• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Hasil Pengamatan SMOKING CESSATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Laporan Hasil Pengamatan SMOKING CESSATI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Hasil Pengamatan

SMOKING CESSATION

Pembimbing:

Dr. dr. Shirley I. Moningkey, M. Kes

Penyusun:

Michael Anthonius Lim

07120100075

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

PUSKESMAS MAUK

(2)

A. Data Demografi Pasien

Nama : Tn. K

Usia : 40 tahun

Alamat : Ketapang

Pekerjaan : Karyawan

Pendidikan : SMP

Tinggi Badan : 167 cm

Berat badan : 65 kg

Kategori perokok: Perokok aktif, sejak 22 tahun yang lalu

Perokok aktif tingkatan sedang menurut WHO karena jumlah rokok yang dihisap

dalam 1 minggu terakhir sebanyak 18 batang perhari. Jumlah rokok yang dihisap

dalam 1-2 bulan terakhir ini sebanyak 18 batang/hari. Jenis rokok: kretek berfilter

merk “Djarum Super” (kandungan nikotin 1,8 mg dan kandungan tar 32 mg).

Riwayat mencoba untuk berhenti merokok: Tidak ada

Niat untuk berhenti merokok: Tidak ada

Pasien sering dinasihati oleh keluarga untuk berhenti merokok namun tidak mau.

Pasien juga sudah tahu dampak merokok bagi kesehatan, seperti menurunkan stamina,

mudah lelah, sesak nafas, penyakit jantung, dan kanker paru.

A. Metode

Metode yang digunakan dalam program Smoking Cessation ini diambil dari WHO

European Strategy for Smoking Cessation Policy. Ini adalah metode untuk

memotivasi perokok melawan ketergantungannya terhadap rokok. WHO dan

American Psychiatric Association menyebutkan bahwa penyebab utama perokok sulit

berhenti adalah efek ketergantungan dari nikotin.

1. Brief Opportunistic advice from a healthcare professional

Intervensi ini diberikan selama 10-15 menit dimana perokok dijelaskan bahaya

dari rokok dan diberi saran mengenai cara berhenti merokok dengan pemicu dari

(3)

2. Individual Counseling

Intervensi ini memberikan kesempatan kepada perokok untuk dapat melakukan

tanya jawab dan menjelaskan kesulitan berhenti merokok sehingga tenaga medis

dapat membantu perokok mencari solusi untuk kesulitan-kesulitan tersebut,

sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri perokok untuk dapat berhenti.

3. Behavioral Approach

Perokok dapat diberikan pilihan untuk dapat berhenti segera (cold turkey) atau

bertahap melalui pengurangan jumlah rokok dengan menetapkan target jumlah

rokok maksimal yang dapat dihisap dalam kurun waktu tertentu. Pasien juga

dijelaskan mengenai prinsip berhenti merokok dimana lebih cepat lebih baik.

4. Terapi Pengganti Nikotin

Disarankan untuk mengkonsumsi permen karet sebagai pengganti keinginan untuk

merokok.

B. Hasil Pengamatan 1. Hasil

Pengamatan dilakukan selama 1 minggu dimulai dari tanggal 16 November 2015-

(4)
(5)
(6)

Sabtu, 14 November 2015

Skala: diisi dengan skala seberapa pentingnya pasien. 3= sangat penting,

2=rata-rata, 1=kurang penting.

2. Pembahasan

Pasien adalah seorang perokok aktif yang memiliki kebiasaan merokok 18 batang

perhari. Sebelumnya pasien belum pernah mencoba untuk berhenti merokok.

Dengan mengikuti program ini, pasien diharapkan mengurangi jumlah rokok

menjadi setengah rata-rata jumlah konsumsi rokok biasanya. Berdasarkan data

yang dicapai, pasien belum mencapai target yaitu 9 batang rokok/hari. Namun

mengingat waktu untuk mengumpulkan data yang singkat, penurunan jumlah

batang sebanyak 1-2 batang perhari dan mencapai 12 batang perhari dalam 6 hari

pada pasien baru pertama kali mendapatkan edukasi tentang merokok dan juga

baru pertama kali berniat untuk mengurangi dan berhenti merokok cukup

memuaskan. Pasien juga dapat memprioritaskan waktu dan kegiatan mana yang

harus merokok dan tidak. Dibutuhkan perjuangan yang cukup berat bagi seorang

perokok berat seperti pasien yang memiliki ketergantungan terhadap rokok untuk

dapat mengurangi jumlah rokok per harinya. Dengan adanya kecenderungan

(7)

ke depannya ia dapat mengurangi jumlah rokok lebih banyak dan akhirnya

berhenti merokok.

Menurut pasien, sulit untuk tidak merokok setelah makan dan saat di tempat kerja.

Setelah makan, ia sering merasa mulutnya asam dan ingin merokok. Hal ini dapat

dicoba dengan mengunyah permen karet. Sedangkan di tempat kerja, ia sulit

menolak bila ditawari rokok oleh teman-teman kerjanya. Diperlukan perhatian

lebih karena sasaran program harus lah berupa populasi target, pasien tidak

menjadi perokok aktif namun sama saja menjadi perokok pasif. Target populasi

keluarga dan sekitar perlu dijalankan.

Pasien berniat menurunkan jumlah rokok yang dihisapnya menjadi kurang dari 12

batang perhari, dan pada akhirnya behenti sama sekali untuk kebaikan keluarga

dan kesehatan tubuhnya sendiri. Pasien juga menyadari bahwa dukungan dari

keluarga adalah hal yang sangat penting dalam membantunya untuk mengurangi

rokok, namun yang paling penting dari semuanya adalah niat dari dirinya sendiri

untuk berhenti merokok. Pasien sudah mengerti dampak dari merokok bukan

hanya terhadap perokok, namun juga terhadap perokok pasif, mempunyai dampak

kesehatan yang lebih besar. Nasihat dan apresiasi berupa pujian dalam setiap

usaha perokok menurunkan jumlah konsumsi batang perharinya dapat sangat

bernilai bagi semangat perokok untuk berhenti merokok. Pasien menyatakan saat

ini belum bisa berhenti merokok secara total karena hal tersebut sangat sulit.

Meski demikian, pasien berharap ingin segera bisa berhenti merokok secara total

agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

3. Kesimpulan dan saran

Usaha berhenti merokok sangatlah sulit karena adanya efek ketergantungan

dengan zat adiktif yang ada di rokok. Beberapa faktor memperngaruhi usaha

perokok untuk berhenti merokok diantaranya internal berupa pengetahuan, niat,

motivasi, dan eksternal berupa lingkungan dan dukungan. Niat perokok

merupakan hal terkuat dan terpenting dalam program ini. Dukungan keluarga

untuk menjaga keinginan perokok untuk berhenti merokok sangat penting.

Petugas kesehatan berperan penting untuk melaksakaan promosi kesehatan untuk

meningkatkan kesadaran para perokok, dukungan tentunya juga harus diberikan

oleh perusahaan tempat bekerja serta masyarakat dan Negara untuk lebih peduli

(8)

satunya menggalakkan kampanye bebas rokok pada tempat umum serta

memasang atribut-atribut bebas rokok. Selain itu peran advokasi dijalankan

dengan memasang tulisan bahaya merokok di produk rokok dan iklan rokok

dengan tulisan yang dihighlight, memberlakukan pajak tinggi untuk perusahaan

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian subyek diberikan perlakuan untuk merokok satu batang rokok yang diketahui bahwa kedua subyek yaitu perokok ringan dan sedang mempunyai hubungan terhadap

Diagram 4.24 juga dapat dilihat bahwa dari 88 responden yang pernah menjadi perokok dan sekarang sudah berhenti, terdapat sebanyak 15 % mengatakan bahwa muncul keinginan untuk

Semakin banyak jumlah batang rokok yang dihisap tiap hari dan lamanya merokok mempengaruhi bilangan semakin besar akan menimbulkan aliran turbulen pada pernafasan perokok

Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran laju aliran saliva pada perokok serta mengetahui pengaruh lama merokok dan jumlah rokok yang dihisap terhadap laju

Tiga belas perokok (100%) tersebut menyadari pada dasarnya mereka memiliki kemampuan untuk bisa berhenti merokok, namun ketidak yakinan mereka juga mempengaruhi

Survey derajat self efficacy dalam usaha berhenti merokok pada kelompok mahasiswa perokok di Fakultas Kedokteran Universitas X di Kotamadya Bandung.. Tesis Universitas Kristen

Orang dengan tingkat konsumsi rokok yang tinggi memiliki sikap yang sangat setuju bahwa merokok itu membawa dampak negatif dan juga memiliki minat berhenti merokok yang tinggi pula..

Terdapat hubungan yang positif dan sangat lemah pada pola hubungan kerentanan diri dan keseriusan terkena penyakit karena merokok dengan kemungkinan remaja perokok untuk berhenti