• Tidak ada hasil yang ditemukan

Husen Assagaf. BUDAYA DAN PERADABAN ISLAM DI PULAU AMBON Potret Sejarah Pukul Sapu di Negeri Mamala TBM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Husen Assagaf. BUDAYA DAN PERADABAN ISLAM DI PULAU AMBON Potret Sejarah Pukul Sapu di Negeri Mamala TBM"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

Husen Assagaf

BUDAYA DAN PERADABAN ISLAM

DI PULAU AMBON

Potret Sejarah Pukul Sapu di Negeri Mamala

(2)

BUDAYA DAN PERADABAN ISLAM DI PULAU AMBON Potret Sejarah Pukul Sapu di Negeri Mamala

Oleh: Husen Assagaf

Diterbitkan oleh TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) Jl. Anggur VIII Rempoa,

Ciputat Timur, 15419 Tangerang Selatan, Banten Telp: 021-74711209

Cetakan Pertama, Pebruari 2014 Layout & Design cover, Masykur ISBN xxxxxxxxxxxxxxxxxx

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDTI) HUSEN ASSAGAF,

BUDAYA DAN PERADABAN ISLAM DI PULAU AMBON Potret Sejarah Pukul Sapu di Negeri Mamala/Husen Assagaf Cetakan Pertama, Ciputat: TBM, 2014

xii+334 hlm Bibliografi

ISBN XXXXXXXXXXXXXXXXX

Hak cipta dilindungi undang-undang / All Right Reserved

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

(3)

KATA PENGANTAR PENULIS

Buku ini adalah hasil penelitian penulis secara mandiri di tahun 2005, tentang Upacara Ritual Ukuwala Mahiate (Pukul Sapu) di negeri Mamala kecamatan Leihutu Kabupaten Maluku Tengah. Dan penelitian ini, baru dibukukan di awal tahun 2014. Dalam buku ini penulis memotret bagaimana agama dan budaya lokal (local wisdom) bisa bersentuhan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Agama merupakan pusat orbit nilai budaya yang ditransformasikan dalam berbagai rana budaya lokal sehingga agama dan budaya lokal saling menyatu dan memperkuat suatu tatanan kehidupan keberagamaan. Di sisi lain, budaya lokal menjadi korban pada saat agama difahami secara normatif dan mengklaim budaya lokal sebagai biang kerok munculnya bid’ah, takhayul, dan khurafat dalam wilayah agama. Padahal proses penyiaran dan pengembangan Islam di Nusantara begitu pesat disebabkan salah satunya adalah persentuhan budaya dan peradaban Islam dengan budaya dan peradaban lain di dunia ini. Olehnya itu, Nurcholis Madjid, bahwa peradaban Islam banyak mengadopsi warisan luar Islam. Dan Amin Abdullah, bahwa secara normative-teologis, Alquran mengakui adanya pluralitas, lokalitas, kesukuan (etnisitas) maupun kebangsaan (nasionalitas).

Dalam tataran rana budaya lokal Islam di Ambon terjadi konfigurasi antar agama dan budaya yang melahirkan Upacara Ritual Ukuwala Mahiat (Pukul Sapu), Sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom) dari masyarakat negeri Mamala terutama para pemimpinnya yakni Imam Tuny, Latuliu, dan Patty Tiang Bessy. Peranan Imam Tuny sebagai seorang tokoh agama dan ulama yang menyelesaikan persoalan kehidupan sosial keagamaan dengan jalan mistisisme Islam. Dan dengan kesabaran dan kekuatan spritualitasnya, ia dapat membuka tabir antara mkhluk dan Sang Khalik untuk memohon dan berdoa kepada-Nya. Sebuah pengalaman keagamaan ( religious experience) oleh Imam Tuny menghadirkan nilai-nilai Ketuhanan (teosentris) dalam mewarnai Upacara Ritual

(4)

Ukuwala Mahiate (Pukul Sapu). Dengan demikian, maka nilai-nilai ketuhanan (teosentris) dapat dibumikan dalam budaya-budaya Islam (antroposentris).

Akhirnya, buku ini dapat menambah wawasan dan referensi kita tentang budaya dan peradaban Islam di pulau Ambon.

Jakarta, 23 Pebruari 2014

(5)

DAFTAR ISI PENGANTAR PENERBIT

PENGANTAR PENULIS DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

BAB 2 PROFIL NEGERI MAMALA ... 19

A. Kondisi Geografis dan Demografis Negeri Mamala ... 19

1. Geografis ... 19

2. Demografis ... 22

B. Sosial Ekonomi ... 24

C. Struktur Pemerintahan Negeri Mamala ... 25

D. Agama dan Kepercayaan Masyarakat ... 27

E. Pendidikan dan Budaya Negeri Mamala ... 29

1. Pendidikan ... 29

2. Budaya ... 31

BAB 3 UPACARA RITUAL UKUWALA MAHIATE ... 35

A. Sejarah Ukuwala Mahiate ... 35

B. Prosesi upacara ukuwala Mahiate ... 37

C. Makna Simbol Upacara Ukuwala Mahiate ... 41

1. Masjid ... 42

2. Nyuwelain Matehu/Minyak Tasalah ... 46

3. Ukuwala/Sapu Lidi ... 50

BAB 4 ANALISIS UPACARA RITUAL UKUWALA MAHIATE ... 53

A. Pandangau Masyarakat Negeri Mamalla Terhadap Upacara Ukuwala Mahiate ... 53

1. Aspek Wisata Budaya ... 53

(6)

3. Aspek Persatuan Antar Agama ... 57

4. Budaya Lokal dan Budaya Modern ... 59

a. Agama ... 61

b. Adat/Warisan Leluhur ... 63

c. Persatuan Umat/Ukhuwa Islamiyah ... 65

d. Budaya dan Solidaritas ... 65

B. Analisis Perspektif Teologis ... 68

1. Kepercayaan Masyarakat Negeri Mamala Terhadap Ukuwala Mahiate ... 68

2. Analisis Teologis dalam Upacara Ritual Ukuwala Mahiate ... 71 a. Teologi Spritual ... 77 b. Teologi Aktual ... 94 BAB 5 PENUTUP ... 99 A. Kesimpulan ... 99 B. Implikasi ... 98 DAFTAR ISI ... 103 BIODATA PENULIS ... 111

(7)

BAB 1

PENDAHULUAN

Kehidupan masyarakat Islam sudah terintegrasi dengan kultural lokal dan praktek keagamaan yang masih ditemukan di dunia Islam hingga kini. Kehidupan keagamaan ini juga ditemukan di daerah-daerah Islam di Timur Tengah dan daerah-daerah Islam di Indonesia. Kita kenal gerakan Wahabiah di Arab Saudi sebagai gerakan moral keagamaan untuk pemurnian nilai-nilai ketauhidan masyarakat Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787). Dia adalah seorang ulama besar yang gigih mengembalikan umat Islam kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, memberantas syirik, takhayul, dan khurafat dari lapangan aqidah.1

Menurutnya kemunduran umat Islam adalah dikarenakan kerusakan tauhid dan kepercayaan kepada Allah Swt.2 Di samping gerakan

Wahabiah, gerakan Muhammadiyah di Indonesia3 dan organisasi

pembaharuan lainnya juga muncul sebagai reaksi atas sebuah pengamalan terhadap pemahaman keagamaan umat Islam Indonesia.

Gerakan-gerakan moral keagamaan tersebut untuk meletakan sebuah kepercayaan dan keyakinan murni kepada Tuhan (tauhid) dengan tidak mencampuri ajaran agama dengan praktek-praktek ritual agama yang muncul dalam masyarakat Islam.

Agama sebagai fenomena sosial di dalamnya terdapat

1 Endang Saifudin Anshari, Wawasan Islam Pokok-pokok Pikiran Tentang

Paradigma dan Sistem Islam, (cet. I, Jakarta: Gema Insani, 2004), h. 89

2 Moehammad Thahir Badrie, Syarah Kitab al-Tauhid Muhammad bin Abdul

Wahab, (Cet. I, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), h. xvii

3Anggaran Dasar Muhammadiyah, Statuten Lar, Pranatan Tjilik Oemoen

Toemrap Pakeompoelan Moehammudijab Hindia Wetan (Ngajog - Jakarta: Pangreh Cede Moehammdijah, 1928 ), h. 9-10. Dalam rumusannya yang kemudian, misi dakwah disebutkan sebagai identitas gerakan ini, Lihat ayat 11 dalam Muqaddimah dan Anggaran Dasar Muhammadiyah, (Yogjakarta : PP. Muhammadiyah,1986). h. 6. 4

(8)

gerakan purifikasi yang membersihkan agama dari nilai-nilai yang dianggap bukan agama. Fenomena agama seperti ini juga merupakan sebuah problem bagi agama-agama di dalam menghadapi tantangan globalisasi dan akulturasi antarbudaya, dan dalam penerapannya sering bersifat ambigu. Maka yang sering tertuduh dan dikorbankan adalah kebudayaan-kebudayaan lokal.4

Di sisi lain di negeri-negeri Islam masih tumbuh subur berbagai realitas fonomena sosial keagamaan dimana praktek keagamaan diterjemahkan ke dalam konteks budaya lokal.

Agama sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan untuk manusia, fungsi dasar nya adalah memberi orientasi, motivasi dan membantu manusia untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sakral lewat pengalaman beragama (reiegious experience) yang dengan itu manusia menjadi memiliki kesanggupan, kemampuan dan kepekaan rasa untuk mengenal dan memahami eksistensi Sang Ilahi. 5 Menurut Harun Nasution, unsur-unsur penting yang

terdapat dalam agama adalah :6

1. Kekuatan gaib; manusia merasa dirinya lemah dan berhajat kepada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong.

2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraan di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib.

3. Respons yang bersifat emosional dari manusia. Respons itu bisa mengambil bentuk perasaan takut seperti yang terdapat dalam agama-agama primitif atau perasaan cinta seperti yang terdapat pada agama-agama monotisme.

4. Paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib.

Secara sosiologis, agama merupakan kategori sosial dan

4 Abidin Wakano, Menyikapi Keberagamaan, “Jurnal Lembaga Antar

Iman Maluku Kanjoli, No. 1 April-Juni 2005, h. 3

5 Ahmad Syafie'i (editor). Penelitian Pengembangan Agama Menjelang Awal

Mellinium III ( Jakarta : Badan Litbang. 1999), h. 1

6 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek Jilid I. (Jakarta:

(9)

tindak emperis. Dalam konteks ini agama dirumuskan dengan ditandai oleh tiga corak pengungkapan universal. Kepercayaan teoritis berwujud kepercayaan (belief system), pengungkapan praktis sebagai sistem persembahan (system of worship) dan pengungkapan sosiologis sebagai sistem hubungan masyarakat (system of social relation).7 Abuddin Nata mengutip Durkeim, mengatakan bahwa

agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan kalau dikaji, katanya, Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat. Berkenaan dengan itu, Taufik Abdullah mengeritik pendapat Durkeim tersebut. Menurut Taufik Abdullah, Durkeim sampai kepada kesimpulan tersebut karena ia hanya meneliti agama melalui tulisan-tulisan para pengembara misionaris dan kehidupan keagamaan pada suku-suku Aborijin di Australia yang dianggapnya paling murni.8

Menurut Koentjaraningrat, religi memang merupakan bagian dari kebudayaan (menghindari istilah agama dan memakai istilah religi yang lebih netral) dan juga ada yang mengatakan bahwa agama adalah semua sistem religi. Koentjaraningrat sepaham dengan Emile Durkeim mengenai dasar-dasar religi yang dituangkan dalam bukunya Les Formes Elementaires De la Vie Religieu se (1912). Menurut Koentjaraningrat, tiap religi merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat komponen, yaitu:

1. Emosi keagamaan, yang menyebabkan manusia itu bersikap religius.

2. Sistem keyakinan, yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujiid alam gaib (supernatural) serta segala nilai, norma dan ajaran dari religi yang bersangkutan.

3. Sistem ritus dan upacara yang merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib.

7 HM. Sayuti Ali, Metodologi Penelitian Agama Pendekatan Teori dan

Praktek, (Jakarta: PT. Grafindo, 2002), cet. I, h. 1

8 Abduddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta. PT. Grafindo, 2001), cet. VI,

(10)

4. Umat atau kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan tersebut dan melaksanakan sistem ritus dan upacara.9

Kata religi berasal dari bahasa latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah relegere yang mengandung arti mengumpulkan, membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan. Ini terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain kata itu berasal dari religare yang berarti mengikat.10 Sistem keyakinan dalam suatu religi dijiwai

oleh emosi keagamaan, tetapi sebaliknya emosi keagamaan juga bisa dikobarkan oleh istem kepercayaan. Adapun sistem ritus dan upacara itu melaksanakan dan melambangkan konsep-konsep yang terkandung dalam sistem keyakinan. Sistem upacara merupakan wujud kelakuan (behavioral manifestation) dari religi. Walaupun demikian, upacara agama belum lengkap kalau tidak dihinggapi dan dijiwai emosi keagamaan. Di sinilah masuk komponen pertarna ialah cahaya Tuhan yang membuat suatu upacara itu menjadi suatu aktivitas yang keramat.11

Goody mendefinisikan ritual sebagai suatu katagori adat perilaku yang dibakukan, dimana hubungaii antara sarana-sarana dengan tujuan tidak bersifat intrinsik, dengan kata lain, sifatnya entah irasional atau nonrasional.12 Ritual dapat dibedakan menjadi

empat macam yaitu :

(1) Tindakan Magi, yang dikaitkan denga penggunaan bahan-bahan yang bekerja karena daya-daya mistik, (2) tindakan religius, kultus para leluhur, juga bekerja dengan cara ini, (3) ritual konstitutif, yang mengungkapkan atau mengubah hubungan sosial dengan merujuk pada pengertian-pengertian mistis, dengan cara ini upacara kehidupan menjadi klias, (4) ritual faktitif, yang meningkatkan

9 Koentjaraningrat, Kehudayan Menialitas dan Pembangunan, (Jakarta :PT,

Gramedia, 2000), cet . XIX, h.144. Lihat juga Harun Nasution. op. cit.. h. 2.

10 Harun Nasution, op.cit., h. 2 11 Koentjaraningrat, op.cit., h. 146-147

12 J. Goody, Religiun and Ritual; The Definition Problem, (The British Journal

(11)

produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan, atau dengan cara lain meningkatkan kesejahteraan materi kelompok.13

Dari teori Goody di atas, maka upacara ukuwala mahiate dapat dikatagorikan pada jenis ritual; tindakan magi, tindakan religius, dan ritual konstitutif. Pada ritual tindakan magi digunakan bahan-bahan di antaranya yakni sapu lidi (ukuwala) dan minyak kelapa (nyuwalai). Pada ritual tindakan religius, upacara ini dihubungkan dengan ibadah puasa Ramadhan dan puasa Syawal, dan masjid dijadikan sebagai sesuatu yang melahirkan ritual ini, serta kultus-kultus leluhur yang disajikan dalam proses ritual ukuwala mahiate. Pada tataran ritual konstitutif ini, ditemukan hal-hal yang gaib, ketika Imam Tuny bermunajah dan berdo'a kepada Allah Swt untuk mendapat pertolongan untuk menyambung tiang masjid yang patah atau retak tersebut. Maka dengan kebesaran Allah Swt lewat minyak (nyuwelai matehu/ minyak tasalah) dengan kekuatan mistiknya maka kayu tersebut tersambung kembali.

Ketika kita mengkaji tentang agama dan budaya lokal di negeri-negeri Islam di Maluku, khususnya di Maluku Tengah, maka perlu kita memahami makna peradaban dan kebudayaan Islam itu sendiri. Menurut Kuntowijoyo bahwa budaya Islam sesungguhnya justru terdapat dalam budaya populer kita. Maka kita dapat mengatakan bahwa budaya kerakyatan kita adalah budaya Islam.14

Hal ini didasarkan atas pengamatan dan penelitiannya terhadap pengaruh Islam yang begitu besar pada kebudayaan di pulau Jawa dan Sumatra. Untuk itu penulis akan mengggambarkan sedikit tentang seputar makna peradaban dan kebudayaan.

Dalam buku Effat al-Sharqawi bahwa Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-hadharah al-Islamiyyah. Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam. Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-isaqqfah. Di Indonesia, sebagaimana di Arab dan Barat, masih

13 Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2000), cet. I, h. 175

14 Kuntowijowo, Peradaban Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung:

(12)

banyak orang yang mensinonimkan dua kata kebudayaan (Arab, al-tsaqafah; Inggris, culture) dan peradaban (Arab, al-hadharah; Inggris civilization). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang kedua istilah itu dibedakan. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.15 Menurut E.B.

Tylor bahwa kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.16 Sedangkan menurut Yusuf Qardhawy

bahwa peradaban adalah sejumlah fenomena kemajuan dalam bidang material, intelektual, seni, sastra dan sosial yang terdapat dalam suatu kelompok masyarakat atau dalam beberapa kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan.17

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud, (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai. norma-norma, peraturan dan sebagainya, (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, (3) wujud kebudayaan sebagi benda-benda hasil karya manusia.18

Berdasarkan uraian di atas maka penulis akan menggali dan meneliti salah satu budaya Islam lokal di negeri Mamalla kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah yakni ukuwala mahiate/pukul sapu. Budaya ini dilaksanakan ketika mereka selesai melaksanakan

15 Effat al-Sharqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, (Bandung: Pustaka, 1986), h.

5

16 Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), cet. I, h. 52

17 Yusuf al-Qardawi, as-Sunnah Mashdarun li al-Ma’rifah wa

al-Hadharah yang diterjemahkan oleh Setiawan Budi Utomo dengan judul As-Sunnah Sebagai Sumber Iptek dan Peradaban Diskursus Kontekstualisasi dan Aktualisasi Sunnah Nabi Saw dalam Iptek dan Peradaban, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999), cet. II, hl. 243

18 Kontjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: FA Aksara

(13)

ibadah puasa di bulan Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa 6 hari bulan Syawal. Kemudian pada tanggal 8 Syawal mereka melaksanakan upacara ukuwala mahiate/pukul sapu. 19 Terkait

dengan upacara ritual ukuwala mahiate, menurut masyarakat Mamala dalam konteks ibadah puasa Ramadhan dan puasa sunnah Syawal didasarkan pada firman Allah Swt. dan had is Nabi Saw.,sebagai berikut; Dalam QS. Al-Baqarah (2): 183 ;

$y㕃r'¯≈tƒ

t⎦⎪Ï%©!$#

(#θãΖtΒ#u™

|=ÏGä.

ãΝà6ø‹n=tæ

ãΠ$u‹Å_Á9$#

$yϑx.

|=ÏGä.

’n?tã

š⎥⎪Ï%©!$#

⎯ÏΒ

öΝà6Î=ö7s%

öΝä3ª=yès9

tβθà)−Gs?

∩⊇∇⊂∪

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.20

Dan dalam Hadis Nabi Saw ;

ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻠﻰﺻ ﷲا ﻮﺳر لﺎﻗ بﻮﻳا ﺑﻰا ﻦﻋ

:

مﺎﺻ ﻦﻣ

ﺮﻫ ا مﺎﻴﺼﻛ نﻛﺎ لاﻮﺷ ﻦﻣ ﺎﺘﺳ ﻪﻌﺒﻠﺗا ﻢﺛ نﺎﻀﻣر

)

هاور

ﻢﻠﺴﻣ

(

Dari Abu Ayyub : Rasulullah Saw., telah berkata barangsiapa puasa dalam bulan Ramadhan, kemudian ia puasa pula enam hari dalam bulan Syawal adalah seperti puasa sepanjang masa.(riwayat Muslim)21

19 Hasil wawancara dengan Abdullah Malawat, Bapak Raja negeri

Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.

20 Departemen Agama RI, Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya,

(Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1995), h. 44

21 CD Digital Hadis al-Kutubul al-Tis’ah, nomor hadis 1984.

Bandingkan dengan Imam Abu Daud Sulaiman al-Asy’ats bin Ishak al-Azdi al-Jastany, Sunan Abu Daud Jilid II, (ttp: al-Maktabah al-Bab al-Halabi, 1381

(14)

Dari pemahaman masyarakat di atas, mereka mengaitkan upacara ritual ukuwala mahiate dengan Q.S. Al-Baqarah (2): 183 dan hadis Nabi Saw., dalam kitab Sunan Abu Daud Jilid II. Dari sisi pelaksanaannya tidak bisa dipisahklan antara puasa Ramadhan, puasa sunnah Syawal dan upacara ritual ukuwala mahiate. Namun perlu dijelaskan penulis bahwa dari aspek fiqh, Q.S. Al-Baqarah (2) : 183 dan hadis Nabi Saw., tidak ada hubungan dengan upacara ritual tersebut, Sebab ayat tersebut, diturunkan untuk kewajiban pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan bagi kaum muslimin dan hadis Nabi Saw., yang menjelaskan manfaat bagi orang yang melaksanakan puasa sunnah Syawal. namun bagi masyarakat negeri Mamala menghubungkan upacara ritual ukuwala mahiate dengan al-Qur’an dan Al-sunnah disebabkan rutinitas agenda upacara adat tersebut bertepatan dengan moment Ramadhan dan Syawal.

Sehubungan dengan itu masyarakat negeri Mamala mengekspresikan sebuah kemenangan setelah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa sunnah Syawal kemudian puncaknya dilaksanakan upacara ukuwala mahiate/pukul sapu. Sebuah kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat negeri Mamala dengan memadukan pemahaman dan pengamalan ajaran agama dengan muatan kebudayaan lokal. Tiga moment serangkai yang tidak bisa dipisahkan yakni pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, puasa sunnah di bulan Syawal, dan upacara ritual ukuwala mahiate. Terkait dengan ini dalam buku M. Natsir H.A.R. Gibb mengatakan bahwa Islam is indeed much more than a system of theologi, it is a complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah sualu peradaban yang sempurna ).22

Hal ini memang sudah semestinya karena religi suatu komunitas ialah apa yang dipercayai dan dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat itu selaku ungkapan agama mereka, dan bukan kelakuan-kelakuan dan kepercayaan- kepercayaan yang diajarkan oleh ahli-ahli agama, dan apa yang dilakukan dan

H/1952 M), h. 114

(15)

dipercayai oleh suatu masyarakat tergantung pada pengalaman masyarakat itu pada masa lalu, yaitu apa saja yang diinternalisasinya sepanjang sejarah.23 Maka dalam bukunya Aslam Hadi, D.C.

Mulder mengatakan bahwa:

Agama bagaimanapun merupakan gejala kebudayaan. maksudnya gejala kebudayaan dilihat dalam sejarah dan kebudayaan. Dalam sejarah, kita lihat perkembangan agama-agama, tingkah laku manusia termasuk gejala kebudayaan, manusia berpikir dan beragama.24

Terkait dengan itu peta kebudayaan anak negeri Maluku yang sarat etnis atau multi sub etnik dan agama, memiliki kejeniusan (local), kearifan (local wisdom) dan struktur sosial (sosial structure) yang kaya dan khas;. Semuanya memiliki khazanah pemikiran (struktur ide dan pemikiran) atau peta nilai berupa struktur makna. sikap dan pilihan hidup, posisi diri, daya bathin, strategi hidup dalam mernbedah perilaku hidup setiap liari sebagai makhluk berbudaya.25

Untuk itu, maka kaidah budaya adalah petunjuk hidup yang seharusnya dipatuhi oleh anggota masyarakat demi terjaminnya ketentraman sosial bersama, yang meliputi ; kaidah agama, kaidah susila, kaidah kebiasaan, kaidah adat, dan kaidah hukum.26

Dalam upacara ukuwala mahiat/pukul sapu terdapat makna-makna kearifan budaya lokal yang terlahir dari interpretasi konteks sejarah keagamaan yang dialami oleh komunitas masyarakat negeri Mamala untuk dipentaskan dalam sebuah tradisi adat yang sangat kuat yang diwariskan dari budaya leluhur mereka dan diteruskan untuk genarasi berikutnya sampai sekarang.

Masyarakat negeri Mamala di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah mempunyai.satu adat berupa upacara ritual ukuwala mahiate. Upacara ritual ini dilaksanakan setiap tahun

23 Alfani Daun, Islam dan Masyarakat Banjar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada, 1997), cet. I, h. 6

24 Aslam Hadi, Pengantar Filsafat Agama, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986),

cet. I, h. 83

25 A. Watloly, Jurnal Lembaga Antar Iman Maluku, op.cit., hl. 4 26 Endang Saifuddin Anshari, op.cit., h. 146

(16)

sebagai bagian dari kegiatan keagamaan. Upacara ritual ini lebih dikenal oleh masyarakat kota Ambon dengan pukul sapu. Upacara ritual ini menarik untuk di kaji baik dari berbagai sudut pandang. Olehnya itu buku ini akan meninjau upacara ritual ukuwala mahiate tersebut dari sudut pandangan teologi dan antropologi agama. Topik utama adalah Pelaksanaan Upacara Ritual Ukuwala Mahiate disertai simbol-simbol yang digunakan serta makna simboi-simbol tersebut.

Upacara ritual ukuwala mahiate/pukul sapu yang mengandung nilai-nilai budaya yang sangat tinggi merupakan upacara adat negeri Mamala yang sangat terkenal sehingga mampu menarik perhatian masyarakat dan para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Pementasannya tidak hanya ditujukan untuk disaksikan oleh masyarakat setempat tetapi terbuka bagi semua komunitas tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan.27 Upacara ukuwala mahiate ini di Maluku Tengah dan pulau

Ambon hanya kita temukan di negeri Mamala dan Morella. Kedua negeri tetangga ini dalam waktu yang sama dan momen yang sama mereka melaksanakan upacara ukuwala mahiate di bulan Syawal.

Dalam buku ini penulis mengarahkan kajian penelitiannya ke negeri Mamala sebagai obyek penelitian penulis. Hal ini menurut penulis agar terfokus pada satu wilayah penelitian yang sama-sama memiliki budaya lokal ukuwala mahiate ini. Berdasarkan pemikiran di atas maka penulis menetapkan satu studi penelitian upacara ritual ukuwala mahiate hanya terfokus di negeri Mamala.

Dari uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka yang menjadi subtansi kajian dalam buku ini adalah Bagaimana upacara ritual ukuwala mahiate di negeri Mamala kecamatan Leihitui kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan sub masalah yang penulis kemukakan dalam menguraikan pembahasan buku ini adalah : 1. Bagaimana proses pelaksanaan upacara ritual ukuwala mahiate di

negeri Mamala?

27 Karel Albert Ralahalu, Sambutan Gubernur Maluku pada Acara Upacara

Adat Tradisional Pukul Sapu Lidi, Perayaan 7 Syawal di negeri Mamala, (Ambon: Pemerintah Propinsi Maluku, 2005), h. 3-4

(17)

2. Bagaimana simbol dan makna yang digunakan dalam upacara ritual ukuwala mahiate?

3. Bagaimana pandangan masyarakat negeri Mamala terhadap upacara ritual ukuwala mahiate?

4. Bagaimana kajian perspektif teologi dalam upacara ritual ukuwala mahaite?

Dengan masalah pokok dan beberapa sub masalah di atas, penelitian ini dibatasi pada ruang lingkup pembahasan seputar ; upacara ritual Ukuwala Mahiate di negeri Mamala. Menurut Kontjaraningrat bahwa salah satu wujud kebudayaan adalah wujud idieal dan adat adalah wujud ideal dari kebudayaan. Menurutnya adat dapat dibagi lebih khusus dalam empat tingkat: yakni (a) tingkat nilai budaya, (b) tingkat norma-norma, (c) tingkat hukum, dan (d) tingkat aturan khusus.28 Untuk itu upacara ritual ukuwala Mahiate ini

merupakan salah satu upacara adat di negeri Mamala. Maka penulis akan menghubungkan seputar makna-makna tingkatan budaya adat dengan upacara ritual ukuwala mahiate.

Judul buku ini adalah Upacara ritual Ukuwala Mahiate Masyarakat Mamala Kecamatan Leihitu (Suatu Kajian Antroplogi Agama). Maka perlu untuk menjelaskan makna variabel dari judul yang mengandung beberapa istilah-istilah tersebut di atas, diantaranya:

1. Upacara

Upacara29, yang diserap dari bahasa Sansekerta yang artinya

aturan resmi, seremoni, rangkaian tindakan yang terikat pada aturan, kebiasaan yang berlaku sebagai sebagian dari perayaan. 2. Ritual

Kata ritual30 mengandung arti berhubungan dengan ritus,

upacara keagamaan, juga diartikan menurut upacara agama.31

28 Koenjaraningrat, op.cit., h. 11

29 J.S Badudu, at.al., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka

Sinar Harapan, 1994), cetl. I, h. 1595

30 Ibid., h. 1173

31 Pius. A. Partanto et.al., Kamus Ilmiah Populer, (Yogyakarta:Arkola,

(18)

3. Ukuwala Mahiate

Kata ukuwala terambil dan bahasa negeri Mamala yang artinya sapu lidi sedangkan Mahiate artinya baku pukul. Jadi arti dari ukuwala mahiate adalah baku pukul manyapu.32

Sedangkan pengertian operasional adalah suatu upacara ritual ukuwala mahiate di negeri Mamala yang dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal, setelah mereka melaksanakan puasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa sunnah 6 (enam) Syawal. Upacara adat ini tidak lepas dari warisan budaya leluhur masyarakat negeri Mamala.

Dalam kaitan ini, Goody mengatakan bahwa ritual sebagai suatu katagori adat perilaku yang dibakukan, di mana hubungan antara sarana-sarana dengan tujuan tidak bersifat intrinsik, dengan kata lain, sifatnya entah irasional atau nonrasional.33

Kata upacara34 yang diserap dari bahasa Sansekerta yang

artinya aturan resmi, seremoni, rangkaian tindakan yang terikat pada aturan, kebiasaan yang berlaku sebagai sebagian dari perayaan. Sedangkan kata ritual35 mengandung arti berhubungan dengan ritus,

upacara keagamaan, juga diartikan menurut upacara agama.36

Dalam buku Ahmad Norma Permata, menurut Chaple dan Coon bahwa upacara sebagai kontrol sosial bermaksud mengontrol prilaku dan kesejahteraan individu demi dirinya sendiri ataupun individu bayangan. Hal itu semua dimaksudkan untuk mengontrol dengan cara konservatif, prilaku, keadaan hati, perasaan, dan nilai-nilai dalam kelompok demi komunitas secara keseluruhan.37

Sedangkan ritual menurut Goody sebagai suatu kategori adat perilaku yang dibakukan, dimana hubungan antara sarana-sarana

32 Hasil wawancara dengan Muhammad Amin Malawat, Imam Masjid

negeri Mamala pada tanggal 7 Nopember 2005, di negeri Mamala.

33 J. Goody, loc.cit. 34 JS. Badudu, at.al., loc.cit. 35 Loc.cit.

36 Pius A. Partanto, et.al., loc.cit

(19)

dengan tujuan tidak bersifat intrinsik, dengan kata lain, sifatnya entah irasional atau nonrasional.38

Dalam kaitannya dengan pengertian upacara ritual ini, yang dikemukakan Raymond Firt bahwa suatu kepercayaan barulah merupakan kepercayan religius, bila terdapat kegiatan upacara dan tindakan-tindakan duniawi (the rites and mundane practices).39 Dan juga

menurut Wallace bahwa upacara (ritual) adalah religi yang in action.40

Pandangan para antropolog tentang kriteria ritual dan apa sebenamya ritual itu berbeda-beda. Sebagian mendefinisikannya secara sederhana, sebagian lagi secara luas. Setelah menunujukkan berbagai perbedaan pendapat dan definisi para antropolog. Seymour Smith mengusulkan, mungkin pada akhirnya ritual tidak perlu didefinisikan sama sekali atau mungkin harus membebaskannya sekalian dari batasan upacara di satu sisi dan di sisi lain kegiatan instrumental atau praktis.41

Gluckman mendefinisikan upacara sebagai kumpulan aktivitas manusia yang kompleks dan tidak mesti bersifat teknis atau rekreasional. tetapi melibatkan model perilaku yang sepatutnya dalam suatu hubungan sosial. Sebaliknya ritual menurutnya adalah katagori upacara yang lebih terbatas, tetapi secara simbolis lebih kompleks karena ritual menyangkut urusan sosial dan psikologis yang lebih dalam. Lebih jauh, ritual dicirikan mengacu pada sifat dan tujuan yang mistis atau religius.42 Berbeda dengan Gluckman,

menurut Leach menyatakan ritual adalah setiap prilaku untuk mengungkapkan status pelakunya sebagai makhluk sosial dalam sistem struktural dimana ia berada pada saat itu.43

38 J. Goody, loc.cit.

39 Raymond Firth, Elements of Social Organization, (Boston: Beacon Press,

1972), h. 102

40 Antony F.C Vallace, Religion: an Antropologikal View, (London:

Random House, 1966), h. 102

41 Seymour Smith, Macmillan Dictionary of Anthropology, (London:

Macmillan, 1990), h. 125

42 Ibid., h. 218

43 Leach. E.R., Political System of Hihhland Burma; A Study of Kochim Sosial

(20)

Sementara itu, Lessa dan Vogt, dengan cara berpikir serupa berpendapat bahwa ritual mencakup semua tindakan simbolik, baik yang bersifat duniawi atau sakral teknik ataupun estetik, sederhana ataupun rumit, mulai dari etiket penyapaan, seperti apa khabar?, pengucapan mantra, hingga ke penyelenggaraan berbagai bentuk upacara yang khidmat.44

Sehubungan dengan berbagai definisi yang dikemukan oleh para ahli antropologi, maka penulis mencoba mendefinisikan upacara ritual ukuwala mahiate adalah suatu jenis upacara keagamaan yang bernuansa Islam dengan menggunakan lidi aren/ukuwala sebagai alat tarian atraksi budaya, dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal setelah melakasanakan puasa Ramadhan dan puasa sunnah Syawal.

Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari tindakan-tindakan ritus, tindakan-tindakan tersebut difahami dari pengalaman-pengalaman religi dan keyakinan beragama baik individu maupun kelompok, upacara ritual ini ditemukan pada kelompok beragama ataupun masyarakat primitif.

Dalam konteks Islam, keseluruhan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat dibedakan atas tiga katagori, diantaranya; pertama kepercayaan bersumber dari ajaran Islam, kedua kepercayaan yang mungkin ada kaitannya dengan struktur masyarakat, ketiga kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya.45

Terkait dengan itu, Rippin menegaskan bahwa ritual Islam berpusat pada rukun Islam. Rippin menganggap rukun Islam sebagai intisari hukum Islam wahyu yang dipraktekkan dalam aktivitas ritual. Lima rukun Islam: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan berhaji, yang menjadi bagian integral dari sistem keyakinan dan penerapan pernyataan syahadat, merupakan kewajiban setiap individu, di luar etika umum dan aturan tentang hubungan antar

44 Lessa, W.A., dan Vogt E.Z., Reader in Comparative Religion an

Anthropological Approach, (New York: Harper dan Row, 1970), h. 220

45 Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(21)

pribadi.46 Dan juga Denny menyatakan bahwa semua kewajiban

formal Islam dimasukkan dalam ibadah, rukun Islam. Ibadah, menurutnya merupakan bagian utama ritual Islam dan aktivitas lain yang bersifat non utama diatur dengan jelas dengan rukun Islam.47

Dalam kaitannya dengan dasar-dasar upacara ritual ini, maka Beatie mengatakan bahwa fungsi upacara-upacara ritus di sekitar lingkungan hidup dapat dibagi ke dalam dua katagori, yaitu manifest function (fungsi yang disengaja dan disadari oleh pelakunya) dan laten function (fungsi yang terselubung dan yang tidak disadari oleh pelakunya).48 Dalam bukunya Mukhlis (ed), menurut Wolf melihat

empat macam fungsi upacara ritual sebagi berikut: 1) untuk mengabsahan dan memberlakukan unit-unit sosial dan hubungan antara sesamanya/ validating social units and relation between them, 2) untuk menunjang keteraturan sosial yang urnum/Vo uphold their common social order. 3) meletakkan dasar-dasar bagi norma-norma sosial yang bersifat mengatur//o emphasize the regulaiivr character of norms. 4) untuk menjelaskan kegagalan atau ketidak beruntungan dan menolak bala V to explain and counteract misfortune.49

Sehubungan dengan dasar upacara ritual ini, maka upacara ritual ukuwala mahiate didasarkan pada; l) pembangunan masjid, 2) pengalaman spritual Imam Tuny dalam menghadapi masalah ketika terjadinya balok kayu masjid yang patah/retak, 3) pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, 4) dan pelaksanaan ibadah puasa sunnah Syawal.

Dilihat dari bentuk dan tujuan upacara ritual dapat dibagi ke dalam beberapa katagori diantaranya 1) ritus mengahapi masa krisis. 2) ritus. mengharapkan keselamatan dan perlindungan, 3) ritus

46 Rippin. A., Muslim: Their Religons Beliefand Practices, (London:

Routledge, 1990), h. 24

47 Denny, F.M., Islamic Ritual: Perspective and Theories dalam Martin,

M.C., (ed) Approaches to Islam in Religious Studies, (Tucson: The University of Arizona, 1985), h. 50

48 Jhon Beatie, Other Cultures: Aims, Methods and Achievement in

Social Anthropology, (Routledge: Board Way House, 1972), h. 75

49 Mukhlis dan Kathryn Robinson, Agama dan Realtias Sosial, (Sulawesi

(22)

menghindari malapeta atau penyakit, dan 4) ritus yang merupakan pengungkapan rasa terima kasih (kesyukuran). Dilihat dari bentuk penyelenggaraannya, ada upacara ritus yang bersifat individu/keluarga dan ada pula upacara ritus komunal. Sedangkan para pelaku yang menyelenggarakan upacara ritus tersebut dilihat dari pemahamannya tentang makna yang terkandung dibalik tindakan atau simbol-simbol dalam setiap ritus dapat dikelompokkan dalam tiga katagori yakni ; a) orang yang memahami arti. tujuan dan makna di balik tindakan atau simbol-simbol dalam upacara ritus. Yang termasuk ke dalam katagori ini terutama orang-orang yang berperan memimpin upacara ritus tersebut, b) orang yang melaksanakannya karena merupakan adat kebiasaan semata-mata dan dianggap akan mendatangkan bahaya jika tidak melakukannya, c) orang yang melaksanakan ritus-ritus tersebut dengan pemahaman makna yang berbeda dari makna yang semestinya.50

Semua ritus yang merupakan tradisi keagamaan warisan nenek moyang mempunyai inti ritus dengan pola yang sama, yaitu 1) adanya persembahan berupa sesajen, 2) jampi-jampi dan do'a yang merupakan penyampaian harapan-harapan pada roh dan dewata, dan 3) upacara ritual selalu terdiri dari dua bagian yakni bagian yang sakral dan bagian yang profane (keduniaan).51

Misalnya dalam bukunya H. M. Darori Amin, menurut Geerts dan juga Koentjarangrat52 bahwa nilai-nilai Islam telah

merasuki pelaksanaan upacara slametan dalam berbagai bentuk upacara yang dilakukan oleh orang Jawa, terdapat berbagai Jenis upacara antara lain; 1) upacara tingkeban/mitoni, dilakukan pada saat janin berusia tujuh bulan dalam perut ibu, 2) upacara kelahiran, dilakukan pada saat anak diberi nama dan pemotongan rambut (bercukur), 3) upacara sunnatan, dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan, 4) upacara perkawinan, dilakukan pada saat pasangan

50 Ibid., h. 294 51 Ibid., h. 295-296

52 H.M. Darori, Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama

(23)

muda-mudi akan memasuki jejang berumah tangga, 5) upacara kematian, pada saat mempersiapkan penguburan orang mati yang ditandai dengan memandikan, mengkafani, menshaiati, dan pada akhirnya menguburkan.

Sedangkan dalam bukunya Alfani Daud, 53 bahwa

masyarakat Banjar dalam berbagai aspek kehidupan diwarnai dengan kegiatan upacara ritual diantaranya adalah a) saat kelahiran dan beberapa waktu sesudahnya, b) Bapalas Bidan dan berbagai upacara men gay un, c) upacara menamatkan al-Qur’an, d) menyunat, e) Batumbang, f) upaeara mandi, g) perkawinan, h) hamil dan melahirkan, i) sakit dan mati. j) mempersiapkan mayat secara Islam, k) kegiatan ritual dalam rangka kematian, peringatan kematian, dan lain-lain.

Dan dalam bukunya Muhaimin, dinyatakan bahwa masyarakat Cirebon juga mengadakan upacara ritual slametan, diantaranya adalah; 1) kehamilan, 2) kelahiran dan pasca kelahiran, 3) khitanan, 4) pernikahan. 5) dan upacara kematian.54

Sedangkan jenis-jenis upacara ritual di negeri Mamala diantaranya adalah, 1) upacara kematian, 2) sesudah kematian/ tahlilan hari ke-1, 3, 7, 9, 40 dan 100 hari, 3) upacara ambil rambut bayi, 4) Khitanan. 5) khataman al-Qur’an, 6) upacara pemikahan, 7) upacara masuk minta bini/ calon istri, 8) upacara masuk rumah bam, 9) upacara maulidan, 10) upacara malam qunuth, 11) upacara malam 27 Ramadhan, dan lain-lain.

Dari hasil penelusuran penulis baik itu di lapangan maupun di perpustakaan selama ini belum ada buku yang membahas tentang upacara ritual ukuwala mahiate di negeri Mamala. Namun penulis temukan beberapa skripsi maupun buku yang ada hubungannya dengan kajian budaya-budaya lokal di kabupaten Maluku tengah diantaranya;

1. Skripsi Rubia Malawat yang berjudul Optimalisasi Upacara Adat Ukuwalat Mahiat Desa Mamala Sebagai Media Dakwah. Dalam

53 Alfani Daud, op.cit., h. 229-357

54 Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon,

(24)

skripsi ia mengatakan :

- Adat ukuwalat sebagai salah satu media dakwah

- Adanya optimalisasi adat Ukuwalat Mahiat terhadap pengembangan dakwah Islamiyah.

2. Buku Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Derektorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, yang berjudul Dampak Pengembangan Terhadap Kehidupan Budaya Daerah Maluku (1991/1992).

3. Buku Koentjaraningrat dengan judul manusia dan Kebudayaan di Indonesia yang, memuat kebudayaan-kebudayaan Indonesia salah satunya adalah kebudayaan Ambon yang meliputi kebudayaan Maluku Tengah.

4. Buku Koentjaraningrat dengan judul Pengantar Ilmu Anropologi, yang mcmuat tentang azas-azas dan ruang lingkup ilmu antropologi, makhluk manusia, kepribadian, masyarakat, kebudayaan, dinamika masyarakat dan kebudayaan, aneka warna masyarakat dan kebudayaan, dan etnografi.

5. Sinopsis Ahmad Lilisula dkk (1991 ) dengan judul Sejarah Singkat Upacara Traditional Pukui Sapu di desa Mamala.

6. Buku Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penelitian Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Maluku dengan judul Adat Istiadat Daerah Maluku (1993).

7. Buku Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Media Kebudayaan dengan judul Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV (1998).

(25)

BAB 2

PROFIL NEGERI MAMALA

A. Kondisi Geografis dan Demografis Negeri Mamala 1. Geografis

Pulau Ambon dengan luasnya 761 Km2, pulau ini dibentuk

oleh dua jazirah, yaitu jazirah Leihitu yang terletak dibagian utara pulau Ambon serta jazirah Leitimur yang terletak dibagian selatan pulau Ambon serta kedua jazirah ini dipertemukan oleh satu tan ah genting yang sangat datar yaitu tanah genting Baguala yang memisahkan teluk Ambon. Pulau Ambon pada umumnya dikatakan pulau yang bergunung-gunung, karena kenyataannya pulau ini memiliki sekitar 74,4 % pegunungan.55 Ada dua kecamatan yang

berada di pulau Ambon, dari segi administratif pemerintah termasuk dalam daerah tingkat II Maluku Tengah yaitu kecamatan Leihitu dan kecamatan Salahutu. Dan negeri Mamala merupakan salah satu negeri yang termasuk wilayah kecamatan Leihitu.

Kecamatan Leihitu ini terbujur dari arah selatan ke arah timur yaitu terletak pada posisi antara 30 250 - 30 400 lintang selatan

dan 1260 50o - 1270 bujur timur dengan batas-batas wilayah sebagai

berikut; sebelah utara berbatasan dengan laut seram, sebelah selatan berbatasan petuanan Hatiwe Besar, Rumah Tiga, dan Hunuth kecamatan Teluk Ambon Baguala, sebelah timur berbatasan dengan petuanan Desa Liang kecamatan Salahutu dan sebelah barat berbatasan dengan laut Buru bagian selatan.56

Negeri Mamala dalam bahasa daerahnya disebut dengan kata Ama Latu, yang artinya Negeri Raja. Negeri Mamala yang pertama

55 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal

Kebudayaan, Dampak Pengembangan Terhadap Kehidupan Budaya Daerah di Maluku, (Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nalai Budaya, 1991-1992, h. 19

(26)

terletak di puncak gunung Salahutu dan disebut Pausela/Ulu pokol. Konon menurut kisah rakyat, pada waktu mereka ketemu orang Portugis itu, bertanya, dimana tempat tinggalnya! rakyat menjawab sambil menunjukkan kearah puncak dengan menyebutkan Mala-mala yang oleh orang Portugis disebut Mamala.57 Kemudian

pindah ke lokasi yang dinamakan lyal-Uli terletak kurang lebih 3 km ( sebelah timur dari letak negeri Mamala sekarang). Pada tahun 1643-1644 gubernur Gerard Demmer memerintahkan negeri-negeri besar maupun kecil yang letaknya di gunung untuk turun ke pesisir sehingga masyarakat Mamala yang bertempat tinggal di Iyal-Uli untuk pindah ke suatu tempat baru dan bergabung dengan negeri Loing dan Polut58 yang sekarang dikenal dengan negeri Mamala.

Negeri Mamala adalah salah satu negeri yang terletak di ujung pantai utara pulau Ambon, dan termasuk salah satu desa di wilayah kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Jarak dari kota Ambon kurang lebih 34 km., yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua/empat, selama 30 menit.

Negeri Mamala, kedudukannya dikelilingi oleh beberapa negeri yang termasuk dalam kecamatan Leihitu, yaitu sebelah utara berbatasan dengan pulau seram, sebelah selatan berbatasan dengan negeri Passo, sebelah timur berbatasan dengan negeri Morella dan sebelah barat berbatasan dengan negeri Hitu. Sedangkan luas wilayah negeri Mamala adalah sekitar 1. 450 H.59

Disini penulis akan menjelaskan letak geografis negeri Mamala dalam bentuk peta :60

57 Chris de Fretse, Adat Pukul Sapu Lidi, untuk dikenal dan dikenang,

op.cit., h. 6

58 Rubia Malawai (Skripsi), Optimalisasi Upacara Adat Uu Walat Mahiat

Desa Mamala SebagaiMedia Dakwah, (STAIN Ambon, 1999), h. 25

59 Sumber Data: Kantor Pemerintah Negeri Mamala, 2005

60 J. Keuning, Sejarah Ambon Sampai Pada Akhir Abad ke-17, (Jakarta:

(27)

Keterangan:

1. Ambon 2. Hila 3. Hitu Lama 4. Mamala 5. Larike 6. Ihamahu Iklim negeri Mamala, adalah sama dengan negeri-negeri lain di Indonesia, yaitu iklim tropis, yaitu musim kemarau dari bulan Mei- September dan musim hujan dari bulan Oktober-April yang bergantian. Di Maluku disebut musim timur dan barat. Mungkin penyebutan yang sama di seluruh nusantara, namun menurut penulis kbususnya di pulau Ambon dan sekitarnya, agak berbeda pada wilayah Indonesia bagian tengah dan barat, yaitu musim barat curah hujan sangat tinggi, sedangkan di musim timur dikenal dengan musim panas, karena curah hujan yang sangat kurang.

Di Ambon dan termasuk di negeri Mamala adalah sebaliknya, musim barat dianggap musim kering, karena hujannya sedikit, dan musim timur, curah hujannya tinggi. Pada musim ini angin timur bertiup sampai lima atau enam bulan, yakni dari bulan Mei sampai September. Musim barat bertiup kira-kira lima bulan yakni dari bulan Nopember sampai bulan Maret. Sedangkan pada bulan April dan Desember, masyarakat di Maluku menyebutnya, musim pancaroba yaitu musim peralihan dari timur ke musim barat atau sebaliknya. Pada musim pancaroba ini ditandai dengan angin yang bertiup relatif singkat, disertai dengan hujan atau panas, secara bergantian. Dan angin yang bertiup pada musim tersebut adalah dari arah utara. Adapun suhu udara di negeri Mamala dan sekitarnya,

(28)

panas rata-rata dari maksimal 340 C dan minimal 210 C.61

Potensi alam yang dimiliki negeri Mamala, terletak di darat dan dilaut, di darat sebagian tanahnya tergolong subur. Pada area petuanan atau hutan perkebunan tradisional dalam bahasa Ambon disebut ciusun, dapat kita jumpai berbagai jenis tanaman jangka panjang ataukah holtikultura berumur pendek seperti kelapa, cengkeh, pala, durian, sagu, coklat dan lain-lain yang bernilai ekonomis tinggi, disamping tanaman jangka pendek umbi-umbian dan sayuran.

Adapun potensi yang ada di laut, tidak terbatas pada berbagai jenis ikan laut diantaranya cakalang, momar, kawalinya. bubara, iema, make dan lain-lain, melainkan masih ada yang lainnya seperti rumput laut, lola dan kerang-kerangan. Meskipun harus diakui bahwa hasil ikan yang diperoleh di laut disekitar negeri Mamala belum maksimal, karena masih menggunakan alat tangkap yang tradisional, seperti jaring dan pancing. Pengelolaan sumber daya alam di bidang peternakan masih bersifat alamiah dan belum maksimal. Jenis peternakan yang dapat dijadikan potensi adalah peternakan sapi, kambing, ayam, itik, dan kerbau. Rata-rata peternakan yang dilakukan masyarakat negeri Mamala yakni peternakan ayam.

2. Demografis

Penduduk negeri Mamala dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, hal ini terjadi karena meningkatnya angka kelahiran dari masyarakat setempat. Masyarakat negeri Mamala saat ini, jika dilihat dari ragam etnisnya dan aslinya, selain suku asli Mamala (anak negeri), ditemukan pula etnis Buton, Bugis, Makassar, dan Jawa, tapi dalam jumlah yang kecil.

Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor pemerintah negeri Mamala bahwa jumlah penduduk pada tahun 2005 adalah 2. 731 jiwa yang tersebar di enam soa di negeri Mamala. Dengan perincian laki-laki 1.328 jiwa dan perempuan 1.403 jiwa.

(29)

Tabel I62

Data Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

No Umur (bln) Soa 1 Soa 2 Soa 3 Soa 4 Soa 5 Soa 6 L P L P L P L p L P L P Jml 1. 0-12 8 11 10 6 5 7 6 9 5 4 5 9 85 2. 1-4 29 24 18 23 18 20 28 2 24 13 8 13 240 3. 5-6 22 22 16 11 10 6 19 16 12 16 6 9 155 4. 7-12 40 45 34 JO 26 30 40 38 35 27 14 14 380 5. 13-15 25 22 12 14 20 14 15 10 17 16 10 13 188 6. 16-18 27 20 23 25 21 11 20 20 30 28 9 12 246 7. 19-25 36 29 34 26 31 35 28 34 23 19 15 18 328 8. 26-35 29 36 40 32 46 28 40 22 31 13 20 370 9. 36-45 26 27 21 32 24 23 33 31 26 32 24 22 311 10. 46-50 9 8 9 7 10 12 3 9 9 5 6 9 96 11. 51-60 11 18 16 14 12 19 15 16 14 12 5 8 160 12. >60 15 18 13 13 17 22 17 29 19 21 3 5 182 Total 277 270 239 244 226 245 252 274 226 214 108 156 2731 Tabel II63

Data Penduduk Menurut Kelompok Tenaga Kerja

No. Pekerjaan Jumlah

1. Belum bekerja 1768 2. Petani 547 3. Nelayan 18 4. Pedagang/wiraswasta 56 5. Pegawai swasta 6 6. Buruh 6 7. TNI/Polri 21 8. PNS 68 9. Pensiun PNS 15 10. Pensiun TNI/Polri 16 11. Pelaut 12 12. Pengemudi mobil 37 13 Lain-lain 134 Jumlah 2731

62 Sumber Data: Kantor Pemerintah Negeri Mamala, 2005 63 Sumber Data: Kantor Pemerintah Negeri Mamala, 2005

(30)

B. Sosial Ekonomi

Struktur sosial negeri Mamala yang paling dominan adalah faktor kekerabatan, dan hampir seluruh masyarakatnya memiliki hubungan persaudaraan. Nilai-nilai kekerabatan dan kegotong- royongan masih menyentuh seluruh aspek kehidupannya, sehingga ada pekerjaan seseorang maka seluruh hubungan keluarga turut terlibat dalam pekerjaan tersebut. Antara keluarga di negeri Mamala masih saling terikat dan berhubungan keluarga baik dari keturunan ibu atau bapak.

Kesatuan kelompok genealogis yang lebih besar sesudah keluarga adalah rumatau atau lumatau. Sebutkan untuk kata ruma ini berbeda di beberapa tempat sesuai dengan dialek setempat. Menurut dialek Saparua disebut lumal, dialek Nusalaut rumal, dialek Haruku ruma, dialek Hila dan Assilulu luma64sobutan luma juga dikemukakan

oleh Streseman.65

Rumatau merupakan sel induk bagi terbentuknya masyarakat di daerah Ambon Lease., Setiap orang senantiasa bergabung ke dalam suatu rumatau. Mereka yang tidak bergabung ke dalam suatu rumatau sukar untuk dapat turut serta di dalam lalulintas hukum dan kurang mendapat perlindungan hukum. karena tidak masuk hitungan sebagai orang asli dari negeri yang bersangkutan. Dari rumatau-rumatau inilah berkembang susunan masyarakat, selanjutnya dalam ruanglingkup yang lebih luas seperti soa.66

Kesuburan tanah negeri Mamala, sangat mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, saat ini masih didominasi sektor pertanian dengan kosentarsi pada bidang perkebunan. Dominasi sektor ini dalam perekonomian terlihat pada klasifikasi angkatan kerja yang memperoleh nafkah dan sektor tersebut, dengan tingkat

64 Van Hoevell, g. W. W.C., Lets Over de fijf Voornaamste der Ambonsche

Landtaal (bahasa tanah), Bijdragen Tot de Taal. Land en Volkenkunde. Seri IV, jilid I, h. 70

65 Streseman Erwin, Dic Pandohisprache Ein Betrag zur Kenntnis der

Ambonische Sprachengruppe, (Martinus Hijhoffs: Gravenhage), h. 152

66 Ziwar Effendi, Hukum Adat Ambon Lease, (Jakarta, Prima Karsa

(31)

kesejahteraan yang cukup memadai, jika harga pasar komoditi utama seperti pala dan cengkeh mengalami kenaikan.

Negeri Mamala sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Lahan produktif ditanam tanaman seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan yang terdapat di negeri Mamala. Di bidang pertanian yang diandalkan pala dan cengkeh dan ada juga tanaman pokok lamnya yaitu sagu, kelapa, coklat, serta Vanili yang mulai dikembangkan.

C. Struktur Pemerintahan Negeri Mamala

Setiap aman/hena disusun dari beberapa keturunan berdasarkan garis ayah/bapak yang sama (rumatau) yang terdiri dari sejumlah keluarga yang hubungan keluarganya masih erat sekali. Disini penulis akan menjelaskan keturunan rumatau dari negeri Mamala ( ulisailessy ), terdiri dari beberapa aman (hena) yakni a) Latu, terdiri dari beberapa rumatau diantaranya Malawat, Pelau, Sama fieri, Mony, b) Patti, terdiri dari beberapa rumatau diantaranya Lating. Sela, Hantala, c) Tohuputa. terdiri dari beberapa rumatau diantaranya Olong, Latuhau, Lelasula, d) Polut, terdiri dari beberapa rumatau diantaranya Tomu, Puluhehe, Olong, Wakan, Hanlehe, e) Luing, terdiri dari beberapa rumatau diantaranya Lulling, Selahoho. Sasole.67

Pemerintah adat negeri Mamala mempunyai beberapa perangkat lembaga-lembaga adat diantaranya adalah:68

1. Badan Saniri Raja dengan keanggotaan ; Raja, dan kepala soa (soa Latu, soa Tuputa, soa Pati, soa Lo/ng dan soa Polut ). Badan Saniri ini di anggap badan kekuasaan eksekutif.

2. Badan Saniri Lengkap dengan keanggotaan; kepala soa, kepala soa adat (dikenal dengan sebutan "temulu kau") dengan susunan. Imam Tuny dari marga Mony, Lebe dari marga Selay bertugas sebagai khatib, Liuhulat dari marga Wakang sebagai moding dan Bua dari marga Kiang dengan tugas memegang kunci masjid dan sekaligus membantu moding.

67 J. Keuning, op.cit., h. 11

(32)

3. Badan Saniri Besar dengan keanggotaan adaJah ; Badan Saniri Raja. Badan Saniri Lengkap, Kepala-kepala keluarga dan semua orang laki-laki dewasa.

Selain perangkat-perangkat di atas dikenal jabatan Raja (yang mengepalai ketiga saniri di atas ) yaitu juru tulis dan marinyo.

Struktur Pemerintahan Negeri Mamala69

69 Sumber Data: Kantor Pemerintahan Negeri Mamala

Raja/Kepala Pemerintah Adat Negeri Mamla

Badan Saniri Lengkap

Kepala Soa Akte Kasisi Masjid Kepala Soa Adat Masyarakat Saniri Negeri

Kepala Soa Akte Badan Saniri Raja

Juru Tulis

(33)

D. Agama dan Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat negeri Mamala sejak abad 13 M,. telah menganut ajaran agama Islam, menurut Abdullah Malawat, agama Islam diterima di negeri Mamala bersamaan dengan tersiarnya agama Islam di jazirah Leihitu dan pulau Ambon sekitar permulaan abad ke VII H. Hal ini dihubungkan dengan menunjuk pada bukti sejarah yang sampai saat ini yakni, masjid Tua di negeri Hila-Kaitetu, yang bernama "Wapauwe" dibangun pada tahun 1414 M.

Sikap sosial masyarakat masih terlindung dari aspek luar yang bersifat negatif. Kelompok budaya masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip kekeluargaan, serta sangat memiliki ketaqwaan yang tinggi. Hal ini tergambar tidak hanya dari segi peribadatan saja, namun pada kesenian juga dipengaruhi oleh unsur-unsur keagamaan.70

Berbagai sarana yang dimiliki masyarakat negeri Mamala dalam mengamalkan ajaran ritual keagamaan, disamping sebagai tempat pembinaan dan pengembangan misi agama, dapat ditemukan pada setia lingkungan yakni masjid dan mushalla. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel III

Tempat dan Nama-Nama Masjid dan Mushalla71

No. Nama Tempat Nama Masjid Nama

Mushalla Ket.

1. Mamala Al-jamf Al Muhibbin -

-2. Kompleks Loin - Loin

-3. Kompleks Polut - Polut

-4. Kompleks Tomu - Tomu

-5. Tanah Merali - Jabal Ahmar

-6. Air Besar Ali bin Abi Thalib -

-Jumlah 2 buah 4 buah

70 Chris de Fretse, “Adat Pukul Sapu Lidi, Untuk Dikenal dan Dikenang”,

op.cit, h. 6

(34)

Dari tabel di atas, maka dapat dibedakan antara masjid dan Mushalla. Masjid digunakan untuk shalat wajib berjama' dan shalat jum'at sedangkan mushallah hanya digunakan untuk perempuan.

Dalam hal pembinaan dan peningkatan keagamaan masyarakat memiliki pula berbagai lembaga tradisional, yang tersebar di seluruh lingkungan negeri, dan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:72

1. Taman Pengajian al-Qur’an, sejumlah 3 buah.

2. Majelis Taklim/ barzanji untuk perempuan sejumlah 8 buah 3. Majelis zikir, do'a, dan barzanji untuk laki-laki berjumlah 6 buah.

Berbagai kegiatan keagamaan dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut di atas yang secara kontinu adalah pengajian dasar al-Qur’an berlangsung bagi anak-anak setiap shalat magrib pada setiap TPA, yang lainnya seperti majelis taklim dan zikir dilakukan secara berkala sesuai dengan kondisi, untuk lebih jelasnya kegiatan lembaga-lembaga dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Latihan pengenalan dan peningkatan baca tulis al-Qur’an, serta bimbingan ibadah oleh guru-guru ngaji, pada taman pengajian. 2. Latihan baca mahir barzanji pada setiap malam Jum’at atau

waktu lain yang telah ditentukan.

3. Pembacaan do'a dan zikir bersama yang dirangkaikan dengan ceramah agama.

4. Melaksanakan yasinan secara bergilir di rumah-rumah pada anggota kelompok pengajian sambil melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

Kepercayaan masyarakat negeri Mamala pada umumnya sama dengan kepercayaan masyarakat yang bcrada di wilayah kabupaten Maluku Tengah. Dimana masyarakat Maluku Tengah percaya kepada makhluk-makhluk halus dan terhadap kekuatan-kekuatan gaib.

Makhluk halus menurut tanggapan masyarakat dikatagorikan dalam dua jenis atau kelompok yakni jenis yang baik

(35)

yang lazim diistilahkan upu-ama. Jenis makhluk halus ini berupa roh-roh para leluhur dan berfungsi sebagai pelindung masyarakat. Agar supaya jenis makhluk ini dapat menjalankan fungsinya dengan baik diperlukan ketaatan dan pemujaan terahadap mereka melalui upacara-upacara adat tertentu. Jenis makhluk halus ini dapat pula mendatangkan malapeta sebagai katula (kutukan) terhadap tindakan pribadi atau masyarakat secara keseluruhan yang meyeleweng terhadap norma-norma adat yang berlaku. Kutula (kutukan) tersebut semata-mata merupakan hukuman dan peringatan agar pribadi yang bersangkutan atau masyarakat secara keseluruhan sadar akan kekeliruan dalam tindakan-tindakan mereka dan jangan menguiangi iagi pada masa-masa yang akan datang. Jenis makhluk yang jahat yang sifatnya merugikan masyarakat adalah lita atau disebut pula halita atau nitu (istilah-istilah tersebut artinya jin dan setan).

Kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus oleh masyarakat Mamala merupakan kepercayaan para leluhur mereka yang belum masuk Islam. Namun kepercayaan tersebut masih melekat di tengah-tengah masyarakat. Olehnya itu, dalam bukunya Koentjarangngrat menurut Subyakto bahwa pada umumnya penduduk Maluku Tengah walaupun sudah beragama Nasrani dan Islam, sejak lama namun sampai sekarangpun masih tampak adanya banyak sisi religi mereka yang asli. dari zaman sebelum mereka memeluk agama Nasrani dan Islam. Mereka masih percaya akan adanya roh-roh yang harus dihormati dan diberi makan. minum dan tempat tinggal, agar suapaya tidak menjadi gangguan bagi mereka yang hidup di dunia ini.73

E. Pendidikan dan Budaya Negeri Mamala 1. Pendidikan

Membicarakan pendidikan melibatkan banyak hal yang harus direnungkan sebab, pendidikan meliputi keseluruhan tingkah laku manusia yang diiakukan demi memperoleh kesinambungan, pertahanan, dan peningkatan hidup. Dalam bahasa agama, demi

73 Koentjoroningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indoneisa, (Jakarta,

(36)

memperoleh ridha atau perkenan Allah. Sehingga keseluruhan tingkah laku tersebut membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah).

Bagi umat Islam, makna semacam itulah yang terkandung dalam pemyataan do'a pembukaan (iftitah) shalat, bahwa shalat kita, juga dharma bakti, hidup dan mati kita, semua adalah untuk atau milik Allah, seru sekalian alam. Dan masyarakat dan seluruh orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam mengembangkan pendidikan secara keseluruhan.

Terkait dengan itu, pendidikan di negeri Mamala dapat dikatakan cukup memadai, hal ini dapat dibuktikan dengan respek masyarakat terhadap pendidikan, yang melahirkan banyak sarjana/SI pada berbagai ilmu agama, maupun ilmu umum dan juga sarjana kedokteran di negeri Mamala. Walaupun tidak ada lembaga pendidikan negeri setingkat SLTP maupun SMU di negeri Mamala, karena semangat dan partisipasi seluruh masyarakat sehingga menghadirkan lembaga pendidikan Muhammadiyah atau lembaga pendidikan swasta. Pendidikan di negeri Mamala, merupakan kesadaran dari seluruh masyarakat untuk mendukung pihak pemerintahan negeri dalam menjalankan program di bidang pendidikan. Kesadaran ini muncul, karena menurutnya bahwa pendidikan ini sangat dibutuhkan dalam membina dan mendidik anak dan generasi dalam memperolah dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Kenyataan lain adalah cukup tersedianya di negeri Mamala berbagai macam tingkat pendidikan. Tabel berikut akan lebih menjelaskan sarana pendidikan yang di negeri Mamala sebagai berikut.

Tabel IV

Sarana Pendidikan di Negeri Mamala74

No. Jenis Sekolah Jumlah Ket

1. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2

2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) 1 Muhammadiyah

74 Sumber Data: Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

(37)

No. Jenis Sekolah Jumlah Ket

3. Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Muhammadiyah 4. Madrasah Aliyah (MA) 1 Muhammadiyah

Jumlah 5

2. Budaya

Menurut Sahal Mahfudh bahwa seni budaya mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan yang pada gilirannya mampu membentuk sikap dan prilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru memantapkan perkembangan sosial, dan sebagai sarana dakwah, seni budaya diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif, ke dalam segala budaya yang dikembangkan.75

Budaya adalah daya dari budi, yang beruapa cipta, karsa dan rasa76

Budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi.

Adapun tentang budaya/adat yang dapat ditemukan pada masyarakat negeri Mamala Jidak dapat dipisahkan dengan kepercayaan keagamaan, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut: 77

a. Seni budaya yang disebut Tari dana-dana, yang dapat dilakukan oleh oeberapa wanita, ataupun laki-laki. tarian ini diiringi dengan pukulan rebana dan syair-syair lagu Arab. Tarian ini dilakukan ketika ada acara pernikahan atau acara lainnya. Tarian ini merupakan budaya import dari Arab yang sudah dijadikan sebagai budaya Islam negeri Mamala.

b. Seni budaya Tarian Sawat, tarian ini merupakan budaya Islam Maluku yang berada di negeri-negeri Islam, atraksi tarian ini menggunakan rebana atau konfigurasi rebana dan suling tanpa lagu. Musik rebana dan suling, diiringi dengan tarian yang disebut dengan manari sawat. Tarian ini dilakukan pada saat

75 Sahal Mahfudh, Nuansa fiqh Sosial, (Jakarta: LKIS, 1994), cet. I., h. 143 76 Kontjoroningrat, op.cit., h. 181

77 Hasil wawancara dengan Abdullah Malawat, Bapak Raja negeri

(38)

menjemput tamu, acara perkawinan, dan juga pada acara-acara adat lainnya.

c. Seni budaya hadrat, sebagai salah satu budaya yang masih melekat di negeri-negeri Islam di Maluku. Budaya hadrat ini biasanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan, setelah shalat taraweh. Sebab dalam hadrat termuat bacaan, dan syair-syair Arab yang berisikan shalawat dan zikir.

d. Seni budaya tarian manuhud,78 tarian ini dipentaskan pada

menerima tamu-tamu atau para pejabat negera/provinsi atau juga pada saat melaksanakan upacara adat. Tarian ini juga menyambut para paHla wan-pah lawan/kapitan yang telah berhasil berjuang dalam medan pertempuran sehingga perlu dihargai dan dihcrmati dengan tarian adat ini.

e. Tradisi lain yang terkait dengan pelaksanaan ibadah adalah malam 7 Likur yaitu malam dua puluh tujuh Ramadhan setiap tahun. Pada malam ini juga dilaksanakan hadrat yakni hadrat berdiri atau duduk. Dan diwajibkan, seluruh kasisi Masjid, Raja, kepala-kepala soa adat, imam dan stafnya membawakan hasil pertanian seperti buah-buahan dan berbagai macam kue basah atau kering ke masjid dalam menyambut malam lailatulqadar. Pada malam ini dilaksanakan shalat taraweh pada pukul 12.00. WIT, diawali dengan mengumandangkan azan oleh tiga orang mu'azim untuk shalat isya dan taraweh. Sebelum azan telebih dulu diadakan pasawale79 setelah shalat semuabuah-buahan dan kue tersebut

dibagikan kepada anak-anak dan seluruh jama' di masjid. Sedikit berbeda suasana di dalam masjid, sebab dipasang kain putih yang panjang di atas saf pertama. Di malam ini masyarakat negeri Mamala percaya bahwa malam itu adalah malam lailatuqadar. f. Tarian Hu'ul, tarian ini yang menggambarkan masyarakat negeri

Mamala yang masih hidup di gunung atau masyarakatnya yang asli (alifuru) yang masih hidup di hutang, yang belum beragama Islam. Kepercayan mereka dalam katagori animisme dan

78 Tarian Manhua artinya ayam bertengger

79 Pasawale adalah suatu pemberian atau pengumuman dari tua-tua adat

(39)

dinamisme, mereka masih percaya kepada leluhur dan hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Tarian hu'ul ini dilaksanakan pada saat upacara-upacara adat seperti pada upacara ritual ukuwala mahiate.

g. Tradisi tamat Quran, tradisi ini dilaksanakan pada saat anak-anak yang telah khatam Al-Quran di taman-tarnan pengajian Al-Qur'an yang berada di negeri Mamala. Khatam ini biasanya dilaksanakan oleh setiap taman pengajian yang murid-murid sudah menguasai membaca al-Qur’an atau mandares selama tiga kali atau lebih sesuai dengan penilaian dari seorang guru mengaji tersebut. Khatam ini dilaksanakan lebih dari 5-15 orang murid yang bergabung dan biaya pelaksanaannya ditanggung oleh orang tua murid mengaji.

h. Tradisi basunnat, adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan bagi orang tua untuk mengkhitankan anak-anaknya (anak laki-laki). Basunnat ini biasa dilaksanakan sendirian oleh orang tua tersebut dan juga ada gabungan anak-anak yang ada hubungan keluarga dekat untuk bersama-sama melaksanakan bassunat massal oleh keluarga tertentu.

i. Tradisi aroha (manyiang), tradisi ini dilaksanakan pada bulan rabbiul 'ula, bulan dimana Rasulullah Saw., dilahirkan tepatnya tanggal 12 rabbiul 'ula yang dikenal dengan bulan maul id Nabi Saw,.

(40)
(41)

BAB 3

UPACARA RITUAL

UKUWALA MAHIATE

A. Sejarah Ukuwala Mahiate

Pada tahun 1643-J644 gubemur Belanda Gerard Demmer memerintahkan negeri-negeri yang berada di gunung/ diperbukitan untuk dipindahkan ke daerah-daerah pesisir dengan tujuan untuk mematahkan perjuangan rakyat oleh Belanda. Ketika itu negeri Lata80

yang ada di gunung tersebut di bakar dan dirusakkan oleh Belanda sehingga rakyat negeri Latu langsung turun ke pesisir bergabung dengan negeri Point dan Loin81 yang kita kenal sekarang dengan

negeri Mamala. Di saat itu maka masyarakat negeri Latu, Polut, dan Loin menghendaki adanya bangunan Baileo dan Masjid.82 Bangunan

Baileo berfungsi sebagai tempat musyawarah adat dan Masjid sebagai tempat beribadah kepada Allah Swt. Sekitar abad ke- XVJ negeri Mamala diperintah dan dipimpin oleh tiga orang tokoh yakni:83

1. Latuliu ; yang bergelar Uku Latu Apel ( Tepil Kapitan Hitu ). 2. Patti Tiang Bessy (Sina Rati Raja Nusaniwe yang pindah ke Mamala

karena diserang Portogis.

3. Imam Tuny (seorang pemuka agama yang pindah dari Passo pada tahun 1517 karena diserang oleh Portogis)

Ketiga orang tersebut kemudian bermufakat untuk

80 Negeri Latu adalah negeri pertama masyarakat negeri Mamala yang

berada di gunung.

81 Negeri Polut dan Loin merupakan negeri-negeri kecil dalam wilayah

kekuasaan Ulisailesy

82 Hasil wawancara dengan Abdul Gawi Malawi, tokoh adat negeri

Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.

83 A. Lilisula, dkk., Sejarah Singkat Upacara Tradisional Pukul Sapu di

(42)

mendirikan masjid. Semua persiapan mulai diadakan berupa pengumpulan bahan-bahan bengunan khususnya kayu dengan mengerahkan rakyat untuk menebang kayu di lereng-lereng gunung dan perbukitan disekitar Mamala. Selanjutnya kayu diangkut atau dipikul bersama-sama ke lokasi masjid. Salah satu diantara kayu jatuh dari pikulan dan pata]i menjadi dua, kayu yang patah ini panjangnya 20 meter. Waktu itu kebutuhan kayu untuk pembangunan masjid berukuran panjang dan harus dalam keadaan utuh atau tidak boleh sambung.84

Hal ini yang membuat ketiga pemimpin di atas dan masyarakat negeri Mamala mencari solusi yang tepat untuk menyambungkan kayu, sebab dalam kebutuhan pembanguan Masjid diperlukan balok kayu yang panjang dan tidak boleh disambung. Berbagai cara dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat negeri Mamala belum juga menunujukkan hasil yang diharapkan baik dalam bentuk usaha fisik maupun dalam bentuk berdoa kepada Allah Swt untuk memohon petunjukNya. 85

Dengan kehendak Allah Swt do'a yang dipanjatkan kepadaNya dikabulkan. Kejadiannya berawal ketika pada suatu malam menjelang shubuh, tiba-tiba datanglah ilham sebagai petunjuk dari Allah Swt kepada Imam Tuny sebagai berikut: Hai Imam Tuny, ambilah minyak kelapa, bacalah ayat berikut ini yakni ayat-ayat al-Qur’an. Kemudian oleskan minyak itu pada bagian kayu yang patah. Selanjutnya tutupkan dan ikat dengan kain putih selama beberapa saat. Buka kembali penutup dan akan engkau saksikan apa yang selama ini diharapkan.86

Keesokan harinya ilham yang diperolah Imam Tuny segera dilaporkan kepada Latului dan Patti Tiang Besy dan menampakkan kegembiraannya. Dan ketiga pemimpin tersebut bermufakat untuk

84 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Aneka Ragam Khasanah

Budaya Nusantara IV, (Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Derektorat Jenderal Kebudayaan, 1998), h. 183

85 A. Lilisula, (dkk), op.cit., h. 2

86 Hasil wawancara dengan Abdul Gaw i Malawat, tokoh adat negeri

Gambar

Tabel III
Tabel IV
Tabel VI
Tabel VII
+2

Referensi

Dokumen terkait