3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Secara administratif TNGHS termasuk ke dalam wilayah 2 provinsi dan 3 kabupaten, yaitu Provinsi Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Bogor dan Sukabumi, dan Provinsi Banten yang meliputi Kabupaten Lebak (Gambar 5). Pada tahun 1992, kawasan seluas 40.000 hektar ditunjuk sebagai Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992. Pada tahun 2003, melalui SK Menhut No. 175/Kpts-II/2003, kawasan ini diperluas menjadi ± 113.357 (seratus tiga belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) hektar dan berubah namanya menjadi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS).
Kedua SK Menteri Kehutanan tersebut masih bersifat penunjukan atau penetapan sementara. Menurut UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, untuk ditetapkan sebagai kawasan taman nasional ada dua tahapan lagi yang harus dilakukan yaitu penataan batas dan pemetaan. Berdasarkan pertimbangan status kawasan, proses penataan batas dan ketersediaan data, untuk penelitian ini batas administrasi yang akan digunakan ialah batas TNGH. Namun demikian karena SK penunjukan TNGHS juga merupakan salah satu sumber konflik, maka dalam pengumpulan data maupun analisis, isu perluasan kawasan ini tetap dipertimbangkan.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa kawasan TNGH dipilih sebagai lokasi studi. Pertama, lokasi ini memiliki kelembagaan terkait yang kompleks baik lembaga formal (Pusat, 2 Provinsi, dan 3 Kabupaten) maupun lembaga non-formalnya seperti Kasepuhan (Adimihardja 1992; Adimihardja et al. 1994; Nijima 1997; Ambinari 2004). Kedua, memiliki potensi ekowisata yang sudah dikembangkan di tiga lokasi yang berpusat di Kampung Leuwijamang di Utara, Kampung Citalahab di bagian Barat, dan Kampung Pangguyangan di Selatan (Ambinari 2004; Nugraheni 2002; Keiji 2001; Rosdiana 1994). Ketiga, fakta adanya konflik antara masyarakat lokal dan pemerintah (Adimihardja 1992; Hendarti 2004; Hidayati 2004 dan Hanafi et al. 2004; dan Galudra 2003).
Sumber: h asil p engolahan data o leh RMI tahun 20 03 dari berb agai sumber
Gambar 5. Letak geografis
Untuk pengambilan sampel, empat lokasi dipilih secara purposive sampling. Kriteria pemilihan lokasi studi ini adalah: keterwakilan dua karakteristik komunitas di kawasan TNGHS (Kasepuhan dan non-Kasepuhan); merupakan daerah tujuan ekowisata dan/atau memiliki obyek wisata; dan lokasi studi berada di dalam dan/atau luar kawasan TNGH. Lokasi yang dipilih berdasarkan kriteria ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Lokasi studi
Kriteria Masyarakat Kasepuhan
Masyarakat Non-Kasepuhan Di dalam kawasan TNGH Kasepuhan Cibedug, Desa
Citorek, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak
Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor
Di luar kawasan TNGH Kasepuhan Ciptarasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi
Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor
Adapun waktu penelitian dilakukan selama 4 semester terdiri dari persiapan, pengambilan data lapangan, analisis data dan penulisan disertasi. Alokasi untuk masing-masing kegiatan disajikan pada Tabel 3. Observasi dan pengambilan data lapangan pada empat lokasi dilakukan mulai Juni 2006-April 2007 (Lampiran 1).
Tabel 3 Jadwal penelitian
2006 2007 Semester 2 Semester 3 Semester 4 Semester5
KEGIATAN 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Studi Literature Observasi lapangan Penulisan proposal Prelim Kolokium Penelitian Pengolahan Data dan Analisis Penulisan Seminar
3.2. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua konsep pendekatan yaitu konsep Institutionalist Tenure Security (ITS) dan konsep ekowisata. Kedua konsep ini kemudian digunakan untuk melakukan identifikasi karakteristik konflik di lokasi studi. Konsep ITS digunakan untuk melakukan analisis institusi yang mengatur pengelolaan sumberdaya alam. Sedangkan konsep ekowisata digunakan untuk mengevaluasi kegiatan ekowisata yang sudah ada apakah sudah memenuhi kriteria kecukupan konsep ekowisata yang ideal atau tidak. Dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu model institusi ekowisata yang dapat mengurangi konflik.
3.2.1 Paradigma Penelitian
Paradigma53 penelitian yang akan digunakan ialah kualitatif54 yang menekankan pada penggambaran dan pemahaman fenomena55 yang kompleks pada hubungan antar faktor yang berpengaruh. Alwasilah (2002) menyebutkan ada empat asumsi yang mendasari penelitian kualitatif: 1) realitas (pengetahuan) dibangun secara sosial sehingga dapat ada relitas jamak; 2) realitas dibentuk secara kognitif (dalam pikiran kita), maka tidak dapat terlepas dari peneliti; 3) seluruh entitas selalu dalam keadaan saling mempengaruhi dalam proses pembentukan serentak sehingga tidak mungkin dapat dibedakan secara jelas sebab dari akibat; 4) peneliti tidak dapat dipisahkan dari yang diteliti maka penelitian itu terikat nilai. Dalam penelitian ini beberapa hal yang mendasari pemilihan paradigma kualitatif ini diantaranya: 1) tujuan dari penelitian untuk memahami fenomena sosial (konflik) dari perspektif para aktor yang terkait; dan 2) teknik penelitian dalam paradigma kualitatif membantu memahami definisi situasi yang diteliti dengan menggambarkan fenomena yang dikemas secara deskriptif.
53
Dalam metodologi penelitian, paradigma merujuk pada seperangkat pranata kepercayaan bersama metode-metode yang menyertainya (Alwasilah AC 2002:78).
54 Karakteristik paradigma kualitatif diantaranya: tempat dan waktu yang alamiah; manusia sebagai instrumen pengumpul data primer; menggunakan pengetahuan yang tidak eksplisit; menggunakan metode kualitatif; analisis data secara induktif; hasil penelitian yang disepakati oleh peneliti dan responden; pemilihan sample secara purposive; cara pelaporan penelitian studi kasus; tafsir idiografik atau kontekstual; mengikuti kriteria khusus untuk menentukan keterpecayaan (Lincoln & Guba 1985 dalam Alwasilah 2002).
55 Fenomena ialah sebuah terminologi filosofi mengenai pemahaman baik yang bersifat subyektif maupun obyektif terhadap apa yang terjadi dan/atau dialami oleh seseorang (Babbie 1998: 281).
Mengacu pada lima tradisi penelitian kualitatif56 dalam Creswell (1998), penelitian ini memfokuskan pada sebuah studi kasus. Analisis secara mendalam akan dilakukan pada berbagai sumber data baik yang diperoleh secara primer maupun sekunder.
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data
Baik data primer maupun sekunder, dikumpulkan dengan menggunakan sample. Menurut Miles & Huberman (1992), Alwasilah (2002), dan Babbie (1998), sample dalam penelitian kualitatif dimungkinkan. Karakteristik teknik pengambilan sample yang biasanya digunakan penelitian kualitatif diantaranya non-probability sampling, purposive sampling dan snowballl sampling.
Data kemudian diolah dengan menggunakan statistik deskriptif (diantaranya dalam bentuk persentase). Hal ini membantu dalam menggambarkan hasil kategorisasi data yang diberikan responden (depth interview/questionaire) maupun yang teridentifikasi dari dokumen(content analysis). Dalam penelitian sosial yang menggunakan metode kualitatif (Alwasilah 2002, Moleong 2002, Babbie 1998, dan Creswell 1998) dan teknik content analysis (Sebo 1996, Henderson 1991, dan Krippendorf 1980) hal ini dimungkinkan.
A. Data Primer
Pengumpulan data primer dilakukan dengan dua tahap. Pertama dengan melakukan observasi57. Observasi lapangan dilakukan untuk verifikasi data dan informasi yang diperoleh dari hasil analisis data sekunder. Tahap kedua ialah dengan melakukan survei58. Survei dilakukan dengan teknik wawancara59 dan kuesioner60. Kedua teknik digunakan untuk menggali informasi lebih mendalam dari responden.
56 Lima tradisi penelitian kualitatif Biography, Phenomenology, Grounded Theory, Ethnography, dan studi kasusu (Case
Study).
57 Observasi merupakan kegiatan /aktivitas yang pasif yang biasa digunakan peneliti dengan tujuan untuk menjelaskan obyek penelitian dalam hal atribut-atributnya (Babbie 1998).
58 Survei adalah cara untuk mengumpulkan data primer dengan tujuan untuk meneliti populasi secara langsung. Ada tiga teknik survei yaitu self administered quessionaires, wawancara, dan telephone survei (Babbie 1998).
59
Wawancara adalah bentuk pengumpulan data dengan cara menanyakan secara langsung kepada responden (Babbie 1998).
60 Kuesioner adalah sebuah dokumen yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan bentuk-bentuk lainnya yang dirancang untuk memperoleh informasi yang layak untuk dianalisis (Babbie 1998).
Responden dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling dan metode snowball. Metode purposive sampling digunakan untuk memilih lokasi penelitian dengan kriteria sebagai berikut: mewakili masyarakat adat atau kasepuhan; terletak di dalam atau di luar kawasan TNGH; sudah dikembangkan kegiatan ekowisata dan/atau memiliki obyek ekowisata. Populasi dalam setiap lokasi studi yang terpilih dikelompokkan berdasarkan kategori stakeholders: utama, kunci, dan pendukung61. Kemudian, untuk mendapatkan responden yang memahami isu yang sedang diteliti maka metode snowball digunakan untuk menentukan responden yang dianggap relevan pada setiap kelompok stakeholders. Dengan metode snowball, responden diperoleh berdasarkan informasi dari responden sebelumnya (responden kunci). Pada pengumpulan data primer ini, content analysis digunakan untuk mengekstrak informasi dari hasil wawancara. Total jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 60 responden, selengkapnya disajikan pada Tabel 4.
Survey dan observasi lapangan dilakukan selain mengunjungi lokasi studi dan mengikuti beberapa pertemuan seperti seminar, diskusi terfokus, lokakarya, dan konsultasi publik yang terkait dengan pengelolaan dan pengembangan ekowisata di TNGH. Survey dan observasi ke empat lokasi studi dilakukan antara bulan Desember 2006 sampai dengan April 2007 (Lampiran 1 bagian C). Sampai dengan bulan April 2007, ada delapan pertemuan yang diikuti (Lampiran 1 bagian A). Di luar pertemuan tersebut, penulis mengumpulkan dokumentasi 6 pertemuan lainnya yang terkait dengan pengelolaan TNGH (Lampiran 1 bagian B). Pertemuan tersebut diselenggarakan baik oleh instansi pemerintah, LSM maupun institusi pendidikan.
B. Data sekunder
Data sekunder dikumpulkan dari dokumen-dokumen yang dipublikasikan oleh institusi terkait. Dokumen ini berupa buku, hasil penelitian, laporan hasil pertemuan (diskusi, workshop, seminar) dan lain sebagainya. Sampai dengan Juli 2007, diperoleh sekitar 155 dokumen yang terkait dengan kegiatan ekowisata, taman nasional dan TNGH sebagai lokasi studi. Dokumen ini terdiri dari 84
berupa dokumen penelitian, makalah, buku dan leaflet (Lampiran 2). Sedangkan 71 (Tujuh puluh satu) dokumen lainnya berupa dokumen peraturan perundangan (Lampiran 3).
Tabel 4 Jumlah responden dalam penelitian
No Stakeholders Jumlah Keterangan
1. Masyarakat Lokal 7 12
Masy. Kasepuhan Cibedug & Ciptarasa Masy. Non-Kasepuhan
2. Pemerintah Desa 6 Kepala Desa, Sekretaris Desa dan BPD 3. Pemerintah
Kecamatan
3 Camat dan Aparat Keamanan 4. Pemerintah Daerah
Kabupaten
9 DPRD, Dinas Kehutanan, Tata Ruang, Dinas Pariwisata dan Bapemdes
5. Pemda Provinsi 3 BAPPEDA Prov. Jawa Barat, Dinas Tata Ruang Prov. Jawa Barat , Dinas Sosial Prov. Jawa Barat
6. Pemerintah Pusat 7 Ditjen PHKA, Kepala Wilayah BTNGH 7. Perum Perhutani 2 Perum Perhutani Jawa Barat
8. LSM 7 RMI, LATIN, YEH, Absolut
9. Swasta 1 PT. Nirmala Agung
10. Lembaga Donor 2 JICA
11. Akademisi/Peneliti 1 IPB
Total 60
Dokumen tersebut dikumpulkan dengan menggunakan non-propability sampling design yaitu convenience dan purposive sampling62. Convinience sampling karena populasi dokumen yang terkait dengan penelitian tidak dapat diidentifikasi. Sedangkan purposive sampling design digunakan untuk menemukan dokumen yang sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu dengan membangun kriteria. Adapun kriteria pemilihan dokumen diantaranya adalah: memiliki substansi terkait dengan topik penelitian (ekowisata, kebijakan, konflik); dokumen cetak atau digital ; tahun publikasi sampai dengan April 2007; dan dapat berupa artikel jurnal, buku, laporan hasil penelitian atau seminar yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris atau keduanya (bilingual).
Setelah dokumen terkumpul kemudian dikategorisasikan dengan menggunakan kriteria: 1) jenis dokumen (laporan, hasil penelitian, artikel jurnal,
62
Non-probability sampling design:merupakan rancangan pengambilan sample jika sampling frame tidak diketahui. Ada dua teknik yang dapat digunakan jika sampling frame tidak diketahui yaitu 1) Convenience sampling : sample diambil dimana dan kapan saja sample itu diperoleh, dan 2) Purposive sampling ialah teknik pengambilan sample dengan menggunakan / membangun kriteria (Riffe et al. 1998).
makalah seminar atau bahan presentasi, notulensi atau hasil rumusan workshop, buku, leaflet, atau lainnya) ;2) jenis publikasikan (dipublikasikan, terbatas, atau tidak); 3)bentuk dokumen :cetak, atau digital; dan 4) ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris atau keduanya (bi-lingual).
Berdasarkan kriteria tersebut, berikut ini hasil kategorisasi terhadap 84 dokumen yang terkumpul:
• Jenis dokumen: 31,2% berupa makalah yang dipresentasikan di seminar atau workshop. 29,9% dokumen hasil penelitian dan 22,1% berupa dokumen laporan instansi atau proyek. Selebihnya jenis dokumen yang terkumpul berupa notulensi/rumusan worshop (1,3%), buku (9,1%), dan leaflet (6,5%). • Jenis publikasi: 79,2% dokumen merupakan dokumen yang dipublikasikan
secara terbatas seperti dalam seminar dan workshop. 13% merupakan dokumen yang dipublikasikan seperti buku ataupun dokumen online. Sedangkan selebihnya (7,8%) merupakan dokumen yang tidak dipublikasikan seperti laporan proyek.
• Bentuk dokumen: cetak sebanyak 88,3%, dan digital sebanyak 11,7%. • Bahasa: Indonesia 79,2%, Inggris 19,5%, dan bilingual 1,3%.
Seluruh dokumen yang diperoleh digunakan untuk menyusun profil atau gambaran umum daerah studi yang disajikan pada bab IV. Dokumen ini juga digunakan untuk mengidentifikasi stakeholders dan kebutuhannya yang merupakan bagian dari analisis institusi (hasil disajikan pada bab V Hasil Analisis).
Dari 71 dokumen kebijakan, 47 diantaranya digunakan untuk analisis asumsi sebagai kebijakan yang harus diikuti oleh semua stakeholder. Dokumen tersebut terdiri dari 9 buah Undang-undang, 20 buah Peraturan Pemerintah dan Surat Keputusan/Instruksi Presiden, 14 buah Peraturan /Keputusan atau Surat Edaran Menteri dan 4 buah dokumen kebijakan seperti buku pedoman (guideline) dari departemen terkait.
24 dokumen kebijakan lainnya digunakan pada analisis asumsi untuk mengidentifikasi bagaimana kebijakan diatasnya direalisasikan di tingkat Provinsi, Kabupaten dan TNGH/S (Lampiran 3 nomor 48 s/d 71). Dokumen tersebut terdiri dari dua buah Surat Keputusan Menteri untuk lokasi studi di
TNGH/S, 3 buah Rencana Pengelolaan dan Rencana Aksi, dan 19 buah Peraturan Daerah.
Untuk analisis ekowisata, dari 84 dokumen, terdapat 43 dokumen yang terkait langsung dengan kegiatan ekowisata di TNGH. 38 (tiga puluh delapan) diantaranya memberikan informasi yang mencukupi dan digunakan dalam analisis kriteria kecukupan ekowisata. Daftar dokumen tersedia pada Lampiran 4. Dokumen yang diperoleh kemudian dikategorikan sebagi berikut:
• Jenis dokumen: 36,8% berupa makalah yang dipresentasikan di seminar atau workshop. 15,8% dokumen hasil penelitian dan 21,1% berupa dokumen laporan instansi atau proyek. Selebihnya jenis dokumen yang terkumpul berupa notulensi/rumusan worshop (2,6%), buku (13,2%), dan leaflet (10,5%). • Jenis publikasi: 89,5% dokumen merupakan dokumen yang dipublikasikan
secara terbatas seperti dalam seminar dan workshop. 5,3% merupakan dokumen yang dipublikasikan seperti buku ataupun dokumen online. Sedangkan selebihnya (5,2%) merupakan dokumen yang tidak dipublikasikan seperti laporan proyek.
• Bentuk dokumen: cetak sebanyak 89,5%, dan digital sebanyak 10,5%. • Bahasa: Indonesia 68,4%, Inggris 29%, dan bilingual 2,6%.
Dari dokumen yang terpilih, data diidentifikasi dengan menggunakan content analysis. Jenis data yang dianalisis adalah kata-kata, kalimat, paragraph, bagian atau bab dari suatu dokumen tertulis (Borg et al. 1989 dan Henderson 1991). Informasi dikumpulkan baik berdasarkan manifest63 maupun latent content64 dari sumber data (Fraenkel et al. 1996). Proses content analysis ini dijelaskan lebih lanjut pada sub-bab berikut ini.
C. Content Analysis
Content analysis adalah teknik penelitian yang digunakan untuk menganalisis dokumen-dokumen tertulis seperti laporan, surat, transkrip wawancara, dan bentuk-bentuk tertulis lainnya (Henderson 1991 dan Krippendorf
63 Manifest content adalah arti dari kata-kata, kalimat, paragraph, bagian atau bab yang dapat dipahami secara langsung tanpa memerlukan suatu inferensi (Fraenkel et al. 1996).
64 Latent content adalah arti dari kata-kata, kalimat, paragraph, bagian atau bab yang dapat dipahami melalui suatu inferensi atau kesimpulan (Fraenkel et al. 1996); mengacu pada arti dibalik kata yang diucapkan atau yang tertulis (Sebo 1996).
1980). Teknik penelitian ini dapat berupa teknik kuantitatif yang sistematis dan dapat direplikasi yang digunakan untuk menjelaskan atau memahami konsep yang sedang dipelajari (Riffe et al. 1998). Teknik ini memungkinkan peneliti untuk mempelajari perilaku manusia secara tidak langsung melalui analisis cara mereka berkomunikasi (Fraenkel et al. 1996).
Jenis data yang dikumpulkan untuk teknik analisis ini adalah kata, kalimat, paragraph, sub-bagian, bagian dan buku (Borg et al. 1989; Henderson 1991). Dari data tersebut ada dua jenis content yang dianalisis yaitu manifest dan latent content (Fraenkel et al. 1996). Dalam melakukan analisis manifest content, sumber data diidentifikasi berdasarkan arti yang dapat dipahami secara langsung tanpa ada inferensi. Sedangkan dalam melakukan analisis latent content, dilakukan inferensi terhadap sumber data yang dilihat berdasarkan komposisi, maner dan ordernya.
Teknik analisis ini memiliki kelebihan karena sifatnya yang unobtrusive (tidak langsung dan tidak mengganggu obyek yang diteliti), ekonomis, dapat direplikasi serta tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun demikian kelemahan dari metode ini diantaranya adalah sumber data yang terdokumentasi terbatas, dan sulit menentukan validitas jika ada ketidaksepakatan antar penguji (Fraenkel et al. 1996; Pratiwi 2000).
Ada 13 (tiga belas) tahapan/prosedur dalam melakukan content analysis. Adapun tahapan tersebut adalah identifikasi permasalahan penelitian, review teori dan penelitian sebelumnya, menentukan fokus penelitian, mendefinisikan isi dokumen yang relevan, buat desain yang lebih spesifik, membuat tabel contoh, membangun protokol untuk pengkodean, spesifikasi populasi, spesifikasi kerangka sample, melakukan analisis percobaan, proses data dan laporkan hasil (Borg et al. 1989; Riffe et al. 1998; Fraenkel et al. 1996, dan Krippendorff 1980).
D. Reliabilitas Data dalam Content Analysis
Ada tiga jenis reliabilitas65 dalam melakukan content analysis, yaitu stabilitas, pengulangan, dan akurasi (Babbie 1998; Kripendorf 1980). Stabilitas
65 Reliabilitas adalah istilah yang menjelaskan tahap sejauh mana analisis/pengukuran yang dilakukan memberikan hasil yang konsisten (diterjemahkan dari Ritchie & Goeldner 1994).
adalah suatu tahap dimana proses pengumpulan data berubah dari waktu ke waktu. Pengulangan (reproducibility) adalah tahap dimana proses pengumpulan data dapat dibuat ulang dengan kondisi dan observer atau penilai (rater) yang berbeda. Akurasi ialah tahap dimana proses pengumpulan data sesuai dengan standard umum yang sudah diketahui atau berkembang sesuai dengan yang diinginkan. Perbedaan ketiga jenis desain test reliabilitas ini dapat dilihat pada Tabel 5. Untuk penelitian ini akan digunakan test-test desain.
Dalam test-test design, nilai realiabilitas ditentukan dengan menggunakan The Holsti formula (Kiah 1976). Adapun rumus The Holsti formula tersebut adalah sebagai berikut :
R = 2(C 1, 2) C1+C2
dimana,
R = nilai reliabilitas (the reliability rate)
2 = jumlah observer atau penilai ( dua atau lebih) C 1, 2 = jumlah variabel yang disepakati oleh kedua penilai C1+C2 = Jumlah semua variabel yang dinilai
Nilai reliabilitas dalam penelitian 80% sebagai minimum level yang diterima dari kesepakatan antar raters (Riffe et al. 1998). Nilai reliabilitas ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi face validity66 data yang dikumpulkan.
Table 5 Reliabilitas data dalam content analysis Jenis
Reliabilitas
Desain
Reliabilitas Jenis Kesalahan
Kekuatan Relatif Stabilitas Test-retest Uji konsistensi sebagai observer
(Intra-observer inconsistencies)
Lemah
Pengulangan Test-test Konsistensi sebagai observer
(Intra-observer inconsistencies) dan
kesepakatan antar observer (inter
observer disagreements)
Cukup
Akurasi Test-standard Konsistensi sebagai observer
(Intra-observer inconsistencies) dan
kesepakatan antar observer (inter
observer disagreements) dan systematic deviations from a norm
Kuat
Sumber: Babbie 1998; Krippendorff 1980.
66 Face validity atau logical validity menggambarkan ukuran berdasarkan kondisi empiris yang dapat diterima sebagai pemahaman umum dan pemahaman individu terhadap konsep yang diteliti (Babbie 1998: 133, 170).
Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan pada 2 analisis yang sebagian besar data dan informasinya menggunakan data sekunder berupa dokumen tertulis. Kedua analisis tersebut ialah analisis kebijakan dan analisis kriteria kecukupan ekowisata.
Dalam analisis kebijakan, uji reliabilitas dilakukan pada 3 dokumen dari 47 dokumen kebijakan yang dianalisis untuk kebijakan pengurusan hutan di Taman Nasional. Ketiga dokumen ini dipilih mewakili batasan hirarki kebijakan yang dianalisis dalam penelitian ini:
a. UU No. 5/1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Sumberdaya Hayati berserta ekosistemnya;
b. Keppres No. 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; dan
c. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 32/Kpts-II/2001 Tentang : Kriteria Dan Standar Pengukuhan Kawasan Hutan
Sedangkan untuk analisis kriteria kecukupan ekowisata, dari 38 dokumen yang digunakan dalam analisis, tiga dokumen dipilih untuk diuji. Ketiga dokumen tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan: kesamaan dan kecukupan substansi yang disajikan dalam dokumen; ditulis oleh penulis yang berbeda; dokumen yang dipublikasikan dengan rentang waktu publikasi antara 1998-2007; dan mewakili bahasa dari dokumen yang dianalisis yaitu bahasa Indonesia dan Inggris. Adapun dokumen yang terpilih ialah:
1. Hartono, T. 1999. Ringkasan Pengalaman Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Lokal, Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat. dalam Sudarto, G. 1999. Ekowisata: Wahana Pelestarian Alam, Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat. Bekasi: Yayasan Kalpataru Bahari. Hal 78-84.
2. Hasibuan, G. 2003. Pengembangan Ekowisata di TNGH. Lokakarya Pengembangan Model Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun, Hotel Kinasih, Caringin - Bogor 18-19 Februari, 2003. Dept. Kehutanan dan BCP, JICA.
3. Sproule, KW., A.S. Suhandi. 1998. Guidelines for Community-Based Ecotourism Programs: Lessons From Indonesia. Dalam Lindberg, K., M.E.
Wood, D. Engledrum (editors). 1998. Ecotourism: A Guide for Planners and Managers. Volume 2. North Bennington, Vermont: The Ecotourism Society.
Dokumen yang digunakan dalam uji reliabilitas dinilai oleh tiga penilai atau observer yang terdiri dari penilai utama dan dua penilai pembanding. Penilai utama ialah peneliti sendiri sedangkan penilai pembanding dipilih berdasarkan dua kriteria. Kedua kriteria tersebut ialah 1) penilai harus mempunyai latar belakang pendidikan dan/atau pengalaman bekerja dibidang ekowisata dan/atau pengelolaan sumberdaya alam, dan 2) penilai minimal berpendidikan sarjana dan memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dan Inggris yang baik.
Penilaian dokumen dilakukan dengan menggunakan tabel analisis dan protokol pengkodean yang sudah dibangun peneliti. Untuk uji reliabilitas sample dokumen yang digunakan pada analisis kebijakan tabel analisis disajikan pada Lampiran 5. Sedangkan tabel yang digunakan untuk uji reliabilitas pada analisis kriteria kecukupan ekowisata disajikan pada Lampiran 6.
Berdasarkan hasil perbandingan penilaian dengan kedua penilai tersebut, diperoleh rata-rata persentase hasil tes reliabilitas untuk dokumen yang digunakan pada analisis kebijakan adalah:
• rata-rata persentase kesepakatan antara peneliti (R) dengan penilai pertama (R1) adalah 86,1% ;
• rata-rata persentase kesepakatan antara antara peneliti (R) dengan penilai kedua (R2) adalah 87,5%;
• rata-rata persentase kesepakatan antara antara penilai pertama (R1) dengan penilai kedua (R2) adalah 84,7%;
hasil perhitungan rata-rata dari ketiga penilaian tersebut ialah 86,1%. Hasil penilaian disajikan pada Tabel 6, 7, dan 8 berikut ini.
Tabel 6 Tes reliabilitas dokumen kebijakan antara R-R1 Variabel Disepakati Variabel Tidak Disepakati Jumlah % Dokumen 1 20 4 24 83,3 Dokumen 2 21 3 24 87,5 Dokumen 3 21 3 24 87,5 Rata-tata 86,1
Tabel 7 Tes reliabilitas dokumen kebijakan antara R-R2 Variabel Disepakati Variabel Tidak Disepakati Jumlah % Dokumen 1 20 4 24 83,3 Dokumen 2 22 2 24 91,7 Dokumen 3 21 3 24 87,5 Rata-tata 87,5
Catatan: R= peneliti; R2= penilai 2
Tabel 8 Tes reliabilitas dokumen kebijakan antara R1-R2 Variabel Disepakati Variabel Tidak Disepakati Jumlah % Dokumen 1 20 4 24 83,3 Dokumen 2 22 2 24 91,7 Dokumen 3 19 5 24 79,2 Rata-tata 84,7
Catatan: R1= penilai 1; R2= penilai 2
Sedangkan untuk dokumen yang digunakan pada analisis ekowisata rata-rata persentase hasil tes reliabilitas adalah:
• 82,1% untuk kesepakatan antara peneliti (R) dengan penilai pertama (R1); • 85,9% untuk kesepakatan antara peneliti (R) dengan penilai kedua (R2);
dan
• 80,8% untuk kesepakatan antara penilai pertama (R1) dengan penilai kedua (R2).
Hasil perhitungan rata-rata dari ketiga penilaian tersebut ialah 82,9%. Hasil penilaian disajikan pada Tabel 9, 10, dan 11 berikut ini.
Tabel 9 Tes reliabilitas dokumen ekowisata antara R-R1 Variabel Disepakati Variabel Tidak Disepakati Jumlah % Dokumen 1 21 5 26 80,8 Dokumen 2 22 4 26 84,6 Dokumen 3 21 5 26 80,8 Rata-tata 82,1
Tabel 10 Tes reliabilitas dokumen ekowisata antara R-R2 Variabel Disepakati Variabel Tidak Disepakati Jumlah % Dokumen 1 23 3 26 88,5 Dokumen 2 22 4 26 84,6 Dokumen 3 22 4 26 84,6 Rata-tata 85,9
Catatan: R= peneliti; R2= penilai 2
Tabel 11 Tes reliabilitas dokumen ekowisata antara R1-R2 Variabel Disepakati Variabel Tidak Disepakati Jumlah % Dokumen 1 21 5 26 80,8 Dokumen 2 21 5 26 80,8 Dokumen 3 21 5 26 80,8 Rata-tata 80,8
Catatan: R1= penilai 1; R2= penilai 2
3.2.3 Validitas Data
Validitas adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan ukuran yang secara akurat menggambarkan konsep yang diteliti (Babbie 1998:133). Dalam penelitian kualitatif, menurut Alwasilah (2002:169), validitas adalah kebenaran dan kejujuran sebuah deskripsi, kesimpulan, penjelasan, tafsiran, dan segala jenis laporan. Dalam konteks ini, validitas merupakan tujuan bukan hasil dari penelitian. Validitas penelitian dilihat dari bagaimana proses peneliti untuk mendapatkan data dan informasi. Untuk menjaga validitas penelitiannya, tugas peneliti adalah menyajikan bukti dan landasan yang kuat.
Ada empat aspek validitas yang perlu diperhatikan peneliti, yaitu: nilai kebenaran, penerapan, konsistensi dan kenetralan (Alwasilah 2002: 169). Aspek validitas dalam penelitian kualitatif adalah: kredibilitas (credibility), transferabilitas (transferability), kehandalan (dependability / reliability), dan terkukuhkan (confirmability).
Uji validitas dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan 14 teknik (Alwasilah 2002:175-185). Keempat belas teknik tersebut yaitu: 1) pendekatan modus operandi; 2) mencari bukti yang menyimpang dan kasus negatif; 3) triangulasi; 4) feedback; 5) member checks; 6) data yang melimpah (rich data); 7) quasi-statistics; 8) perbandingan; 9) audit; 10) observasi
jangka panjang; 11) partisipatori; 12) bias peneliti; 13) jurnal refleksi; dan 14) decision trail.
Dalam penelitian ini, untuk memenuhi keempat aspek validitas, digunakan empat teknik uji validitas. Keempat teknik uji validitas tersebut ialah face validity, triangulasi, feedback, dan rich data. Teknik face validity digunakan untuk data yang diperoleh dari dokumen dengan content analysis. Sedangkan tiga teknik lainnya yaitu teknik triangulasi, feedback, dan rich data digunakan untuk validasi baik data primer maupun sekunder.
Face validity atau logical validity menggambarkan ukuran berdasarkan kondisi empiris yang dapat diterima sebagai pemahaman umum dan pemahaman individu terhadap konsep yang diteliti (Babbie 1998: 133, 170). Menurut Riffe et al. (1998), face validity adalah kriteria minimum yang harus dipenuhi. Validitas ini dapat ditetapkan jika intersubjective agreement antar penilai cukup tinggi atau diatas minimum level agreement, yaitu 80%. Untuk melakukan uji face validity dapat digunakan hasil perhitungan tes reliabilitas sebagai tolok ukur. Pada penelitian ini, tes inter-rater reliabilitas dengan dua penilai lain diperoleh rata-rata nilai intersubjective agreement sebesar 86,1% untuk dokumen kebijakan dan 82,9% untuk dokumen yang berkaitan dengan ekowisata. Nilai ini secara tidak langsung menunjukan nilai uji face validity data. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa berdasarkan uji face validitas data dalam penelitian ini dianggap cukup valid.
Triangulasi merupakan teknik uji validitas dimana data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian menggunakan metode yang berbeda (Alwasilah 2002) atau dari tiga sisi (Sitorus 1998). Pengumpulan data dengan metode dari tiga sisi menurut Sitorus (1998) ialah: 1) data dan informasi diperoleh melalui pengumpulan data primer hasil observasi lapangan dan penyebaran kuesioner; 2) data dan informasi diperoleh melalui studi literatur, dan 3) data dan informasi diperoleh berdasarkan metode analisis data yang telah dipilih oleh peneliti. Penggunaan ketiga metode ini diharapkan dapat saling menutupi kelemahan dan melengkapi data / informasi yang dibutuhkan sehingga dalam menangkap realitas masalah menjadi lebih dapat diandalkan/valid (Alwasilah 2002; Sitorus 1998). Syarat metode yang digunakan: tidak memiliki bias yang
sama dan tidak digunakan dengan tujuan mendukung kesimpulan yang sudah ada. Pada penelitian ini, teknik triangulasi diterapkan dengan menggunakan metode survei, observasi, dan wawancara untuk pengumpulan data primer. Sedangkan metode content analysis digunakan untuk mengumpulkan data sekunder. Sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam metode triangulasi, keempat metode pengumpulan data dipilih karena memiliki bias yang berbeda. Perbedaan bias tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. survai merupakan teknik yang digunakan untuk mengukur eksistensi, distribusi dan hubungan antara fenomena yang menjadi perhatian peneliti (Alwasilah 2002). Kelemahan metode ini ialah minat responden dalam mengisi kuesioner yang diberikan;
b. observasi merupakan teknik pengumpulan data yang memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan dari sudut pandang responden yang tidak terucapkan (Alwasilah 2002). Misalnya dari ekspresi, gestur tubuh ketika berbicara atau intonasi. Kelemahan metode observasi adalah tergantung pada ketepatan memilih waktu dan suasana serta kepercayaan yang dapat dibangun antara peneliti dan responden;
c. wawancara atau interviu digunakan untuk mengumpulkan data yang lebih mendalam yang tidak dapat diperoleh melalui metode survai maupun observasi (Alwasilah 2002). Kelemahan metode ini adalah kesiapan peneliti dalam membuat daftar pertanyaan berikut penjelasannya jika diperlukan. Disisi lain, kejujuran responden juga sangat menentukan bias tidaknya data yang diperoleh; dan
d. content analysis merupakan teknik pengumpulan data sekunder melalui analisis dokumen (Henderson 1991; Kripendorf 1980). Kelebihan teknik ini ialah tidak terikat ruang dan waktu, tidak mengganggu obyek yang diteliti, dan dapat direplikasi. Kelemahan teknik ini sumber data yang terbatas dan sulit menentukan kesepakatan antar penilai (Fraenkel et al. 1996).
Teknik feedback merupakan cara dimana peneliti meminta masukan, saran, kritik, dan komentar dari orang lain (Alwasilah 2002). Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi bias, asumsi dan kelemahan logika penelitian. Pada penelitian ini teknik feedback digunakan dengan melakukan verifikasi
informasi kepada narasumber serta meminta masukan, saran, kritik, dan komentar melalui kegiatan seminar ataupun forum diskusi terbatas dengan mahasiswa dan/atau peneliti lainnya.
Teknik Rich Data atau data yang melimpah merujuk pada data yang lengkap dan rinci yang diperoleh dari berbagai sumber (Alwasilah 2002). Fungsi data dalam teknik ini adalah untuk memperkaya dan menguatkan interpretasi terhadap fenomena penelitian. Teknik Triangulasi dan Feedback secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan data yang melimpah bagi penelitian ini.
3.2.4 Metode Analisis
Ada tiga analisis pokok yang dilakukan dalam penelitian ini. Pertama ialah analisis konflik dengan menggunakan metode pemetaan konflik67 yang dianggap relevan dengan tujuan studi ini. Kedua ialah analisis institusi pengurusan hutan dan institusi ekowisata yang dilakukan melalui tiga sub-analisis yaitu analisis stakeholders, analisis kebutuhan, dan analisis kebijakan (asumsi). Ketiga, untuk menguji kelayakan penggunaan konsep ekowisata dilakukan analisis kriteria kecukupan ekowisata. Berikut uraian dan tahapan masing-masing metode analisis tersebut.
3.2.4.1 Analisis Pemetaan Konflik
Analisis pemetaan konflik adalah suatu analisis yang digunakan untuk menggambarkan konflik secara grafis, menghubungkan pihak-pihak dengan masalah dan dengan pihak lainnya. Analisis ini digunakan pada awal untuk memahami sejarah konflik, atau akhir proses konflik untuk menyusun strategi (Wulan et al. 2004 dan Fisher et al. 2001). Tujuan analisis dalam penelitian ini ialah untuk memahami situasi, mengidentifikasi konflik dan apa yang sudah dilakukan. Selain itu untuk menjelaskan dan memahami pandangan-pandangan yang berbeda tentang sejarah konflik, hubungan antar pihak yang berkonflik, dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan oleh masing-masing pihak.
67 9 metode analisis konflik: penahapan konflik, urutan kejadian, pemetaan konflik, SPK (Sikap-Perilaku-Konteks), Analogi Bawang Bombai, Pohon Konflik, Kekuatan Konflik, Analogi Pilar, dan Piramida (Fisher et al. 2001)
Definisi Konflik
Pengertian konflik dapat dilihat dari tiga definisi berikut ini:
Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan (Fisher et al. 2001);
Konflik adalah suatu situasi yang menunjukan adanya praktik-praktik penghilangan hak seseorang atau lebih dan atau kelompok atas suatu benda atau kedudukan (Malik et al. 2003);
Konflik adalah gejala yang terlihat di permukaan dari suatu transformasi modal sosial masyarakat yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat (Kartodiharjo dan Jhamtani 2006).
Tahapan Analisis
Tahapan analisis konflik yang dilakukan dalam penelitian ini disusun berdasarkan tahapan analisis pemetaan konflik dalam Wulan et al. (2004) dan Fisher et al. (2001). Berikut ini tahapan analisis pemetaan konflik tersebut : 1) menentukan siapa pihak utama dalam konflik; 2) mengidentifikasi pihak-pihak lain yang terlibat atau berkaitan dengan konflik; 3) menganalisis hubungan di antara semua pihak (aliansi; konfrontasi; struktural; dll); 4) mengidentifikasi isu-isu pokok di antara pihak-pihak; dan 5) menganalisis apakah ada hubungan yang mempunyai peluang untuk mengatasi konflik.
3.2.4.2 Analisis Institusi A. Analisis Stakeholders
Analisis stakeholders adalah teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tokoh, kelompok atau institusi kunci yang berpengaruh terhadap sukses tidaknya suatu program (MSH dan UNICEF 1998; ODA 1995). Tujuan dari analisis ini diantaranya membantu peneliti untuk mengidentifikasi para pihak yang relevan; memahami sifat hubungannya; mengidentifikasi potensi kerjasama yang mungkin dapat dibangun; dan sebagai dasar penyusunan strategi penyelesaian konflik (Maryono et al. 2005; UNICEF 1998; ODA 1995).
Definisi Stakeholders
Istilah stakeholders atau parapihak sudah banyak digunakan dalam hubungannya dengan proses pengambilan keputusan. Pengertian stakeholders tidak sama dengan publik karena publik mengandung arti semua warga negara umum yang bukan pemerintah (Diknas 2005:902). Sedangkan stakeholders mengandung semua pihak, termasuk instansi pemerintah didalamnya, yang terkait dengan persoalan atau rencana tertentu (Maryono et al. 2005:52). Menurut Healey (1997 dalam Ladkin dan Bertramini 2002) secara umum konsep stakeholder menggambarkan antara yang vokal vs yang tidak mampu bersuara, yang memiliki kekuatan versus pihak yang lemah, tokoh elit politik versus masyarakat umum.
Stakeholders, menurut Maryono et al. (2005:48), bukan hanya kumpulan para pihak tapi “pelaku yang memiliki kewenangan dan kepentingan dalam pengambilan keputusan”. Sementara Dick (1997) dan Freeman (1984 dalam Maryono et al. 2005) mendeskripsikan stakeholders sebagai “kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu”. Gray (1985 dalam Ladkin & Bertramini 2002) menyebutkan bahwa stakeholders adalah siapapun yang mempunyai hak dan kemampuan untuk berpartisipasi karena terkena dampak oleh aksi yang dilakukan oleh stakeholder lainnya. Perlunya stakeholder memiliki kemampuan berpartisipasi kembali ditekankan oleh Ladkin dan Bertramini (2002). Lebih jauh Overseas Development Administration – ODA (dalam Maryono et al. 1995) menegaskan bahwa stakeholder dapat individu, kelompok atau lembaga.
Berdasarkan uraian diatas, maka definisi stakeholder yang digunakan dalam penelitian ini ialah: semua pihak, baik masyarakat maupun lembaga pemerintah, yang mempunyai hak, kemampuan, kewenangan, dan kepentingan untuk berpartisipasi, termasuk dalam pengambilan keputusan, karena terkena dampak oleh aksi yang dilakukan oleh stakeholder lainnya. Definisi ini merupakan gabungan dari konsep-konsep stakeholder yang dikemukakan sebelumnya.
Kategorisasi Stakeholders
Menurut Freeman (1984) dan Grimble dan Wellard (1996), keduanya dalam Maryono et al. 2005, stakeholders dapat diidentifikasikan berdasarkan kepentingan, kekuatan/ pengaruh terhadap keputusan, cara kerja, asal usul sosial dan relasi antar stakeholders. Berdasarkan karakteristik ini stakeholders dibagi menjadi 3 kategori yaitu stakeholder utama (primer), pendukung (sekunder), dan kunci (ODA dalam Maryono et al. 2005). Adapun penjelasan mengenai ke-3 kategori tersebut ialah (Maryono et al. 2005):
1. Stakeholders utama (primer) : merupakan stakeholders yang terkena dampak langsung baik positif maupun negatif oleh suatu rencana atau proyek serta mempunyai kaitan kepentingan langsung dengan kegiatan tersebut. Stakeholders kategori ini karenanya harus ditempatkan sebagai penentu utama dalam pengambilan keputusan. Contoh: masyarakat lokal, tokoh masyarakat. 2. Stakeholders pendukung (sekunder) : merupakan stakeholders yang tidak
memiliki kepentingan langsung terhadap proyek tapi memiliki kepedulian. Mereka dapat menjadi intermediaries atau fasilitator dalam proses dan cukup berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Contoh: LSM, perguruan tinggi, peneliti.
3. Stakeholders kunci : merupakan stakeholders yang memiliki kewenangan legal dalam hal pengambilan keputusan. Contoh: pemerintah dan DPR.
Tahapan Analisis Stakeholders
Berikut tahapan analisis stakeholder:
1. Identifikasi isu atau persoalan yang ingin diselesaikan dan menetapkan batasan lokasi;
2. Membuat tabel identifikasi yang terdiri dari kolom yang berisi:
a) daftar stakeholder : sumber data yang dapat digunakan untuk membuat list stakeholders diantaranya: daftar keanggotaan; kehadiran dalam konsultasi publik sebelumnya; pengamatan; berbagai sumber masyarakat; dan hasil survai (Maryono et al. 2005).
b) dampak kegiatan terhadap stakeholder : parameter yang dapat digunakan diantaranya : langsung, tidak langsung atau tidak tahu (Dick 1997;ODA 1995 dalam Maryono et al. 2005).
c) kepentingan : kepentingan dapat diidentifikasi diantaranya melalui apa yang diharapkan atau manfaat yang dapat diperoleh stakeholder (ODA 1995 dalam Maryono et al. 2005).
d) pengaruh stakeholder terhadap sukses tidaknya kegiatan yang diukur dengan menggunakan parameter berikut ini (Dick 1997): tinggi (jika stakeholder punya kemampuan memveto keputusan), sedang (jika pengaruh stakeholder masih dapat ditangani melalui negosiasi), dan kecil (jika stakeholder tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pencapaian tujuan).
e) estimasi mengenai perilaku stakeholder terhadap program yang diusulkan dengan range estimasi mulai dari mendukung sampai tidak mendukung atau oposisi (Dick 1997).
3. Hasil analisis stakeholders berupa strategi pelibatan stakeholder dengan menentukan tipe partisipasi yang sesuai. Dick (1997) merekomendasikan bentuk partisipasi mulai dari dilibatkan cukup hanya sebagai informan, dikonsultasi, langsung terlibat dalam pengambilan keputusan, dan/atau diposisikan sebagai mitra kerja. Strategi ini dapat ditempatkan pada kolom terakhir dalam tabel analisis stakeholders.
Keterwakilan dalam Analisis Stakeholder
Masalah keterwakilan dalam analisis stakeholder sangat penting. Hal ini sering menjadi alasan bagi beberapa pihak untuk mempertanyakan masalah sah tidaknya proses yang sudah dilakukan. Untuk menghindari hal tersebut, Maryono et al. (2005) menyarankan beberapa teknik menjaga keterwakilan yang dapat digunakan diantaranya:
a) mempelajari jumlah anggota kelompok yang harus diwakili melalui daftar keanggotaan;
b) mengidentifikasi jumlah orang yang hadir mewakili pada konsultasi publik; c) mempelajari proses perwakilan yang umumnya berlaku dalam masyarakat;
d) mengamati bagaimana keanggotaan dan kehadiran bertahan dalam rangkaian pertemuan;
e) menggunakan prosedur pengambilan keputusan yang demokratis, transparan dan terbuka;
f) memperhatikan dan mendokumentasikan surat menyurat yang disampaikan oleh masyarakat;
g) memperhatikan komentar dan keberatan yang disampaikan pada berbagai media; dan
h) mempertimbangkan hasil survai.
Disisi lain, Ladkin dan Bertramini (2002) menyebutkan ada empat faktor yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi siapa saja yang menjadi stakeholders. Keempat faktor tersebut ialah kekuatan ekonomi dan politik; keterkaitannya dengan klaim yang diajukan; penting tidaknya klaim; dan kemauan untuk dilibatkan.
B. Analisis Kebijakan (Analisis Asumsi)
Analisis kebijakan adalah aktivitas untuk dapat memahami proses kebijakan melalui penelitian terhadap sebab, akibat dan kinerja kebijakan dan program publik (Dunn 2003: 1). Ada lima prosedur yang digunakan dalam analisis kebijakan yaitu (Dunn 2003: 21):
1) perumusan masalah (definisi): menghasilkan informasi mengenai kondisi-kondisi yang menimbulkan masalah kebijakan.;
2) peramalan (prediksi) memberikan informasi mengenai konsekuensi di masa mendatang dari penerapan alternatif kebijakan;
3) rekomendasi (preskripsi) menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan relatif dari konsekuensi di masa mendatang dari pemecahan masalah;
4) pemantauan (deskripsi) menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dan masa lalu dari diterapkannya alternatif kebijakan; dan
5) evaluasi : menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan dari konsekuensi pemecahan atau pengatasan masalah.
Sesuai dengan tujuan penelitian untuk memahami dan mengidentifikasi sumber permasalahan yang menimbulkan konflik maka perumusan masalah
adalah prosedur analisis kebijakan yang digunakan dalam penelitian ini. Mengacu pada delapan teknik perumusan masalah68 menurut William Dunn (2003), analisis asumsi merupakan teknik yang dianggap paling relevan dengan tujuan studi. Teknik ini merupakan satu-satunya teknik perumusan masalah yang menggunakan konflik sebagai kriteria kinerja kebijakan. Secara eksplisit analisis asumsi menganalisis gambaran positif maupun negatif dari konflik dan komitmen. Konflik digunakan untuk menunjukan keberadaan asumsi yang bertentangan dengan kebijakan yang dibuat. Di sisi lain, komitmen digunakan sebagai bukti untuk mendukung pokok pandangan pihak yang bertentangan. Analisis asumsi meliputi lima tahap prosedur sebagai berikut:
1) identifikasi pelaku kebijakan : pelaku kebijakan diidentifikasi,diurutkan, dan diprioritaskan didasarkan pada penilaian tentang seberapa jauh masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh proses kebijakan. Pada penelitian ini, identifikasi pelaku menggunakan hasil analisis stakeholder.
2) memunculkan asumsi : seleksi data yang mendukung dan mendasari asumsi-asumsi para pihak.
3) mempertentangkan asumsi: membandingkan dan mengevaluasi asumsi-asumsi. Asumsi diuji untuk menentukan kemungkinan untuk dipakai sebagai landasan bagi konseptualisasi baru terhadap masalah dan solusinya secara menyeluruh.
4) mengelompokkan asumsi : disini asumsi-asumsi (lebih dari rekomendasi) diurutkan berdasarkan prioritaskan asumsi-asumsi dari segi kepastian dan kepentingannya bagi para pelaku kebijakan yang berbeda.
5) sintesis asumsi : suatu satuan gabungan asumsi yang diterima dapat menjadi basis untuk menciptakan konseptualiasi baru dari masalah. Ketika isu-isu seputar konseptualisasi masalah dan potensi pemecahannya telah mencapai titik ini, aktivitas-aktivitas dari para pembuat kebijakan dapat menjadi kooperatif dan secara kumulatif produktif.
Secara praktikal, analisis asumsi dilakukan oleh Dewar et al. (1993 dan 1996). Dalam studi tersebut, analisis asumsi atau assumption based planning
68 Delapan teknik analisis perumusan masalah kebijakan : analisis batas, analisis klasifikasi, analisis hirarki, synecties,
(ABP) digunakan untuk mengevaluasi kinerja organisasi angkatan bersenjata di Amerikan (Army’s Force XXI). Tujuan dari ABP diantaranya untuk mengidentifikasi asumsi-asumsi yang dapat menjadi landasan bagi sebuah organisasi untuk memperbaiki rencana maupun program kerjanya (Dewar et al. 1993).
Dalam literature tersebut dijelaskan bahwa asumsi adalah sebuah pernyataan mengenai karakteristik dari masa depan yang dihasilkan atau berdasarkan pada perencanaan atau pelaksanaan organisasi saat ini (diterjemahkan dari Dewar et al. 1993:5). Pernyataan tersebut dapat berupa fakta atau penilaian. Asumsi juga dapat bersifat deskriptif, evaluatif, prediksi, atau penjelasan yang dinyatakan secara eksplisit ataupun implisit.
Asumsi dapat diidentifikasi dari berbagai sumber. Salah satu contoh dimana asumsi dapat diperoleh secara eksplisit ialah dari dokumen arahan (guideline) dari organisasi yang membawahi organisasi lainnya. Selain itu, asumsi juga dapat diperoleh dengan cara wawancara, dan/atau catatan proses pertemuan (Dewar et al. 1993).
Dari berbagai sumber informasi tersebut, Dewar et al. (1993) menyarankan untuk mengidentifikasi hanya asumsi yang penting saja. Untuk dapat dikategorikan penting, asumsi harus merupakan pernyataan yang dapat membawa kepada perubahan yang lebih baik. Salah satu contoh asumsi yang penting tersebut adalah bagaimana tugas dan kewajiban dibagi dalam sebuah organisasi (Dewar et al. 1993).
Ada lima tahap dalam melakukan ABP (Dewar et al. 1993; 1996). Pertama ialah mengidentifikasi asumsi. Kedua mengidentifikasi asumsi yang rapuh/tidak kuat (vulnerable). Ketiga adalah menentukan peristiwa yang dapat menjadi indikasi perubahan dari asumsi yang lemah. Dalam literatur, tahap ini disebut signposts. Tahap keempat ialah shaping action atau langkah-langkah yang perlu dilakukan organisasi untuk mengontrol asumsi-asumsi yang lemah. Tahap terakhir adalah hedging action atau aksi penguatan program yang dilakukan oleh organisasi.
Berdasarkan kedua literatur di atas, tahapan analisis asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1) Identifikasi pelaku kebijakan yang terkait dengan kebijakan penetapan taman nasional dan pengembangan ekowisata di TNGH/S;
2) asumsi penting diidentifikasi dari peraturan perundangan yang mengatur pembagian peran para pelaku dalam penetapan taman nasional dan pengembangan ekowisata;
3) asumsi yang dipertentangkan ialah asumsi yang tertulis dalam peraturan perundangan yang sifatnya umum dengan asumsi pelaksanaan peraturan perundangan di lokasi studi. Sumber data yang digunakan untuk asumsi yang tertulis ialah dokumen peraturan perundangan dengan hirarki peraturan perundangan yang dapat diacu oleh semua lokasi. Sedangkan sumber data untuk asumsi pelaksanaan kebijakannya digunakan berasal dari dokumen peraturan perundangan tertulis yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah daerah dan BTNGH serta dari hasil pengumpulan data primer;
4) kedua asumsi dikelompok dan dianalisis sejauh mana gap antara keduanya; 5) sintesis masalah dirumuskan berdasarkan tahapan sebelumnya.
C. Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan adalah seperangkat prosedur yang sistematis yang digunakan untuk menentukan prioritas dan pengambilan keputusan sebuah organisasi atau program dan alokasi sumberdaya. Prioritas ditentukan oleh kebutuhan yang teridentifikasi (Witkin & Altschuld 1995 dalam Grayson 2002). Analisis kebutuhan juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengidentifikasikan ada tidaknya faktor, kondisi, sumberdaya dan peluang untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan misi dari sebuah institusi (Upcraft dan Schuh 1996 dalam Grayson 2002). Sementara sumber lain menyebutkan bahwa Analisis kebutuhan (need assessment) merupakan sebuah proses atau cara yang sistematis untuk mengeksplorasi dan mengidentifkasi gap antara kondisi saat ini dan kondisi yang seharusnya (Rouda dan Kusy 1995; Palacios 2003).
Tujuan dan Manfaat Analisis Kebutuhan
Tujuan dan manfaat dari analisis kebutuhan dalam penelitian ini diantaranya untuk mengetahui karakteritik kesenjangan antara kondisi aktual dan
kondisi yang diharapkan (Palacios 2003). Analisis kebutuhan juga digunakan untuk tujuan mendapatkan informasi yang dapat mendukung atau memilih berbagai alternatif dalam pengambilan keputusan yang sesuai (Grayson 2002).
Definisi Kebutuhan (Need)
Menurut Grayson (2002) kebutuhan dapat dilihat sebagai kata benda atau kata kerja. Kebutuhan sebagai kata benda dilihat dari definisi kebutuhan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dan harus dipenuhi (Depdikbud 2005:182). Sedangkan kebutuhan sebagai kata kerja dapat dilihat dari pengertian bahwa kebutuhan adalah kondisi yang diperlukan atau harus dilakukan untuk mengisi kekosongan tersebut (Grayson 2002). Definisi lainnya menguraikan bahwa kebutuhan ialah sebuah gap69 antara kondisi saat ini dan kondisi seharusnya (Witkin & Altschuld 1995 dalam Grayson 2002) atau suatu kondisi yang memerlukan masukan untuk bertahan hidup70.
Kebutuhan menurut Teori Maslow ada lima. Berikut ini kebutuhan menurut Maslow dari hirarki yang terendah: psikis, keamanan, kepemilikan dan kasih sayang, kepercayaan diri dan aktualisasi diri. Brenner (2007) menganalogikan hirarki kebutuhan Maslow ini kedalam kebutuhan suatu proyek atau program. Menurut Brenner dalam suatu program juga terdapat lima kebutuhan yaitu: sumberdaya, stabilitas, tujuan yang terkait dengan program lainnya, perencanaan yang meyakinkan; dan pelaksanaan yang berjalan dengan baik
Hal yang penting diperhatikan dalam analisis kebutuhan adalah untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat mengenai kelompok sasaran yang dikehendaki. Data dan informasi dapat diperoleh dengan cara meyebarkan kuesioner, atau melakukan observasi, wawancara, fokus grup dan survey (Grayson 2002; Palacios 2003). Sedangkan kelompok sasaran ditentukan berdasarkan kelompok yang memiliki interaksi. Kelompok ini juga menentukan level dari kebutuhan (Grayson 2002):
a) Level pertama : adalah kelompok penerima jasa;
69 Gap adalah perbedaan antara yang ada/sudah terjadi dengan apa yang diharapkan (Grayson 2002) 70 Sumber: http://www.meriam-webster.com/dictionary/need diakses tanggal 2 February 2007 jam 7:40 AM
b) Level kedua ialah penyedia jasa dan pembuat kebijakan; dan
c) Level ketiga ialah kelompok yang dapat memberikan sumberdaya dan solusi
Tahap analisis kebutuhan (Rouda dan Kusy 1995; Grayson 2002): Ada lima tahap analisis kebutuhan yaitu:
a) identifikasi para pihak yang terkait;
b) tahap eksplorasi dengan mengidentifikasi kondisi aktual saat ini dan kondisi yang diinginkan (gap analisis);
c) identifkasi kondisi yang dibutuhkan para pihak untuk mengurangi gap;
d) menentukan prioritas dan tingkat kepentingan (importance) berdasarkan efektifitas biaya, peluang pelaksanaannya dari segi hukum, penerimaan dari stakeholders, keterlibatan dari stakeholders, dan pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan keseluruhan; dan
e) identifikasi sumber permasalahan berdasarkan prioritas yang telah disusun. Hal ini penting untuk menentukan aksi yang paling tepat sasaran. Mengidentifikasi peluang penyelesaiannya: berdasarkan hasil investigasi terhadap sumber permasalahan secara detail, maka peluang penyelesaian akan disusun.
Hasil ketiga sub-analisis institusi kemudian digunakan untuk mensintesiskan analisis institusi dengan menggunakan konsep ITS. Konsep ini menyarankan peneliti untuk menganalisis keterkaitan antara institusi dan politik dari tenure security, seperti politik akses terhadap sumberdaya, serta kontrol diantara aktor-aktor sosialnya. Pertimbangan yang diacu oleh aliran ini ialah proses perubahan lingkungan sebagai hasil dari negosiasi atau lobi antara aktor-aktor sosial yang dapat memiliki perbedaan-perbedaan prioritas dalam pengelolaan sumberdaya alam.
3.2.4.3 Analisis Kriteria Kecukupan Ekowisata
Analisis Ekowisata (ecotourism assessment) adalah suatu prosedur analisis terhadap kawasan wisata yang sudah berjalan yang dapat menghasilkan informasi yang diperlukan untuk pengelolaan kawasan (Moyini 2006; Lee & Snepenger 1991). Definisi lain menyebutkan bahwa analisis penilaian ekowisata ialah alat
yang dapat membantu untuk identifikasi kawasan wisata prioritas (Lash & Austin 2003).
Analisis ekowisata dilakukan untuk beragam tujuan. Misalnya, analisis yang dilakukan oleh Lee and Snepenger (1991) bertujuan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dalam meningkatkan kinerja pengelolaan kawasan wisata. Analisis yang dilakukan di Uganda oleh Moyini (2006) bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum permasalahan ekowisata ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan teknis. Untuk tujuan yang sama, analisis penilaian kecukupan ekowisata juga dilakukan oleh McLaughlin et al. (2002) di Bolivia pada empat taman nasional yaitu Chako/Kaa-Iya del Gran Chco National Park, Amboro National Park, Chapare/Carraco National Park, dan The Yungas Regions.
Dalam penelitian ini, ada dua tujuan analisis ekowisata. Pertama ialah untuk mengidentifikasi sejauh mana konsep ekowisata yang digunakan di lokasi studi memenuhi kriteria ideal dalam literatur dan kebijakan yang ditetapkan oleh institusi yang berwenang. Tujuan kedua ialah untuk mengetahui implikasi pengembangan ekowisata dalam konflik di lokasi studi. Berdasarkan kedua tujuan tersebut analisis ekowisata dalam penelitian ini disebut sebagai analisis kriteria kecukupan ekowisata.
Definisi Ekowisata
Definisi ekowisata yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan analisis kecukupan ekowisata. Dalam penelitian ini, definisi ekowisata yang digunakan merupakan intisari dari hasil penelusuran pustaka yang disajikan pada Bab 2. Sebagai bagian dari industri wisata, analisis ekowisata dalam penelitian ini ditinjau juga dari aspek atau sisi penyedia (supply). Adapun definisi ekowisata yang dimaksud ialah: konsep pengembangan dan penyelenggaraan kegiatan pariwisata yang memanfaatkan lingkungan dengan tujuan konservasi melalui pengembangan ekonomi lokal yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal dan penyajian produk wisata yang bermuatan pendidikan dan pembelajaran serta berdampak negatif minimal terhadap lingkungan.
Tahapan Analisis Kriteria Kecukupan Ekowisata
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Moyini (2006), Lash & Austin (2003), McLaughlin et al. (2002), Lee & Snepenger (1991), analisis kriteria kecukupan ekowisata dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Berikut ini tahapan analisis ekowisata yang dilakukan dalam penelitian ini:
1. melakukan telaah literatur untuk menentukan faktor dan/atau variabel ekowisata yang akan dianalisis ;
2. menetapkan parameter analisis untuk setiap faktor dan variabel yang diteliti; 3. menentukan target group;
4. mengumpulkan data primer dan sekunder. 5. melakukan analisis data; dan
6. membandingkan antara kondisi yang ada dengan kondisi ideal menurut kajian literatur.
Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan studi yang sudah dilakukan sebelumnya (Moyini 2006; Lash & Austin 2003; Lee & Snepenger 1991; McLaughlin et al. 2002; Moyini 2006), setidaknya ada empat teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam analisis ekowisata. Keempat teknik tersebut ialah analisis dokumen, survai, diskusi terfokus atau observasi langsung.
Faktor dan Variabel yang diamati
Berdasarkan definisi ekowisata yang dikemukakan sebelumnya, ada lima faktor yang akan diteliti dalam analisis kriteria kecukupan ekowisata. Kelima faktor tersebut ialah: (1) tujuan pengelolaan; (2) partisipasi masyarakat; (3) pengembangan ekonomi lokal; (4) produk wisata;dan (5) Dampak Lingkungan.
Faktor pertama, secara ideal tujuan dari pengembangan ekowisata adalah pemanfaatan sumberdaya alam untuk mendukung usaha konservasi kawasan dengan melindung dan menjaga keberlanjutan sumberdaya alam yang merupakan aset atau obyek wisatanya (Ceballos-Lascurain 1996; Wall dan Ross 1998). Ada dua variabel yang digunakan untuk mengidentifikasi tujuan pengelolaan yang digunakan dalam pengembangan ekowisata. Pertama, definisi ekowisata yang
digunakan dalam dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh instansi terkait dengan TNGH; dan yang dipahami stakeholders (masyarakat lokal, LSM pendamping, aparat pemerintah, narasumber seperti akademisi dan peneliti). Kedua, tujuan pengembangan ekowisata yang tercantum dalam dokumen-dokumen resmi dan yang dipahami stakeholders.
Faktor kedua, partisipasi masyarakat adalah suatu usaha untuk memberdayakan masyarakat agar mampu memobilisasi kapasitas mereka sendiri, menjadikannya aktor sosial daripada subyek pembangunan yang pasif, mengelola sumberdaya, membuat keputusan, dan mengontrol aktifitas yang berdampak terhadap mereka (Cernea 1985; Drake 1991). Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam kegiatan ekowisata di lokasi studi diperlukan identifikasi level partisipasi keterlibatan masyarakat. Menurut Perez (1997) serta Kraus dan Allen (1997), ada lima level partisipasi masyarakat. Berikut ini urutan kelima level partisipasi tersebut dimulai dari level terendah: berbagi informasi, proses nominal, konsultasi, pengambilan keputusan, dan inisiasi aksi.
Untuk mengidentifikasi level keterlibatan masyarakat, diperlukan dua parameter lain yaitu: bentuk keterlibatan dalam kegiatan ekowisata dan inisiatif partisipasi. Bentuk keterlibatan dalam ekowisata diidentifikasi selain untuk memastikan apakah dilibatkan atau tidaknya masyarakat, juga mencerminkan level partisipasi yang ikuti oleh masyarakat. Sedangkan, variabel inisiatif partisipasi, diidentifikasi untuk mengetahui siapakah yang berinisiatif untuk berpartisipasi. Hal ini dapat digunakan sebagai indikasi apakah program yang dijalankan murni dari masyarakat atau dorongan dari pihak luar.
Parameter lain yang digunakan untuk mengidentifikasi partisipasi masyarakat ialah representasi yang masyarakat yang dilibatkan. Menurut Pratiwi (2000), Chambers (1995), Peters (1994), dan Rahnema (1992), partisipasi masyarakat dapat berhasil jika melibatkan representasi dari semua unsur masyarakat. Sesuai dengan karakteristik lokasi studi, variabel yang akan diidentifikasi untuk mengetahui representasi masyarakat yang dilibatkan ialah : karakteristik masyarakat dan siapa saja yang terlibat/dilibatkan. Karakteristik masyarakat diidentifikasikan melalui dua sub-variabel yaitu: kategori masyarakat
(adat atau non-adat) dan karakteristik lokasi pemukimannya (di dalam atau di luar kawasan TNGH).
Sedangkan sub-variabel untuk mengidentifikasi variabel siapa saja yang dilibatkan ada empat sub-variabel yang digunakan. Pertama, karakteristik intitusi lokal yang dilibatkan seperti lingkup wilayahnya (kampung atau desa) dan jenis institusi yang diwakili (organisasi, pemuda, institusi pendidikan, pemerintahan desa, atau lainnya). Sub-variabel kedua adalah status ekonomi masyarakat yang dilibatkan apakah berasal dari masyarakat berpendapatan tinggi, menengah, atau rendah. Sub-variabel ketiga ialah gender. Sub-variabel yang terakhir ialah lokasi dimana masyarakat yang terlibat bermukim.
Faktor ketiga ialah produk wisata. Secara ideal produk ekowisata ialah kegiatan yang mengandung unsur pendidikan dan pembelajaran. Menurut Lindberg et al. (1998) serta Sekartjakrarini dan Legoh (2003), interpretasi adalah produk wisata yang memiliki kriteria tersebut. Interpretasi dapat dilihat sebagai suatu produk atau proses (Sekartjakrarini &Legoh, 2003; Ceballos-Lascurain 1996). Sebagai produk wisata, interpretasi adalah suatu produk dengan muatan nilai-nilai substantif sumber-sumber alam/budaya, pengetahuan dan pembelajaran tentang lingkungan setempat (Sekartjakrarini &Legoh. 2003). Sebagai proses, kegiatan interpretasi seperti ini diharapkan dapat memberikan pemahaman, dengan pemahaman akan ada apresiasi, dan dari apresiasi menimbulkan kecintaan dan kepedulian yang tinggi terhadap alam (Sudarto 1999; Lindberg et al. 1998). Hal ini dapat diidentifikasikan melalui aktivitas wisata yang ditawarkan dan tujuan kedatangan wiatawan ke lokasi studi.
Faktor keempat, pengembangan ekonomi lokal. Mengacu pada Loomish dan Walsh (1997) serta Linberg (1998), ada dua dampak pengembangan ekowisata terhadap pengembangan ekonomi lokal. Kedua dampak tersebut yaitu dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung diidentifikasi dari adanya 1) peluang kerja; 2) peningkatan pendapatan; dan 3) pendapatan daerah. Sedangkan dampak tidak langsung dilihat dari ada tidaknya diversifikasi kegiatan ekonomi serta pemasukan terhadap BTNGH dan Pemda (Desa dan Kabupaten).
Faktor kelima yaitu dampak Lingkungan. Dampak yang diobservasi ialah dampak terhadap bio-fisik dan sosial budaya. Ada tujuh dampak bio-fisik yang di identifikasi yaitu: formasi geologi dan batuan, tanah, air, vegetasi, hidupan liar dan ekosistemnya, sistem sanitasi, dan estetika lansekap (Sekartjakrarini & Legoh 2004; Barrow 2000; Gartner 1996; Ceballos-Lascurain 1996). Sedangkan dampak sosial budaya dilihat apakah ada perubahan terhadap beberapa parameter sosial budaya misalnya sistem nilai, standard hidup, pola migrasi, dan lain sebagainya (Sekartjakrarini dan Legoh 2004; Ceballos-Lascurain 1996).
Data Sekunder & Primer Teori Konflik & Dilema Sosial Penetapan Taman Nasional Analisis Konflik Hubungan antar Manusia Kepentingan Perbedaan Data Sistem Nilai Struktural Karakteritik Konflik Analisis Institusi TN Analisis Institusi Ekowisata Pengelolaan Demografi Budaya Organisasi Sistem Nilai Kebijakan Analisis Kriteria Kecukupan Ekowisata Tujuan Ekowisata Produk Ekowisata Dampak LH Ekonomi Lokal Partisipasi Masyarakat Stakeholder Analysis Analisis Kebutuhan Analisis Asumsi Model Institusi Ekowisata Berkelanjutan Implikasi Ekowisata terhadap konflik Analisis Data Data Sekunder & Primer
Gambar 6 Metode penelitian
Feedback Teori Akses & Teori Partisipasi Teori Institusi Data Sekunder & Primer 88