Di Indonesia Pasca Orde Baru)
Oleh
Anang Lukman Afandi
NIM : 103 033 227 810
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
Pluralisme agama sepertinya menemui jaman keemasan kembali. Di saat masyarakat Indonesia sering terjadi konflik yang bernuansa agama, pembahasan tentang pluralisme akan kembali menjadi topik perbincangan para tokoh lintas agama di Indonesia. Dalam hal ini penulis akan mencoba untuk mengulas kembali makna pluralisme menurut salah satu tokoh moderat Islam yaitu Hasyim Muzadi, Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Kajian tentang pluralisme agama Hasyim Muzadi dalam skripsi ini dilatar-belakangi bahwa penulis menganggap bahwa selama ini masih sedikit karya-karya yang berisi pemikiran Hasyim Muzadi. Tujuan penulis adalah ingin memperdalam pengetahuan pemikiran-pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme serta langkah-langkah yang beliau lakukan guna memperjuangkan pluralitas keagamaan di Indonesia.
Hasyim Muzadi sebagai salah satu tokoh moderat yang konsisten memperjuangkan Pluralisme, menawarkan sebuah solusi atas kebuntuan dialog antar agama maupun keyakinan. Pluralisme dianggap sebagai sebuah keniscayaan untuk mempertahankan pluralitas keagamaan di Indonesia dan menjaga kerukunan antar umat yang berbeda agama maupun keyakinan sehingga dapat memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
ii
Alhamdulillah, sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, memberikan akal dan pikiran
kepada manusia sehingga dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan baik.
Sholawat dan salam semoga tercurahkan selamanya kepada Nabi Muhammad
SAW, berserta para keluarga, sahabat dan pengikutnya dan semoga menjadi
tauladan bagi kita semua.
Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing, dan mendukung penulis
secara fisik maupun moral dalam penyusunan skripsi ini yang tidak akan tercapai
kesempurnaan lantaran bantuannya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk dapat menempuh studi di kampus peradaban ini.
2. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Alimun Hanif, MA, selaku Ketua Jurusan Ilmu Politik Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
4. Bapak Dr. Sirojuddin Aly, MA, selaku pembimbing skripsi yang telah
meluangkan waktunya untuk selalu memberikan saran dan kritik guna
iii Hidayatullah Jakarta.
6. Ayahanda tercinta Imam Nawawi (Boniran) dan Ibunda tersayang
Khomsatun, Kakek Boyamin dan Mbok Samijem, orang tua penulis yang
tiada lelah memberikan do’a, semangat dan motivasi dengan kasih sayang
yang tak terhingga. Serta keluarga besar Imam Nawawi, Kakakku Ali
Murtadho, Yeni Siswanti serta saudara-saudaraku Shidiq dan kholil.
7. Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan KH. Bahruddin
yang telah mengasuh dan memberikan ilmu yang tak terhingga saat
penulis mondok di Pesantren Ciganjur dan Darul Hikam Ciputat.
8. Sahabat-sahabat selam kuliah di kampus tercinta UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, khususnya Usep Kholil, Dedi, Farid, Dian, Budi, Bayan, Hamid,
Furqon, Janan, Bagus, Yamin, Iwan, Hamdi, Fuad, dan semuanya yang
tidak penulis sebutkan satu per satu.
9. Sahabat dan teman kerja di Bio Team Ciputat, Andi, Shofyan, Zulfan,
Enjum, Ujang, Roy, Rifki, serta teman pondok di Pesantren Darul Hikam
Ciputat, Rahmat Kabir dan Shoghir, Harid, Fatoni, Tsani, Abu, Azis,
Malik, Iwan, Syu’eib, Firman dan semuanya.
10.Terkhusus untuk calon istriku tercinta, Umi Charisah yang telah
memberikan motivasi dan semangat sehingga penulis dapat segera
v
ABSTRAK ………. i
KATA PENGANTAR ………. ii
DAFTAR ISI ……….... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan ... 7
D. Tinjauan Pustaka ... 8
E. Metode Penelitian ... 9
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II NEGARA DAN PLURALISME A. Pengertian Negara ………. 12
B. Pengertian Pluralisme ……… 14
C. Pendapat Para Ahli Tentang Pluralisme ……… 31
D. Pro-Kontra Tentang Pluralisme ………. 33
E. Wacana Pluralisme di Indonesia ……….. 37
BAB III BIOGRAFI INTELEKTUAL & POLITIK HASYIM MUZADI A. Kehidupan Sosio-Kultural Hasyim Muzadi ……….. 41
B. Latar Belakang Pemikiran Hasyim Muzadi ……….. 44
vi
BAB IV PEMIKIRAN HASYIM MUZADI TENTANG PLURALISME
AGAMA DI INDONESIA
A. PEMIKIRAN PLURALISME HASYIM MUZADI ……… 49
1. Islam Rahmatan lil Alamin ………... 54
2. Pluralisme Teologis Dan Sosiologis ………. 55
3. Pendekatan Dialog Peradaban ……….. 56
4. Pluralisme Agama Sebagai Bagian dari Humanisme ….. 61
a. Dimensi Humanisme Dalam Agama ……… 61
b. Kerjasama Islam Dengan Agama Lain ……….... 64
B. PANDANGAN HASYIM MUZADI TERHADAP FATWA
MUI ……… 69
C. KOMITMEN MENJAGA PLURALITAS KEAGAMAAN.. 71
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ... 78
B. Saran-Saran ... 81
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam konteks masa depan Islam Indonesia khususnya serta Islam pada
umumnya yang terjadi hari ini justru yang muncul adalah indikasi yang kuat untuk
bersama-sama membangun paradigma baru tentang Islam terutama Islam
Indonesia di mata dunia Internasional. Karena Islam, terutama pasca serangan 11
September 2001 yang menghancurkan Gedung WTC (World Trade Centre), telah
dimaknai oleh Barat sebagai agama kekerasan, dan pada saat itu hal-hal yang
menyangkut agama menjadi kian sensitif. Padahal mayoritas masyarakat Islam di
Dunia tidak pernah menganggap Barat sebagai musuh.
Kasus hancurnya gedung World Trade Center (WTC) di New York dan
Pentagon di Washington DC, yang diduga dilakukan sekelompok ekstrimis Islam
di bawah komando Osama bin Laden membuat penilaian negatif masyarakat Barat
terhadap umat Islam semakin kencang dan hubungan keduanya mencapai titik
nadir.1
Kondisi itu mengakibatkan kaum muslim di dunia dipandang buruk dan
disebut sebagai pengikut ajaran agama yang dogmanya hanya menyebarkan teror
dan kekerasan. Pandangan yang sangat buruk itu terjadi karena masyarakat barat
melampiaskan kekecewaannya terhadap umat Islam yang diyakininya sebagai
kaum yang tidak bisa hidup berdampingan dengan kaum lainnya. Padahal
kebanyakan penduduk barat itu tidak tahu secara pasti ajaran Islam sesungguhnya
1
dan hanya didasari atas pemberitaan kasus terorisme dari media massa yang
pemberitaan dan content-nya hanya menyudutkan umat Islam, yang distigmakan
sebagai kaum yang lekat dengan dunia kekerasan dan tidak bisa berdamai dengan
ajaran lainnya. Sehingga membuat umat lain menjadi berang kepada umat Islam.
Tantangan yang dihadapi dewasa ini sebenarnya bukan dalam bidang
ekonomi, politik, sosial dan budaya, tetapi tantangan pemikiran. Sebab persoalan
yang ditimbulkan oleh bidang-bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya
ternyata bersumber dari pemikiran. Di antara tantangan pemikiran yang paling
serius saat ini adalah di bidang pemikiran keagamaan. Tantangan yang sudah lama
disadari adalah tantangan internal yang berupa fanatisme, taklid buta, bid'ah,
kurafat, dan sebagainya. Sedangkan tantangan eksternal yang sedang dihadapi saat
ini adalah masuknya paham liberalisme, sekulerisme, relativisme, pluralisme
agama dan lain sebagainya, kedalam wacana pemikiran keagamaan bangsa
Indonesia.2
Skripsi ini akan membahas salah satu tantangan eksternal dengan
memfokuskan pada makna pluralisme agama beserta sejarah, faktor-faktor,
penyebaran, dampak dan solusinya.
Pluralisme, selama ini bangsa Indonesia terlalu takut dan bahkan antipati
dengan kata ini. Memang kata ini sangat sensitif untuk dibicarakan, namun hal ini
bisa menjadi api dalam sekam kalau masyarakat dibiarkan dengan ketidaktahuan
mereka dengan istilah ini. Penulis tertarik dengan editorial yang disajikan redaksi
Media Indonesia dengan judul ”Untung Masih ada NU dan Muhammadiyah”3
2
Adian Husaini, Plurlisme Agama Haram (Jakarta: Perspektif, 2005), h. 2.
3
tulisan tersebut mencoba menggambarkan bagaimana keadaan bangsa Indonesia
yang majemuk menghadapi persoalan lintas agama.
Indonesia bukan negara yang baru pertama kali ini terbentur masalah lintas
agama. Sejak awal lahirnya persoalan lintas agama sudah menjadi diskusi menarik
antar tokoh bangsa. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia sudah sedari
dulu mewanti-wanti akan adanya benturan keagamaan jika masyarakat Indonesia
tidak mengedepankan pluralisme dan kebebasan beragama.4 Walaupun beliau
lebih dikenal orang sebagai seorang “abangan” dari pada seorang santri,5 namun
spirit itu tidaklah mati begitu saja. Dua organisasi yang sudah berdiri sejak
sebelum kemerdekaan yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah masih setia
mengedepankan tenggang-rasa dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Sikap
ini adalah wajib adanya demi menjaga kesatuan NKRI karena memang Indonesia
tidak hanya tersusun oleh satu agama saja. Indonesia mempunyai banyak budaya,
ras, suku, dan adat istiadat. Gesekan sosial rasial atau teologi sangatlah berpotensi
terjadi di tengah masyarakat. Dan bila pemerintah diam dan cenderung tidak
peduli dengan hal ini maka itu sama saja dengan membiarkan perang saudara
terjadi di mana-mana di pelosok negeri.
Tapi satu hal yang penulis soroti saat ini adalah adanya dua kutub yang
senantiasa memancarkan pengaruhnya di bumi Indonesia. Satu kutub berusaha
mengekstrimisasi umat beragama, dan satu kutub berusaha menjaga pluralitas
beragama. Dua kutub ini mau tidak mau pasti saling berlawanan. Berebut
pengaruh di masyarakat. Dan di sinilah letak keharusan masyarakat mengenal
4
Lihat http://www.republika.com/perjalanan-sejarah-indonesia-175.page.html
5
dengan baik apa itu pluralisme dan bagaimana seharusnya hidup di dalam bangsa
yang multi-kultural. Mungkin lebih bijak jika kita mulai membicarakan dari sisi
Islam karena Islam memang agama terbesar yang dianut di Indonesia. Islam sejak
awal lahirnya telah menampakkan nilai-nilai humaniora yang kental di
masyarakat. Dengan caranya yang santun para mubaligh Islam saat itu
menginfiltrasi budaya dan agama yang saat itu ada dengan ajaran Islam yang
rahmatan lil alamin tanpa merusak budaya lokal. Dari situlah Islam dikenal
bangsa Indonesia sebagai agama yang toleran. Tidak ada penghinaan terhadap
agama lain namun tetap wibawa menjaga kehormatannya. Bentuk keseimbangan
inilah yang kemudian menjadi dasar diterimanya Islam oleh masyarakat
Indonesia.
Bagaimana pun NKRI adalah harga mati dan pluralisme adalah
jaminannya. Tidak akan terwujud sebuah negara kesatuan dengan Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, dan Budha di dalamnya tanpa ada tenggang-rasa antar umat
beragama. Tidak akan ada kedamaian dan ketenteraman dalam menjalankan
ibadah ketika nilai-nilai ”lakum diinukum waliya din” sudah tidak lagi diamalkan
bangsa Indonesia. Jika sudah tidak lagi ada kerukunan antar umat beragama
mungkin bisa jadi bangsa Indonesia akan menjadi bangsa barbar yang beringas.
Dan bukan mustahil satu agama dan agama yang lain akan saling menjatuhkan
dan berperang di atas bumi Indonesia. Sungguh tidak ada satu agama pun yang
menghendaki hal seperti ini.
Dalam kerangka itu, Hasyim Muzadi sebagai salah satu pemimpin
organisasi Islam terbesar di Indonesia, gencar melakukan agenda yang terkait
diselenggarakannya pertemuan Ulama’ Sunni-Syiah seluruh dunia yang
diprakarsainya.6 Pertemuan-pertemuan semacam itu seakan menjadi titik terang
usaha beliau dalam menata Islam Indonesia menuju Islam Global yang lebih baik
sebagai aktualisasi rahmatan lil-alamiin.
Sedang pada hakikatnya, sebuah masyarakat heterogen yang sedang
tumbuh, seperti bangsa Indonesia, tentu sulit untuk mengembangkan saling
pengertian antar beraneka ragam unsur-unsur etnis, dan budaya daerah. Kalaupun
tidak terjadi salah pengertian mendasar atas unsur-unsur itu, paling tidak tentu
saling pengertian yang tercapai barulah bersifat nominal belaka, dengan kata lain,
suasana optimal yang dapat dicapai bukanlah saling pengertian, melainkan
sekedar mengurangi kesalahpahaman.7
Atas dasar kenyataan seperti di atas dan juga banyaknya ide-ide dari
pemikir dan pemimpin Islam di Indonesia tentang permasalahan Islam, maka
Penulis ingin mengkaji lebih jauh tentang pemikiran atau ide pluralisme
keagamaan yang terkait erat dengan hubungan antar agama dan negara.
Untuk lebih fokusnya kajian ini, Penulis mengambil pemikiran dari salah
seorang tokoh Islam yang pernah menjadi pemimpin salah satu organisasi Islam
terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama) yaitu Hasyim Muzadi. Kajian tentang
pluralisme agama Hasyim Muzadi ini didasari oleh kenyataan bahwa menurut
Penulis selama ini, belum ada karya-karya yang berisi pemikiran utuh dari
Hasyim Muzadi terkait dengan pemikiran pluralismenya. Kalaupun ada, hal ini
hanya berupa pernyataan-pernyataan Hasyim Muzadi yang tersebar di media
6
Pada tanggal 9 November 2004, Hasyim Muzadi beserta Din Syamsuddin mengundang ulama-ulama Sunni-Syiah seluruh dunia yang terdiri dari 84 negara untuk menyerukan sikap toleransi dan persatuan di dunia Islam di Bogor, Jawa Barat.
7
massa maupun media elektronik, dan juga dari beberapa buku dari para penulis
yang mengungkap sebagian pemikiran atau sosok Hasyim Muzadi.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka perlu Penulis tegaskan bahwa batasan dan
rumusan dari permasalahan ini yaitu :
1. Bagaimana pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme agama?
2. Bagaimana bentuk hubungan agama dan negara menurut Hasyim Muzadi?
Tiga pokok masalah di atas diharapkan dapat mewakili (cover) dari
beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Di samping itu juga
berguna untuk memperjelas arah penelitian yang dimaksud.
C. Tujuan dan Manfaat
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana dalam bidang Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu ada tujuan dan manfaat yang lain yaitu :
1. Tujuan :
a. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih tajam tentang karakteristik
pemikiran Hasyim Muzadi mengenai wacana pluralisme keagamaan, serta
hubungan Islam dan negara.
b. Mengidentifikasi asal-usul gagasan beliau, baik itu berlatar belakang sosial,
pendidikan ataupun politik.
c. Mendapatkan deskripsi yang jelas mengenai implikasi gagasan tersebut
2. Manfaat :
a. Dapat diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan
terhadap karakteristik pemikiran Hasyim Muzadi.
b. Bagi dunia ilmu pengetahuan, akan memberi tambahan khazanah baru
dalam pemikiran yang terkait dengan wacana diatas.
c. Bagi umat Islam pada umumnya, dan umat Islam Indonesia pada khususnya,
diharapkan akan memiliki persepsi yang benar mengenai Islam Indonesia
sehingga tidak terjebak pada pemahaman tunggal yang menyebabkan
fanatisme keagamaan yang berlebihan dan kontra-produktif.
D. Tinjauan Pustaka
Kajian tentang pluralisme serta hubungan agama dan negara dalam
literatur Indonesia cukup banyak, dan memang di era sekarang kajian tersebut
seperti menemukan zaman keemasannya karena didukung oleh kondisi
sosio-kultural yang memang memungkinkan wacana tersebut berkembang, apalagi
kondisi Indonesia yang memang plural, baik dalam hal suku bangsa, ras, maupun
agama.
Sedangkan pembahasan tentang pluarlisme sendiri telah banyak dilakukan
oleh para penulis baik dalam maupun luar negeri. Karya terakhir dalam rentang
penulisan skripsi ini adalah tentang pemikiran Abdurrahman Wahid tentang
pluralisme dan humanisme yang ditulis oleh Saiful Ma’arif, mahasiswa UIN
Menurut penulis, kajian tentang pemikiran Hasyim Muzadi sendiri belum
ada yang tulis dalam bentuk skripsi, kecuali buku-buku yang telah banyak beredar
walaupun tidak secara spesifik membahas tentang pluralisme Hasyim Muzadi.
Buku-buku karya Hasyim kebanyakan membahas tentang bagaimana pandangan
Islam mengenai globalisasi dan terorisme.
Disamping itu, dalam banyak studi dan penerbitan yang ada, pembahasan
Hasyim Muzadi lebih sering ditujukan pada persoalan politik. Padahal
sebagaimana yang diharapkan terdapat dalam skripsi ini, Hasyim Muzadi
memiliki ide sentral pluralisme yang mewarnai banyak pemikiran-pemikirannya.
Dengan latar belakang bahwa penulisan tentang ide pluralisme Hasyim Muzadi
belum banyak dilakukan, skripsi ini mencoba mengangkat tema tersebut dan
mengaitkannya dengan kehidupan beragama dan sosial budaya di Indonesia.
E. Metode Penelitian
Dalam bahasan terkait dengan penelitian ini, perlu penulis paparkan
tentang metode penelitian yang digunakan. Antara lain meliputi jenis penelitian,
sifat penelitian, tehnik pengumpulan data, pendekatan-pendekatannya dan analisa
data.
1. Jenis penelitian.
Kajian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yang mana lebih
mengutamakan bahan perpustakaan sebagai sumber utamanya. Karena ini studi
tokoh maka ada dua metode pokok untuk memperoleh pemikiran tokoh tersebut.
Pertama, penelitian pikiran dan keyakinan tokoh tersebut. Kedua, penelitian
2. Sifat Penelitian.
Studi yang merupakan penelitian pustaka ini lebih kepada teknik
deskriptif-analisis. Yang dimaksud dengan deskriptif dalam konteks ini adalah
menggambarkan karakteristik dan fenomena yang terdapat dalam masyarakat atau
literatur. Dengan kata lain karakter dan fenomena yang dikaji dalam penelitian ini
ialah karakter dari Hasyim Muzadi dan fenomena yang mempengaruhi
pemikirannya. Adapun analisis disini adalah analisis dalam pengertian historis,
yakni meneliti akar sejarah yang melatarbelakangi gagasan beliau, dalam hal ini
penulis lebih memfokuskan pada aliran pemikiran Islam kontemporer yakni
modernis dan neo-modernis yang penulis anggap sebagai representasi dari beliau.
3. Tehnik Pengumpulan Data.
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua macam yaitu : data
primer dan data sekunder. Karya-karya asli dari beliau baik buku, artikel dan
kumpulan tulisan yang dibukukan dianggap sebagai data primer. Sedangkan karya
yang mengkaji tentang gagasan beliau dan hasil-hasil penelitian yang relevan
dengan kajian ini dimasukkan sebagai data sekunder.
4. Pendekatan.
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif
dan sosio-historis. Yang dimaksud pendekatan normatif ialah suatu pendekatan
untuk menjelaskan masalah yang dikaji dengan norma atau hukum (fiqih) yang
berlaku sebagai upaya penegasan. Hal ini penting untuk dilakukan karena
diskursus Islam dan negara merupakan bagian dari kajian hukum Islam,
Adapun pendekatan sosio-historis yaitu pendekatan yang menyatakan bahwa
setiap produk pemikiran itu merupakan hasil interaksi pemikir dengan lingkungan
sosio-kultural dan sosio-politik yang mengitarinya. Berkaitan dengan penelitian
ini sudah barang tentu sosial politik dan kultur yang melatarbelakangi metode
pemikiran Hasyim Muzadi akan dikaji sepanjang peristiwa tersebut
mempengaruhi pemikiran beliau dalam masalah ini.
F. Sistematika Penulisan
Dalam pembahasan ini penulis membagi menjadi lima bab. Bab pertama
memuat pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan dan kegunaan, telaah pustaka, metodologi penelitian, dan yang terakhir
sistematika pembahasan.
Bab kedua melacak asal-usul dan tipologi pluralisme agama, relasi agama
dan negara dalam sejarah politik Islam, yang tentunya berimplikasi terhadap
pemikiran tokoh politik Islam Indonesia dalam mengkaji hubungan Islam dan
negara di Indonesia. Yang dalam pembahasannya kedua perspektif tersebut akan
dihadapkan pada tokoh yang dikaji.
Bab ketiga memaparkan biografi Hasyim Muzadi. Penelaahan ini meliputi
latar belakang sosial dan prilaku politik beliau dalam menggagas pluralism agama
serta relasi Islam dan negara di Indonesia. Bab ini juga menyinggung sedikit
cita-cita ideologi negara yang beliau perjuangkan sebagai repesentasi tokoh muslim
yang peduli terhadap bangsa.
Bab keempat menganalisa pemikiran beliau tentang relasi Pluralisme
pancasila. Selain itu, bab ini juga berusaha menjelaskan implikasi gagasan beliau
terhadap tokoh politisi muslim Indonesia dan pemikiran politik Islam generasi
saat ini.
Bab kelima penutup, berisi kesimpulan dan saran-saran. Kesimpulan
dimaksudkan untuk memperlihatkan letak signifikansi penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya, dengan memberikan konklusi pemikiran Hasyim Muzadi
tentang pluralisme agama serta hubungan Islam dan negara di Indonesia,
sedangkan saran-saran ditujukan bagi para penulis atau peneliti yang akan
BAB II
NEGARA DAN PLURALISME
A.Pengertian Negara
Negara adalah suatu daerah atau wilayah yang ada di permukaan bumi di
mana terdapat pemerintahan yang mengatur ekonomi, politik, sosial, budaya,
pertahanan keamanan, dan lain sebagainya. Di dalam suatu negara minimal
terdapat unsur-unsur negara seperti rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat
serta pengakuan dari negara lain. 8
Istilah negara di terjemahkan dari kata-kata asing yaitu “steat” (bahasa
Belanda dan Jerman). “state” (Bahasa Inggris. “Etat” (bahasa Perancis). Kata
“Staat, State, etat itu diambil dari kata bahasa latin yaitu “status” atau statum”
yang artinya keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifata yang
tegak dan tetap. Kata “status” atau “statum” lazim diartikan sebagai “standing”
atau “station” (kedudukan) yang dihubungkan dengan kedudukan persekutuan
hidup manusia sebagaiman diartikan dalam istilah “Status Civitatis” atau “Status
Republicae”. 9
Sejak kata “negara” diterima secara umum sebagai pengertian yang
menunjukkan organisasi teritorial suatu bangsa yang memiliki kedaulatan. Negara
pun mengalami berbagai pemahaman tentang hakikat dirinya. Negara merupakan
integrasi dari kekuasaan Politik, negara adalah organisasi pokok dari kekuasaan
politik. Negara adalah agency (alat) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan
untuk mengatur hubungan-hubungan masyarakat dan menertibkan gejala-gejala
8
Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia PustakaUtama, 2008), h. 51
9
kekuasaan dalam masyarakat. Negara adalah organisasi yang dalam sesuatu
wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan
kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan
bersama itu. Negara menetapkan cara-cara dan batas-batas sampai dimana
kekuasaan dapat digunakan dalam kehidupan bersama itu, baik oleh individu dan
golongan atau asosiasi maupun oleh negara sendiri.10
Pengertian Negara Berdasarkan Pendapat Para Ahli :
a. Roger F. Soltau : Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau
mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.
b. Georg Jellinek : Negara merupakan organisasi kekuasaan dari kelompok
manusia yang telah berdiam di suatu wilayah tertentu.
c. Prof. R. Djokosoetono : Negara adalah suatu organisasi manusia atau
kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.
Negara mempunya dua tugas yaitu :
1. Mengendalikan dan menatur gejala-gejalah kekuasaan yang asosial.
Yakni yang bertentangan satu-sama lain. Supaya tidak anatagonistik
yang membahayakan.
2. Mengorganisasikan dan mengintergrasikan kegiatan manusia dan
golongan-golongan ke arah tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat
seluruhnya.11
10
Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, h. 82
11
B.Pengertian Pluralisme
Pluralisme terdiri dari dua suku kata yaitu Plural yang berarti jamak; lebih
dari satu,12 dan isme sufiks pembentuk nomina sistem kepercayaan berdasarkan
politik, sosial, atau ekonomi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pluralisme
berarti keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial
dan politiknya).13 Dalam tulisan ini, penulis akan lebih mengkonsentrasikan
pembahasan pada pluralisme agama.
Dalam wacana pemikiran Islam, pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia Islam terutama sejak era reformasi gereja yang terjadi pada abad ke-15 yang berpengaruh besar terhadap perubahan dalam aspek sosial, budaya, dan terutama pemikiran. Di sisi lain, Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas pada saat ini di dalam maupun di luar Arab. Menurut Asghar Ali, pada dasarnya tujuan Pluralisme adalah
persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan
(equality), dan keadialan sosial (sosial justice).14
Dalam kaitannya dengan pluralisme, Islam sangat menekankan pada dua
aspek dasar, yaitu :
1. Kesatuan manusia (unityofmankind).
2. Keadilan di semua aspek kehidupan.15
Keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat
lemah dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka
untuk menjadi pemimpin.16 Menurut pendapat Muhammad Quttub, Islam
12
memberikan hak-hak yang penting terhadap semua orang tanpa perbedaan
apapun. Islam menyatukan semua jenis karena pada hakikatnya mereka
sama-sama manusia dan juga menjamin kebebasan mutlak untuk memilih agama di
bawah penjagaan dan perlindungannya. 17
Pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda. Allah menjelaskan
bahwa dengan perbedaan itu manusia dituntut untuk saling mengenal, lita
‘arofu.18 Namun ketika seseorang memahami sebagai kebenaran mutlak yang ia
yakini, orang itu kerap kali terjebak dalam pandangan yang mengarah pada
konflik, pertikaian antara seorang muslim dan non-muslim atau mungkin diantara
sesama Muslim yang berbeda faham. Bagaimana menjembatani
perbedaan-perbedaan ini sehingga memungkinkan terwujudnya perdamaian?
Hal itu menurut Khamami Zada, sangat terkait dengan bagaimana
seseorang memahami agama lain sebagai sesuatu yang mempunyai jalan
tersendiri. Allah telah menyebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 48, likullin
ja’alna minkum siratan wa minhaja’, (untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami
berikan aturan dan jalan yang terang) dalam setiap agama itu ada syari’atnya
sendiri, jalannya sendiri, yang memiliki kebenarannya masing-masing. Tanpa
memahami kebenaran mutlak di masing-masing agama, kita akan sulit
menemukan perdamaian diantara agama-agama itu sendiri. Disinilah kekurangan
umat Islam ketika memahami agama lain sebagai sesuatu yang lain, ‘ the others’.
Agama lain harus dipahami sebagai suatu realitas yang ada dimasyarakat.19
17
Muhammad Quttub, Islam Agama Pembebas, fungky kusnaedi timur (terj) (Yogyakarta Mittra Pustaka, 2001), h. 368.
18
Baca QS. Al-Hujurrat (49) : 13
19
Islam sebaiknya tidak sekedar didakwahkan dalam perspektif yang
lahiriyah, persoalan-persoalan keakhiratan yang melupakan dimensi sosial. Kalau
Islam didakwahkan secara inklusif, dan bisa memahami agama-agama lain
sebagai suatu realitas kebenaran tersendiri, maka Islam akan benar-benar menjadi
agama rahmatan lil ’alamain.20
Oleh karena itu, Budhi Munawar-Rahman, menjadi penting untuk disadari
adalah memposisikan fungsi kritis terhadap agama yang harus dilakukan dengan
menjauhi sikap-sikap yang bersifat totaliter.21 Disamping itu agamapun dituntut
untuk mangadakan kritik terhadap dirinya sendiri, karena keberadaan agama telah
mendasarkan diri pada iman kepada Tuhan “pencipta manusia” bukan Tuhan
“ciptaan manusia”.22 Agama juga tidak bisa apolitis dalam pengertian hanya
membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas dalam kerangka ketaatan
individu kepada Tuhannya, tetapi perlu terlibat kedalam proses transformasi
sosial.23
Abdul Wahid Hamid mengatakan, suatu ciri khas ajaran Islam adalah
keyakinan bahwa agama Islam itu suatu cara hidup yang lengkap dan menyeluruh.
Agama yang mempunyai hubungan integral dan organik dengan politik dan
masyarakat. Ideal Islam itu terbayang dalam perkembangan hukum Islam yang
merupakan suatu hukum yang serba mencakup.24 Sebagai ajaran yang benar,
20
Ibid., h. 75.
21
Islam pada dasarnya bisa diterapkan disepanjang masa dan dimanapun (shalihun li
kulli zaman wa makam).25
Dalam tiap langkahnya, seorang muslim akan selalu berhadapan dengan
Tuhan yang terepresentasikan melalui syari’atnya. Disini tanggung jawab individu
menjadi jelas, karena kehadiran Tuhan dalam perasaan manusia saja sudah cukup
membuat setiap manusia benar-benar sadar akan kewajibannya, demikian menurut
pendapat Khurshid Ahamad.26 Mengutif pernyataan Fazrul Rahman, kenyataan
yang peling mendasar tentang Islam dalam abad sekarang ini adalah kemerdekaan
dari kekuasaan asing yang dicapai oleh rakyat-rakyat Muslim diberbagai negri
mereka.27 Dengan mengacu pada kenyataan seperti itu, maka Islam telah
memainkan peran yang menentukan dan dominan.
Menurut Anis Malik Toha gagasan plurarisme agama dalam wancana pemikiran Islam baru muncul pada masa-masa Perang Dunia II, yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya barat. Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wawancara pemikiran Islam, antara lain melalui karya-karya pemikiran mistik barat seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Zaeni) dan Frithjob Schuon (Isa Nurdin Ahmad). Karya-karya
mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The Transcendent Unity of
Religion, sangat syarat dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh kembangnya wacana pluralisme agama.28 Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh muslim syiah moderat, adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan “Islam tradisional”. Keberhasilannya dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama tersebut mengantarkannya pada sebuah posisi ilmuan kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama besar seperti Ninian Semart, John Hick, Annemarie Schimmel. Nasr mencoba menuangkan tesisnya pada
25
Abdul Wahid Hamid, Islam Cara Hidup Alamiah, Arif Rahmat (terj.), (Yogyakarta: Lazuardi, 2001), h. 301
26
Khurshid Ahmad, Pesan Islam, Ahsin Muhammad (terj.), (Bandung: Pustaka, 1983), h. 121.
27
Fazlur Rahman, Islam, Ahsin Muhammad (terj.), (Bandung: Pustaka, 1984), h. 365.
28
pluralisme agama dalam kemasan sophia perenis atau perenial wisdom
(al-hikmat al-khalidah, atau kebenaran abadi), yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi dibalik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah
dikenal manusia semenjak Adam ‘alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk
atau menyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sumgguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada simbol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama yang satu. Dari sini dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Demikian penuturan Anis Malik Toha.29
Hamdi Fahmy mengatakan, pluralisme sebagai paham yang merambah dalam bidang agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda tapi ujungnya sama yaitu aliran kesatuan transenden agama-agama (transcenden unity of religion) dan teologi global. Yang pertama lebih merupakan protes terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan pendukung grakan globalisasi. Pendekatan yang dipakai oleh aliran teologi global terhadap agama-agama lebih bersifat sosiologis, kultural dan idiologis. Bersifat sosiologis dan kultural karena agama-agama yang ada di dunia ini harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat modern yang plural. Idiologis sebab ia telah mejadi bagian dari program gerakan globalisasi yang jelas-jelas memasarkan ideologi barat. Akibatnya, menurut Malcom Walter globalisasi yang datang bersama dengan kapitalisme ini malah membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuatan lainnya. Karena kenyataannya gerakan globalisasi ini telah membawa ideologi baru yang bertujuan agar semua menjadi terbuka dan bebas menerima ideologi dan nilai-nilai kebudayaan barat seperti demokrasi, hak asasi manusia, feminisme/gender, liberalisme dan sekularisme.30
Menurut Amin Abdullah, dalam konteks keIndonesiaan terlepas dari sejarah besar pluralisme. Kerukunan antar umat beragama sangat penting dan sangat dibutuhkan bagi bangsa yang majemuk dalam hal agama seperti halnya di Indonesia. Keanekaragaman (pluralisme) agama yang hidup di Indonesia termasuk di dalamnya keanekaragaman paham keagamaan yang ada di dalam tubuh intern umat beragama adalah merupakan kenyataan historis.31 Jika toleransi dalam beragama tidak ditegakkan, maka negara atau bangsa tersebut akan menghadapi berbagai konflik antar pemeluk masing-masing agama dan dapat menyebabkan
29
Diakses dari tulisan Anis Malik Toha, http://www.hidayatulloh.comcontent&task =view&id =1406&Itemid=0
30
Ditulis oleh Hamdi Fahmy, diakses dari http://www.insistnet.com/content/view/25/34/,
31
disintegrasi. Untuk memberi perhatian khusus kepada masalah kerukunan antar umat beragama, harus diupayakan untuk memahami masalah yang sebenarnya dan dapat menemukan cara untuk menciptakan kerukunan itu (jika belum ada), atau menumbuhkan serta mengembangkan (jika telah ada). Ada beberapa ayat yang secara tegas mengatur pluralisme agama yang menyebutkannya dengan jelas. Selain ayat dalam Qu’an surat al-Kafirun, ada satu ayat lagi yang tegas-tegas menyatakan bahwa agama tidak bisa dipaksakan kepada seseorang, yaitu al-Baqarah: 256 yang
artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang salah. Karena itu siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”.
Ayat di atas sebenarnya mengajarkan bahwa Allah telah menjelaskan
mana yang benar dan mana yang salah, atau lebih tegasnya mana agama yang
benar dan mana agama yang tidak benar (yang dalam al-Qur’an disebut ajaran
thagut). Sesungguhnya misi Islam yang paling besar adalah pembebasan. Dalam
konteks dunia modern, ini berarti Islam harus membebaskan manusia dari
kungkungan aliran pikiran dan filsafat yang menganggap manusia tidak
mempunyai kemerdekaan, demikian menurut Kuntowijoyo.32 Dengan visi teologis
semacam itu, islam sesungguhnya menyediakan basis filsafat untuk mengisi
kehampaan spiritual yamg merupakan produk dunia modern.33
Dari kacamata Islam, kemajemukan adalah sunnatullah (hukum alam).
Masyarakat yang majemuk ini tentu saja memiliki budaya dan aspirasi yang
beraneka, tetapi mereka seharusnya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada
superioritas antara satu suku, etnis atau kelompok sosial dengan lainnya. Mereka
juga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan
politik. Namun kadang-kadang perbedaan ini menimbulkan konflik di antara
mereka. Maka sebuah upaya untuk mengatasi permasalahan ini dimunculkan
konsep atau paham kemajemukan (pluralisme).34
Untuk mewujudkan dan mendukung pluralisme tersebut, diperlukan
adanya toleransi. Meskipun hampir semua masyarakat yang berbudaya kini sudah
mengakui adanya kemajemukan sosial, namun dalam kenyataannya, permasalahan
toleransi ini masih sering muncul dalam suatu masyarakat. 35 salah satu wujud
nyata dari sikap toleran adalah adanya dialog-dialog yang berfungsi menjembatani
sekian kebuntuan yang ada. Dengan menilik kasus kartunisasi Nabi Muhammad
oleh Jyllands Posten salah satu koran di Denmark beberapa waktu yang lalu,
kasus Salman Rusdie di Inggris (1969), Ishioma Daniel di Nigeria (2002), dan
Theo Van Gogh di Belanda (2004), meski dalam konteks yang berbeda, namun
menyisakan persoalan serius dan kompleks dalam kaitannya dengan komunitas
ditingkat regional maupun global. Di antara persoalan yang belum serius
didialogkan menurut Muhammad Ali adalah ketegangan antara kebebasan
ekspresi dan penghormatan terhadap keyakinan agama atau ideologi tertentu,
hubungan antara hukum dari sebuah negara dan kebebasan pers, hubungan antara
berbagai etika dunia, maka kebebasan itu sendiri dalam hukum internasional,
antara hukum-hukum adat atau budaya kawasan dan peradaban, dan sebagainya.36
Dialog antar pemeluk agama dan dialog antar kawasan seperti disinggung
Ali harus didukung. Ini penting karena masih berkembangnya ignorance
(ketidaktahuan) dalam bentuk penghubung intrinsik antara islam dan terorisme,
Islamophobia, xenophobia, dan semacamnya. Dipihak lain dikalangan umat Islam,
34
Nur Ahmad (ed.), Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, (Jakarta: kompas, 2001), h. 11-12.
35
Ibid, h. 21
36
masih ada tindakan emosional anarkis mengusir atau membunuh orang asing yang
tidak ada sangkut pautnya, ekstrimisme radikal dan kebencian terhadap bangsa
dan budaya asing (xenophobia). Reaksi-reaksi emosional dan ekstrim
menunjukkan kurangnya pemahaman akan sejarah peradaban bangsa lain. Salah
satu ketidak tahuan disebagian media masa barat adalah memposisikan tokoh nabi
seperti tokoh-tokoh politik lainnya. Seorang muslim mungkin tidak cukup religius
dalam beribadah, tapi jika nabi mereka disinggung rasa panatisme keagamaannya,
mereka sangat tinggi. Di Indonesia misalnya, tradisi pembacaan barzanji sangat
populer yang memuat puji-pujian terhadap Nabi (bahkan di Cikoang Sulawesi
Selatan acara maulud memperingati kelahiran) Nabi Muhammad menjadi paling
meriah sepanjang tahun, meskipun mereka kurang memperhatikan ibadah. Di
kalangan umat Islam kecintaan umat nabi ini ada yang berlebihan, ada yang
moderat, ada yang tidak terlalu peduli, dan bentuknya juga bermacam-macam
sesuai pemahaman keagamaan dan tradisi masing-masing. Hal-hal semacam ini
kurang atau tidak dipahami sebagian masyarakat Barat yang menganggap biasa
membuat kartun.37
Dipihak lain menurut Muhammad Ali lagi, umat Islam juga perlu
memahami konteks tradisi Barat yang sebetulnya sangat majemuk termasuk dalam
memaknai kebebasan berekspresi. Misalnya, dimuseum-museum di Eropa, banyak
sekali patung-patung dan lukisan-lukisan telanjang, karena mengandung nilai seni
yang tinggi dan dihargai masyarakat. Masyarakat Barat juga menjunjung
nilai-nilai etika kemanusian yang tidak selalu berseberangan dengan etika dikawasan
lain. Karena itulah, dialog, antar budaya sungguh penting, untuk memahami
37
sejarah dan tradisi masing-masing dan untuk kemudian saling menghargainya
hubungan antara seni, kebebasan, tradisi, dan keyakinan agama inilah salah satu
persoalan yang harus didialogkan.38
Disamping itu juga dalam kenyataanya, sikap-sikap tidak toleran itu tidak
semata-mata disebabkan oleh faktor internal masing-masing kelompok, tetapi
sering juga disebabkan oleh faktor eksternal, misalnya karena kebijakan politik
pemerintah tertentu atau kekuasaan politik global dan kekuatan dunia tertentu.39
Dalam dunia ilmu pengetahuan istilah pluralisme sekarang ini dikembangkan
secara luas oleh para ilmuan sosial. Pada level yang minimal istilah ini
semata-mata mengacu kepada heterogenitas. Di kalangan para ilmuan politik, antropolog,
sosiolog politik, misalnya, terjadi perselisihan apakah prulalisme itu menghambat
atau melindungi pemerintah demokratik. Menurut Philip E. Hammond, para
teoritisi juga berbeda dalam memahami bagaimana pluralisme bekerja, apakah ia
menyediakan beragam saluran bagi pemegang kekuasaan atau menyediakan
tempat perlabuhan kelompok bagi individu yang teralienasi. Di samping itu juga
ada sebuah penegasan bahwa pluralisme memungkinkan bagi keanggotaan
kelompok yang bermacam-macam bahkan saling berlawanan, sehingga
menjadikan konflik politik lebih sering terjadi pada tataran individu atau
kelompok dari pada faksi-faksi politik yang saling bersaing.40
Namun dialog yang disusul oleh toleransi tanpa sikap pluralistik tidak akan
menjamin tercapainya kerukunan antar umat beragama yang langgeng. Secara
38
Ibid., h. 6
39
Nur Ahmad, Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, h. 13.
40
garis besar pengertian konsep pluralisme meminjam definisi yang dikemukakan
oleh Alwi Shihab dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang
adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap
kenyataan kemajemukan tersebut. Pluralisme agama dan budaya dapat kita jumpai
dimana-mana. Di dalam masyarakat tertentu, di kantor tempat orang bekerja.
Tetapi seseorang dikatakan menyandang sifat tersebut apabila ia dapat
berinteraksi positif dalam lingkungan kemajemukan tersebut. Dengan kata lain,
pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan
saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi terlibat dalam usaha
memahami perbedaan dan persamaan guna terciptanya kerukunan, dalam
kebhinekaan.41
Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme.
Kosmopolitanisme menunjuk kepada suatu realita dimana aneka ragam agama,
ras, bangsa hidup berdampingan disuatu lokasi. Sebagi contoh adalah kota New
York. Kota ini adalak kota kosmopolitan. Di kota ini terdapat orang Yahudi,
Kristen, Muslim, Hindu, Budha, bahkan orang-orang yang tanpa agama sekalipun.
Seakan seluruh penduduk dunia berada di kota ini. Namun interaksi positif antar
penduduk ini, khususnya dibidang agama, sangat minimal, kalaupun ada.42
Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Seorang
relativis akan berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut “kebenaran” atau “nilai”
ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir seseorang atau
masyarakatnya.
41
Alwi shihab, Islam Inklusif (Bandung: Mizan, 1999), h. 41.
42
Sebagai contoh, “kepercayaan/kebenaran” yang diyakini oleh bangsa
Eropa bahwa “Colombus menemukan Amerika” adalah sama benarnya dengan
“kepercayaan/kebenaran” penduduk asli benua tersebut yang menyatakan
“Colombus mencaplok Amerika”.
Sebagai konsekwensi dari paham relativisme agama, doktrin agama apa
pun harus dinyatakan benar. Atau tegasnya “semua agama adalah sama”, karena
kebenaran agama-agama, walaupu berbeda-beda dan bertentangan satu dengan
lainnya, tetapi harus diterima. Suatu kebenaran universal yang berlaku untuk
semua dan sepanjang masa.43 Namun yang menjadi persoalan adalah manusia
memiliki karakter yang berbeda-beda, dan ketika dalam sosial praksis akan
menimbulkan dampak pada perubahan sosial.
Teggart menegaskan perubahan sosial muncul dari perbenturan berbagai
kelompok dari habitat yang berbeda-beda dan oleh karenanya memiliki sistem ide
yang berbeda. Jika Teggart mengasumsikan bahwa sejarah manusia hanya
merekam sejumlah kecil situasi pluralistik yang stabil (yakni, sebuah habitat
dengan beragam sistem ide), maka dia sangat mungkin benar.44
Menurut Ignas Kleden, dikotomi yang dibuat oleh sementara psikologi
agama, antara agama sebagi agama, dan agama sebagai yang dihayati dalam
kesadaran para penganutnya, barangkali tidak akan diperhatikan dalam tulisan ini.
Sebab bagaiman pun agama sebagai suatu entitas abstrak yang dilepaskan sama
sekali dari kenyataan bagaiman dia dihayati adalah sangat sulit dibayangkan.
Sedangkan, bila agama dilihat sebagai suatu realitas manusiawi yang muncul
sebagai akibat pergulatan manusia dengan seluruh lingkungannya yang berarti
43
Ibid., h. 42.
44
bahwa agama adalah suatu hasil kebudayaan juga, maka pengandaian suatu agama
sebagai entitas abstrak, adalah suatu pengandaian yang secara metodologis tidak
berguna. Dengan itu mau dikatakan bahwa filsafat yang melihat agama secara
ontologis tidak akan banyak membantu mencari kemungkinan dialog antar agama.
Sebab, ontologi lebih berhubungan dengan substansi, unsur yang berdiri sendiri,
yang berbeda dan tak tergantung kepada unsur lain, yang menyebabkan sesuatu
itu ada dasar dirinya. Ontologi justru mengandaikan dan menekankan distansi dan
esensi yang mutlak dan karena itu ontologi merupakan otonomi yang tertutup.45
Sebaliknya agamapun tidak diidentikkan dengan batas-batas psikologis
yang sering justru hendak diterobos oleh tuntutan dan harapan keagamaan. Dua
reserve disini untuk menghindari terjebaknya agama kedalam kemungkinan
Psychologisierung der Religion. Yang Pertama adalah unsur supranatural,
merupakan elemen trensenden dalam tiap agama yang menyebabkan bahwa
agama tidak mutlak membutuhkan suatu stratum psikologis sebagai conditio sin
qua non untuk tumbuh dan berkembang dalam penghayatan para penganutnya.
Misalnya beberapa eksperimen studi psikiatri terhadap kehidupan rohani beberapa
orang kudus, sama sekali tidak menggoncangkan alasan untuk tetap mengakui
kekudusan mereka. Demikian pula seandainya ada pertemuan-pertemuan empiris
yang bisa menunjuk indikasi-indikasi kuat tentang adanya psikose tertentu yang
mereka derita dan alami selama hidupnya. Yang kedua adalah, bahwa
hukum-hukum psikologis tidak selalu merupakan batas-batas yang harus diterima oleh
suatu agama. Agama dan tuntunannya sering malah berusaha keluar dari siklisme
psikologis semacam itu. Demikian, maka tidak berarti bahwa agama selalu
45
bersifat menentang kecenderungan-kecenderungan manusiawi. Namun mungkin
bahwa apa yang dicita-citakan suatu agama mengisyartatkan pula pengakuan akan
terbatasnya kemampuan manusia dalam mengindentifikasikan dirinya sendiri, dan
di depan suatu realitas dan aktifitas ilahi, manusia justru ditantang untuk
mengatasi ikatan-ikatan dari dunianya, batas-batas psikologisnya dan
persyaratan-persyaratan imanensinya.46
Harus dicatat bahwa meningkatnya kecerdasan manusia menyebabkan ia
mencari sendiri kebenaran primer yang belum terpecahkan oleh ilmu
pengetahuan. Di sisi lain, menyebar luaskan agama, propaganda (dalam arti
netral), atau evanggeli merupakan persoalan manusia dalam hidupnya yang telah
berjalan sekurang-kurangya 25 abad. Ada agama yang non-evanggelis, seperti
Yahudi yang justru bersikap ekslusif dan tidak dengan aktif menyebar-luaskan
agamanya.47
Amin Abdullah menyatakan, dapat dibayangkan bagaimana kulaitas
tingkat kenyamanan, ketenangan, kedamaian suatu masyarakat beragama yang
bersifat pluralistik, jika masing-masing secara sepihak dan tertutup mengklaim
bahwa tradisi agamanya sendirilah yang paling sempurna dan benar. Dan jika
klaim itu merambah ke wilayah historis-ekonomis-sosiologis, maka kedamaian
yang diserukan dan didambakan oleh ajaran agama-agama akan terkikis dengan
sendirinya dalam kenyataan hidup keseharian. Meskipun secara
ontologis-metafisis, klaim seperti itu memang dapat dimengerti, namun belum tentu dapat
dibenarkan, karena memang itulah salah satu inti keberagamaan yang sebenarnya.
Artinya, bahwa hard core dari pada pandangan hidup agama-agama yang
46
Ibid,. h. 154-155
47
beraneka ragam memang berbeda. Sedangkan hard core keberagamaan hanya
dapat dinikmati secara historis, lewat sekat-sekat teologis yang ada.48
Perubahan sosial dalam Islam, hendaknya dilihat dari segi agama dan
perubahan yang lebih luas. Manusia telah dikaruniai dengan kesadaran diri,
intelek, dan imajinasi. Kecakapan-kecakapan inilah yang membedakannya dengan
alam semesta lainnya, selain merupakan kenyataan bahwa dirinya juga merupakan
bagian dari dirinya. Menurut John L. Eposito, agama adalah suatu sistem
kepercayaan yang menempatkan dirinya (sebagi alat bantu bagi manusia) dalam
upaya menghadapi kesulitan tersebut, serta kemudian menjadikan manusia agar
betah di dalamnya.49 Quraish Shihab mengatakan, pada hakikatnya, khususnya
dalam kehidupan bermasyarakat dimana perbedaan-perbedaan sangat
dimungkinkan, Islam lebih mementingkan isi dan makna dibandingkan dengan
bentuk-bentuk.50
Diakui bahwa, dalam sejarah agama-agama, telah terjadi pertikaian antara
pemeluk agama yang sama atau antar pemeluk berbagai agama. Namun,
pertikaian tersebut lebih banyak disebabkan oleh kepentingan-kepentingan non
agama. Dapatkah umat masa kini menemukan pandangan dan jalan yang telah
ditempuh oleh generasi terdahulu yang hidup berdampingan dan harmonis?. Kalau
jalan tersebut tidak dapat ditemukan oleh pimpinan-pimpinan agama-agama
sendiri, maka ketika itu mereka harus membenarkan pandangan yang menyatakan
bahwa ada krisis agama. Karena dengan demikian, agama telah menjadi sumber
48
M. Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas. h. 14-15.
49
John L. Esposito, Dinamika Kebangunan Islam Watak, Proses Dan Tantangan, Bakri Siregar (terj.), (Jakarta: Rajawali Pers, 1987), h. 293.
50
keresahan pemeluknya dan tidak heran bila agama hanya akan tinggal sebagai
kenangan buruk sejarah.51
Diskursus mengenai agama sangat sarat dengan muatan emosi,
kecenderungan dan subyektifitas individu. Agama memiliki ajaran yang sangat
ideal dan cita-citanya sangat tinggi, bagi pemeluk fanatiknya, ia merupakan
“benda” yang suci, sakral, angker, dan keramat. Ia selalu menawarkan
jampi-jampi keselamatan, kebahagiaan, dan keadilan. Namun kenyataan berbicara lain,
agama tak jarang justru melahirkan permusuhan dan pertengkaran. Menurut
Ahmad Najib Burhani, fenomena ini dilatari oleh: pertama, pendewaan agama.
Manusia sering terjerumus untuk mendewakan agama, istilah-istilah agama dan
pemuka agama. Tuhan beserta segala sifat yang menyelimuti-Nya berulang kali
hilang dari ingatan. Prinsip-prinsip agama dan ajaran sucinya juga mengalmi nasib
yang sama, mereka nyaris habis terpangkas dan tinggal jargon-jargon yang tidak
mempunyai nyali. Di sini agama bukan lagi sebagai amalan, namun ia berubah
fungsi menjadi semisal markas jaringan “mafia”, sehingga tidaklah heran bila
kemudian muncul “manipulasi agama” dan “korupsi agama”.
Kedua, pengkelasan dalam berakhlak. Umat beragama sering terjebak
untuk lebih dekat kepada saudara-saudara “seagama” (in group feeling) dan
menomorduakan persahabatan dengan rekan dari agama lain. Hal ini
membuahkan sikap yang kurang obyektif dalam memandang apa yang ada di luar
diri sendiri. Misalnya sebagimana yang dikemukakan Moeslim Abdurrahman
dalam Islam Transpormatif, kendati keadilan sosial merupakan sendi utama
51
agama, namun jika keadilan sosial tidak menimpa “kita” atau saudara “kita”,
maka “kita” kurang menaruh perhatian.
Ketiga, monopoli kebenaran. Banyak agama atau bahkan seluruh agama
yang mengajarkan kebenaran absolut bagi pemeluknya. Merupakan suatu
kewajiban dan memang sepantasnya memberikan doktrin-doktrin keabsolutan
kebenaran agama. Namun kewajaran itu akan berubah menjadi ketidakwajaran
bila tanpa diiringi dengan anjuran penelitian dan pencarian argumen logis atas
doktrin orang lain. Lebih-lebih bila pemberian doktrin tersebut dibarengi dengan
penularan anggapan bahwa doktrin-doktrinnyalah yang benar, sementara yang lain
salah total. Dan akan semakin tragis apabila fenomena itu diiringi dengan
pelecehan agama lain.52
Dengan menggali ajaran-ajaran agama, meninggalkan fanatisme buta, serta
berpijak pada kenyataan menurut Qurais Shihab, jalan akan dapat dirumuskan.
Bukankah agama-agama monoteisme dengan sejarah ketuhanan Yang Maha Esa,
pada hakikatnya menganut universalisme. Tuhan Yang Maha Esa itulah yang
menciptakan seluruh manusia, seluruh manusia bersumber dari satu keturunan,
betapapun berbeda agama, bangsa atau warna kulit. Demikian ditegaskannya
pula.53
Menurut Ahmad Najib Burhani, teosentrisme atau wacana agama tentang
Tuhan hanya akan bermanfaat apabila sekaligus menjunjung tinggi tinggi
martabat manusia. Harmoni pada tingkat esoteris hanya akan menjadi
perbincangan verbal saja apabila tidak ada keterlibatan dalam memecahkan
masalah-masalah kemanusiaan yang bersifat global. Mengiyakan Tuhan tidak
52
Ahmad Najib Burhani, Islam Dinamis Menggugat Peran Agama Membongkar Doktrin Yang Membantu, (Jakarta: Kompas, 2001), h. 3-4.
53
berarti menyangkal manusia dan sebaliknya. Meski respon iman dialamatkan pada
Tuahan, tetapi komitmen dan respon ini tidak diperintahkan diaktualisasikan
dalam hubungan sesama makhluk. Bahwa bertuhan justru dipihak segenap
manusia, bukan hanya manusia anggota agamanya saja. Setelah menjawab sapaan
Tuhan, manusia harus ketahapan praktis melayani manusia sebagai hamba Tuhan.
Maka disarankan, keberagamaan perlu lebih humanistik-uneversal.54
Teologi harus lebih concern pada persoalan lingkungan hidup, tertib
sosial, dan masa depan kemanusiaan. Agama hanya cradible apabila dapat
menolak segala sikap yang bernapaskan kebencian, balas dendam, kepicikan,
pembunuhan dan pemaksaan serta mengembangkan sikap kebaikan hati, belas
kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan suku, budaya, ras,
gender, dan agama, keadilan, kebebasan, rasionalitas, kejujuran dan
keterbukaan.55
Sebaliknya masyarakat yang hendak diatur oleh agama senantiasa
mengalami perubahan dan oleh karena itu bersifat dinamis. Dalam ilmu semantika
disebutkan bahwa bahasa suatu bangsa tiap seratus tahun mengalami perubahan
dan perubahan dalam bahasa menggambarkan perubahan dalam masyarakat.56
Pluralisme agama dan multikulturalisme tidak hanya dalam suatu negara,
tetapi antar kawasan dan tingkat global, dalam arti menghormati perbedaan
persepsi dan keyakinan agama dan tradisi. Sebuah kepekaan
pluralis-multikulturalis, harus dikembangkan tidak hanya dikalangan umat Islam, tapi juga
menyangkut umat-umat antar agama dan persoalan-persoalan non-agama.
54
C.Pendapat Para Ahli Tentang Pluralisme
Menurut Robert N. Bellah dan Philip E. Hammond, para teoritisi juga berbeda dalam memahami bagaimana pluralisme bekerja, apakah ia menyediakan tempat perlabuhan kelompok bagi individu yang teralienasi. Di samping itu juga ada sebuah penegasan bahwa pluralisme memungkinkan bagi keanggotaan kelompok yang bermacam-macam bahkan saling berlawanan, sehingga menjadikan konflik politik lebih sering terjadi pada tataran individu atau kelompok.57 Di ungkapkan oleh Abdurrahman Wahid bahwa, jaminan dasar akan keselamatan keyakinan agama masing-masing bagi para warga masyarakat melandasi hubungan antar-warga masyarakat atas dasar sikap saling hormat-menghormati, yang akan mendorong tumbuhnya kerangka sikap tenggang rasa dan saling pengertian yang besar.58
Dalam kaitannya dengan bergulirnya arus globalisasi yang merambah
dalam seluruh sistem termasuk dalam agama Islam itu sendiri menurut Jhon L.
Esposito, akan melahirkan lapangan pengetahuan baru. Akan tetapi, studi tentang
modernisasi di dalam Islam sering memuat dikotomi yang tidak bertanggung
jawab: tradisi lawan perubahan, fundamentalisme lawan modernisme, stagnasi
lawan progres. Bagi kebanyakan analis pihak Barat maupun pihak skularis
muslim, Islam itu merupakan rintangan besar bagi perubahan politik dan sosial
yang berarti dalam dunia Islam. Bagi pihak aktivis Islam, dan para mukmin
lainnya, Islam itu secara abadi tetap serasi dan berlaku.59 Sebagi suatu sistem
nilai, Islam tentu saja tidak bisa merestui suatu masyarakat yang bersifat
laissez-faire. Ditegaskan oleh Fazlurrahman, dipihak lain, Islam mengetahui dengan baik
bahwa pemaksaan tidak akan membuahkan hasil, bahkan tidak akan bisa
bekerja.60
57
Robbert N Bellah dan Phillip E. Hammond, Beragama Bentuk Agama Sipil dalam Beragam Bentuk Kekuasaan Politik, Kultural, Ekonomi dan sosial, h. 212.
58
Indonesia sebagi bangsa yang majemuk, kaya akan khazanah sosial,
kebudayaan menyimpan potensi lebih. Sebuah kesepakatan umat Islam untuk
hidup dalam sebuah negara yang tidak akan pernah didasarkan pada pengakuan
formal atas Islam sebagai yang ‘terbaik’ secara objektif atau pelayanan
pemerintah yang terlalu berlebihan dari pada agama-agama lain.61
Bagi masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi pembangunan dalam
segala bidang, mewujudkan toleransi itu mendesak dengan banyak memberikan
penjelasan akan ajaran-ajaran agama yang menekankan toleransi. Dengan begitu
jiwa toleransi beragama dapat dipupuk dikalangan pemeluk masing-masing
agama.62 Terlebih masing-masing agama memiliki identitas sebagi simbol dan
pesan agama tidaklah secara seimbang ditangkap dan ditafsirkan oleh berbagai
lapisan sosial. Demikian dinyatakan Taufiq Abdullah.63
Jiwa toleransi beragama dapat dipupuk melalui usaha-usaha berikut:
1. Mencoba melihat kebenaran yang ada dalam agama lain.
2. Memperkecil perbedaan yang ada di antara agama-agama.
3. Menonjolkan persamaan-persamaan yang ada dalam agama-agama.
4. Memupuk rasa persaudaraan se-Tuhan.
5. Mengutamakan pelaksanaan ajaran-ajaran yang membawa kepada
toleransi beragama.
61
Greg Fealy, Greg Barton (ed.), Tradisionalisme Radikal, Ahmad Suaedy, A. Made Tonny Supriatna, Amiruddin Ar-Rany, dkk. (terj), (Yogyakarta: LKIS, 1997), h.204
62
Syaiful Muzani (ed.), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof.Dr. Harun Nasution (Bandung: Mizan, 1995), h. 275
63
6. Menjauhi praktik serang-menyerang antar agama. Mungkin hal-hal ini
dapat mengubah ketegangan hidup beragama yang dirasakan ada dalam
masyarakat kita sekarang.64
Dengan upaya menjunjung tinggi nilai dan semangat pluralitas tersebut,
maka diharapkan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang besar. Oleh
karena itu, penulis sepakat dengan pendapat Fazlur Rahman bahwa, setiap
peradaban besar mengembangkan beberapa ciri khas yang tersembunyi dibalik
ekspansinya yang luar biasa, atau bahkan tampaknya ciri khas yang tersembunyi
dibalik ekspansinya yang luar biasa, atau bahkan tampaknya ciri khas itu menjadi
kebajikan khusus karena mereka muncul untuk menyumbang terhadap
ekspansinya, tetapi ketika peradaban itu mencapi puncaknya ciri-ciri itu kembali
dipermasalahkan.65
D.Pro-kontra Tentang Pluralisme
Nur Khalik Ridwan berpendapat, bagi pegiat wacana pluralisme, mereka
memandang pluralisme adalah sebuah paham yang menegaskan bahwa hanya ada
satu kemanusiaan, yakni keragaman, heterogenitas dan kemajemukan itu
sendiri.oleh karena itu, ketika disebut pluralisme maka penegasannya adalah
diakuinya wacana kelompok, individu, komunitas, sekte dan segala macam bentuk
perbedaan sebagai fakta yang harus diterima dan dipelihara.dalam pluralisme
64
Syaiful Muzani (ed.), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof.Dr. Harun Nasution (Bandung: Mizan, 1995), h. 275
65
Harun Nasution & Azumardi Azra (peny.) Perkembangan Modern Dalam Islam,
keberadaan diakui adanya, dan karenanya bukan ingin dilebur dan disatukan
dalam bentuk homogenitas, kesatuan, tunggal, mono dan ika.66
Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu
penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena
itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk
yang datang dari luar Islam.67
Disamping itu akhir abad ke-21 ini ditandai oleh perubahan-perubahan
yang mencengangkan. Kenyataan tersebut menurut Bachtiar Effendi, telah
menghadapkan masyarakat agama kepada suatu kesadaran kolektif terhadap
penyesuaian struktural dan kultural.68 Keanekaragaman agama akan menjadi
kekuatan bangsa manakala agama-agama mampu hidup berdampingan secara
menyenangkan di sebuah negara.69
Namun bagi mereka yang begitu mencurigai akan bahaya pluralisme,
mereka menilai bahwa pluralisme merupakan proyek Barat. Maka menjadi
penting menelusuri lahirnya gagasan liberalisme dan pluralisme agama. Gagasan
protestanistik yang kini digandrungi sebagai Muslim sangatlah begitu pelik.
Proses liberalisme sosial politik, yang menandai lahirnya tatanan dunia abad
modern, semakin marak. Disusul kemudian dengan liberalisasi atau globalisasi
(baca: penjajahan model baru) ekonomi. Wilayah agamapun pada gilirannya
dipaksa harus membuka diri untuk diliberalisasikan.
Bachtiar Effendy, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan (Yogyakarta: Galang Press, 2001), h. 3
69