SIFAT-SIFAT FISIKA DAN KETEGUHAN LENTUR
STATIS KAYU LAMINA KARET
(HEVEA BRASILIENSIS MUEL. ARG.)
BERDASARKAN PERLAKUAN PELARUTAN ZAT
EKSTRAKTIF, JUMLAH LAPISAN DAN
BIDANG REKAT
Physical Properties and Modulus of Elasticity of Rubber
(Hevea brasiliensis Muel. Arg.) Laminated Timber Based on
Dissolving of Extractive Agent, Number of Layers and
Bonding Area Treatments
Dwiyanto Purnomosidhi
1), Bandi Supraptono
1) dan Edi Sukaton3)Abstract. The research was aimed to identify the influence of physical
properties of moisture content and density by using DIN 52183–77 and 52182-76 and the influence of dissolving extractive agent, number of layers and bonding area on the Modulus of Elasticity (MoE) by using DIN 52186–187. The data were analyzed statistically in Completely Randomized Design (CRD) and Honestly Significant Different (HSD). The research resulted that the amount of dissolved extractive of rubber timber using hot and cold soaking was equal to the layer amount of laminated rubber timber. The highest dissolved extractive of rubber timber was 5.88 %, obtained from 4 layers laminated rubber timber in tangential bonding area with hot soaking treatment, whereas 3.51 % as the lowest one was obtained from the solid rubber timber (one layer) in radial bonding area with cold soaking treatment. The highest MoE was 11667 N/mm2, obtained from 3 layers laminated rubber timber in tangential bonding area with extractive dissolved using hot soaking treatment. Meanwhile, the lowest MoE was 7018 N/mm2,obtained from solid rubber timber in tangential bonding area with no extractive dissolved treatment.
Kata kunci: sifat fisika, keteguhan lentur, ekstraktif, jumlah lapisan, bidang
rekat
Kebutuhan kayu untuk keperluan industri dan konstruksi di dalam negeri maupun di luar negeri setiap tahun menunjukkan kecenderungan meningkat dan sampai saat ini belum ditemukan bahan-bahan lain sebagai pengganti kayu yang mempunyai
________________________________
_____________________________
1) Laboratorium Industri Hasil Hutan Fak. Kehutanan Unmul, Samarinda2) Laboratorium Kimia Kayu Fak. Kehutanan Unmul, Samarinda
44 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
kelebihan dari segi kegunaan dan estetikanya. Hutan tanaman Karet (Hevea
brasiliensis Muel. Arg.) merupakan salah satu potensi yang memungkinkan
menjadi pemasok bahan baku bagi indutri perkayuan di masa depan. Tanaman Karet hanya mampu berproduksi lateks umur 25–30 tahun, bahkan jika dilakukan penyadapan setiap hari, maka umurnya kemungkinan hanya mencapai 16–18 tahun. Tanaman Karet pasca penyadapan merupakan potensi bahan baku kayu yang cukup besar. Salah satu industri kayu yang dapat memanfaatkan potensi kayu dari hutan tanaman Karet tersebut adalah industri kayu lamina (glued laminated timber).
Kayu lamina adalah papan yang direkat dengan perekat tertentu secara bersama-sama dengan arah serat yang paralel. Dari potongan kayu kecil dapat dibuat kayu lamina dengan panjang dan tebal yang diinginkan dengan cara menyambung ujung papan dan merekatkan bagian sisinya. Kayu lamina dapat digunakan sebagai pengganti balok ataupun tiang sebagai bahan bangunan yang mengutamakan kekuatan. Kayu lamina memiliki stabilitas dimensi dan bentuk penampilan yang lebih baik bila dibandingkan dengan kayu solid. Kayu lamina dapat berfungsi sebagai pengganti bagian-bagian konstruksi yang tidak mungkin dibuat dari kayu solid karena tuntutan ukuran, konstruksi lengkung ataupun tiang penopang, bahkan dapat digunakan dalam keperluan pembuatan mobil, kapal dan jembatan.
Perekat yang sangat banyak dipakai dalam kegiatan industri kayu adalah Polivinil Asetat (PVA) yang termasuk dalam tipe thermoplastis yang akan lebih baik bila digunakan untuk tujuan interior. Pengempaan perekat ini dilakukan pada suhu kamar dengan tekanan yang rendah, garis rekat bersih, tahan terhadap mikroorganisme dan tidak menimbulkan noda kayu.
Untuk mendapatkan keteguhan rekat yang baik, maka zat ekstraktif sebaiknya dikeluarkan dari dalam kayu. Zat ekstraktif dalam kayu sangat mempengaruhi (umumnya merugikan) proses perekatan. Pelarutan zat ekstraktif kayu karet dengan perendaman dalam air dingin dan perebusan dalam air panas dipilih dalam penelitian ini disebabkan prosesnya memiliki kelebihan dibandingkan dengan proses ekstraksi lainnya, antara lain proses sederhana, biaya relatif rendah dan cukup banyak jumlah dan jenis zat ekstraktif yang dapat dilarutkan.
Faktor lain yang mempengaruhi keteguhan rekat kayu lamina adalah bidang orientasi perekatan kayu yaitu bidang tangensial dan radial. Struktur sel-sel yang berbeda pada kedua bidang ini (perbedaan bentuk dan ukuran sel-sel) akan berpengaruh terhadap penetrasi perekat dan keteguhan rekat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat keteguhan lentur (modulus of elasticity, MoE), kadar zat ekstraktif, kadar air dan kerapatan kayu lamina Karet berdasarkan berdasarkan perbedaan proses pelarutan zat ekstraktif, banyaknya jumlah lapisan dan bidang perekatan. Hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai data pemanfaatan kayu Karet untuk bahan baku pembuatan kayu lamina dan membuka peluang bagi pemanfaatan limbah perkebunan atau hutan tanaman Karet yang sudah tidak produktif lagi menghasilkan getah Karet agar kayunya dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu lamina, sehingga dapat mengatasi kendala pasokan bahan baku industri perkayuan yang selama ini didominasi dari hutan alam.
Purnomosidhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 45
METODE PENELITIAN
Waktu efektif penelitian adalah selama 5 bulan, dengan alokasi waktu penelitian sebagai berikut: persiapan bahan baku kayu karet selama 1 bulan, pembuatan contoh uji selama 2 bulan dan pengujian/pengukuran selama 1 bulan.
Penelitian dilaksanakan di beberapa lokasi antara lain Laboratorium Pengeringan dan Pengawetan Kayu, Laboratorium Industri Hasil Hutan dan Laboratorium Fisika Mekanika Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman di Samarinda.
Alat yang digunakan adalah gergaji bundar, mesin ketam, mesin kempa dingin kayu lamina arah vertikal (lapisan), mesin universal testing, mesin kompresor, kompor gas, drying oven merk Memmert UL-30, neraca analitik merk Sartorius (Sartorius GmbH Göttingen tipe 1402 MP8-1), desikator, kaliper, mikrotom slicing microtome, projection microscope (konversi pengukuran dalam mikron), penggaris, jangka, plastik transparan, kertas milimeter, alat tulis dan hitung sesuai kebutuhan, dan alat pelengkap lainnya seperti karet, spidol, tali, kapur, plastik dan label (untuk kemasan).
Bahan penelitian adalah berupa kayu Karet (Havea brasiliensis) yang diambil dari Kecamatan Samarinda Utara yaitu pohon Karet yang berumur ±20 tahun yang sudah tidak memproduksi lateks. Bahan perekat. yang digunakan adalah Polivinil Asetat yang dijual bebas dengan merek dagang “Lem Rajawali S 3005” dengan pH 4,22 dan viskositas 42.500 cps pada suhu kamar 25o C.
Bahan baku berupa kayu log Karet berdiameter sekitar 30 cm diambil dari 2 m pertama bagian pangkal dan dipotong menjadi 2 bagian (panjang masing-masing 100 cm). Tiap dolok dibelah dengan cara plat (flat sawn) menjadi 3 bagian. Selanjutnya tiap blambangan dibelah lagi menjadi 2 bagian. Kayu Karet utuh dipotong menjadi balok-balok ukuran 6 x 5 x 90 cm. Kayu lamina 2 lapis dibuat dari balok ukuran 6 x 2,7 x 90 cm. Kayu lamina 3 lapis dibuat dari balok ukuran 6 x 1,8 x 90 cm. Kayu lamina 4 lapis dibuat dari balok ukuran 6 x 1,35 x 90 cm. Balok-balok tersebut terlebih dahulu dikeringkan dalam ruang konstan sampai kadar airnya konstan dan ditimbang beratnya. Selanjutnya sebagian balok-balok tersebut diberi perlakuan: perebusan dalam air panas, perendaman air dingin dan sebagian yang lain tanpa perlakuan (kontrol).
Perebusan kayu di dalam air panas dilakukan dengan memasukkan balok-balok kayu setelah air yang dipanaskan mendidih (100o C). Diusahakan agar selama perebusan kayu, air tetap dalam keadaan mendidih dan kayu benar-benar tenggelam. Setelah 3 jam kayu diangkat dari perebusan lalu ditiriskan di tempat terbuka selama beberapa hari, kemudian dimasukkan ke dalam ruang konstan sampai tercapai kadar air keseimbangan (12 ± 1o C).
Perendaman di dalam air dingin dilakukan dengan memasukkan balok-balok kayu ke dalam air dingin dan selama perendaman kayu benar-benar tenggelam. Setelah 48 jam kayu diangkat dari perendaman lalu ditiriskan di tempat terbuka selama beberapa hari, kemudian dimasukkan ke dalam ruang konstan sampai tercapai kadar air keseimbangan (12 ± 1o C).
Setelah tercapai kadar air konstan, kemudian balok-balok itu ditimbang beratnya. Tujuan penimbangan adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa
46 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
perlakuan perendaman tersebut terhadap kerapatan kayu dan persentase zat ekstraktif yang terlarut dari balok kayu karet.
Dalam pembuatan contoh uji, perakitan kayu lamina dibagi menjadi 2 perlakuan bidang rekat, yakni bidang rekat tangensial dan radial dengan merekatkan balok ukuran 6 x 2,7 x 90 cm menjadi kayu lamina 2 lapis, balok ukuran 6 x 1,8 x 90 cm menjadi kayu lamina 3 lapis. Balok ukuran 6 x 1,35 x 90 cm menjadi kayu lamina 4 lapis. Pelaburan dilakukan pada dua sisi (double layer spread) dengan berat labur perekat 0,02 g/cm2 lalu dikempa dengan tekanan 1 N/mm2 selama 60 menit. Setelah perekat mengeras, kayu lamina yang dihasilkan diketam bagian sisinya untuk menghilangkan perekat yang ada di sisi-sisinya.
Pengujian contoh uji dilakukan sebagai berikut:
a. Pengujian kerapatan dan kadar air menggunakan rumus DIN 52 182-76 dan DIN 52 183-77.
b. Persentase kelarutan zat ekstraktif diketahui dengan membandingkan selisih berat kayu masing-masing contoh uji kayu solid (6 x 5 x 90 cm), dua lapis (6 x 2,7 x 90 cm), tiga lapis (6 x 1,8 x 90 cm) dan empat lapis (6 x 1,35 x 90 cm) sebelum dan setelah diekstraksi, baik dengan perendaman air dingin maupun perebusan dalam air panas.
c. Pengujian elastisitas (MoE) mengikuti Standar DIN 52 186-78. Sebelum pengujian dilakukan, seluruh contoh uji diukur dimensi tebal dan lebarnya. Data yang didapat selanjutnya ditabulasikan dan dihitung nilai rataan serta koefisien variasinya. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan pelarutan zat ekstraktif, jumlah lapisan dan bidang rekat kayu terhadap keteguhan patah dan lentur kayu lamina karet, maka dilakukan Analisis Faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap 3 x 4 x 2 dengan 20 ulangan yang terdiri dari: faktor A (pelarutan zat ekstraktif) sebanyak 3 level, yaitu a1 (tanpa perlakuan), a2 (perendaman air dingin), a3 (perebusan dengan air/100o C); faktor B (jumlah lapisan) sebanyak 4 level, yaitu b1 (kayu utuh), b2 (dua lapis) dan b3 (tiga lapis) dan b4 (empat lapis); faktor C (bidang rekat kayu) sebanyak 2 level, yaitu c1 (bidang rekat tangensial) dan C2 (bidang rekat radial).
Bila perlakuan menunjukkan ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai keteguhan patah dan lentur, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Tulus (HSD = Honestly Significant Difference) (Yitnosumarto, 1993).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisika Kayu Lamina
a. Kadar air. Pengukuran terhadap 20 ulangan contoh uji kayu Karet menghasilkan nilai rataan kadar air segar 73,31 %. Hal ini sesuai dengan pendapat Hong (1985), bahwa kadar air segar kayu biasanya berkisar antara 60–80 %. Haygreen dan Bowyer (1982) menegaskan, bahwa berat air dalam kayu segar umumnya sama atau lebih besar daripada berat bahan kayu kering. Wulandari (1995) menyatakan, bahwa kayu Karet yang baru ditebang mempunyai kadar air segar rata-rata 64,45 %.
Wardhani dan Sukaton (1996) menyatakan, bahwa sebelum kayu Karet digunakan, yang perlu diperhatikan adalah kadar air kayunya, untuk mencapai
Purnomosdhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 47
kadar air kering udara diperlukan waktu 40–60 hari untuk pengeringan alami dengan tebal papan 25 mm, sedangkan dengan tebal 50 mm diperlukan waktu pengeringan alami antara 60 sampai 80 hari.
Tabel 1. Kadar Air Kayu Karet
Perlakuan pelarutan zat ekstraktif Kadar air Sebelum pelarutan zat ekstraktif
Setelah pelarutan zat ekstraaktif / sebelum perekatan
Rataan CV (%) Rataan CV (%)
Kontrol 11,04 4,73
Air dingin 9,99 6,06 11,05 5,24
Air panas 9,95 6,00 11,07 5,40
Keterangan: CV = koefisien variasi
Pada Tabel 1 terlihat, bahwa kadar air kayu Karet sebelum pelarutan zat ekstraktif dengan air dingin sebesar 9,99 %, kadar air sebelum pelarutan zat ekstraktif dengan perebusan air sebesar 9,95 %, berarti kadar airnya seragam dengan nilai CV (%) yang kecil. Kadar air setelah pelarutan zat ekstraktif pada perendaman dengan air dingin naik menjadi 11,05 %, setelah pelarutan zat ekstraktif dengan perebusan di dalam air panas naik menjadi 11,07 % dan pada kontrol sebesar 11,04 %. Bertambahnya kadar air tersebut menunjukkan, bahwa kayu Karet seperti kayu pada umumnya adalah bersifat higroskopis.
Pada Tabel 1 juga terlihat, bahwa hasil uji kadar air kayu sebelum direkat tetap seragam dalam berbagai perlakuan, ditunjukkan dengan koefisien variasi yang rendah. Hal ini disebabkan sebelum dilakukan pengujian, contoh uji terlebih dahulu ditempatkan di dalam ruang konstan dengan suhu 201 C dan kelembapan 603 % selama beberapa waktu, sehingga tercapai kadar air yang konstan. Kadar air kayu Karet yang hampir seragam tersebut dapat dikatakan bahwa kadar air dalam kayu Karet telah terkondisikan untuk tidak mempengaruhi nilai keteguhan lentur statis (MoE) yang akan diuji dalam penelitian ini.
Kadar air yang diuji juga telah memenuhi persyaratan untuk proses perekatan menjadi kayu lamina sebagaimana dinyatakan oleh Coleman (1966), bahwa persyaratan kadar air untuk pembuatan kayu lamina adalah sebesar 125 % dan menurut Houwink dan Salomon (1967) sebesar 8–12%. Sinaga dan Hadjib (1989) menyatakan, bahwa kadar air kayu sebelum direkat menjadi kayu lamina harus berkisar antara 10–12 %.
Kayu dengan kadar air yang tinggi juga relatif mudah diserang serangga atau jamur. Menurut Hong (1985), perlindungan terhadap kayu Karet dalam jangka panjang dapat diawetkan dengan metode dip-diffusion dan tekanan vakum. Bahan pengawet yang dapat digunakan antara lain boron (borax), asam borit, timbor dan lain-lain. Boron efektif karena tidak menyebabkan perubahan warna dan sangat baik melindungi dari serangan rayap, tetapi tidak dapat mencegah jamur. Untuk melindungi kayu terhadap jamur, boron dapat ditambahkan dengan larutan natrium
48 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
pentaklorophenat dengan kadar 1–2 % atau captafol. Menghindari serangan jamur yang paling sederhana adalah dengan mengeringkan kayu Karet secepatnya. b. Kerapatan kayu. Kerapatan kering tanur contoh uji sebelum diberi perlakuan perendaman air dingin adalah sebesar 0,63 g/cm3, sementara sebelum diberi perlakuan perebusan dengan air adalah sebesar 0,65 g/cm3 (Tabel 2).
Tabel 2. Kerapatan Kering Tanur Kayu Karet
Perlakuan pelarutan zat ekstraktif
Kerapatan kering tanur (g/cm3) Sebelum pelarutan
zat ekstraktif
Setelah pelarutan zat ekstraaktif / sebelum perekatan
Rataan CV (%) Rataan CV (%)
Kontrol 11,04 4,73
Air dingin 0,63 3,34 0,51 2,75
Air panas 0,65 3,65 0,53 3,55
Keterangan: CV = koefisien variasi
Perlakuan perendaman air dingin dan perebusan dalam air menyebabkan terjadinya penurunan kerapatan menjadi 0,51 g/cm3 dan 0,53 g/cm3. Hal ini disebabkan oleh penyebaran zat ekstraktif yang tidak sama dan terlarutnya zat-zat ekstraktif kayu yang berada dalam rongga-rongga sel, karena adanya perendaman air dingin dan air panas, sehingga porositas kayu meningkat dan massa kayu semakin berkurang. Hal ini ditunjukkan juga bahwa kerapatan kayu pada perlakuan kontrol (tanpa pelarutan zat ekstraktif) lebih tinggi dan sangat berbeda dengan kerapatan kayu Karet yang mendapat perlakuan perendaman air dingin dan perebusan dalam air panas. Perbedaan ini tentu akan mempengaruhi sifat-sifat mekanik yang akan diuji kemudian dalam penelitian ini. Sebagaimana dinyatakan oleh Prayitno (1986), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses perekatan adalah: struktur anatomis, kerapatan, kadar air, berat jenis, permukaan kayu dan bidang orientasi, zat ekstraktif dan lain-lain. Haygreen dan Bowyer (1982) menegaskan, bahwa sifat-sifat fisikomekanik kayu ditentukan oleh: i) porositasnya atau proporsi volume rongga yang dapat diperkirakan dengan mengukur kerapatannya; ii) organisasi struktur sel, yang meliputi struktur mikro dinding sel dan variasi serta proporsi tipe-tipe sel; iii) kandungan air.
Tabel 2 juga menunjukkan, bahwa nilai kerapatan kayu Karet antara 0,51–0,68 g/cm3, sedangkan hasil pengukuran kerapatan kayu Karet oleh Oey Djoen Seng (1964) adalah 0,55–0,70 g/cm3 dan menggolongkannya dalam kelas kuat II dan III. Penelitian Balfas (1995) dan Wulandari (1995) terhadap kayu Karet menghasilkan nilai rataan kerapatan kering tanur masing-masing 0,57 g/cm3 dan 0,597 g/cm3 dan menggolongkannya ke dalam kerapatan kelas sedang setara dengan kayu Meranti Merah (kelas kuat II–III).
Kerapatan kayu akan kembali meningkat pada proses perekatan sebagai akibat adanya penetrasi perekat ke dalam pori-pori dan memadatnya substansi kayu setelah diberi perlakuan pengempaan. Dayadi (2001) dan Rindayatno (2002) melaporkan, bahwa kerapatan kayu yang menurun setelah proses pelarutan zat
Purnomosidhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 49
ekstraktif dengan perendaman air dingin dan perebusan dalam air akan mencapai kerapatan semula bila dilakukan pengempaan dalam proses perekatannya.
Zat Ekstraktif
Tabel 3 menunjukkan, bahwa bahan baku (strip-strip) pembuatan kayu lamina Karet yang telah diberi perlakuan dengan perendaman air dingin mengalami kelarutan zat ekstraktif lebih sedikit dibandingkan perlakuan dengan perebusan di dalam air (100o C), karena perlakuan dengan direbus dalam air menyebabkan dinding-dinding sel melemah sehingga zat ekstraktif yang berada di dalam rongga sel dapat berdifusi dengan air panas dan larut.
Komarayati dkk. (1995) dalam penelitiannya dengan kayu Karet yang berasal dari Sukabumi Jawa Barat juga menyimpulkan kelarutan zat ekstraktif dalam air dingin lebih rendah (4,48 %) daripada kelarutannya dalam air panas (5,93 %). Pari (1996) juga menyatakan, bahwa kelarutan zat ekstraktif dalam air dingin lebih rendah (3,92 %) daripada kelarutannya dalam air panas (4,36 %). Soenardi (1976) menjelaskan, bahwa zat ekstraktif seperti karbohidrat, garam, pektin, zat warna pholbatannin dan asam-asam tertentu, mudah larut dalam air dingin. Zat ekstraktif yang larut dalam air dingin juga larut dalam air panas (Simatupang, 1988).
Tabel 3. Kelarutan Zat Ekstraktif pada Strip-strip Pembuatan Kayu Lamina Karet
Perlakuan Rataan
(%)
CV (%) Pelarutan zat ekstraktif Ukuran strip kayu lamina Bidang rekat
Perendaman dengan air dingin
Solid (6x5x90) cm3 Tangensial 3,51 8,98 Radial 3,40 7,47 2 lapis (6x2,7x90) cm3 Tangensial 3,53 9,27 Radial 3,43 7,63 3 lapis (6x1,8x90) cm3 Tangensial 3,67 11,34 Radial 3,59 12,00 4 lapis (6x1,35x90) cm3 Tangensial 3,76 11,67 Radial 3,72 11,19 Perebusan dengan air panas
Solid (6x5x90) cm3 Tangensial 5,53 3,87 Radial 5,47 5,86 2 lapis (6x2,7x90) cm3 Tangensial 5,57 5,91 Radial 5,49 4,42 3 lapis (6x1,8x90) cm3 Tangensial 5,72 10,78 Radial 5,67 7,36 4 lapis (6x1,35x90) cm3 Tangensial 5,88 10,97 Radial 5,76 9,41
Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan kelarutan zat ekstraktif kayu lamina adalah banyaknya lapisan kayu, letak contoh uji di dalam kayu, komposisi kandungan dan penyebaran zat penyusun di dalam kayu dan ukuran
50 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
kayu. Sementara komposisi kayu sangat dipengaruhi oleh kerapatan, berat jenis kayu, iklim dan tempat tumbuh kayu Karet. Tabel 3 menunjukkan, bahwa semakin banyak lapisan kayu lamina, maka ukuran setiap lapisan akan semakin kecil atau tipis, sehingga zat ekstraktif yang keluar menjadi lebih mudah setelah melalui perlakuan perendaman air dingin dan perebusan dengan air.
Pada bidang tangensial zat ekstraktif yang larut melalui proses perendaman air dingin dan perebusan dengan air panas lebih tinggi dibandingkan dengan bidang radial karena bidang rekat tangensial umumnya disalurkan melewati noktah sederhana dari sel jari-jari, sedangkan bidang rekat radial disalurkan oleh noktah berpasangan yang terletak pada permukaan-permukaan radial yang terdapat serabut-serabut dan trakeid-trakeid yang berdampingan membuat proses difusi dari atau keluar bagian luar kayu menjadi lebih lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Nicholas (1988), bahwa permeabilitas pada bidang tangensial lebih tinggi daripada bidang radial, sebagai akibat dari tingginya keberadaan tylosis pada kayu karet, sehingga proses difusi ke dalam pori menjadi agak lama karena sudah terisi oleh tylosis tersebut. Lebih lanjut Choong dan Achmadi (1986) dalam Schulte dan Schone (1996) mengemukakan, bahwa perbedaan tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan kerapatan, daya pembasahan dan kekerasan permukaan.
Sifat Mekanika Kayu Lamina
Keteguhan lentur statis (MoE). Nilai MoE tertinggi diperoleh pada perlakuan a3b3c1 (pelarutan zat ekstraktif menggunakan perebusan air panas pada kayu lamina 3 lapis dengan bidang rekat tangensial), yaitu sebesar 11667 N/mm2 dan terendah diperoleh pada perlakuan a1b1c1 (tanpa pelarutan zat ekstraktif pada kayu karet solid dengan bidang rekat tangensial), yaitu sebesar 7018 N/mm2 (Tabel 4). Nilai rataan MoE kayu lamina karet dari semua perlakuan adalah 10177 N/mm2, lebih tinggi dari yang dirumuskan oleh Wulandari (1995), bahwa MoE kayu karet hanya sebesar 8652 N/mm2. Pengaruh faktor-faktor perlakuan terhadap nilai MoE dianalisis dengan sidik ragam dan untuk mengetahui apakah perbedaan tersebut memiliki pengaruh yang signifikan dilakukan uji lanjut Honestly Significant Different (HSD).
Tabel 4. Keteguhan Lentur Statis (MoE) Kayu Lamina Karet
Perlakuan Nilai rataan
(N/mm2)
Pelarutan zat ekstraktif Jumlah lapisan Bidang rekat
Kontrol (tanpa pelarutan zat ekstraktif) Solid Tangensial 7018 Radial 9544 2 lapis Tangensial 11454 Radial 11098 3 lapis Tangensial 9919 Radial 11237 4 lapis Tangensial 11188 Radial 10494
Purnomosidhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 51
Tabel 4 (lanjutan)
Perlakuan Nilai rataan
(N/mm2)
Pelarutan zat ekstraktif Jumlah lapisan Bidang rekat
Perendaman dengan air dingin
Solid Tangensial 9693 Radial 9264 2 lapis Tangensial 10499 Radial 9578 3 lapis Tangensial 10580 Radial 10153 4 lapis Tangensial 10058 Radial 10851 Perebusan dengan air panas
Solid Tangensial 9145 Radial 8752 2 lapis Tangensial 10093 Radial 10146 3 lapis Tangensial 11667 Radial 11648 4 lapis Tangensial 9974 Radial 10202 Rataan 10177
Pengaruh pelarutan zat ekstraktif terhadap MoE. Hasil analisis keragaman menunjukkan, bahwa perlakuan pelarutan zat ekstraktif memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap MoE kayu lamina baik pada tingkat kepercayaan 95 % maupun 99 %. Tabel 5 menunjukkan kayu lamina kontrol (tanpa perlakuan pelarutan zat ekstraktif) memiliki nilai MoE yang tertinggi, yakni sebesar 10244 N/mm2. Adanya perlakuan perendaman air dingin menyebabkan terjadinya penurunan nilai keteguhan lentur sebesar 1,55 % menjadi 10085 N/mm2. Sementara perlakuan perebusan dengan air panas menyebabkan penurunan MoE sebesar 0,39 % menjadi 10203 N/mm2.
Tabel 5. MoE Kayu Lamina Karet Berdasarkan Perlakuan Pelarutan Zat Ekstraktif
Perlakuan pelarutan zat ekstraktif Rataan (N/mm2)
Kontrol (tanpa pelarutan zat ekstraktif) 10244
Perendaman dengan air dingin 10085
Perebusan dengan air panas 10203
Pada Tabel 2 ditampilkan, bahwa pelarutan zat ekstraktif mempengaruhi tinggi rendahnya kerapatan kayu Karet. Kerapatan kayu Karet terbesar terdapat pada kayu karet tanpa pelarutan zat ekstraktif (0,68 g/cm3), diikuti pelarutan dengan perebusan dalam air panas (0,53 g/cm3) dan yang paling kecil adalah setelah perendaman dalam air dingin (0,51 g/cm3). Besar kecilnya kerapatan kayu tersebut sangat mempengaruhi nilai MoE, sebagaimana dinyatakan oleh Panshin dan
52 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
de Zeeuw (1970), bahwa kerapatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan kayu, seperti elastisitas dan keteguhan patah.
Pengaruh perlakuan jumlah lapisan terhadap MoE. Analisis keragaman menunjukkan, bahwa jumlah lapisan (B) berpengaruh sangat signifikan terhadap MoE kayu lamina pada taraf kepercayaan 99 %. Hasil uji lanjut HSD pada faktor tunggal jumlah lapisan (B) (HSD0,01 = 451,09 dan HSD0,05 = 372,15) terhadap nilai
MoE diperoleh, bahwa antara perlakuan b1 dengan b2; b1 dengan b3; b1 dengan b4 terdapat perbedaan yang sangat signifikan, perlakuan b2 dengan b3; b3 dengan b4 memiliki perbedaan yang signifikan, sedangkan perlakuan b2 dengan b4 memiliki perbedaan yang tidak signifikan.
Tabel 6. MoE Kayu Lamina Karet Berdasarkan Perlakuan Jumlah Lapisan
Jumlah lapisan Rataan (N/mm2)
Solid 8902
2 lapis 10478
3 lapis 10867
4 lapis 10461
Tabel 6 menunjukkan, bahwa elastisitas kayu lamina lebih besar daripada kayu utuh karena kayu lamina dibuat dari lapisan yang tipis dengan kondisi bebas cacat, kadar air lebih seragam dan stabilitas yang lebih baik, meskipun jumlah lapisan tidak mutlak selalu meningkatkan nilai MoE sebagaimana ditunjukkan pada kayu lamina karet tiga lapis dengan empat lapis. Kurnia (1997) menyimpulkan, bahwa jumlah lapisan berpengaruh pada sifat keteguhan patah dan keteguhan lentur, meskipun jumlah lapisan tidak mutlak selalu meningkatkan nilai keteguhan patah dan keteguhan lentur. Hal ini diakibatkan semakin banyak lapisan, maka strip kayu semakin tipis. Tipisnya strip kayu menimbulnya sudut serat akan semakin besar, pengerjaan yang semakin sulit dan semakin banyak garis (bidang) perekatan, maka daerah kemungkinan timbulnya kerusakan pada saat pengujian semakin banyak. Sebagaimana dinyatakan oleh Simbolon (1998), bahwa kecenderungan turunnya nilai MoE pada perlakuan banyak lapisan disebabkan oleh beberapa faktor, yakni sudut serat, lamanya muatan, cacat dan kandungan (bahan) kimia kayu. Semakin tipis strip yang dibuat, maka kemungkinan naiknya (timbulnya) sudut serat akan semakin besar, akibat dari penggergajian yang semakin sulit maupun keadaan kayu itu sendiri, sementara lamanya muatan pada dasarnya berpengaruh terhadap semua perlakuan.
Pengaruh perlakuan bidang rekat (C) terhadap MoE. Nilai MoE berdasarkan pengaruh perlakuan bidang rekat dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. MoE Kayu Lamina Karet Berdasarkan Perlakuan Bidang Rekat Kayu
Bidang rekat kayu lamina Rataan (N/mm2)
Tangensial 10107
Purnomosidhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 53
Tabel 7 menunjukkan, bahwa nilai MoE kayu lamina Karet dengan bidang rekat tangensial lebih rendah daripada kayu lamina Karet dengan bidang rekat radial, tetapi berdasarkan analisis keragaman diketahui, bahwa bidang rekat tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai MoE kayu lamina Karet. Berarti tidak begitu penting adanya perlakuan perbedaan bidang rekat, karena hasilnya MoE kayu lamina Karet cukup seragam.
Pengaruh interaksi perlakuan pelarutan zat ekstraktif dengan jumlah lapisan (AB) terhadap MoE. Berdasarkan analisis keragaman, interaksi perlakuan pelarutan zat ekstraktif dengan jumlah lapisan (AB) terhadap MoE adalah sangat signifikan pada taraf kepercayaan 99 %. Hasil uji lanjut HSD pada interaksi perlakuan pelarutan zat ekstraktif dengan jumlah lapisan (AB) (HSD0,01 = 939,40 dan HSD0,05 =
820,42) terhadap nilai MoE diperoleh, bahwa sebagian besar perlakuan interaksi AB menghasilkan perbedaan nilai MoE yang sangat signifikan, kecuali pada perlakuan a1b2 dengan a2b3, a2b4; a2b1 dengan a2b3 yang memiliki perbedaan signifikan, sedangkan antara 1b1 dengan a3b1; a1b2 dengan a1b3, a1b4; a3b3; a1b3 dengan a1b4, a2b2, a2b3, a2b4, a3b2, a3b4; a1b4 dengan a2b2, a2b3, a2b4, a3b2, a3b3, a3b4; a2b1 dengan a2b2, a3b1, a3b2, a3b4; a2b2 dengan a2b3, a2b4, a3b2, a3b4; a2b3 dengan a2b4, a3b2, a3b4; a2b4 dengan a3b2, a3b4; a3b2 dengan a3b4 perbedaannya tidak signifikan.
Tabel 8 MoE Kayu Lamina Karet Berdasarkan Interaksi Pelarutan Zat Ekstraktif dengan
Jumlah Lapisan
Perlakuan
Rataan (N/mm2)
Pelarutan zat ekstraktif Jumlah lapisan
Kontrol (tanpa pelarutan zat ekstraktif) Solid 8281 2 lapis 11276 3 lapis 10578 4 lapis 10841 Perendaman dengan air dingin
Solid 9478
2 lapis 10039
3 lapis 10367
4 lapis 10455
Perebusan dengan air panas
Solid 8948
2 lapis 10120
3 lapis 11657
4 lapis 10088
Tabel 8 menunjukkan banyaknya variasi nilai MoE kayu lamina Karet akibat adanya interaksi antara pelarutan zat ekstraktif dengan jumlah lapisan. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa MoE tertinggi diperoleh pada perlakuan a3b3 (pelarutan zat ekstraktif dengan perebusan air panas pada kayu lamina 3 lapis) yakni sebesar 11657 N/mm2. Sementara nilai MoE terendah diperoleh pada perlakuan a1b1 (kayu solid tanpa pelarutan zat ekstraktif), yaitu sebesar 8281 N/mm2. Perlakuan apapun, baik kontrol, rendaman air dingin maupun perebusan
54 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
dalam air panas, bahwa kecenderungan naiknya MoE sebanding dengan banyaknya lapisan, walaupun kemudian akan turun pada jumlah lapisan tertentu dan menunjukkan bahwa MoE kayu lamina lebih tinggi daripada MoE kayu solid. Sebagaimana dinyatakan oleh Wardhani (1996), bahwa elastisitas kayu lamina lebih baik dari kayu utuhnya dan sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Peterson (1993), bahwa tebal lapisan merupakan satu faktor yang mempengaruhi elastisitas pada kayu lamina.
Pengaruh interaksi pelarutan zat ekstraktif dengan bidang rekat kayu (AC) terhadap MoE. Analisis keragaman menunjukkan, bahwa interaksi pelarutan zat ekstraktif dengan bidang rekat (AC) memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap nilai MoE kayu lamina, baik pada taraf kepercayaan 95 % maupun 99 %. Hasil uji lanjut HSD (HSD0,01 = 597,71 dan HSD0,05 = 506,05) menetapkan nilai MoE berdasarkan
interaksi AC perbedaannya tidak signifikan, kecuali antara a1c1 dengan a1c2 yang perbedaannya sangat signifikan.
Tabel 9 menjelaskan, bahwa nilai MoE cenderung lebih tinggi pada kayu lamina dengan bidang rekat tangensial daripada radial pada contoh uji yang telah diberi perlakuan perendaman air dingin maupun perebusan dengan air panas. Hal ini disebabkan karena daya permeabilitas bidang tangensial lebih baik daripada bidang radial, sehingga memudahkan keluarnya zat ekstraktif dari dalam kayu dan memudahkan penjangkaran dan penetrasi perekat ke dalam kayu. Permeabilitas bidang tangensial lebih baik daripada radial, karena karena pada bidang rekat tangensial umumnya disalurkan melewati noktah sederhana dari sel jari-jari, sedangkan pada bidang rekat radial perekat disalurkan oleh noktah berpasangan yang terletak pada permukaan-permukaan radial serabut-serabut dan trakeid-trakeid yang berdampingan, sehingga pada saat dilakukan perekatan pada bidang tangensial membuat penetrasinya relatif lebih dalam daripada bidang rekat radial. Hal ini sesuai dengan pendapat Nicholas (1988) yang menyatakan, bahwa permeabilitas pada bidang tangensial lebih tinggi daripada bidang radial. Ahyar (1998) menyimpulkan, bahwa penetrasi perekat pada bidang tangensial (418,80
m) lebih dalam daripada bidang radial (311,36 m) pada uji coba dengan beberapa kayu tropis di Kaltim.
Tabel 9. MoE Kayu Lamina Karet Berdasarkan Interaksi Pelarutan Zat Ekstraktif dengan Bidang Rekat
Perlakuan Rataan
(N/mm2)
Pelarutan zat ekstraktif Bidang rekat
Kontrol
(tanpa pelarutan zat ekstraktif)
Tangensial 9895
Radial 10593
Perendaman dengan air dingin Tangensial 10207
Radial 9962
Perebusan dengan air panas Tangensial 10220
Purnomosidhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 55
Pengaruh interaksi perlakuan jumlah lapisan dengan bidang rekat kayu (BC) terhadap MoE. Tabel 10 menunjukkan, bahwa nilai MoE tertinggi diperoleh pada perlakuan b3c2 (kayu lamina 3 lapis dengan bidang rekat radial), yakni sebesar 11013 N/mm2. Sementara nilai MoE terendah diperoleh pada perlakuan b1c1 (kayu karet solid dengan bidang rekat tangensial.), yaitu sebesar 8618 N/mm2. Analisis keragaman menunjukkan, bahwa interaksi antara jumlah lapisan dengan bidang rekat (BC) memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap MoE kayu lamina pada tingkat kepercayaan 99 %.
Berdasarkan hasil Uji lanjut HSD (HSD0,01 = 723,50 dan HSD0,05 = 622,01)
diketahui, bahwa pada antara perlakuan b1c1 dengan b2c1, b2c2, b3c1, b3c2, b4c1, b4c2; b1c2 dengan b2c1, b2c2, b3c1, b3c2, b4c1, b4c2; b2c2 dengan b3c2 terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Untuk perbandingan perlakuan selain tersebut di atas perbedaannya tidak signifikan. Hal ini berarti MoE kayu solid berbeda sangat signifikan dengan MoE kayu lamina, sedangkan MoE antara kayu lamina cukup seragam.
Tabel 10. MoE Kayu Lamina Karet Berdasarkan Interaksi Jumlah Lapisan dengan Bidang Rekat Kayu
Perlakuan
Rataan (N/mm2)
Jumlah lapisan Bidang rekat
Solid Tangensial 8618 Radial 9187 2 lapis Tangensial 10682 Radial 10274 3 lapis Tangensial 10722 Radial 11013 4 lapis Tangensial 10406 Radial 10516
Tabel 10 menunjukkan, bahwa kayu lamina cenderung memiliki nilai MoE yang lebih baik daripada kayu utuhnya dalam berbagai tipe bidang rekat kayu walaupun ada kecenderungan menurun pada kayu lamina 4 lapis. Sebagaimana dinyatakan oleh Sutigno dan Masano (1986), bahwa makin banyak jumlah lapisan, kekuatan kayu lamina tidak selalu makin tinggi. Menurut Simbolon (1998), kecenderungan turunnya nilai keteguhan MoE pada perlakuan banyak lapisan disebabkan garis (bidang) perekatan lebih banyak, maka daerah kemungkinan timbulnya kerusakan pada saat pengujian semakin banyak. Beberapa faktor lain yakni sudut serat, lamanya muatan, cacat dan kandungan (bahan) kimia kayu.
Pengaruh interaksi pelarutan zat ekstraktif, jumlah lapisan dan bidang rekat
kayu (ABC) terhadap MoE. Hasil analisis keragaman menunjukkan, bahwa
interaksi pelarutan zat ekstraktif, jumlah lapisan dan bidang rekat kayu (ABC) memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap MoE pada taraf kepercayaan 99 %. Hasil uji lanjut HSD memberikan perbedaan nilai keteguhan rekat yang sangat signifikan pada sebagian besar perlakuan. Kayu lamina Karet56 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
memiliki nilai elastistas yang lebih baik daripada kayu utuhnya dalam berbagai kombinasi perlakuan. Contoh uji a3b3c1 merupakan kombinasi yang terbaik antara faktor perlakuan pelarutan zat ekstraktif, jumlah lapisan dan bidang rekat untuk menghasilkan nilai MoE kayu lamina Karet tertinggi, tepatnya pada kayu lamina 3 lapis yang direbus dengan air (100o C) dengan bidang rekat tangensial. Berpedoman pada rumusan menurut Den Berger (1921), Kanasudirdja dkk. (1978) dalam Anonim (1983) menunjukkan, bahwa sebagian besar perlakuan kombinasi kayu lamina Karet menghasilkan MoE yang sesuai dengan golongan kelas kuat kayu II dan III.
Sebagaimana dinyatakan oleh Wardhani dan Sukaton (1996), bahwa kayu Karet termasuk kelas sedang setara dengan kayu Meranti Merah (kelas kuat II–III). Kayu dengan kualitas tersebut dapat digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi rumah, misalnya dinding, lantai, gelagar atas, bingkai pintu, bingkai jendela, kusen pintu, kusen jendela dan lain-lainnya. Kayu lamina yang dibuat dari kayu berkerapatan sedang seperti karet dapat digunakan untuk bahan struktural seperti jembatan, konstruksi gedung aula dan lain-lainnya, karena sifat kekuatan kayu lamina lebih baik dari kayu solid.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kadar air kayu segar adalah 73,31 %. Kadar air sebelum perekatan adalah 11,04–11,07 %, memenuhi standar untuk pembuatan kayu lamina. Pelarutan zat ekstraktif menyebabkan penurunan nilai kerapatan kering tanur.
Kerapatan kering tanur tanpa perlakuan adalah 0,68 g/cm3, setelah perlakuan perendaman air dingin adalah 0,51 g/cm3 dan setelah perebusan dengan air panas adalah 0,53 g/cm3.
Zat ekstraktif yang terlarut, baik pada perendaman dengan air dingin maupun dengan air panas sebanding dengan banyaknya lapisan kayu lamina. Kelarutan tertinggi diperoleh pada kayu lamina 4 lapis, bidang rekat tangensial pada perendaman panas, yakni sebesar 5,88 % serta terendah pada kayu solid (satu lapis), bidang rekat radial pada perendaman dingin sebesar 3,51 %.
Keteguhan lentur statis (MoE) sangat dipengaruhi oleh perlakuan jumlah lapisan dan kombinasi perlakuan pelarutan zat ekstraktif, jumlah lapisan dan bidang rekat kayu. Nilai MoE tertinggi pada kayu lamina 3 lapis, perebusan dengan air (100o C) dengan bidang rekat tangensial, sebesar 11667 N/mm2 dan terendah pada kayu solid (satu lapis), tanpa pelarutan zat ekstraktif dengan bidang rekat tangensial, sebesar 7018 N/mm2. MoE kayu lamina Karet lebih baik daripada kayu utuhnya.
Sifat fisika dan mekanika kayu lamina Karet memenuhi kelas kuat kayu II dan III atau dapat dikatakan tidak jauh berbeda dengan sifat-sifat fisika dan mekanika kayu utuhnya.
Saran
Segera dilakukan inventarisasi potensi perkebunan Karet, khususnya di Kalimantan Timur yang sudah tidak produktif menghasilkan getah. Kemudian
Purnomosidhi dkk. (2006). Sifat-sifat Fisika 57
dilakukan studi kelayakan tentang pemanfaatan kayu Karet sebagai bahan baku industri kayu lamina karena sifat-sifat fisika dan mekanikanya setara dengan kayu meranti merah (kelas kuat II dan III).
Perlu dicoba kembali dengan bahan pelarut lain yang dapat menghasilkan MoE kayu lamina Karet yang lebih baik daripada penelitian ini.
Perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan lebih dari satu perekat dan waktu perendaman yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
Ahyar S. 1998. Pengaruh Struktur Anatomi Kayu dan Bidang Rekat terhadap Penetrasi Perrekat Polivinil Asetat pada Lima Jenis Kayu Lamina. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Unmul, Samarinda.
Anonim, 1983. Indonesian Timbers. Dirjen Departemen Kehutanan Indonesia, Jakarta. Balfas, J. 1995. Teknologi Laminasi sebagai Satu Alternatif dalam Pemanfaatan Kayu
Bulat Hasil Penjarangan. Duta Rimba 183-184 (XX): 31–34.
Coleman, G.D. 1966. Woodworking Factbook. Robert Speller & Sons, New York.
Dayadi, I. 2001. Pengaruh Perebusan dan Bidang Orientasi terhadap Keteguhan Rekat Kayu Lamina Meranti Merah (Shorea sp.) dan Kapur (Dryobalanops sp.). Rimba Kalimantan 5(1): 55–56.
Haygreen, J.G. and J.L. Bowyer. 1982. Forest Product and Wood Science. An Introduction. Iowa State University.
Hong, L. T. 1985. Rubberwood Processing and Utilization. Forest Research Institute of Malaysia, Kepong, Selangor, Kuala Lumpur.
Houwink, R. dan G. Salomon. 1967. Adhesion and Adhesives 2 (Applications). Elsevier Publishing Company, New York.
Komarayati, S.; D. Setiawan dan T. Nurhayati. 1995. Analisis Kimia dan Destilasi Kering Kayu Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.). Jurnal Penelitian Hasil Hutan 13(1): 321–327.
Kurnia. 1997. Keteguhan Lengkung Statis dan Keteguhan Geser Kayu Lamina dari Jenis Meranti Merah dan Melapi. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Unmul, Samarinda. Nicholas, D.D. 1988. Kemunduran (Deteriorasi) Kayu dan Pencegahannya dengan
Perlakuan-perlakuan Pengawetan. Airlangga University Press.
Oey Djoen Seng. 1964. Berat Jenis dari Kayu Indonesia dan Pengertian Berat Jenis untuk Keperluan Praktek. Laporan 1 Lembaga Penelitian Hasil Hutan, Bogor.
Panshin, A.J. and C. de Zeeuw 1970. Textbook of Wood Technology. Volume I: Structure, Identification, Uses and Properties of the Commercial Woods of the US and Canada. McGraw–Hill Book Co. Inc., New York.
Pari, G. 1996. Analisis Komponen Kimia dari Kayu Sengon dan Kayu Karet pada Beberapa Macam Umur. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 14(8): 321–327.
Peterson, J. 1993. The Effect of Width on the Bending Strength of Glulam Beams. Forest Product Journal 43(2): 27–30.
Prayitno, A.T. 1986. Perilaku Tolok Ukur Penelitian Kayu. Duta Rimba 73–74 (XII): 27–31.
Rindayatno. 2002. Pengaruh Berat Labur dan Perebusan terhadap Keteguhan Rekat Kayu Lamina Meranti Merah (Shorea sp.) dan Kapur (Dryobalanops sp.). Rimba Kalimantan 7(1): 43–60.
Schulte, A. and D. Schone. 1996. Dipterocarp Forest Ecosystem. Towards Sustainable Management. World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.
58 JURNAL KEHUTANAN UNMUL 2 (1), APRIL 2006
Simatupang, M.H. 1988. Bahan Ekstraktif Kayu, Kimianya dan Pengaruhnya pada Sifat-sifat Kayu. Hamburg University.
Simbolon, M. 1998. Pengaruh Banyaknya Lapisan terhadap Sifat Mekanis Papan Lamina dari Jenis Bayur dan Ketapang dengan Perekat PVA. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Unmul, Samarinda.
Sinaga, M. dan N. Hadjib 1989. Sifat Mekanis Kayu Lamina Gabungan dari Kayu Pinus
merkusii dan Eucalyptus alba. Duta Rimba 113–114 (XV): 43–49.
Soenardi. 1976. Sifat-sifat Fisika Kayu. Bagian Penerbitan Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Univ. Gajah Mada, Yogyakarta.
Sutigno, P. dan Masano. 1986. Pengaruh Banyaknya Lapisan terhadap Sifat Kayu Lamina Meranti Merah (Shorea leprosula Miq.). Duta Rimba 73–74 (XII): 22–24.
Wardhani, I.Y. 1996. Elastisitas, Keteguhan Patah dan Kualita Perekatan Kayu Lamina dari Jenis Nangka Air (Artocarpus kemando Miq.) dan Payang (Esdospermum diadenum Miq) dengan Perekat Polivinil Asetat dan Phenol Formaldehide. Tesis Magister Program Pascasarjana Unmul, Samarinda.
Wardhani, I.Y. dan E. Sukaton. 1996 Potensi dan Pemanfaatan Kayu Karet (Hevea
brasiliensis Muel. Arg.). Frontir (18): 77–88.
Wulandari, F.T. 1995. Studi Sifat Fisik dan Mekanik Kayu Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Berdasarkan Letak Ketinggian dalam Batang. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Unmul, Samarinda.
Yitnosumarto, S. 1993. Percobaan Perancangan, Analisis dan Interpretasinya. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.