BAB 3 UPACARA RITUAL UKUWALA MAHIATE
C. Makna Simbol Upacara Ukuwala Mahiate
1. Masjid
Ketika Rasulullah Saw., berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun Masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma.. Dari sana beliau membangun Masjid besar dan membangun dunia ini.95 Di Madinah Nabi Saw., lebih mengembangkan misinya dalam pembentukan masyarakat Islam. Dari Masjid beliau membentuk akhlak para sahabat-sahabat dan umatnya sebagai seorang muslim yang taat dan bertaqwa kepada Allah Swt. Begitu juga kita temukan bagi penyiar Islam di Maluku dan Ambon dalam pembentukan masyarakat negeri Islam yang pertama mereka bangun adalah masjid difungsikan sebagai sarana penyiaran, pembinaan, pendidikan, pertahanan dan kekuatan Islam, dan juga musyawarah urusan sosial ekonomi
93 Chris de Fretes, Adat Pukul Sapu Lidi, untuk dikenal dan dikenang, Tifa Masnait Media Seni, Budaya dan Pembangunan Maluku, edisi – April- Mei 1996, h. 9
94 Hasil Wawancara dengan Abdul Gawai Malawat, Tokoh Adat negeri Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala
95 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996), cet. III, h. 461
masyarakat Islam.
Agaknya Masjid masa silam mampu berperan sedemikian luas: disebabkan antara lain:96
a. Keadaan masyarakat yang masih sangat teguh kepada nilai, norma, dan jiwa agama.
b. Kemampuan pembina-pembina Masjid menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan uraian dan kegiatan Masjid.
c. Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam Masjid, baik pada pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi Imam/khatib maupun di ruangan-ruangan Masjid yang dijadikan tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).
Terkait dengan itu pembangunan Masjid di negeri Mamala sejak negeri ini dibentuk atau didirikan sekitar abad 13 M., sudah 4 buah Masjid dibangun diantaranya:97
a. Masjid pertama dibangun di Ulapokol berada di puncak gunung Salahutu sekitar tahun 1.400 M., dan tidak ada bangunan fisik lagi.
b. Masjid kedua dibangun di Lyal uli (sekitar 3 Km dari negeri Mamala) sekitar tahun 1545 M., dan tidak ada bangunan fisik lagi.
c. Masjid ketiga dibangun di negeri Mamala, tempat Masjid sekarang pada tahun 1650 M.
d. Masjid keempat dibangun di negeri Mamala (pada tempat yang sama) pada tahun 1961 M.
Pembangunan Masjid ketiga di negeri Mamala ketika terjadi penyatuan antara amang/kampung; latu, hatuwala, point dan loin di bawah kepemimpinan ketiga tokoh (Latuliu. Patti Tiang Bessy, dan Imam Tuny) maka mereka bersepakat untuk mendirikan sebuah Masjid sebagai tempat beribadah kepada Allah Swt. Pembangunan Masjid ini sebagai pertanda bahwa masyarakat negeri Mamala
96 Ibid., h. 462
97 Hasil wawancara dengan Abdullah Malawat, Bapak Raja Negeri negeri Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.
merupakan masyarakat yang sudah beragama Islam sebelum bangsa Portogis dan Belanda datang di Ambon pada tahun 1600 M.
Peranan Imam Tuny98sangat besar dalam mendirikan Masjid di negeri Mamala sebab beliau merupakan Imam besar dan juga Imam adat yang mengurus segala urusan yang berhubungan dengan kehidupan beragama dan juga sebagai qadhi di tengah-tengah masyarakat sehingga beliau ditugaskan untuk bermunajah kepada Allah Swt meminta petunjuk dalam menemukan jalan keluar menyambung kembali balok kayu yang patah/retak untuk pembangunan Masjid tersebut. Imam Tuny berfungsi juga sebagai kepala pemerintahan di bidang keagamaan. Masalah agama dan pelaksanaan ajaran agama dilimpahkan kepada beliau untuk mengajarkan kepada masyarakat tentang dasar-dasar agama (ushul al-din) maupun dasar-dasar keimanan (teologia ).99
Dalam pembangunan Masjid ini yang melahirkan upacara ukuwala mahiate, ketika Imam Tuny menemukan khasiat dari nyuwalain matehu/ minyak tasalah dalam meyambungkan balok kayu yang retak/ patah untuk pembangunan Masjid. Dan di saat pembangunan Masjid ini bukan ^aja nyuwalain matehu digunakan untuk menyambungkan balok kayu yang patah/retak tetapi juga digunakan pada sambungan-sambungan kayu pada rangka-rangka masjid. Antara sambungan balok kayu pada rangka-rangka Masjid tidak digunakan pen/paku sebagai penahan atau penguat balok-balok kayu tersebut. Dan juga ditemukan pada saat pembongkaran Masjid yang ketiga, ditemukan sehelai kain putih
98 Imam Tiny adalah seorang tokoh agama (Imam) atau penyiar Islam yang dating dari daerah Jawa Barat (Banten) dan menjadi Imam besar di Hutumury. Ketika terjadi pengkristenan di Hutumury beliau ditangkap oleh Belanda dan ditahan di Benteng Victoria Ambon. Dari sini beliau melarikan diri ke Pasoo dan masyarakat Passo menobatkan beliau juga sebagai Imam. Di Passo juga beliau dikejar dan akan dikrestenkan maka keputusan beliau adalah meninggalkan Passo menuju negeri Mamala. Selanjutnya beliau diangkat sebagai Imam Besar atau Imam adat di negeri Mamala. Dan sekarang, keturunannya di Mamala adalah Marga Mony.
99 Hasil wawancara dengan Abdullah Malawat, Bapak Raja Negeri negeri Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.
berukuran 10x10 cm (disesuaikan dengan ukuran balok kayu) disetiap unjung balok kayu sambungan antara rangka-rangka Masjid. Menurut bapak Raja negeri Mamala Abdullah Malawat bahwa disetiap sambungan ditempelkan sehelai kain putih dan diberikan nyuwelain matehu fungsinya untuk memperkuat dan menahan sambungan rangka-rangka balok kayu Masjid.100
Masjid negeri Mamala merupakan salah satu Masjid adat di jazirah Leihitu, maka terdapat struktur adat Masjid yang melibatkan tokoh-tokoh adat dan pengurus/penghulu Masjid. Struktur adat Masjid dan pengurus/ penghulu Masjid di negeri Mamala sebagai berikut:101
Tabel V
Struktur Adat masjid Negeri Mamala
NO. JABATAN RUMATAU TUGAS
1. Pimpinan Adat Silae Koordinator upacara adat. 2. Pisihena Ollong Kepala soa adat
3. Suitella Lating Menjaga keselamatan dan kesejahteraan Imam Masjid 4. Ukabua Kiang Memegang kunci Masjid 5. Imam Tuny Mony Imam adat Masjid
Tabel VI
Struktur Pengurus Masjid Negeri Mamala102
NO. JABATAN RUMATAU TUGAS
1. Imam Masjid Malawat Khotbah, dan Memimpin shalat 2. Kliatib Money Khotbah, dan memimpin shalat
3. Mod in Mu'azin, dan mengantarkan
kliatib di mimbar/ shalat jum'at dan shalat 'Id.
4. Marbot Menjaga dan membersihkan
Masjid.
100 Hasil wawancara dengan Abdullah Malawat, Bapak Raja Negeri negeri Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.
101 Hasil wawancara dengan Abdul Gawi Malawat, tokoh Adat negeri Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.
102 Hasil wawancara dengan Muhammad Amin Malawat, Imam Masjid negeri Mamala, tanggal 9 Nopember 2005, di negeri Mamala.