PENGEMBANGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA MATERI
KEANEKARAGAMAN HAYATI KELAS X
DI KABUPATEN ACEH SELATAN
Khairil Hadi
Dosen STKIP Bina Bangsa Meulaboh, Jl. Meulaboh-Tapaktuan, Peunaga Cut UjungKec. Meurebo Kab. Aceh Barat 23615, E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pengembangan model Problem Based Learning berbasiskearifanlokalmerupakan pengembangan perangkat pembelajaran (RPP dan LKS) yang disusun dengan mengadopsi model pembelajaran PBL dan materi disajikan berbasis kearifan lokal masyarakat Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Penelitianini bertujuan untuk mengembangkanperangkat pembelajaran (RPP dan LKS) berbasis model pembelajaran PBL dan kearifan lokal yang valid dan efektif pada materi keanekaragaman hayati kelas X SMA. Penelitian ini merupakan research and development yang dikebangkanoleh Borg and Gall.Hasilpengembanganiniberupa RPP dan lembarkerjasiswa (LKS). Data dalam penelitian ini berupa data kevalidan RPP, dan LKSyang didapatkandarihasilvalidasioleh validator.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Hasil pengembangan RPP model pembelajaran PBL berbasis kerifan lokal dinyatakan valid dengan rata-rata nilai validasi sebesar 92,71%; dan (2) Hasil pengembangan LKS model pembelajaran PBL berbasis kearifan lokal dinyatakan valid dengan rata-rata nilai validasi persentase 96,83%.
Kata Kunci :Problem Based Learning, Kearifan Lokal,RPP Biologi, LKS Biologi, Berpikir
Tingkat Tinggi
PENDAHULUAN
Kurikulum Indonesia mengalami perubahan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 pada tahun 2013 dan diubah nama menjadi Kurikulum Nasional pada tahun 2017. Mulyasa (2002) dalam Hadi (2015) menyatakan, bahwa betapapun bagusnya suatu kurikulum (officiall), tetapi hasilnya sangat tergantung pada apa yang dilakukan oleh guru dan juga murid dalam kelas (actual). Hal ini mengindikasikan bahwa faktor utama
tercapainya keberhasilan di dalam proses belajar sangat dipengaruhi oleh guru tidak terkecuali di dalam proses belajar biologi.
Biologi yang merupakan bagian dari IPA memiliki karakteristik proses atau kerja ilmiah yang didasarkan pada kemampuan berpikir dan penyelesaian masalah karena IPA diperoleh melalui proses penalaran, penyelidikan ilmiah, dan eksperimen dalam menjelaskan gejala alam (Tasiwan dkk, 2014). Pembelajaran sains sebagai bagian dari proses pendidikan memiliki peran besar
dalam upaya pengembangan individu di era global.
Tuntutan pembelajaran sains pada era global menurut National Science Teachers Association (2006) yaitu untuk menyiapkan peserta didik dengan berbagai keterampilan dan kecakapan seperti berpikir kreatif, inovatif, kritis, pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, ICT Literacy dan kepemimpinan. Pembelajaran sains juga harus mempersiapkan peserta didik yang berkualitas yaitu peserta didik yang sadar sains, memiliki nilai, sikap dan keterampilan berpikir tingkat tinggi sehingga akan muncul sumber daya manusia yang dapat berpikir kritis, berpikir kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah.
Kemampuan berpikir tigkat tinggi sangat penting dikembangkan melalui pembelajaran sains khususnya biologi sebagai bekal peserta didik untuk menghadapi tantangan dan rintangan di masa mendatang. Namun, pada kenyataannya, kemampuan berpikir analitis siswa di Indonesia masih tergolong rendah.
Berdasarkan laporan Mckinsey Indonesian’s Today dan sejumlah data rangkuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Edupost, 2012) menyatakan bahwa hanya 5% dari pelajar Indonesia yang memiliki kemampuan
berpikir analitis, sedangkan sebagian besar pelajar Indonesia lainnya hanya memiliki kemampuan sampai taraf mengetahui. Salah satu penyebab hal tersebut tidak lain karena pembelajaran di sekolah kurang menuntut siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir mereka.
Studi pendahuluan yang penulis lakukan dan diskusi dengan seorang guru biologi di SMA Negeri Aceh Selatan, menunjukkan bahwa guru sudahmenggunakan model pembelajaranseperti PBL, inquiri, dandiscoveri. Namundalampelaksanaanpembelajaran guru menghadapikendala-kendalasepertisintakspembelajarantidaks esuaidengan model yang digunakan. Dalamhalinitidakmenutupkemungkinanb
ahwasanya guru
menggunakansintakspembelajarandengan model konvensional. Siswa-siswikelas X hanyamampumenyelesaikansoal-soalpadakriteriapengetahuan, pemahaman, danpenerapan, sedangkansoal-soal yang berkriteriaanalisis, sintesis, danevaluasibelummampudiselesaikan.
Berhasil atau tidaknya proses belajar yang dilaksanakan disekolah ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki oleh guru, termasuk pengetahuan guru terhadap model-model pembelajaran dan
perangkat pembelajaran(RPP dan lembar kerja siswa).
Perangkat pembelajaran merupakan suatu alat atau bahan yang digunakan untuk melakukan proses pembelajaran. Maka oleh sebab itu sebaiknya perangkat pembelajaran disusun menggunakan cara ilmiah.. Salah satunya adalah penyususnan perangkat pembelajaran berbasis model pembelajaran Problem Based Learning.
Problem based learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada pemelajar dimana peserta didik dapat mengadakan pengamatan, mengintegtasi antara teori dan praktek, dan aplikasi atau penerapan pengatahuan, pengembangan keterampilan (Simmons, 2008 dalam Purba 2015).
Selain penyusunan perangkat pembelajaran berbasis model PBL, perangkat pembelajaran disusun juga dengan memperhatikan kebutuhan penggunaannya, yaitu kebutuhan yang didasari oleh faktor geografis, etnografis, dan karakteristik kekayaan daerah. Maka oleh sebab itu, bahan ajar seharusnya dikembangkan sesuai dengan kerifan lokal. Hal senada juga diungkapkan Ramli (2013), bahwa perlunya penekanan kearifan lokal sebagai indigenous science dalam pembelajaran biologi. Pemanfaatan konten kearifan lokal dalam pembelajaran, selain dapat
menyelamatkan pengetahuan kearifan lokal itu sendiri juga dapat membantu siswa dalam belajar biologi dengan aplikasi pembelajaran nyata.
Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis PBL dan kerifan lokal dalam penelitian ini dilakukan pada materi keanekaragaman hayati. Hal ini dikarenakan masih perlu pengembangan perangkat pembelajaran yang memunculkan aktivitas siswa untuk memahami konsep yang terdapat pada materi keanekaragaman hayati. Materi keanekaragaman hayati merupakan sebuah topik dalam pelajaran biologi yang memiliki karakteristik berupa fakta dan konstektual yang dapat diamati oleh siswa.
Berpijak dari uraian diatas, maka peneliti sudah melaksanakan penelitian tentang pengembangan model pembelajaran PBL berbasis kearifan lokal.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan pendekatan max method dengan jenis penelitian research and development. Penelitian pengembangan dalam penelitian ini mengadopsi model yang dikembangkan oleh Borg and Gall, meliputi: (1) Studi pendahuluan; (2) Desain produk; (3) Validasi desain produk; (4) Revisi desain produk; (4) Uji
coba produk; (5) Revisi Produk; (6) Uji coba pemakaian; (7) Revisi desain produk; dan (8) laporan produk akhir. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sawang kabupaten Aceh selatan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi, Validasi,
Angket, dan Tes. Teknik analisis data untuk mengetahui tingkat kevalidatan perangkat pembelajaran di lakukan menggunakan rumus statistik sederhana. Sedangkan untuk menganalisis uji coba produk dilakukan menggunakan uji t dengan programSPSS.16.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL
1. Kelayakan RPP
Tabel 1. Nilai Validitas RPP
No Aspek Validator ∑ SP NV (%) Kriteria I II III IV 1 Format RPP 8 8 8 8 32 32 100 Valid 2 Perumusan Komponen RPP 40 39 37 39 155 160 96.88 Valid 3 Penggunaan Bahasa 6 6 7 7 26 32 81.25 Rata-rata 92.71 Valid
Keterangan :
∑
: Jumlah
SP
: Skor Keseluruhan
NV
: Nilai validitas
2. Kelayakan LKSTabel 1. Nilai Validitas RPP
No
Aspek
Validator
∑
SP
NV
(%)
Kriteria
I
II III IV
1 Kualitas Tampilan 12 11 12 12 47 12 97.92 Valid 2 Komponen Penyajian 18 19 20 19 76 20 95 Valid 3 Komponen Kebahasaan 20 19 19 19 77 20 96.25 Valid 4 Kelayakan Isi 20 20 20 20 80 20 100 Valid 5 Sintaks Model Problem
Based Learning 19 18 19 20 76 20 95 Valid Rata-rata 96.834 Valid
Keterangan :
∑
: Jumlah
SP
: Skor Keseluruhan
NV
: Nilai validitas
PEMBAHASAN
1. Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran
Keberhasilan proses belajar mengajar didalam kelas sangat ditentukan oleh perangkat pembelajaran yang digunakan, mulai dari rencana pelakasanaan pembelajaran sampai dengan penggunaan bahan ajar. Kemendikbud (2013:4) menyatakan bahwa pada umumnya keberhasilan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan seseorang sangat ditentukan seberapa besar kualitas perencanaan yang dibuatnya. Anonim (2011) dalam Hadi, K (2015) mengemukakan, bahwa jika suatu perencanan pembelajaran tidak dipersiapkan dengan baik, maka peluang untuk tidak terarah akan terbuka lebar.
RPP yang dikembangkan dalam penelitian ini merupakan RPP berdasarkan KTSP (gambar 1) pada materi keanekaragaman hayati berbasis Problem Based Learning terintegrasi kearifan lokal. Hasil validasi menunjukkan bahwa RPP berkriteria Valid (92,71%). Maka oleh sebab itu, RPP yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat dipergunakan didalam proses pembelajaran.
Penyusunan RPP dalam penelitian ini mengikuti format RPP KTSP sesuai dengan Permendiknas No. 41 Tahun 2007, dimana komponen RPP meliputi : (1) Identitas, (2) standar kompetensi, (3) kompetensi dasar, (4) indikator pencapaian kompetensi, (5) tujuan pembelajaran, (6) materi pembelajaran, (7) metode pembelajaran, (8) kegiatan pembelajaran, (9), Sumber belajar, dan (10) penilaian.
Gambar 1. Format RPP KTSP Perumusan komponen RPP pada item identitas dirumuskan dengan jelas dan lengkap yang meliputi: (1) nama sekolah/satuan pendidikan, (2) mata pelajaran, (3) kelas/semester, dan (4) alokasi waktu.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar dirumuskan sesuai dengan yang telah ditetapkan secara nasional dan kearifan lokal. Karena itu, rumusan standar kompetensi dan
kompetensi dasar sekalipun sudah dituliskan dalam silabus, perlu tetap dituliskan kembali dalam RPP agar dapat terlihat secara langsung keterkaitannya dengan komponen yang lainnya dan menjadi titik tolak untuk menentukan materi pembelajaran, indikator ketercapaian kompetensi, media, metoda, kegiatan pembelajaran serta menentukan cara penilaian.
Indikator dan tujuan pembelajaran dirumuskan menggunakan kata operasional. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan merupakan pengulangan dari rumusan indikator dengan menggunakan dan aspek Audience, Behaviour, Condition, dan Degree(A-B-C-D).
Materi ajar dirumuskan meliputi materi : (1) fakta, (2) konsep, (3) prinsip, dan (4) prosedur, ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan materi keanekaragaman hayati yang berbasis kearifan lokal. Materi yang disusun adalah materi kenekaragaman hayati yang terdapat di daerah Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh selatan.
Metode pembelajaran merupakan cara penyajian pelajaran yang dilaksanakan oleh pendididk agar terjadinya proses pembelajaran pada diri sisiwa dalam upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Maka oleh sebab itu, perumusan metode pembelajaran
dalam RPP yang dikembangkan mencakup model, pendekatan, dan metode.
Perumusan langkah-langkah pembelajaran mengikuti sintaks model pembelajaran PBL. Langkah-langkah proses belajar mengajar yang disusun didalam RPP mengandung unsur (1) menyadari adanya masalah, (2) merumuskan masalah, (3) merumuskan hipotesis, (4) mengumpulkan data, dan (5) merumuskan hasil.
Sumber belajar dirumuskan meliputi : (1)media, (2) alat, dan (3) sumber belajar). Media merupakan pesan atau bahan pengajaran yang akan disampaikan yang berupa perangkat lunak, alat penampil atau perangkat keras. Misalnya power point, video, maupun berupa alat peraga. Alat merupakan segala sesuatu yang dapat menunjang keefektifan dan efesiensi penyampaian, pengembangan dan pemahaman informasi atau pesan pembelajaran. Misalnya projector, laptop, papan tulis, dan lain-lain. Sumber belajar merupakan berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Penilaian dijabarkan dengan menunjukkan teknik/ jenis penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Penentuan prosedur penilaian, dan menyusun instrumen penilaian sebaiknya sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi dasar. Pencantuman penilaian dalam RPP dapat berupa penilaian proses dan penilaian hasil. Maka didalam penelitian ini perumusan item penilaian dirumuskan dengan lengkap meliputi (1) jenis/teknik penilaian, (2) bentuk instrumen, (3) instrumen penilaian, dan (4) rubrik penilaian).
Dalam Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 menyebutkan bahwa standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Salah satu prinsip penilaian peserta didik adalah menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok,
dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Pada KTSP penilaian lebih ditekankan pada aspek kognitif yang menjadikan tes sebagai cara penilai yang dominan (Abdullah, 2013).
2. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar kerja siswa (LKS) merupakan salah satu bahan ajar yang didalamnya berisi kegiatan-kegiatan yang harus diselesaikan oleh siswa sesuai dengan materi yang dipelajari. LKS dapat dikembangkan atau disusun oleh guru, para pemerhati pendidikan dan para peneliti tentang pendidikan. Agar LKS yang dikembangkan tepat guna, maka hal yang harus diperhatikan adalah karakteristik siswa. Selain hal tersebut, inovasi didalam pendidikan sangat dibutuhkan tidak terkecuali dalam pengembangan LKS.
LKS yang dikembangkan dalam penelitian ini merupakan LKS materi keanekaragaman hayati melalui penggunaan langkah-langkah model pembelajaran PBL berbasis kearifan lokal. Penggunaan sintaks atau langkah-langkah model pembelajaran PBL didalam penyusunan LKS ini bertujuan untuk mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Sedangkan penggunaan pendekatan Kearifan lokal didalam LKS ini bertujuan untuk
memberi pembelajaran nyata dan memperkenalkan kearifan lokal melalui proses pembelajaran.
Validai LKS berbasis PBL terintegrasi kearifan lokal pada materi keanekaragaman hayati dilakukan untuk mengetahui kualitas dari LKS yang dikembangkan dengan penilaian ahli materi dan ahli media berdasarkan kualitas tampilan, komponen penyajian, komponen kebahasaan, kelayakan isi, dan penggunaan sintaks model PBL. Hasil validasi menunjukkan bahwa LKS hasil pengembangan berkriteria valid (96.834).
LKS berbasis model PBL terintegrasi kearifan lokal dalam penelitian ini berupa prototipe. Cover LKS didesain dengan memadukan beberapa foto jenis hewan dan tumbuhan serta laut dan pulau. Foto tumbuhan dan hewan serta pemandangan laut yang terdapat di cover merupakan kearifan lokal yang terdapat di Kecamatan Sawang. Prastowo (2012) menyatakan bahwa gambar dapat memperjelas informasi yang disampaikan.
Warna sampul yang digunakan pada LKS ini yaitu warna biru, merah, danhijau. Prastowo (2011:169) menyebutkan bahwa warna biru merupakan warna yang memberi ketenangan sedangkan warna merah merangsang dan dapat membantu
membangkitkan semangat dan menghangatkan suasana hati. Kemudian warna hijau dapat memberi pengaruh dingin dan menenangkan.
Gambar 2. Cover LKS
Komponen-komponen LKS hasil pengembangan memuat kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, petunjuk pembelajaran, materi, langkah kerja , dan uji kompetensi. Hal senada juga diungkapkan Prastowo (2011) bahwa struktur LKS terdiri dari 6 kompenen meliputi judul, petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah-langkah kerja serta penilaian.
Huruf yang digunakan dalam menyusun LKS ini yaitu Times New Roman dengan ukuran 12 dan spasi 1,5. Pemilihan huruf ini dikarenakan banyaknya buku yang ditulis menggunakan huruf tersebut. Prastowo (2012) menyatakan bahwa hendaknya bahan ajar cetak menggunakan huruf yang tidak terlalu kecil dan mudah dibaca. Sedangkan menurut Sitepu
(2012) menyatakan bahwa ukuran huruf 10,11, 12 point merupakan huruf yang lazim digunakan untuk buku teks pembelajaran.
Didalam penyusunan LKS ini, materi yang disusun merupakan materi fakta yang merupakan materi keanekaragaman hayati yang terdapat di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Materi tersebut dilengkapi dengan gambar jenis hewan dan tumbuhan serta identitas dalam bahasa Aceh Kecamatan Sawang. Menurut Azizahwati (2017) menyatakan bahwa kearifan lokal dapat membantu siswa dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dan mengembangkan identitas budaya yang positif sehingga pelajaran lebih bermakna.
Gambar 3. Penyajian materi berbasis kearifan lokal
LKS ini memiliki sintaks model PBL yang meliputi perumusan masalah, perumusan hipotesis,pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan penyelesaian hasil atau penyajian data (gambar 4).
Perumusan masalah didalam LKS ini merupakan permasalahan-permasalahan yang muncul setelah siswa membaca materi-materi yang disajikan berdasarkan kearifan lokal. Hal ini senada dengan ungkapan Suprihatininggrum (2013), bahwa mengajukan masalah kepada siswa dapat dilakukan dengan menyajikan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setelah rumusan masalah, siswa diarahkan untuk merumuskan hipotesis sesuai dengan rumusan masalah.
Pengumpulan data di dalam LKS ini dilakukan dengan cara siswa diarahkan untuk mebgumpulkan data baik dari LKS maupun dengan pengamatan. Selanjutnya siswa diarahkan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Penyelesaian Hasil atau Penyajian data merupakan langkah terakhir dari model PBL. Pada tahap ini siswa diarahkan untuk mengumpulkan data dari keseluruhan langkah-langkah PBL yang telah dilakukan. Setelah penyajian data dilakukanlah presentasi hasil pengamatan.
Gambar 4. Perumusan Sintaks PBL
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran biologi (RPP dan LKS) untuk Siswa Kelas X telah berhasil disusun dengan memenuhi kriteria valid dan efektif dengan masing hasil penilaian sebesar (1) RPP sebesar 92,71%; dan (2) LKS sebesar 96,83%;
SARAN
Dalam rangka turut menyumbang pemikiran yang berkenaan berdasarkan pengembangan, maka saran peniliti dalam penelitian ini yaitu perlu dikembangkan perangkat pembelajaran Biologi untuk Kelas X, XI, dan XII yang memiliki karakteristik khusus dengan mengadopsi model-model pembelajaran yang tepat dan sesuai serta mengenalkan kearifan lokal melalui pembelajaran biologi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, H, L. 2013. Sistem Penilaian dalam Kurikulum 2013: Kajian Dokumen Terhadap Kurikulum 2013.http://www.academia.edu/52 53890/Sistem_Penilaian_dalam_ Kurikulum_2013_Kajian_Dokum en. Diakses Tanggal 2 Juli 2017. Azizahwati dkk. 2017. Pengembangan
Lembar Kerja Siswa Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Geliga Sains 5 (1), 65-69 ISSN 1978-50X
Edupos.2012.Pelajar Indonesia Lemah Berpikir Analitis? Ganti KurikulumBukan
Solusinya.(Online),
(http://edupost-jogja/berita- nasional/pelajar-indonesia-lemah-berpikir-analitis-ganti-kurikulum bukan solusinya), Diakses 6 Maret 2016.
Hadi, K. 2015. Analisis RPP Berdasarkan KTSP dan RPP BerdasarkanKurikulum 2013 di SMA Negeri Se-Kabupaten Aceh Selatan.JurnalPendidikanBiologi Volume 5 No.23
Kemendikbud. 2013. Bahan Ajar Training Of Training (ToT) Implementasi Kurikulum 2013 :
Penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) SD/ SMP/ SMA/ SMK. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
National Research Teacher Assosiation. 2006. Science as Inquiry in the Secondary setting. Arlington Virginia : NSTA Press.
Prastowo, A. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta : Diva Press
Prastowo, A. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta : Diva Press Sitepu. 2012. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya Purba, O, S. 2015. PengaruhStrategiPembelajaranBer basisProyekdanKooperatifTerhad apKemampuanBerpikir Tingkat Tinggi, KeterampilanBerpikirKreatifdanS ikapSosialSiswaPadaMateriSiste mPencernaanMakanan SMA Negeri 2 Pematangsiantar. Tesis Program Pascasarjana UNIMED. Ramli, murni. 2013. Analisis Substansi Pendidikan Mutikultural Sains di Buku Pelajaran Biologi untuk SMA. Surakarta : UNS
Sitepu. 2012. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya
Suprihatininggrum, J. 2013. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta : Al Ruzz Media
Tasiwan, S. E Nugroho, Hartono. 2014.Analisis Tingkat Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran Ipa Model Advance Organizer Berbasis Proyek. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. JPII 3 (1) (2014) 43-50.