaskan

mana yang benar dan mana yang salah, atau lebih tegasnya mana agama yang

benar dan mana agama yang tidak benar (yang dalam al-Qur’an disebut ajaran

thagut). Sesungguhnya misi Islam yang paling besar adalah pembebasan. Dalam

konteks dunia modern, ini berarti Islam harus membebaskan manusia dari

kungkungan aliran pikiran dan filsafat yang menganggap manusia tidak

mempunyai kemerdekaan, demikian menurut Kuntowijoyo.32 Dengan visi teologis

semacam itu, islam sesungguhnya menyediakan basis filsafat untuk mengisi

kehampaan spiritual yamg merupakan produk dunia modern.33

Dari kacamata Islam, kemajemukan adalah sunnatullah (hukum alam).

Masyarakat yang majemuk ini tentu saja memiliki budaya dan aspirasi yang

beraneka, tetapi mereka seharusnya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada

superioritas antara satu suku, etnis atau kelompok sosial dengan lainnya. Mereka

juga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan

politik. Namun kadang-kadang perbedaan ini menimbulkan konflik di antara

(30)

mereka. Maka sebuah upaya untuk mengatasi permasalahan ini dimunculkan

konsep atau paham kemajemukan (pluralisme).34

Untuk mewujudkan dan mendukung pluralisme tersebut, diperlukan

adanya toleransi. Meskipun hampir semua masyarakat yang berbudaya kini sudah

mengakui adanya kemajemukan sosial, namun dalam kenyataannya, permasalahan

toleransi ini masih sering muncul dalam suatu masyarakat. 35 salah satu wujud

nyata dari sikap toleran adalah adanya dialog-dialog yang berfungsi menjembatani

sekian kebuntuan yang ada. Dengan menilik kasus kartunisasi Nabi Muhammad

oleh Jyllands Posten salah satu koran di Denmark beberapa waktu yang lalu,

kasus Salman Rusdie di Inggris (1969), Ishioma Daniel di Nigeria (2002), dan

Theo Van Gogh di Belanda (2004), meski dalam konteks yang berbeda, namun

menyisakan persoalan serius dan kompleks dalam kaitannya dengan komunitas

ditingkat regional maupun global. Di antara persoalan yang belum serius

didialogkan menurut Muhammad Ali adalah ketegangan antara kebebasan

ekspresi dan penghormatan terhadap keyakinan agama atau ideologi tertentu,

hubungan antara hukum dari sebuah negara dan kebebasan pers, hubungan antara

berbagai etika dunia, maka kebebasan itu sendiri dalam hukum internasional,

antara hukum-hukum adat atau budaya kawasan dan peradaban, dan sebagainya.36

Dialog antar pemeluk agama dan dialog antar kawasan seperti disinggung

Ali harus didukung. Ini penting karena masih berkembangnya ignorance

(ketidaktahuan) dalam bentuk penghubung intrinsik antara islam dan terorisme,

Islamophobia, xenophobia, dan semacamnya. Dipihak lain dikalangan umat Islam,

34

Nur Ahmad (ed.), Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, (Jakarta: kompas, 2001), h. 11-12.

35

Ibid, h. 21

36

(31)

masih ada tindakan emosional anarkis mengusir atau membunuh orang asing yang

tidak ada sangkut pautnya, ekstrimisme radikal dan kebencian terhadap bangsa

dan budaya asing (xenophobia). Reaksi-reaksi emosional dan ekstrim

menunjukkan kurangnya pemahaman akan sejarah peradaban bangsa lain. Salah

satu ketidak tahuan disebagian media masa barat adalah memposisikan tokoh nabi

seperti tokoh-tokoh politik lainnya. Seorang muslim mungkin tidak cukup religius

dalam beribadah, tapi jika nabi mereka disinggung rasa panatisme keagamaannya,

mereka sangat tinggi. Di Indonesia misalnya, tradisi pembacaan barzanji sangat

populer yang memuat puji-pujian terhadap Nabi (bahkan di Cikoang Sulawesi

Selatan acara maulud memperingati kelahiran) Nabi Muhammad menjadi paling

meriah sepanjang tahun, meskipun mereka kurang memperhatikan ibadah. Di

kalangan umat Islam kecintaan umat nabi ini ada yang berlebihan, ada yang

moderat, ada yang tidak terlalu peduli, dan bentuknya juga bermacam-macam

sesuai pemahaman keagamaan dan tradisi masing-masing. Hal-hal semacam ini

kurang atau tidak dipahami sebagian masyarakat Barat yang menganggap biasa

membuat kartun.37

Dipihak lain menurut Muhammad Ali lagi, umat Islam juga perlu

memahami konteks tradisi Barat yang sebetulnya sangat majemuk termasuk dalam

memaknai kebebasan berekspresi. Misalnya, dimuseum-museum di Eropa, banyak

sekali patung-patung dan lukisan-lukisan telanjang, karena mengandung nilai seni

yang tinggi dan dihargai masyarakat. Masyarakat Barat juga menjunjung

nilai-nilai etika kemanusian yang tidak selalu berseberangan dengan etika dikawasan

lain. Karena itulah, dialog, antar budaya sungguh penting, untuk memahami

37

(32)

sejarah dan tradisi masing-masing dan untuk kemudian saling menghargainya

hubungan antara seni, kebebasan, tradisi, dan keyakinan agama inilah salah satu

persoalan yang harus didialogkan.38

Disamping itu juga dalam kenyataanya, sikap-sikap tidak toleran itu tidak

semata-mata disebabkan oleh faktor internal masing-masing kelompok, tetapi

sering juga disebabkan oleh faktor eksternal, misalnya karena kebijakan politik

pemerintah tertentu atau kekuasaan politik global dan kekuatan dunia tertentu.39

Dalam dunia ilmu pengetahuan istilah pluralisme sekarang ini dikembangkan

secara luas oleh para ilmuan sosial. Pada level yang minimal istilah ini

semata-mata mengacu kepada heterogenitas. Di kalangan para ilmuan politik, antropolog,

sosiolog politik, misalnya, terjadi perselisihan apakah prulalisme itu menghambat

atau melindungi pemerintah demokratik. Menurut Philip E. Hammond, para

teoritisi juga berbeda dalam memahami bagaimana pluralisme bekerja, apakah ia

menyediakan beragam saluran bagi pemegang kekuasaan atau menyediakan

tempat perlabuhan kelompok bagi individu yang teralienasi. Di samping itu juga

ada sebuah penegasan bahwa pluralisme memungkinkan bagi keanggotaan

kelompok yang bermacam-macam bahkan saling berlawanan, sehingga

menjadikan konflik politik lebih sering terjadi pada tataran individu atau

kelompok dari pada faksi-faksi politik yang saling bersaing.40

Namun dialog yang disusul oleh toleransi tanpa sikap pluralistik tidak akan

menjamin tercapainya kerukunan antar umat beragama yang langgeng. Secara

38

Ibid., h. 6

39

Nur Ahmad, Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, h. 13.

40

(33)

garis besar pengertian konsep pluralisme meminjam definisi yang dikemukakan

oleh Alwi Shihab dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang

adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap

kenyataan kemajemukan tersebut. Pluralisme agama dan budaya dapat kita jumpai

dimana-mana. Di dalam masyarakat tertentu, di kantor tempat orang bekerja.

Tetapi seseorang dikatakan menyandang sifat tersebut apabila ia dapat

berinteraksi positif dalam lingkungan kemajemukan tersebut. Dengan kata lain,

pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan

saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi terlibat dalam usaha

memahami perbedaan dan persamaan guna terciptanya kerukunan, dalam

kebhinekaan.41

Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme.

Kosmopolitanisme menunjuk kepada suatu realita dimana aneka ragam agama,

ras, bangsa hidup berdampingan disuatu lokasi. Sebagi contoh adalah kota New

York. Kota ini adalak kota kosmopolitan. Di kota ini terdapat orang Yahudi,

Kristen, Muslim, Hindu, Budha, bahkan orang-orang yang tanpa agama sekalipun.

Seakan seluruh penduduk dunia berada di kota ini. Namun interaksi positif antar

penduduk ini, khususnya dibidang agama, sangat minimal, kalaupun ada.42

Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Seorang

relativis akan berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut “kebenaran” atau “nilai”

ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir seseorang atau

masyarakatnya.

41

Alwi shihab, Islam Inklusif (Bandung: Mizan, 1999), h. 41.

42

(34)

Sebagai contoh, “kepercayaan/kebenaran” yang diyakini oleh bangsa

Eropa bahwa “Colombus menemukan Amerika” adalah sama benarnya dengan

“kepercayaan/kebenaran” penduduk asli benua tersebut yang menyatakan

“Colombus mencaplok Amerika”.

Sebagai konsekwensi dari paham relativisme agama, doktrin agama apa

pun harus dinyatakan benar. Atau tegasnya “semua agama adalah sama”, karena

kebenaran agama-agama, walaupu berbeda-beda dan bertentangan satu dengan

lainnya, tetapi harus diterima. Suatu kebenaran universal yang berlaku untuk

semua dan sepanjang masa.43 Namun yang menjadi persoalan adalah manusia

memiliki karakter yang berbeda-beda, dan ketika dalam sosial praksis akan

menimbulkan dampak pada perubahan sosial.

Teggart menegaskan perubahan sosial muncul dari perbenturan berbagai

kelompok dari habitat yang berbeda-beda dan oleh karenanya memiliki sistem ide

yang berbeda. Jika Teggart mengasumsikan bahwa sejarah manusia hanya

merekam sejumlah kecil situasi pluralistik yang stabil (yakni, sebuah habitat

dengan beragam sistem ide), maka dia sangat mungkin benar.44

Menurut Ignas Kleden, dikotomi yang dibuat oleh sementara psikologi

agama, antara agama sebagi agama, dan agama sebagai yang dihayati dalam

kesadaran para penganutnya, barangkali tidak akan diperhatikan dalam tulisan ini.

Sebab bagaiman pun agama sebagai suatu entitas abstrak yang dilepaskan sama

sekali dari kenyataan bagaiman dia dihayati adalah sangat sulit dibayangkan.

Sedangkan, bila agama dilihat sebagai suatu realitas manusiawi yang muncul

sebagai akibat pergulatan manusia dengan seluruh lingkungannya yang berarti

43

Ibid., h. 42.

44

(35)

bahwa agama adalah suatu hasil kebudayaan juga, maka pengandaian suatu agama

sebagai entitas abstrak, adalah suatu pengandaian yang secara metodologis tidak

berguna. Dengan itu mau dikatakan bahwa filsafat yang melihat agama secara

ontologis tidak akan banyak membantu mencari kemungkinan dialog antar agama.

Sebab, ontologi lebih berhubungan dengan substansi, unsur yang berdiri sendiri,

yang berbeda dan tak tergantung kepada unsur lain, yang menyebabkan sesuatu

itu ada dasar dirinya. Ontologi justru mengandaikan dan menekankan distansi dan

esensi yang mutlak dan karena itu ontologi merupakan otonomi yang tertutup.45

Sebaliknya agamapun tidak diidentikkan dengan batas-batas psikologis

yang sering justru hendak diterobos oleh tuntutan dan harapan keagamaan. Dua

reserve disini untuk menghindari terjebaknya agama kedalam kemungkinan

Psychologisierung der Religion. Yang Pertama adalah unsur supranatural,

merupakan elemen trensenden dalam tiap agama yang menyebabkan bahwa

agama tidak mutlak membutuhkan suatu stratum psikologis sebagai conditio sin

qua non untuk tumbuh dan berkembang dalam penghayatan para penganutnya.

Misalnya beberapa eksperimen studi psikiatri terhadap kehidupan rohani beberapa

orang kudus, sama sekali tidak menggoncangkan alasan untuk tetap mengakui

kekudusan mereka. Demikian pula seandainya ada pertemuan-pertemuan empiris

yang bisa menunjuk indikasi-indikasi kuat tentang adanya psikose tertentu yang

mereka derita dan alami selama hidupnya. Yang kedua adalah, bahwa

hukum-hukum psikologis tidak selalu merupakan batas-batas yang harus diterima oleh

suatu agama. Agama dan tuntunannya sering malah berusaha keluar dari siklisme

psikologis semacam itu. Demikian, maka tidak berarti bahwa agama selalu

45

(36)

bersifat menentang kecenderungan-kecenderungan manusiawi. Namun mungkin

bahwa apa yang dicita-citakan suatu agama mengisyartatkan pula pengakuan akan

terbatasnya kemampuan manusia dalam mengindentifikasikan dirinya sendiri, dan

di depan suatu realitas dan aktifitas ilahi, manusia justru ditantang untuk

mengatasi ikatan-ikatan dari dunianya, batas-batas psikologisnya dan

persyaratan-persyaratan imanensinya.46

Harus dicatat bahwa meningkatnya kecerdasan manusia menyebabkan ia

mencari sendiri kebenaran primer yang belum terpecahkan oleh ilmu

pengetahuan. Di sisi lain, menyebar luaskan agama, propaganda (dalam arti

netral), atau evanggeli merupakan persoalan manusia dalam hidupnya yang telah

berjalan sekurang-kurangya 25 abad. Ada agama yang non-evanggelis, seperti

Yahudi yang justru bersikap ekslusif dan tidak dengan aktif menyebar-luaskan

agamanya.47

Amin Abdullah menyatakan, dapat dibayangkan bagaimana kulaitas

tingkat kenyamanan, ketenangan, kedamaian suatu masyarakat beragama yang

bersifat pluralistik, jika masing-masing secara sepihak dan tertutup mengklaim

bahwa tradisi agamanya sendirilah yang paling sempurna dan benar. Dan jika

klaim itu merambah ke wilayah historis-ekonomis-sosiologis, maka kedamaian

yang diserukan dan didambakan oleh ajaran agama-agama akan terkikis dengan

sendirinya dalam kenyataan hidup keseharian. Meskipun secara

ontologis-metafisis, klaim seperti itu memang dapat dimengerti, namun belum tentu dapat

dibenarkan, karena memang itulah salah satu inti keberagamaan yang sebenarnya.

Artinya, bahwa hard core dari pada pandangan hidup agama-agama yang

46

Ibid,. h. 154-155

47

(37)

beraneka ragam memang berbeda. Sedangkan hard core keberagamaan hanya

dapat dinikmati secara historis, lewat sekat-sekat teologis yang ada.48

Perubahan sosial dalam Islam, hendaknya dilihat dari segi agama dan

perubahan yang lebih luas. Manusia telah dikaruniai dengan kesadaran diri,

intelek, dan imajinasi. Kecakapan-kecakapan inilah yang membedakannya dengan

alam semesta lainnya, selain merupakan kenyataan bahwa dirinya juga merupakan

bagian dari dirinya. Menurut John L. Eposito, agama adalah suatu sistem

kepercayaan yang menempatkan dirinya (sebagi alat bantu bagi manusia) dalam

upaya menghadapi kesulitan tersebut, serta kemudian menjadikan manusia agar

betah di dalamnya.49 Quraish Shihab mengatakan, pada hakikatnya, khususnya

dalam kehidupan bermasyarakat dimana perbedaan-perbedaan sangat

dimungkinkan, Islam lebih mementingkan isi dan makna dibandingkan dengan

bentuk-bentuk.50

Diakui bahwa, dalam sejarah agama-agama, telah terjadi pertikaian antara

pemeluk agama yang sama atau antar pemeluk berbagai agama. Namun,

pertikaian tersebut lebih banyak disebabkan oleh kepentingan-kepentingan non

agama. Dapatkah umat masa kini menemukan pandangan dan jalan yang telah

ditempuh oleh generasi terdahulu yang hidup berdampingan dan harmonis?. Kalau

jalan tersebut tidak dapat ditemukan oleh pimpinan-pimpinan agama-agama

sendiri, maka ketika itu mereka harus membenarkan pandangan yang menyatakan

bahwa ada krisis agama. Karena dengan demikian, agama telah menjadi sumber

48

M. Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas. h. 14-15.

49

John L. Esposito, Dinamika Kebangunan Islam Watak, Proses Dan Tantangan, Bakri Siregar (terj.), (Jakarta: Rajawali Pers, 1987), h. 293.

50

(38)

keresahan pemeluknya dan tidak heran bila agama hanya akan tinggal sebagai

kenangan buruk sejarah.51

Diskursus mengenai agama sangat sarat dengan muatan emosi,

kecenderungan dan subyektifitas individu. Agama memiliki ajaran yang sangat

ideal dan cita-citanya sangat tinggi, bagi pemeluk fanatiknya, ia merupakan

“benda” yang suci, sakral, angker, dan keramat. Ia selalu menawarkan

jampi-jampi keselamatan, kebahagiaan, dan keadilan. Namun kenyataan berbicara lain,

agama tak jarang justru melahirkan permusuhan dan pertengkaran. Menurut

Ahmad Najib Burhani, fenomena ini dilatari oleh: pertama, pendewaan agama.

Manusia sering terjerumus untuk mendewakan agama, istilah-istilah agama dan

pemuka agama. Tuhan beserta segala sifat yang menyelimuti-Nya berulang kali

hilang dari ingatan. Prinsip-prinsip agama dan ajaran sucinya juga mengalmi nasib

yang sama, mereka nyaris habis terpangkas dan tinggal jargon-jargon yang tidak

mempunyai nyali. Di sini agama bukan lagi sebagai amalan, namun ia berubah

fungsi menjadi semisal markas jaringan “mafia”, sehingga tidaklah heran bila

kemudian muncul “manipulasi agama” dan “korupsi agama”.

Kedua, pengkelasan dalam berakhlak. Umat beragama sering terjebak

untuk lebih dekat kepada saudara-saudara “seagama” (in group feeling) dan

menomorduakan persahabatan dengan rekan dari agama lain. Hal ini

membuahkan sikap yang kurang obyektif dalam memandang apa yang ada di luar

diri sendiri. Misalnya sebagimana yang dikemukakan Moeslim Abdurrahman

dalam Islam Transpormatif, kendati keadilan sosial merupakan sendi utama

51

(39)

agama, namun jika keadilan sosial tidak menimpa “kita” atau saudara “kita”,

maka “kita” kurang menaruh perhatian.

Ketiga, monopoli kebenaran. Banyak agama atau bahkan seluruh agama

yang mengajarkan kebenaran absolut bagi pemeluknya. Merupakan suatu

kewajiban dan memang sepantasnya memberikan doktrin-doktrin keabsolutan

kebenaran agama. Namun kewajaran itu akan berubah menjadi ketidakwajaran

bila tanpa diiringi dengan anjuran penelitian dan pencarian argumen logis atas

doktrin orang lain. Lebih-lebih bila pemberian doktrin tersebut dibarengi dengan

penularan anggapan bahwa doktrin-doktrinnyalah yang benar, sementara yang lain

salah total. Dan akan semakin tragis apabila fenomena itu diiringi dengan

pelecehan agama lain.52

Dengan menggali ajaran-ajaran agama, meninggalkan fanatisme buta, serta

berpijak pada kenyataan menurut Qurais Shihab, jalan akan dapat dirumuskan.

Bukankah agama-agama monoteisme dengan sejarah ketuhanan Yang Maha Esa,

pada hakikatnya menganut universalisme. Tuhan Yang Maha Esa itulah yang

menciptakan seluruh manusia, seluruh manusia bersumber dari satu keturunan,

betapapun berbeda agama, bangsa atau warna kulit. Demikian ditegaskannya

pula.53

Menurut Ahmad Najib Burhani, teosentrisme atau wacana agama tentang

Tuhan hanya akan bermanfaat apabila sekaligus menjunjung tinggi tinggi

martabat manusia. Harmoni pada tingkat esoteris hanya akan menjadi

perbincangan verbal saja apabila tidak ada keterlibatan dalam memecahkan

masalah-masalah kemanusiaan yang bersifat global. Mengiyakan Tuhan tidak

52

Ahmad Najib Burhani, Islam Dinamis Menggugat Peran Agama Membongkar Doktrin Yang Membantu, (Jakarta: Kompas, 2001), h. 3-4.

53

(40)

berarti menyangkal manusia dan sebaliknya. Meski respon iman dialamatkan pada

Tuahan, tetapi komitmen dan respon ini tidak diperintahkan diaktualisasikan

dalam hubungan sesama makhluk. Bahwa bertuhan justru dipihak segenap

manusia, bukan hanya manusia anggota agamanya saja. Setelah menjawab sapaan

Tuhan, manusia harus ketahapan praktis melayani manusia sebagai hamba Tuhan.

Maka disarankan, keberagamaan perlu lebih humanistik-uneversal.54

Teologi harus lebih concern pada persoalan lingkungan hidup, tertib

sosial, dan masa depan kemanusiaan. Agama hanya cradible apabila dapat

menolak segala sikap yang bernapaskan kebencian, balas dendam, kepicikan,

pembunuhan dan pemaksaan serta mengembangkan sikap kebaikan hati, belas

kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan suku, budaya, ras,

gender, dan agama, keadilan, kebebasan, rasionalitas, kejujuran dan

keterbukaan.55

Sebaliknya masyarakat yang hendak diatur oleh agama senantiasa

mengalami perubahan dan oleh karena itu bersifat dinamis. Dalam ilmu semantika

disebutkan bahwa bahasa suatu bangsa tiap seratus tahun mengalami perubahan

dan perubahan dalam bahasa menggambarkan perubahan dalam masyarakat.56

Pluralisme agama dan multikulturalisme tidak hanya dalam suatu negara,

tetapi antar kawasan dan tingkat global, dalam arti menghormati perbedaan

persepsi dan keyakinan agama dan tradisi. Sebuah kepekaan

pluralis-multikulturalis, harus dikembangkan tidak hanya dikalangan umat Islam, tapi juga

menyangkut umat-umat antar agama dan persoalan-persoalan non-agama.

54

(41)

C.Pendapat Para Ahli Tentang Pluralisme

Menurut Robert N. Bellah dan Philip E. Hammond, para teoritisi juga berbeda dalam memahami bagaimana pluralisme bekerja, apakah ia menyediakan tempat perlabuhan kelompok bagi individu yang teralienasi. Di samping itu juga ada sebuah penegasan bahwa pluralisme memungkinkan bagi keanggotaan kelompok yang bermacam-macam bahkan saling berlawanan, sehingga menjadikan konflik politik lebih sering terjadi pada tataran individu atau kelompok.57 Di ungkapkan oleh Abdurrahman Wahid bahwa, jaminan dasar akan keselamatan keyakinan agama masing-masing bagi para warga masyarakat melandasi hubungan antar-warga masyarakat atas dasar sikap saling hormat-menghormati, yang akan mendorong tumbuhnya kerangka sikap tenggang rasa dan saling pengertian yang besar.58

Dalam kaitannya dengan bergulirnya arus globalisasi yang merambah

dalam seluruh sistem termasuk dalam agama Islam itu sendiri menurut Jhon L.

Esposito, akan melahirkan lapangan pengetahuan baru. Akan tetapi, studi tentang

modernisasi di dalam Islam sering memuat dikotomi yang tidak bertanggung

jawab: tradisi lawan perubahan, fundamentalisme lawan modernisme, stagnasi

lawan progres. Bagi kebanyakan analis pihak Barat maupun pihak skularis

muslim, Islam itu merupakan rintangan besar bagi perubahan politik dan sosial

yang berarti dalam dunia Islam. Bagi pihak aktivis Islam, dan para mukmin

lainnya, Islam itu secara abadi tetap serasi dan berlaku.59 Sebagi suatu sistem

nilai, Islam tentu saja tidak bisa merestui suatu masyarakat yang bersifat

laissez-faire. Ditegaskan oleh Fazlurrahman, dipihak lain, Islam mengetahui dengan baik

bahwa pemaksaan tidak akan membuahkan hasil, bahkan tidak akan bisa

bekerja.60

57

Robbert N Bellah dan Phillip E. Hammond, Beragama Bentuk Agama Sipil dalam Beragam Bentuk Kekuasaan Politik, Kultural, Ekonomi dan sosial, h. 212.

58

(42)

Indonesia sebagi bangsa yang majemuk, kaya akan khazanah sosial,

kebudayaan menyimpan potensi lebih. Sebuah kesepakatan umat Islam untuk

hidup dalam sebuah negara yang tidak akan pernah didasarkan pada pengakuan

formal atas Islam sebagai yang ‘terbaik’ secara objektif atau pelayanan

pemerintah yang terlalu berlebihan dari pada agama-agama lain.61

Bagi masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi pembangunan dalam

segala bidang, mewujudkan toleransi itu mendesak dengan banyak memberikan

penjelasan akan ajaran-ajaran agama yang menekankan toleransi. Dengan begitu

jiwa toleransi beragama dapat dipupuk dikalangan pemeluk masing-masing

agama.62 Terlebih masing-masing agama memiliki identitas sebagi simbol dan

pesan agama tidaklah secara seimbang ditangkap dan ditafsirkan oleh berbagai

lapisan sosial. Demikian dinyatakan Taufiq Abdullah.63

Jiwa toleransi beragama dapat dipupuk melalui usaha-usaha berikut:

1. Mencoba melihat kebenaran yang ada dalam agama lain.

2. Memperkecil perbedaan yang ada di antara agama-agama.

3. Menonjolkan persamaan-persamaan yang ada dalam agama-agama.

4. Memupuk rasa persaudaraan se-Tuhan.

5. Mengutamakan pelaksanaan ajaran-ajaran yang membawa kepada

toleransi beragama.

61

Greg Fealy, Greg Barton (ed.), Tradisionalisme Radikal, Ahmad Suaedy, A. Made Tonny Supriatna, Amiruddin Ar-Rany, dkk. (terj), (Yogyakarta: LKIS, 1997), h.204

62

Syaiful Muzani (ed.), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof.Dr. Harun Nasution (Bandung: Mizan, 1995), h. 275

63

(43)

6. Menjauhi praktik serang-menyerang antar agama. Mungkin hal-hal ini

dapat mengubah ketegangan hidup beragama yang dirasakan ada dalam

masyarakat kita sekarang.64

Dengan upaya menjunjung tinggi nilai dan semangat pluralitas tersebut,

maka diharapkan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang besar. Oleh

karena itu, penulis sepakat dengan pendapat Fazlur Rahman bahwa, setiap

peradaban besar mengembangkan beberapa ciri khas yang tersembunyi dibalik

ekspansinya yang luar biasa, atau bahkan tampaknya ciri khas yang tersembunyi

dibalik ekspansinya yang luar biasa, atau bahkan tampaknya ciri khas itu menjadi

kebajikan khusus karena mereka muncul untuk menyumbang terhadap

ekspansinya, tetapi ketika peradaban itu mencapi puncaknya ciri-ciri itu kembali

dipermasalahkan.65

D.Pro-kontra Tentang Pluralisme

Nur Khalik Ridwan berpendapat, bagi pegiat wacana pluralisme, mereka

memandang pluralisme adalah sebuah paham yang menegaskan bahwa hanya ada

satu kemanusiaan, yakni keragaman, heterogenitas dan kemajemukan itu

sendiri.oleh karena itu, ketika disebut pluralisme maka penegasannya adalah

diakuinya wacana kelompok, individu, komunitas, sekte dan segala macam bentuk

perbedaan sebagai fakta yang harus diterima dan dipelihara.dalam pluralisme

64

Syaiful Muzani (ed.), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof.Dr. Harun Nasution (Bandung: Mizan, 1995), h. 275

65

Harun Nasution & Azumardi Azra (peny.) Perkembangan Modern Dalam Islam,

(44)

keberadaan diakui adanya, dan karenanya bukan ingin dilebur dan disatukan

dalam bentuk homogenitas, kesatuan, tunggal, mono dan ika.66

Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu

penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena

itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk

yang datang dari luar Islam.67

Disamping itu akhir abad ke-21 ini ditandai oleh perubahan-perubahan

yang mencengangkan. Kenyataan tersebut menurut Bachtiar Effendi, telah

menghadapkan masyarakat agama kepada suatu kesadaran kolektif terhadap

penyesuaian struktural dan kultural.68 Keanekaragaman agama akan menjadi

kekuatan bangsa manakala agama-agama mampu hidup berdampingan secara

menyenangkan di sebuah negara.69

Namun bagi mereka yang begitu mencurigai akan bahaya pluralisme,

mereka menilai bahwa pluralisme merupakan proyek Barat. Maka menjadi

penting menelusuri lahirnya gagasan liberalisme dan pluralisme agama. Gagasan

protestanistik yang kini digandrungi sebagai Muslim sangatlah begitu pelik.

Proses liberalisme sosial politik, yang menandai lahirnya tatanan dunia abad

modern, semakin marak. Disusul kemudian dengan liberalisasi atau globalisasi

(baca: penjajahan model baru) ekonomi. Wilayah agamapun pada gilirannya

dipaksa harus membuka diri untuk diliberalisasikan.

Bachtiar Effendy, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan (Yogyakarta: Galang Press, 2001), h. 3

69

Referensi

Dokumen terkait

Di Negara Republik Indonesia, hak paten dirumuskan sebagai bak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu

Sementara mengenai miras dan tirkah yang sama-sama memasukkan hak sebagai sesuatu yang dapat diwariskan, dalam bentuk hak paten bisa diwariskan dengan cara

Penghapusan masing-masing ditujukan terhadap ketentuan Pasal 7 huruf a yang sebelumnya mengatur bahwa invensi di bidang makanan dan minuman tidak dapat diberikan

kebijakan yng dibuat dan dilaksanakan tentu memiliki sasaran. Sasaraan adalah pernyataan tentang kehendak yang sudah di identifikasi, dianalisis dan diekspresikan secara

Data primer yang dikumpulkan adalah data yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam memilih perguruan tinggi, yang diperoleh

Berdasarkan hasil uji sitotoksik ekstrak etanol kulit batang sirsak tidak memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel T47D, hal tersebut dikarenakan tidak semua senyawa yang

Pemberian morfin dalam dosis kecil (5-10 mg) akan menyebabkan euforia pada pasien yang sedang nyeri. Efek analgetik morfin dan opioid lain sangat selektif dan tidak disertai