• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PRODUCT SERVICE SYSTEM (PSS) PADA PENGEMBANGAN MODEL BISNIS PRINTER TIGA DIMENSI (3D)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN PRODUCT SERVICE SYSTEM (PSS) PADA PENGEMBANGAN MODEL BISNIS PRINTER TIGA DIMENSI (3D)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PRODUCT SERVICE SYSTEM (PSS) PADA

PENGEMBANGAN MODEL BISNIS PRINTER TIGA DIMENSI (3D)

Ivan Eliata Kusuma1), Dyah Santhi Dewi2), dan I Ketut Gunarta3)

1) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, 60111, Indonesia

e-mail: [email protected]

2) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember 3) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

ABSTRAK

Printer Tiga Dimensi (3D) merupakan teknologi Additive Manufacturing (AM), yang saat ini banyak digunakan dunia industri untuk pembuatan prototype dan produk jadi dalam jumlah kecil. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh Printer 3D, diprediksi bahwa pasar Printer 3D akan terus meningkat, termasuk di Indonesia (Wohler, 2013). Potensi peningkatan pasar, sedikitnya referensi model bisnis, dan pentingnya konsep PSS dalam pengembangan model bisnis, menjadi motivasi dalam penelitian ini. Product Service System (PSS) merupakan konsep value creation yang memadukan antara produk (Tangible) dan service (Intangible) sehingga mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. Dengan menerapkan PSS, konsumen dapat memenuhi semua keinginannya lebih banyak, dibandingkan sekedar memanfaatkan produk dengan fungsi tertentu. Selain itu, akan memberikan keuntungan bagi perusahaan, diantaranya mampu mempererat hubungan dengan konsumen dan memicu perusahaan untuk menciptakan value baru dalam sebuah aktifitas bisnis. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa tahapan proses antara lain studi literatur, wawancara, survei, penentuan segmen pasar, penyebaran kuesioner untuk menjaring Voice of Customer (VOC), menterjemahkan VOC ke teknikal respon, pembuatan alternatif model bisnis, pemilihan alternatif model bisnis, dan analisa kelayakan bisnis. Penelitian ini menghasilkan model bisnis product oriented untuk segmen pasar pembuat maket.

Kata kunci: Product Service System (PSS), Model Bisnis, Printer Tiga Dimensi (3D) PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertengahan tahun 1980’an Printer 3D mulai dikembangkan, bersamaan dengan berkembangnya teknologi komputer dan sistem kontrol (Hopkins et al., 2006). Saat ini Printer 3D banyak digunakan dalam dunia industri manufaktur untuk pembuatan prorotype, produk jadi dalam jumlah kecil, customized product, produk-produk bernilai tinggi seperti komponen pesawat terbang dan alat-alat yang berkaitan dengan dunia kesehatan (Berman, 2012; Hopkins et al., 2006). Printer 3D memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan teknologi manufaktur terdahulunya, seperti Injection Molding dan Computer Numerical Controler (CNC). Keunggulan yang didapat adalah penghematan biaya produksi, penghematan energi, dan pengurangan emisi gas CO2. Gebler et al., (2014) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa penggunaan Printer 3D berpotensi untuk penghematan biaya produksi sebanyak US$ 170-593 milyar, penghematan energi sebanyak 2,54-9,30 Exa

(2)

joul (Ej), dan pengurangan emisi gas CO2 sebanyak 130,5-525,5 Megaton (Mt) terhitung jika ini digunakan sampai tahun 2025.

Pasar Printer 3D diprediksi akan bertumbuh dengan cepat, termasuk di Indonesia (Wohlers, 2013). Pertumbuhan pasar Printer 3D di Indonesia ditandai dengan mulai banyaknya distributor dan penyedia jasa pembuatan produk custom serta prototype dengan menggunakan Printer 3D. Kondisi pertumbuhan pasar dan minimnya model bisnis Printer 3D di Indonesia menjadi motivasi dalam penelitian. Justru dengan meningkatnya pasar akan meningkatkan persaingan bisnis, dengan meningkatnya persaingan bisnis dibutuhkan sebuah model bisnis yang mampu berkelanjutan.

Untuk itu dibutuhkan sebuah konsep khusus dalam pengembangan model bisnis. Product Service System (PSS) secara umum dikenal sebagai konsep value creation yang memadukan antara produk (Tangible) dan service (Intangible), dimana perpaduan antara produk dan service ini akan didesain sedemikian rupa sehingga mampu memberikan nilai tambah, mampu memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen secara spesifik.

Penelitian ini akan berfokus pada penerapan konsep PSS dalam pengembangan model bisnis Printer 3D. Dimana PSS akan menjadi strategi utama dalam proses pengembangan model bisnis, sehingga dapat menciptakan value baru yang kreatif dan inovatif, sehingga model bisnis tersebut dapat berkelanjutan khsusnya dalam aspek finansial.

Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang masalah di atas, perumusan masalah yang menjadi obyek kajian dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan model bisnis berbasis teknologi Printer 3D dengan pendekatan PSS, sehingga model bisnis tersebut dapat berjalan dengan baik, mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta dapat berkelanjutan dalam aspek finansial.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengembangkan model bisnis berbasis teknologi Printer 3D dengan konsep PSS. 2. Melakukan analisa kelayakan bisnis terhadap model bisnis.

Printer Tiga Dimensi (3D)

Teknologi Printer 3D dalam dunia manufaktur dikenal dengan nama Additive Manufacturing (AM). Dimana dengan teknologi ini dapat dengan mudah menghasilkan model 3 dimensi sesuai dengan keinginan. Disebut dengan istilah Additive Manufacturing karena proses untuk menghasilkan benda 3 dimensi dilakukan dengan cara menambahkan material atau menyatukan material lapis demi lapis sehingga menjadi benda 3 dimensi sesuai dengan data digital yang telah dibuat (Data dari sofware Computer Aided Design) (Gebler et al., 2014). Jenis material yang dapat dipergunakan sebagai bahan untuk menghasilkan benda 3 dimensi meliputi plastik, alumunium, baja, titanium, dan keramik. Beberapa proses yang umum diterapkan dalam teknologi Printer 3D adalah Stereolithography (SLA), Selective Laser Sintering (SLS), Digital Light Processing (DLP), Fused Deposition Modelling (FDM), Selective Laser Melting (SLM), dan Electron Beam Melting (EBM) (Gebler et al., 2014).

(3)

Product Service System (PSS)

Product Service System (PSS) secara umum dikenal sebagai konsep value creation yang memadukan antara produk (Tangible) dan service (Intangible), dimana perpaduan antara produk dan service ini akan didesain sedemikian rupa sehingga mampu memberikan nilai tambah, mampu memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen secara spesifik. Berikut ini adalah definisi PSS menurut beberapa penilitian yang telah dilakukan oleh beberapa peniliti sebelumnya:

A Product Service system (PS system or product service combination) is a marketable set of products and services, jointly capable of fulfilling a client's need (Goedkoop et al, 1999) A system of products, services, supporting networks and infrastructure that is designed to be: competitive, satisfy customer needs and have a lower environmental impact than traditional business models (Mont, 2002)

Ide utama PSS adalah bagaimana konsumen tidak dihadapkan secara langsung pada produk-produk, tetapi bagaimana konsumen memperoleh semua kebutuhan dan keinginannya melalui service yang disediakan. Dengan memanfaatkan service, konsumen dapat memenuhi semua keinginannya lebih banyak, dibandingkan hanya sekedar memanfaatkan produk-produk dengan fungsi tertentu. Inilah yang membedakan konsep tradisional dengan PSS. Dimana konsep tradisional hanya berorientasi pada produk dan bagaimana menjual produk tersebut.

Kategori Product Service System (PSS)

Tukker (2004) dalam penelitiannya membagi PSS ke dalam tiga kategori utama, yaitu: 1. Product oriented: penjualan produk dimana pelanggan akan membeli sebuah produk dan

memiliki 100% kepemilikan atas produk yang sudah dibelinya. Sementara perusahaan menawarkan dan mengenakan biaya atas layanan service yang terkait dengan produk tersebut.

2. Use oriented: untuk kategori ini, kepemilikan produk 100% dipegang oleh perusahaan, dimana perusahaan tidak menjual produk secara langsung kepada konsumen tetapi menjual ‘penggunaan produk’ atau ‘fungsi’ produk tersebut melalui sistem leasing, sharing, atau renting.

3. Result oriented: perusahaan menjual ‘hasil’ atau ‘kompetensi’ mereka. Dalam kasus ini, perusahaan menawarkan berbagai macam service dimana ‘hasil’ yang akan diberikan kepada konsumen tersebut dapat diwujudkan melalui bantuan produk-produk yang mereka miliki. Kepemilikan produk 100% dipegang oleh perusahaan penyedia service. Konsumen tidak perlu lagi melakukan leasing, sharing, ataupun renting, tetapi cukup memanfaatkan kompetensi dari perusahaan sehingga kebutuhan dan keinginan konsumen dapat terpenuhi. METODE

Ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan dalam penelitian ini. Secara terperinci tahapan proses yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Survei dan wawancara awal untuk mengetahui kondisi dan model bisnis Printer 3D di Surabaya saat ini.

(4)

3. Segmentasi pasar.

4. Pengumpulan Voice of Customer (VOC) dengan kuesioner dan menterjemahkan ke terknikal respon.

5. Pembuatan alternatif model bisnis dengan konsep PSS.

6. Pemilihan alternatif model bisnis yang sesuai dengan segmen pasar.

7. Pendefinisian proses bisnis dan komponen biaya untuk setiap model bisnis. 8. Analisa kelayakan bisnis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Langkah awal dalam pengembangan model bisnis ini adalah dengan melakukan survei dan wawancara untuk mencari informasi tentang kondisi dan model bisnis berbasis Printer 3D yang ada. Survei dan wawancara dilakukan pada lima perusahaan di Surabaya.

Selanjutnya adalah dengan melakukan studi literatur untuk mengetahui gambaran keseluruhan mengenai kondisi Industri Kreatif Indonesia. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui peluang pengembangan model bisnis Printer 3D, terutama kondisi pasar yang berpotensi untuk memanfaatkan teknologi Printer 3D. Dalam buku Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015, Industri Kreatif Indonesia dibagi kedalam 14 sub-sektor meliputi Periklanan; Arsitektur; Pasar barang seni; Kerajinan; Desain; Fashion; Video, film & fotografi; Permainan interaktif; Musik; Seni pertunjukan; Penerbitan & percetakan; Layanan komputer & piranti lunak; Televisi & radio; Riset & pengembangan.

Setelah peluang pengembangan model bisnis didapatkan, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan proses segmentasi pasar. Manfaat segmentasi pasar adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif. Dalam penelitian ini segmen pasar yang dipilih ada segmen pasar pembuat maket (Sub-sektor arsitek).

Segmen pasar telah ditentukan, selajutnya adalah pengumpulan VOC dengan kuesioner. Kuesioner ini akan dibagikan pada 30 responden untuk segmen pasar pembuat maket. Tujuan dari pengumpulan VOC adalah supaya dapat mengetahui seluruh kebutuhan dan keinginan konsumen terkait model bisnis Printer 3D.

Setelah seluruh VOC didapatkan, langkah yang perlu dilakukan adalah menterjemahkannya kedalam teknikal respon perusahaan. Tujuan proses ini adalah untuk menjawab semua kebutuhan dan keinginan konsumen, sehingga konsumen merasa puas terhadap produk dan service yang diberikan.

Pembuatan alternatif model bisnis dengan konsep PSS

Sesuai dengan pembagian tipe PSS menurut Tukker, alternatif model bisnis yang dapat dibuat adalah model bisnis yang bersifat product oriented, model bisnis yang bersifat use oriented, dan model bisnis yang bersifat result oriented. Untuk model bisnis yang bersifat product oriented adalah bagaimana sebuah perusahaan dapat menyediakan Printer 3D yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen yang disertai dengan service tambahan yang diberikan kepada konsumen. Dalam hal ini, value yang dapat diberikan kepada konsumen adalah dengan menjadi penyedia (Menjual) Printer 3D.

Untuk model bisnis yang bersifat use oriented adalah bagaimana perusahaan dapat memberikan manfaat dan fungsi dari Printer 3D kepada konsumen, tanpa konsumen harus membeli Printer 3D. Dalam hal ini, value yang yang dapat diberikan kepada konsumen adalah dengan layanan persewaan Printer 3D.

(5)

Sedangkan untuk model bisnis yang bersifat result oriented adalah bagaimana perusahaan dapat memberikan manfaat dan fungsi dari Printer 3D kepada konsumen, tanpa konsumen harus memiliki atau bahkan menggunakan Printer 3D secara langsung. Dalam hal ini, value yang dapat diberikan kepada konsumen adalah jasa pembuatan produk dengan menggunakan Printer 3D.

Pemilihan alternatif model bisnis yang sesuai dengan segmen pasar

Untuk memilih tiga alternatif model bisnis diatas, digunakan analisa biaya produksi. Analisa biaya produksi ini digunakan untuk mengetahui alternatif model bisnis mana yang memberikan biaya terkecil dari sudut pandang konsumen. Konsumen dalam hal ini adalah para pembuat maket yang membutuhkan manfaat dan fungsi dari Printer 3D. Dalam melakukan analisa biaya produksi ini dibutuhkan informasi mengenai rata-rata jumlah pembuatan maket per bulan untuk para setiap pembuat maket. Informasi ini didapatkan dari kuesioner yang telah dibagikan kepada para pembuat maket, sebanyak 30 responden.

Setelah informasi ini didapatkan, langkah selanjutnya adalah mendefinisikan biaya material, biaya listrik, biaya tenaga kerja, biaya investasi untuk pembelian Printer 3D, biaya perawatan, depresiasi alat, biaya sewa, biaya jasa untuk proses printing 3D, dan beberapa komponen biaya lain yang diasumsikan. Contoh perhitungan biaya produksi untuk pembuatan maket dengan menggunakan Printer 3D milik sendiri (Product oriented), dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Perhitungan Biaya Produksi untuk Pembuatan Maket dengan Menggunakan Printer 3D Milik Sendiri - Product Oriented (Dalam Rupiah)

Res. Total Biaya material dan listrik per bulan Biaya investasi per bulan Total biaya perawatan per bulan Biaya depresiasi alat Biaya operator per bulan Total biaya produksi dengan alat sendiri per bulan 1. 600.546,70 1.013.819,71 300.000 416.666,6 2.710.000 5.041.033,08 2. 400.364,47 1.013.819,71 300.000 416.666,6 2.710.000 4.840.850,85 3. 3.603.280,2 1.013.819,71 300.000 416.666,6 2.710.000 8.043.766,58 4. 50.045.558 1.013.819,71 300.000 416.666,6 2.710.000 54.486.044,71 5. 800.728,93 1.013.819,71 300.000 416.666,6 2.710.000 5.241.215,31

Contoh perhitungan biaya produksi untuk pembuatan maket dengan menyewa Printer 3D (Use oriented), dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Perhitungan Biaya Produksi untuk Pembuatan Maket dengan Menyewa Printer 3D - Use Oriented (Dalam Rupiah)

Res. Total biaya sewa

alat per bulan

Total Biaya material dan listrik

per bulan Biaya operator per bulan Total biaya pembuatan dengan sewa alat per bulan

1. 2.500.000 600.546,70 2.710.000 5.810.546,70

2. 2.500.000 400.364,47 2.710.000 5.610.364,47

3. 2.500.000 3.603.280,20 2.710.000 8.813.280,20

4. 2.500.000 50.045.558,3 2.710.000 55.255.558,33

(6)

Contoh perhitungan biaya produksi untuk pembuatan maket dengan menjasakan ke pihak lain (Result oriented), dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Perhitungan Biaya Produksi untuk Pembuatan Maket dengan Menjasakan ke Pihak Lain - Result Oriented (Dalam Rupiah)

Res. Berat material per maket (Gram) Jumlah pembuatan per bulan Biaya jasa per gram Biaya jasa per maket

Total biaya jasa per bulan 1. 3766,67 0,25 7.500 28.250.000 7.062.500 2. 1255,56 0,5 7.500 9.416.666,67 4.708.333,33 3. 16950,00 0,33 7.500 127.125.000 42.375.000 4. 9809,03 8 7.500 73.567.708,33 588.541.666,67 5. 627,78 2 7.500 4.708.333,33 9.416.666,67

Pendefinisian proses bisnis dan komponen biaya untuk setiap model bisnis

Setelah model bisnis ditentukan, tahapan selajutnya adalah dengan mendefinisikan proses bisnis dari kedua model bisnis tersebut. Pendefinisian proses bisnis ini dilakukan untuk mengetahui keseluruhan aktivitas yang akan dilakukan dalam sebuah model bisnis. Aktivitas ini meliputi dari penerimaan order hingga penyampaian value kepada konsumen. Value dalam hal ini merupakan gabungan antara produk dan service. Setelah proses bisnis didefinisikan, tahapan selanjutnya adalah dengan mendefinisikan semua komponen dan besarnya biaya terkait dengan model bisnis yang akan dijalankan. Semua komponen dan besarnya tersebut didefinisikan berdasarkan model bisnis yang telah ditentukan, seluruh VOC yang telah diterjemahkan kedalam teknikal respon perusahaan, dan asumsi.

Analisa kelayakan bisnis

Tahapan terakhir adalah dengan melakukan analisa kelayakan usaha untuk model bisnis yang telah dipilih. Dalam analisa kelayakan bisnis ini, dilakukan perhitungan proyeksi laba rugi, perhitungan proyeksi Free Cash Flow (FCF), perhitungan Internal Rate of Return (IRR),

Weighted Average Cost of Capital (WACC), dan Net Present Value (NPV) untuk jangka

waktu 10 tahun kedepan. Contoh perhitungan laba rugi untuk model bisnis menjual Printer 3D dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini:

Tabel 4. Contoh Perhitungan Laba Rugi Model Bisnis Menjual Printer 3D – Product Oriented

2016 (Rp) 2017 (Rp)

Laba usaha 21.883.400 101.263.400

Beban bunga (11.5%) 48.300.000 38.640.000

Laba sebelum pajak -26.416.600 62.623.400

Pajak penghasilan (30%) -7.924.980 18.787.020

(7)

Contoh perhitungan Free Cash Flow, nilai IRR, WACC, dan NPV untuk model bisnis menjual Printer 3D dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini:

Tabel 5. Contoh Perhitungan Free Cash Flow Model Bisnis Menjual Printer 3D -

Product Oriented

Free cash flow 2016 (Rp) 2017 (Rp)

Net profit -18.491.620 43.836.380 Depresiasi mobil 4.000.000 4.000.000 Depresiasi gedung 0 0 Bunga*1-pajak 33.810.000 27.048.000 Terminal value 0 0 Total in flow 19.318.380 74.884.380 Initial cost 600.000.000 0

Perubahan modal kerja 0 0

Total out flow 600.000.000 0

Net cash flow -580.681.620 74.884.380

IRR 43%

WACC 10,75%

NPV Rp 2.590.501.431

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari hasil pengembangan model bisnis Printer 3D dengan penerapan PSS, dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Dalam penelitian ini telah dikembangkan tiga alternatif model bisnis, antara lain model bisnis penyedia (Menjual) Printer 3D (Product oriented), model bisnis persewaan Printer 3D (Use oriented), dan model bisnis jasa pembuatan produk menggunakan Printer 3D (Result oriented). Dari hasil analisa biaya produksi, model bisnis yang paling sesuai untuk segmen pasar pembuat maket adalah model bisnis penyedia (Menjual) Printer 3D (Product oriented). Karena memiliki biaya terkecil dari sudut pandang konsumen, dalam hal ini adalah para pembuat maket.

2. Berdasarkan indikator finansial yang digunakan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model bisnis tersebut layak untuk dijalankan dan menguntungkan, serta diharapkan dapat berkelanjutan (Sustainable) secara finansial. Hal ini dapat dilihat dari nilai IRR dan NPV untuk masing-masing model bisnis yang telah dikembangkan. Dimana nilai IRR > WACC dan nilai NPV > 0.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diberikan beberapa saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya. Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat diberikan:

1. Keberlanjutan (Sustainability) mencakup aspek finansial, lingkungan, dan sosial. Dalam penelitian ini, aspek keberlanjutan (Sustainability) yang dijadikan indikator hanya aspek

(8)

finansial saja. Untuk penelitian selanjutnya, alangkah baiknya jika aspek lingkungan juga disertakan sebagai indikator tambahan. Sehingga hasil penerapan PSS dalam pengembangan model bisnis akan lebih maksimal. Dengan demikian model bisnis yang dihasilkan tidak hanya profit oriented, tetapi juga ramah lingkungan.

2. Dalam penelitian ini, segmen pasar yang menjadi target penelitian adalah sub-sektor arsitek (Pembuat maket). Untuk pengembangan penelitian selanjutnya, dapat memanfaatkan sub-sektor industri kreatif yang lain seperti sub-sektor kerajinan, sub-sektor desain, sub-sektor perfilman, dan sub-sektor fashion yang sangat berpotensi untuk memanfaatkan teknologi Printer 3D.

DAFTAR PUSTAKA

Gebler, M., Anton, J.M., Uiterkamp, S., dan Visser, C. (2014). A global sustainability perspective on 3D printing technologies. Energy Policy, Vol.74, p.158-167.

Goedkoop, M et al. (1999). Product Service-Systems, ecological and economic basics. Report for Dutch Ministries of Environment (VROM) and Economic Affairs (EZ).

Gunarta, I.K. (2013). Penilaian Usaha, Konsep Dasar dan Implementasi. Jurusan Teknik Industri, 2013.

Hopkinson, N., Hague, R.J.M., dan Dickens, P.M. (2006). Rapid Manufacturing. An industrial Revolution for the Digital Age. John Wiley and Sons Ltd., Chischester, West Sussex.UK.

Reim, W., Parida, V., dan Ortqvist, D. (2014). Product-Service Systems (PSS) business models and tactics – a systematic literature review. Journal of Cleaner Production, Vol.30, p.1-15.

Tischner, U. dan Vezzoli, C. (2009). Product-Service Systems: Tools and Cases, Design for Sustainability (D4S): A Step-By-Step Approach.

Tukker, A. (2004). Eight types of product-service system: eight ways to sustainability? experiences from SusProNet.

Tukker, A. dan Tischner, U. (2006). New Business for Old Europe, Greenleaf Publishing. United Nations Environment Programme (UNEP). The role of Product Service Systems In a

sustainable society.

Vezzoli, C., Kohtala, C., Srinivasan, A., Diehl, J.C., Fusakul, S.M., Xin, L., dan Sateesh, D. (2014). Learning Network on Sustainability (LeNS): Product-Service System Design for Sustainability.

Wohlers. (2013). Wohlers Report 2013 — Additive Manufacturing and 3D Printing State of Industry Annual Worldwide Progress Report. Wohlers Associates, Fort Collins, CO, USA.

Gambar

Tabel 1. Perhitungan Biaya Produksi untuk Pembuatan Maket dengan Menggunakan  Printer 3D Milik Sendiri - Product Oriented (Dalam Rupiah)
Tabel 3. Perhitungan Biaya Produksi untuk Pembuatan Maket dengan Menjasakan ke  Pihak Lain -  Result Oriented (Dalam Rupiah)
Tabel 5. Contoh Perhitungan Free Cash Flow Model Bisnis Menjual Printer 3D -  Product Oriented

Referensi

Dokumen terkait

penghu-bungan berbagai komponen logik pada konfigurasi yang diinginkan untuk membentuk operasi aritmatik dan logik pada data tertentu.. • Hardwired program

Tahap ini meliputi: (1) peneliti melakukan refleksi terhadap siswa dengan memberikan dan meminta siswa mengisi lembar jurnal setelah proses pembelajaran selesai,

Ada beberapa rangkaian utama untuk pengiriman sinyal audio ini, diantaranya pre-amplifier yang merupakan mixing sinyal audio, transmiter yang berfungsi sebagai

dengan yang dikatakan oleh Margit Varró (dalam Agay, 2012, hlm. Performers and teachers are called upon to transmit this joy. The pedagogue who forgets this aim, or –

The two sides agreed to encourage the growth of bilateral trade and business links, including through regular consultations and business forum meetings,

Fungsionalitas yang terdapat dalam sistem informasi akuntansi yang dikembangkan ini adalah laporan posisi keuangan seperti dapat dilihat pada Gambar 13... Tujuan laporan

Tahapan Belajar Menggunakan Media Flashcard untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Notasi Balok Siswa Les Keyboard Privat .... Peningkatan Kemampuan Membaca Notasi Balok Siswa

tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan